Anda di halaman 1dari 23

S e l a s a , 0 6 M e i 2 0 1 4

JEMBATAN WHEATSTONE

JEMBATAN WHEATSTONE
A. Tujuan
Menentukan nilai suatu hambatan yang tidak diketahui dengan nilai metode jembatan

B. Dasar Teori
Rangkaian jembatan secara luas telah digunakan dalam beberapa pengukuran niai suatu
komponen seperti: rasistansi, induktansi, dan kapasitansi serta parameter-parameter rangkaian
lainnya yang diperoleh langsung dari nilai komponnya seperti frekuensi, sudut fasa, dan
temperatur.
Karena rangkaian jembatan hanya membandingkan antara nilai komponen yang belum
diketahui dengan komponen standar yang telah diketahui nilainya, maka akurasi
pengukurannya menjaid hal yang sangat penting, terutama pada pembacaan pengukuran
perebandingannya yang hanya didasarkan pada sebuah indikator NOL pada kesetimbangan
jembatan.
Jembatan DC bertipe NOL dikenal dengan nama Jembatan Wheatstone, dengan empat
lengan yang terdiri dari sebuah hambatan yang belum diketahui nilainya (Rx), dua hambatan
yang bernilai sama (R2 dan R3) serta hambatan variabel (Rv). Tegangan DC ditempatkan
diantara titik AC serta hambatan variabel diatur sedemikian rupa sehingga tegangan yang
terukur pada titik BD sama dengan nol. Titik nol ini biasanya diukur dengan galvanometer
yang mempunyai sensitivitas tinggi. (Pramono, 2014).
Jembatan Wheatstone adalah alat ukur yang ditemukan oleh Samuel Hunter Christie pada
1833 dan meningkat kemudian dipopulerkan oleh Sir Charles Wheatstone pada tahun 1843.
Ini digunakan untuk mengukur suatu yang tidak diketahui hambatan listrik dengan
menyeimbangkan dua kali dari rangkaian jembatan, satu kaki yang mencakup komponen
diketahui kerjanya mirip dengan aslinya potensiometer. Jembatan Wheatstone adalah suatu
alat pengukur, alat ini dipergunakan untuk memperoleh ketelitian dalam melaksanakan
pengukuran terhadap suatu tahanan yang nilainya relatif kecil sekali umpamanya saja suatu
kebocoran dari kabel tanah/ kartsluiting dan sebagainya. Jembatan Wheatstone adalah alat
yang paling umum digunakan untuk pengukuran tahanan yang teliti dalam daerah 1 sampai
100.000 . Jembatan Wheatstone terdiri dari tahanan R
1
, R
2
, R
3
, dimana tahanan tersebut
merupakan tahanan yang diketahui nilainya dengan teliti dan dapat diatur (Dedy, 2012).
Yonathan Andrianto Suroso, memaparkan beberapa hukum dasar rangkaian listrik yang
berhubungan dengan jembatan wheatstone:
1. Hukum Ohm
Hukum Ohm menyatakan Jika suatu arus listrik melalui suatu penghantar, maka kekuatan
arus tersebut adalah sebanding-larus dengan tegangan listrik yang terdapat diantara kedua
ujung penghantar tadi. Hukum ini dicetuskan oleh Georg Simon Ohm.
Secara matematis, hukum Ohm ini dituliskan:
V = I . R atau I = V/R
Dimana
I : arus listrik yang mengalir pada suatu penghantar (Ampere)
V : tegangan listrik yang terdapat pada kedua ujung penghantar (Volt)
R : hambatan listrik yang terdapat pada suatu penghantar (Ohm)
2. Hukum Kirchoff I
Dipertengahan abad 19, Gustav Robert Kichoff (1824-1887) menemukan cara untuk
menentukan arus listrik pada rangkaian bercabang yang kemudian dikenal dengan hukum
Kirchoff. Hukum Kirchoff berbunyi Jumlah kuat arus yang masuk dalam titik percabangan
sama dengan jumlah kuat arus yang keluar dari titik percabangan. Jumlah I masuk = I
keluar.
3. Hukum Kirchoff II
Hukum Kirchoff II berbunyi: Dalam rangkaian tertutup, jumlah aljabar GGL (E) dan jumlah
penurunan potensial sama dengan nol.
Maksud dari jumlah penurunan potensial sama dengan nol adalah tidak adanya energilistrik
yang hilang dalam rangkaian tersebut atau dalam arti semua energi bisadigunakan atau
diserap.Rangkaian Jembatan Wheatstone adalah susunan dari 4 buah hambatan, yangmana
dua dari hambatan tersebut adalah hambatan variabel dan hambatan yang belumdiketahui
besarnya yang disusun secara seri satu sama lain dan pada 2 titik diagonalnya dipasang
sebuah galvanometer dan pada 2 titik diagonal lainnya diberikansumber tegangan. Dengan
mengatur sedemikian rupa besar hambatan variabelsehingga arus yang mengalir pada
Galvanometer = 0, dalam keadaan ini jembatandisebut seimbang, sehingga sesuai dengan
hukum Ohm berlaku persamaan:
R1 . R2 = R3 . Rx
Persamaan tersebut bila dijabarkan akan menjadi sebagai berikut:
R
1
. R
2
= R
3
. Rx
Rx = . R
1

Bila nilai R 1dan R 3 diganti dengan panjang kawat L1dan L2 maka rumus di atas dapat
ditulis sebagai berikut:
Rx = . R
v

Dengan:
Rv: hambatan variabel disebut juga sebagai lengan standar
R2 dan R3: kawat hambatan dan disebut sebagai lengan perbandingan
Hadi Pramono (2014: 92), menjelaskan jika R
2
dan R3 menyatakan hambatan pada kawat
dengan panjang L1 dan L2, maka dapat juga ditulis dengan:
Rx = R
v


C. Alat dan Bahan
1. Jembatan wheatstone
2. Power supplay AC-DC 12 volt
3. Besic meter
4. Rheostart 10 ohm 3 ohm
5. Kawat homogen
6. Kabel-kabel
7. Resister variabel

D. Langkah Kerja
1. Susunlah rangkaian percobaan!
2. Sebelum rangkai dihubungkan dengan sumber tegangan, konsultasikan kepada asisten
apakah susunan rangkaian sudah benar atau belum.
3. Geserlah kontak logam yang tehubungan dengan kawat ke kanan atau ke kiri, sedmikian
hingga jarum galvanometer menunjukan angka nol.
4. Ukurlah panjang kawat yang ada disebelah kiri dan sebelah kanan kontak logam.
5. Ubah-ubahlah nilai resister variabel, untuk mendapatkan hasil yang berbeda. Kemudian geser
kontak logam ke kanan atau ke kiri hingga jarum golvanometer menunjukan angka nol. Ukur
panjang kawat sebelah kanan dan sebelah kiri logam.
6. Gantilah resister Rx dengan yang lain. kemudian lakukan seperti langkah 1 5.

