Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH

201

PERKEMBANGAN ARSITEKTUR
RUMAH ADAT TRADISIONAL
DAERAH ISTIMEWA
YOGYAKARTA

Jihan Pratiwi US (D51114020)


Yusrisal (D51114022)
Monic Azhara (D51114024)

JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK
0

UNIVERSITAS HASANUDDIN

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat,
Inayah, Taufik dan Hinayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan
makalah Perkembangan Arsitektur Tradisional Rumah Adat Daerah Istimewa Yogyakarta
ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.
Dalam penyusunannya, kami memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak,
karena itu kami mengucapkan terma kasih kepada Ibu Afifah Harisah Husein,
ST.,MT.,Ph.D. sebagai dosen mata kuliah Perkembangan Arsitektur I yang telah
memberikan bimbingan sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Harapan kami semoga materi ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi
materi ini sehingga ke depannya dapat lebih baik.
Materi ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami
miliki sangat kurang. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk
memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah
ini.
Gowa, 24 Februari 2015
Kelompok 4

DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul.............................................................................................................

Kata Pengantar............................................................................................................

ii

Daftar Isi.......................................................................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN................................................................................................

1.1. Latar Belakang..............................................................................................


1.2. Rumusan Masalah........................................................................................
1.3. Tujuan............................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................
1. Sejarah Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta..............................
2. Letak Daerah Istimewa Yogyakarta.........................................................
3. Sejarah dan Asal Usul Rumah Joglo.......................................................
4. Filosofi Rumah Joglo...............................................................................
5. Tahap Pembuatan Rumah Joglo.............................................................
6. Bentuk-Bentuk Rumah Joglo...................................................................
7. Bagian-Bagian Rumah Joglo...................................................................
BAB II PENUTUP.........................................................................................................
Kesimpulan..........................................................................................................

1
3
3
4
4
7
8
8
15
18
23
27
27

Daftar Pustaka.............................................................................................................

30

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Arsitektur tradisional adalah suatu unsur kebudayaan yang tumbuh dan berkembang
bersama dengan pertumbuhandan perkembangan suatu suku bangsa. Oleh karena itu,
arsitektur tradisional merupakan salah satu di antara identitas dari suatu pendukung
kebudayaan yang bersangkutan. Dalam arsitektur tradisional terkandung secara terpadu
idea, wujud sosial dan wujud material suatu kebudayaan. Proses pergeseran kebudayaan
di Indonesia khususnya di perkotaan telah menyebabkan pergeseran terhadap nilai
kebudayaan yang terkandung dalam arsitektur tradisional. Pembangunan bangsa yang
dewasa ini giat dilakukan di Indonesia pada hakikatnya adalah proses pembaharuan di
segala bidang dan merupakan pendorong utama terjadinya pergeseran-pergeseran nilai
dalam bidang kebudayaan khususnya dalam bidang arsitektur tradisional, begitu juga
sebaliknya bahwa perubahan arsitektur tradisional dalam masyarakatakan melahirkan
perubahan nilai-nilai, pola hidup, dan perilaku yang berbeda pada masyarakat
(Soedjatmoko, 1983: 21).
Pergeseran nilai tersebut cepat atau lambat akan membawa perubahan-perubahan
terhadap bentuk, struktur dan fungsi arsitektur tradisional, yang pada gilirannya nanti akan
menjurus ke arah perubahan atau punahnya arsitektur tradisional dalam masyarakat
(DEPDIKBUD, 1998: 1).
Salah satu jenis arsitektur tradisional adalah arsitektur tradisional Jawa atau yang
biasa disebut sebagai rumah tradisional Jawa. Nilai-nilai tradisional yang mendasari rumah
tradisional Jawa pada hakikatnya bersifat langgeng walaupun terdapat pergeseran dan
perubahan sejalan dengan perkembangan waktu serta kehidupan masyarakatnya.
Perubahan yang tidak mendasar tersebut biasanya diikuti dengan kecenderungan
menciptakan keseimbangan baru yang akan tercermin dalam wujud baru pula (Prijotom o,
1999)

Rumah tradisional Jawa adalah salah satu nilai budaya yang erat kaitannya dengan
kehidupan masyarakat. Di kota Yogyakarta yang sebagaimana diketahui adalah sebuah
kota yang dulu pusat pemerintahannya dipegang oleh keraton, yaitu Keraton Yogyakarta,
dalam perkembangan nilai-nilai budaya, khususnya budaya Jawa juga semakin pudar.
Tatanan budaya Jawa dari pengaruh keraton kian lama kian tersisih dari perkembangan
jaman, dan diikuti oleh nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Kekhawatiran akan semakin tersisihnya arsitektur Jawa dalam kancah percaturan
arsitektur di masa depan, nampaknya semakin menguat dan bergema di kalangan mereka
yang hanya melihat arsitektur Jawa sebagai bentuk Tajug, Joglo, Limasan, Kampung dan
Panggang-pe. Selama arsitektur Jawa ditempatkan sebagai sebuah kekeramatan yang tak
bisa atau tidak boleh digugat, tak ada kemungkinan lain bagi arsitektur Jawa untuk menjadi
benda-benda arkeologis semata (Prijotomo, 1999). Dengan demikian, maka tidak ada cara
lain yang harus ditempuh dalam mempertahankan eksistensi arsitektur Jawa kecuali
dengan merubah pandangan arsitektur Jawa sebagai arsitektur yang tidak dapat
berkembang menjadi arsitektur yang terbuka, dalam arti bahwa arsitektur Jawa dapat
mempertahankan keberadaannya dengan menyesuaikan dengan perkembangan budaya,
ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, kekhawatiran tersebut juga bisa kita kurangi
dengan mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan arsitektur tradisional Jawa khususnya
rumah adat Daerah Istimewa Yogyakarta (Rumah Joglo) sebagaimana rinciannya yang
terdapat pada bab pembahasan.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakan di atas, adapun rumusan masalahnya sebagai berikut:
1.2.1.Sejarah pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta
1.2.2.Letak Daerah Istimewa Yogyakarta
1.2.3.Sejarah dan asal usul Joglo
1.2.4.Filosofi rumah Joglo
1.2.5.Tahap pembangunan rumah Joglo

