Anda di halaman 1dari 296

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

i

KATA PENGANTAR

Upaya akselerasi pembangunan kepariwisataan nusantara agar memiliki daya
saing dan daya penetrasi yang kuat, tentu saja akan sulit diwujudkan apabila
tidak didukung oleh kebijakan strategis dan program yang mampu memecahkan
berbagai persoalan dan tuntutan serta tantangan.
Penyusunan Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara sangat dibutuhkan
untuk memberikan arahan strategik bagi segenap pemangku kepentingan dalam
melakukan pemasaran pariwisata nusantara secara lebih terfokus, komprehensif,
dan berkesinambungan, baik pada tingkat Nasional maupun di Daerah.
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara sekaligus juga merupakan langkah
strategis dalam menggambarkan peta persaingan yang ada, yang sangat
dibutuhkan untuk menyusun perencanaan pengembangan pemasaran pariwisata
di daerah yang menuntut program-program aksi yang lebih konkrit.
Laporan ini merupakan Laporan Akhir yang format pelaporannya mencakup :
1) Buku Induk yang di dalamnya memuat proses pelaksanaan studi, hasil
survei, dan analisisnya yang diakhiri dengan arah kebijakan, strategi dan
Indikasi program pengembangan wisatawan nusantara dalam konteks
nasional.
2) Buku Profil dan Analisis Pasar Wisatawan Nusantara di 33 Propinsi yang
di dalamnya memuat isu strategis, profil dan analisis produk, analisis
kunjungan wisatawan, pencitraan destinasi dan kelembagaan, serta arah
kebijakan, strategi, dan indikasi program yang relevan ditiap-tiap propinsi
Tim penyusun mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang telah
membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses
penyusunan laporan ini, khususnya pihak Inspektorat Jenderal serta Direktoral
Jenderal Pemasaran, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
Desember 2010
PT. DUA TIGA EMPAT KONSULTAN

Tim Penyusun
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

ii
DAFTAR ISI


I.
Pendahuluan


1.1. Latar Belakang I 1
1.1.1. Potensi Wisatawan Nusantara I 1

1.1.2. Kebutuhan Akselerasi Pertumbuhan
Perjalanan Wisnus
I 3

1.1.3. Perlunya Buku Putih Pemasaran
Pariwisata Nusantara
I 4
1.2. Mandat Yuridis I 5

1.2.1. Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 10 Tahun 2009 Tentang
Kepariwisataan
I 5

1.2.2. Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun
1996 Tentang Penyelenggaraan
Kepariwisataan
I 7

1.2.3. RPJM 2010-2014 Pembangunan
Pariwisata Nasional
I 8

1.2.4. Rencana Strategis Kementerian
Kebudayaan dan Pariwisata 2010-2014
I 8
1.3. Tujuan dan Sasaran I 14
1.4. Kerangka Pemikiran I 16
1.5. Teknik Pengumpulan Data I 17





Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

iii

II.
Pengertian, Lingkup, dan
Paradigma


2.1. Definisi Wisatawan Nusantara II 1
2.2. Lingkup Pembahasan II 4
2.2.1. Pengembangan Pasar II 4

2.2.2. Pengembangan Citra dan Media
Komunikasi Pemasaran
II 6
2.2.3. Kemitraan dan Kelembagaan Pemasaran II 7
2.3. Konsep Pendekatan II 8

2.3.1. Sustainable dan Responsible Tourism
Marketing
II 8
2.3.2. Double Track Strategy II 15

A. Vertical Marketing dan Horizontal
Marketing
II 15
B. Offline dan Online Marketing II 20
C. Mass Market dan Niche Market II 23
2.4. Review Studi Terkait II 24
2.4.1. Perihal Segmentasi Pasar II 24

2.4.2. Kedudukan Studi Saat Ini dan Studi
Sebelumnya
II 29



III.
Kondisi Aktual dan Analisis


3.1. Lingkungan Strategis III 1
3.1.1. Lingkungan Internal III 1
3.1.2. Lingkungan Eksternal III 15
3.2. Pasar Wisatawan Nusantara III 20
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

iv
3.2.1. Potensi Pasar Wisatawan Nusantara III 20
3.2.2. Jumlah Kunjungan dan Pola Pergerakan III 24
3.2.3. Karakteristik Wisatawan Nusantara III 33
3.3. Pencitraan dan Komunikasi Pemasaran III 40
3.3.1. Slogan dan Branding III 40
3.3.2. Media Komunikasi Pemasaran III 46
3.4. Kelembagaan Pemasaran Wisatawan Nusantara III 62
3.4.1. Kelembagaan III 62
3.4.2. Kemitraan III 68


IV.
Analisis Segmentasi


4.1. Lingkup Segmentasi IV - 1
4.2. Segmentasi Basis Motivasi IV 3
4.2.1. Silaturahmi (VFR) IV - 3
4.2.2. Weekenders IV - 15
4.2.3. Ziarah IV - 32
4.2.4. Hobbies IV - 51
4.2.5. MICE/Bisnis IV - 64
4.3. Segmentasi Demografis IV - 72
4.3.1. Ekspatriat IV - 72
4.3.2. Kelompok Umur IV - 74


V.
Visi, Misi, Tujuan, dan
Sasaran


5.1. Visi dan Misi Pengembangan V - 1
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

v
5.2. Tujuan dan Sasaran Pengembangan V - 2


VI.
Arah Kebijakan, Strategi, dan
Indikasi Program Pemasaran


6.1. Landasan Pengembangan VI - 1
6.2. Arahan Kebijakan, Strategi, dan Indikasi Program VI - 3
6.2.1. Umum (generik) VI - 4

6.2.2. Pengembangan Segmen Berdasarkan
Motivasi
VI - 23

1. Kebijakan Pemantapan dan
Pengembangan Pasar dengan
Motivasi Silaturahmi (VFR)
VI 23

2. Kebijakan Pemantapan dan
Pengembangan Pasar dengan
Motivasi Weekender
Vi 26

3. Kebijakan Pemantapan dan
Pengembangan Pasar dengan
Motivasi Ziarah
VI 30

4. Kebijakan Pemantapan dan
Pengembangan Pasar dengan
Motivasi Hobbies
VI 34

5. Kebijakan Pemantapan dan
Pengembangan Pasar dengan
Motivasi MICE
VI 36

6.2.3. Pengembangan Segmen Berdasarkan
Demografi
VI - 38

1. Kebijakan Pemantapan dan
Pengembangan Pasar Ekspatriat
VI 38

2. Kebijakan Pemantapan dan
Pengembangan Pasar
Berdasarkan Usia (Kelompok
Umur)
VI 41
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

vi

VII.
Implikasi Program
Pengembangan di Daerah


1. Nangroe Aceh Darussalam VII 3
2. Sumatera Utara VII 4
3. Sumatera Barat VII 5
4. Riau VII 6
5. Jambi VII 7
6. Sumatera Selatan VII 8
7. Bengkulu VII 9
8. Lampung VII 10
9. Kep. Bangka Belitung VII 11
10. Kep. Riau VII 12
11. DKI Jakarta VII 13
12. Jawa Barat VII 14
13. Jawa Tengah VII 15
14. D.I Yogyakarta VII 16
15. Jawa Timur VII 17
16. Banten VII 18
17. Bali VII 19
18. NTB VII 20
19. NTT VII 21
20. Kalimantan Barat VII 22
21. Kalimantan Tengah VII 23
22. Kalimantan Selatan VII 24
23. Kalimantan Timur VII 25
24. Sulawesi Utara VII 26
25. Sulawesi Tengah VII 27
26. Sulawesi Selatan VII 28
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

vii
27. Sulawesi Tenggara VII 29
28. Gorontalo VII 30
29. Sulawesi Barat VII 31
30. Maluku VII 32
31. Maluku Utara VII 33
32. Papua Barat VII 34
33. Papua VII 35

DAFTAR PUSTAKA











Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

viii
DAFTAR TABEL


Tabel 1.1. Banyaknya Penduduk yang melakukan
perjalanan, Jumlah Perjalanan dan Rata-rata
Perjalanan Menurut Propinsi Asal, Tahun 2008
I 2
Tabel 3.1. Jumlah Kunjungan Wisatawan Domestik pada 5
Bandara Utama
III 5
Tabel 3.2. Perkembangan Outbound Indonesia Tahun 2004-
2009
III 8
Tabel 3.3. Tabel Kunjungan Outbound ke Malaysia (April-Mei
2009-2010)
III 9
Tabel 3.4. Potensi Wisnus (Data 2008) III 22
Tabel 3.5. Pertumbuhan Wisnus dirinci Berdasarkan Satuan
Pulau
III 23
Tabel 3.6. J Ju um ml la ah h K Ku un nj ju un ng ga an n W Wi is sn nu us s, , J Ju um ml la ah h P Pe er rj ja al la an na an n, ,
R Ra at ta a- -R Ra at ta a P Pe er rj ja al la an na an n, , d da an n T To ot ta al l P Pe en ng ge el lu ua ar ra an n
W Wi is sn nu us s T Ta ah hu un n 2 20 00 01 1 2 20 00 09 9
III 24
Tabel 3.7. D Da ae er ra ah h- -d da ae er ra ah h P Pe en ny yu um mb ba an ng g ( (A As sa al l) ) d da an n P Pe en ne er ri im ma a
( (T Tu uj ju ua an n) ) W Wi is sn nu us s
III 29
T Ta ab be el l 3 3. .8 8. . S Se ep pu ul lu uh h B Be es sa ar r P Pr ro ov vi in ns si i A As sa al l W Wi is sn nu us s III 30
T Ta ab be el l 3 3. .9 9. . S Se ep pu ul lu uh h B Be es sa ar r P Pr ro ov vi in ns si i T Tu uj ju ua an n W Wi is sn nu us s III 31
T Ta ab be el l 4 4. .1 1. . Total Kunjungan Wisatawan ke Kota Bandung
Tahun 2009
III 22















Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

ix
DAFTAR GAMBAR


Gambar 1.1. Kerangka Pemikiran Buku Putih I 15
Gambar 2.1. Tourist Destination Image II 7
Gambar 2.2. Prinsip-prinsip dalam Sustainable Tourism
Development
II 9
Gambar 2.3. Diagram Tuntutan dan Peranan Responsible
Tourism dalam Membentuk Citra
II 11
Gambar 2.4. Perubahan dari Vertical ke Horizontal Marketing II 18
Gambar 2.5. Contoh Aplikasi E-Magazine II 23
G Ga am mb ba ar r 3 3. .1 1. . Contoh Kampanye Mudik Bersama III 3
G Ga am mb ba ar r 3 3. .2 2. . Contoh Promosi Great Sale di Beberapa daerah III 4
G Ga am mb ba ar r 3 3. .3 3. . Rute-rute Penerbangan Domestik III 6
Gambar 3.4. Beberapa Rute Penerbangan Ekonomi di
Indonesia
III 7
Gambar 3.5. Jumlah Wisatawan Nasional yang Berpergian ke
Luar Negeri dan Pembelanjaannya
III 9
Gambar 3.6. Top 10 Market Singapore III 11
Gambar 3.7. Top 10 Market Singapore Tahun 2004-2008
dengan Indonesia sebagai Top Arrivals
III 12
Gambar 3.8. Jalur-jalur Akses (Darat, Laut, dan Udara) di
Indonesia
III 13
Gambar 3.9. Ragam Promosi Wisata di Singapura III 16
Gambar 3.10. Ragam Promosi Paket Wisata di Singapura III 17
Gambar 3.11. Ragam Promosi Wisata di Malaysia III 18
Gambar 3.12. Ragam Promosi Paket Wisata di Malaysia III 19
Gambar 3.13. Jumlah Wisnus dan Pergerakan Wisnus di
Indonesia Tahun 2001-2008
III 25
Gambar 3.14. Pembelanjaan Wisnus di Indonesia Tahun 2001-
2008
III 26
Gambar 3.15. Daerah Tujuan Wisnus di Indonesia Tahun 2008 III 27
Gambar 3.16. Daerah Asal Wisnus di Indonesia Tahun 2007 III 28
Gambar 3.17. D Da ae er ra ah h A As sa al l W Wi is sn nu us s d di i I In nd do on ne es si ia a III 30
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

x
Gambar 3.18. D Da ae er ra ah h T Tu uj ju ua an n W Wi is sn nu us s d di i I In nd do on ne es si ia a III 31
Gambar 3.19. K Ko om mp po os si is si i W Wi is sn nu us s B Be er rd da as sa ar rk ka an n J Je en ni is s K Ke el la am mi in n III 33
Gambar 3.20. K Ko om mp po os si is si i W Wi is sn nu us s B Be er rd da as sa ar rk ka an n U Us si ia a III 34
Gambar 3.21. K Ko om mp po os si is si i W Wi is sn nu us s B Be er rd da as sa ar rk ka an n K Ke eg gi ia at ta an n III 35
Gambar 3.22. K Ko om mp po os si is si i W Wi is sn nu us s B Be er rd da as sa ar rk ka an n L La am ma a M Me en ng gi in na ap p III 35
Gambar 3.23. K Ko om mp po os si is si i W Wi is sn nu us s B Be er rd da as sa ar rk ka an n M Ma ak ks su ud d
K Ku un nj ju un ng ga an nn ny ya a
III 36
Gambar 3.24. K Ko om mp po os si is si i P Pe en ng ge el lu ua ar ra an n W Wi is sn nu us s III 37
Gambar 3.25. T Tu uj ju ua an n P Pe er rj ja al la an na an n W Wi is sn nu us s III 38
Gambar 3.26. J Ja ar ra ak k P Pe er rj ja al la an na an n W Wi is sn nu us s III 38
Gambar 3.27. P Pe en ng gg gu un na aa an n A Ak ko om mo od da as si i W Wi is sn nu us s III 39
Gambar 3.28. L Lo og go o K Ke en na al li i N Ne eg ge er ri im mu u, , C Ci in nt ta ai i N Ne eg ge er ri im mu u III 40
Gambar 3.29. B Be eb be er ra ap pa a R Re eg gi io on na al l B Br ra an nd d d di i I In nd do on ne es si ia a III 42
Gambar 3.30. C Co on nt to oh h R Re ed du up pl li ik ka as si i r re eg gi io on na al l B Br ra an nd d y ya an ng g t ti id da ak k
e ef fe ek kt ti if f
III 43
Gambar 3.31. B Be eb be er ra ap pa a R Re eg gi io on na al l B Br ra an nd d y ya an ng g S Su ud da ah h P Po op pu ul le er r III 45
Gambar 3.32. Media Cetak berbahasa Indonesia yang sudah
populer dan dapat menjadi informasi wisata bagi
segmen wisnus
III 47
Gambar 3.33. Brosur-brosur yang banyak digunakan untuk
mempromosikan obyek-obyek wisata
III 48
Gambar 3.34. Contoh Brosur yang menarik (komposisi warna
yang eye catching, fitur yang unik, dan informasi
yang menarik
III 48
Gambar 3.35. Contoh Brosur yang menarik III 49
Gambar 3.36. Brosur yang Menarik III 50
Gambar 3.37. Brosur yang Kurang Menarik (baik dari segi lay
out maupun grafis. masih minim informasi)
III 51
Gambar 3.38. Program Wisata Kerjasama dengan TV III 52
Gambar 3.39. Produksi Film Dengan Setting Destinasi III 53
Gambar 3.40. Website Khusus Pariwisata III 54
Gambar 3.41. Contoh Komunitas Hobbies III 55
Gambar 3.42. Contoh Komunitas Blogger III 56
Gambar 3.43. Contoh Komunitas Facebook III 57
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

xi
Gambar 3.44. Contoh Komunitas Twitter III 58
Gambar 3.45. Contoh Komunitas Twitter dan Followernya III 59
Gambar 3.46. Contoh Komunitas Twitter dan Icon III 60
Gambar 3.47. Contoh Upload Video Pariwisata di Youtube III 61
Gambar 3.48. DMO Manggarai Komodo III 64
Gambar 3.49. DMO Pangandaran III 67
Gambar 3.50. Contoh Kemitraan antara Hotel dan Bank III 68
Gambar 3.51. Contoh Kemitraan antara Pertamina dan Bank
Mandiri
III 69
Gambar 3.52. Contoh Program Travel Now Pay Later oleh
Bank
III 70
Gambar 3.52. Contoh Insentif Wisata melalui CSR III 70
Gambar 3.53. Contoh Program Kemitraan Pemerintah dengan
Pengusaha Melalui Program Great Sale
III 71
Gambar 3.54. Contoh Program Kemitraan Airlines dengan
Destinasi (Pemerintah) Juga Dunia Usaha
(Bank)
III 71
Gambar 3.55. SKB Kebijakan Cuti Bersama Penggerak
Perjalanan WIsnus
III 72
Gambar 3.56. Insentif Mudik Bersama III 72
Gambar 4.1. K Ka ar ra ak kt te er ri is st ti ik k S Se eg gm me en n V VF FR R b be er rd da as sa ar rk ka an n u um mu ur r IV 5
Gambar 4.2. K Ka ar ra ak kt te er ri is st ti ik k S Se eg gm me en n V VF FR R b be er rd da as sa ar rk ka an n
F Fr re ek ku ue en ns si i K Ku un nj ju un ng ga an n
IV - 5
Gambar 4.3. K Ka ar ra ak kt te er ri is st ti ik k S Se eg gm me en n V VF FR R b be er rd da as sa ar rk ka an n M Mo od da a IV 6
Gambar 4.4. K Ka ar ra ak kt te er ri is st ti ik k S Se eg gm me en n V VF FR R b be er rd da as sa ar rk ka an n W Wa ak kt tu u
K Ku un nj ju un ng ga an n
IV 6
Gambar 4.5. K Ka ar ra ak kt te er ri is st ti ik k S Se eg gm me en n V VF FR R b be er rd da as sa ar rk ka an n C Ca ar ra a
P Pe er rj ja al la an na an n
IV 7
Gambar 4.6. K Ka ar ra ak kt te er ri is st ti ik k S Se eg gm me en n V VF FR R b be er rd da as sa ar rk ka an n
B Be es sa ar ra an n P Pe em mb be el la an nj ja aa an n
IV 7
Gambar 4.7. K Ka ar ra ak kt te er ri is st ti ik k S Se eg gm me en n V VF FR R b be er rd da as sa ar rk ka an n P Po ol la a
P Pe em mb be el la an nj ja aa an n
IV 8
Gambar 4.8. K Ka ar ra ak kt te er ri is st ti ik k S Se eg gm me en n V VF FR R b be er rd da as sa ar rk ka an n P Pr ro of fe es si i IV 8
Gambar 4.9. K Ka ar ra ak kt te er ri is st ti ik k S Se eg gm me en n V VF FR R b be er rd da as sa ar rk ka an n O Ob by ye ek k
y ya an ng g d di ik ku un nj ju un ng gi i
IV 9
Gambar 4.10.
T Ti in ng gg gi in ny ya a M Mo ot ti iv va as si i D Da al la am m M Me en ng gu un nj ju un ng gi i
IV 10
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

xii
K Ke er ra ab ba at t/ /R Re el la as si i/ /T Te em ma an n
Gambar 4.11. P Po ot te en ns si i S Se eg gm me en n P Pe en nd di id di ik ka an n D Di i I In nd do on ne es si ia a IV 10
Gambar 4.12. K Ka an nt to on ng g- -K Ka an nt to on ng g S Se eg gm me en n P Pe en nd di id di ik ka an n d di i L Lu ua ar r
P Pu ul la au u J Ja aw wa a ( (L Lo ok ka as si i P Pe er rg gu ur ru ua an n T Ti in ng gg gi i) )
IV 11
Gambar 4.13. K Ka an nt to on ng g- -K Ka an nt to on ng g S Se eg gm me en n P Pe en nd di id di ik ka an n d di i J Ja aw wa a
( (L Lo ok ka as si i P Pe er rg gu ur ru ua an n T Ti in ng gg gi i) )
IV 12
Gambar 4.14. Karakteristik Segmen Weekender Berdasarkan
Umur
IV 15
Gambar 4.15.
Karakteristik Segmen Weekender Berdasarkan
Frekwensi Kunjungan
IV 16
Gambar 4.16. Karakteristik Segmen Weekender Berdasarkan
Moda
IV 16
Gambar 4.17. Karakteristik Segmen Weekender Berdasarkan
Waktu Kunjungan
IV 17
Gambar 4.18. Karakteristik Segmen Weekender Berdasarkan
Cara Perjalanan
IV 17
Gambar 4.19. Karakteristik Segmen Weekender Berdasarkan
Besar Pembelanjaan
IV 18
Gambar 4.20. Karakteristik Segmen Weekender Berdasarkan
Pola Pembelanjaan
IV 18
Gambar 4.21. Karakteristik Segmen Weekender Berdasarkan
Profesi
IV 19
Gambar 4.22. Karakteristik Segmen Weekender Berdasarkan
Motivasi
IV 21
Gambar 4.23. Kota-Kota Tujuan Weekender IV 21
Gambar 4.24. Salah Satu Pusat Weekender di Bandung IV 23
Gambar 4.25. Pola Aktivitas Weekender di Bali IV 27
Gambar 4.26. Contoh Ilustrasi Inovasi Teknik Berpromosi di
Bali
IV 28
Gambar 4.27. Lokasi Konsentrasi Weekenders di Bali IV 29
Gambar 4.28. Potensi Segmen Wisata Ziarah di Indonesia IV 39
Gambar 4.29. Karakteristik Wisata Ziarah Berdasarkan Umur IV 40
Gambar 4.30.
Karakteristik Wisata Ziarah Berdasarkan
Frekuensi Kunjungan
IV 40
Gambar 4.31. Karakteristik Wisata Ziarah Berdasarkan Moda IV 41
Gambar 4.32. Karakteristik Wisata Ziarah Berdasarkan Waktu
Kunjungan
IV 41
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

xiii
Gambar 4.33. Karakteristik Wisata Ziarah Berdasarkan Cara
Perjalanan
IV 42
Gambar 4.34. Karakteristik Wisata Ziarah Berdasarkan
Pembelanjaan
IV 42
Gambar 4.35. Karakteristik Wisata Ziarah Berdasarkan Pola
Pembelanjaan
IV 43
Gambar 4.36. Karakteristik Wisata Ziarah Berdasarkan Profesi IV 43
Gambar 4.37. Sebaran Daya Tarik Wisata Ziarah di Jawa IV 45
Gambar 4.38. Sebaran Daya Tarik Wisata Ziarah di Luar Jawa IV 46
Gambar 4.39.
Karakteristik segmen MICE berdasarkan Cara
Berkunjung ke Lokasi Event
IV 65
Gambar 4.40.
Karakteristik segmen MICE berdasarkan Jenis
Event yang diikuti
IV 66
Gambar 4.41. Karakteristik segmen MICE berdasarkan
Motivasi Dalam Mengikuti Event MICE
IV 66
Gambar 4.42. Karakteristik segmen MICE berdasarkan
Pemilihan Hotel
IV 67
Gambar 4.43.
Karakteristik segmen MICE berdasarkan
Entertainment yang disukai
IV 67
Gambar 4.44. Karakteristik segmen MICE berdasarkan Atraksi
wisata dan fasilitas rekreasi yang disukai
IV 68
Gambar 4.45. Sebaran Daya Tarik Wisata Ziarah di Luar Jawa IV 69

































1. Pendahuluan
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

I - 1


I. PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
1.1.1. Potensi Wisatawan Nusantara
Pasar wisatawan nusantara seringkali menjadi segmen yang banyak
diabaikan oleh industri pariwisata nasional. Selama beberapa dekade
terakhir perhatian sebagian besar usaha pariwisata, dan bahkan
pemerintah, terfokus pada upaya-upaya untuk meningkatkan kunjungan
wisman yang selalu dikaitkan dengan devisa.
Memang secara perekonomian nasional, aktivitas wisatawan
nusantara tidak begitu banyak berarti, dikarenakan besaran pembelanjaan
mereka tidak menciptakan uang masuk atau dengan kata lain tidak
menciptakan nilai ekspor bagi negara. Sehingga pembelanjaan wisnus
sering disebut hanya sebagai bentuk reditsribusi pendapatan.
Namun demikian, dengan melihat pada pertumbuhan pergerakan
(movements) wisnus yang terjadi sejak beberapa tahun terakhir, maka
dapat dikatakan pangsa pasar wisnus bukan lagi sebagai pangsa
sekunder bagi pariwisata Indonesia. Khususnya di era otonomi saat ini
dimana kedatangan wisnus ke suatu daerah dapat dijadikan alat untuk
menggerakkan perekonomian wilayah di daerah yang bersangkutan (new
money flowing into region).
Perkembangan pergerakan wistawan nusantara (wisnus), khususnya
dari tahun 2006 ke 2007, berdasarkan data yang dikeluarkan oleh BPS
rata-rata pertumbuhan perjalanan 8,72%. Prestasi ini telah menunjukkan
pertumbuhan yang terus meningkat, yang sampai dengan tahun 2009,
jumlah absolute perjalanan mencapai 229,96 juta wisatawan. Fenomena
ini merupakan salah satu indikasi bahwa citra pariwisata nusantara
mengalami pertumbuhan yang positif. Di samping itu slogan Kenali
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

I - 2
Negerimu Cintai Negerimu juga telah terbukti mendapat sambutan yang
positif dari wisatawan domestik di Indonesia.
Perjalanan dan pengeluaran wisatawan nusantara (wisnus) terbukti
terus mengalami pertumbuhan, utamanya pada dua tahun terakhir. Data
yang disajikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai hasil Sensus
Ekonomi Nasional (SUSENAS) menunjukkan bahwa pada tahun 2008
jumlah wisnus mencapai 117,21 juta orang dengan 225,04 juta perjalanan
dan pengeluaran mencapai Rp. 123,17 trilyun, pada 2009 meningkat
menjadi 119,15 juta orang dengan 229,96 juta perjalanan atau naik 2,19%
sementara pengeluarannya mencapai 128,78 trilyun.
Adapun dari sudut pandang region atau wilayah dalam satuan
provinsi yang melakukan perjalanan tercatat bahwa di beberapa daerah di
Indonesia perjalanan wisatawan nusantara ternyata cukup signifikan.
Situasi ini terjadi misalnya di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan
DKI Jakarta yang detailnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 1.1.
Banyaknya Penduduk yang melakukan perjalanan, Jumlah Perjalanan dan Rata-
rata Perjalanan Menurut Propinsi Asal, Tahun 2008


Propinsi
Jml penduduk
yg melakukan
perjalanan
Rata-rata
perjalanan
Jumlah perjalanan
1 NAD 735,067 1.05 768,529
2 Sumatera Utara 4,724,565 1.52 7,179,697
3 Sumatera Barat 1,823,831 1.79 6,067,137
4 Riau 1,934,619 1.54 2,971,522
5 Jambi 921,584 1.73 1,591,756
6 Sumatera Selatan 1,467,224 1.67 2,448,493
7 Bengkulu 738,992 1.68 1,238,563
8 Lampung 3,197,048 1.46 4,687,244
9 Bangka Belitung 1,119,292 1.82 2,032,458
10 Kep. Riau 742,116 1.59 1,182,607
11 DKI Jakarta 6,598,040 1.91 12,582,526
12 Jawa Barat 21,515,860 1.93 41,565,527
13 Jawa Tengah 14,897,588 1.89 28,126,629
14 DI Yogyakarta 2,567,972 1.93 4,959,914
15 Jawa Timur 23,373,516 1.88 43,935,875
16 Banten 3,270,088 1.68 10,554,482
17 Bali 1,835,464 2.08 3,823,492
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

I - 3

Propinsi
Jml penduduk
yg melakukan
perjalanan
Rata-rata
perjalanan
Jumlah perjalanan
18 NTB 2,226,316 1.70 3,785,206
19 NTT 1,888,932 1.71 3,232,559
20 Kalimantan Barat 1,443,032 1.61 2,329,392
21 kalimantan Tengah 779,624 1.47 1,149,025
22 Kalimantan Selatan 1,810,160 1.42 2,573,764
23 Kalimantan Timur 1,939,100 1.77 3,431,609
24 Sulawesi Utara 762,224 1.93 1,471,207
25 Sulawesi Tengah 1,234,888 1.68 2,072,394
26 Sulawesi Selatan 3,052,840 1.8 5,486,473
27 Sulawesi Tenggara 883,168 1.58 1,394,686
28 Gorontalo 643,444 1.75 1,124,071
29 Sulawesi Barat 447,632 1.79 802,566
30 Maluku 460,500 1.70 784,177
31 Maluku Utara 587,636 1.39 814,563
32 Papua Barat 215,400 1.26 272,137
33 Papua 645,296 1.29 831,271
TAHUN 2008 80.072.925 1.90 151.945.1146
TAHUN 2007 *) 115.334.781 1.93 222.388.788
*Bagian diarsir adalah propinisi dengan jumlah penduduk terbesar yang melakukan perjalanan
Sumber : Statistik Wisatawan Nusantara, 2008, BPS, 2008

1.1.2. Kebutuhan Akselerasi Pertumbuhan Perjalanan Wisnus
Dengan latar belakang kondisi dan nilai penting kepariwisataan
nusantara bagi pembangunan perekonomian nasional serta persaingan di
tingkat nasional, maka pemerintah mempertegas komitmennya untuk
berupaya meningkatkan akselerasi pemasaran pariwisata nusantara.
Dengan demikian diharapkan kepariwisataan nusantara akan memiliki
daya saing yang lebih tinggi dan mampu menempatkan destinasi daerah
dalam kepariwisataan nusantara.
Terkait dengan tekad akselerasi pembangunan kepariwisataan
nusantara tersebut, berbagai program telah dilakukan oleh pemerintah
bersama-sama dengan stakeholder terkait. Program-program tersebut
antara lain mencakup pengembangan promosi pariwisata dalam negeri
antara lain: Tour de Singkarak, ASEAN Jazz Festival, Sail Bunaken, serta
program-program pemasaran strategis lainnya dalam bentuk kerjasama
dengan daerah, sebagai program promosi yang menggiatkan wisnus.
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

I - 4
Namun demikian sejalan dengan perkembangan pariwisata
nusantara yang sangat dinamis, perkembangan industri pariwisata serta
persaingan antar destinasi pariwisata dalam konteks nasional, maka
dibutuhkan rencana strategis yang mampu mengantisipasi dan menjawab
tantangan dan dinamika perkembangan industri pariwisata nusantara
yang sangat berkembang pesat.
Rencana strategis dalam bentuk buku putih pemasaran pariwisata
nusantara yang akan dihasilkan nanti sekaligus diharapkan dapat menjadi
arahan strategis dalam upaya meningkatkan akselerasi pertumbuhan
pariwisata nusantara.
Dalam upaya menyusun arah kebijakan, strategi, dan indikasi
program pemasaran wisnus yang tajam tadi terdapat sejumlah isu-isu
strategis yang perlu mendapatkan perhatian khusus dan penyelesaiannya
yang antara lain adalah:
a. Isu keamanan dan keselamatan (safety and security)
b. Citra dan branding yang menarik
c. Aksesibilitas dan transportasi serta permasalahan maskapai
penerbangan dalam negeri
d. Kemitraan strategis antar berbagai sektor dan komitmen
dalam upaya mendorong akselerasi pembangunan pariwisata
nusantara
e. Daya saing produk wisata dalam negeri vis a vis produk wisata
pesaing

1.1.3. Perlunya Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
Upaya akselerasi pembangunan kepariwisataan nusantara agar
memiliki daya saing dan daya penetrasi yang kuat, tentu saja akan sulit
diwujudkan apabila tidak didukung oleh kebijakan strategis dan program
yang mampu memecahkan berbagai persoalan dan tuntutan serta
tantangan di atas. Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara juga
sangat dibutuhkan untuk memberikan arahan strategik bagi segenap
pemangku kepentingan dalam melakukan pemasaran pariwisata
nusantara secara lebih terfokus, komprehensif, dan berkesinambungan,
baik pada tingkat Nasional maupun di Daerah.
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

I - 5
Pengembangan dan penjabaran buku putih pemasaran pariwisata
nusantara di dalamnya akan mencakup aspek perencanaan dan
pengembangan target pasar, yang dirumuskan mendasarkan pada hasil
analisis pasar. Keluaran atau output buku putih pemasaran pariwisata
nusantara nantinya akan merupakan suatu rumusan kesatuan terintegrasi
dengan analisis pasar dalam negeri.
Penyusunan buku putih pemasaran pariwisata nusantara
sekaligus juga merupakan langkah strategis dalam menggambarkan peta
persaingan yang ada, yang sangat dibutuhkan untuk menyusun
perencanaan pengembangan pemasaran pariwisata di daerah yang
menuntut program-program aksi yang lebih konkrit. Di samping itu Buku
Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara juga disusun untuk
merekomendasikan berbagai arahan kebijakan terkait dengan pemasaran
pariwisata nusantara, yang dapat dijabarkan oleh instansi terkait baik
pusat maupun daerah melalui berbagai programnya dalam konteks
percepatan pertumbuhan perjalanan wisnus.


1.2. Mandat Yuridis
1.2.1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009
Tentang Kepariwisataan
Mandat Pemasaran Pariwisata berdasarkan Undang-Undang No.
10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, tercantum dalam pasal-pasal
berikut ini :
a. Bab IV UU No 10/ Tahun 2009
Pembangunan Kepariwisataan berdasarkan Undang-Undang
No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, meliputi empat
aspek, salah satu diantaranya adalah Pembangunan
Pemasaran Pariwisata. Hal ini dijabarkan dalam penjelasan
Pasal 7 Huruf c, yaitu sebagai berikut :
Pemasaran Pariwisata bersama, terpadu dan
berkesinambungan dengan melibatkan seluruh pemangku
kepentingan serta pemasaran yang bertanggung jawab dalam
membangun Indonesia sebagai destinasi pariwisata yang
berdaya saing.

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

I - 6


b. Bab X UU No 10/ Tahun 2009
Mandat pemasaran pariwisata Indonesia berdasarkan Bab X
UU No 10/ Tahun 2009, mengenai Badan Promosi
Pariwisata Indonesia :
Pasal 36
(1) Pemerintah memfasilitasi pembentukan Badan Promosi
Pariwisata Indonesia yang berkedudukan di ibu kota
negara.
(2) Badan Promosi Pariwisata Indonesia sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) merupakan lembaga swasta
dan bersifat mandiri.
(3) Pembentukan Badan Promosi Pariwisata Indonesia
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
dengan Keputusan Presiden.

Pasal 41
(1) Badan Promosi Pariwisata Indonesia mempunyai tugas:
a) meningkatkan citra kepariwisataan Indonesia;
b) meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara
dan penerimaan devisa;
c) meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara
dan pembelanjaan;
d) menggalang pendanaan dari sumber selain
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan; dan
e) melakukan riset dalam rangka pengembangan
usaha dan bisnis pariwisata.
(2) Badan Promosi Pariwisata Indonesia mempunyai fungsi
sebagai:
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

I - 7
a) koordinator promosi pariwisata yang dilakukan
dunia usaha di pusat dan daerah; dan
b) mitra kerja Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

1.2.2. Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 1996 tentang
Penyelenggaraan Kepariwisataan
a. Bab I
Mandat pemasaran pariwisata Indonesia berdasarkan Bab I
PP No 67 Tahun 1996, mengenai Ketentuan Umum :

Pasal 2
Penyelenggaraan kepariwisataan bertujuan untuk :
a) memperkenalkan, mendayagunakan, melestarikan dan
meningkatkan mutu objek dan daya tarik wisata;
b) memupuk rasa cinta tanah air dan meningkatkan
persahabatan antar bangsa;
c) memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha
dan lapangan kerja;
d) meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka
peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat; dan
e) mendorong pendayagunaan produksi nasional.

Pasal 3
Penyelenggaraan kepariwisataan dilaksanakan dengan
memperhatikan :
a) kemampuan untuk mendorong dan meningkatkan
perkembangan kehidupan ekonomi dan sosial budaya;
b) nilai-nilai agama, adat istiadat, serta pandangan dan nilai-
nilai yang hidup dalam masyarakat;
c) kelestarian budaya dan mutu lingkungan hidup; dan
d) kelangsungan usaha pariwisata.

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

I - 8

1.2.3. RPJM 2010-1014 Pembangunan Pariwisata Nasional
Sesuai dengan Prioritas Nasional seperti yang tercantum dalam
Buku I RPJMN tahun 2010 2014, pembangunan di bidang
kepariwisataan merupakan bagian dari Program Prioritas Nasional
Lainnya di bidang Kesejahteraan Rakyat.
Dalam Program Prioritas Nasional tersebut antara lain
diamanatkan :
a. Peningkatan jumlah wisatawan mancanegara dan wisatawan
nusantara sebesar 20 % secara bertahap dalam 5 tahun;
b. Promosi 10 tujuan pariwisata Indonesia melalui saluran
pemasaran dan pengiklanan yang kreatif dan efektif;
c. Perbaikan dan peningkatan kualitas jaringan prasarana dan
sarana pendukung pariwisata;
Di dalam kebijakan tersebut juga disebutkan mengenai fokus
prioritas dan kegiatan prioritas kepariwisataan dalam RPJMN 2010-
2014 yang menyebutkan diantaranya adalah Peningkatan Promosi
Pariwisata Dalam Negeri

1.2.4. Rencana Strategis Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata
2010-2014
Di dalam kebijakan ini termuat Arah Kebijakan dan Strategi
Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang mencakup baik
wisman maupun wisnus. Diantara kebijakan tersebut beberapa
diantaranya memiliki implikasi langsung terhadap pengembangan
segmen wisnus.
Berikut adalah kutipan yang merupakan arahan atas
pengembangan kepariwisataan nusantara terutama dalam
kaitannya dengan pengembangan wisnus yaitu pada Arah
Kebijakan dan Strategi No.7 tentang Pengembangan Pemasaran
Pariwisata Yang Bertanggung Jawab (Responsible Marketing).



Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

I - 9




1) Meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara maupun
nusantara sebesar 20 (dua puluh) persen secara bertahap
dalam 5 (lima) tahun.
Implikasi terhadap pegembangan wisnus :
Pertumbuhan 20% progresif dalam 5 tahun
2) Meningkatkan promosi 10 (sepuluh) tujuan pariwisata
Indonesia melalui saluran pemasaran dan pengiklanan yang
kreatif dan efektif.
3) Meningkatkan jumlah anggota jaringan situs online
kepariwisataan Indonesia melalui pengembangan data dan
informasi destinasi pariwisata yang dilengkapi dengan
dokumentasi dan visualisasi.
Implikasi terhadap pegembangan wisnus :
Pengembangan media promosi wisnus secara
luas
Meningkatkan kuantitas pengguna bahan promosi
kepariwisataan melalui penyediaan, penyajian dan
diseminasi bahan promosi cetak, elektronik, dan publikasi
kepariwisataan.
4) Meningkatkan ketersediaan rekomendasi strategi
pelaksanaan promosi dan pemasaran pariwisata melalui
pengembangan analisis pasar dan market intelligence
kepariwisataan mancanegara dan nusantara baik di tingkat
pusat maupun daerah.
Implikasi terhadap pegembangan wisnus :
Pengembangan anlisis pasar dan market
intelligence
5) Meningkatkan jumlah pergerakan wisatawan nusantara
melalui penyelenggaraan direct promotion, penyelenggaraan
event pariwisata utama, serta dukungan bagi
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

I - 10
penyelenggaraan event seni, budaya dan pariwisata di
berbagai daerah.
Implikasi terhadap pegembangan wisnus :
Meningkatkan pergerakan wisnus ke berbagai
daerah
6) Meningkatkan pelaksanaan pertemuan, perjalanan insentif,
konferensi, dan pameran (Meeting, Incentive, Convention,
and Exhibition/MICE) nasional dan internasional melalui
pengembangan kapasitas, promosi dan bidding kegiatan
MICE, serta penyelenggaraan dan dukungan event MICE.
Mengembangkan kegiatan MICE di dalam
negeri
7) Meningkatnya dukungan bagi partisipasi seluruh
stakeholders dalam promosi pariwisata Indonesia melalui
dukungan manajemen SDM, perencanaan, regulasi, evaluasi
dan keuangan.
Promosi pariwisata terpadu yang melibatkan
segenap stakeholders terkait

Terkait dengan kebijakan tersebut, Pemerintah dalam hal ini
Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata juga telah merumuskan
Program dan Kegiatan Prioritas Tahun 2010 -2014 yang terangkum
di dalam kelompok Program 4 tentang Pengembangan Pemasaran
Pariwisata yang dapat diuraikan sebagai berikut :

Program 4. PENGEMBANGAN PEMASARAN PARIWISATA

Program ini berisikan tujuan dan sasaran sebagai berikut :
A. Tujuan :
1) Menjadikan pemasaran kegiatan utama pembangunan
kepariwisataan yang dilakukan secara terpadu dan
berkesinambungan.
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

I - 11
2) Mendukung pengembangan pariwisata sebagai sektor
penghasil devisa negara ketiga setelah sektor minyak dan
gas, serta minyak kelapa sawit.
3) Mewujudkan pergerakan penduduk dan perjalanan wisatawan
yang lebih merata di seluruh wilayah Indonesia

B. Sasaran :
1) Meningkatnya permintaan paket wisata nusantara,
2) Meningkatnya event pariwisata Indonesia di dalam dan luar
negeri,
3) Meningkatnya keterlibatan stakeholders Indonesia dalam
memasarkan pariwisata Indonesia,
4) Meningkatnya pelayanan informasi dan kelengkapan informasi
pariwisata Indonesia.

Adapun indikator pencapaian atas tujuan dan sasaran tersebut
adalah sebagai berikut :
1) Kunjungan wisatawan mancanegara
2) Pergerakan wisatawan nusantara
3) Penjualan paket wisata nusantara di pasar dalam negeri.
4) Event pariwisata dalam negeri.
5) Partisipasi pariwisata Indonesia pada bursa, sales mission dan
festival di tingkat internasional.
6) Pelayanan informasi kepariwisataan Indonesia di fokus pasar
wisata.
7) Strategi pemasaran pariwisata dalam dan luar negeri.
8) Event MICE di Indonesia yang terpromosikan.
9) Tujuan pariwisata Indonesia yang memiliki kelengkapan bahan
promosi.
10) Dukungan manajemen pemasaran (event).

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

I - 12
Di dalam Dokumen Rencana Strategis ini pula telah dirumuskan
kegiatan - kegiatan prioritas sebagai pelaksanaan penugasan
khusus kementerian tahun 2010 - 2014 yang dilaksanakan melalui
Program Pengembangan Pemasaran Pariwisata yaitu :
A. Meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara dan
wisatawan nusantara sebesar 20% secara bertahap dalam
5 tahun dengan :
Meningkatkan upaya promosi pariwisata ke 15 negara
fokus pasar internasional
Meningkatkan upaya promosi pariwisata di dalam dan di
luar negeri terutama pada 10 tujuan pariwisata
Indonesia
Meningkatkan aktivititas MICE nasional dan
internasional di tujuan pariwisata Indonesia, melalui
pelaksanaan event promosi MICE di dalam dan luar
negeri
B. Mempromosikan 10 tujuan pariwisata Indonesia melalui
saluran pemasaran dan pengiklanan yang kreatif dan
efektif dengan meningkatkan penyajian dan diseminasi data
dan informasi kepariwisataan Indonesia.
C. Mendorong konsolidasi akses transportasi mancanegara
dan dalam negeri, terutama ke 10 tujuan pariwisata
Indonesia dengan meningkatkan konsolidasi dan koordinasi
lintas kementerian/ lembaga dalam peningkatan akses
internasional ke 10 tujuan pariwisata Indonesia.

Sementara itu, kegiatan-kegiatan prioritas sesuai dengan tugas
pokok dan fungsi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata melalui
Program Pengembangan Pemasaran Pariwisata tahun 2010 - 2014
adalah sebagai berikut :
1. Peningkatan Promosi Dalam Negeri, dengan kegiatan
prioritas antara lain:
a. Penyelenggaraan direct promotion di pusat-pusat
keramaian dan perbelanjaan.
b. Penyelenggaraan event pariwisata berskala nasional dan
internasional.
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

I - 13
c. Pendukungan event seni, budaya dan pariwisata daerah.
d. Operasionalisasi Pusat Informasi Kepariwisataan (Tourism
Information Center).
e. Pemantuan dan evaluasi Peningkatan Promosi Dalam
Negeri
2. Peningkatan Promosi Pariwisata Luar Negeri, dengan
kegiatan prioritas, antara lain :
a. Partisipasi pada bursa pariwisata internasional.
b. Pelaksanaansales mission di fokus pasar wisatawan.
c. Pendukungan penyelenggaraan Festival Indonesia di
mancanegara.
d. Pemantuan dan evaluasi Peningkatan Promosi luar Negeri
3. Peningkatan Informasi Pasar Pariwisata, dengan kegiatan
prioritas antara lain :
a. Analisis pasar dan marketing intelligence pasar wisatawan.
b. Penyelenggaraan Familiarization Trip.
c. Perintisan pusat promosi pariwisata Indonesia.
d. Pemantuan dan evaluasi Peningkatan Informasi Pasar
Pariwisata.
4. Peningkatan Publikasi Pariwisata, dengan kegiatan
prioritas antara lain :
a. Pengembangan data dan informasi pemasaran pariwisata.
b. Pengembangan penyajian data dan informasi pemasaran
pariwisata.
c. Peningkatandiseminasi data dan informasi pemasaran
pariwisata.
d. Pemantuan dan evaluasi Peningkatan Publikasi Pariwisata.
5. Peningkatan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konferensi
dan Pameran (Meeting, Incentive Travel, Convention And
Exhibition/MICE) dengan kegiatan prioritas antara lain :
a. Pengembangan kapasitas MICE Indonesia.
b. Promosi penyelenggaraan MICE di Indonesia.
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

I - 14
c. Pendukungan bidding dan penyelenggaraan MICE.
d. Pemantuan dan evaluasi Peningkatan Pertemuan,
Perjalanan Insentif, Konferensi dan Pameran.
6. Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya,
dengan kegiatan prioritas antara lain :
a. Pendukungan promosi pariwisata daerah.
b. Pendukungan manajemenpemasaran pariwisata.
c. Penyusunan dokumen perencanaan, pemantuan dan
evaluasi.

Dalam hal ini posisi Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
ini dengan RENSTRA tersebut adalah : 1) Sebagai pelengkap
panduan yang lebih komprehensif (meliputi 33 propinsi, 2) Jabaran
bentuk-bentuk program promosi yang lebih bervariasi sejalan
dengan RIPPARNAS, dan 3) Adanya pilar lain sebagai tambahan
yaitu aspek pengembangan kelembagaan dan kemitraan.


1.3. Tujuan dan Sasaran
Penyusunan jabaran program buku putih pemasaran pariwisata
nusantara bertujuan untuk :
1. Meningkatkan akselerasi program pemasaran pariwisata
nusantara dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran
pembangunan pariwisata nasional.
2. Menyiapkan langkah kongkrit dan terpadu dalam rangka
pemasaran pariwisata nusantara yang tanggap terhadap isu-
isu strategis yang berkembang, terutama untuk mendorong
peningkatan kunjungan wisnus, lama tinggal, tingkat
pengeluaran, serta distribusi kunjungan ke berbagai destinasi
pariwisata yang ada.
3. Mengembangkan arah kebijakan serta strategi pemasaran
pariwisata nusantara dalam konteks nasional yang lebih efektif
dan efisien dengan menempatkan berbagai kepentingan
stakeholder pariwisata nasional (swasta, pemerintah,
masyarakat) sebagai pelaku penting dalam implementasinya.
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

I - 15
4. Menyusun dokumen yang akan menjadi acuan/ pedoman bagi
pengembangan pemasaran pariwisata nusantara yang dapat
ditindaklanjuti daerah dalam pengembangan kepariwisataan di
daerah.

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a




I

-

1
6
1
.
4
.

K
e
r
a
n
g
k
a

P
e
m
i
k
i
r
a
n

M
e
n
d
a
s
a
r
k
a
n

p
a
d
a

t
u
j
u
a
n
,

s
a
s
a
r
a
n

s
e
r
t
a

k
e
l
u
a
r
a
n

y
a
n
g

a
k
a
n

d
i
c
a
p
a
i

d
a
r
i

p
e
k
e
r
j
a
a
n

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a

i
n
i
,

m
a
k
a

d
a
p
a
t

d
i
s
u
s
u
n

k
e
r
a
n
g
k
a

p
e
m
i
k
i
r
a
n

s
e
b
a
g
a
i

b
e
r
i
k
u
t

:



G
a
m
b
a
r

1
.
1
.

K
e
r
a
n
g
k
a

P
e
m
i
k
i
r
a
n

B
u
k
u

P
u
t
i
h

K
O
N
S
E
P

D
A
N

D
E
F
I
N
I
S
I

W
I
S
N
U
S

B
U
K
U

P
U
T
I
H

P
E
M
A
S
A
R
A
N

P
A
R
I
W
I
S
A
T
A

N
U
S
A
N
T
A
R
A

V
I
S
I

D
A
N

M
I
S
I

T
U
J
U
A
N

D
A
N

S
A
S
A
R
A
N

A
R
A
H

K
E
B
I
J
A
K
A
N
,

S
T
R
A
T
E
G
I
,

D
A
N

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

P
A
S
A
R

P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

C
I
T
R
A

D
A
N

M
E
D
I
A

K
O
M
U
N
I
K
A
S
I

P
E
M
A
S
A
R
A
N

K
E
L
E
M
B
A
G
A
A
N

D
A
N

K
E
M
I
T
R
A
A
N

P
E
M
A
S
A
R
A
N

N

A

S

I

O

N

A

L

P

R

O

V

I

N

S

I

P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

P
A
S
A
R

P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

C
I
T
R
A

D
A
N

K
O
M
U
N
I
K
A
S
I

P
E
M
A
S
A
R
A
N

K
E
L
E
M
B
A
G
A
A
N

D
A
N

K
E
M
I
T
R
A
A
N

P
E
M
A
S
A
R
A
N

P
R
O
G
R
A
M

P
R
I
O
R
I
T
A
S

P
R
O
G
R
A
M

R
E
G
U
L
E
R

M
a
n
d
a
t

P
e
r
a
t
u
r
a
n

P
e
r
u
n
d
a
n
g
a
n


1
.

U
U

N
o

1
0
/
2
0
0
9

t
e
n
t
a
n
g

K
e
p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
a

2
.

P
P

N
o

6
7
/
1
9
9
6

t
e
n
t
a
n
g

P
e
m
b
a
n
g
u
n
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

s
e
c
a
r
a

T
e
r
p
a
d
u

3
.

I
n
p
r
e
s

R
O

N
o

1
6

T
a
h
u
n

2
0
0
5

t
e
n
t
a
n
g

P
e
m
b
a
n
g
u
n
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

S
e
c
a
r
a

t
e
r
p
a
d
u

4
.

P
e
r
m
e
n

K
e
b
u
d
a
y
a
a
n

d
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
o

0
7
/
H
K

0
0
1
/
M
K
P

2
0
0
5

t
e
n
t
a
n
g

O
r
g
a
n
i
s
a
s
i

d
a
n

T
a
t
a

K
e
r
j
a

D
e
p
a
r
t
e
m
e
n

K
e
b
u
d
a
y
a
a
n

d
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

P
e
m
a
n
t
a
p
a
n

d
a
n

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

:

1
.

S
e
g
m
e
n

V
F
R

2
.

S
e
g
m
e
n

W
e
e
k
e
n
d
e
r

3
.

S
e
g
m
e
n

Z
i
a
r
a
h

4
.

S
e
g
m
e
n

H
o
b
b
i
e
s

5
.

S
e
g
m
e
n

M
I
C
E

E
k
s
t
e
n
s
i
f
i
k
a
s
i

:


1
.

S
e
g
m
e
n

E
k
s
p
a
t
r
i
a
t


2
.

S
e
g
m
e
n

B
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

K
e
l
o
m
p
o
k

U
m
u
r

1
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

C
i
t
r
a

D
e
s
t
i
n
a
s
i

(
B
r
a
n
d
i
n
g

2
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
k
a
n

p
e
r
a
n

M
e
d
i
a

K
o
m
u
n
i
k
a
s
i

P
e
m
a
s
a
r
a
n

1
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

K
e
l
e
m
b
a
g
a
a
n

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

2
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

K
e
m
i
t
r
a
a
n

y
a
n
g

s
i
n
e
r
g
i
s

p
e
m
a
s
a
r
a
n

a
n
t
a
r

p
e
m
a
n
g
k
u

k
e
p
e
n
t
i
n
g
a
n



M
a
s
s

M
a
r
k
e
t

N
i
c
h
e

M
a
r
k
e
t

1
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

C
i
t
r
a

D
e
s
t
i
n
a
s
i

(
B
r
a
n
d
i
n
g

2
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
k
a
n

p
e
r
a
n

M
e
d
i
a

K
o
m
u
n
i
k
a
s
i

P
e
m
a
s
a
r
a
n

1
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

K
e
l
e
m
b
a
g
a
a
n

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

2
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

K
e
m
i
t
r
a
a
n

y
a
n
g

s
i
n
e
r
g
i
s

p
e
m
a
s
a
r
a
n

a
n
t
a
r

p
e
m
a
n
g
k
u

k
e
p
e
n
t
i
n
g
a
n


Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

I - 17
1.5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan terkait dengan penelitian
ini adalah :
a. Survei Lapangan, yaitu survei yang dilakukan secara langsung ke
lapangan yaitu daerah-daerah potensial perkembangan wisatawan
nusantara (Bandung, Bali, DIY-Jawa Tengah)
b. Mengikuti paket-paket wisata yang ditujukan untuk mengetahui
motivasi dan sistem pemaketan wisnus (Paket Wisata Ziarah, Paket
Wisata Belanja).
c. Wawancara mendalam, dilakukan untuk mendapatkan informasi
dari pihak-pihak yang memiliki lata belakang kompetensi bidang
pengembangan pemasaran pariwisata khususnya pada segmen
wisatawan nusantara maupun bidang kepariwisataan secara umum
misalnya pihak dari Kemenbudpar, Pemda setempat, Pelaku Industri,
Asosiasi, dsb.
d. E-Survey yaitu survei dengan menggunakan media online yang
ditujukan untuk mendapatkan dukungan data yang relevan dan
melihat tren terkini penggunaan media promosi secara on-line
misalnya tren dalam penggunaan social media.
e. FGD (Focus Group Discussion), dilakukan untuk menggali
informasi yang lebih dalam dari berbagai nara sumber yang mewakili
seluruh stakeholder yang terkait dengan kepentingan studi yang
dilakukan. FGD dilakukan dengan melibatkan sejumlah ahli di bidang
pariwisata, akademisi, wakil pemerintah, dan para pelaku industri
pariwisata.
f. Studi Pustaka, yaitu mendalami berbagai literatur yang berkaitan
dengan topik penelitian. Teknik yang digunakan adalah melalui
pendalaman berbagai sumber informasi seperti buku, artikel, majalah,
internet, data statistik dan sebagainya.

























2. Pengertian, Lingkup, dan Paradigma
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 1


II. PENGERTIAN, LINGKUP,
DAN PARADIGMA


2.1. Definisi Wisatawan Nusantara
Sampai saat ini batasan baku mengenai wisatawan dalam negeri
(wisatawan nusantara) masih menggunakan batasan yang ditetapkan oleh
BPS (Biro Pusat Statistik), yang pada dasarnya merupakan
penterjemahan dari batasan yang diberikan oleh WTO (World Tourism
Organization) mengenai domestic tourism.
Batasan dari BPS tersebut sampai saat ini digunakan untuk
pendukung dalam sistem pengumpulan data, khususnya untuk memantau
pergerakan wisatawan nusantara di Indonesia. Data-data yang disajikan
oleh BPS selama ini adalah mengacu pada batasan mengenai wisatawan
nusantara sebagaimana ditetapkan oleh WTO.
Wisatawan nusantara juga dapat disebut sebagai kegiatan
perjalanan oleh penduduk Indonesia di dalam wilayah negara Indonesia.
Pengertian Perjalanan disini sebagaimana digunakan oleh BPS (Susenas,
BPS), adalah:

Penduduk Indonesia yang melakukan perjalanan dalam
wilayah geografis Indonesia (perjalanan dalam negeri) secara
sukarela kurang dari 6 (enam) bulan dan bukan untuk tujuan
bersekolah atau bekerja (memperoleh upah/gaji), mengunjungi
obyek wisata, dan atau bukan obyek wisata dengan menginap
di akomodasi komersial, dan atau jarak perjalanannya > 100
km dengan atau tanpa menggunakan alat angkutan, secara
perorangan (sendiri) ataupun berkelompok (rombongan) yang
bukan merupakan kegiatan rutin.
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 2
Berdasarkan definisi tersebut, maka dapat diberikan beberapa kriteria
mengenai perjalanan wisatawan nusantara :

1. Penduduk Indonesia
2. Perjalanan dalam negeri secara sukarela
3. Berkelompok maupun perorangan
4. Perjalanan < 6 bulan
5. Bukan bersekolah/bekerja (memperoleh upah/gaji)
6. Sifat perjalanan tidak rutin
7. Mengunjungi ODTW (Tidak Menginap di akomodasi komersial),
atau
8. Tidak mengunjungi ODTW (Tetapi menginap di akomodasi
komersial)
9. Jarak perjalanan > 100 km pp

Sesuai dengan definisi itu pula dapat diberikan asumsi-asumsi berikut :
a. Perjalanan ke obyek wisata/tempat rekreasi yang biasanya
dikunjungi umum tanpa memperhatikan jarak tempat tersebut
dari rumah tempat dia bepergian dan lama bepergian.
b. Perjalanan bukan ke obyek wisata, misalnya dinas,
mengunjungi famili, dan lain-lain dengan syarat:
1. Jarak perjalanan lebih besar atau sama dengan 100 km
(pp)
2. Jarak perjalanan kuran dari 100 km (pp) tetapi menginap
di akomodasi komersial.

Adapun komponen-komponen yang harus diperhatikan terkait dengan
definisi wisnus tersebut mencakup antara lain :
1. Karakteristik geografis yaitu wisatawan dapat dianggap sebagai
seseorang yagn melakukan perjalanan jauh (dalam jarak tertentu)
dari wilayah daerah administratif asalnya ke wilayah daerah
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 3
administratif lainnya (atau beberapa daerah) dalam lingkup wilayah
Indonesia.
2. Karakteristik waktu yaitu tiap perjalanan wisata mempunyai waktu
minimum tetapi bersifat sementara dan tidak menjadi pendudk tetap
di tempat atau wilayah baru yang dikunjunginya.
3. Karakteristik motivasi untuk melepaskan diri (escape) dari rutinitas,
bebas dari tanggungjawab sosial sehari-hari
4. Karakteristik interaksi emosional dengan tempat yang dikunjungi
yaitu adanya karakter kunjungan yang melibatkan emosi antara
orang tersebut dengan beberapa tempat yang dikunjunginya.
Wisatawan nusantara adalah kelompok segmen wisatawan di Indonesia
yang memiliki kemampuan terhadap pemerataan ekonomi ke berbagai
daerah. Wisatawan nusantara juga membawa dampak yang luar biasa
terhadap pemupukan rasa cinta tanah air, dalam hal ini masyarakat akan
merasa bangga terhadap kekayaan yang dimiliki oleh suatu negara
dengan berwisata ke berbagai tempat tujuan wisata.
Sejumlah faktor menjadi pemicu pergerakan wisatawan nusantara yaitu
1) Masyarakat Indonesia memiliki sifat paternalistik sehingga mudah
digerakkan dari panutannya.
2) Sifat yang paternalistik akan berdampak pada ikatan emosional
yang kuat yang menjadi penentu keputusan melakukan perjalanan
(misalnya karena keperluan untuk mengunjungi kerabat, acara
trah/clan, atau kegiatan lain yang melibatkan hubungan antar
keluarga)
Selain faktor-faktor tersebut, sejumlah karakteristik yang juga melekat
pada segmen wisatawan nusantara adalah :
1) Terkait dengan pencarian produk seperti suvenir, cinderamata,
atau produk kenangan wisatawan nusantara lebih menyukai
produk-produk impor yang identik dengan harga mahal yang
mencerminkan status sosial mereka, terutama pada kelompok
Orang Kaya Baru (OKB)
2) Wisatawan nusantara lebih tertarik pada altifitas mencari oleh-oleh
atau berbelanja dibandingkan dengan mempelajari destinasi
wisata yang sedang dikunjunginya
3) Wisatawan nusantara lebih didominasi oleh karakter suka-suka
dan bersama-sama berbeda dengan segmen wisatawan
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 4
mancanegara yang cenderung lebih menghargai privasi dan
kegiatan-kegiatan minat khusus.
4) Segmen high end untuk kelompok wisatawan nusantara identik
dengan perjalanan dan belanja ke luar negeri, atau belanja di
butik-butik terkenal di Jakarta dan Bali.


2.2. Lingkup Pembahasan
Lingkup pembahasan terkait dengan Penyusunan Buku Putih
Pemasaran Pariwisata Nusantara dalam hal ini akan mencakup
setidaknya 3 (tiga) hal pokok, yaitu :
2.2.1. Pengembangan Pasar
A. Segmentasi berdasarkan Motivasi
Segmentasi berdasarkan motivasi dalam hal ini dilakukan dengan
mempertimbangkan karakteristik wisatawan nusantara yang identik
dengan suatu motivasi khusus dalam melakukan perjalanannya.
Motivasi tersebut diantaranya :
1) Silaturahmi (Visiting Friend and Relatives) (budaya mengunjungi
kerabat atau sahabat atau relasi misalnya pada saat libur
lebaran/mudik). Termasuk pula dalam kelompok ini adalah segmen
pendidikan yaitu kegiatan-kegiatan perjalanan yang menyertai
aktifitas pendidikan, misalnya upacara wisuda/kelulusan, liburan
semester.
2) Weekenders (yaitu segmen yang melakukan aktifitas berlibur di
akhir pekan untuk melepaskan diri dari rutinitas, terutama terjadi di
kota-kota besar seperti masyarakat Jakarta yang pergi ke Bandung,
masyarakat Surabaya berakhir pekan di Malang atau Bali, dsb)
3) Wisata Ziarah (yaitu kelompok segmen yang memiliki motivasi
untuk mengunjungi tempat-tempat suci, makam, masjid, dsb
dengan tujuan berziarah)
4) MICE, dalam pengertian kelompok segmen dengan motivasi MICE
adalah yang melakukan atau terlibat kegiatan seperti pameran,
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 5
pertemuan/meeting, juga perjalanan (Incentive Travel). Termasuk
dalam kegiatan ini pula adalah ketertarikan kelompok ini pada
event-event di daerah seperti festival budaya, pekan budaya dan
sejenisnya.
5) Hobbies (yaitu motivasi perjalanan wisata suatu komunitas karena
adanya kesamaan hobby, misalnya sesama penggemar motor,
mobil, sepeda, sepeda motor, penyuka binatang, dsb)

B. Segmentasi Demografi
1. Berdasarkan Usia
Selain segmentasi berdasarkan motivasi sebagaimana telah
disebutkan di atas, pembahasan segmentasi dalam penelitian ini juga
didasarkan pada kelompok Usia. Berdasarkan kategori ini ditemukan
bahwa kelompok segmen wisnus dapat dikelompokkan ke dalam :
1) Segmen usia 18 25 Tahun (termasuk dalam kelompok ini
adalah para pelajar, dan mahasiswa)
2) Segmen usia 26 35 Tahun (terdiri dari para eksekutif muda,
pekerja swasta, PNS, dan profesional)
3) Segmen usia 36 45 Tahun (terdiri dari para eksekutif muda,
pekerja swasta, PNS, wiraswasta/pengusaha, profesional, dengan
beberapa diantaranya adalah segmen premium)
4) Segmen usia 46 55 Tahun (kelompok profesional, PNS, pekerja
swasta, wiraswasta/pengusaha, dan pensiunan)
5) Segmen usia + 55 Tahun (kelompok pensiunan,
wiraswasta/pengusaha)
2. Ekspatriat
Yaitu segmen WNA yang sedang berada di Indonesia karena alasan
bekerja atau misi bisnis atau lainnya dan tinggal dalam waktu yang
cukup lama. Kelompok ini juga sering melakukan kegiatan-kegiatan
wisata di sekitar tempat tinggalnya atau juga ke luar kota untuk
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 6
pertemuan-pertemuan dengan sesama ekspatriat (gathering) maupun
juga sekedar berwisata bersama keluarga.


2.2.2. Pengembangan Citra dan Media Komunikasi Pemasaran
Citra atau image di dalam kepariwisataan seringkali identik dengan
brand yang dikembangkan oleh suatu destinasi untuk mencitrakan
destinasi tersebut. Dengan kata lain, Brand merupakan identitas yang
dimiliki suatu destinasi wisata dan juga merupakan cerminan citra
destinasi wisata (brand image). Setiap destinasi wisata mempunyai citra
atau image tertentu yaitu mental maps seseorang terhadap satu destinasi
wisata yang mengandung keyakinan, kesan dan persepsi (I Gde Pitana
dan Putu G. Gayatri, 2005).
Pencitraan merupakan bagian dari Positioning, yaitu kegiatan untuk
membangun citra atau image dibenak pasar melalui desain terpadu antara
produk, komunikasi pemasaran, kebijakan harga, dan saluran pemasaran
yang tepat dan konsisten dengan citra atau image yang ingin dibangun
serta ekspresi yang tampak dari sebuah produk. Positioning bertujuan
membantu wisatawan untuk mengetahui perbedaan yang sebenarnya
antara suatu destinasi dengan destinasi lainnya.
Untuk membangun citra atau image maka perlu diketahui
bagaimana persepsi wisatawan. Persepsi adalah bagaimana wisatawan
melihat atau berpendapat mengenai suatu destinasi wisata. Persepsi
tersebut terbentuk sejalan dengan pengalaman wisatawan terhadap suatu
destinasi wisata selama berkunjung. Untuk menunjukkan perbedaan
dengan destinasi lainnya, perlu dilakukan branding. Branding adalah
proses komunikasi dari sebuah brand/produk.
Berikut adalah ilustrasi yang menunjukkan bagaimana konsep
pencitraan sebuah destinasi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya :





Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 7











Gambar 2.1. Tourist Destination Image, (Risk De Keyser, 1993)
Terkait dengan kegiatan ini maka, pengertian pengembangan citra
adalah pemahaman atas pencitraan destinasi-destinasi pariwisata yaitu
yang ada di daerah-daerah. Pada umumnya tidak ada pemisahan yang
spesifik antara pengembangan citra yang ditujukan untuk wisatawan
domestik dan mancanegara. Oleh karena itu, pemahaman pengembangan
citra dalam studi ini lebih ditekankan sejauh mana sebenarnya upaya
pencitraan destinasi dalam rangka menarik minat wisatawan, khususnya
adalah pada segmen wisata domestik.

2.2.3. Kemitraan dan Kelembagaan Pemasaran
Pelaku pemasaran pariwisata terdiri atas unsur pemerintah
pemerintah dan unsur swasata. Pemerintah membuat kebijakan untuk
pemasaran, mempasarkan dan mempromosikan destinasi, atau daerah
tujuan wisata, sedangkan industri pariwisata mempromosikan produk
mereka.
CITRA atau
IMAGE
Karakter
Psikologis
Biaya-biaya
Persepsi Motivasi
Karakter Sosial
Ekonomi
(pendapatan,
pekerjaan, umur, dll)
Pendidikan
Media (Internet, TV,
koran, buku,
majalah, dll)
Pemasaran
Pariwisata
Isu-isu
Faktor-faktor dari diri wisatawan
Faktor-faktor dari penyedia produk/ jasa pariwisata
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 8
Pengertian mengenai kemitraan dan kelembagaan pariwisata
dalam hal ini adalah evaluasi atas kondisi saat ini, sejauh mana kemitraan
yang sudah berjalan terkait dengan promosi untuk segmen wisnus.
Kemitraan tersebut dapat merupakan kemitraan yang berbentuk
Government to Goverment (G2G), Business to Business (B2B), Business
to Consumer (B2C), Goverment to Consumer (G2C), Goverment to
Business (G2B), dan sebagainya yang orientasinya adalah untuk
memasarkan produk-produk kepariwisataan untuk segmen wisatawan
nusantara. Di dalamnya dapat melibatkan unsur pemerintah, konsumen,
dan swasta (para pelaku bisnis pariwisata)
Di lain pihak pemahaman kelembagaan dalam studi ini adalah
melihat kembali bagaimana kelembagaan pemasaran pariwisata yang
sudah berjalan baik di level nasional, maupun yang terjadi di masing-
masing daerah. Belum semua daerah memiliki format kelembagaan yang
jelas, dan mayoritas masih sangat bergantung pada intervensi pemerintah.