E. Hasil Pengamatan
1.1.Tabel Pengamatan

No

V
Besic
meter

I

L
1
(m)

L
2
(m)

Rv

Rx

1
3V 1 A 99 0,52 m 0,48 m 0,03 0,0325
5 A 19,6 0,54 m 0,46 m 0,153 0,179

2
6V 1 A 57 0,73 m 0,27 m 0,105 0,283
5 A 16,2 0,65 0,35 m 0,37 0,687

3
9V 1 A 35 0,02 0,98 m 0,257 0,005
5 A 16,8 0,81 0,19 m 0,535 2,28

1.2.Perhitungan
1. Percobaan 1

a. Dik: v = 3v . 1A
I = = = 99
L
2
= 0,48 m
L
1
= 0,52 m
Rv = = = 0,03

Dit: Rx?
Jawab: Rx = Rv
= 0,03
= 0,0325
b. Dik: v = 3v . 5A
I = = = 19,6
L
2
= 0,46 m
L
1
= 0,54 m
Rv = = = 0,153

Dit: Rx?
Jawab: Rx = Rv
= 0,53
= 0,179


2. Percobaan 2

a. Dik: v = 6v . 1A
I = = = 57
L
2
= 0,27 m
L
1
= 0,73 m
Rv = = = 0,105

Dit: Rx?
Jawab: Rx = Rv
= 0,105
= 0,283
b. Dik: v = 6v . 5A
I = = = 16,2
L
2
= 0,35 m
L
1
= 0,65 m
Rv = = = 0,37

Dit: Rx?
Jawab: Rx = Rv
= 0,37
= 0,687


3. Percobaan 3

a. Dik: v = 9v . 5A
I = = = 35
L
2
= 0,98 m
L
1
= 0,02 m
Rv = = = 0,257

Dit: Rx?
Jawab: Rx = Rv
= 0,105
= 0,005
b. Dik: v = 9v . 5A
I = = = 16,8
L
2
= 0,19 m
L
1
= 0,81 m
Rv = = = 0,535

Dit: Rx?
Jawab: Rx = Rv
= 0,535
= 2,28


F. Pembahasan
Jembatan wheatstone merupakan alat untuk mengukur suatu yang tidak diketahui
hambatan listrik dengan menyeimbangkan dua kali dari rangkaian jembatan, juga untuk
memperoleh ketelitian dalam melaksanakan pengukuran terhadap suatu tahanan yang
nilainya relatif kecil sekali. Oleh karena iu pada prktikum kali ini adalah bertujuan
untukmenentukan nilai suatu hambatan yang tidak diketahui dengan nilai metode jembatan.
dilakukan pula dengan enam pengamatan, yaitu 3 volt, 6 volt dan 9 volt dari sumber
hambatan atau power supplay dengan masing-masing 1 A dan 5 A.
Sebelum dilakukan pastikan rangkaian tersusun dengan benar. Untuk mencari nilai Rx,
terlebih dahulu dicari I dan Rv. Untuk mencari I kumparan pada Rheostart tidak tertempel.
Dan setelah didapat dapat dihitung dengan rumus I = , 100 itu sendiri adalah jumlah nilai
pada basic mater dan dikurangi nilai yang telah didapat, lalu dibagi dengan arus. Arus
masing-masing sudah dijelaskan diatas yaitu, 1 A dan 5 A. Sementara untuk Rv didapat
dengan rumus: Rv = . dan setelah keduanya didapat, barulah mencari Rx-nya.
Untuk menentukan hambatan yang dimiliki oleh resistor, dengan rangkaian jembatan
wheatstone ini, terlebih dahulu mengatur kontak geser dari kabel hitam yang tak terpakai
kemudian digeser-geserkan pada kawat sedemikian rupahingga skala yang ditunjuk oleh
besic meter adalah nol. Setelah ditemukan titik lokasi tersebut, dapat ditentukan nilai L
1
dan
L
2
. L
1
yang didapat ternyata bernilai besar, sedangkan L
2
bernilai kecil. Ketika menentukan I,
kumparan rheostart tidak tertempel, sementara untuk mencari L1 dan l2 kumparan pada
rheostart ditempelkan. Nilai yang dicari adalah harus menunjukan pada angka nol. Karena
jembatan dikatakan setimbang jika beda potensial pada basic meter sama dengan nol (0 volt)
sehingga tidak ada arus yang melalui basic meter tersebut. Untuk nilai L1 diketahui berada
sumber hambatan ataupower supplay, sedangkan L2 jauh dengan sumber tersebut.
Dari pengamatan di atas sesuai dengan hukum kischoff I yang mengatakan Dalam
rangkaian tertutup, jumlah aljabar GGL (E) dan jumlah penurunan potensial sama dengan
nol. Setelah menunjukan angka nol, dalam menentukan nilai L2 dan L1 ditentukan dengan
cara: L2 = 100 L1, karena terdapat hubungan yaitu L1 + L2 adalah panjang kawat
penghantar yang dipakai yaitu 1 meter (100 cm). Untuk menghitung nilai hambatan yang
belum diketahui besarnya, maka menggunakan persamaan yang berkaitan dengan hukum
Ohm: Rx = Rv . Maka didapat nilai Rx 3 volt pada 1 A dan 5 A masing-masing adalah
0,0325 dan 0,0179 . Nilai Rx 6 volt pada 1 A dan 5 A masing-masing adalah 0,283 dan
0,687 . Dan nilai Rx 9 volt pada 1 A dan 5 A masing-masing adalah 0,005 dan 2,28 .
Dari perhitungan di atas, bisa dikatakan bahwa bila semakin besar hambatan (volt) pada
arus 1 A, maka nilai Rx semakin kecil. Sedangkan, bila semakin besar hambatan pada arus 5
A, nilai Rx yang didapat semakin besar pula. Dengan demikian, arus mempengaruhi nilai Rx
tersebut. Sementara hukum Ohm mengatakan, jika suatu arus listrik melalui suatu
penghantar, maka kekuatan arus tersebut adalah sebanding larus dengan tegangan listrik yang
terdapat diantara kedua ujung penghantar tadi.
Dalam praktikum tentang jembatan wheatstone ini, baik dalam pelaksanaan maupun
dalam pengolahan tidak terpisahkan dari kesalahan-kesalahan tertentu yang mungkin terjadi.
Di antaranya ketidaktelitian pada saat mengukur panjang kawat yang dipakai, ketidaktelitian
pada saat mengamati basic meter dan menentukan L
1
dan L
2
dengan kontak geser yang
terhubung pada basic meter. Kerusakan pada alat-alat praktikum yang digunakan dan
penyusunan rangkaian resisitor maupun rangkaian pada alat jembatan wheatstone yang tidak
tepat

