Anda di halaman 1dari 19

Penelitian Strudi Kasus dan Teori Grounded

Pendahluan

Pada dasarnya pendekatan kualitatif dibedakan menjadi dua macam,


kualitatif interaktif dan kualitatif noninteraktif. Metode kualitatif interaktif adalah studi
mendalam dengan menggunakan teknik pengumpulan data langsung dari orang dalam
lingkungan yang diteliti. Peneliti akan membuat suatu gambaran yang komplek dan
menyeluruh dengan deskripsi detail dari sudut pandang para informan. Biasanya peneliti akan
berdiskusi langsung mengenai hal yang diteliti dengan informan.

Pendekatan kualitatif interaktif dibagi menjadi lima ; yaitu metode etnografik (biasanya
digunakan dalam dalam antropologi dan sosiologi), metode fenomenologis (psikologi dan
filsafat), studi kasus (digunakan dalam ilmu- ilmu sosial, kemanusiaan dan ilmu terapan),
teori dasar (grounded theory) (digunakan dalam sosiologi), studi kritikal (digunakan dalam
berbagai bidang ilmu).

Dalam pembahasan makalah ini akan disajikan dua jenis pendekatan metode penelitian
kualitatif yaitu “Studi Kasus dan Grounded Theory” .

I.Pengertian Studi Kasus

Menurut Bogdan dan Bikien (1982) studi kasus merupakan pengujian secara rinci
terhadap satu latar atau satu orang, subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen
atau satu peristiwa tertentu . Surachrnad (1982) membatasi pendekatan studi kasus
sebagai suatu pendekatan dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara
intensif dan rinci. SementaraYin (1987) memberikan batasan yang lebih bersifat
teknis dengan penekanan pada ciri-cirinya. Ary, Jacobs, dan Razavieh (1985)
menjelasan bahwa dalam studi kasus hendaknya peneliti berusaha menguji unit atau
individu secara mendalarn. Para peneliti berusaha menernukan sernua variabel yang
penting.

Berdasarkan batasan tersebut dapat dipahami bahwa batasan studi kasus meliputi: (1)
sasaran penelitiannya dapat berupa manusia, peristiwa, latar, dan dokumen; (2)
sasaran-sasaran tersebut ditelaah secara mendalam sebagai suatu totalitas sesuai
dengan latar atau konteksnya masing-masing dengan maksud untuk mernahami
berbagai kaitan yang ada di antara variabel-variabelnya.

II. Jenis-jenis Studi Kasus

a. Studi kasus kesejarahan mengenai organisasi, dipusatkan pada perhatian organisasi

1
tertentu dan dalam kurun waktu tertentu, dengan rnenelusuni perkembangan
organisasinya. Studi ini sening kurang memungkinkan untuk diselenggarakan,
karena sumbernya kurang mencukupi untuk dikerjakan secara minimal.

b. Studi kasus observasi, mengutamakan teknik pengumpulan datanya melaluI


observasi peran-senta atau pelibatan (participant observation), sedangkan fokus
studinya pada suatu organisasi tertentu.. Bagian-bagian organisasi yang menjadi fokus
studinya antara lain: (a) suatu tempat tertentu di dalam sekolah; (b) satu kelompok
siswa; (c) kegiatan sekolah.

c. Studi kasus sejarah hidup, yang mencoba mewawancarai satu oRang dengan
maksud mengumpulkan narasi orang pertama dengan kepemilikan sejarah yang khas.
Wawancara sejarah hiclup biasanya mengungkap konsep karier, pengabdian hidup
seseorang, dan lahir hingga sekarang. masa remaja, sekolah. topik persahabatan dan
topik tertentu lainnya.

d. Studi kasus kemasyarakatan, merupakan studi tentang kasus kemasyarakatan


(community study) yang dipusatkan pada suatu lingkungan tetangga atau masyarakat
sekitar (kornunitas), bukannya pada satu organisasi tertentu bagaimana studi kasus
organisasi dan studi kasus observasi.

e. Studi kasus analisis situasi, jenis studi kasus ini mencoba menganalisis situasi
terhadap peristiwa atau kejadian tertentu. Misalnya terjadinya pengeluaran siswa pada
sekolah tertentu, maka haruslah dipelajari dari sudut pandang semua pihak yang
terkait, mulai dari siswa itu sendiri, teman-temannya, orang tuanya, kepala sekolah,
guru dan mungkin tokoh kunci lainnya.1

f. Mikroethnografi, merupakan jenis studi kasus yang dilakukan pada unit organisasi
yang sangat kecil, seperti suatu bagian sebuah ruang kelas atau suatu kegiatan
organisasi yang sangat spesifik pada anak-anak yang sedang belajar menggambar.

III. Langkah-Langkah Penelitian Studi Kasus

a. Pemilihan kasus: dalam pemilihan kasus hendaknya dilakukan secara


bertujuan(purposive) dan bukan secara ngambang. Kasus dapat dipilih oleh peneliti
dengan menjadikan objek orang, lingkungan, program, proses, dan masvarakat atau
unit sosial. Ukuran dan kompleksitas objek studi kasus haruslah masuk akal, sehingga
dapat diselesaikan dengan batas waktu dan sumber-sumber yang tersedia.

b. Pengumpulan data: terdapat beberapa teknik dalarn pengumpulan data, tetapi


yang1lebih dipakai dalarn penelitian kasus adalah observasi, wawancara, dan analisis
dokumentasi. Peneliti sebagai instrurnen penelitian, dapat menyesuaikan cara
pengumpulan data dengan masalah dan lingkungan penelitian, serta dapat
mengumpulkan data yang berbeda secara serentak.

c.Analisis data: setelah data terkumpul peneliti dapat mulai mengagregasi,


mengorganisasi, dan mengklasifikasi data menjadi unit-unit yang dapat dikelola.
2
Agregasi merupakan proses mengabstraksi hal-hal khusus menjadi hal-hal umum
guna menemukan pola umum data. Data dapat diorganisasi secara kronologis,
kategori atau dimasukkan ke dalam tipologi. Analisis data dilakukan sejak peneliti di
selesai dan lapangan.

d. Perbaikan (refinement): meskipun semua data telah terkumpul, dalam pendekatan


studi kasus hendaknya clilakukan penvempurnaan atau penguatan (reinforcement)
data baru terhadap kategori yang telah ditemukan. Pengumpulan data baru
mengharuskan peneliti untuk kembali ke lapangan dan barangkali harus membuat
kategori baru, data baru tidak bisa dikelompokkan ke dalam kategori yang sudah ada.

e. Penulisan laporan: laporan hendaknya ditulis secara komunikatif, rnudah dibaca,


dan mendeskripsikan suatu gejala atau kesatuan sosial secara jelas, sehingga
rnernudahkan pembaca untuk mernahami seluruh informasi penting. Laporan
diharapkan dapat membawa pembaca ke dalam situasi kasus kehiclupan seseorang
atau kelompik.

