Anda di halaman 1dari 9

SOFTWARE CRACKING

Muhammad Yogi
Ni Luh Putu Nita A
Pamula
Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Informatika
Universitas Gunadarma
Muhammad.yogi@student.gunadarma.ac.id
niluhputunitaa@student.gunadarma.ac.id
pamula@student.gunadarma.ac.id


Abstrak
Cracking adalah memodifikasi suatu software untuk menonaktifkan fitur fitur yang tidak
diinginkan oleh seorang cracker, biasanya berhubungan dengan metode perlindungan seperti :
pertahanan pencetakan, pertahanan terhadap manipulasi software, trial version atau demo,
serial number, hardware key, cek tanggal, cek CD, atau software gangguan seperti nag screen
atau adware. Dalam masalah ini distribusi dan penggunaan salinan cracking suatu software
adalah ilegal, karena sudah melanggar hak cipta suatu software tersebut.
Kata kunci : Software, Pembajakan, HAKI, Software Cracking, Software Copyright.

Abstract
Software cracking is the modification of software to remove or disable features which are
considered undesirable by the person cracking the software or cracker, usually related to
protection methods : copy protection, protection against the manipulation of software,
trial/demo version, serial number, hardware key, date checks, CD check or software
annoyances like nag screens and adware. In this problem the distribution and use of cracked
copies is illegal, because it violated the software copyright.
Keyword : Software, Illegal copies, HAKI, Software Cracking, Software Copyright.

Pendahuluan
Tingkat pembajakan terhadap hak
kekayaan intelektual (HAKI) di Indonesia
sampai dengan tahun ini masih sangat
tinggi. Untuk pembajakan software
menurut rilis Business Software Alliance
(BSA), berdasarkan penelitianInternational
Data Corporation (IDC), Indonesia selama
tahun 2006 mencapai 85 persen yang
menyebabkan Indonesia menduduki
peringkat kedelapan negara di dunia
dengan kasus pembajakan tertinggi,
sedangkan di Asia Pasifik Indonesia
menduduki peringkat ketiga setelah
Vietnam (88 persen) dan Pakistan (86
persen). Meskipun sudah ada upaya
untuk memerangi pembajakan, salah
satunya dengan dibentuknya UU No 19
Tahun 2002 yang mengatur tentang hak
cipta, namun pembajakan di Indonesia
masih terus berlangsung bahkan
meningkat. Tingginya tingkat pembajakan
di Indonesia disebabkan oleh beberapa
faktor diantaranya adalah faktor harga,
dimana harga bajakan jauh lebih murah
dibandingkan harga original sehingga
masyarakat lebih memilih material bajakan
daripada konten original,kemudian
mudahnya mendapatkan konten bajakan,
kurangnya penegakan hukum terhadap
masalah pembajakan dan kurangnya
kesadaran masyarakat akan pentingnya
penghargaan terhadap hak atas kekayaan
intelektual.