G. Kesimpulan
Dari percobaan praktikum dan perhitungan di atas dapat ditarik kesemipulan, bahwa suatu
hambatan yang tidak diketahui dengan nilai metode jembatan dengan menggunakan rumus:
Rx = Rv sehingga didapat nilai Rx 3 volt pada 1 A dan 5 A masing-masing adalah 0,0325
dan 0,0179 . Nilai Rx 6 volt pada 1 A dan 5 A masing-masing adalah 0,283 dan 0,687 .
Dan nilai Rx 9 volt pada 1 A dan 5 A masing-masing adalah 0,005 dan 2,28 .


DAFTAR PUSTAKA
Dedi. 2012. jembatan wheatstone http://dedy4brother.blogspot.com/2012/05/je
mbatan-wheatstone.html diakses pada 17 April 14
Pramono, Hadi. 2014. Panduan Praktikum Semester 2. Cirebon: Pusat
Labolatorium IAIN
Suroso,Yonanthan Andrianto. Laporan Praktikum Disika Dasar II Jembatan
Wheatstone. http://www.scribd.com/doc/145342454/Laporan-Praktikum-
Fisika-Dasar-II-JEMBATAN-WHEATSTONE diakses pada 17 April 14
http://ari-irawan4.blogspot.com/2014/05/jembatan-wheatstone.html
Jembatan Wheatstone
Jembatan wheatstone adalah susunan komponen komponen elektronika yang berupa resistor dan catu
daya seperti tampak pada gambar berikut

Hasil kali antara hambatan hambatan berhadapan yang satu akan sama dengan hasil kai hambatan
hambatan berhadapan lainnya jika beda potensial antara c dan d bernilai nol. Persamaan
R1 . R3 = R2 . R4 dapat diturunkan dengan menerapkan Hukum Kirchoff dalam rangkaian tersebut.
Hambatan listrik suatu penghantar merupakan karakteristik dari suatu bahan penghantar tersebut yang
mana adalah kemampuan dari penghantar itu untuk mengalirkan arus listrik, yang secara matematis
dapat dituliskan:
r=p. (L/A)
Dimana:
R : Hambatan listrik suatu penghantar ()
: Resitivitas atau hambatan jenis (. m)
L : Panjang penghantar (m)
A : Luas penghantar ( m)
Menurut hukum Ohm, hambatan listrik juga merupakan hasil perbandingan dari besarnya beda potensial
pada ke-2 ujung penghantar terhadap besarnya arus listrik yang mengalir melalui hambatan tersebut.
Secara matematis dapat dituliskan: R=V/I
Dimana:
R : Hambatan ()
V : Beda potensial (V)
I : Arus Listrik (A)
Cara menentukan besar suatu hambatan biasanya dapat dilakukan dengan cara:
1. 1. Menggunakan teori hubungan antara resitivitas terhadap besar hambatan ( jika hambatan
berupa suatu penghantar), yang mana harus diketahui luas dari lebar penghantar dan panjang
penghantar serta harus diketahui juga hambatan jenis dari bahan penghantar. Namun bila besar
hambatan merupakan suatu komponen listrik ( R ), dapat diketahui dengan cara mengukur besar
arus yang mengalir dan besar beda potensial pada ke-2 ujung penghantar, lalu gunakan hukum
Ohm yang mana didapat besar hambatan berbanding lurus dengan besar beda potensial dan
berbanding terbalik terhadap besar arus listrik yang mengalir.
Dapat juga dengan menggunakan metode jembatan Wheatstone, yaitu menggunakan rangkaian
jembatan Wheatstone dan melakukan perbandingan antara besar hambatan yang telah diketahui
dengan besar hambatan yang belum diketahui yang tentunya dalam keadaan jembatan disebut
seimbang ( G=0 ).
Rangkaian jembatan wheatstone adalah susunan dari 4 buah hambatan, yang mana 2 dari hambatan
tersebut adalah hambatan variable dan hambatan yang belum diketahui besarnya yang disusun secara
seri satu sama lain dan pada 2 titik diagonalnya dipasang sebuah galvanometer dan pada 2 titik
diagonal lainnya diberikan sumber tegangan.
Dengan mengatur sedemikian rupa besar hambatan variable sehingga arus yang mengalir pada
Galvanometer = 0, dalam keadaan ini jembatan disebut seimbang, sehingga sesuai dengan hukum Ohm
berlaku persamaan :
Rangkaian jembatan wheatstone juga dapat disederhanakan dengan menggunakan kawat geser bila
besarnya hambatan bergantung pada panjang penghantar.
Pengertian Hukum Ohm
Didalam logam pada keadaan suhu tetap, rapat arus I berbanding lurus dengan medan listrik. Hubungan
antara tegangan, arus, dan hambatan disebut Hukum Ohm. Ditemukan oleh George Simon Ohm dan
dipublikasikan pada sebuah paper pada tahun 1827. the galvanic Circuit Investigated Mathematically,
prinsip ohm adalah besarnya arus listrik yang mengalir melalui sebuah penghantar metal pada
rangkaian, Ohm menemukan sebuah persamaan yang simple, menjelaskan bagaimana hubungan antar
tegangan, arus dan hambatan yang salaing berhubungan.
Hukum Ohm :
- Tegangan dinyatakan dengan nilai volt, disimbolkan E dan V.
- Arus dinyatakan dengan Ampere, disimbolkan I
- Hambatan dinyatakan dengan Ohm, disimbolkan R.
Jika luas penampang A yang diperhatikan cukup kecil dan tegak lurus kearah J (misalnya panjang
konduktor besar sekali dibanding dengan luas penampangnya), maka J dapat dianggap sama pada
seluruh bagian penampang hingga I = J . A maka untuk beda potensial berlaku V = E . dl dan juga
integrasi diambil sepanjang suatu garis gaya V = E . dl
Terlihat bahwa faKtor yang berupa integrasi hanya tergantung dari konduktornya dan merupakan sifat
khusus konduktornya dan biasa disebut sebagai tahanan (R) atau resistansinya. Dapat dituliskan V = I .
R
resistansinya. Dapat dituliskan V = I . R
Pengertian Hukum Kirchoff
Hukum kirchoff terbagi menjadi dua, yaitu:
Hukum Kirchoff I
Dipertengahan abad 19, Gustav Robert Kichoff (1824-1887) menemukan cara untuk menentukan arus
listrik pada rangkaian bercabang yang kemudian dikenal dengan hukum Kirchoff. Hukum Kirchoff
berbunyi Jumlah kuat arus yang masuk dalam titik percabangan sama dengan jumlah kuat arus yang
keluar dari titik percabangan.
Jumlah I masuk = I keluar
Hukum Kirchoff II
Hukum Kirchoff II berbunyi, Dalam rangkaian tertutup, jumlah aljabar GGL (E) dan jumlah penurunan
potensial sama dengan nol
Maksud dari jumlah penurunan potensial sama dengan nol adalah tidak adanya energi listrik yang hilang
dalam rangkaian tersebut atau dalam arti semua energi bisa digunakan atau diserap.
Pengertian Galvanometer
Galvanometer adalah alat yang digunakan untuk deteksi dan pengukuran arus. Kebanyakan alat itu
kerjanya tergantung pada momen yang berlaku pada kumparan di dalam medan magnet.
Bentuk mula-mula dari galvanometer adalah seperti alat yang dipakai Oersted yaitu jarum kompas yang
diletakkan dibawah kawat yang dialiri arus yang akan diukur. Kawat dan jarum diantara keduanya
mengarah utara-selatan apabila tidak ada arus di dalam kawat. Kepekaan galvanometer semacam ini
bertambah apabila kawat itu dililitkan menjadi kumparan dalam bidang vertical dengan jarum kompas
ditengahnya. Dan instrument semacam ini dibuat oleh Lord Kelvin pada tahun 1890, yang tingkat
kepekaanya jarang sekali dilampaui oleh alat-alat yang ada pada waktu ini.
Prinsip dari metode jembatan wheatstone adalah
1. Hubungan antara resitivitas dan hambatan, yang berarti setiap penghantar memiliki besar
hambatan tertentu. Dan juga menentukan hambatan sebagai fungsi dari perubahan suhu
2. Hukum Ohm yang menjelaskan tentang hubungan antara hambatan, tegangan dan arus listrik.
Yang mana besar arus yang mengalir pada galvanometer diakibatkan oleh adanya suatu
hambatan.
3. Hukum Kirchoff 1 dan 2, yang mana sesuai dari hukum ini menjelaskan jembatan dalam keadaan
seimbang karena besar arus pada ke-2 ujung galvanometer sama besar sehingga saling
meniadakan
http://ionozer.blogspot.com/2010/12/jembatan-wheatstone.html








LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA JEMBATAN WHEATSTONE
2011
12.23
LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR
JEMBATAN WHEATSTONE


1. 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam umumnya Jembatan Wheatstone dipergunakan untuk memperoleh ketelitian dalam
melaksanakan pengukuran terhadap suatu tahanan yang nilainya relative kecil sekali umpamanya
saja suatu kebocoran dari kabel tanah/ kortsluiting dan sebagainya. Rangkaian ini dibentuk oleh
empat buah tahanan (R) yag merupakan segiempat A-B-C-D dalam hal mana rangkaian ini
dihubungkan dengan sumber tegangan dan sebuah galvanometer nol (0). Kalau tahanan-tahanan
itu diatur sedemikian rupa sehingga galvanometer itu tidak akan mengadakan suatu hubungan
antara keempat tahanan tersebut.
Jembatan Wheatstone merupakan suatu susunan rangkaian listrik untuk mengukur suatu tahanan
yang tidak diketahui harganya (besarannya). Kegunaan dari Jembatan Wheatstone adalah untuk
mengukur nilai suatu hambatan dengan cara arus yang mengalir pada galvanometer sama
dengan nol (karena potensial ujung-ujungnya sama besar). Sehingga dapat dirumuskan dengan
perkalian silang. Cara kerjanya adalah sirkuit listrik dalam empat tahanan dan sumber tegangan
yang dihubungkan melalui dua titik diagonal dan pada kedua diagonal yang lain dimana
galvanometer ditempalkan seperti yang diperlihatkan pada jembatan wheatstone.

1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dari praktikum fisika dasar tentang Jembatan Wheatstone adalah agar para praktikan
mengetahui bagaimana cara merancang rangkaian Jembatan Wheatstone dengan baik dan benar,
serta dapat mengetahui bagian-bagian Jembatan Wheatstone.
Tujuan dari praktikum fisika dasar tentang Jembatan Wheatstone adalah agar dapat menentukan
tahanan suatu penghantar/ besarnya suatu hambatan dengan rangkaian Jembatan Wheatstone,
serta dapat mengetahui bagian-bagian Jembatan Wheatstone.

1.3 Waktu dan Tempat
Praktikum Fisika Dasar tentang Jembatan Wheatstone dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 22
november 2011 pada pukul 06.30 WIB sampai dengan 08.45 WIB di gedung C lantai I
Laboratorium IIP (Ilmu-Ilmu Perairan) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya,
Malang.


