Anda di halaman 1dari 10

Kreatinin (dari bahasa Yunani''''daging kreas,) adalah produk break-down dari creatine

phosphate dalam otot, dan biasanya diproduksi pada tingkat yang cukup konstan oleh tubuh
(tergantung pada massa otot).
Kimia, kreatinin merupakan turunan siklik terbentuk secara spontan dari creatine.
Kreatinin ini terutama disaring dari darah oleh ginjal, meskipun sejumlah kecil secara aktif
disekresi oleh ginjal menjadi urin. Ada sedikit-untuk-tidak reabsorpsi tubular kreatinin. Jika
penyaringan ginjal kekurangan, kadar meningkat. Oleh karena itu, kadar kreatinin dalam
darah dan urin dapat digunakan untuk menghitung bersihan kreatinin (CrCl), yang
mencerminkan laju filtrasi glomerulus (GFR). GFR secara klinis penting karena merupakan
pengukuran fungsi ginjal. Namun, dalam kasus disfungsi ginjal yang parah, tingkat bersihan
kreatinin akan "berlebihan" karena sekresi aktif dari kreatinin akan account untuk sebagian
kecil lebih besar dari jumlah kreatinin dibersihkan. Ketoacids, simetidin dan trimethoprim
mengurangi sekresi tubular kreatinin dan karenanya meningkatkan akurasi estimasi GFR,
khususnya dalam disfungsi ginjal berat. (Dengan tidak adanya sekresi, kreatinin berperilaku
seperti inulin.)
Sebuah estimasi yang lebih lengkap dari fungsi ginjal dapat dilakukan bila menafsirkan darah
(plasma) konsentrasi kreatinin bersama dengan urea. BUN-ke-kreatinin rasio (rasio urea
untuk kreatinin) dapat menunjukkan masalah lain selain yang intrinsik pada ginjal, misalnya,
tingkat urea dibangkitkan keluar dari proporsi kreatinin mungkin mengindikasikan masalah
pra-ginjal seperti deplesi volume.
Pria cenderung memiliki tingkat yang lebih tinggi dari kreatinin karena mereka umumnya
memiliki lebih banyak massa otot rangka dibanding wanita. Vegetarian telah terbukti
memiliki tingkat kreatinin yang lebih rendah
Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir metabolisme otot
yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan yang hampir konstan dan diekskresi dalam urin
dengan kecepatan yang sama. Kreatinin diekskresikan oleh ginjal melalui kombinasi filtrasi
dan sekresi, konsentrasinya relatif konstan dalam plasma dari hari ke hari, kadar yang lebih
besar dari nilai normal mengisyaratkan adanya gangguan fungsi ginjal. (Corwin J.E, 2001).
Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir metabolisme otot
yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan yang hampir konstan dan diekskresi dalam urin
dengan kecepatan yang sama. Kreatinin diekskresikan oleh ginjal melalui kombinasi filtrasi
dan sekresi, konsentrasinya relatif konstan dalam plasma dari hari ke hari, kadar yang lebih
besar dari nilai normal mengisyaratkan adanya gangguan fungsi ginjal. (Corwin J.E, 2001).
Pemeriksaan kreatinin darah dengan kreatinin urin bisa digunakan untuk menilai
kemampuan laju filtrasi glomerolus, yaitu dengan melakukan tes kreatinin klirens. Selain itu
tinggi rendahnya kadar kreatinin darah juga memberi gambaran tentang berat ringannya

gangguan fungsi ginjal. Hemodialisis dilakukan pada gangguan fungsi ginjal yang berat yaitu
jika kadar kreatinin lebih dari 7 mg / dl serum. Namun dianjurkan bahwa sebaiknya
hemodialisis dilakukan sedini mungkin untuk memghambat progresifitas penyakit.
1.2 Tujuan Percobaan
Mahasiswa diharapkan

mampu

melakukan

penentuan

kadar

kreatinin

urin

menggunakan spektrofotometer.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Kreatinin
Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir metabolisme otot

yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan yang hampir konstan dan diekskresi dalam urin
dengan kecepatan yang sama. Kreatinin diekskresikan oleh ginjal melalui kombinasi filtrasi
dan sekresi, konsentrasinya relatif konstan dalam plasma dari hari ke hari, kadar yang lebih
besar dari nilai normal mengisyaratkan adanya gangguan fungsi ginjal. (Corwin J.E, 2001).
Peningkatan dua kali lipat kadar kreatinin serum mengindikasikan adanya penurunan fungsi
ginjal sebesar 50 %, demikian juga peningkatan kadar kreatinin tiga kali lipat mengisyaratkan
penurunan fungsi ginjal sebesar 75 %. ( Soeparman dkk, 2001 )
2.1.1

