Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENILAIAN RUMAH SEHAT DESA KELURAHAN MALABRO KOTA BENGKULU

Disusun oleh :

RENI AGUSTINA NIM : PO5160011033

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLTEKKES KEMENKES BENGKULU PROGRAM STUDI DIPLOMA III KESEHATAN LINGKUNGAN 2013/2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang


Perumahan dan pemukiman adalah dua hal yang tidak dapat kita pisahkan dan berkaitan erat dengan aktivitas ekonomi,industrialisasi dan pembangunan.Pemukiman dapat diartikan sebagai perumahan atau kumpulan rumah dengan segala unsur serta kegiatan yang berkaitan dan yang ada di dalam pemukiman. Pemukiman dapat terhindar dari kondisi kumuh dan tidak layak huni jika pembangunan perumahan sesuai dengans tandar yang berlaku, salah satunya dengan menerapkan persyaratan rumah sehat.Dalam pengertian yang luas, rumah tinggal bukan hanya sebuah bangunan (struktural), melainkan juga tempat kediaman yang memenuhi syarat-syarat kehidupan yang layak, dipandang dari berbagai segi

kehidupan.Rumah dapat dimengerti sebagai tempat perlindungan untuk menikmati kehidupan, beristirahat dan bersuk ria bersama keluarga. Di dalam rumah, penghuni memperoleh kesan pertama dari kehidupannya di dalam dunia ini. Rumah harus menjamin kepentingan keluarga, yaitu untuk tumbuh, memberi kemungkinan untuk hidup bergaul dengan tetangganya; lebih dari itu, rumah harus memberi ketenangan, kesenangan, kebahagiaan dan kenyamanan pada segala peristiwa hidupnya.Secara garis besar, rumah memiliki empat fungsi pokok sebagai tempat tinggal yang layak dan sehat bagi setiap manusia, yaitu rumah harus memenuhi kebutuhan pokok jasmani manusia, Rumah harus memenuhi kebutuhan pokok rohani manusia, rumah harus melindungi manusia dari penularan penyakit dan ruumah harus melindungi manusia dari gangguan luar. Rumah yang tidak sehat merupakan penyebab dari rendahnya taraf kesehatan jasmani dan rohani yang memudahkan terjangkitnya penyakit dan mengurangi daya kerja atau daya produktif seseorang. Rumah tidak sehat ini dapat menjadi reservoir penyakit bagi seluruh lingkungan, jika kondisi tidak sehat bukan hanya pada satu rumah tetapi pada kumpulan rumah (lingkungan pemukiman). Timbulnya permasalahan kesehatan di lingkungan pemukiman pada dasarnya disebabkan karena tingkat kemampuan ekonomi

masyarakat yang rendah, karena rumah dibangun berdasarkan kemampuan keuangan penghuninya (Notoatmodjo, 2003). Lingkungan perumahan/pemukiman dan hubungannya dengan kesehatan Di dalam program kesehatan lingkungan,suatu pemukiman/perumahan sangat berhubungan dengan kondisi ekonomi, sosial, pendidikan, tradisi/kebiasaan, suku, geografi, dan kondisi local. Selain itu, lingkungan perumahan/pemukiman dipengaruhi oleh beberapa factor yang dapat

menentukan kualitas lingkungan perumahan tersebut, antara lain fasilitas pelayanan, perlengkapan, peralatan yang dapat menunjang terselenggaranya kesehatan fisik, kesehatan mental, kesejahteraan sosial bagi individu dan keluarganya.Pengertian perumahan merupakan kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan sarana pembinaan keluarga yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan . sedangkan pemukiman merupakan bagian dari lingkungan hidup baik kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang mendukung peri-kehidupan. Untuk menciptakan suatu lingkungan pemukiman diperlukan kawasan perumahan dalam berbagai bentuk dan ukuran dengan penataan tanah dan ruang, prasarana dan sarana lingkungan yang memenuhi kesehatan
Pemukiman sering disebut perumahan dan atau sebaliknya.Pemukiman berasal dari kata housing dalam bahasa Inggris yang artinya adalah perumahan dan kata human settlement yang artinya pemukiman.Perumahan memberikan kesan tentang rumah atau kumpulan rumah beserta prasarana dan sarana ligkungannya.Perumahan menitiberatkan pada fisik atau benda mati, yaitu houses dan land settlement. Sedangkan pemukiman memberikan kesan tentang pemukim atau kumpulan pemukim beserta sikap dan perilakunya di dalam lingkungan, sehingga pemukiman menitikberatkan pada sesuatu yang bukan bersifat fisik atau benda mati yaitu manusia (human). Dengan demikian perumahan dan pemukiman merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan sangat erat hubungannya, pada hakekatnya saling melengkapi.

B. Tujuan 1. Tujuan Umum 1. Mahasiswa dapat melaksanakan kegiatan praktik inspeksi penilaian rumah sehat di daerah pemukiman pinggir pantai di kawasan Rt.09 Rw.03 Kelurahan Malabro Kecamatan Teluk segara Kota Bengkulu. 2. Tujuan Khusus 1. Mahasiswa dapat mengetahui komponen rumah yang termasuk kategori sehat, kurang sehat dan tidak sehat. 2. Mahasiswa dapat mengetahui sarana sanitasi rumah yang termasuk kategori sehat, kurang sehat dan tidak sehat. 3. Mahasiswa dapat mengetahui perilaku penghuni rumah yang termasuk kategori sehat, kurang sehat dan tidak sehat. 4. Mahasiswa dapat mengetahui jenis penyakit yang ditimbulkan jika rumah dalam kategori kurang sehat dan tidak sehat.

