Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH

DENTISTRY UPDATE

Oleh:

Paramudibta Lungit K 161610101021


Nia Nurmayanti 161610101022
Dheamira Rosida 161610101023
Balqis Salsabila S 161610101024
Rismawati Tri K 161610101025
Kartika Artha R 161610101026
Dwi Mukti K 161610101027
Atha Ramadhona Y 161610101028
Reganita Nurmaulawati 161610101029
Elfrida Maya A 161610101030
KELOMPOK C

Dosen Pembimbing:
drg. Berlian Prihatiningrum, MDSc, Sp.KGA

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS JEMBER

2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dewasa ini masalah kesehatan gigi dan mulut anak-anak merupakan
masalah yang serius. Berdasarkan hasil penelitian Maharani (2012) tujuh dari
sepuluh anak usia kurang dari lima tahun mengalami karies pada 3-4 gigi
susunya. Faktor penyebabnya adalah rendahnya frekuensi menyikat gigi sehari-
hari, kandungan air yang kurang mengandung fluor, akses sulit untuk menjangkau
pelayanan kesehatan, faktor diet dan yang paling penting adalah rendahnya
pengetahuan orang tua mengenai kesehatan gigi dan mulut pada anak.
Penelitian yang dilakukan oleh Taverud yang dikutip dari Untoro (2009)
menunjukkan bahwa angka kejadian karies gigi anak sangat bervariasi apabila
didasarkan atas golongan umur. Prevalensi karies anak usia 1 tahun sebesar 5%,
anak usia 2 tahun sebesar 10%, anak usia 3 tahun sebesar 40%, anak usia 4 tahun
sebesar 55% dan anak usia 5 tahun sebesar 75%. Kurangnya perhatian orang tua
terutama ibu pada terjadinya karies gigi pada anak disebabkan karena adanya
anggapan bahwa gigi anak akan digantikan dengan gigi tetap. Mayoritas ibu
kurang menyadari bahkan tidak menyadari bahwa dampak yang timbul dari karies
gigi akan sangat besar bila anak tidak dibimbing untuk melakukan perawatan gigi
sejak dini. Berdasarkan penelitian Suresh (2010), ibu dan anak yang mengalami
karies mengungkapkan bahwa karies gigi pada anak bukan merupakan masalah
yang serius apabila dibandingkan dengan permasalahan gigi pada orang dewasa.
Menurut Rosseno (2008) perawatan gigi sejak dini dengan membersihkan
gusi bayi sebaiknya segera dilakukan ketika sudah timbul tanda-tanda
pertumbuhan gigi. Perawatan gigi sejak dini pada anak membutuhkan bantuan
orang tua karena anak belum mampu melakukan sendiri, sampai mereka siap
untuk diajarkan dan mampu merawat gigi sendiri. Apabila perawatan gigi tidak
dilakukan sejak usia dini maka dapat menimbulkan masalah gigi pada anak dan
dikhawatirkan mempengaruhi tumbuh kembang anak.

2
Salah satu perawatan yang dapat dilakukan untuk anak-anak adalah
tumpatan atau restorasi. Restorasi dibidang kedokteran gigi anak-anak memiliki
berbagai macam bahan. Bahan-bahan yang hendak digunakan tergantung
kebutuhan atau indikasi anak. Dewasa ini bahan-bahan restorasi dibidang
kedokteran gigi anak mengalami banyak pembaruan. Kita sebagai mahasiswa
kedokteran gigi hendak mengerti tentang pembaruan bahan-bahan restorasi
dibidang kedokteran gigi anak. Untuk itu pada makalah ini akan dibahas tentang
pediatric crown.
1.2 Rumusan Masalah
1. Mengapa zirconia dikatakan memiliki nilai estetik yg bagus? Apakah
dapat dilakukan pemilihan warna sewarna gigi pada zirconia crown?
2. Zirconia memiliki ketahan dari fraktur karena ketebalannya. Berapkah
ketebalan dari zirconia crown?
3. Mengapa pemasangan open face SSC tingkat kesuksesannya lebih baik di
rahang atas?
4. Apa pertimbangan dalam memilih berbagai macam jenis crown?
5. Apa yang dimaksud mengurangi tonjol gigi pada prosedur SSC?
6. Apakah pedo jacket crown dapat dipreparasi dgn highspeed? bagaimana
dengan sifat britle nya?
7. Mengapa zirconia sangat kuat dan apakaj sifat semi konduktornya
memiliki kelebihan?
8. Pada polikarbornat crown deepbite yang diperbolehkan seperti apa?
9. Apa pemahaman aestetik dan faktor yang mempengaruhinya apa saja?
10. Apa makna penungkatanm fungsional pada open face untuk rampan
karies?
11. Apa makna shade control pada strip crown?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui dan memahami perkembangan pediatric crown
dibidang kedokteran gigi .

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Crowns In Pediatric Dentistry: A Review


Kasus kerusakan gigi pada anak merupakan kasus yang terjadi hampir
60% sampai 90% anak usia sekolah di negara industri (WHO Report 2003).
Beberapa pilihan untuk memberikan restorasi mencakup restorasi pada gigi
sulung, yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan (Garg, et.al.,
2016). Terdapat 8 jenis perawatan mahkota yang dapat digunakan pada gigi anak
yaitu :
1. Pre-formated Metal Crown (PMCs)
PMCs untuk molar gigi sulung pertama kali dijelaskan oleh Engel pada
tahun 1950 dan diikuti oleh Dr. William. PMCs tersebut terbuat dari stainless steel
dan dirujuk oleh akronim SSC. Lalu setelah adanya perkembangan, maka bahan
yang paling baik digunakan adalah nikel-kromium (Garg, et.al., 2016).
Indikasi penggunakan PMC untuk gigi sulung :
• Karies yang luas pada gigi sulung
• Mengikuti prosedur terapi pulpa
• Sebagai restorasi pencegahan
• Restorasi pada molar sulung dipengaruhi oleh masalah perkembangan
lokal atau umum
• Sebagai abutment untuk space maintainer atau denture
• Pertimbangan yang kuat harus diberikan pada penggunaan mahkota
stainless steel pada anak-anak yang memerlukan anestesi umum untuk
perawatan gigi.
• Bruxism parah (Garg, et.al., 2016).
Manfaat dari penggunakan PMC ini adalah
• PMCs dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama sama dengan gigi
primer aslinya
• PMCs menyediakan proteksi terhadap sisa gigi yang mungkin telah
melemah setelah pembersihan karies yang parah

4
• Tingkat sensitivitas atau resiko kesalahan saat pengaplikasian rendah
• Efektivitas biaya jangka panjangnya bagus
• PMCs memiliki tingkat kegagalan rendah (Garg, et.al., 2016).
Kekurangan dari PMC adalah
• Metallic-appearance (estetik kurang bagus)
• Tidak dapat digunakan ketika gigi erupsi sebagian (Garg, et.al., 2016).

2. Open Faced Metallic Crown


Stainless Steel Crown (SSC) merupakan restorasi paling tahan lama dan
baik (kuat) untuk gigi insisiv primer yang membutuhkan penutupan menyeluruh
(complete coverage). Namun, kurang dalam segi estetika. Open faced metal crown
merupakan modifikasi dari SSC. Untuk memanfaatkan kekuatan SSC yang telah
dibentuk sebelumnya dan memperbaiki penampilan gigi yang dirawat, seorang
dokter gigi dapat menghilangkan aspek mahkota gigi yang menonjol,
menghilangkan secukupnya luting semen untuk mendapatkan undercut yang
retentif, dan mengisinya dengan bonded resin composite (Garg, et.al., 2016).
Keberhasilan dari Opern Faced Metallic crown ini dipengaruhi oleh :
 Penggunaaan dentin bonding
 Ikatan kuat antara resin komposit dengan jaringan gigi
 Etsa phosphoric acid. Permukaan yang kasar dan porus dapat terbentuk
pada GIC yang tersisa. Resin yang belum terisi dapat menyusup ke
permukaan yang tidak kasar dan porus ini, membentuk holding tags (tag
penahan), dan dengan demikian, menghasilkan ikatan (bonding) (Garg,
et.al., 2016).
Jadi kelebihan dari Open faced Metallic crown yaitu estetik lebih bagus
daripada PMC. Menurut penelitian Yilmaz et al. pada tahun 2004, menjelaskan
bahwa open-face SSCs memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi ddibandingkan
dengan veneer SSCs namun perbedaannya tidak terlalu signifikan dan juga
pemasangan mahkota pada rahang atas menunjukkan tingkat keberhasilan yang
lebih tinggi daripada pemasangan mahkota pada rahang bawah (Garg, et.al.,
2016).

