Anda di halaman 1dari 17

Analisis Ketidakadilan terhadap Kaum Perempuan

dalam Bidang Ekonomi, Sosial, dan Politik


Berdasarkan Paradigma Konflik dan Fungsionalis

Disusun oleh :
Kelas Q
Subkelompok 3
Erika (0706291243)
Dias Esantika Ningtias (0706287271)
Patar Togatorop (0706286930)
Tegar Saldy Triantoro (0706282951)
Masyogi Adhiputra (0706284824)

Makalah untuk
Mata Kuliah
Sistem Sosial Indonesia

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


UNIVERSITAS INDONESIA
2008

Page | 1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami haturkan kepada Tuhan karena atas berkat-Nya lah,
makalah ini dapat kami selesaikan. Adapun makalah ini kami buat untuk memenuhi tugas
bagi mata kuliah Sistem Sosial Indonesia pada semester II.
Makalah ini berjudul ―Analisis Ketidakadilan terhadap Kaum Perempuan
dalam Bidang Ekonomi, Sosial, dan Politik Berdasarkan Paradigma Konflik dan
Fungsionalis‖. Sesuai dengan judulnya, makalah ini membahas mengenai berbagai
ketidakadilan dalam bidang politik, sosial, dan ekonomi yang dialami kaum perempuan
di Indonesia. Dalam menganalisa berbagai ketidakadilan itu, kami menggunakan dua
macam paradigma, yaitu paradigma konflik dan paradigma fungsionalis. Kami
mengaitkan pandangan dalam kedua paradigma tersebut, ke dalam berbagai bentuk
pelanggaran yang dialami kaum perempuan di Indonesia. Pada akhir makalah, kami juga
menyajikan saran yang dapat diambil sehubungan dengan berbagai bentuk ketidakadilan
gender tersebut.
Tiada gading yang tak retak. Begitu pula dengan makalah ini, yang tentunya
masih jauh dari sempurna. Maka dari itu penulis mohon maaf atas segala kekurangan
yang terdapat dalam makalah ini. Semoga makalah ini dapat berguna bagi segenap
pembaca, dan dapat digunakan dengan sebaik-baiknya untuk kemajuan ilmu sosiologi
sendiri.
Sekian kata pengantar ini, akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Depok, 10 April 2008

Tim Penulis

Page | 2
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan tugas dan kewajiban yang berbeda-beda.
Sesuai kodratnya, laki-laki bertanggung jawab sebagai kepala keluarga yang
berkewajiban untuk menafkahi keluarganya. Sedangkan, perempuan tercipta dengan
kodratnya sebagai pengurus rumah tangga. Seiring berjalannya waktu, ternyata
ditemukan adanya unsur ketidakadilan dari peran gender dan perbedaan gender. Kaum
perempuanlah yang menjadi korban atas ketidakadilan ini.
Stereotip terhadap kaum perempuan membuat keberadaan perempuan menjadi
dipandang sebelah mata sehingga membuat perempuan menjadi kesulitan dalam
mengaktualisasikan dirinya dalam kehidupan bermasyarakat. Saat ini tidak sedikit
perempuan yang dipekerjakan menjadi buruh atau pekerjaan lainnya yang dianggap
rendah daripada kaum laki-laki. Himpitan ekonomi saat ini, membuat banyak perempuan
Indonesia terpaksa bekerja untuk menghidupi keluarganya. Hal ini membuat kaum
perempuan menerima apa saja jenis pekerjaan walaupun upahnya kadang tidak sesuai
dengan tenaga dan waktu yang telah dikorbankan. Stereotip terhadap perempuan
membuat pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan dianggap boleh saja dibayar rendah
karena pada dasarnya yang mencari nafkah adalah kaum laki-laki dan perempuan
dianggap mencari tambahan saja. Keadaan inilah yang sering dialami oleh buruh
perempuan di Indonesia. Selain upah yang rendah, mereka juga dikenakan kebijakan
perusahaan yang merugikan mereka seperti misalnya jam kerja yang terlalu banyak.
Tindak kekerasan dan pelecehan yang kerap dialami oleh kaum perempuan
merupakan salah satu bentuk ketidakadilan yang ditimbulkan oleh peran gender dan
perbedaan gender. Belakangan ini banyak sekali kasus tindak kekerasan dan pelecehan
yang dialami oleh tenaga kerja wanita yang dilakukan oleh majikannya. Oleh karena itu,
dalam makalah ini kami akan mencoba untuk menganalisis masalah ketidakadilan
terhadap wanita terutama di Indonesia berkaitan dengan peran gender dan perbedaan
gender dengan menggunakan paradigma fungsionalisme dalam feminisme dan paradigma