1. 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Jembatan Wheatstone dan Gambar
Jembatan Wheatstone adalah alat ukur yang ditemukan oleh Samuel Hunter Christie pada 1833
dan meningkat kemudian dipopulerkan oleh Sir Charles Wheatstone pada tahun 1843. Ini
digunakan untuk mengukur suatu yang tidak diketahui hambatan listrik dengan
menyeimbangkan dua kali dari rangkaian jembatan, satu kaki yang mencakup komponen
diketahui kerjanya mirip dengan aslinya potensiometer.
Jembatan Wheatstone adalah suatu alat pengukur, alat ini dipergunakan untuk memperoleh
ketelitian dalam melaksanakan pengukuran terhadap suatu tahanan yang nilainya relatif kecil
sekali umpamanya saja suatu kebocoran dari kabel tanah/ kartsluiting dan sebagainya.
(Suryatmo, 1974).
Jembatan Wheatstone adalah alat yang paling umum digunakan untuk pengukuran tahanan yang
teliti dalam daerah 1 sampai 100.000 . Jembatan Wheatstone terdiri dari tahanan R1, R2, R3,
dimana tahanan tersebut merupakan tahanan yang diketahui nilainya dengan teliti dan dapat
diatur. (Lister, 1993).
(Google, images, 2010)
2.2 Galvanometer dan Gambar
Jika konduktor pengalir arus ditempatkan dalam medan magnet dihasilkan gaya pada konduktor
yang cenderung menggerakkan konduktor itu dalam arah tegak lurus medan. Prinsip ini
digunakan dalam instrument pendeteksi arus. Instrument pendeteksi arus yang peka disebut
galvanometer. (Lister, 1993).
Galvanometer merupakan instrument sangat peka dan dapat mengukur arus yang sangat lemah.
Galvanometer terdiri atas sebuah komponen kecil berlilitan banyak yang ditempatkan dalam
sebuah medan magnet begitu rupa sehingga garis-garis medan akan menimbulkan kopel pada
kumparan apabila melalui kumparan ini ada arus. (Flink, 1985).
Di dalam teori pengukuran listrik yang dimaksudkan dengan pengukuran Galvano yaitu suatu
instrument yang dipergunakan untuk memperlihatkan arus yang lemah. Untuk menyatakan
dengan jelas kadang-kadang dipisahkan juga untuk instrument-instrumen yang peka (sensitif),
yang banyak dipakai di laboratorium dan terutama sistem jembatan yang banyak kita jumpai.
(Suryatmo, 1974).
Galvanometer adalah alat yang dipergunakan untuk deteksi dan pengukuran arus. Kebanyakan
alat itu kerjanya tergantung pada momen yang dilakukan pada kumparan di dalam medan
magnet. (Pratama, 2010).
(Google, images, 2010)
2.3 Hambatan Listrik
Hambatan listrik adalah perbandingan antara tegangan listrik dari suatu komponen elektronik
(misalnya resistor) dengan arus listrik yang melewatinya. Hambatan listrik yang mempunyai
satuan dan dapat dirumuskan sebagai berikut:
atau
Ket : V = Tegangan
I = Arus listrik. (Wikipedia, 2010)
Hambatan (R) sebuah kawat atau benda lain adalah ukuran benda potensial (V) yang harus
terpasang antara benda tersebut sehingga arus sebesar satu ampere dapat mengalir
melewatinya. (Buechhe, 2006).
Bila arus mengalir melalui kawat tembaga, arus tadi akan mendapatkan tahanan. Ilmuwan fisika
ohm telah menemukan bahwa pada suhu konstan maka besarnya arus bertambah sehingga
terdapat tegangan yang disampai dengan rumus:

Perbandingan yang konstan ini menurut ohm disebut tahanan dari penghantar dengan symbol R,
jadi

Satuan tahanan adalah ohm (), ini merupakan tahanan untuk artus sebesar 1 Ampere melalui
tahanan dengan tegangan 1 Volt. Hokum ohm ditulis dengan U : besar tegangan dan I : arus.
(Vander Wal, 1985).
2.4 Manfaat Jembatan Wheatstone di bidang Perikanan
Perancangan dan pembuatan perhitungan ikan secara otomatis diciptakan alat-alat yang
bertujuan untuk mempermudah tugas manusia dalam pekerjaan sehari-hari. Dalam bidang
perikanan perlu diciptakan suatu alat yang dapat menmggantikan tugas manusia untuk
menghitung jumlah ikan-ikan saat beri makan ikan-ikan, akan menjaga jumlah ikan-ikan dalam
jumlah banyak sehingga tugas manusia dapat digantikan oleh alat ini juga dapat mempercepat
proses perhitungan ikan otomatis ini dapat dihitung jumlah ikan dalam jumlah banyak, dalam
waktu yang relatif cepat. (Petra, 2010).


1. 3. METODOLOGI

3.1 Gambar Rangkaian

Ket:
- Ps : Power supply
- RS : Hambatan yang telah diketahui nilainya
- 6 : Galvanometer
- Rx : Hambatan yang akan ditentukan nilainya

3.2 Alat dan Fungsi
Rangkaian jembatan wheatstone jenis kawat geser untuk menentukan nilai suatu hambatan (L1 dan
L2)
Power supply untuk mengubah arus AC bolak-balik menjadi arus DC (searah)
Galvanometer untuk mendeteksi arus listrik kecil yang mengalir
o RS (Resistor standart) tahanan standart yang telah diketahui nilainya (10, 12 , 15 , 33 , 47
)
o RX (Resistor Variable) (tahanan yang akan ditentukan besarannya) untuk sebagai resistor yang
akan dicari nilainya
o Kabel penghubung untuk menghubungkan arus listrik yang mengalir
o Kontak geser untuk memutuskan atau mengalirkan arus listrik (saklar)
o Kawat mikron sebagai media stabilitas arus listrik (hambatannya konstan)


3.3 Skema Kerja



1. 4. PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pengamatan

No Rs (Ohm)
RX
1
RX
2

Polaritas A Polaritas B
L
1
(cm) L
2
(cm) L
1
(cm) L
2
(cm)
1 10 15,5 84,5 13 87
2 12 41,7 58,3 30 70
3 15 0,5 99,5 35 65
4 33 6,5 93,5 3 97
5 47 50 50 4 96

4.2 Analisa Data
Polaritas A

= 54,52

= 16,78

= 2985

= 474,6

= 47


Polaritas B

= 66,9

= 28

= 27,86

= 1067

= 1128


Ralat mutlak
o Polaritas A





Polaritas B






Ralat Nisbi
o Polaritas A




Polaritas B




Keseksamaan
o Polaritas A




Polaritas B




No
Rx

Polaritas
A
Polaritas B
1 54,52 66,9 651,66 396,64 424660,8 157323,3
2 16,78 28 689,4 435,56 475272,4 189712,5
3 2985 27,86 2278,82 435,7 5193020,6 189834,5
4 474,6 1067 231,58 -603,44 53629,3 364139,8
5 47 1128 659,18 -664,44 434518,3 441480,5

6581101,4 1342490,6


4.3 Analisa Prosedur
Pada praktikum fisika dasar tentang jembatan wheatstone, langkah pertrama yang dilakukan
adalah mempersiapkan alat yang akan digunakan, kemudian dirantai sebuah jembatan
wheatstone lalu dinyalakan power supply setelah itu diletakkan kontak geser pada kawat nikrom
yang sudah diletakkan di atas penampang jembatan jembatan wheatstone, lalu geser ke kanan
atau ke kiri sampai jarum galvanometer menunjuk angka nol karena sudah diasumsikan besarnya
arus dan hambatan sama besar digunakan kawat nikron karena nilai hambatannya konstan.
Sebelum merubah Rs, dimatikan terlebih dahulu power supplynya, (agar tidak terjadi hubungan
arus pendek), baru Rs dipindahkan.
Langkah terakhir dicatat L1 dan L2, lalu dirubah Rs mulai 10, 12 , 15 , 33 , 47 . Setelah
itu dirubah Rx mulai dari Rx1 sampai Rx5. Galvanometer menunjukkan angka nol karena sudah
diasumsikan besarnya arus.

