Anda di halaman 1dari 46

29

BAB III
PENAFSIRAN MUHAMMAD QURAISH SHIHAB
TENTANG AYAT-AYAT SUNNATULLAH
DALAM TAFSIR AL-MISBAH

A. Riwayat Hidup Muhammad Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab lahir di Rappang (sekitar 180
km sebelah utara kota Ujung Pandang-Sulawesi) pada tanggal 16
Februari 1944.
1
meskipun keturunan Arab, kakek dan buyutnya
lahir di Madura. Ayahnya, Abdurrahman Shihab, adalah guru
besar bidang tafsir sekaligus saudagar. Ibunya, Asma, cucu raja
Bugis. Tak heran bila Muhammad Quraish Shihab dan saudara-
saudaranya dipanggil Puang (tuan) atau Andi oleh masyarakat
setempat. Mereka juga mendapat perlakuan khusus dalam
upacara-upacara adat.
Sejak kecil, Muhammad Quraish Shihab dididik dengan
disiplin yang keras. Walapun keluarganya tidak miskin, mereka
tidak mempunyai pembantu. Itu tidak lain agar mereka bisa
mandiri. Tidak jarang pula Muhammad Quraish Shihab
mendapat hadiah pukulan dari ibunya bila tidak menurut.
Walau hanya tamatan SD, sang ibu sangat memperhatikan
pendidikan anak-anaknya. Pada jam-jam belajar ia selalu
mengawasi dengan ketat. Di keluarga Shihab hanya anak laki-
laki yang sekolah tinggi, sedangkan anak perempuan hanya
bersekolah di sekolah ketrampilan wanita.
2




1
Alimin Mesra, Makalah Tafsir al-Misbah (Pesan Kesan dan Keserasian al-
Quran), Program Pasca Sarjana S3 IAIN Syarif Hidayatullah, 2001, hlm. 2.
2
Majalah Femina (Serial Femina), bagian 2. No. 15/XXIL-18-24 April 1996.
30
Muhammad Quraish Shihab sudah senang kepada tafsir
al-Quran sejak belia. Ayahnya Abdurrahman Shihab (1905-1986)
seorang Guru Besar dalam bidang tafsir pada IAIN Alauddin
Ujung Pandang, sering kali mengajak Muhammad Quraish
Shihab bersama saudara-saudaranya yang lain bercengkrama
bersama dan sesekali memberikan petuah-petuah keagamaan.
Dari sinilah rupanya mulai bersemi benih cinta dalam diri
Muhammad Quraish Shihab terhadap studi al-Quran.
3

Pengkajian terhadap studi al-Quran dan tafsirnya kemudian ia
dalami di Universitas Al-Azhar Kairo, setelah melalui pendidikan
dasarnya (SD-SLTP) di Ujung Pandang.
Tahun 1956 ketika masih duduk di kelas dua SMP,
Muhammad Quraish Shihab berangkat ke Malang, Jawa Timur.
Ayahnya memasukkannya ke SMP Muhammadiyah, sekaligus
mendaftarkannya pada Pesantren Mahad Darul Hadist Al-
Faqihiyah pimpinan Kiai Habib Abdul Qadir bin Faqih. Tapi di
SMP itu ia tidak lama, karena ia lebih tertarik mendalami
pendidikan agama di pesantren. Di pesantren Muhammad
Quraish Shihab menjadi santri kesayangan Kiai. Kemanapun Kiai
memberikan ceramah, ia selalu diajak serta. Tidak sekedar ikut
tetapi juga berceramah sebelum Kiai berpidato.
Ketika pemerintah Mesir menawarkan program bea siswa
pendidikan, bersama Alwie Shihab, adiknya Muhammad Quraish
Shihab mengikuti tes, dan menjadi anggota termuda diantara 20
pelajar atau mahasiswa Indonesia yang berangkat ke Kairo.
4



3
Muhammad Quraish Shihab, Membumikan al-Quran, Mizan, Bandung,
1995, hlm. 14.
4
Majalah Femina (Serial Femina), bagian 3, No. 16/XXIV-25 April 1996.
31
Pada 1958, dia berangkat ke Kairo, Mesir dan diterima di
kelas II Tsanawiyyah Al-Azhar. Pada 1967, dia meraih gelar Lc (S-
1) pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Hadist
Universitas Al-Azhar, pada 1969 meraih gelar MA untuk
spesialisasi bidang Tafsir Al-Quran dengan tesis berjudul Al-Ijaz
Al-Tsyriiy li Al-Quran Al-Karim. Dengan suka cita ia lalu kembali
ke kampung halamannya. Rasa rindu yang ia pendam kepada
ayah bundanya, untuk bercengkrama dengan sanak saudara dan
segenap handai taulan yang telah lama ia tinggalkan dapat
terobati.
Muhammad Quraish Shihab nyaris menjadi bujang lapuk.
Menjelang usia 30 tahun ia belum juga menikah. Padahal
kakaknya menikah pada usia 18 tahun, sedangkan adiknya
sudah lebih dulu menikah. Setiap kali ia bertugas ke luar kota, ia
sekaligus berburu calon pasangan. Tetapi sayangnya, setiap
kali bertemu wanita, ia merasa ada saja yang kurang cocok.
Untunglah ia mendapat resep jitu dari AJ Mokodompit,
mantan Rektor IKIP Ujung- Pandang. Tidak lama kemudian ia
menemukan jodoh, seorang putri Solo bernama Fatmawati. Ia
menikah dengan Fatmawati tepat di hari ulang tahunnya yang
ke-31, 16 Februari 1975. Mereka dikarunai lima anak, empat
perempuan satu lelaki. Anak pertama diberi nama Najla (Ela)
lahir tanggal 11 september 1976, anak kedua diberi nama Najwa
lahir 16 September 1977, ketiga Naswa lahir tahun 1982,
keempat Ahad lahir 1 Juli 1983 dan yang terakhir Nahla lahir
Oktober 1986.
Pada 1980, Muhammad Quraish Shihab kembali ke Kairo
dan melanjutkan pendidikkannya di almamaternya yang lama,
Universitas Al- Azhar. Pada 1982, dengan disertasi berjudul
32
Nadzm Al-Durar Li Al-Biqaiy, Tahqiq wa Dirasah, dia berhasil
meraih gelar doktor dalam ilmu-ilmu al-Quran dengan yudisium
Summa Cum Laude disertai penghargaan tingkat I (mumtaz maa
martabat al-syaraf al-ula). Ia menjadi orang pertama di Asia
Tenggara yang meraih gelar Doktor dalam ilmu-ilmu al-Quran di
Universitas Al-Azhar.
5


1. Karier Intelektual dan Politik Muhammad Quraish Shihab
Sekembalinya ke Tanah Air pada tahun 1970, setelah
meraih gelar MA, Muhammad Quraish Shihab dipercaya
untuk menjabat Wakil Rektor bidang Akademis dan
Kemahasiswaan pada IAIN Alaudin, Ujung Pandang. Selain
itu, dia juga diserahi jabata-jabatan lain, baik di dalam
kampus seperti Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Wilayah
VII Indonesia Bagian Timur), maupun di luar kampus seperti
Pembantu Pimpinan Kepolisian Indonesia Timur dalam bidang
pembinaan mental. Selama di ujung pandang ini, dia juga
sempat melakukan berbagai penelitian antara lain, penelitian
dengan tema Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di
Indonesia Timur (1975) dan Masalah Wakaf Sulawesi
Selatan(1978).
Sekembalinya ke Indonesia setelah mencapai gelar
Doktornya yaitu sejak tahun 1984, Muhammad Quraish
Shihab ditugaskan di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas
Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selang 9
tahun kemudian yaitu pada tahun 1993, ia diangkat menjadi

5
Islah Gusmian, Khasanah Tafsir Indonesia, TERAJU, Bandung, 2003,
hlm. 18.
33
Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggantikan Ahmad
Syadali.
Selain itu, di luar kampus dia juga dipercaya untuk
menduduki berbagai jabatan. Antara lain : Ketua Majelis
Ulama Indonesia ( MUI) pusat (sejak 1984); Anggota Lajnah
Pentashihan al-Quran Departemen Agama (sejak 1984);
Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasionaal (sejak
1989), dan Ketua Lembaga Pengembangan. Dia juga banyak
terlibat dalam beberapa organisasi professional; antara lain :
Pengurus Penghimpunan Ilmu-Ilmu Syariah : Pengurus
Konsorsium Ilmu-Ilmu Agama Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan; dan Asisten Ketua Umum Ikatan Cendekiawan
Muslim Indonesia (ICMI).
6

Di samping itu juga, Muhammad Quraish Shihab tercatat
dekat dengan tampuk kepemimpinan pada masa Orde Baru.
Ketika acara tahlilan memperingati meninggalnya ibu Tien
Soeharto, ia ditunjuk menjadi penceramah dan pemimpin doa.
Mungkin jalur relasi inilah yang membuat Muhammad
Quraish Shihab ikut masuk kekancah politik praktis. Pada
pemilu 1997, ia disebut-sebut menjadi juru kampanye untuk
partai Golkar. Setelah Golkar meraih kemenangan, dalam
struktur Kementerian Kabinet Pembangunan VII tercantum
nama Muhammad Quraish Shihab sebagai Menteri Agama RI
maka ia memegang jabatan rangkap yang juga sebagai Rektor
IAIN Jakarta. Namun tidak lebih dari dua bulan, jabatan
sebagai Menteri Agama RI tersebut lepas dari tangannya
seiring dengan angin reformasi yang melanda Indonesia.
Dalam konteks Nasional, nama Muhammad Quraish Shihab

