Anda di halaman 1dari 57

MODUL

Bahan Ajar

PELATIHAN

ANALISIS RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN

BALAI PELATIHAN KESEHATAN CIKARANG


2012

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012

Kata Pengantar
Analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL) merupakan suatu pendekatan yang selain dapat
digunakan dalam pengkajian aspek kesehatan masyarakat dalam Amdal (Analisis mengenai Dampak
Lingkungan Hidup), juga dapat menjadi alat bantu dalam perumusan kebijakan kesehatan
lingkungan, khususnya untuk mengendalikan risiko kesehatan lingkungan. Kiprah ARKL pada
beberapa negara sudah menjadi nadi dalam proses pengambilan keputusan dan perumusan
kebijakan kesehatan dan lingkungan yang strategis, namun tidak demikian di Indonesia. ARKL masih
sekadar terdengar oleh segelintir praktisi kesehatan lingkungan dan belum dipahami oleh para
eksekutif (decision maker).
Dalam Keputusan Kepala Bapedal No. Kep-124/12/1997 tentang Panduan Kajian Aspek
Kesehatan Masyarakat Dalam Penyusunan AMDAL, analisis risiko kualitatif dan kuantitatif
disebutkan sebagai salah satu metoda yang dapat digunakan dalam kajian aspek kesehatan
masyarakat dalam penyusunan Andal. Selanjutnya Departemen Kesehatan pada tahun 2001
mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 876/Menkes/SK/VIII/2001 tentang Pedoman
Teknis Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL) yang dalam isinya menerangkan bahwa ARKL
merupakan bagian tidak terpisahkan dari ADKL. Meskipun Pedoman Teknis ADKL telah dikeluarkan
sejak 11 tahun yang lalu, ARKL belum juga populer dan belum banyak digunakan dalam penyusunan
Amdal ataupun terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan perumusan kebijakan kesehatan
lingkungan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, bekerjasama dengan Balai Besar Teknik Kesehatan
Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jakarta, Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang
menyelenggarakan pelatihan ARKL. Pelatihan ini diperuntukkan bagi sumber daya manusia
kesehatan yang bertugas di Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota, Politeknik Kesehatan, B/BTKLPP, unit
penelitian dan pengembangan, rumah sakit, dan balai pelatihan kesehatan. Buku ini merupakan
bahan ajar . modul yang akan menjadi pegangan peserta latih dalam pelaksanaan pelatihan, dengan
berorientasi pada kompetensi peserta latih untuk dapat mengimplementasikan ARKL di tempatnya
bertugas, serta dapat menjadi agen dalam menyebarluaskan hal-hal yang berkaitan dengan ARKL.
Penyusun dengan segala kerendahan hati mengucapkan apresiasi dan terima kasih kepada
pihak-pihak yang terlibat hingga selesainya bahan ajar ini. Disadari masih banyak kekurangan dalam
bahan ajar ini, oleh karenanya kami berkenan dan berterima kasih atas setiap kritik dan saran guna
penyempurnaan bahan ajar ini. Akhirul Kalam, dengan mengharap ridha Allah SWT. Semata,
penyusun berharap materi-materi dalam bahan ajr ini dapat menjadi ilmu yang bermanfaat.

Jakarta, 16 September 2012


Penyusun

Didi Purnama, SKM


Staf Bidang ADKL, BBTKLPP Jakarta

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012

MODUL I
PROSEDUR ARKL
Materi Sub Bahasan : Telaah Kritis Implementasi ADKL, ARKL dalam Amdal
Pembangunan yang berkembang dengan pesat di Indonesia bagaikan pedang bermata dua
bagi rakyat. Di satu sisi pembangunan identik dengan berkembang dan majunya tingkat ekonomi
rakyat, namun di sisi lain dapat menyebabkan kesengsaraan bagi masyarakat. Hadirnya
kesengsaraan tersebut merupakan buntut dari manajemen yang kurang baik terutama dalam hal
pengelolaan lingkungan. Pemerintah dalam hal ini, telah mengembangkan suatu metoda yang ilmiah
dan dapat diterima oleh semua pihak untuk mengantisipasi perubahan lingkungan yang berdampak
bagi kehidupan masyarakat. Itulah yang dikenal dewasa ini dengan Amdal.
Amdal dimaksudkan untuk memprakirakan segala kemungkinan perubahan yang terjadi
akibat dibangun atau dilaksanakan suatu kegiatan dan/atau usaha. Tentunya perubahan lingkungan
yang dicermati adalah secara komprehensif (holistik) yang tidak hanya meliputi komponen
lingkungan fisik, kimia, biologi, sosial, ekonomi, dan budaya (sosekbud), tetapi juga kesehatan
masyarakat. Namun prakteknya sungguh ironis, kesehatan masyarakat yang memang seringkali
merupakan dampak sekunder atau tersier dari suatu kegiatan dan/atau usaha, kerap diabaikan
bahkan tidak dianggap penting. Faktanya, pemrakarsa suatu kegiatan dan/atau usaha beserta
konsultan yang digunakan jasanya, sering asal-asalan dalam memprakirakan dampak kesehatan
masyarakat. Kalaupun aspek kesehatan masyarakat dicermati dalam rangkaian penyusunan Amdal,
kajiannya umumnya dangkal dan hanya bersifat subyektif. Sebagai contoh, dalam dokumen KA
Andal, Andal, dan RKL-RPL suatu kegiatan dan/atau usaha pengkajian terhadap dampak kesmas
hanya tersaji dalam bentuk deskripsi sarana / fasilitas layanan kesehatan, hasil observasi sanitasi
yang masih bersifat subyektif, data kualitas kesehatan lingkungan (laboratorium) dengan metode
yang digunakan kurang greget ataupun teknik pengambilan dan pemeriksaan sampel (kesehatan
lingkungan) nya yang kurang sesuai, serta jumlah sampel yang tidak representatif, sangat jarang dan
hampir tidak pernah pengkajian aspek kesehatan masyarakat dilakukan hingga dapat
memperkirakan gangguan kesehatan yang akan timbul, populasi / sub populasi yang rentan,
prakiraan kapan dampak akan terjadi yang disertai dengan analisis secara kuantitatif. Hal tersebut
jika dicermati lebih lanjut disebabkan karena kurang populernya ARKL sebagai suatu tools yang
dapat digunakan untuk mengkuantifikasi risiko kesehatan masyarakat serta kompetensi penyusun
maupun penilai Amdal yang belum benar-benar sesuai yang diharapkan.
Materi Sub Bahasan : Paradigma kesehatan Lingkungan dan Sejarah ARKL
Menurut WHO kesehatan lingkungan merujuk pada semua faktor fisik, kimia, dan biologi di
luar manusia, beserta seluruh faktor yang saling terkait yang merubah perilaku. Kesehatan
lingkungan mencakup upaya penilaian dan pengendalian faktor-faktor lingkungan yang berpotensi
dapat mempengaruhi kesehatan. Sasarannya adalah mencegah penyakit dan menciptakan
lingkungan yang sehat dan kondusif. Oleh karenanya, seorang praktisi kesehatan masyarakat harus
mampu melakukan penilaian (assessment) dan pengendalian faktor risiko kesehatan lingkungan.
Dalam melakukan penilaian terhadap kondisi kesehatan lingkungan, dikemabngkan beberapa
metode termasuk analisis risiko kesehatan lingkungan yang diadaptasi dari berbagai negara lain yang
telah menjadikannya sebagai tools dalam perumusan kebijakan kesehatan lingkungan.
Analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL) sebenarnya dipergunakan pertama kali justru
dalam bidang nuklir, bukannya di bidang kimia seperti yang sering digunakan sekarang. Diawali
dengan ditemukannya kematian yang disebabkan oleh kanker dengan radiasi nuklir yang diduga
sebagai penyebabnya, pada tahun 1975 dilakukan analisis risiko secara mendalam untuk
I-1

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
menginvestigasinya. Teknik-teknik analisisnya kemudian diadopsi oleh Food and Drug Administration
Amerika Serikat. USEPA selanjutnya menerbitkan pedoman tentang analisis risiko karsinogen tahun
1986. Kini analisis risiko digunakan untuk berbagai bahaya lingkungan, termasuk bahaya fisik dan
biologis. Bahaya-bahaya fisik, kimiawi dan biologis lingkungan bisa menimbulkan efek yang
merugikan kesehatan manusia dan kerusakan lingkungan. Kajian efek kesehatan dikenal dengan
health risk assessment (HRA, analisis risiko kesehatan), sedangkan kajian efek lingkungan disebut
ecological risk assessment (ERA).
HRA dibedakan dengan health impact assessment (HIA, analisis dampak kesehatan).
Sebagaimana akan dijelaskan kemudian, dampak lebih bersifat umum yang berarti bisa positif atau
negatif, sedangkan risiko adalah dampak yang negatif. HRA biasanya digunakan untuk menilai atau
menaksir risiko yang disebabkan oleh bahaya-bahaya lingkungan dulu, kini dan akan datang,
sedangkan HIA umumnya merupakan bagian perencanaan suatu kegiatan atau pembangunan baru.
Meskipun penggunaannya berbeda, prosedur HRA dan HIA pada prinsipnya adalah sama. Perbedaan
utama HRA dengan HIA terletak pada pemajanannya. Dalam HIA pemajanan yang sesungguhnya
belum ada (belum bisa diukur karena kegiatannya belum ada), sedangkan dalam HRA pemajanan
sudah ada (telah dan sedang berlangsung).
Selanjutnya HIA tumbuh dan berkembang secara lebih spesifik menjadi environmental
health risk assessment (EHRA) yang dialihbahasakan menjadi analisis risiko kesehatan lingkungan
(ARKL). Di Indonesia, dalam peraturan perundang-undangan, ARKL menjadi bagian analisis dampak
kesehatan lingkungan (ADKL). ADKL sendiri dibedakan menjadi ADKL bagian Amdal dan ADKL untuk
pencemaran pada umumnya (bukan bagian dari studi Amdal). Untuk ADKL dalam Amdal, yang
dimaksudkan sebagai kajian aspek kesehatan masyarakat dalam konteks rencana usaha atau
kegiatan baru, telah terbit Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 876/ Menkes/SK/VIII/2001 tentang
Pedoman Teknis Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan.
Namun, pedoman teknis ini belum memberikan pedoman yang semestinya sebagai
prosedur formal analisis risiko kesehatan lingkungan. Pedoman ini tidak menjelaskan karakterisasi
risiko karsinogenik dan non karsinogenik, padahal prosedur untuk menetapkan tingkat risiko kedua
efek itu berbeda. Pedoman ini juga tidak memberi ruang untuk memerankan ADKL sebagai bagian
dari proses legislasi dan regulasi untuk menetapkan standar kualitas kesehatan lingkungan seperti
baku mutu atau nilai ambang batas.
Di tingkat internasional, saat ini ada beberapa model analisis risiko yang dikembangkan oleh
Amerika Serikat, negara-negara Uni Eropa dan Australia. Meskipun secara mendasar proses-proses
analisis risiko adalah sama, beberapa istilah yang sedikit berbeda banyak digunakan untuk setiap
langkah atau proses. International Life Science Institute mencatat ada 6 model analisis risiko yang
masing-masing menggunakan terminologi agak berbeda, yaitu enHealth EHRA (Australia),
International Life Science Institute-Risk Science Institute, US EPA Ecological Risk Assessment, NASNRC Risk Assessment (AS), Codex Risk Assessment (WTO) dan OIE Import Risk Assessment (enHealth
2002). Namun, model-model itu masih tetap sesuai dengan paradigma risk analysis yang
dikembangkan oleh National Academic of Science Amerika Serikat (NRC 1983).
Menyikapi nuansa peristilahan analisis risiko tersebut, International Programme on Chemical
Safety (IPCS) dan WHO membentuk Harmonization of Approaches to the Assessment of Risk from
Exposure to Chemicals yang lebih dikenal sebagai IPCS Harmonization Project. Proyek ini adalah
program untuk melaksanakan rekomendasi Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan
(United Nation Coference on Economic and Development, UNCED) tahun 1992 di Brazil untuk
menindaklanjuti 6 area program Chapter 19 Agenda 21. Harmonisasi bukanlah standarisasi
melainkan upaya konsistensi dan saling pengertian di antara berbagai pendekatan yang digunakan
untuk memahami risiko bahan kimia secara global.
Harmonisasi analisis risiko ini diharapkan dapat dicapai dengan menyiapkan kerangka untuk
membandingkan informasi mengenai analisis risiko, memahami pengertian dasar standar-standar
pemajanan bahan kimia tertentu di berbagai negara, menghemat biaya dan waktu dengan tukarmenukar informasi untuk menghindari duplikasi kerja, menumbuhkan dan mengembangkan ilmu
I-2

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
yang terpercaya melalui komunikasi lebih baik antar organisasi dan pakar-pakar peer review. Misi
proyek ini adalah memastikan agar analisis risiko bahan kimia dan pengelolaannya berjalan secara
lebih baik untuk meningkatkan perlindungan kesehatan manusia dan lingkungan di dalam kerangka
pembangunan berkelanjutan.
Dewasa ini dengan semakin banyaknya pembangunan, perubahan lingkungan yang terjadi
juga mempengaruhi aspek kesehatan masyarakat. Analisis risiko kesehatan lingkungan sesuai
dengan tantangan zaman, tidak hanya untuk penilaian saja tetapi juga harus dapat mengakomodir
manajemen risiko. Untuk itu, kapasitas sumber daya manusia khususnya di bidang kesehatan
lingkungan perlu dibekali pemahaman dan ketrampilan dalam melakukan analisis risiko kesehatan
lingkungan.
Mengacu pada Risk Assessment and Management Handbook tahun 1996, analisis risiko
mengenal dua istilah yaitu risk analysis dan risk assessment. Risk analysis meliputi 3 komponen yaitu
penelitian, asesmen risiko (risk assessment) atau ARKL dan manajemen risiko. Di dalam prosesnya,
analisis risiko dapat diilustrasikan sebagai berikut :
Penelitian dimaksudkan untuk membangun hipotesis, mengukur, mengamati dan merumuskan
efek dari suatu bahaya ataupun agen risiko di lingkungan terhadap tubuh manusia, baik yang
dilakukan secara laboratorium, maupun penelitian lapangan dengan maksud untuk mengetahui
efek, respon atau perubahan pada tubuh manusia terhadap dosis, dan nilai referensi yang aman
bagi tubuh dari agen risiko tersebut.
Asesmen risiko (risk assessment) atau ARKL dilakukan dengan maksud untuk mengidentifikasi
bahaya apa saja yang membahayakan, memahami hubungan antara dosis agen risiko dan
respon tubuh yang diketahui dari berbagai penelitian, mengukur seberapa besar pajanan agen
risiko tersebut, dan menetapkan tingkat risiko dan efeknya pada populasi.
Manajemen risiko dilakukan bilamana asesmen risiko menetapkan tingkat risiko suatu agen
risiko tidak aman atau tidak bisa diterima pada suatu populasi tertentu melalui langkah langkah pengembangan opsi regulasi, pemberian rekomendasi teknis serta sosial ekonomi
politis, dan melakukan tindak lanjut.
Ilustrasi dari paradigma dan proses analisis risiko dapat dilihat dari gambar 1 di bawah ini.

