Anda di halaman 1dari 9

BAB IV

SISTEM KALIBRASI

Setiap aktifitas kehidupan kita sehari-hari, tidak mungkin pernah terlepas dari
kegiatan ukur mengukur, baik untuk skala kecil ataupun besar. Hal ini karena dari
pengukuran

dapat

ditentukan

kuantitas

dan

kualitas

dari

sebuah

objek.

Hasil pengukuran yang baik dari suatu kuantitas objek, dapat ditentukan berdasarkan
tingkat presisi dan akurasi yang dihasilkan. Akurasi menunjukkan kedekatan nilai hasil
pengukuran dengan nilai sebenarnya. Untuk menentukan tingkat akurasi perlu diketahui
nilai sebenarnya dari besaran yang diukur dan kemudian dapat diketahui seberapa besar
tingkat akurasinya. Presisi menunjukkan tingkat keandalan dari data pengukuran yang
diperoleh. Hal ini dapat dilihat dari standar deviasi yang diperoleh dari pengukuran,
presisi yang baik akan memberikan standar deviasi yang kecil dan bias yang rendah. Jika
diinginkan hasil pengukuran yang valid, maka perlu dilakukan pengukuran berulang,
misalnya dalam penentuan nilai konsentrasi suatu zat dalam larutan dimana perlu
dilakukan pengukuran berulang sebanyak n kali. Dari data tersebut dapat diperoleh
pendekatan harga nilai terukur yaitu melalui perhitungan rata-rata dari hasil yang
diperoleh dan standar deviasi. Ilustrasi sederhana untuk menjelaskan perbedaan antara
presisi, akurasi dan bias dari suatu hasil pengukuran dapat dinyatakan sebagaimana
pada gambar 1.

Presisi & Akurat


(a)

Presisi & tdk


Akurat
(b)

tdk Presisi &


Akurat
(c)

tdk Presisi & tdk


Akurat
(d)

Gambar 4.1 profil pengukuran


Gambar 1 memberikan ilustrasi sederhana tentang target hasil dari olah raga menembak
atau memanah yang polanya dapat dianalogikan dengan pola hasil pengukuran analitik
yang ideal. Pada gambar 1 (a) distribusi data cukup baik dan mendekati data aslinya.
Hasil data dikatakan presisi dan akurat atau tidak menyimpang. Gambar 1 (b)
Modul Ajar Sistem Pengukuran dan Kalibrasi (Sistem Kalibrasi )

menunjukkan distribusi data yang presisi, tetapi menyimpang dari target yang sebenarnya
berarti data dikatakan tidak akurat. Gambar 1 (c) menggambarkan distribusi data yang
menyebar dan hal ini menunjukkan bahwa data yang diperoleh tidak presisi. Data 1 (c)
tersebut, relatif tidak menyimpang, jika dibandingkan dengan data 1 (d) yang sama-sama
tidak presisi.
Faktor-faktor presisi dan akurasi ini, sangat ditentukan oleh adanya faktor-faktor
kesalahan yang terjadi selama pengukuran. Menurut Miller & dkk (2001), jenis jenis
kesalahan dalam pengukuran dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu:
1. Kesalahan fatal (Gross error)
Jenis kesalahan ini sangat berbahaya, sehingga berakibat pada rusaknya hasil
pengukuran secara total, dengan demikian, pengukuran harus diulangi. Contoh dari
kesalahan ini adalah kontaminasi reagent yang digunakan, peralatan yang memang rusak
total, sampel yang terbuang, dan lain lain. Indikasi dari kesalahan ini cukup jelas dari
gambaran data yang sangat menyimpang, data tidak dapat memberikan pola hasil yang
jelas, tingkat reprodusibilitas yang sangat rendah dan lain lain.
2. Kesalahan acak (Random error)
Tipe kesalahan ini, merupakan bentuk kesalahan yang menyebabkan hasil dari
pengukuran berulang menjadi relatif berbeda satu sama lain, dimana hasil secara
individual berada di sekitar nilai rata-rata pengukuran. Kesalahan ini memberi dampak
pada tingkat akurasi dan kemampuan baca ulang (repeatability). Kesalahan ini bersifat
mutlah dan tidak dapat dihilangkan, hanya bisa direduksi dengan kehati-hatian dan
konsentrasi dalam bekerja.
3. Kesalahan sistematik (Systematic error)
Kesalahan sistematik merupakan jenis kesalahan yang menyebabkan semua hasil
pengukuran menjadi salah karena bersifat tetap, serta kontribusi kesalahan ini, nilainya
selalu sama disetiap pengukuran yang dilakukan. Hal ini dapat diatasi dengan:
a. Standarisasi prosedur
b. Standarisasi bahan
c. Kalibrasi instrumen

