Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM IDENTIFIKASI DAN MORFOLOGI REPTIL

OLEH: NAMA NO. BP : MELYA NISA : 1210423012

KELOMPOK : VI (ENAM) ANGGOTA : 1. GUSMELLY 2. RHAMDY 3. AINUL MARDIAH 4. SEFNI (1210422014) (1210422028) (1210422048) (1210423034)

ASISTEN PENDAMPING: MARDHA TILLAH KEVIN ORIGIA

LABORATORIUM PENDIDIKAN I JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ANDALAS PADANG, 2014

HALAMAN PENGESAHAN

Nama Nomor BP. Kelompok Judul Praktikum

: Melya Nisa : 1210423012 : 6B : Identifikasi dan Morfologi Reptil

Asisten Pendamping : -Mardha Tillah -Kevin Origia

Diskusi ke-

Tanggal

Tanda Tangan Asisten

Catatan Asisten :

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Hewan pertama yang benar-benar merupakan hewan daratan adalah Reptil. Mereka berkembang dari Amphibia dalam zaman karbon. Dengan datangnya zaman permulaan, mereka lebih mampu mengatasi keadaan baru daripada Amphibia. Kelebihan utama Reptil yang paling awal terhadap amphibian adalah perkembangan telur yang bercangkang dan berisi kuning telur (Kimball, 1991) Reptil berkembang dari zaman Labyrinthodontia 50 juta tahun yang lalu sesudah Amphibi berkembang. Pada zaman itu kelompok Reptil merupakan kelompok yang paling banyak diantara vertebrata lainnya. Reptil merupakan kelas pertama dari Tetrapoda yang strukturnya lengkap, termasuk selaput embrio dan kulitnya yang tahan terhadap kekeringan. Sepanjang zaman itu Reptil ditemukan dengan bermacam-macam genera mulai hewan kecil sampai yang besar, herbivora sampai karnivora, dan dari yang lamban sampai yang lincah dalam bergerak (Bennet, 1999). Kelas Reptil suatu kelompok yang beraneka ragam dengan banyak garis keturunan yang sudah punah, saat ini diwakili oleh sekitar 7000 spesies, sebagian besar kadal, ular, penyu atau kura-kura dan buaya ini adalah pengelompokan tradisional dan didasarkan pada kemiripan semua tetrapoda tersebut. Reptiln memiliki beberapa adaptasi untuk kehidupan didarat yang umunya tidak ditemukan pada amphibian. Sisik yang mengandung protein keratin membuat kulit Reptil kedap air, sehingga membantu mencegah dehidrasi di udara kering. Dan masih banyak lagi cirri-ciri khusus dari kelas Reptil (Campbell, 1999) Reptil merupakan kelompok hewan yang hidupnya merayap atau merangkak di dalam habitatnya. Reptil juga tergolong ke dalam hewan yang berdarah dingin. Beda Reptil dengan Amphibia adalah melakukan perbiakan di darat. Tubuh Reptil ditutupi oleh sisik-sisik atau plot-plot dari bahan tanduk (horny scales atau plates). Reptil merupakan hewan buas. Banyak yang merupakan pemangsa serangga (insektor). Giginya runcing, sering muncul kelenjar racun. Alat gerak Reptil berupa kaki. Pada ular, kaki sudah hilang. Alat tubuh yang tidak tumbuh atau menjadi