Sejarah
Pada mulanya, perangkat lunak yang
memiliki proteksi terhadap penggandaan
diawali oleh Apple II, Atari 800, dan
Commodore 64 software. Para pembuat
perangkat lunak terutama kategori game
melakukan beragam proteksi untuk
melindungi perangkat mereka dari aksi
pembajakan. Pada zaman dahulu,
perangkat lunak sangat terintegrasi dan
juga erat terkorelasi dengan perangkat
keras secara langsung. Hal ini berbeda
dengan perangkat lunak masa kini yang
hanya akan berkomunikasi dengan
perangkat keras melalui middleware atau
device driver. Demikian pula proteksinya,
dimana akan melalui proses pengalamatan
dengan perangkat keras secara langsung.
Berawal dari hobi mereka akan dunia
komputer, para pelaku pembajakan ingin
memamerkan kemampuannya dengan
melakukan berbagai aksi seperti
membobol keamanan proteksi perangkat
lunak dan menyebarkannya sehingga dapat
digunakan oleh banyak orang. Bukan
hanya sekedar untuk mendemonstrasikan
kemampuan pemrograman, mereka pun
melihatnya sebagai salah satu sumber
uang. Pangsa pasar perangkat lunak
bajakan sangatlah prospektif. Hanya
dengan beberapa puluh ribu Rupiah saja,
konsumen akan bisa mendapatkan
perangkat lunak yang mahal.
Pada tahun 1980, mereka dengan berani
mengiklankan dirinya termasuk
keahliannya, dengan menampilkan gambar
animasi dan berbagai pesan dari
pembuatnya pada layar sebagai halaman
pembuka sebelum program yang dibajak
tersebut dijalankan di komputer.
Perkembangan internet membuat para
pembajak mengembangkan organisasi
online rahasia, membuat pembelajaran
aksi, dan semua aktivitas mereka dapat
lebih tersalurkan pada sesama pelaku.
Salah satu sumber informasi perihal
"software protection reversing" adalah
website Fravia.
Para pelaku pembajakan ini menyebarkan
apa yang telah mereka lakukan melalui
ruang publik pada situs web yang
menggunakan protected/secure arsip FTP
sehingga membuat perangkat-perangkat
lunak bajakan tersebut siap disebarkan dan
beberapa diantaranya dijual ke pihak
ketiga.

Metode Software Cracking
Yang paling umum Software Cracking
adalah modifikasi biner aplikasi untuk
menyebabkan atau mencegah cabang
kunci tertentu dalam pelaksanaan program.
Hal ini dilakukan dengan reverse
engineering kode program yang
dikompilasi dengan menggunakan
debugger seperti SoftICE, OllyDbg, GDB,
atau MacsBug sampai cracker software
mencapai subroutine yang berisi metode
utama untuk melindungi perangkat lunak
(atau dengan membongkar file executable
dengan program seperti sebagai IDA).
Biner ini kemudian dimodifikasi dengan
menggunakan debugger atau hex editor
atau monitor dengan cara yang
menggantikan percabangan opcode
sebelumnya dengan pelengkap atau
opcode NOP sehingga cabang utama akan
baik selalu menjalankan subroutine
tertentu atau melewatkan itu. Hampir
semua Software Cracking umum adalah
variasi dari jenis ini. Pengembang
perangkat lunak berpemilik terus
mengembangkan teknik seperti kode
kebingungan, enkripsi, dan kode diri
memodifikasi untuk membuat modifikasi
ini semakin sulit. Bahkan dengan langkah-
langkah yang diambil, pengembang
berjuang untuk memerangi software
cracking. Hal ini karena sangat umum bagi
seorang profesional untuk publik merilis
EXE Crack sederhana atau Retrium
Installer untuk di-download publik,
menghilangkan kebutuhan bagi pengguna
berpengalaman untuk crack software
sendiri.
Sebuah contoh spesifik dari teknik ini
adalah celah yang menghilangkan periode
berakhirnya dari uji coba waktu terbatas
dari aplikasi. Crack ini biasanya program
yang menambal program executable
danlain-lain, sehingga terkait dengan
aplikasi. Crack serupa yang tersedia untuk
perangkat lunak yang membutuhkan
dongle hardware. Sebuah perusahaan juga
dapat mematahkan perlindungan salinan
program yang telah dibeli secara legal tapi
yang berlisensi untuk hardware tertentu,
sehingga tidak ada resiko downtime karena
kegagalan perangkat keras (dantentu saja
tidak perlu membatasi diri untuk
menjalankan perangkat lunak pada
hardware hanya membeli).
Metode lain adalah penggunaan perangkat
lunak khusus seperti CloneCD untuk
memindai penggunaan aplikasi
perlindungan salinan komersial. Setelah
menemukan perangkat lunak yang
digunakan untuk melindungi aplikasi, alat
lain dapat digunakan untuk menghapus
perlindungan salinan dari perangkat lunak
pada CD atau DVD. Hal ini dapat
mengaktifkan program lain seperti Alcohol
120%, CloneDVD, Game Jackal, atau
Daemon Tools untuk menyalin perangkat
lunak yang dilindungi ke hard disk
pengguna. Aplikasi populer perlindungan
salinan komersial yang dapat dipindai
untuk mencakup SafeDisc dan Starforce .
Dalam kasus lain, ada kemungkinan untuk
mendekompilasi program untuk
mendapatkan akses ke kode sumber asli
atau kode pada tingkat yang lebih tinggi
daripada kode mesin. Hal ini sering
terjadidengan bahasa scripting dan bahasa
yang menggunakan kompilasi JIT. Contoh
cracking (debug) pada .NET platform, di
mana orang mungkin menganggap
memanipulasi CIL untuk mencapai
kebutuhan seseorang. Bytecode Java juga
bekerja dengan cara yang sama di mana
ada bahasa perantara sebelum program
dikompilasi untuk berjalan di platform
kode mesin tergantung.
Reverse engineering lanjutan untuk
perlindungan seperti SecuROM, SafeDisc
atau Starforce membutuhkan cracker, atau
banyak cracker menghabiskan banyak
waktu mempelajari perlindungan, akhirnya
menemukan setiap cacat dalam kode
perlindungan, dan kemudian coding alat
sendiri untuk "membuka" perlindungan
otomatis dari executable (.EXE) dan
perpustakaan (DLL.) file.
Ada sejumlah situs di internet yang
memungkinkan pengguna men-download
Crack untuk permainan dan aplikasi
populer (meskipun bahayanya memperoleh
perangkat lunak berbahaya yang kadang-
kadang didistribusikan melalui situs
tersebut). Meskipun Crackan ini digunakan
oleh pembeli hukum perangkat lunak,
mereka juga dapat digunakan oleh orang-
orang yang telah di-download atau
software bajakan yang diperoleh (sering
melalui jaringan P2P).