I-3

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Risk Assessment

Penelitian

Laboratorium
Lapangan
Klinik
Tempat kerja
Epidemiologi

Pengelolaan Risiko

Identifikasi Bahaya
Pengembangan opsi
regulasi

agen risiko (fisik, kimia,


biologi) apa saja yang
berbahaya??

Mekanisme
toksisitas
Pengembangan
metode dan
validasi
Dosis ekstrapolasi
dan spesies

Analisis
Dose-Response /
Karakterisasi Bahaya

Observasi dan
pengukuran
lapangan
Model riwayat dan
perjalanan (agen
risiko) di lingkungan

Analisis
Pajanan

bagaimana kejadian
tersebut dikaitkan
dengan efek kritis??

Siapa akan terpajan


oleh apa, kapan, dimana,
berapa lama, dan melalui
jalur pajanan yang
mana??

Karakterisasi Risiko
bagaimana efeknya
pada populasi??

Pertimbangan ekonomi,
sosial, politik dan
teknologi

Tujuan
Keputusan
dan
Aksi

Gambar 1 Paradigma atau proses risk analysis (National Risk Council, 1986)
Pada gambar 1 di atas diilustrasikan proses risk analysis secara utuh dimulai dari penelitian
terkait agen risiko, dosis serta respon/efeknya terhadap kesehatan manusia yang dilakukan oleh
peneliti. Sedangkan implementasi risk assessment atau ARKL dan manajemen risiko dilakukan oleh
praktisi kesehatan lingkungan.
Secara operasional, pelaksanaan ARKL diharapkan tidak hanya terbatas pada analisis atau
penilaian risiko suatu agen risiko atau parameter tertentu di lingkungan terhadap kesehatan
masyarakat, namun juga dapat menyusun skenario pengelolaannya. Bagan alir penerapan ARKL
sebagai bagian dari analisis risiko dapat dilihat pada gambar 2 dan 3.

I-4

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012

Gambar 2. Bagan Alir Penerapan ARKL


Pada gambar 2 di atas dijelaskan bahwa ARKL merupakan pendekatan yang digunakan untuk
melakukan penilaian risiko kesehatan di lingkungan dengan output adalah karakterisasi risiko
(dinyatakan sebagai tingkat risiko) yang menjelaskan apakah agen risiko/parameter lingkungan
berisiko terhadap kesehatan masyarakat atau tidak. Selanjutnya hasil ARKL akan dikelola dan
dikomunikasikan kepada masyarakat sebagai tindak lanjutnya.

Gambar 3. Kerangka Konseptual ARKL


ARKL sebagai suatu tools termasuk metoda dan prosedurnya, merupakan satu di antara jenis studi di
bidang kesehatan lingkungan. Studi kesehatan lingkungan dan kesehatan secara umum telah
mengenal epidemiologi lebih dahulu. Namun, jika diperbandingkan di antara kedua studi ini memiliki
beberapa perbedaan yang fundamental, sebagaimana tersaji dalam tabel 1 dan gambar 4 di bawah
ini :

I-5

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Tabel 1 Perbandingan antara ARKL dan EKL
ARKL
Epidemologi Kesehatan Lingkungan (EKL)
Pajanan agen risiko dinyatakan dengan intake
Pajanan tidak harus dinyatakan dengan asupan
(asupan) ada angkanya
Konsentrasi agen risiko, antropometri dan pola
Butuh konsentrasi agen risiko, namun
aktivitas populasi berisiko / populasi kajian
antropometri dan pola aktivitas tidak wajib
mutlak diperlukan
Risiko non karsinogenik dan karsionogenik
Risiko non karsinogenik dan karsionogenik tidak
dibedakan
dibedakan
Tidak menguji hubungan faktor lingkungan dan
Menguji hubungan faktor lingkungan dan
outcome kesehatan
outcome kesehatan
Besaran risiko tidak dibaca sebagai kelipatan
Besaran risiko dibaca sebagai kelipatan
Kuantitas risiko digunakan untuk komunikasi dan Tidak merupakan satu kesatuan dengan
manajemen risiko
komunikasi dan manajemen risiko

Gambar 4. Keterkaitan ARKL dan EKL

Materi Sub Bahasan : Agen risiko, pajanan, dosis dan dampak


Dampak buruk terhadap kesehatan yang ditimbulkan oleh agen risiko terjadi karena adanya
pemajanan dengan dosis dan waktu yang cukup. Suatu organisme, sistem, sub/populasi terpajan
agen risiko di lingkungan melalui beberapa jalur pemajanan. Dampak buruk yang timbul akibat
pajanan agen risiko kimia di lingkungan diilustrasikan melalui gambar 5 di bawah ini.

I-6

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Jalur pajanan inhalasi
Pajanan

Media

Dosis potensial

Intake
Jalur pajanan oral
Pajanan

Dampak buruk

Paru-paru
Uptake

Dosis potensial

Dosis masuk Dosis internal

Dosis efektif

Organ

Kimia
Mulut /hidung
Intake

Dampak buruk

Saluran cerna
Uptake

Jalur pajanan kontak kulit


Pajanan Dosis
potensial

Media

Dosis efektif

Organ

Kimia
Mulut /hidung

Media

Dosis masuk Dosis internal

Dosis masuk Dosis internal

Dosis efektif

Organ

Kimia

Dampak buruk

Kulit
Uptake

Gambar 5. Skema pajanan dan dosis (Kolluru, 1996)

Materi Sub Bahasan : Istilah, Definisi, dan Terminologi


Di dalam pelaksanaan ARKL dikenal banyak istilah dan terminologi yang perlu didefinisikan
terlebih dahulu agar didapat kesamaan persepsi. Mengacu pada International Program on
Chemical Safety (IPCS, 2004) Risk Assessment Terminology di bawah ini dijelaskan definisi dari
setiap istilah yang umum digunakan dalam pelaksanaan ARKL.
Istilah dan Definisi
Analisis
: Pengujian terperinci dari sesuatu yang kompleks (rumit)

dengan maksud untuk memahami sifat dasarnya dan untuk


menentukan komponen/ciri-ciri dan sifat pentingnya.
Analisis risiko
: Sebuah proses untuk mengendalikan situasi atau keadaan

dimana organisme, sistim, atau sub/populasi mungkin


terpajan bahaya. Proses risk analysis meliputi 3 komponen
yaitu risk assessment, manajemen risiko, dan komunikasi
risiko.
Analisis Risiko Kesehatan : Sebuah proses yang dimaksudkan untuk menghitung atau

Lingkungan (ARKL)
memprakirakan risiko pada kesehatan manusia, termasuk
juga
identifikasi
terhadap
keberadaan
faktor
ketidakpastian, penelusuran pada pajanan tertentu,
memperhitungkan karakteristik yang melekat pada agen
yang menjadi perhatian dan karakteristik dari sasaran yang
spesifik.
I-7

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012

Analisis dosis
(dose-response
assessment)

Analisis pajanan
(exposure assessment)

Agen (agent)

Bahaya (hazard)

Dampak buruk

Dosis

Dosis/konsentrasi
referensi (RfD/RfC)

Dosis- respon

Efek (effect)

Ekses
risiko
kanker
(excess cancer risk [ECR])

I-8

respon

Analisis hubungan antara jumlah total suatu agen yang


diberikan, diterima, atau diserap oleh suatu organisme,
sistim, atau sub/populasi dengan perubahan yang terjadi
pada suatu organisme, sistem, atau sub/populasi.
Evaluasi pajanan agen dan turunannya pada organisme,
sistim, atau sub/populasi. Analisis pajanan merupakan
langkah yang keempat dalam ARKL.
Zat, materi,atau makhluk dalam bentuk fisik, kimiawi,atau
biologi yang kontak atau mengenai sasaran.
Sifat yang melekat pada suatu agen atau situasi yang
berpotensi untuk menyebab dampak buruk ketika
organisme, sistem, atau sub / populasi terpajan agen
tersebut.
Perubahan pada morfologi, fisiologi, pertumbuhan,
perkembangan, reproduksi, rentang hidup dari suatu
organisme, sistem, atau sub / populasi yang akan
mengakibatkan gangguan pada kapasitas fungsional,
ketidakmampuan dalam mengatasi stress (tekanan), atau
peningkatan kerentanan (suskebtibilitas)
terhadap
pengaruh-pengaruh lain
Jumlah total suatu agen yang diberikan, diterima, atau
diserap oleh suatu organisme, sistim, atau sub/populasi
Dosis/konsentrasi dari pajanan harian agen risiko non
karsinogenik yang diestimasi tidak menimbulkan efek yang
mengganggu walaupun pajanannya terjadi sepanjang hayat
(seumur hidup).
Hubungan antara jumlah total suatu agen yang diberikan,
diterima, atau diserap oleh suatu organisme, sistim, atau
sub/populasi dan perubahan yang terjadi pada suatu
organisme, sistim, atau sub/populasi tersebut.
Perubahan keadaan atau dinamika suatu organisme, sistim,
atau sub/populasi.
Besarnya risiko yang dinyatakan dalam bilangan pecahan
kelipatan pangkat -10 (eksponen) tanpa satuan yang
merupakan perhitungan perbandingan antara intake
dengan
dosis/konsentrasi referensi dari suatu agen risiko
karsinogenik serta dapat juga diinterpretasikan sebagai
dapat/tidak dapat diterimanya suatu agen risiko terhadap
organisme, sistim, atau sub/populasi dan kelimpahan kasus
kankernya (jumlah tambahan kasus kanker) dalam satuan
populasi tertentu.

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012

Identifikasi bahaya
(hazard identification)

Intake non karsinogenik


(Ink)

Intake karsinogenik (Ik)

Karakterisasi risiko (risk


characterization)

Konsentrasi
(concentration)
Lowest
Observed
Adverse Effect Level
(LOAEL)
No Observed Adverse
Effect Level (NOAEL)

Risiko (risk)

Risiko : aman atau risiko


yang dapat diterima
(Acceptable Risk)
Slope factor (SF)

Tingkat
risiko
quotient [RQ])

I-9

(risk

Identifikasi terhadap jenis dan sifat serta kemampuan yang


melekat pada suatu agen risiko yang dapat menyebabkan
dampak buruk organisme, sistim, atau sub/populasi.
Identifikasi bahaya merupakan langkah yang kedua dalam
ARKL.
Banyaknya suatu materi (bahan) atau agen risiko yang
memiliki efek non kanker (tidak menyebabkan kanker) pada
sebuah media lingkungan, yang masuk ke dalam tubuh
manusia setiap harinya yang dinyatakan dalam satuan
mg/kg/hari.
Banyaknya suatu materi (bahan) atau agen risiko yang
memiliki efek kanker (terbukti dapat menyebabkan kanker)
pada sebuah media lingkungan, yang masuk ke dalam
tubuh manusia setiap harinya yang dinyatakan dalam
satuang mg/kg/hari.
Perhitungan kualitatif, jika memungkinkan secara
kuantitatif, meliputi probabilitas terjadinya potensi dampak
buruk suatu
agen pada organisme, sistim, atau sub/populasi, beserta
faktor ketidakpastiannya.
Banyaknya suatu materi (bahan) atau agen yang terlarut
atau terkandung dalam satuan jumlah pada sebuah media.
Dosis terendah yang secara statistik atau biologis (masih)
memperlihatkan efek merugikan pada hewan uji atau pada
manusia.
Dosis tertinggi suatu zat pada studi toksisitas kronik atau
subkronik yang secara statistik atau biologis tidak
memperlihatkan efek merugikan pada hewan uji atau pada
manusia.
Kemungkinan atau kebolehjadian dari suatu dampak buruk
pada organisme, sistem, atau sub / populasi timbul akibat
(disebabkan) oleh terpajan suatu agen pada kondisi
tertentu.
Istilah dalam manajemen risiko yaitu dapat diterimanya
risiko yang didasarkan pada data ilmiah, faktor sosial,
ekonomi, dan politik serta benefit dari pajanan suatu agen.
Dosis / konsentrasi dari pajanan harian agen risiko
karsinogenik yang diestimasi tidak menimbulkan efek yang
mengganggu atau tidak menyebabkan terjadinya kanker
walaupun pajanannya terjadi sepanjang hayat (seumur
hidup).
Besarnya risiko yang dinyatakan dalam angka tanpa satuan
yang merupakan perhitungan perbandingan antara intake
dengan dosis / konsentrasi referensi dari suatu agen risiko
non karsinogenik serta dapat juga diinterpretasikan sebagai
aman/tidak amannya suatu agen risiko terhadap
organisme, sistim, atau sub/populasi.

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Materi Sub Bahasan : Jenis dan Penggunaan ARKL
Ada dua jenis ARKL yang dapat digunakan yaitu, kajian ARKL cepat atau kajian di atas meja
(desktop studi) dan kajian lapangan (field study) tergantung sumber data yang digunakan. ARKL
diatas meja tidak menggunakan data lapangan tetapi menggunakan nilai-nilai default,
rekomendasi dan/atau asumsi, sedangkan kajian lapangan dilakukan dengan pengukuran langsung
kualitas lingkungan, pajanan (frekuensi, durasi), dan data antropometri (berat badan). Perbedaan
antara kedua jenis ARKL tersebut dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2 Perbandingan antara ARKL desktop dan field
Desktop;
field

VARIABEL
Sumber
data
yang
digunakan
Waktu
pelaksanaan

Data Sekunder dan asumsi/nilai


default

Besarnya
biaya yang
dibutuhkan

Sangat sedikit atau tidak ada

Seketika saat dibutuhkan ;


durasi
lebih singkat.

