Anda di halaman 1dari 7

Suara deburan ombak

Suara deburan ombak memecah kesunyian malam ini. suara patroli para tentara itu, bersahut-
sahutan di radio. Adri malam ini ditugaskan hanya untuk menjaga pos, tidak sampai berpatroli
mengelilingi hutan ataupun sekitar laut pulau misool. Adri, adalah seorang tentara yang
ditugaskan menjaga pulau Misool, yaitu salah satu pulau yang berada di Papua Barat. Di sinilah
awal kisah seorang tentara muda melawan sebuah kerinduan.
Dri, ada surat buat kamu..
Suara Ahmad, membuat Adri sedikit terkejut. Ahmad adalah salah satu teman penugasan Adri di
pulau Misool ini. Adri pun mengambil surat yang di berikan oleh Ahmad, dengan raut wajah
penuh tanya.
Makasih ya Mad!
Ahmad hanya mengacungkan jempol dari kejauhan. Adri segera membuka surat itu. Adri
menghela nafas panjang, surat itu dari Emak nya yang ada di Aceh. Sang Emak, mengharapkan
Adri untuk pulang di hari raya nanti. Adri melipat rapi surat itu dan memasukkan kembali surat
itu ke dalam amplop. sudah hampir 2 tahun Adri harus berpisah dengan emaknya. Dan ini adalah
tahun kedua ia melaksanakan bulan puasa tanpa Emaknya. Wajarlah, Adri masih muda. umurnya
baru 23 tahun, belum terfikir bagi adri untuk segera menikah. Yang ia fikirkan adalah bagaimana
membuat sang Emak bangga kepadanya.
surat dari ibu mu Dri?
Tanya Andi pada Adri. Andi, seorang tentara yang dituakan di penugasan itu. Andi juga adalah
satu-satunya tentara yang asli dari Papua, sekaligus menjadi penanggung jawab selama berada di
pulau Misool.
Iya Pak. Ibu saya mengharapkan saya pulang lebaran nanti, tak ada hati membalas kembali surat
dari ibu Pak, kalau saya tak bisa pulang lebaran nanti.
Senyuman Adri di balik kegetiran perasaannya saat itu. Andi hanya terdiam sembari,
membersihkan tombak kesayangannya. Andi memandangi lautan yang tepat berada di depan pos
penjagaan itu.
Inilah nasib seorang tentara Dri. Bisa-bisa kitorang mengalahkan bang toyib yang tak pulang-
pulang ke kampung halaman. Kau jadi tentara, berarti nyawa dan jiwa mu telah kau berikan
kepada Negara. Dan dirimu, adalah milik Negara sepenuhnya. Apapun yang terjadi Dri, hal
utama yang kau temui adalah Negara. Itulah gunanya kau sekolah dulu sebelum jadi tentara, di
gembleng lah kau untuk rela berkorban kepada Negara mu ini.
Adri termenung. Keinginan dia menjadi seorang tentara adalah untuk membuat Emaknya bangga
kepadanya, dan sekaligus memenuhi cita-cita almarhum Ayahnya. kini, ia malah membuat
Emaknya dirundung pilu pada anak semata wayangnya ini. Andi beranjak dari tempat duduknya,
membawa tombak dengan wajah kebosanan.
Hei Dri, sa tangkap ikan dulu. Siapa tahu sa pu tombak jauh melesat sampai ke rumah istri!
hahahah eh, balas surat emak mu itu. kasihan, setidaknya surat itu bisa buat dia mengerti ko
punya keadaan.
Adri hanya tersenyum, Adri mulai berfikir bahwa atasannya ini mungkin sudah mulai stress
karena penugasan berbulan-bulan ini. Adri pun termenung, dipenuhi kebimbangan akhirnya ia
membalas surat sang emak tersayang.
