Anda di halaman 1dari 9

Sistem kesehatan di Australia terkenal

sebagai salah satu yang terbaik di dunia


Fasilitas Bertaraf Internasional

Fasilitas kesehatan yang dikelola oleh Healthscope adalah termasuk salah satu yang
terbaik di dunia, dirancang secara khusus untuk memberikan pelayanan kesehatan
spesialisasi yang mengutamakan kenyamanan bagi pasien.
KETERANGAN LEBIH LANJUT

Kami akan mengurus semua keperluan Anda

Kami akan mengurus setiap detil perjalan anda sehingga perjalanan anda amat mudah
dan bebas stres.
KETERANGAN LEBIH LANJUT
Sistem kesehatan Australia merupakan system yang kompleks dan canggih, merupakan
kombinasi antara pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta. Seluruh warga negara
dan penduduk tetap Australia memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan bebas biaya
yang dikelola oleh pemerintah, namun demikian hampir setengah penduduk Australia
memiliki asuransi kesehatan swasta.
Selama bertahun-tahun, sistem kesehatan milik swasta telah berkembang sedemikian
rupa sehingga memiliki peran yang cukup besar dalam pelayanan kesehatan. Rumah
sakit-rumah sakit swasta, termasuk didalamnya rumah sakit swasta yang dikelola oleh
Healthscope, telah diperlengkapi untuk menyediakan hampir segala bentuk jenis
perawatan kesehatan yang tersedia, mulai dari pelayanan sub akut seperti rehabiltasi
hingga perawatan yang kompleks seperti pembedahan dan unit perawatan intensif.
Sektor kesehatan swasta di Australia berdasarkan model pelayanan berdasarkan biaya,
dengan berbagai pilihan dokter dan institusi pelayanan.

Akreditasi

Pemerintah Australia telah menetapkan standard akreditasi secara nasional melalui


Australian Council on Health Care Standards (ACHS) dan standar Evaluation and Quality
Improvement (EquiP)
Standar akreditasi rumah sakit Australia sejajar/setaraf dengan akreditasi US Joint
Commission International (JCI); bahkan banyak yang mengakui bahwa standard
akreditasi milik Australia lebih menyeluruh. Bahkan ACHS sendiri baru-baru ini telah
mulai mengakreditasi rumah sakit-rumah sakit se Asia Tenggara dan Timur Tengah,
akreditasi ini dibangun berdasarkan standar yang tinggi yang dipakai oleh rumah sakit di
Australia.

Pengukuran Kualitas
Sektor Kesehatan Australia terkenal diseluruh dunia memiliki kualitas perawatan yang
sangat tinggi. Sebuah studi komparatif internasional mengenai system kesehatan di
enam negara (Australia, Kanada, Jerman, New Zealand dan Amerika Serikat),
membuktikan bahwa Australia memilik ranking tertinggi dalam bidang hidup sehat,
memiliki angka tertinggi/kedua tertinggi dalam semua indicator penilaian yang
ditetapkan (The Commonwealth Fund, 2007).
Secara jelas di setiap indikator hasil pelayanan kesehatan yang diukur oleh OECD,
Australia meduduki peringkat yang sangat baik. Dalam pengukuran umum seperti angka
harapan hidup keseluruhan, hingga pengukuran khusus seperti infrastruktur, tenaga
kesehatan, pengukuran kualitas rumah sakit, Australia termasuk yang terbaik di dunia.
Rumah sakit Australia, para dokter, universitas dan para penelitinya adalah yang terbaik
di bidangnya. Australia memiliki lebih banyak rumah sakit yang menduduki rangking 500
rumah sakit penelitian terbaik di dunia dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia
Tenggara (Ranking dunia cybermatics).
Institut kesehatan dan kesejahteraan Australia (sebuah badan pemerintah federal)
bertugas mengukur dan memonitor kesehatan dan kesejahteraan di Australia. Badan itu
pula yang menerbitkan data tentang rumah sakit di Australia yang dapat diakses secara
bebas sehingga memungkinkan para pasien membandingkan rumah sakit yang akan
mereka kunjungi dengan standar nasional rata-rata.

