Anda di halaman 1dari 15

Macam Tungku Pembakaran, diantaranya:

1. Tunnel Kiln
Tungku berbentuk terowongan, digunakan untuk produksi kapasitas besar dan continue,
panjang tungku bisa dibuat sesuai pesanan, mulai dari panjang -+ 15 meter -+ 100 meter
Spoiler for Tunnel Kiln:
2. Periodic Kiln (Tungku Periodik / Tungku Shuttle)
Tungku berukuran kecil, digunakan untuk produksi skala kecil dan sistem batch
Ukuran tungku dibuat sesuai pesanan, mulai dari -+ 1m kubik hingga -+ 75 m kubik
Spoiler for Shuttle Kiln:
3. Tungku Peleburan Logam
Tungku periodik yang diperuntukkan untuk meleburkan bermacam-macam logam, seperti
Emas, Platina, dsb
Ukuran tungku dibuat sesuai pesanan, dapat dibuat untuk kapasitas Crucible 5kg dan
seterusnya
Spoiler for Tungku Peleburan Logam:
5. Tungku Pembakaran Makanan
Tungku yang digunakan untuk memanaskan makanan, seperti penggorengan snack maupun
tungku pizza
Spoiler for Tungku Pembakaran Makanan:

Istanto T dan Juwana (2007), Pembakaran adalah reaksi kimia yaitu reaksi oksidasi
yang berlangsung sangat cepat disertai dengan pelepasan energi dalam jumlah yang banyak.
Syarat terjadinya reaksi pembakaran :
a. Bahan bakar (fuel)
Adalah zat yang bisa dibakar untuk menghasilkan energi kalor, dimana bahan bakar
yang paling banyak adalah yang berjenis hidrokarbon.
b. Oksidan (oxidant)
Pada prakteknya sebagai oksidan digunakan udara karena sifatnya yang tersedia
dimana-mana.
c. Temperaturnya lebih besar dari titik nyala (ignition temperature)
Titik nyala adalah temperatur minimum yang diperlukan untuk suatu reaksi
pembakaran pada suatu tekanan tertentu. Banyak faktor yang mempengaruhi titik nyala;
antara lain, tekanan, kecepatan, material katalis, keseragaman campuran bahan bakar-udara
dan sumber penyalaan. Titik nyala biasanya menurun dengan naiknya tekanan, dan naik
dengan kenaikan kandungan air (moisture content). Bahan bakar cair salah satu sumbernya

adalah dari minyak mentah (crude oil) yang diperoleh dari kegiatan penambangan. Minyak
bumi merupakancampuran berbagai macam zat organik, tetapi komponen pokoknya
adalahhidrokarbon. Minyak bumi disebut juga minyak mineral karena diperoleh dalam
bentuk campuran dengan mineral lain.
2.2.5. Alat Bakar (Burner)
Pembakaran bahan bakar cair diperlukan suatu proses penguapan atau proses
atomisasi. Hal ini diperlukan untuk mendapatkan campuran dengan udara pembakaran yang
baik pada saat pembakaran berlangsung. Salah satu alat yang dapat digunakan untuk
melakukan proses pembakaran bahan bakar cair adalah alat bakar (burner).
2.2.5.1 Vaporizing burner
Burner jenis ini menggunakan panas dari api untuk menguapkan bahan bakar secara
terus menerus. Cara kerja dari burner jenis ini adalah dengan memanaskan minyak bakar
yang dialirkan ke koil pemanas. Panas diperoleh dari radiasi lidah api yang diselubungi oleh
koil. Uap bahan bakar yang terbentuk kemudian disemprotkan oleh nosel dengan tekanan
yang sama dengan tekanan minyak cair. Setelah keluar dari nosel, uap bahan bakar akan
bercampur dengan udara dan terbakar membentuk lidah api (torch). Burner jenis ini pada
umumnya dibuat dengan kapasitas 30-40 liter/jam, dengan tekanan bahan bakar 0,53,5kg/cm2.

