Anda di halaman 1dari 14

ABSTRAK Setiap benda di bumi ini memililiki karakteristik khusus dalam menanggapi radiasi yang menimpanya terutama radiasi

gelombang

elektromagnetik. Secara teori benda hitam akan menyerapa seluruh nya terhadap radiasi yang diterima nya artinya tidak ada yang dipantulkan. Tetapi jika kita tinjau secara klasik, benda hitam ini haruslah memancarkan seluruh energi yang diserapnya agar energi dari benda bisa terukur. Eksperimen yang dilakukan oleh Stefen dan Boltzman menggambarkan bahwa energi yang dipancarkan oleh benda hitam itu akan sebanding dengan temperatur benda itu sendiri. Temperatur ini sangat menentukan bagaiaman bentuk energi yang dipancarkan kaitannya dengan panjang gelombang. Semakin tinggi temperatur maka semakin banyak energi yang dipancarkan dalam panjang gelombang yang tampak seperti merah, jingga dan lain-lain. Pada praktikum ini, kita akan mengukur bagaimana prilaku benda hitam yang memang telah di teliti sebelumnya. Dan bagaimana energi yang dipancarkannya serta kaitannya dengan temperatur benda hitam itu sendiri. Kita juga akan membuktikan niai dari emivisitas benda hitam .

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketika kita memakai pakaian warna hitam akan terasa lebih cepat panas dari pada memakai pakaian warna putih. Itu karena prilaku setiap warna dalam menanggapi panas/kalor yang masuk itu berbeda. Dan warna hitam memiliki sifat menyerap seluruh panas sehingga akan terasa lebih panas dibanding dengan warna putih yang memantulkan panas itu sendiri. Josef Stefan merumuskan tentang prilaku suatu benda khususnya benda hitam, kaitannya dengan energi dan panas yang diterimanya. Stefan mengatakan bahwa intensitas radiasi dari permukaan suatu benda hitam akan sebanding dengan temperatur pada benda itu. Dan argumen ini diperkuat dengan Ludwig Boltzmann dengan experimennya sehingga kita kenal dengan Hukum Stefen-Boltzmann.

1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana sebenarnya prilaku benda hitam ? 2. Bagaimana cara kita dapat mengetahui nilai daya radiasi ? 3. Bagaimana menentukan emisivitas dari suatu benda dalam menanggapi panas yang diterimanya?

1.3 Tujuan Percobaan 1. Memahami teori radiasi Benda Hitam 2. Menentukan Konstanta Stefan Boltzmann 3. Menentukan Emisifitas suatu benda

BAB II TEORI DASAR

2.1 Radiasi Benda Hitam Benda hitam (black body) dalam bahasa fisika adalah obyek yang menyerap seluruh radiasi elektromagnetik yang jatuh kepadanya dan tidak ada radiasi yang dapat keluar atau dipantulkannya. Istilah benda hitam ini, pertamakali diperkenalkan oleh fisikawan Belanda, yang bernama Gustav Robert Kirchhoff pada tahun 1862. Istilah benda hitam (black body) tidaklah harus merupakan benda yang benar-benar hitam. Hal ini disebabkan karena benda tersebut juga memancarkan cahaya/gelombang yang warna cahayanya tergantung pada suhu/temperatur benda tersebut. Semakin tinggi suhu benda tersebut, radiasi yang dipancarkannya akan mendekati radiasi cahaya tampak, mulai dari merah, jingga, kuning, hijau, dan seterusnya. [1] Meskipun namanya benda hitam, suatu benda tidaklah harus benarbenar hitam karena benda itu juga memancarkan energi. Jumlah dan jenis radiasi elektromagnetik yang dipancarkannya bergantung pada suhu benda hitam tersebut. Benda hitam dengan suhu di bawah sekitar 700 Kelvin hampir semua energinya dipancarkan dalam bentuk gelombang inframerah, sangat sedikit energi yang dipancarkan dalam panjang gelombang tampak. Semakin tinggi temperatur, semakin banyak energi yang dipancarkan dalam panjang gelombang tampak dimulai dari merah, jingga, kuning dan putih. Dalam laboratorium, benda yang paling mendekati radiasi benda hitam adalah radiasi dari sebuah lubang kecil pada sebuah rongga. Cahaya apa pun yang memasuki lubang ini akan dipantulkan dan energinya diserap oleh dindingdinding rongga berulang kali, tanpa memedulikan bahan dinding dan panjang gelombang radiasi yang masuk (selama panjang gelombang tersebut lebih kecil dibandingkan dengan diameter lubang). Lubang ini (bukan rongganya) adalah pendekatan dari sebuah benda hitam. Jika rongga dipanaskan, spektrum yang dipancarkan lubang akan merupakan spektrum kontinu dan tidak bergantung pada bahan pembuat rongga. Pancaran radiasinya mengikuti suatu kurva umum (lihat gambar 1). Berdasarkan hukum radiasi termal dari Kirchhoff, kurva ini hanya

bergantung pada suhu dinding rongga, dan setiap benda hitam akan mengikuti kurva ini. [2]