mengecil disebut rudimeter. Ada juga kaki yang berupa sirip untuk berenang (Djuhanda, 1983). Umumnya reptil mempunyai dua pasang kaki, masing-masing mempunyai lima jari yang bercakar, tetapi pada jenis-jenis tertentu kakinya mereduksi atau sama sekali tidak ada. Rangka dari bahan tulang, oksipital, kondil hanya satu. Tipe gigi pada reptil adalah labyrinthodont (pada reptile fosil), acrodont, pleurodont, dan thecodont. Jantungnya mempunyai empat ruangan, dua atrium dan dua ventrikel, tetapi pada sekat dari ventrikel kanan dan kiri belum sempurna benar. Habitat hidup di darat, air tawar atau air laut, di daerah tropis dan daerah temperate (Carr,1977). Reptil terdiri dari empat ordo yaitu Testudinata, Rhynchochephalia atau Tuatara, Squamata dan Crocodilia. Sub kelas dari Testudinata adalah pleurodira, cryptodira, paracrytodira. Sub ordo dari Squamata adalah sauria (kadal) dan serpentes (ular). Sub ordo dari Crocodilia adalah gavial, alligator, dan crocodilidae (Pope, 1956). Oleh karena itu, untuk membuat suatu sistem klasifikasi diperlukan adanya pengamatan morfologi. Dari pengamatan morfologis dapat diukur parameter morfologinya sehingga dapat dilakukan pengindentifikasiannya dan berakhir dengan pembuatan kunci determinasi dari reptil. 1.2 Tujuan Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui karakter-karakter umum dari kelas Reptil dan mengetahui bentuk morfologi, karakter dan sifat-sifat untuk pengidentifikasian dan pengklasifikasian kelas Reptil serta untuk membuat kunci determinasi dari beberapa contoh hewan pada kelas Reptil.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Reptil merupakan kelompok hewan darat pertama yang sepanjang hidupnya bernafas dengan paru-paru. Ciri umum kelas ini yang membedakan dengan kelas yang lain adalah seluruh tubuhnya tertutup oleh kulit kering atau sisik. Kulit ini menutupi seluruh permukaan tubuhnya dan pada beberapa anggota ordo atau sub ordo tertentu mengalami pergantian kulit . Pergantian kulit secara total terjadi pada anggota sub ordo ophidia dan pada anggota sub-ordo lacertilia pergantian kulit terjadi secara sebagian. Sedangkan pada ordo chelonia dan crocodilia sisiknya hampir tidak pernah mengalami pergantian atau pengelupasan. Kulit pada reptil memiliki sedikit sekali kelenjar kulit (Jasin, 1992). Reptil menunjukkan kemajuan dibandingkan Amphibi. Hal ini ditunjukkan dengan adanya tutup tubuh yang kering dan berupa sisik yang merupakan penyesuaian hidup menjauhi air. Ekstremitas cocok untuk gerak cepat. Proses penulangan pada telur menyesuaikan dengan pertumbuhan di darat yang mempunyai membran dan cangkang yang berguna untuk melindungi embrio. Bentuk luar tubuh Reptil bermacam-macam yaitu ada yang bulat pipih (penyu), bulat panjang (ular), bentuk gelendong berekor, dan caudal (Brotowidjoyo, 1989). Semua Reptil bernapas dengan paru-paru. Jantung pada Reptil memiliki 4 lobus, 2 atrium dan 2 ventrikel. Pada beberapa Reptil sekat antara ventrikel kanan dan ventrikel kiri tidak sempurna sehingga darah kotor dan darah bersih masih bisa bercampur. Reptil merupakan hewan berdarah dingin yaitu suhu tubuhnya bergantung pada suhu lingkungan atau poikiloterm. Untuk mengatur suhu tubuhnya, Reptil melakukan mekanisme basking yaitu berjemur di bawah sinar matahari. Saluran ekskresi Kelas Reptil berakhir pada kloaka. Ada dua tipe kloaka yang spesifik untuk ordo-ordo Reptil. Kloaka dengan celah melintang terdapat pada Ordo Squamata yaitu Sub-ordo Lacertilia dan Sub-ordo Ophidia. Kloaka dengan celah membujur yaitu terdapat pada Ordo Chelonia dan Ordo Crocodilia (Zug, 1993). Kelas Reptil terdiri dari 4 ordo, yaitu ordo crocodilia (buaya dan aligator) terdiri dari 23 species, ordo Rhynchocepalia (tuatara dari selandia baru) terdiri dari 2 species, ordo Squamata (kadal, ular, amphisbaenians) terdiri dari sekitar 7600 species dan ordo testudinata (kura-kura dan penyu) terdiri dari 300 species (Carr, 1977). Tiga

ordo Reptil hidup yang tersebar dan paling beraneka ragam (dengan jumlah total sekitar 6500 spesies) adalah Chelonia (kura-kura), Squmata (kadal dan ular), dan Crocodilia (aligator dan buaya). Kura-kura berkembang selama zaman Mesozoikum dan hanya sedikit berubah sejak saat itu. Kadal dan Reptil yang paling banyak jumlahnya dan paling beraneka ragam yang masih hidup saat ini. Sebagian besar diantaranya berukuran relatif kecil. Ular sebenarnya adalah keturunan kadal yang memakai gaya hidup bersarang dalam lubang. Sedangkan buaya dan aligator merupakan sebagian dari Reptila hidup yang paling besar. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam air, dan menghirup udara melalui lubang hidungnya yang membuka ke atas (Campbell, 2003). Squamata dibedakan menjadi 3 sub ordo yaitu Subordo Lacertilia atau Sauria, Subordo Serpentes atau Ophidia dan Subordo Amphisbaenia. Adapun ciri-ciri umum anggota ordo Squamata antara lain tubuhnya ditutupi oleh sisik yang terbuat dari bahan tanduk. Sisik ini mengalami pergantian secara periodik yang disebut molting. Sebelum mengelupas, stratum germinativum membentuk lapisan kultikula baru di bawah lapisan yang lama. Pada Subordo Ophidia, kulit atau sisiknya terkelupas secara keseluruhan, sedangkan pada Subordo Lacertilia, sisiknya terkelupas sebagian.Bentuk dan susunan sisik-sisik ini penting sekali sebagai dasar klasifikasi karena polanya cenderung tetap. Pada ular sisik ventral melebar ke arah transversal, sedangkan pada tokek sisik mereduksi menjadi tonjolan atau tuberkulum (Rodrigues, 2003). Adapun ciri-ciri umum anggota ordo Squamata antara lain tubuhnya ditutupi oleh sisik yang terbuat dari bahan tanduk. Sisik ini mengalami pergantian secara periodik yang disebut molting. Sebelum mengelupas, stratum germinativum membentuk lapisan kultikula baru di bawah lapisan yang lama. Pada Subordo Ophidia, kulit/ sisiknya terkelupas secara keseluruhan, sedangkan pada Subordo Lacertilia, sisiknya terkelupas sebagian. Bentuk dan susunan sisik-sisik ini penting sekali sebagai dasar klasifikasi karena polanya cenderung tetap. Pada ular sisik ventral melebar ke arah transversal, sedangkan pada tokek sisik mereduksi menjadi tonjolan atau tuberkulum. Anggota squamata memiliki tulang kuadrat, memiliki ekstrimitas kecuali pada Subordo Ophidia, Subordo Amphisbaenia, dan beberapa spesies Ordo Lacertilia. Perkembangbiakan ordo squamata secara ovovivipar atau