5. Meningkatkan daya guna dan hasil sumber daya alam baik lingkungan pembangunan permukiman dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi Lingkungan menjadi lebih baik.

C. Ruang Lingkup 1. Waktu Penyelenggaraan Inspeksi Penilaian Rumah Sehat Pelaksanaan inspeksi penilaian rumah sehat dilaksanakan pada hari rabu tanggal 11 september 2013. 2. Lokasi Lokasi inspeksi penilaian rumah sehat adalah disetiap rumah yang ada dikawasan pemukiman pinggir pantai Rt 09 Rw 03 kelurahan Malabro Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu.

3. Sasaran Sasaran kegiatan inspeksi penilaian rumah sehat ini mencakup seluruh perumahan warga yang ada di pinggiran pantai, di Rt 09 Rw 03 kelurahan Malabro Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu, yang meliputi inspeksi komponen rumah, sarana sanitasi , perilaku penghuni rumah serta penyakit yang berbasis lingkungan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Pengertian Rumah Sehat

Dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman, perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Rumah adalah sebuah tempat tujuan akhir dari manusia. Rumah menjadi tempat berlindung dari cuaca dan kondisi lingkungan sekitar, menyatukan sebuah keluarga, meningkatkan tumbuh kembang kehidupan setiap manusia, dan menjadi bagian dari gaya hidup manusia Sedangkan pengertian Sehat menurut WHO adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun sosial budaya, bukan hanya keadaan yang bebas penyakit dan kelemahan (kecacatan). Rumah harus dapat mewadahi kegiatan penghuninya dan cukup luas bagi seluruh pemakainya, sehingga kebutuhan ruang dan aktivitas setiap penghuninya dapat berjalan dengan baik. Lingkungan rumah juga sebaiknya terhindar dari faktor- faktor yang dapat merugikan kesehatan (Hindarto, 2007). Rumah sehat dapat diartikan sebagai tempat berlindung, bernaung, dan tempat untuk beristirahat, sehingga menumbuhkan kehidupan yang sempurna baik fisik, rohani, maupun sosial (Sanropie dkk., 1991). Sedangkan menurut Hermawan (2010) yang dikutip dari Azwar, rumah sehat adalah tempat berlindung atau bernaung dan tempat untuk beristrahat sehingga menimbulkan kehidupan yang sempurna baik fisik,rohani maupun sosial. Rumah yang tidak sehat merupakan penyebab dari rendahnya taraf kesehatan jasmani dan rohani yang memudahkan terjangkitnya penyakit dan mengurangi daya kerja atau daya produktif seseorang. Rumah tidak sehat ini dapat menjadi reservoir penyakit bagi seluruh lingkungan, jika kondisi tidak sehat bukan hanya pada satu rumah tetapi pada kumpulan rumah (lingkungan pemukiman). Timbulnya permasalahan kesehatan di lingkungan pemukiman pada dasarnya disebabkan karena tingkat kemampuan ekonomi

masyarakat yang rendah, karena rumah dibangun berdasarkan kemampuan keuangan penghuninya (Notoatmodjo, 2003).

2.1 Persyaratan Umum Rumah Sehat Persyaratan kesehatan perumahan adalah ketentuan teknis kesehatan yang wajib dipenuhi dalam rangka melindungi penghuni dan masyarakat yang bermukim di perumahan dan masyarakat sekitar dari bahaya atau gangguan kesehatan. Persyaratan kesehatan perumahan yang meliputi persyaratan lingkungan perumahan dan pemukiman serta persyaratan rumah itu sendiri, sangat diperlukan karena pembangunan perumahan berpengaruh sangat besar terhadap peningkatan derajat kesehatan individu, keluarga dan masyrakat. Persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman menurut keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No. 829/Menkes/SK/VII/1999 meliputi parameter sebagai berikut:

1.

Lokasi Tidak terletak pada daerah rawan bencana alam seperti bantaran sungai, aliran lahar, tanah longsor, gelombang tsunami, daerah gempa dan sebagainya. Tidak terletak pada daerah bekas tempat pembuangan akhir (TPA) sampah atau bekas tambang Tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan dan daerah kebakaran seperti jalur pendaratan penerbangan.

2. Kualitas Udara Kualitas udara di lingkungan perumahan harus bebas dari gangguan gas beradun dan memenuhi syarat baik mutu lingkungan sebagai berikut: Gas H2S dan NH3 secara biologis tidak terdeteksi Debu dengan diameter kurang dari 10 g maksimum 150 g/m3. Gas SO2 maksimum 0,10 ppm Debu maksimum 350 mm3/m2 per hari 3. Kebisingan dan Getaran 4. Kebisingan dianjurkan 45 dB.A, maksimum 55 dB.A Tingkat getaran maksimum 10 mm/detik

Kualitas Tanah di Daerah Perumahan dan Pemukiman Kandungan timah hitam (Pb) maksimum 300 mg/kg Kandungan Arsenik (As) total maksimum 100 mg/kg Kandungan Cadmium (Cd) maksimum 20 mg/kgd. Kandungan

Benzo(a)pyrene maksimum 1mg/kg

5.

