Anda di halaman 1dari 20

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK - UNIVERSITAS RIAU
Kampus Bina Widya KM. 12,5 Simpang Baru - Pekanbaru
MAKALAH PLB
Lahan Rawa
Teknik Sipil Universitas Riau
DISUSUN OLEH:
ANDI WIJAYA (1107114365)
ARI VERA INDRA (1107111953)
NOPEMBER TONI (1107111965)
KELAS A
DOSEN PEMBIMBING:
Ir Siswanto ,MT
APRIL 2014
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan
kesehatan dan kesempatan kepada kami untuk dapat menyelesaikan makalah
Pengembangan Lahan Basah ini.
Makalah ini bertujuan untuk memberikan pandangan kepada teman-teman
mahasiswa tentang fungsi ekologis lahan rawa.
Terima kasih kami ucapkan kepada dosen pembimbing Ir Siswanto MT yang
telah memberikan dukungan dan motivasi dalam menyelesaikan makalah ini. Dan
juga kepada teman-teman yang berperan penting dalam penyelesaian makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa menyelesaikan makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan dan kesalahan. Untuk itu, penyusun mengharapkan masukan dan kritikan
yang sifatnya membangun dalam penyempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi rekan-rekan mahasiswa dan
penulis di kemudian hari.
Pekanbaru, April 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................
BAB III KESIMPULAN ......................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia memiliki lahan rawa terluas di kawasan tropika dengan
bahan sedimen yang terdiri atas tanah mineral, tanah gambut, atau kombinasi
keduanya. Diperkirakan rawa yang ada di Indonesia layak untuk budidaya
pertanian. Lahan rawa yang cocok untuk budidaya tanaman umumnya adalah
yang bebas dari pirit minimal di zona perakaran, dan gambut tipis yang tetap
bersifat hidrofilik. Lahan rawa merupakan lahan alternatif untuk
pengembangan pertanian. Lahan rawa terdiri atas lahan pasang surut dan lahan
lebak. Sejarah pemanfaatan rawa dilatarbelakangi oleh kondisi kekurangan
pangan yang dialami Indonesia pada masa-masa awal kemerdekaan
Lahan rawa (lebak dan pasang surut) memiliki potensi besar untuk
dijadikan pilihan strategis guna pengembangan areal produksi pertanian
kedepan yang menghadapi tantangan makin kompleks, terutama untuk
mengimbangi penciutan lahan subur maupun peningkatan permintaan
produksi, termasuk ketahanan pangan dan pengembangan agribisnis
Pemanfaatan lahan rawa masih sangat terbatas akibat keterbatasan
teknologi dan varietas. Untuk memanfaatkan lahan rawa tersebut, diperlukan
teknologi yang dapat menghadapi permasalahan serius.
1.2 Rumusan Masalah
Hal-hal yang dibahas di dalam makalah ini yaitu :
a. Pengertian lahan rawa
b. Klasifikasi wilayah rawa
c. Luas lahan rawa
d. Potensi Lahan Rawa
e. Upaya Peningkatan Produktivitas Lahan Rawa
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Lahan Rawa
Rawa adalah lahan genangan air secara ilmiah yang terjadi terus-
menerus atau musiman akibat drainase yang terhambat serta mempunyai ciri-
ciri khusus secara fisika, kimiawi dan biologis.
Lahan rawa merupakan lahan yang menempati posisi peralihan antara
daratan dan perairan, selalu tergenang sepanjang tahun atau selama kurun waktu
tertentu, genangannya relatif dangkal, dan terbentuk karena drainase yang
terhambat.
Indonesia memiliki lahan rawa terluas di kawasan tropika dengan
bahan sedimen yang terdiri atas tanah mineral, tanah gambut, atau kombinasi
keduanya. Luas total lahan rawa belum dapat diidentifikasi secara pasti, ada
yang menyebut luas lahan gambut Indonesia 34 juta ha, dan ada yang
mengatakan 27,7 juta ha. Diperkirakan rawa yang layak untuk budidaya
pertanian sekitar 6 - 7 juta ha. Lahan rawa yang cocok untuk budidaya tanaman
umumnya adalah yang bebas dari pirit minimal di zona perakaran, dan gambut
tipis yang tetap bersifat hidrofilik. Rawa yang tidak cocok untuk dikembangkan
umumnya berupa gambut tebal dan tanah sulfat masam/berpirit pada jeluk yang
dangkal.