2.3. Konsep Pendekatan
2.3.1. Sustainable dan Responsible Tourism Marketing
Adopsi kata Sustainable dalam konsep ini adalah dari kata
Sustainable Tourism Development atau Pembangunan pariwisata
berkelanjutan, seperti disebutkan dalam Piagam Pariwisata Berkelanjutan
(1995) dimana pembangunan dapat didukung secara ekologis sekaligus
layak secara ekonomi, juga adil secara etika dan sosial terhadap
masyarakat. Artinya, pembangunan berkelanjutan adalah upaya terpadu
dan terorganisasi untuk mengembangkan kualitas hidup dengan cara
mengatur penyediaan, pengembangan, pemanfaatan dan pemeliharaan
sumber daya secara berkelanjutan.
Pembangunan pariwisata yang berkelanjutan atau sustainable
tourism development seperti dalam penjelasan diatas tersebut dapat
dikenali melalui prinsip prinsip Sustainable Tourism Development :
a. Quality of Experience, melingkupi rasa keingintahuan, keunikan dan
daya khayal dari wisatawan (konsumen).
b. Quality of Resources, melingkupi keutuhan, kapasitas dan
pemeliharaan objek wisata itu sendiri.
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
c. Quality of Local People, melingkupi keterlibatan masyarakat lokal,
dampak sosial masyarakat dan kelangsungan kehidupan
perekonomian masyarakat disekitar kawasan.









Responsible Marketing dalam industri pariwisata sebenarnya
merupakan penjabaran dari konsep responsible tourism, khususnya terkait
dengan aspek-aspek produk dan promosi. Responsible tourism sendiri
merupakan hasil dari koreksi terhadap perkembangan mass tourism
(pariwisata masal) yang secara nyata telah banyak memberikan dampak
negatif pada masyarakat lokal dan lingkungan alam.
Responsible Marketing adalah proses perencanaan, pengelolaan
dan evaluasi kegiatan pemasaran serta bauran pemasaran, yang
memperhatikan dan mempertimbangkan aspek lingkungan,
pemberdayaan masyarakat, terpenuhinya hak-hak wisatawan, dan
menumbuhkan rasa tanggung jawab wisatawan selama berwisata.
Definisi diatas mengandung beberapa pengertian penting, yaitu:
a. Pemasaran dipandang sebagai sebuah proses
(perencanaan, pengelolaan dan evaluasi) yang berlanjut
(sustainable),
b. Upaya untuk memperhatikan dan mempertimbangkan
kepentingan pelestarian lingkungan (nature conservation)
dalam setiap aktivitas pemasaran,
Gambar 2.2. Prinsip-prinsip dalam Sustainable Tourism Development
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 10
c. Memperhatikan dan mempertimbangkan tanggung jawab
kepada masyarakat lokal (local community) sebagai tuan
rumah (host) dalam setiap aktivitas pemasaran,
d. Memperhatikan dan mempertimbangkan tuntutan, kebutuhan
dan hak-hak wisatawan (tourists' rights),
e. Mendorong wisatawan untuk turut bertanggung jawab dalam
menjaga kelestarian lingkungan, mendukung pemberdayaan
masyarakat lokal dan taat pada hukum dan aturan setempat.
Dari definisi di atas dapat dilihat adanya penekanan penting dari
pemasaran bertanggungjawab dibandingkan dengan kegiatan pemasaran
pada umumnya, yaitu selain ditujukan untuk mencapai tujuan organisasi
(unit bisnis) secara umum (penciptaan keuntungan komersial) juga
diwajibkan untuk memperhatikan aspek kelestarian lingkungan,
pemberdayaan masyarakat serta memastikan terpenuhi hak-hak
wisatawan.
Pada masa lalu pembangunan pariwisata di hampir seluruh penjuru
dunia (khususnya negara dunia ketiga/sedang berkembang) selalu
diarahkan pada upaya mendapatkan sebanyak mungkin wisatawan untuk
dapat meraup sebesar-besarnya devisa/pendapatan dari para wisatawan
tersebut. Pada akhirnya beberapa permasalahan di tingkat masyarakat
dan lingkungan mulai timbul dari adanya eksplorasi besar-besaran atas
alam, budaya dan keunikan-keunikan lokal lainnya.
Kondisi-kondisi diatas pada akhirnya disadari sebagai dampak
buruk yang perlu untuk segera dicegah perkembangannya, baik melalui
pembuatan rambu-rambu dalam pengembangan pariwisata yang berbasis
pada lingkungan, maupun pelibatan masyarakat dalam turut menjaga aset
budaya, alam dan lingkungannya sebagai aset penting bagi
berlangsungnya kegiatan pariwisata.
Penerapan Responsible Marketing di masa mendatang akan
menjadi salah satu faktor penentu dalam pengembangan citra pariwisata
dari suatu negara/daerah tujuan wisata. Dari penerapan prinsip-prinsip
yang terkandung dalam Responsible Marketing, akan terlihat
negara/daerah tujuan wisata mana yang sangat memperhatikan aspek
lingkungan alam, sosial dan budaya, memberikan dukungan pada
pemberdayaan masyarakat dan memperhatikan kebutuhan wisatawan,
yang pada gilirannya akan mendorong terbentuknya citra positif dari
negara/daerah tujuan wisata yang bersangkutan.
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 11
Beberapa pertanyaan mendasar yang coba diakomodasikan dalam
Responsible Marketing adalah:
1. Bagaimana proses pemasaran dan perencanaan serta pengelolaan
atas bauran pemasaran (marketing mix) pariwisata mampu
mengakomodir tuntutan atas kelestarian lingkungan (alam, sosial dan
budaya)?
2. Bagaimana proses pemasaran dan perencanaan serta pengelolaan
atas bauran pemasaran (marketing mix) mampu menempatkan
masyarakat lokal sebagai pelaku dan penerima manfaat dari kegiatan
pariwisata melalui upaya pemberdayaan masyarakat dalam aktivitas
pemasaran?
3. Bagaimana proses pemasaran dan perencanaan serta pengelolaan
atas bauran pemasaran (marketing mix) mampu memenuhi tuntutan
pasar untuk terpenuhi dan terlindunginya hak-hak mereka?










Gambar 2.3. Diagram Tuntutan dan Peranan Responsible
Tourism dalam Membentuk Citra
Diagram di atas memberikan gambaran bagaimana Responsible
Marketing sebagai sebuah konsep dan prinsip-prinsip untuk
mengakomodasikan tuntutan pembangunan berkelanjutan (SD),
pemberdayaan masyarakat (CD), dan perlindungan hak wisatawan (CR).
CR : Consumer Rights
CD : Community Development
SD : Sustainable Development
SD
sosial, budaya,
ekonomi, alam
CR
Informasi,
Pelayanan
CD
Pelibatan
pelatihan
Image &
Reputasi
Pariwisata
Indonesia
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 12
Secara konseptual pengembangan dan pelibatan masyarakat
didasarkan pada model pembangunan pariwisata berkelanjutan
(sustainable tourism development), yang mendasarkan pada hubungan
dari tiga komponen yang membentuk iklim pariwisata, yaitu wisatawan
(tourist), daerah tujuan wisata (destination environment), dan masyarakat
lokal sebagai tuan rumahnya (the host community).
Sementara pembangunan pariwisata berwawasan lingkungan
berpijak pada prinsip-prinsip pengembangan potensi lokal (unsur dan
material lokal), jauh dari upaya pengrusakan lingkungan dan partisipasi
aktif masyarakat lokal dalam setiap proses perencanaan
pengembangannya.
Selanjutnya dalam perwujudannya, konsep pembangunan
pariwisata berkelanjutan yang berwawasan lingkungan akan meliputi
empat aspek pengembangan yaitu ekologis, estetika, ekonomi dan sosial.
Terpenuhinya tuntutan atas ketiga aspek diatas (SD, CD dan CR) melalui
penerapan responsible marketing secara konsisten, diharapkan dapat
membentuk citra dan reputasi positif kepariwisataan Indonesia di mata
internasional.

Prinsip Prinsip Dasar Responsible Marketing
Responsible Marketing memiliki tahapan dan proses yang detilnya adalah
sebagai berikut :
a) Setiap tahapan dalam proses pemasaran dan perencanaan bauran
pemasaran harus mampu menciptakan dimensi yang bertanggung
jawab terhadap kelestarian lingkungan. Dalam hal ini lingkungan
yang dimaksud meliputi, lingkungan biotik (lingkungan alam) dan
lingkungan abiotik (sosial budaya, masyarakat, adat istiadat, dan
sejenisnya).
b) Setiap tahapan dalam proses pemasaran dan perencanaan bauran
pemasaran harus mampu menciptakan dimensi yang bertanggung
jawab terhadap pemberdayaan masyarakat. Dalam hal ini
pemberdayaan masyarakat yang dimaksud meliputi, pelibatan
masyarakat lokal dalam setiap kegiatan perencanaan dan
operasional kegiatan pariwisata, peningkatan kesejahteraan
masyarakat melalui penciptaan peluang usaha dan pendapatan,
dan penguatan kapasitas organisasi di tingkat masyarakat lokal.
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 13
c) Setiap tahapan dalam proses pemasaran dan perencanaan bauran
pemasaran harus mampu menciptakan dimensi bertanggung jawab
untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan dasar wisatawan serta
menjamin hak-hak mereka selama berwisata. Dalam hal ini hak-hak
wisatawan meliputi di dalamnya hak untuk mendapatkan perlakuan
yang sama (non diskriminasi), perlindungan hukum, keamanan,
kesehatan, dan kemudahan aksesibilitas bagi para wisatawan
dengan keterbatasan fisik

Tolok Ukur Responsible Marketing
a. Menumbuhkan peran serta masyarakat dalam kegiatan
pariwisata di wilayahnya.
Pemberdayaan masyarakat dalam arti luas dapat diartikan sebagai
upaya untuk melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan,
implementasi dan evaluasi kegiatan pariwisata di wilayahnya. Untuk
itu diperlukan adanya sistem yang dapat mengakomodasikan
berbagai kepentingan antara pelaku pariwisata dengan masyarakat
lokal. Dalam hal ini mekanisme komunikasi dan penciptaan
kolaborasi kegiatan antara pelaku pariwisata (swasta dan
pemerintah) dengan masyarakat menjadi sangat berpengaruh.
Selain aspek pelibatan, pemberdayaan masyarakat juga perlu
mencakup aspek ekonomis, dimana keuntungan yang diperoleh dari
aktivitas pariwisata di sebuah komunitas harus dikembalikan secara
proporsional kepada masyarakat yang bersangkutan. Dalam hal ini
keberadaan sistem yang dapat mengakomodasi pengembalian
keuntungan kepada masyarakat sangat diperlukan.
Selanjutnya, untuk menjamin terlaksananya pemberdayaan
masyarakat dalam proses dan bauran pemasaran, maka diperlukan
adanya mekanise pengawasan dan evaluasi.

b. Mendukung upaya-upaya konservasi/kelestarian lingkungan
alam, sosial dan budaya.
Salah satu tujuan utama dari penerapan Pemasaran Bertanggung
jawab atau responsible marketing adalah, terciptanya keseimbangan
antara penggunaan/pemanfaatan dengan pelestarian. Hal ini dapat
diartikan sebagai upaya untuk melakukan investasi ulang dari hasil
pendapatan yang diperoleh melalui kegiatan pariwisata, terhadap
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 14
aset-aset lingkungan alam, sosial dan budaya yang telah digunakan
untuk kegiatan pariwisata.
Secara ekonomis, keuntungan yang diperoleh dari aktivitas
pariwisata di suatu obyek wisata alam, harus disisihkan untuk
merevitalisasi lingkungan alam di sekitarnya yang telah menjadi
obyek kunjungan. Demikian halnya dengan keuntungan yang
diterima dari suatu kunjungan ke obyek wisata budaya (misal, desa
wisata, museum, candi, dan sebagainya), harus didistribusikan dalam
prosentase tertentu untuk pelestarian dari obyek budaya yang
bersangkutan
Selain redistribusi keuntungan, yang perlu dilakukan dalam menjaga
menjaga kelestarian lingkungan alam, sosial dan budaya adalah,
mendorong tumbuhnya perilaku positif wisatawan terhadap alam,
menjaga perilaku terhadap masyarakat lokal dan menghargai adat
istiadat setempat.
c. Mengembangkan persepsi positif wisatawan sebagai tanggapan
atas terpenuhinya tuntutan, kebutuhan dan hak-hak mereka
dalam berwisata.
Salah satu indikator penting dari konsep Pemasaran Bertanggung
jawab adalah, terciptanya kepuasan wisatawan atas pengalaman
berwisata yang dikonsumsinya. Kepuasan disini dapat tercipta
manakala produk dan layanan yang diterima oleh wisatawan sesuai
dengan harapan dan kebutuhannya.
Persepsi positif wisatawan dapat diciptakan melalui upaya untuk
menjamin terlindunginya hak-hak asasi wisatawan, khususnya terkait
dengan aspek kebutuhan dasar wisatawan (keamanan dan
kesehatan), perlindungan hukum dan kesamaan hak (non
diskriminasi).
Dengan semakin tingginya motivasi untuk melakukan kegiatan
berwisata, maka tumbuh pula pasar wisatawan yang memiliki
keterbatasan fisik, sehingga untuk menciptakan kemudahan dalam
berwisata sekaligus mengembangkan citra pariwisata yang aksesibel
untuk semua, maka perlu adanya jaminan bagi kemudahan
wisatawan dengan keterbatasan fisik tersebut, baik dalam aspek
produk, informasi maupun distribusinya.


Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 15

d. Menciptakan sistem yang mampu menjamin diaplikasikannya
konsep Pemasaran Bertanggung jawab pada proses dan bauran
pemasaran oleh seluruh stakeholder periwisata.
Untuk menjamin berjalannya konsep dan penerapan prinsip-prinsip
Pemasaran Bertanggung jawab oleh stakeholder pariwisata, baik di
tingkat pusat maupun daerah, maka diperlukan adanya manajemen
informasi Pemasaran Bertanggung jawab yang mampu
mengakomodasikan berbagai kepentingan dan peran serta
kewenangan masing-masing stakeholder tersebut diatas.
Sebagai upaya untuk mendorong para stakeholder pariwisata
menerapkan konsep dan prinsip-prinsip Pemasaran Bertanggung
jawab diperlukan adanya sistem yang dapat mengakomodasikan
pemberian penghargaan dan sanksi (reward and punishment) bagi
para pelaku yang terlibat dalam kegiatan pemasaran pariwisata.
Sistem ini sekaligus dapat menjadi alat kontrol bagi penilaian atas
keberhasilan atau penyimpangan yang dilakukan oleh pelaku
pariwisata dalam pelaksanaan kegiatan pemasarannya.


2.3.2. Double Track Strategy
Penggunaan istilah Double Track Strategy dalam hal ini sebenarnya
mengacu pada penggunaan 2 (dua) konsep pendekatan pemasaran
sekaligus. Strategi ini adalah strategi pemasaran yang menggabungkan
kekuatan-keuatan strategis pemasaran konvensional dan strategi baru
(termasuk new wave marketing). Mengingat keragaman latar belakang
masyarakat Indonesia dan variasi media dan cara memasarkannya, maka
secara optimal perlu memanfaatkan berbagai strategi yang ada secara
efektif dan efisien untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Penggabungan strategi tersebut adalah vertical marketing dan horizontal
marketing, on-line dan off line, serta mass market dan niche market.
A. Vertical Marketing dan Horizontal Marketing
Vertical marketing is a term used to define a company's
(institutional organization) approach towards targeting that focuses on
specific industries. Atau dapat diartikan sebagai bentuk peristilahan dalam
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 16
pemasaran yang ditargetkan untuk sekelompok target segmen yang
spesifik (khusus).
Pendekatan vertical marketing dapat dibedakan ke dalam 2 (dua) bagian,
yaitu :
1) Above The Line (ATL) yaitu pemasaran dan promosi yang dilakukan
dengan menggunakan media, baik cetak maupun elektronik seperti
pemasangan iklan, pemuatan artikel di majalah atau surat kabar,
iklan di televisi, dsb.
Contoh-contoh media yang digunakan dalam Above The Line
(ATL) :
a) Alat-alat promosi dengan menggunakan media cetak antara
lain : koran, majalah, tabloid, buletin, leaflet, brosur, poster,
buku panduan wisata, peta, katalog, baliho, booklet.
b) Alat-alat promosi dengan menggunakan media elektronik antara
lain : TV, radio, internet, CD, film, VCD, DVD, e-mail,
promotional video.








2) Below The Line (BTL) yaitu pemasaran dan promosi dalam bentuk
penyelenggaraan event yang ditujukan langsung terhadap segmen
pasar yang disasar. Harapannya adalah untuk lebih mendekatkan diri
kepada pasar, misalnya : sponsorship, pameran, penyelenggaraan
event/festival, lomba, show performance, public relations, pameran
dagang, pasar wisata, dsb.
Berbagai macam event pariwisata dalam rangka memasarkan
produk pariwisata dalam negeri telah banyak dilakukan di Indonesia.
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 17
Event promosi pariwisata di dalam negeri merupakan aktifitas atau
kegiatan penyelenggaraan suatu kegiatan promosi pariwisata di salah
satu daerah di Indonesia, dalam suatu kerangka waktu tertentu.
Tujuannya adalah untuk mempromosikan potensi pariwisata daerah,
meningkatkan kerjasama promosi pariwisata antar daerah, forum diskusi
antar daerah, dan upaya bagi peningkatan kualitas dan daya saing
produk-produk wisata di daerah.
Skala event promosi dalam negeri tersebut dapat mencakup baik
skala lokal maupun nasional. Beberapa kegiatan yang secara reguler
telah dilaksanakan di Indonesia seperti Kemilau Sumatera atau Sumatera
Expo (SUMEX), Majapahit Travel Fair (MTF), dan Borneo Extravaganza
merupakan bentuk event promosi pariwisata yang ditujukan untuk suatu
region atau wilayah tertentu misalnya se-Sumatera atau se-Kalimantan.
Contoh Kegiatan Promosi Dalam Negeri Oleh Depbudpar (2008)
Promosi Pariwisata Dalam Negeri
A Promosi Pariwisata Dalam Negeri WILAYAH I
1 - Siaran TV Gebyar Wisata Nusantara
2 - Kemilau Sumatera
3 - Promosi Pariwisata di Mall (3 Kota)
B Promosi Pariwisata Dalam Negeri WILAYAH II
1 - Dukungan Kemilau Nusantara
2 - Ragam Pernikahan Nusantara
3 - Wisata Remaja
4 - Festival Busana Nusantara
5 - Festival Perkusi di Banten
C Promosi Pariwisata Dalam Negeri WILAYAH III
1 - Wisata Kampus
2 - Monitoring Event Wilayah I - 5
3 - Kemilau Sulawesi 2008
4 - Festival Pasar Terapung
5 - Borneo Extravaganza
D Promosi Pariwisata Dalam Negeri WILAYAH IV
1 - Kemilau Bali - Nusa Tenggara
2 - Partisipasi Pada Pameran di Daerah
3 - Dukungan Event Daerah
4 - Koordinasi Promosi Pariwisata Dalam Negeri Wilayah I - V
E Promosi Pariwisata Dalam Negeri WILAYAH V
1 - Peliputan Media Massa Wilayah I
2 - Dukungan Festival Budaya Papua
3 - Dukungan Festival Keraton Maluku Utara 2008
4 - Dukungan Festival Maluku 2008
F Promosi Pariwisata Dalam Negeri Lainnya
1 - Press Gathering
2 - Tourism Industry Gathering
3 - Promosi Pada Event Sektoral
4 - Dukungan Event Promosi Dalam Negeri di 10 Destinasi Unggulan
Sumber : Depbudpar, 2008

Horizontal
target audience that shares other characteristics, yet can be found in all
industries. Common ways to horizontally market are by company size, by
geography or by job title
Horizontal Marketing
Pendekatan vertical above the line
horizontal offline dan
komunitas untuk membuat kesaksian
pariwsata Indonesia. On line
informasi, komunitas internet misal
cerita atau kesaksian tentang Indonesia.
Gambar
Sumber : Strategi

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
Peliputan Media Massa Wilayah I - V
Dukungan Festival Budaya Papua
Dukungan Festival Keraton Maluku Utara 2008
Festival Maluku 2008
Promosi Pariwisata Dalam Negeri Lainnya
Press Gathering
Tourism Industry Gathering
Promosi Pada Event Sektoral
Dukungan Event Promosi Dalam Negeri di 10 Destinasi Unggulan
Horizontal marketing is when you single out a
target audience that shares other characteristics, yet can be found in all
industries. Common ways to horizontally market are by company size, by
geography or by job title.
Horizontal Marketing merupakan pendekatan pemasaran baru.
vertical above the line dan below the line menuju pendekatan
dan online. Off line melalui intimacy, mendekati
komunitas untuk membuat kesaksian tentang destinasi dan produk
On line melalui excitement, menggunakan teknologi
informasi, komunitas internet misal blog, facebook, millist, memberikan
cerita atau kesaksian tentang Indonesia.


Gambar 2.4. Perubahan dari Vertical ke Horizontal Marketing
Sumber : Strategi Pemasaran Budpar 2010
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

is when you single out a
target audience that shares other characteristics, yet can be found in all
industries. Common ways to horizontally market are by company size, by
merupakan pendekatan pemasaran baru.
menuju pendekatan
mendekati
tentang destinasi dan produk
menggunakan teknologi
memberikan





. Perubahan dari Vertical ke Horizontal Marketing
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 19
Dalam suatu komunitas online internet biasanya mempunyai
anggota dengan ketertarikan dan kepentingan yang sama seperti gaya
hidup, hobi, spiritual. Apabila ada seseorang anggota mailist atau
facebook menyampaikan testimoni tentang pengalaman berwisata ke
Indonesia maka informasi ini akan mempunyai dampak berganda karena
para anggota komunitas akan meneruskan testimoni tersebut kepada
temannya atau kepada komunitas lainnya lagi, sehingga dapat terjadi
interaksi antar anggota bahkan antar komunitas.
Hukum Reed yang dikemukakan oleh David Reed, seorang
profesor asal MIT Amerika Serikat, menyatakan bahwa dengan
memanfaatkan jaringan antar komunitas terutama sicial networking secara
exponensial meningkatkan nilai jaringan tersebut, kalau audience dalam
komunitas berjumlah N, maka nilainya adalah 2
N
. Kalau anggota aktif
suatu komunitas pemain golf dalam mailist atau facebook berjumlah N =
30 orang, kemudian menerima testimoni berwisata ke Indonesia dari salah
satu anggotanya, maka nilai jaringannya meningkat menjadi 2
30
atau
sebesar 1.073.741.824. Hukum Reed ini diharapkan berlaku pula untuk
suatu komunitas dalam masyarakat (offline).
Dalam horizontal marketing berbagai komunitas didorong untuk
memberikan cerita (word of mouth) tentang Indonesia menyangkut produk
pariwisata, keamanan, keunikan, harga, iklim, alam, budaya, dan lainnya
kepada komunitasnya secara langsung (off line) dengan emosi keakraban,
kekeluargaan, persahabatan, satu pekerjaan, satu profesi, satu hobi.
Selain itu, offline dapat berupa kegiatan mendorong pelaksanaan
promosi oleh pihak lain sebagai co-sponsor, mendukung acara kesenian,
peluncuran produk, peluncuran pelayanan penerbangan, event olah raga,
kampanye kesehatan, lingkungan, dan kebersihan. Cara lain
menceritakan tentang Indonesia adalah melalui media elektronik (online)
yang menimbulkan rasa suka cita melalui internet, blog pribadi, facebook,
mailist,intranet, televisi, surat kabar, majalah, buku, novel.
Berikut ini adalah contoh-contoh komunitas di masyarakat :
1) Komunitas keluarga
2) Komunitas asal
3) Komunitas pecinta alam
4) Komunitas rekan seprofesi
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 20
5) Komunitas alumni sekolah dan universitas
6) Komunitas hobi, dll.

B. Off Line dan On Line Marketing
Offline marketing merupakan kegiatan komunikasi
pemasaran dengan menggunakan media cetak maupun elektronik seperti
pemasangan iklan, iklan di majalah atau surat kabar, iklan di televisi, dsb.
Seperti halnya yang dilakukan pada strategi above the line dalam strategi
Vertical Marketing.
Iklan merupakan setiap bentuk komunikasi non-personal dan dibayar
melalui media massa, seperti surat kabar, majalah, radio, televisi, travel
guides, billboard, dsb. Iklan dipakai untuk mencapai beragam tujuan,
termasuk mengubah perilaku konsumen, membangun image, dan
mencapai penjualan yang diinginkan.
Contohcontoh media cetak yang dapat digunakan dalam melakukan
offline marketing adalah koran, majalah, tabloid, buletin, leaflet, brosur,
poster, buku panduan wisata, peta, katalog, baliho, booklet. Sedangkan
contoh media elektronik yang dapat digunakan dalam melakukan offline
marketing adalah televisi, radio, CD, film, VCD, DVD.

Online marketing merupakan kegiatan komunikasi
pemasaran dengan menggunakan media internet. Pada awalnya
menggunakan halaman-halaman statis berformat HTML yang bisa diakses
oleh pengguna internet. Itulah awal dari website yang kemudian menjadi
semacam brosur online. Pada perkembangannya online marketing tidak
hanya menggunakan media website, namun juga e-mail dan aplikasi-
aplikasi lain yang berjalan di atas protokol internet.

Pada awalnya periklanan di media internat adalah memindahkan materi
iklan yang sudah berjalan di media konvensional (televisi, majalah, surat
kabar) ke dalam website. Namun, pada perkembangannya, pemanfaatan
karakteristik media internet mampu memaksimalkan hasil yang didapat
melalui aktivitas periklanan di internet. Hal tersebut menjadikan media
internet kini dipakai sebagai bagian dari bauran pemasaran (marketing
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 21
mix) dengan pendekatan yang berbeda sesuai dengan karakteristik media
dan pasar yang ingin dicapai.

Berikut ini adalah beberapa alasan perlunya penggunaan online marketing
sebagai media promosi pariwisata :
1) Internet dan protokolnya (TCP/IP) telah menciptakan
landasan bentuk (platform) baru yang secara universal
diaplikasikan untuk aktivitas komunikasi dan penyampaian
presentasi secara mudah ke seluruh penjuru dunia, yang
disebabkan oleh sifat dari teknologi ini yang benar-benar
terbuka, memiliki jaringan global dan dalam masa mendatang
akan mampu diakses melalui berbagai bentuk peralatan
TV, alat-alat komunikasi bergerak, telepon seluler, dan
sebagainya.
2) Hal lain yang menyebabkan teknologi internet semakin
mendunia adalah, semakin rendahnya biaya untuk
melakukan akses melalui teknologi ini (download maupun
upload) serta semakin tingginya kecepatan akses yang
mampu diberikan. Kondisi inilaih yang menjadikannya
sebagai kombinasi kekuatan untuk menjadi teknologi yang
semakin akrab diminati dan diaplikasikan oleh banyak pihak
di seluruh penjuru dunia.
3) Pariwisata dan internet disadari merupakan paduan yang
ideal di masa kini dan masa mendatang. Bagi sebagian besar
konsumen, kesulitan untuk mendapatkan informasi secara
rinci, aktual, dan cepat, serta rumitnya proses pembelian
suatu produk wisata (booking, reservation, dll.) dapat
dihilangkan melalui akses ke situs-situs internet dari para
penyedia produk dan layanan pariwisata.
4) Bagi daerah tujuan wisata atau institusi pariwisata suatu
negara atau daerah, internet memberikan kemudahan bagi
updating informasi secara cepat dan real time, penciptaan
komunikasi dua arah secara cepat dengan konsumen dan
efisiensi biaya bagi promosi secara on-line.
5) Namun demikian, sekali lagi perlu disadari bahwa pariwisata
memiliki perbedaan utama dengan sektor-sektor lainnya yang
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 22
juga memanfaatkan promosi dan penjualan melalui internet
(e-commerce), dimana konsumennya baru dapat menikmati
produk yang ditawarkan di lokasi produk berada, dalam hal ini
adalah di destinasi atau daerah tujuan wisata. Hal inilah yang
kadang menimbulkan banyak ketidakpuasan dari wisatawan
selaku konsumen manakala produk yang dipromosikan pada
kenyataannya tidak sesuai dengan kondisi aslinya ketika
mereka berkunjung.
6) Terlepas dari kondisi diatas - dengan berbagai pembenahan
pada produk dan layanan di destinasi atau daerah tujuan
wisata oleh para pengelolanya internet telah berkembang
secara revolusioner menjadi media untuk mendistribusikan
informasi dan aktivitas penjualan pariwisata. Bukan saja
sebagai media yang mampu menghubungkan antara calon
wisatawan dengan obyek/layanan wisata di suatu
negara/daerah tujuan wisata, namun telah berkembang pula
untuk kegiatan bisnis dan komunikasi antar pemasok industri
pariwisata di seluruh dunia.












Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara























C. Mass Market dan Niche Market
Dalam pendekatan terhadap target pasar, di dalam pemasaran dikenal
adanya konsep mass market dan niche market. Mass market adalah
kegiatan berkunjung ke suatu destinasi oleh sejumlah orang dalam jumlah
besar pada saat yang sama atau populer dikenal sebagai mass tourism.
Mass tourism juga dapat berarti studi mengenai dampak kunjungan
sejumlah besar orang terhadap suatu destinasi. Biasanya ini terjadi
Gambar 2.5. Contoh aplikasi e-magazine
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 24
karena destinasi tersebut over-exposed oleh seorang wisatawan yang
berulang kali mengunjugi destinasi dimaksud.
Sementara itu, Niche Market adalah bagian dari sektor pasar yang
terfokus dan dapat ditargetkan.
A niche market is the subset of the market on which a specific product is
focusing; therefore the market niche defines the specific product features
aimed at satisfying specific market needs, as well as the price range,
production quality and the demographics that is intended to impact
(www.wikipedia.com)
Niche market biasanya memiliki target pasar yang jelas dan
karakteristiknya lebih homogen. Di dalam pariwisata bentuk-bentuk niche
market dikenal dengan special interest tourism atau wisata minat khusus.
Dalam konteks studi ini keduanya merupakan pertimbangan utama dalam
menentukan target pasar yang akan disasar. Sejauh ini segmen pasar
wisnus di Indonesia sebenarnya masih didominasi oleh segmen mass
market atau mass tourism. Sementara itu, niche market masih belum
populer. Dominasi niche market masih dikuasai oleh segmen wisatawan
mancanegara.
Pendekatan melalui pengembangan segmen-segmen khusus diharapkan
akan dapat meningkatkan kelompok special interest untuk wisatawan
domestik. Pemahaman niche market (Depbudpar, 2005) dalam konteks ini
adalah :
a) Individu dalam kelompok yang memiliki kesamaan minat dan
kebutuhan khusus (mencari benefit/manfaat atas suatu produk)
b) Memiliki hasrat yang kuat terhadap suatu produk
c) Individu dalam kelompok tetap dapat dicapai/diakses dengan
mudah
d) Kelompok tersebut cukup besar untuk menghasilkan volume bisnis,
tapi
e) Cukup kecil sehingga kebanyakan penyedia produk pariwisata
mengabaikannya.


Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 25
2.4. Review Studi Terkait
2.4.1. Perihal Segmentasi Pasar
Studi yang pernah dilakukan dalam jangka waktu terdekat sebelumnya
(<2010), adalah studi yang dilakukan oleh Analisis Penyusunan Pasar
Wisatawan Dalam Negeri, oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata
tahun 2005. Di dalam studi ini secara umum menggarisbawahi pemetaan
segmen (segmentasi) pasar wisatawan nusantara yang ada di Indonesia.
Adapun kategori segmen yang dibahas dalam studi tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut :
A. Segmentasi Geografis
Pemahaman segmentasi geografis dalam hal ini adalah segmen
yang didasarkan pada profil asal wisatawan, yaitu wisatawan yang
berasal dari 33 Propinsi yang ada di Indonesia misalnya wisatawan
asal Aceh, wisatawan asal Jawa Timur, dan seterusnya.
Segmentasi ini kemudian dijabarkan dalam format profil yang di
dalamnya mencakup aspek-aspek karakteristik pendidikan, usia,
pekerjaa, jenis kelamin, maksud dan tujuan perjalanan, frekuensi
perjalanan, dan lama perjalanan (hari).
B. Segmentasi Demografis
Berdasarkan karakteristik demografisnya, penelitian mengkaji pada
kelompok siklus hidup dengan perincian sebagai berikut :
Segmentasi Demografis
No Kelompok Segmen Hidup Jumlah Presentase
1 Lajang 113 32.10
Lajang Tanpa Penghasilan 55 16.63
Lajang berpenghasilan 58 16.48
2 Pasangan Tanpa Anak 21 5.96
Pasangan Tanpa Anak satu pendapatan 5 1.42
Pasangan Tanpa Anak satu pendapatan
dan tanggungan
5 1.42
Pasangan Tanpa Anak dua pendapatan 11 3.13
3 Keluarga 218 61.93
Keluarga dengan Balita 36 10.23
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 26
No Kelompok Segmen Hidup Jumlah Presentase
Keluarga dengan Balita (Terpisah) dan
tambahan satu tanggungan
9 2.56
Keluarga dengan anak usia 5 14 Tahun 72 20.45
Keluarga dengan anak usia 5 14 Tahun
dan tambahan tanggungan
17 4.83
Keluarga dengan anak 15 24 Tahun 42 11.93
Keluarga dengan anak 15 24 Tahun
(terpisah) tangungan
5 1.42
Keluarga dengan anak 15 24 Tahun dan
tambahan tanggungan
5 1.42
Keluarga dengan anak usia dewasa (>24
Tahun)
5 1.42
Keluarga anak usia dewasa (terpisah)
tanggungan
4 1.14
4 Orang tua tunggal 5 1.42
Rumah kosong / Empty Nest (pasangan,
>45 Tahun berpenghasilan, anak dewasa
di luar rumah dan bukan tanggungan)
16 4.55
Survivor (>54 tahun ditinggal mati
pasangan)
2 0.50
Total 352 100
Sumber : Depbudpar, 2005
Berdasarkan segmentasi tersebut, diindikasikan bahwa segmen
lajang merupakan segmen yang paling banyak melakukan
perjalanan terutama di wilayah Jawa- Bali. Temuan lainnya
mengindikasikan adanya hubungan antara kelompok keluarga yang
berpergian untuk berwisata dengan beban ekonomi yang mereka
tanggung. Semakin ringan beban ekonomi semakin tinggi peluang
untuk melakukan kegiatan wisata.

C. Segmentasi Psikografis
Segmentasi psikografis yang dikaji dalam studi ini adalah
segmentasi psikografi hasil studi dari PT LOWE Indonesia dan
Prompt terhadap konsumen Indonesia dengan pengelompokkan
sebagai berikut :
1. Pria mapan percaya diri (bapak baik-baik) 15,2%
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 27
2. Pria muda yang menanti perubahan (si Anak Nongkrong)
10,5%
3. Pria Penakluk yang jago/orang kota (yang main untuk Menang)
16%
4. Pria pecinta kegembiraan yang spontan (si Bintang Panggung)
13,6%
5. Perempuan optimis pecinta keluarga (ibu PKK) 13.5%
6. Perempuan penyayang yang gembira (si Lembut hati) 12.1%
7. Perempuan wallflower yang tertutup (si Pasrah) 8,1%
8. Perempuan pengembang jaringan/Pencari kesenangan (si Gaul-
Glam) 11%
Masing-masing kelompok tersebut memiliki karakteristik dan cirri-
ciri tersendiri, dimana dari hasil survey diperoleh bahwa Pria Mapan
Percaya diri paling banyak dijumpai atau dominan, dan diperkirakan
menjadi kelompok kedua terbesar dari konsumen di Indonesia.
Selain pengelompokkan psikografis seperti di atas, juga diperoleh
pengembangan pada psikografis segmen remaja yang berusia 15
24 tahun dengan macam-macam pengelompokkan sebagai berikut
:
a. Remaja putra conformist (si Konvensional/tradisional) (26,67%)
b. Remaja putra Funkster (si Modern, bergaya) (23.33%)
c. Remaja putri aspirasional (yang berhasrat/berambisi kuat)
(21.67%)
d. Remaja putri konservatif (yang kurang suka perubahan drastic)
(20%)
e. Remaja putrid nester (anak rumahan) 8.33%


Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 28
D. Segmentasi Occasional Keadaan
Segmentasi ini dibagi berdasarkan lama perjalanan yang ditempuh,
yaitu :
a. Lama perjalanan 1 3 hari (67%)
b. Lama perjalanan 4 7 hari (26%)
c. Lama perjalanan 8 14 hari (3%)
d. Lama perjalanan 15 21 hari (1%)
e. Lama perjalanan 21 30 hari (2%)
f. Lama perjalanan >30 hari (1%)

E. Segmentasi Manfaat
Segmentasi ini didasarkan pada hierarki kebutuhan hidup manusia
seperti halnya yang dikemukakan oleh Maslow dimana kebutuhan
relaksasi dan bersantai (32,5%), berinteraksi dengan keluarga
(12,9%), menambah wawasan/pengetahuan (11.8%), memberikan
kesegaran rohani/spiritual (10,9%), dan jasmani (8,3%). Dari hasil
segmentasi tersebut secara umum dapat digambarkan sebagai
berikut :
No Manfaat Presentase
1 Memenuhi kebutuhan makan dan minum 5,11
2 Memberikan kesempatan relaksasi 32,10
3 Memberikan kesegaran jasmani/kesehatan 8,24
4 Memberikan kesegaran rohani 10,80
5 Memberi kesempatan berinteraksi dengan
keluarga
12,78
6 Kesempatan berinteraksi dengan orang
seminat
0,57
7 Kesempatan berinteraksi dengan orang
beragam
0,85
8 Memberikan status/prestise 0,28
9 Merangsang/membangkitkan minat 2,56
10 Menjadi tempat untuk menyalurkan hobby 3,41
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 29
No Manfaat Presentase
11 Menawarkan tantangan 4,55
12 Menambah wawasan 11,65
13 Memberi kesempatan mengapresiasi
keindahan
5,68
14 Lainnya 0,28
15 Tidak menjawab 1,14
JUMLAH 100

F. Segmentasi Wisatawan Minat Khusus (Niche Market)
Segmentasi minat khusus yang dalam hal ini dispesifikasikan
berdasarkan minat sebagai berikut :
1. Kelompok minat khusus ziarah
2. Kelompok minat khusus cultural oriented heritage walk/tour
3. Kelompok minat khusus fotografi
4. Kelompok minat khusus bersepeda
5. Kelompok minat khusus memancing di laut lepas
6. Kelompok minat khusus spelunking
7. Kelompok minat khusus bermotor
8. Kelompok minat khusus bermobil
9. Kelompok minat khusus diving
10. Kelompok minat khusus birdwatching
11. Kelompok minat khusus golfing

2.4.2. Kedudukan Studi Saat Ini dan Studi Sebelumnya
Fokus studi saat ini maupun studi sebelumnya adalah pada upaya
pementaan (segmentasi) pasar. Berikut beberapa pokok hasil review studi
sebelumnya bila dibandingkan dengan studi saat ini :
1) Jenis Segmentasi
Studi sebelumnya : jenis segmentasi sangat banyak dengan
berbagai macam kategori,
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

II - 30
Studi saat ini : terfokus pada pengelompokkan berbasis motivasi.
2) Penetapan Target Segmen
Studi Sebelumnya : target segmen yang dibidik adalah kelompok
Segmen Lajang Tanpa Penghasilan (Pelajar dan Mahasiswa),
Segmen Keluarga, Segmen Senior Citizen dan Survivors, dan
Kelompok wisatawan minat khusus
Studi Saat ini : target segmen sesuai dengan kerangkanya adalah
segmen wisnus secara umum (sebagaimana definisi dari BPS),
target niche market yang terdiri dari Segmen VFR, Weekender,
Ziarah, Hobbies, MICE, dan Ekspatriat.
3) Keterkaitan dengan Wisnus sebagai Bagian Integral Pariwisata
Studi sebelumnya : berdasarkan segmentasi yang dijelaskan,
wisnus sangat terfragmentasi sehingga belum secara spesifik
mengenai pada target-target minat terhadap daya tarik wisata
Studi saat ini : berusaha menjelaskan segmentasi wisnus
didasarkan pada preferensinya terhadap produk di destinasi
khususnya di level propinsi.
4) Implikasi Kebijakan dan Strategi Pemasaran Pariwisata di
Daerah
Studi sebelumnya : penjabaran kebijakan - strategi didasarkan
pada aspek pengelompokkan motivasi, tanpa implikasi strategi
yang lebih luas terutama kaitannya dengan pengembangan pasar
wisatawan nusantara di daerah
Studi Saat ini : penjabaran kebijakan - strategi dibedakan antara
generik dan fokus yaitu yang berbasis motivasi. Penjabaran arah
kebijakan, strategi, dan indikasi program untuk daerah di tuangkan
dalam buku daerah yang terdiri dari 33 propinsi.

























3. Kondisi Aktual dan Analisis
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 1



III. KONDISI AKTUAL DAN
ANALISIS


3.1. Lingkungan Strategis
Perkembangan wisatawan nusantara juga mengalami berbagai dinamika
yang berkaitan dengan berbagai permasalahan strategis yang terkait
dengan sisi internal (dalam negeri) maupun juga sisi eksternal (luar
negeri) yang dapat ditemukenali dalam beberapa isu sebagai berikut :

3.1.1. Lingkungan Internal
Beberapa isu yang terkait dengan keberadaan wisatawan nusantara
secara internal dapat dijelaskan dalam butir-butir berikut ini :

1) Potensi ledakan penduduk dan meningkatnya kepadatan di
Kota-Kota Besar
Pada tahun 2010 jumlah penduduk Indonesia tercatat sebesar 237,6
Juta populasi dengan rata-rata pertumbuhan per tahun sebesar 1,49%
(BKKBN, 2011). Angka pertumbuhan tersebut melampaui angka
pertumbuhan ideal yang hanya 0,5%. Tren ini diperkirakan akan terus
berlangsung, dan pada tahun 2045 penduduk Indonesia diperkirakan
penduduk Indonesia akan mencapai angka 450 juta populasi atau
hampir dua kali lipat dari kondisi saat ini.
Sisi positif dari pertumbuhan penduduk ini dari konsep wisatawan
nusantara tentunya merupakan potensi yang luar biasa. Terlebih dari
total populasi yang ada kurang lebih 150 juta orang dari 237,6 juta atau
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 2

total penduduk Indonesia berada pada usia 15 tahun 60 tahun atau
usia ekonomi produktif. Sehingga diperkirakan kondisi ini akan memicu
terus meningkatnya pergerakan penduduk ke berbagai daerah di
Indonesia.
Di lain pihak disebutkan pula bahwa berdasarkan data distribusi
demografi, mayoritas dari jumlah penduduk Indonesia berada di kota-
kota besar, dan setidaknya saat ini sudah ada 6 (enam) kota besar
yang sudah overpopulasi : yaitu Jakarta, Surabaya, Semarang, Medan,
Bandung, dan Makassar. Hal ini berarti akan terjadi pergerakan
penduduk ke daerah-daerah sekitarnya, tidak semata-mata escape
seperti yang dilakukan oleh para weekender tetapi juga memungkinkan
pola pergerakan permanen seperti halnya para commuter (perjalanan
pulang pergi langsung)
Berbalik dengan kondisi kota-kota besar yang sudah mulai padat
khususnya di Jawa, di bagian daerah lain di Indonesia terhadap
potensi kota-kota besar yang setara dengan populasi yang masih
rendah (<100 orang per ha) yaitu : Tarakan, Blitar, Balikpapan, dan
Tomohon. Ke depan kota-kota ini sangat mungkin menjadi lokasi-
lokasi tujuan wisatawan nusantara (domestik) di Indonesia.

2) Prospek Cerah Perkonomian Nasional
Peningkatan jumlah penduduk ini dianggap sebagai potensi, juga
karena alasan kemungkinan naiknya pendapatan perkapita (GDP Per
Kapita) di hampir seluruh daerah di Indonesia. Menurut prediksi Bank
Indonesia dimana saat ini (2010 2011) perkeonomian mengalami
pertumbuhan sebesar 6,4% akan meningkat menjadi 6,7% pada tahun
2012.
Prospek perekonomian Indonesia akan terus tumbuh positif ke depan
dengan tingkat GDP per capita menjadi US $3000 dan terus menguat
dan bahkan telah merambah pada masyarakat kelas menengah
dimana ditandai dengan meningkatnya daya beli pada segmen ini.
GDP Indonesia saat ini yang bernilai US$700 miliar ditargetkan akan
melampaui angkat US$ 4 triliun pada 2025.

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 3


3) Masih Terbatasnya Fasilitas dan Insentif yang Mendukung
Gaya Hidup Berwisata
Selain faktor ekonomi sebagai penyebab rendahnya motivasi
kunjungan wisnus ke berbagai destinasi di Indonesia, adalah karena
faktor dukungan kebijakan insentif yang dapat diberikan kepada
masyarakat sebagai pendorong motivasi perjalanan. Hingga saat ini
kebijakan perjalanan insentif masih sangat terbatas (perjalanan dinas,
atau tipe perjalanan lain yang disubsidi).
Sebagai contoh, fasilitas Mudik Gratis yang biasa dilakukan hanya
pada saat lebaran, paket-paket kunjungan dalam format sale promo
yang diperuntukkan bagi kelompok wisnus misalnya paket wisata
dengan diskon, diskon perjalanan, insentif tour di kantor-kantor
pemerintah maupun swasta, dsb. Kebijakan semacam ini jarang terjadi
untuk momen di luar hari-hari besar nasional, bahkan mungkin hanya
pada saat lebaran yang dirayakan oleh sebagian besar masyarakat
Indonesia yang beragama Islam.
Pulang Kampung Bersama PT. Telkom, PT. Sidomuncul










Gambar 3.1. Contoh Kampanye Mudik Bersama
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 4

4) Masih Rendahnya Antusiasme Masyarakat Pada Program-
Program Promosi Lokal
Program-program promosi lokal yang diselenggarakan di berbagai
daerah seperti halnya Yogya Great Sale, Jakarta Great Sale, masih
kurang diminati masyarakat. Hal ini diindikasikan dipengaruhi akibat
rendahnya partisipasi para pelaku usaha dan kurang intensifnya
promosi, terlebih dengan semakin kuat dan intensifnya promosi dari
Luar Negeri (pesaing), sehingga para kelompok berduit lebih suka
berpergian ke luar negeri.






Gambar 3.2. Contoh Promosi Great Sale di Beberapa daerah

5) Pertumbuhan LCC Belum Diimbangi dengan Kenyamanan
Fasilitas dan Pengembangan Rute yang Lebih Ekstensif
Tarif penerbangan murah menjadi faktor keuntungan yang
sekaligus memotivasi wisatawan domestik untuk melakukan
perjalanan ke luar daerahnya. Namun demikian hal ini masih
memiliki banyak hambatan, salah satunya bahwa kebijakan
LCC belum diimbangi dengan kenyamanan fasilitas dan rute
yang lebih ekstensif khususnya ke destinasi-destinasi sekunder
selain Jawa Bali, misalnya ke wilayah Indonesia Timur
Sejauh ini tarif ke destinasi LUAR JAWA relatif mahal



Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 5


Berikut adalah data dan peta yang menunjukan intensitas (jumlah
passenger) perbangan domestik di beberapa pintu masuk utama :
















Bandara Ngurah Rai menjadi pintu masuk dengan angka kedatangan
tertinggi untuk penumpang penerbangan domestik. Namun demikian,
secara umum telah terjadi peningkatan jumlah penumpang dari tahun
ke tahun di hampir semua pintu masuk.
Sementara itu, dilihat dari rute yang dilayani, konsentrasi utama untuk
penerbangan domestik masih terjadi khususnya di Jawa Bali dan
sebagian Sumatera. Sementara itu, untuk destinasi lainnya
mendapatkan prosentase yang jauh relatif lebih kecil.

Tabel 3.1. Jumlah kunjungan wisatawan Domestik pada 5 bandara utama
Tahun
Soekarno
Hatta
Ngurah
Rai
Polonia Batam
Bandara
Lainnya
Jumlah
1997 1.457.340 1.293.657 174.724 1.119.238 1.140.284 5.185.243
1998 883.016 1.246.289 70.441 1.173.392 1.233.278 4.606.416
1999 819.318 1.399.571 76.097 1.248.791 1.183.743 4.727.520
2000 1.029.888 1.468.207 84.301 1.134.051 1.347.770 5.064.217
2001 1.049.471 1.422.714 94.211 1.145.578 1.441.646 5.153.620
2002 1.095.507 1.351.176 97.870 1.101.048 1.387.799 5.033.400
2003 921.737 1.054.143 74.776 1.285.394 1.130.971 4.467.021
2004 1.005.072 1.525.994 97.087 1.527.132 1.165.880 5.321.165
2005 1.105.202 1.454.804 109.034 1.024.758 1.308.303 5.002.101
2006 1.147.250 1.328.929 110.405 1.012.711 1.272.056 4.871.351
2007 1.153.006 1.741.935 116.614 1.077.306 1.416.898 5.505.759
2008 1.464.717 2.081.786 130.211 1.061.390 1.624.897 6.363.001
* bold : angka tertinggi pada setiap tahunnya
Sumber: bps.go.id
B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a

I
I
I

-

6


G
a
m
b
a
r


3
.
3
.

R
u
t
e
-
R
u
t
e

P
e
n
e
r
b
a
n
g
a
n

D
o
m
e
s
t
i
k

(
R
u
t
e

T
e
r
p
a
d
a
t

a
d
a
l
a
h

d
a
r
i

d
a
n

K
e

J
a
w
a

k
h
u
s
u
s
n
y
a

p
a
d
a

p
i
n
t
u

m
a
s
u
k

J
a
k
a
r
t
a
)

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a

I
I
I

-

7



G
a
m
b
a
r

3
.
4
.

B
e
b
e
r
a
p
a

R
u
t
e

P
e
n
e
r
b
a
n
g
a
n

E
k
o
n
o
m
i

d
i

I
n
d
o
n
e
s
i
a

(
s
e
b
a
g
i
a
n

b
e
s
a
r

R
u
t
e

i
n
t
e
n
s
i
f

m
a
s
i
h

b
e
r
a
d
a

d
i

J
a
w
a
)
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 8

6) Kecenderungan Peningkatan Outbound yang Signifikan
Gencarnya promosi yang digulirkan oleh negara-negara pesaing
seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand menjadi salah satu pemicu
semakin tingginya angka outbound traveller Indonesia ke luar negeri.
Kondisi ini tentunya memberikan dampak yang kurang positif terhadap
pergerakan wisatawan dan nilai ekonomi pariwisata domestik.

Faktor lain adalah kebijakan fiskal yang dikeluarkan pemerintah, yang
memberikan keringanan pada para outbound dengan tidak membayar
fiskal (gratis). Hal ini tentunya menjadi daya tarik tersendiri pada
sekelompok masyarakat kaya

Berdasarkan data tahun 2009 diketahui bahwa Jumlah penduduk
penduduk Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri atau
disebut sebagai Wisatawan nasional (Wisnas) cenderung mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2007 jumlah outbound
bahkan mencapai hampir 5,2 juta orang.

Tabel 3.2. Perkembangan Outbound Indonesia Tahun 2004-2009
TAHUN TAHUN TAHUN TAHUN
JUMLAH JUMLAH JUMLAH JUMLAH
OUTBOUND OUTBOUND OUTBOUND OUTBOUND
RATA RATA RATA RATA- -- -RATA RATA RATA RATA
PENGELUARAN PENGELUARAN PENGELUARAN PENGELUARAN
PER ORANG PER ORANG PER ORANG PER ORANG
(USD) (USD) (USD) (USD)
RATA RATA RATA RATA- -- -RATA RATA RATA RATA
LAMA LAMA LAMA LAMA
TINGGAL TINGGAL TINGGAL TINGGAL
(HARI) (HARI) (HARI) (HARI)
PENGELUARAN PENGELUARAN PENGELUARAN PENGELUARAN
DEVISA DEVISA DEVISA DEVISA
(JUTA USD) (JUTA USD) (JUTA USD) (JUTA USD)
PER PER PER PER
KUNJUNGAN KUNJUNGAN KUNJUNGAN KUNJUNGAN
PER PER PER PER
HARI HARI HARI HARI
2004 2004 2004 2004 3.941.381 859,81 77,88 11,04 3.388,84
2005 2005 2005 2005 4.106.225 683,78 83,90 8,15 2.807,75
2006 2006 2006 2006 4.967.403 777,71 100,87 7,71 3.863,20
2007 2007 2007 2007 5.158.441 839,64 88,79 9,24 4.331,23
2008 2008 2008 2008 4.996.594 1.049,72 96,69 10,62 5.245,02
2009 2009 2009 2009 4,772,790*) 977,39 109,8 8,81 4,680.67*)
Sumber : BPS dan Sumber : BPS dan Sumber : BPS dan Sumber : BPS dan Kemenbudpar Kemenbudpar Kemenbudpar Kemenbudpar
*) Data sementara outbound tahun 2009 melalui 14 pintu keluar utama
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 9














Gambar 3.5. Jumlah Wisatawan Nasional yang berpergian ke Luar Negeri dan
Pembelanjaannya
Sumber : Diolah dari Data Kemenbudpar, 2009

Besarnya tingkat wisatawan outbound yang keluar Indonesia atau
disebut sebagai Wisatawan Nasional (WIsnas) (Kemenbudpar, 2009)
juga dibuktikan dengan posisi Indonesia sebagai Pasar Utama (Top
Market) di negara Malaysia dan Singapura. Negara tetangga yang
sekaligus pesaing dekat Indonesia.
Tabel 3.3. Kunjungan Outbound ke Malaysia (April-Mei 2009 2010)

Tourist Arrivals By Country May 2010 / May 2009

Country of Residence 2009 2010 % Change
1 SINGAPORE 1,038,004 1,049,302 1.1
2 INDONESIA 195,096 209,284 7.3
3 THAILAND 123,811 126,832 2.4
4 BRUNEI DARUSSALAM 84,401 98,241 16.4
5 INDIA 70,714 88,393 25
6
CHINA (INCL HONG
KONG MACAO ) 62,148 71,914 15.7
7 PHILIPPINES 42,709 47,031 10.1
8 AUSTRALIA 35,029 42,759 22.1
Jumlah Outbound dan Devisa (Juta USD)
-
1,000,000
2,000,000
3,000,000
4,000,000
5,000,000
6,000,000
-
1,000
2,000
3,000
4,000
5,000
6,000
Jumlah Outbound 3,941,381 4,106,225 4,967,403 5,158,441 4,996,594 4,772,790
Pengeluaran (Juta USD) 3,389 2,808 3,863 4,331 5,245 4,681
2004 2005 2006 2007 2008 2009
3,389
Juta
USD
2,808
Juta
USD
3,863
Juta
USD
4,331
Juta
USD
5,245
Juta
USD
4,681
Juta
USD
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 10

9 UNITED KINGDOM 32,128 32,957 2.6
10 JAPAN 26,384 27,538 4.4

Tourist Arrivals By Country April 2010 / April 2009
1 SINGAPORE 983,740 972,940 -1.1
2 THAILAND 147,551 129,845 -12
3 INDONESIA 181,794 203,427 11.9
4 BRUNEI DARUSSALAM 86,695 92,736 7
5
CHINA (INCL HONG
KONG MACAO ) 86,103 95,130 10.5
6 INDIA 45,610 56,100 23
7 PHILIPPINES 42,653 46,321 8.6
8 AUSTRALIA 44,169 45,430 2.9
9 UNITED KINGDOM 39,505 27,654 -30
10 JAPAN 28,177 26,586 -5.6
Sumber :www.tourism.gov.my
Tabel di atas menunjukkan bahwa Indonesia menjadi salah satu pasar
utama wisatawan di Malaysia. Jumlahnya juga terus meningkat setiap
tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi berpergian ke luar
negeri orang-orang Indonesia relatif tinggi, terlebih dengan adanya
berbagai promosi yang gencar dan biaya penerbangan murah.
Sementara itu, data yang dikeluarkan oleh Singapore Tourism Board
menunjukkan bahwa Indonesia selain menjadi Top Market juga
menjadi kelompok segmen dengan tingkat pembelanjaan tertinggi di
Singapura.







Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 11












Data yang lain menunjukkan bahwa berdasarkan data 10 pasar utama
wisatawan yang ada di Singapura, Indonesia menduduki peringkat
tertinggi (Top Rank) dengan jumlah kunjungan yang paling tinggi
dibandingkan dengan negara lain yang berkunjung ke Singapura. Hal
ini juga menjadi bukti bahwa orang-orang Indonesia memiliki minat
yang tinggi untuk berpergian ke luar negeri termasuk berwisata ke
Singapura.






Gambar 3.6. Top 10 Market Singapore (Based on Arrivals & Total
Expenditure of Visitors (TEV) ), Indonesia sebagai Top Spender

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 12










Gambar 3.7. Top 10 Market Singapore Tahun 2004 2008 dengan Indonesia
sebagai Top Arrivals

7) Kondisi Indonesia yang Merupakan Negara Kepulauan
Indonesia merupakan negara kepulauan dimana keadaan ini
berdampak pada sejumlah permasalahan terkait dengan akses dan
transportasi, yaitu :
a) Ketergantungan yang tinggi pada alat transportasi udara
maupun laut, padahal pihak trasportasi udara khususnya yang
melayani wilayah-wilayah di luar Jawa masih relatif terbatas.
b) Keadaan cuaca sangat yang mempengaruhi alat transportasi
udara maupun laut. Kondisi Indonesia yang berada di
persimpangan jalur internasional sangat memungkinkan
terjadinya perubahan cuaca yang mendadak yang sangat
berbahaya untuk transportasi udara maupun laut.
B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a

I
I
I

-

1
3



G
a
m
b
a
r

3
.
8
.

J
a
l
u
r
-
J
a
l
u
r

A
k
s
e
s

(
D
a
r
a
t
,

L
a
u
t
,

d
a
n

U
d
a
r
a
)

d
i

I
n
d
o
n
e
s
i
a


Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 14

8) Belum optimalnya infrastruktur untuk mendukung
pemanfaatan kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat
Perkembangan teknologi informasi yang telah diadaptasi dalam
berbagai format aplikasi dan direalisasikan dalam berbagai aksi
promosi tampaknya belum sepenuhnya dioptimalkan. Padahal melihat
perkembangan penggunaan. Menurut informasi saat ini telah terdapat
lebih dari 25 juta pengguna internet di Indonesia, dengan pertumbuhan
per tahun mencapai 25%. Sementara itu Pengguna Internet di
Indonesia diperkirakan mencapai 57,8 juta pada 2010, seiring dengan
meningkatnya pemakaian layanan tersebut melalui teknologi pita lebar
jaringan seluler
(http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/01/tgl/
25/time/174121/idnews/884242/idkanal/398) . Demikian halnya dengan
promosi jaringan komunitas di Internet yang kini sangat marak dan
diminati berbagai kalangan.



















Indonesia Pengguna Facebook ke-7 Terbesar
Indonesia bertengger di peringkat tujuh, di atas Australia, Spanyol, dan Kolombia.
Menurut data statistik yang dilansir CheckFacebook.com, jumlah pengguna Facebook di
Indonesia telah masuk 10 besar jumlah pengguna Facebook terbesar di dunia. Indonesia
bertengger di peringkat tujuh, mengatasi Australia, Spanyol, dan Kolombia di peringkat 10.

Menurut data tersebut, yang dikutip VIVAnews, diketahui Indonesia merupakan negara
dengan jumlah Facebook terbesar kedua setelah Turki di Benua Asia, yakni sebesar
5.949.740 pengguna. Sementara Turki, yang menduduki peringkat keempat di dunia,
memiliki 10.926.180 pengguna per Selasa, 16 Juni 2009 pukul 17.00 WIB.

Perlu diketahui, saat ini pengguna Facebook di dunia telah mencapai 219.286.560
pengguna. Amerika Serikat masih memimpin di posisi teratas dengan 66,7 juta penggemar,
jauh meninggalkan Inggris di posisi kedua dengan 17,6 juta pengguna.

Sementara di posisi ketiga menyusul Kanada dengan 11,2 juta. Peringkat lima dihinggapi
Perancis dengan 10,1 juta pengguna dan disusul 9,7 juta oleh Italia, yang berada persis di
atas peringkat Indonesia.

Dalam hal persentase populasi online, Indonesia mencapai angka 23,8 persen. Artinya,
kurang lebih 23,8 persen dari total populasi penduduk di Indonesia telah terdaftar di
Facebook. Angka tersebut masih jauh dibandingkan Bangladesh yang memiliki 79,4 persen,
terbaik di dunia.

Adapun Vietnam, saat ini masih menjadi negara dengan pertumbuhan pengguna Facebook
teratas di dunia dengan 22,34 persen pertumbuhan. Polandia dan China menyusul dengan
masing-masing mencatat pertumbuhan 11,3 persen dan 10,8 persen
(http://teknologi.vivanews.com/news/read/67129-
indonesia_pengguna_facebook_ke_7_terbesar)
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 15

3.1.2. Lingkung Eksternal
Beberapa isu yang terkait dengan keberadaan wisatawan nusantara
secara Eksternal dapat dijelaskan dalam butir-butir berikut ini :

1) Kompetisi Dengan Destinasi di Luar Negeri yang Menjadi
Tujuan Outbound
Meningkatnya jumlah outbound traveller asal Indonesia ke luar negeri
khususnya negara-negara tetangga, menjadi salah satu indikasi bahwa
destinasi di luar negeri lebih menarik untuk dikunjungi. Kondisi ini
tentunya menjadi salah satu tantangan penting bagi Indonesia untuk
dapat lebih memupuk rasa cinta tanah air dan mencintai produk-
produk dalam negeri. Pemerintah dan tentunya bekerjasama
melibatkan para pelaku usaha, dan masyarakat perlu menciptakan
program-program promosi yang atraktif dan inovatif.
2) Promosi yang Intensif dan Agresif dari Negara-negara
Tetangga di Indonesia
Strategi berpromosi yang sangat agresif melalui berbagai media yang
dilakukan oleh negara-negara tujuan wisata outbound Indonesia,
memiliki dampak pengaruh yang cukup besar dalam memotivasi para
traveller untuk berkunjung ke destinasi tersebut. Sebagai contoh
promosi yang secara gencar dilakukan oleh Singapura dan Malaysia di
Indonesia, baik yang dilakukan melaui iklan dan advertorial di media
cetak maupun media elektronik, dari yang memiliki coverage nasional
hingga lokal telah cukup mampu menarik minat masyarakat untuk
berwisata ke negara tersebut.
Sehingga perlu ditegaskan bahwa promosi yang intensif dan agresif
dalam pengertian ini setidaknya terkait dengan :
a. Penggunaan media promosi yang beragam dan menyentuh semua
kalangan mulai dari media cetak, elektronik, internet, hingga
bekerjasama dengan maskapai dan bank penyalur kredit wisata.
b. Intensitas promosi yang tinggi
c. model-model promosi penjualan yang memberikan hadiah berlibur
di luar negeri
Berikut adalah ilustrasi contoh-contoh program promosi yang
ditawakan oleh Malaysia dan Singapura :
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 16

































PROMOSI SINGAPURA
Gambar 3.9. Ragam Promosi Wisata di Singapura
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 17

































Paket-Paket Wisata Singapura dengan
Harga yang sangat kompetitif (mulai
dari 19 USD), dan Contoh Komparasi
Paket ke Trans Studio di Makassar (1,7
Juta rupiah)
Gambar 3.10. Ragam Promosi Paket Wisata di Singapura
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 18

































Ragam Promosi Malaysia
Gambar 3.11. Ragam Promosi Wisata di Malaysia
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 19

































Ragam Paket Wisata yang
ditawarkan Malaysia

Gambar 3.12. Ragam Promosi Paket Wisata di Malaysia
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 20

3.2. Pasar Wisatawan Nusantara
3.2.1. Potensi Pasar Wisatawan Nusantara
Pasar wisatawan nusantara merupakan pasar besar yang
selama ini dapat dikatakan belum mendapatkan perhatian yang cukup
dari industri pariwisata nasional. Selama beberapa dekade terakhir
perhatian sebagian besar usaha pariwisata dan pemerintah lebih
terfokus pada upaya untuk meningkatkan kunjungan wisman yang
selalu dikaitkan dengan perolehan devisa negara.
Memang dari segi kontribusi pada devisa nasional, aktivitas
wisatawan nusantara mungkin tidak begitu banyak berarti, dikarenakan
pembelanjaan mereka tidak menciptakan uang masuk yang
menciptakan nilai ekspor bagi negara. Sehingga pembelanjaan wisnus
sering disebut hanya sebagai bentuk redistribusi pendapatan.
Namun dengan melihat pada pertumbuhan pergerakan
(movements) wisnus sejak awal tahun 2000, maka dapat dikatakan
pangsa pasar wisnus bukan lagi sebagai pangsa sekunder bagi
pariwisata Indonesia. Khususnya di era otonomi saat ini kedatangan
wisnus ke suatu daerah dapat dijadikan alat untuk menggerakkan
perekonomian wilayah di daerah yang bersangkutan (new money
flowing into region). Lebih dari itu, Wisnus merupakan pilar
kepariwisataan nasional. Pada saat terjadi krisis ekonomi internasional
yang berdampak terhadap nilai tukar, juga pada saat Indonesia sedang
berada dalam situasi yang tidak kondusif (misalnya terjadinya krisis,
terorisme, bencana alam, wabah, dan sebagainya) maka wisnus
merupakan potensi penyokong utama kepariwisataan nasional.
Berdasarkan data statistik dapat dicatat beberapa hal bahwa :
a. Penduduk di Indonesia tercatat sebanyak 206.264.595 (Statistik
Indonesia 2009, BPS, berdasarkan sensus tahun 2000) atau
sebesar 225.441.300 berdasarkan data proyeksi BPS tahun 2009.
b. Jumlah tersebut memiliki laju pertumbuhan sebesar 1,49% dari
tahun 1990 2000, dan pertumbuhan penduduk di Indonesia
diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi yaitu
sebesar 1.5 - 2% per tahun. Dari tingkat pertumbuhan tersebut
diproyeksikan populasi penduduk akan akan mencapai lebih 300
juta orang pada tahun 2010 atau akan mencapai 337.808.011
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 21

orang pada tahun 2050. Jumlah tersebut menggambarkan
besarnya populasi penduduk Indonesia sebagai potensi pasar
wisatawan nusantara.
c. Dari data penduduk berumur 15 tahun ke atas menurut jenis
kegiatan yang dilakukan menunjukkan bahwa penduduk di
Indonesia yang bekerja cukup besar yaitu 63,05% dari total
penduduk. Status penduduk yang bekerja dalam hl ini memberikan
prospek untuk terciptanya konsumsi bagi kegiatan wisata, dengan
menyisihkan sebagian pendapatan mereka.
d. Beberapa daerah di Indonesia memiliki tingkat PDRB yang relatif
tinggi. Dari 33 propinsi di Indonesia, DKI Jakarta merupakan
propinsi yang mempunyai PDRB terbesar pada tahun 2008
1
yaitu
sebesar 677 trilyun rupiah atau 16,11 persen dari total 33 propinsi.
Selanjutnya diikuti oleh propinsi Jawa Timur dengan PDRB sebesar
621 trilyun rupiah (14,78%), Jawa barat sebesar 602 trilyun rupiah
(14,21%). Besarnya angka PDRB ini dapat dijadikan indikasi atas
prospek perekonomian di masing-masing daerah yang akan
berimbas pada peningkatan perekonomian masyarakat yang pada
akhirnya dapat menciptakan permintaan atas kegiatan perjalanan
(berwisata).
e. Tumbuhnya tren wisata luar ruang (outdoor activities) dan wisata
petualangan/minat khusus sebagai solusi keluar dari kejenuhan
kerja dan aktivitas sehari-hari masyarakat perkotaan. Hal ini antara
lain dapat ditunjukan dengana adanya fenomena Weekender yaitu
penduduk Jakarta yang berpergian ke Bogor Bandung pada akhir
pekan, masyarakat kaya di Surabaya yang berpergian ke Bali atau
Malang, dsb.
f. Kegiatan mudik di Hari Lebaran sebagai event tahunan yang
mampu menggerakkan perjalanan penduduk antar daerah, antar
propinsi bahkan antar pulau dalam jumlah yang relatif besar.
g. Kuatnya budaya silaturahmi di kalangan masyarakat Indonesia
yang mampu menggerakkan penduduk untuk melakukan
perjalanan dari satu daerah ke daerah lainnya.



