Anda di halaman 1dari 10

NAMA: HIDAYATULLAH

NIM: 11310005
MID SEMESTER PEMIKIRAN THEOLOGI KRISTEN MODERN

(1) LATAR BELAKANG PEMIKIRAN MARTIN LUTHER TENTANG GEREJA DAN
NEGARA
Yang mempengaruhi munculnya pemikiran Luther tentang Gereja dan Negara adalah
tidak terlepas dari situasi GKR pada abad pertengahan di Eropa Barat. H. Berkhof mencatat
bahwa sejak abad ke-V gereja telah diduniawikan. Artinya bahwa gereja adalah di bawah
perlindungan kaisar. Kaisar berperan sebagai kepala gereja. Dengan demikian Gereja-Negara
disusun selaku badan hukum yang berpusatkan istana kaisar. Uskup Roma juga menyebutkan
dirinya sebagai wakil Kristus yang memiliki dua kekuasaan, yaitu kuasa untuk menganugerahkan
dan kuasa untuk mengalihkan kerajaan-kerajaan. Artinya semua uskup di seluruh dunia harus
meminta penahbisan dan pengukuhan darinya. Selain daripada itu, ia memiliki hak untuk
membuat peraturan-peraturan ibadah, perubahan dalam sakramen, dan ajaran-ajaran dalam
gereja. Situasi inipun terus berlanjut dari abad ke abad. Mangisi dalam bukunya, ia mencatat
bahwa pada abad 11 sampai 13 perseteruan antara Paus dengan Kaisar adalah salah satu unsur
penting karena gereja belum bersedia melepaskan diri dari urusan duniawi. Gereja telah
memasuki kuasa politis. Oleh sebab itu, gereja telah menjadi kuda troya yang membawa
penyakit dalam dirinya sehingga menyebabkan para raja makin gigih mempertahankan haknya,
yang merupakan tenaga pendorong untuk merutuhkan landasan hubungan gereja-negara pada
abad pertengahan. Selain daripada itu juga munculnya pemikir-pemikir mistik yang berusaha
agar jiwa mengalami dan merasai Allah secara langsung. Tokoh utama yang mencetuskan
pemikiran-pemikiran ini adalah Benhard dan Eckhart.
Pada abad ke 14-15, penguasa-penguasa Gereja semakin menonjol sampai kepada bidang
yang tradisional dikuasai oleh gereja, seperti: Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan, Pendidikan
bahkan Teologi. Sehingga dapat dikatakankan bahwa pada abad ke-15 inilah terjadinya
reformasi. Artinya pemikir-pemikir yang sudah tahu tentang kehidupan GKR yang semakin
memburuk berusaha melakukan reformasi oleh pemikir gereja yang sudah belajar tentang
teologia yang cukup baik seperti Martin Luther.
Di Jermanlah yang menjadi tempat lahirnya reformasi yang terletak di tengah Eropa. Di
Negara Jermanlah raja-raja atau pangeran berkuasa penuh atas daerahnya masing-
masing. Banyak raja mulai mengatur urusan negerinya sendiri, wilayahnya masing-masing dan
tidak mengakui klaim supremasi gereja atau Paus atas Negara, dan bangkitnya kelas pedagang
dan pengusaha di bidang perdagangan juga industri yang menjadi jikal bakal kapitalisme. Hal
inilah yang menggeser dominasi feodalisme yang sudah berlangsung berabad-abad yang di
dalamnya gereja juga terlibat. Karena gereja sejak lama berperan sebagai soko guru sistem
feodalisme, maka tidak heran bila gereja (GKR) juga menjadi sasaran sikap kritis tersebut. Para
Imam tidak menjadi teladan bagi masyarakat, tetapi yang terjadi adalah mencari keuntungan diri
sendiri. Di satu pihak pemikiran-pemikiran mistik abad pertengahan muncul kembali di dalam
Thomas Muncher. Muncher menegaskan bahwa kemiskinan itu terutama kemiskinan akan
harta benda, kemelaratan. Lalu ia menyimpulkan hanya orang-orang miskinlah yang dapat
menerima roh, terang batiniah itu (menurut Matius 5:3). Sebaliknya orang kaya justru karena
kaya mereka menjadi orang-orang fasik. Sehingga pada tahun 1525 terjadi pemberontakan para
petani kepada kaum penguasa. Mulanya Luther menyalahkan para penguasa ini, tetapi ketika
pemberontakan itu berubah menjadi pertumpahan darah, dia juga menyarang para petani. Alasan
mereka melakukan pemberontakkan ini adalah kutipan-kutipan Luther yang berbicara tentang
kebebasan. Mereka menafsirkan kebebasan itu sebagai kebebasan dari kewajiban-kewajiban
yang tidak wajar kepada tuan-tuannya. Akan tetapi maksud Luther tentang kebebasan seorang
Kristen itu adalah kebebasan dan tuntutan hokum taurat bukan berarti bebas dari kerja rodi dan
sebagainya. Akibat peristiwa ini, Luther tidak percaya lagi bahwa rakyat sendiri bisa
menjalankan pemerintahan yang teratur dalam Negara. Melalui peristiwa ini, Luther menyetujui
sistem yang telah digunakan oleh raja Sachsen yang mengatakan bahwa: pemerintah membagi
daerah atas distrik-distrik, dan setiap distrik mengangkat seorang pejabat yang diberi gelar
superintendent. Melalui peristiwa ini Luther mencanangkan protes terhadap ajaran dan praktik
gereja.