Ekosistem lahan rawa bersifat rapuh yang rentan terhadap perubahan
baik oleh karena alam (kekeringan, kebakaran, kebanjiran) maupun karena
kesalahan pengelolaan (reklamasi, pembukaan, budidaya intensif). Jenis tanah
di kawasan rawa tergolong tanah bermasalah yang mempunyai beragam
kendala. Misalnya, tanah gambut mempunyai sifat kering tak balik dan mudah
ambles. Tanah gambut mudah berubah menjadi bersifat hidrofob apabila
mengalami kekeringan. Gambut yang menjadi hidrofob tidak dapat lagi
mengikat air dan hara secara optimal seperti kemampuan semula. Selain itu,
khusus tanah suffidik dan tanah sulfat masam mudah berubah apabila
teroksidasi. Lapisan tanah (pirit) yang teroksidasi mudah berubah menjadi
sangat masam (pH 2-3) dan meningkatnya kelarutan.
Ekosistem lahan rawa memiliki sifat khusus yang berbeda dengan
ekosistem lainnya. Lahan rawa dibedakan menjadi lahan rawa pasang surut dan
lahan rawa non pasang surut (lebak). Lahan rawa pasang surut adalah lahan
yang airnya dipengaruhi oleh pasang surut air laut atau sungai, sedangkan lahan
lebak adalah lahan yang airnya dipengaruhi oleh hujan, baik yang turun di
wilayah setempat atau di daerah lainnya disekitar hulu.
Pengembangan lahan rawa mempunyai banyak keterkaitan dengan
lingkungan yang sangat rumit karena hakekat rawa selain mempunyai fungsi
produksi juga fungsi lingkungan. Apabila fungsi lingkungan ini menurun maka
fungsi produksi akan terganggu. Oleh karena itu perencanaan pengembangan
rawa harus dirancang sedemikian rupa untuk memadukan antara fungsi lahan
sebagai produksi dan penyangga lingkungan agar saling menguntungkan atau
konpensatif. Rancangan semacam inilah yang memungkinkan untuk tercapainya
pertanian berkelanjutan di lahan rawa.
Fungsi air di lahan rawa antara lain:
a) sebagai tandon air di musim hujan, terutama di rawa belakang
(backswamp);
b) sebagai pelepas air secara perlahan lahan bilamana sumber air hujan/debit
air sungai menurun di musim kemarau (aliran dari rawa belakang ke
sungai);
c) untuk mempertahankan suasana reduksi bilamana aliran lateral dalam tanah
(seepage) sangat lambat. Di daerah rawa yang belum direklamasi, fungsi ini
berjalan sangat bagus. Kelebihan air akan mengalir ke luar rawa melalui
aliran permukaan yang terakumulasi dalam saluran alami sempit yang
melebar ke arah sungai.
Pengelolaan air di lahan rawa dapat diartikan sebagai pemanfaatan air
secara tepat untuk keperluan domestik, meningkatkan produksi tanaman, antara
lain untuk kebutuhan evapotranspirasi, pembuangan kelebihan air, mencegah
terbentuknya bahan toksik dan melindi elemen toksik yang terjadi, serta
mencegah penurunan muka tanah. Pengelolaan air ini sebetulnya mencakup
kuantitas dan kualitas yang diinginkan oleh tanaman yang dibudidayakan dan
rumah tangga.
2.2 Klasifikasi Wilayah Rawa
Lahan rawa yang berada di daratan dan menempati posisi peralihan
antara sungai atau danau dan tanah darat (uplands), ditemukan di depresi, dan
cekungan-cekungan di bagian terendah pelembahan sungai, di dataran banjir
sungai-sungai besar, dan di wilayah pinggiran danau. Mereka tersebar di dataran
rendah, dataran berketinggian sedang, dan dataran tinggi. Lahan rawa yang
tersebar di dataran berketinggian sedang dan dataran tinggi, umumnya sempit
atau tidak luas, dan terdapat setempat-setempat. Lahan rawa yang terdapat di
dataran rendah, baik yang menempati dataran banjir sungai maupun yang
menempati wilayah dataran pantai, khususnya di sekitar muara sungai-sungai
besar dan pulau-pulau deltanya adalah yang dominan.