1.2.6.Bentuk-bentuk rumah Joglo


1.2.7.Bagian-bagian rumah Joglo
1.3. Tujuan
1.3.1.Untuk mengetahui sejarah pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta
1.3.2.Untuk mengetahui letak Daerah Istimewa Yogyakarta
1.3.3.Untuk mengetahui sejarah dan asal usul Joglo
1.3.4.Untuk mengetahui filosofi rumah Joglo
1.3.5.Untuk mengetahui tahap pembangunan rumah Joglo
1.3.6.Untuk mengetahui bentuk-bentuk rumah Joglo
1.3.7.Untuk mengetahui bagian-bagian rumah Joglo

BAB II
PEMBAHASAN
1.

Sejarah Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta


Nama Yogyakarta terambil dari dua kata, yaitu Ayogya atau Ayodhya yang berarti

kedamaian atau tanpa perang, a "tidak", yogya merujuk pada yodya atau yudha, yang
berarti perang, dan Karta yang berarti baik. Ayodhya merupakan kota yang bersejarah
di India dimana

wiracarita Ramayana terjadi.

menurut babad (misalnya

Babad

Giyanti)

Tapak keraton Yogyakarta

dan leluri (riwayat

oral)

telah

sendiri
berupa

sebuah dalem yang bernama Dalem Gerjiwati, lalu dinamakan ulang oleh Sunan
Pakubuwana II sebagai Dalem Ayogya. Sebelum Indonesia merdeka, Yogyakarta
merupakan

daerah

yang

mempunyai

pemerintahan

sendiri

atau

disebut

Zelfbestuurlandschappen/ Daerah Swapraja, yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat


dan Kadipaten Pakualaman. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan oleh
Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1755,

sedangkan Kadipaten Pakualaman didirikan oleh Pangeran Notokusumo (saudara Sultan


Hamengku Buwono II) yang bergelar Adipati Paku Alam I pada tahun 1813.
Pemerintah Hindia Belanda mengakui Kasultanan, dan Pakualaman sebagai kerajaan
dengan hak mengatur rumah tangganya sendiri yang dinyatakan dalam kontrak politik.
Kontrak politik yang terakhir Kasultanan tercantum dalam Staatsblaad 1941 Nomor 47,
sedangkan kontrak politik Pakualaman dalam Staatsblaad 1941 Nomor 577. Eksistensi
kedua kerajaan tersebut telah mendapat pengakuan dari dunia internasional, baik pada
masa penjajahan Belanda, Inggris, maupun Jepang. Ketika Jepang meninggalkan
Indonesia, kedua kerajaan tersebut telah siap menjadi sebuah negara sendiri yang
merdeka, lengkap dengan sistem pemerintahannya (susunan asli), wilayah, dan
penduduknya.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), Sri Sultan Hamengku
Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII menyatakan kepada Presiden RI, bahwa Daerah
Kasultanan Yogyakarta, dan Daerah Pakualaman menjadi wilayah Negara RI, bergabung
menjadi satu kesatuan yang dinyatakan sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sri
Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII sebagai Kepala Daerah, dan Wakil
Kepala Daerah bertanggung jawab langsung kepada Presiden RI. Hal tersebut dinyatakan
dalam:
1. Piagam kedudukan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII
tertanggal 19 Agustus 1945 dari Presiden RI.
2. Amanat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 5
September 1945 (dibuat secara terpisah).
3. Amanat Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 30 Oktober
1945 (dibuat dalam satu naskah).
Perjalanan sejarah selanjutnya kedudukan DIY sebagai Daerah Otonom setingkat
Provinsi sesuai dengan maksud pasal 18 Undang-undang Dasar 1945 (sebelum

perubahan) diatur dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Undang-undang