5
Open Faced Metallic Crown jugs memiliki kekurangan yaitu :
• Prosedur memakan waktu lama
• Tepi margin dari SSC terlihat
• Dokter gigi harus menghadapi kontrol perdarahan selama pengaplikasian
composite facings
• Tidak dapat bertahan dalam jangka waktu lama
• Mudah berubah warna (Garg, et.al., 2016).

3. Preveenered Stainless Steel Crown (PVSCCs)


PVSCCs merupakan restorasi mahkota kombinasi dari daya tahannya SSC
konvensional dengan estetika nya resin komposit yang memiliki estetik yang baik
dan tahan lama. Estetik pada PVSCCs ini dipertahankan oleh ikatan mekanis dan
kimia (Garg, et.al., 2016).
Kelebihan dari PVSCC yaitu :
 Estetis nya baik dan pengerjaanya membutuhkan waktu yang singkat.
 Daya tahan bagus
 Memberikan hasil yang baik dalam kondisi di mana kontrol kelembaban
sulit (Garg, et.al., 2016).
Kekurangan dari PVSCC yaitu :
• Penambahan resin membuat SSC semakin tebal dibandingkan dengan SSC
konvensional oleh karena itu diperlukan preparasinya lebih luas untuk
ketepatan oklusi.
• Dokter gigi tidak memiliki pilihan warna resin sehingga tampak jelas
bahwa itu gigi tiruan.
• Mahkota praveener (PVSCCs) lebih mahal dari SSC konvensional
• Bentuk mahkota yang dicoba dan ternyata tidak cocok tidak bisa berada di
panas tinggi karena akan menghancurkan lapisan resin.
• Pembentukan ulang veneer resin sering dilakukan untuk memperbaiki
karakteristik penampilan mahkota ini, sehingga membutuhkan waktu
laboratorium atau klinis tambahan.
• Sulit ditematkan pada gigi yang diastema maupun gigi berjejal.

6
• Bahan tidak fleksibel dan getas (mudah pecah jika terkena kekuatan berat)
(Garg, et.al., 2016).

4. Strip Crown
Strip Crown merupakan mahkota yang populer untuk gigi anterior Insisive
dan sering digunakan oleh dokter gigi karena memiliki estetik yang baik dan
mudah dalam preparasinya. Strip crown pada gigi anterior juga dapat digunakan
sebagai matriks untuk rekontruksi komposit (Garg, et.al., 2016).

5. Pedo Jacket Crown


Pedo jacket crown memiliki bentuk mirip dengan seluloid crown, tetapi
terbuat dari bahan copolyester yang sewarna dengan gigi, yang diisi dengan bahan
resin lalu tetap dibiarkan pada gigi tersebut setelah polimerasi. Kekurangan pedo
jacket crown ini adalah :
 memiliki satu warna yang sangat putih, jadi kadang tidak sesuai dengan
warna gigi yang tidak direstorasi
 karena berbahan copolyester, maka tidak bisa di bentuk kembali dengan
high speed finishing bur dikarenakan bahannya akan meleleh jika terkena
bur (Garg, et.al., 2016).

6. New Millenium Crown


New millennium crown terbuat dari bahan resin komposit yang dibuat
dengan laboratoty terbaru dan diisi dengan bahan resin dan terikat dengan gigi
(Garg, et.al., 2016).
Kelebihan New Millenium Crown :
 orang tua puas
 estetik baik
 mudah dipreparasi dengan bur (Garg, et.al., 2016).
Kekurangan New Millenium Crown :
 Bentuk mahkota sangat rapuh dan dapat retak atau patah jika dipaksakan
pada preparasi yang belum cukup. Harganya mahal

7
 Isolasi dan hemostasis sangat berperan penting untuk keberhasilan
perawatan
 Oral hygine yang baik sangat baik untuk perawatan tapi tidak selalu (Garg,
et.al., 2016).
Indikasi New Millenium Crown :
• Meluasnya karies pada insisiv sulung
• Malformasi kongenital pada insisiv sulung
• Diskolorisasi insisiv sulung
• Fraktur pada insisiv sulung oleh karena trauma
• Kelainan pada masa perkembangan ex : Amelogenesis Imperfecta (Garg,
et.al., 2016).
KontraIndikasi New Millenium Crown :
• Penghilangan karies yang menyebabkan luas permukaan gigi tidak
mencukupi untuk terjadinya pengikatan atau karies subgingiva yang
meluas
• Kontrol kelembapan sulit dilakukan
• Overbite yang dalam
• Adanya penyakit periodontal (Garg, et.al., 2016).

7. Mahkota Polikarbonat
Mahtoka polikarbonat merupakan mahota preparasi untuk gigi sulung
yang mengalami karies yang luas, dan memiliki bentuk linier aromatik poliester
dari asam karbon. Polikarbonat akan menghasilkan kekuatan yang tinggi dan rigid
(kaku), estetik yang bagus, namun resisten abarsinya buruk (Garg, et.al., 2016).
Indikasi Polikarbonat Crown :
 Restorasi penuh dari gigi anterior rahang atas akibat karies. Anak-anak
dengan nursing bottle syndrome sering kali membutuhkan mahkota
polikarbonat.
 Fraktur mahkota tau malformasi
 Diskolorasi gigi
 Restorasi gigi paska pulpektomi atau pulpotomi (Garg, et.al., 2016).

8
KontraIndikasi Polikarbonat Crown :
 Bruxism
 Deep overbite
 Abrasi yang berlebihan di gigi anterior (Garg, et.al., 2016).
Kelebihan Polikarbonat Crown :
 Estetik baik
 Stabil pada dimensi ekstrim
 Tidak terpengaruh oleh mineral encer dan asam organik, eter dan alkohol.
 Prepasi cepat (Garg, et.al., 2016).
Kekurangan Polikarbonat Crown :
 Mahkota mudah lepas jika gigi rusak parah dan retensi tidak memadai.
 Retensi abrasi buruk (Garg, et.al., 2016).

8. Zirconia Pedriatic Crown


Zirconia pedriatic crown dalah mahkota yang terbuat dari zirkonia untuk
gigi permanen yang tidak mengandung logam. Restorasi zirkonia bukanlah hal
yang baru dalam dental world dan merupakan salah satu tipe yang dominan dari
cermics dengan berbagai macam bantuan komputer desain / bantuan komputer
untuk manufaktur restorasi, framework/milled veneer, full-contour fixed
prosthodontics, dan implant abutments. Zirkonia saat ini adalah dental ceramic
terkuat yang juga menyenangkan secara estetika. Bahkan meskipun zirkonia
banyak digunakan sebagai bahan restorasi gigi permanen, kini sudah banyak
digunakan untuk restorasi gigi-geligi sulung (Garg, et.al., 2016). Hal hal yang
dipertimbangkan dalam pemakaian Zriconia Crown adalah
 Reduksi area subgingiva yang adekuat
 Penghilangan penuh area cingulum
 Permukaan labial dan lingual harus bertemu di incisal edge (Garg, et.al.,
2016).

