Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Tujuan Percobaan
a) Untuk memberikan pengertian dan pemahaman tentang instrumentasi pengukuran
temperatur.
b) Dapat menggunakan instrumentasi pengukuran temperatur.
c) Mampu mengkalibrasi alat ukur temperatur.
d) Menentukan linieritas alat ukur temperatur..
e) Menentukan responsibilitas temperatur.
B. Bahan dan Alat
a) Seperangkat alat pengukuran temperatur.
b) Termometer Celcius.
c) Termometer Fahrenheit.
d) Termokopel Celcius.
e) Stopwatch
f) Es batu / es mencair, P = 1 atm. (0C = 32F = 273 K)
g) Cairan panas / air mendidih, P = 1 atm. (100C = 212F = 373 K)
C. Prosedur Percobaan
a. Prosedur Kalibrasi Termokopel
1) Pada es mencair
a) Masukkan es kedalam termos.
b) Ambilkan termokopel, masukkan kedalam es diamkan selama 2 menit.
c) Baca skala pada temokopel dan catat.
d) Ulangi langkah 2 dan 3 sebanyak 5 kali.
e) Hitung suhu rata-rata.

2

2) Pada air mendidih
a) Masukkan air kedalam pemanas air .
b) Didihkan air tersebut
c) Celupkan temokopel kedalamnya.
d) Baca skala temokopelnya.
e) Hitung suhu rata-rata.
b. Prosedur Kalibrasi Termometer
1) Pada es mencair
a) Masukkan es kedalam termos.
b) Ambil temometer celupkan kedalam air es diamkan selama 2 menit.
c) Baca skala termometer dan catat.
d) Ulangi langkah 2 dan 3 sebanyak 5 kali.
e) Hitung suhu rata-rata.
2) Pada air mendidih
a) Masukkan air kedalam pemanas air.
b) Didihkan air tersebut
c) Celupkan termometer kedalamnya.
d) Baca skala termometernya.
e) Hitung suhu rata-rata.
c. Prosedur Menentukan Linieritas Termometer
a) Masukkan cairan kedalam wadah.
b) Ukur temperatur cairan dengan termometer.
c) Panaskan cairan tersebut dengan laju panas konstan. (bisa diukur pada skala 3 atau 4).
d) Ukur temperatur cairan tiap 2 menit.
e) Hentikan pengukuran cairan pada saat cairan sudah mendidih ( suhu konstan).




3

d. Prosedur Menentukan Linieritas Termokopel
a) Masukkan cairan kedalam wadah.
b) Ukur temperatur cairan dengan termometer.
c) Panaskan cairan tersebut dengan laju panas konstan. (bisa diukur pada skala 3 atau 4).
d) Ukur temperatur cairan tiap 2 menit.
e) Hentikan pengukuran cairan pada saat cairan sudah mendidih ( suhu konstan).

e. Prosedur Menentukan Responsibilitas (termokopel).
a) Siapkan cairan yang sudah bersuhu konstan.
b) Masukkan termometer kedalam cairan hingga suhu dapat dibaca secara konstan.
c) Pada saat yang sama ukur cairan tersebut dengan termokopel dan disaat yang
bersamaan hidupkan stopwatch.
d) Lihat kenaikan temperatur hingga mencapai temperatur cairan yang konstan sama
dengan suhu termokopel.
e) Matikan stopwatch.
f) Ulangi hingga 10 kali percobaan.
f. Prosedur Menentukan Responsibilitas (termometer).
a) Siapkan cairan yang sudah bersuhu konstan.
b) Masukkan termokopel kedalam cairan hingga suhu dapat dibaca secara konstan.
c) Pada saat yang sama ukur cairan tersebut dengan termometer dan disaat yang
bersamaan hidupkan stopwatch.
d) Lihat kenaikan temperatur hingga mencapai temperatur cairan yang konstan sama
dengan suhu termometer.
e) Matikan stopwatch.
f) Ulangi hingga 10 kali percobaan.