Aceh, september 2006
Keheningan malam di tengah keriuhan kota Banda Aceh. Fatimah, dengan sabarnya
memasukkan benang itu ke dalam kain rajutan. Sudah hal biasa baginya, duduk di depan jendela
kamar dengan menyulam ataupun merajut. Baginya, hal itu sudah bisa membuat hatinya sedikit
tak menghiraukan keadaan sebenarnya, yang merindukan anak tercintanya. Di balik lapis bening
kaca, Fatimah merenung nun jauh di malam cerah ini. apa kabar anakku tersayang? tak
rindukah kau dengan emakmu ini? sudah sukseskah kau disana nak? setelah hampir 2 tahun
lamanya kau tinggalkan emak mu ini.. berkali-kali mak melihat pintu itu itu nak, berharap kau
datang dengan senyum di bibirmu, mak rindu kau nak, tetesan air mata segera diusapnya.
Enggan untuk membasahi pipinya lagi. Fatimah sungguh sangat merindukan Adri. Terlantun
doa dalam setiap sujud Fatimah, atas penantian Adri untuk kembali memeluknya.
Assalamualaikum!! Fatimah! Fatimah!
Suara yang menggangu Fatimah pagi ini. sedikit berlari fatimah menuju pintu rumahnya. Sempat
fatimah berfikir, apakah itu kabar dari Adri? atau hanya kabar dari tetangganya Ida, tentang kue
lebaran untuknya? fikir Fatimah pun mulai tak jelas juntrungnya.
waalaikumssallam.. eh, Ida! kenapa datang pagi-pagi begini? kau mau tawarkan kue kah?
sapa ramah Fatimah. Ternyata hanyalah tetangga sebelah rumahnya. Senyum pahit di ujung bibir
fatimah, bukan Adri sepertinya yang ia dapatkan pagi ini.
ini, tadi ada tukang pos menanyakan rumahmu. Surat dari Adri fatimah! mungkin dia hari raya
akan pulang! siapkan kue yang banyak haa! candaan tetangga fatimah. Senyum lebar pun
menghiasi ujung bibir fatimah. Tak sabar tangan fatimah untuk segera membukanya.
terima kasih Ida, aku tak tahu ah entahlah! begitu senang hati ini.
hahaha! sudahlah mak cik, baca betul-betul surat anakmu itu. aku pulang dulu, banyak
pesanan kue lebaran! assalamualaikum
waalaikumssalam terima kasih ida!!!
Fatimah tak sabar lagi. Surat yang ia kirim di bulan juli itu, baru bisa ia terima balasannya
seminggu sebelum hara raya, bulan september. Fatimah membaca seksama setiap untaian kata
dalam surat itu. darahnya pun berdesir ketika membaca satu bait kalimat surat itu.
mak, maafkan Adri mak. Adri tak tahu kapan bisa pulang. Adri tak berjanji untuk pulang
hari raya tahun ini. maaf mak, tapi adri janji akan pulang secepatnya.
Fatimah terduduk lemas. Harus berapa lama lagi ia menunggu adri. Anak semata wayangnya
yang ia tunggu-tunggu kehadirannya. Air matanya menetes tiada henti, kerinduannya pada adri,
sungguh tak terbendung lagi. Di bawah mentari pagi yang menghangatkan fatimah, terselip satu
mendung hitam yang menyedihkan bagi fatimah.
Misool, September 2006
adri!! hei Adri! kau sini dulu! Suara andi mengagetkan Adri yang sedang mencuci di belakang
honai. Adri pun menghampiri andi yang tersenyum lebar di bawah jemurannya itu.
ada apa pak? surat apa itu pak? dari emak saya lagi? tanya adri penasaran. Andi dengan sigap
membuka surat yang ia bawa sedari tadi dan diserahkannya kepada Adri. Adri tercengang bukan
main. Bagai mendapat uang yang jatuh dari langit, Adri senang bukan main.
pak Andi! kita pulang! penugasan kita sudah selesai!! Hahaha! mak! adri pulang mak!