9
2.1 Pediatric Crons: From Stainless Steel To Zirconia
Dimasa lalu, perawatan utama untuk gigi sulung yang sudah rusak adalah
pencabutan. Namun, dengan kemampuan untuk menyelamatkan gigi sulung
dengan lesi karies yang luas, dapat dilakukan pulpotomi dan restorasi. Mahkota
atau crown dianggap sebagai alternative yang layak untuk menggantikan ekstraksi
dan diakui sebagai mediator dalam pencegahan restorasi yang gagal jika
dibantingkan dengan restorasi direk (Shuman I, 2016).
Dokter gigi saat ini menggunakan 5 tipe dari mahkota pediatrik yaitu :
stainless steel, composite strip, polycarbonate, resin-veneered, dan zirconia
ceramic. Masing-masing tipe mahkota tersebut mempunyai kelebihan dan
kekurangan yang menentukan kesesuaiannya untuk pengaplikasian yang berbeda.
Beberapa faktor penting untuk memilih tipe mahkota oleh dokter gigi adalah daya
tahan, estetika, daya retensi, kemampuan beradaptasi, waktu penempatan, alergi,
dan biaya (Shuman I, 2016).
Stainless steel crown
Keberhasilan awal dari restorasi pediatrik cakupan penuh terjadi pada
tahun 1950 dengan penggunan stainless steel crown. Engel petama kali
menjelaskan tentang penggunaan dari metal-crown ini untuk gigi molar sulung
lalu diikuti oleh Humphrey. Mahkota ini tersusun dari nikel-cromium, dan dapat
menyebabkan berbagai macam tanda dan gejala klinis oral meliputi sensari rasa
terbakar, gingiva hyperplasia, desquamasi labial, angular cheilitis, eritema
multiform, periodontitis, stomatitis dengan eritema mild sampai severe, papular
perioral rash, kehilangan rasa atau rasa logam, mati rasa, dan rasa sakit di sisi
lidah. Karena potensi alergi, nikel mempengaruhi 10% dari populasi umum.
Namun, sebuah studi oleh Kulkarani et al. mengevaluasi pelepasan nikel dan
kromium dari peralatan tetap gigi seperti space maintainerers dan satinless steel
crown. Temuan mereka mengungkapkan bahwa pelepasan nikel dan kromium
jauh di bawah asupan makanan rata-rata dan karenanya tidak mampu
menyebabkan efek toksik (Shuman I, 2016).
Stainless steel crown diketahui tahan lama, studi dari Prabhkar et al.
menaksir kemampuan dari mahkota ini untuk ketahanan tekanan, penggeseran,

10
dan torsi secara in vitro. Mereka menyimpulkan bahwa meskipun dalam kekuatan
maksimal fisiologis mastikatori, gigi yang rusak parah dan telah dipulihkan
dengan ssc mampu menahan deformasi (Shuman I, 2016).
Kekurangan pada stainless steel crown ini adalah estetik yang buruk. Hal
ini membatasi penggunaannya hanya pada molar pertama dan kedua (dalam
beberapa kasus sampai kaninus) (Shuman I, 2016).
Composite Strip Crowns atau Celluloid Crown Forms
Composite strip crown ini transparan, berongga, mahkota plastic yang diisi
dengan resin komposit dan diletakkan diseluruh gigi yang dipreparasi. Kelebihan
resin dihilangkan dan sejumlah besar resin komposit dicuring melalui matriks
mahkota yang jernih. Setelah sepenuhnya tercuring, bentuk striping diambil dari
resin komposit dan meninggalkan mahkota komposit yang sudah menempel.
Meskipun bahan ini memberikan restorasi estetik, mereka juga rentan terhadap
fraktur. karena komposit yang dikeraskan di dalam bentuk strip harus melekat
pada dentin dan enamel, penempatannya sensitif terhadap perdarahan dan
kelembaban (Shuman I, 2016).
Polycarbonate Crown
Mahkota polycarbonate adalah kerangka prefabrikasi yang terbentuk dari
akrilik dan resin polikarbonat. Mahkota ini terdiri atas berbagai ukuran dan
dilapisi dengan akrilik atau resin komposit. Setelah dilakukan curing dan
trimming, mahkota polikarbonat tersemen pada gigi yang telah terpreparasi.
Mahkota ini memiliki estetika yang bagus dan restorasi dengan warna gigi dengan
harga yang murah. Daya tahan mahkota policarbonat berbeda tergantung dari cara
pengaplikasian, tetapi kebanyakan digunakan sebagai restorasi temporer (Shuman
I, 2016).
Kesulitan dari teknik mahkota ini berasal dari proses sementasi yang
digunakan untuk menghubungkan mahkota dengan gigi sulung yang telah
dipreparasi. Penggunaan dari semen, khususnya zinc fosfat dapat meningkatkan
retensi pada mahkota (Shuman I, 2016).
Pre-Veneered Stainless Steel Crown

11
Resin Veneered Stainless Steel Crown menggabungkan daya tahan
Stainless Steel Crown dengan estetik resin dilapisan luar. Mahkota ini tersedia
untuk gigi anterior maupun posterior pada gigi sulung. Masalah utama dengan
mahkota ini adalah kebutuhan untuk mengurangi struktur gigi koronal tambahan,
keterbatasan kemampuan untuk membatasi margin sebelum penyemenan, dan
hilangnya permukaan estetik akrilik. Masalah pada penggunaan Resin Veneered
Stainless Steel Crown pada gigi posterior molar sulung adalah fraktur pada
lapisan luar. Saat gigi yang berdekatan hilang, fraktur lebih mungkin untuk
terjadi. mungkin karena peningkatan kekuatan oklusi pada Resin Veneered
Stainless Steel Crown. Resin Veneered Stainless Steel Crown lebih sensitive
untuk terjadi hemorrhage dan kelembaban saat pemasangan. Keterbatasan
crimpability membutuhkan pengangkatan struktur gigi yang lebih besar. Resin
Veneered Stainless Steel Crown merupakan tipe mahkota yang lebih mahal dari
Stainless Steel Crown, composite strip dan mahkota polikarbonat (Shuman I,
2016).
Zirconia Crowns
Zirconium oxide telah digunakan untuk tujuan pengobatan sejak tahun
1960. Pada tahun 2001 all-ceramic zirconia-oxide digunakan sebagai kerangka
crown dan bridge. Zirkonia dilapisi dengan veneer keramik, sehingga
menciptakan salah satu restorasi zirkonia-keramik paling awal. Saat ini semua
zirconia dapat digunakan sebagai alternatif yang estetik untuk tradisional
porcelain to metal dan porcelain to zirconia crowns dan bridge (Shuman I, 2016).
Zicornia yang biasa digunakan sebagai mahkota gigi yaitu yttria stabilized
zicorcia (YSZ). Struktur kristal dari YSZ disebut dengan ceramic of Zicornium
dioxide yang dibuat stabil dalam suhu ruangan dan dicampur dengan Yttrium
oxide. Dengan menggantikan beberapa ion zirconia didalam zirconia lattice
dengan yttria ion dapat meningkatkan kekerasan dan kelembaman kimia. Manfaat
tambahan YSZ adalah kemampuan untuk mengganti logam untuk menambah
kekuatan dan ketangguhan yang sangat tinggi, ketahanan yang lebih tinggi karena
bahan kimia, dan ketahanan terhadap erosi. YSZ mempunyai sifat biokompatibel,
autoklafable, dan memunyai ketahanan yang sama atau lebih tahan lama dari