Pokok Pemerintahan Daerah. Sebagai tindak lanjutnya kemudian Daerah Istimewa
Yogyakarta dibentuk dengan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan
Daerah Istimewa Yogyakarta Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1950 sebagaimana
telah diubah, dan ditambah terakhir dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1955
(Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 71, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1819)
yang sampai saat ini masih berlaku. Dalam undang-undang tersebut dinyatakan DIY
meliputi Daerah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, dan Daerah Kadipaten
Pakualaman. Pada setiap undang-undang yang mengatur Pemerintahan Daerah,
dinyatakan keistimewaan DIY tetap diakui, sebagaimana dinyatakan terakhir dalam
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004. Dalam sejarah perjuangan mempertahankan
kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), DIY mempunyai peranan yang
penting. Terbukti pada tanggal 4 Januari 1946 sampai dengan tanggal 27 Desember 1949
pernah dijadikan sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia. Tanggal 4 Januari inilah
yang kemudian ditetapkan menjadi hari Yogyakarta Kota Republik pada tahun 2010.
Saat ini Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku
Buwono X dan Kadipaten Pakualaman dipimpin oleh Sri Paku Alam IX, yang sekaligus
menjabat sebagai Gubernur, dan Wakil Gubernur DIY. Keduanya memainkan peran yang
menentukan dalam memelihara nilai-nilai budaya, dan adat istiadat Jawa dan merupakan
pemersatu masyarakat Yogyakarta.
2.
Letak Daerah Istimewa Yogyakarta

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Peta_administratif_jawa_tengah.gif

Gambar 1. Peta Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta diakses pada tanggal 12 Maret 2015

Letak Astronomi Daerah Istimewa Yogyakarta pada 715- 815 Lintang Selatan dan
garis 1105- 1104 Bujur Timur, dengan batas wilayah:
Sebelah Barat Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah
Sebelah Barat Laut Kabupaten Magelang, Jawa Tengah
Sebelah Timur Laut Kabupaten Klaten, Jawa Tengah
Sebelah Timur Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah
Sebelah Selatan Samudera Hindia.
Luas Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta 3.185,80 km 2 terdiri atas Kota Yogyakarta
32,50 km2, Kabupaten Sleman 574,82 km2, Kabupaten Bantul 506,85 km2, Kabupaten
Kulon Progo 586,27 km2, Kabupaten Gunung Kidul 1485,36 km2.
3.

Sejarah dan Asal Usul Rumah Joglo


Mengenai asal muasal wujud rumah tinggal orang Jawa sampai saat ini masih

merupakan hal yang belum jelas karena kurangnya sumber-sumber tertulis pada jaman
sebelum Indianisasi. Menurut suatu naskah tentang rumah Jawa koleksi museum pusat
7

Depdikbud. No.Inv.B.G.608 disebutkan bahwa rumah orang Jawa pada mulanya dibuat
dari bahan batu, teknik penyusunannya seperti batu-batu candi. Tetapi bukan berarti
rumah orang Jawa meniru bentuk candi. Bahkan beberapa ahli menduga bahwa candi
meniru bentuk rumah tertentu pada waktu itu (Hamzuri, tanpa tahun).
Namun dugaan ini masih perlu dibuktikan lebih lanjut mengingat bangunan candi di
Jawa dibuat seiring dengan masuknya agama Hindu dan Buddha ke Jawa dari India dan
seperti diketahui orang India sebagai pembawa ajaran agama Hindu dan Buddha telah
mempunyai pengetahuan yang cukup canggih dalam pembuatan bangunan candi di India
(Manasara dan Silpasastra). Pada relief candi Borobudur abad VIII yang diteliti oleh
Parmono Atmadi ditemui gambaran tentang bangunan rumah konstruksi kayu yang
mempunyai bentuk atap pelana, limasan dan tajug. Pada relief candi Borobudur tidak
ditemui bentuk atap Joglo (Atmadi,1979)

4.

Filosofi Rumah Joglo


Berdasarkan pada pandangan hidup orang Jawa bahwa kehidupan manusia tidak

terlepas dari pengaruh alam semesta, atau dalam lingkup yang lebih terbatas adalah dari
pengaruh lingkungan sekitarnya, maka keberadaan rumah bagi orang Jawa harus
mempertimbangkan hubungan tersebut. Joglo sebagai salah satu simbol kebudayaan
masyarakat Jawa, merupakan media perantara untuk menyatu dengan Tuhan (kekuatan
Ilahi) sebagai tujuan akhir kehidupan (sangkan paraning dumadi), berdasar pada
kedudukan manusia sebagai seorang individu, anggota keluarga dan anggota masyarakat.
Nilai filosofis Joglo mempresentasikan etika Jawa yang menuntut setiap orang Jawa untuk
memiliki sikap batin yang tepat, melakukan tindakan yang tepat, mengetahui tempat yang
tepat (dapat menempatkan diri) dan memiliki pengertian yang tepat dalam kehidupan.

Sumber: https://www.scribd.com/doc/175901627/Rumah-Joglo-Dan-Filosofinya

Gambar 3. Rumah bagi orang jawa diakses pada tanggal 12 Maret 2015
1.

Rumah Joglo bagi Individu Jawa


Sebagai personifikasi penghuninya, rumah harus dapat menggambarkan kondisi

atau tujuan hidup yang ingin dicapai oleh penghuninya. Rumah Jawa dihadapkan pada
pilihan empat arah mata angin, yang biasanya hanya menghadap ke arah utara atau

selatan. Tiap arah mata angin menurut kepercayaan juga dijaga oleh dewa, yaitu:
Arah timur oleh Sang Hyang Maha Dewa, dengan sinar putih berarti sumber kehidupan
atau pelindung umat manusia, merupakan lambang kewibawaan yang dibutuhkan oleh

para raja.
Arah barat oleh Sang Hyang Yamadipati, dengan sinar kuning berarti kematian,

merupakan lambang kebinasaan atau malapetaka.