1
Angka Sementara Atas Dasar Harga Berlaku (BPS, 2009)
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 22

Melihat pada potensi tersebut dapat dilihat bahwa perjalanan /
pergerakan wisnus menjadi hal yang sangat penting untuk
diperhitungkan. Terlebih terkait dengan potensinya sebagai pendukung
dinamika pergerakan perekonomian di suatu daerah.
Berikut ini adalah ilustrasi yang menggambarkan potensi
Wisatawan Nusantara yang diurutkan berdasarkan jumlah
perjalanannya, di mana Jawa Timur menjadi propinsi dengan jumlah
perjalanan tertinggi.

Tabel 3.4. Potensi Wisnus (Data 2008)
Propinsi Populasi
Jml penduduk yg
melakukan
perjalanan
Rata-rata
perjalanan
Jumlah
perjalanan
1 Jawa Timur 37,286,200 23,373,516 1.88 43,935,875
2 Jawa Barat 41,501,500 21,515,860 1.93 41,565,527
3 Jawa Tengah 32,864,600 14,897,588 1.89 28,126,629
4 DKI Jakarta 9,223,000 6,598,040 1.91 12,582,526
5 Sumatera Utara 13,248,400 4,724,565 1.52 7,179,697
6 Banten 9,782,800 3,270,088 1.68 10,554,482
7 Lampung 7,491,900 3,197,048 1.46 4,687,244
8 Sulawesi Selatan 2,480,300 3,052,840 1.8 5,486,473
9 DI Yogyakarta 3,501,900 2,567,972 1.93 4,959,914
10 NTB 4,434,000 2,226,316 1.70 3,785,206
11 Kalimantan Timur 3,164,800 1,939,100 1.77 3,431,609
12 Riau 5,306,500 1,934,619 1.54 2,971,522
13 NTT 4,619,700 1,888,932 1.71 3,232,559
14 Bali 3,551,000 1,835,464 2.08 3,823,492
15 Sumatera Barat 4,828,000 1,823,831 1.79 6,067,137
16 Kalimantan Selatan 3,496,100 1,810,160 1.42 2,573,764
17 Sumatera Selatan 7,222,600 1,467,224 1.67 2,448,493
18 Kalimantan Barat 4,319,100 1,443,032 1.61 2,329,392
19 Sulawesi Tengah 2,480,300 1,234,888 1.68 2,072,394
20 Bangka Belitung 1,138,100 1,119,292 1.82 2,032,458
21 Jambi 2,834,200 921,584 1.73 1,591,756
22 Sulawesi Tenggara 2,118,300 883,168 1.58 1,394,686
23 kalimantan Tengah 2,085,800 779,624 1.47 1,149,025
24 Sulawesi Utara 2,228,900 762,224 1.93 1,471,207
25 Kep. Riau 1,515,300 742,116 1.59 1,182,607
26 Bengkulu 1,666,900 738,992 1.68 1,238,563
27 NAD 4,363,500 735,067 1.05 768,529
28 Papua 2,097,500 645,296 1.29 831,271
29 Gorontalo 984,000 643,444 1.75 1,124,071
30 Maluku Utara 975,000 587,636 1.39 814,563
31 Maluku 1,339,500 460,500 1.70 784,177
32 Sulawesi Barat 1,047,700 447,632 1.79 802,566
33 Papua Barat 743,900 215,400 1.26 272,137

Sumber : Diolah dari Data Statistik Wisnus, Depbudpar & BPS, 2008; www.bps.go.id ;
Statistik Indonesia, 2009
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 23

Tabel di atas menggambarkan bagaimana komposisi antara
populasi, jumlah penduduk yang melakukan perjalanan, jumlah
perjalanan, hingga intensitas pergerakan yang ada. Berdasarkan data
tersebut, dapat dijelaskan secara lebih terperinci bahwa masing-
masing daerah sebagaimana dikelompokkan berdasarkan satuan
pulau-pulau berikut ini :
Tabel 3.5. Pertumbuhan Wisnus Dirinci berdasarkan Satuan Pulau
Tahun Pulau
Jumlah
Perjalanan
Pembelanjaan
(Milyar Rp)
Persen
dari Total
Perjalanan
1997
Jawa + Bali 97,766,245 45,074 67.2%

Sumatera 25,010,916 14,497 17.2%
Kalimantan 6,639,040 4,469
4.6%
Sulawesi 9,428,288 5,082 6.5%
Nusa Tenggara 4,562,583 2,031 3.1%
Maluku +
Papua 2,139,680 2,259 1.5%
TOTAL 145,546,752 73,412
100%

2001
Jawa + Bali 142,673,532 36,496 72.9%
Sumatera 29,093,312 10,905 14.9%

Kalimantan 6,404,476 3,660 3.3%
Sulawesi 10,266,488 3,659
5.2%
Nusa Tenggara 5,309,904 1,514 2.7%
Maluku +
Papua 1,879,028 2,413 1.0%
TOTAL 195,626,740 58,647 100%
+ 34.4% - 20.1%


2008
Jawa + Bali 145,548,445 58,888 68.8%
Sumatera 34,374,380 17,827 16.3%

Kalimantan 9,483,790 8,967 4.5%
Sulawesi 12,351,397 6,052 5.8%
Nusa Tenggara 7,017,765 2,942
3.3%
Maluku +
Papua 2,702,148 2,573 1.3%
TOTAL 211,477,925 97,249
+ 8.1% + 65.8%

1997
2001
2008
Sumber : Diolah dari Data Statistik
Wisnus, Depbudpar & BPS, 2008

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 24

Tabel di atas memperlihatkan bagaimana perkembangan dan
pertumbuhan pergerakan dan jumlah wisnus di Indonesia. Dimana
pada tahun 2001 telah terjadi peningkatan sebesar 34,4%
dibandingkan tahun 1997, dan meningkat 8,1% atau menjadi lebih dari
211, 4 juta orang pada tahun 2008. Dari jumlah tersebut, mayoritas
pergerakan dan jumlah wisnus berada di Jawa (lebih dari 60%),
sedangkan daerah-daerah lain memiliki jumlah yang lebih kecil.

3.2.2. Jumlah Kunjungan dan Pola Pergerakan
Pergerakan wisatawan domestik di Indonesia menunjukkan
kecenderungan pertumbuhan yang positif sepanjang tahun. Pada
tahun 2009 (data sementara) disebutkan bahwa tercatat adalah lebih
dari 119 juta orang wisnus dengan jumlah perjalanan mencapai lebih
dari 229 trip. Atau dapat dikatakan bahwa dalam satu tahun setidaknya
satu orang wisnus melakukan 2 x perjalanan (trip).
Tingginya angka perjalanan tersebut menghasilkan pendapatan
setidaknya 137 triliun rupiah (tahun 2009). Pendapatan tersebut
meningkat kurang lebih 12% dibandingkan tahun sebelumnya (tahun
2008). Pendapatan inilah yang di dalam pariwisata dikenal sebagai
pemerataan pendapatan yang dapat menstimulasi pergerakan
ekonomi masyarakat.
Pada keadaan yang lebih optimis, wisnus dipastikan akan lebih
meningkat sehingga juga akan meningkatkan angka perjalanan dan
menjamin terus bergeraknya ekonomi masyarakat.
T Ta ab be el l 3 3. .6 6. . J Ju um ml la ah h K Ku un nj ju un ng ga an n W Wi is sn nu us s, , J Ju um ml la ah h P Pe er rj ja al la an na an n, , R Ra at ta a- -R Ra at ta a P Pe er rj ja al la an na an n, ,
d da an n T To ot ta al l P Pe en ng ge el lu ua ar ra an n W Wi is sn nu us s T Ta ah hu un n 2 20 00 01 1 2 20 00 09 9
TAHUN TAHUN TAHUN TAHUN
WISNUS WISNUS WISNUS WISNUS
(000 orang) (000 orang) (000 orang) (000 orang)
PERJALANAN PERJALANAN PERJALANAN PERJALANAN
(000 orang) (000 orang) (000 orang) (000 orang)
RATA RATA RATA RATA- -- -RATA RATA RATA RATA
PERJALANAN PERJALANAN PERJALANAN PERJALANAN
TOTAL PENGELUARAN TOTAL PENGELUARAN TOTAL PENGELUARAN TOTAL PENGELUARAN
(Trilyun Rp) (Trilyun Rp) (Trilyun Rp) (Trilyun Rp)
2001 103.884 195.770 1,88 58,71
2002 105.379 200.589 1,90 68,82
2003 110.030 207.119 1,88 70,87
2004 111.353 202.763 1,82 71,70
2005 112.701 198.359 1,76 74,72
2006 114.270 204.553 1,79 88,21
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 25

TAHUN TAHUN TAHUN TAHUN
WISNUS WISNUS WISNUS WISNUS
(000 orang) (000 orang) (000 orang) (000 orang)
PERJALANAN PERJALANAN PERJALANAN PERJALANAN
(000 orang) (000 orang) (000 orang) (000 orang)
RATA RATA RATA RATA- -- -RATA RATA RATA RATA
PERJALANAN PERJALANAN PERJALANAN PERJALANAN
TOTAL PENGELUARAN TOTAL PENGELUARAN TOTAL PENGELUARAN TOTAL PENGELUARAN
(Trilyun Rp) (Trilyun Rp) (Trilyun Rp) (Trilyun Rp)
2007 115.335 222.389 1,93 108,96
2008 117.213 225.042 1,92 123,17
2009
119.944 229.731 1,92 137,84

Secara visual yang dapat dicermati selama 10 tahun terakhir,
pergerakan wisnus cukup dinamis dan menunjukkan tren yang positif,
seperti dapat dilihat pada gambar berikut ini :


G Ga am mb ba ar r 3 3. .1 13 3. . J Ju um ml la ah h W Wi is sn nu us s d da an n P Pe er rg ge er ra ak ka an n W Wi is sn nu us s d di i I In nd do on ne es si ia a T Ta ah hu un n 2 20 00 01 1- -
2 20 00 08 8
Sumber : Diolah dari data Kemenbudpar, 2009 (www.budpar.go.id)



Sumber : Depbudpar, 2009
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 26

Tren pertumbuhan wisatawan domestik yang positif juga dibarengi
dengan tren pertumbuhan yang positif pula dalam hal pembelanjaan.
Terjadi peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun, setidaknya
sejak tahun 2001 hingga akhir 2009. Di mana pembelanjaan wisnus
mencapai lebih dari 137,8 triliun rupiah.











G Ga am mb ba ar r 3 3. .1 14 4. . P Pe em mb be el la an nj ja aa an n W Wi is sn nu us s d di i I In nd do on ne es si ia a T Ta ah hu un n 2 20 00 01 1- -2 20 00 08 8
Sumber : Diolah dari data Kemenbudpar, 2009 (www.budpar.go.id)





Sumber : diolah dari Statistik Indonesia, BPS, 2009

Pembelanjaan Wisnus Tahun 2001 - 2009
17.2%
3.0%
1.2%
4.2%
18.1%
23.5%
13.0%
11.9%
0
20
40
60
80
100
120
140
160
0
0.05
0.1
0.15
0.2
0.25
TOTAL PENGELUARAN
(Triliyun RP)
58.71 68.82 70.87 71.7 74.72 88.21 109 123.2 137.8
Pertumbuhan (%) 17.2% 3.0% 1.2% 4.2% 18.1% 23.5% 13.0% 11.9%
2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009
SHARE terhadap NATIONAL GDP (dalam Miliar Rupiah)

Pembelanjaan Wisnus 137,840

Perdagangan, Hotel, dan Restoran 177,375

78%
GDP(Tanpa Migas) 997,411.8

14%
Total GDP (dg Migas) 1,984

7%

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 27

Sementara itu, dilihat dari pola pergerakannya, berdasarkan daerah
sebaran wisnus (lihat Gambar), kunjungan wisnus masih terbatas hanya
pada kota-kota besar di Jawa (DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah,
Jawa Timur, dan DI. Yogyakarta). Daerah-daerah lain masih berada jauh
di bawah kota-kota tersebut.
Demikian juga, berdasarkan asal provinsinya (lihat Gambar),
sumber pasar terbesar wisatawan nusantara adalah seluruh provinsi di
Pulau Jawa, 3 provinsi di Pulau Sumatera, dan 1 provinsi di Pulau
Sulawesi.
Keterbatasan akan pergerakan ini dapat dipengaruhi beberapa
faktor seperti :
1) Perekonomian setempat (PAD, pendapatan per kapita
masyarakat)
2) Kemudahan akses dan sarana prasarana angkutan
3) Perkembangan produk (hotel, atraksi/obyek wisata, dan fasilitas
lainnya)
4) Promosi dan pemasaran yang dilakukan oleh pemangku
kepentingan terkait (pemerintah maupun swasta)


G Ga am mb ba ar r 3 3. .1 15 5. . D Da ae er ra ah h T Tu uj ju ua an n W Wi is sn nu us s d di i I In nd do on ne es si ia a T Ta ah hu un n 2 20 00 08 8
Sumber : www.bps.go.id, 2009
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 28



G Ga am mb ba ar r 3 3. .1 16 6. . D Da ae er ra ah h A As sa al l W Wi is sn nu us s d di i I In nd do on ne es si ia a T Ta ah hu un n 2 20 00 07 7
Sumber : Statistik Wisatawan Nusantara 2008 (Survei Penduduk Indonesia yang
Melakukan Perjalanan), BPS & Depbudpar










FAKTOR PENGHAMBAT PERGERAKAN
WISNUS
1) Perekonomian setempat (PAD,
pendapatan per kapita
masyarakat)
2) Kemudahan akses dan sarana
prasarana angkutan
3) Perkembangan produk (hotel,
atraksi/obyek wisata, dan
fasilitas lainnya)
4) Promosi dan pemasaran yang
dilakukan oleh pemangku
kepentingan terkait
(pemerintah maupun swasta)
Konsentrasi Pergerakan Wisnus (2008)
Sumatera
16%
Jawa + Bal i
70%
Nusa
Tenggara
3%
Sul awes i
6%
Kal i mantan
4%
Mal uku +
Papua
1%
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 29

T Ta ab be el l 3 3. .7 7. . D Da ae er ra ah h- -D Da ae er ra ah h P Pe en ny yu um mb ba an ng g ( (A As sa al l) ) d da an n P Pe en ne er ri im ma a ( (T Tu uj ju ua an n) ) W Wi is sn nu us s
Propinsi Asal Populasi **)
Jumlah
perjalanan
Rank
Propinsi Tujuan*)
Jumlah
Kunjungan
Jawa Timur 37,286,200 43,935,875 1
Jawa Barat
7,313,055
Jawa Barat 41,501,500 41,565,527 2
Jawa Timur
6,645,757
Jawa Tengah 32,864,600 28,126,629 3
DKI Jakarta
4,668,664
DKI Jakarta 9,223,000 12,582,526 4
Jawa Tengah
3,529,539
Sumatera Utara 13,248,400 10,850,916 5
DI Yogyakarta
3,261,718
Banten 9,782,800 10,554,482 6
R i a u
1,957,925
Sumatera Barat 4,828,000 6,067,137 7
B a l i
1,784,474
Sulawesi Selatan 2,480,300 5,486,473 8
Sumatera Utara
1,724,596
DI Yogyakarta 3,501,900 4,959,914 9
Kalimantan Timur
1,681,484
Lampung 7,491,900 4,687,244 10
Sulawesi Selatan
1,220,624
Bali 3,551,000 3,823,492 11
Banten
1,049,274
NTB 4,434,000 3,785,206 12
Sumatera Barat
1,004,610
Kalimantan Timur 3,164,800 3,431,609 13
Kalimantan Barat
891,651
NTT 4,619,700 3,232,559 14
Kepulauan Riau
809,019
Kalimantan Selatan 3,496,100 2,573,764 15
Lampung
747,284
NAD 4,363,500 2,458,521 16
Sumatera Selatan
661,633
Sumatera Selatan 7,222,600 2,448,493 17
Kalimantan Selatan
654,582
Kalimantan Barat 4,319,100 2,329,392 18
NAD
544,682
Sulawesi Tengah 2,480,300 2,072,394 19
Nusa Tenggara Barat
453,236
Bangka Belitung 1,138,100 2,032,458 20
J a m b i
315,915
Riau 5,306,500 1,816,685 21
Kalimantan Tengah
312,891
Jambi 2,834,200 1,591,756 22
Sulawesi Tenggara
302,764
Sulawesi Utara 2,228,900 1,471,207 23
Nusa Tenggara Timur
263,010
Sulawesi Tenggara 2,118,300 1,394,686 24
P a p u a
253,109
Bengkulu 1,666,900 1,238,563 25
Sulawesi Utara
188,002
Kep. Riau 1,515,300 1,182,607 26
Sulawesi Tengah
138,244
kalimantan Tengah 2,085,800 1,149,025 27
Kep Bangka Belitung
133,515
Gorontalo 984,000 1,124,071 28
M a l u k u
126,590
Papua 2,097,500 831,271 29
Bengkulu
86,160
Maluku Utara 975,000 814,563 30
Maluku Utara
84,054
Sulawesi Barat 1,047,700 802,566 31
Sulawesi Barat
53,270
Maluku 1,339,500 784,177 32
Papua Barat
52,218
Papua Barat 743,900 272,137 33
Gorontalo
48,193
JUMLAH 225,941,300 211,477,925

JUMLAH 42,961,742
Sumber : Statistik Wisnus, Depbudpar & BPS, 2008; www.bps.go.id
**) Data Proyeksi BPS, 2009
*) Berdasarkan Wisatawan Menginap di Hotel Bintang dan Non BIntang
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 30

Berdasarkan tabel di atas dapat diperlihatkan mengenai daerah-
daerah kantong-kantong wisnus dan daerah-daerah yang menjadi tujuan
perjalanan wisnus di Indonesia :
T Ta ab be el l 3 3. .8 8. . S Se ep pu ul lu uh h B Be es sa ar r P Pr ro ov vi in ns si i A As sa al l W Wi is sn nu us s
Propinsi Asal Ranking Populasi Jumlah perjalanan
Jawa Timur 1 37,286,200 43,935,875
Jawa Barat 2 41,501,500 41,565,527
Jawa Tengah 3 32,864,600 28,126,629
DKI Jakarta 4 9,223,000 12,582,526
Sumatera Utara 5 13,248,400 10,850,916
Banten 6 9,782,800 10,554,482
Sumatera Barat 7 4,828,000 6,067,137
Sulawesi Selatan 8 2,480,300 5,486,473
DI Yogyakarta 9 3,501,900 4,959,914
Lampung 10 7,491,900 4,687,244
JUMLAH 168,816,723












10 Besar Daerah Penyumpang Wisnus
4,687,244
4,959,914
5,486,473
6,067,137
10,554,482
10,850,916
12,582,526
28,126,629
41,565,527
43,935,875
- 10,000,000 20,000,000 30,000,000 40,000,000 50,000,000
Lampung
DI Yogyakarta
Sulawesi Selatan
Sumatera Barat
Banten
Sumatera Utara
DKI Jakarta
Jawa Tengah
Jawa Barat
Jawa Timur
G Ga am mb ba ar r 3 3. .1 17 7. . D Da ae er ra ah h A As sa al l W Wi is sn nu us s d di i I In nd do on ne es si ia a
Statistik Wisnus, Depbudpar & BPS, 2008; www.bps.go.id


Kontribusi 10 Daerah
Asal Wisnus
Terhadap
Total Perjalanan
Wisnus
Jatim, Jabar,
Jateng, JKT,
Sumut, Banten,
Sumbar,
Sulsel, DIY,
Lampung
80%
Lainnya
20%
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 31

T Ta ab be el l 3 3. .9 9. . S Se ep pu ul lu uh h B Be es sa ar r P Pr ro ov vi in ns si i T Tu uj ju ua an n W Wi is sn nu us s
Propinsi Tujuan Jumlah Kunjungan
1 Jawa Barat 7,313,055
2 Jawa Timur 6,645,757
3 DKI Jakarta 4,668,664
4 Jawa Tengah 3,529,539
5 DI Yogyakarta 3,261,718
6 R i a u 1,957,925
7 B a l i 1,784,474
8 Sumatera Utara 1,724,596
9 Kalimantan Timur 1,681,484
10 Sulawesi Selatan 1,220,624














10 Besar Daerah Tujuan Wisnus
1,220,624
1,681,484
1,724,596
1,784,474
1,957,925
3,261,718
3,529,539
4,668,664
6,645,757
7,313,055
- 1,000,000 2,000,000 3,000,000 4,000,000 5,000,000 6,000,000 7,000,000 8,000,000
Sulawesi Selatan
Kalimantan Timur
Sumatera Utara
B a l i
R i a u
DI Yogyakarta
Jawa Tengah
DKI Jakarta
Jawa Timur
Jawa Barat
10 Daerah
Tujuan Wisnus
Lainnya
20%
Jatim, Jabar,
Jateng, JKT,
Sumut,
Banten,
Sumbar,
Sulsel, DIY,
Lampung
80%
G Ga am mb ba ar r 3 3. .1 18 8. . D Da ae er ra ah h T Tu uj ju ua an n W Wi is sn nu us s d di i I In nd do on ne es si ia a
Statistik Wisnus, Depbudpar & BPS, 2008; www.bps.go.id


Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 32

Data di atas menunjukkan bahwa konsentrasi daerah-daerah
yang menjadi asal wisnus adalah pada kota-kota dengan penduduk besar
seperti Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Hal ini menunjukkan
bahwa besarnya populasi berasosiasi positif dengan jumlah wisatawan
nusantara. Dengan kata lain, populasi menjadi potensi penting wisnus.
Sementara itu, daerah-daerah yang menjadi tujuan kunjungan
wisnus masih terkonsentrasi di daerah-daerah yang juga menjadi sumber
atau kantong-kantong wisnus seperti Jawa Barat, Jawa Timur , Jakarta,
dan Jawa Tengah. Beberapa daerah di luar jawa yatu di sebagian
Sumatera (Riau, dan Sumatera Utara), Bali, dan Kalimantan Timur adalah
tujuan wisata potensial lalnnya.
Mendasarkan pada pada kondisi tersebut dapat diasumsikan
bahwa daerah-daerah dengan potensi wisnus tinggi, pada umumnya juga
memiliki tingkat perkembangan produk yang relatif baik yang dibuktikan
dengan tingginya kunjungan wisnus ke daerah-daerah tersebut.













Potensi Wisnus Besar, Jumlah Perjalanan Tinggi
Perkembangan Produk Baik, Kunjungan
Wisnus Tinggi


Propinsi Asal
Jumlah
perjalanan

Propinsi Tujuan
Jumlah
Kunjungan
Jawa Timur 43,935,875 1
Jawa Barat
7,313,055
Jawa Barat 41,565,527 2
Jawa Timur
6,645,757
Jawa Tengah 28,126,629 3
DKI Jakarta
4,668,664
DKI Jakarta 12,582,526 4 Jawa Tengah 3,529,539
Sumatera Utara 10,850,916 5 DI Yogyakarta 3,261,718
Banten 10,554,482 6
R i a u
1,957,925
Sumatera Barat 6,067,137 7
B a l i
1,784,474
Sulawesi Selatan 5,486,473 8 Sumatera Utara 1,724,596
DI Yogyakarta 4,959,914 9 Kalimantan Timur 1,681,484

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 33

3.2.3. Karakteristik Wisatawan Nusantara
Profil dan karakteristik wisatawan nusantara Indonesia menurut
daerah asal, dapat dilihat pada uraian berikut ini :
a. Jenis Kelamin
Wisatawan nusantara di Indonesia pada tahun 2008 sebagian
besar berjenis kelamin laki-laki, dengan persentase sebesar
60,98%, sedangkan wisnus yang berjenis kelamin perempuan
persentasenya sebesar 39,02%.








G Ga am mb ba ar r 3 3. .1 19 9. . K Ko om mp po os si is si i W Wi is sn nu us s B Be er rd da as sa ar rk ka an n J Je en ni is s K Ke el la am mi in n
Sumber : Statistik Wisatawan Nusantara 2008 (Survei Penduduk Indonesia yang
Melakukan Perjalanan), BPS & Depbudpar.














Perempuan 60.98%
Laki-Laki 39.02%
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 34


b. Usia
Berdasarkan usianya, sekitar 23,07% dari total wisnus berusia 35-
44 tahun, yaitu pada kelompok usia mapan, dan ada sebesar
19,17% berusia 25 34 tahun, 18,49% berusia 45-54 tahun,
14,33% berusia 15 24 tahun, 13,91% berusia lebih dari 54 tahun,
dan 11,03% berusia kurang dari 15 tahun.

















c. Kegiatan
Pada tahun 2008, mayoritas wisnus di Indonesia mempunyai latar
belakang kegiatan bekerja. Wisnus yang bekerja telah mempunyai
penghasilan dan menjadi penentu keputusan pembelian terhadap
produk wisata.
Berdasarkan data dapat ditunjukkan bahwa sebanyak 68% adalah
pekerja, 10,51% adalah pelajar/mahasiswa, 9,53% mengurus
rumah tangga, dan 12,36% melakukan kegiatan lainnya.

G Ga am mb ba ar r 3 3. .2 20 0. . K Ko om mp po os si is si i W Wi is sn nu us s B Be er rd da as sa ar rk ka an n U Us si ia a
Sumber : Statistik Wisatawan Nusantara 2008 (Survei Penduduk Indonesia yang
Melakukan Perjalanan), BPS & Depbudpar
< 15 Thn 11.03%
15-24 Th 14.33%
25-34Th 19.17%
35-44Th 23.07%
45-54Th 18.49%
>54Th 13.91%

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 35









G Ga am mb ba ar r 3 3. .2 21 1. . K Ko om mp po os si is si i W Wi is sn nu us s B Be er rd da as sa ar rk ka an n K Ke eg gi ia at ta an n
Sumber : Statistik Wisatawan Nusantara 2008 (Survei Penduduk Indonesia yang
Melakukan Perjalanan), BPS & Depbudpar


d. Lama Tinggal Wisatawan
Dilihat dari lama tinggalnya, wisatawan nusantara tergolong dalam
wisatawan dengan lama tinggal yang pendek 1-3 hari, yaitu
sebanyak 63,86% wisnus menginap selama 1-3 hari. Atau paling
lama wisnus tinggal hingga 1 minggu saja. Hal ini sangat terkait
erat dengan jumlah pengeluaran yang harus mereka keluarkan
serta kemampuan masyarakat untuk melakukan pembelian
terhadap produk pariwisata.








Bekerja 67.59%
Pelajar/Mhsw 10.51%
Mengurus RT 9.53%
Lainnya 12.36%

1 3 Hari 63.86%
4 7 Hari 22.80%
8 14 Hari 7.60%
1 20 Hari 2.40%
21 30 hari 1.99%
>30 hari 1.34%

G Ga am mb ba ar r 3 3. .2 22 2. . K Ko om mp po os si is si i W Wi is sn nu us s B Be er rd da as sa ar rk ka an n L La am ma a M Me en ng gi in na ap p
Sumber : Statistik Wisatawan Nusantara 2008 (Survei Penduduk
Indonesia yang Melakukan Perjalanan), BPS & Depbudpar

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 36

e. Motivasi Kunjungan
Motivasi mengunjungi teman/keluarga (visiting friends and
relatives) masih menjadi tujuan utama dari wisatawan nusantara
dalam melakukan perjalanan, yaitu sebanyak 50,78%, yang disusul
dengan motivasi berlibur/rekreasi keluarga, sebanyak 26,54%.
Dari data tersebut menunjukkan bahwa budaya silaturahmi
penduduk Indonesia sangat tinggi. Beberapa alasan yang
mendasari pergerakan wisatawan nusantara diantaranya meliputi:
1) Kedekatan objek wisata dengan lokasi tempat tinggal,
2) Biaya murah,
3) Bernuansa rekreasi keluarga,
4) Terkait dengan pendidikan sekolah.











G Ga am mb ba ar r 3 3. .2 23 3. . K Ko om mp po os si is si i W Wi is sn nu us s B Be er rd da as sa ar rk ka an n M Ma ak ks su ud d K Ku un nj ju un ng ga an nn ny ya a
Sumber : Statistik Wisatawan Nusantara 2008 (Survei Penduduk Indonesia yang
Melakukan Perjalanan), BPS & Depbudpar

Berlibur 26.54%
Profesi/ Bisnis/
MICE 8.18%
Pendidikan 2.48%
Kesehatan 1.51%
Berziarah/
Keagamaan 3.85%
Mengunjungi
Teman/ Keluarga 50.78%
Olahraga/ Kesenian 0.53%
Lainnya 6.13%

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 37

f. Pola Pengeluaran dan Pengeluaran Per Perjalanan
Pola pembelajaan wisnus di Indonesia masih didominasi oleh
pengeluaran untuk angkutan/transportasi yaitu sebesar 42% dari
total pengeluaran, yang diikuti oleh pengeluaran untuk belanja
cinderamata, makanan dan minuman.
Sementara itu, rata-rata pengeluaran wisnus per orang per
perjalanan (Data 2008) adalah sebesar Rp 547.330,-













g. Tujuan (Dalam dan Luar Propinsi)
Berdasarkan tujuannya, wisnus di Indonesia lebih memilih untuk
melakukan perjalanan di dalam provinsi daripada provinsi lain, yaitu
sekitar 69.52% dari total wisnus yang melakukan perjalanan di
dalam provinsi dan hanya 31.48% yang melakukan perjalanan ke
luar propinsi. Hal ini menginformasikan bahwa perjalanan wisnus
adalah tipe perjalanan jarak pendek (short trip).
G Ga am mb ba ar r 3 3. .2 24 4. . K Ko om mp po os si is si i P Pe en ng ge el lu ua ar ra an n W Wi is sn nu us s
Sumber : Statistik Wisatawan Nusantara 2008 (Survei Penduduk Indonesia
yang Melakukan Perjalanan), BPS & Depbudpar
Akomodasi 11.99%
Makanan&Minuman 19.30%
Angkutan 42.00%
Paket Perjalanan 2.27%
Pramuwisata 0.03%
Pertunjukan Seni 0.04%
Museum dan Budaya 0.15%
Hiburan/Rekreasi 2.39%
Belanja/Cinderamata 16.64%
Lainnya 5.20%

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 38









G Ga am mb ba ar r 3 3. .2 25 5. . T Tu uj ju ua an n P Pe er rj ja al la an na an n W Wi is sn nu us s
Sumber : Statistik Wisatawan Nusantara 2008 (Survei Penduduk Indonesia yang
Melakukan Perjalanan), BPS & Depbudpar



h. Jarak Perjalanan
Berdasarkan jarak yang ditempuh, sebagian besar wisnus yang
melakukan perjalanan dengan jarak antara 100-500 km yaitu
sebanyak 60.40% dan hanya 14,2% wisnus yang melakukan
perjalanan dengan jarak yang jauh (lebih dari 1000 km) yang
kemungkinan ke luar propinsi.









G Ga am mb ba ar r 3 3. .2 26 6. . J Ja ar ra ak k P Pe er rj ja al la an na an n W Wi is sn nu us s
Sumber : Statistik Wisatawan Nusantara 2008 (Survei Penduduk Indonesia yang
Melakukan Perjalanan), BPS & Depbudpar
Dalam Provinsi 69.52%
Provinsi lain 31.48%
< 100 km 11.61%
100 - 500 km 60.40%
501 - 1.000 km 13.79%
> 1.000 km 14.20%

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 39

i. Penggunaan Akomodasi
Berdasarkan penggunaan akomodasinya, sebagian besar wisnus
menggunakan rumah teman/keluarga sebagai tempat menginap.
Hal ini sejalan motivasi mereka yang didominasi pada motivasi
mengunjungi kerabat/keluarga. Selain faktor biaya juga budaya
silahturahmi yang masih kuat.











3.3. Pencitraan dan Komunikasi Pemasaran







G Ga am mb ba ar r 3 3. .2 27 7. . P Pe en ng gg gu un na aa an n A Ak ko om mo od da as si i W WI Is sn nu us s
Sumber : Statistik Wisatawan Nusantara 2008 (Survei Penduduk Indonesia yang
Melakukan Perjalanan), BPS & Depbudpar
< 100 km 11.61%
100 - 500 km 60.40%
501 - 1.000 km 13.79%
> 1.000 km 14.20%

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 40

3.3.Pencitraan dan Komunikasi Pemasaran
3.3.1. Slogan dan Branding
Salah satu upaya dalam meningkatkan pergerakan wisatawan nusantara
di Indonesia adalah dengan membuat slogan yang menimbulkan rasa
cinta tanah air. Sebagai bentuk wujud kepedulian dan upaya menggalang
kecintaan akan tanah air, Pemerintah dalam hal ini Kementerian
Kebudayaan dan Pariwisata telah membuat slogan : Kenali Negerimu
Cintai Negerimu, Ayo Tamasya Jelajahi Nusantara yang telah
disosialisasikan secara luas dan dengan berbagai program promosi di
berbagai media (cetak dan elektronik).


G Ga am mb ba ar r 3 3. .2 28 8. . L Lo og go o K Ke en na al li i N Ne eg ge er ri im mu u, , C Ci in nt ta ai i N Ne eg ge er ri im mu u
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 41

Dalam gambar logo tersebut, secara simbolis dimaknai sebagai
perpaduan antara kecintaan tanah air dan wujud baru sebagai upaya
untuk membantu program pemerintah. Slogan tersebut merupakan
himbauan dan ajakan dari Pemerintah c.q Kementerian Kebudayaan dan
Pariwisata untuk melakukan wisata dalam negeri. Dengan dampak yang
diharapkan dapat memunculkan upaya mencintai negeri sendiri atau
mencintai tanah air.
Adapun tujuan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata membuat
slogan tersebut adalah (www.budpar.go.id):
1. Mengingatkan masyarakat akan wisata (budaya dan alam) di dalam
negeri.
2. Mengajak turis domestik untuk lebih aktif melakukan wisata dalam
negeri.
3. Mengaktifkan sektor wisata domestik yang sangat berpengaruh
terhadap dinamika wisata Indonesia.
Tidak terlepas dari upaya Branding tersebut, beberapa destinasi
pariwisata di Indonesia kini juga telah mengembangkan brand dan slogan
daerahnya masing-masing. Beberapa contoh brand-brand regional yang
muncul ke permukaan adalah brand dan slogan pariwisata Solo, Daerah
Istimewa Yogyakarta, Bandung, Bintan, Padang, Bali, dan lain-lain.
Bahkan di beberapa daerah juga telah berusaha mengembangkan
brand yang dikaitkan dengan event tertentu yang diselenggarakan oleh
daerah tersebut. Fenomena kedua ini ditandai dengan adanya strategi
branding seperti Visit Musi, Visit Aceh, Sail Banda, Visit Lombok,
dan sejenisnya. Strategi branding pertama dan kedua tersebut
menggunakan bahasa Inggris yang menunjukkan bahwa brand
dikembangkan untuk meraih pasar wisatawan nusantara dan sekaligus
menciptakan citra destinasi di mata wisatawan mancanegara.




SLOGAN
VISIT MUSI
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 42






















G Ga am mb ba ar r 3 3. .2 29 9. . B Be eb be er ra ap pa a R Re eg gi io on na al l B Br ra an nd d d di i I In nd do on ne es si ia a

SLOGAN
VISIT
LOMBOK
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 43

PERMASALAHAN BRANDING
Beberapa brand regional yang muncul seringkali ditandai
inkonsistensi penciptaan citra pariwisata suatu daerah tujuan wisata
tertentu. Beberapa kota memiliki brand sendiri di samping brand tingkat
provinsi yang juga dikomunikasikan sebagai semacam umbrella brand.
Sebagai contoh, kota Semarang memiliki brand Semarang Pesona Asia
sementara Jawa Tengah juga mengembangkan brand Passion, Strength,
and Heritage.
Selain isu inkonsistensi yang muncul dari berbagai brand yang
diluncurkan, hal lain yang perlu dikaji lebih lanjut adalah fungsi brand yang
seharusnya bisa menciptakan citra yang positif, unik, dan konsisten dalam
persepsi wisatawan. Brand juga harus mempunyai kekuatan untuk
membedakan (menyatakan keunikan) suatu daerah tujuan wisata
dibandingkan dengan destinasi wisata lainnya. Akan tetapi, beberapa
brand regional kurang dapat mengkomunikasikan dengan jelas produk
wisata/potensi wisata yang dimiliki dan citra unik yang merupakan
kekuatan suatu wilayah. Beberapa brand regional tampak terlalu generik
dan akibatnya kurang berhasil dalam membentuk citra destinasi.






G Ga am mb ba ar r 3 3. .3 30 0. . C Co on nt to oh h R Re ed du up pl li ik ka as si i R Re eg gi io on na al l B Br ra an nd d y ya an ng g t ti id da ak k e ef fe ek kt ti if f

Selanjutnya, banyak brand yang dikembangkan tanpa mendapat
dukungan program pemasaran yang cukup. Dalam hal ini, tampak bahwa
di beberapa daerah proses branding dianggap hanya meliputi penciptaan
logo dan slogan. Padahal, brand yang dikembangkan harus terus
dipasarkan dan didukung berbagai program yang memperkuat brand
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 44

tersebut. Beberapa brand regional bahkan belum tentu dikenal oleh
masyarakat di daerah tersebut dan tidak secara konsisten dipasarkan
kepada wisatawan melalui semua event dan promosi pariwisata daerah
yang bersangkutan.





















Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 45

Berikut ini adalah contoh beberapa regional branding yang telah
dimiliki beberapa daerah :



















G Ga am mb ba ar r 3 3. .3 31 1. . B Be eb be er ra ap pa a R Re eg gi io on na al l B Br ra an nd d y ya an ng g s su ud da ah h p po op pu ul le er r

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 46

3.3.2. Media Komunikasi Pemasaran
Berbagai program termasuk slogan tidak akan mampu menjamin
keberhasilan tanpa adanya strategi komunikasi yang tepat. Salah satu
cara menentukan strategi komunikasi yang baik adalah dengan memiliki
media komunikasi yang relevan, dan prosesnya disebut dengan promosi.
Promosi (promotion) itu sendiri, adalah suatu cara menginformasikan
atau memberitahukan kepada calon wisatawan tentang produk yang
ditawarkan dengan memberitahukan tempat-tempat dimana orang dapat
melihat atau melakukan kunjungan ke suatu destinasi wisata secara tepat.
Cara berpromosi akan berbeda-beda, tergantung dimana akan berpromosi,
target promosi, dan media promosi yang digunakan.
Media promosi yang digunakan selama ini (untuk segmen domestik/
atau wisnus) sebenarnya tidak dapat secara spesifik dipisahkan dengan
media promosi yang digunakan oleh wisman kecuali dalam hal
penggunaan bahasa yang spesifik (bahasa Indonesia), baik berupa media
cetak, maupun media elektronik. Contoh media cetak dan media
elektronik yang dapat digunakan dalam melakukan promosi adalah :
a) Alat-alat promosi dengan menggunakan media cetak antara lain :
koran, majalah, tabloid, buletin, leaflet, brosur, poster, buku panduan
wisata, peta, katalog, baliho, booklet.
b) Alat-alat promosi dengan menggunakan media elektronik antara lain :
TV, radio, internet, CD, film, VCD, DVD, e-mail, promotional video.
Dalam konsep horizontal marketing, promosi yang dilakukan
untuk segmen wisnus adalah dengan memanfaatkan komunitas yang ada
di masyarakat. Ada dua metode pendekatan dalam melakukan promosi,
yaitu off line melalui intimacy dan on line melalui excitement. Off line
melalui intimacy adalah mendekati komunitas untuk membuat kesaksian
tentang destinasi dan produk pariwisata Indonesia (testimonial).
Sedangkan on line melalui excitement, menggunakan teknologi informasi,
komunitas internet misal blog, facebook, millist, memberikan cerita atau
kesaksian tentang Indonesia.


Dalam konsep horizontal marketing, promosi yang dilakukan untuk segmen wisnus
adalah dengan memanfaatkan komunitas yang ada di masyarakat. Ada dua metode
pendekatan dalam melakukan promosi, yaitu off line melalui intimacy dan on line
melalui excitement. Off line melalui intimacy adalah mendekati komunitas untuk
membuat kesaksian tentang destinasi dan produk pariwisata Indonesia (testimonial).
Sedangkan on line melalui excitement, menggunakan teknologi informasi, komunitas
internet misal blog, facebook, millist, memberikan cerita atau kesaksian tentang
Indonesia.

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 47

Berikut ini adalah contoh-contoh promosi pemasaran pariwisata
nusantara dengan menggunakan media cetak, media elektronik, maupun
dengan pendekatan komunitas :
Media Cetak















G Ga am mb ba ar r 3 3. .3 32 2. . Media Cetak berbahasa Indonesia yang sudah populer dan dapat
menjadi informasi wisata bagi segmen wisnus
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 48












Gambar 3.33. Brosur-brosur yang banyak digunakan untuk mempromosikan
obyek-obyek wisata









Gambar 3.34. Contoh Brosur yang menarik (komposisi warna yang eye catching, fitur
yang unik, dan informasi yang menarik)

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 49











Gambar 3.35. CONTOH BROSUR YANG MENARIK (informasi yang
menarik dengan penawaran khusus, promosi atraksi baru)









Ragam Obyek
yang terkesan
variatif
Harga paket
yang kompetitif
dan murah
Informasi
Program yang
beragam
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 50





















Gambar 3.36. BROSUR YANG MENARIK (fitur yang menggambarkan suasana
segmen yang dibidik Segmen keluarga di Ancol Water Park)

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 51





















Gambar 3.37. brosur yang kurang menarik, baik dari segi lay out maupun grafis.
masih minim informasi


brosur yang kurang menarik baik dari grafis :
- Komposisi Warna
- Materi
- Tema
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 52

Media Elektronik
Berikut adalah contoh-contoh promosi yang secara tidak langsung juga
menjangkau segmen wisnus :
1. Kerjasama dengan stasiun televisi untuk mengadakan program acara
wisata, seperti : Wisata Kuliner, Jelajah, Archipelago, Koper dan
Ransel, Jejak Petualang, dll untuk mempromosikan pariwisata dalam
negeri. Program ini ditayangkan di TV nasional, sehingga
memungkinkan menjangkau berbagai kelompok segmen di berbagai
daerah.










Program ini sudah berjalan, walau belum terukur
dampaknya dalam menggerakkan perjalanan wisata
(wisnus maupun wisman)
Gambar 3.38 Program Wisata Kerjasama dengan TV

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 53

2. Pembuatan film nasional yang bersetting keindahan alam Indonesia,
seperti : Denias Senandung di Atas Awan, Laskar Pelangi.
































Contoh dari upaya-upaya mengangkat tema keindahan destinasi
pariwisata di Indonesia

Gambar 3.39. Produksi Film Dengan Setting Destinasi



Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 54


3. Pembuatan website pariwisata, misalnya : www.yogyes.com,
www.jakarta-tourism.go.id, www.bandungtourism.com, dll. Sebagai
penunjang informasi wisata di berbagai destinasi di Indonesia























Gambar 3.40.
Website Khusus
Pariwisata

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 55


Community Marketing
1. Kerjasama dengan komunitas di masyarakat agar memberikan cerita
(word of mouth) tentang destinasi dan produk pariwisata Indonesia,
kepada komunitasnya secara langsung dengan emosi keakraban,
kekeluargaan, persabatan, satu pekerjaan, satu profesi, satu hobi (off
line melalui intimacy).











Contoh keberadaan komunitas hobi yang dapat
menjadi salah satu media menyebarluaskan
informasi dan kegiatan pariwisata : komunitas
pecinta alam, komunitas pengguna sepeda,
komunitas motor, dsb.
Gambar 3.41.
Contoh Komunitas
Hobbies

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 56

2. Promosi menggunakan teknologi informasi dan komunitas internet
untuk menceritakan tentang pariwisata Indonesia (on line melalui
excitement), misalnya : komunitas blogger, komunitas di facebook ,
dll. (Blog Tempat Wisata Indonesia, Blog Ayo Tamasya Jelajahi
Nusantara, Blog Solo Agregator, dll)

Contoh komunitas blogger :















Gambar 3.42.
Contoh Komunitas
Blogger

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 57

Contoh komunitas di facebook :



















Gambar 3.43. Contoh Komunitas Facebook

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 58

Contoh komunitas di TWITTER:



Gambar 3.44. Contoh Komunitas Twitter

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 59

Contoh komunitas di TWITTER dan Jumlah Follower nya:



















Mendapatkan
Follower
bukan suatu
hal yang
mudah !
Dibutuhkan setidaknya :
- Informasi yang selalu upto date
- Fitur yang unik
- Slogan yang menarik
- Variasi dalam materi (konten)

Gambar 3.45. Contoh Komunitas Twitter dan Followernya

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 60

Contoh komunitas di TWITTER DENGAN ICON (ROLE MODEL)



















Mendapatkan
Follower
bukan suatu
hal yang
mudah !
Gambar 3.46.
Contoh Komunitas
Twitter dan Icon

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 61





















Contoh Penggunaan Upload
Video Pariwisata dan Jumlah
Viewer
Gambar 3.47. Contoh Upload
Video Pariwisata di Youtube

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 62

3.4. Kelembagaan Pemasaran Wisatawan Nusantara
3.4.1. Kelembagaan
Dengan berjalannya sistem otonomi daerah, telah membawa
dampak yang sangat luas kepada perubahan peran dan fungsi lembaga-
lembaga administrasi pusat dan daerah. UU No. 32/2004 yang
memberikan otonomi pada hampir semua bidang kegiatan ke daerah,
telah membawa reposisi institusi pusat ke pemerintah daerah. Demikian
pula dengan dampaknya pada pembangunan bidang pariwisata, yang
telah menempatkan Pemerintah pada fungsinya sebagai fasilitator melalui
perumusan kebijakan-kebijakan nasional dan koordinasi-koordinasi
pembangunan. Peran ini menuntut Pemerintah untuk menghasilkan
berbagai perangkat yang mampu mengakomodasikan tugasnya sebagai
pengarah (directing) dan pengkoordinasi (coordinating) melalui kebijakan-
kebijakan strategis, yang selanjutnya dapat dijadikan pedoman oleh
instansi teknis di pusat dan daerah melalui berbagai program
pembangunan, demikian halnya dengan kegiatan pemasaran pariwisata.
Era otonomi memang tidak sepenuhnya menjadi media
pendistribusian kewenangan, dalam konteks ini otonomi adalah sebuah
kebijakan politis yang memuat unsur mendidik kemandirian daerah. Era
otonomi masih tetap memerlukan intervensi pemerintah khususnya dalam
perumusan berbagai kebijakan-kebijakan strategis pembangunan yang
bersifat makro dan jangka panjang, demikian pula halnya dengan industri
pariwisata, khususnya di dalam kegiatan pemasaran pariwisata.
Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata sebagai institusi yang
menangani kepariwisataan nasional dihadapkan pula pada tuntutan
sebagai agen pengembang citra pariwisata nasional (country image).
Peran sisi eksternal dalam membentuk country image, dan peran internal
sebagai program directing dan coodinating perlu dijawab melalui
perumusan kebijakan yang tepat sasaran dan terarah, baik untuk aspek
produk, pemasaran, SDM, teknologi, kemitraan, hubungan dengan luar
negeri dan lain sebagainya. Tuntutan lain yang tidak kalah penting adalah,
menyiapkan kerangka kerja dan kerangka tindak yang dapat menjadi
acuan untuk bersaing.
Pada saat ini beberapa destinasi di Indonesia telah memiliki Badan
Pariwisata yang merupakan otorita di bawah kerjasama pemerintah dan
swasta, seperti: Badan Pariwisata Batam ataupun Bali Tourism Board
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 63

(BTB), yang memiliki kewenangan dalam mengupayakan percepatan
pembangunan pariwisata di daerahnya masing-masing. Peran sentral
Badan Pariwisata tersebut adalah yang menjembatani kebijakan
pemerintah di bidang pariwisata dengan aspirasi kalangan industri
pariwisata. Badan ini berfungsi untuk membantu promosi dan
pengembangan pariwisata baik di tingkat regional bahkan nasional.
Kegiatan pemasaraan hingga saat ini sering dilakukan secara
langsung oleh masing-masing daerah, baik di tingkat Nasional, Provinsi,
maupun di tingkat Kabupaten/Daerah. Pada tahun 2009 Jumlah anggaran
Departemen Pariwisata adalah 1,1 Triliun dengan alokasi anggaran
sebanyak Rp.289 Milliar untuk mempromosikan pariwisata Indonesia.
Berdasarkan kondisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sangat
diperlukan pembangunan pemasaran akan sangat efektif dan efisien
apabila dilakukan secara co-operative. Sedangkan Pemerintah dan
Pemerintah Daerah masih menjadi ujung tombak bagi kegiatan
pemasaran daerah dengan anggaran dengan jumlah sedikit yang diambil
dari APBN. Disisi lain, pariwisata telah memberikan kontribusi besar
terhadap pengembangan perekonomian daerah melalui PAD. Selain itu,
hal penting lainnya adalah adalah diperlukannya suatu wadah yang
bersifat mandiri untuk peningkatan pemasaran pariwisata Indonesia.
Beberapa contoh kelembagaan pariwisata adalah seperti yang
sudah dilaksanakan di beberapa daerah :
1. MANGGARAI - KOMODO
Area project : Labuhan Bajo dan Komodo, Manggarai Barat
Labuhan bajo merupakan titik utama kedatangan ke Taman
nasional komodo, yang dikenal dengan adanya dragon komodo
dan berada di lokasi diving terbaik. Dengan infrasturktur pariwisata
yang baik dan jumlah atraksi yang lebih luas maka akan lebih
menarik jumlah kunjugan wisatawan.

Tujuan pembentukan proyek wisata
Menciptakan keterlibatan UKM dalam sektor pariwisata
Meningkatkan pelayanan dan fasilitas pariwisata
Menentukan fungsi- fungsi promosi yang efektif
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 64

Pembentukan DMO Lokal (Labuhan Bajo) dan Regional
(berpusat di Bali)




Target Group
UKM pada sektor pariwista flores barat
Pemerintah lokal pada kabupaten manggarai barat
Masyarakat desa yang memiliki aktivitas potensi eko wisata
Organisasi organisasi bisnis
Asosiasi jasa dan pelayanan pariwisata
Media Pers
Gambar 3.48. DMO Manggarai Komodo

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 65

Komponen Proyek WiSATA Destination Management
Organization (DMO) Manggarai Barat
- Lingkungan yang kondusif : penerapan mekanisme triple A
bersama dengan pemerintah daerah dan pihak lokal yang
berkepentingan
- Mutu pelayanan : mendukung peningkatan keterampilan
ekowisata, pelayanan yang diberikan serta penyedia jasa
setempat
- Pemasaran eko wisata : memperbaiki strategi promosi dan
pemasaran pariwista manggarai barat di Bali, Indonesia dan
internasional
- Akses keuangan : meningkatkan akses terhadap sumber
pembiayaan alternatif dan skema pinjaman
Sasaran Proyek WiSATA - Destination Management
Organization (DMO) Manggarai Barat
Meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan pengentasan
kemiskinan bagi kelompok masyarakat tertentu di manggarai barat.
Hal ini dapat dicapai melalui promosi eko-wisata yang lebih selektif,
peningkatan mutu usaha kecil dan menengah serta upaya
meningkatkan kemampuan daearh secara intensif
Fungsi utama DMO lokal
melakukan koordinasi lintas sektor, lintas pemangku kepentingan
yang berhubungan dengan semua aktivitas pengembangan
destinasi secara internal. Sedangkan DMO regional lebih berfokus
pada aktivitas promosi pemasaran destinasi Flores
Evaluasi Kritis
Pembentukan DMO yang berorientasi pada Manajemen
Pemasaran, Manajemen Lingkungan (dengan memusatkan
pada perencanaan dan konservasi lingkungan TN Komodo dan
Pengembangan UKM industri kepariwistaan
Orientasi pada Manajemen Pemasaran terkesan dominan
dalam DMO Manggarai kareana salah satu tujuan dari proyek
WiSATA adalah mengkoordinasi perencanaan pemasaran eko-
wisata dan promotional website www.floreskomodo.com
(keluaran pemasaran)
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 66

Tidak menjadikan masyarakat sebagai stakeholder utama
Sasaran utama yang diberikan hanya berpusat pada kontribusi
meningkatkan kualitas dari penyedia eko-wisata yang ada
dengan cara menggalakan pelatihan pelatihan dan seminar
eko-wisata
Keberpihakan kepada masyarakat sangat minim.

2. PANGANDARAN (LP3)
Tujuan Pembentukan Lembaga Pengelola Pariwisata
Pangandaran (LP3)
a. Optimalisasi, efisien, dan peningkatan akuntabilitas
pengelolaan Pariwisata Pangandaran.
b. Menciptakan mekanisme yang efektif, koordinasi lintas
sektoral yang jelas dalam pengelolaan pariwisata
berkelanjutan.
c. Mengembangkan dan mempromosikan pariwisata
berkelanutan di Pangandaran sebagai pendorong
pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Ciamis.
d. Meningkatkan peran aktif masyarakat dengan memperluas
kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat
dari kegiatan pariwisata.
e. Menjaga kelestarian keanekaragaman hayati laut dan darat
serta jasa lingkungan ekosistem Pangandaran.
Berikut struktur organisasi Dewan Pengelola Pariwisata
Pangandaran:

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 67

DEWAN PENGELOLA
PARIWISATA PANGANDARAN
KETUA
BENDAHARA
ANGGOTA (para pihak terkait)
STAKEHOLDER UTAMA
STAKEHOLDER PENDUKUNG
DEWAN PENASIHAT
PARIWISATA
PANGANDARAN
Eksekutif & Legislatif
Nasional, Propinsi,
Kabupaten
BADAN PELAKSANA
PARIWISATA PANGANDARAN
(ditetapkan oleh Dewan Pengelola)
SEKRETARIS
DIREKTUR EKSEKUTIF
KEUANGAN & ADMIN SEKRETARIS
BIDANG
USAHA
WISATA
BIDANG
PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT
BIDANG
PELESTARIAN
SDA & BUDAYA
BIDANG
..
DEWAN PENGELOLA
PARIWISATA PANGANDARAN
KETUA
BENDAHARA
ANGGOTA (para pihak terkait)
STAKEHOLDER UTAMA
STAKEHOLDER PENDUKUNG
DEWAN PENASIHAT
PARIWISATA
PANGANDARAN
Eksekutif & Legislatif
Nasional, Propinsi,
Kabupaten
BADAN PELAKSANA
PARIWISATA PANGANDARAN
(ditetapkan oleh Dewan Pengelola)
SEKRETARIS
DIREKTUR EKSEKUTIF
KEUANGAN & ADMIN SEKRETARIS
BIDANG
USAHA
WISATA
BIDANG
PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT
BIDANG
PELESTARIAN
SDA & BUDAYA
BIDANG
..

Pada dasarnya kelembagaan tersebut sebenarnya tidak spesifik
diperuntukkan bagi wisatawan domestik, tetapi mencakup wisatawan
manca maupun domestik. Keberadaan model kelembagaan tersebut
masih belum berjalan optimal karena berbagai kendala.








KONDISI (PERMASALAHAN) KONDISI (PERMASALAHAN) KONDISI (PERMASALAHAN) KONDISI (PERMASALAHAN)
KELEMBAGAAN KELEMBAGAAN KELEMBAGAAN KELEMBAGAAN
1. Kelembagaan pemasaran secara umumbelummemiliki format yang spesifik
terutama dari segi Desain Organisasi. Tidak semua daerahmemiliki badan-badan
promosi pariwisata
2. Beberapa badan pariwisata yang ada belumdapat berjalan optimal karena
berbagai kendala terutama biaya operasional
3. Badanpromosi yang sudahberjalan di Indonesia misalnya Manggarai Komodo,
Lembaga Pengelola Pariwisata Pangandaran, Badan Promosi Pariwisata
Yogyakarta, Java Promo
4. Kemitraan terkait dengan program pengembangan wisnus dapat dikatakan belum
optimal terutama partisipasi yang masih rendahdari berbagai pihak, kurangnya
koordinasi, dan inisiatif kerjasama.
2
Gambar 3.49.
DMO
Pangandaran

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 68

3.4.2. Kemitraan
Kemitraan pariwisata yang sudah berjalan selama ini sebenarnya
relatif sudah beragam yang dapat ditunjukkan pada model-model
kerjasama promosi, walaupun dalam penyelenggaraanya seringkali
kurang terkoordinasi dan belum spesifik membidik segmen wisatawan.













Gambar 3.50. Contoh Kemitraan antara Hotel dan Bank

- Bersifat Business to Business (B2B)
- Hotel menawarkan diskon khusus bagi pengguna credit card
dari bank-bank tertentu



Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 69

















Gambar 3.51. Contoh Kemitraan antara Pertamina dan Bank Mandiri

- Bersifat Business to Business (B2B)
- Pertaminan bekerjasama dengan Bank menawarkan liburan
bersama, dengan beberapa door prize yang menarik




Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 70












Gambar 3.52. Contoh Program Travel Now Pay Later oleh Bank













B2C (Insentif dari swasta)
B2C (Liburan dengan Credit Card Travel Now Pay Later)
Gambar 3.53. Contoh Insentif Wisata melalui CSR
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 71


























G2B (Program Great Sale dengan Dukungan Pemerintan untuk
mendorong pergerakan wisnus dari berbagai daerah sekitar)
B2B2C (Airlines-Bank-Consumer)
dengan penawaran tiket murah ke
berbagai destinasi di Indonesia
Gambar 3.54. Contoh Program Kemitraan Pemerintah dengan
Pengusaha Melalui Program Great Sale
Gambar 3.55. Contoh Program Kemitraan Airlines dengan
Destinasi (Pemerintah) Juga Dunia Usaha (Bank)
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
III - 72




















10
G2B/G2C : Insentif
Mudik bersama, Mudik
G2C : Keputusan Cuti Bersama
yang sudah dihapuskan sejak
2009 karena menuai pro dan
kontre
Gambar 3.56. SKB Kebijakan Cuti Bersama Penggerak Perjalanan WIsnus
Gambar 3.57. Insentif Mudik Bersama

























4. Analisis Segmentasi
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 1


IV. ANALISIS SEGMENTASI


4.1. Lingkup Segmentasi
Sebelum pembahasan secara terfokus lingkup segmentasi,
sebagaimana telah dijelaskan dalam Bab2. Pengertian, Lingkup, dan
Paradigma. Perlu terlebih dahulu dikemukakan bahwa BPS memiliki
tipologi segmentasi tersendiri mengenai wisatawan nusantara
Selaku selaku otoritas yang secara rutin melaksanakan kegiatan
penelitian, terutama dalam kaitannya dengan data base Statistik
Wisatawan Nusantara, BPS membagi lingkup segmentasi wisatawan
nusantara (wisnus) ke dalam beberapa kelompok berikut ini :
1) Berdasarkan daerah asal
Segmentasi ini kemudian memunculkan karakteristik-karakteristik
dari wisnus yang dapat diperinci atas dasar : jenis
kelamin,kelompok umur, status perkawinan, pendidikan, akomodasi
yang digunakan
2) Berdasarkan daerah tujuan
Seperti halnya segmentasi berdasarkan daerah asal ini, tipe
segmentasi ini juga memunculkan karakteristik-karakteristik dari
wisnus yang dapat diperinci atas dasar : jenis kelamin,kelompok
umur, status perkawinan, pendidikan, akomodasi yang digunakan.
3) Berdasarkan rata-rata pengeluaran perjalanan yang dibedakan
pada pengeluaran akomodasi, makanan dan minuman, angkutan,
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 2
pertunjukkan seni, museum, dan jasa kebudayaan, jasa
hiburan/rekreasi, jasa pariwisata lainnya, cinderamata belanja,
lainnya.
4) Berdasarkan lama berpergian (dengan satuan hari) dan lama
menginap (dengan satuan malam)
5) Berdasarkan karateristik lain :
a. Kegiatan utama : bekerja, pelajar/mahasiswa, mengurus rumah
tangga
b. Maksud kunjungan : berlibur, profesi/Bisnis/MICE, pendidikan,
kesehatan, berziarah/keagamaan, mengunjungi
teman/keluarga, olah raga/kesenian, lainnya.
c. Jarak tempuh perjalanan : terdiri dari perjalanan <100km, 100
500km, 501-1000km, >1000km.
d. Status pekerjaan utama : berusahan tanpa bantuan, berusaha
dengan bantuan, buruh, PNS/TNI, pekerja tidak dibayar.
Berdasarkan hasil observasi data yang diperoleh selama proses
penelitian berlangsung, dan setelah melalui beberapa tahap diskusi
dengan pakar dalam forum-forum Focus Group Discussion (FGD)
disimpulkan bahwa tidak semua kategori segmentasi sebagaimana
dikeluarkan BPS akan digunakan.
Dalam hal ini, penentuan segmen dilakukan pada kelompok-
kelompok yang dinilai memiliki keterkaitan signifikan dengan strategi
promosi dan pemasaran yang akan dilakukan. Kelompok segmen tersebut
dikelompokkan sebagai berikut :
1) Segmentasi Basis Motivasi :
a. Segmen Silahturahmi (VFR), termasuk dalam segmen ini
adalah segmen pendidikan
b. Segmen Wekeenders
c. Segmen Ziarah
d. Segmen Hobbies
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 3
e. Segmen MICE
2) Segmentasi Demografis
a. Segmen Ekspatriat
b. Segmen Berdasarkan Usia
Pada lingkup kebijakan, selain didasarkan pada segmentasi
sebagaimana dikelompokkan di atas, kebijakan yang terbagi kedalam
kebijakan pengembangan pasar, pengembangan citra, dan
pengembangan kelembagaan dan kemitraan. Akan dijabarkan pula
kebijakan yang sifatnya generik yang merupakan tindak lanjut maupun
inovasi program-program reguler yang sudah berjalan selama ini.

4.2. Segmentasi Basis Motivasi
Wisatawan nusantara sejauh ini belum memilki segmentasi yang
jelas. Namun demikian, berdasarkan hasil pengamatan di lapangan,
setidaknya diindikasikan adanya 5 (lima) jenis motivasi yang lekat dengan
tipologi pergerakan wisatawan nusantara, yaitu :
1) Motivasi Silaturahmi (Visiting Friend and Relatives/VFR)
2) Motivasi Weekenders
3) Motivasi Ziarah
4) Motivasi Hobbies
5) Motivasi MICE/Bisnis
Secara lebih jelas, masing-masing kelompok motivasi dapat
diperinci sebagai berikut :

4.2.1. Silahturahmi (VFR)
A. Pengertian dan Lingkup
VFR atau yang populer dikenal dengan istilah mengunjungi teman,
kerabat, atau relasi merupakan budaya yang sangat melekat
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 4
dengan kebiasaan orang Indonesia. Budaya ini tercermin dari
berbagai tradisi seperti mudik lebaran, kegiatan wisuda, hingga
menyempatkan diri ke luar kota untuk mengunjungi kerabatnya yang
lama bertemu.
VFR atau yang populer dikenal dengan istilah mengunjungi teman,
kerabat, atau relasi merupakan budaya yang sangat melekat
dengan kebiasaan orang Indonesia.
Budaya ini tercermin dari berbagai tradisi seperti mudik lebaran,
pulang basamo, hingga menyempatkan diri ke luar kota untuk
mengunjungi kerabatnya yang lama tidak bertemu misalnya acara
hajatan keluarga, kumpul keluarga (family gathering), arisan
keluarga trah, clan dsb
Termasuk dalam segmen ini adalah segmen pendidikan yang
mencakup kegiatan-kegiatan seperti kunjungan keluarga dalam
rangka wisuda, liburan sekolah/semester, pendaftaran sekolah baru,
dsb.





B. Karakteristik VFR
Karakteristik segmen VFR dapat dibedakan dengan beberapa kriteria
sebagai berikut :
1. Segmen VFR Berdasarkan Umur
Berdasarkan umurnya, segmen VFR banyak didominasi oleh
usia 45 54 tahun (35%). Kelompok usia ini biasanya relatif
sudah mapan, sehingga memiliki kemampuan ekonomi lebih
untuk melakukan perjalanan ke daerah lain.

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 5









Gambar 4.1. Karakteristik Segmen VFR Berdasarkan Umur
Sumber : Survei, 2010

2. Segmen VFR Berdasarkan Frekwensi Kunjungan
Berdasarkan frekwensi kunjungannya, segmen VFR banyak
didominasi oleh kelompok repeater (58%). Mayoritas segmen
VFR pada umumnya telah melakukan kunjungan ulang
(rutin/berkala) datang kepada kerabat atau relasinya.









Gambar 4.2. Karakteristik Segmen VFR Berdasarkan Frekuensi
Kunjungan
Sumber : Survei, 2010
58%
42%
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60%
Ulang
Pertama
Segmen VFR berdasarkan Frekwensi Kunjungan
7%
22%
27%
39%
5%
0% 10% 20% 30% 40%
< 15 Tahun
14-24 Tahun
25-34 Tahun
45-54 Tahun
>54 Tahun
Segmen VFR berdasarkan UMUR
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 6

3. Segmen VFR Berdasarkan Moda
Berdasarkan moda angkutan sebagian besar menggunakan
kendaraan pribadi (67%).

Gambar 4.3. Karakteristik Segmen VFR Berdasarkan Moda
Sumber : Survei, 2010
4. Segmen VFR Berdasarkan Waktu Kunjungan
Berdasarkan waktu kunjungannya, segmen VFR melakukan
kunjungan pada waktu-waktu khusus yaitu akhir pekan atau
libur panjang (long weekend)

Gambar 4.4. Karakteristik Segmen VFR Berdasarkan Waktu
Kunjungan
Sumber : Survei, 2010
67%
33%
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70%
Pribadi
Angk. Umum
Segmen VFR berdasarkan Moda
72%
28%
0% 20% 40% 60% 80%
Waktu Khusus
Setiap Saat
Segmen VFR berdasarkan Waktu Kunjungan
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 7
5. Segmen VFR Berdasarkan Cara Perjalanan
Berdasarkan cara perjalanannnya, segmen VFR banyak
melakukan kunjungan bersama keluarga (38%), dengan teman
(26%), dengan rombongan (19%), sendiri (11%), dan lainnya
(6%).








Gambar 4.5. Karakteristik Segmen VFR Berdasarkan Cara
Perjalanan
Sumber : Survei, 2010
6. Segmen VFR Berdasarkan Besaran Pembelanjaan
Berdasarkan besaran pembelanjaannya, segmen VFR
berbelanja rata-rata antara 200 - 500 ribu rupiah dalam sekali
kunjungan (39%).






Gambar 4.6. Karakteristik Segmen VFR Berdasarkan Besaran
Pembelanjaan
Sumber : Survei, 2010
13%
39%
35%
0% 10% 20% 30% 40%
<200.000 Rp
200.000 - 500.000
Rp
> 500.000 Rp
Segmen VFR berdasarkan Besar Pembelanjaan
19%
26%
38%
11%
0%
6%
0% 10% 20% 30% 40%
Rombongan
Dengan Teman
Dengan Keluarga
Sendiri
Paket Tour
Tidak Diketahui
Segmen VFR berdasarkan Cara Perjalanan
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 8
7. Segmen VFR Berdasarkan Pola Pembelanjaan
Mayoritas pembelanjaan dialokasikan untuk keperluan makan
minum (38%), Suvenir (36%), dan Transportasi (15%).








Gambar 4.7. Karakteristik Segmen VFR Berdasarkan Pola
Pembelanjaan
Sumber : Survei, 2010
8. Segmen VFR Berdasarkan Profesi
Segmen VFR berdasarkan profesinya sebagian besar adalah
wiraswasta (26%), Karyawan (22%), Pelajar (14%) ,
Professional (8%), PNS (12%), Militer (10%), dan lainnya (8%)








Gambar 4.8. Karakteristik Segmen VFR Berdasarkan Profesi
Sumber : Survei, 2010
14%
22%
26%
8%
10%
12%
8%
0% 5% 10% 15% 20% 25% 30%
Pelajar
Karyawan
Wiraswasta
Profesional
Militer
PNS
Lainnya
Segmen VFR berdasarkan Profesi
25%
38%
24%
6%
7%
0% 10% 20% 30% 40%
Transportasi
Makan dan Minum
Suvenir
Keperluan Khusus
Lainnya
Segmen VFR berdasarkan Pola Pembelanjaan
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 9

9. Segmen VFR Berdasarkan Obyek Wisata yang diminati
Segmen VFR berdasarkan obyek wisata yang diminati adalah
Pantai (32%), dan Taman Bertem (kebun binatang, water boom,
play ground, area outbound, kebun raya, dsb) (28%).