ovipar dengan vertilisasi internal. Persebaran Squamata sangat luas, hampir terdapat di seluruh dunia kecuali Arktik, Antartika, Irlandia, Selandia Baru, dan beberapa pulau di Oceania (Weber, 1915) Ordo Chelonia memiliki ciri-ciri tubuh bulat pipih dan umumnya relatif besar, terbungkus oleh perisai. Perisai sebelah dorsal cembung disebut carapace, sedang perisai di sebelah ventral datar disebut plastron. Kedua bagian perisai ini digabungkan pada bagian lateral bawah, dibungkus oleh kulit dengan lapisan tanduk yang tebal. Hewan ini tidak memiliki gigi, tapi rahang berkulit tanduk sebagai gantinya. Tulang kuadrat pada cranium mempunyai hubungan bebas dengan rahang bawah, sehingga rahang bawah mudah digerakkan.Tulang rahang bagian belakang thorax dan tulang rusuk biasanya menjadi satu dengan perisai, ovipar, telur yang diletakkan dalam lubang pasir atau tanah.Extremitas sebagai alat gerak, baik di darat ataupun air. Kloaka dapat berfungsi dalam pernafasan di air (Marthey, 1997). Ordo Rhynchocephalia yang masih hidup sampai sekarang mempunyai bentuk seperti kadal, berkulit tanduk dan bersisik, bergranula dan punggungnya memiliki duri yang pendek.Tulang rahang mudah digerakkan. Columna

vertebralisnya adalah amphicoela, memiliki costae abdominalis. Spesies ini tidak terdapat di Indonesia. Contoh yang masih hidup sampai sekarang adalah Sphenodon punctatum atau sering disebut dengan Tuatura. Spesies ini memiliki panjang kurang lebih tiga puluh inchi (Iskandar, 2003). Ordo dari Testudinata seperti kura-kura memiliki tempurung kura-kura yang terdiri dari karapaks berbentuk cembung di bagian dorsal, dan plastron yang bentuknya relatif datar atau rata di bagian ventral. Pada bagian karapaks terdapat tulang vertebra/ neural, tulang pleural, tulang suprapygal, tulang pygal, tulang nuchal dan tulang peripheral. Pada bagian plastron terdapat tulang epiplastron, tulang entoplastron, tulang hyoplastron, tulang mesoplastron, dan tulang xiphiplastron. Di atas tulang-tulang penyusun karapaks dan plastron terdapat lapisan yang disebut keping perisai. Keping perisai pada karapaks terdiri dari keping vertebral, keping costal, keping marginal, keping nuchal, dan keping supracaudal. Keping perisai pada plastron terdiri dari keping gular, keping humeral, keping pectoral, keping abdominal, keping anal,dan keping femoral. Pada beberapa famili ada yang tidak

dilapisi dengan keping perisai seperti pada Famili Trionychidae dan Famili Charettochelydae (Iskandar, 2000) Jantung buaya memiliki 4 ruang namun sekat antar ventrikel kanan dan kiri tidak sempurna yang menyebabkan terjadinya percampuran darah. Pada jantungnya memiliki foramen panizza. Crocodilia merupakan hewan poikilotermik sehingga kebanyakan akan berjemur di siang hari unutk menjaga suhu tubuhnya. Mereka berburu di malam hari. Crocodilian dewasa terutama yang dominan memiliki teritori tersendiri, namun pada musim kering teritori tersebut dilupakan karena daerah mereka menyempit akibat kekeringan (Jafnir, 1985). Ada lebih dari 6500 jenis Reptil. Kebanyakan dari hewan yang bersisik dan berdarah dingin itu hidup di darat. Ada beberapa jenis Reptil yang melahirkan anaknya dan ada beberapa jenis kadal dimana betinanya dapat melahirkan tanpa perkawinan. Ada sekitar 150 jenis kadal dan cacing, mereka menyukai tanah yang lembab. Jika tanahnya terlalu kering, kadal dan cacing akan mengalami dehidrasi. Dan Reptil bernapas dengan paru-paru, berkaki empat dan sebagian besar bereproduksi dengan cara bertelur (ovipar) yang embrionya diselaputi oleh membrane amniotik (Amniota) walaupun ada beberapa spesies tertentu yang melahirkan (vivipar) serta yang menjadi ciri khas pada kelas Reptil adalah seluruh tubuhnya ditutupi oleh kulit kering berupa sisik. Sisik yang menutupi tubuh Reptil dan pada beberapa anggota ordo atau sub-ordo tertentu dapat melakukan pergantian kulit baik secara total pada anggota sub-ordo Ophidia dan pengelupasa sebagian pada anggota sub-ordo Lacertilia. Khusus pada ordo Chelonia dan Crocodilia sisiknya hampir tidak pernah mengalami pengelupasan atau pergantian mati (Kimball, 1991). Habitat dari Kelas Reptil ini bermacam-macam. Ada yang merupakan hewan akuatik seperi penyu dan beberapa jenis ular, semi akuatik yaitu Ordo Crocodilia dan beberapa anggota Ordo Chelonia, beberapa Sub-ordo Ophidia, terrestrial yaitu pada kebanyakan Sub-kelas Lacertilia dan Ophidia, bebepapa anggota Ordo Testudinata, sub terran pada sebagian kecil anggota Sub-kelas Ophidia, dan arboreal pada sebagian kecil Sub-ordo Ophidia dan Lacertilia (Iskandar, 2003). Pada anggota lacertilia, lidah berkembang baik dan dapat digunakan sebagai ciri penting untuk identifikasi. Semua Reptil memiliki gigi kecuali pada ordo testudinata. Pada saat jouvenile, Reptil memiliki gigi telur untuk merobek cangkang