Pembajakan dan Perlindungan HAK
Cipta
Hak cipta adalah hak khusus bagi pencipta
maupun penerima hak untuk
mengumumkan atau memperbanyak
ciptaannya maupun memberi izin untuk
itu, dengan tidak mengurangi pembatasan-
pembatasan menurut peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Hak cipta adalah bagian dari sekumpulan
hak yang dinamakan Hak Atas Kekayaan
Intelektual (HAKI) yang pengaturannya
terdapat dalam ilmu hukum yang
dinamakan Hukum HAKI. Yang
dinamakan Hukum HAKI ini, meliputi
suatu bidang hukum yang membidangi
hak-hak yuridis dari karya-karya atau
ciptaan-ciptaan hasil olah pikir manusia
bertautan dengan kepentingan yang
bersifat ekonomi dan moral.
Hak cipta tidak memberikan pemegang
hak cipta atas komputer program hak
monopoli terhadap bagaimana cara
program tersebut bekerja, tetapi hukum
hak cipta memberikan hak bagi pemegang
hak cipta atas program komputer untuk
melarang pihak lain yang meniru,
menjiplak ekspresi dari instruksi atas
program yang dapat diaplikasikan dalam
perangkat komputer tersebut.

Berkaitan dengan hal tersebut di dalam
UU Hak Cipta No. 19 Tahun 2002
menegaskan :
Barang siapa dengan sengaja menyiarkan,
memamerkan, mengedarkan, atau menjual
kepada umum suatu cipta atau barang hasil
pelanggaran hak cipta atau Hak terkait,
sebagaimanadimaksud dalam ayat (1)
dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan atau denda paling
banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus
juta rupiah).
Dari ketentuan tersebut, maka dengan
pembuktian yang cukup sederhana
sebenarnya aparat penegak hukum sudah
dapat melakukan tindakan terhadap
praktek pembajakan, sehingga kerugian
Negara yang diakibatkan oleh praktek
pembajakan tersebut dapat dikurangi.
Apabila hal tersebut juga dimaksudkan
sebagai upaya untuk memberantas tindak
pidana pembajakan nampaknya hal tidak
akan berjalan efektif, praktek pembajakan
yang merupakan pelanggaran terhadap UU
Hak Cipta, sudah sepatutnya jika sanksi
pidana yang dikenakannya didasarkan pula
pada UU Hak Cipta.

