LAPORAN PENDAHULUAN
CHOLELITHIASIS
DI RUANG MAWAR 2 RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA
A. KONSEP PENYAKIT
1. DEFINISI
a. Batu saluran empedu : adanya batu yang terdapat pada
saluran empedu (Duktus Koledocus ).
b. Batu Empedu(kolelitiasis) : adanya batu yang terdapat pada kandung
empedu.
c. Radang empedu (Kolesistitis) : adanya radang pada kandung
empedu.
d. Radang saluran empedu (Kolangitis) : adanya radang pada saluran
empedu.
2. ETIOLOGI
Batu di dalam kandung empedu. Sebagian besar batu tersusun dari
pigmen-pigmen empedu dan kolesterol, selain itu juga tersusun oleh
bilirubin, kalsium dan protein.
Macam-macam batu yang terbentuk antara lain:
a. Batu empedu kolesterol, terjadi karena : kenaikan sekresi kolesterol
dan penurunan produksi empedu.
Faktor lain yang berperan dalam pembentukan batu:
- Infeksi kandung empedu
- Usia yang bertambah
- Obesitas
- Wanita
- Kurang makan sayur
- Obat-obat untuk menurunkan kadar serum kolesterol
b. Batu pigmen empedu, ada dua macam:
- Batu pigmen hitam : terbentuk di dalam kandung empedu dan
disertai hemolisis kronik/sirosis hati tanpa infeksi
Batu pigmen coklat : bentuk lebih besar , berlapis-lapis,
ditemukan disepanjang saluran empedu, disertai bendungan dan
infeksi
c. Batu saluran empedu
Sering dihubungkan dengan divertikula duodenum didaerah vateri.
Ada dugaan bahwa kelainan anatomi atau pengisian divertikula oleh
makanan akan menyebabkan obstruksi intermiten duktus koledokus
dan bendungan ini memudahkan timbulnya infeksi dan pembentukan
batu.
3. MANIFESTASI KLINIK
Penderita batu saluran empedu sering mempunyai gejala-gejala
kronis dan akut.
GEJALA AKUT
TANDA :
1. Epigastrium kanan terasa
nyeri dan spasme
2. Usaha inspirasi dalam
waktu
diraba
pada
kwadran kanan atas
3. Kandung
empedu
membesar dan nyeri
4. Ikterus ringan
GEJALA KRONIS
TANDA:
1. Biasanya tak tampak gambaran pada
abdomen
2. Kadang terdapat nyeri di kwadran
kanan atas
GEJALA:
GEJALA:
1. Rasa nyeri (kolik empedu) 1. Rasa nyeri (kolik empedu), Tempat:
yang Menetap
abdomen
bagian
atas
(mid
2. Mual
dan
epigastrium), Sifat : terpusat di
muntah
epigastrium menyebar ke arah
3. Febris (38,5C)
skapula kanan
2. Nausea dan muntah
3. Intoleransi
dengan
makanan
berlemak
4. Flatulensi
5. Eruktasi (bersendawa)
4. PATOFISIOLOGI & PHATWAY
Batu empedu hampir selalu dibentuk dalam kandung empedu dan
jarang pada saluran empedu lainnya.
Faktor predisposisi yang penting adalah :
-
Perubahan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan susunan
empedu
Statis empedu
Infeksi kandung empedu
Perubahan susunan empedu mungkin merupakan faktor yang
paling penting
pada pembentukan batu empedu. Kolesterol yang
berlebihan akan mengendap dalam kandung empedu .
Stasis empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan
supersaturasi progresif, perubahan susunan kimia dan pengendapan
unsur
tersebut.
Gangguan
kontraksi
kandung
empedu
dapat
menyebabkan stasis. Faktor hormonal khususnya selama kehamilan dapat
dikaitkan dengan perlambatan pengosongan kandung empedu dan
merupakan insiden yang tinggi pada kelompok ini.