telur untuk menetas, yang kemudian gigi telur tersebut akan tanggal dengan sendirinya saat mencapai dewasa. Beberapa jenis Reptil memiliki alat pendengaran dan ada yang yang dilengkapi telinga luar atupun tidak. Pada beberapa jenis lainnya, alat pendengaran tidak berkembang. Mata pada Reptil ada yang berkelopak dan ada yang tidak memiliki kelopak mata. Kelopak mata pada Reptil ada yang dapat digerakkan dan ada yang tidak dapat digerakkan dan ada juga yang berubah menjadi lapisan transparasi (Djuhanda, 1983). Kromatofora pada beberapa jenis dapat mengembang dan menguncup sehingga warna kulit berubah sesuai dengan keadaan lingkungan didekatnya. Kulit tidak memiliki lendir, anggota berjari lima dan beberapa jenis anggota hilang, memiliki kloaka, kemih dan beberapa jenis asam urat dalam fase padat bergabung dengan tinja dan keluar bersama-sama lewat dubur, tidak minum dan menyesuaikan diri hidup di tempat kering (Yatim, 1985)

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum Taksonomi Hewan Vertebrata dilaksanakan pada pukul 08.00 WIB sampai jam 11.00 WIB, hari Senin tanggal 31 Maret 2014 di Laboratorium Pendidikan I, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang. 3.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah bak bedah, penggaris, vernier caliper, kamera digital, tabel pengamatan dan alat tulis. Sedangkan bahan yang digunakan, yaitu Heosemys spinosa (kura-kura), Dogania subplana (labi-labi), Hemydactylus frenatus (cecak), Gecko monarchus (tokek), dan Mabuya multifasciata (kadal). 3.3 Cara Kerja Cara kerja pada praktikum kelas Amphibia ini adalah pertama objek diletakkan pada bak bedah dengan posisi kepala disebelah kiri. Objek itu diamati dan digambar. Kemudian dilakukan pengukuran serta perhitungan terhadap karakteristiknya, yaitu total length (TL), snout-to-vent length (SVL), tail length (TAIL), tympanium diameter (TD), eye diameter (ED), head width (HW), head length (HL), snout length (SL), fore foot length (FFL), limb front-foot length (LFL), upper front-foot length (UFL), hind foot length (HFL), limb hint-foot length (LHL), upper hind-foot length (UHL), body length (BL), wing span (WS), total supra labial scales (TSLS), total infra labial scales (TILS), total vertebral shell turtle (TVST), total pleural shell turtle (TPST). Selain itu juga diamati warna tubuh, bentuk gigi, dosolateral fold, dagu, carapace, hemiclitoris atau hemipenis dan plastron.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi 4.1.1 Dogania subplana Klasifikasi Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Vern. Name Spesies Sumber : Animalia : Chordata : Reptil : Testudinata : Trionychidae : Dogania : Labi-labi : Dogania subplana (Geoffroy Saint-Hilaire, 1809) : Asian Turtle Trade Working Group, 2000 Gambar 1. Dogania subplana

Dari hasil pengkuran, didapatkan hasil sebagai berikut Dogania subplana memiliki total length (TL) 120 mm, snout-to-vent length (SVL) 35 mm, tail length (TAIL) 14 mm, tympanium diameter (TD) 3 mm, eye diameter (ED) 3 mm, head width (HW) 12 mm, head length (HL) 30 mm, snout length (SL) 18 mm, fore foot length (FFL) 8 mm, limb front-foot length (LFL) 28 mm, upper front-foot length (UFL) 14 mm, hind foot length (HFL) 20 mm, limb hint-foot length (LHL) 20 mm, upper hind-foot length (UHL) 40 mm, body length (BL) 43 mm, wing span (WS) -, total supra labial scales (TSLS) -, total infra labial scales (TILS) -, total vertebral shell turtle (TVST) -, total pleural shell turtle (TPST) -, total marginal shell turtle (TMST) -, warna coklat kehitaman, ekor pendek, moncong menyerupai belalai. Dogania subplana memiliki carapace, plastron, gigi dan hemipenis dan tidak memiliki dorsolateral fold dan sisik, serta warna yang dimiliki yaitu hitam pada kepala, punggung, dagu dan paha. Dogania subplana hidup di alam seperti rawa-rawa, danau, sungai dan dapat pula hidup di kolam yang suhu airnya berkisar 25-30 o C. Hewan ini biasanya bersifat nokturnal, di siang hari lebih banyak bersembunyi dalam lumpur. Habitat yang disukai adalah perairan tergenang dengan dasar perairan lumpur berpasir , terdapat batu-batuan dan tak terlalu dalam. Labi-labi biasanya tak hanya tinggal di dasar perairan, tetapi terkadang nampak di atas batu-batuan untuk berjemur. Labi-labi

biasanya menyukai perairan yang banyak dihuni oleh hewan air (molusca, ikan, crustacea dan lain-lain) serta pada permukaan airnya terdapat tumbuh-tumbuhan air seperti enceng gondok, salvinia, monochorida, teratai dan lain-lainnya karena dapat menjadi bahan makanan di dalam air (Carr, 1977). Kebiasaan berjemur labi-labi merupakan salah satu kebutuhan hidup. Dengan berjemur matahari membuat semua air pada cangkang atas dan bawahnya terjemur kering, sehingga lumut, jamur, parasit yang menempel pada permukaan badannya dapat kering dan terkelupas. Bila tidak berjemur, maka bulus akan mudah terserang penyakit atau mendapat gangguan fisiologis (Iskandar, 2000). 4.1.2 Hemidactylus frenatus Kingdom Filum Subfilum Kelas Ordo Famili Genus Vern. Name Spesies Sumber : Animalia : Chordata : Vertebrata : Reptil : Squamata : Gekkonidae : Hemidactylus : Cicak : Hemidactylus frenatus Schlegel in Dumril & Bibron, 1836 : Ota, H. & Whitaker, A.H. 2010 Gambar 2. Hemidactylus frenatus

