Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

FIMOSIS
Sebagai tugas dalam mata kuliah Asuhan Kebidanan Neonatus, bayi dan balita

KES
EHA
TAN

NIK
ITEK
POL

PADANG

Oleh kelompok 11 :
Nurarifah Hakim
Riri Yulia Tasmen
II.B

PRODI D III KEBIDANAN PADANG


POLTEKKES DEPKES PADANG
2009

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang mana makalah yang berjudul
Fimosis ini dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini penulis banyak mendapat
bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, izinkan penulis mengucapkan terima kasih
kepada :
1. Dosen pembimbing pada mata kuliah Asuhan Kebidanan Neonatus, bayi dan balita
2. Orang tua dan saudara tersayang yang banyak membantu terselesaikannya makalah ini
3. Rekan-rekan dan pihak-pihak lain yang telah berpartisipasi dalam pembuatan makalah
ini.
Semoga segala bimbingan, bantuan, dan amal kebaikan yang diberikan kepada penulis mendapat
balasan dari Allah SWT. Amin.
Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari adanya kekurangan dalam makalah
ini. Maka penulis mengharapkan kritikan dan saran yang membangun untuk kesempurnaan
makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca
umumnya.

Padang, 26 November 2009

Penulis

i
2

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................................ i


Daftar isi .................................................................................................................. ii
Bab I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .. 1
1.2 Tujuan ... 1
1.3 Rumusan Masalah . 1
Bab II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian 3
2.2 Klasifikasi 3
2.3 Etiologi 4
2.4 Patofisiologi 4
2.5 Gambaran klinis .. 4
2.6 Diagnosa . 5
2.7 Komplikasi5
2.8 Penatalaksanaan .. 6
Bab III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .. 9
3.2 Saran . 10
Daftar Pustaka

ii
3

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada akhir tahun pertama kehidupan, retraksi kulit prepusium ke belakang sulkus
glandularis hanya dapat dilakukan pada sekitar 50% anak laki-laki; hal ini meningkat menjadi
89% pada saat usia tiga tahun. Insidens fimosis adalah sebesar 8% pada usia 6 sampai 7 tahun
dan 1% pada laki-laki usia 16 sampai 18 tahun.
Oleh karena itulah penulis menyusun makalah ini agar kita semua tahu tentang apa itu
fimosis, sebab-sebab, gejala, diagnosa dan penatalaksanaannya.

1.2 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah asuhan kebidanan neonatus, bayi dan balita.
2. untuk

mengetahui

tentang

pengertian,

penyebab,

patofisiologi,

penatalaksanaan dari fimosis.

1.3 Rumusan Masalah


Masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah mengenai :
a. Apakah yang dimaksud dengan fimosis ?
b. Apa saja klasifikasi dari fimosis ?
c. Apa saja yang dapat menyebabkan fimosis ?
d. Bagaimanakah patofisiologi dari fimosis ?
e. Bagaimanakah gambaran klinis dari fimosis ?

diagnosa

dan

f. Apa komplikasi yang dapat timbul akibat fimosis ?


g. Bagaimanakah diagnosa dari fimosis ?
h. Bagaimanakah cara penatalaksanaan dari fimosis ?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN
Fimosis atau dalam bahasa latin dikenal sebagai phimosis merupakan suatu keadaan
dimana kulit pada penis bagian depan (foreskin) tidak dapat diretraksi (ditarik) terhadap glans
penis. Lobang saluran kemih terkadang sulit sekali terlihat bahkan tampak menutup. Hal ini
dikarenakan kulit penis (prepusium) melekat pada bagian glans penis dan mengakibatkan
tersumbatnya lubang saluran air seni sehingga bayi kesulitan dan kesakitan saat berkemih.

Kulit preputium selalu melekat erat pada glans penis dan tidak dapat ditarik ke belakang
pada saat lahir, namun seiring bertambahnya usia serta diproduksinya hormon dan faktor
pertumbuhan, terjadi proses keratinisasi lapisan epitel dan deskuamasi antara glans penis dan
lapis bagian dalam preputium sehingga akhirnya kulit preputium terpisah dari glans penis.

2.2 KLASIFIKASI
Fimosis terdiri dari dua macam yaitu :
a. Fimosis yang sebenarnya adalah fimosis yan disebabkan oleh sempitnya muara di
ujung kulit kemaluan secara anatomis.

b. fimosis palsu adalah fimosis yang bukan disebabkan oleh kelainan anatomi melainkan
karena adanya faktor perlengketan antara kulit pada penis bagian depan dengan glans
penis sehingga muara pada ujung kulit kemaluan seakan-akan terlihat sempit.

