Anda di halaman 1dari 12

Space Maintainer

Pada perkembangan oklusi dari periode gigi sulung ke periode gigi permanen atau
biasa disebut periode gigi bercampur, idealnya akan terjadi perubahan-perubahansecara
bertahap. Perubahan-perubahan tersebut mengarah kepada oklusi yang lebih fungsional,
estetik dan stabil. Namun, bila terjadi gangguan pada proses tersebut, status oklusal pada
periode gigi permanen akan ikut mengalami gangguan. Bila gangguan tersebut terjadi,
dibutuhkan perawatan yang disertai dengan pengukuran untuk mengembalikan proses
perkembangan oklusi menjadi normal kembali.
Prosedur perawatan tersebut mencakup penggunaan beberapa tipe space
maintainerpasif, alat-alat penentu gerakan gigi secara aktif atau kombinasi keduanya,
tergantung pada kasusnya. Dampak kehilangan 1 atau lebih gigi sulung secara prematur pada
pasien dengan umur dan tahap perkembangan gigi yang sama dapat berbeda. McDonald dan
Avety menyatakan Berdasarkan observasi yang dilakukan pada sekelompok anak periode
waktu yang singkat, diperoleh bermacam-macam opini yang kontradiktif dengan indikasi
pemakaian space maintainer setelah terjadi kehilangan gigi sulung secara prematur. Pada
beberapa kasus menunjukkan perkembangan oklusi yang normal atau fungsional. Tetapi pada
umumnya, pasien anak mengalami kehilangan gigi secara prematur yang disertai maloklusi,
menyebabkan perubahan pada oklusi, yang akan menetap untuk seumur hidup.
Space maintainer merupakan suatu alat yang menempati ruang yang ada akibat kehilangan
gigi sulung. Alat tersebut dapat terbuat dari alat logam, plastik, atau bahan resin, dan dibuat
secara spesifik sesuai dengan kondisi rongga mulut tiap anak.Bentuk space maintainer
tampak seperti retainer atau gigitiruan sebagianlepasan. Space maintainer juga menggunakan
unsur gigitiruan untuk mengisi ruang yang ingin dipertahankan. Space maintainer lebih
efektif untuk anak-anak remaja. Hal ini karena mereka telah dapat mengikuti instruksi-
instruksi yang diberikan untuk merawat space maintainer tersebut.
Tidak semua kasus kehilangan gigi secara prematur membutuhkan space maintainer. Bila
gigi yang hilang secara prematur adalah empat gigi depan atas, ruang yang ada akan terjaga
dengan sendirinya sampai gigi permanen erupsi.Untuk membuat space mentainer lepasan,
dilakukan pencetakan terlebih dahulu pada pasien, kemudian hasilnya dikirim ke
laboratorium dental. Kemudian perkembangan benih gigi permanen siap untuk erupsi, space
maintainer dapat dilepas.
Bila tidak ada benih gigi permanen, space maintainer akan digunakan sampai pertumbuhan
anak sempurna pada umur 16-18 tahun, kemudian gigitiruan jembatan, gigitiruan sebagian
lepasan, atau gigitiruan implan dapat ditempatkan pada ruang tersebut
2.4.4 Tipe Space Maintainer
Alat cekat dan lepasan dapat digunakan untuk mempertahankan spaceuntuk mencegah kehila
ngan panjang lengkung. Jika gigi penyangga dapatdirestorasi, suatu alat cekat jadi pilihan.
Alat cekat mengurangi insiden alat patahatau hilang, alat cekat sedkit percaya pada pasien
yang kooperatif(Mathewson,1995).
Ada berbagai macam tipe space maintainer, yang secara umum bisadikelompokkan menjadi
dua katagori, lepasan dan cekat. Space maintainer lepasan (Gambar 2.2) bisa digunakan
untuk periode yang relatif singkat, biasanyasampai 1 tahun. Space maintainer cekat jika
didesain dengan baik,akan tidak begitu merusak jaringan rongga mulut dibandingkan dengan
spacemaintainer lepasan, dan kurang begitu mengganggu bagi pasien. Oleh karena itu,alat ini
dapat digunakan untuk waktu yang lebih panjang, biasanya sampai 2 tahun(Pradipto,
2009).digunakan berukuran 0.025 inchi. Pada penggunaan spacemaintainer jenis lingual arch
ini pasien harus diperiksa secara periodic untuk memastikan bahwa kawat lingual
tidak mengganggu erupsi dari gigi C dan P, serta tidak mengganggu jaringan palatum.