Andi dan adri pun tertawa sekencang-kencangnya. Ya, surat yang sedari tadi dibawa oleh Andi
adalah surat berakhirnya penugasan mereka di pulau Misool ini. sesuai apa yang tertera di surat,
Adri dan kawan-kawan sepenugasannya pun, mulai bersiap untuk menunggu speedboat jemputan
mereka. Dalam pancaran senyum adri, selalu terbayang wajah sang emak tersayang. Tak lama
lagi, kerinduan pada emaknya akan terhapuskan sudah, batin adri bergumam cepatlah langkah
kaki ini berpijak di rumah dan melepas kerinduan pada emakku tersayang
Sorong, september 2006
Sampailah adri di pelabuhan Sorong. Terik matahari yang membakar kulitnya tak ia hiraukan.
Haus lapar karena puasa pun, seolah tak terasa baginya. Tanpa membuang waktu, adri pun
menghampiri pangkalan ojek di sekitar pelabuhan sorong. Tujuan pertamanya adalah rumah
pamannya. Dari sana ia bisa langsung bertelepon dengan emaknya. Wajarlah, selama penugasan
tidak ada satu pun telepon di Honai tempat ia bertugas. Yang ada hanya radio, dan beberapa HT
yang selalu ia bawa kemana-kemana.
asslamualaikum! paman!
Adri begitu semangat mengucapkan salam. Tak berapa lama, terdengar derap kaki pelan tapi
pasti membuka pintu rumah itu.
waalaikumssalam. Ya Allah.. adri! kau kah itu nak?
Paman seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Keponakannya ini memang tidak diduga-
duga kedatangannya.
hahaha. Paman, aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku mau langsung pulang ke aceh. Tak
sabar mau bertemu emak. jelas adri pada paman.
oh. Ya sudah, apa yang bisa paman bantu sebelum kau pulang ke aceh? tanya paman.
Adri pun mengeluarkan secarik kertas dengan deretan angka di dalamnya.
aku mau menelpon emak paman, bisa?
Paman dengan senang hati mempersilahkan adri menghampiri meja telponnya. Adri bergegas
memencet tombol yang ada sembari bergumam mengikuti angka dalam secarik kertasnya. Nada
tunggu pun berbunyi agak lama. Dengan sabar adri menunggu jawaban telpon emaknya itu. tak
lama, suara perempuan tua di seberang sana menjawab telpon Adri.
asslamualaikum
waalaikumssalam, mak.. ini Adri! adri akan pulang mak. Hari ini juga adri akan pulang. hari
raya nanti adri pulang mak!
Sempat ada kesunyian di seberang sana. Adri pun cemas. Apakah yang ia tuju betul nomor
telepon rumahnya, atau salah sambung.
alhamdulillah ya Allah! mak rindu kau nak cepat pulang nak.
Adri pun menangis bahagia. Setelah sekian lama ia meninggalkan sang emak. Baru sekarang ini
ia mendengar suara emaknya. Suara penuh kerinduan. Adri pun meyudahi telponnya. Ia pun
menghampiri paman yang sedang duduk di ruang tamu.
paman, seminggu lagi hari raya idul fitri. Apa yang sepantasnya aku kasih ke emak paman?
Paman tertawa mendengar pertanyaan adri. Ia menghela nafas panjang sebelum menjawab
pertanyaan adri.
adri.. adri. Paman mu ini, tak pandai memberikan hadiah pada orang lain. Kalau kau tanya pada
paman, paman akan menjawab, berikanlah mak mu itu baju lebaran yang bagus, atau kalung,
atau bahkan rumah! Hahaha itu menurut paman, dri.
Adri hanya tersenyum. Dalam fikirannya telah terlintas benda apa yang akan ia berikan pada
emak tersayangnya. Sebuah kalung cinta untuk yang paling dicinta. Bergegas adri dan pamannya
menuju toko perhiasan, uang yang baru adri dapatkan lebih dari cukup untuk membeli kalung
dan tiket pesawat untuk pulang ke aceh. Waktu semakin cepat berlalu, entah mengapa adri begitu
rindu dengan emaknya, terlebih ketika ia mendengar suara emaknya di seberang telpon. Ia
merasa sangat jauh dari emaknya.
