Anda di halaman 1dari 13

BAB I KARAKTERISTIK BATUAN RESERVOIR

Karakteristik formasi merupakan faktor yang tidak bisa diubah, sehingga tidakdapat
dikontrol. Batuan formasi mempunyai sifat-sifat atau karakteristik yang secaraumum
dikelompokkan menjadi dua, yaitu sifat fisik batuan dan sifat mekanik batuan.Sifat-sifat
fisik batuan meliputi : porositas, saturasi, permeabilitas serta kompressibilitas,
sedangkan sifat-sifat mekanik batuan meliputi : strength (kekuatan)batuan, hardness
(kekerasan) batuan, abrasivitas, elastisitas dan tekanan batuan.
1. KOMPOSISI KIMIA BATUAN RESERVOIR
Batuan adalah kumpulan dari mineral-mineral, sedangkan suatu mineraldibentuk dari
beberapa ikatan komposisi kimia. Banyak sedikitnya suatu komposisikimia akan
membentuk suatu jenis mineral tertentu dan akan menentukan
macambatuan.Batuan reservoir umumnya terdiri dari batuan sedimen, yang berupa
batupasir,batuan karbonat dan shale atau kadang-kadang vulkanik.
1.1.
BATU PASIR
Menurut Pettijohn, batupasir dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :Orthoquarzites,
Graywacke dan arkose.a. Orthoquarzites, merupakan jenis batuan sedimen yang
terbentuk dari prosesyang menghasilkan unsure silica yang tinggi, dengan tidak
mengalamimetamorfosa dan pemadatan, terutama terdiri atas mineral kwarsa
(quartz)dan mineral lainnya yang stabil. Material pengikatnya (semen) terutama
terdiriatas carbonate dan silica.b. Graywacke, merupakan jenis batupasir yang tersusun
dari unsur-unsur mineralyang berbutir besar, terutama kwarsa dan feldspar serta
fragmen-fragmenbatuan. Material pengikatnya adalah clay dan carbonate.c. Arkose,
merupakan jenis batupasir yang biasanya tersusun dari quartzsebagai mineral yang
dominan, meskipun seringkali mineral arkose feldspar jumlahya lebih banyak dari
quartz.
1.2.
BATUAN KARBONAT
Terdiri atas limestone, dolomite.a. Limestone, adalah kelompok batuan yang
mengandung paling sedikit 80%calcium carbonate atau magnesium. Fraksi
penyusunnya terutama olehcalcite.b. Dolomite, adalah jenis batuan yang merupakan
variasi dari limestone yangmengandung unsure karbonat lebih besar dari 50%.
Komposisi kimia dolomitehampir mirip dengan limestone, kecuali unsure MgO
merupakan unsur yangpenting dan jumlahnya cukup besar.
Batuan karbonat merupakan batuan reservoir bagi minyak dan gas bumi
yang belakangan ini menjadi perhatian di industri migas. Di Indonesia
sendiri, telah ditemukan juga cadangan minyak di batuan karbonat pada
Formasi Baturaja, Formasi Kujung, dan lapangan minyak besar di Formasi
Kais di Papua. Batuan karbonat adalah semua batuan yang terdiri dari garam
karbonat. Dalam prakteknya adalah terutama gamping (limestone) dan
dolomit.

