Anda di halaman 1dari 19

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh secara

Ekstraksi Pelarut
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Alkaloid adalah senyawa organik yang terdapat di alam
bersifat basa atau alkali dan sifat basa ini disebabkan karena
adanya atom N (Nitrogen) dalam molekul senyawa tersebut
dalam struktur lingkar heterosiklik atau aromatis, dan dalam
dosis kecil dapat memberikan efek farmakologis pada manusia
dan hewan. Selain itu ada beberapa pengecualian, dimana
termasuk golongan alkaloid tapi atom N (nitrogen)nya terdapat
di dalam rantai lurus atau alifatis.
Kafein adalah salah satu jenis alkaloid yang banyak terdapat
dalam biji kopi, daun teh, dan biji coklat. Kafein memiliki efek
farmakologis

yang

bermanfaat

menstimulasi

susunan

syaraf

secara

pusat,

klinis,

relaksasi

seperti

otot

polos

terutama otot polos bronkus dan stimulasi otot jantung.


Berdasarkan efek farmakologis tersebut, kafein ditambahkan
dalam jumlah tertentu ke minuman. Efek berlebihan (over
dosis)
gelisah,

mengkonsumsi
tremor,

kafein

insomnia,

dapat

menyebabkan

hipertensi,

mual

dan

gugup,
kejang.

Berdasarkan FDA (Food Drug Administration) yang diacu dalam


Liska (2004), dosis kafein yang diizinkan 100- 200mg/hari,
sedangkan menurut SNI 01-7152-2006 batas maksimum kafein
dalam makanan dan minuman adalah 150 mg/hari dan 50
mg/sajian.

Kafein

sebagai

stimulant)

memang

stimulan

seringkali

tingkat

diduga

sedang

sebagai

(mild

penyebab

kecanduan. Kafein hanya dapat menimbulkan kecanduan jika


dikonsumsi dalam jumlah yang banyak dan rutin. Namun
kecanduan kafein berbeda dengan kecanduan obat psikotropika,
karena gejalanya akan hilang hanya dalam satu dua hari
setelah konsumsi.
Sekarang ini telah banyak cara penentuan kadar alkaloida
kafein yang digunakan dalam menganalisis suatu sampel, baik
Nunu Alfiyana Nur
150 2012 0004

Sri Armita Mukhtar

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh secara


Ekstraksi Pelarut
itu merupakan metode konvensional maupun metode yang
sudah modern. Contoh metode konvensional adalah titrasi
asidimetri dan dengan cara ekstraksi, sedangkan cara modern
adalah dengan menggunakan alat-alat untuk menganalisis
suatu sampel misalnya spektrofotometri UV-vis, HPLC, dan lainlain.
Kali ini kita akan menentukan kadar alkaloida kafein dalam
suatu

sampel

teh

bubuk

dengan

menggunakan

metode

ekstraksi pelarut dan dibantu dengan proses titrasi alkalimetri.


Penentuan

kadar

alkaloida

kafein

ini

tidak

lain

untuk

mengetahui suatu kadar kafein dalam sediaan yang telah


beredar dipasaran dan menjadi konsumsi masyarakat.
1.2 Maksud Praktikum
Adapun maksud dari praktikum ini adalah menganalisis kadar dari
alkaloid kafein dalam daun teh menggunakan metode ekstrasi pelarut.
1.3 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum adalah mengetahui dan memahami
cara

menentukan

kadar

dari

alkaloid

kafein

dalam

daun

teh

menggunakan metode ekstrasi pelarut.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Teori Umum
Nunu Alfiyana Nur
150 2012 0004

Sri Armita Mukhtar

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh secara


Ekstraksi Pelarut
Alkaloid adalah senyawa yang mengandung unsur Nitrogen,
yang biasanya terasa pahit. Selain unsur Nitrogen, Carbon dan
Hidrogen, Alkaloid juga mengandung Oksigen dan Sulfur. Jarang
sekali

mengandung

Chlorin,

Bromin

dan

Fosfor.