4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Temperatur atau suhu merupakan derajat aktivitas termal partikel dalam suatu
material. Apabila dua benda yang berbeda suhunya dikontakkan, maka akan terjadi transmisi
panas dari benda yang lebih panas ke benda yang lebih dingin. Kejadiaan ini akan terus
berlangsung sampai tercapai keadaan keseimbangan termal yaitu pada temperatur kedua benda
itu sama.
Tujuan dari pengukuran temperatur :
1. Mencegah terjadinya kerusakan pada alat.
2. Mendapatkan mutu produksi / kondisi yang diinginkan.
3. Pengontrolan jalannya proses.
Metode pengukuran temperatur :
1. Secara mekanik menggunakan sensor yang merespon temperatur dengan perubahan sifat
mekanis. Seperti diformasi bellows, diafragma atau element bourdon.
2. Secara elektrik menggunakan sensor yang merespon temperatur dengan menghasilkan
perubahaan tahanan maupun tenaga listrik.
Beberapa metode pengukuran temperatur yang sering digunakan diindustri serta pengukurannya.
Tabel 2.1 Pengukuran Temperatur yang Sering digunakan
No Metode Rentang Pengukuran
1 Filled Sistem - 195 s/d 760
2 Termokopel - 200 s/d 1700
3 Resistansi
- RTD - 250 s/d 650
- Termistor - 195 s/d 450
4 Pirometer - 40 s/d 3000
5


Pengertian Termometer
Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu ataupun perubahan suhu. Istilah
termometer berasal dari bahasa latin, yaitu thermo yang berarti bahan, dan meter berarti
untuk mengukur. Prinsip kerja termometer ada bermacam-macam yang paling umum digunakan
adalah termometer air raksa.
I. Termometer Air Raksa
Alat ini terdiri dari pipa kapiler yang menggunakan material kaca dengan kandungan merkuri
dibagian ujung bawah. Untuk tujuan pengukuran pipa ini dibuat sedemikian rupa sehingga
hampa udara, jika temperatur baik merkuri akan mengembang naik kearah atas pipa dan
memberikan petunjuk tentang suhu disekitar alat ukur sesuai dengan skala yang sudah
ditentukan.
II. Filled Sistem Termometer
Pengukuran temperatur dengan filled sistem termasuk cara mekanik. Instrument pengukuran
dengan sistem ini terdiri atas :
a) Bulb : Sebagai sensor
b) Pipa kapiler : Sebagai element penghubung
c) Bourdon bellow (diafragma) : Sebagai element yang akan berubah dengan adanya
perubahan temperatur.
Lembaga Selentifie Apparatur Manufactures Association (SAMA) membagi filled menjadi 4
kelas yaitu :
1. Kelas I liquid filled volume change (tidak termasuk merkuri).
a. Full compensation
b. Case compensation
2. Kelas II vapour filled pressure change.
a. Dirancang untuk temperatur diatas suhu lingkungan.
b. Dirancang untuk temperatur dibawah suhu lingkungan.
6


c. Dirancang untuk temperatur diatas dan dibawah suhu lingkungan.
d. Dirancang untuk seluruh temperatur.
3. Kelas III gas filled pressure change.
a. Full compensation
b. Case compensation
4. Kelas IV mercury filled volume change.
a. Full compensation
b. Case compensation

Tabel 2.2 Rentang Pengukuran Filled System Termometer untuk masing-masing Kelas dan
Fluida Isiannya.
Kelas Fluida isian Rentang pengukuran (C)
I
Naftalena
Kerosin
Etil benzene
Etanol
- 15 s/d 260
- 50 s/d 315
- 85 s/d 175
- 130 s/d 50
II
Air
Toluene
Aseton
Dietil eter
Butana
Metil klorida
Propana
100 s/d 230
115 s/d 315
65 s/d 200
40 s/d 185
- 5 s/d 150
- 10 s/d 120
- 40 s/d 70
III
Helium
Nitrogen
Argon
- 195 s/d -130
- 130 s/d 170
470 s/d 760
IV Mercury - 35 s/d 650

