Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH DISKUSI KASUS HUKUM LAUT

Bahan Materi

Pencemaran Laut

Disusun oleh: Ega Putra Pamungkas M. Faadhil Novianto Shendy Aditya Maulidya Adzhani Ashma Karimah Hilda Heryati Ismail Maqbul Maulida Ranintyari 230210120013 230210120021 230210120031 230210120036 230210120050 230210120052 230210120053 230210120062

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN JATINANGOR

2014

ii

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah memberikan banyak kesempurnaan, kenikmatan, serta anugerah yang begitu besar sehingga kami dapat menyelesaikan makalah diskusi kasus kelompok mata kuliah Hukum Laut dengan materi Pencemaran Laut. Tujuan dari pengerjaan makalah ini adalah untuk mengetahui kasus-kasus yang tentang pencemaran laut yang pernah terjadi di kawasan Indonesia, Asia, dan negara lain di luar Asia dan Indonesia, serta kami dapat mengetahui bagaimana cara untuk menyelesaikan kasus tersebut jika dikaitkan dengan UNCLOS. Ucapan terima kasih tidak lupa kami sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kedua orang tua, dosen mata kuliah Hukum Laut serta rekan mahasiswa kami lainnya. Pepatah mengatakan,Tak ada gading yang tak retak. Kami menerima segala kritik serta saran yang dapat membuat kami dapat berkreasi lagi dalam proses menuju lebih baik. Akhir kata semoga makalh ini bermanfaat bagi semua pihak terutama penyusun.

Jatinangor, Maret 2014

Penyusun

ii

DAFTAR ISI

BAB

Halaman KATA PENGANTAR ............................................................... ii

I.

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ...................................................................... 1.2 Tujuan dan Manfaat .............................................................. 1 2

II.

ISI 2.1 Pencemaran Laut................................................................... 2.2 Kasus Pencemaran Laut di Indonesia ................................... 2.2.1 Pencemaran Laut Timor .................................................... 2.2.2 Analisa Kasus Pencemaran Laut di Indonesia ................... 2.3 Kasus Pencemaran Laut di Asia ........................................... 2.3.1 Pesisir China Tercemar...................................................... 2.3.2 Analisa Kasus Pencemaran Laut di Asia ........................... 2.4 Kasus Pencemaran Laut di Negara Lain ............................... 2.4.1 Pencemaran Laut Akibat Tumpahan Minyak .................... 2.4.2 Analisa Kasus Penemaran Laut di Negara Lain ................ 3 3 3 4 5 5 6 7 7 8

III.

SARAN DAN REKOMENDASI MASALAH 3.1 Pencemaran Laut di Indonesia .............................................. 3.2 Pencemaran Laut di Asia ...................................................... 3.3 Pencemaran Laut di Negara Lain.......................................... 10 11 11

IV.

PENUTUP 4.1 Kesimpulan ........................................................................... 4.2 Saran ..................................................................................... DAFTAR PUSTAKA DAN REFERENSI 12 12 13

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Pada dasarnya laut dibagi ke beberapa daerah kawasan dimana setiap

pembagian daerah nya mempunyai peraturan masing masing baik dari laut territorial, landasan kontinen dan juga ZEE. Permasalahan yang terjadi yaitu nya adanya pelanggaran yang dilakukan oleh pihak asing seperti pencemaran dan lain-lain. Dimana kita tidak tahu pasal dan juga hukum yang dilanggar oleh para pelaku ini . Memang kita sangat berharap hal-hal seperti itu tidak terjadi, namun ketika terjadi kita harus melakukan sesuatu karena ketika pelanggaran terjadi maka harus dihukum sesuai tindakan yang telah dilakukan menurut hukum dan pasal yang ada. Oleh karena itu dari segi permasalahan yang terjadi di Indonesia dan beberapa negara lain. Permasalahan ini terjadi dan kita harus bisa menantisipasi dari tindakan tindakan yang akan kita ambil. Sehingga mengfungsikan tanggung jawabnya sebagaimana mesti nya dari lembaga lembaga yang ikut andil dalam penjagaan laut negara itu sendiri. Untuk itu diharapkan kepada para personil pemerintahan atau yang berwenang dalam negeri untuk memecahkan masalah dengan sebaik baik nya dan juga mengambil tindakan yang sebagaimana mesti nya untuk menegakan hukum yang telah berlaku. Untuk itu penulis melaksanakan studi kasus ini dengan maksud untuk mencari penyebab penyimpang yang terjadi dan hal itu untuk membantu memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan pencemaran dan juga pelanggaran hukum laut baik di negara Republik Indonesia, negara Asia, maupun negara lainnya.

