Anda di halaman 1dari 7

ANEKS 1: PEMBUATAN PRODUK STERIL

PRINSIP
Produk steril dibuat dengan persyaratan khusus dengan tujuan memperkecil risiko
pencemaran mikroba, partikulat dan pirogen, yang sangat tergantung dari ketrampilan, pelatihan
dan sikap personil yang terlibat. Pemastian Mutu sangatlah penting dan pembuatan produk steril
harus sepenuhnya mengikuti secara ketat metode pembuatan dan prosedur yang ditetapkan
dengan seksama dan tervalidasi. Pelaksanaan proses akhir atau pengujian produk jadi tidak dapat
dijadikan sebagai satu-satunya andalan untuk menjamin sterilitas atau aspek mutu lain.

UMUM
Pembuatan produk steril dilakukan di area bersih, tingkat kebersihannya sesuai standar
dan dipasok dengan udara yang telah melewati filter. Saat memasuki area tersebut melalui ruang
penyangga udara untuk personil dan/atau peralatan dan bahan. Berbagai kegiatan persiapan
komponen, pembuatan produk dan pengisian dilakukan di ruang terpisah pada area bersih.
Kegiatan pembuatan produk steril digolongkan menjadi produk yang disterilisasi akhir dan
produk yang diproses secara aseptis pada sebagian atau semua tahap. Dibubuthkan tingkat
kebersihan ruangan yang sesuai dalam keadaan operasional untuk meminimalkan risiko
pencemaran (partikulat/mikroba) pada produk atau bahan yang ditangani. Kondisi operasional
dan nonoperasional ditetapkan untuk tiap ruang bersih. Keadaan nonoperasional adalah
kondisi dimana fasilitas telah terpasang dan beroperasi, lengkap dengan peralatan produksi tetapi
tidak ada personil. Kondisi operasional adalah kondisi di mana fasilitas dalam keadaan
berjalan sesuai modus pengoperasian yang ditetapkan dengan sejumlah tertentu personil yang
sedang bekerja.
Pada pembuatan produk steril dibedakan 4 Kelas kebersihan:
Kelas A: Zona untuk kegiatan yang berisiko tinggi, misal zona pengisian, wadah tutup
karet, ampul dan vial terbuka, penyambungan secara aseptis. Umumnya kondisi ini
dicapai dengan memasang unit aliran udara laminar (laminar air flow) di tempat kerja
dengan kecepatan udara merata berkisar 0,36 0,54 m/detik digunakan pada isolator
tertutup dan kotak bersarung tangan. Keadaan laminar yang harus selalu terjaga dan
divalidasi.
Kelas B: Untuk pembuatan dan pengisian secara aseptis. Kelas ini adalah lingkungan
latar belakang untuk zona Kelas A.
Kelas C dan D: Area bersih untuk melakukan tahap proses pembuatan yang mengandung
risiko lebih rendah.

KLASIFIKASI RUANG BERSIH DAN SARANA UDARA BERSIH
Ruang bersih dan sarana udara bersih diklasifikasikan sesuai dengan EN ISO 14644-1.
Jumlah maksimum partikulat udara yang diperbolehkan untuk tiap Kelas kebersihan adalah
sebagai berikut:


Untuk tujuan klasifikasi zona Kelas A, perlu diambil sampel udara minimum 1 m3 per
lokasi pengambilan sampel. Untuk Kelas A klasifikasi partikulat udara adalah ISO 4.8 ditentukan
oleh batas jumlah partikel dengan ukuran > 5,0 m. Untuk Kelas B (nonoperasional) klasifikasi
partikulat udara adalah ISO 5 untuk kedua ukuran partikel. Untuk Kelas C, klasifikasi partikulat
udara adalah ISO 7 untuk nonoperasional dan ISO 8 untuk operasional. Untuk Kelas D
(nonoperasional), klasifikasi partikulat udara adalah ISO 8. Untuk tujuan klasifikasi dipakai alat
penghitung partikel portabel dengan selang pendek untuk pengambilan sampel, karena akan
terjadi presipitasi yang tinggi dari partikel >5,0 m apabila menggunakan sistem pengambilan
sampel dari jarak jauh dengan selang yang panjang. Pada sistem aliran udara unidirectional
digunakan sample heads isokinetis. Klasifikasi saat operasional dapat dilakukan selama kegiatan
rutin, proses simulasi atau selama pelaksanaan media fill.

