Anda di halaman 1dari 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Obat tetes mata (Guttae opthalmicae) Obat mata dapat dibagi menjadi tiga macam, diantaranya: Obat cuci mata (collyria), Obat tetes mata (guttae opthalmicae) dan Salep mata. Bahan-bahan yang digunakan sebagai obat mata biasanya merupakan bahan-bahan yang bersifat antiseptika (menghilangkan mikroorganisme pada selaput lendir mata), misalnya asam borat, protargol, kloramfenikol, basitrasin; dan bahan yang bersifat adstringensia (mengerucutkan selaput lendir mata), misalnya Zink Sulfat. Dalam pembuatan obat mata perlu diperhatikan kebersihan, kejernihan, kestabilan pH dan tekanan osmosis yang sama dengan tekanan darah dan untuk sediaan obat tetes mata harus melalui proses sterilisasi. Tetes mata adalah larutan berair atau larutan berminyak yang idealnya harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut : 1. steril ketika dihasilkan 2. bebas dari partikel-partikel asing 3. bebas dari efek mengiritasi 4. mengandung pengawet yang cocok untuk mencegah pertumbuhan dari mikroorganisme yang dapat berbahaya yang dihasilkan selama penggunaan. 5. Jika dimungkinkan larutan berair seharusnya isotonis dengan sekresi lakrimal konsentrasi ion hidrogen sebaliknya cocok untuk obat khusus, dan idelanya tidak terlalu jauh dari netral 6. stabil secara kimia Asam boric Boric acid atau asam borat (H3BO3) merupakan asam organik lemah yang sering digunakan sebagai antiseptik, dan dapat dibuat dengan menambahkan asam sulfat (H2SO4) atau asam khlorida (HCl) pada boraks. Asam borat juga sering digunakan dalam dunia pengobatan dan kosmetika, misalnya larutan asam borat dalam air (3%) digunakan sebagai obat cuci mata dan dikenal sebagai boorwater. Asam Borat pada konsentrasi jenuh (k.l 3%) berkhasiat sebagai bakteriostatis lemah. Sebagai obat cuci mata sebaiknya konsentrasi yang digunakan adalah 2% (kurang merangsang

dibandingkan konsentrasi 3%), ditambah benzalkoniumklorida 0,01% sebagai pengawet (Tjay & Rahardja 2007). Asam borat merupakan asam lemah yang dapat digunakan sebagai antiseptik atau insektisida. Asam borat berbentuk kristal tak berwarna atau bubuk putih dan larut di dalam air. Penggunaanya sebagai antiseptic pada luka, luka bakar kecil, salep, atau cairan pencuci mata. Sebagai bahan anti bakteri, asam borat daapt digunakan untuk pengobatan jerawat, juga mengatasi gangguan akibat infeksi kapang dan khamir. Risiko utama dan sasaran organ yaitu bahaya utama terhadap kesehatan dapat mengiritasi saluran pernafasan, iritasi kulit, iritasi mata. Organ sasaran yaitu darah, ginjal, jantung, sistem saraf pusat, hati, limpa, sistem pencernaan, mata, sistem reproduksi, dan kulit (Sikernas 2011).

Zink sulfat Zinc Sulfat adalah senyawa anorganik dengan rumus ZnSO4 yang berbentuk padat, tidak berwarna, yang merupakan sumber umum dari ion larutan seng (Rohe MM 2005). Zinc sulfat digunakan sebagai tambahan zinc pada pakan ternak, pupuk pada tanaman, dan bahan penyemprot pada tanaman pertanian. Ketika dipanaskan lebih dari 680oC, zinc Sulfat akan terdekomposisi menjadi gas belerang dioksida dan asam Zinc Oksida, dan kedua gas ini berbahaya. Di dalam tubuh asam borat sebagai pelengkap bagian enzim yang berguna pada proses metabolisme protein dan karbohidrat, penyembuhan, dan mempertahankan perumbuhan normal. Pada bahan obat, zinc sulfat berfungsi sebagai adstringensia.