Gambar 2.1 Vaporizing Burner


(Curtis. A, 2001)
2.2.5.2 Burner pengabutan semprotan uap/udara (steam/air atomizing burner)
Burner jenis ini dibedakan berdasarkan tekanan pengabutan yaitu burner dengan
atomisasi tekanan tinggi (Gambar 2.2a ) dan burner dengan atomisasi tekanan rendah
(gambar 2.2b). Pada jenis pertama, proses atomisasi menggunakan uap atau udara bertekanan
tinggi dari injector atau venture. Tekanan uap atau udara yang digunakan sebesar 3-12
kg/cm2. Sedangkan pada jenis yang kedua, proses atomisasi menggunakan udara bertekanan
rendah, yaitu antara 0,01-0,5 kg/cm2 dengan tekanan bahan bakar 0,5-1,5 kg/cm2. Namun
cara kerja dari keduanya sama. Secara sederhana cara kerja dari burner jenis ini adalah
sebagai berikut : minyak bakar lewat lubang saluran di tengah-tengah pembakar, yang jumlah
pengalirannya diatur oleh klep jarum. Udara atau uap dialirkan melalui pipa yang konsentris
dengan lubang saluran minyak bakar yang terletak pada mulut pembakar. Pada ujung pipa ini
terdapat lubang-lubang semprot. Minyak bakar yang baru saja keluar dari lubang salurannya,
dipecah-pecah menjadi butiran-butiran kabut minyak bakar, tepat di depan mulut pembakar
(burner).
Lubang-lubang untuk keluarnya udara atau uap arahnya dibuat tangensial terhadap berkas
minyak bakar yang keluar dari lubang salurannya. Hal ini akan menimbulkan pusaran (swirl)
campuran minyak bakar dan udara di depan mulut burner. Gaya sentrifugal yang timbul
akibat dari pusaran campuran minyak bakar dan udara akan membantu proses pengabutan.
Sehingga akan diperoleh nyala api yang pendek dengan diameter yang besar.

Gambar 2.2 Alat bakar tipe Air Atomizing Burner (a) High Pressure Air/Steam
Atomizing Burner (b) Low Pressure Air/Steam Atomizing Burner
(Curtis. A, 2001)
2.2.5.3 Pengabutan tekan (mechanical/oil pressure atomizing burner)
Pengabutan tekan dilakukan dengan cara memberikan tekanan pada minyak bakar
melalui lubang-lubang pengabut yang sangat kecil. Tekanan yang diberikan pada minyak
bakar antara 20-25 kg/cm2. Tekanan ini berasal dari pompa bertekanan tinggi. Minyak bakar
yang keluar dari mulut pembakar berupa kerucut kabut minyak bakar yang berpusar. Burner
jenis ini dapat digunakanuntuk semua jenis bahan bakar cair. Tetapi untuk minyak dengan
viskositas perlu dilakukan proses pemanasan mula untuk menurunkan viskositasnya. Burner
ini biasanya digunakan pada ketel, tungku-tungku dengan kapasitas besar dan dioperasikan
secara manual/otomatis.

Gambar 2.3 Mechanical or Oil Pressure


Atomizing Burner (Curtis. A, 2001
2.2.5.4 Burner dengan pengabutan putar (horizontal rotary-cup atomizing burner)
Prinsip kerja dari burner ini adalah dengan mencampur terlebih dahulu bahan bakar
dengan udara di dalam burner sebelum keluar sebagai kabut. Minyak bakar dialirkan masuk
ke suatu ruang. Di dalam ruang tersebut terdapat ujung poros yang berlubang, dan pada ujung
poros yang lain terdapat mangkokan pengabutan (spray cup). Poros berlubang dan
mangkokan diputar dengan kecepatan tinggi, sekitar 3450 rpm, kadang-kadang mencapai
6000 rpm. Minyak bakar akan diputar oleh mangkok untuk dikenai proses pengabutan.
Selanjutnya kabut minyak bakar akan disemprotkan ke dalam tungku oleh udara
penghembus.
Besarnya udara penghembus ini adalah 20% dari udara yang dibutuhkan untuk pembakaran.
Udara dihembuskan oleh sebuah kipas yang porosnya menjadi satu dengan poros mangkokan.