PEMANTAUAN RUANG BERSIH DAN SARANA UDARA BERSIH
Untuk zona Kelas A, pemantauan partikel dilakukan selama proses kritis berlangsung,
termasuk perakitan alat, kecuali bila dijustifikasi bahwa kontaminasi yang terjadi dalam proses
dapat merusak alat penghitung partikel atau menimbulkan bahaya (organisme hidup dan bahan
berbahaya radiologis), pemantauan dilakukan sebelum terpapar ke risiko kontaminasi tersebut di
atas. Frekuensi pengambilan sampel dan ukuran sampel dalam pemantauan zona Kelas A
ditetapkan sedemikian rupa sehingga mudah diintervensi. Sistem yang sama dianjurkan untuk
Kelas B, walaupun frekuensi pengambilan sampel dapat dikurangi. Pemantauan Kelas B
dilakukan pada frekuensi dan jumlah sampel yang memadai sehingga perubahan pola
kontaminasi dan kegagalan sistem dapat terdeteksi dan memicu alarm bila batas waspada
terlampaui.
Jumlah sampel yang diambil untuk pemantauan secara otomatis biasanya tergantung dari
kecepatan pengambilan sampel udara dari sistem yang dipakai. Volume sampel tidak perlu sama
dengan jumlah sampel untuk tujuan klasifikasi dari ruang bersih dan sarana penghasil udara
bersih. Pada zona Kelas A dan B, pemantauan jumlah partikel ukuran > 5,0 m menjadi penting
karena merupakan sarana untuk deteksi dini kegagalan. Jumlah partikulat untuk keadaan
nonoperasional dicapai setelah waktu pembersihan yang berkisar antara 15 20 menit.
Pemantauan area Kelas C dan D pada saat kegiatan rutin dilakukan sesuai dengan prinsip
manajemen risiko mutu. Parameter suhu dan kelembaban udara akan tergantung pada jenis
produk dan proses yang dilakukan.
Untuk kegiatan aseptis, dilakukan pemantauan dengan cawan papar, pengambilan sampel
udara secara volumetris, dan pengambilan sampel permukaan (dengan menggunakan cara usap
dan cawan kontak). Hasil pemantauan menjadi bahan pertimbangan ketika melakukan
pengkajian catatan bets dalam rangka pelulusan produk jadi. Batas mikroba yang disarankan
untuk pemantauan area bersih selama kegiatan berlangsung. Batas waspada dan batas bertindak
ditetapkan sebagai hasil pemantauan jumlah partikulat dan mikroba.

Batas yang disarankan untuk cemaran mikroba (*)
Kelas Sampel udara
cfu/m3
Cawan papar
(dia. 90 mm)
cfu/4 jam (**)
Cawan
kontak(dia.
55 mm)
cfu/plate
Sarung tangan 5
jari cfu/ sarung
tangan
A <1 <1 <1 <1
B 10 5 5 5
C 100 50 25 -
D 200 100 50 -

Catatan: (*) Nilai rata-rata ; (**) Cawan papar dapat dipaparkan kurang dari 4 jam

TEKNOLOGI ISOLATOR
Penggunaan teknologi isolator dimaksudkan untuk memperkecil intervensi manusia pada
area proses yang mungkin dapat mengakibatkan penurunan risiko pencemaran mikroba, dari
lingkungan, secara signifikan terhadap produk yang dibuat secara aseptis. Isolator dibuat dari
berbagai bahan yang tahan terhadap tusukan dan kebocoran. Transfer bahan ke dalam dan ke luar
unit merupakan sumber kontaminasi yang paling potensial. Secara umum, area di dalam isolator
merupakan zona lokal untuk melakukan manipulasi yang berisiko tinggi, meskipun laminar air
flow bisa tidak ada di area kerja ini. Isolator digunakan hanya setelah dilakukan validasi yang
sesuai. Validasi mempertimbangkan semua faktor kritis dari teknologi isolator, seperti mutu
udara di dalam dan di luar (latar belakang) isolator, sanitasi isolator, proses transfer dan
kekedapan isolator.