Gambar 4.9. Karakteristik Segmen VFR Berdasarkan Obyek yang
dikunjungi
Sumber : Survei, 2010

C. Kecenderungan Perjalanan
Kecenderungan perjalanan segmen VFR dipengaruhi setidaknya
oleh 2 hal berikut :
Libur panjang - long holiday (cuti bersama, mudik lebaran) /
long weekend
Kegiatan adat keluarga (pernikahan, reunion, hajatan lainnya)
pada bulan-bulan tertentu

D. Potensi VFR
Berdasarkan hasil survey Statistik Wisatawan Nusantara Tahun 2008,
ternyata lebih dari setengah penduduk Indonesia yang melakukan
32%
13%
9%
28%
11%
7%
0% 10% 20% 30% 40%
Pantai
Belanja
Pegunungan
Taman bertema (theme park)
Budaya dan Peninggalan Sejarah
City Tour
Segmen VFR berdasarkan Obyek Wisata yang
dikunjungi
perjalanan bertuj
sebesar 55,33%. Sedangkan motivasi kunjungan untuk berlibur
hanya sebesar 29,42%. Dari data tersebut menunjukkan bahwa
masih tingginya budaya silaturahmi penduduk Indonesia
dikenal dengan motivasi
.









Gambar 4.10
Kerabat/Relasi/Teman
Sumber : Depbudpar, 2008
Potensi VFR juga dapat dilacak d
berikut dapat digambarkan potensi segmen








Gambar 4.11. Potensi Segmen Pendidikan di Indonesia
Sumber : Depbudpar, 2008
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
perjalanan bertujuan untuk mengunjungi teman atau kerabat
sebesar 55,33%. Sedangkan motivasi kunjungan untuk berlibur
hanya sebesar 29,42%. Dari data tersebut menunjukkan bahwa
masih tingginya budaya silaturahmi penduduk Indonesia atau yang
dikenal dengan motivasi Visiting Friend and Relatives (VFR)
0. Tingginya Motivasi Dalam Mengunjungi
Kerabat/Relasi/Teman
Sumber : Depbudpar, 2008
i VFR juga dapat dilacak dari keberadan segmen pendidikan,
berikut dapat digambarkan potensi segmen pendidikan di Indonesia :
Gambar 4.11. Potensi Segmen Pendidikan di Indonesia
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
atau kerabat, yaitu
sebesar 55,33%. Sedangkan motivasi kunjungan untuk berlibur
hanya sebesar 29,42%. Dari data tersebut menunjukkan bahwa
atau yang
(VFR).
Tingginya Motivasi Dalam Mengunjungi
ari keberadan segmen pendidikan,
pendidikan di Indonesia :

KEBERADAAN SEGMEN DI PUSAT
Segmen pendidikan tersebar di berbagai kota di Indonesia, khususnya di
Jawa. Segmen ini diindikasikan juga mampu membangkitkan
wisatawan nusantara, yaitu kunjungan para orang tua siswa, atau kerabat
pada saat upacara wisuda, atau pendaftaran mahasiswa baru. Long
weekend juga menjadi salah satu faktor penggerak segmen pendidikan
melakukan perjalanan misalnya pulang kampung halaman, atau
menjenguk keluarga.


















Gambar 4.12. Kantong
Perguruan Tinggi)
Sumber : Depbudpar, 2008

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
KEBERADAAN SEGMEN DI PUSAT-PUSAT PENDIDIKAN
Segmen pendidikan tersebar di berbagai kota di Indonesia, khususnya di
diindikasikan juga mampu membangkitkan pergerakan
wisatawan nusantara, yaitu kunjungan para orang tua siswa, atau kerabat
pada saat upacara wisuda, atau pendaftaran mahasiswa baru. Long
weekend juga menjadi salah satu faktor penggerak segmen pendidikan
akukan perjalanan misalnya pulang kampung halaman, atau
menjenguk keluarga.
Gambar 4.12. Kantong-Kantong Segmen Pendidikan di Luar Jawa (Lokasi
Sumber : Depbudpar, 2008
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
Segmen pendidikan tersebar di berbagai kota di Indonesia, khususnya di
pergerakan
wisatawan nusantara, yaitu kunjungan para orang tua siswa, atau kerabat
pada saat upacara wisuda, atau pendaftaran mahasiswa baru. Long
weekend juga menjadi salah satu faktor penggerak segmen pendidikan
akukan perjalanan misalnya pulang kampung halaman, atau
Kantong Segmen Pendidikan di Luar Jawa (Lokasi
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara















KARAKTERISTIK SEGMEN PENDIDIKAN
Segmen pendidikan memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut :
1. Musiman, misalnya saat pendaftaran masuk sekolah/universitas,
mengunjungi anak/saudara dalam masa studi, liburan panjang, dan
wisuda kelulusan.
2. Pergerakan yang membawa dampak ikutan yang besar (menarik
kunjungan keluarga) adalah tingkat pendidikan selepas SMU
(perguruan tinggi terutama S1).
3. Moda transportasi untuk SMU atau lebih rendah sebagian besar
menggunakan bus pariwisata, karena kunjungan bersifat kelompok.
4. Moda transportasi terkait dengan pendidikan tinggi (> SMU), moda
transportasi yang digunakan lebih beragam.
Gambar 4.13. Kantong-Kantong Segmen Pendidikan di Jawa (Lokasi
Perguruan Tinggi)
Sumber : Depbudpar, 2008

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 13
E. SW Analisys
Berdasarkan apa yang telah diuraikan di atas, dapat dilakukan
analisis atas keunggulan (potensi) dan kelemahan segmen ini
sebagai berikut :
KEUNGGULAN KELEMAHAN
1. Menjadi motivasi utama
pergerakan wisnus di
Indonesia
2. Karakter budaya yang kuat
yang mendukung
berkembangnya segmen VFR
3. Terjadi di hampir setiap daerah
di Indonesia
4. Tidak memiliki batas-batas
waktu khusus, atau dapat
terjadi sepanjang tahun
(walaupun meningkat tajam
pada hari-hari libur panjang)
1. Bersifat musiman
2. Belum memiliki pola aktifitas
pergerakan yang jelas
terutama dalam kaitannya
dengan obyek-obyek wisata
3. Minim penggunaan fasilitas
wisata seperti akomodasi dan
kunjungan ke obyek
4. Pembelanjaan rendah karena
lebih banyak difasilitasi
keluarga


F. Kebutuhan Pengembangan
Berdasarkan kondisi-kondisi di atas, kebutuhan pengembangan pada
kelompok segmen VFR (dan pendidikan) antara lain adalah :
1. Paket-paket wisata keluarga (theme park : water boom, kebun
binatang, family outbound, dsb)
2. Penyelenggaraan event di DTW saat liburan (Lebaran, Natal-
Tahun Baru, libur sekolah, dll)
3. Pengembangan paket-paket wisata mudik bersama untuk
komunitas, seperti komunitas klan keluarga, komunitas asal
daerah, komunitas hobi, komunitas bikers
4. Pemberian insentif berupa mudik gratis bagi karyawan/
konsumen/ nasabah bank/ pengguna kartu kredit / membercard
tertentu
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 14
5. Pemberian diskon dan sistem kredit (travel now pay later) untuk
pembelian tiket mudik bus/kerata api/ pesawat melalui bank/
perusahaan kartu kredit
6. Pengembangan media promosi untuk segmen VFR/Pendidikan,
secara vertikal (TV program, radio, majalah surat kabar, dan
event) dan horisontal (community, facebook, twiter, blog)
7. Peningkatan kerja sama pemasaran dan promosi antara pelaku
usaha pariwisata dengan perusahaan kartu kredit/ provider
telepon selular /provider membercard
8. Penyelenggaraan event-event khusus di universitas atau
sekolah pada saat-saat musim liburan sekolah ujian masuk,
atau wisuda (pameran kerajinan, pameran pendidikan, book
fair) yang ditujukan bagi siswa maupun orang tua siswa















Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
4.2.2. Weekenders
A. Pengertian dan Lingkup
Weekenders merupakan wisatawan yang melakukan perjalanan
wisata pada hari libur di akhir pekan, yaitu Sabtu dan Minggu
Pada umumnya mereka memanfaatkan hari libur di akhir pekan
untuk melepaskan kejenuhan selama bekerja dengan berlibur
Segmen weekenders terdiri dari family, pekerja, dan remaja





B. Karakteristik Segmen Weekender
Karakteristik segmen ini dapat dibedakan dengan beberapa kriteria
sebagai berikut :
1. Segmen Weekender Berdasarkan Umur
Berdasarkan umurnya, segmen weekender banyak didominasi oleh
usia 45 54 tahun (35%) yang merupakan kelompok-kelompok
pebisnis atau eksekutif perusahaan, juga kelompok usia 25-34
tahun (32%) para eksekutif muda atau karyawan perusahaan,
selain juga segmen pelajar 14 24 Tahun (22%).





7%
22%
32%
35%
4%
0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35%
< 15 Tahun
14-24 Tahun
25-34 Tahun
45-54 Tahun
>54 Tahun
Segmen Weekender berdasarkan UMUR
Gambar 4.14. Karakteristik Segmen Weekender Berdasarkan Umur
Sumber : Survei, 2010

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
2. Segmen Weekenders Berdasarkan Frekuensi Kunjungan
Berdasarkan frekwensi kunjungannya, segmen weekenders banyak
didominasi oleh repeater (68%). Mayoritas segmen weekender
yang pada umumnya telah melakukan kunjungan ulang
(rutin/berkala).









3. Segmen Weekenders Berdasarkan Moda
Berdasarkan moda angkutan sebagian besar menggunakan
kendaraan pribadi karena biasanya mengendarai sendiri dari
Jakarta menuju Bandung atau Bogor.

64%
36%
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70%
Pribadi
Angk. Umum
Segmen Weekender berdasarkan Moda
68%
32%
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70%
Ulang
Pertama
Segmen Weekender berdasarkan Frekwensi
Kunjungan
Gambar 4.15. Karakteristik Segmen Weekender Berdasarkan Frekwensi
Kunjungan
Sumber : Survei, 2010

Gambar 4.16. Karakteristik Segmen Weekender Berdasarkan Moda
Sumber : Survei, 2010

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
4. Segmen Weekenders Berdasarkan Waktu Kunjungan
Berdasarkan waktu kunjungannya, segmen weekenders melakukan
kunjungan pada waktu-waktu khusus yaitu akhir pekan, libur
panjang.


5. Segmen Weekenders Berdasarkan Cara Perjalanan
Berdasarkan cara perjalanannnya, segmen weekender banyak
melakukan kunjungan bersama keluarga (32%), dengan
rombongan (27%), dengan teman (18%), sendiri (13%), paket (2%),
dan lainnya (8%).










68%
32%
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70%
Waktu Khusus
Setiap Saat
Segmen Weekender berdasarkan Waktu Kunjungan
27%
18%
32%
13%
2%
8%
0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35%
Rombongan
Dengan Teman
Dengan Keluarga
Sendiri
Paket Tour
Tidak Diketahui
Segmen Weekender berdasarkan Cara Perjalanan
Gambar 4.17. Karakteristik Segmen Weekender Berdasarkan Waktu
Kunjungan
Sumber : Survei, 2010

Gambar 4.18. Karakteristik Segmen Weekender Berdasarkan Cara
Perjalanan
Sumber : Survei, 2010
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
6. Segmen Weekenders Berdasarkan Besaran Pembelanjaan
Berdasarkan besaran pembelanjaannya, segmen weekender
berbelanja rata-rata lebih dari 500 ribu rupiah dalam sekali
kunjungan (61%). Jumlah pembelanjaan ini relatif besar.









7. Segmen Weekenders Berdasarkan Pola Pembelanjaan
Meyoritas pembelanjaan dialokasikan untuk keperluan makan
minum (40%), Suvenir (36%), dan Transportasi (15%).








15%
40%
36%
6%
3%
0% 10% 20% 30% 40%
Transportasi
Makan dan Minum
Suvenir
Keperluan Khusus
Lainnya
Segmen Weekender berdasarkan Pola
Pembelanjaan
2%
37%
61%
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70%
<200.000 Rp
200.000 - 500.000
Rp
> 500.000 Rp
Segmen Weekender berdasarkan Besar
Pembelanjaan
Gambar 4.19. Karakteristik Segmen Weekender Berdasarkan Besar
Pembelanjaan
Sumber : Survei, 2010

Gambar 4.20. Karakteristik Segmen Weekender Berdasarkan Pola
Pembelanjaan
Sumber : Survei, 2010

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
8. Segmen Weekenders Berdasarkan Profesi
Segmen weekenders berdasarkan profesinya sebagian besar
adalah wiraswasta (41%), Karyawan (28%), Pelajar (18%) ,
Professional (9%), dan lainnya (4%)









Secara umum karakteriktik pasar weekenders dapat digambarkan
sebagai berikut :
Berasal dari kota-kota besar
Mayoritas berasal dari kalangan menengah - atas
Obyek wisata yang menjadi tujuan weekenders : pegunungan,
pantai, tempat rekreasi keluarga (kebun binatang, arena
permainan anak, waterboom), tempat perbelanjaan (factory outlet,
mall), dll
Moda transportasi yang umumnya digunakan adalah kendaraan
pribadi
Kota-kota tujuan weekenders misalnya Bogor, Bandung, Jakarta,
Yogyakarta, Solo, Malang, Padang, Bukittinggi, Manado, dll

18%
28%
41%
9%
4%
0% 10% 20% 30% 40% 50%
Pelajar
Karyawan
Wiraswasta
Profesional
Lainnya
Segmen Weekender berdasarkan Profesi
Gambar 4.21. Karakteristik Segmen Weekender Berdasarkan Profesi
Sumber : Survei, 2010

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 20
C. Kecenderungan Perjalanan
Kecenderungan perjalanan para weekenders, dipengaruhi antara lain
oleh faktor-faktor berikut ini :
Gaya Hidup
Lingkungan dan komunitas
Pendapatan yang cukup memadai
Jarak
Ragam daya tarik dan selalu munculnya produk-produk baru








D. Potensi Weekender
Sebagai Ibukota, Jakarta adalah potensi yang diperkirakan akan
terus berkembang dan jenuh, sehingga semakin meningkatkan
tekanan psikologis bagi masyarakat yang tinggal di dalamnya.
Kondisi ini akan menimbulkan suatu motivasi untuk berlibur,
terutama bagi kelompok-kelompok pebisnis ataupun para
eksekutif/karyawan swasta, bahkan juga segmen pelajar untuk
melepaskan diri dari rutinitas. Dengan demikian, potensi kelompok
weekender dapat diprediksikan akan terus meningkat di tahun-
tahun mendatang.
Fenomena ini bahkan tidak hanya berkembang di Jakarta tetapi
juga di daerah-daerah lain di Indonesia, terutama dari kota-kota
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
besar ke kota-kota sekitarnya yang kondusif untuk berlibur dan
melepas rutinitas (Surabaya ke Bali, Surabaya ke Malang, Medan
ke Padang)












E. Tempat-Tempat Wisata Weekenders
Kota-kota tujuan weekenders antara lain adalah Bandung, Bogor,
Yogyakarta, Solo, Jakarta, Bali, Medan, Bukittinggi, Manado.







POTENSI WEEKENDERS
MICE
1%
Kesehatan
1%
Mengunjungi
Teman
57%
Olahraga/Kes
enian
0%
Profesi/Bisnis
4%
Berziarah
5%
Pendidikan
1%
Lainnya
4%
Berlibur
27%
Gambar 4.22. Karakteristik Segmen Weekender Berdasarkan Motivasi
Sumber : Depbudpar, 2008

Gambar 4.23. Kota-Kota Tujuan Weekender
Sumber : Depbudpar, 2008

MEDAN
BUKITTINGGI
MANADO
BALI
JAKARTA
BANDUNG - BOGOR
YOGYA - SOLO
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 22
F. Studi Kasus Weekenders di Bandung
Berkenaan dengan segmen weekenders, dalam studi ini telah
dilakukan survei lapangan di salah satu tujuan weekenders, Bandung,
dan dari hasil observasi tersebut menghasilkan beberapa informasi
yang menggambarkan bagaimana weekenders di Bandung.
Secara keseluruhan, penduduk yang masuk ke wilayah Kota
Bandung cukup besar. Total kendaraan yang masuk lewat tol
pintu masuk utama Kota Bandung (7 pintu) mencapai 27,5 Juta
orang dengan total kendaraan masuk via tol mencapai 62,7 juta.
Dari jumlah tersebut, yang diperkirakan sebagai wisatawan dan
menginap di Kota Bandung mencapai 2,9 Juta orang wisnus
dan 168 ribu orang wisman.

Tabel 4.1. Total Kunjungan Wisatawan ke Kota Bandung Tahun 2009







Sumber : Jasa Marga, Kota Bandung, 2010




Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
Konsentrasi Wisatawan saat berada di Bandung terutama
adalah di pusat-pusat perbelanjaan. Berikut adalah lokasi
konsentasi wisatawan dan motivasi kunjungannya :
1. Cibaduyut
2. Cihampelas
3. Pasar Gede Bage
4. FO di Dago, dan Jalan Riau
5. Pasar Baru
6. Saung Angklung Mang Udjo
7. Tangkuban Perahu

Salah satu tujuan utama weekenders asal Jakarta adalah Kota
Bandung. Lokasi-lokasi favorit para weekenders adalah wisata
kuliner dan berbelanja di Factor Outlet (FO) yang ada di
kawasan Setiabudhi, Jalan Juanda, Jalan Merdeka, dan RE
Martadinata (Jalan Riau).











Gambar 4.24. Salah Satu Pusat Weekender di Bandung
Sumber : Depbudpar, 2008

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 24
Karakteristik weekender di Bandung antara lain :
1. Mayoritas adalah repeater (>5x)
2. Berusia 15 45 tahun
3. Berprofesi pegawai swasta/pengusaha/pelajar/mahasiswa
4. Berpendapatan minimum 2 juta per bulan
5. Pengeluaran belanja per kunjungan rata-rata 200 ribu 1
juta rupiah
6. Rata-rata menggunakan kendaaraan pribadi, datang secara
berombongan/grup, maupun sekeluarga
7. Rata-rata tinggal 2 3 hari
8. Menginap di hotel Bintang/Non Bintang, dan Rumah
Saudara
9. Kelompok Menengah Atas, Menengah Bawah
10. Berasal dari JABODETABEK, juga ada dari Yogyakarta,
Tasikmalaya, Majalengka, Garut, Medan, Padang, dsb
Sumber : Survei, 2010









Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 25
G. Kasus Weekenders di Bali
Kasus weekender di Bali memiliki pola tersendiri, dari jumlah
wisatawan yang datang melalui bandara Ngurah Rai 50% diantaranya
diperkirakan weekenders (Survei, 2010) :
Jumlah Penumpang Melalui Pelabuhan Gilimanuk dan Terminal
Domestik Ngurah Rai









Sumber : Dinas Kebudayaan dan pariwisata, Bali, 2009

Berdasarkan data jumlah penumpang yang masuk melalui pelabuhan
Gilimanuk dan Bandara Ngurah Rai, sangat dimungkinkan bahwa
penumpang yang melalui Bandara adalah wisatawan asal Jakarta,
Medan, Bandung atau kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Sedangkan yang berasal dari Pelabuhan kemungkinan adalah
wisatawan yang datang secara berombongan dari kota-kota di Jawa
Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat lainnya.



PelabuhanGilimanuk Bandara Ngurah Rai
Januari 231,832 167,520
Februari 177,025 160,514
Maret 217,527 173,555
April 211,695 153,508
Mei 227,661 172,451
Juni 267,837 185,323
Juli 376,443 204,981
Agustus 263,330 195,381
September 219,281 143,418
Oktober 364,394 175,727
Nopember 195,845 163,901
Desember 275,942 197,241
3,028,812 2,093,520
PerkiraanJumlah
Wisnus
57.10% 55.90%
1,729,452 1,170,278
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 26
KARAKTERISTIK WEEKENDERS DI BALI
Dilihat dari karakteristiknya, terdapat dua kelompok wisatawan
nusantara di Bali yaitu kelompok menengah atas (Mid Up) dan
kelompok Menengah Bawah (Mid Low).
Berikut adalah perbedaan karakteristik kedua kelompok segmen
tersebut :
Jumlah Total Wisnus : 2,8 Juta (2008)










Sumber : Dinas Kebudayaan dan pariwisata, Bali, 2009
Catatan : Data ini merupakan karakteristik wisatawan secara umum, termasuk di dalamnya adalah weekenders

POLA AKTIVITAS WISATAWAN
Dari segi aktifitas dan pergerakannya, wisatawan Nusantara di Bali
pada umumnya menyukai hal-hal :
1) Beraktifitas di malam hari karena tidak mau terbakar matahari, atau
lebih menyukai kegiatan suka-suka (kuliner, clubbing)
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 27
2) Pada umumnya berbelanja untuk kerabat atau teman di pasar-
pasar tradisional, dan sebagai di kawasan perbelanjaan elit di
daerah Seminyak Oberoi atau Ubud
3) Untuk kelompok segmen yang datang dengan keluarga (family)
cenderung menyukai kegiatan rekreasi misalnya pantai,
watersport, atau taman safari

POLA AKTIVITAS WISATAWAN (Weekender) DI BALI












Gambar 4.25. Pola Aktivitas Weekender di Bali
Sumber : Survei, 2010

Berdasarkan pola tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara umum
wisnus di Bali khususnya segmen weekenders, adalah kelompok
wisatawan yang menyukai kemudahan, kegiatan yang bisa
dilakukan secara bersama-sama, dan sifatnya suka-suka.
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 28
TEKNIK BERPROMOSI
Bali merupakan tempat tujuan wisata yang paling maju di Indonesia dari
segala aspek. Terkait dengan strategi berpromosi, Bali telah melakukan
berbagai teknik dan strategi dalam mempromosikan produk-produk
kepariwisataanya, selalu memunculkan kemasan produk yang inovatif,
bahkan juga sama sekali baru.
Media yang digunakan sangat variatif mulai dari aneka brosur yang
diletakkan di hampir setiap sudut dan tempat-tempat strategis, internet
dengan segala fitur dan kontent promosi yang menarik, televisi, radio,
hingga sistem penjualan langsung yang dilakukan bahkan oleh Supir
Taksi, Jasa persewaan kendaaraan, langsung kepada
konsumen/wisatawan.












Gambar 4.26. Contoh Ilustrasi Inovasi Teknik Berpromosi di Bali
Sumber : Studio, 2010


Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 29
KONSENTRASI WEEKENDER DI BALI
Konsentrasi wisatawan weekender di Bali setidaknya ada di beberapa
lokasi strategis, berikut ini :











Gambar 4.27. Lokasi Konsentrasi Weekenders di Bali
Sumber : Survei, 2010

H. SW Analisys
Berdasarkan atas apa yang telah diuraikan di atas, berikut terdapat
beberapa nilai keunggulan dan kelemahan pada kelompok segmen
weekenders sebagai berikut :
KEUNGGULAN KELEMAHAN
1. Segmen potensial karena
perjalanannya bersifat
reguler (tiap weekend)
2. Rata-rata berasal dari
kelompok menengah atas
1. Masih terbatas
pergerakannya utamanya
di Jawa (Bandung, Bogor,
Jakarta, Yogyakarta,
Solo, Malang, Bali)
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 30
KEUNGGULAN KELEMAHAN
dengan kemampuan
pendapatan yang memadai
3. Terjadi di banyak kota-kota
besar di Indonesia
khususnya di Jawa (Jakarta
- Bandung, Surabaya-
Malang, dsb)
2. Masih sedikitnya paket-
paket wisata weekend
3. Kemacetan di daerah-
daerah tujuan weekenders
4. Sarana dan prasarana
pendukung


I. Kebutuhan Pengembangan
Berdasarkan hasil analisis di atas, pengembangan pada segmen
weekender setidaknya dapat memperhatikan beberapa hal sebagai
berikut :
1. Pengembanngan paket wisata weekend untuk segmen mid low
2. Intensifikasi promosi wisata weekend di kota-kota pusat
weekenders (Sale, Obyek Wisata Baru)
3. Pengembangan produk-produk baru night market, Sunday
market, antiqueing, kuliner, khususnya untuk segmen
menengah atas (penggemar barang antik, pemburu pernak-
pernik)
4. Pengembangan paket-paket wisata weekend untuk komunitas,
misalnya paket touring saat weekend bagi komunitas bike to
work, komunitas HDCI, dll
5. Pengembangan paket murah weekend, misalnya paket murah
masuk ke obyek-obyek wisata bagi keluarga, paket murah
outbound untuk perusahaan / komunitas, yang mengadakan
tour weekend untuk karyawannya / anggotanya
6. Pemberian fasilitas Traveller Card dan One Entry Ticket pada
saat weekend
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 31
7. Pemberian diskon dan sistem kredit wisata (travel now pay
later) melalui bank/ perusahaan kartu kredit pada saat weekend
(spa, penerbangan) , serta kredit modal usaha bagi travel agent
8. Pemanfaatan fasilitas kartu kredit dengan sasaran wisatawan
melalui brosur promosi























Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 32
4.2.3. Ziarah
A. Pengertian dan Lingkup
Wisata ziarah dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat
peribadatan (masjid, candi), bekas kerajaan, makam, gua, atau
lainnya yang dinilai memiliki kekuatan magis/religis
Aktivitas ini banyak terjadi di sebagian wilayah di Indonesia,
seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur Madura,
Sumatera, dan Sulawesi Utara
Pada umumnya dilakukan secara berombongan (valume besar)
dan pengunjung umumnya telah melakukan ziarah lebih dari
sekali (repeater
Ziarah merupakan salah satu praktik sebagian besar umat
beragama yang memiliki makna moral yang penting. Kadang-
kadang ziarah dilakukan ke suatu tempat yang suci dan penting
bagi keyakinan dan iman yang bersangkutan. Tujuannya adalah
untuk mengingat kembali, meneguhkan iman atau menyucikan diri.
Orang yang melakukan perjalanan ini disebut peziarah.
Ziarah atau sering disebut juga sebagai wisata spiritual (spiritual
tourism) merupakan salah satu tipe wisata yang sudah berjalan
lama bahkan dapat dikatakan sebagai tipe wisata tertua. Sebelum
orang mengadakan perjalanan untuk rekreasi, bisnis, olahraga dan
sebagainya, orang sudah mengadakan perjalanan untuk berziarah
(wisata ziarah) atau untuk keperluan keagamaan. Tempat-tempat
ziarah di Palestina, Roma, Mekah dan Madinah merupakan tempat
tujuan perjalanan pariwisata yang sangat populer. Di Indonesia,
tipe wisata spiritual merupakan salah satu tipe wisata yang penting,
bahkan pada hari-hari besar nasional salah satu acara rutin adalah
berziarah ke makan pahlawan. Bulan Syaban oleh orang Jawa
dianggap sebagai bulan para arwah (disebut bulan Ruwah), yang
secara khusus disediakan untuk berziarah ke makam leluhur.
Aktivitas seperti ini dapat dianggap sebagai suatu kegiatan
ziarah/religi.
Kelompok wisatawan ziarah/religi saat ini mulai dipertimbangkan
sebagai kelompok wisatawan yang cukup penting dalam industri
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 33
pariwisata dilihat dari aspek ekonomi dan finansiil. Misalnya pada
tahun 1987 hampir 20 tahun yang lalu diperkirakan oleh A.
Jackowshi (1987) bahwa jumlah wisatawan yang berpartisipasi
dalam suatu ziarah sebesar 130 juta orang atau sekitar 9% dari
jumlah total pada tahun itu. Harapan dan perilaku peziarah berubah
dalam tahun-tahun terakhir. Kegiatan ziarah tidak lagi terbatas
hanya orang yang mengunjungi tempat suci atau sakral (sacred
sites) saja, tetapi juga termasuk kegiatan wisata lain, khususnya
kegiatan wisata budaya. Sehingga kegiatan ziarah sering dipahami
sebagai bentuk wisata yang secara dominan didorong oleh motivasi
religi atau berkenaan dengan agama merupakan bentuk wisata
yang secara dominan didorong oleh motivasi religi atau berkenaan
dengan agama.
Ziarah dapat dikategorikan dalam kategori jangka pendek (short
term religious tourism) yang merupakan perjalanan sehari
(excursions) ke pusat ziarah yang berada di dekat rumah dan
wisata jangka panjang (long term) menggambarkan perjalanan atau
kunjungan selama beberapa hari atau minggu ke situs ziarah atau
konferensi nasional atau internasional. Selain itu, bentuk ziarah
dapat dibedakan berdasarkan atas jumlah peserta, pilihan jenis alat
transportasi, musim perjalanan, dan struktur sosial.
Secara tradisional dan historis, wisatawan religi berjalan dari
lingkungan familiar dekat rumah untuk mencari beberapa
pengalaman rohani atau spiritual yang baru khususnya, yang akan
memperbaharui hidup mereka. Sebetulnya keinginan ini sama
dengan semua wisatawan modern karena mereka ingin melarikan
diri dari pengalaman sehari yang sudah menjadi terlalu rutin dan
membosankan. Ahli pariwisata dari bidang antropologi pernah
menunjukkan aspek religius dari wisata modern dan sering
menggunakan istilah right of passage experience. Wisatawan
berjalan melalui suatu tahap transisional selama perjalanan ke
tahap incorporation (inkorporasi) pada saat kembali ke hidup biasa
di tempat asalnya. Sebetulnya hidup biasa kelihatan tetap
dilanjutkan lagi tetapi dalam keadaan atau suasana yang berbeda
dan diubah.
Sebagian wisatawan modern secara eksplisit mencari pengalaman
di tempat-tempat atau lokasi ziarah yang berkaitan dengan agama
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 34
tertentu. Perjalanan tersebut mempunyai tujuan religius dan sering
kali merupakan bagian dari pengajaran agama, seperti halnya
kegiatan Haji untuk umat Islam. Salah satu dampak samping dari
perjalanan ini adalah pembentukan identitas diri sebagai anggota
komunitas keagamaan yang sering mempunyai dimensi
internasional.
Tempat atau lokasi ziarah memiliki kekayaan dan kepentingan
historis, artistik dan spiritual/rohani, dan mampu menarik ribuan
atau jutaan wisatawan setiap tahun. Objek tersebut menjadi tempat
tujuan wisata yang penting. Hubungan antara warisan religi
(religious heritage) dan pariwisata merupakan hal yang penting. Di
beberapa daerah jumlah bangunan yang dipakai untuk upacara
agama (places of worship) cukup banyak dan bervariasi. Objek
tersebut merupakan tempat ibadat/ziarah dan mempunyai posisi
yang sentral dalam masyarakat dan menjadi bagian pemandangan
(landscape) di lingkungan kehidupan masyarakat sekitar.
Selain peranan keagamaan dan spiritual, bangunan-bangunan dan
monumen religi juga sudah menjadi atraksi wisata budaya yang
populer. Banyak wisatawan dari berbagai negara atau dunia datang
sehingga objek ini mempunyai potensi ekonomis yang sangat besar
dan dapat dipasarkan sebagai atraksi wisata budaya. Bangunan-
bangunan seperti ini juga merupakan objek konservasi oleh
lembaga-lembaga konservasi peninggalan sejarah purbakala.
Upaya konservasi dilaksanakan karena fungsi dan peranan objek
juga sebagai museum dan atraksi yang ada dirasa kurang
bervariasi karena aspek religi membatasi pengembangannya.
Berdasarkan jenisnya, objek ziarah dapat dikategorikan dalam
beberapa kelompok, yaitu:
Tempat Ibadah
Tempat ibadah merupakan tempat untuk melakukan kegiatan
peribadatan umat beragama sesuai dengan agama dan
kepercayaan yang mereka anut. Tempat ibadah dapat berupa
mesjid, gereja, pura, kelenteng/vihara, atau varian-varian
lainnya. Tempat ibadah yang ada tidak hanya digunakan untuk
tempat beribadah sehari-hari, namun juga digunakan sebagai
tempat diselenggarakannya perayaan atau kegiatan hari besar
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 35
keagamaan. Beberapa tempat ibadah di Indonesia sering
dikunjungi oleh wisatawan karena nilai sejarah yang dimilikinya.
Makam
Makam merupakan tempat disemayamkannya jasad seseorang
ketika sudah meninggal. Makam seringkali dikeramatkan dan
dijadikan tempat mencari berkah (ngalap berkah) terutama
makam tokoh keagamaan, dan makam leluhur atau pemimpin
yang dianggap memiliki kharisma.
Dalam beberapa kasus, seringkali terjadi tumpang tindih antara
makam dengan petilasan. Hal ini disebabkan adanya tradisi
masyarakat untuk membangun makam di atas petilasan
seorang tokoh, sehingga terkadang satu orang tokoh memiliki
beberapa bangunan makam. Sebagai contoh Syekh Jumadil
Qubro, memiliki petilasan dalam bentuk makam di beberapa
tempat yaitu di Semarang, Trowulan, dan di Desa Turgo (dekat
Plawangan), Kecamatan Turi, Yogyakarta, namun tidak
diketahui di mana beliau dimakamkan.
Pesantren
Pesantren atau pondok pesantren (biasanya juga disebut
pondok saja) adalah sekolah Islam berasrama (Islamic boarding
school). Para santri (pelajar pesantren) belajar pada sekolah ini
sekaligus tinggal pada asrama yang disediakan pesantren.
Biasanya pesantren dipimpin oleh seorang kiai/kyai. Untuk
mengatur kehidupan pondok pesantren, kyai menujuk seorang
santri senior untuk mengatur adik kelasnya, mereka biasanya
disebut Lurah Pondok.
Pesantren adalah sekolah pendidikan umum yang persentase
ajarannya lebih banyak ilmu-ilmu pendidikan agama Islam
daripada ilmu umum atau bahkan ada pula pesantren yang
hanya mengajarkan ilmu agama Islam saja atau yang disebut
dengan Pesantren Salaf.
Petilasan
Petilasan merupakan istilah yang diambil dari bahasa Jawa
yang menunjuk pada suatu tempat yang pernah disinggahi atau
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 36
didiami oleh seseorang (yang penting). Dalam bahasa Arab,
petilasan disebut maqam. Istilah 'makam' dalam bahasa
Indonesia dengan demikian tidak berarti sama dengan 'maqam'.
Pengerian petilasan dalam kaitannya dengan wisata religi, maka
petilasan diartikan sebagai suatu tempat yang dianggap
keramat, suci atau bertuah oleh sekelompok masyarakat oleh
sebab memiliki keterkaitan dengan ketokohan seseorang, nilai
sejarah, atau legenda yang dipercaya oleh sekelompok
masyarakat. Bentuk petilasan yang saat ini sering berkembang
dalam masyarakat, diantaranya adalah :
o Goa keramat, seperti goa Kiskendo, goa Kreo, dan goa
Jatijajar (Jawa Tengah), goa Cerme dan goa Selarong
(Yogyakarta), goa Loyang Pukes (Aceh). Goa Selomangleng
o Tempat peristiwa sejarah keagamaan atau kepercayaan
masyarakat, seperti Padang Kurusetra dalam agama Hindu,
Parangkusumo dalam masyarakat Yogyakarta.
o Makam petilasan, seperti makam Brawijaya di Trowulan dan
Gunung Lawu, Syekh Jumadil Qubro di Semarang,
Trowulan, dan di Desa Turgo (dekat Plawangan),
Kecamatan Turi, Yogyakarta.
o Bentang alam yang disucikan terkait dengan kepercayaan
atau kosmologis dalam masyarakat, seperti gunung Batur di
Bali, gunung Tengger di Jawa Timur, juga laut Selatan di
Yogyakarta.

Tempat ziarah umat Katholik / Gua Maria
Dalam tradisi Katolik, Goa Maria adalah tempat yang dipusatkan
untuk melakukan ziarah dan devosi kepada Maria. Tempat-
tempat tersebut dapat ditetapkan sebagai tempat ziarah karena
pertimbangan penampakan supranatural Maria ataupun faktor
sejarah sebagai tempat devosi dan ziarah umat Katolik. Goa
Maria di Indonesia umumnya berupa tempat ziarah dengan
makna historis bagi perkembangan Gereja Katolik di Indonesia
ataupun Gereja Katolik setempat. Goa Maria Sendangsono
misalnya, adalah tempat dibaptisnya orang Jawa pertama
kalinya.
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 37
Bangunan utama dibentuk seperti gua tetapi ada juga yang
berada pada gua alam asli. Disebut Goa Maria karena
ditempatkannya patung Bunda Maria, ibunda Yesus, di gua
tersebut. Tempat itu kemudian menjadi tempat ziarah umat
Katolik untuk mendekatkan diri pada Allah Bapa dengan berdoa
melalui perantaraan Bunda Maria dan Yesus Kristus.

Tempat retret
Tempat retret dapat diartikan sebagai suatu tempat untuk
memperoleh pengalaman menyendiri ataupun mengasingkan
diri bersama dengan sebuah kelompok/komunitas dengan
tujuan belajar mengolah hidup rohani sehingga bisa menyadari
diri, menemukan jati diri dan bisa mengenal diri lebih jauh juga
mengenal Tuhan dan sesama.
Beberapa retret dilakukan dalam kesunyian, sementara yang
lainnya dilakukan dalam suasana berbagi rasa, tergantung dari
pengetahuan dan praktek yang dilakukan oleh fasilitator
dan/atau pesertanya. Retret sering kali dilakukan di daerah
pedesaan atau pedalaman, atau di tempat-tempat retret khusus
seperti sebuah biara. Retret religius/spiritual menyediakan
waktu untuk berefleksi, berdoa, atau bermeditasi. Hal-hal ini
dianggap penting dalam Budhisme, dan juga populer di
kalangan gereja-gereja Kristen, termasuk Protestan, Katolik
Roma, dan Anglikan.

Bangunan bersejarah keagamaan
Bangunan ini merupakan bangunan yang dinilai memiliki nilai
sejarah yang terkait dengan perjalanan atau perkembangan
suatu agama. Penyebutan bangunan bersejarah keagamaan ini
seringkali tumpang tindih dengan bangunan keagamaan
tertentu yang juga merupakan peninggalan sejarah yang sampai
saat ini masih tetap digunakan oleh komunitas. Namun
demikian, jenis objek ini difokuskan pada bangunan bersejarah
yang sekarang tidak difungsikan untuk kegiatan ibadah
keseharian, tetapi terkadang masih difungsikan pada hari-hari
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 38
atau peristiwa tertentu saja. Bentuk bangunan semacam ini
antara lain seperti candi Borobudur, Pambanan, dan Mendut.
Karena nilai sejarah yang dimilikinya, bangunan ini kerapkali
dikeramatkan dan dijadikan sebagai tempat untuk melakukan
kegiatan kontemplasi bagi pemeluk agama sesuai dengan
agama yang mereka anut.

Festival/ Event Adat dan Tradisi
Festival/even adat dan tradisi merupakan acara yang
mengemukakan kegiatan-kegiatan yang mengekspresikan
perilaku religius yang seringkali diwujudkan dalam berbagai
pertunjukan kesenian, baik seni rupa, seni tari, seni suara, seni
musik, maupun bentuk-bentuk seni lainnya. Bentuk kegiatan ini
dapat berupa arak-arakan, karnaval, atau bentuk-bentuk lain
yang melibatkan banyak orang, berlangsung meriah, tetapi
sekaligus menggetarkan dan membangkitkan perasaan religius.












Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 39
B. Karakteristik Pasar Wisata Ziarah
1. Kecenderungan Motivasi Ziarah Secara Nasional
Berdasarkan ragam motivasi kunjungan, secara umum wisnus
yang memiliki motivasi wisata Ziarah adalah sebesar 5%. Jumlah
ini sebenarnya relatif kecil, setidaknya dibandingkan dengan
segmen mengunjungi teman (VFR) dan Berlibur (27%). Namun
demikian. Kelompok segmen wisata ziarah adalah kelompok
segmen spesifik yang keberadaanya dapat diperhitungkan sebagai
salah satu market niche wisatawan nusantara, dan mampu
memberikan nilai tambah terhadap komponen pendapatan
wisatawan nusantara.









Gambar 4.28. Potensi Segmen Wisata Ziarah di Indonesia
Sumber : Depbudpar, 2008

2. Segmen Wisata Ziarah Berdasarkan Umur
Berdasarkan umurnya, segmen wisata ziarah banyak didominasi
oleh usia 45-54tahun (45%). Pada umumnya orang yang tertarik
pada wisata ziarah adalah mereka yang sudah berada pada usia
tersebut, walaupun banyak pula yang berusia lebih muda yang
berkunjung secara berombongan.
Berlibur
27%
MICE
1%
Pendidikan
1%
Kesehatan
1%
Mengunjungi
Teman
57%
Olahraga/Kes
enian
0%
Lainnya
4%
Berziarah
5%
Profesi/Bisnis
4%








Gambar 4.29. Karakteristik
Sumber : Depbudpar, 2008

3. Segmen Wisata Ziarah Berdasarkan
Berdasarkan frekwensi kunjungannya, segmen wisata ziarah
banyak didominasi oleh
ziarah pernah melakukan kunjungan sebelumnya. Hal ini
menunjukan b
sebagian masyarakat.
Gambar 4.30.
Kunjungan
Sumber : Survei, 2010
0%
Ulang
Pertama
Segmen Ziarah berdasarkan Frekwensi Kunjungan
0%
< 15 Tahun
14-24 Tahun
25-34 Tahun
45-54 Tahun
>54 Tahun
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
Karakteristik Wisata Ziarah Berdasarkan Umur
Depbudpar, 2008
Segmen Wisata Ziarah Berdasarkan Frekwensi Kunjungan
Berdasarkan frekwensi kunjungannya, segmen wisata ziarah
banyak didominasi oleh repeater (64%). Mayoritas segmen wisata
ziarah pernah melakukan kunjungan sebelumnya. Hal ini
menunjukan bahwa kegiatan wisata ziarah cukup popular bagi
sebagian masyarakat.
. Karakteristik Wisata Ziarah Berdasarkan Frekuensi
, 2010
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60%
36%
Segmen Ziarah berdasarkan Frekwensi Kunjungan
5% 10% 15% 20% 25% 30% 35% 40%
8%
16%
20%
11%
Segmen Ziarah berdasarkan UMUR
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
Berdasarkan Umur
Frekwensi Kunjungan
Berdasarkan frekwensi kunjungannya, segmen wisata ziarah
(64%). Mayoritas segmen wisata
ziarah pernah melakukan kunjungan sebelumnya. Hal ini
ahwa kegiatan wisata ziarah cukup popular bagi

Karakteristik Wisata Ziarah Berdasarkan Frekuensi
70%
64%
Segmen Ziarah berdasarkan Frekwensi Kunjungan
45%
45%
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 41
4. Segmen Wisata Ziarah Berdasarkan Moda
Berdasarkan moda angkutan menggunakan baik umum maupun
pribadi, dengan prosentase yang menggunakan kendaraan umum
lebih besar (55%). Banyak diantara pengunjung obyek wisata
ziarah tinggal lebih dari 1 hari dan lebih menyukai memanfaatkan
angkutan umum






Gambar 4.31. Karakteristik Wisata Ziarah Berdasarkan Moda
Sumber : Survei, 2010


5. Segmen Wisata Ziarah Berdasarkan Waktu Kunjungan
Berdasarkan waktu kunjungannya, segmen wisata ziarah
melakukan kunjungan pada waktu-waktu khusus, artinya mereka
meluangkan waktu khusus (82%) dan tidak bisa melakukan setiap
saat. Misalnya saat ada upacara tertentu, atau perayaan/ritual
tertentu.






Gambar 4.32. Karakteristik Wisata Ziarah Berdasarkan Waktu
Kunjungan
Sumber : Survei, 2010
45%
55%
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60%
Pribadi
Angk. Umum
Segmen Ziarah berdasarkan Moda
82%
18%
0% 20% 40% 60% 80% 100%
Waktu Khusus
Setiap Saat
Segmen Ziarah berdasarkan Waktu Kunjungan
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 42
6. Segmen Wisata Ziarah Berdasarkan Cara Perjalanan
Berdasarkan cara perjalanannnya, segmen wisata ziarah banyak
melakukan kunjungan secara berombongan (24%), dan sebagian
lainnya dengan sendiri (20%), dengan teman (19%), Paket (15%),
keluarga (14%), dan lainnya (8%).









Gambar 4.33. Karakteristik Wisata Ziarah Berdasarkan Cara
Perjalanan
Sumber : Survei, 2010
7. Segmen Wisata Ziarah Berdasarkan Besaran Pembelanjaan
Berdasarkan besaran pembelanjaannya, segmen wisata ziarah
berbelanja rata-rata kurang dari 200 ribu rupiah dalam sekali
kunjungan (64%).






Gambar 4.34. Karakteristik Wisata Ziarah Berdasarkan Pembelanjaan
Sumber : Survei, 2010
24%
19%
14%
20%
15%
8%
0% 5% 10% 15% 20% 25%
Rombongan
Dengan Teman
Dengan Keluarga
Sendiri
Paket Tour
Tidak Diketahui
Segmen Ziarah berdasarkan Cara Perjalanan
64%
22%
14%
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70%
<200.000 Rp
200.000 - 500.000
Rp
> 500.000 Rp
Segmen Ziarah berdasarkan Besar Pembelanjaan
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 43
8. Segmen Wisata Ziarah Berdasarkan Pola Pembelanjaan
Meyoritas pembelanjaan dialokasikan untuk keperluan transportasi
(42%) dan makan minum (30%). Pada umumnya segmen ini
berpergian tanpa bermaksud senang-senang, melainkan karena
suatu tujuan khusus spiritual.







Gambar 4.35. Karakteristik Wisata Ziarah Berdasarkan Pola
Pembelanjaan
Sumber : Survei, 2010

9. Segmen Wisata Ziarah Berdasarkan Profesi
Segmen wisata ziarah berdasarkan profesinya sebagian besar
adalah kaum wiraswasta (39%), sedangkan lainnya adalah para
pelajar (22%) yang pada umumnya datang karena terlibat dalam
paket khusus (study tour)







Gambar 4.36. Karakteristik Wisata Ziarah Berdasarkan Profesi
Sumber : Survei, 2010
22%
7%
39%
3%
4%
9%
16%
0% 10% 20% 30% 40%
Pelajar
Karyawan
Wiraswasta
Profesional
Militer
PNS
Lainnya
Segmen Ziarah berdasarkan Profesi
42%
30%
10%
9%
9%
0% 10% 20% 30% 40% 50%
Transportasi
Makan dan Minum
Suvenir
Keperluan Khusus
Lainnya
Segmen Ziarah berdasarkan Pola Pembelanjaan
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 44
Secara umum karakteriktik pasar wisata ziarah dapat uraikan
sebagai berikut :
1. Kunjungan ke tempat-tempat peribadatan (masjid, candi), dan
tempat-tempat sakral (bekas kerajaan, makam, gua, atau
lainnya yang dinilai memiliki kekuatan magis/religius)
2. Motivasi utamanya spiritual (tidak terlalu sensitif harga,
pelayanan)
3. Penggunaan fasilitas akomodasi seperti hotel sangat rendah
4. Pada umumnya dilakukan secara berombongan (volume besar)
5. Jumlah repeater dominan

C. Motivasi Perjalanan
Bila dilihat dari motivasinya, hal terkuat yang menggerakan
perjalanan segmen wisata ziarah adalah spiritual atau secara garis
besar mencakup motivasi berikut ini :
Motivasi Spiritual
Perjalanan Grup (desa, organisasi keagamaan, haul)
Event khusus (hari tertentu, upacara/ ritual khusus, haul)
Tradisi

D. SEBARAN OBYEK WISATA ZIARAH DI INDONESIA
Tujuan wisata Ziarah tersebar dominan khususnya di wilayah Jawa,
dan juga beberapa daerah lain di Indonesia. Berikut adalah lokasi-
lokasi wisata ziarah yang populer di Jawa :


DTW Ziarah di Jawa












Gambar 4.37. Sebaran Daya Tarik Wisata Ziarah di Jawa
Sumber : Survei, 2010

Jawa menjadi salah satu pusat segmen wisata ziarah yang terbesar
di Indonesia. Banyak daya tarik wisata ziarah yang popular di Jawa,
khususnya yang tersebar pada masa pengaruh Islam di Jawa
bagian utara.
Konsentrasi wisata ziarah di Jawa, tersebar dari ujung Jakarta/
Jawa Barat (di daerah Serang
di Jawa Tengah
Semarang Demak
Gresik Pamekasan (Madura)).


Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

. Sebaran Daya Tarik Wisata Ziarah di Jawa
, 2010
Jawa menjadi salah satu pusat segmen wisata ziarah yang terbesar
di Indonesia. Banyak daya tarik wisata ziarah yang popular di Jawa,
khususnya yang tersebar pada masa pengaruh Islam di Jawa
Konsentrasi wisata ziarah di Jawa, tersebar dari ujung Jakarta/
Jawa Barat (di daerah Serang- Banten-Bogor-Cirebon), kemudian
di Jawa Tengah berkembang di Magelang (Borobudur), daerah
Demak Kudus hingga wilayah Jawa Timur (Tuban
Pamekasan (Madura)).
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
Jawa menjadi salah satu pusat segmen wisata ziarah yang terbesar
di Indonesia. Banyak daya tarik wisata ziarah yang popular di Jawa,
khususnya yang tersebar pada masa pengaruh Islam di Jawa
Konsentrasi wisata ziarah di Jawa, tersebar dari ujung Jakarta/
Cirebon), kemudian
berkembang di Magelang (Borobudur), daerah
hingga wilayah Jawa Timur (Tuban
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 46

Selain Jawa, klaster-klaster segmen wisata ziarah juga berada di daerah-
daerah lain di Indonesia, misalnya Sumatera yang popular dengan budaya
peninggalan Islam (Makam dan Masjid, atau Bekas Kerajaan) : Aceh
(Makam raja-raja), Sumatera Utara (Goa Maria, Gereja), Sumatera Barat
dan Sumatera Selatan popular dengan makam dan masjid.
Di Daerah lain segmen wisata ziarah berada di Kalimantan Barat (Ziarah
Umat Katolik), Kalimantan Selatan (Ziarah Islam), Sulawesi Utara (Ziarah
Katolik), dan Sulawesi Selatan berupa makam raja-raja.

DTW Ziarah di luar jawa












Gambar 4.38. Sebaran Daya Tarik Wisata Ziarah di Luar Jawa
Sumber : Survei, 2010

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 47

E. SW Analisys
Beberapa hal yang dapat dikemukakan sebagai keunggulan dan
kelemahan pada kelompok segmen wisata ziarah adalah sebagai
berikut :
KEUNGGULAN KELEMAHAN
1. Menjadi salah satu karakter
kuat sebagian besar
masyarakat Indonesia
2. Repeater
3. Volume besar (Massive)
4. Produk wisata ziarah yang
tersebar di berbagai wilayah
di Indonesia dengan volume
terbesar di P. Jawa
5. Adanya kelompok-kelompok
spiritual yang secara rutin
melaksanakan kegiatan
ziarah
6. Tidak hanya berorientasi
pada prinsip efisiensi
7. Masuk ke daerah-daerah
sehingga Dampak terhadap
perekonomian lokal besar
1. Promosi yang kurang
intensif dan teknik promosi
yang masih terbatas (WoM,
Community)
2. Paket-paket yang relatif
masih mahal
3. Konsentrasi terbesar
terbatas di Jawa
4. Dominasi segment
menengah bawah
5. Sensitif terhadap harga,
spending rendah
6. Kesadaran masyarakat
sekitar masih kurang
7. Dukungan dari kalangan
lembaga keagamaan belum
optimal

F. Kebutuhan Pengembangan
Terkait dengan pengembangan pada kelompok segmen wisata
ziarah dapat diberikan penjelasan sebagai berikut :
1. Penyelenggaraan event-event besar keagamaan (MTQ, Tablig
Akbar, Pengajian Akbar, Retreat, dsb) di lokasi-lokasi pusat
wisata Ziarah misalnya di Jawa Tengah, Jawa Timur
2. Ekstensifikasi promosi wisata ziarah dengan teknik komunikasi
promosi yang lebih modern dan dapat menyentuh semua
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 48
kalangan. Untuk segmen wisata menengah-bawah dapat
dilakukan melalui kegiatan-kegiatan di tingkat masyarakat
(pengajian, menggunakan pemuka agama). Untuk segmen
menengah atas dapat dilakukan dengan
3. Kebijakan harga paket yang lebih kompetitif
4. Revitalisasi dan diversifikasi produk-produk wisata ziarah
sehingga lebih iconic
5. Meningkatkan kemudahan perjalanan wisata ziarah melalui
fasilitas-fasilitas pada obyek wisata
6. Meningkatkan kualitas akses ke lokasi obyek
7. Perlindungan hak wisatawan
8. Kemitraan (misalnya POKDARWIS dengan Majelis Taklim)







G. STUDI KASUS : PAKET WISATA WALISONGO
Guna mendukung hasil analisis yang lebih akurat, telah dilakukan
survey langsung di lapangan dengan mengikuti proses kegiatan
paket wisata walisongo. Berikut adalah gambaran dari segmen
walisongo yang merepresentasikan sebagian dari segmen wisata
ziarah :
Karakteristik Segmen Ziarah Walisongo
1. Motivasi pengunjung didasari spiritual yang sangat kuat
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 49
2. Tingkat kunjungan sangat tinggi, dan pada umumnya adalah
kelompok repeater (sudah pernah berkunjung lebih dari satu
kali)
3. Proporsi belanja terbesar pada segmen ini adalah untuk
transportasi, makan-minum dan oleh-oleh/cinderamata
4. Sebaran pengunjung terutama masyarakat sekitar (Jatim,
Madura dan pesisir Jawa)
5. Sebagian besar berkunjung dalam bentuk group/berkelompok

Aktivitas di Lingkungan Ziarah Walisongo
Berikut adalah kegiatan yang terdapat di dalam DTW walisongo :
1. Penjual makan-minum,
2. Souvenir,
3. Penjual botol minuman untuk mengambil air dari sumur Wali
dan plastik tempat alas kaki
4. Objek selalu dikelilingi penjual dengan komoditas utama oleh-
oleh/souvenir, makan-minum, dan mainan anak-anak dengan
rute tipe pedagang di Borobudur
5. Pengemis dan peminta sumbangan yang mengatasnamakan
pengelola
6. Guide (khusus S. Gunung Jati)
7. Parkir, baik resmi maupun tidak resmi
8. Penitipan kendaraan bermotor
9. Jasa toilet dan musholla
10. Ojek (terutama di makam S. Muria)
Profil kegiatan-kegiatan di lingkungan DTW walisongo tersebut,
menunjukkan bahwa kondisi segmen wisata ziarah secara umum
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 50
masih kurang kondusif karena pengelolaan yang kurang optimal.
Namun demikian, karena motivasi terbesar segmen ini adalah
spiritual, sehingga kondisi lain-lain menjadi aspek yang kurang
diperhitungkan oleh peziarah.
Pengelolaan Ziarah Walisongo
Pengelolaan wisata ziarah walisongo dapat digambarkan sebagai
berikut :
1. Sebagian besar obyek tidak ada tarif resmi, bersifat sukarela.
2. Pengeluaran yang harus dibayar di objek ziarah meliputi
sumbangan untuk pengelola, parkir, pengemis,
3. Objek selalu dikelilingi penjual dengan komoditas utama oleh-
oleh/souvenir, makan-minum, dan mainan anak-anak dengan
rute tipe pedagang di Borobudur
4. Banyak terdapat pengemis, karena memanfaatkan kondisi
religius dan pesan para Wali untuk mengasihi orang miskin
5. Pengelolaan terburuk terdapat di makam S. Gunung Jati dan S.
Giri
6. Saat hari minggu/libur dan malam jumat, jumlah pengunjung
sangat tinggi jauh melebihi daya tampung








Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 51
4.2.4. Hobbies
A. Pengertian dan Lingkup
Hobby adalah kegiatan rekreatif yang dilakukan pada waktu
luang seperti pet, automotive, sepeda, diving, photography,
toys, dll.
Kelompok hobies di Indonesia dengan potensi pergerakan
terbesar didominasi kelompok pecinta otomotif.
Club otomotif berdasarkan jumlah banyak didominasi club
roda 2 dengan segmen menengah ke bawah.
Terdapat juga club roda 2 dengan segmen premium berusia
rata-rata usia 20 40 tahun.
Pada club otomotif roda 4 (mobil) mayoritas anggota adalah
segmen menengah atas, dengan rata-rata berusia antara
25 60 tahun.
Daerah konsentrasi berada di Jawa dan Bali, sementara
untuk Sumatera konsentrasi terbesar berada di wilayah
Sumatera Utara










Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 52
B. Karakteristik Pasar Hobbies
Berikut ini adalah karakteriktik pasar hobbies :
Meliputi para penggemar otomotif, sepeda, olah raga, fotografi,
pet, toys, dll
Mencakup segmen yang luas (Mid Up : pengusaha, pejabat,
eksekutif, Mid Low : mahasiswa, pelajar)
Motivasi perjalanan (touring) : pertemuan rutin antar cabang,
undangan dari club lain, undangan dari instansi, kegiatan
sosial, event, dll
Waktu perjalanan : weekend, long weekend
Lama menginap : 1-2 malam
Tidak terlalu sensitif dengan harga
Penggunaan social media kuat : selular, jaringan sosial
Pergerakan didominasi oleh acara touring, biasanya tempat
tujuan memiliki objek wisata.
Pemilihan akomodasi untuk kalangan menengah keatas adalah
hotel, sedangkan untuk menengah kebawah adalah rumah
teman/saudara dan disediakan relasi klub pecinta otomotif.
Sumber pasar terbesar adalah wilayah DKI Jakarta dan kota-
kota besar di pulau Jawa.
Tujuan favorit touring adalah Bali dan sumber terbesar
komunitas adalah dari DKI Jakarta.
Dalam satu tahun minimal terdapat acara satu touring jarak
jauh (misal: Jakarta Bali)
Touring jarak pendek dilaksanakan beberapa kali dalam satu
tahun.
Dukungan pihak ketiga (produsen otomotif berikut piranti
pendukunganya relatif tinggi)
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 53
C. Motivasi Perjalanan
Kecenderungan komunitas hobbies melakukan perjalanan adalah
pada saat :
Jadwal rutin komunitas (tahunan, mingguan, dsb)
Special Event (Anniversary, perayaan khusus, dsb)
Sponsor

D. Kota-kota Asal Komunitas Hobbies
Komunitas hobbies biasanya berasal dari kota-kota besar seperti :
Jakarta
Bandung
Yogyakarta
Surabaya
Bali
Makassar
Medan
Padang

E. Contoh Kegiatan Komunitas Hobbies
Kegiatan Touring Club Motor
Harley Davidson
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
Contoh Kegiatan Komunitas Hobbies
Kegiatan Touring Club Motor
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara


Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara



Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 56
KEGIATAN SOSIAL HDCI (Harley Davidson Club Indonesia)





















TOURING KE TEMPAT-TEMPAT WISATA


















Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 57
PERTEMUAN RUTIN HDCI
























EVENT KOMUNITAS


















Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
Contoh Media Sosialisasi Kegiatan Komunitas Hobbies


Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara












































Gathering Harley Davidson Club
Club Motor Antik
Anniversary Klub Motor
Contest Modifikasi club motor
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 60
F. Studi Kasus : Jogja Automotive Community (JAC)

Jogja Automotive Community di deklarasikan pada 13 Oktober
2002. Pendiri JAC adalah Irsyam Sigit Wibowo. Saat ini menjabat
sebagai Ketua Dewan Senior MACI Jogja, Anggota Dewan
Organisasi JAC, Penasehat Yogyakarta Fiat Club, Penasehat HDCI
Jogja, Humas IMBI Jogja, dan Sie Pariwisata IMI. Beliau juga
pengusaha, yaitu pemilik Omah Dhuwur, Pendopo nDalem,
Angkringane JAC, dan Pondok Sundak.
Jogja Automotive Community (JAC) merupakan suatu wadah dan
sarana komunikasi antar klub dan komunitas baik motor maupun
mobil (komunitas otomotif ) di Yogyakarta, untuk menambah relasi
dan saling bertukar informasi antar hobbies. JAC kemudian
berusaha untuk melebarkan sayap dimana JAC tidak hanya
terfokus pada bidang otomotif saja melainkan pada bidang
pariwisata. Harapannya semua pihak yang terlibat dan berwenang
dapat ikut serta mewujdkan cita-cita JAC menjadi salah satu icon
kota Yogyakarta, serta event yang dilaksanakan JAC mampu
menyumbang pajak bagi pemerintah pada segmen hotel dan
restauran.
JAC menjadi satu-satunya wadah klub dan komunitas terbesar di
Yogyakarta bahkan di Indonesia (yang pertama kali). Tercatat lebih
dari 65 klub dengan sekitar 6500 anggota. Komunitas yang
tergabung dalam JAC merupakan klub motor dan klub mobil
Club yang tergabung dalam JAC misalnya :

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 61
1. Club Motor :
AJC (Astrea Jogja Cycle), STCJ (Suzuki Thunder Club Jogja),
JOTC (Jogja Thunder Club), JSL (Jogja Supra Lover), CECAK
(Ceper Cakep), CMC, HDCI (Harley Davidson Club), HSC
(Handayani Scooter Club), IMPX (Ikatan motor Pro Max), IMTY
(Ikatan Motor Tiger Yogyakarta), JClub (Jupiter Club),
TERJAL, JHC (Jogja Honda Classic), JKC (Jogja King Club),
JMPC (Jogja Mega Pro Club), JPC (Jogja Pitung Club), CBR
Club, MAC (Jogja Motor Antique Club), MIO (Mataram Indie
Otopet), MOBTA (Motor CB), MOCY (Merzy Owners Club),
NOSC (New Old Shogun Community), SHOC (Shogun Owners
Club), SUMANTO (Supra Mania Ngayogjokarto), TSC (Tornado
Shogun Club), VMC (Vega Motor Club)
2. Club Mobil :
TOC (Taruna Owners Club), BJG LIFE STYLE, CUSTOMIZED,
FREEDOM, [OPTION], AKC, Grand LX, PSHYCO,
BLACKLIST, JACKPOTZ, ORDINARY, TKCI, HNC [Honda
Nova Club], AXIC Jogja, CONTINUE, EIGHTEEN, MBCJ
[Mercedez Benz Club], PCY [Peugeot Club Yogya], KETOMBE,
MOMOGI, M2C, MATURITY, TOY TEAM, PULSARIAN Jogja.










Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 62
Event tahunan JAC adalah Jogja Bike & Drive Week (JBDW). Event
Jogja Bike Week 2005 mampu mendatangkan bikers seluruh
Indonesia dengan jumlah peserta konvoi terbesar yaitu sebanyak
7000 bikers dari seluruh nusantara dan berhasil memecahkan
Rekor Muri dalam kategori konvoi motor terpanjang.













Kegiatan yang dilakukan dalam event JBDW :
city tour
moto expo moto bursa auto bazaar
bilyard contest modern dance contest model & motor photo
contest
motor contest
baksos bikers
conference dan safety riding course
outdoor entertainment show
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 63
G. SW Analisys
Berdasarkan uraian di atas, dapat dilakukan analisis atas
keunggulan dan kelemahan segmen hobbies di Indonesia.
KEUNGGULAN KELEMAHAN
1. Dominasi repeater
2. Potensi pergerakan besar
3. Bersifat community
4. Segmen Mid-Up, Up-Upper
(premium)
5. Pengaturan perjalanan
dilakukan komunitas mereka
sendiri
6. Penggunaan media internet
sangat tinggi
7. Perjalanan bersifat reguler

1. Tujuan touring utama hanya
disekitar Jawa-Bali
2. Klub-klub besar juga masih
terkonsentrasi di kota-kota
besar di Jawa (Jakarta,
Surabaya, Bandung)
3. Banyak klub otomotif (selain
club-club besar) yang belum
memiliki agenda tetap, dan
kurang sponsor


H. Kebutuhan Pengembangan
Melihat pada karakteristiknya, segmen hobbies memerlukan
kegiatan-kegiatan pengembangan yang mengakomodasikan hal-
hal sebagai berikut :
1. Sponsorships dengan melibat sektor swasta (otomotif)
2. Penyelenggaraan event-event besar komunitas hobbies di
obyek-obyek wisata, misalnya family gathering, touring, lomba
modifikasi otomotif, pameran, dll
3. Pengembangan pemasaran dan promosi wisata hobbies
melalui media khusus komunitas hobbies, misalnya kerjasama
promosi dengan para bikers community : outdoor printed
material, stiker, event, dan online community
4. Memanfaatkan/ bekerja sama dengan komunitas hobbies untuk
menjadi pionir sebagai pembuka destinasi-destinasi baru
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 64
4.2.5. MICE/Bisnis
A. Pengertian dan Lingkup
Pengertian segmen MICE dalam hal ini adalah : Mencakup
kegiatan meeting, incentive, conference, dan exhibition yang
didominasi oleh segmen domestik (pemerintah/korporasi lokal)
Segmen MICE untuk pasar wisnus masih relative kurang popular
jika dibandingkan dengan segmen MICE yang menjangkau
segmen asing (Event MICE dengan skala Internasional).
Segmen ini lebih sering diasosiasikan dengan kelompok perjalanan
insentif dan event (penyelenggaraan pekan olah raga, festival
budaya daerah (Pekan Raya Jakarta, Festival Kesenian
Yogyakarta, Sumatera Expo, dsb).
B. Karakteristik Pasar MICE
Berikut ini adalah karakteriktik utama pasar MICE :
Sensitif terhadap harga dan keberadaan fasilitas-fasilitas MICE
(hotel, tempat konferensi, pameran)
Sophisticated karena merupakan orang-orang terpilih
Kemampuan belanja memadai (menengah atas), karena
biaya lain-lain sudah ditanggung sponsor atau perusahaan
Menyukai aktifitas minat khusus karena dilatarbelakangi oleh
tingkat pendidikan tertentu
Menggunakan hotel berbintang
Beberapa karakateristik lain yang dapat digambarkan dari
keberadaan segmen MICE antara lain :
1) Cara berkunjung (Menghadiri Event MICE)
Beberapa karakateristik lain yang dapat digambarkan dari
keberadaan segmen MICE antara lain :

Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 65
Berdasarkan cara berkunjung ke lokasi event, sebagian besar
delegasi melakukan kunjungan secara perorangan (invididual)
yaitu sebesar 46%, yang melakukan kunjungan dengan teman
atau pasangan sebanyak 34%, dan berkunjung atau datang
dalam kelompok (group) sebanyak 20%.
Delegasi yang melakukan kunjungan secara perorangan pada
umumnya merupakan delegasi atau utusan instansi atau
perusahaan. Walaupun banyak juga yang mewakili usahanya
sendiri, misalnya yang datang untuk melihat pameran.






Gambar 4.39.
Karakteristik segmen MICE berdasarkan Cara Berkunjung
ke Lokasi Event
Sumber : Survei, 2010


2) Jenis Event yang diikuti
Berdasarkan jenis event yang diikuti, mayoritas delegasi adalah
peserta event konferensi (67%). Pada umumnya event yang
memiliki kemampuan menarik minat kunjungan dalam jumlah
besar adalah event pameran (exhibition). Sementara itu,
peserta konferensi hanya 33%.



46%
34%
20%
0%
10%
20%
30%
40%
50%
Perorangan Dengan Teman Grup
Cara Berkunjung Saat ke Event
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara







Gambar 4.40.
Karakteristik segmen MICE berdasarkan Jenis Event yang
diikuti
Sumber : Survei 2010

3) Motivasi terbesar dalam mengikuti event saat ini
Berdasarkan motivasinya, sebagian besar delegasi memiliki
motivasi untuk menambah wawasan (38%), lainnya adalah
dalam kaitan dengan pengembangan usaha (15%), atas
permintaan perusahaan (13%) dan keinginan sendiri (13%).
Motivasi lainnya adalah motivasi diri, menikmati fasilitas (sight
seeing) di lokasi event, dan insentif.