4.4 Analisa Hasil
Pada percobaan praktikum ini tentang jembatan wheatstone mendapatkan hasil pada polaritas A
untuk Rs 10= L1 dan L2=15,5 dan 84,5, Rs 12 = L1 dan L2=41,7 dan 58,3, Rs 15 L1=0,5 dan
L2=99,5. Rs 33 L1=6,5 dan L2=93,5, Rs 47 L1=50 dan L2=50.
Pada percobaan praktikum fisika dasar tentang jembatan wheatstone mendapatkan hasil pada
polaritas B untuk Rs 10 L1=13 dan L2=87, Rs 12 = L1 dan L2=30 dan 70, Rs 15 L1=35 dan
L2=85. Rs 33 L1=3 dan L2=97, Rs 47 L1=4 dan L2=96.
Hasil perhitungan Rx pada polaritas A didapatkan hasil Rs 10= RxA=54,52 dan RxB=66,92, RS
12= RxA=16,78 dan RxB=28, Rs 15 RxA=2985 dan RxB=27,86, Rs 33= RxA=474,6 dan
RxB=1067, dan Rs 47= RxA=47 dan RxB=1128.
Setelah polaritas A dan B didapatkan hasil rata-rata pada polaritas A, untuk polaritas B
didapatkan hasil rata-rata
Setelah semua dihitung diperoleh hasil, ralat mutlak pada polaritas A, didapatkan hasil
SXA=573,6, pada polaritas B didapatkan hasil SXB=259,1. Pada ralat nisbi polaritas A IA=80%,
polaritas B IB=60%. Pada keseksamaan dari polaritas A=K=20% dan pada polaritas B=K=40%.

1. 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang diperoleh dala praktikum ini adalah:
Hambatan listrik adalah perbandingan antara tegangan dari suatu komponen elektronik (misalnya
resistor) dengan arus yang melewatinya.
Hambatan listrik dapat dirumuskan sebagai berikut
Data perhitungan polariotas A dan polaritas B adalah Rs 10 (L1 dan L2=15,5 dan 84,5), Rs 12
(L1 dan L2=41,7 dan 58,3), Rs 15 (L1=0,5 dan L2=99,5). Pada polaritas A, dan pada polaritas B
adalah Rs 10 (L1=13 dan L2=87), Rs 12 (L1 dan L2=30 dan 70, Rs 47 (L1=4 dan L2=96)
Data perhitungan Rx polaritas A&B= Rs 10 (RxA=54,52 dan RxB=66,92). RS 12 (RxA=16,78 dan
RxB=28), RS 15 (RxA=2985 dan RxB=27,86). RS 33 (RxA=474,6 dan RxB=1067) dan RS 47
(RxA=47 dan RxB=1128). Rata-rata dan .
Data perhitungan ralat mutlak polaritas A SXA=573,6, polaritas B SXB=259,1. Ralat nisbi pada
polaritas A dan B, IA=80% dan IB=60%. Keseksamaan KA=20% dan KB=40%.
Resistor adalah suatu komponen dengan bahan konduktor yang dibuat sedemikian sehingga
mempunyai hambatan tertentu
Galvanometer adalah alat ukur yang memiliki kepekaan tinggi oleh karena itu galvanometer dipakai
pengukuran dengan tegangan kecil.

5.2 Saran
Dengan adanya praktikum fisika dasar tentang jembatan wheatstone sebaiknya pada praktikan
untuk lebih sabar dalam mengukur rangkaian jembatan wheatstone agar mendapatkan hasil yang
maksimal, praktikan lebih berhati-hati dalam menggunakan.


DAFTAR PUSTAKA

Bueche, Fredick J. dan Eugene Hecht. 2006. Fisika Universitas. Jakarta :
Erlangga.
Flink, R.J dan O.G Brink. 1984. Dasar-dasar Ilmu Instrumen. Jakarta : Binacipta.
Lister, Eugene C. 1993. Mesin dan Rangkaian Listrik. Jakarta : Erlangga.
Mars. 2010. Jembatan Wheatstone. http://marausna.wordpress.com/. Diakses pada
tanggal 16 November 2010 pukul 17.40 WIB.
Petra. 2010. http://deweypetra.ac.id. Diakses pada tanggal 16 November 2010
pukul 16.40 WIB.
Pratama, Luffi. 2009. http://sebuahnamauntukcinta.blogspot.com. Diakses pada
tanggal 16 November 2010 pukul 17.15 WIB.
Suryatmo, F. 1986. Teknik Listrik Pengukuran. Jakarta : Bina aksara.
Van der wol, G. 1985. Rangkaian Eletro Teknik. Jakarta : Erlangga.
Wikipedia. 2010. Hambatan Listrik. http://id.wikipedia.org.com/wiki/hambatan-listrik. Diakses
pada tanggal 16 November 2010 pukul 17.37 WIB.
http://blog.ub.ac.id/fyrman/2011/12/23/laporan-praktikum-fisika-jembatan-wheatstone/

DASAR TEORI: JEMBATAN WHEATSTONE
Posted by Sulistiyo Nurhidayat | | 10.17
A.JEMBATAN WHEATSTONE

Jembatan Wheatstone dipergunakan untuk memperoleh ketelitian dalam melaksanakan
pengukuran terhadap suatu tahanan yang nilainya relative kecil sekali umpamanya saja
suatu kebocoran dari kabel tanah/ kortsluiting dan sebagainya. Rangkaian ini dibentuk
oleh empat buah tahanan (R) yag merupakan segiempat A-B-C-D dalam hal mana
rangkaian ini dihubungkan dengan sumber tegangan dan sebuah galvanometer nol (0).
Kalau tahanan-tahanan itu diatur sedemikian rupa sehingga galvanometer itu tidak akan
mengadakan suatu hubungan antara keempat tahanan tersebut. (Suryatmo, 1986).