6
Ibid.
34
agaknya tenggelam terbawa arus keluarga Cendana yang
mendapat sorotan negatif di mata Rakyat Indonesia pada
umumnya.
Lalu pada tahun 1999, melalui kebijakan Pemerintah
Habibi, Muhammad Quraish Shihab mendapat jabatan baru
sebaga Duta Besar Indonesia untuk Mesir dan saat ini
Muhammad Quraish Shihab menjadi Imam besar di Masjid Al-
Thin di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
7


2. Karya-Karyanya
Aktifitas keorganisasian Muhammad Quraish Shihab
memang begitu padat, namun semua itu tidak menghalangi
untuk aktif dan produktif dalam wacana Intektual. Kehadiran
tulisan-tulisannya di berbagai Media Masa harian dan
mingguan seperti Pelita Hati di harian Pelita, dan fatwa-
fatwanya di harian Republika demikian juga Rubrik Tafsir Al-
Amanah yang diasuhnya pada majalah Umat (terbit dua
mingguan) merupakan bukti kecil dari keaktifan dan
produktifitasnya di bidang itu. Semua ini, telah diedit dan
diterbitkan menjadi buku yang masing-masing berjudul
Lentera Hati, Fatwa-Fatwa Muhammad Quraish Shihab dan
Tafsir Al-Amanah. Selain itu dia juga, tercatat sebagai anggota
Dewan Redaksi Jurnal Ulumul Quran dan Mimbar Ulama,
keduanya terbit di Jakarta. Di Media elektronik, ia muncul
pada bulan Ramadhan sebulan penuh melontarkan kajian
Tafsirnya di RCTI dan stasiun-stasiun TV swasta lainnya, dan
menyumbangkan pemikirannya di Metro TV dalam acara
Lentera Hati setiap hari minggu pukul 14.00.

7
Alimin Mesra, op. cit, hlm. 3.
35
Di sela-sela berbagai kesibukannya ia masih sempat
terlibat dalam berbagai kegiatan ilmiah di dalam maupun di
Luar Negeri dan aktif dalam kegiatan tulis menulis. Berbagai
buku yang telah dihasilkannya ialah :
1. Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhui Berbagai Persoalan
Umat
Buku ini, mulanya merupakan makalah yang disampaikan
Muhammad Quraish Shihab dalam Pengajian Istiqlal
Umat Para Eksekutif di Masjit Istiqlal Jakarta. Pengajian
yang dilakukan sebulan sekali itu dirancang untuk diikuti
oleh para pejabat baik dari kalangan swasta atau
pemerintah. Namun tidak tertutup bagi siapa pun yang
berminat. Mengingat sasaran pengajian ini adalah para
eksekutif, yang tentunya tidak mempunyai cukup waktu
untuk menerima berbagai informasi tentang berbagai
disiplin ilmu ke Islaman maka Muhammad Quraish Shihab
memilih al-Quran sebagai subyek kajian. Alasannya,
karena al-Quran adalah sumber utama ajaran Islam dan
sekaligus rujukan untuk menetapkan sekian rincian
ajaran.
8

2. Hidangan Ilahi Ayat-Ayat Tahlil
Buku ini merupakan kumpulan ceramah-ceramah yang
disajikan Muhammad Quraish Shihab pada acara tahlilan
yang dilaksanakan di kediaman Presiden Soeharta dalam
rangka mendoakan kematian Fatimah Siti Hartinah
Soeharto (pada tahun 1996). Di bagian awal terdapat dua
tulisan yang berasal dari ceramah peringatan 40 hari

8
Lihat, Sekapur Sirih Wawasan al-Quran, Mizan, Bandung, 1996.
36
wafatnya ibu Tien Soeharto dan ceramah peringatan 100
hari wafatnya ibu Tien Soeharto.
3. Tafsir al-Quran al-Karim, Tafsir atas Surat-Surat Pendek
Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu.
Buku ini terbit setelah buku Wawasan al-Quran, namun
sebetulnya sebagian isinya telah ditulis Muhammad
Quraish Shihab jauh sebelum Wawasan al-Quran. Bahkan
telah dimuat di majalah al-Manar dalam rubrik Tafsir al-
Amanah. Uraian buku ini menggunakan mekanisme
penyajian yang agak lain dibandingkan karya Muhammad
Quraish Shihab sebelumnya yaitu disajikan berdasarkan
urutan turunnya wahyu, dan lebih mengacu pada surat-
surat pendek, bukan berdasarkan runtutan surah
sebagaimana tercantum dalam mushaf.
9

4. Membumikan al-Quran
Buku ini berasal dari 60 lebih makalah dan ceramah yang
pernah disampaikan oleh Muhammad Quraish Shihab
pada rentang waktu 1975-1992, tema dan gaya bahasa
buku ini terpola menjadi 2 bagian. Bagian pertama secara
efektif dan efisien Muhammad Quraish Shihab
menjabarkan dan membahas berbagai aturan main
berkaitan dengan cara-cara memahami al-Quran, di
bagian kedua secara jenial Muhammad Quraish Shihab
mendemonstrasikan keahliannya dalam memahami
sekaligus mencarikan jalan keluar bagi problem-problem
intelektual dan sosial yang muncul dalam masyrakat
dengan berpijak pada aturan main al-Quran.
10


9
Islah Gusmian, op. cit, hlm. 82-83.
10
Lihat Membumikan A-Quran, Mizan, Bandung, 1999.
37
5. Lentera Hati
Buku ini merupakan sebuah antologi tentang makna dan
ungkapan Islam sebagai sistem religius bagi individu
mukmin dan bagi komunitas muslim Indonesia. Terungkap
di dalamnya pendekatan sebagaimana yang diambil dalam
kebanyakan literatur inspirasional mutakhir yang ditulis
oleh para peulis Indonesia, yang banyak mengacu pada
tulisan muslim Timur Tengah dalam bahasa Arab.
11

6. Fatwa-Fatwa Muhammad Quraish Shihab Seputar Tafsir al-
Quran
Buku ini membahas tentang ijtihad fardhi Muhammad
Quraish Shihab dalam arti membahas penafsiran al-Quran
dari berbagai aspeknya. Mencakup seputar hukum agama,
seputar wawasan agama, dan seputar puasa dan zakat.
12

7. Fatwa-Fatwa Muhammad Quraish Shihab Seputar Ibadah
Mahdhah
Buku ini membahas seputar ijtihad fardhi Muhammad
Quraish Shihab di bidang ibadah terutama mahdhah, yaitu
shalat, puasa, zakat dan haji.
8. Fatwa-Fatwa Muhammad Quraish Shihab Seputar
Muamalah
Buku ini juga membahas hal yang sama namun dalam
bidang ilmu yang berbeda yaitu seputar muamalah dan
cara-cara mentasyarufkan harta, serta teori pemilikan yang
ada dalam al-Quran.

11
Howard M Fedespiel, Kajian al-Quran di Indonesia dari Muhammad
Yunus hingga Muhammad Quraish Shihab, Mizan, Cet. I, Bandung, 1996, hlm.
296.
12
Muhammad Quraish Shihab, Fatwa-Fatwa Muhammad Quraish Shihab
Seputaf Tafsir al-Quran, Mizan, Bandung, 2001, hlm. Vii.
38
9. Tafsir al-Manar, Keistimewaan dan Kelemahannya (Ujung
Pandang: IAIN Alaudin, 1984)
Buku ini merupakan karya yang mencoba menkritisi
pemikiran Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid
Ridha, keduanya adalah pengarang Tafsir al-Manar. Pada
mulanya tafsir ini merupakan Jurnal al-Manar di Mesir.
Jurnal ini mendapat implikasi dari pemikiran-pemikiran
Jamaluddin al-Afghani, kemudian karena di tengah-
tengah menafsirkan ayat-ayat al-Quran Muhammad
Rasyid Ridha.
Dalam kontes ini Muhammad Quraish Shihab mencoba
mengurai kelebihan-kelebihan al-Manar yang sangat
mengedepankan ciri-ciri rasionalitas dalam menafsirkan
ayat-ayat al-Quran. Di samping itu Muhammad Quraish
Shihab juga mengurai ciri-ciri kekurangannya terutama
berkaitan dengan konsistensinya yang dilakukan oleh
Abduh.
13

10. Menyikap Tabir Ilahi Asma al-Husna dalam Perspektif al-
Quran
Dalam buku ini Muhammad Quraish Shihab mengajak
pembacanya untuk menyikap Tabir Ilahi- melihat Allah
dengan mata hati bukan Allah Yang Maha Pedih Siksanya
dan Maha Besar Ancamnya. Tetapi Allah yang amarahnya
dikalahkan oleh Rahmat-Nya yang pintu ampunan-Nya
terbuka setiap saat disini, Muhammad Quraish Shihab
mengajak pembaca untuk kembali menyembah Tuhan dan
tidak lagi menyembah agana, untuk kembali

13
Lihat Muhammad Quraish Shihab dalam, Studi Kritis Tafsif al-Manar
Keistimewaan dan Kelemahannya, Ujung Pandang, IAIN Alauidin, 1984.
39
mempertuhankan Allah dan tidak lagi mempertuhankan
agama.
14


B. Metode Tafsir Al-Misbah
Dalam tafsir al-Misbah ini, Muhammad Quraish Shihab
menggunakan metode tahlili (urai).
15
Sebuah bentuk karya tafsir
yang berusaha untuk mengungkap kandungan al-Quran dari
berbagai aspeknya. Dari segi teknis tafsir dalam bentuk ini
disusun berdasarkan urutan ayat-ayat di dalam al-Quran.
Selanjutnya memberikan penjelasan-penjelasan tentang kosa
kata makna global ayat, korelasi Asbab al-Nuzul dan hal-hal lain
yang dianggap dapat membantu untuk memahami ayat-ayat al-
Quran.
16