Banda aceh, September 2006
Hati siapa yang tak bahagia mendengar kepulangan sang anak tercinta. Begitupun dengan
Fatimah. Penantiannya selama ini akhirnya berakhir juga. Sebentar lagi anak tercintanya akan
menemuinya. Beribu khayal menghiasi setiap sudut fikiran fatimah. Sembari ia membereskan
kamar Adri, Fatimah tersenyum sendiri. Di masa tuanya, tanpa seorang suami tentu sangatlah
berat. Suaminya, telah meninggal pada tsunami 2004 lalu. Dan sekarang, hanya adri lah satu-
satunya orang yang bisa menjaga fatimah di masa tuanya kelak. Fatimah pun terduduk di tempat
tidur adri. Fatimah mengambil satu foto berseragam loreng milik Adri. Tangis bahagia tak
terelakkan lagi. Apa yang diimpi-impikan suaminya tercapailah sudah. Adri sekarang sudah
menjadi seorang tentara. Entah mengapa, fatimah sangat ingin memeluk adri. Sangat ingin
melihat adri, mendengar suaranya kembali. Fatimah seperti merasakan ada sesuatu yang beda
dari dirinya, dari perasaannya. Ia pun bergegas menuju meja telpon, dan menelpon Ali, paman
Adri yang ada di Sorong.
assalamualaikum, fatimah? jawab seseorang di ujung telpon.
iya ali. Adri ada? aku mau bicara dengannya.
adri, masih sholat Maghrib Fatimah. Oiya, rencananya ia kan pulang selepas subuh esok.
Fatimah sempat diam beberapa saat. Sadar yang dituju tak ada, ia pun menyudahi telpon itu.
oh, ya sudah. Terima kasih Ali. Bilang pada Adri, secepatnya pulang aku sangat
merindukannya.
iya, pasti kusampaikan.
Fatimah pun menutup telpon itu. jantungnya berdegub kencang ketika melihat foto adri tepat di
depannya berdiri. Batin fatimah berkecamuk, ada apa ini ya allah. Apapun yang terjadi jagalah
anak hamba dalam setiap langkahnya
Sorong, September 2006
Alarm adri berbunyi. Jam 04.30 pagi, adri bergegas menyiapkan keberangkatannya. Paman dan
bibinya sudah bangun sejak jam 4 pagi tadi. Hanya untuk menyiapkan keberangkatan adri ke
Aceh.
Adri berdiri di depan kaca kamarnya. Merapikan baju Loreng kebanggaannya. Tak lupa, telah ia
siapkan kalung untuk emak tercintanya. Kalung emas berliontin huruf f yang sangat cantik. Adri
tersenyum bangga. Sejak ia menjadi tentara, baru kali ini ia bisa membelikan emaknya perhiasan.
Terlebih, kalung itu adalah sebuah tanda cinta dan rindu untuk emaknya. Dipandanginya terus
kalung itu. adri merasa sangat rindu pada emaknya.
adri, ayo sholat subuh dulu. Paman dan makcik aisyah sudah sholat subuh duluan. Ayo..
iya paman..
Adri bergegas mengambil air wudhu. Entah mengapa, adri merasa lebih aman menyimpan
kalung itu di saku celananya. Adri menyempatkan untuk melihat jam. Jam 5 kurang 2 menit.
Tangan adri seperti tak ingin lepas dari kalung itu. seperti ada yang berbeda. Adri berusaha tak
menghiraukannya. Takbir mengawali shalat subuhnya.
allahu akbar! gempa aisyah! gempa! adri! adri! keluar!
Suara teriakkan memenuhi seisi ruangan rumah itu. terdengar teriakan orang-orang dari luar.
Takbir, pujian pada sang kuasa berkumpul jadi satu. Gempa mengguncang begitu dahsyat.
Semua barang-barang tak berhenti untuk terus berjatuhan. Paman menyuruh aisyah istrinya
untuk keluar sedang ia mencari Adri di kamar shalat.
adri! adri! keluar! allahu akbar! bruakkk!!!