Selain dari kelompok kaum mistik muncul juga kaum Anabaptis yang menegaskan
bahwa jemaat Kristen hanya boleh terdiri dari orang-orang percaya saja. Oleh karena itu, mereka
menolak pembaptisan anak-anak. Dasar gereja menurut mereka adalah kesucian anggota-
anggotanya bukan rahmat Allah atas orang-orang berdosa. Hal inilah yang ditentang oleh Luther
yang mengatakan bahwa dasar gereja bukanlah kesucian anggota-anggotanya melainkan rahmat
Allah dan pemberitaan firman dan sakramen-sakramen

LATAR BELAKANG GERAKAN ROFERMIS
Gerakan reformasi protestan yang di pelopori Martin Luther, John Calvin, Zwingli, John
Knox dan lain-lain berdampak luas terhadap sejarah pemikiran social, keagamaan, politik di
zaman tersebut. Gerakan ini pada awalnya adalah sebuah pemrotestan dari kaum bangsawan dan
penguasa jerman terhadap kekuasaan imperium katolik Roma. Akan tetapi pada perkembangan
berikutnya, gerkakan ini memiliki konotasi lain, yaitu dianggap dengan identik dengan semua
gerakan dan organisasi yang menetang kekuasaan paus di Roma.
Gerakan reformasi protestan merupakan tahap lanjutan dari gerakan renaisans italia.
Meskipun demikian, terdapat perbedaan ciri fundamental antara keduanya. Gerakan renaisans
melahirkan prinsip nikmati hidup, manusia pada hakikatnya baik, percaya pada akal dan toleransi
sedangkan gerkan Reformis menekankan prinsip bahwa akhirat dan kehidupan spiritual lebih
penting dari kehidupan dunia, manusia pada dasarnya korrup dan bejat moralnya, percaya pada
keimanan dan konformitas. Keduanya juga lahir karena pengaruh perkembangan kapitalisme,
perdagangan dan markantilisme yang marak berkembang pada abad XIV-XVI.
Ada beberapa faktor penyebab dan latar belakang munculnya gerakan Reformis
Protestan, antara lain:
1. Produk perlawanan terhadap gereja katolisisme.
Selama berabad-abad gereja dan lembaga kepausan telah banyak melakukan
penyimpangan keagamaan tanpa ada satupun yang bisa menentang atau meluruskan
penyimpangan-penyimpangan itu. Kalaupun ada, bisanya selalu gagal dan berakhir secara
dramatis seperti yang dialami Giordano Bruno. Penyimpangan ini terjadi dalam berbagai bentuk.
Banyak para pemuka katolik memperoleh posisi social keagamaan melalui cara-cara yang etis
dan tidak normal. Seperti yang terjadi dalam kasus Paus Leo X. Pasu katolik ini memperoleh
uang sejumlah $ 5.250.000 dari hasil penjualan jabatan-jabatan gerejani. Ada juga Paus yang
berperilaku amoral yang menyangkut hubungan dengan wanita seperti yang terjadi dalam kasus
Paus Alexander VI. Paus ini diketahui memiliki delapan anak haram, tujuh diantaranya
dimilikinya sebelum menjadi Paus,berarti ia hidup bersama tanpa nikah sebelum menjadi Paus.
Dan masih banyak lagi penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh para pemuka gereja
pada saat itu. Dengan banyaknya penyimpangan yang terjadi,ini menjadi salah satu faktor
bagaimana munculnya gerakan Reformasi.