Jenis-jenisPembajakan
Ada beberapa jenis pembajakan perangkat
lunak. Berikut ini adalah semua yang
berhubungan dengan penggunaan
perangkat lunak illegal dan berbagai jenis
pembajakan :
- Menggunakan versi tunggal lisensi
pada beberapa computer.
- Memuat perangkat lunak di computer
tanpa memberikan lisensi yang sesuai.
- Menggunakan key generator untuk
menghasilkan kunci pendaftaran yang
mengubah sebuah versi evaluasi
menjadi versi berlisensi.
- Menggunakan kartu kredit curian
untuk menipu pembeli lisensi
perangkat lunak.
- Mengirim versi lisensi produk
perangkat lunak di internet dan
membuatnya tersedia untuk diunduh.
Pengaturan tentang Hak Cipta
Sejak zaman Belanda Hak Cipta di atur
pada Auteurswet Tahun 1912 Stb. No.
600. aturan tentang hak cipta ini
tampaknya sudah tidak sesuai lagi dengan
kebutuhan masyarakat serta cita-cita
Hukum nasional, sehingga auterswet ini
disebut. Untuk pertama kalinya setelah
Indonesia merdeka hak cipta diatur pada
Undang-Undang No. 6 Tahun 1982, yang
diubah UUHC No. 7 tahun 1987,
selanjutnya diubah kembali dengan UUHC
No. 12 Tahun 1997 tentang Hak Cipta
terakhir kali diundangkan UUHC No. 19
Tahun 2002, Undang-undang ini
dikeluarkan unuk merealisasi amanah
Garis Besar Haluan Negara (GBHN)
dalam rangka pembangunan dibidang
hukum, dimaksudkan untuk mendorong
dan melindungi pencipta dan hasil karya
ciptaanya diharapkan penyebarluasan hasil
kebudayaan dibidang karya ilmu seni dan
sastra dapat dilindungi secara yuridis yang
pada gilirannya dapat mempercepat proses
pertumbuhan kecerdasan kehidupan
bangsa.

1. Pengaturan Hak Cipta Menurut
Konvensi Internasional
Perhatian dunia internasional terhadap
masalah hak cipta telah melahirkan
beberapa konvensi internasional dibidang
hak cipta. Sejak pertama kali disepakati
pemberian perlindungan terhadap karya
sastra dan karya seni dalam Berne
Convention 1886, telah mengilhanai
lahirnya beberapa konvensi susulan yang
merupakan kesepakatan antar Negara
dalam mengatur masalah hak cipta secara
lebih spesifik, termasuk didalamnya
pemberian perhatian terhadap karya cipta
yang dihasilkan karena perkembangan
teknologi, misalnya karya cipta dibidang
Phornograms, Distribution programme
carrying signals transmitted by satellite.
Beberapa kesepakatan antar Negara yang
mengatur masalah hak cipta antara lain:
- Bern Convention for the Protection of
Uteraray 2nd Artistic Works 1886.
- Universal Copyright Convention 1955.
- Rome Canventian far tile Pratection of
Perfomers, Producers of Phonograms
and Broadcasting Organizations 1961.
- WIPO Copyright Treaty (WC7) 1996.
- WIPO Prformances and Phanograms
Treaty (WPP7) 1996).
- Brussels Convention relaling to the
Oisirioution of Programe carrying
signals transmitted by satellite 1974.
- Convention for tile Protection of
Producers of Phonograms Against
Unauthorized Duplication of Their
Phonograms 1971.
- Treah on the Internasional registration
of Audiovisual Works (Film Register
Treaty) 1991.

Selain itu, terdapat pula konvensi
internasional yang mengatur juga masalah
hak cipta sebagai bagian dari hak milik
intelektual pada umumnya, yaitu :
- Trips (Marakesh Agreement 15-04-
1994).
- OAPI (Bangui Agreement Revising
Extracts 24-02-1999).
- OAPI (Bangui Agreement 02-03-
1977).
- NAFTA (Intelectual Property Excerpts
08-12-1993).

