Anda di halaman 1dari 5

1.

Bakso
Bakso atau baso adalah

jenis bola

daging yang

paling

lazim

dalam masakan

Indonesia. Bakso umumnya dibuat dari campuran daging sapi giling dan tepung tapioka, akan
tetapi ada juga bakso yang terbuat dari daging ayam, ikan, atau udang. Dalam penyajiannya,
bakso umumnya disajikan panas-panas dengan kuah kaldu sapi bening, dicampur mi, bihun,
taoge, tahu, terkadang telur, ditaburi bawang goreng dan seledri. Bakso sangat populer dan
dapat ditemukan di seluruh Indonesia; dari gerobak pedagang kaki lima hingga restoran
besar. Berbagai jenis bakso sekarang banyak ditawarkan dalam bentuk makanan beku yang
dijual di pasar swalayan dan mal-mal. Irisan bakso dapat juga dijadikan pelengkap jenis
makanan lain seperti mi goreng, nasi goreng, atau cap cai (Suharmita. 2014).
Bakso adalah makanan yang terbuat dari daging giling yang dicampur dengan tepung
tapioka yang sudah dibulatkan berbentuk bola kecil yang dalam penyajiannya biasanya
dilengkapi dengan kuah kaldu berwarna bening, serta dicampur dengan mi bihun, taoge, tahu,
dan terkadang dengan telur, serta ditaburi dengan bumbu bawang goreng dan seledri. Bakso
yang secara umum dapat ditemukan diseluruh wilayah Indonesia biasanya terbuat dari daging
sapi, tetapi tidak tertutup kemungkinan juga bila kadang-kadang bakso terbuat dari daging
ayam, ikan, atau udang (Suharmita. 2014).
Bakso adalah jenis makanan yang sangat populer, ditemui mulai dari restoran hingga
pedagang keliling. Pernah popularitas bakso merosot lantaran isu penggunaan boraks dan
formalin untuk mengawetkan bakso. Bakso dapat dibuat dari berbagai jenis daging, seperti
daging sapi, kerbau atau kelinci. Yang penting tahu rahasia formulasinya agar bakso enak,
kenyal, empuk, bergizi, dan aman dikonsumsi (Pipit. 2005).
2.

Boraks
2.1 Pengertian Boraks
Boraks merupakan garam natrium Na2B4O7.10H2O serta asam borat yang tidak
merupakan kategori bahan tambahan pangan food grade, biasanya digunakan dalam industri
nonpangan seperti industri kertas, gelas, keramik, kayu, dan produk antiseptik toilet (Khamid,
2006).
Boraks merupakan racun bagi semua sel. Pengaruh terhadap organ tubuh tergantung
konsentrasi yang dicapai dalam organ tubuh. Karena kadar tertinggi tercapai pada waktu
diekskresi maka ginjal merupakan organ yang paling terpengaruh dibandingkan dengan organ
lainnya. Dosis fatal boraks antara 0,1 0,5 g/kg berat badan (Sitti, 2013).
Boraks ditambahkan ke dalam makanan untuk memperbaiki tekstur makanan
sehingga menghasilkan rupa yang bagus. Bakso mengandung boraks memiliki kekenyalan

