Anda di halaman 1dari 4

Teori Tambahan

Kopi (Coffea sp) merupakan tanaman yang menghasilkan sejenis minuman. Minuman
tersebut diperoleh dari seduhan kopi dalam bentuk bubuk. Kopi bubuk adalah biji kopi yang
telah disangrai, digiling atau ditumbuk hingga menyerupai serbuk halus (Hayati, 2012).
Kafein adalah salah satu jenis alkaloid yang banyak terdapat dalam biji kopi, daun
teh, dan biji coklat. Kafein memiliki efek farmakologis yang bermanfaat secara klinis, seperti
menstimulasi susunan syaraf pusat, relaksasi otot polos terutama otot polos bronkus dan
stimulasi otot jantung. Berdasarkan efek farmakologis tersebut, kafein ditambahkan dalam
jumlah tertentu ke minuman. Efek berlebihan (over dosis) mengkonsumsi kafein dapat
menyebabkan gugup, gelisah, tremor, insomnia, hipertensi, mual dan kejang. Berdasarkan
FDA (Food Drug Administration) yang diacu dalam Liska (2004), dosis kafein yang
diizinkan 100- 200mg/hari, sedangkan menurut SNI 01- 7152-2006 batas maksimum kafein
dalam makanan dan minuman adalah 150 mg/hari dan 50 mg/sajian. Kafein sebagai stimulan
tingkat sedang (mild stimulant) memang seringkali diduga sebagai penyebab kecanduan.
Kafein hanya dapat menimbulkan kecanduan jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak dan
rutin. Namun kecanduan kafein berbeda dengan kecanduan obat psikotropika, karena
gejalanya akan hilang hanya dalam satu dua hari setelah konsumsi. Kafein diperoleh dengan
menyaring larutan kopi menggunakan kertas saring. Kemudian dipisahkan dengan corong
pisah dengan penambahan kalsium karbonat dan kloroform. Kalsium karbonat berfungsi
untuk memutuskan ikatan kafein dengan senyawa lain, sehingga kafein akan ada dalam basa
bebas. Kafein dalam basa bebas tadi akan diikat oleh kloroform, karena kloroform merupakan
pelarut pengekstraksi yang tidak bercampurdengan pelarut semula. Kemudian dilakukan
pengocokkan sehingga terjadi kesetimbangan konsentrasi zat yang diekstraksi pada dua
lapisan yang terbentuk. Lapisan bawahnya diambil (fase kloroform) dan diuapkan dengan
rotarievaporator. Kloroform tadi akan menguap, sehingga hanya ekstrak kafein yang
tertinggal,kemudian diencerkan dalam labu takar 100 ml (Maramis, 2013).
Kafein adalah senyawa yang termasuk dalam golongan alkaloid. Alkaloid adalah
senyawa yang mengandung atom nitrogen dalam strukturnya dan banyak ditemukan dalam
tanaman. Senyawa alkaloid umumnya memiliki rasa pahit dan seringkali memiliki sifat
fisilogis aktif bagi manusia. nikotin, morfin, striknin dan kokain nama mereka biasanya
berakhir di "ine":. banyak cukup akrab dengan nama jika tidak struktur kimia nikotin, morfin,
striknin (larut dalam dicloromethane) untuk memastikan bahwa zat asam tetap larut dalam air
dan bahwa kafein akan hadir sebagai basa bebas, natrium karbonat ditambahkan ke media
ekstraksi (Irwandi, 2014: 17).
Kafein dengan rumus kimianya C6 H10 O2, dan struktur kimianya 1,3,7trimetilxantin. Kafein merupakan jenis alkaloid yang secara alamiah terdapat dalam biji kopi,
daun teh, daun mete, biji kola, biji coklat dan beberapa minuman penyegar. Kafein memiliki
berat molekul 194,19 gram/mol. Dengan rumus kimia C8H10N8O2 dan pH 6,9 (larutan
kafein 1 % dalam air ). Secara ilmiah, efek kafein terhadap kesehatan sebetulnya tidak ada,
tetapi yang ada adalah efek tak langsungnya seperti menstimulasi pernafasan dan jantung,
serta memberikan efek samping berupa rasa gelisah (neuroses), tidak dapat tidur (insomnia)
dan denyut jantung tak beraturan (tachycardia). Kopi dan teh banyak mengandung kafein
dibandingkan jenis tanaman lain, karena tanaman kopi dan teh menghasilkan biji kopi dan
daun teh yang sangat cepat, sementara penghancurannya sangat lambat (Ultriamalia. 2012).
https://www.academia.edu/7268713/LAPORAN_PRAKTIKUM_KIMIA_ORGANIK_II
_ekstraksi_kafein