Alkaloid

diproduksi oleh bakteri, jamur, tumbuhan dan hewan. Sebagian


Alkaloid menjadi racun bagi organisme lain (Murtadlo, 2013).
Contoh

Alkaloid

yang

sering

kita

jumpai

sehari-hari,

misalnya: kopi (mengandung caffeine), rokok (mengandung


nicotine), pil kina (mengandung quinine). Obat yang sering
dijual bebas untuk asma (ephedrin), obat yang sering dipakai di
rumah sakit (lokal anestetik, atropine, quinidine, vincristine),
obat

yang

terlarang

dan

diawasi

pemakaiannya

(cocain,

morphine) dan banyak lagi (Murtadlo, 2013).


Contoh-contoh obat di atas adalah suatu alkaloid yang
sudah dimurnikan dan dibuat tablet, kapsul, atau dalam vial
sebagai obat suntik, yang lain diminum tiap hari atau diisap
(Murtadlo, 2013).
Beragam manfaat teh tidak lepas dari keberadaan senyawasenyawa dan sifat-sifat yang ada pada daun teh. Komposisi
kimia daun teh segar (dalam % berat kering) adalah serat
kasar, selulosa, lignin 22%, protein dan asam amino 23%,
lemak 8%, polifenol 30%, kafein 4%, pectin 4%. Daun teh
mengandung tiga komponen penting yang mempengaruhi mutu
minuman, yaitu kafein, tanin, dan polifenol. Kafein memberikan
efek stimulan (Sundari, dkk., 2009).
Kafein termasuk dalam famili bahan alam yang dikenal
sebagai xantin. Xantin berasal dari tumbuhan yang sejak dulu
dikenal sebagai stimulant. Kafein adalah jenis xantin yang kuat,
dengan kemampuannya untuk meningkatkan kesadaran, tidak
tertidur, dan kafein merupakan vasodilator (relaksasi pebuluh
darah) dan sebagai diuretik (meningkatkan jumlah urin).
Nunu Alfiyana Nur
150 2012 0004

Sri Armita Mukhtar

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh secara


Ekstraksi Pelarut
Banyak konsumen memilih menghindari kafein sebagian atau
semuanya, dengan efek stimulannya dan lain-lain, masih
menjadi perhatian medis. Kafein membuat dekafeinasi teh yang
penting dalam proses industri. Ditambah lagi, memiliki rasa
yang agak pahit. Hasilnya, dekafeinasi biji kopi dan daun teh
akan menghilangkan rasa tersebut dengan tidak adanya
komponen lain yang hilang. Perlu dicatat bahwa dekafeinasi
kopi dan teh adalah bukan kafein bebas. Kafeinasi dilakukan
dengan menggunakan pelarut yang mengekstrak kafein. Untuk
tujuan ini, pelarut yang sesuai adalah kloroform, diklorometana,
etil

asetat,

karbondioksida

super

kritik,

dan

lain-lain.

Diklorometana digunakan untuk dekafeinasi bagian yang besar


dari teh konvensional. Pelarut ini juga relatif tidak toksik dan
sering digantikan dengan kloroform. Etil asetat juga menarik
kafein dari daun teh secara efektif, juga dapat mengekstrak
komponen kimia lain dengan baik. Studi pada teh hijau dengan
dekafeinasi

menggunakan

etil

asetat

telah

menunjukkan

potensi di atas 30% dari epigalokatekin galat (dianggap sebagai


komponen yang sangat bermanfaat dalam teh hijau) dan
lainnya

bermanfaat

sebagai

komponen

yang

bersifat

antioksidan yang diekstrak bersama kafein (Atomssa, 2011).


Pemberian kafein secara berlebihan dapat menyebabkan
gugup, gelisah, tremor, insomnia, hiperestesia, mual, dan
kejang. Pemberian vitamin B2 yang berlebihan sejauh ini tidak
menimbulkan efek yang berbahaya, tapi konsumsi vitamin B6
yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan syaraf pada
tangan dan kaki, karena itulah kadar kafein, vitamin B2 dan B6
dalam

minuman

berenergi

perlu

ditentukan

agar

tidak

menimbulkan efek yang merugikan. Banyak metode telah


dikembangkan untuk penentuan kadar kafein, yaitu metode
titrimetri, spektrofotometri, dan kromatografi cair kinerja tinggi.
Nunu Alfiyana Nur
150 2012 0004

Sri Armita Mukhtar

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh secara


Ekstraksi Pelarut
Metode titrimetri dan fluorometri memerlukan sampel dan
pereaksi kimia dalam jumlah banyak, waktu analisis yang lama,
dan perlu adanya preparasi sampel terlebih dahulu (Safitri,
2007).
Kadar

kafein

lebih

tinggi

dari

kopi

Arabika.