Sedimen karbonat dihasilkan dari proses organik biokimia pada llingkungan


laut bersih, hangat, shallow water. Daerah tropikal dan subtropikal dapat
mencerminkan kondisi tersebut. Keadaan tertentu dapat ditunjukan sebagai
faktor sedimen karbonat, misalkan karena adanya produksi sedimen yang
tinggi dan akumulasi kalsium karbonat dari cangkang organisme. Faktorfaktor yang mempengaruhi sedimen karbonat adalah :
1. Garis lintang dan iklim
Karbonat yang terbentuk pada air hangat neritik (0 200 m) terakumulasi
pada garis lintang 300 utara dan selatan equator. Biasanya terbentuk dari
pecahan organisme seperti koral, dengan pertumbuhan terbaik pada
kedalaman kurang dari 30 m. Sedimen planktonik terbentuk pada kedalaman
yang lebih dalam dengan garis lintang 400 utara dan selatan. Endapan pada
air dingin neritik terletak pada garis lintang 200 400 , terbentuk dari
bryozoa, moluska dan foraminifera. Iklim dapat mengontrol rata-rata
evaporasi atau hujan, mempengaruhi komposisi air laut dekat batas
kontinental dan restricted basin.
2. Penetrasi cahaya
Penetrasi cahaya berkurang seiring dengan bertambahnya kedalaman air,
tingginya garis lintang dan berkurangnya kejernihan air. Karbonat tumbuh
pada zona shallow neritik , diatas 10 20 m dari permukaan laut. Batas
terendah penetrasi cahaya berkisar antara 100 150 m yang merupakan
batas zona euphotic, zona dimana fotosintetik organisme terjadi.
3. Salinitas
Keanekaragaman dan kelimpahan organisme laut terdapat pada salinitas
normal marine yaitu 30 40 ppt (normal air laut sekitar 32 36 ppt).
II. Jenis-Jenis Batuan Karbonat
Pada umumnya batuan karbonat dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu:
1. Batuan karbonat yang bersifat kerangka atau sebagai suatu terumbu
(reef)
2. Batuan karbonat yang bersifat klastik

3. Batuan karbonat yang bersifat afanitik atau batugamping halus


4. Batuan karbonat yang bersifat dolomit dan kristalin
Dari keempat batuan karbonat tersebut, semuanya dapat bertindak sebagai
batuan reservoir. Batugamping sebagai reservoir akan dibahas lebih lanjut.
a. Batuan karbonat yang bersifat kerangka atau sebagai suatu terumbu
(reef)
Tipe batuan ini paling banyak didapatkan dalam batuan karbonat Tersier di
Indonesia. Tipe ini sering membentuk tebing terjal pada singkapan, masif tak
berlapis atau perlapisan buruk yang hanya kelihatan dari jauh.
Tipe gamping terumbu ini sering disebut Boundstone oleh Dunham,
sedangkan berdasarkan terdapatnya lumpur karbonat diantara kerangka
atau pecahan-pecahan kerangka Embrie dan Klovan membuat klasifikasi :
Framestone, Bindstone, Bafflestone, Rudstone dan Floatstone.
Terdapat beberapa klasifikasi batugamping yang dapat digunakan, tetapi
dalam industri minyak, klasifikasi Dunham (1962) yang dimodifikasi oleh
Embry dan Klovan merupakan klasifikasi yang biasa digunakan. Klasifikasi
Dunham didasarkan pada tekstur pengendapan awal. Faktor utama dalam
dalam klasifikasi ini yang perlu diamati adalah :
Jika tekstur pengendapannya tidak dapat dikenali, maka klasifikasi Dunham
tidak dapat digunakan, batuan harus dideskripsi berdasarkan ciri fisik atau
diagenesis
Jika tekstur pengendapannya dapat dikenali, maka klasifikasi Dunham dapat
digunakan dengan pembagian sebagai berikut :
- butiran kurang dari 10% dari seluruh batuan maka disebut mudstone.
Mudstone terdapat dalam lingkungan carbonate platform dan cekungan.
Calcareous mudstone berasal dari hancurnya calcareous alga hijau,
pemisahan partikel-partikel skelatal besar, dan kemungkinan penyerapan
inorganik dari air laut. Mudstone pada lingkungan cekungan dan slope
berasal dari winnowed platform muds (periplatform ooze) atau berasal dari
cangkang-cangkang nannoplankton coccoliths (nannofosil ooze). Mudstone
berakumulasi pada lingkungan energi rendah.