Prasarana dan Sarana Lingkungan Memiliki taman bermain untuk anak, sarana rekreasi keluarga dengan konstruksi yang aman dari kecelakaan. Memiliki sarana drainase yang tidak menjadi tempat perindukan vektor penyakit Memiliki sarana jalan lingkungan dengan ketentuan konstruksi jalan tidak mengganggu kesehatan, konstruksi trotoar tidak membahayakan pejalan kaki dan penyandang cacat, jembatan harus memiliki pagar pengaman, lampu penerangan jalan tidak menyilaukan mata. Tersedia cukup air bersih sepanjang waktu dengan kualitas yang memenuhi persyaratan kesehatan Pengelolaan pembuangan tinja dan limbah rumah tangga harus memenuhi syarat kesehatan Memiliki akses terhadap sarana pelayanan kesehatan, komunikasi, tempat kerja, tempat hiburan, tempat pendidikan, kesenian dan lain sebagainya. Pengaturan instalasi listrik harus menjamin keamanan penghuninyah. Tempat pengelolaan makanan (TPM) harus menjamin tidak terjadi kontaminasi makanan yang dapat menimbulkan keracunan.

6.

Vektor Penyakit Indeks lalat harus memenuhi syarat Indeks jentik nyamuk dibawah 5%

7.

Penghijauan Pepohonan untuk penghijauan lingkungan pemukiman merupakan pelindung dan juga

berfungsi untuk kesejukan, keindahan dan kelestarian alam. Secara umum rumah dikatakan sehat apabila memenuhi kriteria sebagai berikut (PPM & PL, 2002) : 1. Memenuhi kebutuhan fisiologis antara lain pencahayaan, penghawaan dan ruang gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu. 2. Memenuhi kebutuhan psikologis antara lain privacy yang cukup, komunikasi yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah. 3. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni rumah dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga, bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar matahari pagi, terlindungnya makanan dan minuman dari pencemaran, disamping pencahayaan dan penghawaan yang cukup.

4.

Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah, antara lain persyaratan garis sempadan jalan, konstruksi yang tidak mudah roboh, tidak mudah terbakar, dan tidak cenderung membuat penghuninya jatuh tergelincir. Rumah yang sehat harus dapat mencegah dan mengurangi resiko kecelakaan seperti

terjatuh, keracunan dan kebakaran (APHA). Beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam kaitan dengan hal tersebut antara lain : 1. 2. 3. Membuat konstruksi rumah yang kokoh dan kuat Bahan rumah terbuat dari bahan tahan api Pertukaran udara dalam rumah baik sehingga terhindar dari bahaya racun dan gas4.

Lantai terbuat dari bahan yang tidak licin sehingga bahaya jatuh dan kecelakaan mekanis dapat terhindari.

2.3

Komponen Rumah Sehat Komponen rumah sehat meliputi: 1. Langit-langit

Di bawah kerangka atap atau kuda-kuda biasanya dipasang penutup yang disebut langitlangit yang tujuannya antara lain a. untuk menutup seluruh konstruksi atap dan kuda-kuda penyangga, agar tidak terlihat

dari bawah, sehingga ruangan terlihat rapi dan bersih b. untuk menahan debu yang jatuh dan kotoran yang lain juga menahan tetesan air hujan yang menembus melalui celah-celah atap c. untuk membuat ruangan antara yang berguna sebagai penyekat sehingga panas atas

tidak mudah menjalar kedalam ruangan dibawahnya. Adapun persyaratan untuk langit-langit yang baik adalah : a. b. langit-langit harus dapat menahan debu dan kotoran lain yang jatuh dari atap, langit-langit harus menutup rata kerangka atap kuda-kuda penyangga dengan

konstruksi bebas tikus c. d. tinggi langit-langit sekurang-kurangnya 2,40 dari permukaan lantai kecuali, dalam hal langit-langit/kasau-kasaunya miring sekurang-kurangnya mempunyai

tinggi rumah 2,40 m dan tinggi ruang selebihnya pada titik terendah titik kurang dari 1,75 m, dan e. m. ruang cuci dan ruang kamar mandi diperbolehkan sekurang-kurangnya sampai 2,40

2.

Dinding

Adapun syarat-syarat untuk dinding antara lain : a. Dinding harus tegak lurus agar dapat memikul berat sendiri, beban tekanan angin dan

bila sebagai dinding pemikul harus pula dapat memikul beban diatasnya, b. Dinding harus terpisah dari pondasi oleh suatu lapisan air rapat air sekurang-

kurangnya 15 cm dibawah permukaan tanah sampai 20 cm di atas lantai bangunan, agar air tanah tidak dapat meresap naik keatas, sehingga dinding tembok terhindar dari basah dan lembab dan tampak bersih tidak berlumut, dan c. Lubang jendela dan pintu pada dinding, bila lebarnya kurang dari 1 m dapat diberi

susunan batu tersusun tegak di atas batu, batu tersusun tegak di atas lubang harus di pasang balok lantai dari beton bertulang atau kayu awet. Untuk memperkuat berdirinya tembok bata digunakan rangka pengkaku yang terdiri dari plester-plester atau balok beton bertulang setiap luas 12 meter.