Data primer (data yang


dikumpulkan
sendiri) dan asumsi jika
Perlu perencanaan dan
pengorganisasian ; durasi lebih
lama
Biaya besar (biaya seperti
melakukan suatu penelitian
/ kajian lapangan)

ARKL sebagai suatu cara tools atau pendekatan dapat diaplikasikan untuk berbagai
keperluan. Penggunaan ARKL pada berbagai kebutuhan dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini :
Tabel 3 Penggunaan dari masing - masing model ARKL
Jenis Kegiatan / Kebutuhan
desktop ARKL
Analisis suatu kasus kesehatan lingkungan : (Emergency
Responses)
Analisis suatu kasus kesehatan lingkungan : (Reformation
Responses)
Penyusunan AMDAL suatu kegiatan dan atau usaha :
Kajian
ANDAL, dan penyusunan RKL - RPL
Pengkajian, penyusunan, dan penetapan baku mutu
Pengkajian, penyusunan, dan penetapan kebijakan
kesehatan
lingkungan yang baru

Kajian ARKL

Materi Sub Bahasan : Langkah langkah ARKL


Perumusan masalah yang dilakukan sebelum melakukan langkah langkah ARKL dimaksudkan untuk
dapat menjawab pertanyaan apa, dimana, berapa besar, kapan, siapa populasi berisiko, dan
bagaimana kepedulian masyarakat (populasi berisiko). Rumusan masalah ini akan digunakan
sebagai latar belakang mengapa suatu agen risiko perlu dianalisis risiko, dan akan dimasukkan ke
dalam laporan. Uraian apa yang harus dijawab untuk merumuskan masalah dapat dilihat pada tabel
4 di bawah ini :

I - 10

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Tabel 4 Uraian langkah perumusan masalah
Pertanyaan
Uraiaan
- Apa yang menjadi masalah :
Media lingkungan yang terkena dampak, jenis kegiatan yang
menjadisumber dampak, jenis polutan apa yang potensial
- Dimana masalah itu terjadi :
Wilayah administrasi, wilayah geografi, batas sosial, batas
ekologis. penyakit terkait lingkungan, konsentrasi agen risiko
- Seberapa besar masalahnya :
Prevalensi
pada media lingkungan, jumlah populasi yang potensial
terkena.
- Kapan masalah terjadi :
Hari, bulan, tahun, dan durasi (lamanya) masalah berlangsung.
- Siapa populasi berisiko
Kelompok masyarakat yang potensial terkena : golongan
umur, kelompok berdasarkan tempat tinggal, pekerjaan, dan
komunitas tertentu (komunitas hobi, komunitas adat, dll).
Deskripsi aksi protes masyarakat, opini / pendapat masyarakat
- Bagaimana kepedulian
dan tokoh masyarakat, pandangan pakar, respon instansi yang
masyarakat :
berwenang menangani masalah tersebut (program / rencana
program kerja terkait penanganan masalah.
Langkah 1 : Identifikasi bahaya (hazard identification)
Identifikasi bahaya merupakan langkah pertama dalam ARKL yang digunakan untuk
mengetahui secara spesifik agen risiko apa yang berpotensi menyebabkan gangguan
kesehatan bila tubuh terpajan. Sebagai pelengkap dalam identifikasi bahaya dapat ditambahkan
gejala gejala gangguan kesehatan apa yang terkait erat dengan agen risiko yang akan
dianalisis. Tahapan ini harus menjawab pertanyaan agen risiko spesifik apa yang berbahaya, di
media lingkungan yang mana agen risiko eksisting, seberapa besar kandungan/konsentrasi agen
risiko di media lingkungan, gejala kesehatan apa yang potensial. Uraian apa yang harus dijawab
dalam identifikasi bahaya dapat dilihat pada tabel 5 di bawah ini.
Tabel 5 Uraian langkah identifikasi bahaya
Pertanyaan
Uraian
Agen risiko spesifik apa yang
Agen risiko bahan kimia jelaskan spesi atau senyawa kimia apa
berbahaya :
yang berbahaya secara jelas. Contoh: Merkuri (Hg) jelaskan
apakah agen risiko berupa elemental mercury, anorganic
mercury, atau organic mercury (methyl mercury).
Agen risiko biologi jelaskan spesiesnya.
Di media lingkungan yang mana Jelaskan media lingkungan dimana agen risiko eksisting ;
agen risiko eksisting :
apakah di udara ambien, air, tanah, sludge, biota, hewan,
dll. Contoh : jika merkuri sebagai agen risiko, maka
media lingkungan yang terkontaminasi antara lain air bersih,
sludge (jika pada pertambangan emas rakyat), ataupun di
hewan (ikan yang dikonsumsi).
Seberapa besar
Jelaskan konsentrasi hasil pengukurannya di media lingkungan.
kandungan/konsentrasi agen
risiko di media lingkungan :

I - 11

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Pertanyaan
Gejala kesehatan apa yang
potensial :

Uraian
Uraikan gejala kesehatan / gangguan kesehatan apa yang dapat
terkait dengan agen risiko. Contoh : jika merkuri sebagai agen
risiko maka gejala/gangguan kesehatan yang mungkin timbul
antara lain, tremor, gemetaran pada saat berdiri, pusing
pada saat berdiri, rasa nyeri pada tangan dan kaki, dan
gangguan pada susunan saraf pusat

Untuk membantu dalam melakukan identifikasi bahaya dapat digunakan contoh formulir
sebagaimana pada tabel 6 di bawah ini :

Sumber
dan
penggunaan

Tabel 6 Contoh formulir bantu identifikasi bahaya


Media lingkungan
Agen
Konsentrasi
potensial
Risiko
Minimal
- Merkuri
Anorganik :
........ mg/l
- Total
Merkuri :
mg/l
Metil Merkuri, ........
Disesuaikan
Merkuri
dengan agen
Anorganik, Total risikonya
Merkuri

Rata - rata
- Merkuri
Anorganik :
........ mg/l
- Total
Merkuri :
........
mg/l
Disesuaikan

Maksimal
- Merkuri
Anorganik :
........ mg/l
- Total
Merkuri :
........
mg/l
Disesuaikan

dengan agen
risikonya

dengan agen
risikonya

Metil Merkuri, Disesuaikan Disesuaikan


Merkuri
dengan agen dengan agen
Anorganik, Total risikonya
risikonya
Merkuri

Disesuaikan
dengan agen
risikonya

Pertambangan Air
permukaan Merkuri
mineral
(sungai, danau)
Anorganik,
(emas,
Total Merkuri
tembaga, perak
dll)
Lumpur (tailing)

Tanaman (buah,
sayur, umbi)

Air tanah (sumur) Merkuri


Anorganik,
Total Merkuri

Disesuaikan Disesuaikan
dengan agen dengan agen
risikonya
risikonya

Disesuaikan
dengan agen
risikonya

Udara

Total Merkuri

Biota air (ikan,


kerang, dsb)

Metil Merkuri

Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya

Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya

Pertambangan Udara
fosil (batu bara,
minyak bumi)
Air tanah

SO2,
Benzene,
Golongan Metan

Disesuaikan
dengan
literatur yang ada
Air permukaaan Disesuaikan
dengan
literatur yang ada

I - 12

Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Sumber
dan
penggunaan

Media lingkungan
potensial

Pengolahan aki Udara


bekas
Air permukaan

Air tanah

Industri
elektronika

Agen
Risiko

Konsentrasi

Minimal
Rata - rata
Maksimal
Disesuaikan
Disesuaikan Disesuaikan Disesuaikan
dengan
dengan agen dengan agen dengan agen
literatur yang ada risikonya
risikonya
risikonya
Disesuaikan
dengan literatur
yang ada
Disesuaikan
dengan
literatur yang ada

Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya

Udara

Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya

Disesuaikan
Disesuaikan Disesuaikan
dengan
dengan agen dengan agen
literatur yang ada risikonya
risikonya
Air permukaan Disesuaikan
Disesuaikan Disesuaikan
(dari limbah cair) dengan
dengan agen dengan agen
literatur yang ada risikonya
risikonya
Air tanah (dari Disesuaikan
Disesuaikan Disesuaikan
limbah cair)
dengan
dengan agen dengan agen
literatur yang ada risikonya
risikonya
Bengkel patri / Udara
Disesuaikan
Disesuaikan Disesuaikan
las / galvanisasi
dengan
dengan agen dengan agen
logam
literatur yang ada risikonya
risikonya
Air permukaan Disesuaikan
Disesuaikan Disesuaikan
dengan
dengan agen dengan agen
literatur yang ada risikonya
risikonya
Air tanah
Disesuaikan
Disesuaikan Disesuaikan
dengan
dengan agen dengan agen
literatur yang ada risikonya
risikonya
Transportasi
Udara
Disesuaikan
Disesuaikan Disesuaikan
dengan
dengan agen dengan agen
literatur yang ada risikonya
risikonya
Tanaman
Disesuaikan
Disesuaikan Disesuaikan
dengan
dengan agen dengan agen
literatur yang ada risikonya
risikonya
Kegiatan lainnya Disesuaikan
Disesuaikan
Disesuaikan Disesuaikan
dengan literatur dengan
dengan agen dengan agen
yang ada
literatur yang ada risikonya
risikonya
Penggunaan formulir ini dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dan dalam
merujuk pada literatur yang tersedia.

Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya
Disesuaikan
dengan agen
risikonya
pengisiannya

Langkah 2 : Analisis dosis - respon (dose-response assessment)


Setelah melakukan identifikasi bahaya (agen risiko, konsentrasi dan media lingkungan ), maka tahap
selanjutnya adalah melakukan analisis dosis- respons yaitu mencari nilai RfD, dan/atau RfC,
dan/atau SF dari agen risiko yang menjadi fokus ARKL, serta memahami efek apa saja yang mungkin
ditimbulkan oleh agen risiko tersebut pada tubuh manusia. Analisis dosis respon ini tidak harus
I - 13

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
dengan melakukan penelitian percobaan sendiri namun cukup dengan merujuk pada literature yang
tersedia. Langkah analisis dosis respon ini dimaksudkan untuk :
a. mengetahui jalur pajanan (pathways) dari suatu agen risiko masuk ke dalam tubuh
manusia.
b. memahami perubahan gejala atau efek kesehatan
yang terjadi akibat peningkatan
konsentrasi atau dosis agen risiko yang masuk ke dalam tubuh.
c. mengetahui dosis referensi (RfD) atau konsentrasi referensi (RfC) atau slope factor (SF)
dari agen risiko tersebut.
Di dalam laporan kajian ARKL ataupun dokumen yang menggunakan ARKL sebagai cara/ metode
kajian, analisis dosis respon perlu dibahas dan dicantumkan. Analisis dosis respon dipelajari dari
berbagai toxicological reviews, jurnal ilmiah, atau artikel terkait lainnya yang merupakan hasil
dari penelitian eksperimental. Untuk memudahkan, analisis dosis respon dapat dipelajari pada
situs : www.epa.gov/iris
Dosis Referensi (RfD), Konsentrasi Referensi (RfC), dan Slope Factor (SF)
Uraian tentang dosis referensi (RfD), konsentrasi referensi (RfC), dan slope factor (SF) adalah sebagai
berikut :
a. Dosis referensi dan konsentrasi yang selanjutnya disebut RfD dan RfC adalah nilai yang
dijadikan referensi untuk nilai yang aman pada efek non karsinogenik suatu agen risiko,
sedangkan SF (slope factor) adalah referensi untuk nilai yang aman pada efek karsinogenik.
b. Nilai RfD, RfC, dan SF merupakan hasil penelitian (experimental study) dari berbagai sumber
baik yang dilakukan langsung pada obyek manusia maupun merupakan ekstrapolasi
dari hewan percobaan ke manusia.
c. Untuk mengetahui RfC, RfD, dan SF suatu agen risiko dapat dilihat pada Integrated Risk
Information System (IRIS) yang bisa diakses di situs www.epa.gov/iris.
d. Jika tidak ada RfD, RfC, dan SF maka nilai dapat diturunkan dari dosis eksperimental yang
lain seperti NOAEL (No Observed Adverse Effect Level), LOAEL (Lowest Observed Adverse
Effect Level), MRL (Minimum Risk Level), baku mutu udara ambien pada NAAQS (National
Ambient
Air Quality Standard) dengan catatan dosis eksperimental tersebut
mencantumkan faktor antropometri yang jelas (Wb, tE, fE, dan Dt).
Satuan dosis referensi (RfD) dinyatakan sebagai milligram (mg) zat per kilogram (Kg) berat badan per
hari, disingkat mg/kg/hari. Dalam literatur terkadang ditulis mg/kgxhari, mg/kg.hari, dan mg/kg-hari.
Satuan konsentrasi referensi (RfC) dinyatakan sebagai milligram (mg) zat per meter kubik (M3) udara,
disingkat mg/M3. Konsentrasi referensi ini dinormalisasikan menjadi satuan mg/kg/hari dengan ara
memasukkan laju inhalasi dan berat badan yang bersangkutan.
Untuk memudahkan dalam analisis dosis respon, pada tabel 7 dan 8 disajikan contoh RfD, RfC, dan
SF.