Pada kedua wilayah terakhir ini, karena posisinya bersambungan
dengan laut terbuka, pengaruh pasang surut dari laut sangat dominan. Di bagian
muara sungai dekat laut, pengaruh pasang surut sangat dominan, dan ke arah hulu
atau daratan, pengaruhnya semakin berkurang sejalan dengan semakin jauhnya
jarak dari laut. Berdasarkan pengaruh air pasang surut, khususnya sewaktu
pasang besar (spring tides) di musim hujan, bagian daerah aliran sungai di bagian
bawah (down stream area) dapat dibagi menjadi 3 (tiga) zona. Klasifikasi zona-
zona wilayah rawa ini telah diuraikan oleh Widjaja-Adhi et al. (1992), dan agak
mendetail oleh Subagyo (1997). Ketiga zona wilayah rawa tersebut adalah:
Zona I : Wilayah rawa pasang surut air asin/payau
Zona II : Wilayah rawa pasang surut air tawar
Zona Ill : Wilayah rawa lebak, atau rawa non-pasang surut
2.2.1 Zona I: Wilayah rawa pasang surut air asin/payau
Wilayah rawa pasang surut air asin/payau terdapat di bagian daratan
yang bersambungan dengan laut, khususnya di muara sungai besar, dan pulau-
pulau delta di wilayah dekat muara sungai besar. Di bagian pantai ini, dimana
pengaruh pasang surut air asin/laut masih sangat kuat, sering kali disebut
sebagai tidal wetlands, yakni lahan basah yang dipengaruhi langsung oleh
pasang surut air laut/salin.
Bagian wilayah pasang surut yang dipengaruhi oleh air asin/salin dan
air payau ini, di pantai timur pulau Sumatera seperti di Sumatera Selatan, Jambi,
dan Riau, umumnya masuk ke dalam daratan Pulau Delta dan sepanjang sungai
besar sejauh dari beberapa ratus meter sampai sekitar 4-6 km ke dalam. Wilayah
ini, karena pengaruh air laut/salin atau air payau, tanahnya mengandung
garamgaram yang tinggi, dikatagorikan sebagai tipologi lahan salin, dan tidak
sesuai untuk lahan pertanian.
Berapa jauh zona I wilayah pasang surut air asin/payau masuk ke arah
hulu dari muara sungai, tergantung dari bentuk estuari, yaitu bagian muara
sungai yang melebar berbentuk V ke arah laut, dimana gerakan air pasang dan
surut terjadi. Jika bentuk estuari lebar dan lurus, pengaruh air asin/salin dapat
mencapai sekitar 10-20 km dari mulut/muara sungai besar. Namun, apabila
relative sempit dan sungai berkelok, pengaruh air asin/salin hanya mencapai
jarak 5-10 km dari muara sungai. Sementara dari laut/ sungai ke arah daratan
Pulau Delta, atau ke arah wilayah pinggiran sungai, jarak masuknya air pasang
dapat mencapai sekitar 4-5 km.
2.2.2 Zona II: Wilayah rawa pasang surut air tawar
Wilayah pasang surut air tawar adalah wilayah rawa berikutnya ke arah
hulu sungai. Wilayahnya masih termasuk daerah aliran sungai bagian bawah,
namun posisinya lebih ke dalam ke arah daratan, atau ke arah hulu sungaI. Di
wilayah ini energi sungai, berupa gerakan aliran sungai ke arah laut, bertemu
dengan energi pasang surut yang umumnya terjadi dua kali dalam sehari (semi
diurnal). Karena wilayahnya sudah berada di luar pengaruh air asin/salin, yang
dominan adalah pengaruh air-tawar (fresh-water) dari sungai sendiri. Walaupun
begitu, energi pasang surut masih cukup dominan, yang ditandai oleh masih
adanya gerakan air pasang dan air surut di sungai.
Di daerah tropika yang beriklim munson, yang dicirikan oleh adanya
musim hujan dan musim kemarau, di musim hujan ditandai oleh volume air
sungai yang meningkat, berakibat bertambah besarnya pengaruh air pasang ke
daratan kirikanan sungai besar, dan bertambah jauh jarak jangkauan air pasang
ke arah hulu. Limpahan banjir sungai selama musim hujan yang dibawa air
pasang, mengendapkan fraksi debu dan pasir halus ke pinggir sungai.