Gambar 4.41. Karakteristik segmen MICE berdasarkan Motivasi
Dalam Mengikuti Event MICE
Sumber : Survei 2010

67%
33%
0%
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
Exhibition Conf erece
Jenis Event yang Diikuti
38%
13%
4% 6%
15%
13%
10%
0%
5%
10%
15%
20%
25%
30%
35%
40%
M
e
n
a
m
b
a
h

W
a
w
a
s
a
n
K
e
i
n
g
i
n
a
n

S
e
n
d
ir
i
M
e
n
i
k
m
a
t
i
F
a
s
ili
t
a
s

d
i
L
o
k
a
s
i
E
v
e
n
t
M
e
m
o
t
iv
a
s
i

D
ir
i
M
e
n
g
e
m
b
a
n
g
k
a
n

U
s
a
h
a
D
im
in
t
a

P
e
r
u
s
a
h
a
a
n
I
n
c
e
n
t
iv
e
Motivasi Mengikuti Event
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
4) Kelas Hotel
Berdasarkan kelasnya, sekitar 70% responden memilih hotel
berbintang sebagai akomodasi. Selain pertimbangan fasilitas
dan kenyamanan, alasan utamanya adalah karena mereka tidak
mengeluarkan biaya sendiri ketika mengikuti event, melainkan
dibiayai oleh perusahaan.










5) Jenis Entertainment yang disukai
Jenis hiburan yang disukai adalah pergi ke cafe (41%),
sebagian lainnya adalah ke club musik (23%), cinema (23%),
dan karaoke (13%).






70%
30%
0%
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
Bintang Non Bintang
Jenis akomodasi yang digunakan
23%
41%
13%
23%
0%
5%
10%
15%
20%
25%
30%
35%
40%
45%
Club Musik Caf Karaoke Cinema
Jenis entertaintment yang disukai
Gambar 4.42.
Karakteristik segmen MICE berdasarkan Pemilihan Hotel
Sumber : Survei 2010
Gambar 4.43.
Karakteristik segmen MICE berdasarkan Entertainment yang disukai
Sumber : Survei 2010
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
6) Jenis Tourism Attraction dan Recreational Facilities yang
disukai
Adapun jenis atraksi wisata yang diminati oleh segmen ini pada
umumnya berbelanja (shopping). Hal ini memperlihatkan bahwa
pada umumnya mereka merasa tertarik datang ke suatu
destinasi untuk berbelanja, mencari kenang-kenangan, selain
pergi mengunjungi beberapa jenis daya tarik wisata.









C. Kecenderungan Perjalanan
Kecenderungan pasar dalam melakukan mengikuti kegiatan MICE
adalah :
Disponsori oleh perusahaan (insentif)
Destinasi yang menarik
Event yang menarik / unik


16%
23%
39%
15%
6%
0%
5%
10%
15%
20%
25%
30%
35%
40%
Pantai Heritage /
Museum
Shopping Taman
Bertema
Lainnya
Jenis tourist attraction & recreational
facilities yang disukai
Gambar 4.44. Karakteristik segmen MICE berdasarkan
Atraksi wisata dan fasilitas rekreasi yang disukai
Sumber : Survei 2010

D. Kota-kota Tujuan
Kota-kota tujuan
sarana dan prasarana event relative memadai. Kota
Destinasi MICE yang sudah ditunjuk pemerintah sebagai kota
prioritas penyelenggara MICE di Indonesia, dengan kota
utama adalah Jakarta dan
Jakarta
Bali
Bandung
Yogyakarta
Surabaya
Makassar
Medan
Padang

Kota-Kota Tujuan MICE di INdonesia
Gambar 4.45. Sebaran Daya Tarik Wisata Ziarah di Luar Jawa
Sumber : Survei, 2010
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
kota Tujuan MICE
kota tujuan MICE adalah kota-kota yang secara ketersediaan
sarana dan prasarana event relative memadai. Kota-kota ini adalah
Destinasi MICE yang sudah ditunjuk pemerintah sebagai kota
prioritas penyelenggara MICE di Indonesia, dengan kota
utama adalah Jakarta dan Bali. Kota-kota tersebut adalah :
Yogyakarta
MICE di INdonesia
. Sebaran Daya Tarik Wisata Ziarah di Luar Jawa
, 2010
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
kota yang secara ketersediaan
kota ini adalah
Destinasi MICE yang sudah ditunjuk pemerintah sebagai kota-kota
prioritas penyelenggara MICE di Indonesia, dengan kota-kota
adalah :

. Sebaran Daya Tarik Wisata Ziarah di Luar Jawa
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 70
E. SW Analisys
Berdasarkan fakta dan data sebagaimana telah diuraikan di atas,
dapat dilakukan analisis atas keunguulan dan kelemahan segmen
MICE sebagai berikut :
KEUNGGULAN KELEMAHAN
1. Didominasi kalangan
menengah atas dengan
kemampuan ekonomi yang
lebih mapan
2. Disponsori
perusahaan/instansi
3. Lama tinggal panjang
4. Pembelanjaan tinggi
5. Datang secara berombongan

1. MEETING (lebih banyak di
dominasi segmen lokal)
2. INCENTIVE (jumlah relatif
kecil, memerlukan teknik
promosi yang lebih
sophisticated, faktor akses
dan fasilitas berpengaruh
besar)
3. CONFERENCE (belum
optimalnya keterlibatan
akademisi, selain faktor
akses dan fasilitas)
4. EXHIBITION (memerlukan
orientasi pasar yang jelas)


F. Kebutuhan Pengembangan
Adapun kebutuhan pengembangan bagi segmen MICE mencakup
antara lain kebutuhan sebagai berikut :
1. Penyelenggaraan event-event besar bertema industri, bisnis,
pendidikan, dan kebudayaan tradisional
2. Penyelenggaraan event olahraga bertaraf internasional secara
rutin, seperti perahu, kapal layar, balap sepeda, lari, renang di
obyek-obyek wisata, misalnya Sail Bunaken, Sail Banda, Tour
de Singkarak, dll
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 71
3. Penyelenggaraan event musik/konser bertaraf internasional
secara rutin, misalnya Jakarta International Java Jazz Festival
4. Penyelenggaraan festival, karnaval daerah secara rutin,
misalnya Solo Batik Carnival, Festival Malioboro, Jember
Fashion Carnaval, Kuta Carvival, dll.
5. Pemberian diskon untuk pembelian tiket masuk event bagi
pemilik membercard komunitas tertentu
6. Pembuatan kalender event tiap-tiap daerah secara rutin
7. Pengembangan pemasaran dan promosi MICE melalui melalui
televisi dan radio (baik lokal maupun nasional), website,
facebook, twitter, blog, dll
8. Pengembangan paket murah perusahaan untuk wisata insentif :
paket wisata kota, paket wisata belanja, paket wisata outbound,
paket wisata bertema (industri dan bisnis, sejarah, budaya,
alam, dll)
9. Menyertakan kegiatan wisata insentif sebagai bagian dari
kepedulian dari perusahaan terhadap karyawan dalam CSR
untuk perusahaan










Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

IV - 72
4.3. Segmentasi Demografis
4.3.1. Ekspatriat
Segmen ekspatriat dinilai sebagai salah satu market niche untuk
segmen wisnus. Segmen ini adalah para WNA yang tinggal dalam
waktu lama di Indonesia karena alasan tertentu (bekerja,
misionaris, sekolah, dsb). Segmen ini diindikasikan memiliki potensi
khusus terkait dengan wisatawan nusantara.
Gaya hidupnya yang berkelompok, dan pada umumnya tinggal
dengan keluarga besar adalah peluang pasar yang diperkirakan
dapat meramaikan segmen pasar domestik. Kelompok ini seringkali
berwisata dan mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada selama
mereka tinggal di Indonesia.
Segmen ini memiliki ciri atau karakteristik sebagai berikut :
1. Bukan penduduk asli, melainkan WNA yang tinggal atau
bekerja di Indonesia
2. Pada umumnya tinggal di kota-kota besar
3. Ada yang tinggal untuk jangka lama dan beberapa dengan
keluarga
4. Memiliki jaringan komunitas (misalnya Asosiasi Wanita
Jepang, Asosiasi Bisnis Indonesia Kanada, dsb)
5. Mayoritas adalah segmen Menengah Atas dan sering
berlibur
6. Setidaknya hanya akan pulang 1x dalam setahun dan
selebihnya akan banyak meluangkan waktu di Indonesia

Prospek Ekspatriat di Indonesia
Kantong-kantong ekspatriat di Indonesia adalah di Jakarta dan
kota-kota lain di Jawa (Surabaya, Bandung, Yogyakarta) dan
beberapa tempat lain yang merupakan basis perusahaan yang
dikelola atau melibatkan pekerja-pekerja asing, misalnya di
Kalimantan Timur, Kep. Riau, dan Papua (Timika)







Sumber : The Jakarta Post (2008)

Kebutuhan pengembangan segmen ekspatriat
1. Kelompok ini membutuhan media komunikasi dengan
menggunakan bahasa yang relevan
Inggris)
2. Kelompok ini lebih tertarik m
ekspat (vertikal / horisontal marketing)
mengkomunikasikan segala informasi dan hal
3. Ekspatriat menggunakan m
Post), selain juga brosur, dan DVD
4. Karena karakteristiknya homy dan s
keluarga, pendekatan pada kelompok ini dapat dilakukan
melalui sekolah
ekspatriat :
Wanita memiliki pengaruh yang besar dalam keluarga
termasuk dalam menentukan rencana liburan
Hampir semua war
memiliki asosiasi wanita yang mengadakan pertemuan
secara rutin, dukung terhadap sekolah untuk negara
asalnya, kerja sosial, membantu para pendatang baru yang
akan tinggal di Indonesia, dsb
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
Sumber : The Jakarta Post (2008)
Kebutuhan pengembangan segmen ekspatriat
Kelompok ini membutuhan media komunikasi dengan
menggunakan bahasa yang relevan (setidaknya bahasa
Kelompok ini lebih tertarik menggunakan jaringan komunitas
ekspat (vertikal / horisontal marketing)
mengkomunikasikan segala informasi dan hal-hal baru
Ekspatriat menggunakan media-media yang populer (Jakarta
Post), selain juga brosur, dan DVD
Karena karakteristiknya homy dan selalu dekat dengan
keluarga, pendekatan pada kelompok ini dapat dilakukan
melalui sekolah-sekolah internasional dan asosiasi wanita
ekspatriat :
Wanita memiliki pengaruh yang besar dalam keluarga
termasuk dalam menentukan rencana liburan
Hampir semua warga negara asing yang ada di Indonesia
memiliki asosiasi wanita yang mengadakan pertemuan
secara rutin, dukung terhadap sekolah untuk negara
asalnya, kerja sosial, membantu para pendatang baru yang
akan tinggal di Indonesia, dsb
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
Kelompok ini membutuhan media komunikasi dengan
(setidaknya bahasa
enggunakan jaringan komunitas
dalam
hal baru
media yang populer (Jakarta
elalu dekat dengan
keluarga, pendekatan pada kelompok ini dapat dilakukan
sekolah internasional dan asosiasi wanita
Wanita memiliki pengaruh yang besar dalam keluarga
ga negara asing yang ada di Indonesia
memiliki asosiasi wanita yang mengadakan pertemuan
secara rutin, dukung terhadap sekolah untuk negara
asalnya, kerja sosial, membantu para pendatang baru yang
Asosiasi wanita ekspat ini memiliki pengaruh kuat terhadap
komunitas lokal mereka, dan melalui mulut ke mulut
mereka akan menyebarluaskan informasi dengan cepat
Menggunakan ikon, brosur, DVD, ajang kompetisi dsb
untuk mempromosikan kepada kelompok
wisatawan domestik dengan melibatkan pemerintah dan
pelaku usaha (destinasi, maskapai)

4.3.2. Kelompok Umur
Kelompok umur dalam kajian ini dinilai
penting dalam menentukan kategori segmen wisatawan nusantara.
Umur memiliki sejumlah i
pembelanjaan, gaya hidup, preferensi produk, dan media
komunikasi yang digunakan :














Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
Asosiasi wanita ekspat ini memiliki pengaruh kuat terhadap
komunitas lokal mereka, dan melalui mulut ke mulut
mereka akan menyebarluaskan informasi dengan cepat
Menggunakan ikon, brosur, DVD, ajang kompetisi dsb
untuk mempromosikan kepada kelompok-
wisatawan domestik dengan melibatkan pemerintah dan
pelaku usaha (destinasi, maskapai)
Kelompok Umur
Kelompok umur dalam kajian ini dinilai menjadi salah satu aspek
penting dalam menentukan kategori segmen wisatawan nusantara.
Umur memiliki sejumlah implikasi yang terkait dengan
, gaya hidup, preferensi produk, dan media
komunikasi yang digunakan :
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara
Asosiasi wanita ekspat ini memiliki pengaruh kuat terhadap
komunitas lokal mereka, dan melalui mulut ke mulut
mereka akan menyebarluaskan informasi dengan cepat
Menggunakan ikon, brosur, DVD, ajang kompetisi dsb
-kelompok
wisatawan domestik dengan melibatkan pemerintah dan
menjadi salah satu aspek
penting dalam menentukan kategori segmen wisatawan nusantara.
mplikasi yang terkait dengan
, gaya hidup, preferensi produk, dan media
B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



I
V

-

7
5

1
8


2
5

T
a
h
u
n

2
6


3
5

T
a
h
u
n

3
6


4
5

T
a
h
u
n

4
6


5
5

T
a
h
u
n

+

5
5

T
a
h
u
n

A
n
g
g
o
t
a
/

K
o
m
u
n
i
t
a
s

P
e
l
a
j
a
r
/
M
a
h
a
s
i
s
w
a

P
e
k
e
r
j
a

J
u
n
i
o
r

E
x
e
c
u
t
i
v
e

M
u
d
a

P
e
n
g
u
s
a
h
a

P
e
g
a
w
a
i

L
a
i
n
n
y
a

E
x
e
c
u
t
i
v
e

M
u
d
a

S
w
a
s
t
a

P
e
n
g
u
s
a
h
a

P
e
g
a
w
a
i

L
a
i
n
n
y
a

P
e
n
g
u
s
a
h
a

S
w
a
s
t
a


P
e
g
a
w
a
i

L
a
i
n
n
y
a


P
e
n
s
i
u
n
a
n

G
a
y
a

H
i
d
u
p

P
e
n
d
a
p
a
t
a
n

k
e
c
i
l

P
e
m
b
e
l
a
n
j
a
a
n

k
e
c
i
l

S
u
k
a

b
e
r
t
u
a
l
a
n
g

P
e
n
d
a
p
a
t
a
n

m
e
n
e
n
g
a
h

P
e
m
b
e
l
a
n
j
a
a
n

c
u
k
u
p

(
b
e
s
a
r
)

E
k
s
p
e
r
i
m
e
n
t
a
l
i
s

S
u
k
a

t
a
n
t
a
n
g
a
n

P
e
n
d
a
p
a
t
a
n

m
e
n
e
n
g
a
h

-

a
t
a
s

P
e
m
b
e
l
a
n
j
a
a
n

c
u
k
u
p

(
b
e
s
a
r
)

-

b
e
s
a
r

E
k
s
p
e
r
i
m
e
n
t
a
l
i
s

S
u
k
a

t
a
n
t
a
n
g
a
n

P
e
n
d
a
p
a
t
a
n

m
e
n
e
n
g
a
h

-

a
t
a
s

P
e
m
b
e
l
a
n
j
a
a
n

c
u
k
u
p

(
b
e
s
a
r
)

-

b
e
s
a
r


P
e
n
d
a
p
a
t
a
n

k
e
c
i
l

P
e
m
b
e
l
a
n
j
a
a
n

k
e
c
i
l

M
o
b
i
l
i
t
a
s

r
e
n
d
a
h



P
r
e
f
e
r
e
n
s
i

P
r
o
d
u
k

B
e
r
k
a
r
a
k
t
e
r

s
u
k
a
-
s
u
k
a

R
e
k
r
e
a
s
i

b
e
r
s
a
m
a
-
s
a
m
a

(
T
a
m
a
n

b
e
r
t
e
m
a
,

p
a
n
t
a
i
,

P
e
g
u
n
u
n
g
a
n
)

H
a
l
-
h
a
l

y
a
n
g

m
e
n
o
n
j
o
l
k
a
n

g
a
y
a

h
i
d
u
p

S
p
e
c
i
a
l

i
n
t
e
r
e
s
t

R
e
k
r
e
a
t
i
f

H
a
l
-
h
a
l

y
a
n
g

m
e
n
o
n
j
o
l
k
a
n

g
a
y
a

h
i
d
u
p

S
p
e
c
i
a
l

i
n
t
e
r
e
s
t

R
e
k
r
e
a
t
i
f

H
a
l
-
h
a
l

y
a
n
g

m
e
n
o
n
j
o
l
k
a
n

g
a
y
a

h
i
d
u
p

S
p
e
c
i
a
l

i
n
t
e
r
e
s
t

R
e
k
r
e
a
t
i
f

R
e
k
r
e
a
t
i
f

M
e
d
i
a

K
o
m
u
n
i
k
a
s
i


S
o
c
i
a
l

M
e
d
i
a

I
n
t
e
r
n
e
t

R
a
d
i
o

T
V

S
o
c
i
a
l

M
e
d
i
a

I
n
t
e
r
n
e
t

R
a
d
i
o

T
V

M
a
j
a
l
a
h

G
a
y
a

H
i
d
u
p

S
o
c
i
a
l

M
e
d
i
a

I
n
t
e
r
n
e
t

R
a
d
i
o

T
V

M
a
j
a
l
a
h

G
a
y
a

H
i
d
u
p

T
V

M
a
j
a
l
a
h

G
a
y
a

H
i
d
u
p

R
a
d
i
o

T
V




























5. Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

V- 1


V. VISI, MISI, TUJUAN, DAN
SASARAN


5.1. Visi dan Misi Pengembangan
Sesuai dengan apa yang akan dicapai guna mengembangkan
wisatawan nusantara maka dapat dirumuskan visi dan misi
pengembangan pemasaran pariwisata nusantara sebagai berikut :
a. VISI :
Terwujudnya kualitas dan kuantitas pergerakan
wisatawan nusantara dalam rangka mendorong
rasa cinta tanah air, menumbuhkan ekonomi,
menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi
kemiskinan, dengan menerapkan strategi
pemasaran pariwisata yang bertanggungjawab di
wilayah dan daya tarik wisata di Indonesia

b. MISI :
Dalam rangka menwujudkan visi di atas, misi yang akan dicapai
dalam pemasaran pariwisata nusantara adalah :
1) Mengembangkan pasar wisatawan nusantara
2) Menguatkan citra destinasi yang unggul dan dapat bersaing
dengan destinasi lain di luar negeri bagi wisatawan nusantara
3) Mengembangkan kelembagaan pemasaran yang profesional,
dan kemitraan antar sektor dan pemangku kepentingan
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

V- 2

5.2. Tujuan dan Sasaran Pengembangan
Tujuan dan sasaran pengembangan pemasaran pariwisata
nusantara yaitu :
a. Tujuan :
1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pergerakan wisnus di
wilayah dan destinasi wisata di Indonesia yang dapat
mendorong perekonomian dan rasa cinta tanah air.
2. Meningkatkan sebaran kunjungan wisnus ke lebih banyak
wilayah dan destinasi wisata di Indonesia
3. Membentuk dan mengkomunikasikan citra destinasi yang
unggul dan menarik bagi wisnus, sehingga dapat
meningkatkan kunjungan wisnus dan menambah daya saing
destinasi di Indonesia dibanding destinasi di negara lain
yang menjadi DTW bagi wisatawan asal Indonesia (wisnas).
4. Mengembangkan variasi dan kualitas segmen wisata
nusantara.

b. Sasaran :
1. Meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan nusantara, lama
tinggal, tingkat pengeluaran, serta distribusi kunjungan ke
berbagai destinasi pariwisata
2. Berkembangnya variasi segmen-segmen wisnus
(menurunnya jumlah segmen VFR dan meningkatnya jumlah
segmen wisatawan murni, dan bertambahnya segmen-
segmen minat khusus)
3. Menguatnya citra destinasi wisata yang unggul dan berdaya
saing dibanding destinasi wisata di luar negeri yang menjadi
tujuan wisata wisnas.
4. Meningkatnya kualitas pelayanan dan kelengkapan informasi
kepariwisataan di Indonesia.
5. Meningkatnya dukungan dan partisipasi seluruh stakeholders
dalam memasarkan dan mempromosikan destinasi
pariwisata nusantara.

























6. Arah Kebijakan, Strategi, dan
Indikasi Program
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

VI - 1


VI. ARAH KEBIJAKAN,
STRATEGI, DAN INDIKASI
PROGRAM


6.1. Landasan Pengembangan
Beberpa isu berikut menjadi dasar pentingnya Kebijakan yang akan
digunakan sebagai dasar perencanaan program pengembangan
wisatawan nusantara :
1. Motivasi Kunjungan yang Masih Terbatas pada Visiting
Friends & Relatives (VFR), Weekenders dan Bisnis
Sementara itu, motivasi lainnya relatif belum berkembang atau
dengan prosentasi yang masih relatif kecil.
2. Tidak Seimbangnya Proporsi Antara Mass & Niche Market
Kelompok wisatawan domestik lebih identik dengan Mass Market
dibandingkan dengan kelompok special interest (Niche market).
Kondisi ini tentu dapat menimbulkan dampak yang lebih besar
dan berpotensi merusak lingkungan.
3. Program-Program Promosi yang Kurang Aktif dan Agresif
Program-program promosi wisatawan nusantara masih sangat
pasif dengan jangkauan (coverage) pasar yang terbatas. Selain
karena faktor penggunaan media promosi (sebatas pada media
tradisional), juga konten program yang kurang menarik, sehingga
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

VI - 2
tidak mengundang antusiasme masyarakat. Aspek lain adalah
variasi program yang minimum.
4. Belum Optimalnya Media Campaign dan Penggunaan
Teknologi Komunikasi Pemasaran
Untuk promosi wisatawan domestik, penggunaan media
campaign masih bersifat tradisional seperti Radio, TV, dan media
cetak majalah atau koran. Media campaign yang sedang booming
saat ini adalah media on-line di internet seperti social media
(facebook, twitter, blog, dsb).
5. Program-Program Promosi Lokal yang Kurang Sesuai
Karakteristik Pasar dan kecenderungan Motivasi Pergerakan
Wisnus yang spesifik dan tuntuan kebutuhan strategi
pemasaran yang lebih terfokus dan tepat sasaran
Program-program promosi yang dilakukan oleh masing-masing
daerah seringkali kurang mengakomodasikan kepentingan pasar,
karena promosi lebih mengedepankan pada ajakan dan
cenderung kurang memperhatikan target yang disasar. Hal ini
seringkali berakibat pada tidak optimalnya dampak promosi dan
respon pasar terhadap promosi tersebut.
Pola-pola motivasi pergerakan wisnus ke depan diindikasikan
akan semakin tersegmentasi, hal ini berarti akan dibutuhkan
strategi-strategi yang mampu merespon kebutuhan pasar.
6. Kurangnya kerjasama promosi antar pelaku usaha untuk
segmen wisnus dan peran kelembagaan promosi pariwisata
Masing-masing pihak seringkali tidak memahami pentingnya
promosi bersama (joint promotion) yang sebenarnya lebih efisien
dari segi biaya, dan efektif karena melibatkan berbagai pihak.
Kerjasama promosi yang berjalan selama ini khususnya di
daerah-daerah cenderung terpisah-pisah, masing-masing pihak
memiliki rencana promosi tersendiri.
Oleh karena itu sangat diperlukan kemitraan yang sinergis terkait
dengan program pengembangan wisnus terutama akibat
kurangnya partisipasi, koordinasi, dan inisiatif kerjasama dari
pihak.
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

VI - 3
7. Branding pariwisata yang dikembangkan belum disertai
dengan program-program promosi yang terfokus
Aneka branding pariwisata yang dikembangkan oleh masing-
masing daerah dengan tidak disertai dengan program-program
promosi yang konsisten kepada wisatawan.


6.2. Arahan Kebijakan, Strategi, dan Indikasi Program
Arah kebijakan, strategi, dan Indikasi program dalam hal ini dibagi ke
dalam dua kelompok domain, yaitu :
6.2.1. Umum
A. Pengembangan pasar wisatawan
B. Pengembangan Citra dan Komunikasi Pemasaran
C. Pengembangan Kemitraan dan Kelembagaan Pemasaran
6.2.2. Pengembangan Segmen Berdasarkan Motivasi
1. Kebijakan dan Pengembangan Pasar Dengan Motivasi
Silaturahmi (VFR)
2. Kebijakan dan Pengembangan Pasar Dengan Motivasi
Weekenders
3. Kebijakan dan Pengembangan Pasar Dengan Motivasi Ziarah
4. Kebijakan dan Pengembangan Pasar Dengan Motivasi Hobbies
5. Kebijakan dan Pengembangan Pasar Dengan Motivasi MICE
6.2.3. Pengembangan Segmen Berdasarkan Motivasi
1. Kebijakan Pemantapan dan Pengembangan Pasar Ekspatriat
2. Kebijakan Pemantapan dan Pengembangan Pasar Berdasarkan
Usia (Kelompok Umur)
B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

4

6
.
2
.
1
.

U
m
u
m

(
G
e
n
e
r
i
k
)

A
.

P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

P
A
S
A
R

W
I
S
A
T
A
W
A
N

A
R
A
H

K
E
B
I
J
A
K
A
N


1


P
E
M
A
N
T
A
P
A
N

S
E
G
M
E
N

P
A
S
A
R

W
I
S
A
T
A
W
A
N

M
A
S
S
A
L

(
M
A
S
S

M
A
R
K
E
T
)

D
A
N

P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

S
E
G
M
E
N

C
E
R
U
K

P
A
S
A
R

(
N
I
C
H
E

M
A
R
K
E
T
)

D
A
L
A
M

M
E
N
G
O
P
T
I
M
A
L
K
A
N

P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

D
E
S
T
I
N
A
S
I

P
A
R
I
W
I
S
A
T
A

D
A
N

D
I
N
A
M
I
K
A

P
A
S
A
R

G
L
O
B
A
L


A
r
a
h

k
e
b
i
j
a
k
a
n

d
i

a
t
a
s

d
i
j
a
b
a
r
k
a
n

d
a
l
a
m

s
t
r
a
t
e
g
i

d
a
n

i
n
d
i
k
a
s
i

p
r
o
g
r
a
m

s
e
b
a
g
a
i

b
e
r
i
k
u
t
:

N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T

1

R
e
v
i
t
a
l
i
s
a
s
i

d
a
n

d
i
v
e
r
s
i
f
i
k
a
s
i

p
r
o
d
u
k
-
p
r
o
d
u
k

w
i
s
a
t
a

b
a
g
i

w
i
s
n
u
s


1
.
1
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
r
o
d
u
k
-
p
r
o
d
u
k

b
a
r
u

y
a
n
g

d
i
m
i
n
a
t
i

w
i
s
n
u
s
,

m
i
s
a
l
n
y
a

w
i
s
a
t
a

m
a
l
a
m
,

S
u
n
d
a
y

m
a
r
k
e
t
,

a
n
t
i
q
u
e
i
n
g
,

k
u
l
i
n
e
r
,

k
h
u
s
u
s
n
y
a

u
n
t
u
k

s
e
g
m
e
n

m
e
n
e
n
g
a
h


a
t
a
s

(
p
e
n
g
g
e
m
a
r

b
a
r
a
n
g

a
n
t
i
k
,

p
e
m
b
u
r
u

p
e
r
n
a
k
-
p
e
r
n
i
k
)
,

d
a
n

s
e
g
m
e
n

l
a
i
n
n
y
a





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



1
.
2
.

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

e
v
e
n
t
-
e
v
e
n
t

d
i

o
b
y
e
k
-
o
b
y
e
k

w
i
s
a
t
a

s
e
c
a
r
a

r
u
t
i
n

d
e
n
g
a
n

m
e
l
i
b
a
t
k
a
n

I
C
O
N
,

t
o
k
o
h
,

s
e
l
e
b
r
i
t
i
e
s
,

a
r
t
i
s

t
e
r
k
e
n
a
l
,

k
e
l
o
m
p
o
k

m
u
s
i
k

n
a
s
i
o
n
a
l
,

d
s
b





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



1
.
3
.

P
e
m
a
s
a
n
g
a
n

S
I
G
N

&

P
O
S
T

u
n
t
u
k

o
b
y
e
k
-
o
b
y
e
k

t
e
r
t
e
n
t
u

d
e
n
g
a
n

d
e
s
a
i
n

k
h
u
s
u
s

(
l
e
b
i
h

e
y
e

c
a
t
c
h
i
n
g
,

c
o
l
o
r
f
u
l
l
,

d
a
n

m
u
d
a
h

d
i
k
e
n
a
l
i
)

d
i

h
a
m
p
i
r

s
e
m
u
a

j
a
l
u
r
-
j
a
l
u
r

u
t
a
m
a





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


D
i
n
a
s

P
U


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



1
.
4
.

P
e
m
e
r
i
n
g
k
a
t
a
n

k
u
a
l
i
f
i
k
a
s
i

o
b
y
e
k
-
o
b
y
e
k

w
i
s
a
t
a

u
n
t
u
k

d
o
m
e
s
t
i
k

d
a
l
a
m

r
a
n
g
k
a

m
e
n
g
u
k
u
r

p
e
r
k
e
m
b
a
n
g
a
n

k
u
n
j
u
n
g
a
n

w
i
s
n
u
s




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

5

2

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

s
e
g
m
e
n

p
a
s
a
r

w
i
s
n
u
s

b
e
r
b
a
s
i
s

k
o
m
u
n
i
t
a
s



3
.
1
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
a
k
e
t
-
p
a
k
e
t

w
i
s
a
t
a

b
a
g
i

k
o
m
u
n
i
t
a
s

(
k
l
a
n

k
e
l
u
a
r
g
a
,

h
o
b
b
i
e
s
,

k
e
i
l
m
u
a
n
,

d
l
l
)

m
i
s
a
l
n
y
a

t
o
u
r
i
n
g

d
a
n

f
a
m
i
l
y

g
a
t
h
e
r
i
n
g

k
e

o
b
y
e
k
-
o
b
y
e
k

w
i
s
a
t
a






K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t


M
a
s
y
a
r
a
k
a
t
/
K
o
m
u
n
i
t
a
s

H
o
b
b
i
e
s

3

A
k
s
e
l
e
r
a
s
i

p
r
o
g
r
a
m
-
p
r
o
g
r
a
m

p
r
o
m
o
s
i

w
i
s
n
u
s

s
e
c
a
r
a

l
e
b
i
h

t
e
r
f
o
k
u
s

3
.
1
.

P
e
n
e
r
a
p
a
n

p
r
i
n
s
i
p

p
e
m
b
a
n
g
u
n
a
n

r
e
l
a
s
i

d
e
n
g
a
n

p
e
l
a
n
g
g
a
n

(
c
u
s
t
o
m
e
r

r
e
l
a
t
i
o
n
s
h
i
p
)

d
i

s
e
g
e
n
a
p

p
e
l
a
k
u

r
e
t
a
i
l

u
s
a
h
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

d
a
l
a
m

b
e
n
t
u
k

s
p
e
c
i
a
l

p
r
o
g
r
a
m
,

s
a
l
e
s

c
a
l
l
s
,

b
u
l
e
t
t
i
n

k
h
u
s
u
s
,

m
e
m
b
e
r
s
h
i
p
,

d
s
b




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



3
.
2
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

c
o
-
m
a
r
k
e
t
i
n
g

d
e
n
g
a
n

t
r
a
v
e
l

r
e
l
a
t
e
d

i
n
d
u
s
t
r
i
e
s

s
e
t
e
m
p
a
t

d
a
l
a
m

a
n
e
k
a

p
r
o
g
r
a
m

p
r
o
m
o
s
i

y
a
n
g

b
e
r
t
u
j
u
a
n

m
e
n
a
r
i
k

m
i
n
a
t

w
i
s
n
u
s

b
e
r
w
i
s
a
t
a




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



3
.
3
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

d
a
n

p
e
n
g
u
a
t
a
n

m
a
r
k
e
t

r
e
s
e
a
r
c
h

k
h
u
s
u
s
n
y
a

d
i

d
a
e
r
a
h
-
d
a
e
r
a
h

d
a
l
a
m

r
a
n
g
k
a

m
e
m
b
i
d
i
k

s
e
g
m
e
n

y
a
n
g

l
e
b
i
h

t
e
r
f
o
k
u
s

d
a
n

i
m
p
l
e
m
e
n
t
a
s
i

p
r
o
g
r
a
m

s
e
c
a
r
a

e
f
e
k
t
i
f

d
a
n

e
f
i
s
i
e
n





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



3
.
4
.


P
e
n
g
e
n
a
l
a
n

d
a
n

s
o
s
i
a
l
i
s
a
s
i

M
a
r
k
e
t

i
n
t
e
l
l
i
g
e
n
c
e

u
n
t
u
k

s
e
g
m
e
n

w
i
s
n
u
s

k
h
u
s
u
s
n
y
a

d
i
d
e
s
t
i
n
a
s
i
-
d
e
s
t
i
n
a
s
i

b
e
r
k
e
m
b
a
n
g

(
J
a
k
a
r
t
a
,

B
a
n
d
u
n
g
,

B
a
l
i
)

u
n
t
u
k

m
e
n
d
u
k
u
n
g

k
e
m
u
d
a
h
a
n

b
e
r
w
i
s
a
t
a





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



3
.
5
.

P
e
m
b
u
a
t
a
n

D
e
s
a
i
n

w
e
b
s
i
t
e

k
h
u
s
u
s

u
n
t
u
k

d
o
m
e
s
t
i
k

m
i
s
a
l
n
y
a

d
e
n
g
a
n

b
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a

d
a
n

m
e
n
g
e
d
e
p
a
n
k
a
n

o
b
y
e
k
-
o
b
y
e
k

u
t
a
m
a

w
i
s
n
u
s




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



3
.
6
.

M
e
n
g
o
p
t
i
m
a
l
k
a
n

p
e
n
g
g
u
n
a
a
n

s
o
c
i
a
l

m
e
d
i
a

m
a
r
k
e
t
i
n
g

(
F
a
c
e
b
o
o
k
,

T
w
i
t
t
e
r
,

Y
o
u
t
u
b
e
)

s
e
b
a
g
a
i

m
e
d
i
a

k
o
m
u
n
i
k
a
s
i

p
e
m
a
s
a
r
a
n

u
n
t
u
k

s
e
g
a
l
a

s
e
g
m
e
n

d
a
n

b
e
r
a
g
a
m

j
e
n
i
s

p
r
o
g
r
a
m

p
r
o
m
o
s
i

w
i
s
n
u
s




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

4

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
r
o
g
r
a
m

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

u
n
t
u
k

m
e
n
i
n
g
k
a
t
k
a
n

c
e
r
u
k

p
a
s
a
r

(
n
i
c
h
e

m
a
r
k
e
t
)

4
.
1
.

S
o
s
i
a
l
i
s
a
s
i

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

p
r
o
d
u
k
-
p
r
o
d
u
k

m
i
n
a
t

k
h
u
s
u
s

s
e
p
e
r
t
i

b
i
r
d
w
a
t
c
h
i
n
g
,

t
r
e
k
k
i
n
g
,

c
a
n
o
e
i
n
g
,

k
a
y
a
k
i
n
g
,

r
a
f
t
i
n
g
,

l
i
f
e
s
t
y
l
e
,

h
e
a
l
t
h
,

g
o
l
f
,

m
a
r
i
n
e

t
o
u
r
i
s
m
,
d
l
l

m
e
l
a
l
u
i

p
r
o
g
r
a
m

o
u
t
b
o
u
n
d

d
i

s
e
k
o
l
a
h
-
s
e
k
o
l
a
h
,

p
e
n
g
g
u
n
a
a
n

s
o
c
i
a
l

m
e
d
i
a

(
F
B
,

T
w
i
t
t
e
r
,

B
l
o
g
g
e
r
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r

&

K
e
m
e
n
d
i
k
n
a
s


D
i
n
p
a
r


D
i
n
a
s

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

6



4
.
2
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
a
s
a
r

s
a
s
a
r
a
n

(
t
a
r
g
e
t

m
a
r
k
e
t
)

y
a
n
g

t
e
p
a
t

b
a
g
i

p
r
o
d
u
k

w
i
s
a
t
a

m
i
n
a
t

k
h
u
s
u
s

b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

p
e
n
d
e
k
a
t
a
n

v
a
r
i
a
b
l
e

s
e
g
m
e
n
t
a
s
i
:


a
.

G
e
o
g
r
a
f
i
s

b
.

S
o
s
i
o
d
e
m
o
g
r
a
f
i
s


c
.

P
r
o
d
u
k

y
a
n
g

t
e
r
k
a
i
t

(
r
e
l
a
t
e
d

p
r
o
d
u
c
t
)

d
.

M
o
t
i
v
a
s
i

p
e
r
j
a
l
a
n
a
n


e
.

P
s
i
k
o
g
r
a
f
i
s


g
a
y
a

h
i
d
u
p






K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

5

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
r
o
m
o
s
i

b
e
r
b
a
s
i
s

t
e
m
a

t
e
r
t
e
n
t
u

5
.
1
.

P
r
o
g
r
a
m

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

b
e
r
b
a
s
i
s

t
e
m
a

t
e
r
t
e
n
t
u

m
e
l
a
l
u
i

c
o
m
m
u
n
i
t
y

m
a
r
k
e
t
i
n
g

d
a
n

k
a
m
p
a
n
y
e

p
e
m
a
s
a
r
a
n

s
e
c
a
r
a

t
e
r
e
n
c
a
n
a

d
a
n

t
e
r
p
a
d
u

d
e
n
g
a
n

p
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
r
o
d
u
k

s
e
s
u
a
i

t
e
m
a
.

(
C
o
n
t
o
h

:

T
a
h
u
n

K
u
n
j
u
n
g
a
n

M
u
s
e
u
m
,

T
a
h
u
n

K
u
n
j
u
n
g
a
n

B
a
h
a
r
i
,

d
l
l
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



5
.
2
.

P
r
o
g
r
a
m

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

b
e
r
t
e
m
a

k
h
u
s
u
s

u
n
t
u
k

m
e
n
d
a
t
a
n
g
k
a
n

w
i
s
a
t
a
w
a
n

m
a
s
s
a
l

(
m
i
s
a
l
n
y
a

d
i
r
e
c
t

s
e
l
l
i
n
g

a
t
a
u

p
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

e
v
e
n
t
-
e
v
e
n
t

d
i

p
u
s
a
t

p
e
r
b
e
l
a
n
j
a
a
n
)


j
u
g
a

d
a
l
a
m

b
e
n
t
u
k

c
o
n
s
u
m
e
r

s
h
o
w




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



5
.
3
.

P
e
n
g
g
u
n
a
a
n

i
c
o
n

a
t
a
u

f
i
g
u
r
e

p
u
b
l
i
c

s
e
b
a
g
a
i

d
u
t
a

w
i
s
a
t
a

(
d
a
p
a
t

m
e
r
u
p
a
k
a
n

a
t
l
i
t
,

a
r
t
i
s
,

a
c
t
o
r
,

p
e
n
y
a
n
y
i
)

u
n
t
u
k

b
e
r
k
a
m
p
a
n
y
e

m
e
n
g
e
n
a
i

C
i
n
t
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a


a
t
a
u

C
I
n
t
a

J
a
k
a
r
t
a
,

a
t
a
u

C
i
n
t
a

M
a
n
a
d
o
,

d
s
t




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

6

A
k
s
e
l
e
r
a
s
i

p
e
r
g
e
r
a
k
a
n

w
i
s
a
t
a
w
a
n

n
u
s
a
n
t
a
r
a

6
.
1
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
e
c
e
n
d
e
r
u
n
g
a
n

b
e
r
w
i
s
a
t
a

d
a
n

g
a
y
a

h
i
d
u
p

b
e
r
w
i
s
a
t
a
,

m
e
l
a
l
u
i
:


a
.

K
a
m
p
a
n
y
e

P
r
o
g
r
a
m

W
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a

(

K
e
n
a
l
i

N
e
g
e
r
i
m
u

C
i
n
t
a
i

N
e
g
e
r
i
m
u

)


b
.

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

e
v
e
n
t

p
r
o
m
o
s
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a


d
i

s
u
m
b
e
r

p
a
s
a
r

w
i
s
n
u
s

(
m
a
l
,


h
o
t
e
l
,

b
a
n
d
a
r
a
,

p
u
s
a
t

p
e
r
b
e
l
a
n
j
a
a
n
,


d
l
l
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



6
.
2
.

P
e
n
c
i
p
t
a
a
n

p
r
o
g
r
a
m

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

p
r
o
d
u
k

t
e
r
p
a
d
u

m
e
l
i
p
u
t
i
:

p
e
n
c
i
p
t
a
a
n

s
k
e
m
a
-
s
k
e
m
a

p
r
o
m
o
s
i

s
i
l
a
n
g

d
i

s
e
p
a
n
j
a
n
g

m
a
t
a

r
a
n
t
a
i

i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

d
a
n

y
a
n
g

t
e
r
k
a
i
t

(
c
o
-
m
a
r
k
e
t
i
n
g
,

j
o
i
n
t

p
r
o
m
o
t
i
o
n
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

7



6
.
3
.

I
n
t
e
n
s
i
f
i
k
a
s
i

p
r
o
g
r
a
m

p
r
o
m
o
s
i

d
a
n

p
e
m
a
s
a
r
a
n

b
e
r
b
a
s
i
s

k
o
m
u
n
i
t
a
s

(
c
o
m
m
u
n
i
t
y

m
a
r
k
e
t
i
n
g
)
,

m
e
l
a
l
u
i
:


a
.

P
r
o
m
o
s
i

w
i
s
a
t
a

p
a
d
a

m
e
d
i
a

k
h
u
s
u
s

k
o
m
u
n
i
t
a
s

t
e
r
t
e
n
t
u

(
t
a
g
i
h
a
n

k
a
r
t
u

k
r
e
d
i
t
,

m
a
j
a
l
a
h

h
o
b
i
,

b
u
l
e
t
i
n

o
r
g
a
n
i
s
a
s
i
,

d
l
l
)
.

b
.

P
e
m
a
n
f
a
a
t
a
n

p
e
r
t
e
m
u
a
n
/
e
v
e
n
t

k
o
m
u
n
i
t
a
s

t
e
r
t
e
n
t
u

s
e
b
a
g
a
i

m
e
d
i
a

p
r
o
m
o
s
i

(
p
e
r
t
e
m
u
a
n

k
e
l
u
a
r
g
a
,

k
o
m
u
n
i
t
a
s

h
o
b
i
,

e
k
s
p
a
t
r
i
a
t

d
l
l
)
.





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r
,

K
e
m
k
o
m
i
n
f
o


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



6
.
4
.

I
n
t
e
n
s
i
f
i
k
a
s
i

p
e
m
a
s
a
r
a
n

p
a
d
a

s
e
g
m
e
n

r
e
m
a
j
a

d
a
l
a
m

r
a
n
g
k
a

m
e
n
i
n
g
k
a
t
k
a
n

r
a
s
a

c
i
n
t
a

t
a
n
a
h

a
i
r
,

m
e
l
a
l
u
i
:


a
.

P
e
n
y
e
b
a
r
a
n

i
n
f
o
r
m
a
s
i

d
i

i
n
s
t
i
t
u
s
i

p
e
n
d
i
d
i
k
a
n

(
s
e
k
o
l
a
h
,

p
e
r
g
u
r
u
a
n

t
i
n
g
g
i
,

l
e
m
b
a
g
a

b
i
m
b
i
n
g
a
n

b
e
l
a
j
a
r
,

d
l
l
)




K
e
m
e
n
d
i
k
n
a
s

d
a
n

K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


K
e
m
e
n

p
e
r
i
n
d


K
e
m
e
n
d
a
g


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t




b
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

i
n
s
e
n
f
i
f

d
a
n

k
e
r
j
a
s
a
m
a

a
n
t
a
r

p
e
l
a
k
u

i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

d
e
n
g
a
n

i
n
s
t
i
t
u
s
i

p
e
n
d
i
d
i
k
a
n








6
.
5
.

I
n
t
e
n
s
i
f
i
k
a
s
i

p
e
m
a
s
a
r
a
n

p
a
k
e
t

w
i
s
a
t
a

d
a
n

e
v
e
n
t

t
e
m
a
t
i
k

t
e
r
t
e
n
t
u

(
t
r
a
d
i
s
i

k
e
l
o
k
a
l
a
n
,

r
e
l
i
g
i
o
u
s
,

w
e
e
k
e
n
d
e
r
s
,


d
a
n

s
e
b
a
g
a
i
n
y
a
,

s
e
p
e
r
t
i
:

p
a
k
e
t

w
i
s
a
t
a

u
n
t
u
k

k
e
l
u
a
r
g
a
,

k
e
r
a
b
a
t
,

k
l
a
n
,

d
l
l
,
)


C
o
n
t
o
h

:

P
u
l
a
n
g

K
a
m
p
u
n
g

P
u
l
a
n
g

B
a
s
a
m
o

,

Z
i
a
r
a
h
/

P
i
l
g
r
i
m
a
g
e
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



6
.
6
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
e
m
u
d
a
h
a
n

a
k
s
e
s

d
a
n

s
k
e
m
a

p
e
m
b
i
a
y
a
a
n

p
e
r
j
a
l
a
n
a
n

w
i
s
a
t
a
,

m
e
l
a
l
u
i
:



a
.

P
o
t
o
n
g
a
n

h
a
r
g
a

t
e
r
u
s
a
n

(
c
i
r
c
u
i
t

d
i
s
c
o
u
n
t
)

b
.

K
e
u
n
t
u
n
g
a
n

g
a
n
d
a

a
t
a
s

j
a
s
a

t
e
r
t
e
n
t
u

(
d
o
u
b
l
e

b
e
n
e
f
i
t
)


c
.

K
a
r
t
u

k
e
a
n
g
g
o
t
a
a
n

(
t
r
a
v
e
l
l
e
r
/
e
x
p
a
t
r
i
a
t
e

c
a
r
d
)


d
.

O
n
e

e
n
t
r
y

t
i
c
k
e
t

(
t
i
k
e
t

t
e
r
u
s
a
n
)

y
a
n
g

b
e
r
l
a
k
u

u
n
t
u
k

b
e
b
e
r
a
p
a

d
e
s
t
i
n
a
s
i
/
o
b
y
e
k

w
i
s
a
t
a

e
.

K
r
e
d
i
t

w
i
s
a
t
a

(

t
r
a
v
e
l

n
o
w
,

p
a
y

l
a
t
e
r

)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

8



6
.
7
.

P
e
n
y
i
a
p
a
n

p
u
s
a
t
-
p
u
s
a
t

i
n
f
o
r
m
a
s
i

w
i
s
a
t
a

d
i

m
a
l
-
m
a
l

d
i

b
e
r
b
a
g
a
i

k
o
t
a

d
e
n
g
a
n

m
e
l
i
b
a
t
k
a
n

p
a
r
a

p
e
l
a
k
u

s
e
t
e
m
p
a
t

d
a
n

p
e
m
e
r
i
n
t
a
h

d
a
e
r
a
h

(
e
-
k
i
o
s
,

m
e
s
i
n

p
i
n
t
a
r
,

a
t
a
u

c
o
u
n
t
e
r

i
n
f
o
r
m
a
s
i
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t


P
e
m
d
a



6
.
8
.

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

m
a
r
k
e
t
i
n
g

a
w
a
r
d

u
n
t
u
k

p
a
r
a

p
e
l
a
k
u

i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

k
h
u
s
u
s
n
y
a

d
a
l
a
m

r
a
n
g
k
a

p
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

s
e
g
m
e
n

w
i
s
n
u
s





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t


P
e
m
d
a

7

P
u
b
l
i
c

R
e
l
a
t
i
o
n

d
a
n

E
x
p
e
r
i
e
n
c
e

M
a
r
k
e
t
i
n
g

7
.
1
.

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

E
v
e
n
t
-
E
v
e
n
t

B
e
s
a
r

d
i

P
u
s
a
t
-
P
u
s
a
t

K
u
n
j
u
n
g
a
n

W
i
s
n
u
s

d
i

B
e
r
b
a
g
a
i

D
a
e
r
a
h
/
D
e
s
t
i
n
a
s
i




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t


P
e
m
d
a



7
.
2
.

P
e
m
b
u
a
t
a
n

F
i
l
m
/
F
i
l
m

D
o
k
u
m
e
n
t
e
r

d
e
n
g
a
n

m
e
n
g
a
m
b
i
l

s
e
t
t
i
n
g

d
e
s
t
i
n
a
s
i

w
i
s
a
t
a

t
e
r
t
e
n
t
u




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t


P
e
m
d
a



7
.
3
.

S
p
e
c
i
a
l

P
r
o
g
r
a
m

m
e
l
a
l
u
i

k
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

T
V

L
o
k
a
l
/
N
a
s
i
o
n
a
l




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t


P
e
m
d
a


B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

9


B
.

P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

C
I
T
R
A

D
A
N

K
O
M
U
N
I
K
A
S
I

P
E
M
A
S
A
R
A
N


A
R
A
H

K
E
B
I
J
A
K
A
N


1


P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

D
A
N

P
E
M
A
N
T
A
P
A
N

C
I
T
R
A

D
E
S
T
I
N
A
S
I

P
A
R
I
W
I
S
A
T
A

(
D
E
S
T
I
N
A
T
I
O
N

B
R
A
N
D
I
N
G
)

A
r
a
h

k
e
b
i
j
a
k
a
n

d
i

a
t
a
s

d
i
j
a
b
a
r
k
a
n

d
a
l
a
m

s
t
r
a
t
e
g
i

d
a
n

i
n
d
i
k
a
s
i

p
r
o
g
r
a
m

s
e
b
a
g
a
i

b
e
r
i
k
u
t
:

N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T

1

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

d
a
n

p
e
m
a
n
t
a
p
a
n

p
o
s
i
t
i
o
n
i
n
g

1
.
1
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

d
e
s
t
i
n
a
t
i
o
n

b
r
a
n
d
i
n
g

d
a
n

b
r
a
n
d

i
m
a
g
e

u
n
t
u
k

d
e
s
t
i
n
a
s
i
-
d
e
s
t
i
n
a
s
i

w
i
s
a
t
a

s
e
s
u
a
i

d
e
n
g
a
n

p
o
t
e
n
s
i
n
y
a




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



1
.
2
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
r
o
g
r
a
m

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

y
a
n
g

b
e
r
m
u
a
r
a

p
a
d
a

b
r
a
n
d

i
m
a
g
e

y
a
n
g

t
e
l
a
h

d
i
t
e
t
a
p
k
a
n

s
e
c
a
r
a

k
o
n
s
i
s
t
e
n

d
a
n

b
e
r
k
e
l
a
n
j
u
t
a
n





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



1
.
3
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

s
o
c
i
a
l

m
e
d
i
a

s
e
b
a
g
a
i

m
e
d
i
a

k
o
m
u
n
u
k
a
s
i

u
t
a
m
a

d
a
l
a
m

m
e
n
y
e
b
a
r
l
u
a
s
k
a
n

b
r
a
n
d

i
m
a
g
e

d
a
e
r
a
h




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

2

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

P
r
o
g
r
a
m

P
e
r
l
i
n
d
u
n
g
a
n

H
a
k
-
H
a
k

K
o
n
s
u
m
e
n


2
.
1
.

P
e
n
e
t
a
p
a
n

D
o

s

&

D
o
n

t

d
i

d
e
s
t
i
n
a
s
i
-
d
e
s
t
i
n
a
s
i

w
i
s
a
t
a





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


D
i
n
a
s

P
U


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



2
.
2
.

P
e
n
e
t
a
p
a
n

S
i
s
t
e
m

T
i
c
k
e
t
i
n
g

(
p
e
n
e
t
a
p
a
n

h
a
r
g
a

m
a
k
s
i
m
a
l

h
a
r
g
a

t
i
k
e
t
,

p
a
r
k
i
r
)

d
a
l
a
m

r
a
n
g
k
a

m
e
l
i
n
d
u
n
g
i

h
a
k
-
h
a
k

w
i
s
a
t
a
w
a
n





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


D
i
n
a
s

P
e
r
h
u
b
u
n
g
a
n


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

1
0

A
R
A
H

K
E
B
I
J
A
K
A
N


2


P
E
N
I
N
G
K
A
T
A
N

P
E
R
A
N

M
E
D
I
A

K
O
M
U
N
I
K
A
S
I

P
E
M
A
S
A
R
A
N

D
A
L
A
M

M
E
M
A
S
A
R
K
A
N

D
A
N

M
E
M
P
R
O
M
O
S
I
K
A
N

W
I
S
A
T
A

N
U
S
A
N
T
A
R
A


A
r
a
h

k
e
b
i
j
a
k
a
n

d
i

a
t
a
s

d
i
j
a
b
a
r
k
a
n

d
a
l
a
m

s
t
r
a
t
e
g
i

d
a
n

i
n
d
i
k
a
s
i

p
r
o
g
r
a
m

s
e
b
a
g
a
i

b
e
r
i
k
u
t
:

N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T

1

O
p
t
i
m
a
l
i
s
a
s
i

p
e
m
a
n
f
a
a
t
a
n

m
e
d
i
a

k
o
m
u
n
i
k
a
s
i

p
e
m
a
s
a
r
a
n
,

b
a
i
k

m
e
d
i
a

c
e
t
a
k

m
a
u
p
u
n

e
l
e
k
t
r
o
n
i
k


1
.
1
.

I
n
t
e
n
s
i
f
i
k
a
s
i

p
r
o
m
o
s
i

p
a
k
e
t
-
p
a
k
e
t

w
i
s
a
t
a

m
e
l
a
l
u
i

b
r
o
s
u
r
-
b
r
o
s
u
r
,

m
a
j
a
l
a
h
,

s
u
r
a
t

k
a
b
a
r
,

d
l
l

y
a
n
g

p
o
p
u
l
e
r

d
i
b
a
c
a

m
a
s
y
a
r
a
k
a
t

I
n
d
o
n
e
s
i
a

(
m
i
s
a
l
n
y
a

m
a
j
a
l
a
h

g
a
y
a

h
i
d
u
p

u
n
t
u
k

m
a
s
y
a
r
a
k
a
t

p
e
r
k
o
t
a
a
n
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



1
.
2
.

I
n
t
e
n
s
i
f
i
k
a
s
i

p
r
o
m
o
s
i

w
i
s
a
t
a

n
u
s
a
n
t
a
r
a

m
e
l
a
l
u
i

p
r
o
g
r
a
m

a
c
a
r
a

t
e
l
e
v
i
s
i

d
a
n

r
a
d
i
o
,

b
a
i
k

l
o
k
a
l

m
a
u
p
u
n

n
a
s
i
o
n
a
l





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



1
.
3
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

w
i
s
a
t
a

n
u
s
a
n
t
a
r
a

m
e
l
a
l
u
i

w
e
b
s
i
t
e

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

m
i
s
a
l
n
y
a

m
e
n
g
e
n
a
l
k
a
n

p
a
d
a

d
e
s
t
i
n
a
s
i

a
t
a
u

d
a
y
a

t
a
r
i
k

w
i
s
a
t
a

m
i
n
a
t

k
h
u
s
u
s




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



1
.
4
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

w
i
s
a
t
a

n
u
s
a
n
t
a
r
a

m
e
l
a
l
u
i

m
e
d
i
a

k
h
u
s
u
s

k
o
m
u
n
i
t
a
s

m
i
s
a
l
n
y
a

f
a
c
e
b
o
o
k
,

t
w
i
t
t
e
r
,

b
l
o
g

d
l
l





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t


M
a
s
y
a
r
a
k
a
t

/

K
o
m
u
n
i
t
a
s

n
e
t
t
e
r

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

1
1


1
.
5
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

I
n
d
o
n
e
s
i
a

t
o
u
r
i
s
m

c
y
b
e
r

c
a
m
p
a
i
g
n
,

m
e
l
a
l
u
i
:


1
)

E
-
M
a
g
a
z
i
n
e
,

E
-
B
r
o
c
h
u
r
e
,

E
-
T
o
u
r
i
s
m

G
u
i
d
e
,

i
n
t
e
r
a
c
t
i
v
e

t
o
o
l
s
,

d
l
l

2
)

S
o
c
i
a
l

n
e
t
w
o
r
k
i
n
g

m
a
c
h
i
n
e
s

(
f
a
c
e
b
o
o
k
,

t
w
i
t
t
e
r
,

y
o
u
t
u
b
e
,

m
y

s
p
a
c
e
,

f
l
i
c
k
r
,

d
l
l
)


3
)

O
n
l
i
n
e

e
v
e
n
t
s

(
c
o
n
t
e
s
t
,

b
l
o
g
g
i
n
g

e
v
e
n
t
s
,

d
l
l
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t


M
a
s
y
a
r
a
k
a
t

/

K
o
m
u
n
i
t
a
s

n
e
t
t
e
r



1
.
6
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

l
i
n
k
a
g
e

j
a
r
i
n
g
a
n

e
-
m
a
r
k
e
t
i
n
g

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t


M
a
s
y
a
r
a
k
a
t

/

K
o
m
u
n
i
t
a
s

n
e
t
t
e
r


B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

1
2
C
.

P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

K
E
M
I
T
R
A
A
N

D
A
N

K
E
L
E
M
B
A
G
A
A
N

P
E
M
A
S
A
R
A
N


A
R
A
H

K
E
B
I
J
A
K
A
N


1


P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

K
E
M
I
T
R
A
A
N

S
E
C
A
R
A

S
I
N
E
R
G
I
S

A
r
a
h

k
e
b
i
j
a
k
a
n

d
i

a
t
a
s

d
i
j
a
b
a
r
k
a
n

d
a
l
a
m

s
t
r
a
t
e
g
i

d
a
n

i
n
d
i
k
a
s
i

p
r
o
g
r
a
m

s
e
b
a
g
a
i

b
e
r
i
k
u
t
:

N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T

1

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

k
e
m
i
t
r
a
a
n

p
r
o
m
o
s
i

a
n
t
a
r

p
e
m
a
n
g
k
u

k
e
p
e
n
t
i
n
g
a
n


1
.
1
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
e
r
j
a

s
a
m
a

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

a
n
t
a
r
a

p
e
m
e
r
i
n
t
a
h

d
a
e
r
a
h

d
a
n

p
e
l
a
k
u

u
s
a
h
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



1
.
2
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
e
r
j
a

s
a
m
a

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

a
n
t
a
r

p
e
l
a
k
u

u
s
a
h
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
,

m
i
s
a
l
n
y
a

p
e
m
i
l
i
k

a
k
o
m
o
d
a
s
i
,

p
e
n
g
e
l
o
l
a

o
b
y
e
k

w
i
s
a
t
a
,

a
g
e
n

p
e
r
j
a
l
a
n
a
n
,

m
a
s
k
a
p
a
i

p
e
n
e
r
b
a
n
g
a
n
,

d
l
l





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



1
.
3
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
e
r
j
a

s
a
m
a

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

a
n
t
a
r
a

p
e
l
a
k
u

u
s
a
h
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

d
e
n
g
a
n

l
e
m
b
a
g
a
-
l
e
m
b
a
g
a

t
e
r
k
a
i
t
,

m
i
s
a
l
n
y
a

l
e
m
b
a
g
a

p
e
n
d
i
d
i
k
a
n
,

l
e
m
b
a
g
a

k
e
a
g
a
m
a
a
n
,

d
l
l





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



1
.
4
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
e
r
j
a

s
a
m
a

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

a
n
t
a
r
a

p
e
l
a
k
u

u
s
a
h
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

d
e
n
g
a
n

p
e
r
u
s
a
h
a
a
n

k
a
r
t
u

k
r
e
d
i
t
/

p
r
o
v
i
d
e
r

t
e
l
e
p
o
n

s
e
l
u
l
a
r

/
p
r
o
v
i
d
e
r

m
e
m
b
e
r
c
a
r
d





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

1
3
2

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

s
t
r
a
t
e
g
i

p
e
m
a
s
a
r
a
n

b
e
r
b
a
s
i
s

p
a
d
a

p
e
m
a
s
a
r
a
n

y
a
n
g

b
e
r
t
a
n
g
g
u
n
g

j
a
w
a
b

(
r
e
s
p
o
n
s
i
b
l
e

m
a
r
k
e
t
i
n
g
)
,

y
a
n
g

m
e
n
e
k
a
n
k
a
n

t
a
n
g
g
u
n
g

j
a
w
a
b

t
e
r
h
a
d
a
p

m
a
s
y
a
r
a
k
a
t
,

s
u
m
b
e
r

d
a
y
a

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n

d
a
n

w
i
s
a
t
a
w
a
n

2
.
1
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

m
i
s
i
i

e
d
u
k
a
s
i

m
e
l
a
l
u
i

b
e
r
b
a
g
a
i

b
e
n
t
u
k

m
e
d
i
a

k
e
p
a
d
a

w
i
s
a
t
a
w
a
n
,

m
a
s
y
a
r
a
k
a
t
,

d
a
n

s
e
l
u
r
u
h

p
e
m
a
n
g
k
u

k
e
p
e
n
t
i
n
g
a
n

(
s
t
a
k
e
h
o
l
d
e
r
s
)
,

s
e
p
e
r
t
i

p
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
a
n
d
u
a
n

d
o

s

a
n
d

d
o
n

t

,

i
n
t
e
r
p
r
e
t
a
t
i
o
n

k
i
t
,

d
a
n

f
i
l
m

i
k
l
a
n

r
e
s
p
o
n
s
i
b
l
e

t
o
u
r
i
s
m

b
e
h
a
v
i
o
r




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



2
.
2
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
o
l
a
-
p
o
l
a

s
a
n
k
s
i

(
p
u
n
i
s
h
m
e
n
t

)

u
n
t
u
k

p
e
l
a
n
g
g
a
r
a
n

t
e
r
h
a
d
a
p

p
r
i
n
s
i
p
-
p
r
i
n
s
i
p

p
e
m
a
s
a
r
a
n

y
a
n
g

b
e
r
t
a
n
g
g
u
n
g
j
a
w
a
b
.




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

3

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

D
e
s
t
i
n
a
t
i
o
n

M
a
n
a
g
e
m
e
t

O
r
g
a
n
i
z
a
t
i
o
n

(
K
e
l
e
m
b
a
g
a
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a
)

3
.
1
.

F
a
s
i
l
i
t
a
s
i

p
e
m
b
e
n
t
u
k
a
n

D
M
O

d
i

d
e
s
t
i
n
a
s
i
-
d
e
s
t
i
n
a
s
i

u
t
a
m
a

(
m
i
s
a
l
:

D
I
Y
,

B
a
l
i
,

d
l
l
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



3
.
2
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

s
k
e
m
a

k
e
r
j
a
s
a
m
a

p
e
m
a
s
a
r
a
n
,

p
r
o
m
o
s
i
,

d
a
n

p
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

i
n
v
e
s
t
a
s
i

d
e
n
g
a
n

D
M
O




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t


B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

1
4
A
R
A
H

K
E
B
I
J
A
K
A
N


2

P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

K
E
G
I
A
T
A
N

P
E
N
G
G
E
R
A
K

W
I
S
A
T
A
W
A
N

N
U
S
A
N
T
A
R
A

A
r
a
h

k
e
b
i
j
a
k
a
n

d
i

a
t
a
s

d
i
j
a
b
a
r
k
a
n

d
a
l
a
m

s
t
r
a
t
e
g
i

d
a
n

i
n
d
i
k
a
s
i

p
r
o
g
r
a
m

s
e
b
a
g
a
i

b
e
r
i
k
u
t
:

N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T

1

P
e
m
b
e
r
l
a
k
u
a
n

K
e
m
b
a
l
i

S
K
B

3

M
e
n
t
e
r
i

m
e
n
g
e
n
a
i

C
u
t
i

B
e
r
s
a
m
a


1
.
1
.

P
e
n
e
t
a
p
a
n

h
a
r
i

k
e
r
j
a

d
i

a
n
t
a
r
a

h
a
r
i

l
i
b
u
r

m
e
n
j
a
d
i

h
a
r
i

l
i
b
u
r





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r
,



K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

A
g
a
m
a


K
e
m
e
n

T
e
n
a
g
a

K
e
r
j
a

&

I
m
i
g
r
a
s
i














K
e
m
e
n
P
A
N


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



1
.
2
.

P
e
r
g
e
s
e
r
a
n

h
a
r
i

l
i
b
u
r

m
e
n
d
e
k
a
t
i

a
k
h
i
r

p
e
k
a
n





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

2

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

a
n
e
k
a

p
r
o
g
r
a
m

p
e
n
d
u
k
u
n
g

p
e
n
e
r
a
p
a
n

C
u
t
i

b
e
r
s
a
m
a

2
.
1
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

p
a
r
a

p
e
l
a
k
u

i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

d
a
n

d
u
n
i
a

u
s
a
h
a

(
m
i
s
a
l
n
y
a

d
e
n
g
a
n

m
e
n
g
a
d
a
k
a
n

G
r
e
a
t

S
a
l
e

P
r
o
m
o
,

B
a
z
a
a
r
,

E
v
e
n
t
,

d
s
b
)

t
e
r
k
a
i
t

d
e
n
g
a
n

p
r
o
g
r
a
m

c
u
t
i

b
e
r
s
a
m
a




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



2
.
2
.

P
e
n
g
g
u
n
a
a
n

b
e
r
b
a
g
a
i

m
e
d
i
a

k
o
m
u
n
i
k
a
s
i

p
e
m
a
s
a
r
a
n

s
e
b
a
g
a
i

m
e
d
i
a

s
o
s
i
a
l
i
s
a
s
i

p
r
o
g
r
a
m
-
p
r
o
g
r
a
m

p
e
n
d
u
k
u
n
g

C
u
t
i





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

3

P
e
m
b
e
r
i
a
n

i
n
s
e
n
t
i
f

k
h
u
s
u
s

w
i
s
a
t
a

b
a
g
i

w
i
s
n
u
s


3
.
1
.

P
e
m
b
e
r
i
a
n

f
a
s
i
l
i
t
a
s

T
r
a
v
e
l
l
e
r

C
a
r
d

d
a
n

O
n
e

E
n
t
r
y


T
i
c
k
e
t

b
a
g
i

w
i
s
n
u
s





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t



3
.
2
.

P
e
m
b
e
r
i
a
n

d
i
s
k
o
n

d
a
n

s
i
s
t
e
m

k
r
e
d
i
t

w
i
s
a
t
a

(
t
r
a
v
e
l

n
o
w

p
a
y

l
a
t
e
r
)

m
e
l
a
l
u
i

b
a
n
k
/

p
e
r
u
s
a
h
a
a
n

k
a
r
t
u

k
r
e
d
i
t

b
a
g
i

w
i
s
n
u
s





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

1
5


1
.
3
.

K
r
e
d
i
t

w
i
s
a
t
a

u
n
t
u
k

p
a
r
a

p
e
l
a
k
u

u
s
a
h
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

d
a
l
a
m

b
e
n
t
u
k

s
o
f
t

l
o
a
n
s

(
p
i
n
j
a
m
a
n

l
u
n
a
k
)

a
t
a
u

d
a
n
a

s
u
b
s
t
i
t
u
s
i

m
i
s
a
l
n
y
a

p
e
l
a
t
i
h
a
n

k
e
t
r
a
m
p
i
l
a
n




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


D
i
n
p
a
r


B
a
n
k


P
e
r
i
n
d
a
g


i
n
d
u
s
t
r
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
/

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t


B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

1
6

I
l
u
s
t
r
a
s
i

P
r
o
m
o
s
i

W
i
s
a
t
a

S
h
o
p
p
i
n
g

d
i

b
e
r
b
a
g
a
i

D
a
e
r
a
h

d
i

I
n
d
o
n
e
s
i
a
,

u
n
t
u
k

m
e
n
e
k
a
n

m
o
t
i
v
a
s
i

s
h
o
p
p
i
n
g

k
e

l
u
a
r

n
e
g
e
r
i

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

1
7

I
l
u
s
t
r
a
s
i

P
r
o
m
o
s
i

W
i
s
a
t
a

S
h
o
p
p
i
n
g

k
h
u
s
u
s
n
y
a

u
n
t
u
k

w
e
e
k
e
n
d
e
r

d
i

b
e
r
b
a
g
a
i

D
a
e
r
a
h
,

u
n
t
u
k

m
e
n
e
k
a
n

m
o
t
i
v
a
s
i

s
h
o
p
p
i
n
g

k
e

l
u
a
r

n
e
g
e
r
i

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

1
8

I
l
u
s
t
r
a
s
i

P
r
o
m
o
s
i

W
i
s
a
t
a

m
e
l
a
l
u
i

K
r
e
d
i
t

W
i
s
a
t
a

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

1
9

I
l
u
s
t
r
a
s
i

P
r
o
m
o
s
i

W
i
s
a
t
a

m
e
l
a
l
u
i

K
r
e
d
i
t

W
i
s
a
t
a

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

2
0

I
l
u
s
t
r
a
s
i

P
r
o
m
o
s
i

d
e
n
g
a
n

m
e
n
g
a
d
a
k
a
n

e
v
e
n
t
-
e
v
e
n
t

k
h
u
s
u
s

s
e
p
e
r
t
i

B
a
z
a
a
r
,

N
i
g
h
t

M
a
r
k
e
t
,

P
a
s
a
r

b
a
r
a
n
g

A
n
t
i
k

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

2
1

I
l
u
s
t
r
a
s
i

P
r
o
m
o
s
i

I
n
o
v
a
s
i

k
u
l
i
n
e
r

d
e
n
g
a
n

m
e
n
g
g
e
l
a
r

f
e
s
t
i
v
a
l
,

l
o
m
b
a
,

a
t
a
u

b
a
z
a
a
r

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

2
2

I
l
u
s
t
r
a
s
i

p
e
m
a
s
a
n
g
a
n

t
a
n
d
a

(
s
i
g
n

&

p
o
s
t
)

d
i

o
b
y
e
k
-
o
b
y
e
k

w
i
s
a
t
a

t
e
r
t
e
n
t
u

d
e
n
g
a
n

w
a
r
n
a

y
a
n
g

m
e
n
c
o
l
o
k

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

2
3
6
.
2
.
2
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

S
e
g
m
e
n

B
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

M
o
t
i
v
a
s
i


1
.