2. Terjadinya perkembangan Kapitalisme dan Krisis-krisis ekonomi di kawasan imperium
Roma.
Inilah faktor ekonomi yang menjadi acuan munculnya gerakan reformasi Prostestan.
Perkembangan kapitalisme yang sedimikian cepat yang terjadi di Eropa,khususnya Italia,
Jerman, Inggris, Perancis, dan lain-lain. Membawa dampak serius terhadap doktrin keagamaan.
Seperti kasus tentang ajaran pembungaan uang dengan permasalahan dihalalkan atau
diharamkan. Apabila diharamkan, bagaimana cara gereja katolik menyelesaikan masalah-
masalah yang dihadapi banyak Bank dan transaksi ekonomi yang mengandalkan mekanisme
kerja sepenuhnya pada system pembungaan uang. Tanpa system bunga, kerja bank dan transaksi
ekonomi akan macet, atau bangkrut. Kegagalan gereja dalam hal mengantisipasi masalah ini
menimbulkan krisis kepercayaan terhadap kemampuan katolisisme dalam mengantisipasi
perkembangan social ekonomi yang terjadi.
3. Penarikan Pajak-pajak yang memberatkan.
Dalam masalah penarikan pajak yang dirasa memberatkan,berdampak terhadap
permasalahan krisis ekonomi. Merasa tertekan akibat pajak penduduk,terutama dari kalangan
bawah (petani, pekerja dan lain-lain),yang berada dalam dominasi imperium gereja katolik. Ini
mengakibtkan dari kalangan bawah merasa tertekan akibat penarikan pajak yang cukup besar
jumlahnya. Munculnya ketimpangan ekonomi, pendapatan kas gereja melimpah ruah,dan banyak
melakukan pembagunan-pembangunan gereja mewah di vatikan. Di lain sisi,di daerah-daerah
lain seperti jerman mengalami kesulitan dana untuk membangun rumah ibadah. Kasus seperti
inilah yang akhirnya timbul tuntutan untuk dihapuskannya pemungutan pajak yang dilakukan
oleh orang-orang bangsawan.
4. Kebangkitan nasionalisme di Eropa
Nasionalisme tumbuh subur di daerah eropa utara seperti Inggris, Perancis dan Jerman.
Ini disebabkan karena warganya dalam intervensi Paus dalam permasalahan internal Negara
yang bersangkutan. Dengan kata lain, mereka berhak untuk menentukan nasib dirinya sendiri.
Paus dianggap sebagai kekuatan asing yang eksploitatif dan harus dilawan.

(2) (Masa Renaissance)
Reformasi gereja tercetus pertama kali pada abad ke-16 yang terjadi di Eropa
Barat. Reformasi Gereja 1483-1546 terjadi karena banyaknya penyimpangan-penyimpangan
yang terjadi pada agama khususnya umat kristiani. Antara lain yaitu adanya penjualan surat
pengampunan dosa yang disebut surat aflat. Surat pengampunan itu dijual kepada mereka yang
tidak dapat ikut dalam perang salib antara abad 11-13, Kebiasaan penjualan Surat pengampunan
dosa kemudian dilakukan untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan geraja. Dan dilakukan
penyogokkan oleh pemuka agama kepada petinggi gereja agar mereka memperoleh kedudukan
sosial keagamaan yang tinggi. Serta adanya penyimpangan terhadap acara sakramen suci atau
ritus pemujaan terhadap benda-benda keramat atau tokoh-tokoh suci yang nantinya akan
menimbulkan takhayul dan mitologisasi yang tidak masuk akal, seperti para pastor yang semata-
mata merupakan manusia yang memiliki sifat yang sama dengan yang lainnya menganggap
dirinya keramat.
Reformasi ini terjadi akibat banyaknya ketidakpuasan terhadap Gereja Katolik Roma
pada saat itu. Ketidakpuasan ini terjadi di Bohemia, Inggris dan di tempat-tempat yang lain. Para
pemimpin gereja pada masa itu hidup secara munafik dan bertentangan dengan Kitab Suci.
Rakyat menyaksikan kerusakan moral gereja yang bahkan melebihi kerusakan moral dalam
kalangan orang biasa. Tetapi rakyat tidak berhak mengkritik karena adanya anggapan bahwa
para pemimpin adalah wakil Tuhan dan rakyat harus mentaati mereka. Keadaan ini membuat
orang-orang mulai meninggalkan gereja, namun mereka tetap terikat oleh gereja sebab adanya
pandangan yang mengatakan bahwa keselamatan hanya terdapat di dalam gereja dan di luar
gereja pasti binasa.