Pengendapan bahan halus yang terjadi secara periodik selama ber-abad-abad
akhirnya membentuk (landform) tanggul sungai alam (natural levee), yang jelas
terlihat ke arah hulu dan makin tidak jelas terbentuk, karena pengaruh pasang
surut, ke arah hilir dan di muara sungai besar.
Makin jauh ke pedalaman, atau ke arah hulu, gerakan naik turunnya air
sungai karena pengaruh pasang surut makin berkurang, dan pada jarak tertentu
berhenti. Di sinilah batas zona II, dimana tanda pasang surut yang terlihat pada
gerakan naik turunnya air tanah juga berhenti. Jarak zona II dari pantai,
tergantung dari bentuk dan lebar estuari di mulut/muara sungai dan kelak-kelok
sungai dapat mencapai sekitar 100-150 km dari pantai. Sebagai contoh, kota
Palembang di tepi S. Musi, pengaruh pasang surut masih terasa, tetapi relative
sudah sangat lemah, berjarak sekitar 105 km dari pantai. Di muara Anjir Talaran
di dekat kota Marabahan di Sungai Barito, Provinsi Kalimantan Selatan, yang
berjarak (garis lurus) sekitar 65 km dari muara, pasang surut relatif masih agak
kuat.
Pencapaian air pasang di musim hujan dan air asin di musim kemarau
pada tiga sungai besar di Sumatera adalah S. Rokan: 48 dan 60 km, S.
Inderagiri: 146 dan 86 km, dan S. Musi 108 dan 42 km dari muara sungai. Di
Kalimantan, S. Kapuas Besar: 150 dan 24 km, S. Kahayan 125 dan 65 km, dan
S. Barito 158 dan 68 km dari muara sungai. Di Papua, S. Mamberamo: 30 dan 8
km, S. Lorenz (pantai selatan, barat Agats) 103 dan 63 km, dan S. Digul (barat
Merauke) 272 dan 58 km dari muara sungai (Nedeco/Euroconsult-Biec,1984).
2.2.3 Zona III: Wilayah rawa lebak, atau rawa non-pasang surut
Wilayah rawa lebak terletak lebih jauh lagi ke arah pedalaman, dan
dimulai di wilayah dimana pengaruh pasang surut sudah tidak ada lagi. Oleh
karena itu, rawa lebak sering disebut sebagai rawa pedalaman, atau rawa non-
pasang surut. Biasanya sudah termasuk dalam daerah aliran sungai bagian
tengah pada sungai-sungai besar. Landform rawa lebak bervariasi dan dataran
banjir (floodplains) pada sungai-sungai besar yang relatif muda umur
geologisnya, sampai dataran banjir bermeander (meandering floodplains),
termasuk bekas aliran sungai tua (old river beds), dan wilayah danau oxbow
(oxbow lakes) pada sungai-sungai besar yang lebih tua perkembangannya.
Pengaruh sungai yang sangat dominan adalah berupa banjir besar musiman,
yang menggenangi dataran banjir di sebelah kiri-kanan sungai besar.
Peningkatan debit sungai yang sangat besar selama musim hujan, "verval"
sungai atau perbedaan penurunan tanah dasar sungai yang rendah, sehingga
aliran sungai melambat, ditambah tekanan balik arus air pasang dari muara,
mengakibatkan air sungai seakan-akan "berhenti" (stagnant), sehingga
menimbulkan genangan banjir yang meluas. Tergantung dari letak dan posisi
lahan di landscape, genangan dapat berlangsung dari sekitar satu bulan sampai
lebih dari enam bulan. Sejalan dengan perubahan musim yang ditandai dengan
berkurangnya curah hujan, genangan air banjir secara berangsur-angsur akan
surut sejalan dengan perubahan musim ke musim kemarau berikutnya.
2.3 Luas Lahan Rawa
Belum seluruh wilayah lahan rawa di Indonesia diteliti cukup intensif.