IV. Ciri-ciri Studi Kasus yang Baik

a. Menyangkut sesuatu yang luar biasa, yang berkaitan dengan kepentingan umum
atau bahkan dengan kepentingan nasional.

b. Batas-batasnya dapat ditentukan dengan jelas, kelengkapan ini juga


ditunjukkanoleh kedalaman dan keluasan data yang digali peneliti, dan kasusnya
mampu diselesaikan oleh penelitinya dengan balk dan tepat meskipun dihadang oleh
berbagai keterbatasan.

c. Mampu mengantisipasi berbagai alternatif jawaban dan sudut pandang yang


berbeda-beda.

d. Keempat, studi kasus mampu menunjukkan bukti-bukti yang paling penting saja
baik yang mendukung pandangan peneliti maupun yang tidak mendasarkan pninsip
selektifitas.

e. Hasilnya ditulis dengan gaya yang menarik sehingga mampu terkomunikasi.

Orientasi teoritik dan pemilihan pokok studi kasus dalam penelitian kualitatif
bukanlah perkara yang mudah, tetapi tanpa memperdulikan kedua hal tersebut akan
cukup menyulitkan bagi peneliti yang akan turun ke lapangan. Dengan memahami
orientasi teoritik dan jenis studi yang akan dipilih maka setidak-tidaknya seorang
peneliti telah akan mempersiapkan diri sebelum benan-benar terjun dalam kancah
penelitian. Di dalam penyusunan desain penelitian kedua hal tersebut hendaknya
sudah dapat ditentukan, meskipun masih bersifat sementana.

Untuk dapat mengatasi kesulitan dalam menentukan orientasi teoritik


pemilihan pokok studi, terutarna dalam studi kasus, Guba dan Lincoln (1987)
memberikan saran-saran sebagai berikut: Pertama, bagi peneliti pemula hendaknya

3
banyak membaca sebanyak mungkin laporan-laporan kasus yang ada sehingga
mereka dapat mempelajari bagaimana para peneliti menyusunnya. Kedua, mereka
hendaknya bergabung dengan para penulis kasus yang baik untuk memahami
bagaimana mereka bekerja. Ketiga, mereka harus berlatih menulis laporan kasus, dan
terakhir, mereka harus meminta kritik-kritik yang positif dan para ahli.

B. PENELITIAN GROUNDED THEORY

I. Latar Belakang GT

Penelitian GT dikembangkan pertama kali pada tahun 1960s oleh dua sosiologis,
Barney Glaser and Anselm Strauss berdasarkan penelitian yang mereka lakukan pada
pasien-pasien berpenyakit akut di Rumah Sakit Universitas California, San francisco.
Catatan-catatan dan metode penelitian yang digunakan dipublikasikan dan menarik
minat banyak orang untuk mempelajarinya. Sebagai respon, Glaser dan Strauss
menerbitkan The Discovery of Grounded Theory (1967), buku yang menjelaskan
prosedur metode GT secara terperinci. Hingga saat ini, buku ini diterima sebagai
peletetak konsep-konsep mendasar GT. Dalam buku ini, Glaser dan Strauss
mengkritisi pendekatan-pendekatan penelitian sosiologi yang menekankan verifikasi
dan pengujian teori-teori. Menurut mereka, penelitian seharusnya memunculkan
konsep-konsep (variabel) dan hipotesis berdasarkan data-data nyata yang ada di
lapangan: “de-emphasis on the prior step of discovering what concepts and
hypotheses are relevant for the area one wished to research. ...In social research
generating theory goes hand in hand with verifying it; but many sociologists have
diverted from this truism in their zeal to test either existing theories or a theory that
they have barely started to generate” (Glaser & Strauss, 1967: 1-2). Sebuah teori
yang ditemukan selama penjaringan data akan sangat sesuai dengan kumpulan data
tadi. Jadi, teori yang dibangun oleh GT sangat kontras dengan teori yang diturunkan
secara deduktif dari grand theory, tanpa bantuan data dan sering kali tidak pas dengan
data manapun.

Ide-ide yang terkandung dalam The Discovery of Grounded Theory merefleksikan


latar belakang keahlian kedua pengarang yang cukup berbeda. Glaser merupakan
lulusan Columbia University yang berafiliasi pada penelitian quantitatif, khususnya
pengembangan teori secara induktif berdasarkan data kuantitatif dan kualitatif.
Pengaruh perspektif induktif terlihat pada penekanan perumusan teori berdasarkan
perspektif parisipan yang diteliti. Strauss merupakan lulusan Universitas Chicago
yang terkenal dengan tradisi penelitian lapangan kualitaif. Latar belakang ini
terungkap pada penekanan Strauss terhadap peneltian lapangan yang dilakukan
dengan cara menemui dan secara seksama mendegarkan penuturan individu-individu
yang diteliti.

Setelah penerbitan The Discovery of Grounded Theory, baik Glaser maupun Strauss
menulis berbagai buku masing-masing untuk mengembangkan metode GT.
Bekerjasama dengan Juliet Corbin, pada tahun 1990 dan 1998 Strauss

4
mengembangkan prosedur dan teknik GT yang kemudian dikenal dengan desain
sistematik, dengan bentuk yang lebih preskriptif, dengan kategori-kategori yang telah
ditentukan dan penekanan pada validitas dan reliabilitas data. Desain sistematik ini
menekankan penggunaan tiga fase analisis data yang dimulai dengan pengodean
terbuka (open coding), pengodean poros (axial coding), dan pengodean selektif
(selective coding) dan pengembangan suatu paradigma logis atau gambaran visual
dari teori yang diturunkan.

Meskipun desain sistematik diadopsi oleh para peneliti kualitatif, beberapa poin
dalam pendekatan ini mendapat kritikan. Glaser menyoroti penekanan yang
berlebihan terhadap aturan dan prosedur, kerangka kerja yang kaku, dan
kecenderungan verifikasi teori (bukan penyusunan teori) yang terdapat dalam desain
tersebut. Menurut Glaser, tujuan utama peneliti GT adalah untuk menjelaskan “proses
sosial dasar” dengan cara memunculkan teori dari data, bukan hanya sekedar
menggunakan kategori-kategori yang telah ditentukan seperti tergambar pada desain
sistematik, terutama pada langkah pengodean poros. Sebagai alternatif, Glaser
mengajukan desain emerging yang menekankan penggunaan teknik pembandingan
berkesinambungan (constant comparative) antara kejadian dengan kejadian, kejadian
dengan kategori, dan kategori dengan kategori sebagai inti analisis data. Bagi Glaser,
fokus utama GT adalah menghubungkan kategori-kategori dan memunculkan teori,
bukan hanya sekedar menggambarkan teori.pada tahap akhir, peneliti membangun
dan mendiskusikan hubungan antar seluruh kategori tanpa menghubungkannya
dengan diagram atau gambar (Creswel, 2008: 438)

Pengembang metode GT yang lain, Charmaz (dalam Creswel, 2008: 439),


menyatakan bahwa desain yang disusun Straus dan Glaser terlalu kaku dengan
prosedur pengumpulan fakta dan penjelasan tindakan sehingga makna yang
dinyatakan oleh partisipan dalam penelitian bisa terabaikan. Menurut Charmaz,
peneliti GT perlu menggunakan strategi-strategi yang lebih fleksibel dalam rangka
‘menangkap’ dan menjelaskan pandangan, nilai-nilai, kepercayaan, perasaan, asumsi,
dan ideologi individu sewaktu mereka menjalani sebuah fenomena atau proses.
Berdasarkan pandangan-pandangannya itu, Charmaz menyusun desain konstruktivis
yang memberi penekanan pada makna yang diungkapkan oleh partisipan dalam
penelitian. Desain ini dilakukan dengan cara menjelaskan perasaan-perasaan masing-
masing partisipan sewaktu mereka menjalani sebuah fenomena. Desain ini juga
menjelaskan keyakian dan nilai-nilai peneliti tapi mencegah kategori-kategorinyang
telah ditentukan, sebagaimana halnya terjadi dalam desain sistematik. Laporan
penelitian ditulis terutama dalam bentuk penjelasan yang logis serta, secara
mendalam, mengupas asumsi-asumsi dan makna yang diungkapkan masing-masing
partisipan yang diteliti.