Page | 3
konflik dalam feminisme.

I.2 Tujuan Penulisan


Makalah ini bertujuan untuk menganalisis ketidakadilan yang terjadi pada wanita di
Indonesia, serta mencari tahu apa yang menyebabkan ketidakadilan tersebut dapat terjadi
berdasarkan paradigma yang menyangkut isu gender.

I.3 Perumusan Masalah


1. Apa yang menyebabkan terjadinya ketidakadilan terhadap kaum perempuan di
Indonesia berdasarkan paradigma Konflik Marxisme, Konflik Radikal,
fungsionalis, dan Modernisasi
2. Bagaimana bentuk – bentuk ketidakadilan tersebut
3. Bagaimana Solusi yang tepat untuk menaggulangi masalah ketidakadilan
tersebut.
4.
I.4 Metode Penulisan
Metode penulisan yang dipakai oleh kelompok kami adalah metode pustaka
dengan membaca literatur-literatur yang kami dapat dan mencari sumber-sumber lainnya
dari buku yang dijadikan acuan. Selain itu, penulis juga mencari bahan-bahan yang
dibutuhkan lewat internet serta berdiskusi dalam menganalisis permasalahan yang kami
bahas.

I.5 Sistematika Penulisan


Bab I Pendahuluan
I.1. Latar Belakang
I.2. Tujuan Penulisan
I.3. Perumusan Masalah
I.4. Metode Penulisan
I.5. Sistematika Penulisan
Bab II Kerangka Teori
II.1 Gender

Page | 4
II.2. Peran
II.3. Pink Collar-job
II.4. Feminisme dan perubahan sosial
II.5. Teori Feminisme Liberal
II.6. Feminisme Marxis
Bab III Analisis
III.1. Ketidakadilan Berdasarkan Paradigma konflik Marxisme
III.2. Ketidakadilan Pada Dunia Kesehatan Dan Sosial Berdasarkan Paradigma
Konflik Radikal
III.3. Ketidakadlian Berdasarkan Paradigma Fungsionalisme
III.4. Ketidakadilan Berdasarkan Teori Modernisasi serta Kritik Terhadap Teori
Tersebut
Bab IV Penutup
IV. 1. Kesimpulan
IV. 2. Saran

Page | 5
BAB II
KERANGKA PEMIKIRAN

II.1 Gender
Menurut definisi Giddens (1989:158), konsep gender menyangkut ‖the
psychological, social and cultural differences between males and females‖—perbedaan
psikologis, sosial, dan budaya antara laki-laki dan perempuan.
Macionis (1996:240) mendefinisikan gender sebagai ‖the significance a society
attaches to biological categories of msle and female‖—arti penting yang diberikan
masyarakat pada kategori biologis laki-laki dan perempuan.
Menurut Laswell dan Laswell (1987:51) mendefinisikan gender sebagai ―the
knowledge and awareness, whether conscious or unconscious, that one belongs to see
one sex and not to another‖—pada pengetahuan dan kesadaran,baik secara sadar
maupun tidak , bahwa diri seseorang tergolong dalam suatu jenis kelamin tertentu dan
bukan dalam jenis kelamin lain.
Sedangkan pengertian gender yang dimaksud peneliti disini berbeda dengan apa
yang dimaksudkan dengan jenis kelamin (sex) yang bersifat biologis, gender merupakan
hasil sebuah konstruksi masyarakat yang mengacu terhadap unsur budaya, dan sosial
dan kaitannya dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan, seperti pada pernyataan
Laswell dan Laswell (1982:31)
“We are born male or female, but we learn to be masculine or feminine”
bahwa ketika dilahirkan, kita tidak dapat memilih untuk menjadi laki-laki atau
perempuan tetapi kita dapat belajar untuk menjadi maskulin atau feminim.