1)Distal shoe
Alat ini digunakan dimana molar dua sulung hilang sebelum erupsimolar satu permanen.
Fungsinya adalah untuk menuntun erupsi darimolar pertama permanen ke posisinya yang
normal dalam lengkungrahang. Adapun kontraindikasi dari penggunaan alat ini
ialah pada pasien dengan oral hygiene yang jelek, pada keadaan hilangnya beberapa gigi
sehingga abutment akan kurang mendukung alloy yangdisemen, dan kurangnya kerja sama
dari pasien dan orang tua.
PEMBAHASAN
Terdapat banyak macam space maintainer yang digunakan dalam perawatan tanggal prematur
gigi sulung. Mulai dari konstruksi yang ringan sampai berupa removable partial denture,
loop dan wire sampai padakonstruksi yang masuk ke dalam jaringan. Perawatan dan waktu
Yang tepat dalam menangani tanggal prematur gigi sulung ini, akan mendapatkan kesehatan
gigi yang optimal dari seorang anak (Wibowo,2008).
Pemilihan rencana perawatan space maintaner didasarkan pada pasien yang kooperatif,
keadaan OH baik, terdapat benih gigi permanen pengganti yang terlihat
pada foto rongsten begitu juga pada gigi-gigi insisif permanen pengganti, dan terdapat
kekurangan tempat 1,6 mm pada rahang bawah. Selain itu, adapun waktu yang tepat
penggunaan space maintainer adalah segera setelah pencabutan gigi sulung
(Hprimaywati,2008) .Hilangnya tempat pada daerah molar dua sulung dapat disebabkan oleh
karena pencabutan dini gigi molar dua sulung atau disebabkan oleh karena molar satu
permanen tumbuh ektopik. Perawatan yang dilakukan pada tanggal prematur gigi molar
dua sulung sebelum molar satu permanen erupsi direkomendasikan menggunakan crown atau
band dengan ekstensi loop atau bar ke distal masuk ke dalam gingiva atau yang disebutdistal
shoe appliance. Piranti ini digunakan untuk menjaga Space atau digunakan untuk
merangsang e rupsi dari molar satu permanen (Wibowo, 2008).
Molar pertama permanen yang tidak erupsi akan bergeser kearah mesial dengan tulang
alveolar jika molar dua sulung tanggal prematur. Akibat mesial drift panjang
lengkung rahang akan berkurang dan impaksi gigi premolar dua (Pinkham, 1988).
Indikasi pemakaian distal shoe yaitu tanggal prematur atau pencabutan molar pertama sulung
sebelum erupsi molar permanen pertama, resopsi akar yang parah dan destruksi tulang
periapikal padamolar dua sulung sebelum molar permanen pertama erupsi, molar
duasulung dengan karies yang parah dan tidak bisa direstorasi, molar permanen pertama
tumbuh ektopik, ankilosis molar dua sulung.Kontraindikasi pemakaian distal shoe yaitu gigi
abutment tidak adekuat karena kehilangan gigi yang banyak, pasien dan orang tua
tidak kooperatif, molar pertama permanen hilang, penyakit sistemik yangmempengaruhi
proses penyembuhan seperti diabetes melitus, kelainan gigi(Brill, 2002).
Distal shoe dikonstruksi seperti band dan loop. Molar pertama sulung diikat dan
loop kontak sepanjang bekas distal gigi molar duasulung. Sepotong stainles steel disolder
sampai ujung distal loop dandiletakkan ke dalam tempat pencabutan. Perluasan stainles steel
sebagai bentuk alat penuntun untuk erupsi molar pertama permanen pada posisi yang tepat
dan harus diposisikan 1mm sebelah mesial marginal ridgemolar yang belum erupsi pada
tulang alveolar. Setelah molar permanentelah erupsi, perluasan dapat diputuskan atau alat
band dan loop yang baru dapat dikonstruksi.