Pada abad ke-16 M, Eropa mengalami zaman Renaissance (kelahiran kembali) yang
diawali dengan refomasi gereja, ketika itu peran gereja sangat kuat bagi kehidupan, sehingga
dengan adanya reformasi gereja, Barat mulai bangkit dari zaman kegelapan.
Reformasi gereja diilhami dari terjadinya Renaissance pada abad pertengahan,
menghasilkan pemikiran Barat kearah modern dan mempunyai rujukan jelas menuju liberalisme
dan kebebasan. Renaisans adalah masa kelahiran atau kebangkitan kembali manusia Barat
setelah tertidur lama pada masa yang disebut abad kegelapan (dark ages). Kata ini berasal dari
bahasa Itali, rinascimento, yang berarti terlahir kembali.
Reformasi Gereja berkembang dan memunculkan tokoh-tokoh reformer yaitu Martin
Luther (1483-1546), Johannes calvin (1509-1564), dan Bodin (1530-1596). Pada tahun 1517
Martin Luther mengemukakan pokok-pokok pikiran sebagai kritikan terhadap Gereja meliputi 95
dalil. Faktor lain dari munculnya Reformasi Gereja adalah keinginan untuk membebaskan diri
dari kepemimpinan Paus terhadap kehidupan beragama di negara-negara Eropa.
(Masa Aufklarung)
Pada abad pertengahan terjadi perdebatan sengit antara akal dan iman atau antara gereja
dan kalangan proletar Eropa. Hal itu terjadi selama kurang lebih 8 abad lamanya. Mereka
dipaksa mengikuti doktrin yang telah dikeluarkan oleh pihak gereja dalam dogma-dogma
gerejanya. Mereka juga dipaksa untuk melupakan akan kebudayaan mereka dulu, yaitu
kebudayaan Romawi dan Yunani. Namun, semakin lama mereka pun semakin merasakan akan
kejanggalaan tentang doktrin yang mereka terima itu. Terasa berada di luar akal rasional
(irasional). Hegemoni antara akal dan iman benar-benar tidak seimbang pada zaman itu. Pada
abad itu akal kalah total dan iman menang mutlak. Abad ini telah mempertontonkan kelambanan
kemajuan manusia dalam bidang pemikiran, padahal manusia itu sudah membuktikan bahwa ia
sanggup maju dengan cepat. Abad ini juga telah dipenuhi lembaran hitam berupa pemusnahan
orang-orang yang berfikir kreatif diluar dogma gereja, karena pemikirannya berlawanan atau
berbeda dengan pikiran tokoh gereja pada saat itu. Abad ini tidak saja lamban, lebih dari
itu, filsafat mundur pada abad ini jangankan menambah, menjaga warisan sebelumnya pun abad
ini tidak mampu.

(3) Teologi Dasar, yaitu pembahasan asas dan dasar pengetahuan tentang Allah, Dasar itu
terdiri dari wahl'u daniman. Juga druraikan tentang norma-nofma untuk iman,yaitu al-Kitab,
tradrsi dan kuasa mengajar Gereia. (2) Teologi Dogmatik, yaitu pembicaraan tentang kebenatan-
kebenaran pokok dalam iman serta kesimpulan yang dapat ditarik darinya. (3) Teologi Moral,
yaitu pembahasan isi iman sejauh iman itu merupakan kaidah unruk menilai baik-buruknya
kelakuan manusia dalam tentang wahyu Tuhan (4) Teologi Pastoral, yaitu uraian tentang
penerapan isi dari iman secara praktis menurut situasi yang konktet (5) Teologi spiritual, yaitu
ulasan isi iman dengan maksud membangun kehidupan rohani
Sementara itu Thomas Michel (2002: 101), menguraikan bidang-bidang teologi Kristiani
antara lain, yaitu
1. Teologi Biblis.
AI-Kitab itu bukanlah suatu textbook teologi, bukan suaru penyaiian sisternatis rnengenai
iman Kristiani. pengarang Perjanjian Baru mewartakan iman akan yesus dan pewartaan itu
ditujukan untuk kebutuhan khusus komunitas Kristiani pada suatu tempat dan suatu saat tertentu.