- butiran lebih dari 10% dengan tetap didominasi oleh lumpur disebut
wackestone, sedangkan bila butiran tidak didukung lumpur tetapi dengan
matriks disebut packstone. Wackestone dan packstone diendapkan pada
lingkungan energi transisi dimana arus tidak dapat memindahkan seluruh
lumpur dari area tersebut dan tidak dapat memisahkannya dari butiran pasir.
Area tersebut juga merupakan lingkungan energi rendah seperti pada
mudstone hanya saja lebih dekat pada tempat dimana butiran-butiran pasir
diendapkan, atau persentasi butiran-butiran pasir lebih tinggi diproduksi
pada tempat pengendapan tersebut.
- Batuan seluruhnya berupa butiran disebut grainstone. Grainstone terbentuk
dari butiran skeletal dan non skeletal; bioclast, ooids dan peloids. Umumnya
terbentuk pada lingkungan energi tinggi seperti beaches, shoals atau nearby
reefs.
- Jika butiran diikat pada waktu pengendapan oleh binding, baffling dan
aktivitas framebuilding pada terumbu-pembangunan organisme disebut
boundstone.
- Floatstone dan rudstone, ditambahkan pada klasifikasi Dunham untuk
menggambarkan terumbu yang kasar-diperoleh dari endapan skeletal.
Muddy floatstone adalah butiran skeletal dalam matriks lumpur; sandy
floatstone mengandung matriks calcareous sand. Rudstone mungkin bersih,
tanpa matriks, atau dengan pasir atau matrik lumpur antara tekstur yang
didukung butiran.
- Framestone dan bafflestone terbentuk oleh pembangun terumbu skleletal
robulus, seperti corals, stone red algae, bryozoa. Bindstone biasa sebagai
komponen pada reef flat. Stromatolite alga merupakan bentuk tipe dari
tekstur bindstone.
Batugamping terumbu adalah jenis sedimen biologi, yang merupakan suatu
susunan dari rangka-rangka organisma yang terdiri atas Algae, Koral,
Moluska dan Foraminifera.
Ditinjau dari segi ekologinya, organisma pembentuk terumbu dapat
berkembang dengan baik dan mempunyai penyebaran pada daerah neritik
yang dangkal dengan kedalaman maksimum 60m. Selain itu organisma
pembangun terumbu memerlukan pula syarat untuk kelancaran hidupnya,
yaitu sebagai berikut :

1. Sirkulasi air yang baik, berguna untuk membawa makanan dan pergantian
oksigen.
2. Air laut yang bersih dan tidak dikotori sedimen, karena hal ini akan
memudahkan masuknya sinar matahari untuk dapat diterima oleh
organisma.
3. Salinitas yang normal, berkisar antara 27-38 perseribu.
4. Temperatur air yang agak hangat, antara 20-300C.
b. Batuan karbonat yang bersifat klastik
Tipe klastik ini dapat dibagi lagi menjadi :
a. Bioklastik
b. Interklast/fragmenter
c. Chemiklastik
Gamping Tipe Bioklastik
Tipe gamping ini terdiri seluruhnya dari cangkang-cangkang atau fragmenfragmen kerangka organisme. Biasanya dicirikan bahwa fragmen/cangkang
pernah lepas, terutama jika ditransport.
Lingkungan Pengendapan
Lingkungan pengendapannya terdiri dari :
1. Sering merupakan laut yang beragitasi shoal, bagian-bagian dangkal
dekat pantai (litoral) terutama jika bertekstur grainstone-packstone dengan
partikel-partikel terabrasi.
2. Dapat pula dibagian-bagian teduh dekat suatu reef, dilagoon, difore reef;
merupakan lembaran-lembaran dari reef yang dipecah-pecah gelombang
kebagian air tenang, terutama jika bertektur packstone ataupun wackstone,
dengan butiran yang terabrasi. Di fore reef biasanya merupakan breksi-talus
runtuhan dari reef, terdiri dari pecahan-pecahan cangkang koral.