Dari hasil pengkuran, didapatkan hasil sebagai berikut: total length (TL) 105 mm, snout-to-vent length (SVL) 58 mm, tail length (TAIL) 47 mm, tympanium diameter (TD) 1 mm, eye diameter (ED) 4 mm, head width (HW) 12 mm, head length (HL) 12 mm, snout length (SL) 10 mm, fore foot length (FFL) 6 mm, limb front-foot length (LFL) 8 mm, upper front-foot length (UFL) 9 mm, hind foot length (HFL) 10 mm, limb hint-foot length (LHL) 11 mm, upper hind-foot length (UHL) 12 mm, body length (BL) 21 mm, wing span (WS) -, total supra labial scales (TSLS) 18, total infra labial scales (TILS) 23, total vertebral shell turtle (TVST) -, total pleural shell turtle (TPST) -, total marginal shell turtle (TMST) -, warna kuning kecoklatan, tidak mempunyai cakar, carapace, plastron, dorsolateral fold, hemipenis, dan scansor. Ciri-ciri tersebut sesuai dengan pendapat Goin (1971) bahwa Hemidactylus frenatus memiliki tubuh berbentuk pipih dorsolateral. Hemidactylus frenatus

memiliki badan seperti kadal atau dengan terbungkus bintil-bintil sisik yang dapat terkelupas sebagian. Pada cicak, sisik mereduksi menjadi tonjolan atau tuberkulum. Pada lidah terdapat lekukan dangkal pada ujung lidah. Hemydactylus frenatus sering dijumpai di rumah-rumah yang merayap pada dinding. Cicak rumah memiliki warna yang lebih terang dan halus dari tokek. Spesies ini ditemukan di daerah tropis dan subtropis. Merupakan spesies native di Asia selatan, Asia tenggara dan Indo-Australia Archipelago. Spesies ini sudah dipindahkan secara luas oleh manusia dan membentuk populasi baru Australia, Africa Timur, pulau Samudera Hindia, Mexico, dan Amerika Serikat (Bauer and Henle, 1994). Spesies nokturnal ini ditemukan batu-batu, di bawah batu atau pada kayu yang membusuk, dan di pohon-pohon, namun paling sering ditemukan pada bangunan. Spesies ini ditemukan di kedua desa dan daerah perkotaan besar, biasanya ditemukan di dekat lampu listrik pada hari senja (Malkmus, 2002). 4.1.3 Gecko monarchus (Linnaeus, 1758) Klasifikasi Kingdom Filum Kelas Ordo Subordo Famili Genus Vern. Name Spesies Sumber : Animalia : Chordata : Reptil : Squamata : Sauria : Geckonidae : Gecko : Tokek : Gecko monarchus (Linnaeus, 1758) : Zipcodezoo, 2011 Gambar 3. Gecko monarchus

Dari hasil pengkuran, didapatkan hasil sebagai berikut Gecko monarchus memiliki total length (TL) 180 mm, snout-to-vent length (SVL) 88 mm, tail length (TAIL) 92 mm, tympanium diameter (TD) 3 mm, eye diameter (ED) 4 mm, head width (HW) 20 mm, head length (HL) 21 mm, snout length (SL) 10 mm, fore foot length (FFL) 10 mm, limb front-foot length (LFL) 11 mm, upper front-foot length (UFL) 11 mm, hind foot length (HFL) 12 mm, limb hint-foot length (LHL) 11 mm, upper hind-foot length (UHL) 17 mm, body length (BL) 49 mm, wing span (WS) -, total supra labial

scales (TSLS) 10, total infra labial scales (TILS) 11, total vertebral shell turtle (TVST) -, total pleural shell turtle (TPST) -, total marginal shell turtle (TMST) -, warna abu-abu gelap dengan bintik-bintik berwarna hitam dan putih, mempunyai scensor, mempunyai cakar, kulit kasar (bintil), jari kaki terpisah. Gecko monarchus memiliki gigi berbentuk acrodont dan tidak memiliki carapace, plastron, dorsolateral fold dan hemipenis. Ciri tersebut sesuai dengan pendapat Siler (2014) bahwa Gekko monarchus memiliki kombinasi karakter sebagai berikut ukuran tubuh sedang (SVL 56,2-80,7 mm untuk jantan dewasa; 40,6-69,7 untuk betina), warna vertebral dengan bintik garis transversal gelap, supralabial berjumlah 11-13, preanofemorals 31-40; scansors Toe IV 13-15; internasals menghubungi rostral 1 atau 2 sisik ventral, midbody 3844, skala dorsal midbody 96-112, baris tuberkulum midbody 16-20, tuberkel vertebralis di ketiak-selangkangan 18-23, skala paravertebral di ketiak-selangkangan jarak 171-203, dan skala ventral di ketiak-selangkangan 57-61. Secara tradisional Gekko monarchus memiliki morfologi yang sama dengan G. mindorensis. Gecko monarchus memangsa aneka serangga, cecak lainnya yang lebih kecil, tikus kecil dan mungkin juga burung kecil. Seperti bangsa cecak lainnya, tokek aktif berburu terutama di malam hari. Terkadang tokek turun pula ke tanah untuk mengejar mangsanya. Di siang hari, tokek bersembunyi di lubang-lubang kayu, lubang batu, atau di sela atap rumah (Bennet,1999). Tokek melekatkan telurnya, yang biasanya berjumlah sepasang dan saling berlekatan, di celah-celah lubang pohon; retakan batu; atau jika di rumah, di belakang almari atau di bawah atap. Tempat bertelur ini kerap pula digunakan oleh beberapa tokek secara bersama-sama. Telur menetas setelah dua bulan lebih (Carr, 1977) 4.1.4 Eutropis multifasciata Klasifikasi Kingdom Filum Subfilum Kelas Ordo : Animalia : Chordata : Vertebrata : Reptil : Squamata Gambar 4. Eutropis multifasciata