Ekstraksi
Secara sederhana ekstraksi dapat didefinisikan sebagai proses pemindahan satu atau lebih
komponen dari satu fase ke fase lainnya. Secara garis besar, proses pemisahan secara
ekstraksi terdiri dari tiga langkah dasar, yaitu:
1. Penambahan sejumlah massa solven untuk dikontakkan dengan sampel, biasanya melalui
proses difusi.
2. Solute akan terpisah dari sampel dan larut oleh solven membentuk fase ekstrak.
3. Pemisahan fase ekstrak dengan sampel.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ekstraksi, diantaranya:
a.
Suhu
b.
Ukuran partikel
c.
Faktor solven
Kafein biasanya diisolasi dengan ekstraksi menggunakan solven organik, dan kondisi
ekstraksi (solven, suhu, waktu, pH, dan rasio komposisi solven dengan bahan) dapat
mempengaruhi efisiensi ekstraksi kafein (Majid, 2008).
Ekstraksi pelarut dari bahan-bahan sumber memberikan hasil lemak tertinggi. Pelarut yang
digunakan antara lain hidrokarbon, alkohol, aseton, karbondisulfida, pelarut yang berhalogen.
Ekstraksi pelarut terutama penting jika diharapkan sisa yang berkandung lemak rendah
misalnya tepung kedele untuk pembuatan tekstur protein nabati (Buckle, 1985).
Pembagian solut antara dua cairan tak saling campur memberikan banyak kemungkinan yang
menarik bagi pemisahan-pemisahan secara analitik. Juga untuk keadaan yang tujuan
utamanya bukanlah analitik melainkan preparatif, maka ekstraksi solven dapat merupakan
suatu langkah penting dalam urutan yang memberikan hasil murni di dalam laboratorium
organik, anorganik, atau biokimia. Meskipun kadang-kadang digunakan alat-alat yang
sukar, seringkali diperlukan hanya sebuah corong pemisah
(Day, 1981).
Ekstrak biasanya menggunakan pelarut organik, karena pelarut organik akan melarutkan
semua senyawa bioaktif dan senyawa yang berpotensi lainnya dalam bahan tersebut bila ingin
dikembangkan secara komersial. Metode ekstraksi dan ukuran partikel dalam proses
ekstraksi akan mempengaruhi rendemen ekstrak yang dihasilkan, karena ukuran partikel
sangat mempengaruhi internal diffusi dari pelarut ke dalam padatan
(Hernani, 2009).
Tingginya konsentrasi pelarut juga menunjukkan turunnya polaritas pelarut yang merupakan
campuran etanol dengan air. Rendemen tertinggi dapat diperoleh dengan menggunakan etanol
99,8% sebagai pelarut pada suhu 40oC selama 6 jam. Hal ini dikarenakan semakin tinggi
konsentrasi etanol maka semakin rendah tingkat kepolaran pelarut yang digunakan, yang
pada akhirnya dapat meningkatkan kemampuan pelarut dalam mengekstrak. Semakin lama
waktu ekstraksi, rendemen yang diperoleh pun akan meningkat. Akan tetapi, dengan
menggunakan etanol 99,8% kenaikan rendemen yang signifikan hanya didapat pada kurun
waktu ekstraksi 0-1 jam
(Ramadhan, 2009).
Daun teh mengandung beberapa zat kimia yang dapat digolongkan menjadi empat. Keempat
golongan itu adalah : substansi fenol (katekin, flanavol), bukan fenol (karbohidrat, pektin,
alkaloid, protein, asam amino, klorofil, asam organik), senyawa aromatis, dan enzim. Secara
rincinya kandungan tersebut sebagai berikut.
Zat yang tidak larut dalam air :
Protein
16 %
Lemak
8 %
Klorofil dan pigmen lain
1,5%
Pektin
4 %