http://healthscopeaustralia.com/id/australian-healthcare-system

SAMPANG: Penataan Sistem Rujukan


Penataan Sistem Rujukan Kesehatan Perorangan di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar merupakan isu penting
menjelang pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dimulai Januari 2014. Untuk antisipasi
pelaksanaan JKN, Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang melaksanakan kegiatan Penataan Sistem Rujukan
Perorangan Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar melalui Pembentukan Tim Penataan Sistem Rujukan pada
tanggal 28 November 2013 di Grand Restaurant Camplong.
Kegiatan Pembentukan Tim Penataan Sistem Rujukan ini dihadiri oleh semua pejabat Eselon III , Kepala Seksi
yang berkaitan dengan Pelayanan Kesehatan dan Rujukan, Subag Perencanaan & Anggaran Dinas Kesehatan
Kabupaten Sampang, RSUD dan Perwakilan dari Puskesmas Kamoning dan Omben serta dihadiri juga oleh Tim
AIPHSS; Prof.Dr.Ascobat Gani, dr.Sandi Iljanto, dr.Frankie sebagai narasumber, PME Officer BUKD, PPMU
Coordinator dan DPMU Sampang.

Pertemuan diawali dengan pengarahan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang: dr.Firman Pria
Abadi,MM, Beliau menyampaikan bahwa di Kabupaten Sampang belum ada Sistem Operasional Prosedur
Rujukan (SOP) atau kalaupun sudah ada baru sebagian namun tidak lengkap, yang sudah jelas baru SOP
kebidanan oleh karena itu penataan sistem rujukan perorangan ini sangat penting dilaksanakan dalam antisipasi
pelaksanaan JKN/BPJS 2014. SOP perlu dibuat berdasarkan kesepakatan bersama dan diketahui oleh
masyarakat.
Proses selanjutnya adalah diskusi tentang pelaksanaan rujukan perorangan mulai dari tingkat masyarakat,
Puskemas dan jaringannya dan rumah sakit. Proses berjalan dengan partisipatif aktif dari seluruh peserta.
Sistem rujukan perorangan fokus pada Fasilitas Puskesmas sesuai dengan fungsinya yaitu sebagai Pusat
Pemberdayaan Masyarakat, Pusat Pembangunan berwawasan Kesehatan dan Pusat Pelayanan Kesehatan.
Yang menjadi akar masalah rujukan di Kabupaten Sampang adalah budaya masyarakat dimana rujukan atas
permintaan sendiri (APS) masih tinggi yaitu sebesar 30 %. Oleh karena itu dalam menyusun Pedoman Sistem
Rujukan agar memperhatikan isue-isue yang ada selama ini yaitu:

Kriteria seperti kapan pasien harus dirujuk,

Peningkatan Kapasitas Puskesmas, Puskesmas PONED,

Networking berkaitan dengan transportasi, ambulance,

Rujukan berbasis Masyarakat

Dimensi Budaya: tiga (3) terlambat yaitu terlambat mengambil keputusan, terlambat transportasi dan
terlambat penanganan.

Kegiatan diakhiri dengan Pembentukan Tim Penataan Sistem Rujukan melalui SK Bupati yang atas saran
Prof.Dr.Ascobat agar dijadikan satu dengan Tim DHA dan Tim SDM dan disepakati menjadi Kelompok Kerja
(Pokja) Penguatan Sistem Kesehatan. Pokja Sistem Rujukan bersama dengan technical assistancerujukan akan
melaksanakan diagnostic managerial yaitu menyusun proposal teknis, desk analisis, kunjungan lapangan, draft
awal dan Seminar draft Sistem Rujukan Perorangan Kabupaten Sampang dan finalisasi Model Sistem Rujukan
Perorangan Kabupaten Sampang.
Dengan terbentuknya Pokja Penataan Sistem Rujukan Perorangan Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar ini
diharapkan dapat tersusunnya Model Sistem Rujukan Perorangan di Kabupaten Sampang untuk antisipasi
pelaksanaan JKN Januari mendatang.
(Titien Irawati & Team)

