Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN HOME VISIT

PENYAKIT CAMPAK
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TANJUNG PINANG
KOTA JAMBI

Anggota Kelompok :
Lia Trisetiany

G1A214042

Priselia Febrina Rambe Putri

G1A214043

Septiawan Pernandes Manaf

G1A214045

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT/KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015

LAPORAN HOME VISIT

1. Identitas Pasien/klien:
Nama

: Andi Septian

Umur

: 12 tahun

TB/BB

: 125 cm/26 kg

Jenis kelamin

: Laki-laki

Pendidikan terakhir : (-)


Pekerjaan

: Siswa

Alamat

: RT 5 Kasang Jaya

Suku

: Minang

2. Anamnesis
a. Keluhan Utama: (-)
b. Riwayat Penyakit Sekarang: (-)
c. Riwayat Penyakit Dahulu:
Demam selama dua hari
Timbul ruam/rash setelah demam selama dua hari
Anak terlihat pucat, lesu
Diagnosis dokter 3 bulan yang lalu adalah campak
Sudah dilakukan pemeriksaan darah
Pasien pernah diberikan imunisasi, namun setelah pasien
mengalami campak
d. Riwayat Penyakit Keluarga: (-)
e. Riwayat Sosial Ekonomi:
Pendidikan terakhir Ayah (54 tahun) pasien adalah SMP
Pendidikan terakhir Ibu (40 tahun) pasien adalah SMP
Ayah pasien bekerja sebagai Penjahit, dengan penghasilan < Rp.
1.500.000,- per bulan.
Ibu tidak bekerja (ibu rumah tangga)

Pasien tinggal bersama ayah, ibu, dan satu saudara perempuan ( 15


tahun ).
Pasien tinggal bersama keluarga di rumah kontrakan

f. Riwayat Kebiasaan:
- Pasien diajarkan oleh kakek untuk selalu mencuci kaki dan tangan
setelah bermain, sebelum makan dan sebelum tidur.
- Dalam keluarga pasien tidak ada kebiasaan khusus.
- Mandi menggunakan air sumur bersama beberapa keluarga lain.
- Minum menggunakan air galon isi ulang.

3. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum

: Tampak sehat, aktif.

b. Kesadaran

: Composmentis

c. Status Gizi

: Kurang, dengan IMT 16,64

d. Tanda vital
Tek. darah

: 110/70 mmHg

Heart rate

: 80 x/menit

Resp. rate

: 20 x/menit

Suhu

: 36,50C

e. Kepala

: Konjungtiva : anemis (-), Sklera : Ikterik (-)

f. Leher

: Pembesaran KGB (-)

g. Paru-paru
Inspeksi

: bentuk

dan

pernafasan

gerakan
simetris

dinding dada
ki/ka,

saat

pernafasan

intercostal (-) perubahan warna kulit (-),


pembengkakan (-)
Palpasi

: gerakan respirasi sama ki/ka, vocal fremitus


normal

Perkusi

: batas paru normal, suara sonor pada kedua


lapang paru

Auskultasi

: suara paru vesikuler, normal

h. Abdomen
Inspeksi

: bentuk perut datar, bengkak (-), peristaltik tidak


terlihat, bengkak/tumor (-) warna kulit sama
dengan sekitarnya, spidernaevi dan striae (-)

Auskultasi

: peristaltik/bising usus normal.

Perkusi

: pekak hati dan limpa, undulasi (-), shifting dullnes


(-)

Palpasi
i. Anggota gerak

: nyeri tekan (-), tahanan (-), tumor (-)


: dalam batas normal.

4. Diagnosis :
Pasien memiliki riwayat sakit campak.

5. Terapi:
a. Non farmakologis :
- Kompres panas
- Diberi minum madu
b. Farmakologis
Ketika sakit, pasien diberikan:
-

Baby cough syrup

Salicilk talc

Vitamin A

6. Prognosis:
Dubia ad bonam

7. Pengamatan Rumah:
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, rumah yang ditempati pasien
saat ini belum memenuhi standar kriteria rumah sehat dan pasien tinggal di
rumah kontrakan dengan kondisi :
1. Lantai
Lantai rumah pasien dari semen yang dialaskan tikar plastik dan kain
sisa jahitan ayahnya.
2. Atap
Atap rumah pasien terbuat dari genting, dinding terbuat dari semen,
dan tidak ada langit-langit rumah.
3. Ventilasi dan jendela
Ruang tamu

: terdapat 2 jendela didekat pintu bagian

depan dan di atasnya tidak terdapat ventilasi.