Dari ketiga pulau besar, Sumatera, Kalimantan, dan Papua, hanya lahan rawa
pasang surut di pantai timur Sumatera (Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan
Lampung) telah banyak diteliti dan dipetakan tanahnya antara tahun 1969-1980
dalam rangka pelaksanaan P4S (Proyek Pengembangan Persawahan Pasang
Surut), Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (sekarang,
Departemen Kimpraswil). Seluruh wilayah Pulau Sumatera, termasuk wilayah
lahan rawanya, kemudian dipetakan tanahnya pada tingkat tinjau oleh proyek
LREP-I (Land Resource Evaluation and Planning Project) Pusat Penelitian
Tanah (sekarang Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian), antara
tahun 1986-1990.
Di Papua, baru wilayah di sekitar Merauke, yakni daerah S. Digul-
Kabupaten Merauke, dan daerah S. Digul-Pantai Kasuari, seluas 3,7 juta ha
sudah dipetakan pada tingkat tinjau oleh Pusat Penelitian Tanah untuk
pengembangan wilayah di tempat tersebut (Puslittan, 1985, 1986). Wilayah
rawa lainnya, seperti di sekitar Teluk Berau-Bintuni, dan di pantai utara pulau
antara Nabire dan Sarmi belum pernah diteliti tanahnya. Tim peneliti
Nedeco/Euroconsult-Biec yang melakukan Nationwide study of coastal and
near coastal swamp land in Sumatra, Kalimantan, and Irian Jaya pada tahun
1982-1984, diperkirakan pernah meneliti sebagian lahan rawa, khususnya di
pantai selatan Pulau Papua ini. Selama pelaksanaan P4S antara tahun 1969-
1984, lahan rawa di Papua belum sempat tertangani oleh pemerintah pusat.
Oleh karena tidak lengkapnya data dan informasi lahan rawa, maka
data luas lahan rawa di Indonesia belum dapat ditentukan secara lebih pasti dan
akurat. Luas lahan rawa masih bersifat perkiraan, dan estimasi yang dilakukan
oleh beberapa peneliti atau instansi lain, menunjukkan luas lahan rawa yang
bervariasi, seperti terlihat pada Tabel 1.1
Data luas lahan rawa pertama kali dikemukakan oleh Mulyadi (1977),
yaitu sekitar 39,42 juta ha, sudah termasuk lahan rawa lebak. Data ini kemudian
digunakan oleh Direktorat Rawa, Departemen Pekerjaan Umum (Direktorat
Rawa, 1992; Sugeng, 1992) untuk perencanaan pengembangan lahan rawa.
Sementara itu, Nedeco/Euroconsult-Biec (1984) bekerja sama dengan
Direktorat Sumberdaya Air, Departemen Pekerjaan Umum melaksanakan studi
nasional lahan pantai di Sumatera, Kalimantan, dan Irian Jaya (Papua), tidak
termasuk pulau Sulawesi, memperoleh luas lahan rawa di ketiga pulau tersebut
sebesar 23,5 juta ha.
Selanjutnya, Subagyo et al. (1990) dalam Studi ''wetsoils" di
Indonesia, memperoleh luas lahan basah, termasuk lahan sawah di empat pulau
besar plus Maluku sebesar 43.124.250 ha. Apabila dikurangi luas lahan sawah
di lima pulau/kepulauan tersebut, seluas 4.027.102 ha (data BPS, 2000), maka
diperoleh luas lahan rawa seluas 39.097.148 ha.
Studi yang lebih mendetail dilakukan Nugroho et al. (1991) untuk
menentukan areal potensial lahan pasang surut, rawa, dan pantai di Indonesia.
Dengan menggunakan peta dasar "Tactical Ploatage Chart" (TPC) berskala
1:500.000 yang berjumlah 49 lembar, dan berbagai sumber informasi, utamanya
dari Nedeco/Euroconsult-Biec (1984), peta-peta satuan lahan dan tanah P.
Sumatera dan LREP-I 1990, peta-peta sistem lahan dan RePPProT 1991, dan
berbagai peta tanah dari dokumentasi Puslittanah dan Agroklimat, diperoleh
luas lahan rawa 33.413.560 ha.
2.5 Potensi Lahan Rawa
Dari segi ekonomi lahan rawa mempunyai keragaman lingkungan
fisik, sifat dan watak tanah, kesuburan tanah, dan tingkat produktivitas lahan.
Sebagai akibatnya keragaman hasil produksi tanaman dan pendapatan petani
akan berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lainnya, terlebih lagi
apabila terdapat perbedaan dalam pemberian masukan, teknologi budidaya dan
pengelolaan lahan. Lahan rawa berpotensi menjadi alternatif yang potensial
diusahakan, umumnya untuk bidang pertanian.