Gambar 2.4 Horizontal Rotary-Cup


Atomizing Burner (Curtis. A, 2001)
2.2.6. Udara Sebagai Salah Satu Faktor Utama Pembakaran
Muin (1988), mengemukakan pembakaran yang baik diperlukan lima syarat yaitu : a.
Pencampuran reaktan secara murni.
b. Suplai udara yang cukup.
c. Suhu yang cukup untuk memulai pembakaran.
d. Waktu yang cukup untuk kelangsungan pembakaran.
e. Kerapatan yang cukup untuk merambatkan nyala api.
Hal ini tidak dapat dicapai pada pembakaran yang sebenarnya (aktual) karena itu
perlu dicapai pada pembakaran yang sebenarnya (excess air). Pembakaran yang sempurna
akan menghasilkan : CO2, air, dan SO2. Pada pembakaran yang tidak sempurna disamping
produk pembakaran diatas, pada gas asap akan terdapat sisa bahan bakar, gas CO, hidrosil
(OH), aldehid (R-CHO) dan nitrogen, serta senyawa-senyawa oksida nitrat dan oksida
nitrogen. Semua produk pembakaran diatas bersifat polusi kecuali H2O dan N2.
ada beberapa jenis Tungku Keramik:
Wood Fired: adalah tungku yang menggunakan bahan bakar kayu. Tungku ini adalah jenis
tungku yang paling jadul ( kuno ), sudah ada ribuan tahun yang lalu. Untuk mencapai
temperature tinggi bisa menghabiskan hampir satu ton kayu.

Wood Fired

Gas Fired: Jenis tungku ini lebih modern dan lebih praktis, bersih dibanding dengan tungku
diatas, karena memakai instalasi gas, akan lebih mudah ditambahkan alat pengatur sehingga bisa
menghasilkan keramik yang lebih baik. Cara menaikkan suhu dengan sistem periodik.

Gas Fired

Electric : Tungku ini paling modern, lebih bersih daripada kedua jenis diatas. Dan lebih mudah
dalam pengontrolannya. Hasilnya juga lebih bagus , menghasilkan permukaan glasir yang lebih
kilap dan sempurana. Kendalanya adalah bila biaya listrik tinggi. Sehingga beberapa seniman
keramik mengubahnya menjadi tungku gas.

Electric
Raku : adalah jenis pembakaran yang unik. Keramik dibakar sehingga mencapai suhu dimana
keramik membara, dikeluarkan seketika dan langsung dimasukkan kedalam drum yang sudah
ada bekas Koran atau dedaunan, sehingga terbakar dan langsung ditutup. Akan menghasilkan
keramik yang unik pula.

Bottle kiln : Tungku ini adalah tungku yang juga Kuno, popular pada abad 18 sampai tahun
1960 an. Ukuran dan bentuknya tidak ada yang sama, tergantung pada pembuatnya. Bila yang
membuat pabrik keramik yang besar, juga mempunyai tungku yang besar, sehingga bisa
dimasuki beberapa orang didalam . Lama pembakaran bisa 48 jam. Biasanya setelah api
dipadamkan, tungku akan dingin setelah 48 jam kemudian. Tetapi bila keramik sangat
dibutuhkan lebih cepat dikeluarkan, pada suhu yang masih panas orang bisa mesuk dan
membongkar keramik menggunakan baju dan kaos tangan tahan api.

Bottle Kiln
Anagama Kiln: Kiln anagama adalah jenis tungku keramik kuno dibawa ke Jepang dari China
melalui Korea pada abad ke-5. Anagama berarti tungku berbentuk Gua. Bahan bakar
menggunakan kayu bakar, lama bakar bisa 48 jam sampai 12 hari tergantung volume barang
yang dibakar. Sumber api didepan dan dikeluarkan dibelakang. Tungku ini bisa mencapai suhu
1400 derajat celcius.

Anagama kiln

Anagama kiln
1 Pintu selebar 75 cm
2 Lokasi api
3 Lantai menanjak terbuat dari pasir silika
4 Damper
5 Cerobong
6 Cerobong atas
7 Bata tahan api melengkung
Continuous kiln: kadang disebut Tunnel kiln . Bahan bakar ada yang memakai minyak tanah,
gas, ada yang menggunakan listrik. Tungku ini bentuknya memanjang, sumber apinya ditengah,
mengggunakan kereta atau roller untuk membawa keramik dari depan pintu masuk keluar
dibelakang. Sehingga awal masuk, barang akan menerima panas yang masih rendah, makin
ketengah makin panas, ada istilah pembagian ruangan yaitu Preheating Zone ( awal masuk ),
Firing zone ( zona api ), Cooling zone ( pendinginan ), pada jenis ini pemanasannya lebih merata
serta menhemat bahan bakar dan menghasilkan barang yang lebih banyak.