II. Pengertian GT

GT merupakan metodologi penelitian kualitatif yang berakar pada kontruktivisme,


atau paradigma keilmuan yang mencoba mengkontruksi atau merekontruksi teori atas
5
suatu fakta yang terjadi di lapangan berdasarkan pada data empirik. Kontruksi atau
rekontruksi teori itu diperoleh melalui analisis induktif atas seperangkat data emik
berbentuk korpus yang diperoleh berdasarkan pengamatan lapangan. Hal ini didukung
Borgatti (1990) dengan menjelaskan bahwa frasa "grounded theory", nama yang
diberikan kepada GT, merujuk pada “theory that is developed inductively from a
corpus of data”. Data-data yang dianalisis merupakan emik karena data-data itu
diperoleh berdasarkan penuturan, tindakan, dan pengalaman para partisipan. Data-
data itu kemudian diidentifikasi, diberi kode, dikategorikan, dan secara konstan
dibandingkan satu dengan yang lain. Jika analisis dilakukan dengan baik, teori yang
diperoleh akan sangat sesuai dengan fenomena yang diteliti (atau dijadikan sebagai
sumber data). Dengan kata lain, ide pokok pendekatan GT adalah analisis kualitatif
data lapangan yang dilakukan dengan membaca seperangkat teks (catatan lapangan,
transkrip wawancara, atau dokumen-dokumen yang relevan) secara seksama (bila
perlu berulang-ulang) untuk menemukan konsep-konsep atau kategori-kategori dan
hubungan antar konsep maupun kategori tersebut.

Teori yang dihasilkan melalui GT merupakan teori substantif, bukan teori formal.
Teori substansi adalah teori yang dibangun dari data berdasarkan wilayah substansi
penelitian. Sedangkan teori formal menjangkau berbagai subtansi penelitian.
Meskipun demikian, penelitian GT bisa saja menghasilkan teori formal, tapi
prosesnya dilakukan bertahap dan membutuhkan analisis yang cermat. Jika suatu teori
telah berlaku secara valid pada suatu substansi, teori itu bisa dikembangkan pada
substansi yang lebih luas atau substansi lain, sampai menghasilkan teori formal.

Tujuan penelitian GT adalah merekonstruksi teori-teori yang digunakan untuk


memahami fenomena. Elliott dan Lazenbatt (2005) mengatakan: “With its origins in
sociology, grounded theory emphasises the importance of developing an
understanding of human behaviour through a process of discovery and induction
rather than from the more traditional quantitative research process of hypothesi testing
and deduction.” Oleh karena itu, GT sesuai digunakan dalam rangka menjelaskan
fenomena, proses atau merumuskan teori yang umum tentang sebuah fenomena yang
tidak bisa dijelaskan dengan teori yang ada. Haig (1995) mengatakan bahwa
meskipun GT pada awalnya diterapkan dan dikembangkan di bidang sosiologi,
metode ini dapat dan telah digunakan dengan baik di berbagai disiplin ilmu, seperti
pendidikan, keperawatan, ilmu politik, dan psikologi. Khusus di bidang pendidikan,
Creswell (2008: 432) mengatakan bahwa GT sangat sesuai digunakan untuk meneliti
proses pengembangan kemampuan menulis di kalangan siswa atau proses
pengembangan karir di kalangan wanita Amerika-Afrika dan Kaukasia yang
berprestatsi tinggi. GT juga sesuai digunakan untuk meneliti tindakan manusia, seperti
proses keikutsertaan para peserta yang mengikuti kelas-kelas pendidikan orang
dewasa, atau untuk meneliti interaksi antar individu, seperti dukungan yang diberikan
para pejabat sebuah jurusan kepada para peneliti fakultas.

6
III.Ciri-Ciri Utama Penelitian Grounded Theory

Seperti terungkap dari paparan latar belakang di atas, penggunaan dan pengembangan
di berbagai disiplin ilmu membuat GT terbagi dalam tiga pendekatan. Meskipun
demikian, ketiga pendekatan itu, dan juga desain-desain yang diterapkan secara
khusus dalam berbagai bidang ilmu, tetap menggunakan konsep dasar dalam The
Discovery of Grounded Theory sebagai titik tolak (Goulding, 1999). Oleh sebab itu,
untuk memahami GT secara lebih komprehensif, elemen-elemen yang terkandung
dalam setiap pendekatan perlu dikaji secara seksama. Menurut Creswell (2008: 440),
enam karakteristik berikut merupakan elemen-elemen yang terdapat dalam berbagai
pendekatan GT, termasuk desain sistematik, 'emerging' dan 'kostruktivis'.

1. Pendekatan Proses

Meskipun para peneliti GT dapat mengarahkan studi mereka pada sebuah ide, seperti
keahlian menerjemahkan novel atau kemahiran berpidato, mereka lebih mengarahkan
penelitian terhadap proses yang berhubungan dengan sebuah topik substantif. Hal ini
dilandasi oleh kenyataan bahwa setiap fenomena sosial merupakan hasil proses
tindakan atau interaksi antar individu. Dalam penelitian GT, proses merujuk pada
urutan tindakan-tindakan dan interaksi antar manusia dan peristiwa-peristiwa yang
berhubungan dengan sebuah topik, seperti pengalihbahsaan novel Animal Farm ke
dalam bahasa Indonesia. Dalam topik seperti ini, berdasarkan transkrip wawancara
atau catatan pengamatan yang dilakukan pada partisipan, peneliti GT dapat
mengidentifikasi dan mengisolasi tindakan-tindakan dan interaksi antar manusia,
seperti interaksi antara penerbit dan penterjemah pada saat negoisasi, tindakan-
tindakan yang dilakukan penterjemah selama proses pengalihbahasaan, dan
sebagainya. Aspek-paspek yang diisolasi ini disebut kategori-kategori, yang
digunakan sebagai tema-tema informasi dasar dalam rangka memahami suatu proses.
Borgatti (1990) menekankan pemusatan perhatian GT terhadap dengan mengatakan
“…process is vital….” karena GT berhubungan dengan penggambaran dan pengodean
hal-hal yang dinamis—sedang berubah, sedang bergerak, dan sedang berlangsung—di
kancah penelitian.