Menurut pengamatan penulis, penggunaan metode ini
banyak dipertanyakan oleh para pembaca, karena selama ini
Muhammad Quraish Shihab dikenal sebagai tokoh yang
memperkenalkan tafsir maudhui dan mempopulerkannya di
tanah air. Sebab menurtnya ada beberapa keistimewaan pada
metode maudhui dibandingkan metode lainnya yaitu Pertama,
menghindari problem atau kelemahan metode lain (Ijmali, Tahlil,
Muqarrin). Kedua, menafsirkan ayat dengan ayat atau dengan
hadis Nabi, satu cara terbaik dalam menafsirkan al-Quran.
Ketiga, kesimpulan yang dihasilkan mudah dipahami. Hal ini
disebabkan karena ia membawa pembaca kepada petunjuk al-
Quran tanpa mengemukakan berbagai pembahasan terperinci

14
Lihat Muhammad Quraish Shihab dalam, Menyikap Tabir-Tabir Ilahi,
Lentera Hati, Jakarta, 1981.
15
Nashiruddin Baidan, Metode Penafsiran al-Quran, kajian kritis Terhadap
Ayat-Ayat yang Berredaksi Mirip, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, hlm. 70.
16
Abdul Hay al-Farmawi, Metode Tafsir Maudhui dan cara penerapannya,
terj. Rasihan Anwar, Pustaka Setia, Bandung, 2002, hlm. 11.
40
dalam satu disiplin ilmu. Dengan metode ini juga dapat
dibuktikan bahwa persoalan yang disentuh al-Quran bukan
bersifat teoritis semata-mata dan tidak dapat ditetapkan dalam
kehidupan masyarakat. Dengan begitu ia dapat membawa kita
kepada pendapat al-Quran tentang berbagai problem hidup
disertai dengan jawaban-jawabannya. Ia dapat memperjelas
kembali fungsi al-Quran sebagai kitab suci dan dapat
membuktikan keistimewaan al-Quran. Keempat, metode ini
memungkinkan seseorang untuk menolak anggapan adanya
ayat-ayat yang bertentangan di dalam al-Quran sekaligus dapat
dijadikan bukti bahwa ayat-ayat al-Quran sejalan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.
17


C. Corak Tafsir Al-Misbah
Tafsir al-Misbah karya Muhammad Quraish Shihab ini
lebih cenderung bercorak sastra budaya dan kemasyarakatan
(Adabul ijtimai). Corak tafsir yang berusaha memahami nash-
nash al-Quran dengan cara pertama dan utama mengemukakan
ungkapan-ungkapan al-Quran secara teliti. Selanjutnya
menjelaskan makna-makna yang dimaksud al-Quran tersebut
dengan bahasa yang indah dan menarik. Kemudian seorang
mufassir berusaha menghubungkan nash-nash al-Quran yang
dikaji dengan kenyataan sosial dengan sistim budaya yang ada.
18





17
Muhammad Quraish Shihab, Membumikan al-Quran, Mizan, bandung,
1999, 117.
18
Abdul Hay Al-Farmawi, op. cit, hlm 28.
41
Corak tafsir ini merupakan corak baru yang menarik
pembaca dan menumbuhkan kecintaan kepada al-Quran serta
memotifasi untuk menggali makna-makna dan rahasia-rahasia
al-Quran.
19
Menurut Muhammad Husein al-Dzahabi, bahwa
corak penafsiran ini terlepas dari kekurangannya berusaha
mengemukakan segi keindahan ( balaghah) bahasa dan
kemukjizatan al-Quran, menjelaskan makna-makna dan
sasaran-sasaran yang dituju oleh al-Quran, mengungkapkan
hukum-hukum alam yang agung dan tatanan kemasyarakatan
yang dikandungnya, membantu memecahkan segala problem
yang dihadapi umat Islam khususnya dan umat manusia pada
umumnya melalui petunjuk dan ajaran al-Quran untuk
mendapatkan keselamatan di dunia dan di akhirat, serta
berusaha mempertemukan antara al-Quran dengan teori-teori
ilmiah yang benar.
Di dalam al-Quran juga berusaha menjelaskan kepada
umat manusia bahwa al-Quran itu adalah kitab suci yang kekal,
yang mampu bertahan sepanjang perkembangan zaman dan
kebudayaan manusia sampai akhir masa, juga berusaha
melenyapkan kebohongan dan keraguan yang dilontarkan
terhadap al-Quran dengan argumen kuat yang mampu
menangkis segala kebatilan, sehingga jelas bagi mereka bahwa
al-Quran itu benar.
20





19
Said Agil Husein al-Munawar, Al-Quran Membangun Tradisi Keshalehan
Hakiki, ciputat Pers, Jakarta, 2002, hlm. 71.
20
Abdul Hayy al-Farmawi, op. cit, hlm 71-72.
42
D. Penafsiran Muhammad Qurais Sihab Tentang Sunnatullah
DalamTafsir Al-Misbah.

1.Penafsiran Ayat-Ayat Sunnatullah
Pada uraian berikut ini penulis akan memaparkan
penafsiran Muhammad Quraish Shihab terhadap ayat-ayat
sunnatullah dalam tafsir al-Misbah. Ayat-ayat tersebut terdapat
dalam surat Al-Anfal ayat 38, Al-Hijr ayat 13, Al-Ahzab ayat 38,
68, Al-Fatir ayat 43, Al-Fatah ayat 23, Al-Isra ayat 77 dan Ali
Imran ayat 137
21
. Di dalam al-Quran ayat-ayat sunnatullah
dan yang semakna dengannya seperti sunnatina atau sunnatul
awwalin terulang sebanyak 13 kali.
Muhammad Quraish Shihab dalam menafsirkan ayat al-
Quran yang merupakan kitab sucinya kaum muslimin sedunia
itu, disesuaikan dengan kondisi sosial yaitu menjelaskan
hakikat ajaran Islam yang murni, yang menurut pandangannya
serta menghubungkan ajaran Islam tersebut dengan ajaran
masa kini.
1. Penafsiran Surat Ali Imran Ayat 137




Artinya : Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-
sunnah karena itu berjalanlah kamu di muka bumi
dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang
yang mendustakan (Rasul-Rasul).
22



21
Muhammad Fuad Abdul Al-Baqi, Mujam Al-Muhfahros Li alfadli Al-
Quran al-Karim, Darl Fikr, TT, 1981, hlm. 367.
22
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahnya, CV.
Jaya Sakti, Surabaya, 1971, hlm.98.
43
Muhammad Quraish Shihab mengatakan sesungguhnya
bahwa telah berlaku sebelum kamu sunnah-sunnah yakni
hukum-hukum kemasyarakatan yang tidak mengalami
perubahan. Sunnah tersebut antara lain adalah yang melanggar
perintah-Nya dan perintah rasul-rasul-Nya akan binasa, dan
yang mengikutinya berbahagia. Yang menegakkan disiplin akan
sukses hari-hari kekalahan dan kemenangan silih berganti, dan
lain-lain. Sunnah-sunnah itu ditetapkan Allah demi
kemaslahatan manusia dan itu semua dapat terlihat dengan
jelas dalam sejarah dan peninggalan umat-umat yang lalu.
23

Menurut Muhammad Quraish Shihab ayat di atas
memerintahkan untuk mempelajari sunnah yakni kebiasaan-
kebiasaan Allah dalam memperlakukan masyarakat. Perlu
diingat bahwa apa yang dinamai hukum-hukum alam pun
adalah kebiasaan-kebiasaan yang dialami manusia
menyangkut fenomena alam. Kebiasaan itu dinyatakannya
sebagai tidak beralih (QS. Bani Israil : 77) dan tidak pula
berubah (QS Al-Fatah : 23) karena sifatnya demikian maka ia
dapat dinamai juga dengan hukum-hukum kemasyarakatan
atau ketetapan-ketetapan bagi masyarakat. Ini berarti ada
keniscayaan bagi sunnatullah atau hukum-hukum
kemasyarakatan itu, tidak ubahnya dengan hukum-hukum
alam atau hukum yang berkaitan dengan materi. Apa yang
ditegaskan al-Quran ini dikonfirmasikan oleh ilmuan :
Hukum-hukum alam sebagaimana hukum-hukum
kemasyarakatan bersifat umum dan pasti, tidak satu pun dan
di negeri mana pun yang dapat terbebaskan dari sangsi bila

23
Muhammad Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Lentera Hati, Jakarta,
2003, Vol. 2, hlm. 210.
44
melanggarnya. Hukum-hukum itu tidak memperingatkan
siapa yang melanggarnya dan sangsinya pun membisu
sebagaimana membisunya hukum itu sendiri. Masyarakat dan
jenis manusia yang tidak membedakan antara yang haram
dengan yang halal akan terbentur oleh malapetaka,
ketercabikan dan kematian. Ini semata-mata adalah sangsi
otomatis, karena kepunahan adalah akhir dari semua mereka
yang melanggar hukum-hukum alam atau kemasyarakatan
dengan hukum-hukum alam atau materi
24
.