Shuttle Kiln: Tungku ini sampai sekarang adalah tungku yang banyak dipakai, termasuk di
Indonesia. Karena lebih mudah membuatnya dan harganya jauh lebih murah dibanding Tunnel
Kiln. Shuttle kiln menggunakan bahan bakar minyak tanah, gas atau listrik. Pemakaian bahan
bakar lebih boros dibanding Continuous Kiln. Karena setiap mulai bakar tungku sudah dingin,
dan kalau mengeluarkan juga menunggu dingin, sehingga banyak panas yang terbuang.

Berdasarkan jenis bahan bakar yang digunakan, burner diklasifikasikan menjadi 3, yaitu :
1. Burner bahan bakar cair
2. Burner bahan bakar gas
3. Burner bahan bakar padat

1.
Pembahasan
1.
2.
3.
4.
5.

Sebuah furnace memiliki komponen-komponen sebagai berikut :


Ruang refraktori dibangun dari bahan isolasi untuk menahan panas pada suhu operasi
yang tinggi.
Perapian untuk menyangga atau membawa baja, yang terdiri dari bahan refraktori
yang didukung oleh sebuah bangunan baja, sebagian darinya didinginkan oleh air.
Burner yang menggunakan bahan bakar cair atau gas digunakan untuk menaikan dan
menjaga suhu dalam ruangan. Batubara atau listrik dapat digunakan dalam
pemanasan ulang/reheating furnace.
Cerobong digunakan untuk membuang gas buang pembakaran dari ruangan.
Pintu pengisian dan pengeluaran digunakan untuk pemuatan dan pengeluaran
muatan. Peralatan bongkar muat termasuk roller tables, conveyor, mesin pemuat dan
pendorong tungku.

Gas burner adalah sebuah alat untuk menghasilkan api untuk memanaskan produk
menggunakan bahan bakar gas seperti asetilen, gas alam atau propana. Beberapa burner
mempunyai tempat masuknya udara untuk mencampur bahan bakar gas dengan udara untuk
mendapatkan pembakaran yang sempurna. Asetilen biasanya digunakan dengan
mencampurkannya dengan oksigen.

Banyak aplikasi seperti soldering, brazing dan pengelasan yang menggunakan oksigen
daripada udara untuk membuat apinya menjadi lebih panas sehingga bisa melelehkan besi.
Untuk skala laboratorium, digunakan natural gas fired bunsen burner. Untuk melelehkan
logam dengan titik leleh sampai dengan 1100oC seperti tembaga, perak dan emas, bisa
digunakan burner dengan bahan bakar propana dengan campuran udara.
Pembakaran gas dibagi menjadi 2 cara, tergantung apakah gas dan udara dicampurkan
terlebih dahulu atau tidak sebelum pembakaran. Jika udara dan gas dicampurkan terlebih
dahulu sebelum proses pembakaran, seperti pada bunsen burner, proses pembakaran
berlangsung secara hidroksilasi. Hidrokarbon dan oksigen dengan proses hidroksilasi menjadi
aldehida. Penambahan panas dan oksigen menguraikan aldehida menjadi H2, CO, CO2 dan
H2O.

Proses pembakaran bahan bakar gas tidak memerlukan proses pengabutan atau atomisasi,
bahan bakar langsung berdifusi dengan udara. Ada dua tipe burner dengan bahan bakar gas,
yaitu:
1. Non Aerated Burner
Tipe ini bahan bakar gas dan udara tidak dicampur dulu sebelum terjadi proses pembakaran.
Bahan bakar gas bertekanan dilewatkan melalui nozzle, udara akan berdifusi secara alamiah
dengan bahan bakar. Proses pembakaran dengan tipe ini dinamakan difusi.

2. Aerated Burner
Pada aerated burner, bahan bakar gas dan udara dicampur dulu sebelum terjadi proses
pembakaran. Udara sekunder dibutuhkan untuk menyempurnakan pembakaran.
Penggunaan udara sekunder ini tergantung dari cara udara primer dimasukkan ke
dalam furnace.