Kamar

: tidak memiliki kamar, hanya berupa sekat,

kamar pertama disekat oleh kain di ruang tamu, kamar kedua di


sekat oleh lemari di ruang keluarga, kamar tidak memiliki pintu,
jendela dan ventilasi. Sinar matahari tidak menembus kamar.
Dapur

: tidak terdapat jendela dan ventilasi.

Ruang makan

: tidak terdapat ruang makan.

Ruang keluarga

: menyatu dengan kamar kedua.

4. Cahaya
Pencahayaan sinar matahari pada siang hari di rumah pasien masuk
dari pintu bagian depan, namun tidak secara keseluruhan dapat
dikatakan cukup. Cahaya hanya bisa menyinari ruang tamu atau
keluarga, sementara kamar dan dapur tidak bisa ditembus cahaya
matahari.
Luas Bangunan Rumah:
Ukuran tanah seluas 4x7 m, luas lantai bangunan tidak sebanding
dengan jumlah penghuni di dalam rumah, yang memiliki: 1 ruang tamu
dan ruang berkumpul keluarga yang menyatu, tanpa kamar tidur, 1

dapur dan 1 kamar mandi yang sekaligus menjadi tempat cuci baju
dan cuci piring dan 1 wc untuk BAK dan BAB ditambah 1 kamar
mandi bersama dengan keluarga lain di sebelah rumahnya.

5. Fasilitas didalam rumah


Penyediaan air bersih
Sumber air di rumah pasien adalah air sumur yang digunakan
untuk mandi dan mencuci, kamar mandi dan tempat mencuci piring
serta baju dalam satu tempat. Air minumnya berasal dari air minum
depot isi ulang yang lebih praktis. Sumur bersama beberapa
keluarga terletak berdekatan dengan selokan.
Pembuangan tinja
Jamban yang digunakan pasien dan keluarganya adalah 1 jamban
yang ada di dalam wc.
Fasilitas dapur
Kondisi dapur rumah pasien sempit, pencahayaan kurang dan
kurang sehat.
Ruang berkumpul keluarga
Ruang berkumpul keluarga menyatu dengan kamar kedua yang
tidak terdapat kursi dan meja, hanya terdapat satu televisi.
Pekarangan/serambi
Pekarangan rumah pasien menyatu dengan jalan semen, dimana
lebar jalan di depan rumah pasien 1,5. Terdapat kandang ayam di
samping rumahnya.

8. Pengamatan Lingkungan:
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, lingkungan tempat tinggal
belum memenuhi standar lingkungan yang sehat, dengan kondisi sebagai
berikut:

a. Rumah sehat
Kondisi rumah kontrakan di sekitar tempat tinggal pasien kurang
sehat, karena rumah pasien dan rumah tetangga saling bersebelahan
tanpa ada pemisah. Sehingga tidak ada pencahayaan matahari dari
sebelah kiri maupun kanan rumah pasien, sumber cahaya matahari
hanya didapatkan dari bagian depan dan juga di seberang jalan di
depan pasien juga terdapat rumah warga, sehingga cahaya pun bisa
terhalang masuk ke dalam rumah. Juga tidak adanya ventilasi yang
cukup untuk pertukaran udara segar, yang menyebabkan udara di
dalam rumah kurang segar.

b. Sarana sanitasi dasar


Penggunaan kamar mandi tidak cukup luas, ditambah lagi kegiatan
cuci piring dan cuci baju dilakukan disana sehingga sangat tidak sehat.
Lantai kamar mandi terbuat dari semen yang licin dan berlumut.
Tempat penampungan air bersih menggunakan ember yang tertutup
dan juga tidak ditutup. BAB dan BAK langsung ke dalam closet.
Tidak terdapat tempat sampah baik di dalam rumah maupun di luar
rumah, keluarga pasien hanya menggunakan plastik untuk tempat
membuang sampah.

c. Tempat umum dan tempat pengolahan makanan


Disekitar lingkungan tempat tinggal pasien tidak terdapat tempat
umum ataupun tempat pengolahan makanan.

