Anda di halaman 1dari 6

Laporan Praktikum Praktikum Analisis Instrumental

SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS DAN


SPEKTRONIK 20D+
Muhammad Ardiyansyah1 dan Mohammad Rafi2
1

Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor,
Kampus IPB Dramaga Bogor 16680, Indonesia
2

Divisi Kimia Analitik, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, ,
Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Dramaga Bogor 16680, Indonesia

ABSTRAK
Spektrofotmetri merupakan instrument analisis yang digunakan untuk
mengetahui jumlah (konsentrasi) suatu zat dalam pelarut. Analisis ini didasarkan
pada nilai penyerapan (absorbansi) atau penerusan (transmitans) pada suatu zat yang
diberikan sinar pada panjang gelombang tertentu. Prinsip dari spektrofotometri
didasarkan pada Hukum Beer, yaitu interaksi radiasi elektromagnetik terhdap materi
uji. Alat yang digunakan dalam prcobaan adalah spektronik 20D+ dan
spektrofotometri UV-Vis (ultraviolet visible) untuk mengetahui nilai serapan pada
senyawa K2Cr2O7 0.001 M dan KMnO4 0.001 M pada H2SO4 0.5 M. panjang
gelombang maksimum K2Cr2O7 dan KMnO4 dengan spektronik 20D+ adalah 585 nm
dan 550 nm. Panjang gelombang maksimum dengan menggunakan spektrofotometri
UV-Vis untuk K2Cr2O7 adalah 437 dan 443 nm, sedangkan KMnO 4 adalah 546 dan
527 nm.

I.

Pendahuluan

Spektrofotometri merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui


interaksi materi dengan gelombang elektromagnetik. Gelombang elektromagnetik
merupakan suatu bentuk energy yang memiliki dua jenis prilaku yaitu sebagai
gelombang dan partikel (Harvey 2000). Spektrofotometri UV-Visible merupakan
gabungan antara spektrofotometri UV dan Visible. Alat ini menggunakan dua buah
sumber cahaya yang berbeda, yaitu sumber cahaya UV dan sumber cahaya Visible.
Spektrofotometri UV-Visible adalah suatu teknis analisis spektroskopi yang memakai
sumber radiasi elektromagnetik ulraviolet dekat (190-380 nm) dan sinar
tampak (380-780 nm) (Aeni 2009). Penggunaan kedua sinar tersebut dapat dilakukan
karena sinar tersebut dapat mengeksitasi electron pada suatu senyawa sehingga dapat
dilakukan analisis baik kepada senyawa organik maupun anorganik. Menurut

Saprudin et al. (2009), spektrofotometri UV-Vis merupakan metode analisis yang


sedrhana, murah, dan praktis dapat dilakukan untuk analisis kandungan suatu unsure
pada komponen. Selain spektrofotometri UV-Vis, analisis spektroskopi lain
menggunakan instrumen spektronik 20D+. instrument ini merupakan instrument
analisis perkembangan dari spektronik 20D. alat ini biasa digunakan untuk quality
control dan analisis larutan pada laboratorium. Spektronik 20D+ memiliki tampilan
digital. Kisaran panjang gelombang yang dimiliki adalah 340 950 nm pada rentang
kesalahan 20 nm (User Guide 2007).
Senyawa K2Cr2O7 atau kalium dikromat merupakan senya berwarna kuning
yang biasa digunakan sebagai agen pengoksidasi untuk senyawa organik. Senyawa ini
dihasilkan dari pencampuran kalium dengan kromat (Anger 2005). Kalium dikromat
juga digunakan sebagai indicator adanya perubahan gugus aldehide menjadi keton
pada suatu reaksi. Karena sifatnya yang berwarna ini, maka perubahan warna yang
terjadi dapat dijadikan indicator dalam suatu penentuan reaksi. KMnO 4 atau kalium
permanganate merupakan senyawa anorganik yang biasa digunakan sebagai agen
pengoksidasi yang baik. Dengan menggunakan senyawa ini total oksidasi material
organik dapat ditentukan secara kuantitatif (Reidies 2002). Senyawa ini memiliki
wrna ungu kehitaman dan berbentuk kristal ortorombik. Kalium permanganat
dibentuk dari reaksi kalium manganat dengan air. Dalam histology, kalium
permanganate digunakan sebagai agen pemutih (Murphy 2001).

II.