3.

Lantai

Lantai harus cukup kuat untuk menahan beban diatasnya. Bahan untuk lantai biasanya digunakan ubin, kayu plesteran, atau bambu dengan syarat-syarat tidak licin, stabil tidak lentur waktu diinjak, tidak mudah aus, permukaan lantai harus rata dan mudah dibersihkan. Macam-macam lantai : a. Lantai tanah stabilitas.

Lantai tanah stabilitas terdiri dari tanah, pasir, semen, dan kapur. Contoh : tanah tercampur kapur dan semen. Untuk mencegah masuknya air kedalam rumah sebaiknya lantai dinaikkan 20 cm dari permukaan tanah b. Lantai papan Pada umumnya lantai papan dipakai di daerah basah/rawa. Yang perlu diperhatikan dalam pemasangan lantai adalah : 1) Sekurang-kurangnya 60 cm di atas tanah dan ruang bawah tanah harus ada aliran

tanah yang baik. 2) Lantai harus disusun dengan rapid an rapat satu sama lain, sehingga tidak ada lubanglubang ataupun lekukan dimana debu bisa bertepuk. Lebih baik jika lantai seperti ini dilapisi dengan perlak atau kampal plastik ini juga berfungsi sebagai penahan kelembaban yang naik dari di kolong rumah.

3) Untuk kayu-kayu yang tertanam dalam air harus yang tahan air dan rayap serta untuk konstruksi di atasnya agar lantai kayu yang telah dikeringkan dan diawetkan. c. Lantai ubin

Lantai ubin adalah lantai yang terbanyak digunakan pada bangunan perumahan karena lantai ubin murah/tahan lama, dapat mudah dibersihkan dan tidak dapat mudah dirusak rayap.

4.

Jendela kamar tidur, jendela ruang keluarga dan ruang tamu

Jendela dibuka pada siang hari agar cahaya matahari dapat masuk dan udara dapat berputar sehingga akan memperkecil resiko penularan penyakit infeksi. Untuk memperoleh jumlah cahaya matahari pada pagi hari secara optimal sebaiknya jendela kamar tidur menghadap ke timur. Luas jendela yang baik paling sedikit mempunyai luas 10-20% dari luas lantai. Apabila luas jendela melebihi 20% dapat menimbulkan kesilauan dan panas, sedangkan sebaliknya kalau terlalu kecil dapat menimbulkan suasana gelap dan pengap. Dalam ruang kediaman, sekurang-kurangnya terdapat satu atau lebih banyak jendela/lubang yang langsung berhubungan dengan udara dan bebas dari rintanganrintangan, jumlah luas bersih jendela/lubang itu harus sekurang-kurangya sama 1/10 dari luas lantai ruangan, dan setengah dari jumlah luas jendela/lubang itu harus dapat dibuka. Jendela/lubang angin itu harus meluas kearah atas sampai setinggi minimal 1,95 di atas permukaan lantai. Diberi lubang hawa atau saluran angin pada ban atau dekat permukaan langit-langit ( ceiling ) yang luas bersihnya sekurang-kurangnya 5% dari luas lantai yang bersangkutan. Pemberian lubang hawa/saluran angin dekat dengan langit-langit beguna sekali untuk mengeluarkan udara panas dibagian atas dalam ruangan. Ketentuan luas jendela/lubang angin tersebut hanya sebagai pedoman yang umum dan untuk daerah tertentu hanya sebagai pedoman yang umum dan untuk daerah tertentu, harus disesuaikan dengan keadaan iklim daerah tersebut. Untuk daerah pegunungan yang berhawa dingin dan banyak angin, maka luas jendela/lubang angin dapat dikurangi sampai dengan 1/20 dari luas ruangan. Sedangkan untuk daerah pantai laut dan daerah rendah yang berhawa panas dan basah, maka jumlah luas bersih jendela, lubang angin harus diperbesar dan dapat mencapai 1/5 dari luas lantai ruangan.

5.

Ventilasi Ventilasi adalah proses penyediaan udara segar kedalam suatu ruangan dan pengeluaran udara kotoran suatu ruangan tertutup baik alamiah maupun secara buatan. Ventilasi harus lancar diperlukan untuk menghindari pengaruh buruk yang dapat merugikan kesehatan manusia pada suatu ruangan kediaman yang tertutup atau kurang ventilasi. Pengaruh-pengaruh buruk itu adalah ( Sanropie, 1989 ) : a. Berkurangnya kadar oksigen diudara dalam ruangan kediaman,

b. Bertambahnya kadar asam karbon ( CO2 ) dari pernafasan manusia, c. Bau pengap yang dikeluarkan oleh kulit, pakaian dan mulut manusia d. Suhu udara dalam ruang ketajaman naik karena panas yang dikeluarkan oleh badan manusia dan e. Kelembaban udara dalam ruang kediaman bertambah karena penguapan air dan kulit