Dalam penelitian GT, kategori-kategori atau tema-tema diberi label dalam bentuk
kode in vivo, yaitu label dari kategori-kategori yang diungkapkan dengan
menggunakan kata-kata asli partisipan bukan dalam bentuk ungkapan peneliti atau
terminologi ilmiah yang baku. Kata-kata itu diidentifikasi peneliti dengan mengkaji
transkrip-transkrip wawancara atau catatan lapangan dalam rangka melokalisir
ungkapan partisipan yang berhubungan dengan kategori yang dimaksud. Sebagai
contoh, untuk menungkapkan bahwa buku hasil terjemahannya sangat laris, partisipan
mungkin menggunakan istilah 'meledak di pasaran'. Dengan menggunakan kode in
vivo, peneliti akan menggunakan label “meledak di pasaran” untuk kategori tersebut.

2. Penyampelan Teoritik

7
Sebagaimana lazimnya dalam penelitian kualitatif, instrumen pengumpul data
penelitian GT adalah peneliti sendiri. Data-data yang dikumpulkan dapat berbentuk
transkrip wawancara, percakapan, catatan wawancara, dokumen-dokumen publik,
buku harian dan jurnal responden, dan catatan reflektif peneliti (Charmaz, dalam
Creswell, 2008: 442) . Proses pengumpulan data itu dilaksaakan dengan mengunakan
ada dua metode secara simultan, yaitu observasi dan wawancara mendalam (depth
interview). Bentuk data yang paling sering digunakan berbagai peneliti adalah hasil
wawancara karena data seperti ini lebih mampu mengungkapkan pengalaman
responden dalam kata-kata mereka sendiri. Hal inilah yang mendorong Borgatti
(1990) menyimpulkan bahwa GT sangat dipengaruhi dan menekankan pemahaman
dunia secara emik. Dia menyatakan: ”... grounded theorists are concerned with or
largely influenced by emic understandings of the world: they use categories drawn
from respondents themselves and tend to focus on making implicit belief systems
explicit.”

Hal yang spesifik yang membedakan pengumpulan data pada penelitian GT dari
pendekatan kualitatif lainnya adalah pada pemilihan fenomena yang dikumpulkan.
Paling tidak, pada GT sangat ditekankan untuk menggali data perilaku yang sedang
berlangsung (life history) untuk melihat prosesnya serta ditujukan untuk menangkap
hal-hal yang bersifat kausalitas. Seorang peneliti Grounded Theory selalu
mempertanyakan "Mengapa suatu kondisi terjadi?", "Apa konsekwensi yang timbul
dari suatu tindakan/reaksi?", dan "Seperti apa tahap-tahap kondisi, tindakan/reaksi,
dan konsekwensi itu berlangsung?”

Dalam GT, masalah sampel penelitian tidak didasarkan pada jumlah populasi,
melainkan pada keterwakilan konsep dalam beragam bentuknya. Teknik pengambilan
sampel dilakukan dengan cara penyampelan teoritik, yaitu penyampelan yang
dilakukan “… in order to discover categories and their properties, and to suggest
their interrelationship into a theory” (Glaser and Strauss, 1980: 62). Dengan kata
lain, penyampelan teoritik merupakan pengambilan sampel yang dilakukan peneliti
dengan cara memilih data-data atau konsep-konsep yang terbukti berhubungan
dengan dan mendukung secara teoritik teori yang sedang disusun. Tujuannya adalah
mengambil sampel peristiwa/fenomena yang menunjukkan kategori, sifat, dan ukuran
yang secara langsung menjawab masalah penelitian. Sebagai contoh, jika peneliti
sedang meneliti "tingginya kecenderungan penerbitan novel-novel horror
terjemahan", penikmat (pembaca) novel-novel horor merupakan kandidat yang paling
sesuai untuk diwawancarai. Penterjemah, penerbit, dan kritisi sastra memang dapat
dijadikan sumber informasi yang relevan, namun peran mereka tidakbegitu sentral
karena penerbitan bahan bacaan sangat ditentukanoleh konsumen (pembaca).

Paparan ini mengungkapkan bahwa pada dasarnya yang di sampel dalampenelitian


GT bukan obyek formal penelitian (orang atau benda-benda), melainkan obyek
material yang berupa fenomena-fenomena yang sudah dikonsepkan. Akan tetapi,
karena fenomena itu melekat dengan subyek (orang atau benda), maka dengan

8
sendirinya obyek formal juga ikut disampel dalam peroses pengumpulan atau
penggalian fenomena.

Berkenaan dengan proposisi terakhir, pada hakikatnya fenomena yang telah terpilih
itulah yang dicari atau digali oleh peneliti selama mengumpulkan data. Karena
fenomena itu melekat dengan subyek yang diteliti, maka jumlah subyek pun terus
bertambah sampai tidak ditemukan lagi informasi baru yang diungkap oleh beberapa
subyek yang terakhir. Itulah sebabnya, penentuan sampel subyek dalam penelitian
GT, seperti halnya penelitian kualitatif pada umumnya, tidak dapat direncanakan dari
awal. Subyek-subyek yang diteliti secara berproses ditentukan di lapangan, kaetika
pengumpulan data berlangsung. Cara penyampelan inilah yang disebut dalam
penelitian kualitatif sebagai snow bowl sampling.

Sesuai dengan tahap pengkodean dan analisis data, penyampelan dalam GT diarahkan
dengan logika dan tujuan dari tiga jenis dasar prosedur pengkodean. Ada tiga pola
penyampelan teoritik, yang sekaligus menandai tiga tahapan kegiatan pengumpulan
data; (a) penyampelan terbuka, (b) penyampelan relasional dan variasional, serta (c)
penyampelan pembeda. Penyampelan ini bersifat kumulatif (penyampelan terdahulu
menjadi dasar bagi penyampelan berikutnya) dan semakin mengerucut sejalan dengan
tingkat kedalaman fokus penelitian. Berikut ini adalah penjelasan singkat tentang
ketiga penyampelan tersebut.

(a) Penyampelan terbuka bertujuan untuk menemukan data sebanyak mungkin


sepanjang berkenaan dengan rumusan masalah yang dibuat pada awal penelitian.
Karena pada tahap awal itu peneliti belum yakin tentang konsep mana yang relevan
secara teoritik, maka obyek pengamatan dan orang-orang yang diwawncarai juga
masih belum dibatasi. Data yang terkumpul dari kegiatan pengumpulan data awal
inilah kemudian dianalisis dengan pengkodean terbuka.

(b) Penyampelan relasional dan variasional berfokus pada pengungkapan dan


pembuktian hubungan-hubungan antara kategori dengan kategori dan kategori dengan
sub-subkategorinya. Pada kedua penyampelan ini diupayakan untuk menemukan
sebanyak mungkin perbedaan tingkat ukuran di dalam data. Hal pokok yang perlu
pada penemuan perbedaan tingkat ukuran tersebut adalah proses dan variasi. Jadi, inti
utama penyampelan di sini adalah memilih subyek, lokasi, atau dokumen yang
memaksimalkan peluang untuk memperoleh data yang berkaitan dengan variasi
ukuran kategori dan data yang bertalian dengan perubahan.