12
enamel alami. Sifat-sifat ini antara lain telah dipelajari dan banyak temuan
menyimpulkan bahwa zirkonia adalah bahan pilihan yang sangat baik untuk
restorasi cakupan penuh pada pasien anak (Shuman I, 2016).
Mahkota zirconia dan resistensi terhadap fraktur
Studi dari townsend. at al. Membandingkan ketahanan antara mahkota
Zirconia dan SSC pada gigi molar sulung. Di dapatkan, kekuatan dari mahkota
zirconia bergantung pada ketebalannya (Shuman I, 2016).
Mahkota Zirconia dan keausan gigi
Zirconia dikenal karena keausannya yang rendah tidak seperti keramik
tradisional. Dari berbagai macam bahan restorasi full coverage menunjukkan
bahwa leucyte dan litium tergolong memiliki tingkat keauasan yang tinggi,
sedangkan Zirconia dan SSC memiliki tingkat keuasan yang rendah (Shuman I,
2016).
Mahkota Zirconia dan penggunaan klinis
Mahkota zirconia dapat digunakan pada gigi anterior sulung yang
mengalami karies sebagai alternatif bahan restorasi pada anak. Ashima at. al.
Melaporkan mahkota Zirconia pre-febricated memiliki retensi dan estetik yang
bagus untuk rehabilitasi gigi sulung. Laporan klinis menunjukkan bahwa Mahkota
zirconia dapat digunakan juga pada kondisi amelogenesis imperfecta (Shuman I,
2016).
Mahkota Zirkonia dan Kepuasan Orang Tua
Faktor penting ketika memilih mahkota pediatrik adalah "triangle
agreement". Konsep ini menyiratkan bahwa dokter, orang tua, dan anak harus
memutuskan bersama-sama perawatan terbaik ketika menempatkan mahkota
dengan cakupan penuh pada gigi sulung. Umumnya, orang tua dan anak-anak
benar-benar peduli dengan estetika gigi mereka. Oleh karena itu, terdapat
kebutuhan akan mahkota yang tepat untuk memperbaiki gigi sulung kembali ke
keadaan sehat baik dalam fungsi maupun penampilan (Shuman I, 2016).
Hlsinger et. al melakukan restorasi sebanyak 57 mahkota zirkonia primer
anterior pada 18 anak, dan menganalisis retrospektif keberhasilan klinis dan
kepuasan orang tua. Kriteria yang dievaluasi termasuk "retensi, kesehatan gingiva,

13
kontur, kecocokan warna, integritas marginal, dan mencegah keausan gigi. "
sebanyak 89% orang tua sangat puas dengan ukuran, warna, dan bentuk mahkota
ini dan sangat merekomendasikannya" (Shuman I, 2016).

2.3 Esthetic Crowns In Pediatric Dentistry: A Review


Tujuan dari mahkota sendiri adalah untuk memperbaiki atau meningkatkan
estetika. Mahkota ini juga bisa berfungsi sebagai pencegahan pada penyakit
rongga mulut manusia.
Klasifikasi Menurut Sahana (2010)
a. Mahkota yang di pasang pada gigi
1. Resin veneered stainless steel crown
2. Facial cut out crown
3. Polycarbonate crown
4. Pedo pearls
b. Mahkota yang di menempel pada gigi
1. Strip crowns
2. Pedo jacket crowns
3. New millenium crowns
4. ART glass crowns
A. Open-faced Stainless Steel Crowns
Digunakan pada gigi insisiv, indikasi dari stainless steel crwons sendiri
adalah untuk fraktur mahkota, mahkota ini digunakan untuk mempertahankan
pulpa ketika dilakukan dressing, mencegah kebocoran, dan untuk mengembalikan
bentuk dan fungsi. Kelemahan pada mahkota ini terdapat pada estetiknya, namun
masalah ini bisa diatasi dengan preparasi pada permukaan labial dari mahkota dan
mengisi dengan bahan sewarna gigi seperti komposit. Namun, ketika fraktur
mahkota meluas sampai di bawah margin gingiva maka stainless steel crowns
masih menjadi pilihan yang baik. Hartmann CR dan Helpin Ml (1983)
menyarankan pada anakn dengan rampan karies digunakan open-faced stainless
steel crowns. Hal ini dikarenakan bisa meningkatkan stabilitas fungsional pada
restorasi tersebut (Mitaal et al, 2016).

14
Prosedur
Preparasi di awali dengan memotong permukaan mesial dan distal dan
mengihilangkan tepi insisal sebanyak 1 – 1,5 mm. Mengurangi sedkit pada bagian
lingual juga dibutuhkan. Mahkota di lebarkan antara 0,5 – 1 mm di bawah
ginggival crest. Mahkota di beri lubang pada sisi lingual. Dengan menggunakan
tang No. 114 pada bagian lingual dari mahkota disesuaikan dengan gigi.
Selanjutnya, mahkota di poles dan dilakukan sementasi dengan zinc phosphate
atau semen glass ionomer dan ketika semen sudah mulai mengeras lakukan
pemotongan menggunakan bur No. 58. Resin komposit digunakan untuk
merestorasi gigi sulung (Mitaal et al, 2016).
Roberts C et et all (2001) menyimpulkan bahwa stainless steel crowns
memiliki rata – rata retensi yang lebih tinggi memiliki sedikit kegagalan pada
resin - resin. (Mitaal et al, 2016).

B. Veneered Stainless Steel Crowns


Baker LH (1996) dan Waggoner WF (2002) mendiskripsikan ketersediaan
veenered stainless steel crowns seperi termoplastis atau resin komposit. Estetika
dari veeneers dipertahankan pada stainless steel crowns dengan berbagai ikatan
mekanis dan kimia. Beberapa mahkota terikat pada mahkota dan yang lainnya
hanya secara kimiawi menyatu dengan permukaan logam (Mitaal et al, 2016).
Waggoner Wf dan Cohen H (1995) menggambarkan untuk bentuk pre
veneered stainless steel crowns untuk gigi insisiv sulung adalah pilihan estetis
untuk restorasi (Mitaal et al, 2016).

C. Polycarbonate Crown
Lesi yang paling sering terjadi pada anak (gigi sulung) adalah rampan
karies. Lesi biasanya dimulai pada bagian labial pada gigi anterior lalu menyebar
ke permukaan lain dan pada gigi lainnya. Untuk menanggulanginya dokter gigi
bisa menggunakan mahkota polikarbonat sebagai protesis cekat sementara pada
gigi sulung yang pada akhirnya akan tanggal. Menurut Nitkhin DA et all (1977)
mahkota polikarbonat memiliki impact strenght yang tinggi serta termoplastis
resin dimana bahan ini dapat dipanaskan dan dibentuk menjadi bentuk yang di

15
inginkan. Distorsi poin dari bahan ini adalah 270°F. Kelebihannya adalah
memiliki dimensi yang stabil dan kekurangannya adalah kurang tahan terhadap
abrasi (Mitaal et al, 2016).
Indikasi
Menurut Stewart RE et all (1974) ada beberapa indikasi sebagai berikut :
1. Rampan karies yang melibatkan 3 permukaan gigi
2. Pasca terapi pulpa
3. Malformasi gigi
4. Abutmen pada space maintener
Kontraindikasi
1. Jarak antar gigi tidak mencukupi
2. Gigi berdesakan anterior
3. Terjadi deep impinging bite
4. Bruxism berat
5. Terjadinya abrasi pada gigi anterior
(Mitaal et al, 2016).

D. Strip Crowns
Strip crown adalah mahkota dengan bentuk transparan untuk restorasi gigi
sulung. Strip crown digunakan pada gigi sulung yang memiliki enamel cukup
untuk retensi ikatan setelah pengangkatan karies. Resin-bonded composite strip
crowns adalah restorasi pilihan pertama bagi para dokter. Karena estetik dan
mudah diperbaiki jika kemudian mahkota patah (Mitaal et al, 2016).
Namun teknik pemasangan strip crown yang sensitif dan harus
memperhatikan kelembaban dan kontrol perdarahan, yang dapat mengganggu
ikatannya. Selain itu, harus ada struktur gigi yang memadai setelah penghilangan
karies untuk memastikan bahwa ada permukaan yang cukup untuk daerah ikatan
(Mitaal et al, 2016).
Strip Crown Placement Technique
1. Anestesi lokal diberikan dan gigi diisolasi.

