Anda di halaman 1dari 23

BAB I

ILUSTRASI KASUS

I.1 Identitas Pasien

Nama

: An.Ahmad Ramadhani

Jenis kelamin

: Laki-laki

Umur

: 5 tahun

Nama Ayah/umur

: Tn. Husnah/ 45 tahun

Pekerjaan

: Buruh tani

Nama Ibu/ umur

: Ny. Manisah/ 35 tahun

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Alamat

: Desa Wringin Anom, Dusun Kulak, Kecamatan Tongas,

Kota Probolinggo

Agama

: Islam

MRS

: Minggu, 12 Oktober 2014

KRS

: Sabtu, 18 Oktober 2014

Ruangan

: Bougenvile kelas III perempuan

I.2 Anamnesa
Keluhan Utama
Nyeri saat kencing
RPS
Pasien datang dengan keluhan nyeri saat kencing(BAK), BAB/BAK (+/+) jika kencing
air kencingnya tiba-tiba berhenti kemudian mengalir lagi, jika kencing harus mengejan
terlebih dahulu, pasien cenderung memencet ujung penis saat kencing dikarenakan sakit
saat kencing jika tidak dipencet, diameter pancaran urine kecil dan pancarannya jauh,
volume

kencing sedikit-sedikit

namun

frekuensi

BAK

sering.

makan/minum

(menurun/+), Mual (+), Muntah (+) berisi makanan terutama saat pasien nyeri perut(di
daerah pubis).

RPD
-

Sejak 1 tahun yang lalu pasien mengeluh nyeri saat kencing


1

Pada bulan- bulan pertama anak pernah kencing bercampur dengan darah (2x)

Saat kencing tidak pernah keluar pasir atau batu dari penis.

Riwayat alergi (-)

Riwayat pengobatan
-

Telah berobat ke puskesmas pada awalnya,

kemudian dirujuk ke RSUD

dr.M.Saleh di poli anak setelah diperiksa anak dinyatakan menderita Infeksi


saluran kencing(ISK), diberikan terapi dan rajin kontrol namun tidak ada
perbaikan yang signifikan, sehingga dirujuk ke poli bedah.

Riwayat sosial
-

Minum air kurang lebih 1,5 liter perhari

Suka minum minuman instan(jasjus, marimas, dll)

Anak suka mengkonsumsi mie instan, makanan ringan(chiki)

Anak sulit makan nasi, suka makan ikan, tidak mau makan sayran

Sejak lahir anak meminum ASI saja sampai umur 18 bulan, tidak minum susu
formula.

Riwayat sering menahan kencing disangkal

Riwayat penyakit keluarga


Paman pasien ( 2 adik ibu pasien) menderita batu ureter dan batu buli-buli, dioperasi
ketika paman pasien yang pertama berusia 3 tahun, paman pasien yang kedua berusia 17
tahun.
Riwayat alergi obat :
-

Tidak ada

I.4 Pemeriksaan Fisik


A. Kategori triage

: P2

B. Keadaan umum

: Sedang - a/i/c/d = -/-/-/-

C. GCS

: 4 (mata)- 5(Verbal)- 6 (motorik) total 15

D. Primary Survey

Jalan Nafas (A) - Paten

Pernafasan (B)

- Gerakan dada simetris, tachypneu

Sirkulasi

- Nadi radialis 108 kali per menit, kulit mukosa normal

(C)

E. Tanda Vital

Tekanan darah

- 100/70 mmHg

Nadi

- 103 kali per menit

Frekwensi pernapasan

- 20 kali per menit

Suhu axilla

- 360C

F. Status Generalis
1. Kepala lehar

Kepala

- Bentuk simetris, deformitas (-)

Mata

- Konjungtiva anemis (-),ikterus (-), perdarahan (-)

Leher

- Pembesaran KGB (-), massa (-), deformitas tulang (-)

2. Thorax
2.1 Jantung

Inspeksi

- Bentuk dada simetris, retraksi(-), jejas(-),deformitas(-)

Palpasi

- Gerak dada simetris, iktus kordis tidak teraba

Perkusi

- Batas jantung normal

Auskultasi

- S1 dan S2 regular, tunggal, tidak ada murmur (-)

2.2 Paru

Inspeksi

- bentuk dada simetris, retraksi (-)

Palpasi

- Gerakan dinding dada simetris, fremitus fokal paru

kanan dan kiri simetris

Perkusi

- Sonor

Auskultasi

- Suara nafas vesikuler, rhonki (-), wheezing (-)

3. Abdomen

Inspeksi

Palpasi

- Distensi (-), asites (-), jejas (-)


- Defans muskuler (-), nyeri tekan (-), hepar lien tidak

teraba

Perkusi

- Timpani

Auskultasi

- Bising usus (+) normal

4. Ektrimitas

Inspeksi: Memar (-), Bengkak (-), Deformitas (-), Perubahan warna kulit (-),

Palpasi : Deformitas (-), krepitasi (-) , perubahan suhu (-), nyeri tekan (-), akral
Hangat, CRT <2 detik

5. Genitalia

Sudah di khitan, hiperemi (-), nyeri saat kencing (+), oedem(-).