http://aiphss.org/sampang-referral-systems-strengthening/?lang=id

Artikel

Persoalan kesehatan masyarakat miskin bukan hanya tanggung jawab RS,


puskesmas, Dinas Kesehatan dan pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama
seluruh komponen bangsa. Kunci sukses membantu masyarakat miskin dalam

bidang kesehatan adalah membangun sistem kesetiakawanan sosial dan sistem


pembiayaan kesehatan masyarakat yang dibangun dengan gotong royong
secara pra-upaya dan sesuai dengan prinsip-prinsip asuransi.

Solusi Pelayanan si Miskin di Rumah Sakit


Oleh Ketut Sanjana
KEMISKINAN menjadi lebih banyak diperdebatkan ketika angka kemiskinan
diIndonesia yang dikeluarkan BPS berjumlah 49,5 juta atau 24,2%, sebaliknya
BKKBN mengeluarkan angka 48% yang terdiri atas keluarga pra-sejahtera dan
keluarga sejahtera I. Perbedaan yang cukup besar dari angka kemiskinan BPS
(makro) dan BKKBN (mikro) ini berkepanjangan, dan pemerintah-pemerintah
daerah berbeda-beda sikapnya terhadap perbedaan ini. Perbedaan angka dan
kriteria kemiskinan tersebut berdampak pada banyaknya keluhan terhadap
program-program pengentasan kemiskinan yang diluncurkan oleh pemerintah
seperti program beras miskin (raskin), beasiswa dan asuransi kesehatan gakin
terutama di RS.

Sistem Pelayanan
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) membagi pelayanan kesehatan menjadi dua;
pelayanan kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan perorangan.
Pelayanan kesehatan masyarakat untuk penanggulangan masalah kesehatan
masyarakat umum, sifatnya massal, yang apabila tidak dilaksanakan akan
mengakibatkan banyak orang akan menderita. Misalnya, pelayanan
pemberantasan penyakit menular seperti pemberantasan sarang nyamuk,
kebersihan lingkungan, imunisasi dan lain-lain. Penyelenggara pelayanan
kesehatan masyarakat adalah Dinas Kesehatan dan puskesmas. Pelayanan
kesehatan publik ini harus sepenuhnya dibiayai pemerintah.
Pelayanan kesehatan perorangan ditujukan langsung kepada individu yang
menderita suatu kelainan tertentu yang apabila tidak dilaksanakan hanya akan
menyerang individu itu sendiri. Contohnya, pelayanan penyakit-penyakit
degeneratif seperti penyakit jantung, diabetes, kanker, cuci darah dan lainlain. Penyelenggara pelayanan kesehatan individu adalah rumah sakit dan
klinik puskesmas. Pelayanan kesehatan individu ini seharusnya dibiayai oleh
individu bersangkutan kecuali untuk masyarakat miskin, yang harus dibiayai
oleh negara dan menjadi tanggungan negara sebagaimana diamanatkan oleh
pasal 34 UUD 45.
Pelayanan kesehatan perorangan terus berkembang terutama di RS sejalan
dengan kemajuan ilmu kedokteran modern. Berkembangnya penemuan obat
baru, alat baru, prosedur pengobatan yang baru, mengakibatkan biaya
pelayanan kesehatan perorangan menjadi makin mahal. Tingginya biaya RS
juga dirasakan oleh negara-negara lain tidak hanya Indonesia. Namun, negaranegara lain sudah mengembangkan suatu sistem pembiayaan kesehatan
warganya dengan sangat baik dengan prinsip-prinsip asuransi.
Australia membiayai kesehatan masyarakatnya dengan cara mengembangkan
asuransi kesehatan nasional (medicare) dan asuransi kesehatan swasta