pernafasan manusia. Dengan adanya ventilasi silang ( cross ventilation ) akan terjamin adanya gerak udara yang lancar dalam ruang kediaman. Caranya ialah dengan memasukkan kedalam ruangan udara yang bersih dan segar melalui jendela atau lubang angin di dinding, sedangkan udara kotor dikeluarkan melalui jendela/lubang angin di dinding yang berhadapan. Tetapi gerak udara ini harus dijaga jangan sampai terlalu besar dan keras karena gerak angina atau udara angin yang berlebihan meniup badan seseorang, akan mengakibatkan penurunan suhu badan secara mendadak dan menyebabkan jaringan selaput lendir kan berkurang sehingga mengurangi daya tahan pada jaringan dan memberikan kesempatan kepada bakteri-bakteri penyakit berkembang biak, dan selanjutnya menyebabkan gangguan kesehatan, yang antara lain : masuk angin, pilek atau kompilasi radang saluran pernafasan. Gejala ini terutama terjadi pada orang yang peka terhadap udara dingin. Untuk menghindari akibat buruk ini, maka jendela atau lubang ventilasi jangan terlalu besar/banyak, tetapi jangan pula terlalu sedikit. Jika ventilasi alamiah untuk pertukaran udara dalam ruangan kurang memenuhi syarat, sehingga udara dalam ruangankyrang memenuhi syarat, sehingga udara dalam ruangan akan berbau pengap, maka diperlukan suatu sistem pembaharuan mekanis. Untuk memperbaiki keadaan ruang dalam ruangan, system mekanis ini harus bekerja terus menerus selama ruangan yang dimaksud digunakan. Alat mekanis yang biasa digunakan/dipakai untuk sistem pembaharuan udara mekanis adalah kipas angin ( ventilating, fan atau exhauster ), atau air conditioning.

6.

Sarana pembuangan asap dapur

Harus memiliki tempat pembuangan asap dapur seperti cerobong asap atau terdapat ventilasi yang sesuai untuk penyaluran asap pada saat memasak di dapur.

7.

Pencahayaan

Sanropie ( 1989 ) menyatakan bahwa cahaya yang cukup kuat untuk penerangan di dalam rumah merupakan kebutuhan manusia. Penerangan ini dapat diperoleh dengan pengaturan cahay buatan dan cahaya alam. a. Pencahayaan alamiah

Pencahayaan alamiah diperoleh dengan masuknya sinar matahari ke dalam ruanagn melalui jendela celah-celah atau bagian ruangan yang terbuka. Sinar sebaiknya tidak terhalang oleh bangunan, pohon-pohon maupun tembok pagar yang tinggi. Kebutuhan standar cahaya lami yang memenuhi syarat kesehatan untuk kamar keluarga dan kamar tidur menurut WHO 60-120 Lux. Suatu cara untuk menilai baik tau tidaknya penerangan alam yang terdapat dalam rumah, adalah sebagai berikut : 1) baik, bila jelas membaca koran dengan huruf kecil; 2) cukup, bila samar-samar bila membac huruf kecil ; 3) kurang, bila hanya huruf besar yang terbaca dan 4) buruk, bila sukar membaca huruf besar. Pemenuhan kebutuhan cahaya untuk penerangan alamiah sangat ditentukan oleh letak dan lebar jendela. b. Pencahayaan buatan Untuk penerangan pada rumah tinggal dapat diatur dengan memilih sistem penerangan dengan suatu pertimbangan hendaknya penerangan tersebut dapat menumbuhkan suasana rumah yang lebih menyenangkan. Lampu Flouresen ( neon ) sebagai sumber cahaya dapat memenuhi kebutuhan penerangan karena pada kuat penerangan yang relative rendah mampu menghasilkan cahaya yang bila dibandingkan dengan penggunaan lampu pijar. Bila ingin menggunakan lampu pijar sebaiknya dipilih yang warna putih dengan dikombinasikan beberapa lampu neon. Untuk penerangan malam hari dala ruangan terutama untuk ruang baca dan ruang kerja, penerangan minimum adalah 150 Lux sama dengan 10 watt lampu TL, atau 40 watt dengan lampu pijar.

2.4 Prinsip Rumah Sehat 1. Memaksimalkan Pencahayaan Alami Cahaya matahari dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber pencahayaan alami pada rumah sehat Anda dengan pedoman: Orientasi Bangunan Bangunan sebaiknya menghadap Utara-Selatan untuk menghindari panas dan sinar matahari langsung. Ukuran Ruangan dan Bukaan Agar cahaya matahari dapat masuk dan menerangi ruangan secara maksimal, ukuran lebar ruangan sebaiknya 2 kali ukuran tinggi bukaan. 2. Ventilasi Alami Prinsip ventilasi alami adalah menciptakan sirkulasi udara dengan memasukkan udara dingin ke dalam ruangan dan mengalirkan udara panas keluar melalui bukaan-bukaan yang diposisikan secara strategis. Posisi bukaan yang baik untuk menciptakan sirkulasi udara adalah bukaan atas dan bukaan bawah. 3. Sistem Manajemen Limbah Sistem manajemen limbah yang baik penting untuk menghindari pencemaran persediaan air bersih di rumah. Manajemen limbah yang baik dapat dicapai dengan mengikuti pola perletakan limbah sebagai berikut: 4. Penampungan Air Hujan Air hujan dapat ditampung dan digunakan untuk banyak kebutuhan sehari-hari seperti menyiram toilet, berkebun, atau mencuci mobil. Dengan menampung air hujan dan menggunakannya kembali rumah sehat Anda akan jadi lebih efisien, juga ramah lingkungan. 5. Lapisan Tembus Air Bencana alam seperti banjir dan tanah longsor dapat dihindari jika kita menyediakan daerah resapan air yang cukup luas. Daerah resapan air yang luas di lahan yang sempit dapat dicapai dengan mengotimalkan penggunaan lapisan/permukaan tembus air seperti rumput dan grass block pada halaman, parkiran mobil (carport), dan jalan agar air dapat mengalir dan meresap secara alami ke dalam tanah.