Status Lokalis (Abdomen- simphisis pubis)

Distensi buli di simphisis pubis(+)

Nyeri tekan di simphisis pubis(+)

Pada palpasi bimanual tidak teraba batu

Flank test (-)

I.5 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan Foto Sinar-X
BOF

Gambar 1: foto BOF tampak gambaran batu radioopaque dengan diameter-/+ 2x3 cm di simpisis
pubis (di vesika urinaria/buli-buli)

Pemeriksaan Laboratorium (Darah)


Jenis

No

Pemeriksaan
I.

Hasil

Nilai Normal

Fungsi Ginjal

Creatinin

0,8mg/dl

0,5-1,7 mg/dl

Darah Lengkap
1

Haemoglobin

10,9

L: 13-18 g/dl

P: 12-16 g/dl

Trombosit

481.000

150.000-450.000/cmm

PCV

35

L:40-50% P:35-47%

Leukosit

12.490

4000-11000/cmm

Diff.Count

4/-/4/60/27/5

0-2/0-1/1-3/45-70/35-50/0-2%

APTT

25,3 dtk

35-45 detik

PTT

14,1 dtk

10-15 detik

Faal Hemostasis

I.6 Diagnosa
Batu Buli-buli (Vesikolithiasis)

I.7 Tindakan
Pro Vesikolitotomi
LAPORAN OPERASI VESIKOLITOTOMI (13-10-2014)
Operasi :

Hari/Tanggal

: Senin, 13 Oktober 2014

Tempat

:Kamar Operasi, RSUD. Dr.Moh.Saleh Probolinggo

Diagnosa Pre Operatif

: Batu buli-buli (Vesikolithiasis)

Diagnosa Operatif

: Idem

Tindakan

: Vesikolitotomi

1. Posisi supine dengan GA(General Anastesi, intubasi)


2. Desinfeksi lapangan operasi kemudian pasang duk steril
3. Insisi midline suprasimfisis diperdalam sampai membuka fascia.
5

4. Identifikasi buli dengan otot detrusor yang tebal, aspirasi urin (+).
5. Insisi dinding buli s/d tampak cavum buli, keluar urin jernih. Didapatkan batu buli
berukuran -/+ 2x3cm, mukosa buli tampak normal, massa(-).
6. Dilakukan ekstraksi batu.
7. Buli di jahit 2 lapis dan pasang drain.
8. Luka operasi dijahit lapis demi lapis.

Gambar 2. Operasi Vesikolithotomy

Gambar 3. Batu yang telah dikeluarkan dari buli-buli

- IRNA Bedah :
Pasien masuk IRNA Bedah ( Ruang Bougenville post op).
Kondisi umum :lemah (1/2 sadar), Nafas longgar, mual-, muntah-, DC+, Infus +, puasa+

Intervensi yang diberikan :


-

Infus RL 25 tpm

Cefriaxone 2x500 mg (iv)

Antrain 3x1 ampul (iv)

As. Traneksamat 3x250 mg (iv)

Kaltopren supp 3x1

Ondansetron 3x1/2 ampul (iv)

Puasa (+)

Boleh makan/minum jika sudah flatus

Keadaan pasien post operasi


Selasa, 14 Oktober 2014
Subjektif

: Pasien mengeluh nyeri pada LOP (+), nyeri saat kencing(-), BAB-

/BAK+, DC+, Produksi urine+(200cc db), flatus+, ma/mi +/+, mual/muntah-/-. Drain+,
prod+ hanya di selang saja.
Objektif

: Keadaan umum cukup, Kesadaran :compos mentis


Tanda-tanda vital :

Nadi

: 100 kali per menit

Frekuensi pernapasan

: 18 kali per menit

Suhu axilla

: 36oC

Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Status Lokalis: Suprapubic


Nyeri LOP+, Bebat LOP+, drh/pus berembes di bebat-, mobilitas +tapi sedikit krn pasien
takut bergerak.
Assessment

: Post op Vesikolitotomi H-1

Planning

Infus RL 25 tpm

Cefriaxone 2x500 mg (iv)

Antrain 3x1 ampul (iv)

As. Traneksamat 3x250 mg (iv)

Kaltopren supp 3x1

Ondansetron 3x1/2 ampul (iv)


7

Rabu, 15 Oktober 2014


Subjektif

:Pasien mengeluh nyeri pada LOP (+), nyeri saat kencing(-), BAB+/BAK+,
DC+, Produksi urine+(500ccdb), ma/mi +/+, mual/muntah-/-. Drain+,
prod+ hanya di selang saja.

Objektif

: Keadaan umum cukup, Kesadaran : compos mentis


Tanda-tanda vital :

Nadi

: 100 kali per menit

Frekuensi pernapasan

: 18 kali per menit

Suhu axilla

: 36,5oC

Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Status Lokalis: Suprapubic


Nyeri LOP+, Bebat LOP+, drh/pus berembes di bebat-, mobilitas +tapi sedikit krn pasien
takut bergerak.
Assessment

: Post op Vesikolitotomi H-2

Planning

Infus RL 25 tpm

Cefriaxone 2x500 mg (iv)

Antrain 3x1 ampul (iv)

As. Traneksamat 3x250 mg (iv)

Kaltopren supp 3x1

Ondansetron 3x1/2 ampul (iv)

Diet bubur halus

Kamis, 16 Oktober 2014


Subjektif

:Pasien mengeluh nyeri pada LOP (+), nyeri saat kencing(-),


BAB+/BAK+, DC+, Produksi urine+(500ccdb),ma/mi+/+, mual/muntah/-. Drain+, prod+ hanya di selang saja.