II.2. Peran

Definisi Peran ialah ‖the dynamic aspect of a status‖ (1968:358). Menurut Linton
seseorang menjalankan peran manakala ia menjalankan hak dan kewajiban yang
merupakan statusnya 1 . Dalam relasi, setiap orang memainkan suatu peranan. Peranan

1
Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi, Jakarta: Penerbit FE UI, 2004, hal 55

Page | 6
ialah tingkah laku sesuai dengan skenario yang menjawab (atau tidak menjawab) harapan
orang lain tentang tingkah laku kita (role expectations). Dalam kenyataannya pun, kita
sebagai anggota masyarakat mempunyai perannya masing-masing, dan dengan
hubungannya dengan gender, terdapat pembedaan peran yang dilakukan oleh masyarakat
akibat dari konstruksi sosial.

II.3. Pink Collar-job


Yang penulis maksud dengan pink collar-job adalah pekerjaan yang biasanya
dilakukan khusus oleh wanita, adanya diskriminasi secara horizontallah yang
menyebabkan adanya istilah ini. Contoh pink-collar job : sekertaris, resepsionis, perawat,
dll.

II.4. Feminisme dan perubahan sosial


Feminisme sebagai kumpulan pemikiran, pendirian, dan aksi berangkat dari
kesadaran, asumsi, dan kepedulian terhadap ketidakadilan, ketidak setaraan, penindasan
serta merupakan gerakan yang berusaha menghentikan segala bentuk ketidakadilan dan
dan diskriminasi. Dengan kata lain, kaum feminis ternyata memiliki alasan dan analisis
berbeda – beda mengenai mengapa dan bagaimana ketidakadilan, diskriminasi maupun
ketidaksetaraan terhadap kaum perempuan beroprasi sehingga terdapat berbagai macam
aliran feminisme.

II.5. Teori Feminisme Liberal


Teori modernisasi dan pembangunan tentang kaum perempuan pada dasarnya
bersumber dari asumsi kaum liberal pada umumnya, sejak awal, perempuan dianggap
sebagai masalah (anomaly) bagi ekonomi modern daripada laki – laki. Hanya sedikit
sekali perempuan diakui peran tradisionalnya, sebagai peran ‖efektivitas‖ perempuan
dalam keluarga dianggap cocok bagi zaman modern dan bagi teori pembangunan Talcott
Parson.
Feminisme liberal muncul sebagai reaksi terhadap teori pembangunan liberal.
Misalnya saja, kaum liberal dalam menganalisis mengapa posisi kaum perempuan
tertinggal dalam proses pembangunan, disebabkan oleh faktor kaum perempuan sendiri

Page | 7
yang tidak sanggup bersaing dan itu kemudian dicari penyebabnya pada sifat tradisional
yang ada pada mereka.