Kafein

mempunyai daya kerja sebagai stimulant sistem saraf pusat,


stimulant obat jantung, relaksasi otot polos, dan diuresi. Efek
kafein dapat meningkat apabila interaksi dengan beberapa jenis
obat dan menyebabkan kofeinisme (Hartono, 2009).
Kafein atau 1,3,7-trimetilxantin, senyawa golongan alkaloid
purin dengan rumus molekul C8H10N4O2. Kafein hasil isolasi
maupun sintesis dapat berbentuk anhidrat atau hidrat yang
mengandung satu molekul air. Senyawa ini mempunyai sifat
fisik berupa serbuk putih atau bentuk jarum mengkilat putih,
biasanya menggumpal, tidak berbau, dan berasa pahit seperti
alkaloid pada umumnya. Kafein sukar larut dalam eter, agak
sukar larut dalam air dan etanol, serta mudah larut dalam
kloroform (Safitri, 2007).
Kafein adalah salah satu jenis alkaloid yang banyak terdapat
di daun teh (Camellia sinensis), biji kopi (Coffea arabica), dan
biji coklat (Tehobroma cacao). Kafein memiliki efek farmakologis
yang bermanfaat secara klinis, seperti menstimulasi susunan
syaraf pusat, relaksasi otot polos terutama otot polos bronkus,
dan stimulasi otot jantung. Berdasarkan efek farmakologis
tersebut seringkali kafein ditambahkan dalam jumlah tertentu
ke minuman suplemen. Efek samping dari penggunaan kafein
secara berlebihan (overdosis) dapat menyebabkan gugup,
gelisah, tremor, insomnia, hiperestesia, mual, dan kejang
(Nersyanti, 2006).
Kebanyakan alkaloid yang telah diisolasi berupa padatan
kristal dengan titik lebur tertentu atau mempunyai kisaran
Nunu Alfiyana Nur
150 2012 0004

Sri Armita Mukhtar

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh secara


Ekstraksi Pelarut
dekomposisi. Sedikit alkaloid berbentuk amorf dan beberapa
seperti nikotin dan koiini berupa cairan. Kebanyakan alkaloid
tidak berwarna, tetapi beberapa senyawa yang kompleks,
spesies aromatis, berwarna contoh berberin berwarna kuning
dan betanin merah. Pada umumnya, basa bebas alkaloid hanya
larut dalam pelarut organik, meskipun pseudo dan protoalkaloid
larut daam air. Kebanyak alkaloid bersifat basa. Sifat trsebut
tergantung pada adanya pasangan electron pada nitrogen. Jika
gugus fungsional yang berdekatan dengan nitrogen bersifat
melepaskan electron, contoh gugus alkil, maka ketersediaan
electron pada nitrogen naik dan senyawa lebih bersifat basa.
Sebaliknya bila gugus fungsional yang berdekatan bersifat
menarik elektron (contoh gugus karboni), maka ketersediaan
elektron

berpasangan

berkurang

dan

pengaruh

yang

ditimbulkan alkaloid dapat bersifat netral atau bahkan sedikit


asam (Hartono, 2009).
Dua

metode

yang

paling

banyak

digunakan

untuk

menyeleksi tanaman yang mengandung alkaloid, yaitu prosedur


Wall dengan proses ekstraksi sederhana dan prosedur KiangDouglas dengan proses ekstraksi ditambah dengan modifikasi
pereaksi. Kebanyakan alkaloid tidak larut dalam petroleum eter.
Namun, ekstrak halus selalu dicek untuk mengetahu adanya
alkaloid dengan menggunakan salah satu pereaksi pengendap
alkaloid. Bila sejumlah alkaloid larut dalam pelarut petroleum
eter, maka bahan tanaman pada awal ditambah dengan asam
berair untuk mengikat alkaloid sebagai garamnya (Hartono,
2009).
Beberapa metode sudah dikembangkan dalam penentuan
kadar kafein. Metodemetode tersebut adalah metode titrasi,
spektrofotometri,

dan

kromatografi

cair

kinerja

tinggi.