khas yang berbeda dari kekenyalan bakso yang menggunakan banyak daging. Bakso yang
mengandung boraks sangat renyah dan disukai dan tahan lama (Anonim, 2013).
Boraks termasuk kelompok mineral borat yang merupakan senyawa kimia alami yang
tersusun dari atom boron (B) yang merupakan logam berat dan oksigen (O). Boraks sudah
lama digunakan oleh masyarakat dan industri kecil dari pangan seperti gendar, kerupuk, mie
dan bakso. Boraks secara lokal dikenal sebagai air bleng, atau cetitet, garam bleng atau pijer.
Boraks sebetulnya sudah dilarang penggunaannya oleh pemerintah sejak juli 1978 dan
diperkuat lagi dengan SK Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/Per/Per/IX/1988 (Winarno,
1994).
2.2Karakteristik Boraks
Boraks atau Natrium tetraborat memiliki berat molekul 381,37. Rumus molekul
Na2B4O7.10H2O. Pemeriannya berupa hablur transparan tidak berwarna atau serbuk hablur
putih; tidak berbau. Larutan bersifat basa terhadap fenolftalein. Pada waktu mekar di udara
kering dan hangat, hablur sering dilapisi serbuk warna putih. Kelarutan boraks yaitu larut
dalam air; mudah larut dalam air mendidih dan dalam gliserin; tidak larut dalam etanol (Balai
Besar POM, 2007).
Natrium tetraborat mengandung sejumlah Na2B4O7 yang setara dengan tidak kurang
dari 99,0 % dan tidak lebih dari 105,0 % Na2B4O7.10H2O. Larutan boraks bersifat basa
terhadap fenolftalein, mudah larut dalan air mendidih dan dalam gliserin; tidak larut dalam
etanol (Balai Besar POM, 2007).
2.3Fungsi Boraks
Baik boraks ataupun asam borat memiliki khasiat antiseptika (zat yang menghambat
pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme). Pemakaiannya dalam obat biasanya
dalam salep, bedak, larutan kompres, obat oles mulut, bahkan juga untuk pencuci mata.
Boraks juga digunakan sebagai bahan solder, bahan pembersih, pengawet kayu dan antiseptik
kayu (Khamid, 2006).
Asam borat dapat dibuat dengan menambahkan asam sulfat atau klorida pada boraks.
Larutannya dalam air (3%) digunakan sebagai obat cuci mata yang dikenal sebagai
boorwater. Asam borat juga digunakan sebagai obat kumur, semprot hidung dan salep luka
kecil. Tetapi bahan ini tidak boleh diminum atau digunakan pada bekas luka luas, karena
beracun bila terserap oleh tubuh (Winarno dan Rahayu, 1994).
Meskipun bukan pengawet makanan, boraks sering pula digunakan sebagai pengawet
makanan. Boraks sering disalahgunakan untuk mengawetkan berbagai makanan seperti
bakso, mie basah, pisang molen, siomay, lontong, ketupat dan pangsit. Selain bertujuan untuk

mengawetkan, boraks juga dapat membuat tekstur makanan menjadi lebih kenyal dan
memperbaiki penampilan makanan (Vepriati, 2007)
2.4 Macam-macam Metode Uji Boraks
2.4.1 Uji Kualitatif
Beberapa uji kualitatif untuk boraks, antara lain: reaksi dengan H 2SO4 dan metanol
pada abu sampel; reaksi kertas tumerik dan amonia dengan penambahan H2SO4 dan etanol;
dan reaksi H2SO4 pada larutan sampel. Reaksi dengan H 2SO4 (P) dan metanol pada sampel
yang telah diabukan dalam tanur akan menghasilkan nyala berwarna hijau jika dibakar; reaksi
dengan asam oksalat dan kurkumin 1% dalam metanol dengan penambahan amonia pada
larutan abu yang bersifat asam akan menghasilkan warna merah cemerlang yang berubah
menjadi hijau tua kehitaman (Balai Besar POM, 2007).
Pencelupan kertas tumerik ke dalam larutan sampel yang bersifat asam. Jika terdapat
Na2B4O7 atau H3BO3, maka kertas berwarna merah akan berubah menjadi hijau biru terang
(Cahyadi, 2006). Pencelupan kertas tumerik ke dalam larutan asam dari sampel menghasilkan
coklat merah intensif ketika kertas mengering, yang berubah menjadi hijau kehitaman jika
diberi larutan amonia; reaksi dengan penambahan H 2SO4 dan etanol pada sampel, akan
menghasilkan nyala hijau jika dibakar (Clarke, 2004).
Reaksi dengan H2SO4 dan metanol pada larutan sampel dalam akuades bebas CO2
akan menghasilkan nyala hijau jika dibakar; dan penambahan phenolftalein ke dalam larutan
sampel dalam akuades bebas CO2 menghasilkan warna merah yang hilang dengan
penambahan 5ml gliserol (British Pharmacopoeia, 1988).
Reaksi dengan H2SO4 (P) dan metanol pada sampel yang telah disentrifugasi akan
menghasilkan nyala berwarna hijau jika dibakar; reaksi dengan asam oksalat dan kurkumin
1% dalam metanol dengan penambahan amonia pada larutan abu yang bersifat asam akan
menghasilkan warna merah cemerlang yang berubah menjadi hijau tua kehitaman
( Modifikasi Balai Besar POM, 2007).
2.4.2 Uji Kuantitatif
Beberapa uji kuantitatif untuk boraks, yaitu: metode titrimetri; titrasi asam basa; titrasi
dengan penambahan manitol; dan metode spektrofotometri. Penetapan kadar asam borat
dalam pangan dengan metode titrimetri, yaitu dengan titrasi menggunakan larutan standar
NaOH dengan penambahan gliserol akan menghasilkan warna merah muda yang mantap
pada titik akhir titrasi (Helrich, 1990).