2.3 ETIOLOGI
Fimosis dapat terjadi karena infeksi bakteri di daerah preputium.

2.4 PATOFISIOLOGI
Pada bayi, preputium normalnya melekat pada glans tapi sekresi materi subaseum kental
secara bertahap melonggarkannya. Menjelang umur 5 tahun, preputium dapat ditarik ke atas
glans penis tanpa kesulitan atau paksaan.
Tapi karena adanya komplikasi sirkumsisi, dimana terlalu banyak prepusium tertinggal, atau bisa
sekunder terhadap infeksi yng timbul di bawah prepusium yang berlebihan. Sehingga pada
akhirnya, prepusium menjadi melekat dan fibrotik kronis di bawah prepusium dan mencegah
retraksi.

2.5 GAMBARAN KLINIS


Tanda dan gejala fimosis
1. Penis membesar dan menggelembung akibat tumpukan urin
2. Kadang-kadang keluhan dapat berupa ujung kemaluan menggembung saat mulai miksi
yang kemudian menghilang setelah berkemih. Hal tersebut disebabkan oleh karena urin
yang keluar terlebih dahulu tertahan dalam ruangan yang dibatasi oleh kulit pada ujung
penis sebelum keluar melalui muaranya yang sempit.
3. Biasanya bayi menangis dan mengejan saat BAK karena timbul rasa sakit.
4. Kulit penis tak bias ditarik kea rah pangkal ketika akan dibersihkan

5.

Air seni keluar tidak lancar. Kadang-kadang menetes dan kadang-kadang memancar
dengan arah yang tidak dapat diduga

6. Bisa juga disertai dema


7.

Iritasi pada penis

2.6 DIAGNOSA
Jika prepusium tidak dapat atau hanya sebagian yang dapat diretraksi, atau menjadi cincin
konstriksi saat ditarik ke belakang melewati glans penis, harus diduga adanya disproporsi antara
lebar kulit prepusium dan diameter glans penis. Selain konstriksi kulit prepusium, mungkin juga
terdapat perlengketan antara permukaan dalam prepusium dengan epitel glandular dan atau
frenulum breve. Frenulum breve dapat menimbulkan deviasi glans ke ventral saat kulit
prepusium diretraksi.
Diagnosis parafimosis dibuat berdasarkan pemeriksaan fisik.

2.7

KOMPLIKASI

1. Ketidaknyamanan/nyeri saat berkemih


2.

Akumulasi sekret dan smegma di bawah prepusium yang kemudian terkena infeksi
sekunder dan akhirnya terbentuk jaringan parut.

3. Pada kasus yang berat dapat menimbulkan retensi urin.


4.

Penarikan prepusium secara paksadapat berakibat kontriksi dengan rasa nyeri dan
pembengkakan glans penis yang disebut parafimosis.

5. Pembengkakan/radang pada ujung kemaluan yang disebut balinitis.


6.

Timbul infeksi pada saluran air seni (ureter) kiri dan kanan, kemudian menimbulkan
kerusakan pada ginjal.

7. Fimosis

merupakan

salah

satu

faktor

resiko

terjadinya

kanker

penis.

2.8 PENATALAKSANAAN
1. Terapi
Terapi fimosis pada anak-anak tergantung pada pilihan orang tua dan dapat berupa
sirkumsisi plastik atau sirkumsisi radikal setelah usia dua tahun. Pada kasus dengan komplikasi,
seperti infeksi saluran kemih berulang atau balloting kulit prepusium saat miksi, sirkumsisi harus
segera dilakukan tanpa memperhitungkan usia pasien. Tujuan sirkumsisi plastik adalah untuk
memperluas lingkaran kulit prepusium saat retraksi komplit dengan mempertahankan kulit
prepusium secara kosmetik. Pada saat yang sama, periengketan dibebaskan dan dilakukan
frenulotomi dengan ligasi arteri frenular jika terdapat frenulum breve. Sirkumsisi neonatal rutin
untuk mencegah karsinoma penis tidak dianjurkan. Kontraindikasi operasi adalah infeksi tokal
akut dan anomali kongenital dari penis.
Sebagai pilihan terapi konservatif dapat diberikan salep kortikoid (0,05-0,1%) dua kali
sehari selama 20-30 hari Terapi ini tidak dianjurkan untuk bayi dan anak-anak yang masih
memakai popok, tetapi dapat dipertimbangkan untuk usia sekitar tiga tahun.
Terapi parafimosis terdiri dari kompresi manual jaringan yang edematous diikuti dengan
usaha untuk menarik kulit prepusium yang tegang melewati glans penis. Jika manuver ini gagal ,
periu dilakukan insist dorsal cincin konstriksi. Tergantung pada temuan klinis lokal, sirkumsisi
dapat segera dilakukan atau ditunda pada waktu yang lain.
2. Tidak menarik prepusium ke belakang secara paksa karena bisa menyebabkan infeksi.
3. Menjaga personal hygiene terutama penis dan tidak mencuci penis dengan banyak
sabun. Dengan cara :

BOKONG
Area ini mudah terkena masalah, karena sering berkontak dengan popok basah
dan terkena macam-macam iritasi dari bahan kimia serta mikroorganisme
penyebab infeksi air kemih/tinja, maupun gesekan dengan popok atau baju.