II.6. Feminisme Marxis


Pendirian dasar penganut Marxisme adalah bahwa women question harus
diletakan sebagai bagian dari kritik terhadap kapitalisme, terutama pada moda sistem
produksi. Dengan demikian, ketika berbicara mengenai posisi kaum perempuan,
penganut paham Marxisme mempunyai asumsi bahwa rendahnya status kaum perempuan
bersumber pada struktur produksi. Sementara itu, Marx memang sedikit sekali berbicara
soal kaum perempuan dalam sistem kapitalisme. Dua komentarnya selalu dikutip oleh
penganut Marxisme ketika membahas posisi kaum perempuan adalah bahwa hubungan
antara suami dan istri sama seperti hubungan borjuis dan proletar, dan tingkat kemajuan
masyarakat diukur dari status kaum perempuannya. Situasi tersebut mendorong
munculnya analisis feminisme Marxis yang melihat penindasan perempuan sebagai
realitas objektif. Dinyatakan bahwa penindasan kaum perempuan merupakan bagian dari
penindasan kelas dalam relasi produksi. 2

2
Dr. Mansour Fakiih, Runtuhnya Teori Pembangunan Dan Globalisasi (Pustaka Pelajar,2001) Hal 143-153

Page | 8
BAB III
ANALISIS

III.1. Ketidakadilan Berdasarkan Paradigma konflik Marxisme


Indonesia adalah sebuah negara berkembang yang sedang menjalankan
pembangunan ekonomi, sosial dan politik. Sejak zaman orde baru pembangunan skala
besarpun dimulai, melalui program pemerintah REPELITA (Rencana Pembangunan Lima
Tahun). Pertumbuhan ekonomi Indonesia pernah mencapai angka 7,2 persen. Sebuah
angka yang sangat baik untuk sebuah negara berkembang, mengingat Indonesia belum
lama merdeka setelah dijajah selama tiga setengah abad, sehingga sempat membuat
Indonesia menjadi negara yang kuat dan disegani. Pembangunan tersebut ditandai dengan
masuknya investasi asing dari negara – negara kapitalis. Menurut teori ekonom W.W.
Rostow Indonesia sedang mengalami tahapan Pra Lepas Landas. Hal ini ditandai dengan
mulai beralihnya ekonomi agrikultur menjadi industrialisasi.
Seiring berjalannya industrialisasi membutuhkan banyak sekali tenaga kerja untuk
proses produksi. Kaum perempuan yang sebelumnya hanya bekerja di rumah,mengurus
rumah tangga mulai terlibat sebagai tenaga kerja. Hal ini adalah sebuah nilai positif
terhadap perkembangan kaum perempuan. Akan tetapi timbulah sebuah pertanyaan,
apakah benar hal tersebut adalah kemajuan untuk kaum perempuan. Ternyata tidak
selamanya benar karena jika melihat pada proses produksi tersebut jelaslah disana ada
sebuah eksploitasi, penindasan dan ketidakadilan terhadap kaum perempuan. Hal tersebut
dapat dilihat dari jam kerja, peranan dalam proses produksi, upah kerja, jaminan
keselamatan, dan lain – lainnya.
Merujuk pada teori konflik (Marxisme) sebenarnya Marx sendiri sangat sedikit
sekali berbicara mengenai kaum perempuan dalam sistem kapitalisme. Akan tetapi dua
komentarnya yang selalu dikutip oleh penganut Marxisme ketika membahas posisi kaum
perempuan adalah bahwa hubungan suami dan istri sama seperti hubungan kaum proletar
dengan kaum borjuis, dan tingkat kemajuan masyarakat dapat diukur dari status kaum
perempuannya. Marx menganggap Women Question harus diletakkan sebagai bagian dari
kritik terhadap Kapitalisme. Rendahnya posisi kaum perempuan bersumber pada struktur
produksi, serta penindasan terhadap kaum perempuan adalah bagian dari penindasan