(medisave). Seluruh penduduk Australia wajib memiliki medicare dengan premi


tertentu, sedangkan masyarakat yang tidak mampu preminya dibayar oleh
pemerintah.
Di Singapura sistem pembiayaan kesehatannya terstruktur dengan sangat jelas.
Pasien kelas III-nya disubsidi pemerintah sebesar 80%, dan pasien kelas II
disubsidi 50%. Namun, pasien kelas I dan VIP tidak diberi subsidi bahkan harus
membayar mahal.
Di Jepang, pemerintah mensubsidi biaya kesehatan masyarakat yang
mendapatkan pelayanan standar minimal sebesar 70%, sedangkan 30% dibayar
sendiri oleh masyarakat. Jika masyarakat tidak juga mampu membayar yang
30%, maka masyarakat datang ke Dinas Sosial untuk dicarikan donatur atau
kaum dermawan yang menolong membayarkan biaya di RS, bukan sebaliknya
memaksa RS menggratiskan biaya pelayanannya. Mereka sadar RS harus tetap
mampu memberikan pelayanan dengan mutu yang baik dan prima.

Dilema di RS
Isu ''gratis all-risk'' untuk seluruh pasien kelas III di RS membuat kalang-kabut
banyak pihak, terutama pengelola RS pemerintah. Pertanyaannya, apakah
pemerintah sanggup menyediakan anggaran untuk itu? Jika seluruh pasien
kelas III dibebaskan berarti Indonesia sudah lebih hebat dari Jepang. Jepang
saja masih mewajibkan warganya membayar 30% unit cost RS di kelas III.
Isu selanjutnya adalah pasien miskin di kelas III di RS dan puskesmas mendapat
asuransi kesehatan yang dikelola oleh PT Askes dan mendapat pelayanan gratis
all-risk. Sistem dan paket pelayanan askes gakin dibuat sama dengan askes
wajib PNS, bahkan melebihi. Dilemanya, PT Askes memiliki paket pelayanan
yang ada batasnya. Pelayanan di luar paket, pasti tidak akan dibayar oleh PT
Askes. Lalu, siapa yang harus menanggung beban pelayanan di luar paket?
Banyak pihak menganggap RS mampu memberikan pelayanan kesehatan gratis
all-risk kepada masyarakat miskin dengan prinsip subsidi silang. Program
subsidi silang dari masyarakat mampu kepada masyarakat miskin di RS belum
berjalan karena tidak seimbangnya jumlah fasilitas yang menguntungkan di
kelas I dan VIP dibanding dengan fasilitas merugi di kelas II dan kelas III.
Dibutuhkan dana investasi yang cukup besar untuk mampu melakukan subsidi
silang di RS, sementara itu saat ini banyak RS sudah tidak mendapat bantuan
biaya operasional, biaya pemeliharaan dan biaya investasi dari pemerintah
karena kemampuan pemerintah kita yang sangat terbatas.
Sangat berbahaya menjanjikan pelayanan gratis all-risk di RS apabila sumber
daya kita masih sangat terbatas. Jika dipaksakan, ibarat menjanjikan makan
nasi gratis di sebuah warung, namun setelah sampai di warung tidak ada nasi
yang bisa dimakan karena pemilik warung tidak cukup uang buat biaya
menyiapkan nasi.