Gambar 1. Kurva radiasi benda hitam

2.2 Hukum Stefan-Boltzmann Hukum Stefan-Boltzmann yang juga biasa disebut hukum Stefan menunjukkan hubungan yang menggambarkan daya yang terpancar dari benda hitam berkaitan dengan suhu. Secara khusus, hukum Stefan-Bolztmann menyatakan bahwa energi radiasi total per satuan luas dari benda hitam di semua panjang gelombang per satuan waktu berbanding lurus dengan T4. Hal tersebut dinyatakan secara matematis dengan (1) I = Intensitas radiasi (joule/s), = konstanta Stefan-Boltzmann = 5,67x10-8 joule s-1m-2K-4, dan T = suhu mutlak benda (K). Untuk benda panas yang bukan merupakan benda hitam akan memenuhi hukum yang sama, hanya saja ditambahkan satu parameter yaitu emisivitas sehingga persamaan (1) menjadi (2) dengan e adalah emisivitas. Emisivitas adalah rasio energi yang diradiasikan oleh material tertentu dengan energi yang dirasikan oleh benda hitam (black body) pada temperatur yang sama. Ini adalah ukuran dari kemampuan suatu benda untuk meradiasikan energi yang diserapnya. Benda hitam sempurna memiliki emisivitas sama dengan 1 (e=1) sementara objek sesungguhnya memiliki emisivitas kurang dari satu. Emisivitas adalah satuan yang tidak berdimensi Pada umumnya, semakin kasar dan hitam benda tersebut, emisivitas meningkat mendekati 1.

Absorptivitas adalah kemampuan suatu benda atau ruang untuk menerima radiasi elektromagnetik. Secara umum, benda yang berwarna hitam memiliki absorptivitas yang tinggi. Dan sama seperti emisivitas, jika ada suatu benda atau ruangan yang hitam pekat, maka benda atau ruang tersebut memiliki absorptivitas 100%. Jadi benda atau ruang yang hitam pekat menerima semua radiasi yang dipancarkan benda lain tanpa memantulkannya, memanaskan dirinya sendiri, kemudian melepaskan semua energinya bergantung temperaturnya sendiri. Lambang absorptivitas adalah . [3]

2.3 Hukum Rayleigh-Jeans Dalam fisika, hukum Rayleigh-Jeans berupaya untuk menggambarkan spektrum radiasi elektromagnetik di semua panjang gelombang dari radiasi benda hitam dengan kajian secara klasik. Untuk panjang gelombang , (3) dimana c adalah kecepatan cahaya, k adalah tetapan Boltzmann, dan T adalah suhu dalam Kelvin. Untuk frekuensi v, persamaan di atas menjadi (4) Hukum Rayleligh-Jeans sesuai dengan hasil eksperimen dengan panjang gelombang yang besar atau frekuensi yang rendah, tetapi sangat bertentangan pada panjang gelombang yang pendek. Ketidakkonsistenan antara hasil eksperimen dan teori klasik ini umumnya dikenal sebagai bencana ultraviolet. [4] Dalam fisika, bencana ultraviolet (ultraviolet catastrophe), yang disebut juga bencana Rayleigh-Jeans, adalah peramalan klasik, yang dibuat pada akhir abad ke-19, bahwa benda hitam ideal pada kesetimbangan termal akan memancarkan radiasi dengan daya tak hingga. Walaupun ramalan ini terbukti salah berdasarkan pengamatan, ramalan ini merupakan tanda-tanda awal adanya masalah pada fisika klasik. Pada tahun 1900, pemecahan Max Planck terhadap masalah ini bermuara pada bagian-bagian awal mekanika kuantum. [4]

Gambar 2. Kurva perbandingan antara hasil eksperimen dengan teori Rayleigh-Jeans

2.4 Hukum Pergeseran Wien Ilmuwan lain yang mempelajari spektrum radiasi benda hitam adalah Wilhelm Wien. Wien mempelajari hubungan antara suhu dan panjang gelombang pada intensitas maksimum.