(c) Penyampelan pembeda berkaitan dengan kegiatan pengkodean terpilih. Oleh


karena itu tujuan penyampelan pembeda adalah menetapkan subyek yang diduga
dapat memberi peluang bagi peneliti untuk membuktikan atau menguji hubungan
antarkategori.

Kegiatan pengumpulan data dalam penelitian GT berlangsung secara bertahap dan


dalam rentang waktu yang relatif lama. Proses pengambilan sampel juga berlangsung
secara terus menerus ketika kegiatan pengumpulan data. Jumlah sampel bisa terus
9
bertambah sejalan dengan pertambahan jumlah data yang dibutuhkan. Ketentuan
umum dalam GT adalah melakukan penyampelan hingga pemenuhan teoritik bagi
setiap kategori tercapai. Maksudnya, penyampelan dihentikan apabila; (a) tidak ada
lagi data baru yang relevan, (b) penyusunan kategorinya telah terpenuhi; dan (c)
hubungan antarkategori sudah ditetapkan dan dibuktikan.

Berdasarkan paparan tentang prinsip penyampelan di atas, jelaslah bahwa


pengambilan kesimpulan dalam penelitian GT tidak didasarkan pada generalisasi,
melainkan pada spesifikasi. Bertolak dari pola penalaran ini, penelitian GT bermaksud
untuk membuat spesifikasi-spesifikasi terhadap (a) kondisi yang menjadi sebab
munculnya fenomena, (b) tindakan/interaksi yang merupakan respon terhadap kondisi
itu, (c) serta konsekuensi-konsekuensi yang timbul dari tindakan/i nteraksi itu. Jadi,
rumusan teoritik sebagai hasil akhir yang ditemukan dari jenis penelitian ini tidak
menjustfikasi keberlakuannya untuk semua populasi, seperti dalam penelitian
kuantitatif, melainkan hanya untuk situasi atau kondisi tersebut.

3. Analisis Data Perbandingan Konstan

Dalam penelitian GT, peneliti terlibat dalam roses pengumpulan data, pengelompokan
data ke dalam kategori-kategori, pengumpulan data tambahan, dan pembandingan
informasi yang baru itu dengan kategori-kategori yang muncul. Proses pengembangan
kategori-kategori informasi yang berlangsung secara perlahan-lahan ini dinamai
prosedur perbandingan konstan (constant comparative procedure). Perbandingan
konstan ini merupakan prosedur analisis data induktif yang digunakan untuk
memunculkan dan menghubungkan kategori-kategori dengan cara membandingkan
satu peristiwa dengan peristiwa lainnya, satu peristiwa dengan satu kategori, dan satu
kategori dengan kategori lainnya.

Dalam tahap pelaksanaan (Dick, 2005) menggambarkan analisis data perbandingan


konstan, dalam langkah-langkah berikut. Pada wawancara pertama, peneliti hanya
bertanya pada diri sendiri: “Apa yang sedang berlangsung?”, “Situasi apakah ini?”,
“Bagaimana partisipan ini menangani situasi tersebut? “, “Lalu, kategori-kategori apa
yang terungkap melalui pernyataan-pernyataan ini?” Setelah itu, peneliti mengodekan
hasil-hasil wawancara pertama dan kedua ke dalam kategori-kategori, seluruh
kategori (termasuk yang diperoleh dari sumber data lainnya) dibandingkan satu
dengan yang lain. Setelah itu, seluruh kategori dihubungkan dengan teori yang
muncul dipikiran penulis selama melakukan perbandingan. Secara singkat, analisis
data perbandingan konstan adalah ”... initially comparing data set to data set; later
comparing data set to theory.” Ilustrasi prosedur analisis data perbandingan konstan
dapat dilihat pada gambar berikut.

4. Kategori Inti

Dari seluruh kategori utama yang diperoleh dari data, peneliti memilih satu kategori
sebagai inti fenomena dalam rangka merumuskan teori. Setelah mengidentifikasi
beberapa kategori (misalnya, 8 hingga 10—tergantung pada besarnya database),
10
peneliti memilih satu kategori inti sebagai basis penulisan teori (lihat gambar 2
sebagai visualisasi proses ini). Berikut ini adalah enam kriteria untuk menentukan
kategori inti (Strauss and Corbin, dalam Creswell, 2008: 444).

(a) Kategori tersebut harus merupakan sentral, dalam artian kategori-kategori utama
lainnya dapat dihbungkan padanya.

(b) Kategori tersebut sering muncul dalam data, dengan pengertian bahwa dalam
semua kasus terdapat indikator-indikator yang merujuk pada kategori inti tersebut.

(c) Penjelasan-penjelasan yang menghubungkan kategori-kategori berfifat logis,


konsisten dan tidak dipaksakan.

(d) Istilah atau frasa yang digunakan untuk menjelaskan kategori inti harus abstrak.

(e) Seiring dengan penyempurnaan konsep, teori berkembang dalam aspek kedalaman
dan kemampuan menjelaskan.

(f) Meskipun kondisi bervariasi, kategori inti masih mampu menjelaskan seara akurat.

Penjelasan di atas memperlihatkan bahwa memilih kategori inti terlalu awal adalah
sangat riskan. Akan tetapi, bila terlihat bahwa salah satu kategori mucul dengan
frekuensi tinggi dan terhubung dengan jelas pada kategori-kategori lain, kategori itu
dapat dipilih sebagai kategori inti.

5. Perumusan Teori

Dalam penelitian GT, yang dimaksud dengan teori adalah penjelasan atau pemahaman
yang abstrak tentang suatu proses mengenai sebuah topik substantif yang didasarkan
pada data. Teori ini disusun oleh peneliti sewaktu mengidentifikasi kategori inti dan
kategori-kategori proses yang menjelaskannya. Karena teori ini dilandaskan pada
fenomena yang spesifik, teori ini tidak dapat diaplikasikan digeneralisasikan secara
meluas pada fenomena lain. Oleh karena itu, Charmaz (dalam Creswell, 2008: 446)
mengatakan teori ini berfifat “middle range”, ditarik dari beberapa individual atau
sumber data dan memberi penjelasan yang akurat hanya pada sebuah topik yang
substantif.1

6. Penulisan Memo

Dalam penelitian GT, memo merupakan catatan-catatan yang dibuat peneliti untuk
mengelaborasi ide-ide yang berhubungan dengan data dan kategori-kategori yang
dikodekan. Dengan kata lain, memo merupakan catatan yang dibuat peneliti bagi
dirinya sendiri dalam rangka menyusun hipotesis tentang sebuah kategori, kususnya
tentang hubungan-hubungan antara kategori-kategori yang ditemukan. Menurut Dick

11
(2005), penulisan memo harus harus diberikan prioritas utama karena ide tentang
hubungan-hubungan antara kategori-kategori bisa muncul kapan saja dan peneliti
harus segera mencatatnya. Dalam penelitiannya, Dick biasa menggunakan memo
dengan sistem kartu-kartu berukuran 125 mm x 75 mm yang tersedia dikantongnya
kapan saja dia perlu membuat memo. Kartu-kartu memo itu dibuat dengan format