No
1

Tabel 7. Contoh RfD, dan SF beberapa agen risiko atau spesi kimia jalur ingesti
Agent
Dosis Respon
Efek Kristis dan Referensi
(RfD, SF)
As (Arsen)

3E-4 mg/kg/day
1,5E+0 (mg/kg/day)1

Ba (Barium)

2E-1 mg/kg/day

B (Boron)

2E-1 mg/kg/day

Cd (Kadmium)

5E-4 mg/kg/day

I - 14

Hiperpigmentasi, keratosis dan kemungkinan


komplikasi vaskular pajanan oral (Tseng, 1977;
Tseng et al., 1968)
Nefropati dalam 2 tahun pemberian air minum
kepada mencit (NTP 1994)
Penurunan berat janin pada pajanan asam borat
gestasi
Proteinuria pajanan kronik manusia (USEPA,
Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
No

Agent

Dosis Respon
(RfD, SF)

5
6

Cl2 (Klorin) bebas 1E-1 mg/kg/day


Cr6+ (Kromium
3E-3 mg/kg/day
Heksavalen)

CN- (Sianida)

2E-2 mg/kg/day

F- (Fluorida)

6E-2 mg/kg/day

Mn (Mangan)

1 .4E- 1 mg/kg/day

10

1E-4 mg/kg/day

11

Hg MeHg
(Merkuri
- metal merkuri)
NO2- (Nitrit)

12

Se (Selenium)

5E-3 mg/kg/day

13

Zn (Seng)

3E-1 mg/kg/day

14

CHBr3

15

CHCl3

2E-2 mg/kg/day
7.9E-3 (mg/kg/day)1
1E-2 mg/kg/day

16

CHBr2Cl

1E-1 mg/kg/day

2E-2 mg/kg/day
8.4E-2 (mg/kg/day)1

Efek Kristis dan Referensi


Pajanan kronik air minum tikus (NTP, 1992)
Uji hayati air minum 1 tahun dengan tikus
(McKenzie et al, 1958) dan pajanan air minum
penduduk Jinzhou (Zhang and Li, 1987)
Kehilangan berat, efek tiroid dan degradasi
myelin dalam uji hayati subkronik sampai kronik
oral pada tikus (Philbrick et al, 1979)
Flourisis gigi dan efek kosmetik dalam studi
epidemio logi (Hodge, 1950 cited in Underwood,
1977)
Hipokolesterolemia,
epilepsi,
kekurangan
pankreas eksokrin, sklerosis berganda, katarak,
osteoporosis, fenilketonuria & penyakit kencing
maple syrup (inborn) pada ingesi kronik
manusia (NRC 1989; Freeland- Graves et al
1987; WHO 1973)
Kelainan neuropsikologis perkembangan dalam
studi epidemilogi (Grandjean et al 1997; BudzJergensen et al 1999)
Methemoglobinemia pada bayi yang terpajan
kronik air minum (Walton 1951)
Selenosis dari studi epidemiologi (Yang et al
1989)
Penurunan Cu eriytrosit dan aktifitas Zn
superoksida dismutase pada relawan pria dan
wanita (Yadrick et al 1989)
Lesi hepatik uji hayati subkronik gavage oral
pada tikus
Pembentukan greasety cyst sedang/nyata pada
hati dan peningkatan SGPT dalam uji hayati
kronik pada anjing (Heywood et al 1979)
Lesi hepatik uji hayati subkronik gavage oral
pada tikus (NTP 1989)

Disadur dari Rahman, 2007

Tabel 8. Contoh RfC beberapa agen risiko atau spesi kimia jalur inhalasi
Dosis Respon
Efek Kristis dan Referensi

No
RfC
1

Agent
NH3

2,86E-2

H2S

5,7 1E-4

Pb

4,93E-4

I - 15

Kenaikan keparahan rinitis dan pneumonia


dengan lesi pernafasan pada uji hayati tikus
subkronik (Broderson et al 1976)
Lesi nasal lendir olfaktori pada uji hayati tikus
subkronik (Brenneman et al 2000)
Perubahan tingkat enzim dan perkembangan
neurobehavioral anak-anak (IRIS 2006)

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
No
4

Agent
NO2

Dosis Respon
2E-2

SO2

2,6E-2

TSP

2,42

Efek Kristis dan Referensi


Gangguan saluran pernafasan (EPA/NAAQS
1990)
Gangguan saluran pernafasan (EPA/NAAQS
1990)
Gangguan saluran pernafasan (EPA/NAAQS
1990)

Disadur dari Rahman, 2007

Mengingat pemutakhiran (update) RfD, RfC, dan SF berlangsung sangat cepat, RfD, RfC, dan SF
yang tercantum pada tabel di atas tidak bisa selamanya dijadikan acuan. RfD, RfC, dan SF dari agen
risiko yang lain serta update dari RfD, RfC, dan SF pada tabel di atas dapat dilihat dengan mengakses
www.epa.gov/iris. Tahapan dalam mengakses situs tersebut dapat dilihat pada lampiran 5.
Tampilan evaluasi dosis - respon yang terdapat pada toxicological review pada situs tersebut, dapat
dilihat pada contoh berikut.
Contoh: evaluasi dosis respon (1)
Methylmercury (MeHg); CASRN 22967-92-6
I.A.1. Oral RfD Summary
Critical Effect
Experimental Doses*
Developmental
neuropsychological
impairment

Benchmark Dose: BMDL05 range of 46-79


ppb in maternal blood for different
neuropsychological effects in the
offspring at 7 years of age, corresponding to
Human epidemiological a range of maternal daily intakes of
studies (Grandjean et 0.857-1.472 g/kg-day
al.,
1997;
BudtzJrgensen et al., 1999a)

UF
10

MF
1

RfD
1E-4
mg/kg-day
(0.0001
mg/kg-day)

*Conversion Factors and Assumptions Maternal daily dietary intake levels were used as the dose
surrogate for the observed
developmental effects in the children exposed in utero. The daily dietary intake levels were
calculated from blood concentrations
measured in the mothers with supporting additional values based on their hair concentrations. This
conversion is explained in the text below. A benchmark dose approach (BMD) was used rather than
a no-observed-adverse-effect level/lowest-observed-adverse-effect level (NOAEL/LOAEL) approach
to analyze the neurological effects in children as the response variable. This analysis is also explained
in the text below.
This assessment updates the 1995 RfD assessment on IRIS and is the same as the RfD that was based
on the study of a poisoning episode in Iraq in which developmental neurotoxicity was observed
following ingestion of methylmercury-treated grain (Marsh et al.1987).

I - 16

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Contoh: evaluasi dosis - respon (2)
Arsenic, inorganic (CASRN 7440-38-2)
II.B. Quantitative Estimate of Carcinogenic Risk from Oral Exposure
II.B.1. Summary of Risk Estimates
Oral Slope Factor 1.5E+0 per (mg/kg)/day
Drinking Water Unit Risk 5E-5 per (ug/L)
Extrapolation Method Time- and dose-related formulation of the multistage model (U.S. EPA,
1988)
Drinking Water Concentrations at Specified Risk Levels:

Risk Level
E-4 (1 in 10,000)
E-5 (1 in 100,000)
E-6 (1 in 1,000,000)

Concentration
2E+0 ug/L
2E-1 ug/L
2E-2 ug/L

Langkah 3 : Analisis pajanan (exposure assessment)


Setelah melakukan langkah 1 dan 2, selanjutnya dilakukan Analisis pemajanan yaitu dengan
mengukur atau menghitung intake / asupan dari agen risiko. Untuk menghitung intake
digunakan persamaan atau rumus yang berbeda. Data yang digunakan untuk melakukan
perhitungan dapat berupa data primer (hasil pengukuran konsentrasi agen risiko pada media
lingkungan yang dilakukan sendiri) atau data sekunder (pengukuran konsentrasi agen risiko pada
media lingkungan yang dilakukan oleh pihak lain yang dipercaya seperti BLH, Dinas Kesehatan,
LSM, dll), dan asumsi yang didasarkan pertimbangan yang logis atau menggunakan nilai
default yang tersedia. Rumus perhitungan yang digunakan adalah sebagai berikut :

Perhitungan intake non karsinogenik (INK)


1. Intake pada jalur pemajanan inhalasi (terhirup)

.Rumus 1

Keterangan :
Notasi
Ink (Intake)

C (Concentration)

I - 17

Arti notasi
Jumlah konsentrasi
agen
risiko (mg) yang masuk ke
dalam tubuh manusia
dengan berat
badan tertentu (kg)
setiap harinya
Konsentrasi agen risiko
pada media udara
(udara ambien)

Satuan
Nilai Default
mg/kg x hari Tidak ada nilai default

mg/m3

Tidak ada nilai default

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Notasi
R (Rate)

Arti notasi
Laju inhalasi atau
banyaknya volume
udara yang masuk setiap
jamnya

Satuan
m3/jam

Nilai Default
Dewasa : 0,83 m3/jam
Anak anak (6 12 tahun) : 0,5
m3/jam

tE (time of exposure) :

Lamanya atau jumlah


jam
terjadinya pajanan
setiap harinya

Jam/hari

fE (frecuency of
exposure)

Lamanya atau jumlah


hari
terjadinya pajanan
setiap tahunnya

Hari/tahun

Dt (duration time)

Lamanya atau jumlah


tahun
terjadinya pajanan
Berat badan manusia /
populasi/kelompok
populasi
Periode waktu rata
rata

Tahun

- Pajanan pada pemukiman :


24 jam/hari
- Pajanan pada lingkungan kerja
: 8 jam/hari
- Pajanan pada sekolah dasar :
6 jam/hari
- Pajanan pada pemukiman :
350 hari/tahun
- Pajanan
pada
lingkungan kerja : 250
hari/tahun
Residensial
(pemukiman) /
pajanan seumur hidup : 30
tahun
- Dewasa asia / Indonesia : 55
Kg
- Anak anak : 15 Kg
30 tahun x 365 hari/tahun =
10.950 hari

Wb (weight of body) :

tavg(nk) (time average) :

Kg

Hari

2. Intake pada jalur pemajanan ingesti (tertelan)

Rumus 2

Keterangan
Notasi
Ink (Intake)

C (Concentration)

I - 18

Arti notasi
Jumlah konsentrasi agen
risiko (mg) yang masuk ke
dalam tubuh manusia
dengan berat
badan tertentu (kg) setiap
harinya
Konsentrasi agen risiko
pada air bersih/minum atau
pada makanan.

Satuan
mg/kg x
hari

Nilai Default
Tidak ada nilai default

- mg/l (air) Tidak ada nilai default


mg/kg
(makanan)

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Notasi
R (Rate)

Arti notasi
Laju
konsumsi atau
banyaknya volume air atau
jumlah berat makanan yang
masuk setiap jamnya

Satuan
- Liter /
hari (air)
- Gram /
hari
(makanan)

Nilai Default
Air Minum
- Dewasa (pemukiman) :
2 liter/hari
- Anak anak (pemukiman) :
1 liter/hari
- Dewasa (lingkungan kerja) :
1 liter/hari
Makanan
- Buah buahan : 42
gram/hari
Sayuran :pada
80 gram/hari
Hari/tahun - Pajanan
pemukiman
: 350 hari/tahun
- Pajanan pada lingkungan
kerja : 250 hari/tahun

fE (frecuency of
exposure)

Lamanya atau jumlah hari


terjadinya pajanan setiap
tahunnya

Dt (duration time)

Lamanya atau jumlah tahun


terjadinya pajanan

Tahun

Residensial (pemukiman) /
pajanan seumur hidup :
30 tahun

Wb (weight of body) :

Berat badan manusia /


Populasi / kelompok populasi

Kg

- Dewasa asia / Indonesia :


55 Kg
- Anak anak : 15 Kg

tavg(nk) (time average) :

Periode waktu rata rata


untuk efek non karsinogen

Hari

30 tahun x 365 hari/tahun


= 10.950 hari

Perhitungan intake karsinogenik (IK)


1. Intake pada jalur pemajanan inhalasi (terhirup)

.Rumus 3

Keterangan :
Notasi
Ik (Intake)

C (Concentration)

R (Rate)

I - 19

Arti notasi
Jumlah konsentrasi
agen
risiko (mg) yang masuk ke
dalam tubuh manusia
dengan berat
badan tertentu (kg)
setiap
harinya
Konsentrasi
agen risiko
pada media udara (udara
ambien)
Laju inhalasi atau
banyaknya volume
udara yang masuk setiap
jamnya

Satuan
Nilai Default
mg/kg x hari Tidak ada nilai default

mg/m3

Tidak ada nilai default

m3/jam

Dewasa : 0,83 m3/jam


Anak anak (6 12 tahun) : 0,5
m3/jam

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Notasi
tE (time of exposure) :

Arti notasi
Lamanya atau jumlah jam
terjadinya pajanan setiap
harinya

Satuan
Jam/hari

fE (frecuency of
exposure)

Lamanya atau jumlah


hari
terjadinya pajanan
setiap tahunnya

Hari/tahun

Dt (duration time)

Lamanya atau jumlah


tahun
terjadinya pajanan
Berat badan manusia /
Populasi / kelompok
populasi

Tahun

Periode waktu rata


rata

Hari

Wb (weight of body) :

tavg(k) (time average) :

Kg

Nilai Default
- Pajanan pada pemukiman :
24 jam/hari
- Pajanan pada lingkungan
kerja : 8 jam/hari
- Pajanan pada sekolah dasar :
6 jam/hari
- Pajanan pada pemukiman :
350 hari/tahun
- Pajanan pada lingkungan kerja
: 250 hari/tahun
Residensial (pemukiman) /
pajanan seumur hidup : 30
tahun
- Dewasa asia / Indonesia : 55
Kg
- Anak anak : 15 Kg
70 tahun x 365 hari/tahun =
25.550 hari

2. Intake pada jalur pemajanan ingesti (tertelan)

Rumus 4

Keterangan
Notasi
Ik (Intake)

C (Concentration)

R (Rate)

I - 20

Arti notasi
Jumlah konsentrasi
agen risiko (mg) yang
masuk ke dalam tubuh
manusia dengan berat
badan tertentu (kg) setiap
Konsentrasi
agen
risiko pada air bersih /
minum atau pada
makanan.
Laju konsumsi atau
banyaknya volume air
atau jumlah berat
makanan yang masuk
setiap jamnya

Satuan
Nilai Default
mg/kg x hari Tidak ada nilai default

- mg/l (air)
- mg/kg
(makanan)

Tidak ada nilai default

- liter/hari
(air)
- gram/hari
(makanan)

Air Minum
- Dewasa (pemukiman) :
2 liter/hari
- Anak anak (pemukiman) :
1 liter/hari
- Dewasa (lingkungan kerja) :
1 liter/hari
Makanan
- Buah buahan : 42
gram/hari
- Sayuran : 80 gram/hari
- Ikan tangkapan :54
gram/hari

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Notasi
fE
(frecuency
of exposure)

Arti notasi
Lamanya atau jumlah
hari
terjadinya pajanan
setiap tahunnya

Satuan
Hari/tahun

Nilai Default
- Pajanan pada pemukiman
: 350 hari/tahun
- Pajanan pada lingkungan
kerja : 250 hari/tahun

Dt (duration time)

Lamanya atau jumlah


tahun terjadinya pajanan

Tahun

Wb (weight of body) :

Berat badan manusia /


Populasi / kelompok
Populasi
Periode waktu rata
rata untuk efek
karsinogenik

Kg

Residensial (pemukiman) /
pajanan seumur hidup :
30 tahun
- Dewasa asia / Indonesia :
55 Kg
- Anak anak : 15 Kg
70 tahun x 365 hari/tahun
= 25.550 hari

tavg(k) (time average) :

Hari

Analisis pemajanan pada aplikasi desktop ARKL


Hal hal yang perlu diketahui dan dicermati dalam melakukan analisis pemajanan pada aplikasi
desktop ARKL adalah sebagai berikut :
Pada desktop ARKL tidak perlu dilakukan pengumpulan data.
Data yang menjadi dasar perhitungan intake menggunakan data sekunder dan asumsi.
Terkait dengan variabel konsentrasi pelu diperhatikan hal sebagai berikut :
Data sekunder umumnya, dibutuhkan untuk mengetahui konsentrasi agen risiko pada media
lingkungan yang mana merupakan hasil pengukuran yang pernah dilakukan oleh pihak lain pada
media lingkungan, wilayah dan waktu yang sama.
Ada aplikasi desktop ARKL dalam rangkaian studi AMDAL (kajian ANDAL dan RKL - RPL untuk
aspek kesehatan masyarakat) suatu kegiatan, sumber data konsentrasi dapat merupakan
proyeksi perubahan rona lingkungan yang telah dikaji pada aspek yang lain mis. proyeksi
konsentrasi agen risiko di udara ambien pada tahap operasional kegiatan atau proyeksi
konsentrasi agen risiko di air bersih pada tahap operasional kegiatan.
Terkait dengan variabel perhitungan yang lain (R, tE, fE, Dt, Wb, dan tAVG) asumsi
didasarkan pada logika yang rasional atau nilai default yang sudah tersedia. Adapun nilai default
untuk berbagai variabel pada desktop ARKL dapat dilihat pada tabel 9 berikut.