Gambar 3. Intensitas radiasi benda pada berbagai suhu

Puncak-puncak kurva pada gambar 3 menunjukkan intensitas radiasi pada tiaptiap suhu. Dari gambar tersebut tampak bahwa puncak kurva bergeser ke arah panjang gelombang yang pendek jika suhu semakin tinggi. Panjang gelombang pada intensitas maksimum ini disebut sebagai maks. Wien merumuskan hubungan antara suhu dan maks sebagai berikut (5) Persamaan ini dapat mendeskripsikan panjang gelombang pendek (frekuensi tinggi) spektrum emisi termal dari objek dengan akurat, tapi gagal untuk menyesuaikan dengan data eksperimental untuk emisi panjang gelombang panjang (rendah frekuensi) secara akurat. Pada tahun-tahun yang dimulai dari akhir abad ke-19 hingga awal abad ke 20, tidak ada penjelasan teoritis yang

dengan baik berhasil menjelaskan fenomena radiasi termal, meski terdapat beberapa usaha untuk menjelaskannya berdasarkan hukum-hukum fisika yang telah diketahui sebelumnya. Karenanya, bagi ahli fisika pada tahun-tahun itu, hal tersebut sangat membingungkan. [5]

2.5 Hukum radiasi Planck Pada tahun 1900 Max Planck mengemukakan teorinya tentang radiasi benda hitam yang sesuai dengan hasil eksperimen. Planck menganggap bahwa gelombang elektromagnetik berperilaku sebagai osilator di rongga. Getaran yang ditimbulkan osilator kemudian diserap dan dipancarkan kembali oleh atom-atom. Planck sampai pada kesimpulan bahwa energi yang dipancarkan dan diserap tidaklah kontinu. Tetapi, energi dipancarkan dan diserap dalam bentuk paketpaket energi diskret yang disebut kuanta. Dengan hipotesanya, Planck berhasil menemukan suatu persamaan matematika untuk radiasi benda hitam yang benarbenar sesuai dengan data hasil eksperimennya. Persamaan Planck tersebut kemudian disebut hukum radiasi benda hitam Planck. Ia berpendapat bahwa ukuran energi kuantum sebanding dengan frekuensi radiasinya. Rumusannya adalah: (6) Dengan n adalah bilangan kuantum utama, h adalah konstanta Planck = 6,626 x 10-34 Joule sekon, dan v adalah frekuensi radiasi. [6]

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN 3.1 Alat dan Bahan 1. Bangku optik (Bangku penghubung) Fungsi : Sebagai tempat untuk menyusun alat-alat percobaan agar semua alatnya berada dalam satu garis lurus. 2. Termokopel Mall Fungsi : Untuk manangkap radiasi termal benda hitam yang dihubungkan dengan alat pengukur tegangan digital. 3. Mikrovoltmeter Fungsi : Untuk mengukur tegangan output yang keluar dari termokopel mall dalam skala mikro. 4. Tabung Oven Fungsi : Sebagai alat pemanas untuk menaikkan suhu benda hitam. 5. Probe suhu (temperatur) Fungsi : Untuk mendeteksi suhu yang menghubungkan rongga benda hitam dengan alat pengukur suhu digital. 6. Alat ukur suhu digital Fungsi : Untuk mengukur suhu benda hitam. 7. Statif besar Fungsi : Sebagai alat penyangga perlengkapan praktikum. 8. Multiclamp 4 buah Fungsi : Untuk menyangga alat agar sesuai dudukannya 9. Kabel penghubung (kuning) 2 buah (@ 1 meter) Fungsi : Untuk menghubungkan Mikrovoltmeter dengan Probe Suhu 10. Clamp (jepitan) Bunsen Fungsi : Untuk menjempit Bunsen 11. Diapragma pinhall Fungsi : Sebagai benda yang dikenai oleh radiasi benda hitam

3.2 Prosedur Percobaan 1. Susunlah alat-alat seperti pada gambar, dan terlebih dahulu periksakan susunan alat-alat pada asisten sebelum disambungkan pada sumber tegangan (PLN 220 volt). 2. Ukurlah suhu ruangan tempat percobaan dan luas pinhall. 3. Kalibrasi mikrovoltmeter. 4. Catat tegangan pada mikrovoltmeter sebagai tegangan awal. Panaskan alat pemanas benda hitam selama 5 menit, usahakan supaya panasnya stabil. Ukur suhu dan tegangan setelah 5 menit tersebut. 5. Lanjutkan proses pemanasan untuk setiap kenaikan suhu tertentu, catatlah kenaikan tegangan yang ditunjukkan mikrovoltmeter hingga suhu benda hitam mencapai 4000C. 6. Lakukan percobaan diatas untuk jarak oven dan termokopel mall yang berbeda 7. Lakukan pula pengukuran dengan beberapa luas pinhall yang berbeda.

