Anda di halaman 1dari 6

BAB II

TINJAUAN TEORITIS
2.1 Pengertian Citra Tubuh
Citra tubuh adalah sikap individu terhadap tubuhnya, baik secara sadar
maupun tidak sadar, meliputi performance, potensi tubuh, fungsi tubuh serta
persepsi dan perasaan tentang ukuran tubuh dan bentuk tubuh (Sunaryo,
2004). Sejak lahir individu mengeksplorasikan bagian tubuhnya, menerima
reaksi tubuhnya dan menerima stimulus orang lain. Pandangan realistis
terhadap diri, menerima dan menyukai bagian tubuh akan memberi rasa
aman, terhindar dari rasa cemas dan menigkatkan harga diri.
Persepsi dan pengalaman individu terhadap tubuhnya dapat mengubah citra
tubuh secara dinamis. Persepsi orang lain dilingkungan pasien terhadap tubuh
pasien turut mempengaruhi penerimaan pasien pada dirinya (Keliat, 1998).
Citra tubuh adalah bagaimana cara individu mempersepsikan tubuhnya, baik
secara sadar maupun tidak sadar yang meliputi ukuran, fungsi, penampilan,
dan potensi tubuh berikut bagian - bagiannya. Dengan kata lain, citra tubuh
adalah kumpulan sikap individu, baik yang disadari ataupun tidak yang
ditujukan terhadap dirinya. Beberapa hal terkait citra tubuh antara lain:
a) Fokus individu terhadap bentuk fisiknya.
b) Cara individu memandang dirinya berdampak penting terhadap aspek
psikologis individu tersebut.
c) Citra tubuh seseorang sebagian dipengaruhi oleh sikap dan respon orang
lain terhadap dirinya, dan sebagian lagi oleh eksplorasi individu terhadap
dirinya.
d) Gambaran yang realistis tentang menerima dan menyukai bagian tubuh
akan memberi rasa aman serta mencegah kecemasan dan meningkatkan
harga diri.
e) Individu yang stabil, realistis dan konsisten terhadap citra tubuhnya dapat
mencapai kesuksesan dalam hidup (Mubarak, Wahit & Chayatin, 2008)
Citra tubuh membentuk persepsi seseorang tentang tubuh, baik secara internal
maupun eksternal. Persepsi ini mencakup perasaan dan sikap yang ditujukan
pada tubuh. Citra tubuh dipengaruhi oleh pandangan pribadi tentang
1

karakteristik dan kemampuan fisik dan oleh persepsi dari pandangan orang
lain (Potter & Perry, 2005)
2.2 Negatif Dan Positif Citra Tubuh
Citra tubuh yang negatif merupakan suatu persepsi yang salah mengenai
bentuk individu, perasan yang bertentangan dengan kondisi tubuh individu
sebenarnya. Individu merasa bahwa hanya orang lain yang menarik dan
bentuk tubuh dan ukuran tubuh individu adalah sebuah tanda kegagalan
pribadi. Individu merasakan malu, self-conscious, dan khawatir akan
badannya. Individu merasakan canggung dan gelisah terhadap badannya.
Sedangkan citra Tubuh yang positif merupakan suatu persepsi yang benar
tentang bentuk individu, individu melihat tubuhnya sesuai dengan kondisi
yang sebenarnya. Individu menghargai badan/tubuhnya yang alami dan
individu memahami bahwa penampilan fisik seseorang hanya berperan kecil
dalam menunjukkan karakter mereka dan nilai dari seseorang. Individu
merasakan bangga dan menerimanya bentuk badannya yang unik dan tidak
membuang waktu untuk mengkhawatirkan makanan, berat badan, dan kalori.
Individu merasakan yakin dan nyaman dengan kondisi badannya.
2.3 Gangguan Citra Tubuh
Gangguan citra tubuh biasanya melibatkan distorsi dan persepsi negatif tentang
penampilan fisik mereka. Perasaan malu yang kuat, kesadaran diri dan
ketidaknyamanan sosial sering menyertai penafsiran ini. Sejumlah perilaku
menghindar sering digunakan untuk menekan emosi dan pikiran negatif, seperti
visual menghindari kontak dengan sisa ekstremitas, mengabaikan kebutuhan
perawatan diri dari sisa ekstremitas dan menyembunyikan sisa ekstremitas lain.
Pada akhirnya reaksi negatif ini dapat mengganggu proses rehabilitasi dan
berkontribusi untuk meningkatkan isolasi sosial (Wald & Alvaro, 2004).
Suatu gangguan citra tubuh dapat diketahui perawat dengan mewawancarai dan
mengamati pasien secara berhati-hati untuk mengidentifikasi bentuk ancaman
dalam citra tubuhnya (fungsi signifikan bagian yang terlibat, pentingnya