Pati
0.5%
Serat kasar, selulosa, lignin, dll
22 %
Jumlah:
52 %
Zat yang larut dalam air:
Polifenol yang dapat difermentasi
20 %
Polifenol lain
10 %
Kafein (theine)
4%
Gula dan getah
3%
Asam amino
7%
Mineral
4%
Jumlah:
48 % (Nazaruddin, 1993).
Dalam teh kering terdapat kira-kira 3% caffeine. Bahan inilah yang menimbulkan rasa nikmat
dari air teh. Pada galibnja kadar caffeine tidak dimana-mana bagian dari tanaman sama. Daun
yang termuda misalnya mengandung caffeine yang terbanyak, yaitu 3-4%, daun kelima dan
keenam 1%, sedang dalam tangkai hanya terdapat 0,5% caffeine. Dalam bulu daun peko
terdapat 2% caffeine (Adisewojo,1964).
Kandungan kafein dalam teh hijau adalah 21,01 mg/g. Dalam pengolahan elusi, hampir
kafein murni terdeteksi pada kartrid kafein MIP. Ini diamati afinitas yang lebih tinggi dan
pemulihan kafein dapat diperoleh pada kartrid kafein MIP. Kafein MIP yang disintesis dan
disusun bisa diekstrak secara selektif dan menghilangkan kafein dan beberapa senyawa
katekin dari teh hijau (Jin, 2007).
Senyawa-senyawa yang terdapat di dalam cairan kopi hampir sama dengan cairan teh. Cairan
kopi diperoleh dari kopi bubuk yang diseduh dengan air panas yang menyebabkan semakin
banyaknya senyawa yang terekstraksi. Senyawa-senyawa tersebut berasal dari bubuk kopi
yang dikonsumsi sebagai minuman. Di dalam kopi yang telah disangrai terdapat beberapa
senyawa penting, diantaranya kafein, karbondioksida, asam organik, serta trigonelin (Rahayu,
2007).
Kadar kafein dalam biji kopi (Cafea sp.) ialah 0,2 - 2,2 persen. Untuk bermacam-macam kopi
kadar kafeinnya berbeda-beda. Misalnya kadar kafein pada kopi robusta 1,5 2,5 persen,
kopi arabika 1,0 1,2 persen, kopi liberia 1,4 -1,6 persen dan kopi mukka 1,4 1, Pada
prinsipnya pembuatan kopi dekafein ialah melarutkan kafein dengan suatu pelarut tertentu.
Pada suhu 25oC kafein larut dalam campuran 45,6 bagian air, yang kelarutannya meningkat
dengan makin tingginya suhu air misalnya pada suhu 25oC dapat larut 2,13 gram kafein/ 100
g air sedangkan pada suhu 100oC pelarutannya 50,0 g kafein/ 100 g air (Koswara, 2006).
Senyawa kafein tergolong dalam jenis alkaloid yang bisa menimbulkan kecanduan. Menurut
sebuah riset, besarnya kandungan kafein itu tergantung dari cara pengolahan kopi sebelum
diminum. Secangkir kopi biasa, yang ampasnya diendapkan, mengandung 25 miligram 30
miligram kafein. Adapun kopi instan setiap cangkirnya mengandung kafein lebih tinggi,
yaitu 60 80 miligram. Kandungan paling tinggi ditemukan pada kopi biasa yang tidak
diendapkan, yakni 120 miligram per cangkirnya
(Anonim2, 2008).
Alkaloid adalah basa organik yang mengandung amina sekunder, tersier atau siklik.
Diperkirakan ada 5500 alkaloid telah diketahui, yang merupakan golongan senyawa
metabolit sekunder terbesar dari tanaman. Tidak ada satupun definisi yang memuaskan
tentang alkaloid, tetapi alkaloid umumnya mencakup senyawa-senyawa bersifat basa yang
mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya sebagai bagian dari sistem siklik. Secara
kimia, alkaloid adalah golongan yang sangat heterogen berkisar dari senyawa-senyawa yang
sederhana seperti coniine sampai ke struktur pentasiklik strychnine. Banyak alkaloid adalah
terpenoid di alam dan beberapa adalah steroid (Utami, 2008).

Ada dua jenis ekstraktor yang lazim digunakan pada skala laboratorium, yaitu ekstraktor
Soxhlet dan ekstraktor Butt. Pada ekstraktor Soxhlet, pelarut dipanaskan dalam labu didih
sehingga menghasilkan uap. Uap tersebut kemudian masuk ke kondensor melalui pipa kecil
dan keluar dalam fasa cair. Kemudian pelarut masuk ke dalam selongsong berisi padatan.
Pelarut akan membasahi sampel dan tertahan di dalam selongsong sampai tinggi pelarut
dalam pipa sifon sama dengan tinggi pelarut di selongsong. Kemudian pelarut seluruhnya
akan menggejorok masuk kembali ke dalam labu didih dan begitu seterusnya. Peristiwa ini
disebut dengan efek sifon (Utami, 2009).
Ekstraksi soxhlet merupakan proses ekstraksi yang berlangsung secara berulang-ulang dan
teratur. Bahan yang akan diekstrak dijadikan serbuk dan diletakkan dalam pembungkus yang
berpori (kertas saring). Pembungkus tersebut dimasukkan kedalam alat soxhlet, sedangkan
pada bagian atas alat ini dihubungkan dengan kondensor atau pendingin. Pelarut dan batu
didih dimasukkan kedalam labu dan diekstrak dengan suhu dan waktu yang diinginkan.
Penggunaan ekstraksi soxhlet mempunyai keuntungan, salah satunya adalah proses ekstraksi
dapat berlangsung berulang-ulang secara otomatis sampai ekstraksi sempurna. Namun
kekurangan dari sistem ini adalah suhu campuran pada tabung ekstraksi tidak sama
dengan titik didih pelarutnya, sehingga proses ekstraksi membutuhkan waktu lama.
(Nuryanti, 2010).
Kloroform adalah pelarut yang umum di laboratorium karena relatif tidak reaktif, miscible
dengan cairan organik yang paling, dan nyaman volatile. Kloroform digunakan sebagai
pelarut dalam farmasi industri dan untuk memproduksi pewarna dan pestisida . Kloroform
adalah pelarut yang efektif untuk alkaloid dalam bentuk basis mereka dan dengan demikian
bahan tanaman biasanya diekstraksi dengan kloroform untuk diproses farmasi. Sebagai
contoh, ia digunakan dalam perdagangan untuk ekstrak morfin dari poppy dan skopolamin
dari Datura tanaman (Anonim1, 2010).

http://voiladena.blogspot.com/2012/06/ekstraksi-kafein.html