16
2. Gigi dipreparasi untuk memungkinkan adanya tempat untuk resin
komposit pada mahkota.
 Panjang mahkota dikurangi secara insisal menggunakan high speed
tapered diamond or tungsten carbide bur.
 Bagian mesial dan distal dipotong meruncing (knife edge) di bagian
margin gingiva.
3. Memilih warna resin komposit yang tepat.
4. Bentuk strip-crown seluloid dipilih dengan ukuran yang tepat.
5. Hasil preparasi di ujung sudut insisal bentuk mahkota untuk
memungkinkan udara keluar ketika diisi dengan resin komposit.
6. Bentuk mahkota dengan resin komposit ditempatkan dengan kuat pada
gigi yang telah disiapkan.
7. Resin komposit di curing dan menggunakan excavator atau probe untuk
melepas bentuk mahkota.
8. Mahkota yang sudah di curing dihaluskan dan dipoles
Kupietzky A et all (2002) menyatakan keuntungan strip crown
1. Mudah dipasang dan dirapikan.
2. Penghilangan cepat dan mudah
3. Cocok dengan gigi alami.
4. Permukaan mengkilap halus.
5. Shade controlnya baik
6. Unggul secara estetika, fungsional, dan ekonomis.
7. Jernih dan tipis
8. Mudah diperbaiki
Ram D et all (2003) dalam studi mereka menggambarkan beberapa
kerugian strip crown sebagai berikut
1. Pilihan teknik yang paling sensitif
2. Kontaminasi kelembaban dengan darah
3. Air liur mengganggu ikatan
4. Perdarahan dapat mengubah warna atau warna bahan.

17
E. Pedo Jacket Crowns
Pedo Jacket Crowns terbuat dari poliester sewarna gigi dan diisi dengan
bahan resin. Setelah di lakukan polimerisasi dan seluloid dilepas, mahkota
terbentuk setelah semen resin luting (Mitaal et al, 2016).

F. New Millennium Crown


Diperkenalkan oleh Success Essentials Laboratorium Pemeliharaan Ruang.
Mahkota ini terdiri dari bahan resin komposit yang ditingkatkan di laboratorium.
Bahan ini mirip dengan Pedo Jecket Crown dan strip crown (Sahana,
2010).Keuntungan dari bahan ini dapat diselesaikan dan dibentuk kembali dengan
bur finishing berkecepatan tinggi. Namun bahan ini sangat rapuh (Mitaal et al,
2016).

G. Pedo Pearl
Mahkota logam yang mirip dengan mahkota stainless steel, tetapi
sepenuhnya telah dilapisi cat epoksi sewarna gigi. Mahkota ini terbuat dari
aluminium dan bukan stainless steel, karena lapisan epoksi melekat jauh lebih
baik ke aluminium. Berfungsi sebagai mahkota permanen pamungkas pada gigi-
geligi primer. Keuntungan dari bahan ini adalah mudah dipotong dan dikerutkan
tanpa chipping dan komposit dapat ditambahkan sesudahnya juga. Kekurangan
bahan ini adalah memiliki daya tahan kurang dan relatif lembut atau lemah
(Mitaal et al, 2016).

H. Artglass Crowns
Terbuat dari artglass yang merupakan gelas polimer yang digunakan untuk
restorasi gigi primer anterior. Merupakan metakrilat multifungsional baru yang
memiliki kemampuan membentuk jaringan molekuler tiga dimensi dengan
struktur yang saling terkait.Memiliki kaca mikro dan silika sebagai bahan pengisi
yang memberikan daya tahan dan estetika yang lebih besar daripada strip crown.
Hal ini dapat memberikan keuntungan ganda dimana dapat membentuk ikatan
pada komposit, tahan lama, dan meningkatkan estetika porselen (Mitaal et al,
2016).

18
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Tinjauan Kasus
Teknik Zirconia Crown pada anak-anak
Studi Kasus :
Pasien laki-laki berumur 8thn terdapat kasus emergency dengan
pembengkakan pada gingiva atas kanan belakang. Ibunya, melihat adanya lesi dan
kaget karena si pasien tidak mengeluhkan rasa sakit. Pada pemeriksaan terdapat
lesi karies di gigi B dan pembengkakan pada atacched gingiva bukal. Giginya
tidak goyang dan tidak terdapat tanda dan gejala lain. Dan pada gambaran
radiografi terdapat radiolusen di bagian koronal sampai bagian pulpa. Premolar
permanen sudah tampak di bagian apikal gigi molar pertama sulung. Gigi tersebut
tampak masih dapat di restorasi dan rencana perawatannya yaitu pulpektomi dan
Zirconia crown. Pasien diberikan clyndamicin dan dikonsultasikan 3 hari
kemudian (Shuman I, 2016).
Gigi telah dianastesi menggunakan lidocain 1:100.000 x 1,8 cc dan rubber
dam dipasangkan pada gigi. Kemudian diikuti dengan memghilangkan karies,
struktur mahkota di preparasi untuk restorasi full-coverage. Dan di lakukan
pulpektomi. Saluran akar di obturasi dan kamar pulpa diisi dengan GI.
Zirconia crown dipilih untuk gigi yang masih bagus dan dicobakan pada gigi yang
ingin dipasang saat telah sesuai gigi dibersihkan menggunakan mikroetsa dgn 50
mikrometer alimunium oxide. Setelah itu dibersihkan lalu dikeringkan dan diberi
saline coupling agent pada permukaan gigi yg berikatan. Kemudian mahkota
preparasi lalu dibersihkan dan dikeringkan kembali dan dilakukan dual-cure,
pengaplikasian self etch primer/bonding pada struktur gigi lalu dilakukan light-
cure. Resin sesmen dual-cure diinjeksikan ke permukaan bondable makota lalu
mahkota zirconia disemenkan pada preparasi mahkota dan diikuti dengan
membersihkan sisa semen serta pengecekan kembali oklusi dan pasien
dipulangkan. Dua minggu setelah perawatan pasien diminta untuk kontrol dan
dilakukan pengambilan foto radiografi (Shuman I, 2016).

19
3.2 Pembahasan Pertanyaan
1. Mengapa zirconia dikatakan memiliki nilai estetik yang bagus? Apakah
dapat dilakukan pemilihan warna sesuai gigi pada zirconia crown?
Zirkonia merupakan bahan keramikyang kuat, keras, dan mulai digunakan
dibidang kedokteran gigi. Umumnya digunakan sebagai bahan restorasi
indirect gigi anterior karena memiliki estetik yang baik. Zirkonia
memilikikarakteristik berbentuk kristal yang kuat,tahan lama, berwarna putih
keabu-abuan, lunak, elastis, mudah dibentuk, dan memiliki resistensi yang
tinggi terhadap korosi (Shori dkk, 2015).
Kerangka zirconia bersifat estetik dibandingkan dengan kerangka logam
namun masih kurang tembus pandang dan tampak putih. Pewarnaan pada
kerangka zirconia bertujuan untuk meningkatkan estetika dan keseluruhan
warna restorasi . Zirconia tidak diwarnai oleh pigmen melainkan oleh ion
pewarna. Zirconia pra-disinter direndam dalam pewarna shading. Sifat
keropos zirconia memungkinkan untuk menyerap ion pewarna. Ion yang
direndam ini digabungkan dalam struktur selama tahap sintering akhir
(Aboushelib, Kleverlaan et al., 2008).

2. Zirconia memiliki ketahanan dari fraktur karena ketebalannya.


Berapkah ketebalan dari zirconia crown?
Menurut penelitian Jang G.W (2011) dalam jurnal ‘’Fracture Strength and
Mechanism of Dental Ceramic Crown with Zirconia Thickness’’ kekuatan
fraktur mahkota zirkonia meningkat dengan ketebalan oklusal yang berbeda.
Zirconia crown dengan ketebalan oklusal di bawah 2.0 mm dapat
menunjukkan kekuatan yang bisa bermanfaat secara klinis. Secara khusus,
zirkonia crown dapat digunakan untuk pasien yang memiliki sedikit ruang
antar-oklusal. Zirkonia crwon dengan ketebalan oklusal 0,5mm memiliki
ketahanan fraktur yang tinggi dalam menahan tekanan gaya oklusal.