Pelayanan Bermutu
Masalah kesehatan adalah masalah hidup dan mati. Persoalan kesehatan
masyarakat miskin bukan hanya tanggung jawab RS, puskesmas, Dinas

Kesehatan dan pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh komponen


bangsa. Kunci sukses membantu masyarakat miskin dalam bidang kesehatan
adalah membangun sistem kesetiakawanan sosial dan sistem pembiayaan
kesehatan masyarakat yang dibangun dengan gotong royong secara pra-upaya
dan sesuai dengan prinsip-prinsip asuransi. Jangan terjebak pada euforia dan
retorika sesaat, jangan terjebak pada solusi yang sifatnya mendadak dan
jangka pendek, namun mari kita ciptakan solusi dan sistem yang kuat untuk
masa depan. Masyarakat yang maju mempunyai ciri bagaimana merancang
masa depan, masyarakat terkebelakang mempunyai ciri sekadar melewati hari
ini.
Untuk kelompok keluarga sangat miskin (gaskin) biaya kesehatannya harus
dibantu pemerintah pusat dan daerah dengan cara membelikan asuransi
kesehatan, atau menyiapkan biaya untuk membayar pelayanan kesehatan
orang miskin di RS dan puskesmas secara layak berdasarkan unit cost. Akan
lebih bijaksana jika dipakai prinsip-prinsip asuransi, sehingga akan tercipta
suatu sistem membagi risiko (risk sharing) antara semua sektor dan tidak
terjadi moral hazard oleh penyelenggara pelayanan maupun peserta.
Untuk kelompok keluarga dengan penghasilan pas-pasan yang hanya cukup
untuk hidup normal, tetapi tidak mampu membayar biaya berobat, atau
masyarakat yang bila sakit jadi miskin, biaya kesehatannya harus ditanggung
oleh mereka sendiri dengan jalan membeli premi asuransi kesehatan sukarela
yang murah sebesar Rp 5.000 per orang per bulan. Jangan dibiasakan dengan
budaya gratis. Berdayakan mereka agar menjadi masyarakat yang berbudaya
pejuang, tahu hak dan kewajiban, serta masyarakat yang memikirkan dan
menciptakan masa depannya.
Pertanyaannya, bagaimana cara pembayaran preminya? Siapa yang memungut,
di mana, kapan? Bagaimana jika masih ada yang tidak mampu membayar Rp
5.000 per bulan? Jawabannya adalah, sistem banjar. Sistem banjar yang ada di
Bali sangat ampuh untuk menjalankan program ini karena telah terbukti
berhasil menyukseskan program KB maupun Posyandu. Tiap bulan ada
pertemuan rutin di banjar yang sangat ditaati warganya dan dapat dijadikan
media untuk memungut premi dan memecahkan masalah. Dengan sistem
banjar kita mengetahui siapa yang benar-benar miskin yang patut dibantu dan
bantuan bisa datang dari warga banjar yang mampu karena rasa
kesetiakawanan sosial antarwarga banjar yang kuat.

Penulis, Wakil Ketua Arsada Wilayah Bali, Direktur BRSU Tabanan, konsultan
manajemen RS, dosen Pascasarjana Manajemen Rumah Sakit FK-UGM
Yogyakarta

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/5/7/o1.htm

Pelayanan Publik di Indonesia dan Australia, Serupa Tapi Tak Sama


DIBUAT PADA 27 AGUSTUS 2013

Dilihat: 1021
http://www.menpan.go.id/berita-terkini/1727-pelayanan-publik-di-indonesia-dan-australia-serupa-tapi-tak-sama

