Anda di halaman 1dari 6

PAPE R

Kegawatdaruratan III
Asidosis Metabolik Pada Diabetes Mellitus
Supriadi, S.Kp., MHS.

Oleh :
Annisa Khabba Latifa
NIM. SR112050529

KELAS 4A | S1 KEPERAWATAN

STIK MUHAMMADIYAH PONTIANAK


TAHUN AJARAN 2014 / 2015

ASIDOSIS METABOLIK
A. Pengertian
Asidosis metabolik merupakan suatu keadaan kehilangan basa atau terjadi penumpukan
asam. Keadaan ini ditandai dengan adanya penurunan pH kurang dari 7,35 dan HCO 3
kurang dari 22 mEq/L.
B. Klasifikasi
Asidosis metabolik dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama:
Asidosis metabolik dengan anion gap yang tinggi
Pada asidosis metabolik ini ditandai oleh penurunan kadar HCO3- plasma tetapi

tanpa perubahan yang signifikan pada kadar Cl- plasma.


Asidosis metabolik dengan anion gap yang normal (hiperkloremik).
Pada asidosis metabolik hiperkloremik ini terjadi penurunan kadar HCO 3- plasma
yang disertai dengan peningkatan kadar Cl- plasma yang signifikan sehingga
dinamakan hiperkloremik. Tipe asidosis metabolik ini secara khas terlihat pada pasien
yang menderita diare atau asidosis tubulus renal. Pada diare terjadi kehilangan HCO 3dari dalam usus karena dipertukarkan dengan Cl-. Pada asidosis tubulus renal,
kegagalan reabsorpsi HCO3- dalam tubulus renal mengakibatkan reabsorpsi Cl- yang
lebih besar. Pada kedua kasus tersebut terjadi kenaikan kadar Cl - plasma yang
signifikan.

C. Etiologi
1. Asidosis metabolik dengan anion gap yang tinggi
a. Laktasidosis
Syok sirkulasi
Hipoksia berat
Hipoglikemia akibat diabetes mellitus, alkohol, gagal hati
b. Ketoasidosis
Ketoasidosis diabetes
Ketoasidosis alkohol
Starvasi
c. Gagal ginjal
Akut atau kronis
d. Asam-asam eksogenus
Asam salisilat, metil alkohol
2. Asidosis metabolik dengan anion gap yang normal (Hiperkloremik)

Penyebab asidosis metabolik dengan celah anion normal terdiri dari penyakit ginjal
yang menimbulkan pembuangan bikarbonat (asidosis tubulus ginjal), obat-obatan
tertentu (asetazolamid), gelung ileum dengan stasis, diare, atau fistula pancreas.
D. Manifestasi Klinis
Pada asidosis ringan, gejala penyakit yang mendasari asidosis metabolik dapat
menyembunyikan bukti klinis yang langsung. Tanda dan gejala tersebut meliputi:
1. Sakit kepala dan letargi yang kemudian berlanjut menjadi keluhan mau pingsan,
depresi SSP, pernapasan kussmaul (ketika paru-paru mencoba melakukan kompensasi
dengan menhembus keluar CO2), hipotensi, stupor, dan (jika keadaannya sangat berat
serta tidak teratasi) koma dan kematian
2. Gangguan GI yang menyertai yang menimbulkan anoreksia, nausea, vomitus, diare
dan mungkin pula dehidrasi
3. Kulit yang hangat dan tampak kemerahan (flushing), yang disebabkan oleh penurunan
respons vaskuler terhadap stimuli saraf simpatik yang peka terhadap perubahan pH
4. Napas yang berbau manis (bau seperti aseton) akibat katabolisme lemak dan ekskresi
aseton yang menumpuk melalui paru-paru. Keadaan ini disebabkan oleh diabetes
mellitus yang mendasari terjadinya asidosis metabolik