Penetapan kadar boraks dalam sampel berdasarkan titrasi asam basa dengan
menggunakan larutan standar HCl (USP, 1990). Penetapan Kadar boraks dalam sampel
dengan penambahan manitol dan indikator phenolftalein dititrasi menggunakan larutan
NaOH menghasilkan larutan merah muda pada titik akhir titrasi (British Pharmacopoeia,
1988). Penetapan kadar boraks dengan spektrofotometri, dengan mengukur serapan dari
destilasi larutan sampel yang diberi larutan kurkumin dan etanol menggunakan
spektrofotometer pada panjang gelombang maksimum 542 nm (Zulharmita, 1995).

Zulharmita A. 1995. Kandungan Boraks pada Makanan Jenis Mie yang Beredar di Kotamadya
Padang : Cermin Dunia Kedokteran. Padang Universitas Andalas.
British Pharmacopoeia. 1988. British Pharmacopoeia, Volume I & II. London: Medicines and
Healthcare Products Regulatory Agency (MHRA). Page 4788
United State Pharmacopeia. 1990. USP 29-NF 24. Rockville.
Helrich, K.C., (ed), 1990, Official Methods of Analysis Association of Official Analytical Chemist
(AOAC) 15th Ed., 780-781, Association of Official Analytical Chemicts Inc, USA.
Cahyadi, W. 2006. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Jakarta : Penerbit
Bumi Aksara.
Clarke, E. G. C., Moffat, A. C., Osselton, M. D., Widdop, B. 2004. Clarkes Analysis of Drugs and
Poisons. London : Pharmaceutical Press.
Balai Besar POM. 2007. Instruksi kerja : Identifikasi Boraks Dalam Makanan. Medan.
Vepriati,N. 2007. Surveilans Bahan Berbahaya pada Makanan di Kabupaten Kulon Progo. Kulon
Progo : Dinkes Kulon Progo.
Winarno F.G, Rahayu TS. 1994. Bahan Tambahan Untuk Makanan dan Kontaminan. Jakarta:
Pustaka Sinar.
Khamid, 1993. Bahaya Boraks Bagi Kesehatan. Jakarta : Penerbit Kompas
Khamid, I.R. 2006. Bahaya Boraks Bagi Kesehatan. Jakarta. Penerbit Kompas.
Anonim. 2013. Formalin dan Boraks. (http: //oliveoile. wordpress. com/2008/01/07/formalinboraks/). Diakses pada tanggal Diakses 28 Mei 2015
Sitti. 2013. Uji Kandungan Boraks dan Formalin. http:// sittiassambo. blogspot. com/2013/04/ujikandungan-boraks-dan-formalin-pada.html. Diakses 28 Mei 2015
Pipit. 2005. Makanan Yang Mengandung Formalin. (http://pipit. Wordpress .com/2005/12/30/ciriciri-makanan-yang-mengandung-formalin). Diakses 28 Mei 2015

Suharmita.

2014.

Laporan

Praktikum

Uji

Boraks

(http://suharmita-

darmin.blogspot.com/2014/09/laporan-praktikum-uji-boraks.html) Diakses 28 Mei 2015