penglihatan dan penampilan fisik bagian yang terlibat); arti kedekatan pasien
terhadap anggota keluarga dan anggota penting lainnya dapat membantu pasien
dan keluarganya (Kozier, 2004).
Respon pasien terhadap kelainan bentuk atau keterbatasan meliputi perubahan
dalam kebebasan. Pola ketergantungan dalam komunikasi dan sosialisasi. Respon
terhadap kelainan bentuk atau keterbatasan dapat berupa:

1. Respon penyesuaian: menunjukkan rasa sedih dan duka cita (rasa shock,
kesangsian, pengingkaran, kemarahan, rasa bersalah atau penerimaan)

2. Respon mal-adaptip: lanjutan terhadap penyangkalan yang berhubungan


dengan kelainan bentuk atau keterbatasan yang tejadi pada diri sendiri.
Perilaku yang bersifat merusak, berbicara tentang perasaan tidak
berharga atau perubahan kemampuan dalam menyesuaikan diri dengan
lingkungan.

2.4 Asuhan Keperawatan pada Gangguan Citra Tubuh


1. Pengkajian
Data objektif yang dapat diobservasi pada gangguan citra tubuh adalah
sebagai berikut :
a. Perubahan dan kehilangan anggota tubuh, baik struktur, bentuk,
maupun fungsi.
b. Pasien menyembunyikan atau memamerkan bagian tubuh yang
terganggu.
c. Pasien menolak melihat bagian tubuh.
d. Pasien menolak menyentuh bagian tubuh.
Data subjektif untuk gangguan citra tubuh adalah sebagai berikut :
a. Pasien mengungkapkan penolakan terhadap :
Perubahan anggota tubuh saat ini, misalnya tidak puas dengan hasil
operasi.
Anggota tubuh yang tidak berfungsi
Interaksi dengan orang lain
b. Pasien mengungkapkan perasaan tidak berdaya, tidak berharga, dan
keputusasaan.
c. Pasien mengungkapkan keinginan terlalu tinggi terhadap bagian tubuh
yang terganggu.
d. Pasien sering mengatakan merasa kehilangan.
e. Pasien merasa asing terhadap bagian tubuh yang hilang (Keliat, 2011).
2. Diagnosa Keperawatan
3

Selama pasien dirawat, perawat melakukan tindakan untuk diagnosa


potensial, dan akan dilanjutkan oleh perawat di Unit Rawat Jalan untuk
memonitor kemungkinan diagnosa aktual. Beberapa diagnosa gangguan
citra tubuh adalah potensial gangguan citra tubuh yang berhubungan
dengan efek pembedahan (Keliat, 2011).
3. Tindakan Keperawatan
1. Tindakan keperawatan untuk pasien dengan gangguan citra tubuh
bertujuan :
Pasien mampu mengidentifikasi citra tubuhnya.
Pasien mempu meningkatkan penerimaan terhadap citra tubuh.
Pasien mampu mengidentifkasi aspek positif diri.
Pasien mampu mengetahui cara untuk meningkatkan citra tubuh.
Pasien mampu melakukan cara untuk meningkatkan citra tubuh.
Pasien mampu berinteraksi dengan orang lain tanpa terganggu.
2. Tindakan keperawatan untuk pasien dengan gangguan citra tubuh
adalah sebagai berikut :
Diskusikan persepsi pasien tentang citra tubuhnya dahulu dan saat
ini, perasaaan, dan harapan terhadap citra tubuhnya saat ini.
Motivasi pasien untuk melihat bagian tubuh yang hilang secara
bertahap, bantu pasien menyentuh bagian tersebut.
Diskusiakan aspek positif diri.
Bantu pasien untuk meningkatkan fungsi bagian tubuh yang
terganggu.
Ajarkan pasien untuk meningkatkan citra tubuh dengan cara
sebagai berikut :
Gunakan prosthesis, kosmetik, atau alat lain sesegera
mungkin gunakan pasien yang baru. Motvasi pasien untuk
melakukan aktivitas yang mengarah pada pembentukan tubuh