2.5 Faktor-faktor yang Perlu Diperhatikan dalam Membangun Rumah 1. Tingkat kemampuan ekonomi Individu jika ingin membangun suatu rumah tentunya akan mengukur tingkat kemampuan ekonominya, terutama menyangkut kesiapan finansial. Bagi masyarakat desa terkadang persoalan tidak serumit di perkotaan, dimana tanah yang akan dipergunakan untuk membangun suatu perumahan tidak semahal di kota, bahan-bahan yang akan dipergunakan dapat memanfaatkan sarana yang ada seperti bambu, kayu, atau atap bisa dibuat dari daun, alang-alang, daun lontar, dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut di desa relative masih mudah didapat dan murah, namun di kota persoalannya akan berbeda. Hal-hal yang perlu menjadi perhatian tiap-tiap individu dalam masyarakat yang akan membangun rumah adalah membangun rumah tidak sekedar mendirikan saja, tetapi bagaimana perawatan rumah tersebut sehingga dapat dipergunakan dalam waktu yang cukup lama bahkan dapat dinikmati oleh anak cucunya . 2. Faktor alam (lingkungan) Lingkungan yang dimaksud termasuk lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Hal ini menyangkut bagaimana kondisi lingkungan alam dan social di sekitar kita. Membangun rumah di daerah yang rawan bencana banjir harus diperhatikan letak lokasi tanah diupayakan sebelumnya saat membangun ketinggian tanah diperkirakan agar di saat musim penghujan tidak kebanjiran. Membangun rumah di dekat daerah rawan longsor dan daerah rawan gempa, bahan yang digunakan harus ringan, namun kokoh. Rumah daerah dingin, panas, pegunungan, pantai, kota, dan desa akan mempunyai karakteristik tersendiri dan perlu desain yang berbeda-beda. Rumah dekat dengan hutan bisa dibuat sedemikian rupa dengan membuat tangga yang tinggi agar binatang buas dan ular tidak dapat naik. 3. Kemajuan teknologi Saat ini teknologi perumahan sudah begitu modern, namun rumah yang modern belum tentu sesuai dengan selera individu di masyarkat. Teknologi modern selain membutuhkan biaya dan perawatan yang mahal juga diperlukan pengetahuan yang cukup agar mengerti tentang teknologi tersebut. Bagaimanapun masyarakat telah memiliki teknologi perumahan yang telah diwarisi dari orang tuanya. Oleh karena itu, penerapan teknologi yang tepat guna harus dipertahankan sedangkan kekurangan-kekurangan yang ada dimodifikasi, sehingga dapat memenuhi persyaratan rumah sehat yang telah ditetapkan. Teknologi yang tinggi jika diterapkan di daerah tertentu belum tentu sesuai. Membangun rumah dengan pilarpilar yang tinggi, bahan dari batu bata, rumah kaca, desain kamar tertutup, ventilasi, dan

jendela diganti dengan AC, hal ini jika diterapkan di desa belum tentu sesuai sebab udara di desa masih segar, rumah masih belum begitu padat, dan pencahayaan masih bagus . 4. Peraturan pemerintah menyangkut tata guna bangunan Peraturan pemerintah terkait tata guna bangunan jika tidak dibuat secara tegas dan dan jelas dapat menyebabkan gangguan ekosistem seperti banjir, pemukiman kumuh, dan lainlain. Saat ini di kota-kota besar hal ini sudah menjadi problem yang kompleks. Namun jika di pedesaan hal ini belum menjadi masalah yang serius .

2.6 Patokan rumah sehat yang ekologis :


1. Menciptakan kawasan penghijauan diantara kawasan pembangunan sebagai paru-paru hijau. 2. Memilih tapak bangunan yang sebebas mungkin dari gangguan/radiasi geobiologis dan meminimalkan medan elektromagnetik buatan. 3. Mempertimbangkan rantai bahan dan menggunakan bahan bangunan alamiah. 4. Menggunakan ventilasi alam untuk menyejukkan udara dalam bangunan. 5. Menghindari kelembapan tanah naik ke dalam konstruksi bangunan dan memajukan sistem bangunan kering. 6. Memilih lapisan permukaan dinding dan langit-langit ruang yang mampu mengalirkan uap air. 7. Menjamin kesinambungan pada struktur sebagai hubungan antara masa pakai bahan bangunan dan struktur bangunan. 8. Mempertimbangkan bentuk/proporsi ruang berdasarkan aturan harmonikal. 9. Menjamin bahwa bangunan yang direncanakan tidak menimbulkan masalah lingkungan dan membutuhkan energi sedikit mungkin (mengutamakan energi terbarukan). 10. Menciptakan bangunan bebas hambatan sehingga gedung dapat dimanfaatkan oleh semua penghuni(termasuk anak-anak, orang tua maupun orang cacat tubuh). 11. Tersedianya akses pengolahan sampah dan tempat tempat sampah. 12. Menurunkan genangan air dan membuat sistem drainase yang baik.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil survey sanitasi perumahan di Rt 10 Kelurahan Malabro Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu Berdasarkan survey yang kami lakukan di Rt 10 Rw 03 Kelurahan Malabro Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu di dapatkan laporan sebagai berikut: a. Data Umum : Nama Kepala Keluarga Anggota Keluarga : Iwan Setiawan : Meirita Purnama Sari (istri)

