Anda di halaman 1dari 7

Konflik agraria yang terjadi di Bima, Mesuji, Pulau Padang dan berbagai tempat lain di

Indonesia kini mendapatkan perhatian dari media dan masyarakat luas. Namun, masih
ada ratusan kasus konflik agraria lain yang luput dari perhatian media. Konsorsium
Pembaruan Agraria (KPA) dalam laporan akhir tahunnya mencatat, tahun 2011 saja
terjadi 163 konflik agraria di seluruh Indonesia yang menewaskan 24 orang petani dan
rakyat yang menggarap lahan.
Berbagai konflik pertanahan tersebut mencuatkan kembali wacana tentang perlunya
reformasi agraria demi mencegah terjadinya konflik serupa dimasa depan. Sebenarnya,
wacana publik mengenai reformasi agraria tidak pernah berhenti. Berbagai kalangan
menekankan perlunya diselenggarakan reformasi agraria guna menjamin hak-hak
rakyat, khususnya petani, terhadap tanah sebagai alat produksi yang paling vital dalam
sistem produksi pertanian maupun perladangan. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud
dengan reformasi agraria? Apakah reformasi agraria pasti akan berpihak pada
kepentingan kaum tani?
Definisi Reformasi Agraria
Definisi reformasi agraria dalam kajian ekonomi politik tidaklah tunggal. Secara
etimologis reforma agraria berasal dari bahasa Spanyol, yang memiliki arti suatu upaya
perubahan atau perombakan sosial yang dilakukan secara sadar, guna
mentransformasikan struktur agraria ke arah sistem agraria yang lebih sehat dan
merata bagi pengembangan pertanian dan kesejahteraan masyarakat desa (Jurnal
Dialektika LPPMD UNPAD, 2006).
Sementara Krishna Ghimire dalam bukunya yang berjudul Land Reform & Peasant
Livelihoods: The Social Dynamics of Rural Poverty & Agrarian Reform In Developing
Countries (2001), mendefinisikan reformasi agraria atau land reform sebagai perubahan
besar dalam struktur agraria, yang membawa peningkatan akses petani miskin
pada lahan, serta kepastian penguasaan (tenure) bagi mereka yang menggarap
lahan. Termasuk juga akses pada input pertanian, pasar serta jasa-jasa dan
kebutuhan pendampingan lainnya.
Dari kedua definisi tersebut, dapatalah ditarik suatu kesimpulan: reformasi agraria
merupakan suatu perubahan dalam struktur agraria dengan tujuan peningkatan akses
kaum tani miskin akan penguasaan tanah. Jadi pada hakekatnya, reformasi agraria
dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan kaum tani miskin.

Setelah kaum tani meningkat kesejahteraannya, lalu apa nilai tambah yang diperoleh
negara? Sebuah jawaban jitu diberikan oleh Rehman Sobhan, seorang ekonom
terkemuka dari Bangladesh dalam buku karyanya yang berjudul Agrarian Reform and
Social Transformation: Preconditions for Development (1993). Setelah menganalisis
program reformasi agraria yang telah berlangung di 36 negara di seluruh dunia, beliau
menarik kesimpulan bahwa bila sebuah negara ingin mewujudkan penghapusan
kemiskinan di pedesaan serta mengakselerasikan segala pembangunan ekonomi, maka
tidak ada alternatif lain selain melakukan reformasi agraria yang radikal. Reformasi
agraria tersebut akan mendistribusikan kembali tanah-tanah secara merata bagi
sebagian besar rakyat yang tak bertanah dan yang kekurangan tanah. Hal itu dengan
sendirinya dapat menghapuskan secara total penguasaan tanah yang dominan dari
kelas-kelas yang lama (feodal) maupun baru (kapitalis) di pedesaan.
Pemerataan penguasaan tanah di pedesaan sebagai hasil dari reformasi agraria akan
menghasilkan peningkatan kesejahteraan warga desa yang pada umumnya petani
gurem atau buruh tani. Peningkatan kesejahteraan tersebut akan menimbulkan
konsekuensi peningkatan daya beli warga desa. Hal ini akan menjadi pasar potensial
bagi produk-produk industri nasional, yang, pada akhirnya, dapat membantu proses
industrialisasi nasional sebagai fondasi bagi kemandirian ekonomi bangsa.
Salah satu contoh keberhasilan reformasi (bahkan revolusi) agraria yang fenomenal
adalah revolusi agraria pada akhir abad ke-18 di Perancis yang menghancurkan kelas
aristokrasi feodal dan melahirkan pertanian kapitalis yang berbasiskan pemilikan tanah
skala kecil. Berbagai negara yang juga terbilang sukses menyelenggarakan reformasi
agraria dan menciptakan pasar domestik yang potensial adalah Jepang (pasca Restorasi
Meiji abad 19), Korea Selatan (1945-1953), Mesir (pada masa pemerintahan Gamal
Abdul Nasser), Libya (setelah Kol. Muammar Khadafi berkuasa tahun 1969), Kuba
(pasca revolusi 1959), Cina (pasca revolusi 1949, meskipun di-reform kembali pada
dekade 80-an), serta yang faktual adalah Venezuela sebagai bagian dari revolusi sosial
Bolivarian yang digelar Pemerintahan Hugo Chavez sejak ia berkuasa tahun 1998.
Bila ditelaah, berbagai reformasi agraria tersebut memiliki corak yang berbeda pada
masing-masing negara. Ada yang bercorak kapitalistik, sebagai buah perombakan sistem
produksi feodal menuju terbentuknya pasar bebas pertanahan yang berdasarkan
kompetisi modal. Corak semacam ini terjadi di Jepang, Perancis dan Korea. Sementara
adapula yang bertipe sosialis, yakni merubah struktur kepemilikan tanah secara radikal
dari monopoli segelintir tuan tanah, pemilik modal maupun kapitalis birokrat menjadi