Arah utara oleh Sang Hyang Wisnu, dengan sinar hitam berarti penolong segala kesulitan

hidup baik lahir maupun batin, merupakan lambang yang cerah, ceria dan penuh harapan.
Arah selatan oleh Sang Hyang Brahma, dengan sinar merah berarti kekuatan, merupakan
lambang keperkasaan, ketangguhan terhadap bencana yang akan menimpanya.
Rumah bagi individu Jawa sangat penting untuk menunjukkan bahwa seseorang
memiliki kontrol teritorial, yang selanjutnya akan mendefinisikan keberadaan dan
statusnya. Sebuah rumah merupakan bentuk eksistensi bagi pemiliknya.
2.
Rumah Joglo bagi Keluarga Jawa
Rumah bagi keluarga Jawa mempunyai nilai tersendiri, yaitu sebagai suatu bentuk
pengakuan umum bahwa keluarga tersebut telah memiliki kehidupan yang mapan. Ini
menegaskan kondisi ideal bagi orang Jawa yaitu memiliki rumah tangga sendiri.

Kepemilikan terhadap rumah dan tanah merupakan hal yang selalu lebih utama dari pada
kepemilikan terhadap benda-benda lainnya.
Peran utama rumah adalah sebagai tempat menetap, melanjutkan keturunan serta
menopang kehidupan sebuah keluarga. Seringkali di depan senthong (kamar) dapat
dipasang foto-foto leluhur sebagai simbol kesinambungan keturunan.
3.
Rumah Joglo dalam Kehidupan Masyarakat Jawa
Hal yang membedakan Joglo dengan tipologi rumah Jawa lainnya adalah konstruksi
atapnya yang memiliki brunjung lebih menjulang tinggi sekaligus lebih pendek dengan
susunan tumpang sari, yaitu yang ditopang oleh empat tiang utama yang disebut saka
guru. Bagian saka guru dan tumpang sari biasanya sarat dengan ukiran, baik yang rumit
maupun yang sederhana. Material yang digunakan oleh Joglo juga lebih banyak dan
biasanya menggunakan kayu jati, akibatnya harga Joglo lebih mahal dari tipologi rumah
Jawa lainnya. Jadi Joglo menjadi simbol bahwa pemiliknya termasuk dalam strata sosial
atas.
Pertunjukan-pertunjukan seni yang diadakan oleh tuan rumah di pendapa untuk
khalayak umum, mempertegas stratifikasi sosial yang berlaku juga menjadi bentuk
ekspansi kewenangan tuan rumah terhadap lingkungan sekitarnya. Pendapa juga
digunakan bagi kaum lelaki untuk bersosialisasi sehingga kemudian mempertegas bahkan
membentuk nilai-nilai kemasyarakatan.
4.
Analogi Bagian Rumah Joglo

Sumber: https://www.scribd.com/doc/175901627/Rumah-Joglo-Dan-Filosofinya

10

Gambar 4. Analogi Joglo diakses pada tanggal 12 Maret 2015

Bagian-bagian Joglo sebagai personifikasi dari penghuninya, dapat dianalogikan


secara fisik menurut bagian-bagian tubuh manusia (kaki, badan dan kepala) dan secara
non-fisik menurut perjalanan hidupnya (lahir, hidup dan mati). Sehingga kemudian nilainilai filosofis yang dimiliki oleh orang Jawa juga dapat diterapkan sebagai nilai-nilai filosofis
Joglo sebagai rumah Jawa. Nilai-nilai kosmologi yang dipercaya dan diwariskan oleh orang
Jawa melalui mitos, terpresentasikan pada rumah Jawa. Dimensi atap yang dominan
menunjukkan bahwa orang Jawa mengutamakan bagian kepala dan isinya (pikiran dan
ide) karena dengan kemampuan akal dan pikirannnya akan dapat membawa manusia
untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum mati untuk menemui Tuhan.
5.
Makna yang Terkandung pada Penataan Ruang Dalam Rumah Joglo

Sumber : http://en.radjapendapa.com/spesialis-rumah-adat-kudus/

Gambar 5. Denah Interior Rumah Joglo, diakses pada tanggal 12 Februari 2015

Istilah Joglo berasal dari kerangka bangunan utama dari rumah adat jawa terdiri atas
soko guru berupa empat tiang utama dengan pengeret tumpang songo (tumpang
sembilan) atau tumpang telu (tumpang tiga) di atasnya. Struktur joglo yang seperti itu,

