Anda di halaman 1dari 15

PENENTUAN KADAR KAFEIN METODA SPEKTROFOTOMETRI UV

(SPEKTROFOTOMETRI 1500 SHIMADZU)


SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2014-2015

Tugas

: 26 Maret 2015

Penyerahan

: 2 April 2015

(Laporan)

Pembimbing

: Dra. Nancy Siti Djenar, MS

Kelompok

:5

Nama

: 1. Moch. Egi Ramadhan

Kelas

(141411046)

2. Moh. Ridwan Enan Sanusi

(141411047)

3. Nabila Suri Oktaviani

(141411048)

: 1B

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2015

I. DASAR TEORI
1.1 Kafein
Kafein adalah basa sangat lemah dalam larutan air atau alkohol tidak terbentuk garam
yang stabil. Kafein terdapat sebagai serbuk putih, atau sebagai jarum mengkilat putih, tidak
berbau dan rasanya pahit. Kafein larut dalam air (1:50), alkohol (1:75) atau kloroform (1:6)
tetapi kurang larut dalam eter. Kelarutan naik dalam air panas (1:6 pada 80C) atau alkohol
panas (1:25 pada 60C) (Wilson and Gisvold, 1982). Berikut ini adalah struktur dari kafein :

Gambar 1. Struktur Kafein


Kafein merupakan alkaloid yang terdapat dalam teh, kopi, cokelat, kola, dan beberapa
minuman penyegar lainnya. Kafein dapat berfungsi sebagai stimulant dan beberapa aktifitas
biologis lainnya. Kandungan kafein dalam teh relative lebih besar daripada yang terdapat
dalam kopi, tetapi pemakaian teh dalam minuman lebih encer dibandingkan dengan kopi
(Sudarmi, 1997). Kafein merupakan perangsang susunan saraf pusat yang dapat
menimbulkan dieresis, merangsang otot jantung dan melemaskan otot polos bronchus. Secara
klinis biasanya digunakan berdasarkan khasiat sentralnya, merangsang semua susunan saraf
pusat mula-mula korteks kemudian batang otak, sedangkan medulla spinalis hanya
dirangsang dengan dosis besar
1.2 Spektrofotometer UV
Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari spectrometer
dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang
tertentu dan fotometer adalah pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau
diabsorbsi. Jadi spektrofotometer digunakan untuk mengukur energy secara relative jika
energy tersebut ditransmisikan atau direfleksikan sebagai fungsi dari panjang gelombang.
Prinsip dasar dari suatu spektrofotometer adalah penyerapan cahaya pada panjang gelombang
tertentu. Jenis-jenis spektrofotometer :

berdasarkan pada daerah spektrum yang akan dieksporasi, terdiri dari :


a. Spektrofotometer sinar tampak (Vis).
b. Spektrofotometer sinar tampak (Vis) dan ultraviolet (UV).

berdasarkan teknik optika sinar, terdiri dari :


a. Spektrofotometer optika sinar ganda (double beams optic).
b. Spektrofotometer optika sinar tunggal (single beams optic).

Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spectrum tampak kontinyu, monokromator, sel
pengabsorbsi untuk larutan sampel atau blanko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan
absorbansi antara sampel dan blanko ataupun pembanding (Khopkar, S.M, 2002)
1.3 Skema konstruksi spektrofotometer :
Ketika cahaya putih dilewatkan dalam suatu substansi maka setiap warna cahaya yang
dipantulkan akan memiliki panjang gelombang yang berbeda. Berkas cahaya tersebut
diasumsikan sebagai warna komplemen dari panjang gelombang yang diserap.

Spektrofotometer 1500 Shimadzu

Mekanisme kerja dari spektrofotometer pada dasarnya adalah memencilkan cahaya


menjadi monokromatik, yang kemudian cahaya tersebut dilewatkan pada suatu sampel yang
akan diukur kekuatan radiasinya. Jika P merupakan banyaknya sinar sinar yang diteruskan
oleh larutan sampel dan Po merupakan banyaknya sinar yang diserap, maka ratio P/Po dapat
kita sebut sebagai transmitansi. % Transmitansi dapat dituliskan sebagai berikut:
Selain mengukur transmitansi, spektrofotometer pada dasarnya adalah untuk mengukur
absorbansi sampel karena adanya interaksi atom, molekul, dan ion pada sampel tersebut.