Metabolisme Kreatinin

Kreatinin adalah anhidrida dari kreatin, ia dibentuk sebagian besar dalam otot dengan
pembuangan air dari kreatinfosfat secara tak reversibel dan non enzimatik. Kreatinin bebas
terdapat dalam darah dan urin. Pembentukan kreatinin rupanya adalah langkah permulaan
yang diperlukan untuk ekskresi sebagian besar kreatinin. (Harper, 1997)
2.1.2

Faktor Yang Mempengaruhi Kadar Kreatinin

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kadar kreatinin dalam darah, diantaranya
adalah :
a.
b.
c.
d.

Perubahan massa otot.


Diet kaya daging meningkatkan kadar kreatinin sampai beberapa jam setelah makan.
Aktifitas fisik yang berkebihan dapat meningkatkan kadar kreatinin darah.
Obat obatan seperti sefalosporin, aldacton, aspirin dan co-trimexazole dapat mengganggu

e.

sekresi kreatinin sehingga meninggikan kadar kreatinin darah.


Kenaikan sekresi tubulus dan destruksi kreatinin internal.

f.

Usia dan jenis kelamin pada orang tua kadar kreatinin lebih tinggi daripada orang muda, serta
pada laki-laki kadar kreatinin lebih tinggi daripada wanita.( Sukandar E, 1997 ).
2.1.3

Fisiologi Kreatinin Cara Deproteinasi

Cara ini adalah dengan penambahan TCA 1,2 N pada serum sebelum dilakukan
pengukuran, setelah diputar dengan kecepatan tinggi antara 5-10 menit maka protein dan
senyawa-senyawa lain akan mengendap dan filtratnya digunakan untuk pemeriksaan. Tes
linier sampai dengan konsentrasinya 10 mg /dl serum dan 300 mg / dl urin. Cara deproteinasi
ini banyak memerlukan sampel dan waktu yang di perlukan lama sekitar 30 menit.
( Underwood, 1997)
2.1.4

Faktor Kelemahan Kreatinin Cara Deproteinasi


Ada beberapa faktor kelemahan kreatinin cara deproteinasi :

a.
b.
c.
d.

Trichlor acetic acid ( TCA ) terlalu pekat.


Konsentrasi TCA salah ( apabila menggunakan TCA 3 N, tidak terdapat perubahan warna ).
Waktu inkubasi tidak diperhatikan ( 20 menit ).
Kekeruhan dalam supernatan setelah deproteinasi ( waktu deproteinasi endapan diaduk

e.

beberapa kali / sebelum centrifuge didiamkan untuk beberapa menit ).


Sampel yang diperlukan telalu banyak dan waktu terlalu lama. TCA pada suhu kamar mudah
terurai maka penyimpanannya di almari es ( 2 - 8 C ). (Sylvia, 1994)
2.1.5

Faktor Keuntungan Kreatinin Cara Deproteinasi

Ada beberapa faktor keuntungan kreatinin cara deproteinasi : Kandungan nitrogen


dalam sampel seperti protein, ureum, dll sudah terikat dengan TCA sehingga supernatan
terbebas dari bahan-bahan nitogen. (Sylvia, 1994)
2.1.6

Fisiologi Kreatinin Cara Tanpa Deproteinasi

Cara ini adalah fixed time kinetik, yaitu pengukuran kreatinin dalam suasana alkalis dan
konsentrasi ditentukan dengan ketepatan waktu pembacaan. Tes linier sampai dengan
konsentrasi 13 mg / dl serum dan 500 mg per / dl urin. Cara tanpa deproteinasi ini hanya
memerlukan sedikit sampel dan waktu yang diperlukan cukup singkat sekitar 2 menit.
( Underwood, 1997)
Faktor Kelemahan Kreatinin Cara Tanpa Deproteinasi
Ada beberapa faktor kelemahan kreatinin cara tanpa deproteinasi :
a.

Pencampuran reagen kerja tidak dengan perbandingan 1 : 1 yang mengakibatkan hasil tinggi

b.

palsu.
Adanya gangguan terhadap bilirubin, ureum, protein yang mengakibatkan hasil tinggi palsu.
(Sylvia, 1994)

Faktor Keuntungan Kreatinin Cara Tanpa Deproteinasi


Ada beberapa faktor keuntungan kreatinin cara tanpa deproteinasi :
a.
b.