Modul Ajar Sistem Pengukuran dan Kalibrasi (Sistem Kalibrasi )

Secara umum, beberapa hal yang menjadi sumber kesalahan dalam pengukuran
sehingga menimbulkan perbedaan hasil, diantaranya adalah disebabkan oleh:
1. Perbedaan yang terdapat pada obyek yang diukur. Hal ini dapat direduksi dengan cara:
a. Obyek yang akan dianalisis diperlakukan sedemikian rupa sehingga diperoleh
ukuran kualitas yang homogen
b. Mengggunakan tekhnik sampling dengan baik dan benar
2. Perbedaan situasi pada saat pengukuran. Perbedaan ini dapat diselesaikan dengan cara
mengenali persamaan dan perbedaan suatu obyek yang terdapat pada situasi yang
sama. Dengan demikian sifat-sifat dari obyek dapat diprediksikan.
3. Perbedaan alat dan instrumentasi yang digunakan.
Cara yang digunakan untuk mengatasinya adalah dengan menggunakan alat pengatur
yang terkontrol dan telah terkalibrasi.
4. Perbedaan penyelenggaraan/administrasi.
Kendala ini diatasi dengan menyelesaikan permasalahannon-teknis dengan baik
sehingga keadaan peneliti selalu siap untuk sehingga melakukan kerja.
5. Perbedaan pembacaan hasil pengukuran
Kesalahan ini dapat diatasi dengan selalu berupaya untuk mengenali alat atau
instrumentasi yang akan digunakan terlebih dahulu.
Dari lima faktor penyebab kesalahan dalam bidang analitik maka peralatan dan
instrumentasi sangat berpengaruh. Peralatan pada dasarnya harus dikendalikan oleh
pemakainya. Untuk peralatan mekanis yang baru relatif semua sistem sudah berjalan
dengan optimal, sebaliknya untuk alat yang sudah berumur akan banyak menimbulkan
ketidakoptimuman karena komponen aus, korosi dan sebagainya. Demikian juga
peralatan elektrik, pencatatan harus selalu dikalibrasi dan dicek ulang akurasinya. Untuk
peralatan yang menggunakan sensor atau detektor maka perawatan dan kalibrasi
memegang peranan penting dalam menjamin keandalan dan kualitas dari suatu
instrumen.
4.1 Definisi Kalibrasi
Pengertian Kalibrasi ( Calibration ) menurut ISO/IEC Guide 17025:2005 dan
Vocabulary of International Metrology (VIM) adalah serangkaian kegiatan yang
membentuk hubungan antara nilai yang ditunjukkan oleh instrumen ukur atau sistem
pengukuran, atau nilai yang diwakili oleh bahan ukur, dengan nilai-nilai yang sudah
diketahui, yang berkaitan dari besaran yang diukur dalam kondisi tertentu. Dengan kata

Modul Ajar Sistem Pengukuran dan Kalibrasi (Sistem Kalibrasi )