Irellya Merta Laras Ayu (anak) Syafira Imerta Gustiani (anak) Keyla Trimerta Murahma (anak)

Setelah dilakukan penelitian di Kelurahan Malabro kota Bengkulu bahawasannya tidak memenuhi standar kriteria rumah sehat.Pemukiman yang saya teliti terdiri dari 1 rumah tapi penghuninya terdapat dua keluarga yang menempati rumah tersebut.Rumah yang saling berdempetan. Pada dasarnya rumah-rumah ini tidak layak huni, tetapi para penghuni rumah tersebut tidak dapat berbuat banyak untuk memperbaiki rumah mereka, hal ini disebabkan faktor ekonomi. Sebagian besar penghuni pemukiman ini berprofesi sebagai nelayan, ada juga yang berdagang makanan kecil di pelataran rumah mereka. Dengan demikian dapat dipastikan para penghuni pemukiman ini berpenghasilan rendah. Berdasarkan observasi lapangan,dapat ditemukan bahwa mereka hidup disuatu lingkungan yang kondisi sanitasinya sangat buruk, padatnya penghuni dalam rumah tersebut karena dalam satu rumah terdiri dari dua keluarga yang bejumlah sembilan orang dalam satu rumah dan ada pun komponen rumah dan kriteria rumah dari kelurga pak Iwan : A. Komponen dan Kriteria Ruamah 1. Atap atau langit ruang keluarga : Sangat disayangkan bahwasanyya di rumah bapak andi belum memiliki atap gentinga dan tidak ada langit-langit atau plapon. Bahwasannya kita tau langit- langit berfungsi untuk melindungi mereka misalnya dari debu atau kotoran yg berasal dari luar dan langsung

mengenai mereka atau pun makanan mereka nantinya yg nantinya menimbulkan kerugian tersendiri bagi mereka. 2. Dinding Dinding keluarga pak Iwan terbuat dari non permanen yaitu terbuat dari kayu, dan dinding dari kayu sebagai penopang rumahnya pun itu sudah sebagian dimakan oleh rayap. 3. Lantai Lantai terbuat dari plesteran semen dan difinishing dengan karpet plastik hanya bagian ruang tamunya saja. Jarang sekali untuk keluarga pak Iwan ini untu bisa mengepel ruamah mereka. 4. Pintu Dibagian setiap kamar memiliki pintu masing-masing tapi halnya ada pintu salah satunya yaitu kamar anak- anak yang rusak yang bum bisa untuk menggantinya. 5. Jendela Kamar Tidur Ruang Keluarga Keluaga pak Iwan blum memiliki jendela tidur ruang keluarga tersbut, keluarga ini hanya memiliki satu jendela saja hanya dibagian ruang tamu saja tepat pada pintu masuk rumahnya, padahal kita tau bahwsannya jendela berfungsi sebagai keluar masuknya udara supaya kita tidak kekurangan oksigen. 6. Ventilasi Ventilasi dari rumah Pak iwan ada tapi hanya tidak menggunakan penyaring atau kasa, yang kita tau tujuannya memasang penyaring atau kasa ialah untuk menyaring kotoran atau debu yang berasal dari luar rumah mereka. 7. Lubang Asap Dapur Tempat tinggal yang pak Iwan tempati belum memiliki lubang asap dapur jadi sirkulasi udara atau asapnya lewat dari pintu belakang yang ada didekat area dapur tersebut. 8. Pencahayaan alamiah Keadaan pencahayaan alamiah dirumah pak Iwan sangatlah kurang karena minimnya untuk sinar matahari masuk kedalam rumah pak iwan melalui jendela atau ruang-

ruang kecil ini menyebabkan rumah pak iwan gelap kalau siang hari jika tidak dib dengan lampu atau pintu belakang harus selalu terbuka supaya sedikit menerangi umah mereka.