11

selain sebagai penopang struktur utama rumah, juga sebagai tumpuan atap rumah agar
atap rumah bisa berbentuk pencu. Hal ini melambangkan bahwa, pada hakikatnya
manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa menjalani hidup seorang diri, melainkan
harus saling bantu-membantu antar sesama, selain itu soko guru juga melambangkan
empat hakikat kesempurnaan hidup dan juga ditafsirkan sebagai hakikat dari sifat
manusia.
Bagian pintu masuk memiliki tiga buah pintu, yaitu pintu utama di tengah dan pintu
kedua yang berada di samping kiri dan kanan pintu utama. Ketiga bagian pintu tersebut
memiliki makna simbolis bahwa kupu tarung yang berada di tengah untuk keluarga besar,
sementara dua pintu di samping kanan dan kiri untuk besan, hal ini melambangkan bahwa
tamu itu adalah raja yang harus dihormati dan ditempatkan di tempat yang berbeda
dengan keluarga inti ataupun keluarga dari mempelai, demi menghormati kehadiran
mereka dan memberi tempat yang berbeda dari keluarga sendiri dan itu adalah cara atau
tata krama yang pantas untuk menyambut tamu. Pada ruang bagian dalam yang disebut
gedongan dijadikan sebagai mihrab, tempat Imam memimpin salat yang dikaitkan dengan
makna simbolis sebagai tempat yang disucikan, sakral dan dikeramatkan. Gedongan juga
merangkap sebagai tempat tidur utama yang dihormati dan pada waktu-waktu tertentu
dijadikan sebagai ruang tidur pengantin bagi anak-anaknya, ruang tengah melambangkan
bahwa di dalam rumah tinggal, harus ada tempat khusus yang disakralkan atau disucikan
supaya digunakan ketika acara-acara atau kegiatan tertentu yang sakral atau
berhubungan dengan Tuhan. Hal ini adalah salah satu cara bagi penghuni rumah untuk
selalu mengingat keberadaan Tuhan ketika berada di dalam rumah mereka.
Ruang depan yang disebut jaga satru disediakan untuk umat dan terbagi menjadi dua
bagian, sebelah kiri untuk jamaah wanita dan sebelah kanan untuk jamaah pria. Masih

12

pada ruang jaga satru di depan pintu masuk terdapat satu tiang di tengah ruang yang
disebut tiang keseimbangan atau soko geder, selain sebagai simbol kepemilikan rumah,
tiang tersebut juga berfungsi sebagai pertanda atau tonggak untuk mengingatkan pada
penghuni tentang keesaan Tuhan.
Pemilihan dan penggunaan bahan bangunan adalah faktor ke empat. Penggunaan
kayu untuk dinding atau gebyok dan genteng tanah liat untuk atap disebabkan material ini
bersifat ringan sehingga relatif tidak terlalu membebani bangunan. Sirkulasi keluar
masuknya udara pada rumah joglo sangat baik karena penghawaan pada rumah joglo ini
dirancang dengan menyesuaikan dengan lingkungan sekitar. Rumah joglo, yang biasanya
mempunyai bentuk atap yang bertingkat-tingkat, semakin ke tengah, jarak antara lantai
dengan atap yang semakin tinggi dirancang bukan tanpa maksud, tetapi tiap-tiap
ketinggian atap tersebut menjadi suatu hubungan tahap-tahap dalam pergerakan manusia
menuju ke rumah joglo dengan udara yang dirasakan oleh manusia itu sendiri, sehingga
hal itu menyebabkan penghuni merasa nyaman ketika berada di dalam bangunan dan hal
itu membuat penghuni lebih sering berkumpul dengan keluarga dan merasakan
kebersamaan yang kuat seperti struktur yang menopang rumah adat joglo ini.
Ciri khas atap joglo, dapat dilihat dari bentuk atapnya yang merupakan perpaduan
antara dua buah bidang atap segi tiga dengan dua buah bidang atap trapesium, yang
masing-masing mempunyai sudut kemiringan yang berbeda dan tidak sama besar. Atap
joglo selalu terletak di tengah-tengah dan selalu lebih tinggi serta diapit oleh atap serambi.
Bentuk gabungan antara atap ini ada dua macam, yaitu; atap joglo lambang sari dan atap
joglo lambang gantung. Atap joglo lambang sari mempunyai ciri dimana gabungan atap
joglo dengan atap serambi disambung secara menerus, sementara atap lambang gantung
terdapat lubang angin dan cahaya, dan hal ini melambangkan filosofi kehidupan manusia,

13

bahwa kehidupan semakin sukses (berada diatas) maka cobaan pun akan semakin berat,
semakin kuat diterpa angin, dan selalu rawan untuk jatuh apabila tidak hati-hati, dan
alangkah baiknya jika hidup kita seperti kontruksi rumah dan penataan ruang pada rumah
joglo ini, yang saling mengikat satu sama lain, mengormati, bantu membantu, dan tidak
ada yang dirugikan.
5.
1.
2.

Tahap Pembuatan Rumah Joglo


Meratakan Tanah
Memasang Umpak, batu penyangga tiang (saka) yang umunya berukuran

75x100cm dan yang kecil 15x20cm.

Sumber : http://arsitekarchira.com/

Gambar 6. Ompak dan Purus, diakses pada tanggal 14 Februari 2015

3.

Memasang lantai, jika dahulu lantai berupa tanah atau disebut jogan,

4.

pada zaman sekarang lantai rumah dapat menggunakan material yang beragam
Memasang tiang/saka, Pemasangan tiang harus sama jaraknya dengan
yang lain agar tiang tidak miring dan membahayakan bangunan. Cara pemasangannya
juga tidak boleh terbalik seperti tiang utama.

14

Sumber : http://arsitekarchira.com/

Gambar 7. Pemasangan tiang saka, diakses pada tanggal 14 Februari 2015

5.

Memasang ander/saka gini dan molo, balok bagian atas yang berfungsi
sbg penopang molo dan memiliki bentuk yang tegak lurus. Pangkal ander terletak diatas
pengeret dan ujungnya menyangga molo serta memakai sistem purus.