Untuk memastikan perluasan stainles steel pada posisi yang tepat dan menutup akhiran
proksimal molar pertama permanen, pengambilan radiografi periapikal sebelum alat
disemen.Banyak masalah yang diasosiasikan dengan alat distal shoe.Karena pada alat tersebu
t desainnya cantilever, alat tersebut hanyaditempatkan pada satu gigi dan sedikit mudah
pecah (Pinkham, 1988)
ANALISIS GIGI BERCAMPUR
Terdapat beberapa metode perhitungan yang digunakan dalam analisis periode gigi
bercampur, yaitu :
1. Metode Nance
2. Metode Moyers
3. Metode Huckaba
4. Metode Johnson dan Tanaka
A. Metode Nance
1934, Pasadena, California, Amerika Serikat
Dasar : Adanya hubungan antara jumlah mesiodistal gigi desidui dengan gigi pengganti.
Tujuan : Untuk mengetahui apakah gigi tetap yang akan tumbuh memiliki cukup ruang,
kekurangan ruang, atau kelebihan ruang.
Gigi-gigi yg dipakai sbg dasar :
c m1 m2 dan gigi pengganti 3 4 5
Lee Way Space : selisih ruang anterior ruang yang tersedia dan ruang yang digunakan
Masing-masing sisi rahang atas 0,9 mm dan rahang bawah 1,7 mm.
B. Metode Moyers
Metode Moyers diuraikan oleh Oleh: Moyers, Jenkins, dan staf Ortodonsi Universitas
Michigan. Pada analisis ini, sebelum menempatkan space mainteiner atau memulai
pergerakan gigi, dokter gigi harus mengevaluasi panjang lengkung gigi secara menyeluruh.
Hal ini sangat penting selama pertumbuhan gigi permanen dan periode gigi bercampur. Pada
analisis Moyers harus diperhatikan mengenai panjang lengkung dan ukuran dari gigi
geligi.7,9
Analisis Moyer memilki beberapa manfaat. Analisis ini didasarkan pada ukuran gigi baik
salah satu gigi maupun sekelompok gigi dan memperkirakan secara akurat ukuran gigi yang
lain pada mulut. Gigi insisivus rahang bawah, erupsi lebih awal pada pertumbuhan gigi
bercampur dan mungkin diukur secara akurat.7
Keuntungan :
- Kesalahan sedikit dan ralat kecil sehingga diketahui dengan tepat.
- Dapat dikerjakan ahli atau bukan ahli
- Tidak butuh banyak waktu
- Tidak perlu alat khusus
- Dapat dikerjakan dalam mulut atau model
- Baik pada rahang atas atau rahang bawah.
Dasar : adanya korelasi antara satu kelompok gigi dengan kelompok lain
Kelompok gigi yang dipakai sebagai pedoman
21 12
Alasan :
1. Gigi tetap yang tumbuh paling awal
2. Mudah diukur dengan tepat pada intraoral/extraoral
3. Ukuran tidak bervariasi banyak dibandingkan pada rahang atas
PROSEDUR
A. Siapkan:
- model RA & RB
- jangka sorong
- tabel kemungkinan
B. RB: misal sisi kanan dulu
1. Ukur lebar mesiodistal 21 12, jumlahkan
2. Tentukan jumlah ruang yang diperlukan jika gigi tersebut diatur dalam susunan yang baik,
caranya: beri tanda, cari ruang yang disediakan untuk c m1 m2 sisi kanan atau kiri, berapa
ruang 3 4 5 yang seharusnya, lihat tabel rahang atas, bandingkan, kemungkinan hasilnya.