Dibandingkan ketiga metode tersebut, metode spektrofotometri


Nunu Alfiyana Nur
150 2012 0004

Sri Armita Mukhtar

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh secara


Ekstraksi Pelarut
merupakan metode yang relatif cepat, murah, dan umum
digunakan. Dalam perkembangannya spektrofotometri terbagi
menjadi spektrofotometri konvensional dan spektrofotometri
derivatif.

Metode

spektrofotometri

konvensional

memiliki

keterbatasan, yaitu tidak dapat digunakan secara langsung


untuk analisis secara kuantitatif maupun kualitatif dari contoh
yang memiliki matriks kompleks, sehingga harus dilakukan
pemisahan analat dari matriks. Pemisahan kafein dari matriks
dapat menjadi sumber kesalahan analisis dan memperpanjang
waktu analisis. Oleh karena itu, diperlukan metode lain yang
lebih cepat, murah dengan tingkat ketelitian dan ketepatan
yang tinggi, serta dapat mengatasi efek matriks tanpa harus
memisahkannya terlebih dahulu (Nersyanti, 2006).

2.2 Uraian Bahan


1. Asam sulfat (Ditjen POM, 1979 : 58)
Nama resmi
: ACIDUM SULFURICUM
Nama lain
: Asam sulfat
RM/BM
: 98,07/H2SO4
Pemerian

: Cairan kental seperti minyak, korosif, tidak


berwarna,

jika

ditambahkan

kedalam

air

menimbulkan panas.
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan
: Sebagai pemberi suasana basa.
2. Amonia (Ditjen POM,1979 : 86)
Nama resmi
: AMMONIA
Nama lain
: Amonia
RM/BM
: NH3 / 17,05 gr/mol
Pemerian
: Cairan jernih, tidak berwarna, bau khas.
Kelarutan
: Mudah larut dalam air.
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup rapat ditempat sejuk.
Kegunaan
: Sebagai pereaksi tollens.
3. Natrium Hidrokida (Ditjen POM, 1979 : 412)
Nama resmi
: NATRII HYDROXYDUM
Nama lain
: Natrium hidroksida
RM
: NaOH
Nunu Alfiyana Nur
150 2012 0004

Sri Armita Mukhtar

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh secara


Ekstraksi Pelarut
Pemerian

: Bentuk batang, butiran, massa hablur, atau


keeping, kering, keras rapuh, dan menunjukkan
susunan hablur, putih mudah meleleh, sangat
alkalis

Kelarutan
Penyimpanan
Kegunaan

dan

korosif,

segera

menyerap

karbondioksida.
: Sangat mudah larut dalam air dan etanol.
: Dalam wadah tertutup baik
: Zat tambahan

4. Amonium Hidroksida (Ditjen POM, 1979 : 86)


Nama resmi
: AMMONIA HYDROXYDUM
Nama lain
: Amonia hidroksida
RM/BM
: NH4OH/35,05 gr/mol
Pemerian
: Cairan jenih, tidak berwarna, bau khas.
Kelarutan
: Mudah larut dalam air.
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan
: Zat tambahan
5. Etanol (Ditjen POM, 1979 : 65)
Nama resmi
: AETHANOLUM
Nama lain
: Etanol, alcohol
RM/BM
: C2H5OH/46,07
Pemerian
: Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap,
dan mudah bergerak, bau khasi, rasa panas,
mudah terbakar dengan memberikan nyala biru
Kelarutan

yang tidak berasap.


: Sangat mudah larut dalam kloroform P, dan

dalam eter P, dan air.


Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan
: Zat tambahan
6. Eter (Ditjen POM, 1979 : 66)
Nama resmi
: AETHER ANASTHETICUS
Nama lain
: Eter anastesi, efoksierana
RM/BM
: C4H10O/74,12
Pemerian
: Cairan transpran, tidak berwarna, bau khas,
rasa manis, atau membakar, sangat mudah
Kelarutan

terbakar.
: Larut dalam 10 bagian air, dapat bercampur
dengan etanol (95%) P, dengan kloroform P,

Penyimpanan
Kegunaan
Nunu Alfiyana Nur
150 2012 0004

minyak lemak, dan minyak atsiri.


: Dalam wadah tertutup rapat.
: Anastesi umum.
Sri Armita Mukhtar

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh secara


Ekstraksi Pelarut
7. Kloroform (Ditjen POM, 1979 : 187)
Nama resmi
: CHLOROFORM
Nama lain
: Kloroform
RM / BM
: CHCl3 / 119,38
Pemerian
: Cairan tidak berwarna, mudah menguap, bau
khas, rasa manis dan membakar.
Kelarutan
: Larut dalam lebih kurang 200 bagian air.
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup baik.
8. Aquades (Ditjen POM, 1979 : 96)
Nama resmi
: AQUA DESTILLATA
Nama lain
: Air suling
RM/BM
: H2O/18,02
Pemerian
: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berasa.
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan
: Sebagai pelarut.

BAB 3 METODE KERJA


3.1 Alat
Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah alat
soklet/maserasi, buret, corong biasa, corong pisah, erlenmeyer, gelas

Nunu Alfiyana Nur


150 2012 0004

Sri Armita Mukhtar

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh secara


Ekstraksi Pelarut
kimia, labu takar, penangas air (waterbath), pipet volum, dan
timbangan.
3.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah
ammonia 10%, aquades, ammonium hidroksida, dietil eter, etanol 95%,
indicator metal merah, kloroform, larutan baku NaOH 0,2 N, larutan
baku H2SO4 0,2 N, larutan H2SO4 0,5 N, dan sampel (teh sosrojojo).
3.3 Cara Kerja
Timbang sebanyak 10 gram daun teh dalam bentuk bubuk kasar
masukkan dalam labu soklet atau alat maserasi. Selanjutnya dilakukan
penyarian dengan membasahi bahan tersebut dengan campuran 8 ml
ammonium hidroklorida pekat, 10 ml etanol 95% dan 20 ml eter.
Campur dengan baik, lalu dimaserasi selama semalam. Setelah itu
dilakukan penyarian dengan eter selama 3 jam.
Pindahkan sari eter yang mengandung alkaloida ke dalam corong
pisah, bilas labu dengan sedikit eter dan kumpulkan ke dalam corong
pisah yang lain. Sari alkaloida dalam fasa air dengan 20 ml asam sulfat
0,5 N sebanyak 5 kali, sambil disaring fasa air itu dimasukkan ke dalam
corong pisah. Tambahkan ammonia 10% ke dalam fasa air sampai jelas
bereaksi alkalis. Sari fasa air dengan 20 ml kloroform sebanyak 5 kali.
Kumpulkan sari kloroform dan uapkan di atas waterbath sampai kering.
Larutkan residu dalam beberapa milliliter kloroform, tambahkan 15,0 ml
larutan baku H2SO4 0,2 N, panaskan untuk menghilangkan kloroform,
dinginkan. Tambahkan larutan indikator metil merah, lalu titrasi
kelebihan asam dengan larutan baku NaOH 0,2 N. Dihitung kandungan
alkaloida dalam daun teh sebagai kafein.
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Sampel
Kelompok 1 (Teh Sosrojojo)
Kelompok 2 (Teh Hitam Celup)
Kelompok 3 (Teh Sariwangi)
Kelompok 4 (Teh Tongji)
Nunu Alfiyana Nur
150 2012 0004

% Kafein
0,504%
0,503%
0,582%
0,502%
Sri Armita Mukhtar

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh secara


Ekstraksi Pelarut
Perhitungan :
Diketahui :
N = 0,2 N
Bm kafein = 194,19
Valensi kafein = 10
1. Kelompok 1 (Teh sosrojojo)
Bm 194,19