Pemanfaatan hutan rawa utamanya lahan gambut untuk
pengembangan pertanian tanaman pangan dan perkebunan menghadapi kendala
yang cukup berat, terutama dalam mengelola dan mempertahankan
produktivitas lahan. Keberhasilan pengembangan lahan gambut di suatu wilayah
tidak menjadi jaminan bahwa di tempat lain akan berhasil pula.
Pemanfaatan lahan yang tidak cermat dan tidak sesuai dengan
karakteristiknya dapat merusak keseimbangan ekologis wilayah. Berkurang atau
hilangnya kawasan hutan rawa gambut akan menurunkan kualitas lingkungan,
bahkan menyebabkan banjir pada musim hujan serta kekeringan dan kebakaran
pada musim kemarau. Upaya pendalaman saluran untuk mengatasi banjir, dan
pembuatan saluran baru untuk mempercepat pengeluaran air justru
menimbulkan dampak yang lebih buruk,yaitu lahan pertanian di sekitarnya
menjadi kering dan masam, tidak produktif, dan akhirnya menjadi lahan tidur,
bongkor, dan mudah terbakar. Hutan rawa gambut mempunyai nilai konservasi
yang sangat tinggi dan fungsi-fungsi lainnya seperti fungsi hidrologi,cadangan
karbon, dan biodiversitas yang penting untuk kenyamanan lingkungan dan
kehidupan satwa. Jika ekosistemnya terganggu maka intensitas dan frekuensi
bencana alam akan makin sering terjadi, bahkan lahan gambut tidak hanya
dapat menjadi sumber CO2, tetapi juga gas rumah kaca lainnya seperti metana
(CH4) dan nitrousoksida (N2O).
Pengembangan lahan gambut untuk pertanian menghadapi banyak
kendala, antara lain: (1) tingkat kesuburan tanah rendah, pH tanah masam,
kandungan unsur hara NPK relatif rendah, dan kahat unsur mikro Cu, Bo, Mn
dan Zn; (2) penurunan permukaan tanah yang besar setelah di-drainase; (3) daya
tahan (bearing capa-city) rendah sehingga tanaman pohon dapat tumbang, dan;
(4) sifat mengkerut tak balik, yang dapat menurunkan daya retensi air dan
membuatnya peka erosi.Sehubungan dengan hal itu, pemanfaatan lahan gambut
untuk pertanian pada awalnya memerlukan investasi yang besar.
Potensi dan Kesesuian Lahan Rawa Gambut untuk Pertanian
Potensi lahan gambut untuk pengembangan pertanian dipengaruhi
oleh kesuburan alami gambut dan tingkat manajemen usaha tani yang
diterapkan. Produktivitas usaha tani lahan gambut pada tingkat petani, dengan
input rendah sampai sedang, berbeda dengan produktivitas lahan gambut
dengan tingkat manajemen tinggi yang biasanya diterapkan oleh swasta atau
perusahaan besar. Tanaman yang dapat digunakan untuk memanfaatkan lahan
rawa gambut misalnya :
a. Padi Sawah
Lahan rawa gambut yang sesuai untuk padi sawah adalah tanah
bergambut (teballapisan gambut 20-50 cm) dan gambutdangkal (0,5-1,0
m). Padi kurang sesuai pada gambut sedang (1-2 m). Lahan rawa gambut
dengan ketebalan lebih dari 2 m tidak sesuai untuk padi; tanaman tidak
dapat membentuk gabah karena kahat unsur mikro, khususnya Cu.
b. Tanaman Palawija, Hortikultura, dan Tanaman Lahan Kering Semusim
Lahan rawa gambut yang sesuai untuk tanaman pangan semusim
adalah gambut dangkal dan gambut sedang (ketebalan gambut 1-2 m).
Pengelolaan air perlu diperhatikan agar air tanah tidak turun terlalu dalam
dan turun secara drastis, serta mencegah terjadinya gejala kering tak balik,
penurunan permukaan gambut yang berlebihan danoksidasi lapisan yang
mengandung bahan sulfidik (pirit).