2. Penafsiran Surat Al-Fatah Ayat 23


Artinya : Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak
dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan
perubahan bagi sunnatullah itu.
25


Kata sunnatullah dari segi bahasa terdiri dari kata
sunnah dan Allah. Kata sunnah antara lain berarti kebiasaan.
Sunnatullah adalah kebiasaan-kebiasaan Allah dalam
memperlakukan masyarakat. Dalam al-Quran, kata
sunnatullah dan yang semakna dengannya seperti sunnatina
atau sunnatu al-awwalin terulang sebanyak tiga belas kali.
Semuanya berbicara dalam konteks kemasyarakatan.
Ayat 23 di atas berkaitan dengan ayat 22 yang
menjelaskan apa yang terjadi bila kaum musyrikin Makah
bersikeras untuk berperang. Di sini Allah bagaikan berfirman
: Seandainya Allah menghendaki niscaya Dia

24
Tafsir Al-Misbah, op.cit, Vol 2,. hlm. 211.
25
Al-Quran dan Terjemahnya, op. cit, hlm. 841.
45
menganugrahkan kamu kemampuan untuk melaksanakan
Umrah pada tahun Hudaibiyah itu, dan seandainya orang-
orang kafir (kaum musyrikin Makah) yang telah bersedia
menandatangani perjanjian Hudaibiyah itu memerangi kamu
yang ketika itu telah berkumpul di bawah pimpinan Khalid
Ibnu Walid sebelum Khalid memeluk Islam, mereka dengan
penuh kesungguhan berbalik melarikan diri ke belakang
karena mereka merasa takut kepada kamu ketakutan yang
dicampakkan Allah ke jiwa mereka dan dengan demikian
mereka dikalahkan Allah, kemudian yang lebih parah lagi dari
itu dan berlanjut masa yang lama.
26

Pada ayat 23 ini Muhammad Quraish Shihab
menerangkan bahwa orang-orang kafir sewaktu-waktu tidak
akan memperoleh satu pun perlindungan yang dapat
melindungi mereka dari kekalahan dan tidak pula satu
penolong pun yang dapat menolong mereka menghindari
kebinasaan. Perlakuan Allah yang semacam ini serta
kemenangan yang dianugrahkan kepada orang-orang mukmin
adalah satu sunnatullah yakni kebiasaan Allah dan
ketetapannya dalam kehidupan bermasyarakat dari sekian
banyak sunnah-Nya, jika kaum mukmin tulus dan
bersungguh-sungguh dalam membela agama Allah. Itulah
kebiasaan yang telah berlaku sejak dahulu dan kamu sekali-
kali tidak akan menemukan perubahan bagi sunnah itu
27
.




26
Tafsir Al-Misbah, op. cit, Vol. 13, hlm. 204
27
Ibid, hlm. 205.
46
3. Penafsiran Surat Al-Hijr Ayat 13


Artinya : Mereka tidak beriman kepadanya (al-Quran) dan
sesungguhnya telah berlalu sunnatullah terhadap
orang-orang dahulu.
28


Ayat 13 berkaitan dengan ayat 12, yang menjelaskan
bahwa boleh jadi terlintas dalam benak siapa yang mendengar
ayat lalu satu pertanyaan : Bagaimana bisa umat-umat yang
lalu itu mengambil sikap yang sama untuk menolak risalah
para nabi mereka padahal mereka hidup pada masa dan
tempat yang berbeda. Untuk itu ayat ini menyatakan bahwa :
Sebagaimana yang terjadi terhadap orang-orang kafir yang
hidup pada masa lalu itu, demikian juga Kami
memasukkannya pemahaman al-Quran ke dalam hati para
pendurhaka (orang-orang) kafir yang telah mendarah daging
kebejatan dan dosa-dosa dalam diri mereka. Tetapi
pemahaman itu tidak mengantar mereka mempercayainya,
dengan demikian mereka tidak beriman kepada al-Quran
atau kepada Nabi Muhammad dan sesungguhnya telah
berlaku sunnah orang-orang terdahulu.
29

Muhammad Quraish Shihab mengatakan bahwa
beberapa ulama memahami sunnatu al awalin pada ayat 13 di
atas dalam arti kebiasaan-kebiasaan yang diperlakukan Allah,
terhadap orang-orang yang terdahulu yakni jatuhnya siksa
terhadap para pembangkang. Ada juga yang memahaminya
dalam arti kebiasaan umat-umat terdahulu yakni kebiasaan

28
Al-Quran dan Terjemahnya, op. cit, hlm. 391.
29
Tafsir Al-Misbah, op. cit, vol.7, hlm. 99.
47
mereka selalu menolak ajakan para Nabi dan memperolok-
olok mereka
30
.
4. Penafsiran Surat Al-Isra Ayat 77


Artinya : (Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu
ketetapan terhadap Rasul-Rasul Kami, yang Kami
utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati
perubahan bagi ketetapan Kami itu.
31


Pada surat Al-Isra ayat 77 berkaitan dengan ayat 76,
ayat ini menegaskan bahwa kaum musyrikin Makah hampir
memaksa Nabi Muhammad ke luar dengan jalan memancing
amarah beliau, tetapi itu tidak terlaksana sehingga beliau
tidak meninggalkan Makah pada waktu yang mereka ingikan.
Nabi tetap bermukim di Makah menghadapi penganiayaan
dan rencana jahat mereka, Nabi mengizinkan sekian banyak
sahabat untuk berhijrah ke Ethiopia. Nanti setelah Allah
mengizinkan beliau berhijrah, dan mereka membatalkan
rencana pengusiran dengan rencana pembunuhan, barulah
Allah mengizinkan Nabi berhijrah. Memang izin ini lahir
karena permusuhan kaum musyrikin sehingga mereka juga
yang menjadi penyebab hijrahnya Nabi, tetapi rencana
pengusiran pada waktu yang mereka inginkan tidak
terlaksana, dan Istifzaz atau pemaksaan yang menjengkelkan
itu tidak berhasil mengeluarkan Nabi dari Makah, walaupun
seperti bunyi ayat 76, hal tersebut hampir saja berhasil.
Demikian Allah memelihara Nabi menghadapi rencana jahat

30
Ibid, hlm. 100.
31
Al-Quran dan Terjemahnya, op.cit, hlm. 436.
48
kaum musyrikin dan menggagalkannya setelah ayat yang lalu
menguraikan bagaimana usul-usul buruk mereka pun
tertampik karena kekuatan pribadi Nabi serta pemeliharaan
Allah. Ayat 76 ini mengisyaratkan bahwa suatu ketika Nabi
akan meninggalkan kota Makah, dalam bentuk hijrah Nabi
dan itulah awal keruntuhan kekuasaan kaum musyrikin.
32

Pada ayat 77 ini, dahulu para pakar tidak menyadari
bahwa ayat ini berbicara tentang salah satu hukum
kemasyarakatan, karena itu hukum-hukum tersebut belum
populer atau diketahui, karena itu ada yang menganggap
bahwa firman Allah di atas yang menyatakan tidak akan
tinggal sepeninggalmu berarti mereka akan mati.
33

Quraish Shihab dalam tafsirnya mengatakan bahwa
ayat 77 di atas pada hakekatnya berbicara tentang
sunnatullah atau hukum-hukum kemasyarakatan, sebagai
bunyi kelanjutannya dan tidak akan engkau dapati
perubahan bagi sunnah atau ketetapan Kami itu. Maka
karena itu kalimat sepeninggalmu mereka tidak tinggal
melainkan sebentar saja tidak boleh dipahami sebagai
kematian orang-orang, tetapi kematian sistem atau orde
masyarakat. Orang-orang yang hidup dalam masyarakat
tersebut tetap bertahan hidup, tetapi sistem kemasyarakatan
dan pandangan jahiliyah yang mereka anut menurut ayat
yang ditafsirkan ini sebentar lagi akan runtuh dan ini terbukti
kebenarannya setelah sekitar 10 tahun dari hijrah Rasul di
Makah. Ayat ini merupakan salah satu bukti bahwa al-Quran
adalah kitab pertama yang menjelaskan hukum-hukum

32
Tafsir Al-Misbah, op.cit, vol.7, hlm. 523.
33
Ibid
49
kemasyarakatan dan bahwa di samping ajal perorangan ada
juga ajal bagi masyarakat
34
.
Seperti dalam firman Allah pada surat Al-Araf ayat 34,
sebagai berikut :

Artinya : Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu maka
apabila telah datang waktunya mereka tidak
dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan
tidak dapat (pula) memajukannya.

Ditetapkan lain dinyatakan dalam surat Al-Muminun
ayat 43.

Artinya : Tidak (dapat) sesuatu umat pun mendahului ajalnya,
dan tidak (dapat pula) mereka terlambat (dari
ajalnya itu).

Selanjutnya kalau al-Quran antara lain menyatakan
bahwa : Segala sesuatu ada kadar dan ada juga sebabnya,
maka usia dan keruntuhan suatu sistem dalam masyarakat
pun pasti ada kadar dan ada pula penyebabnya. Ayat 76-77
surat Al-Isra di atas dapat menjadi salah satu hukum
kemasyarakatan yang menjelaskan kadar dan penyebab itu,
yakni jika satu masyarakat telah sampai pada satu tingkat
yang amat menggelisahkan maka ketika itu ia akan runtuh,
ini sejalan dengan firman Allah pada surat Al-Kahfi ayat 59.

Artinya : Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan.
Ketika mereka berbuat zalim, dan telah kami
tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.