I - 21

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Tabel 9 Nilai default dari faktor pajanan (Rahman, 2007)
Tataguna
Jalur pajanan Asupan harian
Frekuensi
lahan
pajanan
(hari/tahun)
Residensial

Air minum
Tanah/debu
(tertelan)
Inhalasi
(terhirup)

Industri &
komersial
Pertanian

Air minum

2 L (dewasa)
350
1 L (anak)
350
100 mg (dewasa)
350
200 mg (anak)
350
20 m3 (dewasa) 0,83350
m3/jam
12 m3 (anak) 0,5350
1L
250

Durasi
pajanan
(tahun)

Berat badan
(kg)

30
6
24
6
30

70 ; 55 b
15
70 ; 55 b
15
70 ; 55 b

6
25

15
70 ; 55 b

Tanaman
perkarangan

42 g
350
30
70 ; 55 b
(buah - buahan)
80 g
350
30
70 ; 55 b
(sayur - mayur)
Air minum
2 L (dewasa)
350
30
70 ; 55 b
1 L (anak)
350
6
15
Tanah/debu
100 mg (dewasa)
350
24
70 ; 55 b
200
mg
(anak)
350
6
15
(tertelan)
Inhalasi
20 m3 (dewasa) 0,83350
30
70 ; 55 b
(terhirup)
m3/jam
Rekreasi
Ikan tangkapan 54 g
350
30
70 ; 55 b
Disadur dari Rahman, 2007 : seluruhnya berasal dari Exposure Factor Handbook (EPA, 1990) kecuali
bNukman et al (2005)
3.2.4. Langkah 4 : Karakterisasi risiko (risk characterization)
Langkah ARKL yang terakhir adalah karakterisasi risiko yang dilakukan untuk menetapkan tingkat
risiko atau dengan kata lain menentukan apakah agen risiko pada konsentrasi tertentu yang
dianalisis pada ARKL berisiko menimbulkan gangguan kesehatan pada masyarakat (dengan
karakteristik seperti berat badan, laju inhalasi/konsumsi, waktu, frekuensi, durasi pajanan yang
tertentu) atau tidak.
Karakteristik risiko dilakukan dengan membandingkan / membagi intake dengan dosis
/konsentrasi agen risiko tersebut. Variabel yang digunakan untuk menghitung tingkat risiko adalah
intake (yang didapatkan dari analisis pemajanan) dan dosis referensi (RfD) / konsentrasi referensi
(RfC) yang didapat dari literatur yang ada (dapat diakses di situs www.epa.gov/iris).
1. Karakterisasi risiko pada efek non karsinogenik
Perhitungan tingkat risiko non karsinogenik
Tingkat risiko untuk efek non karsinogenik dinyatakan dalam notasi Risk Quotien (RQ). Untuk
melakukan karakterisasi risiko untuk efek non karsinogenik dilakukan perhitungan dengan
membandingkan / membagi intake dengan RfC atau RfD. Rumus untuk menentukan RQ adalah
sebagai berikut :
..Rumus 5
Keterangan
Digunakan untuk menghitung RQ pada pemajanan jalur inhalasi (terhirup)
I (intake)
: Intake yang telah dihitung dengan rumus 1
RfC (reference concentration) : Nilai referensi agen risiko pada pemajanan inhalasi.
Didapat dari situs www.epa.gov/iris.
I - 22

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
.Rumus 6
Keterangan
Digunakan untuk menghitung RQ pada pemajanan jalur ingesti (tertelan)
I (intake)
: Intake yang telah dihitung dengan rumus 2
RfD (reference dose)
: Nilai referensi agen risiko pada pemajanan ingesti.
Didapat
Interpretasi tingkat risiko non karsinogenik
Tingkat risiko yang diperoleh pada ARKL merupakan konsumsi pakar ataupun praktisi, sehingga
perlu disederhanakan atau dipilihkan bahasa yang lebih sederhana agar dapat diterima oleh
khalayak atau publik. Tingkat risiko dinyatakan dalam angka atau bilangan desimal tanpa satuan.
Tingkat risiko dikatakan AMAN bilamana intake RfD atau RfCnya atau dinyatakan dengan RQ 1.
Tingkat risiko dikatakan TIDAK AMAN bilamana intake > RfD atau RfCnya atau dinyatakan dengan
RQ > 1.
Narasi yang digunakan dalam penyederhanaan interpretasi risiko agar dapat diterima oleh
khalayak atau publik harus memuat sebagai berikut :
- Pernyataan risiko [ aman atau tidak aman
- Jalur pajanan (dasar perhitungan) [ inhalasi atau ingesti
- Konsentrasi agen risiko (dasar perhitungan) [ mis. 0,00008 g/m3, 0,02 mg/l, dll
- Populasi yang berisiko [ mis. pekerja tambang, masyarakat di sekitar jalan tol, dll
- Kelompok umur populasi (dasar perhitungan) [ dewasa atau anak anak'
- Berat badan populasi (dasar perhitungan) [ mis. 15 kg, 55 kg, 65 kg, 70 kg, dll
- Frekuensi pajanan (dasar perhitungan) [ mis. 350 hari/tahun, 250 hari/tahun, dll
- Durasi pajanan (dasar perhitungan) [ mis. ....yang terpajan selama 10 tahun, 30 tahun, dll
Contoh : Tingkat risiko
RQ untuk pajanan Pb (inhalasi) sebesar 0,00008 g/m3 pada masyarakat dewasa yang tinggal di
sekitar jalan tol dengan berat badan rata - rata 55 kg dan telah terpajan 350
hari/tahun selama 20 tahun diketahui sebesar 0,098
maka
Interpretasi risiko
Pajanan Pb sebesar 0,00008 g/m3 secara inhalasi pada masyarakat dewasa yang tinggal di
sekitar jalan tol dengan berat badan 55 Kg, masih aman untuk frekuensi pajanan 350
hari/tahun hingga 20 tahun mendatang.
Perhitungan tingkat risiko karsinogenik
Tingkat risiko untuk efek karsinogenik dinyatakan dalam notasi Excess Cancer Risk (ECR). Untuk
melakukan karakterisasi risiko untuk efek karsinogenik dilakukan perhitungan dengan mengkali
intake dengan SF. Rumus untuk menentukan ECR adalah sebagai berikut :

.Rumus 7

Keterangan
Digunakan untuk menghitung tingkat risiko pada agen risiko dengan efek karsinogenik
I (intake)
: Intake yang telah dihitung dengan rumus 3 atau rumus
SF (slope factor)
: Nilai referensi agen risiko dengan efek karsinogenik.
Didapat dari situs www.epa.gov/iris.

I - 23

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Interpretasi tingkat risiko karsinogenik
Tingkat risiko dinyatakan dalam bilangan exponen tanpa satuan (cth. 1,3E-4). Tingkat risiko
dikatakan acceptable atau aman bilamana ECR E-4 (10-4) atau dinyatakan dengan ECR 1/10.000.
Tingkat risiko dikatakan unacceptable atau tidak aman bilamana ECR > E-4 (10-4) atau dinyatakan
dengan ECR > 1/10.000.
Contoh : ECR = 1,3E-5 (1,3 x 10-5) dapat diinterpretasikan sebagai berikut : terdapat 1,3 kasus
dalam 100.000 orang yang dapat berkembang menjadi kasus kanker atau terdapat 1,3 orang
yang berisiko terkena kanker pada 100.000 orang populasi.
Narasi yang digunakan dalam risiko karsinogenik harus memuat sebagai berikut :
- Pernyataan risiko [ acceptable atau unacceptable (aman atau tidak aman)
- Jalur pajanan (dasar perhitungan) [ inhalasi atau ingesti
- Konsentrasi agen risiko (dasar perhitungan) [ mis. 0,00008 g/m3, 0,02 mg/l, dll
- Populasi yang berisiko [ mis. pekerja tambang, masyarakat di sekitar jalan tol, dll
- Kelompok umur populasi (dasar perhitungan) [ dewasa atau anak anak'
- Berat badan populasi (dasar perhitungan) [ mis. 15 kg, 55 kg, 65 kg, 70 kg, dll
- Frekuensi pajanan (dasar perhitungan) [ mis. 350 hari/tahun, 250 hari/tahun, dll
- Durasi pajanan (dasar perhitungan) [ mis. ....yang terpajan selama 10 tahun, 30 tahun, dll
- Risiko kanker [ mis. terdapat 1,3 kasus dalam 100.000 orang yang dapat berkembang menjadi
kasus kanker atau terdapat 1,3 orang yang berisiko terkena kanker pada 100.000 orang
populasi.
Contoh : Tingkat risiko
ECR untuk pajanan benzene (inhalasi) sebesar 0,3 g/m3 pada pekerja depo penampungan BBM di
Jakarta dengan berat badan rata - rata 60 kg dan telah terpajan 250 hari/tahun selama 10 tahun
diketahui sebesar 4,56E-4

I - 24

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012

MODUL II
MANAJEMEN RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN
Materi Sub Bahasan : Definisi dan Pengertian Manajemen Risiko Kesehatan Lingkungan
Manajemen risiko adalah proses mengidentifikasi, evaluasi, penyeleksian, dan melakukan
upaya untuk mengurangi risiko terhadap ekosistem dan kesehatan manusia (Omenn GS., et al, 1997).
Setelah melakukan keempat langkah ARKL di atas maka telah dapt diketahui apakah suatu agen
risiko aman/dapat diterima atau tidak. Manajemen risiko bukan termasuk langkah ARKL
melainkan tindak lanjut yang harus dilakukan bilamana hasil karakterisasi risiko menunjukkan
tingkat risiko yang tidak aman ataupun unacceptable. Dalam melakukan manajemen risiko perlu
dibedakan antara strategi manajemen risiko dengan cara manajemen risiko. Strategi manajemen
risiko meliputi penentuan batas aman yaitu
1. Konsentrasi agen risiko (C), dan/atau
2. Jumlah konsumsi (R), dan/atau
3. Waktu pajanan (tE), dan/atau
4. Frekuensi pajanan (fE), dan/atau
5. Durasi pajanan (Dt),
Setelah batas aman ditentukan, selanjutnya perlu dilakukan penapisan alternatif
terhadap batas aman yang mana yang akan dijadikan sebagai target atau sasaran pencapaian
dalam pengelolaan risiko. Batas aman yang dipilih adalah batas aman yang lebih rasional dan
realistis untuk dicapai.
Adapun cara manajemen risiko adalah cara atau metode yang akan digunakan untuk
mencapai batas aman tersebut. Cara manajemen risiko meliputi beberapa pendekatan yaitu
pendekatan teknologi, pendekatan sosial - ekonomis, dan pendekatan institusional.
penjelasan lebih lanjut langkah langkah dalam manajemen risiko akan dijelaskan pada sub bahasan
selanjutnya.
Materi Sub Bahasan : Strategi manajemen risiko
1. Penentuan batas aman
Batas aman disini adalah batas atau nilai terendah yang menyebabkan tingkat risiko
menjadi tidak aman (tidak dapat diterima). Oleh karenannya nilai yang aman adalah nilai
di bawah batas amannya sedangkan nilai yang sama dengan batas aman tersebut
akan menyebabkan tingkat risiko menjadi tidak aman. Sebagai contoh jika hasil
perhitungan menunjukkan konsentrasi aman adalah 4,499 g/m3 maka nilai konsentrasi
yang benar benar aman adalah di bawah 4,499 g/m3 (<4,499 g/m3) 4,498 g/m3.
a) Penentuan konsentrasi aman (C)
Dalam penentuan konsentrasi aman semua variabel dan nilai yang digunakan
sama dengan variabel dan nilai pada perhitungan intake. Akan tetapi nilai intake
yang digunakan adalah RfD atau RfC agen risikonya.
Sedangkan konsentrasi aman pada intake karsinogenik, perhitungan didasarkan
pada nilai acceptable sebesar 10-4 dibagi nilai SF nya. Selain itu, variabel tavg
disesuaikan dengan perhitungan karsinogenik yaitu (70 hari/tahun x 365 hari). Untuk
menghitung konsentrasi aman digunakan rumus sebagai berikut :
II - 1

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Konsentrasi aman non karsinogenik
Konsentrasi aman non karsinogenik (inhalasi)

..................Rumus 8

Konsentrasi aman non karsinogenik (ingestii)

.................Rumus 9

Konsentrasi aman karsinogenik


Konsentrasi aman karsinogenik (inhalasi)

( .

...........Rumus 10

Konsentrasi aman karsinogenik (ingesti)

( .