Infeksi bakteri dalam saluran empedu dapat memegang peranan
sebagian pada pembentukan batu dengan meningkatkan deskuamasi
seluler dan pembentukan mukus. Mukus meningkatkan viskositas dan
unsur seluler sebagai pusat presipitasi. Infeksi lebih sering sebagai akibat
pembentukan batu empedu dibanding infeksi yang menyebabkan
pembentukan batu.
Batu kandung empedu merupakan gabungan material mirip batu
yang terbentuk di dalam kandung empedu. Pada keadaan normal, asam
empedu, lesitin dan fosfolipid membantu dalam menjaga solubilitas
empedu. Bila empedu menjadi bersaturasi tinggi (supersaturated) oleh
substansi
berpengaruh
(kolesterol,
kalsium,
bilirubin),
akan
berkristalisasi dan membentuk nidus untuk pembentukan batu. Kristal
yang yang terbentuk dalam kandung empedu, kemudian lama-kelamaan
kristal tersebut bertambah ukuran, melebur dan membentuk batu. Faktor
predisposisi merupakan pembentukan batu empedu :
1.
Batu kolesterol
Untuk terbentuknya batu kolesterol diperlukan 3 faktor utama :
a.
Supersaturasi atau penumpukan kolesterol didalam kantung
empedu
b. Berkurangnya kemampuan kandung empedu
c.
Nukleasi atau pembentukan nidus cepat.
Khusus mengenai nukleasi cepat, sekarang telah terbukti bahwa
empedu
pasien
dengan
kolelitiasis
mempunyai
zat
yang
mempercepat waktu nukleasi kolesterol (promotor) sedangkan
empedu orang normal mengandung zat yang menghalangi terjadinya
nukleasi.
Proses degenerasi dan adanya penyakit hati
Penurunan fungsi hati
Penyakit gastrointestinal Gangguan metabolisme
Mal absorpsi garam empedu Penurunan sintesis (pembentukan)
asam empedu
Peningkatan sintesis kolesterol
Berperan sebagai penunjang
iritan pada kandung empedu Supersaturasi (kejenuhan) getah
empedu oleh kolesterol
Peradangan dalam Peningkatan sekresi kolesterol
kandung empedu
Kemudian kolesterol keluar dari getah empedu
Penyakit kandung
empedu (kolesistitis)
Pengendapan kolesterol
Batu empedu
5. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Tes laboratorium :
a.
b.
c.
d.
Leukosit : 12.000 - 15.000 /iu (N : 5000 - 10.000 iu).
Bilirubin : meningkat ringan, (N : < 0,4 mg/dl).
Amilase serum meningkat.( N: 17 - 115 unit/100ml).
Protrombin menurun, bila aliran dari empedu intestin menurun
karena obstruksi
sehingga menyebabkan penurunan absorbsi
vitamin K.(cara Kapilar : 2 - 6 mnt).
USG : menunjukkan adanya bendungan /hambatan , hal ini karena
e.
adanya batu empedu dan distensi saluran empedu ( frekuensi sesuai
dengan prosedur diagnostik)
Endoscopic Retrograde choledocho pancreaticography (ERCP),
f.
bertujuan untuk melihat kandung empedu, tiga cabang saluran
g.
empedu melalui ductus duodenum.
PTC (perkutaneus transhepatik cholengiografi): Pemberian cairan
h.
kontras untuk menentukan adanya batu dan cairan pankreas.
Cholecystogram (untuk Cholesistitis kronik) : menunjukkan adanya
i.
batu di sistim billiar.
CT Scan : menunjukkan gellbalder pada cysti, dilatasi pada saluran
j.
empedu, obstruksi/obstruksi joundice.
Foto Abdomen :Gambaran radiopaque (perkapuran ) galstones,
pengapuran pada saluran atau pembesaran pada gallblader.
6. PENATALAKSANAAN
Diet
a.