7


Kelebihan filled sistem termometer.
a. Konstruksi sederhana dan kuat
b. Harga relatif murah
c. Tidak menimbulkan bahaya listrik
Kekurangan filled sistem termometer.
a. Respon relatif rendah
b. Daerah kerja temperatur dibawah 150F
c. Kerusakan tabung sensor memerlukan pengganti seluruh sistem termal
d. Jarak transmisinya sangat terbatas
III. Termometer Bimetal
Termometer bimetal termasuk dengan cara kerja mekanik. Yaitu berdasarkan dengan
memanfaatkan pemuaian dua jenis logam apabila terkena panas dengan koefisien pemuaian
masing-masing logam berbeda. Kedua logam tersebut disatukan menjadi suatu lempengan yang
berbentuk pelat. Adanya perubahan temperatur akan mennimbulkan pemuaian deferensial pada
pelat tersebut sehingga terjadi lengkungan.
Termometer bimetal ada yang bertipe :
1. Spiral.
2. Single helix dan multiple helix.
Pada tahun 1742 adres celcius dalam bukunya menjelaskan metode kalibrasi alat temometer
yaitu :
1. Letakkan silinder termometer pada es yang sedang mencair beri tanda poin pada
termometernya disaat seluruh air tersebut berwujud cair seluruhnya, poin ini adalah poin
titik beku air.
2. Dengan cara yang sama, tandai poin termometer disaat seluruh air tesebut mendidih
seluruhnya saat dipanaskan.
8

3. Bagi panjang dari dua poin diatas menjadi seratus bagian yang sama.
Metode Kalibrasi Termometer
1. Tempatkanlah termometer didalam air yang membeku untuk memperoleh temperatur
yang sama dengan 0C.
2. Tempatkan termometer didalam air yang mendidih untuk memperoleh temperatur yang
sama dengan 100C.
3. Bagi panjang dari dua poin diatas menjadi seratus bagian yang sama.
IV. Termokopel
Termokopel merupakan instrument ukur temperature yang bekerja dengan cara elektrik.
Termokopel merupakan pasangan konduktor yang terdiri atas dua jenis logam paduan yang
ujungnya disatukan dengan lilitan. Pengelasan maupun dengan cara ditekan pada tekanan
tertentu. Titik persatuan antara kedua material ini disebut dengan titik hubung.
Tabel 2.3 Tipe-tipe Termokopel Material yang digunakan dan Rentang Temperaturnya.
Tipe Material yang digunakan Rentang temperature (
o
C)
K Khromel (+) dan Alumel (-) -200 s.d 1200
E Khromel (+) dan konstanta (-) -270 s.d 100
J Besi (+) dan konstanta (-) -40 s.d 750
N Nikosil (+) dan Nisil (-) 0 s.d 1200
B Platina 6% Rhodium (+) dan Platina 30% Rhodium (-) 100 s.d 1200
R Platina (+) dan Platina 13% Rhodium (-) 100 s.d 1720
S Platina (+) dan Platina 10% Rhodium (-) 100 s.d 1720
T Tembaga (+) dan konstanta (-) -200 s.d 350
C Tungsten 5% Rhenium (+) dan Tungsten 26% Rhenium (-) s.d 2320
M Nikel 18% Molibdenum (+) dan Nikel 0,8% Molibdenum (-) 200 s.d 1460
Berdasarkan informasi terakhir dari Wikipedia The Free Encyclopedia (20 November 2007)


9


V. Termokopel Infrared
1. Metode baru pengukuran temperature pada permukaan
a. Tidak bertenaga mesin
b. Harga murah
c. Non invasive
d. Dapat dipasang pada pengontrol termokopel yang sesuai
2. Cara kerja dari Termokopel Infrared
a. Menerima energy panas dari objek tersebut merupakan tujuan dan mengubah
panas menjadi energy potensial
b. Sinyal hasil pengeluaran milivolt adalah skala yang diinginkan yang sama sebagai
thermometer infrared yang lainnya.
3. Keunggulan Termokopel infrared
a. Infrared permanometer dapat mengukur objek yang bergerak, berputar atau
bergetar
b. Dapat mengukur temperature >1500
o
C
c. Tidak merusak atau mengotori permukaan objek yang diukur
d. Respon waktu dalam milidetik.
VI. Resisteance Themperatur Detector (RTD)
Termometer RTD merupakan instrument ukur temperature yang bekerja berdasarkan pada
perubahan harga tahanan listrik pada kawat sensor akibat dari perubahan temperature. Pada
umumnya material mempunyai resistansi dengan koefisien temperature positif, artinya
resistansi naik seiring dengan naiknya temperature.