............Rumus 11

Keterangan

II - 2

Notasi
C(aman) (Concentration)

Arti Notasi
: Konsentrasi agen risiko pada udara ambien atau pada
air bersih/minum atau pada makanan yang aman.

RfC atau reference


concentration
RfD atau reference dose
SF atau slope factor

Nilai kuantitatif atau konsentrasi suatu agen risiko


yang dijadikan referensi untuk nilai yang aman bagi
tubuh.
Nilai kuantitatif atau dosis suatu agen risiko
yang dijadikan referensi untuk nilai yang aman bagi
tubuh.
Nilai kuantitatif suatu agen risiko karsinogenik
yang dijadikan referensi untuk nilai yang aman bagi
tubuh dari efek karsinogenik.

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Notasi

Arti Notasi
: Laju asupan :
Volume udara yang masuk tubuh (m3) setiap
jamnya
Volume air minum yang masuk tubuh (liter) setiap
harinya
Volume makanan yang masuk tubuh (gram)
setiap harinya

R (Rate)

tE atau time of exposure : Lamanya atau jumlah jam terjadinya pajanan setiap
harinya
(rumus 8)
fE (frecuency of exposure)

: Lamanya atau
setiap tahunnya

jumlah

hari

terjadinya

pajanan

Dt (duration time)

: Lamanya atau jumlah tahun terjadinya pajanan

Wb (weight of body)

: Berat badan manusia / populasi / kelompok populasi

tavg (time average)

: Untuk agen risiko dengan efek non karsinogenik :


Periode

b) Penentuan jumlah konsumsi aman (R)


Laju asupan yang dapat dikelola hanyalah pada pada pajanan melalui makanan
dan air minum (ingesti) karena masih banyak substitusi untuk setiap jenis makanan
ataupun air minum. Untuk pajanan melalui udara (inhalasi) pembatasan laju inhalasi
hampir tidak mungkin dilakukan. Untuk menghitung jumlah konsumsi aman
digunakan rumus sebagai berikut :
Laju konsumsi aman non karsinogenik (ingesti)

..................Rumus 12

Laju konsumsi aman karsinogenik (ingesti)

II - 3

( .

...............Rumus 13

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Keterangan
Notasi

Arti Notasi
: Laju konsumsi atau banyaknya volume makanan
(gram) atau volume air (liter) yang masuk tubuh setiap
harinya yang aman.

R(aman)

RfD atau reference dose


SF atau slope factor

C (Concentration)

: Konsentrasi agen risiko pada makanan atau air.

fE (frecuency of exposure)

: Lamanya atau
setiap tahunnya

Dt (duration time)

: Lamanya atau jumlah tahun terjadinya pajanan

Wb (weight of body)

: Berat badan manusia / populasi / kelompok populasi

tavg (time average)

Nilai kuantitatif atau dosis suatu agen risiko


yang dijadikan referensi untuk nilai yang aman bagi
tubuh.
Nilai kuantitatif suatu agen risiko karsinogenik
yang dijadikan referensi untuk nilai yang aman bagi
tubuh dari efek karsinogenik.
jumlah

hari

terjadinya

pajanan

Untuk agen risiko dengan efek non karsinogenik :


Periode waktu rata rata untuk efek non
karsinogenik
Untuk agen risiko dengan efek karsinogenik :
Periode waktu rata rata untuk efek karsinogenik

c) Penentuan waktu pajanan aman (tE)


Waktu pajanan aman dapat dikelola bila pemajanan terjadi pada lingkungan
kerja ataupun lingkungan pendidikan yang tidak permanen seperti pada lingkungan
tempat tinggal (pemukiman). Pengelolaan waktu pajanan dilakukan dengan mengurangi
jumlah jam terpapar setiap harinya, oleh karenanya hanya dapat dilakukan pada
populasi pekerja maupun siswa bukan pada populasi penduduk (masyarakat).
Penerapannya dilakukan untuk pemajanan inhalasi, sedangkan untuk pemajanan
ingesti (melalui makanan atau air minum) cukup dilakukan dengan pembatasan jumlah
konsumsi saja.
Untuk menghitung waktu pajanan aman digunakan rumus sebagai berikut :
Waktu pajanan aman non karsinogenik (inhalasi)

II - 4

................Rumus 14

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012

Waktu pajanan aman karsinogenik (inhalasi)

( .

.........Rumus 15

Keterangan
t(aman)

Notasi

Arti Notasi
: Lamanya atau jumlah jam terjadinya pajanan setiap
harinya yang aman

R (Rate)

: Volume udara yang masuk tubuh (m3) setiap jamnya

RfC atau reference


concentration
SF atau slope factor

C (Concentration)

: Konsentrasi agen risiko pada makanan atau air.

fE (frecuency of exposure)

: Lamanya atau
setiap tahunnya

Dt (duration time)

: Lamanya atau jumlah tahun terjadinya pajanan

Wb (weight of body)

: Berat badan manusia / populasi / kelompok populasi

tavg (time average)

Nilai kuantitatif atau konsentrasi suatu agen risiko


yang dijadikan referensi untuk nilai yang aman bagi
tubuh.
Nilai kuantitatif suatu agen risiko karsinogenik
yang dijadikan referensi untuk nilai yang aman bagi
tubuh dari efek karsinogenik.

jumlah

hari

terjadinya

pajanan

Untuk agen risiko dengan efek non karsinogenik :


Periode waktu rata rata untuk efek non
karsinogenik
Untuk agen risiko dengan efek karsinogenik :
Periode waktu rata rata untuk efek karsinogenik

d) Penentuan frekuensi pajanan aman (fE)


Frekuensi pajanan aman dapat dikelola bila pemajanan terjadi pada lingkungan
kerja ataupun lingkungan pendidikan yang tidak permanen seperti pada lingkungan
tempat tinggal (pemukiman). Pengelolaan frekuensi pajanan dilakukan dengan
mengurangi jumlah hari terpapar dalam satu tahun, oleh karenanya hanya dapat
dilakukan pada populasi pekerja maupun siswa bukan pada populasi penduduk
(masyarakat). Penerapannya dilakukan untuk pemajanan inhalasi, sedangkan untuk
pemajanan ingesti (melalui makanan atau air minum) cukup dilakukan dengan
pembatasan jumlah konsumsi saja. Untuk menghitung frekuensi pajanan aman
digunakan rumus sebagai berikut :
Frekuensi pajanan aman non karsinogenik (inhalasi)

II - 5

...............Rumus 16

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012

Frekuensi pajanan aman karsinogenik (inhalasi)

( .

..............Rumus 17

Keterangan
Notasi
Arti Notasi
fE(aman) (frecuency of exposure) : Lamanya atau jumlah hari
setiap tahunnya yang aman

terjadinya

pajanan

R (Rate)

: Volume udara yang masuk tubuh (m3) setiap jamnya

RfC atau reference


concentration
RfD atau reference dose
SF atau slope factor

C (Concentration)

: Konsentrasi agen risiko pada makanan atau air.

fE (frecuency of exposure)

: Lamanya atau
setiap tahunnya

Dt (duration time)

: Lamanya atau jumlah tahun terjadinya pajanan

Wb (weight of body)

: Berat badan manusia / populasi / kelompok populasi

tavg (time average)

Nilai kuantitatif atau konsentrasi suatu agen risiko


yang dijadikan referensi untuk nilai yang aman bagi
tubuh.
Nilai kuantitatif atau dosis suatu agen risiko
yang dijadikan referensi untuk nilai yang aman bagi
tubuh.
Nilai kuantitatif suatu agen risiko karsinogenik
yang dijadikan referensi untuk nilai yang aman bagi
tubuh dari efek karsinogenik.

jumlah

hari

terjadinya

pajanan

Untuk agen risiko dengan efek non karsinogenik :


Periode waktu rata rata untuk efek non
karsinogenik
Untuk agen risiko dengan efek karsinogenik :
Periode waktu rata rata untuk efek karsinogenik

e) Penentuan durasi pajanan aman (Dt)


Durasi pajanan aman dikelola pada pemajanan inhalasi pada lingkungan
yang permanen seperti pada lingkungan tempat tinggal (pemukiman). Pengelolaan durasi
pajanan dilakukan dengan membatasi lamanya tinggal (tahun) masyarakat pada suatu
pemukiman dengan cara melakukan relokasi pemukiman pada saat telah melewati
batas durasi amannya. Penerapan strategi durasi pajanan aman untuk pemajanan
ingesti (melalui makanan atau air minum) kurang tepat karena pada pemajanan ingesti
manajemen risiko cukup dilakukan dengan pembatasan jumlah konsumsi saja. Untuk
menghitung durasi pajanan aman digunakan rumus sebagai berikut :
Durasi pajanan aman non karsinogenik (inhalasi)

II - 6

.......................Rumus 18

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Durasi pajanan aman karsinogenik (inhalasi)

( .

....................Rumus 19

Keterangan
Notasi
Dt (aman) (duration time)

Arti Notasi
: Lamanya atau jumlah tahun terjadinya pajanan yang
aman

R (Rate)

: Volume udara yang masuk tubuh (m3) setiap jamnya

RfC atau reference


concentration
SF atau slope factor

C (Concentration)

: Konsentrasi agen risiko pada makanan atau air.

fE (frecuency of exposure)

: Lamanya atau
setiap tahunnya

tE

Nilai kuantitatif atau konsentrasi suatu agen risiko


yang dijadikan referensi untuk nilai yang aman bagi
tubuh.
Nilai kuantitatif suatu agen risiko karsinogenik
yang dijadikan referensi untuk nilai yang aman bagi
tubuh dari efek karsinogenik.

jumlah

hari

terjadinya

pajanan

atau time of exposure : Lamanya atau jumlah jam terjadinya pajanan setiap
harinya

Wb (weight of body)

: Berat badan manusia / populasi / kelompok populasi

tavg (time average)

Untuk agen risiko dengan efek non karsinogenik :


Periode waktu rata rata untuk efek non
karsinogenik
Untuk agen risiko dengan efek karsinogenik :
Periode waktu rata rata untuk efek karsinogenik

2. Penapisan alternatif (pemilihan skenario) manajemen risiko


Penapisan alternatif manajemen risiko harus didasarkan pada pertimbangan logis
dan turut mempertimbangkan berbagai faktor termasuk cara pengelolaan risikonya.
Penapisan alternatif (pemilihan skenario) manajemen risiko dapat dilihat pada tabel 10 di
bawah ini

Tabel 10 Alternatif manajemen risiko dan penggunaannya


Alternatif Pengelolaan
Penggunaan
Risiko
Pada lingkungan khusus
Pada lingkungan permanen
(tempat kerja, sekolah, dll)
(pemukiman)
Ingesti
Inhalasi
Ingesti
Inhalasi
Air
Makanan Udara
Air
Makanan Udara

Penurunan konsentrasi
hingga ke batas aman
(konsentrasi aman)

II - 7

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Alternatif Pengelolaan
Risiko

Pengurangan konsumsi
hingga ke batas aman
(jumlah konsumsi aman)

Penggunaan
Pada lingkungan khusus
Pada lingkungan permanen
(tempat kerja, sekolah, dll)
(pemukiman)
Ingesti
Inhalasi
Ingesti
Inhalasi
Air
Makanan Udara
Air
Makanan Udara

Pembatasan waktu pajanan


hingga ke batas aman
(waktui pajanan aman)
Pembatasan frekuensi
pajanan hingga ke batas
aman (frekuensi pajanan
aman)

Pembatasan durasi pajanan


hingga ke batas aman
(durasi pajanan aman)

Materi Sub Bahasan : Cara manajemen risiko


Manajemen risiko selain membutuhkan strategi yang tepat juga harus dilakukan dengan
cara atau metode yang tepat. Dalam aplikasinya cara manajemen risiko dapat dilakukan melalui 3
pendekatan yaitu :
1) Pendekatan teknologi
Manajemen risiko menggunakan teknologi yang tersedia meliputi penggunaan alat, bahan, dan
metode, serta teknik te r te ntu . Contoh manajemen risiko dengan pendekatan teknologi antara
lain : penerapan penggunaan IPAL, pengolahan / penyaringan air, modifikasi cerobong
asap, penanaman tanaman penyerap polutan, dll.
2) Pendekatan sosial - ekonomis
Manajemen risiko menggunakan pendekatan sosial - ekonomis meliputi pelibat-sertaan pihak
lain, efisiensi proses, substitusi, dan penerapan sistem kompensasi. Contoh manajemen
risiko dengan pendekatan sosial ekonomis antara lain : 3R (reduce, reuse, dan recycle)
limbah, pemberdayaan masyarakat yang berisiko, pemberian kompensasi pada masyarakat
yang terkena dampak, permohonan bantuan pemerintah akibat keterbatasan pemrakarsa
(pihak yang bertanggung jawab mengelola risiko), dll
3) Pendekatan institusional
Manajemen risiko dengan menempuh jalur dan mekanisme kelembagaan dengan cara
melakukan kerjasama dengan pihak lain. Contoh manajemen risiko dengan pendekatan
institusional antara lain : kerjasama dalam pengolahan limbah B3, mendukung pengawasan yang
dilakukan oleh pemerintah, menyampaikan laporan kepada instansi yang berwenang, dll.