IV.Tahapan Pelaksanaan Penelitan GT

Penelitian GT diawali dengan pemusatan perhatian pada suatu wilayah kajian dan
diikuti oleh pengumpulan data dari berbagai sumber dengan menggunakan berbagai
teknik, khususnya wawancara dan obserrvasi lapangan (field observation). Setelah
terhimpun, data-data tersebut dianalisis dengan menggunakan teknik 'coding' dan
prosedur penyampelan teoritis. Tahap berikutnya adalah menyusun teori (yang
menjelaskan fenomena yang diteliti) dengan menggunakan teknik interpretasi. Pada
tahap akhir, hasil penelitian disusun secara sistematis. Selaras dengan itu, Creswell
(2008: 432) menjelaskan GT dilakukan melalui sebuah prosedur penjaringan data
yang sistematis, pengidentifikasian kategori-kategori (tema-tema), penghubungan
kategori-kategori tersebut, dan pembentukan teori yang menjelaskan proses tersebut.
Dengan demikian teori-teori yang dihasilkan merupakan teori ‘proses’ yang
menjelaskan fenomena (tahapan-tahapan proses, tindakan, atau interaksi yang terjadi
di kancah penelitian selama penelitian terjadi).

Gambaran di atas hanyalah gambaran prosedur secara umum, sedangkan prosedur


yang spesifik sulit digambarkan mengingat bahwa penelitian GT diaplikasikan dalam
berbagai disiplin ilmu. Selain itu, terdapat paling tidak tiga desain yang lazim
digunakan cukup beragam, dengan disain yang teratur (sistematik dan emerging)
maupun fleksibel (konstruktivis). Prosedur yang diuraikan di bawah ini merupakan
tahapan desain sistematis, mengingat langkah-langkahnya yang mudah diidentifikasi.

1. Perumusan Masalah Penelitian

Sebagai penelitian berparadigma kualitatif, GT mengasumsikan bahwa di dalam


kehidupan sosial selalu ditemukan regulasi-regulasi yang relatif sudah terpola. Pola-
pola regulasi yang ditemukan melalui penelitian itulah yang dirumuskan menjadi
teori. Asumsi ini dipertegas dalam GT, dengan menyatakan bahwa; (a) semua konsep
yang berhubungan dengan fenomena belum dapat diidentifikasi; dan (b) hubungan
antarkonsep belum terpahami atau belum tersusun secara konseptual. Oleh sebab itu,
tidak mungkin bagi seorang peneliti untuk mengajukan masalah yang sangat spesifik–
seperti yang dituntut dalam metode kuantitatif, baik variabel maupun tipe hubungan
antarvariabelnya. Substansi rumusan masalah dalam pendekatan GT masih bersifat
umum, yaitu dalam bentuk pertanyaan yang masih memberi kelonggaran dan
kebebasan untuk menggali fenomena secara luas, dan belum sampai menegaskan
mana saja variabel yang berhubungan dengan ruang lingkup masalah dan mana yang
tidak. Demikian pula tipe hubungan antarvariabelnya belum perlu dieksplisitkan
dalam rumusan masalah yang dibuat.

12
Bertolak dari dasar asumsi dan kemungkinan yang diutarakan di atas, rumusan
masalah dalam GT disusun secara bertahap. Pada tahap awal–sebelum pengumpulan
data, dikemukan rumusan masalah yang bersifat luas (tetapi tidak terlalu terbuka),
yang kemudian nanti–setelah data yang bersifat umum dikumpulkan—rumusan
masalahnya semakin dipersempit dan lebih difokuskan sesuai dengan sifat data yang
dikumpulkan. Intinya adalah, bahwa rumusan masalah dalam GT disusun lebih dari
satu kali. Rumusan masalah yang diajukan pada tahap pertama dimaksudkan sebagai
panduan dalam mengumpul data, sedangkan rumusan masalah yang diajukan pada
tahap berikutnya dimaksudkan sebagai panduan untuk menyusun teori. Perumusan
masalah yang disebut terakhir ini inheren dengan perumusan hipotesis penelitian.

Seperti lazimnya pada setiap penelitian, rumusan masalah yang disusun pada tahap
awal adalah yang memiliki substansi yang jelas serta diformulasikan dalam bentuk
pertanyaan. Ciri rumusan masalah yang disarankan dalam GT adalah; (a) berorientasi
pada pengidentifikasian fenomena yang diteliti; (b) mengungkap secara tegas tentang
obyek (formal dan material) yang akan diteliti, serta (c) berorientasi pada proses dan
tindakan. Contoh rumusan masalah awal pada GT; "Bagaimanakah novel detektif
Inggris diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia?" Pertanyaan yang diajukan dalam
rumusan masalah ini bermaksud untuk; (a) mengenali secara tepat dan mendalam
proses penerjemahan sebuah novel detektif Inggris ke dalam bahasa Indonesia, (b)
obyek formal penelitian adalah penterjemah yang sedang menerjemahkan sebuah
novel detektif Inggris ke dalam bahasa Indonesia; sedangkan obyek materialnya
adalah metode yang dilakukan oleh penterjemah itu dalam menyelesaikan
penerjemahan novel dimaksud, dan (c) orientasi utama yang disoroti adalah tahapan
dan teknik-teknik penterjemahan yang dipilih.

Sebagai sebuah penelitian kualitatif, penelitian GT tidak bermaksud untuk menguji


teori, dan bahkan tidak bertolak dari variabel-variabel yang direduksi dari suatu teori.
Sungguh tidak relevan jika penelitian dengan GT dimulai dengan teori atau variabel
yang telah ada, karena akan menghambat pengembangan rumusan teori baru. Oleh
sebab itu, penelitian GT tidak perlu terlalu terpangaruh oleh literatur karena akan
menutupi kreativitas dalam mengumpul, memahami dan menganalisis data. Inilah
yang dimaksudkan dalam pendekatan GT, bahwa sesungguhnya peneliti belum
memiliki pengetahuan tentang obyek yang diteliti, termasuk jenis data dan kategori-
kategori yang mungkin ditemukan.

Dalam pendekatan GT, teori yang sudah ada harus diletakkan sesuai dengan maksud
penelitian yang dikerjakan, yaitu untuk menemukan teori dari dasar. Namun, jika
peneliti menghadapi kesulitan dalam hal konsep ketika merumuskan masalah,
membangun kerangka berpikir, dan menyusun bahan wawancara, maka konsep-
konsep yang digunakan oleh teori terdahulu dapat dipinjam untuk sementara sampai
ditemukan konsep yang sebenarnya dari kancah.