Objektif

: Keadaan umum cukup, Kesadaran : compos mentis


Tanda-tanda vital :

Nadi

: 100 kali per menit

Frekuensi pernapasan

: 18 kali per menit

Suhu axilla

: 36,5oC

Tekanan darah
8

: 110/70 mmHg

Status Lokalis: Suprapubic


Nyeri LOP+, Bebat LOP+, drh/pus berembes di bebat-, mobilitas +tapi sedikit krn pasien
takut bergerak.
Assessment

: Post op Vesikolitotomi H-3

Planning

Infus RL 25 tpm

Cefriaxone 2x500 mg (iv)

Antrain 3x1 ampul (iv)

As. Traneksamat 3x250 mg (iv)

Kaltopren supp 3x1

Ranitidin 2x1/2 ampul (iv)

Diet nasi

Jumat, 17 Oktober 2014


Subjektif

: Pasien mengeluh nyeri pada LOP (+), nyeri saat kencing(-),

BAB+/BAK+, DC+, Produksi urine+(600ccdb), ma/mi +/+, mual/muntah-/-. Drain+,


prod+ hanya di selang saja.
Objektif

: Keadaan umum cukup, Kesadaran : compos mentis


Tanda-tanda vital :

Nadi

: 100 kali per menit

Frekuensi pernapasan

: 18 kali per menit

Suhu axilla

: 36,5oC

Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Status Lokalis: Suprapubic


Nyeri LOP+, Bebat LOP+, drh/pus berembes di bebat-, mobilitas +tapi sedikit krn pasien
takut bergerak.
Assessment

: Post op Vesikolitotomi H-4

Planning

Infus RL 25 tpm

Cefriaxone 2x500 mg (iv)

Antrain 3x1 ampul (iv)

As. Traneksamat 3x250 mg (iv)

Kaltopren supp 3x1


9

Ranitidin 2x1/2 ampul (iv)

Diet nasi

Sabtu, 18 Oktober 2014


Subjektif

: Pasien mengeluh nyeri pada LOP (+), nyeri saat kencing(-),pasien


mengeluh selang kateternya buntu, sehingga urine merember di samping
slang kateter. BAB+/BAK+, DC+, Produksi urine+(500ccdb), ma/mi
+/+, mual/muntah-/-. Drain+, prod+ hanya di selang saja.

Objektif

: Keadaan umum cukup, Kesadaran : compos mentis


Tanda-tanda vital :

Nadi

: 100 kali per menit

Frekuensi pernapasan

: 20 kali per menit

Suhu axilla

: 36,4oC

Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Status Lokalis: Suprapubic


Nyeri LOP+, Bebat LOP+, drh/pus berembes di bebat-, mobilitas +.
Assessment

: Post op Vesikolitotomi H-5

Planning

Infus RL 25 tpm

Cefriaxone 2x500 mg (iv)

Antrain 3x1 ampul (iv)

As. Traneksamat 3x250 mg (iv)

Kaltopren supp 3x1

Ranitidin 2x1/2 ampul (iv)

Diet nasi

Aff drain

Pasien KRS Selanjutnya kontrol ke poli bedah.

10

BAB II
PEMBAHASAN

II. 1 Definisi
Batu buli-buli disebut juga batu vesica, vesical calculi, vesical stone, bladder
stone. Batu buli-buli atau vesikolitiasis adalah masa yang berbentuk kristal yang
terbentuk atas material mineral dan protein yang terdapat pada urin Batu buli-buli
adalah suatu keadaan ditemukannya batu didalam vesika urianari/ buli-buli. Batu
saluran kemih pada dasarnya dapat terbentuk pada setiap bagian tetapi lebih banyak
pada saluran penampung terakhir. Pada orang dewasa batu saluran kencing banyak
mengenai sistem bagian atas (ginjal, pyelum) sedang pada anak-anak sering pada
sistem bagian bawah (buli-buli). Di negara berkembang batu buli-buli terbanyak
ditemukan pada anak laki-laki pre pubertas.1
Komponen yang terbanyak penyusun batu buli-buli adalah garam kalsium, kalsium
oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat meningkat atau ketika terdapat kelebihan
subtansi tertentu seperti vitamin D.

(1)

Pada awalnya merupakan bentuk yang sebesar

biji padi tetapi kemudian dapat berkembang menjadi ukuran yang lebih besar.
Kadangkala juga merupakan batu yang mulitipel.1
Vesikolitiasis merupakan batu yang menghalangi aliran air kemih akibat penutupan
leher kandung kemih, maka aliran yang mula-mula lancar secara tiba-tiba akan
berhenti dan menetes disertai dengan rasa nyeri .