Dari rangkaian kesepakatan bersama
dibidang hak cipta maka Bern Convention
merupakan konvensi tertua yang mengatur
masalah hak cipta. Konvensi Bern di
tandatangani di Bern, Ibu kota
Swidzerland, pada tanggal 9 September
1886 oleh sepuluh Negara peserta asli
(Belgium, France, Germany, Great Britain,
Haiti, Italy, Liberia, Spain, Swidzerland,
Tunisia) dan tujuh Negara yang mnjadi
peserta dengan cara aksesi (Denmark,
Japan, Luxemburg, Monaco, Montenegro,
Norway, Sweden).
Dalam mukadimah naskah asli Bern
Convention, para kepala Negara waktu itu
menyatakan bahwa yang melatarbelakangi
diadakannya konvensi ini adalah :
Being equaily animated by the desire to
protect, in as effective and uniform a
manner as possible, the right of authors in
their literary and artistic works.
Berdasarkan dasar pemikiran yang
demikian ini. Ternyata Konvensi Bern
semenjak ditandatangani sampai dengan 1
januari 1996 telah 117 negara yang
meratifikasi. Belanda yang menjajah
Indonesia pada 1 November 1912 juga
memberlakukan keikutsertaannya pada
konvensi bern berdasarkan asas
konkondansi bagi Indonesia, dengan
perkataan lain Indonesia semenjak tahun
1912 telah mempunyai UU Hak Cipta
(Auteuresvlet 1912) berdasarkan UU
Belanda tanggal 29 Juni 1911 (Staatbled
Belanda Nomor 197) yang memberi
wewenang pada ratu Belanda untuk
memberlakukan bagi Negara belanda
sendiri dan Negara-negara jajahannya
Konvensi Bern 1886 berikut revisi yang
dilakukan pada 13 November 1908 di
Berlin. Namun demikian, semenjak 15
Maret 1958 Indonesia menyatakan
berhenti menjadi anggota Konvensi Bern
berdasarkan surat No. 15.140 XII tanggal
15 Maret 1958. Menteri luar negeri
Soebandrio waktu itu menyatakan pada
Direktur Biro Berne Convention
menyatakan tidak menjadi anggota The
Convention. Dalam kurun waktu hampir
100 tahun keberadaanKonvensi Bern,
tercatat lima Negara anggota yang
menyatakan berhenti menjadi anggota
konvensi, yaitu: Haiti (1887-1943),
Montenegro (1983-1900), Liberia (1908-
1930), Indonesia (1913-1960), Syiria
(1924-1962). Tiga puluh tujuh tahun
kemudian, tepatnya 7 Mei 1997, Indonesia
menyatakan ikut serta kembali menjadi
anggota Konvensi Bern dengan melakukan
ratifikasi dengan Keppres RI No. 16 Tahun
1997, hal ini sebagai konsekuensi
keikutsertaan Indonesia dalam forum
WTO, yang diartifikasi dengan UU No. 7
tahun 1994.

2. Pengaturan Hak Cipta dalam
Hukum Nasional
Sejak Indonesia menyatakan berdaulat
penuh pada 17 Agustus 1945 diikuti
dengan dibuatnya UUD 45 tanggal 18
Agustus maka berdasarkan Pasl II aturan
peralihan UUD 45 maka semua peraturan
perundangan peninggalan jaman kolonial
Belanda tetap langsung berlaku sepanjang
belum dibuat yang baru dan tidak
bertentangan dengan UUD 45.
Berdasarkan ketentuan tersebut maka
khusus yang berkaitan dengan pengaturan
hak cipta diberlakuakan Auteurswef 1912
peninggalan kolonial Belanda. Tiga puluh
tahun kemudian, tepatnya tahun 1982 baru
pemerintah RI dapat membuat UU hak
cipta nasional yang dituangkan dalam UU
No. 6 tahun 1982 tentang hak cipta ini
banyak mengalami perubahan serta
penambahan peraturan pelaksana, sebagai
berikut :
- UU No.6 tahun 1982 tentang Hak
Cipta.
- UU No.7 tahun 1987 tentang
Perubahan UU No. 6 tahun 1982
tentang Hak Cipta.
- UU No.12 tahun 1997 tentang
perubahan UU No. 6 tahun 1982
sebagaimana diubah dengan UU No. 7
tahun 1987 tentang Hak Cipta.
- UU No.19 tahun 2002 tentang hak
cipta yang menyatakan mencabut UU
lama tentang Hak Cipta.
- UU No.4 tahun 1990 tentang Wajib
Serah Simpan Karya Cetak dan Karya
rekam.