1.2

Tujuan dan Manfaat Tujuan dari penyusunan makalah diskusi ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui salah satu contoh tentang pencemaran laut yang terjadi di kawasan Indonesia, Asia, dan negara lain b. Untuk mengetahui jalan keluar dari kasus tersebut jika dikaitkan dengan ketetapan UNCLOS 1982

Manfaat dari penyusunan makalah diskusi ini adalah sebagai berikut: a. Penyusun serta pembaca menjadi tahu salah satu contoh kasus tentang pencemaran laut di tiga kawasan b. Penyusun serta pembaca menjadi tahu jalan keluar dari kasus tersebut jika dikaitkan dengan ketetapan UNCLOS 1982

BAB II ISI

2.1

Pencemaran Laut Menurut Pasal 1 PP no 19 tahun 1999, pencemaran laut adalah masuknya

atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energy, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan laut oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan baku mutu dan/atau fungsinya. Pencemaran laut diartikan sebagai adanya kotoran atau hasil buangan aktivitas makhluk hidup yang masuk ke daerah laut. Sumber dari pencemaran laut ini antara lain adalah tumpahan minyak, sisa damparan amunisi perang, buangan proses di kapal, buangan industri ke laut, proses pengeboran minyak di laut, buangan sampah dari transportasi darat melalui sungai, emisi transportasi laut dan buangan pestisida dari perairan. Namun sumber utama pencemaran laut adalah berasal dari tumpahan minyak baik dari proses di kapal, pengeboran lepas pantai maupun akibat kecelakaan kapal. Polusi dari tumpahan minyak di laut merupakan sumber pencemaran laut yang selalu menjdi fokus perhatian dari masyarakat luas, karena akibatnya akan sangat cepat dirasakan oleh masyarakat sekitar pantai dan sangat signifikan merusak makhluk hidup di sekitar pantai tersebut (Hartanto , 2008).

2.2

Kasus Pencemaran Laut di Indonesia

2.2.1 Pencemaran Laut Timor Pada tanggal 21 Agustus 2009 sumur minyak Montara milik PTTEP Australasia (Ashmore Cartier) Pty Ltd (PTTEP-AA) meledak. Kemudian pada tanggal 9 november 2009 kebocoran tersebut dapat diatasi. Selama rentang waktu tersebut, kebocoran telah menimbulkan pencemaran yang melintasi wilayah perairan negara Republik Indonesia, tepatnya di sekitar wilayah perairan Laut Timor.Akibatnya, warga negara Indonesia khususnya nelayan yang tinggal di sekitar perairan laut timor menderita kerugian baik moril dan materiil.
3

Kawasan laut Indonesia yang tercemar tumpahan minyak dari kilang Montara diduga sudah mencapai 90.000 km persegi. Disebutkan pula bahwa skala tumpahannya jauh lebih besar daripada yang terjadi di Teluk Meksiko, walaupun sebenarnya pernyataan ini masih harus diverifikasi ulang terutama dari faktor konversinya, mengingat tumpahan minyak di Teluk Meksiko berkisar antara 35.000 sampai 60.000 baril per hari, sedangkan yang berasal dari ladang minyak Montara mencapai sekitar 500.000 liter, atau sekitar 3.145 baril per hari. 2.2.2 Analisa Kasus Pencemaran Laut di Indonesia Tragedi Pencemaran Minyak oleh Montara, merupakan peristiwa kerusakan lingkungan laut terbesar dalam sejarah Australia. Diperkirakan tumpahan minyak ini mengotori wilayah sampai radius sekitar 250 kilometer kearah utara, hingga mencapai perairan Indonesia (Kelompok lingkungan WWF). Lebih dari 400 ribu liter minyak telah tertumpah, sehingga menyebabkan kematian biota laut termasuk ikan paus dan lumba-lumba yang berada diwilayah ini.Bahkan kerusakan lingkungan akibat bencana lingkungan ini, diduga melebihi tragedi minyak teluk meksiko. Saat itu Laut Timor sedang dihadapkan pada ancaman kehancuran sumber daya dan lingkungan. Ini disebabkan oleh pencemaran tumpahan minyak jenis light crude oil yang bersumber dari Ladang Montara (The Montara Well Head Platform) di Blok West Atlas Laut Timor perairan Australia. Tumpahan minyak itu tidak hanya akan mengakibatkan bencana ekologi, tetapi juga menyebabkan bencana ekonomi. Masyarakat perikanan, baik nelayan, pembudi daya ikan, maupun petani garam, tidak bisa melakukan aktivitas mereka. Bukan hanya itu, Kondisi bawah laut Timor atau dasar laut Timor setelah terjadinya petaka Laut Timor yang ditutup-tutupi oleh perusahaan pencemar Laut Timor dan Pemerintah Australia sedikit terungkap. Terumbu karang di Laut Timor rusak berat diduga diakibatkan oleh puluhan juta tumpahan minyak mentah yang ditenggelamkan oleh AMSA (Australia Maritime Safety Authority) dengan menggunakan bubuk kimia beracun Corexit 9500 yang dikenal dengan sebutan dispersan.

Sehubungan dengan berbagai temuan ini tidak ada alasan bagi PTTEP Australasia,Pemerintah Federal Australia,Pemerintah Negara Bagian Australia Utara dan Pemerintah Republik Indonesia untuk tidak mau melakukan sebuah penelitian ilmiah yang menyeluruh,komprehensif,kredibel dan

independen terhadap dampak pencemaran Laut Timor bagi sosial ekonomi masyarakat,kesehatan masyarakat dan lingkungan. Yayasan Peduli Timor Barat dalam rilisnya, Kamis (20/10/2011) mengatakan rakyat Timor Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur,Republik Indonesia membutuhkan sebuah penelitian ilmiah yang

patut,menyeluruh,transparan,kredibel dan independen yang harus dibiayai oleh PTTEP Australasia dan Pemerintah Australia sebagai bentuk pertanggungjawaban petaka pencemaran Laut Timor yang oleh karena kelalaian mereka kami telah menjadi korban.Berdasarkan hasil penelitian tersebut barulah diketahui besarnya ganti rugi dan lain sebagainya.

2.3

Kasus Pencemaran Laut di Asia

2.3.1 Pesisir China Tercemar BEIJING, KOMPAS.com - Pesisir China menderita pencemaran akut dengan jumlah kawasan dengan polusi terburuk mencapai lebih 50 persen tahun lalu. Demikian Badan Kelautan Nasional China (SOA), Kamis (21/3/2013). SOA menyatakan kawasan laut seluas 68.000 kilometer persegi menjadi kawasan yang paling tercemar pada 2012. Angka ini meningkat lebih dari dua kali lipat dari 2011 yang baru sekitar 24.000 kilometer persegi. Dengan klasifikasi sangat tercemar ini, berarti sebagian besar kawasan pesisir China tak bisa digunakan untuk berenang, beternak ikan, dan menjadi pelabuhan. Selain itu, kawasan pesisir China juga tak cocok digunakan untuk pengembangan industri tertentu. Fakta ini menambah panjang daftar masalah lingkungan di China, yang juga menjadi akibat sampingan meledaknya perekonomian negeri itu dalam beberapa tahun terakhir. "Polusi di kawasan pesisir dan kerusakan ekosistem

semakin akut," kata SOA saat merilis hasil peneliltiannya. SOA juga mencatat jumlah polutan yang dibuan ke laut dari 72 sungai bertambah menjadi 17 juta ton sepanjang 2012. Namun, SOA tidak memberikan data pembanding soal buangan limbah ini. Dari 17 juta limbah itu terdiri termasuk 46.000 ton logam berat, 93.000 ton minyak, dan plastik. Demikian laporan harisn China Daily. "Polusi yang diakibatkan limbah dari daratan dan mempengaruhi lingkungan laut meningkat tajam," kata SOA. Dampak polusi ini paling dirasakan di kawasan padat penduduk misalnya di delta sungai Yangtze dan Pearl yang juga merupakan sentra industri. Lebih dari 80 persen pesisir Laut Bohai di China utara dipenuhi industri dan proyek konstruksi. Kuarang dari lima persen yang disisakan untuk lingkungan hidup. Pemimpin China pernah berjanji untuk mengambil langkah nyata mengatasi polusi sebagai respon atas menigkatnya keresahan warga. Protes warga China terkait masalah lingkungan meningkat hingga 30 persen sejak 1996. 2.3.2 Analisa Kasus Pencemaran Laut di Asia Dari berita diatas diketahui bahwa Republik Rakyat Cina (RRC) secara terang-terangan telah melanggar pasal 192 pada BAB XII yang berisi Negaranegara mempunyai kewajiban untuk melindungi dan melestarikan lingkungan laut. Tapi kenyataannya Cina tidak melindungi dan melestarikan lingkungannya sendiri karena pencemaran bukannya berkurang tetapi mlaah meningkat. Selain itu RRC juga melanggar pasal 193 BAB XII karena usaha mereka dalam melindungi dan melastarikan lingkungan tidak sebanding dengan eksploitasi yang dilakukan sehingga penanganan limbah industri pabrik menajdi terbengkalai dan tidak begitu diperhatikan sehingga mencemari sungai dan pesisir pantai. Karena pencemaran air yang sudah akut di Cina sebaiknya Cina mentaati beberapa pasal berikut : Pasal 194 : Tindakan-tindakan untuk mencegah, mengurangi dan mengendalikan pencemaran lingkungan laut.

Pasal 195 : Kewajiban untuk tidak memindahkan kerusakan atau bahaya atau
untuk mengubah suatu jenis pencemaran ke dalam jenis pencemaran lain.

Pasal 196 : Penggunaan teknologi-teknologi atau memasukan jenis-jenis asing atau jenis baru. Pasal 204 : Monitoring risiko atau akibat pencemaran Pasal 205 : Publikasi laporan-laporan Pasal 206 : Penilaian efek potensial dari kegiatan-kegiatan Pasal 207 : Pencemaran berasal dari sumber daratan Pasal 208 : Pencemaran yang berasal dari kegiatan-kegiatan dan laut yang tunduk pada yurisdiksi nasional Pasal 211 : Pencemaran yang berasal dari kendaraan air Pasal 213 : Pemaksaan penataan berkenaan dengan pencemaran yang berasal dari sumber daratan Pasal 214 : Pemaksaan pentaatan berkenaan dengan pencemaran yang berasal dari kegiatan-kegiatan Dasar Laut Pasal 215 : Pemaksaan pentaatan berkenaan dengan pencemaran yang berasal dari kegiatan-kegiatan di Kawasan Pasal 220 : Pemaksaan penataan oleh Negara pantai Pasal 223 : Tindakan-tindakan untuk memudahkan penuntutan Pasal 224 : Pelaksanann wewenang untuk pemaksaan penataan Pasal 225 : Kewajiban untuk menghindari akibat-akibat yang merugikan di dalam pelaksanaan wewenang untuk pemaksaan penataan

2.4

Kasus Pencemaran di Negara Lain

2.4.1 Pencemaran Laut Akibat Tumpahan Minyak Pada kasus ini terjadi pencemaran Laut Indonesia-Timor-Australia akibat minyak dari sumur di Australia. Kasus ini terjadi sekitar dua tahun lalu perairan laut Indonesia mengalami pencemaran akibat bocornya minyak yang bersumber dari sumur Montara di Australia. Tumpahan minyak tersebut meluas hingga

perairan Celah Timor (Timor Gap) yang merupakan perairan perbatasan antara Indonesia, Australia dan Timor Leste.Luas efek cemaran tumpahan minyak dari sumur yang terletak di Blok Atlas BaratLaut Timor tersebut sekitar 75% masuk wilayah perairan Indonesia. Pencemaran ini menjadi masalah yang penting bagi Bangsa Indonesia,karena telah mencemari Lingkungan Laut Indonesia yang memasuki Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia. Tumpahan minyak yang berasal dari ladang minyak montara, di Laut Timordi lepas pantai utara Western Australia, disebabkan oleh suatu ledakan padatanggal 21 Agustus 2009. Akibatnya terjadi kebocoran sekitar 400 barrels minyak mentah setiap harinya sampai akhirnya berhasil ditutup 74 hari kemudian. Pemerintah Indonesia mengancam akan melaporkan perusahaan asal Australia, Montara, akibat meledaknya sumur minyak tersebut ke forum internasional jika solusi belum juga tercapai. Secara garis besar, bentuk kerugian akibat kebocoran sumur minyak Montara dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis, yaitu kerugian dari segi ekonomi dan kerugian dari segi lingkungan. Intinya bahwa tumpahan minyak dari blok Montara yang masuk ke wilayah perairan Indonesia di lautan NTT telah mengakibatkan kerugian ekonomi dan sosial bagi kurang lebih 17.000 warga NTT dan juga kerusakan lingkungan yang berdampak tahunan. Bencana ini merugikan ribuan nelayan dan pembudidaya rumput laut di NTT, menurunkan fungsi kelautan, mematikan biota laut, dan menurunkan keanekaragaman hayati, serta berpotensi menimbulkan dampak turunan berupa pengangguran dan menambah angka kemiskinan. 2.4.2 Analisa Pencemaran Laut di Negara Lain Pengaturan mengenai perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup di lautIndonesia terdapat pada UU No. 23/1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No. 5/1983 Tentang Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), UU No. 9/1985 Tentang Perikanan, UU No.5/1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, UU No. 6/1996 Tentang Perairan Indonesia, serta UU No.21/1992 Tentang Pelayaran. Yang kesemua ini telah diratifikasi Indonesia. Landasan filosofis berdasarkan pasal 192 United Nations Convention on the Law of The Sea (UNCLOS), dinyatakan bahwa setiap Negara harus menjaga lingkungan laut,

yang berarti bahwa dalam pasal ini memberikan penekanan bahwa ekosistem laut merupakan bagian yang wajib dijaga dan dilestarikan oleh setiap negara. Berdasarkan peraturan di atas, maka Pemerintah Indonesia tidak dapat hanya berdiam diri hanya karena kejadian pencemaran disebabkan oleh Negara lain yang di mana kewajiban menjaga ekosistem menjadi kewajiban Negara pemiliknya. dampak pencemaran laut akibat kebocoran kilang minyak perusahaan Australia di Celah Timor harus dipandang sebagai permasalahan pelanggaran Hak Asasi Manusia bagi masyarakat di Pulau Timor, Rote, Alor dan Sabu. Indonesia bisa saja mengklaim ganti rugi kepada perusahaan Montara asal Australia tersebut. Di sisi lain pemerintah Australia juga dapat diminta

pertanggungjawabannya atas kejadian ini, dikarenakan dasar atas berdirinya perusahaan tersebut tentunya terdapat tembusan perizinan daripada Pemerintah setempat.

BAB III SARAN DAN REKOMENDASI MASALAH

3.1

Pencemaran Laut di Indonesia Pengaturan mengenai perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup di

laut Indonesia terdapat pada UU No. 23/1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No. 5/1983 Tentang Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), UU No. 9/1985 Tentang Perikanan, UU No.5/1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, UU No. 6/1996 Tentang Perairan Indonesia, serta UU No.21/1992 Tentang Pelayaran. Yang kesemua ini telah diratifikasi Indonesia. Sementara mengenai tanggung jawab dan ganti rugi pencemaran lingkungan laut belum secara khusus diatur dalam UU tersebut. UNCLOS 1982 meletakkan kewajiban kepada negara-negara peserta untuk melindungi dan memelihara lingkungan laut. Pada pasal 192 UNCLOS 1982 mengenai hak negara-negara peserta untuk mengelola sumber-sumber kekayaan alam mereka sesuai dengan kebijaksanaan lingkungan dari masingmasing negara. Pasal 193 UNCLOS 1982 juga mengatur hal-hal yang berkaitan dengan pertanggungjawaban terhadap kerusakan lingkungan laut, hak kekebalan bagi kapal perang dan kapal-kapal pemerintah serta kaitan dari Bagian XII UNCLOS 1982 tentang Perlindungan dan Pemeliharaan Lingkungan Laut dengan kewajiban-kewajiban yang tercantum pada konvensi-konvensi lainnya guna perlindungan lingkungan laut. PTTEP merupakan operator kilang minyak Thailand yang berlokasi di Montara Welhead Platform, Laut Timor atau 200 km dari Pantai Kimberley, Australia. Dari sudut kepentingan Indonesia, tumpahan minyak dengan volume 500.000 liter per hari dengan menimbulkan efek pencemaran dahsyat di wilayah perairan Indonesia, terutama di wilayah Kabupaten Rote Ndao dan Kabupaten Sabu Raijua. Tindakan yang dilakukan Pemerintah RI adalah dengan mengajukan klaim ganti rugi kepada PTTEP. Klaim Pemerintah Indonesia kepada PTTEP berujung pada ganti rugi dengan nilai sebesar Rp. 291 miliar atau setara dengan US$ 30 juta.
10