=
BE
V
10

= 19,419

Wkafein

= NNaOH VNaOH BEkafein


= 0,0065 0,2 19,419
= 0,0252
W kafein
100
% Kafein = berat sampel
=

0,0252
5

100%

= 0,504%
2. Kelompok 2 (Teh hitam celup)
Bm 194,19

=
BE
V
10

= 19,419

Wkafein

= NNaOH VNaOH BEkafein


= 0,0065 0,2 19,419
= 0,0252
W kafein

100
% Kafein
berat sampel
=

0,0252
5,0145

100%

= 0,503 %
3. Kelompok 3 (Teh sariwangi)
Bm 194,19

=
BE
V
10
Wkafein

= 19,419

= NNaOH VNaOH BEkafein

= 0,0075 0,2 19,419


= 0,0291
W kafein
100
% Kafein = berat sampel
=

0,0291
5

100%

= 0,582 %
Nunu Alfiyana Nur
150 2012 0004

Sri Armita Mukhtar

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh secara


Ekstraksi Pelarut
4. Kelompok 4 (Teh tongji)
Bm 194,19

=
BE
V
10

= 19,419

Wkafein

= NNaOH VNaOH BEkafein


= 0,0065 0,2 19,419
= 0,0252
W kafein
100
% Kafein = berat sampel
=

0,0252447
5,0128

100%

= 0,502%

4.2 Pembahasan
Setiap tumbuhan akan menghasilkan senyawa-senyawa
kimia tertentu dalam metabolismenya. Senyawa-senyawa kimia
hasil metabolisme tersebut dikenal sebagai metabolit, berupa
metabolit primer dan metabolit sekunder. Metabolit primer
merupakan senyawa-senyawa kimia hasil metabolisme yang
penting bagi tumbuhan dan diperoleh dari jalur biosintesis
primer. Metabolit sekunder merupakan senyawa kimia yang
berasal dari metabolit primer yang melalui jalur biosintesis
tertentu berupa jalur metabolisme yang disesuaikan dengan
Nunu Alfiyana Nur
150 2012 0004

Sri Armita Mukhtar

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh secara


Ekstraksi Pelarut
tujuan dan kondisi lingkungan tumbuhan tersebut tumbuh.
Contohnya senyawa alkaloid yang berasal dari metaolit primer
asam amino.
Kafein merupakan salah satu senyawa derivat xantin yang
dapat ditemukan dalam tumbuhan. Sejak dulu, ekstrak tumbuhtumbuhan ini digunakan sebagai minuman. Kafein merupakan
salah satu jenis alkaloid yang terdapat pada tumbuhan. Kafein
memiliki sifat fisis seperti berbentuk kristal dengan warna putih,
memiliki titik leleh 2340 C, larut dengan air (15 mg/ml) dan
kloroform, serta memiliki rasa agak pahit.
Pada manusia, kematian akibat keracunan kafein jarang
terjadi.

Gejala

yang

biasanya

paling

mencolok

pada

penggunaan kafein dosis berlebihan ialah muntah dan kejang.


Kadar kafein dalam darah pascamati ditemukan antara 80
mg/ml sampai lebih dari 1 mg/ml. Walaupun dosis letal akut
kafein pada orang dewasa antara 5-10 gram, namun reaksi
yangtidak diinginkan telah terlihat pada penggunaan kafein 1 g
(15 mg/kgBB) yang menyebabkan kadar dalam plasma di atas
30 mg/ml. Gejala permulaan berupa sukar tidur, gelisah, dan
eksitasi yang dapat berkembang menjadi delirium ringan.
Gangguan sensoris berupa tinus dan kilatan cahaya sering
dijumpai. Otot rangka menjadi tegang dan gemetar, sering pula
dijumpai takikardia dan ekstrasistol, sedangkan pernapasan
menjadi lebih cepat.