NaCl Natrium klorida juga dikenal dengan garam dapur atau halid, adalah senyawa kimia dengan rumus kimia NaCl. Senyawa ini adalah garam yang paling memengaruhi salinitas laut dan cairan ekstraselular pada banyak organism multiseluler. Sebagai komponen utama pada garam dapur, Natrium klorida sering digunakan sebagai bumbu dan pengawet makanan. NaCl merupakan bahan tambahan yang berguna sebagai pengatur tonisitas larutan. Cairan mata isotonic dengan darah dan nilai isotonisitasnya sama denganlarutan NaCl 0,9%. Isotonisitas larutan harus dalam toleransi normal untuk

mencegah iritasi mata, konsekuensi karena hipotonis, atau lisis sel-sel jaringan mata (Wade & Weller 1994). NaCl merupakan zat yang memiliki tingkat osmotik yang tinggi, dengan kemampuan tingkat osmotik yang tinggi ini maka apabila NaCl terlarut didalam air maka air tersebut akan mempunyai nilai atau tingkat konsentrasi yang tinggi yang dapat mengimbibisi kandungan air (konsentrasi rendah) yang terdapat di dalam tubuh, sehingga akan diperoleh keseimbangan kadar air. Hal ini dapat terjadi karena H2O akan berpindah dari konsentrasi yang rendah ke tempat yang memiliki konsentrasi yang tinggi Konsentrasi suatu larutan dalam hubungannya dengan tekanan osmosis dipengaruhi oleh jumlah partikel zat dalam suatu larutan. Hal ini terjadi apabila zat terlarut bukan elektrolit (seperti gula), sehingga konsentrasi larutan sepenuhnya tergantung pada jumlah molekul yang ada. Apabila zat terlarut adalah elektrolit (seperti NaCl) maka jumlah partikel yang menunjang larutan ini akan tergantung tidak hanya pada konsentrasi molekul yang ada tapi juga pada tingkat ionisasinya. Cairan tubuh termasuk darah dan cairan mata mempunyai tekanan osmosis yang sebanding dengan larutan natrium klorida dalam air 0,9%. Sutau larutan natrium klorida dengan konsentrasi tersebut dikatakan isoosmotik, atau memiliki suatu tekanan osmosis yang seimbang dengan cairan fisiologis.

BAB III METODE Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam praktikum pembuatan sediaan obat tetes mata adalah timbangan gram halus beserta anak timbangan, kertas perkamen, sendok tanduk, batang pengaduk kaca, gelas piala, gelas ukur, pipet tetes, gelas arloji, sterilisator oven, corong, kertas saring, botol plastic, dan kain lap. Bahan yang digunakan adalah Boric Acid, Zinc Sulfat, NaCl, dan Aquadest.

Prosedur Gambar

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Resep Gambar Sediaan

Liat di buku Pembacaan Resep:

Perintah Membuat:

Perhitungan:

Penulisan Etiket:

Pembahasan 1. 2. 3. 4. Kenapa timbangan harus ditera? Mengapa harus dialasi kertas perkamen dalam penimbangan? Kenapa tetes mata dilebihkan 20%? Perhitungan bahan, perhitungan NaCl, rumus, kenapa dikali 4, kenapa dalam 100 ml, kenapa 30 ml larutan NaCl? 5. Pembulatan penimbangan? 6. Kenapa harus disaring? 7. Kenapa filtrate pertama dipake bilas botol dan dibuang? 8. Mengapa harus isotonis? 9. Mengapa harus dilakukan sterilisasi?Bagaimana cara sterilisasi yang benar, kenyataannya? 10. Etiket biru? 11. Khasiat obat? 12. Kelebihan dan kekurangan obat tetes mata dibandingkan dengan salep? 13. Cara penyimpanan obat tetes mata? Larutan mata merupakan cairan steril atau larutan berminyak dari alkaloid garam-garam alkaloid, antibotik atau bahan-bahan lain yang ditujukan untuk dimasukkan ke dalam mata. Ketika cairan, larutan harus isotonik, larutan mata digunakan untuk antibakterial, anstetik, midriatikum, miotik atau maksud diagnosa. Larutan ini disebut juga tetes mata dan collyria (singular collyrium) (Jenkins 1969)