lain, Kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional nilai


penunjukan alat ukur dengan cara membandingkan terhadap standar ukurnya (yang telah
diketahui nilainya) yang mampu tertelusur ( traceable ) ke Standar Nasional untuk
satuan ukuran dan atau internasional. Sedangkan, mamputertelusur ( traceable ) menurut
Dewan Standarisasi Nasional adalah kemampuan dari suatu hasil ukur secara individu
untuk dihubungkan ke Standar-standar Nasional / Internasional untuk satuan ukuran atau
sistem pengukuran yang disahkan secara Nasional maupun Internasional melalui suatu
mata rantai perbandingan yang tak terputus. Konsep ketertelusuran pengukuran
(traceability of measurement) dapat diartikan secara sederhana bahwa alat ukur yang
digunakan untuk melakukan suatu pengukuran harus terkalibrasi terhadap alat ukur lain
yang sejenis dan dapat berfungsi sebagai acuan. Alat acuan tersebut harus terkalibrasi
terhadap acuan yang lebih akurat, demikian seterusnya sehingga sampai pada acuan yang
paling akurat yang biasanya adalah Standar Nasional. Kalibrasi akan dikatakan tertelusur
bila setiap mata rantai pengukuran yang menuju kestandar nasional terdokumentasi serta
terdapat bukti mengenai siapa yang melakukan kalibrasi, alat ukur apa yang digunakan
dan bagaimana hasil kalibrasi ( koreksi dan ketidakpastian). Setiap pekerjaan kalibrasi
dalam rantai pengukuran tersebut harus dilakukan oleh organisasi yang terbukti memiliki
kompetensi teknis sebagaimana yang dipersyaratkan serta mempunyai perlengkapan
yang memadai dan menjalankan sistem mutu yang efektif.
4.2 Tujuan Kalibrasi
Adapun tujuan dari kegiatan kalibrasi secara garis besar adalah:
1. Mencapai ketertelusuran pengukuran. Hasil pengukuran dapat dikaitkan / ditelusur
sampai ke standar yang lebih tinggi /teliti (standar primer nasional dan internasional),
melalui rangkaian perbandingan yang tak terputus.
2. Menentukan deviasi kebenaran konvensional nilai penunjukan suatu instrument ukur
terhadap nilai nominalnya atau definisi dimensi nasional yang seharusnya untuk suatu
alat/bahan ukur
3. Menjamin hasil hasil pengukuran sesuai dengan standar nasionaldan internasional.
4. Menjamin dan meningkatkan nilai kepercayaan didalam proses pengukuran

Modul Ajar Sistem Pengukuran dan Kalibrasi (Sistem Kalibrasi )

4.3 Manfaat Kalibrasi


1. Untuk mendukung sistem mutu yang diterapkan di berbagai industri pada peralatan
laboratorium dan produksi yang dimiliki.
2. Dengan melakukan kalibrasi, bisa diketahui seberapa jauh perbedaan (penyimpangan)
antara harga benar dengan harga yang ditunjukkan oleh alat ukur.
3. Secara umum menjaga kondisi instrumenukur/bahan ukur agar tetap sesuai dengan
spesifikasinya.
4. Menjaga konsistensi mutu hasil produk yang dihasilkan.
5. Mengurangi kegagalan hasil produk.
6. Meningkatkan daya saing dalam pasar global

4.4. Prinsip Dasar Kalibrasi


Beberapa hal yang harus disiapkan sebelum kegiatan kalibrasi dilakukan adalah:
a. Obyek Ukur ( Unit Under Test )
b. Standar Ukur (Alat standar kalibrasi, Prosedur / Metode standar yang mengacu ke
standar kalibrasi internasional atau prosedur yang dikembangkan sendiri oleh
laboratorium yang sudah teruji / diverifikasi)
c. Operator/Teknisi ( Dipersyaratkan operator / teknisi yang mempunyai kemampuan
teknis kalibrasi / bersertifikat)
d. Lingkungan yang dikondisikan ( Suhu dan kelembaban selalu dikontrol, Gangguan
faktor lingkungan luar selalu diminimalkan sebagai sumber ketidakpastian
pengukuran).
Hasil kalibrasi dikatakan memenuhi standar apabila berisi informasi sebagai
berikut:
a. Nilai Obyek Ukur
b. Nilai Koreksi/Penyimpangan.

Modul Ajar Sistem Pengukuran dan Kalibrasi (Sistem Kalibrasi )

c. Nilai Ketidakpastian Pengukuran


d. Sifat metrologi lain,faktor kalibrasi, kurva kalibrasi.
TUR ( Test Uncertainty Ratio ) adalah perbandingan antara ketidakpastian karakteristik
( specified) dari instrumen yang dikalibrasi terhadap ketidakpastian instrumen
kalibratornya. Spesifikasi alat bisa dianggap sebagai ketidakpastian terbesar.

4.5 Interval / Periode Kalibrasi


Jangka waktu atau selang waktu kalibrasi harus ditetapkan pada suatu instrumen ukur.
Secara umum selang / interval kalibrasi dapat ditentukan berdasarkan :
1. Jenis alat ukur
2. Frekuensi pemakaian
3. Stabilitas
4. Kondisi pemakaiaan
5. Batas kesalahan yang ada hubungannya dengan akurasi alat.
Selang kalibrasi biasanya dinyatakan dalam beberapa cara yaitu :
1. Dinyatakan dalam waktu kalender, misalnya 6 (enam) bulan sekali, 1(satu) tahun
sekali, dst.
2. Dinyatakan dalam waktu pemakaian, misalnya 1000 jam pakai, 5000 jam pakai, dst.
3. Kombinasi carapertama dan kedua, misalnya 6 bulan atau 1000 jam pakai,tergantung
mana yang lebih dulu tercapai.