Selain diatur dalam UU maka sebagai
kelengkapan pengaturan hak cipta juga
diatur dalam beberapa peraturan
pelaksanaan, yaitu:
- PP No.14 tahun 1986 Jo PP No. 7
tahun 1989 tentang Dewan Hak Cipta.
- PP No.1 tahun 1989 tentang
penerjemahan dan perbanyakan ciptaan
untuk kepentingan pendidikan, ilmu
pengetahuan, penelitian dan
pengembangan.
- Keppres RI No.18 1997 tentang
pengesahan Berne Convention for the
Protection of Literary and Artistic
works.
- Keppres RI No. 17 tahun 1988 tentang
pengesahan persetujuan mengenai
perlindungan Hukum secara timbal
balik terhadap hak cipta atas rekaman
suara antara RI dengan masyarakat
Eropa.
- Keppres RI No. 25 tahun 1989 tentang
pengesahan persetujuan mengenai
perlindungan Hukum secara timbal
balik terhadap hak cipta antara RI
dengan Amerika Serikat.
- Keppres RI No. 38 tahun 1993 tentang
pengesahan persetujuan Perlindungan
Hukum secara timbal balik terhadap
hak cipta antara RI dengan Australia.
- Keppres RI No. 56 tahun 1994 tentang
pengesahan persetujuan mengenai
perlindungan terhadap Hak Cipta
antara RI dengan Inggris.
- Peraturan menteri kehakiman RI No.
M.01-HC.03.01 tahun 1987 tentang
pendaftaran ciptaan.
- Keputusan menteri kehakiman RI
No.M.04.PW 07.03 tahun 1988 tentang
Penyidik hak cipta.
- Surat edaran menteri kehakiman RI
No. M.01.PW 07.03 tahun 1990
tentang kewenangan menyidik Tindak
Pidana Hak Cipta.
- Surat edaran menteri kehakiman RI
No.M.02.I:C.03.01 tahun 1991 tentang
kewajiban melampirkan NPWP dalam
permohonan pendaftaran ciptaan dan
pencatatan pemindahan hak cipta
terdaftar.

Metodelogi Penelitian
Adapun metode penelitian yang dilakukan
untuk membuat tulisan ini dengan
menggunakan studi pustaka yaitu sebuah
metode dengancara mencari, mengambil,
dan menghimpun beberapa informasi
melalui sumber-sumber atau referensi-
referensi yang kami dapatkan di media
internet.

Pembahasan dan Hasil
Cracking Software
Cracking software adalah yang bertujuan
untuk menyingkirkan proteksi seperti dari
copy/duplikasi aplikasi, serial number,
hardware key, pengecekan waktu, trial
atau versi demo, pengecekan CD, dan
iklan-iklan pada software.
Cracking software merupakan salah satu
kegiatan yang melanggar HAKI (Hak
Kekayaan Intelektual). Kegiatan ini dapat
merugikan Developer dan produsen
software.
Dan hasil yang diperoleh adalah hampir
semua software yang ada sudah terkena
bajak dan beberapa negara juga banyak
menggunakan software bajakan yang
dikarenakan untuk menghemat biaya.