(1)

Vesikolitiasis menyebabkan nyeri

yang luar biasa menyebar ke paha, abdomen dan daerah genetalia. Batu vesika
urinaria terutama mengandung kalsium atau magnesium dalam kombinasinya dengan
fosfat, oksalat, dan zat-zat lainnya. Batu kandung kemih adalah batu yang tidak
normal di dalam saluran kemih yang mengandung komponen kristal dan matriks
organik tepatnya pada vesika urinari atau kandung kemih.2
II.2 Etiologi

Terbentuknya batu pada saluran kemih diduga ada hubungannya dengan gangguan
aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi, dan keadaankeadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik).3

11

Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu


saluran kemih pada seseorang. Faktor-faktor itu adalah faktor intrinsik, yaitu keadaan
yang berasal dari tubuh seseorang dan faktor ekstrinsik, yaitu pengaruh yang berasal
dari lingkungan di sekitarnya.3
Faktor intrinsik itu antara lain adalah:
1. Herediter(keturunan): penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya.
2. Umur: penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun.
3. Jenis kelamin: jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan
pasien perempuan.3
Faktor ekstrinsik itu diantaranya adalah:
1. Geografi: pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluaran
kemih yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah
stone belt (sabuk batu), sedangkan daerah Bantu di Afrika Selatan hampir tidak
dijumpai penyakit batu saluran kemih.
2. Iklim dan temperatur
3. Asupan air: kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air
yan g dikonsumsi, dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih
4. Diet: diet banyak purin, oksalat, dan kalsium mempermudah terjadinya penyakit
batu saluran kemih.
5. Pekerjaan: penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaanya banyak
duduk atau kurang aktifitas atau sedentary life.3,4
Sistem Kemih
Sistem kemih (urinearia) adalah suatu sistem tempat terjadinya proses
penyaringan darah dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap
zat-zat yang masih di pergunakan oleh tubuh. Zat- zat yang tidak di pergunakan oleh
tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urine (air kemih). Sistem kemih terdiri
atas saluran kemih atas (sepasang ginjal dan ureter), dan saluran kemih bawah (satu
kandung kemih dan uretra). 2
Gambar sistem saluran kemih pada manusia dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4. sistem saluran kemih pada manusia


12

Klasifikasi Batu Saluran Kemih


Komposisi kimia yang terkandung dalam batu ginjal dan saluran kemih dapat
diketahui dengan menggunakan analisis kimia khusus untuk mengetahui adanya
kalsium, magnesium, amonium, karbonat, fosfat, asam urat oksalat, dan sistin.3
a. Batu kalsium
Kalsium adalah jenis batu yang paling banyak menyebabkan BSK yaitu sekitar 70%80% dari seluruh kasus BSK. Batu ini kadang-kadang di jumpai dalam bentuk murni
atau juga bisa dalam bentuk campuran, misalnya dengan batu kalsium oksalat, batu
kalsium fosfat atau campuran dari kedua unsur tersebut. Terbentuknya batu tersebut
diperkirakan terkait dengan kadar kalsium yang tinggi di dalam urine atau darah dan
akibat dari dehidrasi. Batu kalsium terdiri dari dua tipe yang berbeda, yaitu:
1.
2.

Whewellite (monohidrat) yaitu , batu berbentuk padat, warna cokat/ hitam dengan
konsentrasi
asam oksalat yang tinggi pada air kemih.
Kombinasi kalsium dan magnesium menjadi weddllite (dehidrat) yaitu batu
berwarna kuning, mudah hancur daripada whewellite. 3,5

b. Batu asam urat


Lebih kurang 5-10% penderita BSK dengan komposisi asam urat. Pasien biasanya
berusia > 60 tahun. Batu asam urat dibentuk hanya oleh asam urat. Kegemukan,
peminum alkohol, dan diet tinggi protein mempunyai peluang lebih besar menderita
penyakit BSK, karena keadaan tersebut dapat meningkatkan ekskresi asam urat
sehingga pH air kemih menjadi rendah. Ukuran batu asam urat bervariasi mulai dari
ukuran kecil sampai ukuran besar sehingga membentuk staghorn (tanduk rusa). Batu
asam urat ini adalah tipe batu yang dapat dipecah dengan obat-obatan. Sebanyak 90%
akan berhasil dengan terapi kemolisis.4,5
c. Batu struvit (magnesium-amonium fosfat)
Batu struvit disebut juga batu infeksi, karena terbentuknya batu ini disebabkan oleh
adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab infeksi ini adalah golongan kuman
pemecah urea atau urea splitter yang dapat menghasilkan enzim urease dan merubah
urine menjadi bersuasana basa melalui hidrolisis urea menjadi amoniak. Kuman yang
termasuk pemecah urea di antaranya adalah : Proteus spp, Klebsiella, Serratia,
Enterobakter, Pseudomonas, dan Staphiloccocus. Ditemukan sekitar 15-20% pada
penderita BSK
Batu struvit lebih sering terjadi pada wanita daripada laki-laki. Infeksi saluran
kemih terjadi karena tingginya konsentrasi ammonium dan pH air kemih >7. Pada
13