Tiap pengalang Perjanjian Baru memiliki pengertian sendiri tentang iman akan Yesus Kristus
dan maknanya bagi orang beriman. Setiap penulis menekankan ialah satu unsur iman Kristiani
dan tidak membicarakan aspek lainnya. Setiap penulis mempunyai penekanan dan perhatiannya
masing-masing, seperti Teologi Yohanes, Pauius, Yakobus, Matius dan lain-lain. Teologi ini
juga mempelajari tema-tema pokok iman Kristiani seabagaimana yang terdapat dalam al-Kitab.
Para teolog mensistematiskan ajaran tersebut, sepeti adanya Kamus Teologi al-Kitabiah Populer.
Jelasnya, teologi ini terutama berdasarkan pada kitab suci, dengan mengembangkan sintesis
tema-tema seperti Perjanjian, pembenaran, keselamatan dan lain-lain berdasarkan Perjanjian
Lama dan Perjanjian Baru, sehingga dapat menjadi inspirasi bagi zaman sekarang.
2. Teologi Sistematis.
Teologi ini menurut Michel adalah usaha memahami seluruh realitas dalam terang ajaran
Kristiani Teologi ini berdasat pada filsafat, yakni pemahan intelektual akan kodrat alam semesta.
Sementara Collins (1996 : 327) mendefinisikan teologi ini usaha untuk menjelaskan ajaran-
ajaran Kristiani yang pokok secara koheren dan ilmiah. Meskipun kadang-kadang secata praktis
sama dengan teologi dogmatis, teologi sistematik dapat berbeda karena mencakup telaah
mengenai masalah- masalah sosial. Teologi ini juga dapat berbeda dari teologi lain, karena
memberi perhatian lebih besar pada metodologi, terminologi, penggunaan prinsip-prinsip filsafat,
pespektif yang sungguh terpadu dan masalah-masalah yang berhubungan dengan keadaan dan
keterbatasan pengetahuan teologis.
3. Teoiogi Dogma (Teologi Sepanjang Sejarah)
Teologi ini sebagai cabang utama teologi yang atas dasar kitab suci dan tradisi menggali
data pewahyuan mempelajari dan menguaikan ajaran-ajaran Kristiani yang terpenting secara
koheren. Berbagai upaya pembaruan atas teologi dogmatik belakangan ini menunjukkan adanya
kesatuan iman dalam terang seluruh Kristianitas dan perubahan zaman. Teoiogi ini sepanjang
sejarah atau sejarah ajaran gereja, adalah suatu usaha pemahaman bagaimana pengertian
Kristiani akan pesan al-Kitabiah telah berkembang sepaniang sejarah, yang mencakup : ajaran
para Paus, konsili-konsili Ekumenis Gereja, kontroversi teologis yang terjadi dalam Gereja,
sumbangan masing-masing teolog dan mistikus, gerakan pembaharuan yang memperjuangkan
dan menghidupkan kembali cara pandang baru ke dalam iman Gereja dan ajaran-ajaran Konsili
setempat dari pata patriak, uskup-uskup dan sidang-sidang Wali Gereia. Tujuan sejarah dogrna
ialah untuk mengetahui secara tepat apa saja yang telah ditegaskan dan apa saja yang ditolak
oleh gereja.
4. Teologi Alam ( Teodice, Filsafat Agama)
Ilmu ini suatu usaha untuk menyelidiki apa saja yang dapat dipahami oleh akal budi
rnanusia tentang Allah dan karya-Nya. Para teolog ini mencoba memahami Allah dan segala
atribut-Nya hanya menggunakan indra persepsi, logika dan spekulasi akal budi manusia. Teologi
ini dijunjung tinggi oleh teolog Skolastik, seperti Aquinas, tetapi pemikir Protestan seperti
Immanuel Kant ( 1804) dan Karl Bath, berpandangan bahwa orang hanya mengetahui sedikit
tentang Allah tanpa wahyu llahi. teologi Alam zaman Skolastik berbeda dengan filsafat agama,
katena Skolastik abad petengahan memahami teodicea sebagai persiapan untuk studi teologi
yang sebenarnya, sedangkan filsafat agama modern tidak membedakannya.