Panjang gelombang yang diserap oleh sampel dari sejumlah cahaya yang diberikan akan
sebanding dengan konsentrasi sampel dan ketebalan larutan sampel. Secara matematis
hubungan ini diberikan oleh hukum Lambert beer:
A = bc
Dimana:
= absorptivitas molar (L.cm-1.mol-1)
b = ketebalan kuvet (cm)
c = konsentrasi (molL-1)
Hukum Lambert-Beer
Dimana,
A= serapan
Io = Intensitas sinar yang datang
I = Intensitas sinar yang diteruskan
= absorptivitas molar
= panjang atau tebal larutan
c = konsentrasi larutan.

Komponen Instrumentasi UV-Vis


a.

Sumber Radiasi

Argon
Tungsten
Deuterium
Xenon

100 160 nm
350 800 nm
160 360 nm
200 900 nm

b. Kuvet (Sample Container)


-Kuarsa atau silika
c. Monokromator
-Prisma kaca atau kuarsa
d. Detektor
-Fotolistrik
e.

Pencatat

Menurut konfigurasi optiknya, spektrofotometer UV-Vis dibagi menjadi :


Single Beam
Double Beam
Multi Channe
II. PERCOBAAN
2.1

Alat dan bahan

No
1
2
3
4
5
6
7

Alat

Kuvet
Batang pengaduk
Labu takar 50 ml
Pipet ukur
Pipet tetes
Gelas kimia 100 ml
Gelas kimia 50 ml
Spektrofotometri UV1700 Shimadzu
Tissue lensa

10
11

Bola hisap
Botol semprot

Jumlah
2 buah
1buah
5 buah
2 buah
2 buah
1 buah
1 buah

Bahan
HCl 0.1N
Kafein (100 ppm)
Aquades

Jumlah
250 ml
18 ml

1 buah

2 buah
1 buah

2.2 Langkah Kerja


A. Pembuatan Larutan Standar dan Penentuan Panjang Gelombang
Maksimum.

BTU euknatrtu ss1k ee0a brn empr al tnibnajed nrulbgakar u aeat flieokimnsnbt(as1 ne0 dng at rmpra ksmai fls)ae mrin utdamen ndsgteaa nngdka o rn cpsae rnd tar:apusakinu2jr,a sn eg r a pe alonm yb a n( ag m b il a r u t a n 8 p m ) d a r i
d4by a,ea nrl8b,ma1sg0uHa,diCdplah0n.d1jiat2Nen gp t umke al.onm (bn ao .n3g) ( d a r i 3 8 0 -1 9 0 n m )
B. Menyalakan Alat

KBNT euynlkugaa rmuk aosnna aimst oilrtcapaUi eVgr-le1oal7shde0aasnr-ii(latsoshaiamnlbi.pso aBlesdliais lea y as r it ad m np a k abnirku e pl u t a r t o m b o l d i s e b e la h k a n a n a l t h in g a
clstaeoymbmaeprpliamlahr toeknmimrt oearndlttea )m pe an ku in t ia liz a t io n
C. Pengukuran Spektrum (untuk penentuan Panjang Gelombang Maksimum)

TMaTPeeilkkshaaunnmek at onmng ukbuaovsle2pt,e abac est rruiscmpioalrr(ajuikFmet1aa ,ndttebua lnra,ignsmeekuot sinp augmd moap areidfe rmee n caes smoa mdpel, spc a dn a insga mr apnlg e ,
GaMuTe knn atcinukl tuowvmea tv ebo leannsgtkaohr tb& amaag biasknoa rdbaekp acne mu dtae mn cgpuailnasnpk uek uvc ervtuabmAe r is i
rcdpeoehcmno.gtproaa nmnr tg: e0mt,r,0siecpn e0tt A(kdka,eandlaouttaob-mfedsrubcboaunlny,radieilbtsauiprprul)anty)nmob lda en .k o )
lvasnr ulatmr a dAasbt(aspnadneajnargya gn ewag lodmvi enblgae in gk)tahn .