batu struvit volume air kemih yang banyak sangat penting untuk membilas bakteri dan
menurunkan supersaturasi dari fosfat. 5
d. Batu Sistin
Batu Sistin terjadi pada saat kehamilan, disebabkan karena gangguan ginjal.
Merupakan batu yang paling jarang dijumpai dengan frekuensi kejadian 1-2%.
Reabsorbsi asam amino, sistin, arginin, lysin dan ornithine berkurang, pembentukan
batu terjadi saat bayi. Disebabkan faktor keturunan dan pH urine yang asam. Selain
karena urine yang sangat jenuh, pembentukan batu dapat juga terjadi pada individu
yang memiliki riwayat batu sebelumnya atau pada individu yang statis karena
imobilitas. Memerlukan pengobatan seumur hidup, diet mungkin menyebabkan
pembentukan batu, pengenceran air kemih yang rendah dan asupan protein hewani
yang tinggi menaikkan ekskresi sistin dalam air kemih.6
II.3 Patofisiologi
Pada umumnya batu buli-buli terbentuk dalam buli-buli, tetapi pada beberapa
kasus batu buli terbentuk di ginjal lalu turun menuju buli-buli, kemudian terjadi
penambahan deposisi batu untuk berkembang menjadi besar. Batu buli yang turun dari
ginjal pada umumnya berukuran kecil sehingga dapat melalui ureter

dan dapat

dikeluarkan spontan melalui uretra.2


Secara teoritis batu dapat terbentuk diseluruh saluran kemih terutama pada
tampat-tempat yang sering mengalami hambatan aliran urine (statis urine), yaitu pada
sistem kalises ginjal atau buli-buli. Adanya kelainan bawaan pada pelvikalises (stenosis
uretro-pelvis), divertikel, obstruksi infravesika kronis seperti pada hyperplasia prostate
benigna, striktura, dan buli-buli neurogenik merupakan keadaan-keadaan yang
memudahkan terjadinya pembentukan batu. Batu terdiri atas kristal-kristal yang tersusun
oleh bahan-bahan organik maupun anorganik yang terlarut di dalam urine. Kristal-kristal
tersebut tetap berada dalam keadaan metastable (tetap terlarut) dalam urine jika tidak ada
keadaan-keadaan tertentu yang menyebabkan terjadinya presipitasi kristal. Kristal-kristal
yang saling mengadakan presipitasi membentuk inti batu (nukleasi) yang kemudian akan
mengadakan agregasi, dan menarik bahan-bahan lain sehingga menjadi kristal yang lebih
besar. Meskipun ukurannya cukup besar, agregat kristal masih rapuh dan belum cukup
mampu membuntu saluran kemih. Untuk itu agregat kristal menempel pada epitel saluran
kemih (membentuk retensi kristal), dan dari sini bahan-bahan lain diendapkan pada
agregat itu sehingga membentuk batu yang cukup besar untuk menyumbat saluran kemih.
14

Kondisi metastabel dipengaruhi oleh pH larutan, adanya koloid di dalam urine,


konsentrasi solute di dalam urine, laju aliran urine di dalam saluran kemih, atau adanya
korpus alienum di dalam saluran kemih yang bertindak sebagai inti batu. Lebih dari 80%
batu saluran kemih terdiri atas batu kalsium, baik yang berikatan dengan oksalat maupan
dengan fosfat, membentuk batu kalsium oksalat dan kalsium fosfat; sedangkan sisanya
berasal dari batu asam urat, batu magnesium ammonium fosfat (batu infeksi), batu
xanthyn, batu sistein, dan batu jenis lainnya. Meskipun patogenesis pembentukan batubatu diatas hampir sama, tetapi suasana didalam saluran kemih yang memungkinkan
terbentuknya jenis batu itu tidak sama. Dalam hal ini misalkan batu asam urat mudah
terbentuk dalam asam, sedangkan batu magnesium ammonium fosfat terbentuk karena
urine bersifat basa.5
Pada penderita yang berusia tua atau dewasa biasanya komposisi batu merupakan
batu asam urat yaitu lebih dari 50% dan batu paling banyak berlokasi di vesika. Batu
yang terdiri dari calsium oksalat biasanya berasal dari ginjal. Pada batu yang ditemukan
pada anak umumnya ditemukan pada daerah yang endemik dan terdiri dari asam
ammonium material, calsium oksalat, atau campuran keduanya. Hal itu disebabkan
karena susu bayi yang berasal dari ibu yang banyak mengandung zat tersebut. Makanan
yang mengandung rendah pospor menunjang tingginya ekskresi amonia. Anak-anak yang
sering makan makanan yang kaya oksalat seperti sayur akan meningkatkan kristal urin
dan protein hewan (diet rendah sitrat).6
Batu buli-buli juga dapat terjadi pada pasien dengan trauma vertebra/ spinal
injury, adapun kandungan batu tersebut adalah batu struvit/Ca fosfat. Batu buli-buli dapat
bersifat single atau multiple dan sering berlokasi pada divertikel dari ventrikel buli-buli
dan biasanya berukuran besar atau kecil sehingga menggangu kerja dari vesika.
Gambaran fisik batu dapat halus maupun keras. Batu pada vesika umumnya mobile,
tetapi ada batu yang melekat pada dinding vesika yaitu batu yang berasal dari adanya
infeksi dari luka jahitan dan tumor intra vesika.6
II.4 Gejala Klinis
Pasien yang mempunyai batu buli sering asimtomatik, tetapi pada anamnesis
biasanya dilaporkan bahwa penderita mengeluh nyeri suprapubik, disuria, gross hematuri
terminal, perasaan ingin kencing, sering kencing di malam hari, perasaan tidak enak saat
15