3. Sering pula neritik; misalnya jika terdiri dari organisme benthos, tanpa
adanya abrasi, misalnya gamping foraminifera besar yang membentuk
bank atau biostrome
Termasuk kedalam tipe bioklastik adalah gamping pelagis : terutamater diri
dari globigerina dan textularia yang menghujani dasar laut dan sering
membentuk kapur/chalk.
Terdapatnya gamping bioklastik; sering membentuk biostrome atau bank
tetapi dapat pula sebagai bioherm.
Gamping Klastik Tipe Fragmenter (Bioklastik Maupun Chemical)
Jenis ini sering pula disebut dendrital limestone (Pettijohn, 1957, p. 401)
namun istilah ini tak dianjurkan untuk dipakai. Tipe klastik fragmenter terdiri
dari fragmen-fragmen yang asalnya tak jelas, dan dapat merupakan
campuran. Istilah yang sering dipakai: calcarenite (<2 mm) dan calcirudite
(> 2 mm) juga Grainy Limestone, Granular Limestone.
Cara terdapatnya jenis gamping ini adalah berlapis baik sering menyerupai
batupasir dan dengan struktur sedimen silang siur, gelebur-gelombang dan
sebagainya.
Gamping Tipe Peralihan
Peralihan ke gamping bioklastik adalah biasa, sehingga menimbulkan
persoalan klasifikasi. Sebaiknya didiskripsi yang baik. Juga
peralihan/pencampuran oolite/pellet sering terjadi. Klasifikasi Dunham(1961)
dipergunakan dalam diagran klasifikasi ini.
Tipe lain adalah Interklast : hasil perombakan/ erosi lapisan yang baru
diendapkan. Biasanya berbutir kasar, sehingga sering merupakan breksi atau
konglomerat.
Lingkungan Pengendapan
Gamping jenis ini pada umumnya, terutama yang bertekstur grainstone,
diendapkan secara mekanis oleh arus laut. Konsep rezim aliran berlaku pula
untuk tipe batuan ini, dan semua sturktur sedimen termasuk urutan-urutan
turbidit dapat diharapkan. Misalnya : dibagian luar suatu shelf (platform)
dimana banyak arus.

Contoh : Bagian bayangan angin dari terumbu pulau Seribu (Umbgrovw


1929) terdiri dari klastik rombakan dari terumbu. Jika butir-butir rombakan ini
banyak mengandung matrix (packstone), maka sering dibagian yang
terlindung dari arus gelombang (backreef), beralih pada tipe gelombang
aphanitic (wackstone).
Gamping Tipe Chemiclastic atau Klastik Non Fragmenter
Tipe gamping ini jarang didapatkan di Indonesia, tetapi batuan ini
merupakan reservoir minyak yang penting. Pengendapan dapat diamati di
Kepulauan Bahama dan Great Salt Lake (USA).
Tipe batuan ini sering bergradasi ke tipe bioklastik dan tipe klastik
fragmenter, malah campuran dari ketiga unsur sering terdapat bersamasama.
Lingkungan Pengendapan dan Proses Pembentukkan
Agassiz (1896), oolit adalah pengendapan eolian, sedangkan penulis-penulis
lain menyatakan sebagai marine. Masalah lain adalah apakah oolit
diendapkan secara fisika-kimiawi (Vaughn, 1914), colloid gelatin atau atas
bantuan ganggang cyanophycea (Rothpletz, 1892 dan wethered 1895).
Menurut Bradley 1929, Bucher 1918, Eardly 1938, berdasarkan pengamatan
di Great Salt Lake dan Green River Formasi, oolite dibentuk dalan air yag
diombang-ambing (diagitasi) secara kuat/keras, dekat garis pantai, terlihat
sering berasosiasi dengan struktur lapisaan silang-siur (cross bedding).
Illings (1954) menyatakan bahwa oolit terjadi di laut dangkal yang
supersaturated akan kalsium karbonat, dan dimana terjadi aliran-aliran
marine yang cukup kuat.
Eardly (1938) menyatakan bahwa karbonat diendapkan dipermukaan air
sebagai kristal kecil (< 2 micron) yang kurang larut daripada butir-butir yang
lebih besar. Setidaknya jatuh didasar laut dan waktu yang sama sejumlah
molekul yang sama keluar dari larutan mengendap pada butir yang lebih
besar. Butir ini tumbuh secara oolitis, karena akresi dan juga corrosion
menjadi bundar, sewaktu diombang-ambing oleh arus.
c. Batuan karbonat yang bersifat afanitik atau batugamping halus
Gamping jenis ini terdiri dari butir-butir < 0,005 mm, tidak dapat diketahui