pengelolaan tanah oleh para petani kecil dan tak berlahan secara kolektif dan merata.
Dan proses reformasi ini dilakukan secara intensif oleh negara. Hal ini terjadi di Kuba
dan Venezuela.

17 Agustus 1960, Bung Karno telah mengumumkan sebuah rencana sangat penting:
pengesahan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA). Katanya, seraya menegaskan,
UUPA ini akan merombak hak atas tanah dan penggunaan tanah, agar masyarakat adil
dan makmur dapat terselenggara, dan khususnya taraf hidup kaum tani meninggi, dan
taraf hidup seluruh rakyat jelata dapat meningkat.
Lalu, sebulan kemudian, tepatnya 24 September 1960, Bung Karno telah mengesahkan
Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) 1960. Salah satu prinsip dari UUPA ini adalah
bahwa tanah tidak boleh menjadi alat penghisapan, apalagi penghisapan modal asing
terhadap rakyat Indonesia. Karena itu, dalam ketentuan UUPA 1960, telah ditegaskan
keharusan untuk menghapus semua hak eigendom, hukum agrarian buatan kolonial,
domeinverklaring, dan bentuk-bentuk penghisapan lainnya.
Juga, dalam UUPA 1960 ini, telah ditegaskan soal pelaksanaan land reform. Pada satu
sisi, menurut Bung Karno, land-reform berarti penghapusan segala hak-hak asing dan
konsesi-konsesi kolonial di atas tanah, dan mengakhiri penghisapan feudal secara
berangsur-angsur. Pada pihak lain, land-reform berarti memperkuat dan memperluas
pemilikan tanah untuk seluruh rakyat Indonesia, khususnya kaum tani.
>>>
Menurut Iwan Nurdin, aktivis dari Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA), UUPA 1960
adalah pengejawantahan secara konkret dari pasal 33 UUD 1945. UUPA 1960 punya
semangat yang sama dengan pasal 33 UUD 1945, yaitu merombak susunan ekonomi
koloanisme, katanya saat diskusi bertajuk Kembalikan Kedaulatan Bangsa Dengan
Gerakan Pasal 33, di Kantor KPP PRD, Jumat (15/7).
Selain itu, dalam UUPA 1960, agraria tidak diartikan dengan tanah, tetapi agraria
diartikan sebagai tanah, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Jadi,
semangatnya benar-benar pasal 33 UUD 1945 ayat (3).