10

Gambar 2.1 RTD.
Tabel 2.4 Bahan RTD beserta koefisien temperatur dan jenis resistansinya.
Bahan Koefisien temperature Jenis Resistansinya
Aluminium 0,0045 2,65
Besi 0,002 s.d 0,006 10
Karbon -0,0007 1400
Nikel 0,0067 6,85
Perak 0,0041 1,59
Tembaga 0,0043 1,67
Termistor -0,068 s.d 0,14 109
Platina 0,0048 5,65
Wolfram 0,0039 10,5

Konstruksi RTD dan sensor RTD dengan bahan platinum disajikan dalam gambar di bawah ini

Gambar 2. Konstruksi dan Sensor RTD (tampak dalam).


11

Gambar 2.3 Konstruksi dan Sensor RTD (tampak luar).
Dari berbagai bahan yang dapat digunakan RTD. Bahan platina banyak digunakan. Sensor
platina mempunyai sensitifitas yang paling tinggi besarnya sensivitas suatu bahan bergantung
juga pada temperature.
Tabel 2.5 Sensitifitas Platina menurut Temperatur
Temperatur Sensitifitas
0 0.390
100 0.378
200 0.367
300 0.355
400 0.344

Pada umumnya RTD platina komersial dapat digunakan untuk pengukuran temperature pada
temperature -230 C. Alat ini mencapai akurasi 0,1 C jika digunakan sesuai dengan
spesifikasinya. RTD platina biasanya distandarisasi memiliki resistansi 100 pada 0 C. Pada
penggunaan diatas 600 C dianjurkan memakai resistansi 10.
Berbeda dengan RTD platina, RTD dengan bahan nikel tidak distandarisasi, karena setiap
pabrik membuat resistansi yang sama. Salah satunya mempunyai resistansi 233,16 pada 0C.
Batas pengukuran RTD nikel adalah -196C hingga 360C dengan akurasi lebih jelas dibanding
platina RTD nikel mempunyai kelebihan karena bahan ini mudah dilimerisasi dengan jembatan
wheat 50.
Termometer Inframerah
Termometer inframerah menawarkan kemampuan untuk mendeteksi temperatur secara
optik, selama objek diamati radiasi energi sinar inframerah diukur dan disajikan sebagai suhu.
Mereka menawarkan metode pengukuran suhu yang cepat dan akurat dengan objek dari kejauhan
dan tanpa disentuh situasi ideal dimana objek bergerak cepat, jauh letaknya sangat panas, berada
12

di lingkungan yang bahaya atau adanya kebutuhan menghindari kontaminasi objek (seperti
makanan obat-obatan, dll).
Termometer inframerah mengukur suhu menggunakan radiasi kotak hitam yang
dipanaskan objek. Kadang menggunakan laser jika menggunakan laser untuk membantu
pekerjaan pengukuran atau termometer tanpa sentuhan untuk menggambarkan kemampuan alat
mengukur suhu dari jarak jauh. Dengan mengetahui jalan energi inframerah yang di pancarkan
oleh objek dan emisinya temperatur objek dapat di bedakan.
Desain utama terdiri dari lensa pemfokus energi inframerah pada detektor yang
mengubah energi menjadi sinyal elektrik yang biasa ditunjukkan dalam unit temperatur setelah
disesuaikan dengan variasi temperatur lingkungan.
Termometer inframerah berguna untuk mengukur suhu pada keadaan dimana termokopel
atau sensor tipe lainnya tidak dapat digunakan atau tidak menghasilkan suhu yang akurat untuk
beberapa keperluan.
Termometer Inframerah dapat digunakan untuk beberapa fungsi pengamatan temperatur:
1. Mendeteksi awam untuk untuk sistem operasi teleskop jarak jauh.
2. Memeriksa peralatan mekanik atau kontak sekering listrik atau saluran hotspot.
3. Memeriksa suhu pemanas atau oven, untuk tujuan kontrol dan kalibrasi.
4. Mendeteksi titik api/menunjukkan diagnosa pada produksi papan rangkaian listrik.
5. Memeriksa titik api bagi pemadam kebakaran.
6. Mendeteksi suhu tubuh makhluk hidup.
7. Memonitor proses pendinginan atau pemanasan material untuk penelitian dan
pengembangan kualitas tensial pada manufaktur.
Jenis-jenis sensor.
1. Sistem pencitraan garis infra merah biasanya menentukan titik api permintaan putar
untuk secara terus menerus menandai ruang yang luas pada permukaan.
2. kamera inframerah didesain dimana tiap pixel menunjukkan temperatur.