Atap rumah satu persatu jatuh. Adri masih tetap rukuk dan sujud dalam shalatnya. Tetesan air
mata tak terbendung lagi. adri melafazkan bacaan shalat dengan begitu nikmat. Seolah merasa
ketenangan yang sangat indah, adri terus melanjutkan shalatnya. Dalam hati hanya ada satu nama
yang selalu ia sebut dalam setiap doanya. Ibu tercintanya. Adri seolah tak merasakan apa yang
sedang terjadi, reruntuhan semakin banyak berjatuhan. Begitu khusyuk ia melanjutkan shalatnya.
Dalam tetesan air mata ketika sujud, terlantun sebuah doa pada sang khalik allahummagfirli
waliwallidayya warkhamhumma kama rabbayani soghiro
Paman berteriak sekencang mungkin. Usahanya menembus kayu-kayu yang jatuh itu tak ada
gunanya lagi. rumah itu ambruk bersama sujud adri di dalamnya. Paman pun di tarik seseorang
dari luar untuk menjauhi rumahnya yang tak berbentuk lagi. Adri
Banda aceh, September 2006
Fatimah merapikan meja makannya. Hari ini adalah hari keberangkata adri. Ia pun menyalakan
tv kesayangannya. Seperti biasa, ia mencari saluran tv yang berisi pengajian pagi. Tangannya
pun berhenti memindah channel tv ketika ia melihat tayangan berita pagi tentang bencana gempa
bumi di Sorong papua barat. Seketika jantungnya pun berdegub kencang, ia pun berdiri tetesan
air matanya jatuh untuk kesekian kalinya. Rumah itu, Fatimah seperti mengenalinya. Itu rumah
Ali. Ambruk tak berbentuk, fikirnya pun teringat pada Adri. Fatimah langsung menuju meja
telpon. Barharap ada seseorang yang bisa mengabarkan tentang keadaan Adri.
Berulangkali ia memencet nomer telpon itu, berulangkali pula ia tak mendapat jawaban.
Batinnya pun semakin tak tentu arah. Dari luar terdengar beberapa orang berkerumun mengetuk
pintu rumah fatimah.
assalamualaikum! fatimah!
Fatimah dengan lemas membuka pintu itu. ida dan beberapa ibu-ibu lain melihat fatimah penuh
sedih. Tak kuasa menanyakan keadaan Adri.
fatimah, sudah kau dengar kah gempa bumi itu? bagaimana keaadan anakmu?
Fatimah pun lunglai terjatuh sebelum menjawab pertanyaan ida. Pelan tak begitu jelas fatimah
mengucapkan kata, yang entah terdengar oleh ida atau tidak. anakku ya rabb
Sorong, September 2006
Ali memeluk aisyah erat. Sembari bibirnya tak berhenti menyebut nama sang Khalik. Beberapa
orang pun mulai membongkar puing-puing rumah itu. gempa 7,9 SR telah membuat rumah itu
hancur, dan adri. Ali tak berhenti menyalahkan dirinya sendiri yang tidak cepat menarik adri
keluar rumah. Hati adri tak tentu arah, ia mencari apapun yang bisa ia gunakan untuk
menghubungi fatimah.
aisyah, tunggu lah kau disini. Aku akan mencari telepon, aku harus menghubungi fatimah.
Masih dengan air mata mengalir di pipinya, adri mencari telpon yang bisa ia gunakan untuk
menghubungi fatimah.
permisi bapa, boleh saya pinjam hp kah? saya harus menghubungi sanak saudara saya yang di
Aceh
Seorang masyarakat setempat melihat ali penuh sedih. Ia pun memberikan hpnya dengan
sukarela kepada ali.
ini bapa, pake sudah. Pake sepuas bapa, sa juga mengerti bapa punya kesedihan, karena bapa
pendatang di sini, bapa punya keluarga jauh di luar papua. Pake sudah bapa.
Tanpa pikir panjang, ali pun segera menghubungi fatimah. Tak berapa lama terdengar suara
keriuhan di ujung telpon.
fatimah! halo fatimah?
ali! ini aku fatimah, bagaimana keadaanmu? bagaimana adri ali?
Ali menangis sejadi-jadinya. Ia bingung, apa yang harus ia katakan?
ali! jawab ali! halo? ali?