Terdapat lima kemungkinan perlakuan peneliti terhadap teori yang sudah ada.
Pertama, jika penelitian dengan GT menemukan teori yang memiliki hubungan
13
dengan teori yang sudah dikenal, maka temuan baru itu merupakan sumbangan baru
untuk memperluas teori yang sudah ada. Demikian pula, jika ternyata teori yang
ditemukan identik dengan teori yang sudah ada, maka teori yang ada dapat dijadikan
sebagai pengabsahan dari temuan baru itu. Kedua, jika peneliti sudah menemukan
kategori-kategori dari data yang dikumpulkan, maka ia perlu memeriksa apakah
sistem kategori serupa telah ada sebelumnya. Jika ya, maka peneliti perlu memahami
tentang apa saja yang dikatakan oleh peneliti lain tentang kategori tersebut, tetapi
bukan untuk mengikutinya. Penelitian yang bermaksud memperluas teori. Ketiga, jika
penelitian bermaksud untuk memperluas teori yang telah ada, maka penelitian dapat
dimulai dari teori tersebut dengan merujuk kerangka umum teori itu. Dengan kata
lain, kerangka teoritik yang sudah ada bisa digunakan untuk menginterpretasi dan
mendekati data. Namun demikian, penelitian yang sekarang harus dikembangkan
secara tersendiri dan terlepas dari teori sebelumnya. Dengan demikian, penelitian
dapat dengan bebas memilih data yang dikumpulkan, sehingga memungkinkan teori
awalnya dapat diubah, ditambah, atau dimodifikasi. Keempat, jika penelitian sekarang
bertolak dari teori yang sudah ada, maka teori tersebut dapat dimanfaatkan untuk
menyusun sejumlah pertanyaan atau menjadi pedoman dalam pengamatan
/wawancara untuk mengumpul data awal. Kelima, jika temuan penelitian sekarang
berbeda dari teori yang sudah ada, maka peneliti dapat menjelaskan bagaimana dan
mengapa temuannya berbeda dengan teori yang ada.

2. Penjaringan Data

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, data utama dalam penelitian GT digali dari
fenomena atau perilaku yang sedang berlangsung (life history) untuk melihat
prosesnya serta ditujukan untuk menangkap hal-hal yang bersifat kausalitas. Sampel
penelitian tidak didasarkan pada jumlah populasi, melainkan pada keterwakilan
konsep dalam beragam bentuknya. Teknik yang digunakan adalah penyampelan
teoritik, atau penyampelan yang dilakukan dengan cara memilih data-data atau
konsep-konsep yang terbukti berhubungan dengan dan mendukung secara teoritik
teori yang sedang disusun. Tujuannya adalah mengambil sampel peristiwa/fenomena
yang menunjukkan kategori, sifat, dan ukuran yang secara langsung menjawab
masalah penelitian.

3. Analisis Data

Pada dasarnya, kegiatan penjaringan dan analisis data dalam GT adalah proses yang
saling berkaitan erat, dan harus dilakukan secara bergantian (siklus), bahkan simultan.
Karena itu kegiatan analisis telah dikerjakan pada saat pengumpulan data sedang
berlangsung.

Kegiatan analisis dalam penelitian ini dilakukan dalam bentuk pengodean (coding),
yakni proses penguraian data, pengonsepan, dan penyusunan kembali dengan cara
baru. Tujuan pengkodean dalam penelitian GT adalah untuk; (a) menyusun teori, (b)
14
memberikan ketepatan proses penelitian, (c) membantu peneliti mengatasi bias dan
asumsi yang keliru, dan (d) memberikan landasan, memberikan kepadatan makna, dan
mengembangkan kepekaan untuk menghasilkan teori.

Terdapat dua prosedur analisis dasar dalam proses pengodean, yaitu; (a) pembuatan
perbandingan secara terus-menerus (the constant comparative methode of analysis);
dan (b) pengajuan pertanyaan. Dalam konteks penelitian GT, hal-hal yang
diperbandingkan itu cukup beragam, yang intinya berada pada sekitar; (i) relevansi
fenomena atau data yang ditemukan dengan permasalahan pokok penelitian, dan (ii)
posisi dari setiap fenomena dilihat dari sifat-sifat atau ukurannya dalam suatu
tingkatan garis kontinum. Analisis data itu sendiri, seperti telah dijelaskan
sebelumnya, dilaksaakan dalam tiga langkah: pengodean terbuka (open coding),
pengodean poros (axial coding), dan pengodean selektif (selective coding). Setelah
menganalisis data, peneliti menyusun suatu paradigma logis atau gambaran visual dari
teori yang diturunkan.

V. Tiga Tahap Analisis Data

(a) Pada tahap pertama, pengodean terbuka (open coding), peneliti membentuk
kategori-kategori awal informasi tentang fenomena yang diteliti dengan memilah-
milah data (diperoleh dari wawancara, observasi, maupun catatan-catatan dan memo)
ke dalam jenis-jenis yang relevan. Jika fenomena yang diteliti adalah proses
penterjemahan novel-novel klasik di sebuah penerbitan, misalnya, informasi yang
diperoleh melalui pengamatan tentang proses pemberian 'job' oleh penerbit kepada
sekelompok penterjemah dapat dikelompokkan kepada tahapan-tahapan pemberian
kerja, pembuatan perjanjian kerja, sistem pembayaran upah, dan hal lain yang
berhubungan dengan proses tersebut. Sedangkan iformasi yang diperoleh melalui
wawancara terhadap para penterjemah dapat dipilah-pilah ke dalam kelompok
pengalaman, keahlian, latar-belakang pendidikan, usia, dan lain-lain. Kategori-
kategori yang telah ada bisa saja berkembang sesuai dengan penambahan data yang
diperoleh, dan pada saat yang sama, sebagian atau seluruh kategori akan diperkaya
dengan properties (sub-subkategori), yaitu data yang berfungsi sebagai detil
pendukung kategori yang ada.

(b) Di tahap kedua, pengodean poros (axial coding), peneliti memilih salah satu dari
kategori yang ada dan memposisikannya sebagai inti fenomena yang sedang diteliti.
Seluruh kategori lainnya dihubungkan pada inti fenomena ini berdasarkan korelasi
apa adanya, seperti faktor-faktor penyebab (faktor-faktor yang memengaruhi inti),
strategi (tindakan yang diambil sebagai respon terhadap inti), kondisi yang
memengaruhi dan kontekstual (faktor-faktor situasional umum atau khusus yang
memengaruhi strategi, dan konsekuensi (dampak dari penggunaan strategi). Tahapan
ini melibatkan pembuatan sebuah diagram yang disebut pengkodean paradigma
(coding paradigm), yang menggambarkan kesalingterkaitan antara penyebab, strategi,
kondisi yang memengaruhi dan kontekstual, dan konsekuensi.

15
(c) Di tahap ketiga, pengodean selektif (selective coding), peneliti menulis sebuah
teori dari kesalingterkaitan seluruh kategori dalam tahap axial coding. Pada aras
dasar, teori ini merupakan penjelasan abstrak atas proses yang diteliti Jadi, pengodean
selektif merupakan proses penyatuan dan penyempurnaan teori melalui tahapan
penulisan alur cerita yang membuat seluruh kategori saling terkait dan memilih
melaui memo pribadi tentang ide-ide teoritis. Di sepanjang alur cerita, peneliti bisa
saja mengamati bagaimana faktor tertentu memengaruhi fenomena yang membuat
digunakannya strategi tertentu dengan dampak tertentu.