Page | 9
kelas dalam relasi produksi.
Untuk membahas hal ini lebih lanjut kita harus membahas dulu kapitalisme
karena sumber permasalahan ada pada sistem ekonomi kapitalisme yang menggunakan
industri sebagai ujung tombak dari pembangunan ekonomi. Kapitalisme pada dasarnya
berakar dari filsafat ekonomi klasik, terutama pada ajaran Adam Smith yang dituangkan
pada karyanya yaitu The Wealth Of Nation (1776). Mereka percaya kepada kebebasan
individu (personal Liberty), pemilikan pribadi (private properti), dan inisiatif individu
serta usaha swasta (private enterprise). Kepercayaan dan pandangan ini disebut liberal
dibandingkan dengan pandangan di lain waktu itu yakni Merkantilisme yang membatasi
pandangan dan industri. Ada sejumlah pandangan dari para pemikir ekonomi klasik yang
mempengaruhi teori – teori perubahan sosial dikemudian hari. Pertama, kebebasan akan
bidang ekonomi yang memberi isyarat perlunya membatasi atau peranan sangat minimum
kepada pemerintah dalam bidang ekonomi. Kedua, mereka juga percaya kepada ekonomi
pasar yang diletakkan diatas persaingan bebas sistem persaingan atau kompetisi bebas
dan kompetisi sempurna. Ketiga, mereka percaya bahwa memenuhi kepentingan individu
berarti memenuhi kepentingan masyarakat., mereka percaya kepada Harmony of Interest.
Keempat, mereka menitikberatkan kepada kegiatan ekonomi, terutama pada industri.
Industrialisasi berasal dari kata Industrialize yang artinya pengembangan industri.
Industrialisasi adalah sarana yang digunakan kapitalis di dalam melakukan
pengembangan modal melalui investasi pada bidang industri. Hal tersebut didasarkan
pada pandangan teori ekonomi klasik yaitu industri adalah bidang yang paling
menguntungkan di dalam pengembangan modal. Yang menjadi sasaran pembangunan
basis industri yang dilakukan oleh kapitalis adalah negara – negara berkembang
alasannya adalah pertama, upah buruh(Human Resources) pada negara tersebut tergolong
rendah sehingga dapat menekan biaya produksi. Kedua, negara berkembang memiliki
sumber daya alam(Natural Resources) yang sangat berlimpah dan banyak belum dapat
dimanfaatkan secara maksimal.
Dari teori tersebut terlihat jelas didalam proses produksi terdapat sebuah
ketidakadilan, penindasan dan ketidaksetaraan terhadap kaum wanita. Pertama Indonesia
adalah negara berkembang yang sumber daya manusianya belum memiliki keahlian yang
baik terutama kaum perempuan karena selama ini kaum perempuan Indonesia lebih

Page | 10
banyak bekerja di dapur. Sehingga kaum perempuan dapat dapat dibayar dengan upah
yang lebih murah untuk menekan biaya produksi. Kedua, lemahnya regulasi pemerintah
membuat banyak perusahaan yang mempekerjakan perempuan dengan jam kerja yang
melebihi jam kerja yang ditentukan. Hal ini diperuntukkan memperbesar volume
produksi. Ketiga pekerja perempuan tidak dipedulikan kesejahteraannya, dengan tidak
adanya jaminan kesehatan, jaminan keselamatan dan lainnya.
Jaminan kesehatan adalah sebuah fasilitas yang seharusnya diberikan oleh
perusahaan karena jam kerja yang tinggi dapat menyebabkan buruh wanita jatuh sakit.
Tetapi banyak perusahaan yang tidak memberikan jaminan kesehatan untuk memangkas
biaya operasional. Betapa sangat tidak dihargainya tenaga buruh wanita. Lalu buruh
wanita juga sangat rentan terhadap Pemutusan Hubungan Kerja(PHK) oleh perusahaan.
Banyak contoh yang terjadi ketika seorang buruh wanita menuntut haknya, atau
melakukan cuti hamil yang lama terjadilah hal tersebut. Semena – menanya tindakan
perusahaan karena minimnya pengawasan pemerintah terhadap perusahaan.
Contoh nyata datang lah ke pusat industri yang ada di Indonesia seperti Kawasan
Berikat Nusantara. Disana banyak terdapat pabrik, salah satunya adalah pabrik garmen.
Kaum perempuan dipekerjakan sebagai penjahit bahan pakaian. Mereka dibayar dengan
upah kerja yang rendah dan jam kerja yang tinggi. Hal ini digunakan kaum kapitalis
untuk menekan biaya produksi karena daripada mereka membeli alat produksi seperti
mesin yang memiliki produksi besar biaya yang harus dikeluarkan sangat besar. Tidak
sampai disitu biaya perawatan mesinpun sangat tinggi dan ketika sudah mencapai batas
umur produksinya mesin tersebut harus diganti dengan yang lebih baru. Jadi untuk
memangkas biaya produksi kaum kapitalis lebih memilih memekerjakan kaum
perempuan karena dapat dibayar dengan upah yang rendah.