TEKNOLOGI PENIUPAN/PENGISIAN/ PENYEGELAN
Mesin peniup/pengisi/penyegel merupakan satu rangkaian mesin, dimana, dalam suatu
operasi yang kontinu, wadah produk dibentuk dari granulat termoplastis, diisi dan kemudian
disegel, semua ini dilakukan oleh satu unit mesin otomatis. Mesin peniup/pengisi/penyegel yang
digunakan untuk produksi aseptis yang dilengkapi dengan air shower yang efektivitasnya sama
dengan Kelas A dapat dipasang dalam lingkungan minimal Kelas C, dengan syarat mengenakan
pakaian kerja Kelas A/B. Mesin yang digunakan untuk pembuatan produk dengan sterilisasi
akhir dipasang dalam lingkungan minimal Kelas D. Lingkungan kerja memenuhi persyaratan
jumlah partikel dan mikroba pada kondisi nonoperasional dan persyaratan jumlah mikroba
hanya pada saat beroperasi.

PRODUK YANG DISTERILISASI AKHIR

Kelas Contoh kegiatan untuk produk dengan sterilisasi akhir (lihat Butir 28 -30)

A Pengisian produk, bila ada risiko di luar kebiasaan
C Pembuatan larutan, bila ada risiko diluar kebiasaan. Pengisian produk
D Pembuatan larutan dan penyiapan komponen untuk proses pengisian selanjutnya

Penyiapan komponen dan sebagian besar produk, yang memungkinkan untuk disaring
dan disterilisasi, dilakukan di lingkungan minimal Kelas D untuk mengurangi risiko cemaran
mikroba dan partikulat. Bila ada risiko terhadap produk yang di luar kebiasaan yaitu karena
cemaran mikroba, misal, produk yang secara aktif mendukung pertumbuhan mikroba atau harus
didiamkan selama beberapa saat sebelum sterilisasi atau terpaksa diproses dalam tangki tidak
tertutup, maka penyiapan dilakukan di lingkungan Kelas C. Pengisian produk yang akan
disterilisasi akhir dilakukan di lingkungan minimal Kelas C. Bila ada risiko terhadap produk
yang di luar kebiasaan yaitu karena cemaran dari lingkungan, misal karena kegiatan pengisian
berjalan lambat atau wadah berleher-lebar atau terpaksa terpapar lebih dari beberapa detik
sebelum ditutup, pengisian dilakukan di zona Kelas A dengan latar belakang minimal Kelas C.
Pembuatan dan pengisian salep, krim, suspensi dan emulsi umumnya dilakukan di lingkungan
Kelas C sebelum disterilisasi akhir.

PEMBUATAN SECARA ASEPTIS

Kelas Contoh kegiatan pembuatan secara aseptis (lihat butir 31-35)

A Pembuatan dan pengisian secara aseptis
C Pembuatan larutan yang akan disaring
D Penanganan komponen setelah pencucian

Komponen, setelah dicuci, ditangani di lingkungan minimal Kelas D. Penanganan bahan
awal dan komponen steril, kecuali pada proses selanjutnya untuk disterilisasi atau disaring
dengan menggunakan filter mikroba, dilakukan di lingkungan Kelas A dengan latar belakang
Kelas B. Proses pembuatan larutan yang akan disterilisasi secara filtrasi dilakukan di lingkungan
Kelas C; bila tidak dilakukan filtrasi, penyiapan bahan dan produk dilakukan di lingkungan
Kelas A dengan latar belakang Kelas B. Penanganan dan pengisian produk yang dibuat secara
aseptis dilakukan di lingkungan Kelas A dengan latar belakang Kelas B. Transfer wadah
setengah-tertutup, yang akan digunakan dalam proses beku-kering (freeze drying) , sebelum
proses penutupan dengan stopper selesai, dilakukan di lingkungan Kelas A dengan latar
belakang Kelas B atau dalam nampan transfer yang tertutup di lingkungan Kelas B. Pembuatan
dan pengisian salep, krim, suspensi dan emulsi dilakukan di lingkungan Kelas A dengan latar
belakang Kelas B, apabila produk terpapar dan tidak akan disaring.