Perbedaan:
1. Tabel kemungkinan dipakai rahang atas
2. Overjet harus dipertimbangkan
C. Metode Huckaba
untuk mengkompensasi karena pembesaran bayangan gigi pada roentgen foto maka diusulkan
rumus untuk menentukan ukuran mahkota gigi permanen yang belum erupsi dengan roentgen
foto sebagai berikut :
x = y
x ydimana,
y = lebar gigi sulung yang diukur pada X-ray film
y = lebar gigi sulung yang sama yang diukur pada studi model atau dalam mulut
x = lebar gigi permanen pengganti pada X-ray film
x = lebar sebenarnya gigi permanen yang belum erupsi
D. Metode Johnson dan Tanaka
Tujuan dari analisis ini, yaitu :
Untuk menganalisis lebar lengkung gigi (merupakan variasi dari metode Moyers)
PROSEDUR
- Ukur jumlah mesiodistal empat gigi insisivus rahang bawah
- Lalu gunakan rumus :
jumlah mesiodistal empat gigi insisivus rahang bawah = X
Jadi, Available space RB = X+10,5 mm
Available space RA = X+11mm

Gigi desidui digunakan untuk proses mekanik makanan sebagai fungsi digesti dan
asimilasi. Keberadaan gigi desidui berpengaruh terhadap perkembangan rahang, erupsi gigi
geligi permanen, kesehatan individu, serta perkembangan fisik dan mental anak-anak (Finn,
2003 ; Kharbanda 1994).
Gigi-gigi desidui berperan sebagai space maintainer dalam lengkung gigi untuk gigi
permanen (Finn, 2003). Oleh karena itu, semakin dini gigi desidui dicabut maka semakin
besar kemungkinan terjadinya pergeseran gigi. Pencabutan dini pada gigi desidui yang belum
saatnya tanggal dapat menyebabkan premature loss serta dapat mempengaruhi tahap
perkembangan oklusal gigi-geligi (Kharbanda, 1994). Meskipun mempertahankan gigi
desidui tidak akan selalu mencegah maloklusi, tetapi dapat mengurangi terjadinya keparahan
dan mempertahankan kesimetrisan hubungan molar permanen (Kennedy, 1992).
Pencabutan gigi yang tidak direncanakan pada periode geligi sulung dan geligi
bercampur dapat menimbulkan kerugian yaitu kehilangan ruang yang dapat menimbulkan
maloklusi, menurunnya fungsi pengunyahan (terutama gigi posterior), gangguan
perkembangan bicara (terutama gigi anterior), dan dapat menimbulkan trauma akibat
pemberian anastesi dan tindakan bedah (Whitwort dan Nunn, 1997 sit. Budiyanti, 2006).
Salah satu usaha preventif untuk mencegah terjadinya pergeseran gigi yang
diakibatkan oleh premature losspada gigi desidui adalah dengan menggunakan alat space
maintainer. Space maintainer yang paling baik adalah gigi desidui itu sendiri, sehingga harus
dilakukan usaha mempertahankan gigi desidui dalam rongga mulut, tetapi jika tidak
memungkinkan maka perlu dibuatkan space maintainer buatan. Namun, apabila terjadi
kekurangan ruang atau terjadi mesial drifting pada celah yang mengalami premature
loss maka digunakan alatspace regainer untuk mendapatkan ruang kembali (Andlaw dan
Rock, 1992).
A. Premature Loss
Premature loss pada gigi desidui dapat terjadi akibat adanya karies, erupsi ektopik atau
trauma yang menyebabkan pergerakan gigi desidui atau permanen yang tidak diinginkan dan
berkurangnya panjang lengkung. Kurangnya panjang lengkung dapat berakibat meningkatnya
keparahan gigi berjejal, rotasi, erupsi ektopik, crossbite, overjet dan overbite yang berlebihan
serta hubungan molar yang kurang baik. Premature loss gigi desidui tipe apapun berpotensi
menyebabkan berkurangnya ruang untuk menampung gigi permanen yang akan
menggantikannya (Kuswandari dkk., 2007).
B. Space Maintainer
Space maintainer adalah suatu alat pasif yang dipakai untuk mempertahankan panjang
lengkung gigi-geligi ketika gigi desidui dicabut secara dini dan memelihara gerak fungsional
gigi. Space maintainer dapat digunakan untuk mencegah pergeseran ke mesial gigi molar
pertama permanen. Space maintainer akan dilepas apabila sudah tidak dipergunakan lagi
untuk menghindari terhalangnya erupsi gigi permanen di bawahnya (Andlaw dan Rock,
1992).