34
Ibid, hlm. 524.
50


5. Penafsiran Surat Al-Ahzab Ayat 38



Artinya : Tidak ada suatu ketetapan pun atas Nabi tentang
apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah
telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-
Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan
adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang
pasti berlaku.
35


Ayat 38 di atas berkaitan dengan ayat-ayat
sebelumnya yaitu turun berkenaan dengan kasus Zainab Ibn
Jahesy yang dipinang oleh Rasulullah, mantan anak yang
diadopsinya yaitu Zaid Ibn Haritsah. Zainab pada mulanya
menolak demikian juga saudara Zainab yaitu Abdullah.
Keduanya merasa memiliki garis keturunan terhormat dari
suku Quraisy, sedang status Zaid sebelum diadopsi Nabi
adalah seorang budak. Ada beberapa riwayat tentang sikap
Zainab ketika itu. Ada yang mengatakan bahwa dia meminta
agar diberi waktu untuk istikharah, yang jelas begitu ayat ini
turun, dia menerima pinangan Rasul walau dengan berat hati.
Ada riwayat lain yang menyatakan bahwa ayat ini
turun berkenaan dengan Ummu Kaltsum binti Uqbah Ibn Abi
Muith yang merupakan wanita pertama yang hijrah setelah
perjanjian Hudaibiyah. Wanita itu datang kepada Nabi
menyerahkan diri (mengharap untuk dinikahi). Rasul

35
Al-Quran dan terjemahnya, op.cit, hlm. 674.
51
menerima dan menikahkannya dengan Zaid Ibn Haritsah
(boleh jadi setelah perceraiannya dengan Zainab). Wanita
tersebut demikian juga saudaranya marah atas pernikahan
itu, saudaranya berkata : Kami mengharapkan Rasul, tetapi
ternyata dia nikahkan dengan bekas budaknya.
36

Yang jelas pernikahan Nabi dengan mantan istri Zaid
Ibn Haritsah yakni Zainab binti Jahesy telah menimbulkan
isu dan tanggapan negatif . Sebenarnya Nabi Muhammad
sendiri telah menyadari akan timbulnya tanggapan negatif itu,
namun Allah bermaksud membatalkan dampak adopsi secara
amaliah dan yang langsung dilakukan oleh Nabi sendiri,
sehingga menjadi jelas bagi semua pihak. Memang Allah telah
mewahyukan kepada Nabi Muhammad melalui mimpi bahwa
beliau akan diperintahkan menikahi Zainab, tetapi karena
mempertimbangkan dampak negatif itu beliau tidak
menyampaikan kepada siapa pun tentang hal tersebut. Ini di
samping karena beliau tidak atau belum diperintahkan untuk
menyampaikannya.
37

Mengenai peminangan Nabi di dalam riwayat Muslim
dinyatakan bahwa setelah selesainya iddah Zainab, Nabi
Muhammad meminta kepada mantan anak angkatnya
sekaligus mantan suami Zainab yakni Zaid untuk pergi
meminang Zainab buat Nabi Zaid pun pergi. Dia berkata :
Ketika aku melihatnya, terasa keanggunannya di dadaku,
maka aku membelakanginya lalu kusampaikan kepadanya
bahwa Rasul mengutusku untuk meminangmu. Zainab
menjawab :saya tidak akan melakukan sesuatu sebelum aku

36
Tafsir Al-Misbah, op.cit, vol. 11, hlm. 276.
37
Ibid, hlm. 278.
52
bermohon kepada Tuhanku. Dia kemudian masuk ketempat
shalatnya (melakukan shalat istikharah dan berketetapan hati
untuk menerima pinangan Nabi). Lalu turun ayat 37 dan
Rasul masuk menemuinya tanpa meminta izin lagi.
Perintah Rasul agar yang meminangkan untuk beliau
adalah mantan suami Zainab sendiri, di samping untuk
melihat kesan Zaid, juga untuk membuktikan kepada
khalayak bahwa sebenarnya beliau menikahinya setelah Zaid
benar-benar tidak berminat bahkan tidak memiliki sedikit pun
kecemburuan.
38

Seperti yang dikatakan Quraish Shihab bahwa ayat
38 di atas adalah penjelasan tambahan tentang persamaan
Nabi Muhammad dalam hal kebolehan mengawini janda bekas
anak angkat dan bahwa hal itu tidak mengurangi nilai
kenabian, karena melakukan hal-hal mubah merupakan
kebiasaan para Nabi-Nabi sebelum beliau. Nabi apabila
menginginkan sesuatu yang bersifat mubah maka tidak ada
halangan baginya untuk melakukannya, karena dalam
masalah ini ia tidak harus bermujahadah, yakni menekan
dorongan keinginannya dalam hal-hal yang tidak
diperintahkan Allah. Untuk melakukan mujahadah terhadap-
Nya. Dia justru hendaknya menggunakan potensinya untuk
bermujahadah menangkal apa yang dilarang Allah.
Menikah merupakan sunnah para Nabi, Nabi
Ibrahim as menikah, bahwa konon Nabi Daud dan Sulaiman
mempunyai banyak istri, karena itu bukanlah suatu yang aib
bila Nabi Muhammad pun menikah
39
.

38
Ibid, hlm. 319.
39
Ibid, hlm. 283.
53

6. Penafsiran Surat Al-Ahzab Ayat 62


Artinya : Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-
orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan
kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan
pada sunnah Allah.
40


Ayat 62 ini berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya,
pada ayat 53 mengandung dua tuntunan pokok. Pertama
menyangkut etika mengunjungi Nabi di rumah dan yang
kedua menyangkut hijab. Baagian pertama ayat ini menurut
sahabat Nabi, Anas Ibn Malik berkaitan dengan pernikahan
Nabi dengan Zainab binti Jahesy. Ketika itu Nabi menyiapkan
makanan untuk para undangan. Namun setelah mereka
makan, sebagian undangan daalam riwayat ini dikatakan tiga
orang masih tetap duduk berbincang-bincang. Naabi masuk
ke kamar Aisyah lalu keluar, dengan harapan para tamu yang
masih tinggal itu segera pulaang, tetapi mereka belum juga
pulang maka Naabi masuk lagi ke kamar istri yang lain
demikian seterusnya, silih berganti masuk daan keluar ke
kamar-kamar semua istri beliau. Akhirnya mereka keluar juga
setelah sekian lama Nabi menanti. Anas Ibn Malik yang
menuturkan kisah ini berkata : Maka aku menyampaikan hal
tersebut kepada Nabi, maka beliau masuk aku pun ketika itu
akan masuk tetapi telah dipasang hijab antara aku dengan
beliau, lalu turun ayat 53.


40
Al-Quran dan Terjemahnya, op.cit, hlm. 679.
54
Dalam riwayat yang lain sahabat Nabi, Anas Ibn
Malik menyatakan bahwa Sayyidina Umar mengusulkan
kepada Nabi bahwa : Wahai Rasul, orang baik dan tidak baik
masuk ke rumah mu, apakah tidak sebaiknya engkau
memerintahkan Ummahat al-Muminin (istri-istri Nabi)
memasang hijab maka turunlah ayat 53 ini memerintahan
penggunaan tabir. Kedua riwayat di atas tidak harus
dipertentangkan. Bisa saja Sayyidina Umar mengusulkannya
beberapa saat sebelum terjadinya undangan Nabi merayakan
pernikahan beliau dengan Zainab itu.
41

Sebelum turun ayat 59 cara berpakaian wanita
merdeka maupun budak, yang baik-baik atau yang kurang
sopan hampir dikatakan sama. Karena itu leleki usil sering
kali mengganggu wanita-wanita khususnya yang mereka
ketahui atau diduga sebagai hamba sahaya. Untuk
menghindarkan gangguan tersebut, serta menampakkan
keterhormatan wanita muslimah ayat 59 turun.
42

Sedangkan ayat 62 di atas berkaitan dengan
ancaman terhadap orang-orang munafik setelah bimbingan
kepada wanita-wanita agar berpenampilan terhormat,
mengisyaratkan betapa besar peranan perempuan dalam
lahirnya keusilan pria. Seandaianya mereka keluar rumah
secara terhormat, maka paling tidak sebagian besar dari yang
usil tidak akan berani melakukan pelecehan atas mereka. Dan
ini adalah sunnah Allah
43
.



41
Tafsir Al-Misbah, op.cit, vol. 11, hlm.309-310.
42
Ibid, hlm. 319.
43
Ibid, hlm. 323.
55
7. Penafsiran Surat Al-Anfal ayat 38



Artinya : Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu : jika
mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah
akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa
mereka yang sudah lalu dan jika mereka kembali
lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka)
sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu.
44


Ayat 38 di atas berkaitan dengan ayat-ayat
sebelumnya, pada ayat 30 menggambarkan jalannya diskusi
tokoh-tokoh kaum musyrik di balai pertemuan mereka Dar
an-Nadwah Makah, beberapa hari sebelum peristiwa hijrah.
Ada yang mengusulkan agar Nabi diikat untuk membendung
meluasnya dakwah Islamiyah. Usul ini ditolak karena mereka
khawatir jangan sampai Bani Hasyim suku Nabi menyerang
siapa yang mengganggu dan menawan beliau. Usul ke dua
adalah mengusir Nabi dari Makah, inipun mereka tolak
karena khawatir jangan sampai denga demikian pengikut Nabi
akan lebih banyak dan suatu ketika akan menyerang balik ke
Makah. Usul ke tiga adalah membunuhnya, inipun pada
mulanya ditolak serupa dengan alasan penolakan usul
pertama. Tetapi akhirnya mereka sepakati untuk memilih dari
setiap suku seorang pemuda tangguh lalu mereka secara
bersama-sama membunuh Nabi, dengan demikian suku Nabi
tidak akan berani menuntut balas kepada semua suku yang
diwakili pemuda-pemuda tangguh itu, rencana busuk mereka
diketahui dan dibongkar oleh Allah Yang Maha Mengetahui itu