kencing, dan kencing tiba-tiba terhenti kemudian menjadi lancar kembali dengan
perubahan posisi tubuh. Gejala lain yang umumnya terjadi (refered pain) yaitu nyeri
menjalar dari ujung penis, scrotum, perineum, punggung dan panggul, perasaan tidak
nyaman tersebut biasa bersifat tumpul atau tajam, disamping sering menarik-narik
penisnya pada anak laki-laki dan menggosok-gosok vulva pada anak perempuan. Rasa
sakit diperberat saat pasien sedang beraktivitas, karena akan timbul nyeri yang
tersensitisasi akibat batu memasuki leher vesika. Pada anak nyeri miksi ditandai oleh
kesakitan, menangis, menarik-narik penis, miksi mengedan sering diikuti defekasi atau
prolapsus ani, buli sering disertai dengan priapism dan disertai ngompol.2
Pada pemeriksaan fisik didapatkan vesika urinaria tampak penuh pada inspeksi,
ketika dipalpasi didapatkan blader distended pada retensi akut. Adapun tanda yang dapat
dilihat adalah hematuri mikroskopik atau bahkan gross hematuri, pyuria, bakteri yang
positif pada pemeriksaan kultur urin.1
Pada pasien An. Ahmad Ramadhani (5 tahun) didapatkan gejala klinis berupa
dengan keluhan sakit saat kencing sejak1 tahun yang lalu, dan kencingnya sering namun
tidak lancar, mengejan saat miksi, terkadang tiba-tiba berhenti lalu kemudian memancar
kembali. Saat miksi urine yang keluar memiliki jarak pancar yang jauh namun
diameternya kecil, kurang lebih waktu awal terjadi sakit saat kencing kurang lebih satu
tahun yang lalu, pasxien pernah kencing bercampur darah namun sedikit. Jika nyeri pada
perut(daerah surapubis-pubis) kambuh pasien cenderung memiliki keluhan mual dan
muntah serta berkeringat dingin.Saat kencing pasien cenderung memencet bagian ujung
penis untuk mengurangi rasa sakit saat kencing.
Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik dapat disimpulkan bahwa pasien
kemungkinan t menderita batu buli-buli (vesikolithiasis).

II.5 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan Penunjang yang dapat menegakan diagnosis urolithiasis antara lain :
Laboratorium :
1. Urin

pH urin

- Batu kalsium, asam urat dan batu sistin terbentuk pada urin dengan pH yang
rendah (pH<7).
16

- Batu struvit terbentuk pada urin dengan pH yang tinggi

(pH> 7)

Sedimen

- Sel darah meningkat (90%), pada infeksi sel darah putih akan meningkat.
- Ditemukan adanya kristal, misalnya kristal oksalat
- Biakan urin untuk melihat jenis mikroorganisme penyebab infeksi pada saluran
kemih 1
2. Darah
- Hemoglobin, adanya gangguan fungsi ginjal yang kronis dapat terjadi anemia.
Pada pasien ini kadar Hb nya 10,9 g/dl artinya terjadi anemia ringan
- Leukosit, infeksi saluran kemih oleh karena batu menyebabkan leukositosis.
Pada pasien ini kadar leukositnya 12.490 /cmm, yang artinya terjadi peningkatan
kadar leukosit (leukositosis)
- Ureum kreatinin, parameter ini digunakan untuk melihat fungsi ginjal. Pada
pasien ini kadar kreatininnya 0,8 g/dl normal1

Radiologik :
1. Foto Polos Abdomen (BOF)
Bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya batu radioopak di saluran
kemih. Tetapi pemeriksaan ini mempunyai kelemahan karena hanya dapat
menunjukkan batu yang radioopaque Batu jenis kalsium oksalat dan kalsium fosfat
bersifat radioopak dan paling sering dijumpai, sedangkan batu asam urat bersifat
radiolusen.1.
2. Cystogram/ intravenous pyelografi
Jika pada pemeriksaan secara klinik dan foto KUB tidak dapat menunjukkan
adanya batu, maka langkah selanjutnya adalah dengan pemeriksaan IVP. Adanya
batu akan ditunjukkan dengan adanya filling defek.1
3. Ultrasonografi
Dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan IVP, yaitu pada
keadaan alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun dan pada wanita
yang sedang hamil. Pemeriksaan ultrasonografi dapat menilai adanya batu di
ginjal atau di buli-buli (yang ditunjukkan sebagai echoic shadow), hidronefrosis,
pionefrosis, atau adanya pengkerutan ginjal.1
17

4.