Indikasi pemakaian space maintainer adalahapabila kekuatan yang mengenai gigi tidak
seimbang dan analisis ruang tersebut menunjukkan adanya kemungkinan kekurangan ruang
bagi gigi pengganti (Kemp dan Walters, 2003). Penyebab dari kehilangan/penyempitan ruang
adalah premature loss gigi desidui, mesial drifting tendency, distal adjustment dari gigi
anterior mandibula, ankylosis dan congenitaly missing teeth(Snawder, 1980).
Menurut Snawder (1980), indikasi pemakaian space maintainer diantaranya adalah ketika
terjadi :
- Premature loss gigi molar desidui, karena akan menyebabkan migrasi gigi molar
pertama permanen yang sudah tumbuh serta mengurangi panjang lengkung gigi
- Premature loss gigi caninus desidui, karena akan mengakibatkan pergeseran midline
dan pertumbuhan caninus permanen yang ektopik
- Premature loss gigi incicivus desidui, namun pemakaian space maintainer tidak
mutlak dilakukan.

Space maintainer diperlukan apabila (Finn, 1973) :
- Gigi m2 dicabut sebelum gigi P2 siap menggantikan.
- Gigi m1 tanggal terlalu awal tidak mutlak butuh SM seperti gigi m2. Walaupun
begitu, penelitian menambahkan bahwa pada total polulasi, walaupun sederhana,
sebaiknya jangan mengabaikan situasi yang dapat merugikan pada kasus individual.
- Pada kasus anodonsia P2, lebih baik membiarkan M1 menutup celah.
- Anodonsia I2 sering dibiarkan, agar C menempati ruang yang ada.
- Pemasangan space maintainer anterior untuk tujuan psikologis dan mencegah
timbulnya bad habit.
- M1 tanggal sebelum M2 erupsi, dibiarkan agar M2 menempati ruang tersebut.
- Namun apabila M2 telah erupsi maka ruangan harus dipertahankan.
- m2 dicabut menjelang erupsi M1 dibuatkan space maintainer berupa labial arch
dengan gigi tiruan m2.
- Space maintainer aktif sering digunakan untuk mendesak M1 ke distal.

Kontra indikasi space maintainer menurut Snawder (1980), antara lain:
- Tulang alveolus di atas gigi tersebut sudah hilang dan ruang tersebut cukup untuk
erupsi gigi pengganti.
- Apabila ruang yang akan terjadi akibat premature loss gigi desidui cukup untuk ruang
erupsi gigi pengganti dan tidak ada kemungkinan hilangnya ruang.
- Apabila dilakukan pencabutan untuk pencarian ruang pada perawatan orthodontik.
- Apabila gigi pengganti tidak ada dan penutupan ruang diinginkan.

C. Space Regainer
Alat space regainer digunakan untuk mendapatkan ruang pada keadaan kekurangan
ruang atau terjadinyamesial drifting pada celah yang mengalami premature loss (Andlaw dan
Rock, 1992).
Menurut Snawder (1980), penyebab kehilangan/ penyempitan ruang adalah sebagai
berikut :
1. Premature loss dari gigi desidui
2. Mesial drifting tendency
3. Distal adjustment dari gigi anterior mandibula
4. Ankylosis dan congenital missing teeth
Indikasi pemakaian alat space regainer adalah pada premature loss gigi molar desidui yang
mengakibatkan terjadinya kekurangan ruang erupsi gigi permanen. Kontraindikasi
pemakaian alat space regainer, antara lain :
- Apabila ruang yang akan terjadi akibat premature loss gigi desidui cukup atau lebih
bagi ruang erupsi gigi pengganti
- Apabila dilakukan pencabutan untuk pencarian ruang pada perawatan ortodontik
- Apabila gigi pengganti tidak ada dan penutupan ruang diinginkan
- Pasien alergi terhadap akrilik
- Pasien tidak kooperatif

Syarat-syarat pembuatan space regainer, antara lain :
- Terdapat kekurangan ruang mesio-distal untuk erupsi gigi permanen pengganti
- Mampu menciptakan jarak mesio-distal
- Erupsi gigi antagonis tidak terganggu
- Erupsi gigi permanen tidak terganggu
- Tidak mengganggu fungsi bicara, pengunyahan, dan pergerakan mandibula
- Bentuk sederhana, mudah dalam perawatan, dan mudah untuk dibersihkan
D. Analisis Panjang lengkung
Analisis untuk memperkirakan kebutuhan ruang bagi gigi permanen yang akan erupsi:
A. Nance analysis
Gigi yang terpilih: III, IV, V dan 3, 4, 5 = Lee way space
Lee way space adalah space yang ada akibat selisih besar jumlah ukuran mesio distal gigi
III, IV, V dan 3, 4, 5.