3. Mengapa pemasangan open face SSC tingkat kesuksesannya lebih baik


pada rahang atas?

20
Tingkat keberhasilan dari metode open-face SSC kemungkinan disebabkan
adanya:
a. Bonding resin ke jaringan gigi yang kuat
b. Penggunaan dentin bonding
c. Etsa asam fosfat. Struktur kasar dan porus dapat terbentuk pada glass
ionomer semen. Resin yang belum terisi dapat berinfiltrasi ke dalam
permukaan yang irregular dan keras, membentuk tag, dan berkontribusi
membentuk ikatan.
(Garg et al, 2016).

4. Apa pertimbangan dalam memilih berbagai macam jenis crown?


a. Stainless Steel Crown
- Gigi dengan karies yang luas
- Dalam prosedur terapi pulpa
- Sebagai restorasi preventif
- Gigi yang mempunyai defek pada enamel seperti hypoplasia enamel dan
amelogenesis imperfekta
- Gigi yang mengalami fraktur
- Untuk gigi penyangga atau abutment pada pembuatan space maintainer
- Bruxisme parah
(Shuman, 2016; Garg et al, 2016)

b. Composite Strip Crown


- Ekstensif decay pada gigi sulung anterior
- Gigi yang fraktur atau malformasi
- Diskolorasi pada gigi
- Menutupi/meliputi gigi yang menerima terapi pulpa
(Muhammad et al, 2015)

c. New Millenium crown/Pedo Jacket Crowns


- Perluasan atau multisurface karies pada gigi insisiv sulung
- Malformasi kongenital pada insisiv sulung

21
- Diskolorasi pada gigi insisiv sulung
- Fraktur pada gigi insisiv sulung yang diikuti trauma
- Defek perkembangan seperti amelogenesis imperfekta
(Garg et al, 2015)

d. Polycarbonate Crown
- Menutupi/melingkupi secara menyeluruh restorasi gigi anterior rahang atas
yang mengalami karies. Seperti pada anak dengan nursing bottle caries.
- Malformasi atau fraktur pada gigi
- Diskolorasi gigi
- Restori gigi setelah prosedur pulpotomi atau pulpektomi
- Kontraindikasi pada anak anak dengan kebiasaan mengerot/bruxism
(Garg et al, 2016)

5. Apa yang dimaksud dengan mengurangi tonjol gigi pada prosedur SSC?
Pada jurnal “Crowns in pediatric dentistry: a review” yang dibahas oleh
kelompok D dibahas tentang Open Faced Stainless Steel Crown. Untuk
memanfaatkan kekuatan SSC yang telah dibentuk sebelumnya oleh pabrik dan
untuk meningkatkan penampilan gigi yang dirawat, dokter gigi dapat
menghilangkan aspek mahkota gigi yang menonjol, menghilangkan
secukupnya luting semen untuk mendapatkan undercut yang retentif, dan
mengisinya dengan bonded resin composite.
Menghilangkan atau mengurangi aspek mahkota gigi yang menonjol dapat
diartikan sebagai preparasi. Preparasi merupakan salah satu proses kerja/step
dari pemasangan SSC. Dalam kamus kedokteran gigi, preparasi merupakan
pembuangan jaringan karies dan jaringan yang lemah dari gigi dan
membentuk gigi yang masih sehat sedemikian rupa sehingga dapat menerima
restorasi permanen atau sementara yang memiliki retensi dan resistensi yang
baik (Harty dan R. Ogston, 2014).

6. Apakah pedo jacket crown dapat dipreparasi dengan highspeed?


bagaimana dgn sifat brittle nya?

22
Berdasarkan jurnal Crowns in pediatric dentistry: a review (2016), Pedo jacket
crown bentuknya mirip dengan seluloid crown, terbuat dari bahan copolyester
yang sewarna dengan gigi. Karena Pedo jacket crown berbahan copolyester,
maka tidak bisa di bentuk kembali dengan high speed finishing bur
dikarenakan bahannya akan rusak/meleleh jika terkena bur (Garg et al, 2016).
Sahana (2010) juga menyatakan bahwa pedo jacket crown dapat
dipotong/dipangkas dengan menggunakan gunting, tetapi crown ini memiliki
kekurangan yaitu hanya tersedia satu ukuran, dan tidak bisa dibentuk kembali
dengan bur. Hal ini dapat dijelaskan berdasarkan sifat fisik suatu polimer.
Kecepatan memutar pada high speed menghasilkan suatu panas. Panas
memiliki pengaruh nyata pada sifat fisik polimer. Begitu temperatur
meningkat, rotasi segmen polimer meningkat. Rotasi ini, digabungkan dengan
ekspansi termal, meningkatkan pemisahan rantai, memutuskan ikatan kutub,
dan membantu pemutusan rantai. Faktor-faktor ini mempermudah pelepasan
rantai serta meningkatkan sifat termoplastis dati resin ketika mencapai Tg. hal
ini yang dapat menyebabkan pedo jacket crown yang berbahan copolyester
dapat rusak/leleh jika dibentuk dengan highspeed. Bila terdapat ikatan silang,
pemutusan rantai tidak dapat terjadi dan bahan menjadi lebih sulit untuk
dilunakkan. Bila resin ikatan silang dilunakkan, tidaklah mudah mengubah
bentuk secara permanen. Konsistensi bahan menjadi menyerupai karet
(Anusavice, 2003).

7. Mengapa zirconia sangat kuat dan apakah sifat semi konduktornya


memiliki kelebihan?
Keramik zirconia mengandung hidroksiapatit (yang dapat juga digunakan
untuk melapisi titanium pada dental implant), dikarenakan hidroksiapatit
dalam keramik zirconia ini berfungsi menambah kekerasan dan membuat
lebih tahan lama sehingga akan bekerja secara maksimal. Selain itu,
keramik zirconia ini memiliki ciri khas dalam hal tampilannya, karena
mampu memberikan warna yang mirip dengan warna enamel gigi
sehingga menyerupai gigi asli (Saputro, 2019).

23
Sifat semi konduktor pada zirconia mempunyai potensi untuk mencapai
sifat-sifat mekanis, morfologis, biokompatibilitas dan biodegradasi
(Silalahi, 2014).

8. Pada polikarbornat crown deepbite yang diperbolehkan seperti apa?


Deepbite adalah suatu keadaan dimana jarak menutupnya bagian insisal gigi
insisivus maksila terhadap insisal gigi insisivus mandibula dalam arah vertikal
melebihi 2-3 mm. Pada kasus deepbite, gigi posterior sering linguoversi atau
miring ke mesial dan insisivus mandibula sering berjejal, linguoversi, dan
supra oklusi. Klasifikasi Deep bite yaitu dentoalveolar deep bite dan skeletal
deep bite, true deep bite dan pseudo deep bite. Pada kasus anak deep bite yang
mengalami rampan karies maupun karies yang parah pada bagian anterior
yang dilakukan restorasi mahkota polikarbonat atau (polycarbonate crown)
menjadi kontraindikasi (Daokar S et all, 2016).
Polycarbonate crowns merupakan akrilik resin heat cured yang digunakan
sebagai restorasi gigi sulung anterior. Polycarbonat crown tidak resisten
terhadap kekuatan abrasif, sehingga dapat terjadi fraktur atau dislokasi.
Berdasarkan laporan kasus telah dilakukan penelitian bahwa deep bite dapat
terkoreksi dengan dilakukan modifikasi metal crown pada gigi molar. Tahapan
pertama adalah dengan membuat peninggian gigit dari GIC sebagai restorasi
transisi pada permukaan oklusal gigi posterior sulung. Tujuan dari restorasi
sementara ini adalah agar anak dapat beradaptasi terhadap koreksi dimensi
vertikal. Sesuai dengan laporan terdahulu bahwa peninggian dimensi vertikal
oklusal (DVO) dilakukan bertahap agar otot-otot mastikasi dapat beradaptasi
terhadap DVO baru (Amrita et al, 2014).
Tahapan kedua koreksi dimensi vertikal adalah dengan restorasi definitif
menggunakan mahkota logam pada gigi molar sulung yang telah dilakukan
peninggian gigit dengan GIC. Mahkota logam dapat mengembalikan bentuk
anatomis gigi posterior sehingga mengembalikan bentuk tonjol gigi molar,
mampu memperbaiki oklusi, dan membantu fungsi pengunyahan, memiliki
retensi yang baik, tahan lama, dan dapat melindungi gigi sulung. Restorasi ini