Waktu yang diperlukan cukup singkat ( 2 menit ).


Sampel yang diperlukan hanya sedikit ( 100 ul ). ( Underwood, 1997)
2.2

Fungsi Ginjal
Ginjal mempunyai berbagai fungsi antara lain :

a.

Pengeluaran zat sisa organik, seperti urea, asam urat, kreatinin dan produk penguraian

b.

hemoglobin dan hormon.


Pengaturan konsentrasi ion ion penting antara lain ion natrium, kalium, kalsium, magnesium,

c.
d.
e.
f.
g.

sulfat dan fosfat.


Pengaturan keseimbangan asam basa tubuh.
Pengaturan produksi sel darah merah dalam tubuh.
Pengaturan tekanan darah.
Pengendalian terbatas terhadap konsentrasi glukosa darah dan asam amino darah.
Pengeluaran zat beracun dari zat tambahan makanan, obat obatan atau zat kimia asing lain
dari tubuh. (Harper, 1997)
2.2.1

Mekanisme Filtrasi Ginjal

Glomerolus adalah bagian kecil dari ginjal yang melalui fungsi sebagai saringan yang
setiap menit kira-kira 1 liter darah yang mengandung 500 ml plasma, mengalir melalui semua
glomeruli dan sekitar 100 ml ( 10 % ) dan disaring keluar. Plasma yang berisi semua garam,
glukosa dan benda halus lainnya disaring dan tetap tinggal dalam aliran darah. ( Guyton CA,
1997)
Cairan yang disaring yaitu filtrasi glomerolus, kemudian mengalir melalui tubula
renalis dan sel-selnya menyerap semua bahan yang diperlukan tubuh dan meninggalkan yang
tidak diperlukan. Keadaan normal semua glukosa diabsorpsi kembali, kebanyakan produk
sisa buangan dikeluarkan melalui urine, diantaranya kreatinin dan ureum. Kreatinin sama
sekali tidak direabsorpsi di dalam tubulus, akan tetapi sejumlah kecil kreatinin benar-benar
disekresikan ke dalam tubulus oleh tubulus proksimalis sehingga jumlah total kreatinin
meningkat kira-kira 20 %. ( Guyton CA, 1997)
Jumlah filtrasi glomerolus yang dibentuk setiap menit pada orang normal rata-rata 125
ml per menit, tetapi dalam berbagai keadaan fungsional ginjal normal dapat berubah dari
beberapa mililiter sampai 200 ml per menit, jumlah total filtrat glomerolus yang terbentuk
setiap hari rata-rata sekitar 180 liter, atau lebih dari pada dua kali berat badan total, 90 persen
filtrat tersebut biasanya direabsorpsi di dalam tubulus, sisanya keluar sebagai urin. ( Evelyn
C, 1999).

2.3

Manfaat Pemeriksaan Kreatinin


Pemeriksaan kadar kreatinin dalam darah merupakan salah satu parameter yang

digunakan untuk menilai fungsi ginjal, karena konsentrasi dalam plasma dan ekskresinya di
urin dalam 24 jam relatif konstan. Kadar kreatinin darah yang lebih besar dari normal
mengisyaratkan adanya gangguan fungsi ginjal. Nilai kreatinin normal pada metode jaffe
reaction adalah laki-laki 0,8 sampai 1,2 mg / dl; wanita 0,6 sampai 1,1 mg / dl. ( Sodeman,
1995 )
Pemeriksaan kreatinin darah dengan kreatinin urin bisa digunakan untuk menilai
kemampuan laju filtrasi glomerolus, yaitu dengan melakukan tes kreatinin klirens. Selain itu
tinggi rendahnya kadar kreatinin darah juga memberi gambaran tentang berat ringannya
gangguan fungsi ginjal. Hemodialisis dilakukan pada gangguan fungsi ginjal yang berat yaitu
jika kadar kreatinin lebih dari 7 mg / dl serum. Namun dianjurkan bahwa sebaiknya
hemodialisis dilakukan sedini mungkin untuk memghambat progresifitas penyakit.
( Sodeman, 1995 )
2.4

Metode Pemeriksaan
Beberapa metode yang sering dipakai untuk pemeriksaan kreatinin darah adalah :

a.

Jaffe reaction
Dasar dari metode ini adalah kreatinin dalam suasana alkalis dengan asam pikrat membentuk

b.

senyawa kuning jingga. Menggunakan alat photometer.