9. Hasil Wawancara dan Pengamatan Keluarga/ Hubungan Keluarga:

Hubungan pasien anggota keluarga


Hubungan antar keluarga pasien sangat baik. Semua anggota keluarga
saling memperhatikan dan membantu satusama lain. Hubungan pasien
dengan saudaranya cukup baik.

Hubungan pasien tetangga dan sekitarnya


Hubungan pasien dengan tetangga dan lingkungan sekitar juga baik.
Karena kondisi rumah yang saling bersebelahan tanpa ada pembatas
membuat pasien lebih akrab dengan tetangga sekitar. Teman pasien di
sekolahnya juga mengalami sakit campak.

10. Hasil Wawancara dan Pengamatan Perilaku Kesehatan pasien dan


keluarga:
Perilaku kesehatan keluarga pasien ini kurang baik di lihat dari
keadaan dapur dan kamar mandi rumah pasien karena kurangnya
pencahayaan dan keadaan kamar mandi yang dipenuhi lumut karena jarang
dibersihkan dan juga kedua kamar pasien tidak terdapat jendela ataupun
ventilasi sehingga sirkulasi udara kurang baik. Pada bagian ruang tamu
dan ruang keluarga terlihat berantakan dengan sisa jahitan bertebaran
dimana-mana, dan pada halaman depan rumah pasien yang juga
merupakan jalanan umum terlihat cukup bersih karena tidak terdapat
sampah. Penampilan dan cara berpakaian pasien cukup baik. Untuk
kebiasaan makan keluarga pasien ini, keluarga mengaku setiap makan
selalu ada sayur dan lauk. Namun tidak bisa dipastikan apakah makanan
keluarga pasien termasuk kedalam gizi seimbang karena pada saat
kunjungan

keluarga

belum

memasak

Keluarga

pasien

jarang

memeriksakan kesehatannya ke puskesmas sekalipun pasien atau anggota


yang lain sakit, pasien juga dulu jarang dibawa ke posyandu oleh ibunya
untuk di imunisasi dan dipantau tumbuh kembangnya, dengan alasan
mereka kesibukan mereka. Padahal lokasi posyandu tersebut berada di
daerah dekat rumah pasien, tetapi pasien mengaku tidak mengetahui
jadwal imunisasi dan lokasi posyandunya. Pengetahuan tentang perilaku
hidup bersih dan sehat pasien ini kurang terbukti dari keadaan rumah yang
masih perlu ditingkatkan kebersihannya dan belum adanya kesadaran akan
pentingnya imunisasi untuk kesehatan pasien dan saudaranya.

11. Analisis Pasien Secara Holistik


a. Hubungan diagnosis penyakit dengan keadaan rumah dan lingkungan
sekitar
Dari hasil anamnesis, ayah pasien mengatakan bahwa anaknya
mengalami demam setelah teman sekolahnya mengalami campak.
Karena pasien tidak di imunisasi campak menyebabkan pasien rentan
untuk tertular. Setelah pasien mengalami demam yang kemudian
timbul ruam, ibu pasien memeriksakan pasien ke Puskesmas Tanjung
Pinang Kota Jambi dan dilakukan pemeriksaan fisik dan pengambilan
darah untuk pemeriksaan laboratorium. Dari hasil pemeriksaan dokter
menyatakan bahwa pasien terinfeksi campak.
Untuk kebersihannya sendiri, rumah pasien tergolong kurang
bersih karena penataan barang di dapur yang tidak rapi dan
bertumpuk, keadaan lantai kamar mandi yang sangat licin dan
ditumbuhi lumut serta ruang tamu yang penuh dengan bekas jahitan
ayahnya.
Jika dilihat hubungan diagnosis penyakit pasien yaitu campak
dengan lingkungan sekitarnya, lingkungan sekitarnya merupakan
penyebab timbulnya penyakit tersebut. Karena kondisi rumah
dilingkungan pasien yang saling bersebelahan tanpa adanya pemisah
membuat penyakit campak yang ditularkan melalui udara gampang
untuk menular kepada yang lain.
Faktor keadaan lingkungan rumah yang saling berdekatan ini
membuat penyakit campak ini gampang menular. Karena campak
menular melalui udara sehingga virus mudah menyebar ke lingkungan
tetangga yang lain dan inilah yang menyebabkan pasien lebih rentan
tertular penyakit campak. Sehingga, menurut analisis kami ada
hubungan antara penyakit campak yang dialami pasien dengan
keadaan lingkungan rumah pasien.