Obat yang dimasukkan ke dalam mata harus diformulasi dan disiapkan dengan pertimbangan yang diberikan terhadap tonisitas, pH, stabilitas, viskositas dan sterilisasi. Sterilisasi diinginkan karena kornea dan jaringan bening ruang anterior adalah media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme dan masuknya cairan mata yang terkontaminasi dalam mata yang trauma oleh kecelakaan atau pembedahan dapat menyebabkan kehilangan penglihatan (Parrot 1971). Keuntungan Secara umum larutan berair lebih stabil daripada salep, meskipun salep dengan obat yang larut dalam lemak diabsorpsi lebih baik dari larutan/salep yantg obat-obatnya larut dalam air (AMA 1995). Kerugian Bioavailabilitas obat mata diakui buruk jika larutannya digunakan secara topical untuk kebanyakan obat kurang dari 1-3% dari dosis yang dimasukkan melewati kornea. Sampai ke ruang anterior. Sejak boavailabilitas obat sangat lambat, pasien mematuhi aturan dan teknik pemakaian yang tepat (King 1984). Mengapa harus steril? Jika suatu batasan pertimbangan dan mekanisme pertahanan mata, bahwa sediaan mata harus steril. air mata, kecuali darah, tidak mengandung antibodi atau mekanisme untuk memproduksinya. Oleh karena itu, mekanisme pertahanan utama melawan infeksi mata secara sederhana aksi pertahanan oleh air mata, dan sebuah enzim ditemukan dalam air mata (lizozim) dimana mempunyai kemampuan untuk menghidrolisa polisakarida dari beberapa organisme ini. Organisme ini tidak dipengaruhi oleh lizozim. satu yang paling mungkin yang menyebabkan kerusakan mata adalah Pseudomonas aeruginosa (Bacillus pyocyneas) (Sprowl 1970). Mengapa harus isotonis?/ Tonisitas berarti tekanan osmotik yang dihasilkan oleh larutan dari keberadaan padatan terlarut atau tidak larut. Cairan mata dan cairan tubuh lainnya memberikan tekanan osmotik sama dengan garam normal atau 0,9% larutan NaCl. Larutan yang mempunyai jumlah bahan terlarut lebih besar daripada cairan mata disebut hipertonik. Sebaliknya, cairan yang mempunyai sedikit zat terlarut mempunyai tekanan osmotik lebih rendah disebut hipotonik. Mata dapat mentoleransi larutan yang mempunyai nilai

tonisitas dalam range dari ekuivalen 0,5% sampai 1,6% NaCl tanpa ketidaknyamanan yang besar (Turco 1970) Kemasan Larutan mata disiapkan secara terus-menerus dikemas dalam wadah tetes (droptainers) polietilen atau dalam botol tetes gelas. Untuk mempertahankan sterilitas larutan, wadah harus steril. Wadah polietilen disterilkan dengan etilen oksida, sementara penetes gelas dapat dengan dibungkus dan diotoklaf. Secara komersial disiapkan unit dosis tunggal dengan volume 0,3 ml atau kurang dikemas dalam tube polietilen steril dan disegel dengan pemanasan (Turco 1970).

BAB V SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Saran

Daftar Pustaka

[Sikernas] Sentra Informasi Keracunan Nasional. 2011. Asam Borat. Pusat Informasi Obat dan Makanan, Badan POM RI. Aisyah. 2009. Tetes Mata. http://rgmaisyah.wordpress.com/2009/06/06/tetes-mata [21 Maret 2014]. AMA Drug Evaluation. 1995. Drug Evaluation Annual 1995. American Medical Association, American. p 1624 Jenkins GL. 1969. Scovilles: The Art of Compounding. USA: Burgess Publishing Co. p 221, King RE. 1984. Dispensing of Medication. Ed ke-9. Philadelphia (US): Marck Pub. Company. p 142 Parrot LE. 1971. Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics. USA: Burgess Publishing Co. p 29 Rohe MM. 2005.Ullmanns Encyclopedia of Industrial Chemistry. Weinheim: WileyVCH Sprowl JB. 1970. Prescription Pharmacy. Ed ke-2. USA: JB Lipicant Co. p 181

Tjay TH, Rahardja K. 2007. Obat-obat Penting Kasiat, Penggunaan dan Efek-efek Sampingnya. Ed ke-6. Jakarta (ID): PT. Elex Media Komputindo. Turco S. 1970. Sterile Dosage Forms., Philadelphia (US): Lea and Febiger. p 358, 367 Wade A, PJ Weller. 1994. Handbook of Pharmaceutical Exipients. Ed ke-2. London (GB): American Pharmaceutical Association