B. Sarana Sanitasi Rumah


- SAB (Sarana Air Bersih) Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hariyang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Dari hasil pengamatan kepemilikan sarana air bersih dirumah pak andri adalah milik sendiri yaitu dari sumur gali, namun kondisinya kurang memenuhi syarat karena tidak mempunyai cincin sumur. - Jamban Keluarga Metode pembuangan tinja yang baik yaitu dengan jamban dengan syarat antara lain sebagai berikut : a) Tanah permukaan tidak boleh terjadi kontaminasi b) Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkinmemasuki mata air atau sumur Dari hasil inspeksi dirumah pak andri diperoleh hasil bahwa ketersediaan jamban sudah ada namun kondisinya sangat kotor serta jarak antara septic tank dan sumur gali pak Lapau Pasar Pantai < 10 m. - SPAL Buruknya kualitas sanitasi juga tercermin dari rendahnya persentase penduduk yang terkoneksi dengan sistem pembuangan limbah(sewerage system). Air limbah rumah tangga hendaknya diolah dengan benar, jangan dibuang sembarangan. Hal ini dapat menyebabkan sumber air disekitar dapat tercemar akibat resapan air limbah. Selain itu air limbah yang tidak diolah dapat menjadi alasan kedatangan lalat. Dari hasil inspeksi rumah di rumah Pak Lapau Pasar Pantai menunjukan memiliki SPAL namun jaraknya kurang dari 10 m dari sumber air sehingga dapat mencemari sumber air. - Tempat Sampah Pembuangan sampah yang tidak terkontrol dengan baik merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat, nyamuk, tikus dan anjing yang dapat menimbulkan penyakit. Potensi bahaya yang ditimbulkan, antara lain penyakit diare,kolera, tifus yang dapat menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dapat bercampur dengan air minum. Penyakit DBD dapat juga meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahny akurang memadai, demikian pula penyakit jamur ( misalnya jamur kulit ). Dari hasil inspeksi sanitasi di rumah pak andri diperoleh hasil bahwa sudah memiliki tempat sampah yang kedap air namun tidak tertutup.

C. Prilaku
Kebiasaan prilaku dari penghuni rumah yang kadang- kadang membuka jendela, lantai rumah yg jarang dipel, dan sistem pengolahan sampah dengan cara dibuang dikebun perkarangan rumah lalu dibakar tanpa diroses atau dibuang ke TPS, dan mana lagi saluran pembuangan limbahnya (siring) yang rendah yang tidak ternetralisir dengan baik sehingga bila datangnya hujan selokan rumah tersebut tersebut tersumbat oleh sampah didepan perkaran rumah / kebun yang dibung dan tidak bisa menampung dengan baik sehingga rumah tersebut seringkali terjadi banjir yang akhirnya mengundang vektor lalat datang, sehingga dapat menimbulkan penyakit misalnya diare, bagi penghuni tersebut dan sekitarnya.

D. Pemecahan Masalah
No 1 Permasalahan Tidak ada langit-langit Rekomendasi a) Hendaknya dibuatkan langit langit guna

menahan debu yang berasal dari genting serta untuk menghindari atap rumah sebagai sarang tikus. 2 Dinding non permanen / terbuat dari kayu. a) Selalu menjaga kebersihan dinding agar tidak berdebu pada bagian dinding yang tidak di tembok b) Bagian dinding yang tidak ditembok dijaga kondisinya, jangan terkena air hujan karena akan membuat cepat keropos. c) Sebaiknya dinding di tembok secara menyeluruh agar bangunan rumah kokoh, dantidak berdebu. 3 Lantai masih semen Selalu menjaga kebersihan lantai dengan setiap hari dibersihkan 4 Tidak memiliki Ventilasi a) Sebagai pemilik rumah seharusnya sadar akan pentingnya fungsi ventilasi sebagai sirkulasi udara, sehingga ruangan tidak pengap dan menghindari terjadinya sumber pencemaran penyakit pernafasan. b) Harus membuat ventilasi disetiap ruangan rumah

Tidak memiliki lubang asap dapur

a) Apabila di dapur tidak ada lubang asap atau ventilasi, sabaiknya saat memasak pintu selalu terbuka. b) Sebaiknya lubang ventilasi luasnya lebih dari 10% dari luas lantai dapur. c) Buatkan lubang asap dapur secara sederhana dengan cara membuka sedikit atap genteng agar asap dapur dapat keluar ruangan

Pencahayaan yang kurang terang

a) Sebaiknya pada siang hari gorden jendela dan jendelanya dibuka agar pencahayaan dari sinar matahari dapat masuk dengan baik. b) Kebersihan dinding harus terjaga tetap bersih, serta penggunaan cat dengan warna yang terang akan menambah pencahayaan.

SAB milik

sendiri

tapi

tidak

a) Perbaiki kondisi sanitasi sumur gali agar air sumur lebih terlindungi b) Sebaiknya jarak SAB dengan tempat

memenuhi syarat

pembuangan limbah atau pembuangan tinja lebih dari 10 m. 8 Jarak antara SPAL dengan sumber air kurang dari 10 m a) Sebaiknya jarak antara SPAL lebih dari 10m agar SAB tidak tercemar oleh limbah rumah tangga.

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis observasi di lapangan maka dapat diambil kesipulan bahwa permukiman Desa/ Kelurahan Malabro Kota Bengkulu belum memiliki kriteria rumah sehat karena nilai kriteria rumah sehatnya memiliki jumlah 756 dengan demikian rumah dari bapak iwan setiawan dan basuki yang dalam satu rumahnya terdri dari dua kelurga belum bisa dikatan rumah sehat. Karena sangat jauh dari penilaian rumah sehat.

B. Saran Hendak nya kelurahan Malabro ini meningkatkan perbaikan sanitasi, dengan cara mengajukan kepemeritah pusat untuk melihat atau pun memperhatikan sanitasi mereka misalnya dengan menyediakan tempat sampah supaya mereka tidak lagi mengumpulkan sampah mereka didepan rumah atau dikebun kemudian setelah banyak lalu dibakar tanpa diolah terlebih dahulu.