Penggunaan lahan rawa pasang surut yang bertopografi datar untuk
tanaman pangan lahan kering umumnya dengan menerapkan sistem
surjan. Dalam sistem ini, lahan secara bersamaan dimanfaatkan untuk
padi sawah (pada tabukan) dan tanaman lahan kering (pada
pematang).Tujuan utamanya adalah untuk memanfaatkan lahan secara
optimal melalui pengelolaan air yang tepat. Pengembangan surjan
memberikan keuntungan komparatif berupa: (1) produksi lebih stabil,
terutama untuk tanaman padi; (2) pengelolaan tanah dan pemeliharaan
tanaman lebih murah; (3) intensitas tanaman lebih tinggi; dan (4)
kemungkinan diversifikasi lebih besar.Pembuatan surjan di lahan rawa
perlu memperhatikan beberapa faktor, yaitu kedalaman lapisan bahan
sulfidik (pirit), tipe luapan air, ketebalan gambut, dan peruntukan lahan
atau jenis komoditas yang akan dikembangkan.
c. Tanaman Tahunan/Perkebunan
Lahan rawa gambut yang sesuai untuk tanaman tahunan/perkebunan
adalah yang memiliki ketebalan gambut 2-3 m. Beberapa tanaman yang
dapat tumbuh baik adalah lain, karet, kelapa sawit, kopi, kakao, rami dan
sagu. Seperti pada tanaman semusim, pengelolaan air pada tanaman
perkebunan perlu diperhatikan dengan seksama. Pengeluaran air secara
berlebihan akan menyebabkan gambut menjadi kering dan berpotensi
mudah terbakar. Untuk menjaga keseimbangan ekologis, kedalaman
saluran drainase untuk tanaman karet disarankan sekitar 20 cm dan untuk
tanaman kelapa sawit maksimal 80 cm. Pada lahan rawa gambut dengan
ketebalan lebih dari 3 m, tanpa input dan manajemen tingkat tinggi,
tanaman tidak produktif. Pemanfaatan lahan gambut dalam, lebih dari 3
m, untuk pengembangan pertanian menghadapi berbagai kendala,
terutama pada tingkat manajemen rendah sampai sedang. Pertumbuhan
tanaman terganggu karena kesuburan tanah rendah dan kahat unsur hara
mikro, di samping kesulitan dalam mendesain saluran drainase. Tanaman
perkebunan, seperti kelapa sawit, masih dapat dikembangkan pada lahan
rawa gambut yang tidak terlalu dalam bila disertai dengan pengelolaan air
yang memadai dan pemberian amelioran.
2.6 Upaya Peningkatan Produktivitas Lahan Rawa
Produktivitas lahan rawa dapat ditingkatkan melalui pendekatan
varietas, pengelolaan hara dan air serta penataan lahan. Bila dilakukan
optimalisasi lahan rawa dengan teknologi inovasi baru khusus untuk lahan rawa.
Untuk meningkatkan produktivitas pertanian di lahan rawa diperlukan
pendekatan yang holistik menyangkut aspek perbaikan agrofisik lahan (tanah,
air, dan tanaman) dan kemampuan sosial ekonomi (modal, kelembagaan, dan
adaibudaya). Keragaman hasil yang dicapai pertanian lahan rawa cukup
memadai walaupun masih beragam akibat keberagaman dari sifat agrofisik
lahan (tipologi lahan, tipe luapan, mintakat perairan), teknologi pengelolaan,
dan penggunaan masukan (input) seperti varietas, kapur, pupuk, dan lainnya.
Produktivitas tanaman yang dapat dicapai di lahan rawa tergantung
pada tingkat kendala dan ketepatan pengelolaan. Namun seperti pada umumnya
petani, penanganan pasca panen, termasuk pengelolaan hasil masih lemah,
terkait juga dengan pemasaran hasil yang terbatas sehingga diperlukan
dukungan kelembagaan yang baik dan profesional serta komitmen pemerintah
propinsi/kabupaten dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan
petani rawa.
Selain tanaman pangan (padi, palawija, dan umbi-umbian) dan
perkebunan (karet, kelapa, kelapa sawit), beberapa tanaman sayur-mayur (kubis,
tom at, selada, dan cabai) dan buah-buah seperti rambutan, yang memadai
dengan pengelolaan yang baik.