Dilihat dari jumlah aktivitas pengodean yang dilakukan, terlihat adanya pengurangan
dari tahap pengodean terbuka ke tahap penggolongan kategori-kategori, dan demikian
halnya dari tahap penggolongan kategori-kategori ke tahap pengodean poros.
Aktivitas paling minimal terdapat pada tahap penyusunan teori dari kategori-kategori
yang sudah dijenuhkan.

4. Penyusunan Teori

Seperti dijelaskan di atas, teori dalam GT disusun pada saat melaksanakan pengodean
selektif (selective coding). Proses ini mencakup analisis atas kesalingterkaitan seluruh
kategori yang ditemukan. Perumusan teori juga bisa mencakup penyempurnaan
paradigma yang terdapat pada axial coding dan menyajikannya sebagai sebuah
modelatau teori bagi proses yang diteliti. Teori bisa disajikan sebagai proposisi-
proposisi atau sub-sub proposisi yang dapat digunakan sebagai ide-ide yang dapat
diuji pada penelitian lanjutan. Teori juga bisa dituliskan dalambentuk narasi yang
menggambarkan kesalingterkaitan seluruh kategori (Creswell, 2008: 450).

5. Validasi Teori

Dalam GT, validasi teori merupakan bagian aktif dari proses penelitian. Sebagai
contoh, sewaktu melakukan perbandingan konstan dalam tahap pengodean terbuka,
peneliti melakukan pemeriksaan silang keabsahan hubungan antara data dan kategori-
kategori yang muncul melalui proses triangulasi. Proses pemeriksaan data seperti itu
juga dilakukan pada tahapan pengodean poros. Setelah teori dirumuskan, peneliti
memvalidasi proses penyusunannya dengan membandingkannya dengan proses–
proses sejenis yang ada di dalamkepustakaan. Bahkan penilai luar, seperti partisipan,
juga bisa diminta untuk memeriksa keabsahan teori maupun validitas dan kredibilitas
data (Creswell, 2008: 450).

6. Penulisan Laporan Penelitian

Sturuktur laporan penelitian GT sangat tergantung pada desain yang digunakan. Jika
desain yang digunakan adalah pendekatan sistematik, laporan penelitian relatif mirip
dengan struktur laporan penelitian kuantitatif, yang mencakup bagian-bagian
perumusan masalah, metode penelitian, analisis dan diskusi, dan hasil penelitian. Jika
desain yang digunakan adalah pendekatan ’emerging’ atau ’konstruktivis’, struktur
laporan penelitian bersifat fleksibel (Creswell, 2008: 450).1
16
Kesimpulan
1. Studi kasus merupakan suatu penelitian yang diarahkan untuk mennghimpun
data, mengambil makna, memperoleh pemahaman dari kasus tersebut.
Kesimpulan dari penelitian studi kasus hanya berlaku untuk kasus tersebut.
Kasus dapat satu orang, satu kelas, satu sekolah, dan lain- lain. Teknik
pengumpulan data yang dapat digunakan adalah wawancara, observasi dan
studi dokumenter.

2. Desain penelitian GT merupakan seperangkat prosedur yang digunakan untuk


menyusun sebuah teori yang menjelaskan sebuah proses mengenai sebuah
topik substantif. Penelitian GT cocok digunakan dalam rangka menjelaskan
fenomena, proses atau merumuskan teori yang umum tentang sebuah
fenomena yang tidak bisa dijelaskan dengan teori yang ada. Pada awalnya,
penelitian GT diterapkan dan dikembangkan di bidang sosiologi. Namun saat
17
ini GT juga banyak digunakan di berbagai disiplin ilmu, seperti pendidikan,
keperawatan, ilmu politik, dan psikologi.

3. Meskipun penelitian GT terdiri dari tiga bentuk desain—sistematik,


’emerging’ dan ’konstruktivis’—secara umum, metode ini memiliki enam
karakteristik kunci. Pertama, fokus penelitian diarahkan pada proses yang
berhubungan dengan sebuah topik substantif. Kedua, penjaringan data (yang
dilakukan secara simultan denagn analisis data) dilakukan dengan
menggunakan penyampelan teoritis. Ketiga, analisis data dilakukan dalam tiga
tahap—pengodean terbuka, pengodean poros, dan pengodean selektif—sambil
melaksanakan perbandingan konstan dan membuat pertanyaan tentang data-
data yang diperoleh. Keempat, sewaktu menganalisis data untuk memunculkan
kategori-kategori, sebuah kategori inti diidentifikasi. Keenam, kategori inti
yang diidentifikasi kemudian dikembangkan dan dirumuskan menjadi teori.
Selama melakukan penelitian, peneliti membuat catatan-catatan (memo) untuk
mengelaborasi ide-ide yang berhubungan dengan data dan kategori-kategori
yang dikodekan.

4. Prosedur pelaksanaan penelitian GT yang komprehensif sulit dilakukan


mengingat desain GT yang cukup beragam. Meskipun demikian, sebagai
gambaran, langkah-langkah penelitian desain sistematis, dapat diurutkan
dalam enam langkah: perumusan masalah, penjaringan data, analisis data,
penyusunan teori, validasi teori, dan penulisan laporan.1

Daftar Pustaka
1. Borgatti, Steve. "Introduction to Grounded Theory". Diunduh pada tanggal 18
Oktober 2008 http://www.analytictech.com/mb870/introtoGT.htm

2. Creswell, John W. 2008. Educational Research: Planning, Conducting, and


Evaluating Quantitative and Qulitative Research. New Jersey: Prentice Hall.

3. Dick, Bob. 2005. “Grounded theory: a thumbnail sketch”. Diunduh pada


tanggal 10 September 2008 dari
http://www.scu.edu.au/schools/gcm/ar/arp/grounded.html

4. Elliott, Naomi and Lazenbatt, Anne. 2005. “How to Recognise a ‘Quality’


Grounded Theory Research Study” A scholarly paper, published in Australian
Journal of Advanced Nursing Volume 22 Number 3, 2005

18
5. Emzir. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif.
Jakarta: PT Raja Grafindo Perkasa.

6. Furchan, Arief, MA.,Ph.D. (Penejemah). 2004. Pengantar penelitian Dalam


Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka pelajar.11

7. Glaser, B. & Straus A. 1980. The Discovery of Grounded Theory: Strategies


for Qualitative Research. Chicago: Aldine.

8. Goulding, Christina. 1999. "Grounded Theory: Some Reflections on


Paradigm, Procedures, and Misconceptions" A Working Paper Series at
Wolverhampton Business School.

9. Haig, Brian D. 1995. “GT as Scientific Method” in Philosophy of Education


Society. Diunduh pada tanggal 12 November 2008 dari http://www.GT as
Scientific Method.htm

10. Introductionto coding terminology qrtips.com/faq/Coding%20Level


%20Pyramid.jpg

11. Syamsuddin, Prof., Dr. dan Vismaia, Dr. 2006. Metode Penelitian Pendidikan
Bahasa. Bandung : Remaja Rosdakarya.

12. Syaodih, Nana Sukmadinata, Prof.,Dr. 2006. Metode Penelitian Pendidikan.


Bandung :Remaja Rosdakarya

13. Wiriaatmadja,Rochiati. 2007. Metode penelitian Tindakan Kelas. Bandung:


Remaja Rosdakarya

19