ASIDOSIS METABOLIK PADA DIABETES MELLITUS


Pathway
Defisiensi insulin

Lipogenesis
Lipolisis

FFA (Free Fatty Acid) plasma

Ketogenesis

Memproduksi ion H+

pH dan HCO3-

Asidosis Metabolik

Patofisiologi
Defisiensi insulin akan menurunkan proses lipogenesis dan mempercepat proses
lipolisis. Sebagai akibatnya, kadar asam lemak bebas (FFA [Fatty Free Acid]) plasma menjadi
dua kali lipat. Dengan alasan yang tidak diketahui, pasien diabetes mengalami kenaikan kadar
glukagon plasma yang konstan kendati ketika terjadi hiperglikemia yang sangat berat.
Keadaan ini turut menimbulkan mobilisasi asam lemak bebas. Asam lemak bebas
memberikan energi pada jaringan yang sensitive-insulin dan kelaparan sel-glukosa seperti
otot skeletal.
Namun demikian, mobilisasi asam lemak bebas mengakibatkan pembentukan keton
bodies. Keton mengganggu keseimbangan asam basa tubuh dengan memproduksi ion
hidrogen sehingga pH menjadi turun, dan semakin banyak ion hidrogen diproduksi, kadar
bikarbonat (HCO3-) plasma semakin berkurang karena digunakan sebagai buffer dan asidosis
metabolik dapat terjadi. Asidosis mengakibatkan pernapasan yang cepat dan dalam (dispnea,
pernapasan kusmaull). Napas pasien akan berbau aseton. Urin menjadi sangat asam.
Pencegahan Primer, Sekunder dan Tersier
a. Pencegahan Primer

Tujuannya untuk mencegah terjadinya Diabetes Mellitus yang nantinya akan


menyebabkan Asidosis Metabolik. Berikut hal-hal yang harus dilakukan dalam
pencegahan primer:
1. Pola makan sehari-hari harus seimbang dan tidak berlebihan
2. Olahraga secara teratur dan tidak banyak berdiam diri
3. Usahakan berat badan dalam batas normal
4. Hindari obat-obatan yang dapat menimbulkan diabetes mellitus (diabetogenik)
b. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder tujuannya adalah mencegah agar penyakit diabetes mellitus yang
sudah timbul tidak menimbulkan komplikasi penyakit lain, menghilangkan gejala, dan
keluhan penyakit diabetes mellitus. Pencegahan sekunder meliputi deteksi dini penderita
diabetes mellitus, terutama bagi kelompok yang beresiko tinggi terkena diabetes mellitus.
Bagi yang dicurigai terkena diabetes mellitus, perlu diteliti lebih lanjut untuk memperkuat
dugaan adanya diabetes mellitus.
Berikut hal-hal yang harus dilakukan dalam pencegahan sekunder.
1. Diet sehari-hari harus seimbang dan sehat
2. Menjaga berat badan dalam batas normal
3. Usaha pengendalian gula darah agar tidak terjadi komplikasi diabetes mellitus
4. Olahraga teratur sesuai dengan kemampuan fisik dan umur
c. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier bertujuan untuk mencegah kecacatan lebih lanjut dari komplikasi
penyakit yang sudah terjadi. Berikut pencegahan yang dimaksud.
Mencegah terjadinya kebutaan jika menyerang pembuluh darah mata
Mencegah gagal ginjal kronik jika menyerang pembuluh darah ginjal
Mencegah stroke jika menyerang pembuluh darah otak
Mencegah terjadinya gangrene jika terjadi luka
Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan secara rutin dan berkala terhadap bagian organ
tubuh yang rentan terhadap komplikasi dan kecacatan.
Manajemen Kasus
Pengkajian
Pantau jalan nafas
Pemeriksaan keton darah
Pemeriksaan glukosa darah (setiap jam)
Pantau keseimbangan cairan
Penatalaksanaan
Terapi cairan
- Berikan cairan normal saline
- Apabila terjadi syok berikan bolus 20 cc/KgBB dengan cairan kristaloid atau
albumin pada jam-jam pertama
- Pantau kebutuhan cairan
Terapi insulin

Dosis insulin adalah 1 cc/KgBB/jam atau 0,5 UI/KgBB/jam


Bicarbonat
- Bila pH darah masih >7,0 tidak perlu koreksi bicarbonat, bicarbonat diperlukan
bila pH <7,0