13




Tabel 2.6 Sifat Beberapa Termokopel pada Suhu 25

C
Tipe Material Temperatur kerja (

C) Sensitivitas (MN/

C)
E Ni-Cr dan Nu-Ni -270 1000 60,9
J Fe dan Cu-Ni -210 1200 51,7
K Ni-Cr dan Ni-Al -270 1350 40,6
T Cu dan Cu-Ni -270 400 40,6
R Pt dan Pt (87%), RH (13%) -50 1750 6
S Pt dan Pt (90%), RH (10%) -50 1750 6
B Pt (70%) RH (10%) dan Pt
(94%) RH (6%)
-50 1750 6

Pengukuran temperatur dengan termokopel.
Rangkaian alat di bawah ini dapat digunakan untuk melakukan pengukuran temperatur dengan
kisaran 0C hingga 100C dengan menggunakan termokopel tipe K. Jika nilai nilai komponen
rangkaian ini di ubah maka kita dapat menggunakan konfigurasi rangkaian yang sama untuk
melakukan pengukuran temperatur yang berbeda serta dengan menggunakan tipe termokopel
yang lain.
Sambungan dingin (cold junction) adalah benda dalam kondisi temperatur lingkungan, setiap
variasi atau perubahan yang terjadi ini akan di kompensasi oleh perubahan jatuh tegangan arah
maju dengan sekitar 2 m v/c. sebuah pembagi tegangan akan mengurangi nilai tegangan ini
sehingga keluaran termokopel menjadi lebih rendah lagi. Tegangan keluaran termokopel yang
diperkuatkan oleh komponen dan kemudian di sampaikan ukuran 100 A adalah berbanding lurus
terhadap temperatur sambungan termokopel satu tegangan tunggal yang digunakan adalah
baterai 9 V.
14

Titik nol alat ukur dapat ditetapkan dengan mengatur besarnya resistor Rs. Rentang nilai
resistansi resistor Rs serta prosedur kalibrasinya dapat di gunakan dalam poin-poin berikut ini:
1. Tempatkanlah sambungan termokopel di dalam air yang membeku untuk memperoleh
temperatur yang sama dengan 0C.
2. Aturlah Rs untuk memperoleh pembacaan alat ukur yang sama dengan nol.
3. Tempatkanlah sambungan termokopel di dalam air yang mendidih untuk memperoleh
tempat yang sama dengan 100C.

Pelelehan konversi dari keadaan padat ke cair. Titik leleh normal suatu padatan ialah suhu pada
saat padatan dan cairan berada pada keseimbangan. Pelelehan konversi dari keadaan padat ke
cair. Titik leleh normal suatu padatan ialah suhu pada saat padatan dan cairan berada pada
keseimbangan di bawah tekanan 1 atm, titik leleh normal es adalah 0,00C sehingga air dan es
berada bersama-sama dalam waktu tak terhingga (dalam keseimbangan). Pada suhu ini dan
tekanan 1 atm. Jika suhu diturunkan sedikit saja, maka semua airnya membeku, jika suhu
dinaikkan sedikit saja semua airnya meleleh.
Termokopel

Gambar 2.4 Termokopel. Sensor suhu ruangan dalam (C)
Pada dunia elektronika, termokopel adalah sensor suhu yang banyak digunakan untuk mengubah
perbedaan suhu dalam benda menjadi perubahan tegangan listrik (voltase). Termokopel yang
sederhana dapat dipasang, dan memiliki jenis konektor standar yang sama, serta dapat mengukur
15

temperatur dalam jangkauan suhu yang cukup besar dengan batas kesalahan pengukuran kurang
dari 1C.