44
Al-Quran dan Terjemahnya, op. cit, hlm. 266.
56
melakukan pula rencana-Nya dan gagallah semua makar (tipu
daya) yang mereka rencanakan itu.
Nabi memerintahkan Sayyidina Ali untuk tidur di
pembaringan beliau sambil memakai selimut beliau, dan pada
malam itu juga Nabi meninggalkan rumah menuju Madinah
melalui pintu di tengah-tengah pengawasan ketat wakil-wakil
pelaku makar (tipu daya) yang tidak melihat Nabi keluar.
Bahkan beberapa riwayat menginformasikan bahwa Nabi
menabur tanah di atas kepala para pelaku makar (tipu daya),
sambil membaca awal ayat-ayat surah Yasin sampai firman-
Nya : Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di
belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka
sehingga mereka tidak dapat melihat (QS. Yasin : 9).
45

Menurut Quraish Shihab bahwa ayat yang lalu
menjelaskan kesia-siaan amal dan harta mereka (orang-orang
kafir). Ini mengesankan bahwa siksa Allah pasti jatuh apalagi
redaksi yang digunakan menggambarkan keadaan mereka
pada umumnya berbentuk kata kerja masa lalu yang
mengesankan kepastian. Untuk itu agar tidak menimbulkan
keputusasaan, ayat 38 ini membuka kesempatan bertaubat.
Nabi Muhammad diperintahkan : Katakanlah kepada orang-
orang kafir yang tidak percaya keesaan Allah dan berusaha
memadamkan cahaya ajarannya bahwa jika mereka berhenti
dari usaha memadamkan cahaya ilahi yakni berhenti dari
kekufuran dengan memeluk agama Islam, niscaya Allah akan
mengampuni dosa dan pelanggaran mereka yang telah lalu,
sehingga Allah tidak akan menyiksa, mengecam atau meminta
pertanggungjawaban mereka, dan jika mereka kembali

45
Taafsir Al-Misbah,op. cit, vol. 5, hlm. 411.
57
melakukan dosa serupa maka Allah akan menjatuhkan sanksi
atas mereka karena sesungguhnya telah berlalu sunnah
kebiasaan Allah menjatuhkan sanksi atas orang-orang dahulu
dan semua orang telah mengetahuinya sehingga itu pun akan
berlaku atas mereka dan mestinya mereka pun telah
mengetahuinya.
Ayat ini menunjukkan bahwa orang kafir yang
memeluk agama Islam, terhapus seluruh dosa dan
kesalahannya begitu dia memeluk Islam. Tidak juga ia
dituntut melaksanakan kewajiban keagamaan yang mestinya
dia amalkan sebelum keislamannya
46
.

8. Penafsiran Surat Fatir Ayat 43




Artinya : Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan
karena rencana (mereka) yang jahat. Dan tidaklah
menimpa makar jahat, kecuali perencana-Nya.
Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain
orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah
yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya)
sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-
orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak
akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah,
dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui
penyimpangan bagi sunnah Allah itu.
47


Ayat 43 berkaitan dengan ayat 42, bahwa ada
sebagian ulama berpendapat pada ayat 42 menguraikan
ucapan kaum musyrikin Makah sebelum diutusnya Nabi

46
Ibid, hlm. 420-421.
47
Al-Quran dan Terjemahnya, op.cit, hlm. 702-703.
58
Muhammad. Mereka mengetahui sikap orang Yahudi dan
Nasrani yang mendustakan para Nabi yang diutus Allah.
Kaum musyrikin Makah itu berkomentar: Demi Allah jika
kami didatangi oleh Rasul, pasti kami akan bersikap lebih
baik dari orang-orang Yahudi dan Nasrani itu.
Thahir Ibnu Asyur berpendapat bahwa ucapan kaum
Musyrikin Makah ini lahir ketika sebagian orang Yahudi atau
Nasrani yang menemui mereka di Makah, atau dalam
perjalanan mereka ke Madinah atau Syam, mengajak kaum
musyrikin Makah itu memeluk agama Yahudi atau Nasrani
serta menunjukkan keburukan syirik. Kaum musyrikin segan
kepada orang Yahudi dan Nasrani, sebab disamping itu
mereka adalah ahl Al-Kitab juga mereka pandai membaca dan
menulis. Untuk itu kaum Musyrikin Makah menampik ajakan
Ahl Al-Kitab tersebut dengan berkata: Rasul yang diutus
kepada kalian, tidak diutus kepada kami orang Arab. Kami
bersumpah, sesungguhnya jika datang kepada kami seorang
pemberi peringatan seperti halnya yang datang kepada kamu,
niscaya kami akan lebih mendapat petunjuk dan taat dari
pada kamu semua.
48

Di dalam ayat 43 di atas disebutkan kata makar
dalam bahasa al-Quran berarti mengalihkan pihak lain dari
apa yang dikehendaki dengan cara tersembunyi atau tipu
daya. Kata ini pada mulanya digunakan untuk
menggambarkan keadakan sekian banyak daun dari satu
pohon lebat yang saling bergantungan satu dengan yang kain,
sehingga tidak diketahui pada dahan mana daun itu
bergantung. Dari sini kata makar digunakan untuk sesuatu

48
Tafsir Al-Misbah, op. cit, Vol. 11, hlm. 491.
59
yang tidak jelas. Siapa yang melakukan makar, maka dia
telah melakukan satu kegiatan yang tidak jelas hakekatnya
bagi yang dilakukan terhadapnya makar itu. Makar ada dua
macam, ada yang bertujuan baik dan ada yang buruk. Ayat 43
menjelaskan bahwa makar yang dimaksud adalah Al-Makr Al-
Sayyi atau makar yang buruk.
49

Kata yahiqu berarti menimpa atau meliputi.
Penggalan ayat ini telah menjadi semacam peribahasa, yang
maksudnya serupa dengan ungkapan siapa yang menggali
lubang untuk menjerumuskan orang lain, dia sendiri yang
akan terjerumus ke dalamnya. Ini bukanlah janji tentang
tidak akan mempan makar buruk terhadap orang lain. Tetapi
maksudnya makar itu, tidak akan bersinambungan pengaruh
buruknya terhadap orang lain, tetapi justru terhadap yang
melakukannya, yang melakukannya akan ditimpa akibat
buruk upayanya itu, kalau bukan di Dunia ini maka di
akhirat kelak.
Kata Quraish Shihab pada ayat 43 ini mengatakan
siapa pun tidak akan mampu mengubah cara yang ditetapkan
Allah memperlakukan umat manusia. Kalau kita
membandingkannya dengan hukum alam, maka kita tidak
akan menjadikan beku air yang sedang dididihkan sehingga
mencapai 100 derajat celcius, dan tidak mungkin pula
mencairkannya saat ia telah mencapai 0 derejat celcius.
Untuk mencairkan atau membekukan air, kita harus
berusaha mengubah temperaturnya sesuai dengan ketentuan
hukum Alllah yang berlaku terhadap air. Dalam hukum-
hukum kemasyarakatan pun hal serupa terjadi. Kita tidak

49
IBid, hlm. 493.
60
mungkin menjadikan masyarakat yang saling bermusuhan
atau malas, tidak mungkin menjadikannya meraih sukses
atau kesejahteraan hidup. Sebaliknya siapapun yang
mengikuti hukum-hukum Tuhan menyangkut syarat-syarat
pasti akan meraihnya.
50

Siapa pun dari mahluk ini, tidak akan mampu
mengalihkan hukum Allah dari arah yang telah ditentukan-
Nya. Bagi yang mendinginkan air hingga mencapai 0 derajat
celcius tidak mungkin dapat menjadikan air yang lain menjadi
beku. Bagi yang bekerja keras, tidak mungkin sukses
usahanya diraih oleh orang yang malas, itu adalah sunnah
Allah atau kebiasaan-kebiasaan yang diperlakukan-Nya
terhadap apa, siapa, dan kapan pun. Karena ia adalah
sunnah yang tidak menyimpang dari arah yang ditetapkan.
Ada juga ulama yang memahami pergantian
sunnatullah dalam arti siksa Allah tidak akan diganti dengan
siksa lain, sedang penyimpangan sunnatullah mereka pahami
dalam arti bencana yang mestinya menimpa seseorang
(kaum), tidak dapat dialihkan kepada seseorang (kaum yang
lain)
51
.








50
Ibid, hlm. 493-494.
51
Ibid, hlm. 495.
61
2. Penafsiran Ayat-Ayat Tentang Peristiwa yang Tekesan
Bertentangan Dengan Sunnatullah

a. Nabi Ibrahim Tidak Terbakar Oleh Api
Penafsiran surat Al-Anbiya ayat 68-70.



Artinya : Mereka berkata : Bakarlah dia dan bantulah tuhan-
tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak
bertindak. Kami berfirman : Hai api menjadi
dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi
Ibrahim. Mereka hendak berbuat makar terhadap
Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-
orang yang paling merugi.
52


Kaum Nabi Ibrahim yang sangat terpojok dan marah
terhadap Nabi Ibrahim, mendiskusikan sikap yang harus
mereka ambil terhadap Nabi Ibrahim. Akhirnya, sebagaimana
kebiasaan orang kuat yang terpojok, mereka sepakat untuk
menghabisi Nabi Ibrahim, lalu mengumpulkan bahan bakar
dan menyalakan api.
53

Dalam beberapa riwayat dikemukakan bahwa saat
Nabi Ibrahim dilempar masuk ke dalam kobaran api, Malaikat
Jibril menemui beliau dan berkata : Adakah hajatmu yang
dapat ku penuhi? Beliau menjawab : Jika dirimu hai Jibril
tidak ada. Beliau memang hanya mengharap pertolongan dari
Allah.