Pada percobaan ini dilakukan penentuan kandungan alkaloid


kafein dalam daun teh dengan ekstraksi pelarut. Percobaan ini
diawali

dengan

mengeringkan

daun

teh

sehingga

dapat

mengurangi kandungan air di dalam sampel dan mencegah


terjadinya reaksi enzimatik agar bakteri tidak mudah tumbuh.
Nunu Alfiyana Nur
150 2012 0004

Sri Armita Mukhtar

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh secara


Ekstraksi Pelarut
Sampel

juga

dihaluskan

menjadi

serbuk

kasar

untuk

memperluas sudut kontak permukaan sehingga luas kontak


antara serbuk daun dan pelarut yang digunakan untuk ekstraksi
menjadi lebih besar. Ketika luas kontaknya besar, maka
senyawa yang ditarik oleh pelarut dari dalam sampel diperoleh
lebih banyak.
Tahap selanjutnya yaitu ektraksi. Ekstraksi merupakan
metode

pemisahan

senyawa

yang

melibatkan

proses

pemindahan satu atau lebih senyawa dari satu fasa ke fasa lain
yang juga didasarkan pada sifat kelarutannya. Ekstraksi terdiri
atas tiga jenis. Ekstraksi padat-cair biasa mengekstrak zat
padat dari zat cair. Pada praktikum ini dilakukan ekstraksi
padat-cair kafein dari the, yaitu pada saat maserasi dan
ekstraksi cair-cair yang prinsipnya ialah suatu senyawa kurang
larut dalam pelarut yang satu dan sangat larut dalam pelarut
lainnya. Pada praktikum dilakukan ekstraksi cair-cair pada
corong pisah.
Maserasi merupakan metode perendaman sampel dengan
menggunakan

pelarut

organik,

yaitu

kloroform.

Pemilihan

pelarut kloroform ialah karena senyawa yang hendak diambil,


yaitu kafein bersifat larut dalam kloroform. Maserasi dilakukan
pada suhu kamar mengakibatkan mudah terdistribusi ke dalam
sel sampel. Pada proses ini, dalam sampel akan terjadi kontak
antara sampel dan pelarut yang cukup lama. Pemisahan
dilakukan dengan maserasi karena metode pengerjaan ini
mudah dan peralatan yang digunakan sederhana. Hasil dari
maserasi

menghasilkan

maserat

yang

selanjutnya

akan

diekstraksi cair-cair menggunakan corong pisah. Kemudian ke


dalam corong pisah dan ditambahkan asam sulfat 0,5 N.
Penambahan asam sulfat 0,5 N berfungsi untuk mengikat
alkaloid menjadi garam alkaloid.
Nunu Alfiyana Nur
150 2012 0004

Sri Armita Mukhtar

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh secara


Ekstraksi Pelarut
Hasil ekstraksi fase air selanjutnya ditambahkan dengan
amonia

10%

dan

kloroform.

Ammonia

berfungsi

untuk

membasakan dan pengendapan alkaloid sehingga diperoleh


alkaloid dalam bentuk garamnya atapun alkaloid dalam bentuk
basa bebas, sedangkan kloroform menarik senyawa kafein
dalam

sampel.

Pada

saat

penambahan

kloroform

akan

terbentuk 2 lapisan, lapisan paling bawah adalah kloroform


yang memiliki massa jenis yang lebih besar, sedang lapisan
atas adalah asam sulfat. Alkaoid dalam daun teh akan bereaksi
dengan NH3 dengan menarik H+ dan membentuk alkaloid bebas
dalam kloroform sedangkan amonia akan terpisah ke dalam
fase yang lain.
Fase klorofom dari proses ekstraksi dipisahkan dan diuapkan
di atas waterbath. Residu yang terbentuk kemudian dilarutkan
dalam beberapa mililiter kloroform dan ditambahkan larutan
baku H2SO4 0,2 N yang akan bereaksi dengan kafein serta
ditambahkan indikator metil merah Panambahan indikator
tersebut untuk menandai ekuvalen dan titik akhir titrasi.
Kelebihan asamnya dengan reaksi netralisasi menggunakan
NaOH 0,2 N yang akan bereaksi dengan kafein dan melalui
volume NaOH yang digunakan, dapat diketahui kadar kafein
dalam sampel yang diamati. Jika NaOH telah habis bereaksi
dengan analit (kafein), maka NaOH tersebut akan bereaksi
dengan indikator dan akan terjadi perubahan dari warna merah
menjadi bening yang menandakan bahwa titik akhir titrasi telah
tercapai dan titrasi harus dihentikan.
Volume NaOH yang digunakan ialah 0,0065 L atau 6,5 ml
dan dari hasil praktikum didapatkan kadar kafein dalam daun
teh Sosrojojo adalah 0,504%.