Prinsip Operasi
Pada tahun 1821, seorang fisikawan Estonia bernama Thomas Johann Seebeck menemukan
bahwa sebuah konduktor (semacam logam) yang diberi perbedaan panas secara gradien akan
menghasilkan tegangan listrik. Hal ini disebut sebagai efek termoelektrik. Untuk mengukur
perubahan panas ini gabungan dua macam konduktor sekaligus sering dipakai pada ujung benda
panas yang diukur. Konduktor tambahan ini kemudian akan mengalami gradiasi suhu, dan
mengalami perubahan tegangan secara berkebalikan dengan perbedaan temperatur benda.
Menggunakan logam yang berbeda untuk melengkapi sirkuit akan menghasilkan tegangan yang
berbeda, meninggalkan perbedaan kecil tegangan memungkinkan kita melakukan pengukuran,
yang bertambah sesuai temperatur. Perbedaan ini umumnya berkisar antara 1 hingga 70
microvolt tiap derajat celcius untuk kisaran yang dihasilkan kombinasi logam modern. Beberapa
kombinasi menjadi populer sebagai standar industri, dilihat dari biaya, ketersediaanya,
kemudahan, titik lebur, kemampuan kimia, stabilitas, dan hasil. Sangat penting diingat bahwa
termokopel mengukur perbedaan temperatur di antara 2 titik, bukan temperatur absolut.
Pada banyak aplikasi, salah satu sambungan (sambungan yang dingin) dijaga sebagai temperatur
referensi, sedang yang lain dihubungkan pada objek pengukuran. Hubungan dingin akan
ditempatkan pada tembaga pada papan sirkuit. Sensor suhu yang lain akan mengukur suhu pada
titik ini, sehingga suhu pada ujung benda yang diperiksa dapat dihitung. Termokopel dapat
dihubungkan secara seri satu sama lain untuk membuat termopile, dimana tiap sambungan yang
panas diarahkan ke suhu yang lebih tinggi dan semua sambungan dingin ke suhu yang lebih
rendah. Dengan begitu, tegangan pada setiap termokopel menjadi naik, yang memungkinkan
untuk digunakan pada tegangan yang lebih tinggi. Dengan adanya suhu tetapan pada sambungan
dingin, yang berguna untuk pengukuran di laboratorium, secara sederhana termokopel tidak
mudah dipakai untuk kebanyakan indikasi sambungan lansung dan instrumen kontrol. Mereka
menambahkan sambungan dingin tiruan ke sirkuit mereka yaitu peralatan lain yang sensitif
terhadap suhu (seperti termistor atau dioda) untuk mengukur suhu sambungan input pada
peralatan, dengan tujuan khusus untuk mengurangi gradiasi suhu di antara ujung-ujungnya. Di
sini, tegangan yang berasal dari hubungan dingin yang diketahui dapat disimulasikan, dan
16

koreksi yang baik dapat diaplikasikan. Hal ini dikenal dengan kompensasi hubungan dingin.
Biasanya termokopel dihubungkan dengan alat indikasi oleh kawat yang disebut kabel ekstensi
atau kompensasi. Kabel ekstensi menggunakan kawat-kawat dengan jumlah yang sama dengan
kondoktur yang dipakai pada Termokopel itu sendiri. Kabel-kabel ini lebih murah daripada kabel
termokopel, walaupun tidak terlalu murah, dan biasanya diproduksi pada bentuk yang tepat
untuk pengangkutan jarak jauh umumnya sebagai kawat tertutup fleksibel atau kabel multi inti.
Kabel-kabel ini biasanya memiliki spesifikasi untuk rentang suhu yang lebih besar dari kabel
termokopel. Kabel ini direkomendasikan untuk keakuratan tinggi. Kabel kompensasi pada sisi
lain, kurang presisi, tetapi murah. Mereka memakai perbedaan kecil, biasanya campuran material
konduktor yang murah yang memiliki koefisien termoelektrik yang sama dengan termokopel
(bekerja pada rentang suhu terbatas), dengan hasil yang tidak seakurat kabel ekstensi. Kombinasi
ini menghasilkan output yang mirip dengan termokopel, tetapi operasi rentang suhu pada kabel
kompensasi dibatasi untuk menjaga agar kesalahan yang diperoleh kecil. Kabel ekstensi atau
kompensasi harus dipilih sesuai kebutuhan termokopel. Pemilihan ini menghasilkan tegangan
yang proporsional terhadap beda suhu antara sambungan panas dan dingin, dan kutub harus
dihubungkan dengan benar sehingga tegangan tambahan ditambahkan pada tegangan
termokopel, menggantikan perbedaan suhu antara sambungan panas dan dingin.