b. Hubungan diagnosis dengan keadaan keluarga dan hubungan keluarga


Ibu pasien tampak kurang peduli dengan imunisasi dasar sejak
lahir karena terbukti bahwa kakak pasien juga tidak diimunisasi
sehingga rentan terkena penyakit campak. Alasan keluarga pasien
tidak memberikan imunisasi dikarenakan keluarga pasien mengaku
tidak tahunya jadwal imunisasi dan lokasi posyandu di daerah mereka
serta karena kesibukan mereka. Padahal lokasi posyandu berada
didekat wilayah mereka. Karena tidak pernah diberikan imunisasi, hal
ini dapat menjadi penyebab pasien rentan terinfeksi dan tertular
penyakit campak. Seperti yang kita ketahui, bahwa dengan adanya
imunisasi dapat membuat pasien menjadi lebih kebal terhadap infeksi
karena sudah adanya antibodi di dalam tubuh pasien.
Menurut analisis kami, ada hubungan antara keadaan dan
hubungan keluarga dengan penyakit campak yang dialami pasien
tersebut, karena teman sekolah pasien juga mengalami infeksi yang
sama sebelumnya sehingga dapat menular kepada pasien. Dan
perilaku ibu pasien yang tidak memiliki kesadaran yang tinggi untuk
pentingnya imunisasi dan kunjungan ke posyandu ataupun ke
puskesmas.

c. Hubungan diagnosis dengan perilaku kesehatan dalam keluarga


Perilaku sehat belum ditunjukkan oleh keluarga pasien, hal
tersebut terbukti dengan kurangnya kesadaran keluarga pasien akan
pentingnya memberikan imunisasi dasar kepada pasien dan kedua
saudara pasien. Ibu pasien juga mengatakan bahwa ibu pasien dan
keluarga juga tidak tahu letak posyandu yang ada di dekat rumah
mereka dan juga ibu pasien mengatakan bahwasanya beliau juga tidak
tahu jadwal imunisasi. Padahal pada kenyataannya lokasi posyandu
berada di dekat rumah pasien, yang berarti memang tidak adanya
kemauan dari ibu pasien untuk membawa anaknya ke posyandu.

Sebelum pasien mengalami penyakit campak, teman sekolah


pasien sudah lebih dulu terkena penyakit campak, namun tidak dibawa
berobat ke puskesmas sehingga pasien juga ikut tertular. Ini
menunjukkan bahwa keluarga pasien belum memiliki kesadaran akan
pentingnya kesehatan pasien.
Dalam kasus pasien ini, menurut analisis kami perilaku
kesehatan berhubungan dengan penyakit campak yang diderita oleh
pasien, karena orang tua pasien kurang memiliki kesadaran akan
pentingnya imunisasi dan kemauan untuk membawa anaknya ke
posyandu atau puskesmas sehingga pasien tidak pernah mendapatkan
imunisasi yang membuat pasien rentan tertular penyakit.

d. Hubungan kausal antara beberapa masalah, faktor risiko atau etiologi


dengan diagnosis penyakit
Penyebab penyakit ini adalah virus yang dapat menyebar
melalui udara dan penyakit ini sangat menular, sehingga sangat rentan
bagi pasien untuk tertular. Terlebih lagi pasien tidak pernah
mendapatkan imunisasi dasar sejak lahir yang menyebabkan pasien
tidak memiliki antibodi virus campak untuk melawan virus campak
tersebut. Sehingga ketika ada anak di sekitar lingkungan pasien yang
mengalami penyakit campak ini sangat rentan bagi pasien untuk
tertular penyakit campak juga. Penularan virus ini yang melalui udara
menyebabkan penyakit ini cepat menyebar atau menular kepada
pasien.
Masalah yang ada adalah keluarga pasien terutama ibu pasien
tidak menyadari pentingnya imunisasi untuk pasien. Keluarga pasien
juga tidak berusaha untuk membawa pasien ke posyandu ataupun ke
puskesmas untuk di imunisasi. Keadaan inilah yang membuat pasien
terkena penyakit campak, walaupun jika pasien sudah mendapatkan
imunisasi campak masih ada kemungkinan untuk sakit namun hal itu