III.2. Ketidakadilan Pada Dunia Kesehatan Dan Sosial Berdasarkan Paradigma


Radikal
Ternyata ketidakadilan terhadap kaum perempuan tidak hanya ada pada bidang
produksi. Dikutip dari film yang ditayangkan untuk materi perkuliahan Sistem Sosial
Indonesia, pemerintah juga melakukan tindakan diskriminasi terhadap kaum perempuan.
Di film tersebut ditayangkan program pemerintah Orde Baru untuk menekan tingkat

Page | 11
kenaikan jumlah penduduk, pemerintah melakukan program KB (keluarga Berencana).
Program tersebut memang menuai keberhasilan, akan tetapi sebuah kasus nyata yang
terjadi di Nusa Tenggara Timur kaum perempuan sangat dirugikan terhadap program
tersebut. Banyak ibu – ibu yang mengalami pendarahan bahkan kematian setelah
menjalani program KB tersebut. Hal ini dikarenakan pemerintah menjalankan program
KB tersebut tanpa menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai untuk memantau
kesehatan perempuan yang menjalani program KB tersebut. Bukan hanya itu, program
KB sebenarnya bukan hanya untuk perempuan tetapi juga laki – laki tetapi mengapa
justru hanya perempuan yang ditekan untuk menjalankan program tersebut. Inilah bentuk
diskriminasi yang dialami perempuan.
Di Indonesia sendiri ada budaya patriarkhi sangat kuat, dan mempengaruhi
ketidakterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan. Hal tersebut menyebabkan
kepentingan perempuan tidak diakomodir dalam berbagai kebijakan dan program yang
ada baik ditingkat lokal maupun komunitas yang lebih luas. Budaya ini juga
mendudukkan perempuan sebagai objek (khususnya objek seksual) sehingga perempun
menjadi rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan (fisik, seksual, psikis dan ekonomi.
Hal ini didukung oleh lemahnya akses informasi, pembatasan ruang gerak perempuan,
munculnya steriotip. beban ganda — sebagai pekerja domestik sekaligus publik— nyata-
nyata harus ditanggung perempuan. Budaya tersebut pada umumnya dilegitimasi oleh
berbagai tafsir ajaran agama dan institusi keagamaan.
Dalam bidang politik kaum perempuan juga tidak mendapatkan akses yang
memadai. Pada masa Orde Baru hanya perempuan yang mempunyai kedekatan dengan
penguasalah yang bisa mendapatkan akses untuk masuk kedalam dunia politik. Pada
masa Orde baru hanya sekitar delapan persen jumlah wanita yang dapat duduk di
legislatif. Hal ini terjadi akibat dari budaya patriarkhi tersebut. Perempuan dianggap tidak
kompeten di dalam dunia politik.