52
Al-Quran dan Terjemahnya, op.cit, hlm. 503.
53
Tafsir Al-Misbah, op. cit, Vol. 8, hlm. 476.
62
Dengan pembakaran itu kaum Nabi Ibrahim hendak
berbuat makar terhadap Nabi Ibrahim, yakni membunuh dan
menghabisi ajaran-ajarannya, maka Allah menjadikan mereka
yang bermaksud buruk itu orang-orang yang paling merugi.
Rugi karena gagal usaha mereka, dan rugi pula karena
mereka mendapat murka Allah atas ulah mereka itu. Menurut
Tahir Ibn Asyur, murka Allah yang menimpa mereka di dunia
adalah kehancuran kekuasaan orang-orang kafir pada masa
Nabi Ibrahim, sekitar 286 sebelum masehi.
54

Menurut Quraish Shihab perintah Allah kepada api
agar menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim
adalah perintah yang dinamai amr takwiny atau perintah
perwujudan sehingga dengan demikian Allah mencabut dari
api potensi panas dan pembakaran dan menjadikannya
dingin. Tetapi karena dingin dapat membahayakan bila
melampaui batas, maka perintah menjadi dingin itu dibarengi
untuk menjadi keselamatan bagi Nabi Ibrahim.
Peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim itu merupakan
suatu keluarbiasaan yakni di luar hukum-hukum alam yang
kita kenal, karena itu kita tidak dapat mengetahui hakikat
peristiwa itu. Memang pembahasan akliyah menyangkut
peristiwa-peristiwa alam yang biasa terjadi dapat kita jangkau
melalui pengetahuan kita tentang hukum sebab dan akibat,
serta pengalaman keseharian yang terjadi berkali-kali kapan
dan dimana. Adapun peristiwa luar biasa yang hanya terjadi
sekali, dan tidak kita ketahui hubungannya maka tidak ada
tempat untuk pembahasan akliyah menyangkut hal tersebut.
Paling kita dapat mengingatkan bahwa hukum-hukum alam

54
Ibid, hlm. 479.
63
tidak lain kecuali ikhtisar dari pukul rata statistik. Setiap
saat kita melihat air mengalir menuju tempat yang rendah,
matahari terbit dari sebelah timur, si sakit sembuh karena
minum obat tertentu dan sebagainya, hal yang lazim kita lihat
dan ketahui, maka memunculkan rumus-rumus dari apa
yang dinamai hukum-hukum alam. Tetapi jangan menduga
bahwa sebab itulah yang mewujudkan akibat, karena para
ilmuan sendiri pun tidak tahu secara pasti faktor apa dari
sekian banyak faktor yang menghantarkannya kesana.
55

Hakikat sebab yang diketahui, hanyalah
berbarengan dan terjadi sebelum terjadinya akibat. Tidak ada
satu bukti yang dapat menunjukan bahwa sebab itulah yang
mewujudkan akibat. Sebaliknya sekian banyak kebenaran
ilmiah yang menghadang pendapat yang menyatakan bahwa
apa yang kita namakan sebab itulah yang mewujudkan
akibat. Cahaya yang kita lihat sebelum terdengarnya suara
letusan meriam, bukanlah penyebab meletusnya meriam,
kata David Hume, filosof Inggris kenamaan itu (1711-1776 M).
Apa yang kita namakan kebetulan hari ini mungkin
merupakan proses dari terjadi suatu kebiasaan atau hukum
alam. Demikian sementara menurut ahli fikir yang lain.
56

Setelah ditemukannya bagian-bagian atom, elektron
dan proton, sadarlah ilmuwan masa kini tentang
ketidakpastian dan lahirlah salah satu prinsip ilmiah yaitu
probability. Ilmuwan kini mengakui bahwa apa yang sebelum
ini diduga keadaan A pasti menghasilkan keadaan B, tidak
dapat lagi dipertahankan. Kini mereka berkata keadaan A

55
Ibid, hlm. 477.
56
Ibid.
64
boleh jadi mengakibatkan B atau C atau D atau selain itu
semua. Paling tinggi yang dapat dikatakan adalah bahwa
keadaan B mengandung kemungkinan yang lebih besar dari
pada keadaan C dan bahwa derajat kemungkinan keadaan ini
lebih besar dari keadaan itu. Adapun memastikannya, maka
hal tersebut di luar kemampuan siapa pun. Ia kembali kepada
ketentuan takdir, apapun hakekat atau siapa pun takdir itu.
Manusia atau alat yang digunakan seperti obat bagi
kesembuhan atau senjata untuk kemenangan, kesemuanya
hanyalah perantara-perantara. Sehingga pada akhirnya
seperti kata Einstein, apa yang terjadi semuanya diwujudkan
oleh suatu kekuatan Yang Maha Dahsyat, lagi Maha
Mengetahui superior reasoning power, atau dalam istilah al-
Quran Allah al qowiyu al alim (Allah Yang Maha Perkasa
Lagi Maha Mengetahui).
57

Tidak ada alasan untuk meragukan adanya mukjizat,
karena tidak ada perbedaan antara peristiwa yang terjadi
sekali dengan peristiwa yang terjadi berulang-ulang kali,
selama kita percaya bahwa yang mewujudkan adalah Allah,
Tuhan Yang Maha Kuasa Lagi Maha Bijaksana. Yang perlu
dipertanyakan adalah mengapa ini terjadi pada setiap saat
dan pada setiap situasi yang sama, sedang mukjizat hanya
terjadi pada suatu saat atau pada manusia tertentu. Itu yang
wajar dipertanyakan bukan apakah dia dapat terjadi atau
tidak.
Sayyed Quthub berkomentar tentang ayat ini setelah
terlebih dahulu ia bagaikan mendengar bisikan yang bertanya
: Bagaimana itu dapat terjadi? komentarnya adalah :

57
Ibid, hlm. 478.
65
Mengapa hanya ini saja yang kita tanyakan? Padahal kata
kuni yang disebut ayat ini, adalah kata yang digunakan untuk
menggambarkan cepatnya penciptaan seluruh alam raya,
penetapan sistem dan hukum-hukumnya? Bukankah baginya
jika dia menghendaki sesuatu hanya berkata kun atau jadilah,
maka jadilah sesuatu itu? karena itu kita jangan bertanya :
Bagaimana api tidak membakar Ibrahim, padahal dikenal
dan disaksikan bahwa api membakar jasmani yang hidup?
perlu kita ketahui bahwa yang memerintahkan kepada api
untuk membakar adalah Allah. Dia juga yang memerintahkan
untuk menjadi dingin dan keselamatan. Kalimat yang satu
itulah (kun atau Kuni) dengan makna yang dikandungnya
yang terjadi dalam kenyataan baik kenyataan itu merupakan
sesuatu yang lumrah bagi manusia, maupun tidak. Hanya
orang-orang yang membandingkan perbuatan Allah dan
perbuatan manusia yang bertanya : Bagaimana ini dapat
terjadi?. Tetapi yang menyadari perbedaannya yang
demikian jauh bahkan tanpa perbandingan sama sekali maka
dia tidak akan bertanya, dan tidak pula akan memaparkan
analisis baik ilmiah maupun bukan ilmiah, karena hal
tersebut bukan dalam wilayah analisis yang menggunakan
tolak ukur manusia.
58

Pembakaran atas perintah raja Namrud, adalah
suatu peristiwa yang dapat dimasukkan pada suatu katagori
ilmu. Disebabkan merusak patung-patung sesembahan raja-
rajanya, umatnya dan ayahnya, maka Ibrahim diperintahkan
untuk dibakar. Umat Islam meyakini bahwa Ibrahim tidak
hanya selamat dan tidak meninggal bahkan hangus pun

58
Tafsir Al-Misbah, op.cit, vol. 8, hlm. 477-479.
66
tidak. Dia keluar dari api unggun dengan utuh. Kalau kita
sekarang melemparkan seekor kambing hidup atau manusia
hidup ke dalam api unggun, maka kita yakin bahwa keduanya
akan mati, hangus jadi arang dan jadi abu. Itulah hukum
fisika dan biologi. Baik hukum alam benda maupun hukum
lain dua-duanya adalah hukum Allah dan antara keduanya
tidak bertentangan.
59


b. Maryam Melahirkan Anak Tanpa Suami
Hal ini dijelaskan dalam surat Maryam ayat 20-21
sebagai berikut :




Artinya: (Maryam) berkata: Bagaimana akan ada bagiku
seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang
manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula)
seorang pezina (Jibril) berkata :Demikianlah
Tuhanmu berfirman : Hal itu bagi-Ku mudah; dan
agar Kami menjadikannya suatu tanda bagi
manusia dan rahmat dari Kami; dan hal itu adalah
sesuatu yang sudah diputuskan.
60


Muhammad Quraish Shihab dalam ayat ini
mengatakan bahwa mendengar ucapan malaikat tentang
anugrah anak itu, Maryam terheran-heran sehingga Maryam
berkata : Bagaimana dan dengan cara apa akan ada bagiku