JAKARTA Sejumlah Kementerian/Lembaga melaporkan hasil studi banding di Canberra-Australia yang telah
dilaksanakan pada tahun 2012 di depan Wakil menteri PANRB Eko Prasojo. Studi banding itu terbagi menjadi
dua kelompok, yakni bulan Februari, dan kelompok dua pada bulan Maret. Mereka melakukan perbandingan
sistem pemerintahan antara Indonesia dan Australia.
Pada kesempatan itu, Wakil Menteri PANRB mengungkapkan, Indonesia dan Australia memiliki perbedaan
geografi, kebudayaan, iklim, populasi, dan sistem pemerintahan. Selain itu dalam urusan pelayanan, dapat dilihat
secara langsung dari beberapa institusi. Australia menangani prosedur dalam perijinan secara lebih fokus,
karena ditangani langsung oleh badan independen. Pemerintah Australia memberikan dukungan berupa
pembinaan dan bantuan finansial. Di Indonesia, meskipun pemerintah telah mendelegasikan pemrosesan ke
pemda, namun belum dapat dilakukan secara optimal karena belum memadainya SDM, serta pembinaan dan
sosialisasi masih sangat minim, ujarnya di Jakarta (Senin (26/08).
Proses perijinan di Australia, lanjut Wamen, dapat dilaksanakan dengan mudah karena masyarakat Australia
sangat mudah mengakses informasi. Semua masyarakat Australia sampai di pelosok pun dapat melakukan
komunikasi via internet maupun smartphone. Sedangkan di Indonesia, masyarakat Indonesia belum dapat akses
informasi secara baik, karena mungkin informasi itu sendiri belum tersedia secara lengkap di internet. Proses
pembuatan SIUP dan TDP misalnya, belum dilakukan secara online. Kalaupun sudah online, tidak semua
masyarakat dapat melakukannya karena masih gaptek dan juga di daerah pelosok belum tentu ada internet,
tambahnya.
Dikatakan, one stop service di Australia dan di Indonesia pada prinsipnya sama. Hanya di Indonesia belum
seluruh daerah memiliki PTSP. Proses penerbitan kebijakan di Indonesia pada prinsipnya juga sama dengan
Australia. Di Indonesia sebelum menerbitkan UU maupun PP harus melakukan analisis akademi seperti di
Australia yang melakukan analisis risk management. Dukungan Pemda merupakan kunci utama, ujar Eko
Prasojo.
Sejumlah peserta K/L tersebut menerima arahan rekomendasi pada lingkup pekerjaan, berupa perubahan
peraturan, peningkatan kualitas SDM, penyempurnaan sistem IT, penanganan konsultasi, dan komplain.
Tujuannya untuk mempersingkat waktu dan penyederhanaan prosedur untuk memberikan pelayanan publik yang
prima.
Komitmen pimpinan terhadap implementasi reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian Lembaga, dan
pelayanan kepada masyarakat perlu ditingkatkan mengingat masyarakat belum cukup merasakan dampak dari
reformasi birokrasi, imbuh Eko Prasojo mengakhiri rapat tersebut.
Koordinator ICDBR Wahyu Sutiyono dan John Halligan dari University of Canberra mengikuti rapat
pertanggungjawaban hasil kunjungan studi banding yang dipimpin oleh Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur
Negara dan Reformasi birokrasi Eko Prasojo. Acara tersebut juga dihadiri oleh peserta studi banding, antara lain
dari Kementerian PANRB, Kementerian Pekerjaan Umum, Bappenas, Sekretariat Wakil Presiden, Kementerian
Kesehatan, Direktorat Pengembangan Ekonomi Daerah Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam
Negeri, Lembaga Administrasi Negara (LAN), Deputi Bidang Pelayanan Penanaman Modal Badan Koordinasi
Penanaman Modal (BKPM), Kepala Unit PTSP Bidang Penanaman Modal Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Staf
Khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan BPKP.
Peserta menyampaikan laporan implementasi reformasi birokrasi yang meliputi, manajemen perubahan,
penataan peraturan perundang-undangan, penataan dan penguatan organisasi, penataan tatalaksana, penataan
sistem manajemen SDM Aparatur, penguatan pengawasan, penguatan akuntabilitas kinerja, dan peningkatan
kualitas pelayanan publik. Selain itu diperlukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan yang menjamin implementasi
reformasi birokrasi telah dilakukan sesuai dengan ketentuan dan target yang ditetapkan dalam road map masingmasing instansi. (bby/HUMAS MENPANRB)