Kinetik
Dasar metode ini relatif sama hanya dalam pengukuran dibutuhkan sekali pembacaan. Alat

c.

yang digunakan autoanalyzer.


Enzimatik Darah
Dasar metode ini adalah adanya substrat dalam sampel bereaksi dengan enzim membentuk
senyawa substrat menggunakan alat photometer.
Dari ketiga metode di atas, yang banyak dipakai adalah Jaffe Reaction , dimana metode ini
bisa menggunakan serum atau plasma yang telah dideproteinasi dan tanpa deproteinasi.
Kedua cara tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan, salah satunya adalah untuk
deproteinasi cukup banyak memakan waktu yaitu sekitar 30 menit, sedangkan tanpa
deproteinasi hanya memerlukan waktu yang relatif singkat yaitu antara 2-3 menit.
( Underwood, 1997)
2.5

Faktor Yang Mempengaruhi Pemeriksaan Kreatinin


Senyawa-senyawa yang dapat mengganggu pemeriksaan kadar kreatinin darah hingga

menyebabkan overestimasi nilai kreatinin sampai 20 persen adalah : Aseton, Asam askorbat,
Bilirubin, Asam urat, Asam aceto acetat, Piruvat, Barbiturat, sefalosporin, metildopa.
Senyawa-senyawa tersebut dapat member reaksi terhadap reagen kreatinin dengan

membentuk warna yang serupa kreatinin sehingga dapat menyebabkan kadar kreatinin tinggi
palsu. Akurasi atau tidaknya hasil pemeriksaan kadar kreatinin darah juga sangat tergantung
dari ketepatan perlakuan pada pengambilan sampel, ketepatan reagen, ketepatan waktu dan
suhu inkubasi, pencatatan hasil pemeriksaan dan pelaporan hasil. ( Sodeman, 1995 )
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Alat dan Bahan (sifat fisika dan kimia)
a.

Alat

Spektrofotometer
Kuvet
Pipet tetes
Gelas kimia
Gelas ukur
b. Bahan :
-

Urin
Sifat fisika
:
Berupa cairan
Berwarna bening/orange pucat tanpa endapan
Mempunyaibau yang menyengat
Sifat kimia
:
Bersifat asam pH rata-rata 6
Komposisi urine adalah 96% air, Natrium, PigmenEmpedu,, 1,5% garam, Kalium, Toksin,
2,5% urea, kalsium, Bikarbonat, Kreatinin N, Magnesium, Kreatini, Khlorida, Asamurat N,

Sulfatanorganik, Asamurat, Fosfatanorganik, Amino N, Sulfat, Amonia N danHormon


(Armstrong, 1998)
- Pikrat
- NaOH 10%
Sifat fisika
-

Penampilan zat padat putih


Rumus molekul NaOH
Massa molar 39,9971 g/mol
Densitas 2,1 g/cm, padat
Titik leleh 318 C (591 K)
Titik didih 1390 C (1663 K)
Kelarutan dalam air 111 g/100 ml (20 C)
Kebasaan (pKb) -2,43
Sifat kimia

NaOH sangat mudah menyerap gas CO2


Senyawa ini sangat mudah larut dalam air
Merupakan larutan basa kuat

Sangat korosif terhadap jaringan Organik


Tidak Berbau

(mulyono, 2008)
- Asam pikrat 1%
Sifat fisika
:
Berbentuk kristal
Warna kuning
Sifat kimia
:
Bersifat toksik/racun
Bersifat eksplosive
- Akuadest
Sifat fisika :
-

Berat molekul : 18.0153 gr/mol


Titik leleh : 00C
Titik didih : 1000C
Berat jenis : 0.998 gr/cm3
Berupa cairan yang tidak berwarna dan tidak berbau.
Memiliki gaya adhesi yang kuat.
Sifat kimia :

Memiliki keelektronegatifan yang lebih kuat daripada hidrogen.


Merupakan senyawa yang polar.
Memiliki ikatan van der waals dan ikatan hidrogen.
Dapat membentuk azeotrop dengan pelarut lainnya.
Dapat dipisahkan dengan elektrolisis menjadi oksigen dan hidrogen.
Dibentuk sebagai hasil samping dari pembakaran senyawa yang mengandung hidrogen.
(Mulyono,2009)

3.2 Prosedur Percobaan (Diagram Alir)


Kuvet

Ambil 8 kuvet, pada kuvet 1 berisi blanko kuvet 2 berisi WS 1 kuvet 3 berisi WS2 kuvet 4

berisi WS3 kuvet 5 berisi WS4 kuvet 6 berisi WS5 kuvet 7 berisi SP1 dan kuvet 8 berisi SP2.
Masukan setiap kuvet secara bergantian ke dalam spektrofotometer yang panjang

gelombangnya sudah diatur sepanjang 370 nM.