JenisPengamanan Software
1. Serial Number
- Vedor / Developer menyediakan
serial number yang valid.
- Serial number tersebut diberikan
kepada user yang membeli
software tersebut (melalui CD atau
via Email).
- Apabila proteksi masih lemah, user
dapat menginstall software dengan
serial number yang sama di PC
yang berbeda.
- Banyak vendor software tetap
menggunakannya.
- Rentan cracking.
2. Activation Code
- Melengkapi proteksi dengan serial
number.
- Software akan memeriksa
spesifikasi hardware (kode HDD,
Processor atau Motherboard) dan
mengenerate Activation Code.
- Kode aktivasi harus diaktifkan
melalui telpon atau web online
keperusahaan vendor software.
- Vendor software akan memberikan
serial number khusus kode aktivasi
tersebut.
- Muncul problem ketika upgrate/
mengganti hardware karena
dibutuhkan aktivasi kembali.
- Masih rentan cracking.
3. Dongle
- Berupa hardware khusus yang
dipasangkan ke PC (biasanya
melalui USB Port) sebagai
pengaman software.
- Dongle menyimpan informasi
lisensi dalam bentuk hardware
yang akan dibaca oleh software
- Software melakukan otentikasi dan
tidak akan bekerja jika dongle tidak
terpasang atau tidak memiliki
lisensi yang benar.
- Dongle untuk tiap PC yang
terinstall aplikasi (kecuali
menggunakan terminal services /
ThinClient).
- Relatif aman karena cracking
membutuhkan peralatan khusus
dan software khusus
4. Demo Version
- Vendor / Developer membuat dua
versi software.
- Satu, versi demo yang memiliki
fitur terbatas
- Kedua, versi Full version yang
memiliki seluruh fitur yang
dibutuhkan.
- Versi demo dipublikasikan secara
gratis di internet untuk memikat
calon pembeli sehingga tertarik
mencoba.
5. Hard Code
- Developer menanamkan informasi
dan format langsung pada source
code, sehingga informasi atau
format tersebut tidak dapat diganti
dengan mudah.
- Tampilan dan Format laporan
bersifat statis dan hanya dapat
diubah dari source code.
- Teknik ini masih mudah dibongkar.
6. Obfuscated Source Code
- Proteksi pada source code,
sehingga tidak mudah dipahami
dan dimodifikasi oleh orang lain.
- Sering diimplementasikan pada
aplikasi berbasis Web (PHP, ASP,
JSP)

7. Obfuscated Binary Code
- Kode Binary melalui proses
Enkripsi dan Packing (pemaketan
khusus).
- ContohASProtect, Y0da's Cryptor,
NFO, and Armadillo.



Cara Kerja Cracker
Cracker melakukan aktifitas cracking
menggunakan teknik Reverse
Engineering.
Reverse Engineering adalah proses
menganalisis subjek sistem untuk
menciptakan representasi sistem pada
abstraksi tingkat tinggi.

Kesimpulan
CRACKING adalah aktifitas dari cracker
yang berusaha untuk membobol suatu
sistem dengan tujuan mengambil
keuntungan, merusak, dan bahkan
menghancurkan. Dikarenakan motivasi
atau keahlian tertentu, sebutan untuk orang
yang mencari kelemahan sistem dan
memasukinya untuk kepentingan pribadi
dan mencari keuntungan dari sistem yang
dimasuki dengan tujuan merusak dan
bahkan melumpuhkan keseluruhan sistem
computer, sehingga data-data penggunaan
jaringan rusak, hilang, ataupun berubah.

Daftar Pustaka
____. 2013. Hak Cipta dan Hukum Yang
Melindunginya.
http://cyberneet7.blogspot.com/2013/04/ha
k-cipta-dan-hukum-yg-
melindunginya.html. diakses 10 April
2014.
____. 22 November 2012. Pembajakan
perangkat lunak. Wikipedia Bahasa
Indonesia.
http://id.wikipedia.org/wiki/Pembajakan_p
erangkat_lunak. diakses 10 April 2014.
Sinambela, Josua M. ___. Demo Cracking
dan Protection Software plus, [pdf].
http://josh.staff.ugm.ac.id/seminar/Demo%
20Cracking%20&%20Protection%20Soft
ware-plus.pdf. 11 April 2014.