III.3. Ketidakadlian Berdasarkan Paradigma Fungsionalisme


Sekarang kita beralih kepada teori fungsionalisme yang juga membahas tentang
ketidakadilan terhadap kaum perempuan melalui teori modernisasi dan pembangunan.
Mereka berasumsi mengapa kaum perempuan tertinggal dalam proses pembangunan

Page | 12
disebabkan oleh faktor kaum perempuannya sendiri yang tidak sanggup untuk bersaing
karena sifat tradisional yang ada pada mereka. Kaum perempuan tertinggal karena sikap
kebodohan dan irasional terhadap kepercayaan sikap tradisional mereka. Masyarakat
tradisional didominasi oleh laki – laki yang bersifat otoriter. Ivan Illich pada bukunya
yang berjudul Matinya Gender, mengatakan wanita ibarat siput yang memanggul
cangkangnya yang besar dan berat. Semakin membesar dirinya maka semakin besar pula
cangkangnya sehingga menyebabkan jalannya semakin lambat. Perempuan memiliki
sebuah tugas domestik yang berat seperti mengungus rumah tangga. Hal tersebut sudah
membebaninya apalagi ketika ia ingin maju seperti pria maka semakin berat pula beban
yang ditanggungnya.

III.4. Ketidakadilan Berdasarkan Teori Modernisasi serta Kritik Terhadap Teori


Tersebut
Kaum modernis dan liberal beranggapan agar kaum perempuan mendapatkan
kesetaraan dan dapat mengejar ketertinggalannya harus melalui modernisasi yaitu
menjadi masyarakat modern yang bersifat demokratis dan egaliter meskipun dalam
jangka waktu panjang. Proses modernisasi itu sendiri serta pengelolaan kebijakan dan
program pembangunan, dianggap sebagai Sex-neutral dan lambat laun juga akan
menguntungkan kaum perermpuan. Kaum ini berasumsi teknologilah yang akan
membebaskan kaum perempuan dari ketidakadilan.
Padahal jika kita kembali kepada teori Marx justru teknologi lah yang menjadikan
posisi kaum wanita lebih rendah dari pada teknologi itu sendiri. Mengapa demikian,
karena teknologi itu mahal harganya sehingga lebih baik menggunakan tenaga kaum
perempuan sehingga dapat menekan biaya produksi. Budaya patriarki yang ada di
Indonesia yang tadinya dianggap membuat kaum perempuan tidak dapat maju justru
dijadikan dalih oleh kaum kapitalis untuk memberikan upah yang rendah terhadap buruh
wanita. Karena laki – laki adalah seorang kepala keluarga yang mengurusi wanita, jadi
wanita berhak mendapat upah yang lebih kecil daripada laki – laki. Lalu tuntutan –
tuntutan kaum perempuan akan fasiltas dan akses untuk lebih maju pun ditolak dengan
menggunakan dalih wanita bersifat tradisional sehingga tidak produktif. Adapun program

Page | 13
bantuan yang ditujukan kepada kaum perempuan lebih bersifat kepada ibu seperti
program gizi dan balita sehat.
Jadi jelaslah bahwa sebenarnya teori yang tersebut bukan sebuah jalan keluar
terhadap diskriminasi yang didapatkan oleh kaum perempuan melainkan sebuah senjata
untuk semakin merendahkan kaum perempuan.