D. Pengukuran Photometric (untuk mengukur A atau %T, jika


panjang gelombang maksimun sudah diketahui)

MGPT e iaa kl nis a h ut n i k kma au n uve tke no ut -uv iz s e i Pt r b o hy l aa o t nn ut kg on o gm dg eue p t a r ni c ,


GMT e a k n a t n i k u v e t d e n g a n
bdsy aeea mrn i i gts p uia a ln ai t rdke u eu kt nva a gen nta b b A l1 ea ,:rn i 0ksg io, o0 l a0 rt0 u o A t a W( na l La t,
lt ao r m u tb a o n l y a n g l a i n d a n
(sb kt e ae r ndb du aan r- y .d i u b a i np y) a )
ti se ki kra t an n s t an r i t l a i p a n j a n g

g e lo m b a n g .

E. Pengukuran Quantitative
a. Pembuatan Kurva Kalibrasi

PAMTeit la uki hsar u nm k tae o n m uk bu oQv leu taA bnu ett iorit a s t i vl a e ru dt ae n g b a l an k o c a ra t e k a n ( 3 ) ( j i k a
Te k a n s t a rt m a s u k a n n i l a i k o n s e n t r a s i l a ru t a n s t a n d a r
dPpZ ae raridr o a m kt eu tnnd ug ga s up s ei s cai t mr u ep m f a e i rt e nk ca en sr ea tm u pr n l e le b i h d a h u l u )
t e k a n e n t e r ( p e k e rj a a n d i u l a n g s a m p a i s e m u a l a ru t a n
e0 r, 0 : 0 0 A

s e le s a i d i u ji)

b. Pengukuran Konsentrasi Sample

TGU e la ak n an t ng i i k dru e e v t ne u gt r n a d n e n b g e a b n e r l a rp u a t a n
s ta a m n pd ae ilr m d e a n k g a a m n u l a n r c u u t l a t n a m p i l a n
yk eoa mn sg b e a n lk t i ra k a n e s id s i u a j m i t p e e k l a p n a s d t a r t .
m s a e m n u p l u e t a t a m b a l e . .
III. PERHITUNGAN

3.1 Konsentrasi Larutan Standar


Pembuatan larutan standar diambil dari larutan kafein 100 ppm.
a) Kafein 2 ppm
V1N1 = V2N2
V1. 100 ppm = 25 ml . 2 ppm
V1 = 50 ml.ppm/100 ppm
V1 = 0,5 ml
b) Kafein 4 ppm
V1N1 = V2N2
V1. 100 ppm = 25 ml . 4 ppm
V1 = 100 ml.ppm/100 ppm
V1 = 1 ml
c) Kafein 8 ppm
V1N1 = V2N2
V1. 100 ppm = 25 ml . 8 ppm
V1 = 200 ml.ppm/100 ppm
V1 = 2 ml
d) Kafein 10 ppm
V1N1 = V2N2
V1. 100 ppm = 25 ml . 10 ppm
V1 = 250 ml.ppm/100 ppm
V1 = 2,5 ml
e) Kafein 12 ppm
V1N1= V2N2
V1. 100 ppm = 25 ml . 12 ppm
V1 = 300 ml.ppm/100 ppm
V1 = 3 ml

IV. DATA PENGAMATAN


A. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
Penentuan panjang gelombang maksimum didasarkan pada nilai modus panjang
gelombang yang muncul.

Berikut gambar untuk panjang gelombang pada kafein konsentrasi 4 ppm.

Gambar 4.1 Data Kafein 4 ppm.