Sekilas Perbedaan Perawat Indonesia dan Australia


Posted by BissiE at 8:24 PM

Semua orang akan memahami bahwa profesi keperawatan adalah sebuah profesi yang sangat
menentukan bagi baik buruknya system pelayanan kesehatan di sebuah negara. Baik itu di negara
yang sedang berkembang ataupun negara maju, system pelayanan kesehatan terutama di bidang
keperawatan seharusnya sudah mempunyai peraturan perundang2an yang sama secara universal atau
international. Karena pada intinya bidang ini akan memberikan suatu pelayanan kesehatan yang
sama kepada masyarakat. Mungkin perbedaaan hanya bisa di lihat dari cara pelayanannya dan hasil
akhirnya. Dan sebenarnya perbedaan itu bisa di hidari jika masing2 negara mempunyai suatu system/
peraturan yang sama baik itu dari segi pendidikannya maupun dari segi system pelayanan
kesehatannya itu sendiri.

Dari hasil pengamatan secara sekilas perbedaan keperawatan di Indonesia dan Australia di bagi
berbagai macam yang diantaranya dari system pendidikan.
Hanya dari segi pendidikan, kita bisa lihat perbedaan yang sangat mencolok. Jenjang karier
keperawatan di Indonesia sulit di bedakan antara SPK, AKPER dan Skep/S1. Walaupun pada
dasarnya mereka mempunyai perbedaan tingkat pendidikan, namun di rumah sakit mereka
mempunyai kesamaan dalam memberikan pelayanan kesehatan di bidang keperawatan. Hak dan
tanggung jawab mereka hampir sama dalam memberikan obat baik itu injeksi maupun oral. Belum
lagi kesamaan dalam melakukan tindakan seperti memasang infus, NGT ataupun catheterisation.
Dari alasan kesamaan ini, banyak rumah sakit yang cenderung memilih mempekerjakan tenaga SPK
atau Akper karena mereka mau di bayar lebih murah di banding mempekerjakan Lulusan Skep/S1
yang tentunya standart gajinya lebih tinggi. Sedangkan mereka sama2 bisa memberikan dan
melalukan tindakan2 keperawatan pada umumnya. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa rumah
sakit pun belum mau mendukung system pendidikan yang ada dan belum mau setingkat lebih maju
dalam mempergunakan tenaga2 ahli lulusan sarjana keperawatan.

Sedangkan di Australia kita merasakan perbedaan yang jelas antara tugas


dan tanggung seorang lulusan Sarjana keperawatan/ Bachelor of Nursing/RN ( Registered Nurse)
dengan perawat bercertificate seperti AIN/ Assistant In Nursing, TEN/Trainee Enrolled Nurse, EEN/
Endorse Enrolled Nurse ataupun EN/Enrolled nurse dll. Seorang Registered Nurse dapat
memberikan dan melalukan hampir mayoritas tindakan2 dalam keperawatan, sedangkan
EN,EEN,TEN ataupun AIN tidak di berikan wewenang dalam memberikan obat terutama injeksi.
Hanya terkecuali beberapa yang telah mengikuti pelatihan yang di perkenankan, itupun harus
didampingi seorang Registered Nurse. Jadi pada intinya semua mempunyai tugas dan tanggung
jawab masing2. Tetapi walupun demikian di ruang yang sama kita bekerja secara team, saling
membantu dan meringankan.
Masih banyak perbedaan2 yang lain yang diantaranya dari segi kelembagaan nursing itu sendiri yang
di australia di kenal memilikiNursing Board. Sebuah lembaga yang mengatur, mengkoordinasi dan
mengendalikan system keperawatan yang ada. Lembaga ini juga yang mengeluarkan Nursing
Registration untuk bisa bekerja di rumah sakit, dan sebuah Registration harus di renew setiap tahun
jika tetap mau bekerja di australia. Sedangkan di Indonesia, apakah kita sudah mempunyai sebuah
lembaga yang mampu mengkoordinasi system keperawatan kita seperti halnya yang ada di
Australia..? Jawab dalam hati saja ya..?

http://bissienurse.blogspot.com/2008/12/sekilas-perbedaan-perawat-indonesiadan.html