B. Moyers mixed dentition analysis

Dasar pemikirannya adalah korelasi antara satu kelompok gigi dan kelompok gigi lainnya
dalam satu regio. Gigi yang dipakai sebagai pedoman adalah 21 12 (McDonald, dkk.,
1994).

c. Kuswandari and Nishino method
Dasar pemikirannya adalah memperkirakan gigi 345 yang belum erupsi melalui gigi
permanen yang telah erupsi. Gigi yang digunakan sebagai pedoman yaitu gigi 6 2 2 6
D. Metode Huckaba
Metode ini untuk memperkirakan besarnya gigi yang belum erupsi.
Rumus : B = A x B
A
Keterangan : B = besar gigi yang belum erupsi
B= besar gigi yang belum erupsi dalam ro
A = besar gigi yang sudah erupsi
A= besar gigi yang sudah erupsi dalam ro
Setelah melakukan analisis ruang dan panjang lengkung, dapat diketahui
derajat crowding lengkung gigi. Menurut Andlaw dan Rock (1992), gigi dapat digolongkan
sebagai salah satu dari tipe berikut:
1. Gigi tidak berjejal dengan kelebihan ruang.
Ciri-cirinya adalah terdapat spacing di antara gigi-gigi insisivus; ruang yang tersedia dalam
lengkung rahang melebihi ruang yang diperlukan untuk gigi-gigi yang belum erupsi.
2. Gigi tidak berjejal dengan ruangan cukup.
Ciri-cirinya adalah kontak normal di antara gigi-gigi insisivus; ruang yang tersedia dalam
lengkung sama dengan ruang yang diperlukan untuk gigi-gigi yang belum erupsi.
3. Crowding ringan.
Ciri-cirinya adalah sedikit overlap pada gigi-gigi insisivus; ruang yang tersedia dalam
lengkung rahang kurang sampai 4 mm dari yang diperlukan untuk gigi-gigi yang belum
erupsi.
4. Crowding berat.
Ciri-cirinya adalah overlap rotasi atau pergeseran gigi-gigi insisivus; ruang yang tersedia
dalam lengkung rahang kurang melebihi 4 mm dari yang diperlukan untuk gigi-gigi yang
belum erupsi.Hilangnya tempat pada daerah molar dua sulung dapat disebabkan oleh karena
pencabutan dini gigi molar dua sulung atau disebabkan oleh karena molar satu permanen
tumbuh ektopik. Perawatan yang dilakukan pada tanggal prematur gigi molar dua sulung
sebelum molar satu permanen erupsi direkomendasikan menggunakan Crown atau
band dengan ekstensi loop atau bar ke distal masuk ke dalam gingiva atau yang disebut distal
shoe appliance. Piranti ini digunakan untuk menjaga space atau digunakan untuk merangsang
erupsi dari molar satu permanen (Wibowo, 2008)
Kehilangan gigi sulung secara dini dapat menimbulkan anomali pada lengkung rahang oleh
karena adanya pergeseran gigi tetangga dan gigi antagonis ke arah ruangan yang kosong
sehingga menyebabkan terjadinya kehilangan panjang lengkung rahang. Di lain pihak
kehilangan gigi molar sulung sebelum waktunya seringkali menyebabkan maloklusi.
Gigi molar kedua sulung yang bersebelahan dengan molar pertama permanen merupakan gigi
sulung yang sering mengalami karies. Keadaan ini disebabkan karenan gigi tersebut memiliki
daerah morfologi yang memudahkan retensi plak dan berkembangannya karies(Sartika,2002).