Lampiran Tugas Pendahuluan 1. Apa yang dimaksud dengan radiasi , flux radiasi dan iradiasi ? 2. Untuk mendukung jawaban pertanyaan (1), cari dua buah logam dari bahan yang sama, yang satu beri cat hitam dan yang lain dengan cat putih, panaskan sampai temperatur sama/bersamaan (buat seperti tabung Leslie) dan ukur radiasi panasnya. 3. Apa yang dimaksud dengan Benda hitam ? adakah kaitannya dengan warna hitam? Jelaskan. 4. Besaran apa yang menentukan tingkat kehitaman suhu benda? 5. Tunjukan (lihat pustaka) model ideal sebuah benda hitam? 6. Cermati benda hitam yang digunakan dalam eksperimen ini, bahas kaitannya dengan jawaban pertanyaan (1) dan (3) 7. Apa yang dimaksud dengan emisifitas dan Absorbsivitas suatu benda. Melalui aktivitas pada (2) buktikan bahwa benda hitam menyerap dan memancarkan kembali semua panas yang diterima nya (Jika tidak memungkinkan dilakukan eksperimen sendiri boleh menggunakan data sekunder) 8. Dalam percobaan ini digunakan sensor dan alat ukur temperatur digital. Uraikan prinsip kerja sensor temperatur tersebut dan jelaskan prinsip konversinya menjadi tegangan. 9. Seperti pertanyaan (8) untuk detektor radiasi yang digunakan 10. Jelaskan peran diafragma pinhall dan apa pengaruh diameter pinhall terhadap hasil pengukuran. 11. Cari contoh penerapan/pemanfaatan radiasi panas untuk keperluan praktis ataupun non-praktis. 12. Jelaskan rumusan plank tentang radiasi benda hitam apa kaitannya dengan Hukum Stefan Boltzmann 13. Apa yang dimaksud dengan Pergeseran Wien?

Jawaban Tugas Pendahuluan 1. Radiasi mendeskripsikan setiap proses di mana energi bergerak melalui media atau melalui ruang, dan akhirnya diserap oleh benda lain Flux Radiasi adalah Jumlah per bagian dari setiap energi radiasi yang dipancarkan, dipindahkan, ataupun diterima. Iradiasi adalah Kerapatan radiasi flux yang terjadi di sebuah permukaan. 2. Dua benda dengan tipe seperti ini akan memancarkan radiasi dengan spektrum yang sama jika temperaturnya sama, tidak tergantung pada warna cat pelapis kedua benda tersebut. Karena, benda hitam ideal didefinisikan sebagai sesuatu yang menyerap semua radiasi

elektromagnetik yang mengenainya, atau mengemisikan semua radiasi elektromagnet yang dimiliknya. 3. Benda hitam (bahasa Inggris black body) adalah obyek yang menyerap seluruh radiasi elektromagnetik yang jatuh kepadanya. Tidak ada radiasi yang dapat keluar atau dipantulkannya. Namun demikian, dalam fisika klasik, secara teori benda hitam haruslah juga memancarkan seluruh panjang gelombang energi yang mungkin, karena hanya dari sinilah energi benda itu dapat diukur..Ada hubungannya dengan warna hitam karena warna hitam memiliki emisivitas mendekati 1 dan nilai ini mempengaruhi berapa besar jumlah kalor yang dapat diserap. 4. Besaran yang dapat menentukan tingkat kehitaman adalah emisivitas, nilai ini dari 0 sampai 1. 5. Model ideal sebuah benda bisa ditentukan berdasarkan nilai emisivitas (e), maka benda hitam sempurna memiliki nilai e= 1 . ( 6. Pada percobaan ini yang bertindak sebagai benda hitam adalah dinding bagian dalam dari oven pemanas elektrik. Bahan ini cukup ideal untuk dijadikan sebagai benda hitam walaupun sebenarnya tidak terlalu ideal. Dan bisa meradiasikan panas pada bagian dalam oven. 7. Emisivitas adalah rasio energi yang diradiasikan oleh material tertentu dengan energi yang dirasikan oleh benda hitam (black body) pada temperatur yang sama. Ini adalah ukuran dari kemampuan suatu benda untuk meradiasikan energi yang diserapnya.