Sumber : http://arsitekarchira.com/

15

Gambar 8. Ander penopang molo, diakses pada tanggal 14 Februari 2015

6.

Memasang dinding, pada penggunaannya dinding bambu biasanya


menggunakan teknik lepas dengan jepitan seperti ini, anda dapat memakai sistem jepitan
dari kayu yang berfungsi untuk menghubungkan dinding yang satu dengan dinding yang
lain

Sumber : http://arsitekarchira.com/

Gambar 9. Sistem amplokan pada tiang, diakses pada tanggal 14 Februari 2015

7.
8.

Memasang Pintu dan Jendela, yang terletak ditengah dan didepan rumah
memiliki fungsi untuk ventilasi atau pengatur udara serta untuk keamanan.
Memasang Atap
6.
Bentuk-bentuk Rumah Joglo
1.
Rumah Joglo Kepuhan Limasan.

Sumber : http://joglorumah.blogspot.com/2013/09/rumah-jawa-joglo-kepuhanlimalasan.html

Gambar 10. Joglo Kepuhan Limasan, diakses pada tanggal 15 Maret 2015

16

Rumah ini memakai uleng ganda, sunduk bandang lebih panjang dan ander agak pendek,
sehingga empyak/atap brunjung lebih panjang.
2.
Rumah Joglo Kepuhan Lawakan.

Sumber : http://joglorumah.blogspot.com/2013/09/rumah-jawa-joglo-kepuhanlawakan.html

Gambar 11. Joglo Kepuhan Lawakan, diakses pada tanggal 15 Maret 2015
Ialah Rumah Joglo tanpa memakai geganja, atap brunjung agak tegak sehingga kelihatan
tinggi.

3.

Rumah Joglo Jompongan.

Sumber : http://joglorumah.blogspot.com/2013/09/rumah-jawa-joglo-jompongan.html

Gambar 12. Joglo Jompongan, diakses pada tanggal 15 Maret 2015

4.

Merupakan Joglo yang memakai dua buah pengeret dengan denah bujur sangkar.
Rumah Joglo Pengrawit.

17

Sumber : http://joglorumah.blogspot.com/2013/09/rumah-jawa-joglo-pengrawit.html

Gambar 13. Joglo Pengrawit diakses pada tanggal 15 Maret 2015


Disebut Rumah Joglo Pengrawit karena memakai lambang gantung, atap brunjung
merenggang dari atap penanggap, atap emper merenggang dari atap penanggap, tiap sudut diberi
tiang (saka) bentung tertancap pada sudut, tumpang lima buah, memakai singup dan geganja.

5.

Rumah Joglo Ceblokan.

Sumber : http://joglorumah.blogspot.com/2013/09/rumah-jawa-joglo-ceblokan.html

Gambar 14. Joglo Ceblokan, diakses pada tanggal 15 Maret 2015


Merupakan rumah yang memakai saka pendem (terdapat pada bagian tiang sebelah bawah
terpendam). Rumah bentuk ini terkadang tidak memakai sunduk.
6.
Rumah Joglo Kepuhan Apitan.

18

Sumber : http://joglorumah.blogspot.com/2013/09/rumah-jawa-joglo-kepuhanapitan.html

Gambar 15. Joglo Kepuhan Apitan, diakses pada tanggal 15 Maret 2015
Rumah Joglo dengan empyak brunjung lebih tinggi karena penggeret lebih pendek. Bentuk
rumah ini kelihatan kecil tetapi langsing.

7.

Rumah Joglo Lambangsari.

Sumber : http://joglorumah.blogspot.com/2013/09/rumah-jawa-joglo-lambangsari.html

Gambar 16. Joglo Lambangsari, diakses pada tanggal 15 Maret 2015


Rumah Joglo yang memakai lambangsari, tanpa empyak emper, dengan tumpangsari lima
tingkat, uleng ganda dan godegan.
8.
Rumah Joglo Wantah Apitan

19

Sumber : http://joglorumah.blogspot.com/2013/09/rumah-jawa-joglo-wantahapitan.html

Gambar 17. Joglo Wantah Apitan, diakses pada tanggal 15 Maret 2015
Ialah Rumah Joglo memakai lima buah tumpang, singup dan takir lumajang. Biasanya
rumah bentuk ini kelihatan langsing.

20

9.

Rumah Joglo Semar Tinandu.

Sumber : http://joglorumah.blogspot.com/2013/09/rumah-jawa-joglo-semartinandu.html

Gambar 18. Joglo Semar Tinandu, diakses pada tanggal 15 Maret 2015
Rumah Joglo yang memakai dua buah pengeret dan dua buah tiang (saka) guru diantara
dua buah pengeret. Biasanya dua buah tiang tadi diganti dengan tembok sambungan dari beteng
kebanyakan rumah bentuk ini dipakai sebagai regol (gapura).
10.
Rumah Joglo Hageng (besar).

Sumber : http://joglorumah.blogspot.com/2013/09/rumah-jawa-joglo-Hageng.html

Gambar 19. Joglo Hageng, diakses pada tanggal 15 Maret 2015


Hampir sama dengan rumah joglo pengrawit tetapi ukuran lebih rendah dan ditambah atap
yang disebut peningrat dan ditambah tratak keliling.

21

11.

Rumah Joglo Mangkurat.