Catat absorbansi yang dihasilkan. Ulangi 3 kali untuk kuvet yang berisi sampel.

Absorbansi
keterangan
-

Blanko berisi 5 ml asam pikrat dan 10 ml akuadest

WS1 berisi 5 ml asam pikrat dan 9 ml akuadest

WS2 berisi 5 ml asam pikrat dan 8 ml akuadest

WS3 berisi 5 ml asam pikrat dan 7 ml akuadest

WS4 berisi 5 ml asam pikrat dan 6 ml akuadest

WS5 berisi 5 ml asam pikrat dan 5 ml akuadest

SP1 berisi 2 ml urine yang sudah diencerkan 5 ml asam pikrat dan 8 ml akuadest

SP2 berisi 2 ml urine yang sudah diencerkan 5 ml asam pikrat dan 8 ml akuadest

3.3 Fungsi Bahan


a.

Urin
Sampel yang diuji kadar kreatinin

b. Pikrat
Reagen dalam pengujian
c.

Akuadest
Pelarut

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Pengamatan
Sampel
WS
Asam pikrat
Aquades

Blanko

WS1

WS2

WS3

WS4

WS5

5
10

1
5
9

2
5
8

3
5
7

4
5
6

5
5
5

SP1
2

SP2
2

5
8

5
8

Absorbansi
0,095
0,140
0,129
0,141

0,103

0,100

0,102

0,110

0,110

0,140

0,129

4.3 Pembahasan
Pada praktikum kali ini kita melakukan uji terhadap kadar kreatinin urine. Kreatinin
adalah produk sampingan dari hasil pemecahan fosfokreatin (kreatin) di otot yang dibuang
melalui ginjal. Pada pria, normalnya 0,6 1,2 mg/dl. Di atas rentang itu salah satunya
mengindikasikan adanya gangguan fungsi ginjal. Batas normal ureum : 20 40 mg/dl dan
batas normal kreatinin : 0,5 1,5 mg/dl.
Pada saat praktik kita menggunakan bahan yaitu asam pikrat 1% + NaOH 10%,
akuadest, dan urine. Dengan menggunakan alat spektrophotometer dalam menentukan
panjang gelombang sampel, sehingga diperolehlah data yaitu blanko = 0,095nM; WS 1 =
0,103; WS2 = 0,100; WS3 = 0,102; WS4 = 0,110; WS5 = 0,110; SP1 = 0,140; 0,140; 0,141; SP2
= 0,130; 0,129, 0,129. Setelah mendapatkan data tersebut masukan data tersebut kedalam
kurva sehingga di dapat y = 0,027x + 0,084 dan R = 0,772. R 2 yang dapat dipakai minimal
adalah 0,9 1. Dan dari hasil perhitungan di dapatlah kadar kreatinin urinenya yaitu 1,87
mg/100 ml.

0,130

BAB V
KESIMPULAN
Dari hasil praktikum ini didapatlah kadar kreatinin urine yaitu sebesar 1,87 mg/100 ml.
DAFTAR PUSTAKA
Corwin, Elizabeth J. 2001. Buku Suku Patafisiologi (hands book of pathophysiologi)
Jakarta: EGC.
C. Pearce, Evelyn. 2002. Anatomi Fisiologi untuk Paramedis, Jakarta: Gramedia.
Guyton, Arthur C. & John E. Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 9,
Editor: Irawati Setiawan. Jakarta :EGC.
Harper, H. A., V. W. Rodwell, and P. A. Mayes. 1979. Biokimia (Review of
physiological

chemistry).

Alih

bahasa:

M.

Muliawan.

Lange

Medical

Publications. Los Altos, California.


Sodeman, W.A dan Sodeman T.M. (1995). Sodeman Patofisiologi. Edisi 7. Jilid II.
Penerjemah: Andry Hartono. Jakarta: Hipokrates.
Soeparman, dkk. 2001. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Sukandar E. 1997. Tinjauan Umum Nefropati Diabetik in Nefropati Klinik. Edisi ke-

2.

Bandung : Penerbit ITB.


Sylvia & Lorraine. 1994. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses Penyakit. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran, EGC.
Underwood. 1997. Patologi Umum & Sistematik. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.