Anda di halaman 1dari 26

Petroleum Sistem

Cekungan Selat Makassar:


Studi Kasus Cekungan
Kutai
Fikri Abdulah
Alifahmi
Debbie Novalina
Eric Wijaya

:
:
:
:

270110120006
270110120034
270110120057
270110120110

Outline

Overview Cekungan Selat Makasar


Tektonic Setting Cekungan Selat Makassar
Studi Kasus : Petroleum Sistem Cekungan Kutai
Kesimpulan

Overview Selat Makassar


Kedalaman mencapai 200 m pada tepi paparan
dan 2500 m pada titik terdalam. Bagian perairan
dalam pada bagian barat Selat Makassar di Utara
Makassar telah dieksplorasi secara intensif sejak
1990-an.
Bagian timur Selat Makassar atau laut lepas
Sulawesi Barat hingga saat ini sedang pada tahap
eksplorasi dibandingkan dengan bagian barat.
Selat Makassar mempunyai orientasi utaraselatan, panjang sekitar 600 km, lebar 100-200
km dengan kedalaman lebih dari 2000 m (Moss et
al., 2000).

Tectonic Setting
(1) Selat Makassar terbentuk pada Paleogene
hingga Neogene Awal,
(2) Selat Makassar terbuka sepanjang rifting
benua,
(3) kecepatan pembukaan selat lebih cepat pada
Makassar Utara dibandingkan pada Makassar
Selatan.

Studi Kasus : Petroleum Sistem


Cekungan Kutai

EXTENSIONAL TECTONIC AND


FORMATION OF
PUL-APART BASINS
(HALF GRABENS) IN
EASTERN KALIMANTAN
ALONG PAIRED STRIKE-SLIP
MOVEMENTS ACCOMPANYING
EXTRUSION TECTONICS

(40-50 MA)

EAST KALIMANTAN

MAKASSAR STRAIT

W.SUL.

SOUTH SULAWESI
START
TO SEPARATE FROM
KALIMANTAN

HORIZONTAL DISPLACEMENT ALONG STRIKE-SLIP,


ACCOMODATE BY WRENCHING COMMENCEMENT
OF PULL-APART BASIN

Taka-Talu
fault zone

Geological cross-section through Makassar Strait :


Showing continental basement,
influenced by extensional tectonism with normal faulting
( growth faults )

PATERNOSTER HIGH AND TAKA-TALU FAULT ZONE

SEDIMENTATION

OROGENE

ASIAN CONTIN.
CUST

L.CRETAC.-PALEOC.
SUTURE
(CILETUH-LUH ULOMERATUS COMPL.)

CONTINT.FRAGMEN
DETACHED FROM
GONDWANA
(PATERNOSTERKANGEAN BLOCK)

CRUSTAL COMPOSITION
UNDERLIES KUTEI BASIN

Proses Sedimentasi Cekungan


Kutai

Pemekaran Eosen Tengah Akhir


Pembebanan Eosen Akhir Oligosen Akhir
Pemekaran kedua yang diikuti aktifitas
Vulkanik Oligosen akhir
Pembentukan delta secara progradasiagradasi pada Miosen
Pembentukan delta berlanjut yang disertai
dengan pembalikan tektonik pada Miosen
tengah sampai sekarang akhir dari Miosen
awal (McCauley et all., 2000).

Petroleum System Cekungan Kutai

Source Rock
Reservoir Rock
Seal Rock
Migration Route
Traping Mechanism

Source Rock
Batuan induk dari minyak bumi dan gas bumi
khususnya di daerah cekungan Kutai ini adalah
batubara dan batulempung serpih karbonan.
Variasi nilai TOC yang ditemukan pada setiap
lapisan sedimen distribusi TOC (0,5% - 70%)
berhubungan dengan system pengendapan delta.
Minyak dapat terbentuk pada nilai Ro 0,45%
sampai 0,55%.
Cekungan Kutai didominasi oleh Gas provenance
sebab diawali dengan produksi minyak menjadi gas
yang mana sumber ataupun reservoir mempunyai
nilai Ro > 0,6% pada kedalaman 10.000 kaki

Reservoir Rock
Pada cekungan Kutai terdapat dua jenis fasies
batupasir yang dikenali pada endapan delta
miosen, yaitu fluviatile dominated to distributary
channel dan tidally dominated-delta front deposit.

Seal Rock
Batulanau dan batuserpih pada lingkungan
pengendapan fluvial-deltaic termasuk ke dalam
batuan tudung dengan tipe buruk pada tipe
cebakan antiklin sehingga volume minyak bumi
dan gas buminya akan dibatasi penyebaran lateral
batuan tudungnya. Batuan tudung yang baik
ditemukan di daerah Sanga-Sanga dengan gas
expulsion zone (nilai Ro < 0,6%).

Migration Route
Migration Route primer dari kondisi petroleum
system ini umumnya diakibatkan oleh adanya
kekar-kekar minor dari batuan induk dengan
terdapatnya
internal
pressure
yang
mentransformasikan minyak ke gas. Ambang
batas dari batuan induk dari nilai Ro = 0,6%.
Volume yang signifikan dari minyak termasuk
nilai Ro > 0,45% berhubungan dengan nilai ratarata pada burial depth 7500 kaki.

Traping Mechanism
Pada umumnya struktur yang terbentuk pada
wilayah selat Makassar secara garis besar
merupakan struktur inversi pada masa Middleupper Miocene dan kemudian membentuk
perangkap yang besar seperti antiklin dan
kombinasi antara patahan-lipatan, tetapi pada
beberapa area terbentuk lateral seal, terjadinya
deformasi yang dipicu oleh aktivitas patahan, hal
ini memungkinkan hidrokarbon merembes dari
struktur ini ke permukaan

Thank You