Famili Genus Spesies Sumber

: Scincidae : Eutropis : Eutropis multifasciata (Kuhl,1820) : Djuhanda, 1982

Dari hasil pengkuran, didapatkan hasil sebagai berikut Eutropis multifasciata memiliki total length (TL) 106 mm, snout-to-vent length (SVL) 42 mm, tail length (TAIL) 64 mm, tympanium diameter (TD) 1 mm, eye diameter (ED) 3 mm, head width (HW) 6 mm, head length (HL) 6 mm, snout length (SL) 5 mm, fore foot length (FFL) 5 mm, limb front-foot length (LFL) 3 mm, upper front-foot length (UFL) 4 mm, hind foot length (HFL) 10 mm, limb hint-foot length (LHL) 6 mm, upper hindfoot length (UHL) 5 mm, body length (BL) 20 mm, wing span (WS) -, total supra labial scales (TSLS) 10, total infra labial scales (TILS) 8, total vertebral shell turtle (TVST) -, total pleural shell turtle (TPST) -, total marginal shell turtle (TMST) -, berwarna coklat mengkilat, memiliki garis warna orange dan coklat muda, ventral putih. Eutropis multifasciata memiliki hemiclitoris, gigi berbentuk acrodont, sisik perut dengan tipe cycloid, dan tidak memiliki carapace dan plastron. Ciri-ciri tersebut sesuai dengan pendapat warna tubuh: permukaan dorsal coklat, lebih atau sedikit seragam, atau dengan sisik hitam yang muncul sedikit, garis longitudinal hitam, betina muda cenderung menunjukkan warna yang lebih gelap pada permukaan lateral ditandai dengan bintik-bintik putih kehijauan-putih, sedangkan jantan memiliki bintik besar kuning hingga oranye pada leher dan anterior permukaan lateral, terutama selama musim kawin, cahaya venter dengan kehijauan ke semburat kebiruan. Spesies ini jika viviparous, betina melahirkan 2 hingga 10 keturunan (Baker, 2014). Penampang tubuh dari Mabuya multifasciata bersegi empat tumpul. Sisi atas tubuh berwarna coklat tembaga keemasan, kerap dengan bercak-bercak kehitaman di tepi sisik yang mebentuk pola garis memanjang yang kabur terputus-putus. Sisi lateral tubuh dengan warna gelap kehitaman atau coklat berbintik-bintik . Sisi bawah tubuh berwarna abu-abu keputihan (Goin, 1971) 4.1.5 Draco melanopogon Klasifikasi Kingdom : Animalia

Filum Kelas Ordo Famili Genus Species Sumber

: Chordata : Reptil : Squamata : Scincidae : Draco : Draco melanopogon (Gunther, 1867) : Zipcodezoo, 2011 Gambar 5. Draco melanopogon

Dari hasil pengkuran, didapatkan hasil sebagai berikut: total length (TL) 150 mm, snout-to-vent length (SVL) 60 mm, tail length (TAIL) 90, tympanium diameter (TD) 1 mm, eye diameter (ED) 5 mm, head width (HW) 10 mm, head length (HL) 20 mm, snout length (SL) 10 mm, fore foot length (FFL) 20 mm, limb front-foot length (LFL) 10 mm, upper front-foot length (UFL) 20 mm, hind foot length (HFL) 15 mm, limb hint-foot length (LHL) 10 mm, upper hind-foot length (UHL) 13 mm, body length (BL) 20 mm, wing span (WS) 10 mm, total supra labial scales (TSLS) 40, total infra labial scales (TILS) 40, total vertebral shell turtle (TVST) -, total pleural shell turtle (TPST) -, total marginal shell turtle (TMST) -, berwarna abu-abu dengan bercak-bercak berwarna puti, dan mempunyai sayap. Permukaan dorsal Draco melanopogon secara umum berwarna kehijauan. Jantan memiliki gular flag panjang berwarna hitan, sedangkan betina memiliki gular flag berwarna abu-abu kemerahan hingga abu-abu. Patagium berwarna hitam kecoklatan ditutupi bintik berwarna kuning. Tubuhnya panjang dan ramping, dan panjang ekor sekitar 60 % dari panjang total. Makanan utamanya terdiri dari semut, rayap dan invertebrata kecil lainnya. Betina meletakkan telur hanya dua di setiap kopling. Spesies kecil dan sedang ini umumnya berada di dataran rendah hutan hujan primer dan sekunder, dan meliputi Southern Thailand, Semenanjung Malaysia, dan Sumatera, Kalimantan dan pulau-pulau lain di Indonesia. Di Singapura terbatas pada hutan primer dari Bukit Timah dan hutan terutama sekunder dari DAS Tengah (Baker, 2014). 4.1.6 Bronchocela cristatella Klasifikasi: Kingdom Phylum : Animalia : Chordata