Sayang sekali, UUPA tidak pernah dijalankan secara konsisten. Terutama di jaman orde
baru, UUPA malah dianggap sebagai produk komunis. Lalu, secara sepihak, rejim orde
baru membuat produk hukum sendiri, seperti UU kehutanan, UU pertambangan, dan
lain-lain, yang tidak mau lagi merujuk pada UUPA 1960.
Di masa reformasi, UUPA 1960 masih terus diselewengkan. Karena tata perundangundangan di masa reformasi tidak mengenal Undang-Undang Pokok. Semua UndangUndang dianggap sejajar, kata Iwan Nurdin.
>>>
Dalam praktek impelementasinya, UUPA 1960 tidak dapat dipisahkan dari UU nomor 2
tahun 1960 tentang perjanjian bagi hasil (PBH) dan program land-reform. Ini satu paket.
Tidak bisa dipisahkan, kata Iwan Nurdin.
Alasannya, karena UUPA 1960 punya mimpi untuk mentransformasikan rumah tangga
tani di desa-desa, yang kekurangan teknologi, kekurangan modal, dan kekurangan
tanah, menjadi struktur ekonomi pedesaan yang modern.
Makanya, UU nomor 2 tahun 1960 tentang bagi hasil itu sangat mirip dengan bagi hasil
dalam dunia industri. Juga tentang land-reformnya dan soal pengadilan sengketa, itu
sama dengan pengadilan hubungan industrial, tegasnya.
Hal di atas, menurut Iwan, menunjukkan bahwa cara pandang UUPA 1960 adalah
menatap masa depan, yaitu modernisasi pertanian. UUPA 1960 tidak mau
mempertahankan rumah tangga pedesaan yang subsisten, yang kekurangan tanah,
modal, teknologi, dan tenaga kerja.
Sayang sekali, kata Iwan, landreform tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kalaupun
berjalan, itu hanya di daerah pedesaan. Itupun hanya mengidentifikasi pada soal
kelebihan batas maksimum kepemilikan tanah, tanah absente, dan tanah negara, bukan
kepada objek-objek landreform yang semestinya: perkebunan-perkebunan bekas milik
kolonial.
Tanpa landreform, negara sesungguhnya akan mengalami kepincangan dalam
menjalankan industrialisasi yang kuat, ujar Iwan.

Ada banyak aktivis yang mempersoalkan masih dianutnya hak guna usaha (erfpacht)
dalam UUPA 1960. Menurut sebagian aktivis itu, keberadaan hak guna usaha telah
menjadi legitimasi terhadap perampasan tanah milik rakyat.
Akan tetapi, Iwan punya pandangan lain soal hak guna usaha dalam UUPA 1960.
Menurutnya, hak guna usaha dalam UUPA 1960 hanya dimiliki oleh serikat-serikat petani
melalui badan usaha yang disebut koperasi. Kalau ada istilah badan usaha milik petani,
maka seharusnya itu adalah petani yang mendapat hak guna usaha. Bukan perusahaanperusahaan perseorangan penerima HGU, tegasnya.
Sekarang ini, struktur pertanian di Indonesia sangat mirip dengan jaman kolonial, dimana
perusahaan asing mengusai tanah, bibit, hingga produk ekspor. Dalam produk CPO,
misalnya, perusahaan asing mengusai tanah, produk derivative, hingga produk
ekspornya. Akibatnya, sekalipun kita dikenal sebagai eksportir terbesar CPO di dunia,
tetapi pemerintah sendiri tidak sanggup mengontrol atau menyediakan harga minyak
goreng murah untuk rakyat.
Dari 9,1 juta hektar kebun sawit di Indonesia, itu hanya dimiliki oleh 264 perusahaan saja
atau sekitar puluhan group saja. Begitu juga dengan pengusaan hutan produksi: dari 41
juta hektar hutan produksi di negara kita, itu hanya dikusaia oleh 366 perusahaan. Tetapi
ada 22 juta rumah tangga petani di Indonesia hanya memiliki 0,3 hektar per rata-rata.
Di masa reformasi, dimana liberalisasi benar-benar gencar dilakukan, tinggal soal tanah
(agraria) yang belum sepenuhnya berhasil diliberalisasikan. Maka, tidak mengherankan
jika Bank Dunia sangat bernafsu untuk menghapus UUPA 1960.
Dengan demikian, UUPA 1960 sekarang merupakan benteng terakhir dalam
mempertahankan kedaulatan kita. Oleh karena itu, maka perjuangan pasal 33 UUD 1945
haruslah memperkuat dan mendorong pelaksanaan UUPA 1960. (Rudi Hartono)

Rasa kemanusiaan dan kebangsaan kita kembali terhenyak oleh aksi brutal kepolisian di
desa Limbang Jaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Bayangkan, polisi negara
sendiri tega menembaki rakyatnya sendiripara petani, ibu-ibu, dan anak-anak tak
berdosa.