-
Rendah lemak dalam usaha mencegah nyeri lebih lanjut.
Bila batu menyebabkan pembuntuan dari aliran empedu
dilakuakn penggantian vitamin yang larut lemak (ADEK) dan
pemberian garam empedu untuk membantu pencernaan dan
-
b.
absorbst vitamin.
Infus cairan dan makanan bila ada masalah mual-mual dan
muntah .
Terapi Obat
Analgesik/narkotik (meperidine hydrochloric/Demerol)
Antispasme dan anti Colinergik (prophantheline bromide /
probanthine) untuk relaksasi otot polos dan menurunkan tonus
dan spasme saluran empedu.
Antimuntah lentik mengontrol mual dan muntah.
Terapi asam empedu untuk melarutkan batu empedu yang kecil
(chenodiol)
Cholesteramine untuk menurunkan gatal yang sangat karena
penumpukan berlebihan empedu pada kulit.
c.
ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotherapy)
d.
Colecystectomy: Bedah pengambilan batu empedu
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Aktifitas/ istirahat , gejala: kelemahan . Tanda : gelisah
b. Sirkulasi, tanda : takikardia, berkeringat
c. Eliminasi, gejala: perubahan warna urine dan feses. Tanda: distensi
abdomen, teraba masa pada kuadran kanan atas, urine gelap,
pekat.Feses berwarna tanah liat, steatorea.
d. Makanan/ cairan, gejala: anoreksia, mual/ muntah. Tidak toleran
terhadap lemak dan makanan pembentukan gas regurgitasi
berulang, nyeri epigastrium, tidak dapat makan, dispepsia. Tanda :
kegemukan, adanya penurunan berat badan.
e. Nyeri/ kenyamanan, gejala: nyeri
abdomen
atas
berat,
dapat menyebar kepunggung atau bahu kanan. Kolik epigastrium
tengah sehubungan dengan makan. Nyeri mulai tiba-tiba dan
biasanya memuncak dalam 30 menit. Tanda: nyeri lepas, otot tegang
atau kaku biala kuadran kanan atas ditekan; tanda murphy positif.
f. Pernapasan , tanda: peningkatan frekuensi pernapasan. Pernapasan
tertekan di tandai oleh napas pendek, dangkal.
g. Keamanan,
berkeringat
tanda: demam,
dan
gatal
menggigil, ikterik,
dengan
(pruiritus). Kecenderungan
kulit
perdarahan
(kekurangan vitamin k).
2. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
Pre Operasi
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (obstruksi, proses
pembedahan)
b. Potensial Kekurangan cairan sehubungan dengan :
Kehilangan cairan dari nasogastrik.
Muntah.
Pembatasan intake
Gangguan koagulasi, contoh : protrombon menurun, waktu beku lama.
c. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidakmampuan untuk ingesti dan absorbsi makanan
d. Kurangnya pengetahuan tentang prognosa dan kebutuhan pengobatan,
sehubugan dengan :
Menanyakan kembali tentang imformasi.
Mis Interpretasi imformasi.
Belum/tidak kenal dengan sumber imformasi.
Ditandai :
Pernyataan yang salah.
Permintaan terhadap informasi.
Tidak mengikuti instruksi.
Post Operasi
a. Polanafas tidak efektif sehubungan dengan nyeri, kerusakan otot,
kelemahan/ kelelahan, ditandai dengan :
Takipneu
Perubahan pernafasan
Penurunan vital kapasitas.
Pernafasan tambahan
Batuk terus menerus
b. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif, kerusakan jaringan
(luka operasi)
c. Penurunan integritas kulit/jaringan sehubungan dengan
Pemasanagan drainase T Tube.
Perubahan metabolisme.
Pengaruh bahan kimia (empedu)
Ditandai dengan : adanya gangguan kulit.