K
E
B
I
J
A
K
A
N

P
E
M
A
N
T
A
P
A
N

D
A
N

P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

P
A
S
A
R

D
E
N
G
A
N

M
O
T
I
V
A
S
I


S
I
L
A
T
U
R
A
H
M
I

/

V
F
R

A
r
a
h

k
e
b
i
j
a
k
a
n

d
i

a
t
a
s

d
i
j
a
b
a
r
k
a
n

d
a
l
a
m

s
t
r
a
t
e
g
i

d
a
n

i
n
d
i
k
a
s
i

p
r
o
g
r
a
m

s
e
b
a
g
a
i

b
e
r
i
k
u
t
:

N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T

1

R
e
v
i
t
a
l
i
s
a
s
i

d
a
n

d
i
v
e
r
s
i
f
i
k
a
s
i

p
r
o
d
u
k
-
p
r
o
d
u
k

w
i
s
a
t
a

d
i

d
a
e
r
a
h

t
u
j
u
a
n

m
u
d
i
k
/
w
i
s
a
t
a

1
.
1
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

t
e
m
a

p
r
o
m
o
s
i

s
e
b
a
g
a
i

r
e
m
i
n
d
e
r


u
n
t
u
k

m
o
t
i
v
a
s
i

V
F
R
,

t
e
r
m
a
s
u
k

d
i
d
a
l
a
m
n
y
a

p
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
a
k
e
t
,

m
u
d
i
k

b
e
r
s
a
m
a
,

p
u
l
a
n
g

b
a
s
a
m
o
,

p
a
k
e
t

l
i
b
u
r
a
n

k
e
l
u
a
r
g
a

l
a
i
n
n
y
a

d
l
l




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



1
.
2
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
r
o
d
u
k
-
p
r
o
d
u
k

w
i
s
a
t
a

k
e
l
u
a
r
g
a

b
a
r
u

d
i

d
a
e
r
a
h

t
u
j
u
a
n

m
u
d
i
k
,

s
e
p
e
r
t
i

t
h
e
m
e

p
a
r
k

:

w
a
t
e
r

b
o
o
m
,

k
e
b
u
n

b
i
n
a
t
a
n
g
,

f
a
m
i
l
y

o
u
t
b
o
u
n
d
,

d
s
b

y
a
n
g

m
a
m
p
u

m
e
n
a
m
p
u
n
g

s
e
g
m
e
n

w
i
s
n
u
s

d
a
l
a
m

j
u
m
l
a
h

b
e
s
a
r




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



1
.
3
.

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

e
v
e
n
t

d
i

o
b
y
e
k
-
o
b
y
e
k

w
i
s
a
t
a

p
a
d
a

s
a
a
t

l
i
b
u
r
a
n
,

s
e
p
e
r
t
i

l
i
b
u
r

L
e
b
a
r
a
n
,

l
i
b
u
r

N
a
t
a
l
-
T
a
h
u
n

B
a
r
u
,

l
i
b
u
r

s
e
k
o
l
a
h
,

d
l
l




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



1
.
4
.

P
e
r
b
a
i
k
a
n

d
a
n

p
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

a
k
s
e
s

d
a
r
a
t

(
m
i
s
a
l
n
y
a

:

p
e
n
a
m
b
a
h
a
n

j
a
l
u
r

a
l
t
e
r
n
a
t
i
f
,

r
e
s
t

a
r
e
a
)

p
a
d
a

j
a
l
u
r

m
u
d
i
k

:

J
a
l
u
r

P
a
n
t
u
r
a

(
D
K
I

J
a
k
a
r
t
a
-
J
a
w
a

T
i
m
u
r
)
,

J
a
l
u
r

P
a
n
t
a
i

S
e
l
a
t
a
n
,

J
a
l
u
r

L
i
n
t
a
s

S
u
m
a
t
e
r
a
,

d
l
l




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

D
i
n
P
U
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I



1
.
5
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
u
a
l
i
t
a
s

d
a
n

k
u
a
n
t
i
t
a
s

/

k
a
p
a
s
i
t
a
s

t
r
a
n
s
p
o
r
t
a
s
i

u
m
u
m
,

s
e
p
e
r
t
i

b
u
s
,

k
e
r
a
t
a

a
p
i
,

f
e
r
r
y

/

k
a
p
a
l

l
a
u
t
,

p
e
s
a
w
a
t




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

D
i
n
h
u
b
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I



1
.
6
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
u
a
l
i
t
a
s

&

k
u
a
n
t
i
t
a
s

a
k
o
m
o
d
a
s
i

d
i

d
a
e
r
a
h

t
u
j
u
a
n

m
u
d
i
k




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

D
i
n
P
U
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

2
4
N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T

2

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

s
e
g
m
e
n

p
a
s
a
r

d
e
n
g
a
n

m
o
t
i
v
a
s
i

s
i
l
a
t
u
r
a
h
m
i

/

V
F
R

b
e
r
b
a
s
i
s

k
o
m
u
n
i
t
a
s


2
.
1
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
a
k
e
t
-
p
a
k
e
t

w
i
s
a
t
a

m
u
d
i
k

b
e
r
s
a
m
a

u
n
t
u
k

k
o
m
u
n
i
t
a
s
,

s
e
p
e
r
t
i

k
o
m
u
n
i
t
a
s

k
l
a
n

k
e
l
u
a
r
g
a
,

k
o
m
u
n
i
t
a
s

a
s
a
l

d
a
e
r
a
h
,

k
o
m
u
n
i
t
a
s

h
o
b
i
,

k
o
m
u
n
i
t
a
s

b
i
k
e
r
s
,

d
l
l




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a

3

P
e
m
b
e
r
i
a
n

i
n
s
e
n
t
i
f

k
h
u
s
u
s

k
e
p
a
d
a

p
a
r
a

p
e
m
u
d
i
k

3
.
1
.

P
e
m
b
e
r
i
a
n

i
n
s
e
n
t
i
f

b
e
r
u
p
a

m
u
d
i
k

g
r
a
t
i
s

b
a
g
i

k
a
r
y
a
w
a
n
/

k
o
n
s
u
m
e
n
/

n
a
s
a
b
a
h

b
a
n
k
/

p
e
n
g
g
u
n
a

k
a
r
t
u

k
r
e
d
i
t

/

m
e
m
b
e
r
c
a
r
d

t
e
r
t
e
n
t
u




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

B
a
n
k
,

P
r
o
v
i
d
e
r

T
e
l
e
p
o
n

S
e
l
u
l
a
r
/

M
e
m
b
e
r
c
a
r
d



3
.
2
.

P
e
m
b
e
r
i
a
n

d
i
s
k
o
n

d
a
n

s
i
s
t
e
m

k
r
e
d
i
t

(
t
r
a
v
e
l

n
o
w

p
a
y

l
a
t
e
r
)

u
n
t
u
k

p
e
m
b
e
l
i
a
n

t
i
k
e
t

m
u
d
i
k

b
u
s
/
k
e
r
a
t
a

a
p
i
/

p
e
s
a
w
a
t

m
e
l
a
l
u
i

b
a
n
k
/

p
e
r
u
s
a
h
a
a
n

k
a
r
t
u

k
r
e
d
i
t




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

B
a
n
k

4

O
p
t
i
m
a
l
i
s
a
s
i

p
e
m
a
n
f
a
a
t
a
n

m
e
d
i
a

k
o
m
u
n
i
k
a
s
i

p
e
m
a
s
a
r
a
n
,

b
a
i
k

m
e
d
i
a

c
e
t
a
k

m
a
u
p
u
n

e
l
e
k
t
r
o
n
i
k

4
.
1
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
r
o
m
o
s
i

l
a
n
g
s
u
n
g

s
e
g
m
e
n

V
F
R

m
e
l
a
l
u
i

e
v
e
n
t
-
e
v
e
n
t

k
h
u
s
u
s

e
k
s
i
b
i
s
h
i

(
p
a
m
e
r
a
n
)

t
e
r
u
t
a
m
a

u
n
t
u
k

s
e
g
m
e
n

m
e
n
e
n
g
a
h

a
t
a
s

:

p
a
m
e
r
a
n

b
a
t
i
k
,

p
a
m
e
r
a
n

k
e
r
a
j
i
n
a
n
,

d
l
l

p
a
d
a

s
a
a
t

m
u
s
i
m

w
i
s
u
d
a
,

m
u
d
i
k
,

a
t
a
u

l
i
b
u
r

p
a
n
j
a
n
g




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



4
.
2
.

I
n
t
e
n
s
i
f
i
k
a
s
i

p
r
o
m
o
s
i

p
a
k
e
t
-
p
a
k
e
t

w
i
s
a
t
a

l
i
b
u
r
a
n

d
i

d
a
e
r
a
h

t
u
j
u
a
n

m
u
d
i
k

m
e
l
a
l
u
i

b
r
o
s
u
r
-
b
r
o
s
u
r
,

m
a
j
a
l
a
h
,

s
u
r
a
t

k
a
b
a
r
,

t
e
l
e
v
i
s
i
,

r
a
d
i
o
,

w
e
b
s
i
t
e
,

d
l
l




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



4
.
3
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

m
e
d
i
a

p
r
o
m
o
s
i

u
n
t
u
k

s
e
g
m
e
n

V
F
R
,

s
e
c
a
r
a

v
e
r
t
i
k
a
l


(
T
V

p
r
o
g
r
a
m
,

r
a
d
i
o
,

m
a
j
a
l
a
h

s
u
r
a
t

k
a
b
a
r
,

d
a
n

e
v
e
n
t
)

d
a
n

h
o
r
i
s
o
n
t
a
l

(
c
o
m
m
u
n
i
t
y
,

f
a
c
e
b
o
o
k
,

t
w
i
t
e
r
,

b
l
o
g
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a

5

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

k
e
m
i
t
r
a
a
n

p
r
o
m
o
s
i

a
n
t
a
r

p
e
m
a
n
g
k
u

k
e
p
e
n
t
i
n
g
a
n

5
.
1
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
e
r
j
a

s
a
m
a

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

a
n
t
a
r
a

p
e
m
e
r
i
n
t
a
h

d
a
e
r
a
h

d
a
n

p
e
l
a
k
u

u
s
a
h
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

d
i

d
a
e
r
a
h

t
u
j
u
a
n

m
u
d
i
k




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



5
.
2
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
e
r
j
a

s
a
m
a

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

a
n
t
a
r
a

p
e
l
a
k
u

u
s
a
h
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

d
e
n
g
a
n

p
e
r
u
s
a
h
a
a
n

k
a
r
t
u

k
r
e
d
i
t
/

p
r
o
v
i
d
e
r

t
e
l
e
p
o
n

s
e
l
u
l
a
r

/
p
r
o
v
i
d
e
r

m
e
m
b
e
r
c
a
r
d




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

B
a
n
k
,

P
r
o
v
i
d
e
r

T
e
l
e
p
o
n

S
e
l
u
l
a
r
/

M
e
m
b
e
r
c
a
r
d

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

2
5
N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T



5
.
3
.

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

p
e
r
u
s
a
h
a
a
n

(
s
e
b
a
g
a
i

p
r
o
g
r
a
m

C
o
r
p
o
r
a
t
e

S
o
c
i
a
l

R
e
s
p
o
n
s
i
b
i
l
i
t
y

/

C
S
R
)

m
i
s
a
l
n
y
a

m
u
d
i
k

b
e
r
s
a
m
a

S
i
d
o
m
u
n
c
u
l
,

M
u
d
i
k

B
e
r
s
a
m
a

I
n
d
o
m
i
e
,

M
u
d
i
k

b
e
r
s
a
m
a

T
e
l
k
o
m
s
e
l





P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

B
a
n
k
,

P
r
o
v
i
d
e
r

T
e
l
e
p
o
n

S
e
l
u
l
a
r
/

P
e
r
u
s
a
h
a
a
n

t
e
r
k
a
i
t


B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

2
6
2
.

K
E
B
I
J
A
K
A
N

P
E
M
A
N
T
A
P
A
N

D
A
N

P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

P
A
S
A
R

D
E
N
G
A
N

M
O
T
I
V
A
S
I


W
E
E
K
E
N
D
E
R
S

A
r
a
h

k
e
b
i
j
a
k
a
n

d
i

a
t
a
s

d
i
j
a
b
a
r
k
a
n

d
a
l
a
m

s
t
r
a
t
e
g
i

d
a
n

i
n
d
i
k
a
s
i

p
r
o
g
r
a
m

s
e
b
a
g
a
i

b
e
r
i
k
u
t
:

N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T

1

R
e
v
i
t
a
l
i
s
a
s
i

d
a
n

d
i
v
e
r
s
i
f
i
k
a
s
i

p
r
o
d
u
k
-
p
r
o
d
u
k

w
i
s
a
t
a

u
n
t
u
k

m
e
n
a
r
i
k

w
e
e
k
e
n
d
e
r
s
,

t
e
r
u
t
a
m
a

p
a
s
a
r

u
t
a
m
a

w
e
e
k
e
n
d
e
r
s
,

y
a
i
t
u

f
a
m
i
l
y
,

p
e
k
e
r
j
a
,

r
e
m
a
j
a

1
.
1
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
r
o
d
u
k
-
p
r
o
d
u
k

b
a
r
u

y
a
n
g

d
i
m
i
n
a
t
i

w
e
e
k
e
n
d
e
r
s
,

m
i
s
a
l
n
y
a

w
i
s
a
t
a

m
a
l
a
m
,

S
u
n
d
a
y

m
a
r
k
e
t
,

a
n
t
i
q
u
e
i
n
g
,

k
u
l
i
n
e
r
,

k
h
u
s
u
s
n
y
a

u
n
t
u
k

s
e
g
m
e
n

m
e
n
e
n
g
a
h


a
t
a
s

(
p
e
n
g
g
e
m
a
r

b
a
r
a
n
g

a
n
t
i
k
,

p
e
m
b
u
r
u

p
e
r
n
a
k
-
p
e
r
n
i
k
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



1
.
2
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
r
o
d
u
k
-
p
r
o
d
u
k

w
i
s
a
t
a

d
i

k
o
t
a
-
k
o
t
a

p
e
n
d
i
d
i
k
a
n
,

a
n
t
a
r
a

l
a
i
n

d
i

Y
o
g
y
a
k
a
r
t
a
,

B
a
n
d
u
n
g
,

d
a
n

J
a
k
a
r
t
a

s
e
p
e
r
t
i

p
r
o
d
u
k
-
p
r
o
d
u
k

w
i
s
a
t
a

p
e
n
d
i
d
i
k
a
n

(
o
u
t
b
o
u
n
d
,

a
l
a
m
,

d
a
n

t
e
m
a
-
t
e
m
a

e
d
u
k
a
s
i

l
a
i
n
n
y
a
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

L
e
m
b
a
g
a

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n



1
.
3
.

P
e
n
a
m
b
a
h
a
n

a
t
r
a
k
s
i

d
i

o
b
y
e
k
-
o
b
y
e
k

w
i
s
a
t
a

:


a
r
e
n
a

p
e
r
m
a
i
n
a
n

a
n
a
k


s
e
p
e
d
a

a
i
r


b
a
n
a
n
a

b
o
a
t

&

s
p
e
e
d

b
o
a
t

(
p
a
n
t
a
i
)


a
r
e
n
a

o
u
t
b
o
u
n
d


w
i
s
a
t
a

p
e
d
e
s
a
a
n

y
a
n
g

a
t
r
a
k
t
i
f

(
m
e
n
a
n
a
m

p
a
d
i

d
i

s
a
w
a
h
,

m
e
m
a
n
c
i
n
g

i
k
a
n
,

m
e
m
a
n
d
i
k
a
n

k
e
r
b
a
u
,

m
e
m
a
n
e
n

b
u
a
h
&
s
a
y
u
r
a
n
,

d
l
l
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,


a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



1
.
4
.

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

e
v
e
n
t
-
e
v
e
n
t

d
i

o
b
y
e
k
-
o
b
y
e
k

w
i
s
a
t
a

p
a
d
a

s
a
a
t

w
e
e
k
e
n
d





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

2
7
N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T



1
.
5
.

P
e
r
b
a
i
k
a
n

d
a
n

p
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

a
k
s
e
s

d
a
r
a
t

m
e
n
u
j
u

o
b
y
e
k
-
o
b
y
e
k

w
i
s
a
t
a

y
a
n
g

s
e
r
i
n
g

m
e
n
g
a
l
a
m
i

k
e
m
a
c
e
t
a
n

p
a
d
a

s
a
a
t

w
e
e
k
e
n
d
,

m
i
s
a
l
n
y
a

d
i

j
a
l
u
r
:


J
a
k
a
r
t
a
-
P
u
n
c
a
k

(
B
o
g
o
r
)


K
o
t
a

B
a
n
d
u
n
g


K
o
t
a

B
u
k
i
t
t
i
n
g
g
i


K
o
t
a

M
a
l
a
n
g


K
u
t
a

(
B
a
l
i
)
,

d
l
l




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

D
i
n
P
U
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



1
.
6
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
u
a
l
i
t
a
s

d
a
n

k
u
a
n
t
i
t
a
s

s
a
r
a
n
a

d
a
n

p
r
a
s
a
r
a
n
a

d
i

o
b
y
e
k

w
i
s
a
t
a
,

s
e
p
e
r
t
i

t
r
a
n
s
p
o
r
t
a
s
i

u
m
u
m
,

a
k
o
m
o
d
a
s
i
,

k
i
o
s

s
o
u
v
e
n
i
r
,

t
o
i
l
e
t
,

d
l
l




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,


D
i
n
h
u
b
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a

2

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

s
e
g
m
e
n

p
a
s
a
r

w
i
s
a
t
a

w
e
e
k
e
n
d

b
e
r
b
a
s
i
s

k
o
m
u
n
i
t
a
s
,

s
e
p
e
r
t
i

k
o
m
u
n
i
t
a
s

k
l
a
n

k
e
l
u
a
r
g
a
,

h
o
b
i
,

k
e
i
l
m
u
a
n
,

d
l
l

2
.
1
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
a
k
e
t
-
p
a
k
e
t

w
i
s
a
t
a

w
e
e
k
e
n
d

u
n
t
u
k

k
o
m
u
n
i
t
a
s
,

m
i
s
a
l
n
y
a

p
a
k
e
t

t
o
u
r
i
n
g

s
a
a
t

w
e
e
k
e
n
d

b
a
g
i

k
o
m
u
n
i
t
a
s

b
i
k
e

t
o

w
o
r
k
,

p
a
k
e
t

t
o
u
r
i
n
g

s
a
a
t

w
e
e
k
e
n
d

b
a
g
i

k
o
m
u
n
i
t
a
s

H
D
C
I
,

d
l
l





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



2
.
2
.

P
r
o
m
o
s
i

k
h
u
s
u
s

d
i

b
e
r
b
a
g
a
i

k
o
t
a

b
e
s
a
r

a
s
a
l

s
e
g
m
e
n

w
e
e
k
e
n
d
e
r

s
e
p
e
r
t
i

J
a
k
a
r
t
a
,

S
u
r
a
b
a
y
a
,

M
e
d
a
n
,

M
a
k
a
s
s
a
r
,

B
a
n
d
u
n
g


m
i
s
a
l
n
y
a

d
a
l
a
m

b
e
n
t
u
k

M
a
l
l

P
r
o
m
o
t
i
o
n

d
e
n
g
a
n

a
n
e
k
a

e
v
e
n
t

d
a
n

t
o
k
o
h

y
a
n
g

d
i
g
e
m
a
r
i

p
u
b
l
i
k

(
a
r
t
i
s
,

s
e
l
e
b
r
i
t
i
e
s
,

t
o
k
o
h

f
i
l
m
,

d
s
b
)






3

P
e
m
b
e
r
i
a
n

i
n
s
e
n
t
i
f

k
h
u
s
u
s

k
e
p
a
d
a

w
e
e
k
e
n
d
e
r
s


3
.
1
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
a
k
e
t

m
u
r
a
h

d
i

o
b
y
e
k
-
o
b
y
e
k

w
i
s
a
t
a

p
a
d
a

s
a
a
t

w
e
e
k
e
n
d
,

m
i
s
a
l
n
y
a

:


P
a
k
e
t

m
u
r
a
h

m
a
s
u
k

w
a
t
e
r
b
o
o
m

b
a
g
i

k
e
l
u
a
r
g
a


P
a
k
e
t

m
u
r
a
h

o
u
t
b
o
u
n
d

u
n
t
u
k

p
e
r
u
s
a
h
a
a
n

/

k
o
m
u
n
i
t
a
s
,

y
a
n
g

m
e
n
g
a
d
a
k
a
n

t
o
u
r

w
e
e
k
e
n
d

u
n
t
u
k

k
a
r
y
a
w
a
n
n
y
a

/

a
n
g
g
o
t
a
n
y
a




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



3
.
2
.

P
e
m
b
e
r
i
a
n

f
a
s
i
l
i
t
a
s

T
r
a
v
e
l
l
e
r

C
a
r
d

d
a
n

O
n
e

E
n
t
r
y

T
i
c
k
e
t

p
a
d
a

s
a
a
t

w
e
e
k
e
n
d




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

2
8
N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T



3
.
3
.

P
e
m
b
e
r
i
a
n

d
i
s
k
o
n

d
a
n

s
i
s
t
e
m

k
r
e
d
i
t

w
i
s
a
t
a

(
t
r
a
v
e
l

n
o
w

p
a
y

l
a
t
e
r
)

m
e
l
a
l
u
i

b
a
n
k
/

p
e
r
u
s
a
h
a
a
n

k
a
r
t
u

k
r
e
d
i
t

p
a
d
a

s
a
a
t

w
e
e
k
e
n
d

(
S
p
a
,

a
i
r

a
s
i
a
)

,

s
e
r
t
a

k
r
e
d
i
t

p
e
r
u
s
a
h
a
a
n


m
o
d
a
l

u
s
a
h
a





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

B
a
n
k
,

D
u
n
i
a

U
s
a
h
a



3
.
4
.

P
e
m
a
n
f
a
a
t
a
n

f
a
s
i
l
i
t
a
s

k
a
r
t
u

k
r
e
d
i
t

d
e
n
g
a
n

s
a
s
a
r
a
n

w
e
e
k
e
n
d
e
r

m
e
l
a
l
u
i

b
r
o
s
u
r

p
r
o
m
o
s
i

a
t
a
u

i
n
c
l
u
d
e

d
a
l
a
m

p
r
o
m
o

k
a
r
t
u

k
r
e
d
i
t




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

B
a
n
k
,

D
u
n
i
a

U
s
a
h
a



3
.
5
.

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

s
a
l
e

d
i

p
u
s
a
t
-
p
u
s
a
t

p
e
r
b
e
l
a
n
j
a
a
n

p
a
d
a

s
a
a
t

w
e
e
k
e
n
d




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

P
e
m
i
l
i
k

T
e
m
p
a
t

P
e
r
b
e
l
a
n
j
a
a
n

4

O
p
t
i
m
a
l
i
s
a
s
i

p
e
m
a
n
f
a
a
t
a
n

m
e
d
i
a

k
o
m
u
n
i
k
a
s
i

p
e
m
a
s
a
r
a
n
,

b
a
i
k

m
e
d
i
a

c
e
t
a
k

m
a
u
p
u
n

e
l
e
k
t
r
o
n
i
k

4
.
1
.

I
n
t
e
n
s
i
f
i
k
a
s
i

p
r
o
m
o
s
i

p
a
k
e
t
-
p
a
k
e
t

w
i
s
a
t
a

w
e
e
k
e
n
d

m
e
l
a
l
u
i

b
r
o
s
u
r
-
b
r
o
s
u
r
,

m
a
j
a
l
a
h
,

s
u
r
a
t

k
a
b
a
r
,

d
l
l

(
m
a
j
a
l
a
h

W
e
e
k
e
n
d
e
r
s
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



4
.
2
.

I
n
t
e
n
s
i
f
i
k
a
s
i

p
r
o
m
o
s
i

w
i
s
a
t
a

w
e
e
k
e
n
d

m
e
l
a
l
u
i

p
r
o
g
r
a
m

a
c
a
r
a

t
e
l
e
v
i
s
i

d
a
n

r
a
d
i
o
,

b
a
i
k

l
o
k
a
l

m
a
u
p
u
n

n
a
s
i
o
n
a
l




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



4
.
3
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

w
i
s
a
t
a

w
e
e
k
e
n
d

m
e
l
a
l
u
i

w
e
b
s
i
t
e

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



4
.
4
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

w
i
s
a
t
a

w
e
e
k
e
n
d

m
e
l
a
l
u
i

m
e
d
i
a

k
h
u
s
u
s

k
o
m
u
n
i
t
a
s

m
i
s
a
l
n
y
a

f
a
c
e
b
o
o
k
,

t
w
i
t
t
e
r
,

b
l
o
g

d
l
l




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a

5

C
u
t
i

B
e
r
s
a
m
a

5
.
1
.

P
e
n
e
t
a
p
a
n

h
a
r
i

k
e
r
j
a

d
i

a
n
t
a
r
a

h
a
r
i

l
i
b
u
r

m
e
n
j
a
d
i

h
a
r
i

l
i
b
u
r




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r

K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

A
g
a
m
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a
,

K
e
m
e
n
.

T
e
n
a
g
a

K
e
r
j
a

&

I
m
i
g
r
a
s
i
,

K
e
m
e
n
P
A
N



5
.
2
.

P
e
r
g
e
s
e
r
a
n

h
a
r
i

l
i
b
u
r

m
e
n
d
e
k
a
t
i

a
k
h
i
r

p
e
k
a
n




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r

K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

A
g
a
m
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a
,

K
e
m
e
n
.

T
e
n
a
g
a

K
e
r
j
a

&

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

2
9
N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T

I
m
i
g
r
a
s
i
,

K
e
m
e
n
P
A
N

6

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

k
e
m
i
t
r
a
a
n

p
r
o
m
o
s
i

a
n
t
a
r

p
e
m
a
n
g
k
u

k
e
p
e
n
t
i
n
g
a
n

6
.
1
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
e
r
j
a

s
a
m
a

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

a
n
t
a
r
a

p
e
m
e
r
i
n
t
a
h

d
a
e
r
a
h

d
a
n

p
e
l
a
k
u

u
s
a
h
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

d
i

d
a
e
r
a
h

t
u
j
u
a
n

w
e
e
k
e
n
d
e
r
s




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

a
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



6
.
2
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
e
r
j
a

s
a
m
a

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

a
n
t
a
r
a

p
e
l
a
k
u

u
s
a
h
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

d
e
n
g
a
n

p
e
r
u
s
a
h
a
a
n

k
a
r
t
u

k
r
e
d
i
t
/

p
r
o
v
i
d
e
r

t
e
l
e
p
o
n

s
e
l
u
l
a
r

/
p
r
o
v
i
d
e
r

m
e
m
b
e
r
c
a
r
d

/
B
a
n
k




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

B
a
n
k
,

P
r
o
v
i
d
e
r

T
e
l
e
p
o
n

S
e
l
u
l
a
r
/

M
e
m
b
e
r
c
a
r
d


B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

3
0
3
.

K
E
B
I
J
A
K
A
N

P
E
M
A
N
T
A
P
A
N

D
A
N

P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

P
A
S
A
R

D
E
N
G
A
N

M
O
T
I
V
A
S
I


Z
I
A
R
A
H

A
r
a
h

k
e
b
i
j
a
k
a
n

d
i

a
t
a
s

d
i
j
a
b
a
r
k
a
n

d
a
l
a
m

s
t
r
a
t
e
g
i

d
a
n

i
n
d
i
k
a
s
i

p
r
o
g
r
a
m

s
e
b
a
g
a
i

b
e
r
i
k
u
t
:

N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T

1

R
e
v
i
t
a
l
i
s
a
s
i

d
a
n

d
i
v
e
r
s
i
f
i
k
a
s
i

p
r
o
d
u
k
-
p
r
o
d
u
k

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h

1
.
1
.

R
e
v
i
t
a
l
i
s
a
s
i

d
a
n

d
i
v
e
r
s
i
f
i
k
a
s
i

p
r
o
d
u
k
-
p
r
o
d
u
k

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h

s
e
h
i
n
g
g
a

l
e
b
i
h

i
c
o
n
i
c






K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



1
.
2
.

I
n
t
e
n
s
i
f
i
k
a
s
i

p
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

j
a
l
u
r

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h
,

m
i
s
a
l
n
y
a

z
i
a
r
a
h

W
a
l
i
s
o
n
g
o

(
C
i
r
e
b
o
n
-
D
e
m
a
k
-
K
u
d
u
s
-
T
u
b
a
n
-
G
r
e
s
i
k
-
S
u
r
a
b
a
y
a
)
,

z
i
a
r
a
h

G
u
a

M
a
r
i
a

(
P
u
r
w
o
k
e
r
t
o
-
J
o
g
j
a
-

A
m
b
a
r
a
w
a
-
S
a
l
a
t
i
g
a
-

S
o
l
o
-
K
e
d
i
r
i
)
,


z
i
a
r
a
h

K
e
r
a
j
a
a
n

H
i
n
d
u

K
u
n
o

(
J
o
g
j
a
-
B
a
l
i
-
L
o
m
b
o
k
)
,

d
l
l





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I

,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



1
.
3
.

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

e
v
e
n
t
-
e
v
e
n
t

b
e
s
a
r

k
e
a
g
a
m
a
a
n

(
M
T
Q
,

T
a
b
l
i
g

A
k
b
a
r
,

P
e
n
g
a
j
i
a
n

A
k
b
a
r
,

R
e
t
r
e
a
t
,

d
s
b
)

d
i

l
o
k
a
s
i
-
l
o
k
a
s
i

p
u
s
a
t

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h

m
i
s
a
l
n
y
a

d
i

J
a
w
a

T
e
n
g
a
h
,

J
a
w
a

T
i
m
u
r





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

L
e
m
b
a
g
a

A
g
a
m
a




1
.
4
.

P
e
m
b
u
a
t
a
n

S
I
G
N

&

P
O
S
T


d
e
n
g
a
n

d
e
s
a
i
n

k
h
u
s
u
s

y
a
n
g

b
e
r
b
e
d
a

d
e
n
g
a
n

s
i
g
n

&

p
o
s
t

y
a
n
g

s
u
d
a
h

a
d
a

p
a
d
a

u
m
u
m
n
y
a
.

M
i
s
a
l
n
y
a

k
h
u
s
u
s

u
n
t
u
k

s
e
g
m
e
n

z
i
a
r
a
h

(
w
a
r
n
a
,

t
u
l
i
s
a
n
)

d
a
n

d
a
p
a
t

d
e
n
g
a
n

m
u
d
a
h

d
i
j
u
m
p
a
i

d
i

s
e
p
a
n
j
a
n
g

j
a
l
u
r
-
j
a
l
u
r

w
i
s
a
t
a





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

D
i
n
h
u
b
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a




1
.
5
.

I
n
o
v
a
s
i

p
a
k
e
t
-
p
a
k
e
t

w
i
s
a
t
a

b
a
r
u

m
i
s
a
l
n
y
a

d
e
n
g
a
n

t
e
m
a

t
e
r
t
e
n
t
u

(
n
i
l
a
i

r
u
k
u
m

i
m
a
n

d
a
l
a
m

I
s
l
a
m
,

w
i
s
a
t
a

k
e

G
e
r
e
j
a

k
u
n
o
)

y
a
n
g

b
e
r
l
a
k
u

u
n
t
u
k

s
e
g
m
e
n

m
e
n
e
n
g
a
h
-
a
t
a
s
,

a
t
a
u

m
e
n
e
n
g
a
h
-
b
a
w
a
h
.





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

D
i
n
P
U
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



1
.
6
.

P
e
r
b
a
i
k
a
n

d
a
n

p
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

a
k
s
e
s

d
a
r
a
t

m
e
n
u
j
u

o
b
y
e
k
-
o
b
y
e
k

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


K
e
m
e
n
h
u
b
,

P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,


D
i
n
h
u
b
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I



1
.
7
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
u
a
l
i
t
a
s

d
a
n

k
u
a
n
t
i
t
a
s

s
a
r
a
n
a

d
a
n




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


K
e
m
e
n
h
u
b
,

P
e
m
d
a
,

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

3
1
N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T

p
r
a
s
a
r
a
n
a

d
i

o
b
y
e
k

w
i
s
a
t
a
,

s
e
p
e
r
t
i

t
r
a
n
s
p
o
r
t
a
s
i

u
m
u
m
,

a
k
o
m
o
d
a
s
i
,

k
i
o
s

s
o
u
v
e
n
i
r
,

t
o
i
l
e
t
,

d
l
l


D
i
n
p
a
r
,


D
i
n
h
u
b
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I

2

P
e
m
f
o
k
u
s
a
n

p
r
o
g
r
a
m

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

p
a
d
a

p
a
s
a
r

u
t
a
m
a

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h



2
.
1
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
r
o
g
r
a
m

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

m
e
l
a
l
u
i

k
e
g
i
a
t
a
n
-
k
e
g
i
a
t
a
n

k
e
a
g
a
m
a
a
n
,

m
i
s
a
l
n
y
a

p
e
n
g
a
j
i
a
n
,

k
e
b
a
k
t
i
a
n
,

d
l
l





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

L
e
m
b
a
g
a

A
g
a
m
a




2
.
2
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
r
o
g
r
a
m

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

m
e
l
a
l
u
i

k
e
r
j
a

s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

p
e
m
u
k
a

a
g
a
m
a





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

L
e
m
b
a
g
a

A
g
a
m
a


3

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

s
e
g
m
e
n

p
a
s
a
r

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h

b
e
r
b
a
s
i
s

k
o
m
u
n
i
t
a
s
,

s
e
p
e
r
t
i

k
o
m
u
n
i
t
a
s

k
e
a
g
a
m
a
a
n
,

k
l
a
n

k
e
l
u
a
r
g
a
,

h
o
b
i
,

d
l
l



3
.
1
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h

m
e
l
a
l
u
i

p
e
r
t
e
m
u
a
n
/
e
v
e
n
t

k
h
u
s
u
s

k
o
m
u
n
i
t
a
s
,

m
i
s
a
l
n
y
a

p
e
r
t
e
m
u
a
n

k
e
l
u
a
r
g
a
,

p
e
r
t
e
m
u
a
n

k
e
a
g
a
a
m
a
a
n
,

k
o
n
g
r
e
s

y
a
n
g

d
i
h
a
d
i
r
i

o
l
e
h

p
a
r
a

p
e
m
u
k
a

a
g
a
m
a
,

d
l
l





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



3
.
2
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
a
k
e
t
-
p
a
k
e
t

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h

u
n
t
u
k

k
o
m
u
n
i
t
a
s





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a

4

P
e
m
b
e
r
i
a
n

i
n
s
e
n
t
i
f

k
h
u
s
u
s

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h



4
.
1
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
a
k
e
t

m
u
r
a
h

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h

p
a
d
a

h
a
r
i
-
h
a
r
i

b
e
s
a
r

a
g
a
m
a
,

s
e
p
e
r
t
i

:


I
s
l
a
m

:

H
a
u
l
,

M
a
u
l
u
d

N
a
b
i

M
u
h
a
m
m
a
d

S
A
W
,

B
u
l
a
n

R
a
m
a
d
h
a
n
,

B
u
l
a
n

S
y
a
w
a
l
,

H
a
r
i

I
d
u
l

A
d
h
a
,

H
a
r
i

I
d
u
l

F
i
t
r
i
,

T
a
h
u
n

B
a
r
u

I
s
l
a
m


K
r
i
s
t
i
a
n
i

:

B
u
l
a
n

M
a
r
i
a
,

N
a
t
a
l
,

P
a
s
k
a
h


B
u
d
d
h
a

:

H
a
r
i

W
a
i
s
a
k


H
i
n
d
u

:

G
a
l
u
n
g
a
n
,

K
u
n
i
n
g
a
n





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

L
e
m
b
a
g
a

A
g
a
m
a




4
.
2
.

P
e
m
b
e
r
i
a
n

f
a
s
i
l
i
t
a
s

T
r
a
v
e
l
l
e
r

C
a
r
d

d
a
n

O
n
e

E
n
t
r
y

T
i
c
k
e
t

u
n
t
u
k

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

3
2
N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T



4
.
3
.

P
e
m
b
e
r
i
a
n

d
i
s
k
o
n

d
a
n

s
i
s
t
e
m

k
r
e
d
i
t

w
i
s
a
t
a

(
t
r
a
v
e
l

n
o
w

p
a
y

l
a
t
e
r
)

m
e
l
a
l
u
i

b
a
n
k
/

p
e
r
u
s
a
h
a
a
n

k
a
r
t
u

k
r
e
d
i
t

u
n
t
u
k

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

B
a
n
k


5

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

P
r
o
g
r
a
m

P
e
r
l
i
n
d
u
n
g
a
n

H
a
k
-
H
a
k

K
o
n
s
u
m
e
n



5
.
1
.

P
e
n
e
t
a
p
a
n

D
o

s

&

D
o
n

t

d
i

d
e
s
t
i
n
a
s
i
-
d
e
s
t
i
n
a
s
i

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



5
.
2
.

P
e
n
e
t
a
p
a
n

S
i
s
t
e
m

T
i
c
k
e
t
i
n
g

(
p
e
n
e
t
a
p
a
n

h
a
r
g
a

m
a
k
s
i
m
a
l

h
a
r
g
a

t
i
k
e
t
,

p
a
r
k
i
r
)





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a

6

O
p
t
i
m
a
l
i
s
a
s
i

p
e
m
a
n
f
a
a
t
a
n

m
e
d
i
a

k
o
m
u
n
i
k
a
s
i

p
e
m
a
s
a
r
a
n
,

b
a
i
k

m
e
d
i
a

c
e
t
a
k

m
a
u
p
u
n

e
l
e
k
t
r
o
n
i
k



6
.
1
.

I
n
t
e
n
s
i
f
i
k
a
s
i

p
r
o
m
o
s
i

p
a
k
e
t
-
p
a
k
e
t

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h

m
e
l
a
l
u
i

b
r
o
s
u
r
-
b
r
o
s
u
r
,

m
a
j
a
l
a
h
,

s
u
r
a
t

k
a
b
a
r
,

d
l
l





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



6
.
2
.

I
n
t
e
n
s
i
f
i
k
a
s
i

p
r
o
m
o
s
i

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h

m
e
l
a
l
u
i

p
r
o
g
r
a
m

a
c
a
r
a

t
e
l
e
v
i
s
i

d
a
n

r
a
d
i
o
,

b
a
i
k

l
o
k
a
l

m
a
u
p
u
n

n
a
s
i
o
n
a
l





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



6
.
3
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h

m
e
l
a
l
u
i

w
e
b
s
i
t
e

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



6
.
4
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h

m
e
l
a
l
u
i

m
e
d
i
a

k
h
u
s
u
s

k
o
m
u
n
i
t
a
s

m
i
s
a
l
n
y
a

f
a
c
e
b
o
o
k
,

t
w
i
t
t
e
r
,

b
l
o
g

d
l
l





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a

7

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

k
e
m
i
t
r
a
a
n

p
r
o
m
o
s
i

a
n
t
a
r

p
e
m
a
n
g
k
u

k
e
p
e
n
t
i
n
g
a
n

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h


7
.
1
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
e
r
j
a

s
a
m
a

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

a
n
t
a
r

a

p
e
m
e
r
i
n
t
a
h

d
a
e
r
a
h

d
a
n

p
e
l
a
k
u

u
s
a
h
a

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



7
.
2
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
e
r
j
a

s
a
m
a

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

3
3
N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T

a
n
t
a
r

p
e
l
a
k
u

u
s
a
h
a

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h
,

m
i
s
a
l
n
y
a

p
e
n
g
e
l
o
l
a

o
b
y
e
k

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h
,

a
g
e
n

p
e
r
j
a
l
a
n
a
n


P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



7
.
3
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
e
r
j
a

s
a
m
a

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

a
n
t
a
r
a

p
e
l
a
k
u

u
s
a
h
a

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h

d
e
n
g
a
n

l
e
m
b
a
g
a

k
e
a
g
a
m
a
a
n






K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

L
e
m
b
a
g
a

A
g
a
m
a




7
.
4
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
e
r
j
a

s
a
m
a

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

a
n
t
a
r
a

p
e
l
a
k
u

u
s
a
h
a

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h

d
e
n
g
a
n

p
e
r
u
s
a
h
a
a
n

k
a
r
t
u

k
r
e
d
i
t
/

p
r
o
v
i
d
e
r

t
e
l
e
p
o
n

s
e
l
u
l
a
r

/
p
r
o
v
i
d
e
r

m
e
m
b
e
r
c
a
r
d





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

B
a
n
k
,

P
r
o
v
i
d
e
r

T
e
l
e
p
o
n

S
e
l
u
l
a
r
/

M
e
m
b
e
r
c
a
r
d


8

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

K
e
l
e
m
b
a
g
a
a
n

P
e
n
g
e
l
o
l
a

D
e
s
t
i
n
a
s
i


8
.
1
.

O
p
t
i
m
a
l
i
s
a
s
i

f
u
n
g
s
i

P
O
K
D
A
R
W
I
S

(
P
r
o
g
r
a
m


S
a
d
a
r

W
i
s
a
t
a
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



8
.
2
.

V
i
s
i
t
o
r

M
a
n
a
g
e
m
e
n
t

d
a
n


P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

M
u
t
u

P
e
l
a
y
a
n
a
n

p
a
d
a

o
b
y
e
k
-
o
b
y
e
k

w
i
s
a
t
a

z
i
a
r
a
h




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a


B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

3
4
4
.

K
E
B
I
J
A
K
A
N

P
E
M
A
N
T
A
P
A
N

D
A
N

P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

P
A
S
A
R

D
E
N
G
A
N

M
O
T
I
V
A
S
I


H
O
B
B
I
E
S

A
r
a
h

k
e
b
i
j
a
k
a
n

d
i

a
t
a
s

d
i
j
a
b
a
r
k
a
n

d
a
l
a
m

s
t
r
a
t
e
g
i

d
a
n

i
n
d
i
k
a
s
i

p
r
o
g
r
a
m

s
e
b
a
g
a
i

b
e
r
i
k
u
t
:

N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T

1

R
e
v
i
t
a
l
i
s
a
s
i

d
a
n

d
i
v
e
r
s
i
f
i
k
a
s
i

p
r
o
d
u
k
-
p
r
o
d
u
k

w
i
s
a
t
a

u
n
t
u
k

k
o
m
u
n
i
t
a
s

h
o
b
b
i
e
s


1
.
1
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
r
o
d
u
k
-
p
r
o
d
u
k

b
a
r
u

d
i

d
a
e
r
a
h

y
a
n
g

m
e
m
i
l
i
k
i

o
b
y
e
k
-
o
b
y
e
k

w
i
s
a
t
a

y
a
n
g

b
e
r
p
o
t
e
n
s
i

m
e
n
j
a
d
i

t
u
j
u
a
n

p
a
r
a

k
o
m
u
n
i
t
a
s

h
o
b
b
i
e
s

(
B
a
l
i
,

Y
o
g
y
a
k
a
r
t
a
,

B
a
n
d
u
n
g
,
M
a
k
a
s
s
a
r
,

M
e
d
a
n
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



1
.
2
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
a
k
e
t
-
p
a
k
e
t

w
i
s
a
t
a

d
e
n
g
a
n

h
a
r
g
a

y
a
n
g

l
e
b
i
h

k
o
m
p
e
t
i
t
i
f

u
n
t
u
k

p
a
r
a

k
o
m
u
n
i
t
a
s

h
o
b
b
i
e
s




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



1
.
3
.

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

e
v
e
n
t
-
e
v
e
n
t

b
e
s
a
r

k
o
m
u
n
i
t
a
s

h
o
b
b
i
e
s

d
i

k
o
t
a
-
k
o
t
a

t
u
j
u
a
n

H
o
b
b
i
e
s
,

m
i
s
a
l
n
y
a

f
a
m
i
l
y

g
a
t
h
e
r
i
n
g
,

t
o
u
r
i
n
g
,

l
o
m
b
a

m
o
d
i
f
i
k
a
s
i

o
t
o
m
o
t
i
f
,

p
a
m
e
r
a
n
,

B
i
k
e
r
s

C
o
m
p
e
t
i
t
i
o
n

d
l
l




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a

2

P
e
m
b
e
r
i
a
n

i
n
s
e
n
t
i
f

k
h
u
s
u
s

b
a
g
i

k
o
m
u
n
i
t
a
s

h
o
b
b
i
e
s


2
.
1
.

P
e
m
b
e
r
i
a
n

f
a
s
i
l
i
t
a
s

T
r
a
v
e
l
l
e
r

C
a
r
d

d
a
n

O
n
e

E
n
t
r
y

T
i
c
k
e
t

m
e
l
a
l
u
i

k
o
m
u
n
i
t
a
s

h
o
b
b
i
e
s





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



2
.
2
.

P
e
m
b
e
r
i
a
n

d
i
s
k
o
n

d
a
n

s
i
s
t
e
m

k
r
e
d
i
t

w
i
s
a
t
a

(
t
r
a
v
e
l

n
o
w

p
a
y

l
a
t
e
r
)

b
a
g
i

p
e
m
i
l
i
k

m
e
m
b
e
r
c
a
r
d

k
o
m
u
n
i
t
a
s

h
o
b
b
i
e
s





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

B
a
n
k

3

O
p
t
i
m
a
l
i
s
a
s
i

p
e
m
a
n
f
a
a
t
a
n

m
e
d
i
a

k
o
m
u
n
i
k
a
s
i

p
e
m
a
s
a
r
a
n
,

b
a
i
k

m
e
d
i
a

c
e
t
a
k

m
a
u
p
u
n

e
l
e
k
t
r
o
n
i
k

3
.
1
.

I
n
t
e
n
s
i
f
i
k
a
s
i

p
r
o
m
o
s
i

b
a
g
i

k
o
m
u
n
i
t
a
s

h
o
b
b
i
e
s

m
e
l
a
l
u
i

b
r
o
s
u
r
-
b
r
o
s
u
r
,

m
a
j
a
l
a
h
,

s
u
r
a
t

k
a
b
a
r
,

d
l
l

(
M
a
j
a
l
a
h

o
t
o
m
o
t
i
f
,

m
a
j
a
l
a
h

g
a
y
a

h
i
d
u
p
,

m
a
j
a
l
a
h

k
h
u
s
u
s

h
o
b
b
i
e
s
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



3
.
2
.

P
u
b
l
i
k
a
s
i

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

e
v
e
n
t
-
e
v
e
n
t

p
a
r
a

h
o
b
b
i
e
s

m
e
l
a
l
u
i

p
r
o
g
r
a
m

a
c
a
r
a

t
e
l
e
v
i
s
i
,

r
a
d
i
o
,

w
e
b
s
i
t
e
,

d
l
l




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



3
.
3
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

w
i
s
a
t
a

h
o
b
b
i
e
s

m
e
l
a
l
u
i

m
e
d
i
a

k
h
u
s
u
s

k
o
m
u
n
i
t
a
s

h
o
b
b
i
e
s
,




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

3
5
N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T

m
i
s
a
l
n
y
a

K
e
r
j
a
s
a
m
a

p
r
o
m
o
s
i

d
e
n
g
a
n

p
a
r
a

b
i
k
e
r
s

c
o
m
m
u
n
i
t
y

:

o
u
t
d
o
o
r

p
r
i
n
t
e
d


m
a
t
e
r
i
a
l
,

s
t
i
k
e
r
,

e
v
e
n
t
,

d
a
n

o
n
l
i
n
e

c
o
m
m
u
n
i
t
y

l
a
i
n
n
y
a

4

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

k
e
m
i
t
r
a
a
n

p
r
o
m
o
s
i

a
n
t
a
r

p
e
m
a
n
g
k
u

k
e
p
e
n
t
i
n
g
a
n

4
.
1
.

M
e
m
a
n
f
a
a
t
k
a
n
/

b
e
k
e
r
j
a

s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

k
o
m
u
n
i
t
a
s

h
o
b
b
i
e
s

u
n
t
u
k

m
e
n
j
a
d
i

p
i
o
n
i
r


s
e
b
a
g
a
i

p
e
m
b
u
k
a

d
e
s
t
i
n
a
s
i
-
d
e
s
t
i
n
a
s
i

b
a
r
u





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



4
.
2
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
e
r
j
a

s
a
m
a

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

a
n
t
a
r

p
e
l
a
k
u

u
s
a
h
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

b
a
g
i

k
o
m
u
n
i
t
a
s

h
o
b
b
i
e
s




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



4
.
3
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
e
r
j
a

s
a
m
a

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

a
n
t
a
r
a

p
e
l
a
k
u

u
s
a
h
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

d
e
n
g
a
n

k
o
m
u
n
i
t
a
s

h
o
b
b
i
e
s




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



4
.
4
.

P
e
m
b
e
r
i
a
n

p
e
n
g
h
a
r
g
a
a
n

k
e
p
a
d
a

k
o
m
u
n
i
t
a
s

H
o
b
b
i
e
s

t
e
r
t
e
n
t
u

k
a
r
e
n
a

p
r
e
s
t
a
s
i
n
y
a

d
a
l
a
m

m
e
n
g
e
m
b
a
n
g
k
a
n

k
e
p
a
r
i
w
i
s
a
t
a
a
n




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a


B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

3
6
5
.

K
E
B
I
J
A
K
A
N

P
E
M
A
N
T
A
P
A
N

D
A
N

P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

P
A
S
A
R

D
E
N
G
A
N

M
O
T
I
V
A
S
I


M
I
C
E

A
r
a
h

k
e
b
i
j
a
k
a
n

d
i

a
t
a
s

d
i
j
a
b
a
r
k
a
n

d
a
l
a
m

s
t
r
a
t
e
g
i

d
a
n

i
n
d
i
k
a
s
i

p
r
o
g
r
a
m

s
e
b
a
g
a
i

b
e
r
i
k
u
t
:

N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T

1

R
e
v
i
t
a
l
i
s
a
s
i

d
a
n

d
i
v
e
r
s
i
f
i
k
a
s
i

p
r
o
d
u
k
-
p
r
o
d
u
k

w
i
s
a
t
a

t
u
j
u
a
n

M
I
C
E

1
.
1

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

e
v
e
n
t
-
e
v
e
n
t

b
e
s
a
r

b
e
r
t
e
m
a

i
n
d
u
t
r
i
,

b
i
s
n
i
s
,

d
i

k
o
t
a
-
k
o
t
a

t
u
j
u
a
n

M
I
C
E

k
h
u
s
u
s
n
y
a

d
i

l
u
a
r

J
a
k
a
r
t
a

d
a
n

B
a
l
i

(
B
a
n
d
u
n
g
,

Y
o
g
y
a
k
a
r
t
a
,

P
a
d
a
n
g
,

M
a
k
a
s
s
a
r
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



1
.
2
.

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

e
v
e
n
t

b
e
r
b
a
s
i
s

k
e
b
u
d
a
y
a
a
n

t
r
a
d
i
s
i
o
n
a
l

k
h
a
s

d
a
e
r
a
h

(
u
p
a
c
a
r
a

a
d
a
t

k
h
a
s

d
a
e
r
a
h
)
,

m
i
s
a
l
n
y
a

U
p
a
c
a
r
a

A
d
a
t

G
a
r
e
b
e
g

K
e
r
a
t
o
n

Y
o
g
y
a
k
a
r
t
a
,

P
e
k
a
n

B
u
d
a
y
a

S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t
,

S
e
d
e
k
a
h

L
a
u
t
,

R
i
t
u
a
l

N
g
a
b
e
n

(
B
a
l
i
)
,

U
p
a
c
a
r
a

P
e
n
g
u
b
u
r
a
n

M
a
y
a
t

d
i

T
o
r
a
j
a
,

U
p
a
c
a
r
a

A
d
a
t

H
a
n
t
a

U
a

P
u
a

(
N
T
B
)
,

d
l
l




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



1
.
3
.

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

e
v
e
n
t

o
l
a
h
r
a
g
a

b
e
r
t
a
r
a
f

i
n
t
e
r
n
a
s
i
o
n
a
l

s
e
c
a
r
a

r
u
t
i
n
,

s
e
p
e
r
t
i

p
e
r
a
h
u
,

k
a
p
a
l

l
a
y
a
r
,

b
a
l
a
p

s
e
p
e
d
a
,

l
a
r
i
,

r
e
n
a
n
g

d
i

o
b
y
e
k
-
o
b
y
e
k

w
i
s
a
t
a
,

m
i
s
a
l
n
y
a

S
a
i
l

B
u
n
a
k
e
n
,

S
a
i
l

B
a
n
d
a
,

T
o
u
r

d
e

S
i
n
g
k
a
r
a
k
,

d
l
l




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



1
.
4
.

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

e
v
e
n
t

m
u
s
i
k
/
k
o
n
s
e
r

b
e
r
t
a
r
a
f

i
n
t
e
r
n
a
s
i
o
n
a
l

s
e
c
a
r
a

r
u
t
i
n
,

m
i
s
a
l
n
y
a

J
a
k
a
r
t
a

I
n
t
e
r
n
a
t
i
o
n
a
l

J
a
v
a

J
a
z
z

F
e
s
t
i
v
a
l




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



1
.
5
.

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

f
e
s
t
i
v
a
l
,

k
a
r
n
a
v
a
l

d
a
e
r
a
h

s
e
c
a
r
a

r
u
t
i
n
,

m
i
s
a
l
n
y
a

S
o
l
o

B
a
t
i
k

C
a
r
n
i
v
a
l
,

F
e
s
t
i
v
a
l

M
a
l
i
o
b
o
r
o
,

J
e
m
b
e
r

F
a
s
h
i
o
n

C
a
r
n
a
v
a
l
,

K
u
t
a

C
a
r
v
i
v
a
l
,

d
l
l
.




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



1
.
6
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
u
a
l
i
t
a
s

d
a
n

k
u
a
n
t
i
t
a
s

s
a
r
a
n
a

d
a
n

p
r
a
s
a
r
a
n
a

M
I
C
E

(
E
x
p
o

C
e
n
t
e
r
,

C
o
n
v
e
n
t
i
o
n

C
e
n
t
e
r
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

D
i
n
P
U
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

I
N
C
C
A

2

P
e
m
b
e
r
i
a
n

i
n
s
e
n
t
i
f

k
h
u
s
u
s

b
a
g
i

p
e
r
u
s
a
h
a
a
n

y
a
n
g

m
e
n
g
a
d
a
k
a
n

i
n
c
e
n
t
i
v
e

t
r
a
v
e
l

2
.
1
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
a
k
e
t

m
u
r
a
h

p
e
r
u
s
a
h
a
a
n

u
n
t
u
k

:


P
a
k
e
t

w
i
s
a
t
a

k
o
t
a


P
a
k
e
t

w
i
s
a
t
a

b
e
l
a
n
j
a


P
a
k
e
t

w
i
s
a
t
a

o
u
t
b
o
u
n
d




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

3
7
N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T


P
a
k
e
t

w
i
s
a
t
a

b
e
r
t
e
m
a

(
i
n
d
u
s
t
r
i

d
a
n

b
i
s
n
i
s
,

s
e
j
a
r
a
h
,

b
u
d
a
y
a
,

a
l
a
m
,

d
l
l
)



2
.
2
.

P
e
m
b
e
r
i
a
n

d
i
s
k
o
n

d
a
n

s
i
s
t
e
m

k
r
e
d
i
t

w
i
s
a
t
a

(
t
r
a
v
e
l

n
o
w

p
a
y

l
a
t
e
r
)

m
e
l
a
l
u
i

b
a
n
k
/

p
e
r
u
s
a
h
a
a
n

k
a
r
t
u

k
r
e
d
i
t





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

I
N
C
C
A

3

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

d
e
s
t
i
n
a
t
i
o
n

b
r
a
n
d
i
n
g

w
i
s
a
t
a

3
.
1
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

d
e
s
t
i
n
a
t
i
o
n

b
r
a
n
d
i
n
g

d
a
n

b
r
a
n
d

i
m
a
g
e

u
n
t
u
k

d
e
s
t
i
n
a
s
i
-
d
e
s
t
i
n
a
s
i

u
t
a
m
a

t
u
j
u
a
n

M
I
C
E

(
Y
o
g
y
a
k
a
r
t
a
,

S
o
l
o
,

M
a
k
a
s
s
a
r
,

P
a
d
a
n
g
,

B
a
n
d
u
n
g
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

I
N
C
C
A



3
.
2
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

b
r
a
n
d
i
n
g

i
m
a
g
e

u
n
t
u
k

e
v
e
n
t


t
e
r
u
t
a
m
a

d
i

d
a
e
r
a
h

d
e
n
g
a
n

m
e
n
c
a
n
t
u
m
k
a
n

n
a
m
a

d
e
s
t
i
n
a
s
i

/

o
b
y
e
k

w
i
s
a
t
a

t
e
m
p
a
t

p
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

e
v
e
n
t
,

m
i
s
a
l
n
y
a

S
a
i
l

B
u
n
a
k
e
n
,

S
a
i
l

B
a
n
d
a
,

T
o
u
r

d
e

S
i
n
g
k
a
r
a
k
,

S
o
l
o

B
a
t
i
k

C
a
r
n
i
v
a
l
,

K
u
t
a

C
a
r
n
i
v
a
l
,
d
l
l




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

I
N
C
C
A



3
.
3
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

p
r
o
g
r
a
m

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

y
a
n
g

b
e
r
m
u
a
r
a

p
a
d
a

b
r
a
n
d

i
m
a
g
e

y
a
n
g

t
e
l
a
h

d
i
t
e
t
a
p
k
a
n




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

I
N
C
C
A

4

O
p
t
i
m
a
l
i
s
a
s
i

p
e
m
a
n
f
a
a
t
a
n

m
e
d
i
a

k
o
m
u
n
i
k
a
s
i

p
e
m
a
s
a
r
a
n
,

b
a
i
k

m
e
d
i
a

c
e
t
a
k

m
a
u
p
u
n

e
l
e
k
t
r
o
n
i
k

4
.
1
.

I
n
t
e
n
s
i
f
i
k
a
s
i

p
r
o
m
o
s
i

p
a
k
e
t
-
p
a
k
e
t

w
i
s
a
t
a

M
I
C
E

m
e
l
a
l
u
i

b
r
o
s
u
r
-
b
r
o
s
u
r
,

m
a
j
a
l
a
h
,

s
u
r
a
t

k
a
b
a
r
,

d
l
l




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

I
N
C
C
A



4
.
2
.

P
e
m
b
u
a
t
a
n

k
a
l
e
n
d
e
r

e
v
e
n
t

t
i
a
p
-
t
i
a
p

d
a
e
r
a
h

s
e
c
a
r
a

r
u
t
i
n




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

I
N
C
C
A



4
.
3
.

I
n
t
e
n
s
i
f
i
k
a
s
i

p
r
o
m
o
s
i

p
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

e
v
e
n
t

m
e
l
a
l
u
i

i
k
l
a
n

d
i

t
e
l
e
v
i
s
i

d
a
n

r
a
d
i
o
,

b
a
i
k

l
o
k
a
l

m
a
u
p
u
n

n
a
s
i
o
n
a
l




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

I
N
C
C
A

5

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

k
e
m
i
t
r
a
a
n

p
r
o
m
o
s
i

M
I
C
E

a
n
t
a
r

D
a
e
r
a
h

(
m
e
l
i
b
a
t
k
a
n

s
e
g
e
n
a
p

p
e
l
a
k
u

u
s
a
h
a
)


5
.
1
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

p
r
o
m
o
s
i

M
I
C
E

a
n
t
a
r
a

p
e
m
e
r
i
n
t
a
h

d
a
n

p
e
l
a
k
u

u
s
a
h
a

(
t
e
r
m
a
s
u
k

k
a
l
a
n
g
a
n

p
e
r
u
s
a
h
a
a
n
-
p
e
r
u
s
a
h
a
a
n

b
e
s
a
r

y
a
n
g

b
i
a
s
a

m
e
m
b
e
r
i
k
a
n

p
a
k
e
t
-
p
a
k
e
t

i
n
s
e
n
t
i
f

t
o
u
r

k
e
p
a
d
a

k
a
r
y
a
w
a
n
n
y
a
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

I
N
C
C
A

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

3
8
N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T



5
.
2
.

M
e
n
y
e
r
t
a
k
a
n

k
e
g
i
a
t
a
n

w
i
s
a
t
a

i
n
s
e
n
t
i
f

s
e
b
a
g
a
i

b
a
g
i
a
n

d
a
r
i


k
e
p
e
d
u
l
i
a
n

d
a
r
i

p
e
r
u
s
a
h
a
a
n

/

s
e
k
o
l
a
h

t
e
r
h
a
d
a
p

k
a
r
y
a
w
a
n
/
m
u
r
i
d

d
a
l
a
m

k
u
r
i
k
u
l
u
m

u
n
t
u
k

p
e
n
d
i
d
i
k
a
n
,

d
a
n

b
a
g
i
a
n

d
a
r
i

C
S
R

u
n
t
u
k

p
e
r
u
s
a
h
a
a
n





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

I
N
C
C
A



5
.
3
.

O
p
t
i
m
a
l
i
s
a
s
i

d
u
k
u
n
g
a
n

p
e
m
e
r
i
n
t
a
h

d
a
l
a
m

p
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

e
v
e
n
t
,

s
e
p
e
r
t
i


d
u
k
u
n
g
a
n

p
e
m
k
o
t
,

p
e
m
k
a
b
,

d
i
n
a
s

t
e
r
t
e
n
t
u

d
a
l
a
m

b
i
d
d
i
n
g

u
n
t
u
k

m
e
n
j
a
d
i

p
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a

e
v
e
n
t

t
i
n
g
k
a
t

i
n
t
e
r
n
a
t
i
o
n
a
l




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

I
N
C
C
A



5
.
4
.

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

o
r
g
a
n
i
s
a
s
i

p
r
o
f
e
s
i
,

u
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s
,

p
u
s
a
t

s
t
u
d
i
,

d
l
l

u
n
t
u
k

p
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

e
v
e
n
t





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

I
N
C
C
A



5
.
5
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
e
r
j
a

s
a
m
a

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

e
v
e
n
t

a
n
t
a
r
a

p
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a

e
v
e
n
t

d
e
n
g
a
n

p
e
l
a
k
u

u
s
a
h
a

w
i
s
a
t
a
,

p
e
n
g
e
l
o
l
a

o
b
y
e
k

w
i
s
a
t
a
,

a
g
e
n

p
e
r
j
a
l
a
n
a
n
,

p
e
n
g
u
s
a
h
a

h
o
t
e
l
,

m
a
s
k
a
p
a
i

p
e
n
e
r
b
a
n
g
a
n

d
o
m
e
s
t
i
k
,

d
l
l




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

I
N
C
C
A



5
.
6
.

C
o
-
p
r
o
m
o
t
i
o
n

d
e
n
g
a
n

p
i
h
a
k

s
w
a
s
t
a

d
a
l
a
m

p
r
o
m
o
s
i

e
v
e
n
t

a
n
t
a
r
a

p
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a

e
v
e
n
t

,

s
e
p
e
r
t
i

d
e
n
g
a
n

p
e
r
u
s
a
h
a
a
n

k
a
r
t
u

k
r
e
d
i
t
/

p
r
o
v
i
d
e
r

t
e
l
e
p
o
n

s
e
l
u
l
a
r

/
p
r
o
v
i
d
e
r

m
e
m
b
e
r
c
a
r
d




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

I
N
C
C
A



5
.
7
.

P
e
n
e
t
a
p
a
n

d
a
e
r
a
h
-
d
a
e
r
a
h

p
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a

M
I
C
E

u
n
t
u
k

e
v
e
n
t

i
n
t
e
r
n
a
s
i
o
n
a
l

s
e
c
a
r
a

b
e
r
g
i
l
i
r




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

I
N
C
C
A


B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

3
9
6
.
2
.
3
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

S
e
g
m
e
n

B
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

D
e
m
o
g
r
a
f
i

1
.

K
E
B
I
J
A
K
A
N

P
E
M
A
N
T
A
P
A
N

D
A
N

P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

P
A
S
A
R

E
K
S
P
A
T
R
I
A
T

A
r
a
h

k
e
b
i
j
a
k
a
n

d
i

a
t
a
s

d
i
j
a
b
a
r
k
a
n

d
a
l
a
m

s
t
r
a
t
e
g
i

d
a
n

i
n
d
i
k
a
s
i

p
r
o
g
r
a
m

s
e
b
a
g
a
i

b
e
r
i
k
u
t
:

N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T

1

O
p
t
i
m
a
l
i
s
a
s
i

p
e
m
a
n
f
a
a
t
a
n

m
e
d
i
a

k
o
m
u
n
i
k
a
s
i

p
e
m
a
s
a
r
a
n
,

b
a
i
k

m
e
d
i
a

c
e
t
a
k

m
a
u
p
u
n

e
l
e
k
t
r
o
n
i
k

1
.
1
.

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

m
e
d
i
a

p
r
o
m
o
s
i

d
e
n
g
a
n

m
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

b
a
h
a
s
a
-
b
a
h
a
s
a

y
a
n
g

r
e
l
e
v
a
n

s
e
s
u
a
i

d
e
n
g
a
n

t
a
r
g
e
t

s
e
g
m
e
n

y
a
n
g

d
i
s
a
s
a
r

(
B
r
o
s
u
r
,

G
u
i
d
e

B
o
o
k
,

C
D
,

D
V
D

t
e
n
t
a
n
g

d
e
s
t
i
n
a
s
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

d
i

I
n
d
o
n
s
i
a
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i
/
K
o
m
u
n
i
t
a
s

E
k
s
p
a
t
r
i
a
t



1
.
2
.

P
r
o
m
o
s
i

d
e
n
g
a
n

m
e
m
a
n
f
a
a
t
k
a
n

m
e
d
i
a

k
o
m
u
n
i
k
a
s
i

j
a
r
i
n
g
a
n

:

F
a
c
e
b
o
o
k
,

T
w
i
i
t
e
r
,

B
l
o
g




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

A
s
o
s
i
a
s
i
/
K
o
m
u
n
i
t
a
s

E
k
s
p
a
t
r
i
a
t



1
.
3
.

P
r
o
m
o
s
i

d
e
s
t
i
n
a
s
i

d
e
n
g
a
n

m
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

m
e
d
i
a

m
a
s
s
a

p
o
p
u
l
e
r

b
a
g
i

e
k
s
p
a
t

:

M
a
j
a
l
a
h

G
a
y
a

H
i
d
u
p

b
e
r
b
a
h
a
s
a

a
s
i
n
g
,

H
a
r
i
a
n

T
h
e

J
a
k
a
r
t
a

P
o
s
t
,

H
e
r
a
l
d

T
r
i
b
u
n




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i
/
K
o
m
u
n
i
t
a
s

E
k
s
p
a
t
r
i
a
t

2

P
u
b
l
i
c

R
e
l
a
t
i
o
n

2
.
1
.