Hubungan Tegangan dan Suhu.
Hubungan antara perbedaan suhu dengan tegangan yang dihasilkan termokopel bukan
merupakan fungsi linier melainkan fungsi interpolasi polynomial.
Koefisien an memiliki n antara 5 dan 9. Agar diperoleh hasil pengukuran yang akurat, persamaan
biasanya diimplementasikan pada kontroler digital atau disimpan dalam sebuah tabel
pengamatan. Beberapa peralatan yang lebih tua menggunakan filter analog.

Tipe-Tipe Termokopel
sensitivitas sekitar 52 V/C
1. Tipe N (Nicrosil (Ni-Cr-Si alloy) / Nisil (Ni-Si alloy))
Stabil dan tahanan yang tinggi terhadap oksidasi membuat tipe N cocok untuk pengukuran suhu
yang tinggi tanpa platinum. Dapat mengukur suhu di atas 1200 C. Sensitifitasnya sekitar 39
V/C pada 900C, sedikit di bawah tipe K. Tipe N merupakan perbaikan tipe K
17

Termokopel tipe B, R, dan S adalah termokopel logam mulia yang memiliki karakteristik yang
hampir sama. Mereka adalah termokopel yang paling stabil, tetapi karena sensitifitasnya rendah
(sekitar 10 V/C) Tersedia beberapa jenis termokopel, tergantung aplikasi penggunaannya
2. Tipe K (Chromel (Ni-Cr alloy) / Alumel (Ni-Al alloy))
Termokopel untuk tujuan umum. Lebih murah. Tersedia untuk rentang suhu 200 C hingga
+1200 C.
3. Tipe E (Chromel / Constantan (Cu-Ni alloy))
Tipe E memiliki output yang besar (68 V/C) membuatnya cocok digunakan pada temperatur
rendah. Properti lainnya tipe E adalah tipe non magnetik.
4. Tipe J (Iron / Constantan)
Rentangnya terbatas (40 hingga +750 C) membuatnya kurang populer dibanding tipe K
Tipe J memiliki mereka biasanya hanya digunakan untuk mengukur temperatur tinggi (>300 C).
5. Type B (Platinum-Rhodium/Pt-Rh)
Cocok mengukur suhu di atas 1800 C. Tipe B memberi output yang sama pada suhu 0C hingga
42C sehingga tidak dapat dipakai di bawah suhu 50C.
6. Type R (Platinum /Platinum with 7% Rhodium)
Cocok mengukur suhu di atas 1600 C. sensitivitas rendah (10 V/C) dan biaya tinggi membuat
mereka tidak cocok dipakai untuk tujuan umum.

7. Type S (Platinum /Platinum with 10% Rhodium)
Cocok mengukur suhu di atas 1600 C. sensitivitas rendah (10 V/C) dan biaya tinggi membuat
mereka tidak cocok dipakai untuk tujuan umum. Karena stabilitasnya yang tinggi Tipe S
digunakan untuk standar pengukuran titik leleh emas (1064.43 C).
8. Type T (Copper / Constantan)
Cocok untuk pengukuran antara 200 to 350 C. Konduktor positif terbuat dari tembaga, dan
yang negatif terbuat dari constantan. Sering dipakai sebagai alat pengukur alternatif sejak
penelitian kawat tembaga. Type T memiliki sensitifitas ~43 V/C.

Penggunaan Termokopel
Termokopel paling cocok digunakan untuk mengukur rentangan suhu yang luas, hingga 1800 K.
Sebaliknya, kurang cocok untuk pengukuran dimana perbedaan suhu yang kecil harus diukur
18

dengan akurasi tingkat tinggi, contohnya rentang suhu 0--100 C dengan keakuratan 0.1 C.
Untuk aplikasi ini, Termistor dan RTD lebih cocok.

Contoh Penggunaan Termokopel yang umum antara lain :
a. Industri besi dan baja
b. Pengaman pada alat-alat pemanas
c. Untuk termopile sensor radiasi
d. Pembangkit listrik tenaga panas radioisotop, salah satu aplikasi termopile.