Sumber : http://joglorumah.blogspot.com/2013/09/rumah-jawa-joglo-mangkurat.html

Gambar 20. Joglo Mangkurat, diakses pada tanggal 15 Maret 2015


Pada dasarnya sama dengan Joglo Pengrawit, tetapi lebih tinggi dan cara menyambung
atap penanggap dengan penitih.

7.
1.

Bagian-bagian Rumah Joglo


Pendapa
Pendapa adalah bagian paling depan Joglo yang mempunyai ruangan luas tanpa

sekat-sekat, hal ini berkaitan dengan filosofi orang Jawa yang selalu bersikap ramah,
terbuka dan tidak memilih dalam hal menerima tamu. Pada umumnya pendapa tidak diberi
meja ataupun kursi, hanya diberi tikar apabila ada tamu yang datang, sehingga antara
tamu dan yang punya rumah mempunyai kesetaraan dan juga dalam hal pembicaraan
atau ngobrol terasa akrab rukun (rukun agawe santosa). Pendapa biasanya digunakan
sebagai tempat pertemuan untuk acara besar bagi penghuninya. Seperti acara pagelaran
wayang kulit, tari, gamelan dan yang lain. Pada waktu ada acara syukuran biasanya
sebagai tempat tamu besar. Pendapa biasanya terdapat soko guru, soko pengerek, dan
tumpang sari.

22

2.

Pringgitan

Pringgitan adalah bagian penghubung antara pendapa dan rumah dalem. Bagian ini
dengan pendapa biasanya di batasi dengan seketsel dan dengan dalem dibatasi dengan
dinding (gebyok). Fungsi bagian pringgitan biasanya sebagai ruang tamu. Pringgitan juga
berfungsi sebagai tempat untuk pertunjukan wayang (ringgit), yaitu pertunjukan yang
berhubungan dengan upacara ruwatan untuk anak sukerta (anak yang menjadi mangsa
Bathara Kala, dewa raksasa yang maha hebat). Pringgitan memiliki makna konseptual
yaitu tempat untuk memperlihatkan diri sebagai simbolisasi dari pemilik rumah bahwa
dirinya hanya merupakan bayang-bayang atau wayang dari Dewi Sri (dewi padi) yang
merupakan sumber segala kehidupan, kesuburan, dan kebahagiaan.
3.

Dalem

Dalem adalah bagian tempat bersantai keluarga. Bagian ruangan yang bersifat lebih
privasi. Dalam ruang utama dalem ini ada beberapa bagian yaitu ruang keluarga dan
beberapa kamar atau yang disebut sentong. Pada masa dulu, kamar atau sentong hanya
dibuat tiga kamar saja, dan peruntukkan kamar ini pun otomatis hanya menjadi tiga yaitu
kamar pertama untuk tidur atau istirahat laki-laki kamar kedua kosong namun tetap diisi
tempat tidur atau amben lengkap dengan perlengkapan tidur, dan yang ketiga
diperuntukkan tempat tidur atau istirahat kaum perempuan. Kamar yang kedua atau yang
tengah biasa disebut dengan krobongan yaitu tempat untuk menyimpan pusaka dan
tempat pemujaan terhadap Dewi Sri. Sentong tengah atau krobongan merupakan tempat
paling suci/privat bagi penghuninya.
4.
Sentong
Sentong pada prinsipnya digunakan sebagai tempat tidur. Tetapi sebelum orang tua
menikahkan anaknya, maka pintu sentong akan selalu tertutup atau terkunci. Sentong baru
dibuka atau dipakai untuk tidur setelah anaknya dinikahkan. Sentong ini terbagi menjadi
tiga yaitu:

23

a. Sentong Tengen (Kanan)


Sentong Tengen dipergunakan sebagai tempat tidur bagi anak laki-laki yang telah
dinikahkan.
b. Sentong kiwo (Kiri)
Sentong ini merupakan tempat tidur bagi anak perempuan yang telah dinikahkan.
c. Sentong Tengah
Sentong Tengah disebut juga Petanen, Pasren, Pedaringan atau Krobongan. Sentong
ini dianggap sakral dan digunakan untuk pemujaan. Masyarakat Jawa yang mayoritas
menggantungkan hidupnya pada bidang pertanian, percaya bahwa Sentong Tengah
adalah tempat bersemayamnya roh nenek moyang yakni Dewi Sri sebagai Dewi
Kesuburan. Karena dianggap sakral, maka tidak sembarangan orang boleh memasukinya
kecuali ada keperluan. Orang yang masuk sentong inipun harus hati-hati dan bersifat
menghormati tuan rumah dalam hal ini Dewi Sri. Di sentong tengah ini diletakkan tempat
tidur atau kantil lengkap dengan bantal guling, cermin dan sisir. Selain itu ada lampu
minyak yang selalu menyala, baik di siang hari maupun malam hari.
5.

Gandok
Gandok merupakan bangunan yang terletak di samping (pavilium). Biasanya

menempel dengan bangunan bagian belakang. Arah membujur gandok melintang pada
rumah belakang. Gandok berfungsi sebagai tempat penyimpanan perabot dapur, ruang
makan dan terkadang berfungsi sebagai dapur.
6.
Kuncung
Kuncung adalah bangunan yang terletak di samping atau depan pendapa yang
berfungsi sebagai tempat bersantai misalnya minum teh atau membaca koran.
7.
Pawon
24

Pawon merupakan bagaian dari suatu rumah joglo yang dipergunakan sebagai
tempat untuk memasak.