24
juga memiliki permukaan yang halus sehingga dapat berkontribusi
mengurangi akumulasi biofilm bakteri sehingga meningkatkan kebersihan
mulut pada pasien dengan risiko karies tinggi (Amrita et al, 2014).
Gigi posterior dilakukan restorasi lebih dulu daripada gigi anterior karena
kunci oklusi berada pada gigi posterior. Kestabilan oklusi dari gigi posterior
harus didapatkan sebelum merestorasi gigi anterior. Gigi molar permanen
tidak dilakukan restorasi koreksi dimensi vertikal karena gigi molar permanen
diharapkan akan erupsi mencapai oklusi sesuai ruang yang telah dibentuk dari
peninggian dimensi vertikal oklusal gigi sulung (Amrita et al, 2014).
Oleh karena itu asumsi penulis mengungkapan bahwa polycarbonate crown
dapat dipakai pada anterior gigi anak yang mengalami karies apabila pada gigi
posterior dilakukan treatment terlebih dahulu dengan menggunakan modifikasi
metal crown seperti yang telah dijelaskan diatas.

9. Apa pemahaman estetik dan faktor yang mempengaruhinya apa saja?


Kata estetika berasal dari bahasa Yunani α σθητική “aisthetike” dan
diciptakan oleh ahli filosofi Alexander Gotltlieb Baumgarten pada tahun 1735
yang berarti “ilmu untuk mengetahui sesuatu melalui indera”. Kata ini digunakan
di Jerman setelah Baumgarten mengubahnya dalam bentuk latin aesthetica, tapi
tidak begitu populer sampai awal abad ke 19 (Geissberger, 2010).
Aesthetic dentistry merupakan bidang ilmu dalam kedokteran gigi yang
bertujuan untuk memperbaiki estetis rongga mulut pasien, di samping perawatan
dan pencegahan penyakit rongga mulut. Estetik dalam kedokteran gigi adalah
integritas harmonis dari beberapa fungsi fisiologis oral dengan penekanan yang
sama sehingga didapatkan atau dihasilkan gigi geligi yang ideal melalui restorasi
dengan warna, bentuk, struktur dan fungsi untuk mencapai kesehatan dan daya
tahan yang optimal (Usman, 2014).
Menurut Sarver, estetika dalam bidang orthodonti dibagi ke dalam tiga
bagian, yaitu makro estetika (wajah secara keseluruhan), mini estetika (senyum),
dan mikro estetika (dental dan gingiva). Melalui aesthetic dentistry, penampilan
rongga mulut dapat diperbaiki sesuai dengan persepsi subjektif pasien sehingga

25
keberhasilan dalam aesthetic dentistry sesuai dengan prinsip “beauty is in the eye
of the beholder”. Keindahan tersebut dapat diukur dengan menggunakan konsep
golden proportion yaitu semakin mendekati nilai golden proportion,
penampilannya akan semakin estetik. Penampilan gigi telah terbukti
mempengaruhi penilaian orang lain, mulai dari daya tarik wajah seseorang serta
karakteristik pribadi. Senyum itu sendiri ditentukan oleh posisi, bentuk, ukuran
dan warna gigi, tekstur, garis gingiva, dan bentuk rahang (Jornung dkk., 2007).
Faktor yang mempengaruhi nilai estetik
Pedoman dasar dalam aesthetic dentistry terdiri dari makroestetik dan
mikroestetik. Menurut Morley (2001), makroestetik memberi panduan
menghasilkan susunan gigi yang harmonis dengan gingiva, bibir dan wajah
pasien. Elemen makroestetik adalah garis median gigi, hubungan di antara gigi-
geligi, penilaian bibir dan struktur gingiva. Mikroestetik memberi panduan dalam
menghasilkan proporsi dan posisi gigi-geligi yang sesuai. Elemen yang penting
dalam mikroestetik meliputi rasio gigi, bentuk gigi, karakteristik gigi dan warna
gigi.
Lombardi (1973), Chiche dan Pinauth (1994), Goldstein (1997),
Rosenstiel, Ward dan Rashid (2000) sependapat bahwa kedua gigi insisivus
sentralis kiri dan kanan rahang atas merupakan kunci utama menentukan estetis
pada regio anterior. Parameter yang digunakan untuk mengukur proporsi dental
adalah proporsi lebar insisivus sentralis dengan insisivus lateralis, proporsi lebar
enam gigi anterior rahang atas dengan empat insisivus rahang bawah, proporsi
permukaan labial insisivus sentralis rahang atas dan proporsi lebar dengan tinggi
kedua gigi insisivus sentralis rahang atas. Hasil penelitian Petricevic (2008)
menunjukkan rasio lebar dengan tinggi gigi insisivus sentralis rahang atas penting
untuk estetik dan keharmonisan susunan gigi anterior rahang atas. Rasio tersebut
dapat menggambarkan bentuk gigi sehingga kelainan proporsi gigi dapat
dievaluasi dan diperbaiki. Faktor yang mempengaruhi bentuk gigi dan wajah
manusia adalah jenis kelamin dan ras.
Warna pada gigi seseorang yang berada di berbagai negara dan daerah
bervariasi karena perbedaan ras dan faktor lingkungan. Selain itu, selera individu,

26
latar belakang budaya, dan strata sosial dapat mempengaruhi persepsi seseorang
terhadap warna giginya. Kelompok usia dan jenis kelamin adalah faktor yang
paling berpengaruh terkait dengan warna gigi, kepuasan terhadap warna gigi
menurun seiring dengan meningkatnya keparahan perubahan warna pada gigi
seseorang (Xiao dkk., 2007).
Menurut Putri Syafrita (2002) ada beberapa faktor yang mempengaruhi
nilai estetik, khususnya pada tumpatan, antara lain yaitu:
a. Penyesuaian warna
Warna bahan tumpatan yang sesuai dengan warna gigi merupakan faktor
penting yang mempengaruhi estetik. Dalam penentuan warna gigi, gigi
harus dibersihkan dengan baik kemudian dapat ditentukan warna yang
sesuai.
b. Keadaan kavitas gigi
Pemilihan bahan yang akan digunakan pada restorasi disesuaikan dengan
keadaan kavitas gigi, tergantung pada letak kavitas, lebar dan luas kavitas
dan jaringan di sekeliling kavitas. Karies klas III akan berbeda dengan
karies klas IV begitupun seterusnya.
c. Translusensi alamiah gigi
Translusensi adalah unsur yang memberikan penampilan hidup pada gigi.
Karena sinar dapat tembus serta dipantulkan oleh enamel (translusen
mengimplikasikan semi-transparan), perpaduan warna keseluruhan akan
memberikan warna putih seperti mutiara yang hidup pada gigi geligi.
Sehingga dalam pembuatan restorasi perlu diperhatikan bahwa gigi
memiliki translusensi pada bagian enamelnya.
d. Perubahan warna akibat perubahan komponen alamiah
e. Stain yang disebabkan oleh faktor eksternal

10. Makna peningkatan fungsional pada open face untuk rampan karies?
Rampant karies didefinisikan sebagai jenis karies yang muncul tiba-tiba dan
tersebar luas dengan cepat. Rencana perawatan harus memiliki tujuan
mengembalikan fungsional dan estetika. Pasien yang terkena rampant karies
sering memiliki estetika dan fungsi yang terganggu (Kumar, et al. 2015).