apakah terdiri dari fragmen-fragmen halus (pecahan-pecahan gamping) atau


kristal-kristal halus.
Cara Pembentukkan
Cara pembentukkannya yaitu :
1. Dari penggerusan gamping yang telah ada, pengancuran terumbu oleh
gelombang (micro-granuler-clastics).
2. Dari pengendapan langsung secara kimiawi dari air laut yang telah
kelewat jenuh akan CaC03, sebagai jarum-jarum aragonit.
3. Dari pengendapan dengan bantuan ganggang hijau (chlorophycea)
sebagai jarum-jarum aragonit.
Lingkungan Pembentukkan
Lingkungan pembentukkannya yaitu :
1. Diendapkan didaerah dangkal yang terlindung lagoon dibelakang terumbu.
2. Penguapan yang kuat, temperatur tinggi/tropis/subtropis
3. Dengan bantuan ganggang.
Biasanya kaya akan zat organik dan diacak-acak oleh binatang, sehingga
tidak memperlihatkan perlapisan.
III. Terumbu Karbonat sebagai batuan resevoir
Terumbu ( reef ) dapat menjadi batuan reservoir yang sangat penting. Pada
umumnya terumbu terdiri dari suatu kerangka, coral, ganggang, dan
sebagainya yang tumbuh dalam laut yang bersih, berenergi gelombang
tinggi, dan mengalami banyak pembersihan sehingga rongga-rongga
antaranya khususnya menjadi sangat bersih. Dalam hal ini porositas yang
didapatkan terutama dalam kerangka yang berbentuk rongga-rongga bekas
binatang hidup yang tersemenkan dengan sparry calcite sehingga
porositasnya diperkecil.
Bentuk reservoir terumbu

Pada umumnya dapat dibedakan menjadi 2 macam reservoir terumbu, yaitu:


Terumbu yang bersifat fringing atau merupakan suatu bentuk yang
memanjang di lepas pantai.
Terumbu yang bersifat terisoler di sana-sini, yang sering disebut sebagai
suatu pinnacle atau patch reef atau secara tepat dikatakan sebagai
bioherm, yang muncul di sana-sini sebagai bentuk kecil secara tidak teratur.
Terumbu yang berbentuk linier, atau sebagai penghalang ( barrier ) biasanya
berbentuk mamanjang sering kali cukup besar serta memperlihatkan suatu
asimetri dan biasanya terdapat pada pinggiran suatu cekungan.
Terumbu tiang
Lapangan yang bersifat terumbu tiang ( pinnacle ) ditemukan di Libya yaitu
lapangan Idris dalam cekungan Sirte yang didapatkan dari suatu terumbu
berumur paleosen.
Contoh yang baik untuk terumbu tiang sebagai reservoir ialah yang
didapatkan baru-baru ini di Irian Jaya, yaitu lapangan minyak Kasim dan Jaya.
Lapangan Kasim-Jaya merupakan suatu akumulasi dalam kulminasi terumbu
yang tumbuh di atas suatu kompleks terumbu yang merupakan suatu
landasan. Bentuk terumbu Kasim-Jaya itu terdiri daripada batuan karbonat
berenergi tinggi yang panjangnya 7 km dan lebarnya 2.5-3.5 km dan
mempunyai ketinggian atau relief vertikal 760 m di atas landasan tempat
terumbu itu tumbuh.
Contoh lain daripada batuan reservoir ini ialah di dalam Formasi Baturaja di
laut Jawa sebelah Barat yaitu lapangan minyak kitty yang menghasilkan
minyaknya dari terumbu batugamping.
Gamping klastik
Gamping klastik sering juga merupakan reservoir yang sangat baik, terutama
dalam asosiasinya dengan oolit, dan sering disebut sebagai kalkarenit.
Jadi jelas, bahwa batuan reservoir yang terdapat di dalam oolit itu
merupakan pengendapan berenergi tinggi dan didapatkan dalam jalur
sepanjang pantai dengan arus gelombang kuat. Porositas yang didapatkan
biasanya ialah jenis porositas intergranular, yang kadang-kadang diperbesar
oleh adanya pelarutan. Batuan reservoir oolit terdapat misalnya di cekungan