Bahan dan Metode

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah spektrofotometer UV-Vis Shimadzu 1700 PC,


Spectronic 20D+, kuvet, labu takar 25 ml, buret 50 ml, dan pipet volumetri 10 ml.
Bahan yang digunakan antara lain larutan KMnO 4 0.001 M, larutan K2Cr2O7 0.01 M,
dan H2SO4 0.5 M.
Metode

Pembuatan spektrum beberapa zat dilakukan dengan mengisi kuvet dengan


larutan KMnO4 0.001 M atau K2Cr2O7 0.001M. Kuvet blanko diisi H2SO4 0.5 M.
Baca absorbans larutan pada 15 kisaran panjang gelombang 400 - 700 nm, dengan
interval 5 nm (pada setiap pergantian panjang gelombang serapan dinolkan dengan
larutan blanko). Buat kurva hubungan panjang gelombang dengan absorbans.
Tentukan panjang gelombang yang tepat untuk masing-masing zat. Spektrum
absorpsi KMnO4 dan K2Cr2O7 (spektrofotometer UV-Vis Shimadzu 1700 PC). Isi
kuvet dengan larutan KMnO44 0.001 M atau K2Cr2O7 0.001 M. Kuvet blanko diisi

H2SO4 0.5 M. setelahnya dibuat spektrum absorpsinya pada daerah Vis (350-800 nm)
dengan menggunakan beberapa parameter yang ada dalam alat yang digunakan.
Pada penentuan konsentrasi campuran K2Cr2O7 dan KMnO4 dilakukan dengan
dua tahap yaitu ditentukannya kurva kalibrasi lalu konsentrasi campurannya.
Penentuan kurva kalibrasi dilakukan dengan dibuatnya secara terpisah masing-masing
larutan standar KMnO4 dan K2Cr2O7, dengan mengencerkan 1.00, 3.00, 5.00, 7.00,
dan 9.00 ml untuk KMnO4 dan mengencerkan 5.00, 7.00, 9.00, 11.00, dan 13.00 ml
untuk K2Cr2O7 larutan baku tersebut dengan larutan H2SO4 0.5M dalam labu takar 25
ml. setelahnya dibaca absorbans kedua set larutan pada panjang gelombang yang
tepat untuk KMnO4 dan K2Cr2O7 dengan H2SO4 sebagai blanko. Kemudian dibuat
kurva standar masing-masing larutan pada dua panjang gelombang dan ditentukan
nilai konstantanya (k).
Untuk penentuan konsentrasi campuran, larutan analat dipindahkan secara
kuantitatif ke dalam labu takar 25 ml, lalu diencerkan dengan H2SO4 0.5 M,
pengerjaannya dilakukan sebanyak 6 kali ulangan. Kemudian dibaca absorbansnya
pada dua panjang gelombang. Lalu hitung konsentrasi masing-masing zat dengan
harga k dari kurva kalibrasi beserta standar deviasi dan selang kepercayaan 95%.

III.

Pembahasan

Analisis kimia dengan metode spektrofotometri didasarkan pada interaksi


radiasi elektromagnetik panjang gelombang tertentu yang sempit dan mendekati
monokromatik dengan molekul dari suatu materi. Interaksi tersebut meliputi proses
adsorpsi, emisi, refleksi dan transmisi radiasi elektromagnetik oleh atom-atom atau
molekul dalam suatu materi. Melalui pemanfaatan akan penyinaran yang diberikan
melalui panjang gelombang tertentu, baik UV-Visible maupun spektronik 20D+, akan
terlihat interaksi yaitu penyerapan sinar oleh materi yang disebut dengan absorbans
atau sinar yang diteruskan materi yang disebut dengan transmitans. Hal ini didasarkan
pada kenyataan bahwa molekul selalu mengabsorbsi cahaya elektromagnetik jika
frekuensi cahaya tersebut sama dengan fekuensi getaran dari molekul tersebut. Alat
yang digunakan dalam pengukurannya disebut spektrofotometer (Henry 2002).
Hukum Beer merupakan intepretasi matematis dari interaksi yang ditunjukan materi
dengan penyinaran yang diberikan pada spektrofotometri. Spektrofotometri UV-Vis
memanfaatkan sinar pada panjang gelombang UV (190-380 nm) dan Visible (380-780
nm) untuk analisis materi, sedangkan spektronik 20D+ menggunakan sinar pada
panjang gelombang 340 950 nm.