Jembatan Wheatstone merupakan suatu susunan rangkaian listrik untuk mengukur
suatu tahanan yang tidak diketahui harganya (besarannya). Kegunaan dari Jembatan
Wheatstone adalah untuk mengukur nilai suatu hambatan dengan cara arus yang
mengalir pada galvanometer sama dengan nol (karena potensial ujung-ujungnya sama
besar). Sehingga dapat dirumuskan dengan perkalian silang. Cara kerjanya adalah
sirkuit listrik dalam empat tahanan dan sumber tegangan yang dihubungkan melalui dua
titik diagonal dan pada kedua diagonal yang lain dimana galvanometer ditempalkan
seperti yang diperlihatkan pada jembatan wheatstone. (Pratama, 2010).

Jembatan Wheatstone adalah alat ukur yang ditemukan oleh Samuel Hunter Christie
pada 1833 dan meningkat kemudian dipopulerkan oleh Sir Charles Wheatstone pada
tahun 1843. Ini digunakan untuk mengukur suatu yang tidak diketahui hambatan listrik
dengan menyeimbangkan dua kali dari rangkaian jembatan, satu kaki yang mencakup
komponen diketahui kerjanya mirip dengan aslinya potensiometer

Jembatan Wheatstone adalah suatu alat pengukur, alat ini dipergunakan untuk
memperoleh ketelitian dalam melaksanakan pengukuran terhadap suatu tahanan yang
nilainya relatif kecil sekali umpamanya saja suatu kebocoran dari kabel tanah/
kartsluiting dan sebagainya. (Suryatmo, 1974).

Jembatan Wheatstone adalah alat yang paling umum digunakan untuk pengukuran
tahanan yang teliti dalam daerah 1 sampai 100.000 . Jembatan Wheatstone terdiri dari
tahanan R1, R2, R3, dimana tahanan tersebut merupakan tahanan yang diketahui
nilainya dengan teliti dan dapat diatur. (Lister, 1993).

Jika konduktor pengalir arus ditempatkan dalam medan magnet dihasilkan gaya pada
konduktor yang cenderung menggerakkan konduktor itu dalam arah tegak lurus medan.
Prinsip ini digunakan dalam instrument pendeteksi arus. Instrument pendeteksi arus
yang peka disebut galvanometer. (Lister, 1993).

Galvanometer merupakan instrument sangat peka dan dapat mengukur arus yang
sangat lemah. Galvanometer terdiri atas sebuah komponen kecil berlilitan banyak yang
ditempatkan dalam sebuah medan magnet begitu rupa sehingga garis-garis medan akan
menimbulkan kopel pada kumparan apabila melalui kumparan ini ada arus. (Flink, 1985)

Di dalam teori pengukuran listrik yang dimaksudkan dengan pengukuran Galvano yaitu
suatu instrument yang dipergunakan untuk memperlihatkan arus yang lemah. Untuk
menyatakan dengan jelas kadang-kadang dipisahkan juga untuk instrument-instrumen
yang peka (sensitif), yang banyak dipakai di laboratorium dan terutama sistem jembatan
yang banyak kita jumpai. (Suryatmo, 1974).

Galvanometer adalah alat yang dipergunakan untuk deteksi dan pengukuran arus.
Kebanyakan alat itu kerjanya tergantung pada momen yang dilakukan pada kumparan di
dalam medan magnet. (Pratama, 2010).
Teori Jembatan Wheatstone

Jembatan Wheatstone adalah alat ukur yang ditemukan oleh Samuel Hunter Christie
pada 1833 dan meningkat dan dipopulerkan oleh Sir Charles Wheatstone pada tahun
1843. Dalam umumnya Jembatan Wheatstone dipergunakan untuk memperoleh
ketelitian dalam melaksanakan pengukuran terhadap suatu tahanan yang nilainya
relative kecil sekali umpamanya saja suatu kebocoran dari kabel tanah/ kortsluiting dan
sebagainya. Rangkaian ini dibentuk oleh empat buah tahanan (R) yag merupakan
segiempat A-B-C-D dalam hal mana rangkaian ini dihubungkan dengan sumber
tegangan dan sebuah galvanometer nol (0). Kalau tahanan-tahanan itu diatur
sedemikian rupa sehingga galvanometer itu tidak akan mengadakan suatu hubungan
antara keempat tahanan tersebut.

Jembatan Wheatstone merupakan suatu susunan rangkaian listrik untuk mengukur
suatu tahanan yang tidak diketahui harganya (besarannya). Kegunaan dari Jembatan
Wheatstone adalah untuk mengukur nilai suatu hambatan dengan cara arus yang
mengalir pada galvanometer sama dengan nol (karena potensial ujung-ujungnya sama
besar). Sehingga dapat dirumuskan dengan perkalian silang. Cara kerjanya adalah
sirkuit listrik dalam empat tahanan dan sumber tegangan yang dihubungkan melalui dua
titik diagonal dan pada kedua diagonal yang lain dimana galvanometer ditempalkan
seperti yang diperlihatkan pada jembatan wheatstone.

B.KONSEP JEMBATAN WHEATSTONE

Jembatan Wheatstone adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur suatu yang
tidak diketahui hambatan listrik dengan menyeimbangkan dua kali dari rangkaian
jembatan, satu kaki yang mencakup komponen diketahui kerjanya mirip dengan aslinya
potensiometer. Jembatan Wheatstone adalah suatu proses menentukan nilai hambatan
listrik yang presisi/tepat menggunakan rangkaian Jembatan Wheatstone dan melakukan
perbandingan antara besar hambatan yang telah diketahui dengan besar hambatan yang
belum diketahui yang tentunya dalam keadaan Jembatan disebut seimbang yaitu
Galvanometer menunjukkan pada angka nol. Rangkaian Jembatan Wheatstone tersebut
memiliki susunan dari 4 buah hambatan yang mana 2 dari hambatan tersebut adalah
hambatan variable dan hambatan yang belum diketahui besarnya yang disusun secara
seri satu sama lain dan pada 2 titik diagonalnya dipasang sebuah Galvanometer dan
pada 2 titik diagonal lainnya diberikan sumber tegangan. Galvanometer adalah alat yang
digunakan untuk
mendeteksi dan pengukuran arus. Kebanyakan alat ini kerjanya tergantung pada momen
yang berlaku pada kumparan di dalam magnet.