yang ideal.
Lakukan interaksi secara bertahap dengan cara sebagai
berikut :
Susun jadwal kegiatan sehari-hari, Motivasi pasien untuk
melakukan aktivitas sehari-hari dan terlibat dalam aktivitas
social dan keluarga, Motivasi pasien untuk mengunjungi
teman atau orang lain yang berarti atau mempunyai peran
penting bagi dirinya, Beri pujian terhadap keberhasilan
pasien dalam melakukan interaksi (Keliat, 2011).
4

3. Tindakan keperawatan untuk keluarga bertujuan :


Keluarga mampu mengenal masalah gangguan citra tubuh
Keluarga mampu mengetahui cara mengatasi masalah
gangguan citra tubuh
Keluarga mampu merawat pasien dengan gangguan citra tubuh
Keluarga mampu menyusun rencana tindakan untuk pasien
dengan gangguan citra tubuh.
Tindakan keperawatan untuk keluarga adalah sebagai berikut :
Jelaskan kepada keluarga tentang gangguan citra tubuh yang
terjadi pada pasien.
Jelaskan kepada keluarga tentang cara mengatasi gangguan
citra tubuh.
Ajarkan kepada kelurga tentang cara merawat pasien :
Menyediakan fasilitas untuk memenuhi pasien dirumah,
Memfasilitasi interaksi dirumah, Melaksanakan kegiatan
dirumah dan kegiatan social, Memberikan pujian yang telah
dilakukan pasien.
Bersama keluarga susun tindakan yang akan dilakukan
keluaraga untuk gangguan citra tubuh.
Beri pujian yang realistis terhadap keberhasilan keluarga
( Keliat, 2011).
4. Evaluasi
Keberhasilan tindakan terhadap perubahan gambaran tubuh pasien dapat
diidentifikasi

melalui

perilaku

pasien

yaitu

memulai

kehidupan

sebelumnya, termasuk hubungan interpersonal dan sosial, pekerjaan dan


cara berpakaian, mengemukakan perhatiannya terhadap perubahan citra
tubuh, memperlihatkan kemampuan koping, kemampuan meraba, melihat,
memperlihatkan

bagian

tubuh

yang

berubah,

kemampuan

mengintegritasikan perubahan dalam kegiatan (pekerjaan, rekreasi dan


seksual), harapan yang disesuaikan dengan perubahan yang terjadi, mampu
mendiskusikan

rekonstruksi

Evaluasi

dapat

dilakukan

dengan

menggunakan pendekatan SOAP, sebagai pola pikir :


S = Respons subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah
dilaksanakan.

Misalnya : pasien mengatakan malu pada kakainya yang diamputasi


sehingga tidak dapat bekerja seperti dahulu dan pasien berharap dapat
melakukan aktvitas walaupun kakinya diamputasi.
O = Respons objektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah
dilaksanakan.
Misalnya : kaki pasen masih ditutup oleh sarung tetapi pasien mulai mau
melihat kakinya yang diamputasi. Ekspresi wajah murung, tetapi tampak
memperhatikan perawat saat perawat menjelaskan bahwa pasien masih
berguna.
A = Analisa ulang atas data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan
apakah masalah masih tetap atau

muncul masalah baru atau ada data

yang kontradiksi dengan masalah yang ada.


Misalnya : masalah belum teratasi.
P = Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respons
klien.
Misalnya : menganjurkan pasien untuk mengidentifikasi potensi fungsi
tubuh yang lain, menganjurkan pasien untuk meningkatakan citra tubuh,
motivasi pasien untuk menggunakan bagian tubuh yang masih berfungsi
(Videbeck, Shela. 2008).