CT scan
Pemeriksaan ini dilakukan untuk banyak kasus pada pasien yang nyeri perut,
massa di pelvis, suspect abses, dan menunjukkan adanya batu buli- buli yang
tidak dapat ditunjukkan pada IVP. Batu akan terlihat sebagian batu yang keruh.1

5. MRI
Pemeriksaan ini akan menunjukkan adanya lubang hitam yang semestinya tidak
ada pada buli yang seharusnya terisi penuh, ini diassosiasikan sebagai batu.1
6. Sistoskopi
Pada pemeriksaan ini dokter akan memasukkan semacam alat endoskopi melalui
uretra yang ada pada penis, kemudian masuk kedalam blader. 1

Gambar 5.
Sistoskopi

Sebagai pemeriksaan penunjang utama dari batu saluran kemih adalah BOF karena
sebagian besar batu saluran kemih radioopaque dan akan nampak pada foto ini,
apabila tidak nampak gambaran batu yang radioopaque maka dapat dilakukan USG
sebagai penunjang untuk memastikan ada atau tidaknya batu.
Pada pasien ini dicurigai batu buli- buli, pemeriksaan penunjang utama yang
digunakan adalah foto polos Abdomen (BOF), dengan hasil tampak gambaran batu
radioopaque di buli-buli dengan diameter -/+ 2x3cm

II.5 Diagnosis Banding


Diagnosis banding batu buli-buli adalah batu urethra. Pasien dengan batu uretra
muncul dengan gejala berupa miksi yang tiba-tiba berhenti, nyeri dan menetes,
apabila batu terdapat di uretra anterior kadang batu dapat dipalpasi pada batang penis
baik oleh pemeriksa maupun pasien sendiri. Keadaan obsturksi pada uretra akibat
18

batu ini apabila tidak diatasi dengan segera akan menimbulkan retensio urin yang
akan menambah nyeri akibat distensi buli.
Diagnosis banding untuk nyeri yang timbul pada pasien dengan batu uretra
adalah cystitis, pyelonephritis, renal colic. 1,3

II.6 Penatalaksanaan
a. Konservatif
Terapi ditujukan untuk batu yang ukurannya kurang dari 5 mm, karena
diharapkan batu dapat keluar spontan. Memberikan minum yang berlebihan disertai
diuretik. Dengan produksi air kemih yang lebih banyak diharapkan dapat mendorong
batu keluar dari saluran kemih. Pengobatan simptomatik mengusahakan agar nyeri,
khususnya kolik, yang terjadi menghilang dengan pemberian simpatolitik. Dan
berolahraga secara teratur.5
Adanya batu struvit menunjukkan terjadinya infeksi saluran kemih, karena itu
diberikan antibiotik. Batu strufit tidak dapat dilarutkan tetapi dapat dicegah
pembesarannya bila diberikan pengobatan dengan pengasaman urin dan pemberian
antiurease, seperti Acetohidroxamic acid. Ini untuk menghambat bakteri urease dan
menurunkan kadar ammonium urin.5,6
Pengobatan yang efektif untuk pasien yang mempunyai batu asam urat pada
saluran kemih adalah dengan alkalinisasi supaya batu asam yang terbentuk akan
dilarutkan. Pelarutan batu akan terjadi apabila pH urin menjadi lebih tinggi atau
berjumlah 6,2. Sehingga dengan pemberian bikarbonas natrikus disertai dengan
makanan alkalis, batu asam urat diharapkan larut. Potasium Sitrat (polycitra K,
Urocit K) pada dosis 60 mEQ dalam 3-4 dosis perhari pemberian digunakan untuk
terapi pilihan. Tetapi terapi yang berlebihan menggunakan sediaan ini akan memicu
terbentuknya deposit calsium pospat pada permukaan batu sehingga membuat terapi
tidak efektif lagi. Atau dengan usaha menurunkan produksi kadar asam urat air
kemih dan darah dengan bantuan alopurinol, usaha ini cukup memberi hasil yang
baik. Dengan dosis awal 300 mg perhari, baik diberikan setelah makan.6