PERSONALIA
Hanya personil dalam jumlah terbatas yang diperlukan boleh berada di area bersih,
khususnya pada proses aseptis. Syarat personil yang bekerja di area bersih dan steril : disiplin
dan tidak mengidap suatu penyakit atau dalam kondisi kesehatan yang dapat menimbulkan
bahaya pencemaran mikrobiologis terhadap produk, mendapat pelatihan teratur dalam bidang
yang berkaitan dengan pembuatan produk steril yang benar, termasuk mengenai higiene dan
pengetahuan dasar mikrobiologi. Standar higiene perorangan dan kebersihan yang tinggi adalah
esensial, melaporkan semua kondisi kesehatan yang dapat menyebabkan penyebaran cemaran
yang tidak normal jumlah dan jenisnya; pemeriksaan kesehatan secara berkala perlu dilakukan.
Pakaian rumah dan pakaian kerja reguler tidak dibawa masuk ke dalam kamar ganti
pakaian yang berhubungan dengan ruang ber-Kelas B dan C. Untuk tiap personil yang bekerja di
Kelas A/B, pakaian kerja steril (disterilkan atau disanitasi dengan memadai) disediakan untuk
tiap sesi kerja. Sarung tangan secara rutin didisinfeksi selama bekerja. Masker dan sarung tangan
diganti paling sedikit pada tiap sesi kerja. Penggantian dan pencucian mengikuti prosedur
tertulis. Arloji, kosmetika dan perhiasan tidak dipakai di area bersih. Personil yang memasuki
area bersih atau area steril mengganti dan mengenakan pakaian khusus yang juga mencakup
penutup kepala dan kaki. Pakaian ini nyaman dipakai dan agak longgar untuk mengurangi
gesekan. Deskripsi pakaian kerja yang dipersyaratkan untuk tiap kelas adalah sebagai berikut:
Kelas D: Rambut - dan jika relevan janggut ditutup. Pakaian pelindung reguler, sepatu
yang sesuai atau penutup sepatu dikenakan. Perlu diambil tindakan pencegahan yang
sesuai untuk menghindarkan kontaminasi yang berasal dari bagian luar area bersih.
Kelas C: Rambut dan jika relevan janggut dan kumis ditutup. Pakaian model terusan
atau model celana-baju, yang bagian pergelangan tangannya dapat diikat, memiliki leher
tinggi dan sepatu atau penutup sepatu yang sesuai dikenakan. Pakaian kerja ini tidak
melepaskan serat atau bahan partikulat.
Kelas A/B: Penutup kepala menutup seluruh rambut serta jika relevan janggut dan
kumis; penutup kepala diselipkan ke dalam leher baju; penutup muka dipakai untuk
mencegah penyebaran percikan. Model terusan atau model celana-baju, yang bagian
pergelangan tangannya dapat diikat dan memiliki leher tinggi, dikenakan. dipakai
sarung tangan plastik atau karet steril yang bebas serbuk dan penutup kaki steril atau
didisinfeksi. Ujung celana diselipkan ke dalam penutup kaki dan ujung lengan baju
diselipkan ke dalam sarung tangan. Pakaian pelindung ini tidak melepaskan serat atau
bahan partikulat dan mampu menahan partikel yang dilepaskan dari tubuh.