Absorbtivitas monokromatik : rasio dari radiasi yang datang dengan panjang gelombang yg diabsorbsi oleh suatu permukaan thd radiasi datang yang diabsorbsi oleh suatu permukaan hitam. 8. Salah satu jenis sensor suhu adalah sensor suhu LM 35 dimana sensor suhu LM 35 dapat dikalibrasikan langsung dalam derajat celcius dan harganya pun tidak terlalu mahal. Karena suhu hanya mengeluarkan sinyal analog, maka harus merubahnya ke dalam format digital menggunakan ADC untuk kemudian ditransmisikan ke mikrokontroler. ADC yang digunakan adalah ADC 0804. Prinsip dasar dari kerja sensor suhu adalah dengan memanfaatkan sifat dari bahan dioda seperti silikon dan germanium. Dan didukung oleh rangkaian pengkondisi yang disebut rangkaian sumber arus. Secara matematis, konversinya menjadi tegangan adalah V = -2.10-3 T + 0,68 (untuk dioda berbahan silikon) 9. Sama halnya dengan sensor suhu, karena radiasi ini ada kaitannya dengan panas yang dipancarkan oleh oven yang bertindak sebagai benda hitam. 10. Fungsi dari pinhall adalah untuk mengatur besar kecil nya intensitas yang dapat diserap oleh benda hitam. Jika diameter pinhall dirubah akan berpengaruh pada suhu/temperatur yang didapat. 11. Pemanfaatannya : - Untuk keperluan praktis seperti menjemur pakaian, alat penghangat ruangan dll - Untuk keamanan, eksplorasi luar angkasa, Sterilisasi / Iradiasi dll. 12. Plank Merumuskan : - Planck menemukan rumus dengan menginterpolasikan rumus Wien dan rumus Rayleigh-Jeans dengan mengasumsikan bahwa terbentuknya radiasi benda hitam adalah dalam paket-paket energi. - Konsep paket energi atau energi terkuantisasi ini merupakan hipotesis Max Planck yang merupakan rumus yang benar tentang kerapatan energi radiasi benda hitam.

- Energi radiasi diserap dan dipancarkan oleh molekul-molekul secara diskret yang disebut kuanta atau foton. Energi radiasi ini terkuantisasi, di mana energi untuk satu foton adalah: E = h.v dengan h merupakan konstanta perbandingan yang dikenal sebagai konstanta Planck. Nilai h ditentukan oleh Planck dengan menyesuaikan fungsinya dengan data yang diperoleh secara percobaan. Nilai yang diterima untuk konstanta ini adalah: h = 6,626 10-34 Js = 4,136 10-34 eVs. Planck belum dapat menyesuaikan konstanta h ini ke dalam fisika klasik, hingga Einstein menggunakan gagasan serupa untuk menjelaskan efek fotolistrik. 13. W. Wien merumuskan bahwa terjadi pergeseran maksimum maks sesuai perumusan maks T = 2.898 x10-3 m K hubungan di atas dikenal sebagai hukum pergeseran Wien tahun 1896 Wien mengemukakan persamaan sebaran radiasi (T) =A -5e-B/
T

DAFTAR PUSTAKA

[1] Milanisti, Sastra. 2013. http://www.scribd.com/doc/124935374/FISIKAKUANTUM-RADIASI-BENDA-HITAM, diakses pada 03 Maret 2014 pada jam 19.00 WIB

[2] Planck, Max. (1901). "On the Law of Distribution of Energy in the Normal Spectrum". Annalen der Physik, vol. 4, p. 553 ff

[3] Aamz9993. 2012. http://pembelajar9993.wordpress.com/2012/04/10/eksperimen-stefanboltzmann/ diakses pada 28/02/2014 pukul 08.30 WIB

[4] Widy, Putu. 2009. http://physicsnext.wordpress.com/2009/06/02/bencanaultraviolet-ultraviolet-catastrophe/, diakses pada 03 Maret 2014 pada jam 19.00 WIB

[5] Anonim. 2011. http://www.scribd.com/doc/57747081/37/B-HukumPergeseran-Wien, diakses pada Jumat, 03 Maret 2014 pada jam 19.00 WIB

[6] Anonim. 2010. http://fisika12.blogspot.com/2010/08/pergeseranwean.html diakses pada Jumat, 29 Maret 2013 pada jam 19.00 WIB

Beiser, Arthur. 1995. Konsep Fisika Modern Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga.