Anda di halaman 1dari 16

Kuliah ke 3 (4)

Politik Hukum (15-4-


2009)
Ruang Lingkup Politik Hukum
 Politik Hukum sebagai arah kebijakan
pembangunan hukum suatu negara, hal ini
mencakup kebijakan hukum yang telah,
sedang dan akan dilakukan oleh suatu negara.
 Politik Hukum diartikan sebagai hubungan
pengaruh timbal balik antara hukum dan
politik.
 Ada dua lingkup utama arah kebijakan
pembangunan hukum suatu negara yakni:
 Politik Pembentukan Hukum
 Politik Penegakan hukum.
Politik pembentukan hukum
Politik pembentukan hukum adalah kebijakan yang berkaitan dengan
penciptaan, pembaharuan dan pengembangan hukum:
1. Kebijakan pembentukan perudang-undangan:
 kebijakan pembentukan hukum kita yang utama adalah lewat perundang-
undangan.
 Bagi Negara Indonesia yang mengikuti sistem hukum continental undang-
undang adalah sumber utama hukum.
 Karena itu kebijakan pembentukan perundang-undangan harus direncanakan
melalui suatu sistem perencanaan nasional yang disusun dalam program
legislasi nasional.
 Lewat program legislasi nasional akan tampak arahan undang-undang apa yang
akan dibuat dalam 20 tahun yang akan datang, 5 tahun yang akan datang,
ataupun 1 tahun yang akan datang.
 Namun, boleh saja dalam perjalanannya terjadi perkembangan yang cepat, apa
yang telah di program diubah berdasarkan kebutuhan
2. Kebijakan (pembentukan) hukum yurisprudensi.
 Yurispudensi merupakan sumber hukum selain undang-undang.

 Pada dasarnya sistem hukum Indonesia menganut asas hakim tidak terikat
pada preceden atau putusan terdahulu mengenai persoalan hukum serupa.
 UU Kehakiman menganut asas ius curia novit (pasal 16). Artinya hakim
tidak boleh menolak mengadili perkara dengan alasan undang-undang
tidak ada, tidak jelas, belum lengkap, tetapi wajib mengadili perkara.
 Untuk mengadili tersebut hakim harus tunduk pada ketentuan pasal 27
Undang -undang No. 4 tahun 2004 yang mengatakan " hakim wajib
menggali, mengikuti nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat" atau
living law.
3. Kebijakan terhadap peraturan tidak tertulis lainnya merupahan
hukum yang tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang
dalam kehidupan masyarakat, kebiasaan mana diperlihara dan
dipertahankan dalam mengatasi persoalan yang dihadapi.
 Seperti dalam bidang pertanahan yang mengakui keberadaan hak
ulayat. Hak ulayat mana diatur menurut sistem hukum adat yang
mempunyai ciri khas tidak tertulis, namun Undang-undang Pokok
Agraria mengakui hak tersebut sepanjang masih ada dan hidup dalam
kenyataannya di tengah-tengah masyarakat adat tersebut.
 Undang-undang Kehutanan juga mengakui Hak ulayat
Politik Penegakan Hukum
1. Kebijakan dibidang peradilan, dalam hal ini bagaimana arah kebijakan
terhadap peradilan.
 Misalnya sebelum amandemen UUD 1945 kebijakan terhadap peradilan
dikelola melalui dualisme pembinaan. Satu sisi hakim berada dibawah
pembinaan Mahkamah Aguhg, sisi lain hakim berada di jajaran
departemen dibawah pembinaan Menteri terkait (eksekutif).
 Kebijakan demikian melahirkan kecurigaan dan pertanyaan, hakim tidak
independen/ apakah hakim bisa mandiri dalam mengadili perkara.
 Setelah di amandemen kebijakan terhadap peradilan dilakukan lewat
pembinaan satu atap, semuanya berada di bawah Mahkamah Agung.
Tetapi untuk menjaga indepensi hakim, dibentuk lembaga yang dikenal
dengan Komisi Yudisial.
 Kebijakan dibidang pelayanan hukum. Dalam
hal ini perlu pelayanan hukum yang cepat,
mudah, terjangkau oleh masyarakat, transparan
dan akuntabel. Dalam hal ini juga dilakukan
kebijakan yang dapat memberantas terjadinya
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).
 Kelima komponen arah kebijakan pembentukan
hukum tersebut akan membentuk sistem hukum
nasional.
 Hukum nasional itu akan berfungsi ditentukan oleh 5
faktor yaitu :
 Substansi hukum /materi hukum (legal substance)
 Budaya hukum (kesadaran hukum masyarakat (legal
culture
 Aparatur penegak hukum (legal aparatus)
 Sarana dan prasarana (equitment)
 Pendidikan hukum (legal education)
 Kedua lingkup utama arah kebijakan
pembangunan hukum tersebut (kebijakan
pembentukan perundang-undangan/hukum
tertulis dan kebijakan penegakan hukum)
tersebut hanya dapat dibedakan dan tidak dapat
dipisahkan.
 Keduanya saling berkait dan berfungsi sebagai
suatu sistem, dimana sub sistem yang lain
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan, dan saling berhubungan sebagai suatu
totalitas.
 Keberhasilan suatu peraturan perundang-undangan tergantung
pada penerapannya. Apabila penegakan hukum tidak dapat
berfungsi dengan baik peraturan perundang-undangan yang
bagaimanapun sempurnanya tidak atau kurang memberikan
arti sesuai dengan tujuan.
 Putusan dalam rangka penegakkan hukum merupakan
instrumen kontrol bagi ketepatan dan kekurangan suatu
peraturan perundang-undangan
 Penegakan hukum merupakan dinamisator peraturan
perundang-undangan Melalui putusan dalam rangka
penegakan hukum peraturan perundang-undangan menjadi
hidup dan diterapkan sesuai dengan kebutuhan dan
perkembangan masyarakat.
 Pembentukan hukum dan penegakan hukum melibatkan
SDM, tata kerja, pengorganisasian, sarana dan prasarana.
 SDM yang handal, pengorganisasian yang efektif dan
efisien, sarana dan prasarana yang memadai akan turut
menentukan keberhasilan pembentukan dan penegakan
hukum.
 Politik pembentukan dan penegakan hukum harus disertai
pula dengan politik pembinaan sumber daya manusia, tata
kerja, pengorganisasian dan sarana/prasarana.
Hubungan kausalitas antara hukum
dan politik
 Politik Hukum sebagai kebijakan hukum
(legal policy) yg sudah, akan atau telah
dilaksanakan secara nasional oleh pemerintah
mencakup pula pengertian bagaimana politik
mempengaruhi hukum dengan cara melihat
konfigurasi kekuatan yang ada dibekang
pembuatan dan penegakan hukum
 hubungan kausalitasnya maksudnya adalah, apakah
hukum yg mempengaruhi politik atau politik yang
mempengaruhi hukum
 Hukum determinan atas politik dalam arti kegiatan-kegiatan politik di
atur dan tunduk pada aturan-aturan hukum (mereka yg memandang hk
sebagai das sollen (keharusan) para idealis)
 Politik determinan atas hukum, karena hukum merupakan hasil atau
kristalisasi dari kehendak politik yg saling berintegrasi dan bersaing.
Mereka memandang hukum sebagai das sain, penganut empiris dan
memandang realitas.
 Politik dan hukum sebagai subsistem kemasyarakatan berada pada
posisi dan derajat determinan yang seimbang, sekalipun hk produk
politik tetapi jika hkm ada, politik harus tunduk pada hukum.
 Dalam politik hukum terdapat dua variabel,
yakni variabel terpengatur (hukum) dan
variabel yang mempengaruhi (politik).
 Dalam studi Politik Hukum kita tidak melihat
hukum ansich das sollen tetapi juga das sain.
 Asumsi dasar disini "hukum merupakan produk
politik".
 Dalam melihat hubungan keduanya, hukum sebagai
terpengaruh (dependent variable) dan politik sebagai
variabel yang berpengaruh (independent variable).
 Hukum dipengaruhi politik atau politik determinan
atas hukum mudah dipahami dan realitasnya
demikian karena hukum merupakan kristalisasi dari
kehendak politik yang saling berintegrasi
dilingkungan pengambil keputusan