59
Prof. DR. Ace Partadiredja, Al-Quran, Mukjizat, Karomat, Maunat, dan
Hukum Evolusi Spiritual, Dana Bhakti Prima Yasa, Yogyakarta, 1997, hlm. 14-
15.
60
Al-Quran dan Terjemahnya, op.cit, hlm. 464.
67
seorang anak laki-laki yang kulahirkan dari rahimku,
sedangkan tidak pernah seorang laki-laki pun menyentuhku (
melakukan hubungan seks) dengan cara halal dan aku sejak
dahulu hingga kini bukan seorang pezina yang rela
melakukan hubungan seks tanpa nikah yang sah.
Malaikat Jibril menampik keheranan Maryam. Jibril
berkata : Demikian lah benar apa yang engkau katakan.
Engkau memang tidak pernah disentuh oleh siapa pun dan
benar juga bahwa seorang anak lahir akibat hubunga seks
pria dan wanita. Dengan demikian Tuhan berfirman :
Kelahiran anak tanpa hubungan seks bagi-Ku secara khusus
adalah mudah. Kami melakukan itu sebagai anugrah untukmu
dan Kami menciptakan seorang anak tanpa melakukan
hubungan seks agar Kami menjadikannya suatu tanda yang
sangat nyata tentang kesempurnaan kekuatan Kami sehingga
menjadi bukti bagi manusia dan untuk menjadi rahmat dari
Kami buat seluruh manusia yang menjadikannya sebagai
petunjuk, dan penciptaan seorang anak dalam hal ini Isa as,
melalui Maryam tanpa ayah adalah suatu perkara yang sudah
diputuskan pasti akan terjadi. Karena itu Maryam terimalah
ketetapan Allah itu dengan penuh suka cita dan hati
tentram.
61


Kelahiran Isa , merupakan kelahiran tanpa ayah,
sedangkan Maryam adalah seorang perempuan suci, tidak
pernah ternoda dan tidak pernah tersentuh seorang laki-laki.
Mungkinkah Isa adalah seorang dari dunia lain yang
didatangkan Allah lewat Maryam dengan tujuan untuk
mendidik umat manusia kejalan yang diridhai Allah.
62



61
Tafsir al-Misbah, op. cit, Vol. 8, hlm, 167.
62
Rahnip M. BA, Sanggahan Terhadap Buku Al-Quran Dasar Tanya Jawab
Ilmiah Oleh Nazwar Syamsu, Pustaka Progressif, Surabaya, Cet. I, 1979, hlm.
268.
68
Mengenai peristiwa ini dilanjutkan pada ayat 22-23
sebagai berikut :




Artinya : Maka ia mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri
dengannya ketempat yang jauh. Maka rasa sakit
akan melahirkan anak memaksa ia kepangkal
pohon kurma, ia berkata: Aduhai, alangkah
baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi
sesuatu yang tidak berarti.
63


Malaikat Jibril meniupkan ruh ke tubuh Maryam,
maka ia mengandung anak laki-laki yaitu Isa, lalu ketika
Maryam sadar akan kandungannya ia menyisihkan diri ke
tempat yang jauh dari tempat sebelumnya. Rasa sakit akibat
kontraksi akan melahirkan anak memaksa Maryam menuju
ke pangkal pohon kurma untuk bersandar. Kini terbayang
oleh Maryam sikap dan cemooh yang akan didengarnya
karena ia melahirkan anak tanpa memiliki suami, karena
Maryam berkata, Aduhai, alangkah baiknya aku mati (tidak
pernah hidup sebelum ini), agar aku tidak memikul aib dan
malu dari satu perbuatan yang sama sekali tidak kukerjakan
dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi.
64

Muhammad Quraish Shihab mengatakan bahwa
mayoritas ulama menegaskan bahwa kelahiran Nabi Isa as
melalui proses biasa, yakni kehamilan selama sembilan bulan,
tidak seperti pendapat sementara orang bahwa itu terjadi
sekejap, antara lain dengan menunjuk firman-Nya yang

63
Al-Quran dan Terjemahnya, op.cit, hlm. 465.
64
Tafsir Al-Misbah, op. cit, vol. 8, hlm. 168.
69
menyatakan bahwa Adam dan Isa as, dilahirkan dengan
kalimat kun fayakun (QS. Ali-Imran : 59). Sebenarnya kalimat
kun fayakun sama sekali bukan berarti terjadinya sesuatu
dengan kalimat itu atau dalam masa pengucapan kalimat itu.
Bukankah terbaca di atas, bahwa ada proses yang terjadi
pada saat kelahirannya, proses yang makan waktu lebih lama
dari waktu pengucapan kalimat kun fayakun itu masa
kelahirannya, sedang masa kehamilannya tidak disinggung di
sini. Ayat ini hanya mengisyaratkan bahwa setelah kehamilan
itu (tanda-tanda kehamilannya) sangat sulit disembunyikan
maka ia menjauh dari keluarganya. Banyak ulama
berpendapat bahwa lokasi yang dipilihnya adalah Bait Lahem,
daerah sebelah selatan al-Qudus (Yerusalem) di Palestina, dan
di sanalah Nabi Isa as dilahirkan.
65

Kata jidi an-Nakhlah adalah batang pohon kurma.
Al-Biqai memahami keberadaan pohon kurma di tempat dan
waktu itu sebagai satu keajaiban. Ini karena ulama tersebut
menduga peristiwa kelahiran Isa as terjadi di musim dingin,
sedangkan kurma hanya berbuah di musim panas, dan
sangat sulit bertahan di musim dingin. Selanjutnya ulama itu
menulis bahwa barangkali beliau sengaja diarahkan ke pohon
kurma karena banyaknya keserasian antara pohon kurma
dengan peristiwa kelahiran itu. Pohon kurma tidak dapat
berbuah kecuali setelah melalui proses perkawinan, sedang di
sini buahnya berjatuhan tanpa perkawinan dan hanya dengan
gerakan yang dilakukan Maryam, persis sama dengan apa
yang dialami oleh kelahiran anak Maryam yang tanpa

65
Ibid, hlm. 168-169.
70
perkawinan itu yang lebih aneh lagi bahwa itu terjadi bukan
pada masa berbuahnya kurma.
66


c. Nabi Isa Dapat Berbicara Pada Saat Dalam Ayunan Ibunya
Muhammad Quraish Shihab mengatakan dalam
tafsirnya bahwa ayat sebelumnya menerangkan bahwa Allah
mengilhami Maryam agar jangan berbicara karena Allah
bermaksud membungkam semua yang meragukan kesucian
beliau melalui ucapan bayi yang dilahirkannya itu. Ini juga
mengesankan bahwa tidak terpuji berdiskusi dengan orang-
orang yang hanya bermaksud mencari-cari kesalahan atau
yang tidak jernih pemikiran dan hatinya.
67

Pada ayat 27 dan 28 surat Maryam menunjukkan
bahwa Maryam datang dengan sengaja sambil menggendong
anaknya untuk menghadap kaumnya dan itu dilakukannya
tanpa merasa malu, bahkan dengan penuh percaya diri.
Sementara ulama berkata bahwa itu terjadi setelah berlalu
empat puluh hari dari kelahiran Isa as. Di sisi lain dalam
Perjanjian Baru disebutkan bahwa saat persalinan Maryam, ia
didampingi oleh tunangannya Yusuf an-Najjar, yang juga
mendapat ilham bahwa anak yang dikandung Maryam itu
bukanlah hasil perzinaan tetapi anugrah Allah Yang Maha
Kuasa.
68
Pada ayat 29-32 akan dijelaskan mengenai
perkataan Isa as sebagai berikut :


66
Ibid, hlm. 169.
67
Ibid, hlm. I72.
68
Ibid, hlm. 173.
71




Artinya : Maka ia menunjuk kepadanya. Mereka berkata
bagaimana kami akan berbicara dengan anak
kecil yang masih dalam ayunan? Ia berkata :
Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia telah
memberiku al-Kitab dan Dia telah menjadikan aku
seorang yang diberkahi di mana pun aku berada,
dan Dia mewasiatiku melaksanakan shalat dan
zakat selama aku hidup, dan bakti kepada ibuku
dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang
sombong lagi celaka.
69


Muhammad Quraish Shihab mengatakan bahwa
Maryam yang mendengar tuduhan kaumnya, tetap tegar dan
tenang lalu sesuai petunjuk yang diterimanya, maka Maryam
menunjuk kepada anaknya bagaikan berkata Tanyalah anak
ini, dia akan menjelaskan kepada kalian duduk soalnya
kaumnya itu berkata bagaimana kami akan berbicara dengan
anak kecil yang masih berada dalam ayunan ? Isa as berkata
yang ketika itu masih bayi. Sesungguhnya aku adalah hamba
Allah, Allah telah memberiku al-Kitab yakni Injil sesuai
dengan ketetapan-Nya sejak azal, juga mengajarkan kepadaku
kitab-kitab sebelumnya, seperti Taurat dan Allah telah
menjadikan aku kelak bila tiba masanya sebagai seorang Nabi
yakni utusan-Nya untuk menyampaikan tuntunan-tuntunan
agama kepada Bani Israil. Dan Dia Yang Maha Esa itu juga
telah menjadikan aku seorang yang diberkati dengan aneka
keberkatan di mana pun aku berada, dan Dia mewasiati aku

69
Al-Quran dan Terjemahnya, op.cit, hlm. 465-466.
72
yakni memerintahkan dengan sangat kepadaku agar
melaksanakan secara bersinambungan shalat dan
menunaikan secara sempurna zakat selama aku hidup, dan
Dia juga menganugrahkan kepadaku kemampuan lahir dan
batin untuk bakti, patuh dan taat serta selalu berbuat baik
kepda ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang
sombong lagi celaka.
70





70
Tafsir Al-Misbah, op. cit, Vol.8, hlm. 177-178.
73





























74