Page | 14
BAB IV
PENUTUP

IV. 1. Kesimpulan

Setelah menganalisis dua perspektif atau paradigma dalam feminisme berkaitan


dengan isu gender pada perempuan di Indonesia, kami dapat menyimpulkan bahwa
kelompok kami kontra terhadap paradigma fungsionalis dalam feminisme dan
modernisasi. Kaum fungsionalis berasumsi bahwa kaum perempuan tertinggal dalam
proses pembangunan disebabkan oleh faktor kaum perempuannya sendiri yang tidak
sanggup untuk bersaing karena sifat tradisional yang ada pada mereka. Kaum perempuan
tertinggal karena sikap kebodohan dan irasional terhadap kepercayaan sikap tradisional
mereka, sedangkan masyarakat tradisional didominasi oleh laki – laki yang bersifat
otoriter. Kaum modernisasi ini berasumsi teknologilah yang akan membebaskan kaum
perempuan dari ketidakadilan. Sedangkan jika kita kembali kepada teori Marx justru
teknologi lah yang menjadikan posisi kaum wanita lebih rendah dari pada teknologi itu
sendiri karena teknologi itu mahal harganya sehingga lebih baik menggunakan tenaga
kaum perempuan sehingga dapat menekan biaya produksi. Inilah sebabnya kami menolak
atau bersikap kontra tehadap kedua paradigma tersebut, karena sebenarnya kedua
paradigma inilah yang dijadikan senjata untuk semakin merendahkan kaum perempuan.
Dalam isu adanya ketidakadilan gender yang dialami oleh perempuan, kami lebih
memilih atau setuju terhadap paradigma konflik dalam feminisme. Paradigma ini
menyatakan bahwa ketidakadilan gender yang dialami perempuan di Indonesia lebih
disebabkan karena adanya sistem budaya patriarkhi yang telah mendarah daging dalam
masyarakat Indonesia dan sulit untuk segera dirubah. Selain itu, paradigma ini juga
melihat adanya kesalahan struktur dalam masyarakat yang menekan perempuan sehingga
akhirnya membuat ruang gerak perempuan menjadi terbatas dan perempuan tidak dapat
berkembang.

IV. 2. Saran

Ketidakadilan gender bukanlah masalah yang dapat diatasi dengan mudah dalam waktu

Page | 15
yang singkat hanya dengan melakukan/mengaplikasikan beberapa cara dalam masyarakat.
Untuk dapat mengatasi masalah ketidakadilan gender yang terjadi di masyarakat, dalam
hal ini masyarakat Indonesia khususnya, diperlukan suatu usaha bersama dari seluruh
aspek masyarakat, juga tekad yang kuat dari para pelaksananya. Jika kita memperhatikan
berbagai bentuk ketidakadilan gender yang dialami buruh perempuan di Indonesia,
banyak di antaranya yang terjadi akibat minimnya pengawasan pemerintah terhadap para
pengusaha yang mempekerjakan buruh perempuan, sehingga mengakibatkan terjadinya
berbagai penyelewengan seperti penerapan jam kerja yang berlebihan bagi para buruh
perempuan, pemberian upah rendah pada buruh perempuan, tidak diberikannya jaminan
kesehatan serta berbagai hak reproduksi (seperti cuti melahirkan, dan lain-lain) pada
buruh perempuan, serta kondisi buruh perempuan yang relatif lebih rentan mengalami
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Untuk mengatasi hal ini, saran yang dapat diajukan
kelompok kami adalah bahwa pemerintah perlu membentuk suatu badan pengawas untuk
mengawasi kehidupan para buruh, terutama buruh perempuan, di Indonesia. badan
pengawas tersebut bertugas mengawasi pemberian berbagai hak-hak buruh, terutama
buruh perempuan, juga pengaplikasian dari hak-hak tersebut. Badan tersebut merupakan
badan yang lepas dari perusahaan, sehingga keberadaannya tidak dapat didikte oleh
perusahaan.

Page | 16
DAFTAR PUSTAKA

Fakih, Mansour. 1996. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta : Pustaka

Pelajar.

Fakih, Mansour. 2001. Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta :

Pustaka Pelajar.

Fakih, Mansour. 2002. Jalan Lain Manifesto Intelektual Organik. Yogyakarta : Pustaka

Pelajar.

Illich, Ivan. 1998. Matinya Gender. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Sunarjiati, Ari. 2007. ―Pemiskinan Terhadap Buruh Perempuan‖ dalam Jurnal Perempuan.

Menyoal Buruh, Mengapa Mereka Dieksploitasi?‖ No. 56. Jakarta : PT Percetakan

Penebar Swadaya.

Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta : Penerbit FE UI.

Kelompok Perempuan untuk Keadilan Buruh. Tanpa judul. Http://www.lbh-

apik.or.id/kpkb-profil.htm, diakses pada 7 April 2008, pukul 22.00.

Page | 17