Illinnois ( Amerika Serikat ), dimana terdapat oolit dalam gamping yang


berumur karbonat. Lapisan oolit ini disebut McClosky sand. Batuan ini terdiri
daripada oolit yang kadang-kadang bersifat dolomit. Contoh yang paling
penting adalah di Saudi Arabia yaitu dari Formasi Arab berumur jura muda,
terutama dari anggota D.
Dolomit
Dolomit merupakan batuan reservoir yang jauh lebih penting dari jenis
batuan karbonat lainnya. Harus di ingat pula, bahwa kebanyakan dari batuan
karbonat seperti oolit ataupun terumbu sedikit banyak pula telah ikut
didolomitasikan. Cara terjadinya dolomit ini tidak begitu jelas, tetapi pada
umumnya dolomit ini bersifat sekunder atau sedikit banyak terbentuk
setelah proses sedimentasi. Salah satu teori yang menyebutkan
pembentukan porositas pada dolomit yaitu porositas timbul karena
dolomitisasi batuan gamping sehingga molekul kalsit diganti dengan molekul
dolomit, dan karena molekul dolomit lebih kecil daripada molekul kalsit maka
hasilnya akan merupakan pengecilan volume sehingga tidak timbulah
rongga-rongga.dolomit biasanya mempunyai porositas yang baik berbentuk
sukrosit yaitu berbentuk menyerupai gula pasir. Rupa-rupanya dolomit ini
terbentuk karena pembentukan kristal dolomit yang bersifat euhedron dan
tumbuh secara tidak teratur diantara kalsit.

1.3.

BATUAN SHALE

Pada umumnya unsur penyusun shale ini terdiri dari lebih kurang 58% silicondioxide
(SiO
2
), 15% aluminium oxide (Al
2
O
3
), 6% iron oxide (FeO) dan Fe
2
O
3
, 2%magnesium oxide (MgO), 3% calcium oxide (CaO), 3% potassium oxide (K
2
O), 1%sodium oxide (Na
2
O) dan 5% air (H

2
O). sisanya adalah metal oxide dan anion.
SIFAT FISIK BATUAN RESERVOIR1. POROSITAS
Porositas (

) merupakan perbandingan antara ruang kosong (pori-pori) dalambatuan dengan


volume total batuan yang diekspresikan di dalam persen.
%100
xVbVp
atau
%100
xVbVgVb
dimana : Vp = volume ruang pori-pori batuanVb = volume batuan total (bulk
volume)Vg = volume padatan batuan total (grain volume)

= porositas batuanPorositas batuan reservoir dapat diklasifikasikan menjadi dua :a.


Porositas absolute, yang merupakan persen volume pori-pori total terhadapvolume
batuan total.
%100
xantotalvalumebatutotalvolumepori
b. Porositas efektif, yang merupakan persen volume pori-pori yang salingberhubungan
terhadap volume batuan total.
%100
xantotalvolumebatuungan yangberhubvolumepori

Selain itu, menurut terjadinya, porositas dapat diklasifikasikan menjadi dua,yaitu :a.
Porositas primer, merupakan porositas yang terbentuk pada waktu batuansediment
diendapkan.b. Porositas sekunder, merupakan porositas batuan yang terbentuk
sesudah batuansediment terendapkan.
2. WETTABILITAS
Wettabilitas didefinisikan sebagai suatu kecenderungan dari adanya fluida lainyang
tidak saling mencampur. Apabila dua fluida bersinggungan dengan bendapadat, maka
salah satu fluida akan bersifat membasahi permukaan benda padattersebut, hal ini
disebabkan adanya gaya adhesi. Dalam system minyak-air, bendapadat, gaya adhesi A
T
yang menimbulkan sifat air membasahi benda padat adalah :
wowoswso A
T
cos

.
dimana ;