4. Intervensi
Diagnosa
No
keperawatan
Tujuan
Post operasi
1
Ketidakefektipan Setelah dilakukan
pola nafas
tindakan
berhubungan
keperawatan
dengan nyeri
selama
dan kerusaka
Criteria hasil:
otot
Ventilasi/oksigen
asi adekuat untuk
kebutuhan
individu
Kekurangan
volume cairan
berhubungan
dengan
kehilangan dari
aspirasi
ngt,muntah
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan
selama
Criteria hasil:
menunjukan
keseimbangan
cairan adekuat
dibuktikan
dengan tandatanda vital
stabil,membran
mukosa lembab,
turgor
kulit/pengisian
kapiler baik, dan
haluaran urine
individu adekuat
Integritas
kulit/jaringan,
kerusakan
berhubungan
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 1x 24 jam
Intervensi
1. Observasi
frekuensi/kedalaman
pernapasan
2. Auskultasi
bunyi
nafas
3. Tinggikan
kepala
tempat tidur,pertahankan
posisi fowler rendah,
ambulasi.
4. Kolaborasi
dengan
tim
medis
pemberian analgesik
sebelum
pengobatan
pernapasan/ aktifitas
terapi
1. Awasi tanda-tanda
vital. Kaji membran
mukosa, turgor kulit ,
nadi perifeer, dan
pengisian kapiler
2. Gunakan jarum kecil
untuk injeksi, dan
lakukan penekanan lebih
lama dari biasnya pada
bekas suntikan
3. Anjurkan pasien
memiliki pembersihan
dari katun/spon dan
pembersih mulut untuk
sikat gigi
4. Kolaborasi dengan
tim medis pemberian
cairan iv.produk darah,
sesuai
indikasi;elektrolit, vitami
nk
1.
Observasi warna
dan karakter drainase.
Gunakan kantong ostomi
sekali pakai untuk
dengan
substansi kimia
(empedu)
Criteria hasil:
pasien
menunjukan
perilaku untuk
meningkatan
penyebuhan/men
cegah kerusakan
kulit
menampung luka drein
luka
2.
Benamkan selang
drainase,biarkan selang
bebas bergerak, dan
hindari lipatan dan
terpelintir
3.
Ganti balutan
sesering mungkin bila
perlu. Bersihkan kulit
dengan sabun dan air.
Gunakan kassa
berminyak steril
sengoksida atau bedak
karaya sekitar insisi
4.
Kolaborasi dengan
tim medis pemberian
antibiotik sesuai indikasi.
Kurangnya
pengetahuan
(kebutuhan
belajartentang
kondissi,
prognosis,dan
kebutuhan
pengobatans.
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan
selama
Criteria hasil:
pasien
menyatakan
pemahanan
proses penyakit/
prognosis dan
pengobatan
1. Kaji ulang proses
penyakit ,prosedur bedah
prognosis
2. Tunjukan perawatan
insisis/balutan dan drein
3. Kaji ulang
pembatasan aktitas
tergantung pada situasi
individu
DAFTAR PUSTAKA
Soeparman, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Balai Penerbit FKUI 1990, Jakarta.
Sylvia Anderson Price, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Alih
Bahasa AdiDharma, Edisi II.
Marllyn E. Doengoes, Nursing Care Plan, Fa. Davis Company, Philadelpia, 1993.
D.D.Ignatavicius dan M.V.Bayne, Medical Surgical Nursing, A Nursing Process
Approach, W. B. Saunders Company, Philadelpia, 1991.
Sutrisna Himawan, 1994, Pathologi (kumpulan kuliah), FKUI, Jakart..
Mackenna & R. Kallander, 1990, Illustrated Physiologi, fifth edition, Churchill
Livingstone, Melborne.
LAPORAN PENDAHULUAN
CHOLELITHIASIS
DI RUANG MAWAR 2 RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA
Disusun Oleh
AZIZ NUR FATHONI
NIM: NS0005
PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN
STIKES KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2014/2015