R1, R2, dan R3 merupakan hambatan yang sudah diketahui, sedangkan R4 adalah
hambatan yang akan dicari besarnya. Dengan mengatur sedemikian rupa besar
hambatan variable sehingga arus yang mengalir pada Galvanometer sama dengan nol,
dalam keadaan ini jembatan tersebut disebut seimbang sehingga sesuai dengan hukum
Ohm. Rangkaian Jembatan Wheatstone juga dapat disederhanakan dengan
menggunakan kawat geser apabila besarnya hambatan bergantung pada panjang
penghantar.

Jembatan Wheatstone adalah alat yang paling umum digunakan untuk pengukuran
tahanan yang teliti dalam daerah 1 sampai 100.000 . Jembatan Wheatstone terdiri dari
tahanan R1, R2, R3, dimana tahanan tersebut merupakan tahanan yang diketahui
nilainya dengan teliti dan dapat diatur. (Lister, 1993).

C.Aplikasi Jembatan Wheatstone

Salah satunya adalah dalam percobaan mengukur regangan pada benda uji berupa
beton atau baja. Dalam percobaan kita gunakan strain gauge, yaitu semacam pita yang
terdiri dari rangkaian listrik untuk mengukur dilatasi benda uji berdasarkan perubahan
hambatan penghantar di dalam strain gauge. Strain gauge ini direkatkan kuat pada
benda uji sehingga deformasi pada benda uji akan sama dengan deformasi pada strain
gauge. Seperti kita ketahui, jika suatu material ditarik atau ditekan, maka terjadi
perubahan dimensi dari material tersebut sesuai dengan sifat2 elastisitas benda.
Perubahan dimensi pada penghantar akan menyebabkan perubahan hambatan listrik,
ingat persamaan R = .L/A. Perubahan hambatan ini sedemikian kecilnya, sehingga
untuk mendapatkan hasil eksaknya harus dimasukkan kedalam rangkaian jembatan
Wheatstone. Rangkaian listrik beserta jembatan Wheatstonenya sudah ada di dalam
strain gauge.

D.Kelebihan Jembatan Wheatstone

Dapat mengukur perubahan hambatan yang sangat kecil pada penghantar.
Contoh aplikasi : strain gauge, yang digunakan untuk mengukur regangan material (baja
atau beton) didasarkan pada perubahan kecil penghantar yang berdeformasi akibat gaya
eksperimen. Perubahan kecil dimensi penampang dihitung dari peribahan hambatan
pada rangkaian jembatan wheatstone yang dihubungkan sensor ke alat pencatat data
logger untuk setiap transducer.

E.Kesalahan Pada Jembatan Wheatstone
Jembatan Wheatstone dipakai secara luas pada pengukuran presisi tahanan dari sekitar
1 sampai rangkuman mega ohm rendah. Sumber kesalahan utama terletak pada
kesalahan batas dari ketiga tahanan yang diketahui. Kesalahan-kesalahan lain bisa
mencakup:
1. Sensitivitas detektor nol yang tidak cukup
2. Perubahan tahanan lengan-lengan jembatan karena efek pemanasan arus melalui
tahanan-tahanan tersebut. Efek pemanasan (I2R) dari arus-arus lengan jembatan dapat
mengubah tahanan yang diukur. Kenaikan temperatur bukan hanya mempengaruhi
tahanan selama pegukuran yang sebenarnya, tetapi arus yang berlebihan dapat
mengakibatkan perubahan yang permanen bagi nilai tahanan. Hal ini tidak boleh terjadi,
karena pengukuran-pengukuran selanjutnya akan menjadi salah karena itu disipasi daya
dalam lengan-lengan jembatan harus dihitung sebelumnya sehingga arus dapat dibatasi
pada nilai yang aman.
3. GGL termal dalam rangkaian jembatan atau rangkaian galvanometer dapat juga
mengakibatkan masalah sewaktu mengukur tahanan-tahanan rendah. Untuk mencegah
ggl termal, kadang-kadang galvanometer yang lebih sensitif dilengkapi dengan sistem
kumparan tembaga dari sistem suspensi tembaga yakni untuk mencegah pemilikan
logam-logam yang tidak sama yang saling kontak satu sama lain dan untuk mencegah
terjadinya ggl termal.
4. Kesalahan-kesalahan karena tahanan kawat sambung dan kontak-kontak luar
memegang peranan dalam pengukuran nilai-nilai tahanan yang sangat rendah.
Untuk menentukan apakah galvanometer mempunyai sensitivitas yang diperlukan untuk
mendeteksi kondisi setimbang atau tidak, arus galvanometer perlu ditentukan.
Galvanometer-galvanometer yang berbeda bukan hanya memerlukan arus satu per
satuan defleksi yang berbeda (sensivitas arus), tetapi juga dapat mempunyai tahanan
dalam yang berbeda. Adalah tidak mungkin mengatakan tanpa menghitung sebelumnya,
galvanometer mana yang akan membuat rangkaian jembatan lebih sensitif terhadap
suatu kondisi tidak setimbang. Sensitivitas ini dapat ditentukan dengan memecahkan
persoalan rangkaian jembatan pada ketidaksetimbangan yang kecil. Pendekatan ini
didekati dengan mengubah jembatan Wheatstone menjadi rangkaian Thevenin.




DAFTAR PUSTAKA

Bueche, Fredick J. dan Eugene Hecht. 2006. Fisika Universitas. Jakarta :Erlangga.

Flink, R.J dan O.G Brink. 1984. Dasar-dasar Ilmu Instrumen. Jakarta : Binacipta.

Lister, Eugene C. 1993. Mesin dan Rangkaian Listrik. Jakarta : Erlangga.

Mars. 2010. Jembatan Wheatstone. http://marausna.wordpress.com/.

Petra. 2010. http://deweypetra.ac.id.

Suryatmo, F. 1986. Teknik Listrik Pengukuran. Jakarta : Bina aksara.

Van der wol, G. 1985. Rangkaian Eletro Teknik. Jakarta : Erlangga.

Wikipedia. 2010. Hambatan Listrik. http://id.wikipedia.org.com/wiki/hambatan-listrik.

Serway, R. Physics for scientist & Engineers With Modern Physics , James Madison
University Harrison burg, Virginia, 1989 Bab 28.

Resnick & Haliday, Fisika Jilid 2 (terjemahan) Bab 32.
http://sulistiyonurhidayat.blogspot.com/2014/03/dasar-teori-jembatan-wheatstone.html