Pengelolaan secara hati-hati dari berbagai aspek sangat diperlukan
untuk mendukung keberhasilan pemanfaatan rawa. Teknologi pengelolaan lahan
rawa meliputi :
(1) Pengelolaan air;
Pengelolaan air yang tepat merupakan kunci keberhasilan
pengelolaan lahan rawa.
Dalam rancangan infrastruktur hidrologi, pengelolaan air
dibedakan menjadi :
a. pengelolaan air makro yaitu penguasaan air pada tingkat kawasan
reklamasi dan
b. pengelolaan air mikro, yaitu pengaturan air pada tingkat tersier dan
petak petani.
(2) Pengolahan tanah;
a. biasanya tanah mineral di lahan rawa itu lembek atau sudah
melumpur di waktu lahan digenangi.
b. oleh karena itu petani biasanya hanya menggunakan tajuk atau
melaksanakan pengolahan tanah minimum. Namun ada lahan yang
telah lama dibuka biasanya tanahnya telah mengeras membentuk
bongkah-bongkah.
(3) ameliorasi dan pemupukan;
(4) Pola tanam ;
(5) Pemberantasan hama dan penyakit;
a. hama dan penyakit ini mampu mengagalkan panen sampai 100%.
Karenanya pengendalian hama dan penyakit untuk menjaga
produktivitas sangat diperlukan.
b. faktor penting teknis produksi untuk meningkatkan produktivitas
sawah di lahan rawa adalah pengendalian hama dan penyakit. Kondisi
lahan rawa yang panas dan lembab sangat cocok bagi perkembangan
hama dan penyakit tanaman. Hama-hama penting di sawah rawa adalah
tikus, wereng coklat dan penggerek batang untuk padi dan penggerek
polong untuk kedelai.
(6) Panen dan pasca panen.
Pemanfaatan lahan rawa yang bijak serta pengelolaan yang serasi dengan
karakteristik, sifat dan perilakunya serta didukung oleh pembangunan prasarana
fisik (terutama tata air), sarana, pembinaan sumberdaya manusia dan penerapan
teknologi spesifik lokasi diharapkan dijadikan dasar pengembangan lahan rawa
secara lestari dan berwawasan lingkungan. Konsep pemanfaatan rawa sebaiknya
berupa pengubahan peruntukan tanpa harus mengubah fungsi rawanya. Kalau
mengubah fungsi (tandon air) rawa, maka rawa menjadi lahan kering (tadah
hujan) yang kualitas lahan keringnya tidak sama dengan lahan kering bentukan
alam.
Permasalahan yang selama ini ditemui dalam pemanfaatan lahan
rawa untuk pertanian adalah:
1) sistem tata air yang belum terkendali,
2) rendahnya tingkat kesuburan tanah,
3) masalah biologi berupa gangguan hama, penyakit dan gulma,
4) masalah sosial ekonomi seperti tenaga kerja, keterbatasan modal, tingkat
pendidikan, pemberdayaan petani, kelembagaan, status tanah, tenaga
penggarap, koordinasi, serta sarana dan prasarana yang kurang memadai.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Indonesia memiliki lahan rawa terluas, hal ini dapat dimanfaatkan
karena lahan rawa merupakan lahan alternatif untuk dikembangkan khususnya di
bidang pertanian. Lahan rawa memiliki potensi yang sangat besar untuk
dimanfaatkan, hal ini dapat dilihat dari sifat dan karakteristik lahan rawa yang
merupakan lahan peralihan diantara sistem daratan maupun sistem perairan, sepanjang
tahun atau dalam waktu yang panjang dalam setahun selalu tergenang air, permukaan
air tanahnya dangkal, topografinya relatif datar, dan sebagian besar lahan dipengaruhi
oleh pasang surut air laut.
Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas lahan rawa
harus dengan pengelolaan yang baik dan secara hati-hati dari berbagai aspek untuk
mendukung keberhasilan pemanfaatan rawa. Teknologi pengelolaan lahan rawa
meliputi :
(1) pengelolaan air;
(2) pengolahan tanah;
(3) ameliorasi dan pemupukan;
(4) pola tanam;
(5) pemberantasan hama dan penyakit;
(6) panen dan pasca panen.
DAFTAR PUSTAKA
http://henggarrisa.wordpress.com/2012/11/29/sekilas-tentang-rawa/
http://faulinamilianieali.blogspot.com/2012/01/produktivitas-lahan-rawa.html
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Departemen
Pertanian, 2006