Gambar 1 Optikal diagram Spektronik 20D+ (User Guide 2007)

Gambar 2 Optikal diagram spektrofotometrik UV-Vis berkas ganda (Arifin dan


Heriyanto 2006)

Pada percobaan, ditentukan panjang gelombang maksimum dari K2Cr2O7 dan


KMnO4. Kedua senyawa tersebut memiliki warna yang berbeda sehingga akan
mengahasilkan panjang gelombang maksimum yang berbeda pula sesuai dengan
warna komplementer yang diserap pada panjang gelombang masing-masing. Panjang
gelombang serapan maksimum untuk KMnO4 adalah 525 nm, sedangkan K2Cr2O7
adalah 434 nm (Xu dan Thomson 2008). Hasil analisis, panjang gelombang
maksimum untuk K2Cr2O7 dengan spektrofotometri UV-Vis dan spektronik 20D+
adalah 443 nm dan 585 nm. Sedangkan pada KMnO 4 adalah 527.5 nm dan 550 nm.

Perbedaan penyerapan antara dua senyawa tersebut jelas, melalui tampak fisik warna
yang dihasilkan pada K2Cr2O7 dan KMnO4 akan menghasilkan serapan yang berbeda,
selain itu juga dengan kebutuhan energy yang diberikan untuk electron mengalami
transisinya. Namun perbedaan panjang gelombang maksimum antara pengukuran
UV-Vis dan spektronik 20D+. Namun berdasarkan anilisis statistik melalui uji T dan
uji F, perbedaan tersebut tidak memberikan perbedaan yang nyata.
Berdasarkan hasil analisis sampel, nilai absorbans tertinggi dimiliki oleh
konsentrasi sampel yang tinggi pula (lihat table 11 dan 12), hal ini sesuai dengan
Hukum Beer, yaitu nilai absorbans sebanding dengan nilai konsentrasi dari larutan.
Namun terjadi perbedaan (lihat tabel 5 dan 6) perbedaan terjadi pada tabel 6, nilai
absorbans tidak sebanding dengan konsentrasi larutan. Hal ini dapat disebabkan
kesalahan paralaks dalam pembacaan dan perlakuan dalam analisis oleh operator.

IV.

Simpulan

Analisis serapan panjang gelombang maksimum antara spektrofotometri UVVis dan spektronik 20D+ pada K2Cr2O7 dan KMnO4 memberikan hasil tidak
berbeda nyata antara kedua pengukuran alat tersebut. Panjang gelombang serapan
maksimum untuk K2Cr2O7 dan KMnO4 dengan spektrofotometri UV-Vis adalah 443
nm dan 527.5 nm, sedangkan dengan spektronik 20D+ adalah 585 nm dan 550 nm.
Nilai konsentrasi larutan pada sampel sebanding dengan nilai absorbans yang
dihasilkan.

V.

Daftar Pustaka

Aeni N. 2012. Spektrofotometer UV-Visible. Palu (ID): Untad press.


Anger G, Halstenberg J, Hochgeschwender K, Scherhag C, Korallus U, Knopf H,
Schimdt P, dan Ohlinger M. Encyclopedia of Industrial Chemistry. Weinheim
(DE): Wiley-VCH.
Arifin B dan Heryanto R. 2006. Spektroskopi Sinar Tanpak. Bogor (ID):IPB press.
Harvey D. 2000. Modern Analytical Chemistry. New York (US) : McGraw Hill.
Henry, Arthur et al. 2002. Analisa spektrofotometri uv-vis pada obatinfluenza dengan
menggunakan aplikasi sistem persamaan linear. Jakarta (ID) : Universitas
Indonesia.
Murphy CL, Eulitz M, Hrncic R, Sletten K, Westermark P, Williams T, Macy SD,
Wooliver C, Wall J, Weiss DT, Solomon A. 2001. Chemical typing of amyloid

protein contained in formalin-fixed paraffin-embedded biopsy specimens.


American Journal Clinical Pathology. Vol: 116 (1): 135-142.
Reidies AH. 2002. Manganese Compound. Weinheim (DE): Wiley-VCH.
Saprudin D, Rafi M, dan Dini NH. 2009. Metode spektrofotometri UV-Vis untuk
penentuan Barium dalam tanah liat dengan 18-crown dan Rose Bengal.
Seminar Nasional Kimia; 2009 Jul 28; Surabaya, Indonesia. Surabaya (ID):
Senaki. hlm 1-6.
User Guide. 2007. Spektronic 20TM dan Spectronic 20D+. Fitchburg (US) :
Thermoscientific.
Xu X dan Thomson N. estimation of the maximum consumption of permanganate by
aquirer solids using a modified chemical oxygen demand tes. Journal
environmental engineering. Vol : 134 (5) : 353-361.