Subphylum Class Ordo Family Genus Spesies Sumber

: Vertebrata : Reptil : Squamata : Agamidae : Bronchocella : Bronchocella cristatella (Kuhl, 1820) : Kurniati, 2003

Dari hasil pengkuran, didapatkan hasil sebagai berikut Braberocella sp. memiliki total length (TL) 445 mm, snout-to-vent length (SVL) 100 mm, tail length (TAIL) -, tympanium diameter (TD) 1 mm, eye diameter (ED) 2 mm, head width (HW) 10 mm, head length (HL) 18 mm, snout length (SL) 6 mm, fore foot length (FFL) 10 mm, limb front-foot length (LFL) 11 mm, upper front-foot length (UFL) 10 mm, hind foot length (HFL) 10 mm, limb hint-foot length (LHL) 12 mm, upper hindfoot length (UHL) 38 mm, body length (BL) 82 mm, wing span (WS) -, total supra labial scales (TSLS) -, total infra labial scales (TILS) -, total vertebral shell turtle (TVST) -, total pleural shell turtle (TPST) -, total marginal shell turtle (TMST) -, berwarna abu-abu dengan bintik-bintik hitam, mempunyai sayap. Bronchocella cristatella mendiami hutan primer dan sekunder, tetapi juga dapat ditemukan di daerah terganggu dan taman. Warna tubuh hijau terang, kadangkadang dengan semburat kebiruan di kepala. Ketika terancam warna tubuh bisa menjadi lebih coklat. Jantan memiliki leher crest menarik. Panjang ekor lebih dari 75 persen dari panjang total. Kadal ini diketahui terdapat di Burma, Thailand, Semenanjung Malaysia, Singapura, berbagai pulau Filipina (dari Luzon di utara ke Mindanao dan Palawan di selatan), Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan bagian lain dari Indonesia Timur, dan Jawa, tapi tidak terdapat di Bali. Di Singapura kelimpahannya menurun, mungkin karena persaingan yang diganti Lizard Calotes versicolor (Baker, 2014). 4.1.7 Gonochepalus grandis Kingdom Phylum Subphylum Class : Animalia : Chordata : Vertebrata : Reptil

Ordo Family Genus Species Sumber

: Squamata : Agamidae : Gonocephalus : Gonocephalus grandis Gray, 1845, : Mistar, 2008

Dari hasil pengkuran, didapatkan hasil sebagai berikut Gonochepalus sp. memiliki total length (TL) 480 mm, snout-to-vent length (SVL) 130 mm, tail length (TAIL) 350 mm, tympanium diameter (TD) 4 mm, eye diameter (ED) 10 mm, head width (HW) 38 mm, head length (HL) 22 mm, snout length (SL) 27 mm, fore foot length (FFL) 23 mm, limb front-foot length (LFL) 24 mm, upper front-foot length (UFL) 25 mm, hind foot length (HFL) 43 mm, limb hint-foot length (LHL) 35, upper hind-foot length (UHL) 35, body length (BL) 53, wing span (WS) -, total supra labial scales (TSLS) -, total infra labial scales (TILS) -, total vertebral shell turtle (TVST) 5 mm, total pleural shell turtle (TPST) 6 mm, total marginal shell turtle (TMST) 24 mm. Gonochepalus grandis terdapat di sepanjang sungai hutan di dataran rendah, bukit hutan hujan tropis dan khususnya hutan rawa air tawar. Hal ini menyebabkan gaya hidup arboreal, dan dapat ditemukan menempel di vegetasi sungai dan batang pohon di dekatnya (Baker, 2014). Grismer (2011) melaporkan bahwa jantan mungkin tinggal hingga 15 meter di atas tanah, sementara betina cenderung hidup lebih dekat dengan permukaan tanah, kadang-kadang beristirahat di batu-batu. Ketika terganggu kadal ini dapat melompat ke dalam air dan berenang menjauh dengan cepat, kadangkadang menenggelamkan diri dan menempel ke dasar sungai untuk menghindari ancaman potensial. Secara umum kebanyakan agamids lain, mereka memangsa berbagai invertebrata termasuk berbagai serangga , belatung serangga dan beberapa laba-laba. 4.1.8 Eutropis rudis Klasifikasi: Kingdom Filum Kelas Ordo : Animalia : Chordata : Reptilia : Squamata

Famil Genus Species

: Scincidae : Eutropis : Eutropis rudis Boulenger, 1887

Dari praktikum yang telah dilakukan maka didapatkan hasil untuk Eutropis rudis memiliki total length (TL) 260 mm, snout-to-vent length (SVL) 90 mm, tail length (TAIL) 70 mm, tympanium diameter (TD) 2 mm, eye diameter (ED) 4 mm, head width (HW) 18mm, head length (HL) 24 mm, snout length (SL) 10 mm, fore foot length (FFL) 33 mm, limb front-foot length (LFL) 15 mm, upper front-foot length (UFL) 13 mm, hind foot length (HFL) 15 mm, limb hint-foot length (LHL) 16 mm, upper hind-foot length (UHL) 18 mm, body length (BL) 45 mm, total supra labial scales (TSLS) 15 buah, total infra labial scales (TILS) 17 buah, dan warna tubuh coklat silver. Spesies ini merupakan hewan terestrial yang cukup besar, dan terdapat di dataran rendah hutan hujan primer dan sekunder hingga 700 meter di ketinggian (mungkin lebih tinggi di Kalimantan). Hal ini juga dapat beradaptasi dengan daerah kering, habitat sekunder yang sangat terganggu. Seperti yang lain ' kadal matahari' itu dapat ditemukan berjemur di bawah sinar matahari dalam pembukaan hutan. Spesies ini terbaik diidentifikasi oleh bentuk tubuh yang kuat, yang bermata pucatdark brown stripe luas di sepanjang bagian atas setiap sayap, dan perut pucat. Dorsal timbangan masing-masing memiliki tiga keels, yang memberikan skink penampilan berkulit kasar nya. Ini memakan berbagai invertebrata lantai hutan termasuk berbagai serangga. Spesies ini berkisar dari Sumatera, Kalimantan dan pulau-pulau yang berdekatan yang lebih kecil untuk Sulawesi dan bagian dari Filipina selatan (Baker, 2014).