Suara isak tangis fatimah menambah kebimbangan hati ali. Dengan isak tangis ali pun menjawab
pertanyaan fatimah.
fatimah, maafkan aku. Ali meninggal di dalam rumahku yang rubuh fatimah, ali meninggal
ketika shalat dalam sujud fatimah..
Tak kuasa lagi ali menahan tangisnya. Fatimah pun tak kuasa lagi menahan tangis. Dari telpon
itu, ali begitu merasa bersalah. Mendengar isakan kakaknya yang begitu dalam.
ya rabb, mengapa kau ambil anak sebaik dia? kenapa ya allah!!!
Aceh, September 2006
Fatimah menangis sejadi-jadinya. 2 tahun lalu, adalah waktu dimana ia harus melepas suaminya,
dan untuk terakhir kalinya melihat paras anaknya. Dan sekarang, ia harus benar-benar kehilangan
adri anaknya yang tercinta. Fatimah tak kuasa untuk ingin bertemu adri, walau ia tak akan
melihat adri tersenyum untuknya, ataupun memeluk erat dirinya lagi.
ida, cari tiket pesawat. Aku ingin pergi menemui adri da.. suruh fatimah masih dengan tangis
yang terus membanjiri wajahnya.
tapi fatimah
ida aku mohon haruskah aku sujud di kakimu? aku ingin bertemu adri ida
Ida tak sampai hati untuk menolak apa kata fatimah. Hari itu juga, fatimah memutuskan untuk
menyusul adri di sorong.
Sorong, September 2006
Ali dan aisyah untuk sementara harus tinggal di rumah salah satu tetangganya. Pencarian pun
terus dilakukan. Hari semakin larut, namun Adri tak tertemukan juga. Dari kejauhan, ali melihat
sorot lampu mobil menuju ke arahnya. Ia pun mendekati mobil itu. betapa terkejutnya ali dengan
apa yang ia lihat. Fatimah dan ida turun dari mobil itu.
fatimah..
Tangis pun pecah seketika. Ida, aisyah, fatimah dan ali sungguh sangat berduka.
fatimah aku minta maaf kata ali penuh sesal.
tak apa ali, aku sudah ikhlas menerima apapun yang terjadi. Termasuk dengan adri, dia anak
baik.
Fatimah tersenyum diantara kepiluannya, berusaha menghibur ali.
pak ali!!! kami menemukan adri!
Seketika ali pun berlari ke arah puing-puing bangunan itu. ia pun menangis di samping tubuh
adri. Fatimah pun terduduk di puing-puing itu. anaknya yang 2 tahun lamanya ia tunggu
kedatangannya, kini tepat ada di depannya. Dengan senyuman di bibirnya, dan dia atas sajadah
terbaring sembari memegang kalung emas. Ali mengambil kalung emas itu dan menyerahkannya
pada fatimah.
inilah kalung yang akan diberikan adri untuk mu. Subhanallah, tak ada luka ataupun goresan di
tubuhnya, dan dia tersenyum.
Fatimah menangis menggenggam kalung itu. inilah Adri, anaknya yang berbudi sungguh baik.
Tiada yang lebih indah bagi fatimah untuk mengikhlaskan semua ini, ia tahu allah maha besar,
allah maha tahu tentang apapun yang terjadi di dunia ini.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Kepergian adri membawa kenangan terindah bagi fatimah.
Lambat laun fatimah mulai terbiasa dengan kesendiriannya. Ada satu yang sebenarnya ia
rasakan, ia merasa lebih dekat dengan adri, dan suaminya, ketika ia bersujud pada sang khalik.
Dan seorang tentara muda, yang melawan kerinduan. Yang harus tetap bertanggung jawab atas
tugasnya sebagai seorang tentara di tengah kerinduan pada ibu tercinta. Sungguh, rindu adri tak
pernah berujung pada ibunya.
Fatimah, dengan bangga memakai kalung emas itu. berusaha meniti hari lebih baik lagi. bersama
kerinduan terindanhnya
Cerpen Karangan: Anniesha Imarchama
Blog: Nieshaimarchama.blogspot.com