Anda di halaman 1dari 6

TEKNIK ELEKTRO TELEKOMUNIKASI DAN INFORMASI

Tugas Kinerja sistem


komunikasi
Parameter Parameter Pada Komunikasi Analog Dan
Digital
MUH. ISFAN TAUHID
D41112292

Sinyal yang ditransmisikan dari satu titik ke titik lain dapat diklasifikasikan mempunyai
dua bagian, yaitu satu bagian yang memuat informasi dan bagian yang lain adalah bagian yang
tidak dikehendaki; bagian ini selanjutnya disebut derau (noise). Pengaruh derau yang tergabung
pada sinyal informasi merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam rangka menyediakan
sistem telekomunikasi yang dapat diandalkan. Sifat derau adalah mengganggu sinyal informasi,
sehingga sinyal informasi yang diterima pada sisi penerima tidak sama dengan sinyal aslinya.
Pada kasus yang terburuk, sinyal informasi tidak dapat direkontruksi kembali dan
komunikasi menjadi gagal dilaksanakan. Mekanisme deteksi dan koreksi perangkat keras dan
lunak dibangun pada sistem telekomunikasi. Mekanisme ini akan digunakan untuk
mengidentifikasi dan juga mengoreksi kesalahan yang diakibatkan oleh derau. Gambar berikut
memperlihatkan ilustrasi dimana derau mempengaruhi sinyal informasi.

Beberapa perangkat matematis digunakan untuk mengevaluasi pengaruh derau berdasar besarnya
derau (relatif terhadap besarnya sinyal). Pengukuran yang biasa dilakukan antara lain:
1.SNR (Signal to Noise Ratio)
2.Noise Factor dan Noise Figure
3.BER (Bit Error Rate)
4.Kapasitas kanal

A. SNR (Signal to Noise Ratio)


SNR atau Signal to Noise Ratio atau biasanya dilambangkan dengan
merupakan besarnya rasio/perbandingan antara daya sinyal utama dan daya
noise/derau yang mengganggu sinyal utama(untuk mengukur kualitas sinyal yang
ditransmisikan).

SNR biasanya diukur pada ujung penerimaan dari sistem telekomunikasi sebelum
proses deteksi sinyal. Secara matematis, SNR dinyatakan dalam satuan desibel (dB)
dengan menggunakan rumusan:

Jika dianggap sinyal komposit (informasi dan derau) diukur pada resistor yang
sama (R1 = R2), maka SNR juga dapat dinyatakan sebagai perbandingan tegangan sinyal
dengan tegangan derau. Dalam desibell, dapat diformulasikan sebagai berikut:

B. Carrier To Noise Ratio


Nilai dari C/N total merupakan penjumlahan dari C/N up-link dan C/N down-link.
Carrier To Noise Ratio Total (C/N) adalah parameter yang melambangkan kualitas
Tot

daya carrier yang diterima oleh perangkat akhir dalam komunikasi satelit (stasiun bumi
penerima). (C/N) yang selanjutnya akan dipakai untuk mengetahui nilai Eb/No pada
Tot

bagian modem. (C/N)

dapat dihitung dengan persamaan dengan menggunakan rumus


Tot

sebagai berikut:
-1

-1 -1

C/N = ((C/N ) + (C/N ) )


T

up

dn

Untuk menentukan nilai C/N uplink digunakan rumus sebagai berikut:

= uplink path loss (dB)

Tot

(G/T)

= Gain to Noise Temperature Ratio Uplink (dB/K)

= konstanta Boltzman =1,3803 10

= bandwidth frekuensi (MHz)

IBO

= input back off = pengurangan nilai input yaitu berupa kuat sinyal yang
diterima satelit dibanding masukan maksimal (dB)

up

-23

(J/K)

Sedangkan Untuk menentukan nilai C/N downlink digunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan :
EIRPsat

= EIRP saturasi dari satelit (dB)

Ltot

= downlink path loss (dB)

(G/T)dn

= Gain to Noise Temperature Ratio pada antenna Penerima satelit (dB)

= konstanta Boltzman =1,3803 10-23 J/K

= bandwidth frekuensi (Hz)

C. Eb/N0
Eb/N0 adalah perbandingan energi tiap bit yang diterima dengan satuan Watt/detik
dengan rapatnya daya spektral noise dengan satuan W/Hz. Besaran ini juga menunjukkan
kualitas dari sinyal Radio Frequency (RF) yang diterima oleh modem. Parameter yang
mempengaruhi besaran Eb/No adalah kecepatan transmisi data dan derau bandwidth dari
demodulator.
Persamaan untuk mencari Eb/No adalah

Keterangan :
(C/N)

= Carrier to Noise Ratio (C/N) total

Tot

BW

= bandwidth allocated (Hz)

All

IR

= Information Rate (bps)

Hubungan Eb/No dan SNR


Sering dijumpai dalam paper atau sumber tertulis lainnya bentuk performa transmisi data
dalam sistem telekomunikasi berdimensi BER vs Eb/No. Lalu ada pula dalam dimensi
BER vs SNR. Lalu mana yang benar ?
Dua-dua nya bisa digunakan. Eb/No sering dipakai karena orang ingin melihat sejauh
mana performa dari shannon limit. SNR dipakai orang yang hanya ingin melihat power
sinyal keseluruhan, tidak memperdulikan seberapa besar energi bit, sejauh mana
performanya dari batas shannon limit, apakah menggunakan guard interval atau tidak.
Berikut konversi dari SNR ke Eb/No atau sebaliknya :

Dimana R adalah bit rate, M adalah jumlah bit untuk setiap simbol konstelasi, J adalah
sampling rate dan G adalah guard interval ratio.

D. Throughput
Throughput merupakan jumlah bit yang berhasil dikirim pada suatu jaringan.
Throughput adalah kemampuan sebenarnya suatu jaringan dalam melakukan pengiriman
data. Biasanya throughput selalu dikaitkan dengan bandwidth. Karena throughput
memang bisa disebut juga dengan bandwidth dalam kondisi yang sebenarnya. Bandwidth
lebih bersifat fix sementara throughput sifatnya adalah dinamis tergantung trafik yang
sedang terjadi. Rumus yang digunakan untuk mencari throughput adalah Paket yang
diterima dibagi dengan

E. Delay

Delay merupakan waktu yang dibutuhkan untuk sebuah paket untuk mencapai tujuan,
karena adanya antrian yang panjang, atau mengambil rute yang lain untuk menghindari
kemacetan. Delay dapat di cari dengan membagi antara panjang paket (L, packet length
(bit/s)) di bagi dengan link bandwith (R, link bandwith (bit/s)).

F. Jitter
Jitter merupakan variasi delay antar paket yang terjadi pada jaringan IP. Jitter dapat
menyebabkan sampling di sisi penerima menjadi tidak tepat sasaran, sehingga informasi
menjadi rusak. Besarnya nilai jitter akan sangat dipengaruhi oleh variasi beban trafik dan
besarnya tumbukan antar paket (collision) yang ada dalam jaringan IP. Semakin besar
beban trafik di dalam jaringan akan menyebabkan semakin besar pula peluang terjadinya
congestion dengan demikian nilai jitter-nya akan semakin besar. Semakin besar nilai jitter
akan mengakibatkan nilai QoS akan semakin turun. Untuk mendapatkan nilai QoS
jaringan yang baik, nilai jitter harus dijaga seminimum mungkin.

G. Carrier to Noise Density