19

b. Litotripsi
Pemecahan batu telah mulai dilakukan sejak lama dengan cara buta, tetapi dengan
kemajuan tehnik endoskopi dapat dilakukan dengan cara lihat langsung. Untuk batu
kandung kemih, batu dipecahkan dengan litotriptor secara mekanis melalui sistoskop
atau dengan memakai gelombang ultrasonic atau elektrohidrolik. Makin sering
dipakainya gelombang kejut luar tubuh (ESWL = Extracorporeal Shock Wave
Lithotripsy) yang dapat memecahkan batu tanpa perlukaan ditubuh sama sekali.
Gelombang kejut dialirkan melalui air ke tubuh dan dipusatkan di batu yang akan
dipecahkan. Batu akan hancur berkeping-keping dan keluar bersama kemih.5
c. Terapi pembedahan
Terapi bedah digunakan jika tidak tersedia alat litotriptor, alat gelombang kejut
atau bila cara non bedah tidak berhasil. Walaupun demikian kita harus memerlukan
suatu indikasi. Misalnya apabila batu kandung kemih selalu menyebabkan gangguan
miksi yang hebat sehingga perlu diadakan tindakan pengeluarannya. Litotriptor hanya
mampu memecahkan batu dalam batas ukuran 3 cm kebawah. Batu diatas ukuran ini
dapat ditangani dengan batu kejut atau sistolitotomi.3
1. Transurethral Cystolitholapaxy: tehnik ini dilakukan setelah adanya batu
ditunjukkan dengan sistoskopi, kemudian diberikan energi untuk membuat nya
menjadi fragmen yang akan dipindahkan dari dalam buli dengan alat sistoskopi.
Energi yang digunakan dapat berupa energi mekanik (pneumatic jack hummer),
ultrasonic dan elektrohidraulik dan laser.4
2. Percutaneus Suprapubic cystolithopaxy: tehnik ini selain digunakan untuk dewasa
juga digunakan untuk anak- anak, tehnik percutaneus menggunakan endoskopi
untuk membuat fragmen batu lebih cepat hancur lalu dievakuasi.sering tehnik ini
digunalan bersama tehnik yang pertama denagn tujuan stabilisasi batu dan
mencegah irigasi yang ditimbulkan oleh debris pada batu.4
3. Suprapubic Cystostomy: tehnik ini digunakan untuk memindah batu dengan
ukuran besar, juga di indikasikan untuk membuang prostate, dan diverculotomy.
Pengambilkan prostate secara terbuka diindikasikan jika beratnya kira- kira 80100gr. Keuntungan tehnik ini adalah cepat, lebih mudah untuk memindahkan batu
dalam jumlah banyak, memindah batu yang melekat pada mukosa buli dan
20

kemampuannya untuk memindah batu yang besar dengan sisi kasar. Tetapi
kerugian penggunaan tehnik ini adalah pasien merasa nyeri post operasi, lebih
lama dirawat di rumah sakit, lebih lama menggunakan kateter.4

Pada An. Ahmad ramadhani yang dilakukan adalah vesikolitotomi , terapi


ini dipilih karena indikasi operasinya adalah batu buli-buli yang berukuran lebih
dari 2,5 cm pada orang dewasa dan semua ukuran pada anak-anak. Pada operasi
ini, mengambil batu dengan cara vesikolitotomi terbuka, sehingga meminimalkan
manipulasi terhadap uretra dan meminimalkan komplikasi berupa kerusakan pada
struktur uretra yang beresiko menimbulkan striktur.

1.7 Pencegahan
Diuresis yang adekuat
Untuk mencegah timbulnya kembali batu maka pasien harus minum banyak
sehingga urin yang terbentuk tidak kurang dari 1500 ml. pada pasien dengan
batu asam urat dapat digunakan alkalinisasi urin sehingga pH dipertahankan
dalam kisaran 6,5-7, mencegah terjadinya hiperkalsemia yang akan
menimbulkan hiperkalsiuria pasien dianjurkan untuk mengecek pH urin
dengan kertas nitrasin setiap pagi.
Diet untuk mengurangi kadar zat-zat komponen pembentuk batu
Eradikasi infeksi saluran kemih khususnya untuk batu struvit. 4,5
II.8 Prognosis
Prognosis batu pada saluran kemih dan ginjal tergantung dari faktor-faktor
ukuran batu, letak batu, adanya infeksi serta adanya obstruksi. Makin besar ukuran suatu
batu, makin jelek prognosisnya. Letak batu yang dapat menyebabkan obstruksi dapat
mempermudah terjadinya infeksi. Makin besar kerusakan jaringan dan adanya infeksi
karena faktor obstruksi akan dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal, sehingga
prognosis menjadi jelek.(1) Maka itu diperlukan pencegahan terjadinya pembentukan batu
kembali dengan memperbaiki diet serta asupan cairan dan mengedukasi pasien agar tidak
menahan miksi sehingga tidak menimbulkan stasis urine.

21

Pada pasien ini dikarenakan operasi telah berjalan lancar, ukuran batu belum besar
maka prognosisnya baik, namun kemungkinan pembetukan batu baru masih ada, oleh
karena itu perlu perubahan diet dan asupan cairan yang mencukupi untuk mencegah
terbentuknya batu kembali, baik pada buli maupun bagian saluran kemih yang lain.

22

DAFTAR PUSTAKA
1. Sjamsulhidajat, de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 3. Jakarta: EGC; 2012. h.
872-9
2. Ho K, Segura J. Lower Urinary Tract Calculi. In: Wein A, Kavoussi L, Novick
A, Partin A, Peters C.Campbell-Walsh Urology. 3. 9th. Philadelphia, Pa:
Saunders Elsevier; 2007:2663-73.
3. Basler,

J.

2007.

Bladder

Stones.

Emedicine

Journal.

Sited

by

http://www.emedicine.com.
4. Purnomo, B. B. 2007. Dasar-dasar Urologi. Malang: Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya.
5. Reksoprojo, S. 1995. Ilmu Bedah. Jakarta: Binarupa Aksara
6. Sudoyo, A. W., Setiyohadi, B., Alwi, I., dan Setiati, S. 2006. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

23