Ironisnya, ini kejadian bukan pertama-kali. Namun, seperti anda ketahui, kejadian ini
sudah terjadi berulang-ulang. Tidak sedikit korban jiwa akibat kebrutalan aparatus negara
itu. Sayangnya, negara seakan tak berdaya untuk mencegah kejadian semacam ini terus
berulang.
Apa yang terjadi sebenarnya? Kejadian di Ogan Ilir dan kejadian serupa di berbagai
tempat di Indonesia lainnya hanyalah produk sistem ekonomi-politik yang sedang berlaku
di negara ini. Bagi kami, tindakan kepolisian tak terlepas dari kepentingan sistim
ekonomi-politik dominan saat ini.
Di atas negara kita saat ini sedang berlaku sistim neoliberalisme. Pada level ekonomi
berlaku sistem ekonomi liberal. Sedangkan pada level politik berlaku sistim demokrasi
liberal. Dalam kebijakan ekonomi, neoliberalisme dapat disederhanakan sebagai berikut:
perdagangan bebas barang dan jasa; kebebasan bagi sirkulasi kapital; dan kebebasan
berinvestasi. Pada level politik, demokrasi liberal mengarahkan institusi politik untuk
bekerja sesuai dengan tuntutan liberalisme ekonomi.
Ini terjadi pula pada lapangan agraria: penggunaan tanah sekedar untuk kepentingan
pemilik modal. Ini juga yang terjadi pada jaman kolonial: penerbitan UndangUndang
Agraria (Agrarische Wet) pada tahun 1870. UU tersebut memberi peluang sebesarbesarnya kepada modal swasta, baik Belanda maupun negara asing lainnya, dalam
memanfaatkan tanah untuk kepentingan industri (onderneming) perkebunan.
Dikeluarkanlah hak penguasaan tanah kepada pihak swasta: hak sewa, hak erfprach dan
hak egindom.
Revolusi nasional 1945 mengakhiri sistim agraria berbau kolonial itu. Ini nampak jelas
pada semangat pasal 33 UUD 1945. Esensi dari pasal 33 UUD 1945 adalah pengakuan
atas kedaulatan rakyat atas kekayaan alam dan cabang-cabang produksi yang penting
dan menguasai hajat hidup orang banyak.
Implementasi konkret pasal 33 UUD 1945 ini di lapangan agraria adalah Undang-Undang
Pokok Agraria (UUPA) tahun 1960. UUPA 1960 menegaskan tanah tidak bisa sebagai
alat penghisapan. Selain itu, UUPA 1960 juga menghapus dominasi atau hak istimewa
swasta dalam penguasaan dan pemanfaatan tanah.
UUPA 1960 juga menegaskan pentingnya land-reform atau reforma agraria. Di sini, landreform berarti penghapusan segala hak-hak asing dan konsesi-konsesi kolonial di atas
tanah, dan mengakhiri penghisapan feudal secara berangsur-angsur. Pada pihak

lain, land-reform juga bermakna memperkuat dan memperluas pemilikan tanah untuk
seluruh rakyat Indonesia, khususnya kaum tani.
Sayangnya, UUPA tidak pernah dijalankan dengan konsisten. Begitu rezim orde baru
berkuasa, sistim agraria nasional seakan kembali ke model kolonialistik. Dan, sistim
agraria berbau kolonial ini terus berlanjut hingga sekarang. Sekalipun hal itu
bertentangan dengan semangat revolusi nasional dan UUD 1945.
Rezim SBY sekarang menganut politik agraria kolonialistik. Mereka tak ubahnya dengan
para Gubernur Jenderal di jaman kolonial. Sedangkan para kepala daerah tak ada
bedanya dengan Gubernemen di jaman kolonial. Mereka bekerja untuk melayani
kepentingan pemilik modal. Begitu pula dengan aparatus negara lainnya, termasuk
kepolisian dan Badan Pertanahan (BPN).
Dengan demikian, kecaman tidak cukup hanya diarahkan kepada aparat kepolisian,
melainkan juga kepada rezim berkuasa. Lebih penting lagi, perjuangan mengakhiri
penindasan terhadap petani tak terlepas dengan perjuangan nasional untuk mengakhiri
sistim kolonial. Termasuk perjuangan melikuidasi sistim kolonial di lapangan agraria.