Sedangkang dibawah ini adalah konsentrasi kafein 8 ppm, penentuan panjang gelombang
diusahakan dilakukan duplo.

Gambar 4.2 Data Kafein 8 ppm.


Karena panjang gelombang UV pada kafein tidak lebih dari 250 nm maka menurut hasil percobaan
data panjang gelombang maksimum yang diambil adalah 205.6 nm

Data pengamatan panjang gelombang maksimum


Pada percobaan digunakan beberapa larutan standar untuk dimasukan kedalam kuvet sebagai
berikut :

Kafein 2 ppm
max = 205.6 nm
A = 0.393
Kafein 8 ppm
max = 205.2 nm
A = 0,921

Dari beberapa data di atas diambil nilai panjang gelombang maksimum dan absorbansi
sebesar :
max = 205.6 nm dan A = 0,921

B. Pengukuran Photometric
Photometric adalah pembacaan absorbansi dan transmitan. sedangkan photometric range adalah
rentang minimum-maksimum pembacaan absorbansi dan transmitan.

Data pada gambar merupakan besarnya absorbansi dari konsentrasi paling kecil yaitu 2 ppm (no.1)
sampai paling besar yaitu 12 ppm (No.5).

C. Quantitative

Analisa kuantitatif umumnya didasarkan atas pengukuran serapan dari larutan zat uji pada panjang
gelombang serapan dengan konsentrasi larutan.

No
1
2
3
4
5
6

Konsentrasi (ppm)
2
4
8
10
12
Sampel 1 (4,4)

Absorbansi (A)
0,383
0,321
0,855
1,050
1,121
0,502

Kurva Kalibrasi Absorbansi vs Konsentrasi


1.2
1
0.8
Absorbansi (A)

0.6
0.4
0.2
0
0

Konsentrasi (ppm)

V. PEMBAHASAN

10

11

5.1 Moh. Ridwan Enan Sanusi


Pada praktikum ini penentuan kadar kafein, dilakukan dengan metoda
spektrofotometri dengan sumber lampu UV (lampu yang digunakan biasanya lampu
denterium), karena larutan hasil ekstraksi kafein yang telah terpisah tidak berwarna, sehingga
diperlukan lampu dengan panjang gelombang dibawah 350 nm (UV) untuk mengetahui
besarnya absorban sampel dan standar kafein. Pada praktikum ini digunakanlah alat
spektrofotometer Shimadzu yang memiliki 2 sumber lampu yaitu sinar tampak dan UV, untuk
sumber lampunya yang digunakan adalah wolfram, sedang sinar tak tampak sering disebut
Ultra Violet (UV), sehingga spektrofotometer Shimadzu sering disebut spektrofotometer UVvis (Ultra Violet Visible)
Pada penentuan kadar kafein dalam sampel diawali dengan melakukan pengenceran terlebih
dahulu dari konsentrasi 1000 ppm menjadi 100 ppm kemudian lakukan pengenceran lagi
pada konsentrasi 2,4,8,10,12 ppm yang di larutkan dalam HCl 0,1 N.
Pengukuran panjang gelombang maksimum dengan menggunakan larutan standar kafein
digunakan dengan lima variasi standar, yaitu 2 ppm, 4 ppm ,8 ppm, 10 ppm dan 12 ppm. Dan
digunakan larutan standar 8 ppm untuk menentukan panjang gelombang maksimum, karena
konsentrasi 8 ppm berada pada bagian tengah-tengah yang mewakili deret standar sehingga
digunakanlah kafein 8 ppm untuk mencari panjang gelombang maksimum.
Pada penentuan panjang gelombang maksimum juga digunakan larutan blanko, larutan
blanko ini merupakan larutan HCl 0,1 N yang tidak mengandung kafein atau zat lainnya.
Digunakan HCl 0,1 N karena pelarut yang diguanakan untuk standar adalah HCl 0,1 N
sehingga jenis pereaksi yang ditambahkan pada sampel dan standar sedapat mungkin sama.
Larutan blanko ini juga berfungsi sebagai pengkondisian (pengkalibrasi) agar ketika
pengukuran sampel preaksi yang ditambahkan pada sampel tidak mengubah harga absorban
pengukuran, karena adanya faktor koreksi dengan blanko sehingga nilainy zero atau nol.

