Anda di halaman 1dari 2

MUHASABAH

BAPPL Serang 14 Januari 2014


Muhasabah merupakan usaha seseorang muslim untuk menghitung mengkalkulasi diri
seberapa banyak dosa yang telah dilakukan dan mana-mana saja kebaikan yang belum
dilakukannya. Jadi Muhasabah adalah sebuah upaya untuk selalu menghadirkan kesadaran
bahwa segala sesuatu yang dikerjakannya tengah dihisab, dicatat oleh Raqib dan Atib sehingga
ia pun berusaha agar menghisab dirinya terlebih dahulu agar dapat bergegas memperbaiki diri
apakah kita termasuk orang yang sehat imannya? Banyak parameter yang Allah sediakan untuk
mengukur kadar keimanan seseorang. Salah satunya diungkap dalam Al-Quran;
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama
Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman
mereka (karenanya), dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal (Al-Anfal : 2 )
Sudah terdapatkah ciri-ciri tersebut pada diri kita. Bila kita digoda syaitan untuk berbuat
maksiat, lalu diingatkan bahwa Allah melihat perbuatan kita, tergetarlah hati dan batalkah niat
buruk kita? Bertambahkah iman kita bila mendengar ayat-ayat Allah dibacakan.
Kita patut mempertanyakan hal itu karena iman harus selalu dirawat dan diperiksa
kesehatannya. Perasaan khawatir akan keselamatan iman harusnya selalu ada, agar kita terus
berusaha menguatkannya.
Muhasabah yang paling baik adalah dengan tidak pernah membanggakan amalan-amalannya,
baik amalan ibadah maupun amalan muamalah. Meskipun kebanggaaan itu tidak kita ucapkan
kepada orang lain, hanya sekedar terbetik dalam hati, kalau kita merasa sudah memiliki amal
yang besar atau memadai, berarti kita sudah membanggakan amalan kita. Waspadalah, karena
perasaan demikian merupakan pintu masuk syaitan untuk mengobrak abrik hati dan kehidupan
kita.
Untuk mewujudkan kehidupan aman dan damai, sikap takabur demikian harus dihindari.
Terjadinya ketidakamanan, ketidaktenangan dalam kehidupan ini bukan karena kurangnya
fasilitas hidup, bukan karena kurangnya harta, tetapi karena adanya sifat takabur, tamak dan
dengki.
Hidup memang penuh persaingan dan perlombaaan. Ada orang yang bersaing mendapatkan
kedudukan tinggi. Ada yang berlomba memperbanyak harta. Namun semua itu hanya
perlombaan duniawi. Sedangkan orang yang beriman lebih berorientasi pada perlombaan
strategis duniawi berperspektif ukhrawi. Yakni berlomba-lomba mendapatkan ridha, ampunan
dan surga Allah. Sebagaimana ia perintahkan.
Berlombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dan Tuhanmu dan surga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan
Rosul-rosul-Nya. (Al-Hadid : 21)
Iman inilah yang menentukan harga diri seseorang. Amal ibadah berfungsi meninggikan nilai
iman. Sungguh merugi orang yang imannya kering tak dirawat dan diperiksa, sebagaimana
peringatan Allah :
Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi
perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia
ini dan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang yang
kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka
hapuslah amalan-amalan mereka, dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi
(amalan) mereka pada hari kiamat. (Al-Kahfi : 103-105).
Rawatlah iman dengan muhasabah, karena disitulah kenikmatan hidup yang sesungguhnya.
Muhasabah atau menghisab, menghitung atau mengkalkulasi diri adalah suatu usaha bersiap-
siaga menghadapi dan mengantisipasi yaumal hisab (hari perhitungan) yang sangat dahsyat di
akhirat kelak. Allah SWT : Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan
hendaklah setiap diri, memperhatikan bekal apa yang dipersiapkannya untuk hari esok
(kiamat). Bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu
kerjakan (QS. 59 : 18).
Persiapan diri yang dimaksud tentu saja membekali diri dengan taqwa kepada karena disisi
Allah bekal manusia yang paling baik dan berharga adalah taqwa. Umar r.a pernah
mengucapkan kata-katanya yang sangat terkenal : Haasibu anfusakum qabla antuhasabu
(Hisablah dirimu sebelum kelak engkau dihisab). Allah SWT juga menyuruh kita bergegas untuk
mendapat ampunan-Nya dan Syurga-Nya yang seluas langit dan bumi, diperuntukkan-Nya bagi
orang-orang yang bertaqwa. (QS : 3 : 133) begitu pentingnya kita melakukan muhasabah sejak
dini secara berkala karena segala perkataan dan perbuatan kita dicatat dengan cermat oleh
malaikat Raqib dan Atid dan akan dimintakan pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah.
(QS: 50:17-18). Setiap kebaikan sekecil apapun juga akan dicatat dan diberi balasan berupa
azab-Nya. (QS.99:7-8).
Kemudian bila ia juga gemar memuhasabahi dirinya karena takut pada perhitungan hari akhirat,
maka bisa dipastikan akan terwujud masyarakat yang aman karena semua orang sudah
memiliki pengawasan melekat.
.
PENULIS.MUH. IQBAL