11

3.2

Pencemaran Laut di Asia Terlihat terjadi peningkatan pencemaran dari tahun 2011 ke tahun 2012

yang sangat signifikan hingga naik menjadi 2x lipat, maka pemerintah Cina berhak untuk meminta bantuan jika dirasa tidak mampu menangani masalah pencemaran yang terjadi. Hal tersebut dapat mengacu kedalam beberapa pasal berikut : Pasal 197 : Kerjasama atas dasar global atau regional Pasal 198 : Pemberitahuan tentang kerusakan yang nyata atau yang bakal terjadi Pasal 199 : Pola penangguhan darurat terhadap pencemaran Pasal 200 : Pengkajian, program-program riset dan pertukaran informasi serta data Pasal 201 : Kriteria ilmiah bagi peraturan-peraturan Pasal 202 : Bantuan teknik dan ilmiah kepada negara-negara berkembang Pasal 203 : Perlakuan khusus bagi Negara-negara berkembang

3.3

Pencemaran Laut di Negara Lain Pemerintah harus lebih mempertegas peraturan-peraturan secara khusus

mengenai penerapan ganti rugi dan yang berisi sanki-sanki yang akan di terapkan terhadap pelaku pencemaran lingkungan laut guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan mengingat banyaknya kecelakaan dan kandasnya kapal berakibat tumpahnya minyak ke laut. Sehinggapihak korban tidak merasa di rugikan.

BAB IV PENUTUP

4.1

Kesimpulan Segala tindakan yang termasuk ke dalam tindakan merusak dan merugikan

pasti ada landasan hukumnya dan terdapat imbalan setimpal yang akan diterima oleh si pelaku. Pencemaran laut merupakan proses merusak lingkungan dan dapat merugikan dari berbagai segi, seperti contoh kasus yang terjadi di Indonesia yaitu Indonesia mengalami kerugian ekonomi akibat tumpahnya minyak di sekitaran Laut Timor. Adapun di negara China yang mengalami polusi pada pesisirnya yang dapat merusak segi keindahan kota, serta kesehatan masyarakat sekitar. Ketetapan UNCLOS 1982 merupakan landasan hokum untuk mencari jalan keluar dari permasalahn ini. Seperti pada kasus di negara China yang kami beri saran berupa meminta bantuan terhadap pihak yang mampu membantu menangani hal tersebut yang ternyata di bahas pada ketetapan UNCLOS 1982 tersebut.

4.2

Saran Saran bagi penyusun adalah diharapkan penyusun lebih mengenal dan

memahami isi dari ketetapan UNCLOS 1982, sehingga penyusun dapat memberi analisa yag lebih akurat dan tajam serta penyusun juga daoat memberi saran lebih bijak lagi.

12

DAFTAR PUSTAKA

Alfiah,

Taty.

2009.

Pencemaran

Laut.

http://tatyalfiah.files.wordpress.com/2009/09/pencemaran-laut.pdf. Diakses pada 24 Maret 2014 pukul 23.00 WIB. Sugara, Gamma. 2012. Pencemaran Laut. http://gamasugara.blogspot.com/. Diakses pada 24 Maret 214 pukul 23.05 WIB. Hardoko, Evan. 2013. Sebagian Besar Pesisir China Tercemar.

http://internasional.kompas.com/read/2013/03/21/1548174/Sebagian.Besar. Pesisir.China.Tercemar. Diakses pada 24 Maret 2014 pukul 19.46 WIB Purnomo, Eko. 2012. Kasus Pencemaran Laut Timor. http://ogi-to-

lawallu.blogspot.com/ 2012/05/kasus-pencemaran-laut-timor.html. Diakses pada 24 Maret 2014 pukul 19.13 WIB.

REFERENSI : UNCLOS 1982

13