25

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Daerah Istimewa Yogyakarta dibentuk dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun
1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta Peraturan Pemerintah Nomor 31
Tahun 1950 sebagaimana telah diubah, dan ditambah terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 9 Tahun 1955 (Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 71, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 1819) yang sampai saat ini masih berlaku. Dalam undang-undang tersebut
dinyatakan DIY meliputi Daerah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, dan Daerah
Kadipaten Pakualaman.
Letak Astronomi Daerah Istimewa Yogyakarta pada 715- 815 Lintang Selatan
dan garis 1105- 1104 Bujur Timur, dengan batas wilayah: sebelah barat kabupaten
Purworejo, Jawa Tengah; sebelah barat laut kabupaten Magelang, Jawa Tengah; sebelah
timur laut kabupaten Klaten, Jawa Tengah; sebelah timur kabupaten Wonogiri, Jawa
Tengah dan sebelah selatan Samudera Hindia. Luas Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta
3.185,80 km2 terdiri atas Kota Yogyakarta 32,50 km 2, Kabupaten Sleman 574,82 km 2,
Kabupaten Bantul 506,85 km 2,Kabupaten Kulon Progo 586,27 km 2,Kabupaten Gunung
Kidul 1485,36 km2.
Mengenai asal muasal wujud rumah tinggal orang Jawa sampai saat ini masih
merupakan hal yang belum jelas karena kurangnya sumber-sumber tertulis pada jaman

26

sebelumIndianisasi. Menurut suatu naskah tentang rumah Jawa koleksi museum pusat
Dep. P&KNo.Inv.B.G.608 disebutkan bahwa rumah orang Jawa pada mulanya dibuat dari
bahan batu, teknik penyusunannya seperti batu-batu candi. Tetapi bukan berarti rumah
orang Jawa meniru bentuk candi. Bahkan beberapa ahli menduga bahwa candi meniru
bentuk rumah tertentu pada waktu itu (Hamzuri, tanpa tahun).
Berdasarkan pada pandangan hidup orang Jawa bahwa kehidupan manusia tidak
terlepas dari pengaruh alam semesta, atau dalam lingkup yang lebih terbatas adalah dari
pengaruh lingkungan sekitarnya, maka keberadaan rumah bagi orang Jawa harus
mempertimbangkan hubungan tersebut. Joglo sebagai salah satu simbol kebudayaan
masyarakat Jawa, merupakan media perantara untuk menyatu dengan Tuhan (kekuatan
Ilahi) sebagai tujuan akhir kehidupan (sangkan paraning dumadi), berdasar pada
kedudukan manusia sebagai seorang individu, anggota keluarga dan anggota masyarakat.
Nilai filosofis Joglo mempresentasikan etika Jawa yang menuntut setiap orang Jawa untuk
memiliki sikap batin yang tepat, melakukan tindakan yang tepat, mengetahui tempat yang
tepat (dapat menempatkan diri) dan memiliki pengertian yang tepat dalam kehidupan.
Tahap-tahap pembuatan rumah joglo, yaitu: (1) meratakan tanah, (2) memasang
umpak, (3) memasang lantai, (4) memasang tiang/saka, (5) memasang ander/saka gini
dan molo, (6) memasang dinding, (7) memasang pintu dan jendelan dan (8) memasang
atap. Adapun bentuk-bentuk rumah joglo berdasarkan atap, yaitu: rumah joglo kepuhan
limasan, rumah joglo kepuhan lawakan, rumah joglo jompongan, rumah joglo pengrawit,
rumah joglo ceblokan, rumah joglo kepuhan apitan, rumah joglo lambangsari, rumah joglo
wantah apitan, rumah joglo semar tinandu, rumah joglo hageng (besar) dan rumah joglo

27

mangkurat. Bagian-bagian yang terdapat pada rumah joglo, yaitu: (1) pendapa, (2)
pringgitan, (3) dalem, (4) sentong, (5) gandok, (6) kuncung dan (7) pawon.

DAFTAR PUSTAKA
Wibowo, Gatut, dkk. 1998. Arsitektur Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Atmadi, P. 1979. Beberapa Patokan Perencanaan Pangunan Candi. Yogyakarta:
Universitas Gajah Mada, Disertasi, Fakultas Teknik.
Dakung, S. 1987. Arsitektur Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta:
Depdikbud, Proyek Infentarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
Hamzuri. 1981. Arsitektur Tradisional Jawa. Jakarta: Depdikbud.
Josef Prijotomo. 1995. Petungan: Sistem Ukuran dalam Arsitektur Jawa. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press.
Soedjatmoko. 1983. Dimensi Manusia dalam Pembangunan. Jakarta: LP3ES.
Agus

Santoso

(2011).

Filosofi

Rumah

Joglo.

https://agussemarang.wordpress.com/java/joglo/. 25 Februari 2015.


Aulia Wiyana (2009). History and Origins of Joglo Houses. http://www.rumahjoglo.com/en/17/Joglo-in-General/26/History-and-Origins-of-Joglo-Houses.html.
25 Februari 2015.
Didi Kristiawan (2008). Tahap Pembangunan Joglo. http://arsitekarchira.com/. 12 Maret
2015.

28

29