27
Tindakan terapi untuk proses karies harus memenuhi tujuan restoratif dari
kedokteran gigi yaitu dari bentuknya, fungsi dan parameter estetik, dan
pemeliharaan maksimum sisa jaringan yang sehat dengan menjamin daya
tahannya dan rendahnya resiko karies sekunder. Prinsip perawatan gigi yang
telah mendapatkan perawatan endodontik sebenarnya adalah mengembalikan
akar dan mahkota gigi dengan menggunakan post dan inti mahkota yang
retentif dan stabil, sehingga tidak mudah mengalami malposisi dan dapat
digunakan selama mungkin dalam rongga mulut seperti aslinya. Mahkota
stainless steel adalah pilihan restorasi yang stabil untuk gigi anterior dengan
karies yang luas. Teknik open face dapat memberikan penampilan estetika
yang lebih baik dibandingkan dengan warna logam perak asli dan dapat
mengembalikan dan meningkatkan fungsi mastikasi (Liu, dan Donly, 2016).

11. Makna shade control pada strip crown?


Strip mahkota digunakan dalam kasus dengan struktur gigi yang tersisa yang
cukup untuk memungkinkan bonding yang adekuat. Menempatkan strip
mahkota adalah teknik yang sensitif karena kontrol kelembaban dan
perdarahan penting untuk mencegah kontaminasi resin dengan darah atau
saliva. Menerapkan teknik pemulihan morfologi mahkota gigi, komposit dapat
dipilih untuk estetika yang lebih baik. Warna komposit dipilih yang paling
sesuai dengan warna gigi yang dipreparasi dan gigi sebelahnya dengan
menggunakan metode shade guide (Walia, et al. 2014).

28
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Estetik dan restorasi pada anak sekarang sudah tersedia untuk gigi anterior
maupun posterior. Selain dalam penampilan berbagai restorasi tersebut, ada
properti tambahan yang menarik di berbagai tingkatan. Modifikasi esthetic crown
mampu mengatasi kekurangan dari stainless steel crown. Modifikasi yang telah
ada adalah open faced dan veneered stainless steel crowns. Open faced stainless
steel crowns mempunyai permukaan fasial berupa resin komposit yang melekat
pada gigi. Sedangkan pada pre-veneered crown merupakan esthetic veneers
komposit yang menahan stainless steel dengan beberapa jenis ikatan mekanis dan
kimia. Keduanya lebih unggul dari stainless steel konvensional tetapi
ketahanannya kurang, sangat mahal, ukuran sangat besar, dan kurang terlihat
natural. Selain itu terdapat bahan zirconia. Zirconia adalah bahan pilihan yang
sangat baik untuk restorasi cakupan penuh pada pasien anak karena memiliki
estetikyang bagus dan ketahanan yang lama. Secara klinis prefebricated zirconia
crown untuk gigi sulung lebih baik dari pada SSC. Karena zirconia lebih sulit
dibentuk, sehingga harus diproduksi di pabrik sesuai dengan ukuran yang tepat.

4.2 Saran
Diperlukan pendalaman materi yang lebih lanjut dalam bidang pediatric
crown agar dapat dibandingkan dengan penelitian-penelitian yang terdahulu dan
mengetahui masing-masing kelebihan dan kekurangannya.

29
DAFTAR PUSTAKA
Aboushelib, M. N., Feilzer, A. J. & Kleverlaan, C. J. 2010. Bonding To Zirconia
Using A New Surface Treatment. Journal Of Prosthodontics, 19, 340-346
Aboushelib, M. N., Feilzer, A. J. & Kleverlaan, C. J. 2010. Bonding To
Zirconia Using A New Surface Treatment. Journal Of Prosthodontics, 19,
340-346
Amrita Widyagarini dan Sarworini B Budiardjo. 2014. Koreksi dimensi vertikal
oklusal dengan modifikasi restorasi mahkota logam pada kasus severe
early childhood caries Vol 47(2): 92-97. Departemen Ilmu Kedokteran
Gigi Anak. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.
Anusavice, K.J., 2003. Phillips’ science of Dental Materials, ed.10, Elsevier
Science, St Louis.
Daokar S, Agrawal G. 2016. Deep Bite Its Etiology, Diagnosis and Management:
A Review. J Orthod Endodontic vol. 2(4).
Garg V, Panda A, Shah J, Panchal P. 2016. Crowns in Pediatric Dentistry: A
Review. Journal of Advanced Medical and Dental Sciences Research Vol.
4. e-ISSN: 2321-9599, p-ISSN: 2348-6805.
Geissberger, M. 2010. Esthetic dentistry in clinical practice. Blacwell scientific
Publication Limited. Oxford; p.18
Harty, F.J., dan R. Ogston. 2014. Kamus Kedokteran Gigi. Jakarta: EGC.
Jang G.W, 2011. Fracture Strength and Mechanism of Dental Ceramic Crown
with Zirconia Thickness . Procedia Engineering 10 (2011) 1556–1560
Published by Elsevier Ltd.
Jornung, J; and Fardal, Ø. 2007. Perception of patiens‟ smiles. J American Dent
Assoc; 138(12):1544-53.
J. Alexis Liu, K. Donly. 2016. A Review Of Esthetic Crowns For The Primary
Anterior Dentition. Decisions in Dentistry 2(10):18, 21-25.
Kumar, C. V. Radhakrishnan, C. H. Sing Sandhu, B. N.K. Sahoo. 2015. Full
mouth rehabilitation of a case of rampant caries using a twin-stage
procedure. Medical Journal Armed Forces India 71 (2015) S429-S434.

30
Muhammad AH, Azzaladeen A, Mai A. 2015. Strip Crowns Technique for
Restoration of Primary Anterior Teeth: Case Report. IOSR Journal of
Dental and Medical Sciences (IOSR-JDMS) e-ISSN: 2279-0853, p-ISSN:
2279-0861.Volume 14, Issue 12 Ver. VIII (Dec. 2015), PP 48-53
Mittal, G.K., A. Verma., H. Pahuju., S. Agarwal., dan H. Tomar. 2016. Esthetics
Crons In Pediatric Dentistry: A Review. International Journal of
Contemporary Medical Research.3(5): 1280 – 1282.
Putri, S. 2002. Pertimbangan yang mendasari segi estetik pada tumpatan gigi
komposit gigi anterior. Skripsi. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Sumatera Utara
Sahana, S., A. A. K. Vasa., dan R. Sekhar. 2010. Esthetic Crown For Primary
Teets: A Review. Annals and Essences of Dentistry. II(2): 87-93.
Saputro, Pandu. 2019. Pemanfaatan Unsur-Unsur Kimia dalam Biokeramik
sebagai Implan Gigi Buatan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Shuman I. 2016. Pediatric Crowns: From Stainless Seel to Zirconia. Dental
Academy of Continuing Education.
Shori, K., Shori, T., Shori, D., Chavan, R.,2015, Achieving EstheticPerfection by
Zirconia: A CaseReport, International Journal Dental Medicine Research,
1(6):146-149.
Silalahi, Pretty. 2014. Studi Karakteristik Abu Sekam Padi dengan Kitosan
Molekul Tinggi Nanopartikel sebagai Bahan Dentinogenesis pada Kavitas
Profunda (In Vitro). Medan: Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis
Ilmu Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara
T., Walia., A. A. Salami, R. Bashiri, O. M. Hamoodi, F. Rashid. 2014. A
randomised controlled trial of three aesthetic full-coronal restorations in
primary maxillary teeth. European Journal of Paediatric Dentistry vol.
15(2):113-118.
Usman, H. 2014. Persepsi Diri Terhadap Estetika Gigi Dan Senyum Pada
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin. Skripsi.
Universitas Hasanuddin Fakultas Kedokteran Gigi Makassar

31
Xiao, J. et al. 2007. The prevalence of tooth discolouration and the selfsatisfaction
with tooth colour in a Chinese urban population. J of Oral Rehabilitation;
34(5):351-60.

32