sangat kecil dibanding jika pasien memang tidak pernah mendapat


imunisasi resiko untuk terinfeksi dan sakit lebih besar.
Lingkungan rumah pasien yang sangat padat juga bisa menjadi
faktor risiko pasien lebih cepat dan mudah tertular penyakit campak.
Karena campak bisa menular melewati udara maupun kontak
langsung. Selain lingkungan yang padat, pencahayaan dan pertukaran
udara di dalam tempat tinggal pasien bisa dikatakan kurang baik
sehingga sirkulasi udara kurang baik
Di dalam lingkungan sekolah, teman pasien lebih dulu tertular
penyakit campak dan kemudian pasien pun tertular penyakit campak
juga. Hal ini dikarenakan, pasien selalu bermain bersama dan sering
terjadi kontak baik langsung ataupun lewat udara, sehingga hal ini
menjadi salah satu faktor risiko pasien tertular penyakit campak.
Jadi, berdasarkan analisis kami, pasien tidak mendapatkan
imunisasi itu merupakan faktor risiko pasien mengalami penyakit
campak dan lingkungan rumah dan lingkungan sekitar juga menjadi
salah satu faktor risiko pasien tertular penyakit campak tersebut.

e. Upaya yang harus dilakukan untuk mengurangi paparan dengan faktor


risiko atau etiologi penyakit
1. Keluarga harus mencari tahu jadwal imunisasi di lingkungan
mereka untuk kedepannya.
2. Keluarga harus mencari tahu lokasi dan jadwal dilakukannya
kegiatan posyandu di daerah mereka.
3. Keluarga pasien harus membawa pasien berkunjung ke puskesmas
untuk

mendapatkan

imunisasi

dan

pemantauan

tumbuh

kembangnya.
4. Keluarga pasien harus memiliki kesadaran bahwa pentingnya
berkunjung ke posyandu maupun puskesmas.

5. Keluarga harus memperhatikan asupan gizi pasien terutama gizi


yang seimbang agar gizi pasien tercukupi sehingga pasien tidak
rentan akan penyakit infeksi.
6. Keluarga harus memberi susu formula untuk mencukupi kebutuhan
gizi pasien.

12. Rencana Promosi dan Pendidikan Kesehatan kepada Pasien dan


kepada Keluarga
a. Memberikan pengetahuan tentang pentingnya memberikan imunisasi
dasar pada pasien dan saudaranya dan dampak jika tidak diberikannya
imunisasi pada pasien.
b. Menjelaskan

kepada

keluarga

pasien

pentingnya

melakukan

kunjungan ke posyandu untuk memantau tumbuh kembang pasien.


c. Menjelaskan kepada keluarga pasien penyebab, cara penularan
penyakit campak dan faktor-faktor yang mempengaruhi penularan
tersebut.
d. Menjelaskan kepada keluarga pasien cara mengatasi gejala penyakit
campak atau penyakit infeksi lainya agar dapat ditangani dengan baik.
e. Menjelaskan kepada keluarga pasien tentang pola prilaku hidup bersih
dan sehat dan menerapkannya di dalam rumah tangga.
f. Menjelaskan kepada keluarga pasien pentingnya memberikan gizi
seimbang kepada pasien untuk pertumbuhan dan perkembangannya.
usahakan setiap menyajikan makananan untuk sarapan, makan siang
dan makan malam ada lauk dan sayur bu, jika ada buah-buahan juga
itu lebih baik, karena makanan yang banyak macamnya bisa membuat
anak semangat untuk makan dan bagus untuk pertumbuhannya
g. Mengajarkan kepada keluarga pasien menu makanan seimbang yang
baik untuk tumbuh kembang pasien.
menu makannanya bisa lauknya : ikan, ayam, telur, tempe, tahu.
Untuk sayurnya bisa: bayam, toge, kangkung, wortel, daun ubi. Untuk
buah : pisang, pepaya..