Biasanya

akan

timbul

gatal-gatal

dan

merah

di

sekitar

bokong.

Meski tak semua bayi mengalaminya, tapi pada beberapa bayi, gatal-gatal dan
merah di bokong cenderung berulang timbul. Tindak pencegahan yang penting
ialah mempertahankan area ini tetap kering dan bersih. Jika usaha pencegahan tak
berhasil, yang dapat Anda lakukan ialah:

Jangan gunakan diapers sepanjang hari. Cukup saat tidur malam atau bepergian.

Jangan ganti-ganti merek diapers. Gunakan hanya satu merek yang cocok untuk
bayi Anda.

Lebih baik gunakan popok kain. Jika terpaksa memakai diapers, kendurkan
bagian paha untuk ventilasi dan seringlah menggantinya (tiap kali ia habis buang
air kecil/besar).

Tak ada salahnya sesekali membiarkan bokongnya terbuka. Jika perlu, biarkan ia
tidur dengan bokong terbuka. Pastikan suhu ruangan cukup hangat sehingga ia tak
kedinginan.

Jika peradangan kulit karena popok pada bayi Anda tak membaik dalam 1-2 hari
atau bila timbul lecet atau bintil-bintil kecil, hubungi dokter anak Anda.

Penting pula diperhatikan faktor makanan. Para ibu yang menyusui bayinya
dengan ASI harus menghindari makanan yang mengandung lemak, asam dan
pedas karena dapat membuat bayi sering buang air besar sehingga pantatnya jadi
lecet.

Ini

harus

diobati

dengan

obat

dari

resep

dokter.

b. PENIS

Sebaiknya setelah BAK penis dibersihkan dengan air hangat, menggunakan kasa.
Membersihkannya sampai selangkang. Jangan digosok-gosok. Cukup diusap dari
atas ke bawah, dengan cara satu arah sehingga bisa bersih dan yang kotor bisa
hilang.

Setiap selesai BAK, popok selalu diganti agar kondisi penis tidak iritasi.
10

Setelah BAK penis jangan dibersihkan dengan sabun yang banyak karena bisa
menyebabkan iritasi.

4. Melakukan sirkumsisi (khitan), sebaiknya sirkumsisi dilakukan sebelum bayi


berumur 7 tahun.
5. Preputioplasty (memperlebar bukaan kulit preputium tanpa memotongnya).

11

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Fimosis atau dalam bahasa latin dikenal sebagai phimosis merupakan suatu
keadaan dimana kulit pada penis bagian depan (foreskin) tidak dapat diretraksi (ditarik)
terhadap glans penis. Lobang saluran kemih terkadang sulit sekali terlihat bahkan tampak
menutup. Hal ini dikarenakan kulit penis (prepusium) melekat pada bagianglans penis
dan mengakibatkan tersumbatnya lubang saluran ais seni sehingga bayi kesulitan dan
kesakitan saat berkemih.
Kulit preputium selalu melekat erat pada glans penis dan tidak dapat ditarik ke
belakang pada saat lahir, namun seiring bertambahnya usia serta diproduksinya hormon
dan faktor pertumbuhan, terjadi proses keratinisasi lapisan epitel dan deskuamasi antara
glans penis dan lapis bagian dalam preputium sehingga akhirnya kulit preputium terpisah
dari glans penis.
Tanda dan gejala fimosis
1. Penis membesar dan menggelembung
2. Biasanya bayi menangis dan mengejan saat BAK karena timbul rasa sakit.
3. Kulit penis tak bisa ditarik kearah pangkal ketika akan dibersihkan
4. Air seni keluar tidak lancar.
5. Bisa juga disertai demam
6. Iritasi pada penis
Salah satu penatalaksanaan fimosis yang efektif adalah dengan cara sirkumsisi.

12

3.2 Saran
Jika terdapat salah satu tanda dan gejala fimosis diatas, segera periksakan anak
anda ke pelayanan kesehatan terdekat.

13

DAFTAR PUSTAKA

Catzel, pincus dkk. 1990. Kapita Selekta Pediatri. Jakarta : EGC.


fimosis-dan-operasi-sirkumsisi-khitan.html 1.html
FIMOSIS Keluarga Sehat Keluarga Bahagia.htm
fimosis.html ancak.htm
Markum, A.H. 1997. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Rosenstein, Beryl J. 1997. Intisari Pediatri Panduan Praktis Pediatri Klinik Edisi II. Jakarta :
Hipokrates.
Sabiston. 1994. Buku Ajar Bedah Bagian 2. Jakarta : EGC.
Sjamsuhidarat, dkk. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.
Suriadi. 2001. suhan Keperawatan pada Anak. Jakarta : CV Sagung Seto.

14