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Dari praktikum Identifikasi dan Morfologi Reptil dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Dogania subplana memiliki tubuh warna coklat kehitaman, ekor pendek, moncong menyerupai belalai. Dogania subplana memiliki carapace, plastron, gigi dan

hemipenis dan tidak memiliki dorsolateral fold dan sisik, serta warna yang dimiliki yaitu hitam pada kepala, punggung, dagu dan paha. 2. Hemidactylus frenatus memiliki tubuh warna kuning kecoklatan, tidak mempunyai cakar, carapace, plastron, dorsolateral fold, hemipenis, dan scansor. 3. Gecko monarchus memiliki tubuh warna abu-abu gelap dengan bintik-bintik berwarna hitam dan putih, mempunyai scensor, cakar, kulit yang kasar (bintil), dan jari kaki terpisah. 4. Eutropis multifasciata memiliki tubuh berwarna coklat mengkilat, memiliki garis warna orange dan coklat muda, ventral putih. 5. Draco melanopogon memiliki tubuh berwarna abu-abu dengan bercak-bercak berwarna puti, dan mempunyai sayap. 6. Bronchocela cristatella memiliki tubuh berwarna abu-abu dengan bintik-bintik hitam, mempunyai sayap. 7. Gonocephalus grandis berhabitat di sepanjang sungai hutan di dataran rendah, bukit hutan hujan tropis dan khususnya hutan rawa air tawar yang menyebabkan gaya hidup arboreal. 8. Eutropis rudis memiliki warna tubuh coklat silver. 5.2 Saran Dari praktikum yang telah dilaksanakan hendaknya data yang di ambil dalam pengukuran haruslah secara sempurna. Selain itu sebelum melakukan praktikum para praktikan sebaiknya sudah menguasai bahan-bahan materi yang akan dipraktikumkan sehingga memudahkan untuk pemahamannya. Bimbingan dari asisten juga sangat diperlukan.

DAFTAR PUSTAKA

Baker, Nick. 2014. http://www.ecologyasia.com/verts/lizards/black bearded_gliding_lizard.htm Bauer, A.M., Henle, K. 1994. Das Tierreich 109, Gekkonidae (Reptilia: Sauria). Part I. Australia and Oceania. Berlin, Walter De Gruyter Publishers. Bennet, D.1999. Expedition Fieled Tachniques of Reptiland Amphibian. Royal Geographycal. London Brotowidjoyo. 1989. Zoologi Dasar. Erlangga. Jakarta Campbell, Neil A. 1999. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Erlangga. Jakarta Campbell, Neil A. 2003. Biologi Jilid 2. Erlangga. Jakarta Carr, A.1977. The Reptil he life. Time Books inc Alexandria Djuhanda, T. 1983. Anatomi dari Empat Spesies Hewan Vertebrata. Amrico. Bandung Goin, C. J and O. B. Goin. 1971. Intoduction to Herpetology. Second edition. WH. Freeman and Company. San fransisco Grismer, L. Lee; Chan K. Onn, Jesse L. Grismer, Perry L. Wood, Jr., and A. Norhayati. 2010. A Checklist Of The Herpetofauna Of The Banjaran Bintang, Peninsular Malaysia. Russ. J. Herpetol. Iskandar, D. T. 2000. Buaya dan Kura-Kura Indonesia. Puslitbang Biologi-LIPI. Bogor. Indonesia. Iskandar, D.T. 2003. Panduan Lapangan Amfibi Kawasan Ekosistem Leuser. LIPI. Jakarta Jafnir. 1985. Pengantar Anatomi Hewan Vertebrata. Universitas Andalas : Padang. Kimball, J. W. 1991. Biologi. Erlangga. Jakarta

Malkmus, P. Hoffmann, dan G. Vogel. 2002. Amphibians and Reptiles of Mount Kinabalu (North Borneo). A.R.G. Ganther Verlag, Rugell. Marthey, V & w. Grossman. 1997. Amphibia and Reptile. Sudestation. NTV Verlag. Munster. Pope, CH. 1956. The Reptile World. Routledge and Kegal Paul Ltd. London. Rodrigues, Maurice. 2003. The Complete Chelonian Taxonomy List World Chelonian Trust. http://www.chelonia.org/Turtle_Taxonomy.htm. diakses pada Maret 2014. Siler, Cameron. 2014. http://eol.org/pages/794399/details Weber, M. 1915. The Reptil of The Indo-Australian Archipelago. Amsterdam Yatim, W. 1985. Biologi jilid II. Tarsito. Bandung. Zug, George R. 1993. Herpetology : an Introductory Biology of Ampibians and Reptiles. Academic Press. London. Jasin, M. 1992. Zoologi Vertebrata Untuk Perguruan Tinggi. Sinar Jaya. Surabaya.