2.2Akibat Tanggal Prematur Gigi Sulung
a.Tanggalnya gigi insisivus sulung
Pada keadaan crowded tanggalnya gigi seri sulung yang karies berpengaruh terhadap
perkembangan oklusi dan penutupan ruang dapatterjadi. Bila gigi seri sulung tanggal karena
benturan maka pergeseranatau luka dari gigi pengganti dapat terjadi.
b.Tanggalnya gigi kaninus sulung
Tanggalnya gigi kaninus yang terlalu cepat dapat diikuti denganhilangnya ruang. Tanggalnya
gigi kaninus secara dini terutama padarahang bawah, dapat menimbulkan resorpsi akar
gigi insisivus lateralis permanent yang crowded. Keadaan
ini seringkali unilateral sehinggagigi insisivus yang crowded tergeser ke sisi tersebut dengan
disertai pergeseran garis tengah. Keadaan ini merupakan akibat paling seriusdari tanggalnya
gigi kaninus sulung karena dapat menyebabkan oklusiyang tidak simetris.
c.Tanggalnya gigi molar sulung
Tanggalnya gigi molar kedua sulung yang terlalu cepat mengakibatkan pergerakan ke depan
dari gigi molar pertama tetap yang menutupi ruanguntuk erupsi gigi premolar tetap.
Tanggalnya gigi molar pertama sulung juga menyebabkan hilangnya ruang untuk erupsi gigi
premolar tetap,sebagian karena pergeseran ke depan dari gigi belakang dan sebagiankarena
crowded gigi insisivus seperti pada kaninus sulung (Pradipto,2009)
2.2.2 Analisis Gigi-geligi Campuran
Analisis gigi-geligi campuran dilakukan untuk mengukur ruang yang ada dalam mulut anak
danmembandingkan dengan ruang yang diperlukan untuk erupsi yang sesuai dari gigi
permanen.Ruang paling penting yang harus dipertimbangkan dalam analisis manapun adalah
ruang yangditempati oleh gigi kaninus, premolar satu dan premolar dua. Sebagai pedoman
umum, ruanguntuk gigi-gigi kaninus dan premolar permanen atas kurang lebih 23,0 mm dan
21,0 mm untuk RB. Ada beberapa metode analisa gigi geligi campuran yang sering
digunakan diantaranya adalah:analisis Moyers dan analisis Nance. Penggunaan analisis ruang
cara Moyers pada masa gigi-geligicampuran membuat dokter gigi dapat bertindak secara dini
untuk memecahkan beberapa masalahyang dapat diatasi dengan prosedur interseptif seperti
space maintaine
Syarat-syarat Space Maintainer
- Relasi M1 permanen adalah klas I Angle atau edge to edge, relasi insisivus baik
- Alat harus sederhana dan kuat
- Harus dapat mempertahankan ruangan yang ada sebagai tempat erupsi dari gigi
penggantinya
- Tidak boleh mencegah atau menghalangi pertumbuhan gigi maupun lengkung geligi
- Harus dapat menahan pergerakan gigi antagonis
- Dapat memperbaiki fungsi kunyah, jika erupsi gigi penggantinya masih lama
- Harus dapat memperbaiki estetika penderita bila yang hilang adalah gigi anterior

Indikasi Space Maintainer
- Analisa space menunjukkan kekurangan/kelebihan tempat untuk erupsi gigi permanen
< 3mm
- Tanggal prematur gigi sulung
- Benih gigi permanen lengkap
- Belum terjadi maloklusi
- Pada keadaan dimana bila dibiarkan akan menyebabkan maloklusi
- Bila pasien tanpa space maintainer dapat mengakibatkan trauma psikis
- Untuk kebutuhan estetik
- Jika ada kebiasaan yang buruk dari anak, misalnya menempatkan lidah di tempat yang
kosong atau menghisap bibir maka pemasangan space maintainer ini dapat
diinstruksikan sambil memberi efek menghilangkan kebiasaan buruk.
- Kebersihan mulut (OH) baik.