BANGUNAN DAN FASILITAS
Area Kelas A dan B didesain agar semua kegiatan dapat diamati dari luar. Di area bersih,
semua permukaan yang terpapar halus, kedap air dan tidak retak untuk mengurangi pelepasan
atau akumulasi partikel atau mikroba dan untuk memungkinkan penggunaan berulang bahan
pembersih dan bahan disinfektan. Untuk mengurangi akumulasi debu dan memudahkan
pembersihan tidak ada bagian yang sukar dibersihkan dan lis yang menonjol, rak, lemari serta
peralatan dalam jumlah terbatas. Pintu didesain untuk menghindarkan bagian yang tersembunyi
dan sukar dibersihkan; pintu sorong dihindarkan. False ceilings disegel untuk mencegah
pencemaran dari ruang di atasnya. Pipa dan saluran serta sarana pendukung lain dipasang dengan
tepat. Bak cuci dan drainase dilarang di area Kelas A/B. Di area lain, penyekat udara dipasang
di antara mesin atau bak cuci dan drainase. Saluran pembuangan untuk daerah yang lebih rendah
tingkat kebersihannya, dilengkapi dengan jebakan yang efektif atau penutup air untuk mencegah
aliran balik. Semua saluran air terbuka dan mudah dibersihkan serta dihubungkan dengan
drainase luar dengan tepat untuk mencegah cemaran mikrobiologis masuk.
Ruang ganti pakaian hanya digunakan untuk personil, didesain seperti ruang penyangga
udara dan digunakan sebagai pembatas fisik untuk berbagai tahap penggantian pakaian dan
memperkecil cemaran mikroba dan partikulat terhadap pakaian pelindung. Ruang ganti tersebut
dibilas secara efektif dengan udara yang telah tersaring. Tahap terakhir dari ruang ganti , pada
kondisi nonoperasional, mempunyai tingkat kebersihan yang sama dengan ruang berikutnya.
Fasilitas pencucian tangan disediakan hanya pada tahap awal ruang ganti pakaian.
Pintu-pintu ruang penyangga udara tidak dibuka secara bersamaan. Sistem interlock atau
sistem peringatan visual dan/atau audio dioperasikan. Pasokan udara yang disaring dapat
menjaga perbedaan tekanan positif dan aliran udara ke area sekelilingnya yang berkelas
kebersihan lebih rendah pada seluruh kondisi operasional dan dapat membilas area tersebut
dengan efektif. Ruang bersebelahan dengan kelas kebersihan yang berbeda mempunyai
perbedaan tekanan berkisar 10 - 15 pascal (nilai acuan). Sistem peringatan tersedia untuk
mengindikasikan kegagalan pasokan udara. Suhu dan kelembaban ruangan dijaga pada tingkat
yang tidak menyebabkan personil berkeringat secara berlebihan dalam pakaian kerjanya. Sistem
mekanis atau elektris untuk komunikasi lisan dari dan ke area kegiatan steril didesain dan
dipasang dengan tepat sehingga mudah dibersihkan dan didisinfeksi secara efektif. Area bersih
untuk kegiatan produksi steril tidak digunakan untuk melaksanakan kegiatan pengujian sterilitas
dan pengujian mikrobiologis lain.

PERALATAN
Ban berjalan tidak boleh menembus sekat yang membatasi area Kelas A atau B dengan
ruang proses yang mempunyai standar kebersihan lebih rendah, kecuali ban berjalan tersebut
dapat secara terus-menerus disterilkan (misal melalui terowongan sterilisasi). Sedapat mungkin
peralatan yang digunakan untuk memproses produk steril dipilih supaya dapat disterilisasi secara
efektif dengan menggunakan uap, atau panas kering atau metode lain. Kegiatan, perawatan dan
perbaikan dapat dilaksanakan dari luar area bersih. Bila standar kebersihan tidak dapat
dipertahankan saat dilakukan pekerjaan perawatan yang diperlukan di dalam ruang bersih, ruang
tersebut dibersihkan, didisinfeksi dan/atau disterilkan sebelum proses dimulai kembali.
Instalasi pengolahan dan sistem distribusi air didesain, dikonstruksi dan dirawat untuk
menjamin agar air yang dihasilkan memenuhi persyaratan mutu yang sesuai. Dilakukan validasi
dan perawatan terencana terhadap semua peralatan seperti sterilisator, sistem penanganan dan
penyaringan udara, ventilasi udara dan filter gas serta sistem pengolahan, penyimpanan dan
pendistribusian air.

SANITASI
Sanitasi area bersih dibersihkan secara menyeluruh sesuai program tertulis. Bila
menggunakan disinfektan memakai lebih dari satu jenis. Pemantauan dilakukan secara berkala
untuk mendeteksi perkembangan galur mikroba yang resisten. Dengan mempertimbangkan
efektivitasnya yang terbatas, lampu ultraviolet tidak digunakan untuk menggantikan disinfektan
kimiawi. Disinfektan dan detergen dipantau terhadap cemaran mikroba; hasil pengenceran
ditempatkan dalam wadah yang telah dicuci bersih dan hanya boleh disimpan dalam jangka
waktu yang telah ditentukan, kecuali bila disterilkan. Disinfektan dan deterjen yang digunakan
untuk area Kelas A dan B disterilkan sebelum digunakan. Fumigasi dalam area bersih dapat
bermanfaat untuk mengurangi kontaminasi mikrobiologis pada tempat yang tidak terjangkau.
Ditentukan batas deteksi cemaran mikrobiologis dalam unit pembentuk koloni - upk (colony
forming units - cfu), untuk pemantauan mikrobiologis dalam area bersih.