Nilai regresi
1.2
f(x) = 0.09x + 0.12
R = 0.93

1
0.8
Absorbansi (A)

0.6
0.4
0.2
0
0

10

Konsentrasi (ppm)

12

14

Pada proses pengukuran standar, didapatkan kurva kalibrasi dengan nilai R (regresi) sebesar
0,934. hal ini menunjukan bahwa korelasi dari kurva adalah bernilai positif, yang artinya
setiap pertambahan nilai konsentrasi diikuti pertambahan nilai absorban secara proporsional.
Dengan kata lain absorban berbanding lurus dengan konsentrasi. Ketika absorban dari sampel
lebih dari 1 maka artinya kandungan kafein dalam sampel terlampau pekat, dan harus
diencerkan dengan faktor pengenceran.

5.2 M. Egi Ramadhan


5.3 Nabila Suri Oktaviani
Pada praktikum penentuan kadar kafein dengan metoda spektrofotometri dengan
menggunakan spektrofotometer Shimadzu. Pertama-tama dibuat terlebih dahulu larutan
standar kafein 2, 4, 8, 10, 12 ppm dengan pelarut HCl 0,1 N. Sebalum kdigunakan, dilakukan
kalibrasi pada spektrofotometer dengan memasukkan nilai absorbansi A=0,000
Kemudian pengukuran panjang gelombang maksimum menggunakan kafein 8 ppm
dengan blanko berupa HCl 0,1 N. Larutan blanko ini juga berfungsi sebagai pengkalibrasi
agar ketika pengukuran sampel pereaksi yang ditambahkan pada sampel tidak mengubah nilai
absorbansi pengukuran. Pengukuran menggunakan konsentrasi 8 ppm karena konsentrasi
tersebut berada pada tengah-tengah yang dapat mewakili deret standar.
Pada saat pengukuran panjang gelombang maksimum, panjang gelombang maksimum
kafein yang terukur adalah 205,6 nm. Dalam literatur nilai panjang gelombang maksimum
kafein adalah 210 nm (Oxford Higher Education, 2005). Dengan didapatnya panjang
gelombang maksimum sebesar 205,6 nm, maka panjang gelombang ini digunakan untuk
pengukuran absorbansi larutan deret standar dan sampel. Pengukuran kurva larutan deret
standar yang digunakanmenghasilkan kurva yangmemiliki regresi 0,934 yang menunjukkan
setiap pertambahan konsentrasi diikuti dengan pertambahan nilai absorban.
Pada pengukuran konsentrasi sampel, digunakan panjang gelombang maksimum
205,6 nm dan pada pengukuran didapatkan absorbansi sampel sebesar 0,502 dan konsentrasi
sebesar 4,4017 ppm.

VI. KESIMPULAN
1. Larutan yang dibuat adalah 2 ppm, 4 ppm, 8ppm, 10 ppm dan 12 ppm dari larutan
kafein 1000 ppm yang kemudian encerkan menjadi 100 ppm dan diencerkan
kembali menjadi 5 larutan beda konsentrasi di atas.
2. Panjang gelombang maksimum yang di dapat dari percobaan adalah 205,6 dan nilai
absorbansinya adalah 0,921

3. Absorbansi yang di dapat dari setiap larutan kafein yang berbeda konsentrasi adalah
N
o
1
2
3
4
5
6

Konsentrasi (ppm)

Absorbansi (A)

2
4
8
10
12
Sampel 1 (4,4)

0,383
0,321
0,855
1,050
1,121
0,502

4. Nilai regresi yang didapat bernila positif yaitu 0,934.


5. Besar Konsentrasi dan absorbansi dari sampel yang di uji coba adalah masing-masing
sebesar 4,4 ppm dan 0,502 A.