5. Teologi Spiritual ( Askese dan Mistik)
Tiga istilah di atas, yaitu teologi hidup rohani, askese dan mistik merujuk ke suatu cabang
studi agama Kristiani yang mencoba menghargai dan menerangkan gerakan rahmat Allah dalam
hidup pribadi orang Kristen. Maka dalam gereja ada bermacam-macam model hidup rohani atau
tradisi hidup rohani, misalnya Benediktus, Fransiskus Asisi, Dominikus dan Ignatius. Kehidupan
rohani dengan mempelajari, yartu: (a) Tuiuan hidup Kristiani sebagai suatu kesatuan kasih antara
orang yang beriman dan Allah. (b) Tahap-tahap kesempurnaan Kristiani. (c) Kesukaran dan
berdoa. meditasi dan kontemplasi. (d) Kesukaran dan bahaya yang ditemui orang beriman
menuju jalan kesucian (e) Teknik membedakan antara dorongan-dorongan religius yang datang
dari Roh Allah dan yang datang dari roh jahat atau dari dorongan egoisme pribadi.
6. Teologi Moral
Teologi ini sebagai usaha memahami implikasi moral dan ajaran Kristiani, yang
menelaah moral bersumber dari alkitab dan mencoba menielaskan prinsip-prinsip yang
mendasari ajaran itu sehingga dapat diterapkan oleh orang Kristiani dalam kehidupan baik
pribadi maupun sosial Maka keperdulian teologi ini adalah menentukan prinsip-prinsip untuk
mengambil keputusan menurut etik Kristiani. Teologi ini juga disebut etika Kristiani, yang
berfungsi menguji masalah-masalah baru yang tidak terdapat dalam alkitab, seperti masalah
Keluarga Berencana (KB) dengan metode-metodenya, masalah moral yang berkembang dari
kemajuan ilmu kedoktetan, etika dagang dan bisnis, masalah keadilan sosial, metode perang,
etika ekonomi internasional.
7. Teologi Pastoral
Teologi ini mencoba menemukan pesan-pesan Kristiani agar dapat diterapkan sebaik-
baiknya guna membangun komunitas Kristiani sebenarnya. Beberapa hal yang dibicarakan
dalam teologi ini, yaitu: (a) pendidikan agama (b) Komunikasi pesan-pesan Kristiani. (c)
bimbingan dan konseling bagi umat Kristiani yang bermasalah. (d) Metode dan dinamika dalam
membangun komunitas Kristiani (e) Aspek-aspek sosiologis dan antoplogi hidup Kristiani.
Selain beberapa bidang teologi di atas, menurut Thomas Michel (2002: 111-114)
beberapa bidang baru yang muncul dalam perkembangan teologi antata lain, yaitu :

1. Teologi Agama-agama
Teologi ini menelaah hubungan agarna Kristiani dengan agama-agama lain. Sebagai titik
tolaknya adalah keberadaan orang-orang yang mengikuti jalan keagamaan/keyakinan yang
berbeda-beda, Yahudi Kristiani, Muslim, Budhis, Hindu, Jain, Taoisme dan agama agama
setempat/tradisional yang bisa diajukan sebagai bahan pertimbangan, yaitu : (a) Bagaimana
Allah bertindak dalam komunitas-komunitas agama-agarna itu. (b) Bagaimana Allah
menyelamatkan umat Yahudi, Muslim dan Agama lainnya (c) Apakah mungkin ada nabi dan
kitab suci dalam agama-agama lain (d) Bagaimana sikap yang harus diambil orang Kristiani
terhadap para pengikut agama-agama lain
2. Teologi agama-agama
Teologi ini berkembang dati missiologi. Telaah tentang pemutusan Kristiani dan sudut
usaha untuk memahami dan mengevaluasi agama-agama lain dari sudut pandang wahyu
Kristiani. Teologi ini berbeda dengan Perbandingan Agama atau Sejarah-Sejarah Agama dalam
Teologi Agama-Agama, ditelaah apa yang dapat dipelajari dan dipahami dari agama-agama lain
lewat refleksi sistematis dari ajaran alkitab dan tadisi Kristiani.
3. Teologi Pembebasan
Pendekatan baru pada teologi ini mulai dari pemahaman bahwa Allah ingin
menyelamatkan seluruh pribadi manusia, tidak hanya aspek batin atau tohani saja. Teologi
pembebasan mempelajari keterlibatan umat Kristiani dalam proses sejarah dalam bidang sosial,
ekonomi dan politik. Karena metodologi teologi ini menyerupai analisis Marxis dalam hal
struktur ekonomi. Maka banyak pimpinan Kristiani menolak gerakan dan karya teologi ini.
4. Teologi Inkulturasi
Titik tolak teologi ini kenyataan bahwa umat Kristiani sekarang berada dalam tata
lingkup budaya yang berbeda-beda. Cabang teologi ini mempelajari hubungan pesan Kristiani
dengan budaya.