Pada burner tipe ini selalu ada pengaman untuk mencegah nyala balik ke sumber campuran
bahan bakar udara. Aerated burner dibagi menjadi 2 jenis :
a. Atmospheric or Natural Draft Burners (Bunsen Burners)
Alat ini menggunakan efek mekanis yaitu prinsip venturi, sehingga atmospheric
burner gas disebut juga dengan venturi burner gas. Pada kasus burner gas venturi, gas
keluar dari jet di depan penyempitan dari pipa burner. Gas sudah bertekanan dan
penyempitan semakin mempercepat sehingga menghasilkan vakum parsial
dibelakang jet yang menyerap udara ke pipa burner. Ini berarti bahwa venturi burner
akan mencampur lebih banyak udara dengan gas daripada bunsen sederhana.
Campuran bahan bakar dan udara yang ditingkatkan menyebabkan venturi burner
menjadi lebih efektif dan bisa menghasilkan tipe api yang bervariasi, dari oksidasi
sampai reduksi. Juga bentuk dari pipa burner setelah penyempitan memperlambat
kecepatan gas, menyebabkan udara dan gas lebih bercampur menyeluruh sebelum

menemui flame retention head. Keunggulan ini, flame retention head, pada akhir pipa
burner didesain untuk memastikan bahwa api tidak membakar pipa, atau meluncur
dari head burner, yang merupakan masalah pada desain burner sederhana.
Roda pada ujung kiri dari burner adalah control udara utama dan berputar pada lubang
supply gas. Roda ini dapat berputar untuk menutup melawan badan burner,
menghentikan udara untuk bercampur dengan gas. Batang dari kuningan, dimana gas
mengalir, dapat digerakkan dengan memutar maju atau mundur ke badan burner. Hal
ini penting untuk memaksimalkan performa burner. Jika batang terlalu jauh didalam
burner maka efek venturi dikecilkan, begitu juga jika terlalu jauh diluar burner jumlah
udara yang diserap akan terlalu kecil. Untuk mengeset posisi yang benar pertama
hubungkan burner dengan gas supply, set piringan udara utama sehingga hanya ada 1
atau 2 mm celah diantaranya dan badan burner dan menyalakan api gas. Set batang
kuningan sehingga jet sejauh mungkin diluar burner, kemudian alirkan angin
perlahan-lahan, secara simultan gerakkan roda udara utama sehingga celah tetap
konstan. Amati apinya, saat rasio udara-gas maksimal dicapai api harus berubah dari
kuning menjadi biru dan suara burner meningkat sejalan dengan banyaknya udara
yang terhisap ke burner. Jika batang terlalu jauh maka api akan berubah kembali
menjadi
api
kuning.
Burner ini merupakan jenis yang sederhana, tidak terlalu mahal dan paling banyak
digunakan untuk keperluan domestik atau komersial. Burner ini dibuat dengan
berbagai variasi bentuk dan ukuran untuk memberikan panjang api dengan panas
keluar yang sesuai.

b. Forced Draft Burners


Pada Forced Draft Burner sejumlah gas yang dibutuhkan untuk menyuplai panas keluaran
dicampur dengan udara bertekanan untuk pembakaran sempurna. Udara yang dialirkan
memiliki tekanan 2 in H2O. Kebutuhan udara disuplai oleh electric fan atau blower. Tidak
dibutuhkan udara sekunder. Semua kebutuhan udara untuk pembakaran disuplai oleh udara
primer.

3.1
Forced draft burner digunakan saat panas atau energi yang dibutuhkan sangat
besar. Biasanya digunakan pada industri gas. Biasanya api dihasilkan oleh
olakan dari gas panas di sekitar api utama. Forced Draft burner biasanya
dikontrol secara otomatis jadi gas yang tidak terbakar tidak akan masuk ke
combustion chamber.
Kelebihan dari sistem forced Draft adalah dapat menghasilkan nyala api yang
besar dan lebih hemat karena udara disuplai dari udara primer. Kelemahan
pengoperasian sistem ini adalah realibilitas fan/blower dan driver. Gangguan
(failure) pada keduanya dapat menyebabkan heater dan unit shut down. Selain
itu adanya peningkatan panas menyebabkan presentase NOx dalam flue gas
tinggi.
Natural Draft Burners kadang-kadang digunakan dalam sistem forced draft. Hal
ini bertujuan agar operasi tetap berlangsung ketika fan/blower atau driver tidak
berfungsi. Pada kondisi tersebut air door pada air supply ductwork akan
terbuka secara otomatis dan udara ambient mengalir masuk.
Rancangan Tungku Pembakaran
Sebagai tahap penerapan hasil studi pustaka, tahap selanjutnya adalah perancangan
tungku down draft kiln. Pada perancangan ini terdapat komponen utama sebagai
berikut :
1. Batu bata merah
Batu bata merah ini digunakan untuk membuat bentuk tungku disertai
cerobong. Disamping itu, batu bata merah juga digunakan untuk membuat alas

atau penyangga gerabah. Batu bata merah ini disusun dengan pola dan teknik
penyusunan dengan formasi H sebagai berikut:

Gambar 1 Teknik penyusunan batu bata merah untuk tungku


Untuk menghitung atau memprediksi jumlah bata merah pada tungku maka
perlu ada pola atau perumusan tertentu yaitu:

Optimasi juga dapat dengan mengisi pori-pori dinding tungku dengan abu
bekas pembakaran gerabah. Abu bahan bakar juga memberikan kalor tambahan
selama pembakaran. Pengukuran temperatur di dinding tungku berpengisi abu
dapat mencapai 350C saat pembakaran (Murni at al, 2007; Darmanto et al,
2004). Abu juga berfungsi sebagai isolator sehubungan nilai koefisien konduksi
relatif rendah.
2. Pengukur suhu
Dalam proses pembakaran gerabah, pengendalian suhu pembakaran perlu
diperhatikan agar hasil pembakaran yang diinginkan dapat tercapai. Dalam
praktek pembakaran benda gerabah, yang perlu diketahui adalah jenis tanah
liat/komposisi tanah liat, jenis glasir, dan suhu yang akan dicapai. Suatu jenis
tanah liat atau komposisi glasir yang telah dibakukan biasanya sudah ditentukan
suhu bakarnya. Untuk mengukur suhu bakar dapat digunakan thermocouple,
pyrometer dan pyrometric cone (pancang). Sebetulnya, thermocouple pyrometer
merupakan satu kesatuan alat pengukur suhu,
yang biasa disebut dengan pyrometer.

Gambar 2 Penampang thermocouple pada dinding tungku.


Rancangan tungku ini sendiri adalah sebagai berikut:
1. Mempunyai tungku dengan panjang dan lebar 2 meter serta tinggi 3 meter.
2. Mempunyai cerobong dengan panjang dan lebar 0.5 meter serta tinggi 3.5 meter.
Adapun skema perancangan tungku tersebut adalah sebagai berikut:

Gambar 3 Rancangan tungku (tampak depan)

Gambar 4 Sirkulasi api tungku (tampak depan)

Gambar 5 Bagian-bagian dan sirkulasi api (tampak samping)


3.2

PROSEDUR KERJA TUNGKU PEMBAKARAN


Prosedur kerja tungku pembakaran gerabah dengan tungku down drift kiln adalah
sebagai berikut:
1. Menyusun kayu bakar pada lubang pengapian dan lakukan pemanasan pada
cerobong asap dengan menggunakan kayu bakar selama kurang lebih 30- 60
menit, setelah selesai tutup lubang cerobonq dengan bata tahan api.
2. Nyalakan api pada bagian lubang api utama dengan cara melakukan pemanasan
pada mulut lubang api kemudian nyalakan kayu bakar sehingga api menyala di

luar. Pemanasan ini berlangsung 1-2 jam, kemudian dorong bara-bara api masuk
ke dalam kantong api.
3. Lakukan pembakaran benda dengan menambahkan potongan-potongan kayu
lunak yang mudah terbakar pada lubang api. Pembakaran berlangsung terus
menerus selama 3-4 jam. Panas yang berkembang di dalam tungku api dibesarkan
dengan memberi kayu bakar terus menerus. Besarkan api dengan cara mendorong
bara-bara api masuk ke dalam kantong api agar panas api di dalam ruang bakar
meningkat. Tambahkan dengan kayu-kayu lunak yang lebih kecil untuk
memudahkan menjadi api secara cepat dan suhu pada tungku pembakaran
mecapai suhu yang diinginkan.
4. Kecilkan api apabila sudah mencapai suhu yang diinginkan dan pancang sudah
melengkung berarti pembakaran telah mencapai titik matang yang diinginkan
kemudian matikan bara-bara api pada lubang api.
5. Tutup lubang pembakaran denqan bata tahan api dan tutup pula skep atau damper
untuk mempertahankan panas pada ruang
6. Pembongkaran dapat dilakukan setelah didinginkan minimal sama dengan waktu
pembakaran dan lakukan dengan membuka pintu secara hati-hati karena selama 12 hari api masih panas. Bongkar benda-benda gerabah tersebut dengan
menggunakan sarung tangan asbes.