P
e
m
a
s
a
r
a
n

s
e
c
a
r
a

h
o
r
i
z
o
n
t
a
l

d
e
n
g
a
n

m
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

j
a
r
i
n
g
a
n

a
t
a
u

k
o
m
u
n
i
t
a
s

e
k
s
p
a
t
r
i
a
t

y
a
n
g

a
d
a

d
i

I
n
d
o
n
e
s
i
a

(
d
i

d
a
e
r
a
h
-
d
a
e
r
a
h

s
e
p
e
r
t
i

J
a
k
a
r
t
a
,

K
e
p
.

R
i
a
u
,

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a
,

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
i
m
u
r
)

k
h
u
s
u
s
n
y
a

a
s
o
s
i
a
s
i

w
a
n
i
t
a

e
k
s
p
a
t
r
i
a
t




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i
/
K
o
m
u
n
i
t
a
s

E
k
s
p
a
t
r
i
a
t



2
.
2
.

P
e
n
d
i
s
t
r
i
b
u
s
i
a
n

m
a
t
e
r
i

p
r
o
m
o
s
i

C
D
,

D
V
D
,

G
u
i
d
e

B
o
o
k

k
e
p
a
d
a

k
o
m
u
n
i
t
a
s

e
k
s
p
a
t

k
h
u
s
u
s
n
y
a

d
i

J
a
k
a
r
t
a




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

A
s
o
s
i
a
s
i
/
K
o
m
u
n
i
t
a
s

E
k
s
p
a
t
r
i
a
t



2
.
3
.

R
o
a
d

s
h
o
w

d
i

s
e
k
o
l
a
h
-
s
e
k
o
l
a
h

i
n
t
e
r
n
a
s
i
o
n
a
l

u
n
t
u
k

e
k
s
p
a
t
r
i
a
t





P
e
m
d
a
,

A
s
o
s
i
a
s
i
/
K
o
m
u
n
i
t
a
s

E
k
s
p
a
t
r
i
a
t

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

4
0
N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T

3

P
e
m
b
e
r
i
a
n

i
n
s
e
n
t
i
f

k
h
u
s
u
s

k
e
p
a
d
a

p
a
r
a

e
k
s
p
a
t
r
i
a
t

3
.
1
.

P
e
m
b
e
r
i
a
n

i
n
s
e
n
t
i
f

k
h
u
s
u
s

b
e
r
u
p
a

p
r
o
m
o
s
i

(
d
i
s
k
o
n
)

b
e
r
k
u
n
j
u
n
g

k
e

t
e
m
p
a
t
-
t
e
m
p
a
t

w
i
s
a
t
a

t
e
r
t
e
n
t
u

(
d
a
p
a
t

d
i
b
a
r
e
n
g
k
a
n

d
e
n
g
a
n

m
o
m
e
n
t

l
i
b
u
r
a
n

s
e
k
o
l
a
h

n
a
s
i
o
n
a
l
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

B
a
n
k
,

P
r
o
v
i
d
e
r

T
e
l
e
p
o
n

S
e
l
u
l
a
r
/

M
e
m
b
e
r
c
a
r
d



3
.
2
.

P
e
m
b
e
r
i
a
n

d
i
s
k
o
n

d
a
n

s
i
s
t
e
m

k
r
e
d
i
t

w
i
s
a
t
a

(
t
r
a
v
e
l

n
o
w

p
a
y

l
a
t
e
r
)





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

B
a
n
k

4

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

k
e
m
i
t
r
a
a
n

p
r
o
m
o
s
i

a
n
t
a
r

p
e
m
a
n
g
k
u

k
e
p
e
n
t
i
n
g
a
n

4
.
1
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
e
r
j
a

s
a
m
a

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

a
n
t
a
r
a

p
e
m
e
r
i
n
t
a
h

d
a
e
r
a
h

d
a
n

p
e
l
a
k
u

u
s
a
h
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

d
i

d
a
e
r
a
h

k
h
u
s
u
s
n
y
a

d
i

d
a
e
r
a
h
-
d
a
e
r
a
h

k
o
m
u
n
i
t
a
s

e
k
s
p
a
t
r
i
a
t

(
J
a
k
a
r
t
a
,

P
a
p
u
a
,

K
a
l
i
m
a
n
t
a
n

T
i
m
u
r
,

R
i
a
u
,

K
e
p
.
R
i
a
u
)




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



4
.
2
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
e
r
j
a

s
a
m
a

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

a
n
t
a
r
a

p
e
l
a
k
u

u
s
a
h
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

d
e
n
g
a
n

p
e
r
u
s
a
h
a
a
n

k
a
r
t
u

k
r
e
d
i
t
/

p
r
o
v
i
d
e
r

t
e
l
e
p
o
n

s
e
l
u
l
a
r

/
p
r
o
v
i
d
e
r

m
e
m
b
e
r
c
a
r
d

/
B
a
n
k




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

B
a
n
k
,

P
r
o
v
i
d
e
r

T
e
l
e
p
o
n

S
e
l
u
l
a
r
/

M
e
m
b
e
r
c
a
r
d


B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

4
1
2
.

K
E
B
I
J
A
K
A
N

P
E
M
A
N
T
A
P
A
N

D
A
N

P
E
N
G
E
M
B
A
N
G
A
N

P
A
S
A
R

B
E
R
D
A
S
A
R
K
A
N

U
S
I
A

(
K
E
L
O
M
P
O
K

U
M
U
R
)

A
r
a
h

k
e
b
i
j
a
k
a
n

d
i

a
t
a
s

d
i
j
a
b
a
r
k
a
n

d
a
l
a
m

s
t
r
a
t
e
g
i

d
a
n

i
n
d
i
k
a
s
i

p
r
o
g
r
a
m

s
e
b
a
g
a
i

b
e
r
i
k
u
t
:

N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
a
r
g
e
t

U
s
i
a

(
T
a
h
u
n
)

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T

1

O
p
t
i
m
a
l
i
s
a
s
i

p
e
m
a
n
f
a
a
t
a
n

m
e
d
i
a

k
o
m
u
n
i
k
a
s
i

p
e
m
a
s
a
r
a
n
,

b
a
i
k

m
e
d
i
a

c
e
t
a
k

m
a
u
p
u
n

e
l
e
k
t
r
o
n
i
k

1
.
1
.

P
e
n
g
g
u
n
a
a
n

M
e
d
i
a

T
V

s
e
b
a
g
a
i

m
e
d
i
a

k
o
m
u
n
i
k
a
s
i

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

b
e
r
b
a
g
a
i

d
e
s
t
i
n
a
s
i

d
a
n

e
v
e
n
t

(
M
I
C
E
)


3
6


4
5

4
6


5
5

>
5
5




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r



P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



1
.
2
.

P
e
n
g
g
u
n
a
a
n

M
e
d
i
a

R
a
d
i
o

s
e
b
a
g
a
i

m
e
d
i
a

p
r
o
m
o
s
i

e
v
e
n
t

d
a
n

k
e
g
i
a
t
a
n
-
k
e
g
i
a
t
a
n

w
i
s
a
t
a

u
n
t
u
k

s
e
g
m
e
n

r
e
m
a
j
a

1
8


2
5

2
6


3
5

3
6


4
5




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r



P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



1
.
3
.

P
e
n
e
r
b
i
t
a
n

a
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l

d
i

s
u
r
a
t

k
a
b
a
r


4
6


5
5

>
5
5




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r



P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



1
.
4
.

P
e
n
e
r
b
i
t
a
n

a
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l

d
i

M
a
j
a
l
a
h

G
a
y
a

H
i
d
u
p
/

M
a
j
a
l
a
h

r
e
m
a
j
a

1
8


2
5

2
6


3
5

3
6


4
5

4
6


5
5

>
5
5




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r



P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



1
.
5
.

P
r
o
m
o
s
i

d
e
n
g
a
n

m
e
m
a
n
f
a
a
t
k
a
n

m
e
d
i
a

k
o
m
u
n
i
k
a
s
i

j
a
r
i
n
g
a
n

:

F
a
c
e
b
o
o
k
,

T
w
i
i
t
e
r
,

B
l
o
g

1
8


2
5

2
6


3
5





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r



P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



1
.
6
.

P
r
o
m
o
s
i

d
e
n
g
a
n

m
e
d
i
a

c
e
t
a
k

o
u
t
d
o
o
r

(
b
i
l
l
b
o
a
r
d
,

b
a
l
i
h
o
,

s
t
i
k
e
r

d
i

m
o
b
i
l
/
t
a
x
i
/
b
u
s
)

d
e
n
g
a
n

t
e
m
a

u
m
u
m
/
s
e
g
m
e
n

r
e
m
a
j
a

m
i
s
a
l
n
y
a

s
t
i
k
e
r

t
e
m
a

K
e
b
u
n

B
i
n
a
t
a
n
g
,

S
t
i
k
e
r

T
e
m
a

D
T
W

p
e
t
u
a
l
a
n
g
a
n

1
8


2
5

2
6


3
5

3
6


4
5

4
6


5
5





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r



P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a

2

P
u
b
l
i
c

R
e
l
a
t
i
o
n


2
.
1
.

P
e
n
g
g
u
n
a
a
n

I
C
O
N

(
P
u
b
l
i
c

F
i
g
u
r
e
)

m
i
s
a
l
n
y
a

a
r
t
i
s
,

a
t
l
i
t
,

t
o
k
o
h

r
e
m
a
j
a

u
n
t
u
k

m
e
m
p
r
o
m
o
s
i
k
a
n

b
e
r
b
a
g
a
i

k
e
g
i
a
t
a
n

d
i

o
b
y
e
k
-
o
b
y
e
k

w
i
s
a
t
a
/
m
e
r
a
m
a
i
k
a
n

a
c
a
r
a


1
8


2
5

2
6


3
5

3
6


4
5

4
6


5
5




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r



P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a



V
I

-

4
2
N
O

S
T
R
A
T
E
G
I

I
N
D
I
K
A
S
I

P
R
O
G
R
A
M

T
a
r
g
e
t

U
s
i
a

(
T
a
h
u
n
)

T
A
H
A
P
A
N

I
N
S
T
A
N
S
I

J
a
n
g
k
a

P
e
n
d
e
k








1


3

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

M
e
n
e
n
g
a
h

3


5

T
a
h
u
n

J
a
n
g
k
a

P
a
n
j
a
n
g

>

5

T
a
h
u
n

P
E
N
A
N
G
G
U
N
G

J
A
W
A
B

T
E
R
K
A
I
T



2
.
2
.

S
p
o
n
s
o
r
s
h
i
p

e
v
e
n
t

r
e
m
a
j
a
/
u
m
u
m

s
e
p
e
r
t
i

k
o
n
s
e
r

m
u
s
i
k
/
f
e
s
t
i
v
a
l
/
l
o
m
b
a

1
8


2
5

2
6


3
5

3
6


4
5

4
6


5
5




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r



P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



2
.
3
.

P
e
n
d
i
r
i
a
n

p
u
s
a
t
-
p
u
s
a
t

i
n
f
o
r
m
a
s
i

w
i
s
a
t
a

d
i

m
a
l
-
m
a
l

a
t
a
u

t
e
m
p
a
t
-
t
e
m
p
a
t

s
t
r
a
t
e
g
i
s

1
8


2
5

2
6


3
5

3
6


4
5

4
6


5
5

>
5
5




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r



P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a

3

P
e
m
b
e
r
i
a
n

i
n
s
e
n
t
i
f

k
h
u
s
u
s

k
e
p
a
d
a

p
a
r
a

e
k
s
p
a
t
r
i
a
t

3
.
1
.

P
e
m
b
e
r
i
a
n

i
n
s
e
n
t
i
f

k
h
u
s
u
s

b
e
r
u
p
a

p
r
o
m
o
s
i

(
d
i
s
k
o
n
)

b
e
r
k
u
n
j
u
n
g

k
e

t
e
m
p
a
t
-
t
e
m
p
a
t

w
i
s
a
t
a

t
e
r
t
e
n
t
u

(
d
a
p
a
t

d
i
b
a
r
e
n
g
k
a
n

d
e
n
g
a
n

m
o
m
e
n
t

l
i
b
u
r
a
n

s
e
k
o
l
a
h

n
a
s
i
o
n
a
l
)

1
8


2
5

2
6


3
5

3
6


4
5

4
6


5
5




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


M
e
n
d
i
k
n
a
s


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

S
e
k
o
l
a
h

t
e
r
k
a
i
t
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

A
s
o
s
i
a
s
i

t
e
r
k
a
i
t

l
a
i
n
n
y
a



3
.
2
.

P
e
m
b
e
r
i
a
n

d
i
s
k
o
n

d
a
n

s
i
s
t
e
m

k
r
e
d
i
t

w
i
s
a
t
a

(
t
r
a
v
e
l

n
o
w

p
a
y

l
a
t
e
r
)


4
6


5
5

>
5
5




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

B
a
n
k
,

P
r
o
v
i
d
e
r

T
e
l
e
p
o
n

S
e
l
u
l
a
r
/

M
e
m
b
e
r
c
a
r
d

4

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

k
e
m
i
t
r
a
a
n

p
r
o
m
o
s
i

a
n
t
a
r

p
e
m
a
n
g
k
u

k
e
p
e
n
t
i
n
g
a
n

4
.
1
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
e
r
j
a

s
a
m
a

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

a
n
t
a
r
a

p
e
m
e
r
i
n
t
a
h

d
a
e
r
a
h

d
a
n

p
e
l
a
k
u

u
s
a
h
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

d
i

d
a
e
r
a
h

k
h
u
s
u
s
n
y
a

m
i
s
a
l
n
y
a

d
a
l
a
m

r
a
n
g
k
a

m
e
n
i
n
g
k
a
t
k
a
n

m
i
n
a
t

s
e
g
m
e
n

p
e
l
a
j
a
r

d
i

s
e
k
o
l
a
h
-
s
e
k
o
l
a
h

(
o
u
t
b
o
u
n
d
,

C
a
m
p

G
r
o
u
n
d
,

J
a
m
b
o
r
e
,

P
e
k
a
n

O
l
a
h

R
a
g
a

P
e
l
a
j
a
r
,

d
s
b
)

1
8


2
5





K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


M
e
n
d
i
k
n
a
s


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

S
e
k
o
l
a
h

t
e
r
k
a
i
t
,




4
.
2
.

P
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
e
r
j
a

s
a
m
a

p
e
m
a
s
a
r
a
n

d
a
n

p
r
o
m
o
s
i

a
n
t
a
r
a

p
e
l
a
k
u

u
s
a
h
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

d
e
n
g
a
n

p
e
r
u
s
a
h
a
a
n

k
a
r
t
u

k
r
e
d
i
t
/

p
r
o
v
i
d
e
r

t
e
l
e
p
o
n

s
e
l
u
l
a
r

/
p
r
o
v
i
d
e
r

m
e
m
b
e
r
c
a
r
d

4
6


5
5

>
5
5




K
e
m
e
n
b
u
d
p
a
r


P
e
m
d
a
,

D
i
n
p
a
r
,

A
S
I
T
A
,

P
H
R
I
,

B
a
n
k
,

P
r
o
v
i
d
e
r

T
e
l
e
p
o
n

S
e
l
u
l
a
r
/

M
e
m
b
e
r
c
a
r
d














7. Implikasi Program Pengembangan
di Daerah (Ringkasan Program Promosi)
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

VII - 1


VII. IMPLIKASI PROGRAM
PENGEMBANGAN DI
DAERAH (RINGKASAN PROGRAM PROMOSI)


Berikut Ini merupakan gambarkan singkat profil kepariwisataan di
masing-masing daerah di 33 propinsi. Tujuan dari penyajian informasi ini
adalah bagaimana implementasi kebijakan pemasaran pariwisata di
daerah.
Program yang tercantum pada tiap-tiap profil daerah merupakan
program-program prioritas yang didasarkan pada kebutuhan program
promosi yang lebih terfokus dan prioritas. Adapun program yang lebih detil
yang merupakan program-program reguler yang dituangkan dari program
nasional lebih lanjut dijabarkan dalam masing-masing buku daerah yang
terdiri dari 33 buku.
Adapun program prioritas untuk masing-masing propinsi dalam hal
ini mencakup
1. Propinsi Nangroe Aceh Darussalam
2. Propinsi Sumatera Utara
3. Propinsi Sumatera Barat
4. Propinsi Riau
5. Propinsi Jambi
6. Propinsi Sumatera Selatan
7. Propinsi Bengkulu
8. Propinsi Lampung
Buku Putih Pemasaran Pariwisata Nusantara

VII - 2
9. Propinsi Bangka Belitung
10. Propinsi Kep. Riau
11. Propinsi DKI Jakarta
12. Propinsi Jawa Tengah
13. Propinsi Jawa Barat
14. Propinsi D.I Yogyakarta
15. Propinsi Jawa Timur
16. Propinsi Banten
17. Propinsi Bali
18. Propinsi NTB
19. Propinsi NTT
20. Propinsi Kalimantan Barat
21. Propinsi Kalimantan Tengah
22. Propinsi Kalimantan Selatan
23. Propinsi Kalimantan Timur
24. Propinsi Sulawesi Utara
25. Propinsi Sulawesi Tengah
26. Propinsi Sulawesi Selatan
27. Propinsi Sulawesi Tenggara
28. Propinsi Gorontalo
29. Propinsi Sulawesi Barat
30. Propinsi Maluku
31. Propinsi Maluku Utara
32. Propinsi Papua Barat
33. Propinsi Papua




1
.

N
a
n
g
g
r
o
e

A
c
e
h

D
a
r
u
s
s
a
l
a
m

D
T
W

U
T
A
M
A


P
u
l
a
u

W
e
h
,

P
a
n
t
a
i

G
a
p
a
n
g

&

I
b
o
i
h
,

P
u
l
a
u

R
u
b
i
a
h
,

P
a
n
t
a
i

P
a
r
a
d
i
s
o
,

M
a
s
j
i
d

R
a
y
a

B
a
i
t
u
r
r
a
h
m
a
n
,

M
a
k
a
m

S
y
i
a
h

K
u
a
l
a
,

S
u
m
b
e
r

A
i
r

P
a
n
a
s

S
i
m
p
a
n
g

B
a
l
i
k
,

D
a
n
a
u

L
a
u
t

T
a
w
a
r
,

T
a
m
a
n

N
a
s
i
o
n
a
l

G
u
n
u
n
g

L
e
u
s
e
r
,

S
u
n
g
a
i

A
l
a
s
,

A
i
r

T
e
r
j
u
n

T
i
n
g
k
a
t

T
u
j
u
h
,

P
u
l
a
u

S
i
m
e
u
l
u
e
,

T
e
l
u
k

J
a
m
i
n
,

P
a
n
t
a
i

T
u
l

L
h
o
k

P
R
O
F
I
L

W
I
S
N
U
S

Y
A
N
G

B
E
R
K
U
N
J
U
N
G

K
E

N
A
D

J
e
n
i
s

K
e
l
a
m
i
n

L
a
k
i
-
l
a
k
i

:

7
2
,
7
3
%
;


P
e
r
e
m
p
u
a
n

:

2
7
,
2
7
%

U
s
i
a

<

1
5

t
h

:

-
;

1
5
-
2
4

t
h

:

1
8
,
1
8
%
;

2
5
-
3
4

t
h

:

3
5
-
4
4

t
h

:

4
5
,
4
5
%
;

4
5
-
5
4

t
h

:

2
7
,
2
7
%
;

>

5
4

t
h

:

K
e
g
i
a
t
a
n

U
t
a
m
a

B
e
k
e
r
j
a

:

7
2
,
7
3
%
;

P
e
l
a
j
a
r
/
m
a
h
a
s
i
s
w
a

:

1
8
,
1
8
M
e
n
g
u
r
u
s

r
u
m
a
h

t
a
n
g
g
a

:

9
,
0
9
%
;


L
a
i
n
n
y
a

:

M
a
k
s
u
d

K
u
n
j
u
n
g
a
n

B
e
r
l
i
b
u
r

:

-
;

P
r
o
f
e
s
i
/
b
i
s
n
i
s
/
M
I
C
E
:

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

:

-
;

K
e
s
e
h
a
t
a
n

:

B
e
r
z
i
a
r
a
h
/
k
e
a
g
a
m
a
a
n

:

-
;

M
e
n
g
u
n
j
u
n
g
i

t
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

7
2
,
7
3
%
;

O
l
a
h
r
a
g
a
/
k
e
s
e
n
i
a
n

:

;

L
a
i
n
n
y
a

:

1
8
,
1
8
%

A
k
o
m
o
d
a
s
i

y
a
n
g

D
i
g
u
n
a
k
a
n

H
o
t
e
l
/
a
k
o
m
o
d
a
s
i

:

2
7
,
2
7
%
;

T
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

6
3
,
6
4
%
;

T
i
d
a
k

M
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

:

9
,
0
9
%
;

L
a
i
n
n
y
a

:

-

R
a
t
a
-
r
a
t
a

L
a
m
a

T
i
n
g
g
a
l


9

h
a
r
i

R
a
t
a
-
r
a
t
a

P
e
n
g
e
l
u
a
r
a
n


R
p

1
.
0
9
6
.
5
8
0
,
0
0

p
e
r

o
r
a
n
g

p
e
r

p
e
r
j
a
l
a
n
a
n

K
o
m
p
o
s
i
s
i

P
e
n
g
e
l
u
a
r
a
n


A
k
o
m
o
d
a
s
i

:

3
,
4
9
%
;

M
a
k
a
n
a
n

&

m
i
n
u
m
a
n

:

1
1
,
3
6
%
;

A
n
g
k
u
t
a
n

:

3
7
,
5
%
;


P
e
r
t
u
n
j
u
k
a
n

s
e
n
i
,

m
u
s
e
u
m

&

j
a
s
a

k
e
b
u
d
a
y
a
a
n

:

-
;

h
i
b
u
r
a
n
/
r
e
k
r
e
a
s
i

:

0
,
3
%
;

J
a
s
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

l
a
i
n
n
y
a

:

0
,
1
8
%
;

C
i
n
d
e
r
a
m
a
t
a
/
b
e
l
a
n
j
a

:

3
6
,
1
5
%
;

L
a
i
n
n
y
a

:

1
1
,
0
1
%

J
a
r
a
k


<

1
0
0

k
m

:

-
;

1
0
0
-
5
0
0

k
m

:

3
6
,
3
6
%
;

5
0
1
k
m

:

2
7
,
2
7
%
;


>

1
0
0
0

k
m

:

3
6
,
3
6
%

S
u
m
b
e
r

:

S
t
a
t
i
s
t
i
k

W
i
s
a
t
a
w
a
n

N
u
s
a
n
t
a
r
a

2
0
0
8

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a
1
.

N
a
n
g
g
r
o
e

A
c
e
h

D
a
r
u
s
s
a
l
a
m

P
A
S
A
R

U
T
A
M
A


N
a
n
g
g
r
o
e

A
c
e
h

D
a
r
u
s
s
a
l
a
m

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a

S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t

R
i
a
u

J
a
m
b
i

D
K
I

J
a
k
a
r
t
a

B
a
t
a
m

J
a
w
a

B
a
r
a
t

L
a
m
p
u
n
g


B
a
n
t
e
n


3
4

t
h

:

9
,
0
9
%
;


%
;

>

5
4

t
h

:

-

1
8
,
1
8
%
;

%
;


L
a
i
n
n
y
a

:

-

9
,
0
9
%
;

;

K
e
s
e
h
a
t
a
n

:

-
;

M
e
n
g
u
n
j
u
n
g
i

O
l
a
h
r
a
g
a
/
k
e
s
e
n
i
a
n

:

-
T
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

L
a
i
n
n
y
a

:


A
k
o
m
o
d
a
s
i

:

3
,
4
9
%
;

M
a
k
a
n
a
n

&

m
i
n
u
m
a
n

:

P
e
r
t
u
n
j
u
k
a
n

s
e
n
i
,

;

J
a
s
a

:

0
,
3
%
;

J
a
s
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

l
a
i
n
n
y
a

:

%
;

L
a
i
n
n
y
a

:

5
0
1
-
1
0
0

P
R
O
G
R
A
M

P
R
O
M
O
S
I

P
R
I
O
R
I
T
A
S
A
.

K
A
M
P
A
N
Y
E

M
E
D
I
A

1
.

I
k
l
a
n

d
a
n

T
a
l
k

S
h
o
w

d
i

T
e
l
e
v
i
s
i
-

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

T
V

l
o
k
a
l

(
m
i
s

:

A
c
e
h

T
V
,

D
e
l
i

T
V
-

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

p
r
o
g
r
a
m

a
c
a
r
a

T
V

n
a
s
i
o
n
a
l

(
m
i
s
:

J
e
l
a
j
a
h
,

J
a
l
a
n
-
j
a
l
a
n
,

A
r
c
h
i
p
e
l
a
g
o
,

K
o
p
e
r

&

r
a
n
s
e
l
)

2
.

I
k
l
a
n

R
a
d
i
o

d
i

N
A
D
:

N
i
k
o
y
a
,

F
l
a
m
b
o
y
a
n
,

P
r
i
m
a
,

O
n
e
,

B
i
n
k
a
r
a

a
t
a
u

d
i

S
u
m
u
t
:

B
i
n
u
a
n
g
,

C
E
K
,

R
o
r
i
s
,

S
m
a
r
t
,

B
o
n
s
i
t
a
,

B
o
s
s
,

D
i
n
o
,

G
i
t
a
,

S
t
a
r


-

S
a
l
e
s

P
r
o
m
o
t
i
o
n

P
a
k
e
t

W
i
s
a
t
a
-

I
k
l
a
n

p
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

e
v
e
n
t

d
i

D
T
W

u
t
a
m
a
3
.

S
u
r
a
t

K
a
b
a
r

:

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l
,

I
k
l
a
n

E
v
e
n
t

(
K
o
r
a
n

A
c
A
c
e
h
,

P
o
s

M
e
t
r
o

M
e
d
a
n
)
4
.

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l

d
i

m
a
j
a
l
a
h

n
a
s
i
o
n
a
l

(
m
i
s
a
l
:

T
a
m
a
s
y
a
)
5
.

W
e
b
s
i
t
e

(
u
p
d
a
t
e

&

p
e
n
a
m
b
a
h
a
n

f
i
t
u
r
/
m
e
n
u
,

a
d
a

l
i
n
k

d
e
n
g
a
n

w
e
b
s
i
t
e

P
e
m
d
a

N
A
D
)

B
.

P
R
I
N
T
I
N
G

M
A
T
E
R
I
A
L

1
.

P
e
n
c
e
t
a
k
a
n

b
r
o
s
u
r

w
i
s
a
t
a

N
A
D
2
.

P
e
m
b
u
a
t
a
n

b
u
k
u

p
a
n
d
u
a
n

w
i
s
a
t
a

N
A
D
C
.

D
I
R
E
C
T

S
E
L
L
I
N
G

:

M
a
l
l

P
r
o
m
o
t
i
o
n

d
i

J
a
k
a
r
t
a
,

M
e
d
a
n
,

P
a
d
a
n
g
D
.

P
U
B
L
I
C

R
E
L
A
T
I
O
N

:

P
e
m
b
u
a
t
a
n

C
D

F
i
l
m

D
o
k
u
m
e
n
t
e
r

D
T
W

U
n
g
g
u
l
a
n

d
a
n

d
i
d
i
s
t
r
i
b
u
s
i
k
a
n

k
e

b
e
r
b
a
g
a
i

d
a
e
r
a
h

,

S
e
t
t
i
n
g

F
i
l
m

d
i

D
T
W

U
t
a
m
a

E
.

E
V
E
N
T

&

E
X
P
E
R
I
E
N
C
E

M
A
R
K
E
T
I
N
G
S
a
i
l

S
a
b
a
n
g
,

p
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

F
e
s
t
i
v
a
l

N
A
D
,

P
a
r
t
i
s
i
p
a
s
i

p
a
d
a

K
e
m
i
l
a
u

S
u
m
a
t
e
r
a
,

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

M
T
Q
/
T
a
b
l
i
g

A
k
b
a
r
,

K
o
n
g
r
e
s

M
o
s
l
e
m


B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a


V
I
I

-

3
P
R
O
G
R
A
M

P
R
O
M
O
S
I

P
R
I
O
R
I
T
A
S

I
k
l
a
n

d
a
n

T
a
l
k

S
h
o
w

d
i

T
e
l
e
v
i
s
i

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

T
V

l
o
k
a
l

(
m
i
s

:

A
c
e
h

T
V
,

D
e
l
i

T
V
-
M
e
d
a
n
)


K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

p
r
o
g
r
a
m

a
c
a
r
a

T
V

n
a
s
i
o
n
a
l

(
m
i
s
:

J
e
l
a
j
a
h
,

j
a
l
a
n
,

A
r
c
h
i
p
e
l
a
g
o
,

K
o
p
e
r

&

r
a
n
s
e
l
)


I
k
l
a
n

R
a
d
i
o

d
i

N
A
D
:

N
i
k
o
y
a
,

F
l
a
m
b
o
y
a
n
,

P
r
i
m
a
,

O
n
e
,

B
i
n
k
a
r
a

a
t
a
u

d
i

S
u
m
u
t
:

B
i
n
u
a
n
g
,

C
E
K
,

R
o
r
i
s
,

S
m
a
r
t
,

B
o
n
s
i
t
a
,

B
o
s
s
,

D
i
n
o
,

S
a
l
e
s

P
r
o
m
o
t
i
o
n

P
a
k
e
t

W
i
s
a
t
a

I
k
l
a
n

p
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

e
v
e
n
t

d
i

D
T
W

u
t
a
m
a

S
u
r
a
t

K
a
b
a
r

:

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l
,

I
k
l
a
n

E
v
e
n
t

(
K
o
r
a
n

A
c
e
h
,

S
e
r
a
m
b
i
,

A
c
e
h
,

P
o
s

M
e
t
r
o

M
e
d
a
n
)

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l

d
i

m
a
j
a
l
a
h

n
a
s
i
o
n
a
l

(
m
i
s
a
l
:

T
a
m
a
s
y
a
)

W
e
b
s
i
t
e

(
u
p
d
a
t
e

&

p
e
n
a
m
b
a
h
a
n

f
i
t
u
r
/
m
e
n
u
,

a
d
a

l
i
n
k

d
e
n
g
a
n

P
e
n
c
e
t
a
k
a
n

b
r
o
s
u
r

w
i
s
a
t
a

N
A
D

P
e
m
b
u
a
t
a
n

b
u
k
u

p
a
n
d
u
a
n

w
i
s
a
t
a

N
A
D

M
a
l
l

P
r
o
m
o
t
i
o
n

d
i

J
a
k
a
r
t
a
,

M
e
d
a
n
,

P
a
d
a
n
g

P
e
m
b
u
a
t
a
n

C
D

F
i
l
m

D
o
k
u
m
e
n
t
e
r

D
T
W

U
n
g
g
u
l
a
n

d
a
n

d
i
d
i
s
t
r
i
b
u
s
i
k
a
n

k
e

b
e
r
b
a
g
a
i

d
a
e
r
a
h

,

S
e
t
t
i
n
g

F
i
l
m

d
i

E
V
E
N
T

&

E
X
P
E
R
I
E
N
C
E

M
A
R
K
E
T
I
N
G

:

P
a
r
t
i
s
i
p
a
s
i

p
a
d
a

e
v
e
n
t

n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

F
e
s
t
i
v
a
l

N
A
D
,

P
a
r
t
i
s
i
p
a
s
i

p
a
d
a

,

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

M
T
Q
/
T
a
b
l
i
g

A
k
b
a
r
,

K
o
n
g
r
e
s




D
T
W

U
T
A
M
A


I
s
t
a
n
a

M
a
i
m
u
n
,

D
a
n
a
u

T
o
b
a
,

T
a
m
a
n

B
u
a
y
a

A
s
a
m

K
u
m
b
a
n
g
,

T
a
m
a
n

N
a
s
i
o
n
a
l

G
u
n
u
n
g

L
e
u
s
e
r
,

B
u
k
i
t

L
a
w
a
n
g

B
r
a
s
t
a
g
i
,

B
u
k
i
t

G
u
n
d
a
l
i
n
g
,

P
a
r
a
p
a
t
,

K
o
t
a

P
a
n
t
a
i

S
i
b
o
l
g
a
,

P
u
l
a
u

N
i
a
s
,

G
o
m
o



P
R
O
F
I
L

W
I
S
N
U
S

Y
A
N
G

B
E
R
K
U
N
J
U
N
G

K
E

S
U
M
A
T
E
R
A

U
T
A
R
A

J
e
n
i
s

K
e
l
a
m
i
n

L
a
k
i
-
l
a
k
i

:

5
6
,
4
7
%
;


P
e
r
e
m
p
u
a
n

:

4
3
,
5
3
%

U
s
i
a

<

1
5

t
h

:

3
,
1
3
%
;

1
5
-
2
4

t
h

:

7
,
5
9
%
;

2
0
,
9
8
%
;


3
5
-
4
4

t
h

:

1
7
,
4
1
%
;

4
5
-
5
4

t
h

:

2
7
,
9
%
;
5
4

t
h

:

2
2
,
9
9
%

K
e
g
i
a
t
a
n

U
t
a
m
a

B
e
k
e
r
j
a

:

8
8
,
1
7
%
;

P
e
l
a
j
a
r
/
m
a
h
a
s
i
s
w
a

:

M
e
n
g
u
r
u
s

r
u
m
a
h

t
a
n
g
g
a

:

2
,
4
6
%
;


L
a
i
n
n
y
a

:

6
,
4
7
%

M
a
k
s
u
d

K
u
n
j
u
n
g
a
n

B
e
r
l
i
b
u
r

:

1
4
,
5
1
%
;

P
r
o
f
e
s
i
/
b
i
s
n
i
s
/
M
I
C
E
P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

:

1
,
3
4
%
;

K
e
s
e
h
a
t
a
n

:

0
,
B
e
r
z
i
a
r
a
h
/
k
e
a
g
a
m
a
a
n

:

0
,
6
7
%
;

M
e
n
g
u
n
j
u
n
g
i

t
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

4
5
,
5
4
%
;

O
l
a
h
r
a
g
a
/
k
e
s
e
n
i
a
n

:

;

L
a
i
n
n
y
a

:

3
3
,
7
1
%

A
k
o
m
o
d
a
s
i

y
a
n
g

D
i
g
u
n
a
k
a
n

H
o
t
e
l
/
a
k
o
m
o
d
a
s
i

:

1
8
,
5
3
%
;

T
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

4
1
,
9
6
%
;

T
i
d
a
k

M
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

:

3
7
,
2
8
%
;
L
a
i
n
n
y
a

:

2
,
2
3
%

R
a
t
a
-
r
a
t
a

L
a
m
a

T
i
n
g
g
a
l


3
,
2

h
a
r
i

R
a
t
a
-
r
a
t
a

P
e
n
g
e
l
u
a
r
a
n


R
p

4
5
5
.
4
9
0
,
0
0

p
e
r

o
r
a
n
g

p
e
r

p
e
r
j
a
l
a
n
a
n
K
o
m
p
o
s
i
s
i

P
e
n
g
e
l
u
a
r
a
n


A
k
o
m
o
d
a
s
i

:

7
,
6
%
;

M
a
k
a
n
a
n

&

m
i
n
u
m
a
n

:

1
8
,
6
6
%
;

A
n
g
k
u
t
a
n

:

3
9
,
3
%
;


P
e
r
t
u
n
j
u
k
a
n

s
e
n
i
,

m
u
s
e
u
m

&

j
a
s
a

k
e
b
u
d
a
y
a
a
n

:

0
,
0
2
%
;

h
i
b
u
r
a
n
/
r
e
k
r
e
a
s
i

:

2
,
5
6
%
;

J
a
s
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

l
a
i
n
n
y
a

:

0
,
1
6
%
;

C
i
n
d
e
r
a
m
a
t
a
/
b
e
l
a
n
j
a
L
a
i
n
n
y
a

:

1
1
,
0
5
%

J
a
r
a
k


<

1
0
0

k
m

:

6
,
0
3
%
;

1
0
0
-
5
0
0

k
m

:

6
8
,
3
k
m

:

1
1
,
8
3
%
;


>

1
0
0
0

k
m

:

1
3
,
8
4
%

S
u
m
b
e
r

:

S
t
a
t
i
s
t
i
k

W
i
s
a
t
a
w
a
n

N
u
s
a
n
t
a
r
a

2
0
0
8

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a
2
.

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a

P
A
S
A
R

U
T
A
M
A


S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a

N
a
n
g
r
o
e

A
c
e
h

D
a
r
u
s
a
l
l
a
m

S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t

R
i
a
u

J
a
m
b
i

D
K
I

J
a
k
a
r
t
a

B
a
t
a
m

J
a
w
a

B
a
r
a
t

L
a
m
p
u
n
g


B
a
n
t
e
n


%
;

2
5
-
3
4

t
h

:

5
4

t
h

:

2
7
,
9
%
;

>

P
e
l
a
j
a
r
/
m
a
h
a
s
i
s
w
a

:

2
,
9
%
;

%
;


L
a
i
n
n
y
a

:

/
M
I
C
E
:

3
,
5
7
%
;

%
;

K
e
s
e
h
a
t
a
n

:

0
,
6
7
%
;

M
e
n
g
u
n
j
u
n
g
i

O
l
a
h
r
a
g
a
/
k
e
s
e
n
i
a
n

:

-
T
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

M
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

:

3
7
,
2
8
%
;

p
e
r
j
a
l
a
n
a
n

%
;

M
a
k
a
n
a
n

&

m
i
n
u
m
a
n

:

P
e
r
t
u
n
j
u
k
a
n

s
e
n
i
,

j
a
s
a

k
e
b
u
d
a
y
a
a
n

:

0
,
0
2
%
;

J
a
s
a

:

2
,
5
6
%
;

J
a
s
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

e
l
a
n
j
a

:

2
0
,
6
6
%
;

6
8
,
3
%
;

5
0
1
-
1
0
0

P
R
O
G
R
A
M

P
R
O
M
O
S
I

P
R
I
O
R
I
T
A
S
A
.

K
A
M
P
A
N
Y
E

M
E
D
I
A
1
.

I
k
l
a
n

d
a
n

T
a
l
k

S
h
o
w

d
i

T
e
l
e
v
i
s
i
-

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

T
V

l
o
k
a
l

(
m
i
s

:

M
i
n
a
n
g

T
V
,

D
e
l
i

T
V
-

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

p
r
o
g
r
a
m

a
c
a
r
a

T
V

n
a
s
i
o
n
a
l

(
m
i
s

:

J
e
l
a
j
a
h
,

J
a
l
a
n
j
a
l
a
n
,

A
r
c
h
i
p
e
l
a
g
o
,

K
o
p
e
r

&

r
a
n
s
e
l
)

2
.

I
k
l
a
n

R
a
d
i
o
:

p
r
o
m
o
s
i

p
a
k
e
t

w
i
s
a
t
a
,

i
k
l
a
n

d
a
y
a

t
a
r
i
k

w
i
s
a
t
a

3
.

S
u
r
a
t

K
a
b
a
r

:

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l
,

I
k
l
a
n

E
v
e
n
t

(
P
o
s

M
e
t
r
o

M
e
d
a
n
,

S
i
n
g
g
a
l
a
n
g
,

K
o
r
a
n

A
c
e
h
)

4
.

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l

d
i

m
a
j
a
l
a
h

n
a
s
i
o
n
a
l

(
m
i
s
a
l
:

T
a
m
a
s
y
a
)
5
.

W
e
b
s
i
t
e

(
u
p
d
a
t
e

&

p
e
n
a
m
b
a
h
a
n

f
i
t
u
r
/
m
e
n
u
,

d
a
n

l
i
n
k
/
j
a
r
i
n
g
a
n

y
a
n
g

l
e
b
i
h

l
u
a
s
)

B
.

P
R
I
N
T
I
N
G

M
A
T
E
R
I
A
L
1
.

P
e
n
c
e
t
a
k
a
n

b
r
o
s
u
r

w
i
s
a
t
a

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a
2
.

P
e
m
b
u
a
t
a
n

b
u
k
u

p
a
n
d
u
a
n

w
i
s
a
t
a

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a
C
.

S
A
L
E
S

P
R
O
M
O
T
I
O
N
/

D
I
R
E
C
T

S
E
L
L
I
N
G

:

M
e
d
a
n
,

P
a
d
a
n
g
,

B
a
t
a
m
D
.

P
U
B
L
I
C

R
E
L
A
T
I
O
N

:

1
.

P
e
m
b
u
a
t
a
n

C
D

F
i
l
m

D
o
k
u
m
e
n
t
e
r

D
T
W

U
n
g
g
u
l
a
n

d
a
n

d
i
d
i
s
t
r
i
b
u
s
i
k
a
n

k
e

b
e
r
b
a
g
a
i

d
a
e
r
a
h

2
.

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

K
o
m
u
n
i
t
a
s

(
m
i
s

:

k
l
u
b

o
t
o
m
o
t
i
f
,

k
l
u
b

p
r
o
f
e
s
i
,

k
l
u
b

t
e
r
t
e
n
t
u
)

3
.

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

P
r
o
d
u
c
t
i
o
n

H
o
u
s
e

u
t
k

s
e
t
t
i
n
g

f
i
l
m

d
i

D
T
W

u
t
a
m
a

(
T
o
b
a
,

B
e
r
a
s
t
a
g
i
,

S
i

P
i
s
o
3
.

E
V
E
N
T

&

E
X
P
E
R
I
E
N
C
E

M
A
R
K
E
T
I
N
G
S
a
b
a
n
g
,

p
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

F
e
s
t
i
v
a
l

B
u
d
a
y
a

B
a
t
a
k
,

P
a
r
t
i
s
i
p
a
s
i

p
a
d
a

K
e
m
i
l
a
u

S
u
m
a
t
e
r
a
,

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

F
e
s
t
i
v
a
l

T
o
b
a
,

K
o
n
s
e
r

M
u
s
i
k

d
e
n
g
a
n

a
r
t
i
s
t

n
a
s
i
o
n
a
l

4
.

K
E
L
E
M
B
A
G
A
A
N

P
A
R
I
W
I
S
A
T
A

:

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a


V
I
I

-

4
P
R
O
G
R
A
M

P
R
O
M
O
S
I

P
R
I
O
R
I
T
A
S

K
A
M
P
A
N
Y
E

M
E
D
I
A

I
k
l
a
n

d
a
n

T
a
l
k

S
h
o
w

d
i

T
e
l
e
v
i
s
i

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

T
V

l
o
k
a
l

(
m
i
s

:

M
i
n
a
n
g

T
V
,

D
e
l
i

T
V
-
M
e
d
a
n
)


K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

p
r
o
g
r
a
m

a
c
a
r
a

T
V

n
a
s
i
o
n
a
l

(
m
i
s

:

J
e
l
a
j
a
h
,

J
a
l
a
n
-
j
a
l
a
n
,

A
r
c
h
i
p
e
l
a
g
o
,

K
o
p
e
r

&

r
a
n
s
e
l
)


I
k
l
a
n

R
a
d
i
o
:

p
r
o
m
o
s
i

p
a
k
e
t

w
i
s
a
t
a
,

i
k
l
a
n

d
a
y
a

t
a
r
i
k

w
i
s
a
t
a


S
u
r
a
t

K
a
b
a
r

:

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l
,

I
k
l
a
n

E
v
e
n
t

(
P
o
s

M
e
t
r
o

M
e
d
a
n
,

S
i
n
g
g
a
l
a
n
g
,

l

d
i

m
a
j
a
l
a
h

n
a
s
i
o
n
a
l

(
m
i
s
a
l
:

T
a
m
a
s
y
a
)

W
e
b
s
i
t
e

(
u
p
d
a
t
e

&

p
e
n
a
m
b
a
h
a
n

f
i
t
u
r
/
m
e
n
u
,

d
a
n

l
i
n
k
/
j
a
r
i
n
g
a
n

y
a
n
g

l
e
b
i
h

P
R
I
N
T
I
N
G

M
A
T
E
R
I
A
L

P
e
n
c
e
t
a
k
a
n

b
r
o
s
u
r

w
i
s
a
t
a

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a

P
e
m
b
u
a
t
a
n

b
u
k
u

p
a
n
d
u
a
n

w
i
s
a
t
a

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a

S
A
L
E
S

P
R
O
M
O
T
I
O
N
/

D
I
R
E
C
T

S
E
L
L
I
N
G

:

M
a
l
l

P
r
o
m
o
t
i
o
n

d
i

J
a
k
a
r
t
a
,

M
e
d
a
n
,

P
a
d
a
n
g
,

B
a
t
a
m

P
U
B
L
I
C

R
E
L
A
T
I
O
N

:


P
e
m
b
u
a
t
a
n

C
D

F
i
l
m

D
o
k
u
m
e
n
t
e
r

D
T
W

U
n
g
g
u
l
a
n

d
a
n

d
i
d
i
s
t
r
i
b
u
s
i
k
a
n

k
e

b
e
r
b
a
g
a
i

d
a
e
r
a
h


K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

K
o
m
u
n
i
t
a
s

(
m
i
s

:

k
l
u
b

o
t
o
m
o
t
i
f
,

k
l
u
b

p
r
o
f
e
s
i
,

k
l
u
b

h
o
b
i

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

P
r
o
d
u
c
t
i
o
n

H
o
u
s
e

u
t
k

s
e
t
t
i
n
g

f
i
l
m

d
i

D
T
W

u
t
a
m
a

(
T
o
b
a
,

B
e
r
a
s
t
a
g
i
,

S
i

P
i
s
o
-
P
i
s
o
,

T
a
m
a
n

S
i

M
a
l
e
m
,

d
s
b
)

E
V
E
N
T

&

E
X
P
E
R
I
E
N
C
E

M
A
R
K
E
T
I
N
G

:

P
a
r
t
i
s
i
p
a
s
i

p
a
d
a

e
v
e
n
t

S
a
i
l

S
a
b
a
n
g
,

p
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

F
e
s
t
i
v
a
l

B
u
d
a
y
a

B
a
t
a
k
,

P
a
r
t
i
s
i
p
a
s
i

p
a
d
a

K
e
m
i
l
a
u

S
u
m
a
t
e
r
a
,

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

F
e
s
t
i
v
a
l

T
o
b
a
,

K
o
n
s
e
r

M
u
s
i
k

d
e
n
g
a
n

a
r
t
i
s
t

n
a
s
i
o
n
a
l


K
E
L
E
M
B
A
G
A
A
N

P
A
R
I
W
I
S
A
T
A

:

L
e
m
b
a
g
a

P
r
o
m
o
s
i

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a




D
T
W

U
T
A
M
A

P
a
n
t
a
i

A
i
r

M
a
n
i
s
,

M
u
s
e
u
m

A
d
i
t
y
a
w
a
r
m
a
n
,

B
u
k
i
t
t
i
n
g
g
i
,

B
e
n
t
e
n
g

D
e

K
o
c
k
,

N
g
a
r
a
i

S
i
a
n
o
k
,

I
s
t
a
n
a

B
a
s
a

P
a
g
a
r
u
y
u
n
g
,

T
a
n
j
u
n
g

M
u
t
i
a
r
a
,

P
a
y
a
k
u
m
b
u
h
,

L
e
m
b
a
h
a

H
a
r
a
u
,

D
a
n
a
u

S
i
n
g
k
a
r
a
k
,

K
o
t
a

S
a
w
a
h
k
u
n
t
o
,

D
e
s
a

P
a
n
d
a
i

S
i
k
e
k
,

D
a
n
a
u

M
a
n
i
n
j
a
u

&

k
e
l
o
k

4
4
,


D
a
n
a
u

K
e
r
i
n
c
i
,

K
e
p
a
u
l
a
u
a
n

M
e
n
t
a
w
a
i
,

T
a
m
a
n

N
a
s
i
o
n
a
l

S
i
b
e
r
u
t

P
R
O
F
I
L

W
I
S
N
U
S

Y
A
N
G

B
E
R
K
U
N
J
U
N
G

K
E

S
U
M
A
T
E
R
A

B
A
R
A
T

J
e
n
i
s

K
e
l
a
m
i
n

L
a
k
i
-
l
a
k
i

:

5
1
,
4
6
%
;


P
e
r
e
m
p
u
a
n

:

4
8
,
5
4
%

U
s
i
a

<

1
5

t
h

:

1
8
,
6
2
%
;

1
5
-
2
4

t
h

:

1
5
,
9
6
%
;

2
5
1
7
,
0
2
%
;


3
5
-
4
4

t
h

:

1
9
,
4
1
%
;

4
5
-
5
4

t
h

:

1
5
,
5
6
%
;

>

5
4

t
h

:

1
3
,
4
3
%

K
e
g
i
a
t
a
n

U
t
a
m
a

B
e
k
e
r
j
a

:

5
5
,
4
5
%
;

P
e
l
a
j
a
r
/
m
a
h
a
s
i
s
w
a

:

M
e
n
g
u
r
u
s

r
u
m
a
h

t
a
n
g
g
a

:

1
0
,
7
7
%
;


L
a
i
n
n
y
a

:

1
8
,
0
9
%

M
a
k
s
u
d

K
u
n
j
u
n
g
a
n

B
e
r
l
i
b
u
r

:

3
9
,
1
%
;

P
r
o
f
e
s
i
/
b
i
s
n
i
s
/
M
I
C
E
P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

:

1
,
9
9
%
;

K
e
s
e
h
a
t
a
n

:

0
,
B
e
r
z
i
a
r
a
h
/
k
e
a
g
a
m
a
a
n

:

0
,
8
%
;

M
e
n
g
u
n
j
u
n
g
i

t
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

4
7
,
0
7
%
;

O
l
a
h
r
a
g
a
/
k
e
s
e
n
i
a
n

:

0
,
6
6
%
;

L
a
i
n
n
y
a

:

3
,
3
2
%

A
k
o
m
o
d
a
s
i

y
a
n
g

D
i
g
u
n
a
k
a
n

H
o
t
e
l
/
a
k
o
m
o
d
a
s
i

:

9
,
4
4
%
;

T
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

4
3
,
3
5
%
;

T
i
d
a
k

M
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

:

4
6
,
1
4
%
;
L
a
i
n
n
y
a

:

1
,
0
6
%

R
a
t
a
-
r
a
t
a

L
a
m
a

T
i
n
g
g
a
l


3
,
0
7

h
a
r
i

R
a
t
a
-
r
a
t
a

P
e
n
g
e
l
u
a
r
a
n


R
p

3
3
4
.
0
6
0
,
0
0

p
e
r

o
r
a
n
g

p
e
r

p
e
r
j
a
l
a
n
a
n
K
o
m
p
o
s
i
s
i

P
e
n
g
e
l
u
a
r
a
n


A
k
o
m
o
d
a
s
i

:

3
,
1
4
%
;

M
a
k
a
n
a
n

&

m
i
n
u
m
a
n

:

1
6
,
5
9
%
;

A
n
g
k
u
t
a
n

:

3
8
,
3
9
%
;


P
e
r
t
u
n
j
u
k
a
n

s
e
n
i
,

m
u
s
e
u
m

&

j
a
s
a

k
e
b
u
d
a
y
a
a
n

:

0
,
2
7
%
;

h
i
b
u
r
a
n
/
r
e
k
r
e
a
s
i

:

2
,
6
9
%
;

J
a
s
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

l
a
i
n
n
y
a

:

0
,
4
2
%
;

C
i
n
d
e
r
a
m
a
t
a
/
b
e
l
a
n
j
a
L
a
i
n
n
y
a

:

8
,
8
8
%

J
a
r
a
k


<

1
0
0

k
m

:

1
3
,
1
6
%
;

1
0
0
-
5
0
0

k
m

:

6
5
,
8
2
1
0
0

k
m

:

8
,
7
8
%
;


>

1
0
0
0

k
m

:

1
2
,
2
3
%
S
u
m
b
e
r

:

S
t
a
t
i
s
t
i
k

W
i
s
a
t
a
w
a
n

N
u
s
a
n
t
a
r
a

2
0
0
8

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a
3
.

S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t

P
A
S
A
R

U
T
A
M
A


S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a

R
i
a
u

D
K
I

J
a
k
a
r
t
a

S
u
m
a
t
e
r
a

S
e
l
a
t
a
n

J
a
w
a

B
a
r
a
t

B
e
n
g
k
u
l
u

N
a
n
g
g
r
o
e

A
c
e
h

D
a
r
u
s
s
a
l
a
m

L
a
m
p
u
n
g

J
a
m
b
i


2
4

t
h

:

1
5
,
9
6
%
;

2
5
-
3
4

t
h

:

5
4

t
h

:

1
5
,
5
6
%
;

P
e
l
a
j
a
r
/
m
a
h
a
s
i
s
w
a

:

1
5
,
6
9
%
;

%
;


L
a
i
n
n
y
a

:

/
M
I
C
E
:

6
,
7
8
%
;

%
;

K
e
s
e
h
a
t
a
n

:

0
,
2
7
%
;

M
e
n
g
u
n
j
u
n
g
i

O
l
a
h
r
a
g
a
/
k
e
s
e
n
i
a
n

:

H
o
t
e
l
/
a
k
o
m
o
d
a
s
i

:

9
,
4
4
%
;

T
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

T
i
d
a
k

M
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

:

4
6
,
1
4
%
;

p
e
r
j
a
l
a
n
a
n

%
;

M
a
k
a
n
a
n

&

m
i
n
u
m
a
n

:

P
e
r
t
u
n
j
u
k
a
n

s
e
n
i
,

m
u
s
e
u
m

&

j
a
s
a

k
e
b
u
d
a
y
a
a
n

:

0
,
2
7
%
;

J
a
s
a

%
;

J
a
s
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

/
b
e
l
a
n
j
a

:

2
9
,
6
3
%
;

6
5
,
8
2
%
;

5
0
1
-
%

P
R
O
G
R
A
M

P
R
O
M
O
S
I

P
R
I
O
R
I
T
A
S
1
.

K
A
M
P
A
N
Y
E

M
E
D
I
A

1
.

S
p
e
c
i
a
l

P
r
o
g
r
a
m

d
i

T
V

d
a
n

R
a
d
i
o
-

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

p
r
o
g
r
a
m

a
c
a
r
a

T
V

n
a
s
i
o
n
a
l

(
m
i
s
J
a
l
a
n
-
j
a
l
a
n
,

A
r
c
h
i
p
e
l
a
g
o
,

K
o
p
e
r

&

r
a
n
s
e
l
)
-

I
k
l
a
n

R
a
d
i
o
:

p
r
o
m
o
s
i

p
a
k
e
t

w
i
s
a
t
a
,

i
k
l
a
n

d
a
y
a

t
a
r
i
k

w
i
s
a
t
a

(
R
a
d
i
o

C
l
a
s
s
y
,

J
e
l
i
t
a
,

F
a
n
e
s
a

5
)
2
.

S
u
r
a
t

K
a
b
a
r

:

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l
,

I
k
l
a
n

E
v
e
n
t

(
S
i
n
g
g
a
l
a
n
g
,

H
a
l
u
a
n
)
3
.

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l

d
i

m
a
j
a
l
a
h

4
.

W
e
b
s
i
t
e

(
u
p
d
a
t
e

&

p
e
n
a
m
b
a
h
a
n

f
i
t
u
r
/
m
e
n
u
,

y
a
n
g

l
e
b
i
h

l
u
a
s
)

5
.

P
e
n
g
g
u
n
a
a
n

m
e
d
i
a

s
o
s
i
a
l
:

m
e
n
c
i
p
t
a
k
a
n

a
w
a
r
e
n
e
s
s

S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t
2
.

P
R
I
N
T
I
N
G

M
A
T
E
R
I
A
L

:

3
.

S
A
L
E
S

P
R
O
M
O
T
I
O
N
/

D
I
R
E
C
T

S
E
L
L
I
N
G

:

J
a
k
a
r
t
a
,

M
e
d
a
n
,

P
a
d
a
n
g
4
.

P
U
B
L
I
C

R
E
L
A
T
I
O
N

:

1
.

P
e
m
b
u
a
t
a
n

C
D

F
i
l
m

D
o
k
u
m
e
n
t
e
r
d
i
d
i
s
t
r
i
b
u
s
i
k
a
n

k
e

b
e
r
b
a
g
a
i

d
a
e
r
a
h

2
.

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

K
o
m
u
n
i
t
a
s

(
m
i
s

:

k
l
u
b

o
t
o
m
o
t
i
f
,

k
l
u
b

p
r
o
f
e
s
i
,

k
l
u
b

h
o
b
i

t
e
r
t
e
n
t
u
)

m
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
k
a
n

s
p
e
c
i
a
l

e
v
e
n
t
3
.

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

P
r
o
d
u
c
t
i
o
n

H
o
u
s
e

u
t
k

s
e
t
t
i
n
g

f
i
l
m

d
i

D
T
W

u
t
a
m
a

(
N
g
a
r
a
i

S
i
a
n
o
u
k
,

K
o
t
a

5
.

E
V
E
N
T

&

E
X
P
E
R
I
E
N
C
E

M
A
R
K
E
T
I
N
G
S
a
i
l

S
a
b
a
n
g
,

p
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

P
a
r
t
i
s
i
p
a
s
i

p
a
d
a

K
e
m
i
l
a
u

S
u
m
a
t
e
r
a
M
u
s
i
k

d
e
n
g
a
n

s
e
j
u
m
l
a
h

a
r
t
i
s
t

n
a
s
i
o
n
a
l

6
.

K
E
L
E
M
B
A
G
A
A
N

P
A
R
I
W
I
S
A
T
A

:

S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t


B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a


V
I
I

-

5
P
R
O
G
R
A
M

P
R
O
M
O
S
I

P
R
I
O
R
I
T
A
S


S
p
e
c
i
a
l

P
r
o
g
r
a
m

d
i

T
V

d
a
n

R
a
d
i
o

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

p
r
o
g
r
a
m

a
c
a
r
a

T
V

n
a
s
i
o
n
a
l

(
m
i
s

:

J
e
l
a
j
a
h
,

j
a
l
a
n
,

A
r
c
h
i
p
e
l
a
g
o
,

K
o
p
e
r

&

r
a
n
s
e
l
)

p
r
o
m
o
s
i

p
a
k
e
t

w
i
s
a
t
a
,

i
k
l
a
n

d
a
y
a

t
a
r
i
k

w
i
s
a
t
a

(
R
a
d
i
o

C
l
a
s
s
y
,

J
e
l
i
t
a
,

F
a
n
e
s
a

5
)

:

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l
,

I
k
l
a
n

E
v
e
n
t

(
P
o
s

M
e
t
r
o

M
e
d
a
n
,

S
i
n
g
g
a
l
a
n
g
,

H
a
l
u
a
n
)

d
i

m
a
j
a
l
a
h

n
a
s
i
o
n
a
l

(
m
i
s
a
l
:

T
a
m
a
s
y
a
)

W
e
b
s
i
t
e

(
u
p
d
a
t
e

&

p
e
n
a
m
b
a
h
a
n

f
i
t
u
r
/
m
e
n
u
,

d
a
n

l
i
n
k
/
j
a
r
i
n
g
a
n

s
o
s
i
a
l
:

f
a
c
e
b
o
o
k
,

t
w
i
t
t
e
r
,

b
l
o
g

d
a
l
a
m

m
e
n
c
i
p
t
a
k
a
n

a
w
a
r
e
n
e
s
s

S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t

P
R
I
N
T
I
N
G

M
A
T
E
R
I
A
L

:

B
r
o
s
u
r
,

B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

W
i
s
a
t
a

S
A
L
E
S

P
R
O
M
O
T
I
O
N
/

D
I
R
E
C
T

S
E
L
L
I
N
G

:

M
a
l
l

P
r
o
m
o
t
i
o
n

d
i

J
a
k
a
r
t
a
,

M
e
d
a
n
,

P
a
d
a
n
g
,

B
a
t
a
m

P
U
B
L
I
C

R
E
L
A
T
I
O
N

:


C
D

F
i
l
m

D
o
k
u
m
e
n
t
e
r

D
T
W

U
n
g
g
u
l
a
n

d
a
n

d
i
d
i
s
t
r
i
b
u
s
i
k
a
n

k
e

b
e
r
b
a
g
a
i

d
a
e
r
a
h


K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

K
o
m
u
n
i
t
a
s

(
m
i
s

:

k
l
u
b

o
t
o
m
o
t
i
f
,

k
l
u
b

p
r
o
f
e
s
i
,

m
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
k
a
n

s
p
e
c
i
a
l

e
v
e
n
t

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

P
r
o
d
u
c
t
i
o
n

H
o
u
s
e

u
t
k

s
e
t
t
i
n
g

f
i
l
m

d
i

D
T
W

u
t
a
m
a

(
N
g
a
r
a
i

S
i
a
n
o
u
k
,

K
o
t
a

B
u
k
i
t
t
i
n
g
g
i
,

S
i
n
g
k
a
r
a
k
)

E
V
E
N
T

&

E
X
P
E
R
I
E
N
C
E

M
A
R
K
E
T
I
N
G

:

P
a
r
t
i
s
i
p
a
s
i

p
a
d
a

e
v
e
n
t

p
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

F
e
s
t
i
v
a
l

B
u
d
a
y
a

M
i
n
a
n
g
,

K
e
m
i
l
a
u

S
u
m
a
t
e
r
a
,

T
o
u
r

D
e

S
i
n
g
k
a
r
a
k
,

F
e
s
t
i
v
a
l

M
u
s
i
k

d
e
n
g
a
n

s
e
j
u
m
l
a
h

a
r
t
i
s
t

n
a
s
i
o
n
a
l


K
E
L
E
M
B
A
G
A
A
N

P
A
R
I
W
I
S
A
T
A

:

L
e
m
b
a
g
a

P
r
o
m
o
s
i

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a




D
T
W

U
T
A
M
A

K
l
e
n
t
e
n
g

H
o
c
h

L
i
o
n
g

K
o
n
g
,

T
e
l
u
k

M
a
k
m
u
r
,

P
a
n
t
a
i

P
u
l
a
u

R
u
p
a
t
,

B
u
k
i
t

B
e
r
b
u
n
g
a
,

D
a
n
a
u

M
e
n
d
u
y
a
n
,

I
s
t
a
n
a

S
i
a
k
,

C
a
n
d
i

M
u
a
r
a

T
a
k
u
s
,

A
i
r

T
e
r
j
u
n

M
e
r
a
n
g
i
n
,

M
a
k
a
m

S
y
e
k
h

B
u
r
h
a
n
u
d
d
i
n

&

S
y
e
k
h

A
b
d
u
l

G
a
n
i
,

K
e
b
u
n

B
i
n
a
t
a
n
g

K
a
s
a
n
g

K
u
l
i
m
,

A
i
r

T
e
r
j
u
n

A
l
a
h
a
n
,

P
u
l
a
u

J
e
m
u
r
,

B
e
n
t
e
n
g

T
u
j
u
h

L
a
p
i
s
,

L
o
m
b
a

P
a
c
u

J
a
l
u
r





P
R
O
F
I
L

W
I
S
N
U
S

Y
A
N
G

B
E
R
K
U
N
J
U
N
G

K
E

R
I
A
U

J
e
n
i
s

K
e
l
a
m
i
n

L
a
k
i
-
l
a
k
i

:

5
6
,
2
6
%
;


P
e
r
e
m
p
u
a
n

:

4
3
,
7
5
%

U
s
i
a

<

1
5

t
h

:

6
,
2
5
%
;

1
5
-
2
4

t
h

:

1
0
,
7
1
%
;

2
5
9
,
8
2
%
;


3
5
-
4
4

t
h

:

2
2
,
3
2
%
;

4
5
-
5
4

t
h

:

2
2
,
3
2
%
;

>

5
4

t
h

:

2
8
,
5
7
%

K
e
g
i
a
t
a
n

U
t
a
m
a

B
e
k
e
r
j
a

:

7
1
,
4
3
%
;

P
e
l
a
j
a
r
/
m
a
h
a
s
i
s
w
a

:

M
e
n
g
u
r
u
s

r
u
m
a
h

t
a
n
g
g
a

:

9
,
8
2
%
;


L
a
i
n
n
y
a

:

1
2
,
5
%

M
a
k
s
u
d

K
u
n
j
u
n
g
a
n

B
e
r
l
i
b
u
r

:

9
,
8
2
%
;

P
r
o
f
e
s
i
/
b
i
s
n
i
s
/
M
I
C
E
P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

:

0
,
8
9
%
;

K
e
s
e
h
a
t
a
n

:

B
e
r
z
i
a
r
a
h
/
k
e
a
g
a
m
a
a
n

:

0
,
8
9
%
;

M
e
n
g
u
n
j
u
n
g
i

t
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

7
4
,
1
1
%
;

O
l
a
h
r
a
g
a
/
k
e
s
e
n
i
a
n

:

0
,
8
9
%
;

L
a
i
n
n
y
a

:

4
,
4
6
%

A
k
o
m
o
d
a
s
i

y
a
n
g

D
i
g
u
n
a
k
a
n

H
o
t
e
l
/
a
k
o
m
o
d
a
s
i

:

1
3
,
3
9
%
;

T
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

8
2
,
1
4
%
;

T
i
d
a
k

M
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

:

0
,
8
9
%
;

3
,
5
7
%

R
a
t
a
-
r
a
t
a

L
a
m
a

T
i
n
g
g
a
l


1
0
,
3
6

h
a
r
i

R
a
t
a
-
r
a
t
a

P
e
n
g
e
l
u
a
r
a
n


R
p

5
7
3
.
4
8
0
,
0
0

p
e
r

o
r
a
n
g

p
e
r

p
e
r
j
a
l
a
n
a
n
K
o
m
p
o
s
i
s
i

P
e
n
g
e
l
u
a
r
a
n


A
k
o
m
o
d
a
s
i

:

8
,
8
6
%
;

M
a
k
a
n
a
n

&

m
i
n
u
m
a
n

:

1
7
%
;

A
n
g
k
u
t
a
n

:

4
3
,
4
6
%
;


P
e
r
t
u
n
j
u
k
a
n

s
e
n
i
,

m
u
s
e
u
m

&

j
a
s
a

k
e
b
u
d
a
y
a
a
n

:

0
,
3
7
%
;

h
i
b
u
r
a
n
/
r
e
k
r
e
a
s
i

:

1
,
4
3
%
;

J
a
s
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

l
a
i
n
n
y
a

:

0
,
1
6
%
;

C
i
n
d
e
r
a
m
a
t
a
/
b
e
l
a
n
j
a
L
a
i
n
n
y
a

:

9
,
8
8
%

J
a
r
a
k


<

1
0
0

k
m

:

-
;

1
0
0
-
5
0
0

k
m

:

3
4
,
8
2
%
;

k
m

:

4
9
,
1
1
%
;


>

1
0
0
0

k
m

:

1
6
,
0
7
%

S
u
m
b
e
r

:

S
t
a
t
i
s
t
i
k

W
i
s
a
t
a
w
a
n

N
u
s
a
n
t
a
r
a

2
0
0
8

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a
4
.

R

I

A

U

P
A
S
A
R

U
T
A
M
A


R
i
a
u

S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a

S
u
m
a
t
e
r
a

S
e
l
a
t
a
n

J
a
m
b
i

B
a
n
g
k
a

B
e
l
i
t
u
n
g

L
a
m
p
u
n
g

J
a
w
a

B
a
r
a
t

B
e
n
g
k
u
l
u

D
K
I

J
a
k
a
r
t
a


%
;

2
5
-
3
4

t
h

:

5
4

t
h

:

2
2
,
3
2
%
;

>

P
e
l
a
j
a
r
/
m
a
h
a
s
i
s
w
a

:

6
,
2
5
%
;

%
;


L
a
i
n
n
y
a

:

/
M
I
C
E
:

8
,
9
3
%
;

%
;

K
e
s
e
h
a
t
a
n

:

-
;

M
e
n
g
u
n
j
u
n
g
i

O
l
a
h
r
a
g
a
/
k
e
s
e
n
i
a
n

:

T
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

T
i
d
a
k

M
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

:

0
,
8
9
%
;

L
a
i
n
n
y
a

:

p
e
r
j
a
l
a
n
a
n

A
k
o
m
o
d
a
s
i

:

8
,
8
6
%
;

M
a
k
a
n
a
n

&

m
i
n
u
m
a
n

:

1
7
%
;

P
e
r
t
u
n
j
u
k
a
n

s
e
n
i
,

m
u
s
e
u
m

j
a
s
a

k
e
b
u
d
a
y
a
a
n

:

0
,
3
7
%
;

J
a
s
a

:

1
,
4
3
%
;

J
a
s
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

e
l
a
n
j
a

:

1
8
,
8
5
%
;

5
0
0

k
m

:

3
4
,
8
2
%
;

5
0
1
-
1
0
0

P
R
O
G
R
A
M

P
R
O
M
O
S
I

P
R
I
O
R
I
T
A
S
A
.