4.6 Instrumen Ukur Yang Perlu Dikalibrasi


Instrumen ukur besaran dasar yang perlu dikalibrasi dapat dikelompokkan sebagai
berikut:
a. Panjang: Micrometer, Jangka sorong,Mistar, dll.

Modul Ajar Sistem Pengukuran dan Kalibrasi (Sistem Kalibrasi )

b. Massa:Neraca Teknis, Timbangan


c. Waktu: Stopwacth, Timer , frequency counter
d. Arus listrik:Ampere meter, multimeter
e. Suhu: Thermometer, Thermocouple, Furnance, thermistor
f. Jumlah Zat: Mole
g. Intensitas Cahaya: Luxmeter, intensity meter
Sedangkan instrumen ukur besaran turunan yang harus dikalibrasi diantaranya adalah:
a. Tekanan : Pressure gauge ( manometer ),Hidrolic
b. Isi : Gelas volumetric (buret, pipet, dll.)
c. Kecepatan : Tachomete
d. Aliran ( Flowrate ): Flowmeter , Anemometer ( velocity )
e. Gaya : Mesin uji tarik/tekan, Mesin uji kekerasan
f. Frekuensi : Frekuensi meter
g. Luas : Planimetri
h. Energi : Watt meter

4.7 Kemampuan Baca Ulang ( Repeatability )


Mampu Baca Ulang ( Repeatability ) adalah kemampuan untuk menghasilkan nilai yang
sama dari hasil pengukuran yang dilakukan berulang dan identik (titik ukur dan waktu
yang relatif sama). Semakin kecil perbedaan hasil pengukuran berulangnya semakin baik
unjuk kerja dari instrumen ukur tersebut. Adapun dalam melakukan pengukuran berulang
harus memenuhi persyaratan:
1. Menggunakan metode atau prosedur yang sama
2. Instrumenukur yang digunakan sama
3. Ruang dan lokasi pengukuran sama
Modul Ajar Sistem Pengukuran dan Kalibrasi (Sistem Kalibrasi )

4. Dilakukan oleh observer atau personel yang sama


5. Pengulangan dilakukan dengan periode waktu yang pendek dan konsisten.
4.8. Istilah istilah Dalam Pengukuran dan Kalibrasi
1. Kecermatan ( Accuracy ) Kemampuan dari instrumenukur untuk memberikan
indikasi pendekatan terhadap harga sebenarnya dari obyek yang diukur
2.

Ketepatan

( Precision)

Kedekatan

nilai-nilai

pengukuran

individual

yang

didistribusikansekitar nilai rata ratanya atau penyebaran nilai pengukuranindividual


dari nilai rata ratanya.
3. Koreksi ( Corection )Suatu harga yang ditambahkan secara aljabar pada hasil dari alat
ukur untuk mengkompensasi / mengimbangi penambahan kesalahan sistematik.
4. Kepekaan ( Sensitivity ) Perubahan pada reaksi alat ukur yang dibagi oleh
hubungan perubahan aksinya.
5. Daya baca ( Resolution) Besar pernyataan dari kemampuan peralatan untuk
membedakan artidari dua tanda harga/skala yang paling berdekatan dari besaran
yangditunjukkan.
6. Rentang ukur ( Range ) Besar daerah ukur antara batas ukur bawah dan batas ukur
atas.
4.9 Standar Satuan Ukur
Standar satuan ukur merupakan rujukan atau acuan yang digunakan untuk
mengkalibrasi standar untuk satuan ukuran lain yang tingkat akurasinya lebih rendah atau
alat ukur yang digunakan untuk mengukur /memeriksa karakteristik produk atau proses.

Standar
Internasional

Standar Nasional
Standar Acuan
Standar Kerja
Gambar 4.2 rantai standar kalibrasi

Modul Ajar Sistem Pengukuran dan Kalibrasi (Sistem Kalibrasi )

Modul Ajar Sistem Pengukuran dan Kalibrasi (Sistem Kalibrasi )