II - 8

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012

MODUL III
SURVEILANS FAKTOR RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN
Materi Sub Bahasan : Definisi dan Pengertian Surveilans Faktor Risiko Kesehatan Lingkungan
Surveilans oleh World Health Organization (WHO) didefinisikan sebagai kegiatan
berkesinambungan dan sistematis, meliputi pengumpulan, analisis, dan interpretasi data kesehatan
masyarakat yang dibutuhkan dalam perencanaan, implementasi, dan evaluasi upaya kesehatan
masyarakat. Surveilans yang dilakukan diharapkan dapat
Menjadi sistem kewaspadaan dini terhadap kedaruratan kesehatan masyarakat di masa yang
akan datang;
Mendokumentasikan dampak dari suatu intervensi, atau jejak dari kemajuan program dalam
mencapai tujuan tertentu; dan
Memonitor dan mengklarifikasi masalah kesehatan secara epidemiologi guna menetapkan
priritas dan menginformasikan kebijakan dan strategi kesehatan ke publik.
Faktor risiko dalam dunia kesehatan dan epidemiologi biasa didefinisikan sebagai faktorfaktor atau kondisi yang mendahului dan mampu meningkatkan risiko atau kemungkinan seseorang
atau masyarakat menjadi sakit. Faktor risiko tersebut umumnya dapat dikatagorikan menjadi
beberapa jenis yaitu faktor risiko genetis, faktor risiko perilaku, dan faktor risiko lingkungan.
Dari kedua definisi di atas maka surveilans faktor risiko kesehatan lingkungan adalah
kegiatan berkesinambungan dan sistematis, meliputi pengumpulan, analisis, dan interpretasi data
faktor-faktor atau kondisi lingkungan yang mendahului dan mampu meningkatkan risiko atau
kemungkinan seseorang atau masyarakat menjadi sakit, yang dibutuhkan dalam perencanaan,
implementasi, dan evaluasi upaya kesehatan lingkungan. Untuk itu ada beberapa hal yang menjadi
kata kunci dari surveilans faktor risiko kesehatan lingkungan yaitu sistematis dan berkesinambungan,
pengumpulan, analisis, dan interpretasi data, faktor lingkungan yang dapat menyebabkan sakit, dan
upaya kesehatan lingkungan.

Materi Sub Bahasan : Konsep dan Penerapan Surveilans Faktor Risiko Kesehatan Lingkungan
Penyakit dan masalah kesehatan masyarakat erat terhubung dengan faktor atau kondisi
lingkungan. Oleh karenanya, secara naluriah setiap manusia menginginkan lingkungan yang sehat
dan nyaman sebagai tempat tinggalnya yang juga kondusif terhadap kondisi kesehatannya. Untuk
mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, perlu upaya kesehatan yang
bersifat promotif dan preventif yang salah satunya ditempuh melalui kegiatan penyehatan
lingkungan (kesehatan lingkungan). Dalam rangka mewujudkan kondisi lingkungan sesuai dengan
yang diharapkan, upaya yang dilakukan haruslah tepat guna, tepat sasaran, sistematis, dan
terencana dengan baik, serta berbasis bukti (evidence based). Sehingga perumusan upaya kesehatan
lingkungan yang akan diterapkan harus didukung dengan surveilans faktor risiko kesehatan
lingkungan yang baik.
Filosofi dari surveilans faktor risiko kesehatan lingkungan adalah melakukan pengamatan
dan pengawasan terus-menerus terhadap kondisi lingkungan yang diperkirakan dapat menyebabkan
penyakit pada manusia. Hasil dari kegiatan surveilans faktor risiko kesehatan lingkungan adalah
berupa informasi mengenai apakah faktor atau kondisi lingkungan tertentu yang diamati berisiko
menimbulkan kesakitan, dan rekomendasi upaya tidak lanjut yang dibutuhkan untuk
mengendalikannya. Konsep dari surveilans faktor risiko kesehatan lingkungan dapat dipahami dari
gambar 6.

III - 1

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012

(sumber : Mullan N., et al, 2008)


Gambar 6. Konsep Surveilans Awal dan Lanjutan dalam Kesehatan Lingkungan
Konsep di atas diadaptasi dari versi model surveilans kesehatan yang diterapkan di Kanada.
Dalam prakteknya surveilans kesehatan lingkungan dilakukan dalam dua tahapan, dimana
pengumpulan data hingga desiminasi diklasifikasikan sebagai surveilans awal, dan sintesa
pengetahuan dan proses perumusan kebijakan yang merupakan input dari stakeholder dan peneliti
sebagai surveilans lanjutan. Surveilans awal dilakukan melalui kegiatan pengumpulan data rutin
(menggunakan form yang telah dibakukan pada masing-masing Negara), sedangkan analisis dan
interpretasi dari basis data yang umumnya digunakan untuk tujuan monitoring ataupun pembuatan
regulasi. Selanjutnya, surveilans lanjutan dirumuskan dari hasil surveilans awal, dikombinasikan
dengan masukan dari para peneliti dan stakeholder yang concern (peduli) terhadap masalah
kesehatan lingkungan, guna memberikan pemahaman / pengertian yang baik terhadap isu yang
berkembang, serta dapat dirumuskan keputusan upaya tindak lanjut yang tepat untuk merespon isu
tersebut.
Surveilans faktor risiko kesehatan lingkungan bukan merupakan hal yang baru. Konsep
surveilans faktor risiko kesehatan lingkungan telah dilaksanakan sejak lama oleh sektor kesehatan
mulai dari unit yang paling bawah seperti puskesmas hingga tingkat kementerian. Namun sedikit
perbedaan dalam istilah dan nama yang digunakan membuat konsep surveilans faktor risiko
kesehatan lingkungan terkesan suatu terobosan baru. Di unit puskesmas dan dinas kesehatan
kabupaten / kota, pelaksanaan kegiatan ini identik dengan kegiatan inspeksi sanitasi. Inspeksi
sanitasi yang dilakukan di puskesmas maupun dinas kesehatan dilakukan pada obyek kesehatan
lingkungan secara periodik (time series) dengan fokus pada faktor risiko kesehatan lingkungan pada
obyek tersebut. Sebagai contoh, inspeksi sanitasi depot air minum dilakukan oleh puskesmas atau
dinas kesehatan kabupaten / kota secara rutin (minimal setahun sekali) dengan melakukan observasi
kesehatan lingkungan, wawancara terkait perilaku dalam penanganan depot air minum, dan
III - 2

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
pemeriksaan laboratorium kualitas air baku (air bersih) dan air olahan (air minum). Data hasil
inspeksi sanitasi pada satu lokasi depot air minum yang sama dalam beberapa periode inspeksi,
merupakan basis data (database) yang dapat diinterpretasi, dianalisis baik secara tunggal (hanya
data satu depot tersebut) ataupun bersamaan dengan data inspeksi depot air minum yang lain, dan
didesiminasikan. Selanjutnya hasil desiminasi tersebut dapat ditindaklanjuti dengan melakukan
upaya diantaranya, pembinaan, pelatihan, dan lain sebagainya.
Materi Sub Bahasan : Desain dan Metodologi Surveilans Faktor Risiko Kesehatan Lingkungan
Surveilans faktor risiko kesehatan lingkungan merupakan suatu studi yang dapat dilakukan
dengan desain cross sectional, kasus kontrol, ataupun kohort. Sebagai suatu studi yang masuk ke
dalam ranah epidemiologi kesehatan lingkungan, surveilans faktor risiko kesehatan lingkungan selain
melihat kecenderungan data juga digunakan untuk melihat adanya hubungan antara pajanan
lingkungan dan dampak kesehatan (penyakit). Oleh karenanya, dalam surveilans faktor risiko
kesehatan lingkungan diperlukan data-data sebagai berikut :
1. Data geografis wilayah : dilakukan dengan menggunakan GPS untuk penentuan koordinat
lokasi dilakukan pengambilan sampel / pengumpulan data.
2. Data faktor risiko lingkungan : meliputi data kualitas lingkungan (pengambilan dan
pemeriksaan sampel), data kondisi lingkungan / sanitasi yang dikumpulkan melalui observasi
(pengisian cek lis) dan wawancara. Sebagai contoh, dalam melakukan surveilans faktor risiko
kesehatan lingkungan pemukiman yang dikaitkan dengan penyakit ISPA, dbutuhkan data
kualitas udara dalam ruang yang dilakukan dengan pengukuran, dan data berkaitan dengan
jenis lantai, ventilasi, bahan bakar memasak, dan lain sebagainya.
3. Data faktor risiko lingkungan : meliputi data perilaku sampel (responden) yang juga
merupakan faktor risiko dari penyakit berbasis lingkungan yang menjadi perhatian. Sebagai
contoh, dalam melakukan surveilans faktor risiko kesehatan lingkungan pemukiman yang
dikaitkan dengan penyakit ISPA, selain data kualitas udara dalam ruang, dan ventilasi, perlu
dikumpulkan data terkait dengan kebiasaan membuka jendela.
4. Data pajanan : meliputi data lama tinggal, pola aktivitas, pekerjaan, data konsumsi makanan
dan air, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, dalam melakukan surveilans faktor risiko
kesehatan lingkungan pemukiman yang dikaitkan dengan penyakit ISPA, dibutuhkan data lama
tinggal, dan rata-rata lama berada di dalam rumah.
Sebagai suatu studi, surveilans faktor risiko kesehatan lingkungan dilakukan dengan desain
tertentu yang disesuaikan dengan tujuan, permasalahan yang akan dikaji, dan faktor-faktor lainnya.
Sebagaimana dijelaskan di atas surveilans faktor risiko kesehatan lingkungan dapat dilakukan dengan
menggunakan desain cross sectional, kasus kontrol, dan kohort. Penggunaan desain studi pada
surveilans faktor risiko kesehatan lingkungan seperti pada tabel 11.
Tabel 11. Perbandingan Desain Studi
Kriteria
Desain pemilihan
sampel (sampling)

Waktu / periode
pelaksanaan (arah
pengusutan)
Kausalitas
III - 3

Cross Sectional
Random. Bisa juga
dipisah fixed disease
sampling atau fixed
exposure sampling
Satu titik waktu atau
sesaat (non directional)

Kasus Kontrol
Sampel terpisah untuk
kasus (sakit) dan
kontrol (tidak sakit)

Kohort
Sampel terpisah untuk
terpajan dan tidak
terpajan

Retrospektif

Hanya menjelaskan

Kausalitas awal

Prospektif / Followup
selama periode waktu
tertentu
Kausalitas dengan
Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Kriteria

Ukuran risiko
Perbandingan risiko

Cross Sectional
hubungan antara
faktor risiko kesehatan
lingkungan dengan
penyakit (namun
bukan bersifat
kausalitas)
Prevalensi (P) sebagai
pengganti risiko
Prevalence Ratio (PR)

Kasus Kontrol

Odds sebagai
pengganti risiko
Odds Ratio (OR)

Kohort
bukti sekuensi
temporal

Insidensi (R, Risiko),


Insidence rate
Risiko Relatif (RR)

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa surveilans faktor risiko kesehatan lingkungan
lebih tepat menggunakan desain cross sectional dikarenakan dalam pemilihan sampling dilakukan
secara random dan pengumpulan data lingkungan dan penyakit dilakukan pada satu waktu. Output
dari surveilans faktor risiko kesehatan lingkungan dengan desain cross sectional adalah hubungan
(bukan kausalitas) antara faktor lingkungan dan penyakit. Surveilans faktor risiko kesehatan
lingkungan bisa dilakukan dengan desain kasus kontrol bilamana titik tolak studi (pengusutan)
dimulai dari adanya penyakit dan sampel dikelompokkan menjadi kasus (sampel yang menderita
penyakit) dan kontrol (sehat), dan data faktor lingkungan sebelum kasus sakit tersedia. Selain itu,
surveilans faktor risiko kesehatan lingkungan dapat menggunakan desain studi kohort (prospektif)
dengan memantau secara terus menerus (hingga periode tertentu) kualitas lingkungan dan faktor
lingkungan lainnya bersamaan dengan penyakitnya.
Materi Sub Bahasan : Tahapan Kegiatan Surveilans Faktor Risiko Kesehatan Lingkungan
Tahapan kegiatan surveilans faktor risiko kesehatan lingkungan seyogyanya terdiri dari
survey pendahuluan dan pengumpulan data awal, penyusunan instrumen, survey, pengambilan dan
pemeriksaan sampel, pengolahan dan analisis data, dan diseminasi. Tahapan kegiatan tersebut
dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Survey pendahuluan dan pengumpulan data awal : pengumpulan data awal dimaksudkan
untuk mengetahui gambaran awal pada lokasi meliputi background data yang telah tersedia
atau data lainnya yang berhubungan. Pada tahapan ini , dilakukan pengumpulan data
sekunder, dan juga perlu ditentukan lokasi yang akan menjadi titik pengambilan sampel.
2. Penyusunan instrumen : berdasarkan data awal yang dikumpulkan, disusun instrumen untuk
survey, pengambilan dan pemeriksaan sampel. Instrumen disusun berbentuk cek lis dan/atau
kuisioner. Untuk mendapatkan data sesuai yang diharapkan, instrumen yang telah dibuat
sebaiknya diuji coba terlebih dahulu.
3. Survey, pengambilan dan pemeriksaan sampel : pada tahapan ini dilakukan pengumpulan
data primer dan pengumpulan data menggunakan instrumen yang digunakan.
4. Pengolahan dan analisis data : data yang telah terkumpul dilakukan pengolahan dan analisis
yang dapat dilakukan secara manual ataupun alat bantu lainnya (mis. software pengolah
data). Setelah dilakukan pengolahan dan analisis data, informasi disajikan dalam bentuk tabel,
grafik, gambar, dan peta yang terangkum dalam laporan.
5. Diseminasi : dimaksudkan untuk menyebarluaskan informasi dan temuan lapangan kepada
para stakeholder.