K
A
M
P
A
N
Y
E

M
E
D
I
A
1
.

S
p
e
c
i
a
l

P
r
o
g
r
a
m

W
i
s
a
t
a


Z
i
a
r
a
h

d
i

T
V
-

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

T
V

l
o
k
a
l

(
m
i
s

:

M
e
l
a
y
u

T
V
)


-

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

p
r
o
g
r
a
m

a
c
a
r
a

T
V

n
a
s
i
o
n
a
l

(
m
i
s
J
a
l
a
n
-
j
a
l
a
n
,

A
r
c
h
i
p
e
l
a
g
o
,

K
o
p
e
r

&

r
a
n
s
e
l
)

2
.

S
u
r
a
t

K
a
b
a
r

:

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l
,

I
k
l
a
n

E
v
e
n
t

(
S
i
n
g
g
a
l
a
n
g
,

R
i
a
u

P
o
s
)
3
.

R
a
d
i
o

:

T
a
l
k
s
h
o
w
,

D
i
s
k
u
s
i

t
e
n
t
a
n
g

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

d
a
l
a
m

p
r
o
g
r
a
m

r
u
t
i
n


4
.

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l

d
i

m
a
j
a
l
a
h

5
.

W
e
b
s
i
t
e

(
u
p
d
a
t
e

&
y
a
n
g

l
e
b
i
h

l
u
a
s
)
B
.

P
R
I
N
T
I
N
G

M
A
T
E
R
I
A
L
1
.

P
e
n
c
e
t
a
k
a
n

b
r
o
s
u
r

w
i
s
a
t
a

2
.

P
e
m
b
u
a
t
a
n

b
u
k
u

p
a
n
d
u
a
n

w
i
s
a
t
a

C
.

S
A
L
E
S

P
R
O
M
O
T
I
O
N
/

D
I
R
E
C
T

S
E
L
L
I
N
G

:

J
a
k
a
r
t
a
,

M
e
d
a
n
,

P
a
d
a
n
g
D
.

P
U
B
L
I
C

R
E
L
A
T
I
O
N

:

1
.

P
e
m
b
u
a
t
a
n

C
D

F
i
l
m

D
o
k
u
m
e
n
t
e
r

D
T
W

U
n
g
g
u
l
a
n
d
i
d
i
s
t
r
i
b
u
s
i
k
a
n

k
e

b
e
r
b
a
g
a
i

d
a
e
r
a
h

2
.

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

P
r
o
d
u
c
t
i
o
n

H
o
u
s
e

u
t
k

s
e
t
t
i
n
g

f
i
l
m

b
e
r
t
e
m
a

I
s
l
a
m

d
i

D
T
W

u
t
a
m
a

(
m
i
s
a
l

d
i

P
u
l
a
u

P
e
n
y
e
n
g
a
t
)
E
.

E
V
E
N
T

&

E
X
P
E
R
I
E
N
C
E

M
A
R
K
E
T
I
N
G
F
e
s
t
i
v
a
l

B
u
d
a
y
a

M
i
n
a
n
g
I
s
l
a
m
/

M
T
Q
/
T
a
b
l
i
g
h

A
k
b
a
r

P
a
r
t
i
s
i
p
a
s
i

p
a
d
a

F
.

K
E
L
E
M
B
A
G
A
A
N

P
A
R
I
W
I
S
A
T
A

:

R
i
a
u


B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a


V
I
I

-

6
P
R
O
G
R
A
M

P
R
O
M
O
S
I

P
R
I
O
R
I
T
A
S

K
A
M
P
A
N
Y
E

M
E
D
I
A

S
p
e
c
i
a
l

P
r
o
g
r
a
m

W
i
s
a
t
a


Z
i
a
r
a
h

d
i

T
V

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

T
V

l
o
k
a
l

(
m
i
s

:

R
i
a
u

T
V
,

M
i
n
a
n
g

T
V
,

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

p
r
o
g
r
a
m

a
c
a
r
a

T
V

n
a
s
i
o
n
a
l

(
m
i
s

:

J
e
l
a
j
a
h
,

j
a
l
a
n
,

A
r
c
h
i
p
e
l
a
g
o
,

K
o
p
e
r

&

r
a
n
s
e
l
)


:

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l
,

I
k
l
a
n

E
v
e
n
t

(
S
i
n
g
g
a
l
a
n
g
,

R
i
a
u

P
o
s
)

R
a
d
i
o

:

T
a
l
k
s
h
o
w
,

D
i
s
k
u
s
i

t
e
n
t
a
n
g

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

d
a
l
a
m

p
r
o
g
r
a
m

d
i

m
a
j
a
l
a
h

n
a
s
i
o
n
a
l

(
m
i
s
a
l
:

T
a
m
a
s
y
a
)

W
e
b
s
i
t
e

(
u
p
d
a
t
e

&

p
e
n
a
m
b
a
h
a
n

f
i
t
u
r
/
m
e
n
u
,

d
a
n

l
i
n
k
/
j
a
r
i
n
g
a
n

)

P
R
I
N
T
I
N
G

M
A
T
E
R
I
A
L

P
e
n
c
e
t
a
k
a
n

b
r
o
s
u
r

w
i
s
a
t
a

R
i
a
u

P
e
m
b
u
a
t
a
n

b
u
k
u

p
a
n
d
u
a
n

w
i
s
a
t
a

R
i
a
u

S
A
L
E
S

P
R
O
M
O
T
I
O
N
/

D
I
R
E
C
T

S
E
L
L
I
N
G

:

M
a
l
l

P
r
o
m
o
t
i
o
n

d
i

J
a
k
a
r
t
a
,

M
e
d
a
n
,

P
a
d
a
n
g
,

B
a
t
a
m

P
U
B
L
I
C

R
E
L
A
T
I
O
N

:


C
D

F
i
l
m

D
o
k
u
m
e
n
t
e
r

D
T
W

U
n
g
g
u
l
a
n

d
a
n

d
i
d
i
s
t
r
i
b
u
s
i
k
a
n

k
e

b
e
r
b
a
g
a
i

d
a
e
r
a
h


K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

P
r
o
d
u
c
t
i
o
n

H
o
u
s
e

u
t
k

s
e
t
t
i
n
g

f
i
l
m

b
e
r
t
e
m
a

I
s
l
a
m

d
i

D
T
W

u
t
a
m
a

(
m
i
s
a
l

d
i

P
u
l
a
u

P
e
n
y
e
n
g
a
t
)

E
V
E
N
T

&

E
X
P
E
R
I
E
N
C
E

M
A
R
K
E
T
I
N
G

:

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

M
i
n
a
n
g
,

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

F
e
s
t
i
v
a
l

B
u
d
a
y
a

I
s
l
a
m
/

M
T
Q
/
T
a
b
l
i
g
h

A
k
b
a
r

P
a
r
t
i
s
i
p
a
s
i

p
a
d
a

K
e
m
i
l
a
u

S
u
m
a
t
e
r
a
,


K
E
L
E
M
B
A
G
A
A
N

P
A
R
I
W
I
S
A
T
A

:

L
e
m
b
a
g
a

P
r
o
m
o
s
i

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a




D
T
W

U
T
A
M
A


T
a
m
a
n

R
i
m
b
a
,

W
i
s
a
t

A
g
r
o

T
a
n
g
k
i
t
,

S
u
n
g
a
i

B
a
t
a
n
g
h
a
r
i
,

P
u
l
a
u

B
e
r
h
a
l
a
,

T
a
m
a
n

B
u
d
a
y
a

J
a
m
b
i
,

T
a
m
a
n

N
a
s
i
o
n
a
l

K
e
r
i
n
c
i
,

D
a
n
a
u

G
u
n
u
n
g

T
u
j
u
h
,

D
a
n
a
u

K
e
r
i
n
c
i
,

B
a
t
u

G
o
n
g
,

G
u
a

T
i
a
n
g
k
o

P
R
O
F
I
L

W
I
S
N
U
S

Y
A
N
G

B
E
R
K
U
N
J
U
N
G

K
E

J
A
M
B
I

J
e
n
i
s

K
e
l
a
m
i
n

L
a
k
i
-
l
a
k
i

:

6
1
,
6
4
%
;


P
e
r
e
m
p
u
a
n

:

3
8
,
3
6
%

U
s
i
a

<

1
5

t
h

:

4
,
1
1
%
;

1
5
-
2
4

t
h

:

1
2
,
3
3
%
;

2
5
2
0
,
5
5
%
;


3
5
-
4
4

t
h

:

3
4
,
2
5
%
;

4
5
-
5
4

t
h

:

1
5
,
t
h

:

1
3
,
7
0
%

K
e
g
i
a
t
a
n

U
t
a
m
a

B
e
k
e
r
j
a

:

6
5
,
7
5
%
;

P
e
l
a
j
a
r
/
m
a
h
a
s
i
s
w
a

:

M
e
n
g
u
r
u
s

r
u
m
a
h

t
a
n
g
g
a

:

1
5
,
0
7
%
;


L
a
i
n
n
y
a

:

1
2
,
3
3
%

M
a
k
s
u
d

K
u
n
j
u
n
g
a
n

B
e
r
l
i
b
u
r

:

1
6
,
4
4
%
;

P
r
o
f
e
s
i
/
b
i
s
n
i
s
/
M
I
C
E
P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

:

6
,
8
5
%
;

K
e
s
e
h
a
t
a
n

:

B
e
r
z
i
a
r
a
h
/
k
e
a
g
a
m
a
a
n

:

4
,
1
1
%
;

M
e
n
g
u
n
j
u
n
g
i

t
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

4
9
,
3
2
%
;

O
l
a
h
r
a
g
a
/
k
e
s
e
n
i
a
n

:

L
a
i
n
n
y
a

:

1
2
,
3
3
%

A
k
o
m
o
d
a
s
i

y
a
n
g

D
i
g
u
n
a
k
a
n

H
o
t
e
l
/
a
k
o
m
o
d
a
s
i

:

1
9
,
1
8
%
;

T
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

6
9
,
8
6
%
;

T
i
d
a
k

M
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

:

6
,
8
5
%
;
4
,
1
1
%

R
a
t
a
-
r
a
t
a

L
a
m
a

T
i
n
g
g
a
l


6
,
7
1

h
a
r
i

R
a
t
a
-
r
a
t
a

P
e
n
g
e
l
u
a
r
a
n


R
p

5
9
3
.
8
4
0
,
0
0

p
e
r

o
r
a
n
g

p
e
r

p
e
r
j
a
l
a
n
a
n
K
o
m
p
o
s
i
s
i

P
e
n
g
e
l
u
a
r
a
n


A
k
o
m
o
d
a
s
i

:

4
,
9
7
%
;

M
a
k
a
n
a
n

&

m
i
n
u
m
a
n

:

2
2
,
9
%
;

A
n
g
k
u
t
a
n

:

2
9
,
9
7
%
;


P
e
r
t
u
n
j
u
k
a
n

s
e
n
i
,

m
u
s
e
u
m

&

j
a
s
a

k
e
b
u
d
a
y
a
a
n

:

0
,
7
4
%
;

J
a
s
a

h
i
b
u
r
a
n
1
,
5
5
%
;

J
a
s
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

l
a
i
n
n
y
a

:

0
,
2
7
%
;

C
i
n
d
e
r
a
m
a
t
a
/
b
e
l
a
n
j
a

:

2
9
,
5
8
%
;

L
a
i
n
n
y
a

:

1
0
,
0
2
%
J
a
r
a
k


<

1
0
0

k
m

:

2
,
7
4
%
;

1
0
0
-
5
0
0

k
m

:

6
4
,
3
8
k
m

:

1
7
,
8
1
%
;


>

1
0
0
0

k
m

:

0
,
1
1
%

S
u
m
b
e
r

:

S
t
a
t
i
s
t
i
k

W
i
s
a
t
a
w
a
n

N
u
s
a
n
t
a
r
a

2
0
0
8

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a
5
.

J

A

M

B

I

P
A
S
A
R

U
T
A
M
A


J
a
m
b
i


R
i
a
u

S
u
m
a
t
e
r
a

S
e
l
a
t
a
n

B
e
n
g
k
u
l
u

S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a

D
K
I

J
a
k
a
r
t
a

L
a
m
p
u
n
g

J
a
w
a

B
a
r
a
t

B
a
n
t
e
n


%
;

2
5
-
3
4

t
h

:

5
4

t
h

:

1
5
,
0
7
%
;

>

5
4

P
e
l
a
j
a
r
/
m
a
h
a
s
i
s
w
a

:

6
,
8
5
%
;

%
;


L
a
i
n
n
y
a

:

/
M
I
C
E
:

8
,
2
2
%
;

%
;

K
e
s
e
h
a
t
a
n

:

2
,
7
4
%
;

M
e
n
g
u
n
j
u
n
g
i

O
l
a
h
r
a
g
a
/
k
e
s
e
n
i
a
n

:

-
;

T
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

T
i
d
a
k

M
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

:

6
,
8
5
%
;

L
a
i
n
n
y
a

:

p
e
r
j
a
l
a
n
a
n

A
k
o
m
o
d
a
s
i

:

4
,
9
7
%
;

M
a
k
a
n
a
n

&

m
i
n
u
m
a
n

:

2
2
,
9
%
;

P
e
r
t
u
n
j
u
k
a
n

s
e
n
i
,

m
u
s
e
u
m

&

a
s
a

h
i
b
u
r
a
n
/
r
e
k
r
e
a
s
i

:

1
,
5
5
%
;

J
a
s
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

l
a
i
n
n
y
a

:

0
,
2
7
%
;

%
;

L
a
i
n
n
y
a

:

1
0
,
0
2
%

6
4
,
3
8
%
;

5
0
1
-
1
0
0

P
R
O
G
R
A
M

P
R
O
M
O
S
I

P
R
I
O
R
I
T
A
S
A
.

K
A
M
P
A
N
Y
E

M
E
D
I
A
1
.

I
k
l
a
n

d
a
n

T
a
l
k

S
h
o
w

d
i

(
m
i
s

:

J
a
m
b
i

T
V
,

J
e
k

T
V
2
.

I
k
l
a
n

R
a
d
i
o

d
i

J
a
m
b
i

F
M
,

M
e
t
r
o
,

E
l
r
i
a

B
u
a
n
a
,

B
H
P
,

A
l
a
m

T
e
b
o
,

D
i
a
n

I
r
a
m
a
3
.

S
u
r
a
t

K
a
b
a
r

:

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l
,

I
k
l
a
n

E
v
e
n
t

(
J
a
m
b
i

J
a
m
b
i
)

4
.

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l

d
i

m
a
j
a
l
a
h

5
.

W
e
b
s
i
t
e

(
u
p
d
a
t
e

&

p
e
n
a
m
b
a
h
a
n

f
i
t
u
r
/
m
e
n
u
,

y
a
n
g

l
e
b
i
h

l
u
a
s
)

6
.

P
e
n
g
e
n
a
l
a
n

p
e
s
o
n
a

w
i
s
a
t
a

J
a
m
b
i

d
e
n
g
a
n

m
e
m
a
n
f
a
a
t
k
a
n

s
o
c
i
a
l

m
e
d
i
a

(
F
a
c
e
b
o
o
k
,

B
l
o
g
,

T
w
i
t
t
e
r
)
B
.

P
R
I
N
T
I
N
G

M
A
T
E
R
I
A
L
1
.

P
e
n
c
e
t
a
k
a
n

b
r
o
s
u
r

w
i
s
a
t
a

2
.

P
e
m
b
u
a
t
a
n

b
u
k
u

p
a
n
d
u
a
n

w
i
s
a
t
a

C
.

S
A
L
E
S

P
R
O
M
O
T
I
O
N
/

D
I
R
E
C
T

S
E
L
L
I
N
G

:

J
a
k
a
r
t
a
,

M
e
d
a
n
,

P
a
d
a
n
g
D
.

P
U
B
L
I
C

R
E
L
A
T
I
O
N

:

1
.

P
e
m
b
u
a
t
a
n

C
D

F
i
l
m

D
o
k
u
m
e
n
t
e
r

D
T
W

U
n
g
g
u
l
a
n
d
i
d
i
s
t
r
i
b
u
s
i
k
a
n

k
e

b
e
r
b
a
g
a
i

d
a
e
r
a
h

2
.

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

P
r
o
d
u
c
t
i
o
n

H
o
u
s
e

u
t
k

s
e
t
t
i
n
g

f
i
l
m

(

S
i
t
u
s

M
u
a
r
a

J
a
m
b
i
,

C
a
n
d
i

M
u
a
r
a

T
a
k
u
s
,

S
u
k
u

T
e
r
a
s
i
n
g

K
u
b
u

)
E
.

E
V
E
N
T

&

E
X
P
E
R
I
E
N
C
E

M
A
R
K
E
T
I
N
G
P
e
k
a
n

P
e
s
o
n
a

B
u
d
a
y
a

J
a
m
b
i
S
u
m
a
t
e
r
a
,

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

l
o
m
b
a

F
o
t
o
g
r
a
f
i

N
a
s
i
o
n
a
l

u
n
t
u
k

w
i
s
a
t
a

m
i
n
a
t

k
h
u
s
u
s

(
B
u
d
a
y
a
/
S
e
j
a
r
a
h
,

E
k
o
w
i
s
a
t
a
)
B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a


V
I
I

-

7
P
R
O
G
R
A
M

P
R
O
M
O
S
I

P
R
I
O
R
I
T
A
S

K
A
M
P
A
N
Y
E

M
E
D
I
A

I
k
l
a
n

d
a
n

T
a
l
k

S
h
o
w

d
i

T
e
l
e
v
i
s
i

:

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

T
V

l
o
k
a
l

J
a
m
b
i

T
V
,

J
e
k

T
V
)

J
a
m
b
i

F
M
,

M
e
t
r
o
,

E
l
r
i
a

B
u
a
n
a
,

B
H
P
,

A
l
a
m

T
e
b
o
,

D
i
a
n

I
r
a
m
a

:

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l
,

I
k
l
a
n

E
v
e
n
t

(
J
a
m
b
i

E
k
s
p
r
e
s
s
,

T
r
i
b
u
n

d
i

m
a
j
a
l
a
h

n
a
s
i
o
n
a
l

(
m
i
s
a
l
:

T
a
m
a
s
y
a
)

W
e
b
s
i
t
e

(
u
p
d
a
t
e

&

p
e
n
a
m
b
a
h
a
n

f
i
t
u
r
/
m
e
n
u
,

d
a
n

l
i
n
k
/
j
a
r
i
n
g
a
n

P
e
n
g
e
n
a
l
a
n

p
e
s
o
n
a

w
i
s
a
t
a

J
a
m
b
i

d
e
n
g
a
n

m
e
m
a
n
f
a
a
t
k
a
n

s
o
c
i
a
l

m
e
d
i
a

(
F
a
c
e
b
o
o
k
,

B
l
o
g
,

T
w
i
t
t
e
r
)

M
A
T
E
R
I
A
L

P
e
n
c
e
t
a
k
a
n

b
r
o
s
u
r

w
i
s
a
t
a

J
a
m
b
i

P
e
m
b
u
a
t
a
n

b
u
k
u

p
a
n
d
u
a
n

w
i
s
a
t
a

J
a
m
b
i

S
A
L
E
S

P
R
O
M
O
T
I
O
N
/

D
I
R
E
C
T

S
E
L
L
I
N
G

:

M
a
l
l

P
r
o
m
o
t
i
o
n

d
i

J
a
k
a
r
t
a
,

M
e
d
a
n
,

P
a
d
a
n
g
,

B
a
t
a
m

P
U
B
L
I
C

R
E
L
A
T
I
O
N

:


C
D

F
i
l
m

D
o
k
u
m
e
n
t
e
r

D
T
W

U
n
g
g
u
l
a
n

d
a
n

d
i
d
i
s
t
r
i
b
u
s
i
k
a
n

k
e

b
e
r
b
a
g
a
i

d
a
e
r
a
h


K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

P
r
o
d
u
c
t
i
o
n

H
o
u
s
e

u
t
k

s
e
t
t
i
n
g

f
i
l
m

(

S
i
t
u
s

M
u
a
r
a

J
a
m
b
i
,

C
a
n
d
i

M
u
a
r
a

T
a
k
u
s
,

S
u
k
u

T
e
r
a
s
i
n
g

K
u
b
u

)

E
V
E
N
T

&

E
X
P
E
R
I
E
N
C
E

M
A
R
K
E
T
I
N
G

:

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

P
e
k
a
n

P
e
s
o
n
a

B
u
d
a
y
a

J
a
m
b
i
,

P
a
r
t
i
s
i
p
a
s
i

p
a
d
a

K
e
m
i
l
a
u

S
u
m
a
t
e
r
a
,

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

l
o
m
b
a

F
o
t
o
g
r
a
f
i

N
a
s
i
o
n
a
l

u
n
t
u
k

w
i
s
a
t
a

m
i
n
a
t

k
h
u
s
u
s

(
B
u
d
a
y
a
/
S
e
j
a
r
a
h
,

E
k
o
w
i
s
a
t
a
)




D
T
W

U
T
A
M
A

J
e
m
b
a
t
a
n

A
m
p
e
r
a
,

B
e
n
t
e
n
g

K
u
t
o

B
e
s
a
k
,

B
u
k
i
t

S
i
g
u
n
t
a
n
g
,

T
a
m
a
n

P
u
r
b
a
k
a
l
a

K
e
r
a
j
a
a
n

S
r
i
w
i
j
a
y
a
,

D
a
t
a
r
a
n

T
i
n
g
g
i

P
a
s
e
m
a
,

G
u
n
u
n
g

D
e
m
p
o
,

P
a
g
a
r
a
l
a
m
,

D
a
n
a
u

R
a
n
a
u
,

G
o
a

P
u
t
r
i
,

S
u
m
b
e
r

A
i
r

P
a
n
a
s

G
e
m
u
h
a
k
,

A
i
r

T
e
r
j
u
n

C
u
r
u
p

T
e
n
a
n
g
,

A
i
r

T
e
r
j
u
n

L
e
m
a
t
a
n
g

d
a
n

N
d
i
k
a
t

P
R
O
F
I
L

W
I
S
N
U
S

Y
A
N
G

B
E
R
K
U
N
J
U
N
G

K
E

S
U
M
A
T
E
R
A

S
E
L
A
T
A
N
J
e
n
i
s

K
e
l
a
m
i
n

L
a
k
i
-
l
a
k
i

:

6
3
,
7
7
%
;


P
e
r
e
m
p
u
a
n

:

3
6
,
2
3
%

U
s
i
a

<

1
5

t
h

:

1
0
,
8
7
%
;

1
5
-
2
4

t
h

:

1
4
,
4
9
%
;

2
5
2
4
,
6
4
%
;


3
5
-
4
4

t
h

:

2
5
,
2
6
%
;

4
5
-
5
4

t
h

:

>

5
4

t
h

:

1
1
,
5
9
%

K
e
g
i
a
t
a
n

U
t
a
m
a

B
e
k
e
r
j
a

:

7
2
,
4
6
%
;

P
e
l
a
j
a
r
/
m
a
h
a
s
i
s
w
a

:

M
e
n
g
u
r
u
s

r
u
m
a
h

t
a
n
g
g
a

:

1
0
,
1
4
%
;


L
a
i
n
n
y
a

:

1
8
,
0
9
%

M
a
k
s
u
d

K
u
n
j
u
n
g
a
n

B
e
r
l
i
b
u
r

:

1
7
,
3
9
%
;

P
r
o
f
e
s
i
/
b
i
s
n
i
s
/
M
I
C
E
P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

:

1
,
4
5
%
;

K
e
s
e
h
a
t
a
n

:

B
e
r
z
i
a
r
a
h
/
k
e
a
g
a
m
a
a
n

:

2
,
9
%
;

M
e
n
g
u
n
j
u
n
g
i

t
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

5
4
,
3
5
%
;

O
l
a
h
r
a
g
a
/
k
e
s
e
n
i
a
n

:

;

L
a
i
n
n
y
a

:

5
,
0
7
%

A
k
o
m
o
d
a
s
i

y
a
n
g

D
i
g
u
n
a
k
a
n

H
o
t
e
l
/
a
k
o
m
o
d
a
s
i

:

1
2
,
3
2
%
;

T
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

4
7
,
1
%
;

T
i
d
a
k

M
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

:

3
5
,
5
1
%
;
5
,
0
7
%

R
a
t
a
-
r
a
t
a

L
a
m
a

T
i
n
g
g
a
l


4
,
4
1

h
a
r
i

R
a
t
a
-
r
a
t
a

P
e
n
g
e
l
u
a
r
a
n


R
p

6
6
2
.
6
2
0
,
0
0

p
e
r

o
r
a
n
g

p
e
r

p
e
r
j
a
l
a
n
a
n
K
o
m
p
o
s
i
s
i

P
e
n
g
e
l
u
a
r
a
n


A
k
o
m
o
d
a
s
i

:

5
,
8
6
%
;

M
a
k
a
n
a
n

&

m
i
n
u
m
a
n

:

1
3
,
3
6
%
;

A
n
g
k
u
t
a
n

:

3
6
,
6
6
%
;


P
e
r
t
u
n
j
u
k
a
n

s
e
n
i
,

m
u
s
e
u
m

&

j
a
s
a

k
e
b
u
d
a
y
a
a
n

:

0
,
1
3
%
;

h
i
b
u
r
a
n
/
r
e
k
r
e
a
s
i

:

3
,
0
4
%
;

J
a
s
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

l
a
i
n
n
y
a

:

0
,
7
3
%
;

C
i
n
d
e
r
a
m
a
t
a
/
b
e
l
a
n
j
a
L
a
i
n
n
y
a

:

7
,
7
1
%

J
a
r
a
k


<

1
0
0

k
m

:

3
,
6
2
%
;

1
0
0
-
5
0
0

k
m

:

4
8
,
5
5
1
0
0

k
m

:

3
3
,
3
3
%
;


>

1
0
0
0

k
m

:

1
4
,
4
9
S
u
m
b
e
r

:

S
t
a
t
i
s
t
i
k

W
i
s
a
t
a
w
a
n

N
u
s
a
n
t
a
r
a

2
0
0
8

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a
6
.

S
u
m
a
t
e
r
a

S
e
l
a
t
a
n

P
A
S
A
R

U
T
A
M
A


S
u
m
a
t
e
r
a

S
e
l
a
t
a
n

L
a
m
p
u
n
g

B
e
n
g
k
u
l
u

J
a
m
b
i

R
i
a
u

S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a

D
K
I

J
a
k
a
r
t
a

B
a
n
t
e
n

J
a
w
a

B
a
r
a
t


Y
A
N
G

B
E
R
K
U
N
J
U
N
G

K
E

S
U
M
A
T
E
R
A

S
E
L
A
T
A
N

%
;

2
5
-
3
4

t
h

:

5
4

t
h

:

1
2
,
3
2
%
;

P
e
l
a
j
a
r
/
m
a
h
a
s
i
s
w
a

:

5
,
8
%
;

%
;


L
a
i
n
n
y
a

:

/
M
I
C
E
:

1
0
,
8
7
%
;

%
;

K
e
s
e
h
a
t
a
n

:

7
,
9
7
%
;

M
e
n
g
u
n
j
u
n
g
i

O
l
a
h
r
a
g
a
/
k
e
s
e
n
i
a
n

:

-
T
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

T
i
d
a
k

M
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

:

3
5
,
5
1
%
;

L
a
i
n
n
y
a

:

p
e
r
j
a
l
a
n
a
n

A
k
o
m
o
d
a
s
i

:

5
,
8
6
%
;

M
a
k
a
n
a
n

&

m
i
n
u
m
a
n

:

P
e
r
t
u
n
j
u
k
a
n

s
e
n
i
,

m
u
s
e
u
m

&

j
a
s
a

k
e
b
u
d
a
y
a
a
n

:

0
,
1
3
%
;

J
a
s
a

:

3
,
0
4
%
;

J
a
s
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

e
l
a
n
j
a

:

3
2
,
5
%
;

4
8
,
5
5
%
;

5
0
1
-
1
4
,
4
9
%

P
R
O
G
R
A
M

P
R
O
M
O
S
I

P
R
I
O
R
I
T
A
S
A
.

K
A
M
P
A
N
Y
E

M
E
D
I
A
1
.

S
p
e
c
i
a
l

P
r
o
g
r
a
m

W
i
s
a
t
a

M
i
n
a
t

K
h
u
s
u
s

d
i

T
V


(
P
e
l
e
m
b
a
n
g

T
V
,

S
r
i
w
i
j
a
y
a

T
V
,

S
k
y

T
V
)

d
a
n

R
a
d
i
o

(
R
a
m
o
n
a
,

S
m
a
r
t
,

S
o
n
o
r
a
)
2
.

S
u
r
a
t

K
a
b
a
r

:

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l
,

I
k
l
a
n

E
v
e
n
t

(
L
a
m
p
u
n
g

P
o
s
t
,

K
o
r
a
n

L
a
m
p
u
n
g
)



3
.

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l

d
i

m
a
j
a
l
a
h

/

K
o
r
a
n

n
a
s
i
o
n
a
l

(
m
i
s
a
l
:

M
a
j
a
l
a
h

T
a
m
a
s
y
a
,

M
a
j
a
l
a
h

W
e
e
k
e
n
d
e
r
,

H
a
r
i
a
n

K
o
m
p
a
s
,

M
e
d
i
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a
)
4
.

W
e
b
s
i
t
e

(
u
p
d
a
t
e

&

p
e
n
a
m
b
a
h
a
n

f
i
t
u
r
/
m
e
n
u
,

d
a
n

l
i
n
k
/
j
a
r
i
n
g
a
n

y
a
n
g

l
e
b
i
h

l
u
a
s
)

5
.

P
e
n
g
g
u
n
a
a
n

m
e
d
i
a

s
o
s
i
a
l
:

f
a
c
e
b
o
o
k
,

t
w
i
t
t
e
r
,

b
l
o
g

d
a
l
a
m

m
e
n
c
i
p
t
a
k
a
n

a
w
a
r
e
n
e
s
s

S
u
m
a
t
e
r
a

S
e
l
a
t
a
n
B
.

P
R
I
N
T
I
N
G

M
A
T
E
R
I
A
L

:

P
a
n
d
u
a
n

W
i
s
a
t
a

C
.

S
A
L
E
S

P
R
O
M
O
T
I
O
N
/

D
I
R
E
C
T

S
E
L
L
I
N
G

:

M
e
d
a
n
,

P
a
d
a
n
g
,

B
a
t
a
m
,

B
a
n
d
u
n
g
D
.

P
U
B
L
I
C

R
E
L
A
T
I
O
N

:

1
.

P
e
m
b
u
a
t
a
n

C
D

F
i
l
m

D
o
k
u
m
e
n
t
e
r

D
T
W

U
n
g
g
u
l
a
n
k
e

b
e
r
b
a
g
a
i

d
a
e
r
a
h

(
H
u
t
a
n

H
u
j
a
n

T
r
o
p
i
s

d
a
n

W
i
s
a
t
a

M
i
n
a
t

K
h
u
s
u
s
)
2
.

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

K
o
m
u
n
i
t
a
s

(
m
i
s

:

k
l
u
b

o
t
o
m
o
t
i
f
,

k
l
u
b

p
r
o
f
e
s
i
,

k
l
u
b

h
o
b
i

t
e
r
t
e
n
t
u
)

m
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
k
a
n

s
p
e
c
i
a
l

e
v
e
n
t
3
.

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

P
r
o
d
u
c
t
i
o
n

H
o
u
s
e

u
t
k

s
e
t
t
i
n
g

f
i
l
m

d
i

D
T
W

u
t
a
m
a

(
D
a
n
a
u

R
a
n
a
u
,

M
u
s
i
)
E
.

E
V
E
N
T

&

E
X
P
E
R
I
E
N
C
E

M
A
R
K
E
T
I
N
G
K
r
a
k
a
t
a
u
,

P
a
r
t
i
s
i
p
a
s
i

p
a
d
a

f
e
s
t
i
v
a
l

m
u
s
i
k
/
b
u
d
a
y
F
.

K
E
L
E
M
B
A
G
A
A
N

P
A
R
I
W
I
S
A
T
A

:

S
u
m
a
t
e
r
a

S
e
l
a
t
a
n

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a


V
I
I

-

8
P
R
O
G
R
A
M

P
R
O
M
O
S
I

P
R
I
O
R
I
T
A
S

K
A
M
P
A
N
Y
E

M
E
D
I
A

S
p
e
c
i
a
l

P
r
o
g
r
a
m

W
i
s
a
t
a

M
i
n
a
t

K
h
u
s
u
s

d
i

T
V


(
P
e
l
e
m
b
a
n
g

T
V
,

S
r
i
w
i
j
a
y
a

T
V
,

S
k
y

T
V
)

d
a
n

R
a
d
i
o

(
R
a
m
o
n
a
,

S
m
a
r
t
,

S
o
n
o
r
a
)

S
u
r
a
t

K
a
b
a
r

:

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l
,

I
k
l
a
n

E
v
e
n
t

(
L
a
m
p
u
n
g

P
o
s
t
,

K
o
r
a
n

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l

d
i

m
a
j
a
l
a
h

/

K
o
r
a
n

n
a
s
i
o
n
a
l

(
m
i
s
a
l
:

M
a
j
a
l
a
h

T
a
m
a
s
y
a
,

M
a
j
a
l
a
h

W
e
e
k
e
n
d
e
r
,

H
a
r
i
a
n

K
o
m
p
a
s
,

M
e
d
i
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a
)

W
e
b
s
i
t
e

(
u
p
d
a
t
e

&

p
e
n
a
m
b
a
h
a
n

f
i
t
u
r
/
m
e
n
u
,

d
a
n

l
i
n
k
/
j
a
r
i
n
g
a
n

P
e
n
g
g
u
n
a
a
n

m
e
d
i
a

s
o
s
i
a
l
:

f
a
c
e
b
o
o
k
,

t
w
i
t
t
e
r
,

b
l
o
g

d
a
l
a
m

m
e
n
c
i
p
t
a
k
a
n

a
w
a
r
e
n
e
s
s

S
u
m
a
t
e
r
a

S
e
l
a
t
a
n

P
R
I
N
T
I
N
G

M
A
T
E
R
I
A
L

:

B
r
o
s
u
r

t
e
m
a
t
i
k

w
i
s
a
t
a

m
i
n
a
t

k
h
u
s
u
s
,

B
u
k
u

S
A
L
E
S

P
R
O
M
O
T
I
O
N
/

D
I
R
E
C
T

S
E
L
L
I
N
G

:

M
a
l
l

P
r
o
m
o
t
i
o
n

d
i

J
a
k
a
r
t
a
,

,

B
a
t
a
m
,

B
a
n
d
u
n
g

P
U
B
L
I
C

R
E
L
A
T
I
O
N

:


C
D

F
i
l
m

D
o
k
u
m
e
n
t
e
r

D
T
W

U
n
g
g
u
l
a
n

d
a
n

d
i
d
i
s
t
r
i
b
u
s
i
k
a
n

k
e

b
e
r
b
a
g
a
i

d
a
e
r
a
h

(
H
u
t
a
n

H
u
j
a
n

T
r
o
p
i
s

d
a
n

W
i
s
a
t
a

M
i
n
a
t

K
h
u
s
u
s
)

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

K
o
m
u
n
i
t
a
s

(
m
i
s

:

k
l
u
b

o
t
o
m
o
t
i
f
,

k
l
u
b

p
r
o
f
e
s
i
,

k
l
u
b

m
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
k
a
n

s
p
e
c
i
a
l

e
v
e
n
t

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

P
r
o
d
u
c
t
i
o
n

H
o
u
s
e

u
t
k

s
e
t
t
i
n
g

f
i
l
m

d
i

D
T
W

u
t
a
m
a

(
D
a
n
a
u

R
a
n
a
u
,

M
u
s
i
)

E
V
E
N
T

&

E
X
P
E
R
I
E
N
C
E

M
A
R
K
E
T
I
N
G

:

P
a
r
t
i
s
i
p
a
s
i

p
a
d
a

F
e
s
t
i
v
a
l

P
a
r
t
i
s
i
p
a
s
i

p
a
d
a

K
e
m
i
l
a
u

S
u
m
a
t
e
r
a
,

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

f
e
s
t
i
v
a
l

m
u
s
i
k
/
b
u
d
a
y
a

d
e
n
g
a
n

a
r
t
i
s
t
/
m
u
s
i
s
i

n
a
s
i
o
n
a
l

K
E
L
E
M
B
A
G
A
A
N

P
A
R
I
W
I
S
A
T
A

:

L
e
m
b
a
g
a

P
r
o
m
o
s
i

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a





D
T
W

U
T
A
M
A

B
e
n
t
e
n
g

M
a
r
l
b
o
r
o
u
g
h
,

M
o
n
u
m
e
n

I
n
g
g
r
i
s

&

M
a
k
a
m

E
r
o
p
a
,

R
u
m
a
h

&

M
a
s
j
i
d

S
o
e
k
a
r
n
o
,

F
e
s
t
i
v
a
l

T
a
b
u
t
,

P
a
n
t
a
i

N
a
l
a
,

D
a
n
a
u

D
e
n
d
a
m

T
a
k

S
u
d
a
h
,

P
u
l
a
u

T
i
k
u
s
,

A
i
r

T
e
r
j
u
n

9

T
i
n
g
k
a
t
,

S
u
n
g
a
i

S
u
c
i
,

D
a
n
a
u

T
e
s
,

A
i
r

T
e
r
j
u
n

K
e
p
a
l
a

C
u
r
u
p
,

P
u
l
a
u

E
n
g
g
a
n
o
,

G
u
n
u
n
g

B
u
k
i
t

G
e
d
a
n
g
,

G
u
n
u
n
g

K
a
b
a

P
R
O
F
I
L

W
I
S
N
U
S

Y
A
N
G

B
E
R
K
U
N
J
U
N
G

K
E

B
E
N
G
K
U
L
U

J
e
n
i
s

K
e
l
a
m
i
n

L
a
k
i
-
l
a
k
i

:

7
3
,
3
3
%
;


P
e
r
e
m
p
u
a
n

:

2
6
,
6
7
%

U
s
i
a

<

1
5

t
h

:

-
;

1
5
-
2
4

t
h

:

1
2
%
;

2
5
-
3
4

t
h

:

3
5
-
4
4

t
h

:

3
0
,
6
7
%
;

4
5
-
5
4

t
h

:

1
6
%
;

>

5
4

t
h

:

K
e
g
i
a
t
a
n

U
t
a
m
a

B
e
k
e
r
j
a

:

8
8
%
;

P
e
l
a
j
a
r
/
m
a
h
a
s
i
s
w
a

:

M
e
n
g
u
r
u
s

r
u
m
a
h

t
a
n
g
g
a

:

1
,
3
3
%
;


L
a
i
n
n
y
a

:

5
,
3
3
%

M
a
k
s
u
d

K
u
n
j
u
n
g
a
n

B
e
r
l
i
b
u
r

:

5
,
3
3
%
;

P
r
o
f
e
s
i
/
b
i
s
n
i
s
/
M
I
C
E
P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

:

2
,
6
7
%
;

K
e
s
e
h
a
t
a
n

:

B
e
r
z
i
a
r
a
h
/
k
e
a
g
a
m
a
a
n

:

-
;

M
e
n
g
u
n
j
u
n
g
i

t
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

6
2
,
6
7
%
;

O
l
a
h
r
a
g
a
/
k
e
s
e
n
i
a
n

:

;

L
a
i
n
n
y
a

:

-

A
k
o
m
o
d
a
s
i

y
a
n
g

D
i
g
u
n
a
k
a
n

H
o
t
e
l
/
a
k
o
m
o
d
a
s
i

:

2
4
%
;

T
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

1
3
,
3
3
%
;

T
i
d
a
k

M
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

:

L
a
i
n
n
y
a

:

-

R
a
t
a
-
r
a
t
a

L
a
m
a

T
i
n
g
g
a
l


1
,
7
6

h
a
r
i

R
a
t
a
-
r
a
t
a

P
e
n
g
e
l
u
a
r
a
n


R
p

2
1
5
.
5
6
0
,
0
0

p
e
r

o
r
a
n
g

p
e
r

p
e
r
j
a
l
a
n
a
n
K
o
m
p
o
s
i
s
i

P
e
n
g
e
l
u
a
r
a
n


A
k
o
m
o
d
a
s
i

:

3
,
0
9
%
;

M
a
k
a
n
a
n

&
1
7
,
2
9
%
;

A
n
g
k
u
t
a
n

:

3
3
,
6
8
%
;


P
e
r
t
u
n
j
u
k
a
n

s
e
n
i
,

m
u
s
e
u
m

&

j
a
s
a

k
e
b
u
d
a
y
a
a
n

:

0
,
0
6
%
;

h
i
b
u
r
a
n
/
r
e
k
r
e
a
s
i

:

2
,
5
3
%
;

J
a
s
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

l
a
i
n
n
y
a

:

1
,
2
8
%
;

C
i
n
d
e
r
a
m
a
t
a
/
b
e
l
a
n
j
a
L
a
i
n
n
y
a

:

1
0
,
8
3
%

J
a
r
a
k


<

1
0
0

k
m

:

4
%
;

1
0
0
-
5
0
0

k
m

:

8
5
,
3
3
k
m

:

4
%
;


>

1
0
0
0

k
m

:

6
,
6
7
%

S
u
m
b
e
r

:

S
t
a
t
i
s
t
i
k

W
i
s
a
t
a
w
a
n

N
u
s
a
n
t
a
r
a

2
0
0
8

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a
7
.

B
e
n
g
k
u
l
u

P
A
S
A
R

U
T
A
M
A


B
e
n
g
k
u
l
u

S
u
m
b
a
r

L
a
m
p
u
n
g

S
u
m
s
e
l

J
a
m
b
i

D
K
I

J
a
k
a
r
t
a

S
u
m
u
t

R
i
a
u

B
a
n
g
k
a

B
e
l
i
t
u
n
g

D
I
Y


3
4

t
h

:

2
9
,
3
3
%
;


%
;

>

5
4

t
h

:

1
2
%

P
e
l
a
j
a
r
/
m
a
h
a
s
i
s
w
a

:

5
,
3
3
%
;

%
;


L
a
i
n
n
y
a

:

/
M
I
C
E
:

2
8
%
;

%
;

K
e
s
e
h
a
t
a
n

:

1
,
3
3
%
;

M
e
n
g
u
n
j
u
n
g
i

O
l
a
h
r
a
g
a
/
k
e
s
e
n
i
a
n

:

-
H
o
t
e
l
/
a
k
o
m
o
d
a
s
i

:

2
4
%
;

T
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

T
i
d
a
k

M
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

:

6
2
,
6
7
%
;

p
e
r
j
a
l
a
n
a
n

A
k
o
m
o
d
a
s
i

:

3
,
0
9
%
;

M
a
k
a
n
a
n

&

m
i
n
u
m
a
n

:

P
e
r
t
u
n
j
u
k
a
n

s
e
n
i
,

m
u
s
e
u
m

&

j
a
s
a

k
e
b
u
d
a
y
a
a
n

:

0
,
0
6
%
;

J
a
s
a

:

2
,
5
3
%
;

J
a
s
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

e
l
a
n
j
a

:

3
1
,
2
4
%
;

8
5
,
3
3
%
;

5
0
1
-
1
0
0

P
R
O
G
R
A
M

P
R
O
M
O
S
I

P
R
I
O
R
I
T
A
S
A
.

K
A
M
P
A
N
Y
E

M
E
D
I
A
6
.

S
p
e
c
i
a
l

P
r
o
g
r
a
m

W
i
s
a
t
a

B
e
n
g
k
u
l
u

T
V
,

S
u
m
a
t
e
r
a

T
V
)

d
a
n

R
a
d
i
o

(
T
r
a
n
s
,

S
a
n
t
a
n
a
,

F
o
u
r
)

7
.

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l

d
i

m
a
j
a
l
a
h

/

K
o
r
a
n

H
a
l
u
a
n
,

S
i
n
g
g
a
l
a
n
g
)
8
.

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l

d
i

m
a
j
a
l
a
h

/

K
o
r
a
n

n
a
s
i
o
n
a
l

(
m
i
s
a
l
:

M
a
j
a
l
a
h

T
a
m
a
s
y
a
,

M
a
j
a
l
a
h

W
e
e
k
e
n
d
e
r
,

H
a
r
i
a
n

I
n
d
o
n
e
s
i
a
)

9
.

W
e
b
s
i
t
e

(
u
p
d
a
t
e

&

p
e
n
a
m
b
a
h
a
n

f
i
t
u
r
/
m
e
n
u
,

d
a
n

l
i
n
k
/
j
a
r
i
n
g
a
n

y
a
n
g

l
e
b
i
h

l
u
a
s
)
B
.

P
R
I
N
T
I
N
G

M
A
T
E
R
I
A
L

:

k
h
u
s
u
s
,

B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

W
i
s
a
t
a
C
.

S
A
L
E
S

P
R
O
M
O
T
I
O
N
/

D
I
R
E
C
T

S
E
L
L
I
N
G

:

P
r
o
m
o
t
i
o
n

d
i

J
a
k
a
r
t
a
,

M
e
d
a
n
,

P
a
d
a
n
g
,

D
.

P
U
B
L
I
C

R
E
L
A
T
I
O
N

:

4
.

P
e
m
b
u
a
t
a
n

C
D

F
i
l
m

D
o
k
u
m
e
n
t
e
r

D
T
W

U
n
g
g
u
l
a
n

d
a
n

d
i
d
i
s
t
r
i
b
u
s
i
k
a
n

k
e

b
e
r
b
a
g
a
i

d
a
e
r
a
h

(
W
i
s
a
t
a

M
i
n
a
t

K
h
u
s
u
s
)

5
.

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

K
o
m
u
n
i
t
a
s

(
m
i
s

:

k
l
u
b

o
t
o
m
o
t
i
f
,

k
l
u
b

p
r
o
f
e
s
i
,

k
l
u
b

h
o
b
i

p
e
c
i
n
t
a

a
l
a
m
,

d
s
b
)

m
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
k
a
n

s
p
e
c
i
a
l

e
v
e
n
t
E
.

E
V
E
N
T

&

E
X
P
E
R
I
E
N
C
E

M
A
R
K
E
T
I
N
G
p
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

F
e
s
t
i
v
a
l

B
u
d
a
y
a

M
i
n
a
n
g
,

P
a
r
t
i
s
i
p
a
s
i

p
a
d
a

K
e
m
i
l
a
u

S
u
m
a
t
e
r
a

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a


V
I
I

-

9
P
R
O
G
R
A
M

P
R
O
M
O
S
I

P
R
I
O
R
I
T
A
S

K
A
M
P
A
N
Y
E

M
E
D
I
A

S
p
e
c
i
a
l

P
r
o
g
r
a
m

W
i
s
a
t
a

M
i
n
a
t

K
h
u
s
u
s

d
i

T
V


(
E
S
A

T
V
,

B
e
n
g
k
u
l
u

T
V
,

S
u
m
a
t
e
r
a

T
V
)

d
a
n

R
a
d
i
o

(
T
r
a
n
s
,

S
a
n
t
a
n
a
,

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l

d
i

m
a
j
a
l
a
h

/

K
o
r
a
n

l
o
k
a
l

(
P
a
d
a
n
g

E
k
s
p
r
e
s
s
,

H
a
l
u
a
n
,

S
i
n
g
g
a
l
a
n
g
)

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l

d
i

m
a
j
a
l
a
h

/

K
o
r
a
n

n
a
s
i
o
n
a
l

(
m
i
s
a
l
:

M
a
j
a
l
a
h

T
a
m
a
s
y
a
,

M
a
j
a
l
a
h

W
e
e
k
e
n
d
e
r
,

H
a
r
i
a
n

K
o
m
p
a
s
,

M
e
d
i
a

W
e
b
s
i
t
e

(
u
p
d
a
t
e

&

p
e
n
a
m
b
a
h
a
n

f
i
t
u
r
/
m
e
n
u
,

d
a
n

l
i
n
k
/
j
a
r
i
n
g
a
n

y
a
n
g

l
e
b
i
h

l
u
a
s
)

P
R
I
N
T
I
N
G

M
A
T
E
R
I
A
L

:

B
r
o
s
u
r

t
e
m
a
t
i
k

w
i
s
a
t
a

m
i
n
a
t

k
h
u
s
u
s
,

B
u
k
u

P
a
n
d
u
a
n

W
i
s
a
t
a

S
A
L
E
S

P
R
O
M
O
T
I
O
N
/

D
I
R
E
C
T

S
E
L
L
I
N
G

:

M
a
l
l

P
r
o
m
o
t
i
o
n

d
i

J
a
k
a
r
t
a
,

M
e
d
a
n
,

P
a
d
a
n
g
,

B
a
t
a
m


P
U
B
L
I
C

R
E
L
A
T
I
O
N

:


P
e
m
b
u
a
t
a
n

C
D

F
i
l
m

D
o
k
u
m
e
n
t
e
r

D
T
W

U
n
g
g
u
l
a
n

d
a
n

d
i
d
i
s
t
r
i
b
u
s
i
k
a
n

k
e

b
e
r
b
a
g
a
i

d
a
e
r
a
h

(
W
i
s
a
t
a

M
i
n
a
t

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

K
o
m
u
n
i
t
a
s

(
m
i
s

:

k
l
u
b

o
t
o
m
o
t
i
f
,

k
l
u
b

p
r
o
f
e
s
i
,

k
l
u
b

h
o
b
i

p
e
c
i
n
t
a

a
l
a
m
,

d
s
b
)

m
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
k
a
n

s
p
e
c
i
a
l

e
v
e
n
t

E
V
E
N
T

&

E
X
P
E
R
I
E
N
C
E

M
A
R
K
E
T
I
N
G

:

p
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

F
e
s
t
i
v
a
l

B
u
d
a
y
a

M
i
n
a
n
g
,

P
a
r
t
i
s
i
p
a
s
i

p
a
d
a

K
e
m
i
l
a
u

S
u
m
a
t
e
r
a




D
T
W

U
T
A
M
A


P
a
n
t
a
i

M
e
r
a
k

B
e
l
a
n
t
u
n
g
,

A
n
a
k

G
u
n
u
n
g

K
r
a
k
a
t
a
u
,

S
i
t
u
s

A
r
k
e
o
l
o
g
i

P
u
g
u
n
g
,

F
e
s
t
i
v
a
l

K
r
a
k
a
t
a
u
,

P
a
n
t
a
i

P
a
s
i
r

P
u
t
i
h
,

P
a
n
t
a
i

K
a
l
i
a
n
d
a
,

P
a
n
t
a
i

M
a
r
i
n
a
,

P
u
l
a
u

S
e
b
u
k
u

d
a
n

S
e
b
e
s
i
,

T
a
m
a
n

N
a
s
i
o
n
a
l

W
a
y

K
a
m
b
a
s
,

A
i
r

T
e
r
j
u
n

C
u
r
u
p

S
e
l
a
m
p
u
n
g
,

D
a
n
a
u

R
a
n
a
u
,

L
e
m
b
a
h

S
u
w
o
h


P
R
O
F
I
L

W
I
S
N
U
S

Y
A
N
G

B
E
R
K
U
N
J
U
N
G

K
E

L
A
M
P
U
N
G

J
e
n
i
s

K
e
l
a
m
i
n

L
a
k
i
-
l
a
k
i

:

5
0
,
6
7
%
;


P
e
r
e
m
p
u
a
n

:

4
9
,
3
3
%

U
s
i
a

<

1
5

t
h

:

2
0
,
2
2
%
;

1
5
-
2
4

t
h

:

1
5
,
1
1
%
;

2
5
1
9
,
3
3
%
;


3
5
-
4
4

t
h

:

1
9
,
1
1
%
;

4
5
-
5
4

t
h

:

5
4

t
h

:

1
2
%

K
e
g
i
a
t
a
n

U
t
a
m
a

B
e
k
e
r
j
a

:

5
4
%
;

P
e
l
a
j
a
r
/
m
a
h
a
s
i
s
w
a

:

M
e
n
g
u
r
u
s

r
u
m
a
h

t
a
n
g
g
a

:

1
0
,
2
2
%
;


L
a
i
n
n
y
a

:

2
1
,
3
3
%

M
a
k
s
u
d

K
u
n
j
u
n
g
a
n

B
e
r
l
i
b
u
r

:

3
2
,
6
7
%
;

P
r
o
f
e
s
i
/
b
i
s
n
i
s
/
M
I
C
E
P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

:

0
,
8
9
%
;

K
e
s
e
h
a
t
a
n

:

0
,
B
e
r
z
i
a
r
a
h
/
k
e
a
g
a
m
a
a
n

:

2
,
6
7
%
;

M
e
n
g
u
n
j
u
n
g
i

t
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

5
4
,
8
9
%
;

O
l
a
h
r
a
g
a
/
k
e
s
e
n
i
a
n

:

0
,
2
2
%
;

L
a
i
n
n
y
a

:

3
,
1
1
%

A
k
o
m
o
d
a
s
i

y
a
n
g

D
i
g
u
n
a
k
a
n

H
o
t
e
l
/
a
k
o
m
o
d
a
s
i

:

7
,
7
8
%
;

T
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

4
9
,
3
3
%
;

T
i
d
a
k

M
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

:

4
0
,
8
9
%
;
L
a
i
n
n
y
a

:

2
%

R
a
t
a
-
r
a
t
a

L
a
m
a

T
i
n
g
g
a
l


3
,
0
2

h
a
r
i

R
a
t
a
-
r
a
t
a

P
e
n
g
e
l
u
a
r
a
n


R
p

2
2
2
.
2
3
0
,
0
0

p
e
r

o
r
a
n
g

p
e
r

p
e
r
j
a
l
a
n
a
n
K
o
m
p
o
s
i
s
i

P
e
n
g
e
l
u
a
r
a
n


A
k
o
m
o
d
a
s
i

:

6
,
3
4
%
;

M
a
k
a
n
a
n

&

m
i
n
u
m
a
n

:

2
8
,
7
5
%
;

A
n
g
k
u
t
a
n

:

3
6
,
4
4
%
;


P
e
r
t
u
n
j
u
k
a
n

s
e
n
i
,

m
u
s
e
u
m

&

j
a
s
a

k
e
b
u
d
a
y
a
a
n

:

0
,
0
4
%
;

h
i
b
u
r
a
n
/
r
e
k
r
e
a
s
i

:

0
,
8
1
%
;

J
a
s
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

l
a
i
n
n
y
a

:

0
,
3
8
%
;

C
i
n
d
e
r
a
m
a
t
a
/
b
e
l
a
n
j
a
L
a
i
n
n
y
a

:

7
,
1
5
%

J
a
r
a
k


<

1
0
0

k
m

:

2
5
,
7
8
%
;

1
0
0
-
5
0
0

k
m

:

4
5
,
7
8
1
0
0

k
m

:

1
7
,
1
1
%
;


>

1
0
0
0

k
m

:

1
1
,
3
3
%
S
u
m
b
e
r

:

S
t
a
t
i
s
t
i
k

W
i
s
a
t
a
w
a
n

N
u
s
a
n
t
a
r
a

2
0
0
8

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a
8
.

L
a
m
p
u
n
g

P
A
S
A
R

U
T
A
M
A


L
a
m
p
u
n
g

D
K
I

J
a
k
a
r
t
a

S
u
m
s
e
l

B
a
n
t
e
n

B
e
n
g
k
u
l
u

J
a
w
a

T
e
n
g
a
h

J
a
m
b
i

J
a
w
a

B
a
r
a
t

S
u
m
a
t
e
r
a

B
a
r
a
t

S
u
m
a
t
e
r
a

U
t
a
r
a


2
4

t
h

:

1
5
,
1
1
%
;

2
5
-
3
4

t
h

:

5
4

t
h

:

1
4
,
2
2
%
;

>

P
e
l
a
j
a
r
/
m
a
h
a
s
i
s
w
a

:

1
4
,
4
4
%
;

%
;


L
a
i
n
n
y
a

:

/
M
I
C
E
:

5
,
1
1
%
;

%
;

K
e
s
e
h
a
t
a
n

:

0
,
4
4
%
;

M
e
n
g
u
n
j
u
n
g
i

O
l
a
h
r
a
g
a
/
k
e
s
e
n
i
a
n

:

T
e
m
a
n
/
k
e
l
u
a
r
g
a

:

T
i
d
a
k

M
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

:

4
0
,
8
9
%
;

p
e
r
j
a
l
a
n
a
n

A
k
o
m
o
d
a
s
i

:

6
,
3
4
%
;

M
a
k
a
n
a
n

&

m
i
n
u
m
a
n

:

P
e
r
t
u
n
j
u
k
a
n

s
e
n
i
,

j
a
s
a

k
e
b
u
d
a
y
a
a
n

:

0
,
0
4
%
;

J
a
s
a

:

0
,
8
1
%
;

J
a
s
a

p
a
r
i
w
i
s
a
t
a

e
l
a
n
j
a

:

2
0
,
0
9
%
;

4
5
,
7
8
%
;

5
0
1
-
%

P
R
O
G
R
A
M

P
R
O
M
O
S
I

P
R
I
O
R
I
T
A
S
A
.

K
A
M
P
A
N
Y
E

M
E
D
I
A
1
.

S
p
e
c
i
a
l

P
r
o
g
r
a
m

W
i
s
a
t
a

M
i
n
a
t

K
h
u
s
u
s

d
i

T
V


(
T
e
g
a
r

T
V
,

S
i
g
e
r

T
V
)

d
a
n

R
a
d
i
o

(
A
n
d
a
l
a
s
,

K
a
r
t
i
k
a
,

O
m
e
g
a
)
2
.

S
u
r
a
t

K
a
b
a
r

:

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l
,

I
k
l
a
n

E
v
e
n
t

(
L
a
m
p
u
n
g

P
o
s
t
,

K
o
r
a
n

L
a
m
p
u
n
g
)



3
.

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l

d
i

m
a
j
a
l
a
h
M
a
j
a
l
a
h

W
e
e
k
e
n
d
e
r
,

H
a
r
i
a
n

K
o
m
p
a
s
,

M
e
d
i
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a
)
4
.

W
e
b
s
i
t
e

(
u
p
d
a
t
e

&

p
e
n
a
m
b
a
h
a
n

f
i
t
u
r
/
m
e
n
u
,

d
a
n

l
i
n
k
/
j
a
r
i
n
g
a
n

y
a
n
g

l
e
b
i
h

l
u
a
s
)

5
.

P
e
n
g
g
u
n
a
a
n

m
e
d
i
a

s
o
s
i
a
l
:

f
a
c
e
b
o
o
k
,

t
w
i
t
t
e
r
,

b
l
o
g

d
a
l
a
m

m
e
n
c
i
p
t
a
k
a
n

a
w
a
r
e
n
e
s
s

L
a
m
p
u
n
g
B
.

P
R
I
N
T
I
N
G

M
A
T
E
R
I
A
L

:

P
a
n
d
u
a
n

W
i
s
a
t
a

C
.

S
A
L
E
S

P
R
O
M
O
T
I
O
N
/

D
I
R
E
C
T

S
E
L
L
I
N
G

:

J
a
k
a
r
t
a
,

M
e
d
a
n
,

P
a
d
a
n
g
,

B
a
t
a
m
,

B
a
n
d
u
n
g
D
.

J
O
I
N
T

P
R
O
M
O
T
I
O
N

:

J
a
k
a
r
t
a

u
n
t
u
k

s
e
g
m
e
n

k
e
l
o
m
p
o
k
P
r
o
m
o
s
i

d
e
n
g
a
n

m
e
d
i
a

l
o
k
a
l

d
i

J
a
k
a
r
t
a

(
r
a
d
i
o
/
t
v
)
E
.

P
U
B
L
I
C

R
E
L
A
T
I
O
N

:

1
.

P
e
m
b
u
a
t
a
n

C
D

F
i
l
m

D
o
k
u
m
e
n
t
e
r

D
T
W

U
n
g
g
u
l
a
n

d
a
n

d
i
d
i
s
t
r
i
b
u
s
i
k
a
n

k
e

b
e
r
b
a
g
a
i

d
a
e
r
a
h

(
W
i
s
a
t
a

M
i
n
a
t

K
h
u
s
u
s

2
.

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

K
o
m
u
h
o
b
i

t
e
r
t
e
n
t
u
)

m
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
k
a
n

s
p
e
c
i
a
l

e
v
e
n
t
3
.

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

P
r
o
d
u
c
t
i
o
n

H
o
u
s
e

u
t
k

s
e
t
t
i
n
g

f
i
l
m

d
i

D
T
W

u
t
a
m
a

(
K
r
a
k
a
t
a
u
)

F
.

E
V
E
N
T

&

E
X
P
E
R
I
E
N
C
E

M
A
R
K
E
T
I
N
G
K
r
a
k
a
t
a
u
,

P
a
r
t
i
s
i
p
a
s
i

p
a
d
a

K
e
m

B
u
k
u

P
u
t
i
h

P
e
m
a
s
a
r
a
n

P
a
r
i
w
i
s
a
t
a

N
u
s
a
n
t
a
r
a


V
I
I

-

1
0

P
R
O
G
R
A
M

P
R
O
M
O
S
I

P
R
I
O
R
I
T
A
S

K
A
M
P
A
N
Y
E

M
E
D
I
A

S
p
e
c
i
a
l

P
r
o
g
r
a
m

W
i
s
a
t
a

M
i
n
a
t

K
h
u
s
u
s

d
i

T
V


(
T
e
g
a
r

T
V
,

S
i
g
e
r

T
V
)

d
a
n

R
a
d
i
o

(
A
n
d
a
l
a
s
,

K
a
r
t
i
k
a
,

O
m
e
g
a
)

S
u
r
a
t

K
a
b
a
r

:

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l
,

I
k
l
a
n

E
v
e
n
t

(
L
a
m
p
u
n
g

P
o
s
t
,

K
o
r
a
n

A
d
v
e
r
t
o
r
i
a
l

d
i

m
a
j
a
l
a
h

/

K
o
r
a
n

n
a
s
i
o
n
a
l

(
m
i
s
a
l
:

M
a
j
a
l
a
h

T
a
m
a
s
y
a
,

M
a
j
a
l
a
h

W
e
e
k
e
n
d
e
r
,

H
a
r
i
a
n

K
o
m
p
a
s
,

M
e
d
i
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a
)

W
e
b
s
i
t
e

(
u
p
d
a
t
e

&

p
e
n
a
m
b
a
h
a
n

f
i
t
u
r
/
m
e
n
u
,

d
a
n

l
i
n
k
/
j
a
r
i
n
g
a
n

y
a
n
g

P
e
n
g
g
u
n
a
a
n

m
e
d
i
a

s
o
s
i
a
l
:

f
a
c
e
b
o
o
k
,

t
w
i
t
t
e
r
,

b
l
o
g

d
a
l
a
m

m
e
n
c
i
p
t
a
k
a
n

a
w
a
r
e
n
e
s
s

L
a
m
p
u
n
g

P
R
I
N
T
I
N
G

M
A
T
E
R
I
A
L

:

B
r
o
s
u
r

t
e
m
a
t
i
k

w
i
s
a
t
a

m
i
n
a
t

k
h
u
s
u
s
,

B
u
k
u


S
A
L
E
S

P
R
O
M
O
T
I
O
N
/

D
I
R
E
C
T

S
E
L
L
I
N
G

:

M
a
l
l

P
r
o
m
o
t
i
o
n

d
i

J
a
k
a
r
t
a
,

M
e
d
a
n
,

P
a
d
a
n
g
,

B
a
t
a
m
,

B
a
n
d
u
n
g

J
O
I
N
T

P
R
O
M
O
T
I
O
N

:

d
e
n
g
a
n

p
a
r
a

p
e
n
g
e
l
o
l
a

p
a
k
e
t

w
i
s
a
t
a

d
i

J
a
k
a
r
t
a

u
n
t
u
k

s
e
g
m
e
n

k
e
l
o
m
p
o
k

(
s
e
k
o
l
a
h
/
p
e
r
g
u
r
u
a
n

t
i
n
g
g
i
/
i
n
s
t
a
n
s
i
)
,

P
r
o
m
o
s
i

d
e
n
g
a
n

m
e
d
i
a

l
o
k
a
l

d
i

J
a
k
a
r
t
a

(
r
a
d
i
o
/
t
v
)

P
U
B
L
I
C

R
E
L
A
T
I
O
N

:


P
e
m
b
u
a
t
a
n

C
D

F
i
l
m

D
o
k
u
m
e
n
t
e
r

D
T
W

U
n
g
g
u
l
a
n

d
a
n

d
i
d
i
s
t
r
i
b
u
s
i
k
a
n

k
e

b
e
r
b
a
g
a
i

d
a
e
r
a
h

(
W
i
s
a
t
a

M
i
n
a
t

K
h
u
s
u
s


W
a
y

K
a
m
b
a
s
,

K
r
a
k
a
t
a
u
)

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

K
o
m
u
n
i
t
a
s

(
m
i
s

:

k
l
u
b

o
t
o
m
o
t
i
f
,

k
l
u
b

p
r
o
f
e
s
i
,

k
l
u
b

h
o
b
i

t
e
r
t
e
n
t
u
)

m
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
k
a
n

s
p
e
c
i
a
l

e
v
e
n
t

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
e
n
g
a
n

P
r
o
d
u
c
t
i
o
n

H
o
u
s
e

u
t
k

s
e
t
t
i
n
g

f
i
l
m

d
i

D
T
W

u
t
a
m
a

E
V
E
N
T

&

E
X
P
E
R
I
E
N
C
E

M
A
R
K
E
T
I
N
G

:

P
e
n
y
e
l
e
n
g
g
a
r
a
a
n

F
e
s
t
i
v
a
l

K
r
a
k
a
t
a
u
,

P
a
r
t
i
s
i
p
a
s
i

p
a
d
a

K
e
m
i
l
a
u

S
u
m
a
t
e
r
a



9
.

K
e
p
u
l
a
u
a
n

B
a
n
g
k
a

B
e
l
i
t
u
n
g

D
T
W

U
T
A
M
A


P
a
n
t
a
i

P
a
s
i
r

P
a
d
i
,

P
a
n
t
a
i

P
a
r
a
i
,

G
u
n
u
n
g

M
e
n
u
m
b
i
n
g
,

P
a
n
t
a
i

T
a
n
j
u
n
g

T
i
n
g
g
i
,

P
a
n
t
a
i

T
a
n
j
u
n
g

K
e
l
a
y
a
n
,

P
u
l
a
u

L
e
n
g
k
u
a
s
,

T
e
l
u
k

G
e
m
b
i
r
a
,

P
a
n
t
a
i

B
u
r
u
n
g

M
a
n
d
i
,

A
i
r

T
e
r
j
u
n

S
a
d
a
p
,

a
i
r

P
a
n
a
s

P
a
m
a
l
i

P
R
O
F
I
L

W
I
S
N
U
S

Y
A
N
G

B
E
R
K
U
N
J
U
N
G

K
E


K
E
P
.

B
A
N
G
K
A

B
E
L
I
T
U
N
G
J
e
n
i
s

K
e
l
a
m
i
n

L
a
k
i
-
l
a
k
i

:

5
7
,
3
6
%
;


P
e
r
e
m
p
u
a
n

:

4
2
,
6
4
%

U
s
i
a

<

1
5

t
h

:

2
7
,
1
3
%
;

1
5
-
2
4

t
h

:

1
6
,
2
8
%
;

2
5
2
2
,
4
8
%
;


3
5
-
4
4

t
h

:

1
8
,
6
%
;

4
5
-
5
4

t
h

:

5
4

t
h

:

5
,
4
3
%

K
e
g
i
a
t
a
n

U
t
a
m
a

B
e
k
e
r
j
a

:

5
2
,
7
1
%
;

P
e
l
a
j
a
r
/
m
a
h
a
s
i
s
w
a

:

M
e
n
g
u
r
u
s

r
u
m
a
h

t
a
n
g
g
a

:

1
2
,
4
%
;


L
a
i
n
n
y
a

:

2
2
,
4
8
%

M
a
k
s
u
d

K
u
n
j
u
n
g
a
n

B
e
r
l
i
b
u
r

:

4
4
,
1
9
%
;

P
r
o
f
e
s
i
/
b
i
s
n
i
s
/
M
I
C
E
:

3
,
8
8
%
;

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

:

0
,
7
8
%
;

K
e
s
e
h
a
t
a
n

:

6
,
9
8
%
;

B
e
r
z
i
a
r
a
h
/
k
e
a