13. Anjuran anjuran penting yang dapat memberi semangat dan


mempercepat penyembuhan pada pasien
a. Menjelaskan fungsi dan manfaat imunisasi untuk pasien kepada
keluarga pasien sehingga orang tua pasien sadar akan pentingnya
imunisasi.
Ibu, imunisasi itu penting untuk anak balita agar daya tahan
tubuhnya kuat sehingga anak ibu lebih tidak gampang sakit. Walaupun
kemungkinan sakit masih ada tetapi lebih kecil dibanding jika anak
ibu tidak diberi imunisasi
b. Menjelaskan manfaat dari kunjungan ke posyandu dan puskesmas
yang dapat memantau tumbuh kembang pasien karena hal tersebut
penting untuk masa depan pasien.
ibu, jika ibu rutin membawa anak ibu ke posyandu, pertumbuhan
anak ibu bisa dipantau dengan baik oleh petugas, sehingga ibu bisa tau
pertumbuhan anak ibu baik atau ada gangguan. Itu juga penting untuk
kesehatan

anak

ibu,

sehingga

jika

ada

gangguan

dalam

pertumbuhannya bisa cepat diatasi


c. Mengatakan kepada keluarga pasien agar membawa pasien atau
saudaranya jika ada yang sakit agar dapat segera diobati.
ibu jika anak ibu sakit, seperti demam sudah lebih dari 3 hari segera
bawa ke puskesmas supaya tahu apa penyebab sakitnya, karena sakit
pada anak kecil tidak sama dengan sakit pada orang dewasa, jadi harus
segera di obati
d. Keluarga pasien harus sadar bahwa mencegah penyakit lebih baik
daripada mengobati.
ibu, mencegah anak ibu sakit itu lebih baik dari pada ibu mengobati
jika anak ibu sakit, karena biaya pengobatan pasti akan lebih mahal
dibanding ibu hanya membawa anak ibu ke posyandu atau memberi
imunisasi gratis di puskesmas atau posyandu
e. Ketika sakit, keluarga harus lebih memperhatikan asupan makanan
untuk mempercepat proses penyembuhan.

jika anak ibu sakit, harus sering diberi asi atau tetap dipaksa untuk
makan, karena dengan banyak makan proses penyembuhan anak ibu
akan lebih cepat. Sebisamungkin beri anak ibu makanan yang gizinya
tinggi seperti telur, ayam, atau ikan
f. Keluarga harus bisa membujuk pasien agar mau minum susu untuk
kecukupan gizi pasien.
ibu harus coba bujuk Andi dan yang lainnya untuk mau minum susu,
coba belikan susu dengan rasa yang berbeda seperti coklat, vanila dan
stroberi agar Andi dan yang lainnya mau untuk minum susu
g. Keluarga harus bisa menerapkan perilaku hidup sehat.
ibu, anak-anak setiap habis dari wc harus diajarkan untuk cuci
tangan, juga setiap sebelum makan harus cuci tangan dengan sabun
dan pulang dari bermain juga harus cuci tangan dan kaki dengan
sabun
h. Keluarga harus menjaga kebersihan rumah dan lingkungan tempat
tinggal.
ibu, rumah harus selalu disapu dan dirapikan setiap harinya, karena
anak-anak sering main dilantai jadi jika lantai kontor anak-anak bisa
sakit karena lantai yang kotor banyak kumannya. Halaman juga harus
sering dibersihkan, dan sediakan tong sampah di dapur agar sampah
bisa dibuang di tempatnya dan rumah jadi lebih bersih
i. Keluarga harus membersihkan dapur karena menjadi tempat
pembuatan makanan yang apabila makanan tercemar kuman penyakit
dapat berdampak pada anggota keluarga yang lain.
dapur ibu harus diusahakan untuk selalu bersih, karena di dapur
tempat membuat makanan yang akan dimakan satu keluarga, jika
makanan tersebut tercemar karena dapur yang kotor, maka satu
keluarga bisa saja sakit. Sebaiknya setiap setelah dan sebelum
memasak dapur dibersihkan terlebih dahulu dan simpan bahan
makanan ditempat yang bersih dan tertutp sehingga terhindar dari lalat
atau semut.

Lampiran

Kamar mandi dan jamban keluarga pasien

Dapur keluarga pasien

Tempat tidur yang hanya dibatasi sekat

Ruang tamu dan ruang jahit ayah pasien

Tempat tidur yang hanya dibatasi sekat

Rumah pasien tanpa loteng

Kamar mandi bersama beberapa keluarga

Kandang ayam tetangga di sebelah rumah pasien

Selokan di belakang rumah pasien

Rumah pasien dilihat dari pintu masuk

Jalan depan rumah pasien