Nunu Alfiyana Nur


150 2012 0004

Sri Armita Mukhtar

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh secara


Ekstraksi Pelarut
Adapun manfaat dilakukannya praktikum kali ini adalah
mengetahui dan memahami cara penentuan kadar kafein
dalam suatu sediaan.

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Dari hasil praktikum didapatkan volume NaOH yang digunakan
ialah 0,0065 L atau 6,5 ml dan dari hasil praktikum didapatkan
kadar kafein dalam daun teh Sosrojojo adalah 0,504%.
5.2 Saran
Sebaiknya alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum
dilengkapi agar praktikan juga lebih mudah dalam menentukan hasil
praktikum

Nunu Alfiyana Nur


150 2012 0004

Sri Armita Mukhtar

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh secara


Ekstraksi Pelarut

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2015. Penuntun Praktikum Kimia Analisis Kuantitatif. UMI;
Makassar.
Atomssa T., A.V. Gholap. 2011. Characterization of Caffeine and
Determination of Caffeine in Tea Leaves Using UV-Visible
Spectrometer. African Journal of Pure and Applied Chemistry. Vol. V(1).
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Depkes RI; Jakarta.
Hartono, Elina. 2009. Penetapan Kadar Kafein Dalam Biji Kopi Secara
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Biomedika. Vol. II(1).
Murtadlo, Yazid, dkk.. 2013. Isolasi, Identifikasi Senyawa Alkaloid Total
Daun Tempuyung (Sonchus Arvensis Linn) dan Uji Sitotoksik
dengan Metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test). Jurusan
Kimia, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro.
Nersyanti, Fenri. 2006. Spektrofotometri Dervatif Ultraviolet Untuk
Penentuan Kadar Kafein Dalam Minuman Suplemen Dan Ekstrak Teh.
Skripsi. Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bogor. Bogor.
Safitri, Miranti. 2007. Metode Cepat Penentuan Stimultan Kadar Kafein,
Vitamin B2 dan B6 Dalam Minuman Berenergi Dengan Teknik ZeroCrossing. Skripsi. Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bogor. Bogor.
Sundari, D., Budi Nuratmi, M. Wien Winarno. 2009. Toksisitas Akut (LD50)
Dan Uji Gelagat Ekstrak Daun Teh Hijau (Camelia sinensis (Linn.)
Kunze) Pada Mencit. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Vol. XIX(4).

Nunu Alfiyana Nur


150 2012 0004

Sri Armita Mukhtar

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh secara


Ekstraksi Pelarut

LAMPIRAN
A. Skema Kerja
Ditimbang 10 gr daun teh

Dimasukkan dalam alat maserasi

Dilakukan penyarian dengan cara + 8 ml ammonium


hidroklorida pekat, + 10 ml etanol 95%, dan + 20 ml eter
Dimaserasi selama semalam
Dilakukan penyarian dengan eter selama 3 jam
Dan dindahkan sari eter ke corong pisah
Dibilas corong pisah menggunakan eter
Masukkan sampel yang dipreparasi
Masukan fase air (H2SO4) 20 ml (5) tanpa dikocok
Ambil fase air
Masukkan kedalam corong pisah
+ 20 ml kloroform (5) tanpa dikocok

Fase air + ammonia sampai


pH alkalis (pH10) dalam
Erlenmeyer
Diambil fase kloroform

Hasil uapan dilarutkan dengan 20 ml kloroform


+ 15 ml larutan baku H2SO4 0,2 N
+ 3 tetes metil merah

Nunu Alfiyana Nur


150 2012 0004

Diuapkan

Panaskan hingga
gelembung kloroform hilang
(dengan bunsen)

Sri Armita Mukhtar

Penentuan Kandungan Alkaloida Kafein dalam Daun Teh secara


Ekstraksi Pelarut
Titrasi dengan NaOH
(Hingga berubah warna menjadi kuning)
B. Gambar

sari eter dan sari asam sulfat

Setelah diuapkan

Sebelum dan setelah dititrasi

Nunu Alfiyana Nur


150 2012 0004

Sri Armita Mukhtar