- Tidak ada congenital missing (P2 RB atau I2 RA )
- Persiapan pembuatan bridge (M1 permanen tanggal, M2 belum erupsi sempurna)
Kontraindikasi Space Maintainer
- Tidak adanya tulang alveolar yang menutupi gigi yang akan erupsi dan tersedianya
ruang untuk erupsi
- Ruangan tempat gigi sulung yang tanggal secara dini lebih besar dari ukuran
mesiodistal gigi permanen yang akan erupsi dan diperkirakan tidak ada kehilangan
ruang
- Terdapat kekurangan ruang yang besar dan kemungkinan akan dilakukan pencabutan
dan perawatan orthodonsia
- Gigi permanen pengganti secara kongenital tidak ada dan diharapkan terjadi
penutupan ruang. Gigi yang sering mengalami agenisi selain M3 adalah insisivus
kedua permanen RA, premolar kedua RB, insisivus RB, dan premolar kedua RA.
Keadaan ini biasanya bilateral.

5. Akibat Bernafas Lewat Mulut
Apabila bernafas lewat mulut menjadi suatu kebiasaan bagi penderita, maka lidah dan
mandibula akan turun secara otomatis dan akan mendapatkan pertambahan tinggi wajah serta
supraerupsi dari gigi posterior. Hal tersebut akan menjadikan gigitan terbuka pada anterior-
nya dan menambah jarak gigit. Tekanan dari pipi yang menegang akan menjadikan lengkung
gigi geligi atas sempit. Jika lengkung gigi maksila menyempit maka akan terjadi gigitan
silang posterior dan palatum yang dalam (Rahardjo, 2008; Suminy, 2007).
Selain itu, bernafas lewat mulut membuat hubungan anteroposterior gigi geligi
memperlihatkan overjet yang cukup besar sehingga terlihat seperti maloklusi kelas dua divisi
satu dan akan menyebabkan penderita mengalami xerostomia (Rahardjo, 2008; Suminy2007).
Selain itu, bernafas lewat mulut membuat hubungan anteroposterior gigi geligi
memperlihatkan overjet yang cukup besar sehingga terlihat seperti maloklusi kelas dua divisi
satu dan akan menyebabkan penderita mengalami xerostomia (Rahardjo, 2008; Suminy2007).
Udara yang dihirup melalui mulut oleh penderita yang tidak bernafas lewat hidung tidak
bersih karena tidak ada penyaring, panas dan lembab, serta sekresi mukus berhenti secara
berangsur-angsur. Iritan yang terakumulasi mengakibatkan rasa tidak nyaman akibat
inflamasi lokal dan nyeri (Rahardjo, 2008; Suminy, 2007).
Pada penderita anak-anak yang bernafas lewat mulut cenderung merasa gelisah, mengalami
batuk dan pilek yang berulang, demam, serta kehilangan daya tahan tubuh terhadap
penyakit-penyakit lain (Rahardjo, 2008; Suminy, 2007).
Akibat-akibat yang lain yang ditimbulkan dari kebiasaan bernafas lewat mulut adalah sebagai
berikut:
Proklinasi gigi anterior.
Relasi distal mandibula dan maksila.
Insisif rahang bawah ekstrusi dan menyentuh bagian palatal.
Hypertrophic Mouth Gingivitis
. Non Hypertrophic Mouth Gingivitis.
6. Manifestasi Klinis & Gejala Bernafas Lewat Mulut
Tampakan yang terlihat dari seseorang dengan kebiasaan bernafas lewat mulut adalah wajah
terlihat lebih panjang (Sindrom wajah adenoid) dan bibir tidak kompeten. Didalam mulut
pasien akan terlijat lengkung gigi geligi yang lebih sempit (Singh, 2007).Penderita
mengalami xerostomia yang mana terjadi hiposalivasi dalam rongga mulut pasien sehingga
self cleansing dari rongga mulut akan berkurang dan memungkinkan adanya karies pada
geligi penderita. Pada saat tidur, penderita yang memiliki kebiasaan bernafas lewat mulut
akan men Jika kebiasaan ini berlanjut, dapat mempelihatkan tampakan gigi posterior ekstrusi,
open bite anterior, dan menyempitnya lengkung maksila karena tekanan otot pipi (Suminy,
2007).dengkur (Rahardjo, 2008).