so = tegangan permukaan minyak-benda padat, dyne/cm


sw
= tegangan permukaan air-benda padat, dyne/cm
wo
= tegangan permukaan minyak-air, dyne/cmwo = sudut kontak minyak-air.Suatu
cairan yang dikatakan membasahi zat padat jika tegangan adhesinyap o s i t i f ( <
90
o
), yang berarti batuan bersifat water wet, sedangkan bila air tidakmembasahi zat
padat maka tegangan adhesinya negative ( > 90
o
), berarti batuanbersifat oil wet.Pada umumnya, reservoir bersifat water wet,
sehingga air cenderung untuk melekatpada permukaan batuan, sedangkan minyak
akan terletak diantara fasa air.
TEKANAN KAPILER
Tekanan kapiler (pc) didefinisikan sebagai perbedaan tekanan yang adaantara
permukaan dua fluida yang tidak tercampur (cairan-cairan atau cairan-gas)sebagai
akibat dari terjadinya pertemuan permukaan yang memisahkan mereka.
Perbedaan tekanan dua fluida ini adalah perbedaan tekanan antara fluida
nonwetting fasa (Pnw) dengan fluida wetting fasa (Pw) atau :
PwPnwPc
Di reservoir biasanya air sebagai fasa yang membasahi (wetting fasa),sedangkan
minyak dan gas sebagai non-wetting fasa atau tidak membasahi.Tekanan kapiler dalam
batuan berpori tergantung pada ukuran pori-pori danmacam fluidanya. Secara
kuantitatif dapat dinyatakan dalam hubungan :
Pc
..cos.2
dimana :Pc = tekanan kapiler

= tegangan permukaan antaradua fluidacos = sudut kontak permukaanantara dua


fluidar = jari-jari lengkung pori-pori

= perbedaan densitas dua fluidag = percepatan gravitasih = tinggi kolomTekanan


kapiler mempunyai pengaruh yang penting dalam reservoir minyakmaupun gas, yaitu :

Mengontrol distribusi saturasi di dalam reservoir

Merupakan mekanisme pendorong minyak dan gas untuk bergerak ataumengalir


melalui pori-pori reservoir dalam arah vertical.

4. SATURASI
Saturasi fluida didefinisikan sebagai perbandingan antara volume pori-poribatuan yang
ditempati oleh fluida tertentu dengan volume pori-pori total pada suatubatuan berpori.
Saturasi dapat dinyatakan dalam persamaan dibawah ini :a. Saturasi minyak (So)
adalah :
p o r i t o t a l v o l u m e p o r i y a k isioleh p o r i y a n g d i v o l u m e p o r i So
min
b. Saturasi air (Sg) adalah :
p o r i t o t a l v o l u m e p o r i isiolehair p o r i y a n g d i v o l u m e p o r i Sw
c. Saturasi gas (Sg) adalah :
p o r i t o t a l v o l u m e p o r i isigas p o r i y a n g d i v o l u m e p o r i Sg
Jika pori-pori diisi oleh gas-minyak-air, maka berlaku hubungan :Sg + So + Sw =
1Jika diisi oleh minyak dan air saja, maka :So + Sw = 1
5. PERMEABILITAS
Permeabilitas didefinisikan sebagai suatu bilangan yang menunjukkankemampuan dari
suatu batuan untuk mengalirkan fluida. Teori tersebutdikembangkan oleh Henry Darcy.
Darcy mengungkapkan bahwa kecepatan alirmelewati suatu media yang porous
berbanding lurus dengan penurunan tekanan perunit panjang, dan berbanding terbalik
terhadap viskositas fluida yang mengalir.Persamaan permeabilitas
PTP2
dLdPk V
Dimana :V = kecepatan aliran, cm/sec

= viskositas fluida yang mengalir, cpdP/dL= penurunan tekanan per unit panjang,
atm/cmk = permeabilitas, darcy
6. KOMPRESSIBILITAS
Menurut Geertsma, terdapat tiga macam kompressibilitas pada batuan yaitu :a.
Kompressibilitas matriks batuan, yaitu fraksional perubahan volume dari
materialpadatan batuan (grain) terhadap satuan perubahan tekanan.b.
Kompressibilitas batuan keseluruhan, yaitu fraksional perubahan volume darivolume
batuan terhadap satuan perubahan tekanan.c. Kompressibilitas pori-pori batuan, yaitu
fraksional perubahan volume pori-poribatuan terhadap satuan perubahan
tekanan.Batuan yang berada pada kedalaman tertentu akan mengalami dua
macamtekanan, yaitu ;

Internal stress yang berasal dari desakan fluida yang terkandung di dalampori-pori
batuan (tekanan hidrostatik fluida formasi)

External stress yang berasal dari pembebanan batuan yang ada di atasnya(tekanan
overburden)