III - 4

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012

MODUL IV
ANALISIS KUALITAS KESEHATAN LINGKUNGAN
Materi Sub Bahasan : Prinsip Dasar Analisis Kualitas Kesehatan Lingkungan
Analisis adalah kajian atau penelitian yang dititikberatkan pada variabel tertentu untuk
mengetahui keadaan atau kondisi sebenarnya, termasuk juga yang berkaitan dengan sebab musabab
terjadinya kondisi tersebut. Dengan demikian, analisis kualitas lingkungan merupakan suatu kegiatan
yang menggunakan cara atau metode ilmiah guna mengetahui seperti apa kondisi atau kualitas
kesehatan lingkungan pada suatu tempat, waktu yang melibatkan juga masyarakat di tempat
tersebut. Umumnya analisis kualitas kesehatan lingkungan dilakukan dalam bentuk kegiatan
pengambilan dan pemeriksaan sampel, pengawasan kualitas kesehatan lingkungan melalui kegiatan
observasi, assessment, ataupun inspeksi sanitasi, serta interpretasi hasil, pengolahan data, analisis
hasil pemeriksaan sampel, dan penarikan kesimpulan.
Analisis kualitas kesehatan lingkungan merupakan kegiatan yang harus mampu dilakukan
oleh seorang pejabat kesehatan lingkungan ataupun fungsional sanitarian. Perlunya dilakukan
analisis ini adalah untuk menjadi bahan masukan ataupun dasar untuk melakukan manajemen risiko
kesehatan lingkungan. Implementasi dari manajemen risiko kesehatan lingkungan ini bisa dalam
bentuk intervensi (pendekatan) teknologi, pendekatan sosial melalui kegiatan-kegiatan yang
melibatkan masyarakat secara aktif, dan melalui kerjasama / jejaring / kemitraan antar pihak yang
berkepentingan (stakeholder).
Materi analisis kualitas kesehatan lingkungan dalam modul ini dimaksudkan untuk memberi
pemahaman dan juga keterampilan bagi peserta dalam menilai prosedur pengambilan dan
pemeriksaan sampel, serta interpretasi hasil pemeriksaan sampel yang dilakukan dalam rangka
analisis risiko kesehatan lingkungan. Materi dalam modul ini, bukan dimaksudkan agar peserta
mampu melakukan pengambilan sampel dan pemeriksaan sampel kesehatan lingkungan sendiri
tanpa berkerjasama dengan laboratorium.
Materi Sub Bahasan : Pengambilan dan Pemeriksaan Sampel Kesehatan Lingkungan
Pengambilan sampel kesehatan lingkungan hakikatnya dilakukan untuk memotret atau
menjadi acuan untuk menduga kualitas kesehatan lingkungan pada suatu media di suatu wilayah.
Secara garis besar, pengambilan sampel bertujuan untuk mengumpulkan data rona awal kesehatan
lingkungan dan memantau kondisi kesehatan lingkungan. Dalam hal memantau kesehatan
lingkungan, pengambilan sampel dilakukan untuk menentukan status kualitas kesehatan lingkungan,
menentukan kebijakan kesehatan lingkungan, menegakkan hukum kesehatan dan lingkungan, dan
melakukan penelitian kesehatan lingkungan.
Kualitas kesehatan lingkungan merupakan hal yang kompleks dan begitu dinamis karena
dipengaruhi begitu banyak variabel/faktor. Untuk itu, pengambilan sampel l kesehatan ingkungan
yang bertujuan untuk mengetahui kualitas lingkungan harus dilakukan dengan cermat, tepat, serta
butuh perencanaan dan pengorganisasian yang baik. Untuk menjamin pengambilan sampel dapat
menjamin keterwakilan kualitas kesehatan lingkungan perlu diperhatikan beberapa aspek yaitu
lokasi dan titik pengambilan sampel, parameter kualitas lingkungan yang akan dipilih, serta ukuran,
jumlah, dan volume sampel yang akan diambil.
Perencanaan Pengambilan Sampel
Seperti halnya kegiatan dan program, pengambilan sampel sesuai dengan yang diharapkan
perlu direncanakan dengan baik. Perencanaan pengambilan sampel ini bertujuan untuk memastikan
dan menegaskan kembali tujuan pengambilan sampel kesehatan lingkungan, memutuskan cara-cara
IV - 1

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
mencapai tujuan, mengetahui secara tepat hal-hal yang perlu dilakukan pada saat pengambilan
sampel, menyiapkan sumber daya yang diperlukan, dan menghindari kesalahan-kesalahan yang
mungkin terjadi pada saat pengambilan sampel. Jelasnya, unsur-unsur perencanaan pengambilan
sampel meliputi :
a) Tujuan pengambilan sampel harus dipastikan apakah dalam rangka pengumpulan data rona
kesehatan lingkungan awal atau dalam rangka memantau kesehatan lingkungan.
b) Merencanakan biaya pengambilan sampel dengan mempertimbangkan empat hal yaitu
aksesibilitas lokasi dan titik pengambilan sampel, jumlah, jenis, dan kompleksitas sampel,
frekuensi pengambilan sampel, serta penjaminan dan pengendalian mutu di lapangan. Selain
empat hal yang perlu dipertimbangkan tersebut, perlu diketahui komponen pembiayaan
dalam pengambilan sampel yaitu depresiasi (penyusutan) nilai peralatan, kalibrasi peralatan,
pemakaian bahan pengawet secara kimia dan/atau fisika, penggunaan bahan habis pakai,
penggunaan wadah sampel, transportasi ke lokasi pengambilan sampel, akomodasi (bila
perlu), honor pengambil sampel (lumpsum atau per diem), dan penyusunan laporan
pengambilan sampel.
c) Administrasi berkaitan dengan pengambilan sampel yang meliputi penyiapan surat tugas,
surat pemberitahuan, perizinan, brevet ataupun lencana kewenangan, pencatatan,
pendokumentasian, dan hal-hal pendukung lainnya.
d) Perlu jaminan pengambil sampel pada saat pengambilan sampel merupakan personel yang
kompeten dan/atau berwenang dengan kualifikasi (kompetensi) latar belakang pendidikan
yang sesuai, pengalaman di bidangnya, terampil, dan diakui ataupun tersertifikasi.
e) Penentuan parameter pengujian terhadap sampel yang diambil sesuai dengan tujuan
pengambilan sampel, turut mempertimbangkan peraturan perundangan yang terkait, serta
disesuaikan dengan parameter indikatif suatu kegiatan atau wilayah tertentu. Mis.
parameter indikatif pada industri Pulp dan kertas adalah pH, BOD, COD, dan TSS, sedangkan
pada wilayah pertambangan emas parameter yang diambil adalah air raksa (Hg) dan sianida
(CN-).
f) Penentuan media lingkungan yang akan dilakukan pengambilan sampel.
g) Merencanakan tipe sampel yang akan diambil apakah sampel sesaat (grab sample), sampel
gabungan (composite sample), sampel terpadu (integrated sample), atau sampel kontinyu
(continous sample).
h) Peralatan pengambilan sampel harus direncanakan dengan baik. Peralatan pengambilan
sampel terdiri dari peralatan pengambil sampel (utama), peralatan pendukung, dan
peralatan K3 atau APD. Peralatan pengambil sampel adalah peralatan yang fungsinya untuk
mengambil sampel lingkungan dengan parameter yang direncanakan, seperti HVAS (High
Volume Air Sampler), LVS (Low Volume Sampler), MAS (Microbiology Air Sampler), dll. Alat
pendukung adalah alat yang fungsinya mendukung pengambilan sampel seperti peralatan
pengukur parameter lapangan (pH meter, termometer, barometer, kecepatan angin,
hygrometer, dll), dokumen terkait (surat tugas, surat izin, dll), alat tulis untuk perekaman
proses pengambilan sampel, penunjuk arah (kompas) dan penunjuk lokasi (GPS), dll. APD
yang digunakan dalam pengambilan sampel meliputi sarung tangan, masker, helm, ear
plug/muff, P3K, dll.
i) Perencanaan terhadap wadah sampel yang akan digunakan untuk pengamanan dan transpor
sampel harus disesuaikan dengan karakteristik dan interaksi parameter sampel yang akan
diuji dengan sifat bahan wadah. Sebagai contoh, pengambilan sampel DO/BOD harus
menggunakan botol BOD khusus yang menggunakan tutup asah, sedangkan untuk sampel
mikrobiologi digunakan wadah steril.
j) Pengawetan sampel dilakukan sesuai dengan karakteristik parameter yang akan diuji pada
sampel mis. pengawetan sampel untuk parameter golongan logam pada air menggunakan

IV - 2

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
asam nitrat pekat (HNO3 p) hingga pH < 2, sedangkan untuk sampel sianida total pada air
diawetkan menggunakan NaOH hingga pH > 12 dan didinginkan 4oC2oC pada tempat gelap.
k) Batas penyimpanan sampel disesuaikan dengan parameter yang akan diuji dan mengacu
pada acuan standar seperti ASTM (The American Society for Testing and Materials), dll.
l) Pengamanan sampel di lapangan meliputi pengemasan, pengamanan pada label sampel
(spidol waterproof, label yang baik), informasi tambahan yang penting (titik, jenis,
parameter uji, pengawetan, waktu, dan nama pengambil sampel), sehingga mencegah
interaksi sampel dengan lingkungan yang menyebabkan perubahan kualitasnya
(kontaminasi, degradasi, dll).
m) Transportasi sampel yang juga berkaitan dengan batas penyimpanan sampel harus
diperhatikan dengan seksama. Selain itu, moda transportasi yang digunakan untuk
membawa sampel juga harus dipenuhi standar keamanannya seperti harus mematuhi
peraturan penerbangan nasional dan internasional bila sampel dibawa menggunakan
pesawat udara.
n) Penyimpanan sampel dilakukan baik secara fisik maupun kimia seperti meminimalkan
adsorbsi, pengasaman, mencegah metabolisme mikroorganisme, menghindari hidrolisis,
serta pengendapan.
Faktor kesehatan dan keselamatan kerja berkaitan dengan proses pengambilan sampel
sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Penentuan Titik Sampel
Prinsip penentuan titik sampel harus mempertimbangkan keterwakilan populasi atau
kualitas lingkungan, kemampuan peralatan, keselamatan pengambil sampel, faktor klimatologi,
biaya, dan kaidah-kaidah empiris. Prinsip-prinsip penentuan titik sampel pada media lingkungan
adalah sebagai berikut :
a) Pengambilan sampel air
a)1 Peraturan perundangan sebagai acuan
PP RI No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran
Air
PP RI No. 85 tahun 1999 tentang Perubahan Atas PP RI No. 18 tahun 1999 tentang
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 416 tahun 1990 tentang Syarat-syarat dan
Pengawasan Kualitas Air
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 492 tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air
Minum
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 736 tahun 2010 tentang Pengawasan Kualitas Air
Minum
Peraturan daerah setempat
a)2 Peralatan dan bahan yang digunakan
Wadah : jerigen, botol, botol BOD, botol steril, timba steril, coolbox, dll.
Peralatan pendukung : pH meter, termometer, sisa klor, GPS, peralatan untuk menjamin
tidak terjadi kontaminasi (krustang, kapas, alkohol), dll.
Pengawet : Asam (HNO3 p, H2SO4 p), basa (NaOH), dry ice, dll.
APD : sarung tangan, masker, jaket pelampung, dll.
a)3 Aspek yang dipertimbangkan
Kedalaman air
Homogenitas (untuk sampel air badan air)
Arah dan kecepatan aliran air (untuk sampel air badan air)
IV - 3

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Keterkaitan dengan pajanan pada masyarakat (bila digunakan untuk penelitian kesehatan
masyarakat)
Jarak antar sampel
Keselamatan dan kemampuan sumber daya
a)4 Penentuan titik sampel
Air sungai, ditentukan yaitu :
Uji homogenitas sungai dengan mengambil beberapa sampel di sepanjang lebar
sungai dan pada kedalaman tertentu lalu lakukan uji parameter lapangan (suhu, pH,
DO/oksigen terlarut, dan DHL/Daya Hantar Listrik). Apabila hasil pengujian beberapa
parameter pada beberapa sampel tersebut tidak berbeda jauh dengan variasi < 10 %
maka disebut homogen atau tercampur sementara, sehingga sampel yang diambil
untuk mewakili air sungai tersebut bisa lebih sedikit.
Pada umumnya lokasi pengambilan sampel air sungai harus meliputi : daerah hulu
yang belum terkontaminasi, daerah pemanfaatan sungai, daerah yang potensial
terkontaminasi, daerah pertemuan dua sungai, dan daerah hilir.
Air tanah
Pengambilan sampel dilakukan 20 cm dari dasar sumur gali dan dipastikan agar tidak
ada sedimen yang ikut terambil atau pada mulut kran tempat air keluar untuk sumur
bor.
Pada umumnya lokasi pengambilan sampel dilakukan pada daerah meliputi : daerah
dimana air tanah digunakan masyarakat untuk keperluan sehari-hari termasuk air
minum, dan di daerah yang berisiko terkontaminasi (dekat penimbunan/pembuangan
akhir sampah, daerah pertanian yang menggunakan pestisida secara intensif, wilayah
pesisir dimana terjadi intrusi air laut, dll)

b) Pengambilan sampel udara ambien dan udara dalam ruang


b)1 Peraturan perundangan sebagai acuan
PP RI No. 41 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup RI No. 48 tahun 1996 tentang Baku Tingkat
Kebisingan
Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 829 tahun 1999 tentang Persyaratan Kesehatan
Perumahan
Peraturan daerah setempat
b)2 Peralatan dan bahan yang digunakan
Peralatan utama : High Volume Air Sampler (HVAS), RAC Gas Sampler, EPAM, CO dan CO2
Detektor, Low Volume Sampler, Microbiology Air Sampler atau Lamotte BD Pump, dan
Sound Level Meter.
Peralatan pendukung : pengukur kecepatan angin, arah angir, termometer, hygrometer,
dan luxmeter.
Bahan yang digunakan : filter HVAS dan LVS, absorbant (So2, NO2, H2S, NH3, dan O3), dan
larutan garam (NaCl) fisiologis steril
b)3 Aspek yang dipertimbangkan
Berhubungan dengan klimatologi : arah dan kecepatan angin, bunga angin (wind rose),
kelembaban, musim, dan suhu udara
Berhubungan dengan asumsi konsentrasi parameter : inversi udara, dispersi, jarak terbang
(distance), dan ukuran partikel. Bilamana sumber pencemar adalah cerobong asap maka
ketinggian, ukuran partikel, dan jarak terhadap pemukiman penduduk harus
dipertimbangkan.
Berhubungan dengan pajanan : daerah padat penduduk, jarak terhadap sumber pencemar
(radius).
IV - 4

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
b)4 Penentuan titik sampel
Pengambilan sampel udara ambien harus menghindari daerah yang dekat dengan
bangunan dan tanaman yang diperkirakan dapat mengabsorbsi atau mengadsorbsi
pencemar, daerah yang terdapat pengganggu kimia yang mempengaruhi parameter yang
diukur (contoh. Emisi kimiawi kendaraan bermotor dapat mengganggu pengukuran ozon),
dan daerah yang terdapat pengganggu fisik yang mempengaruhi parameter yang diukur
(contoh. Pengukuran total partikulat atau TSP dapat terganggu oleh adanya insinerator
disekitar lokasi pengukuran).
Pada umumnya lokasi pengukuran (pengambilan sampel) dilakukan pada daerah yang
mempunyai konsentrasi parameter tinggi, daerah padat penduduk, daerah yang
diasumsikan menerima paparan pencemar, dan daerah yang digunakan untuk
memproyeksikan dampak kegiatan pembangunan.
c) Pengambilan sampel sedimen
c)1 Peraturan perundangan sebagai acuan
PP RI No. 85 tahun 1999 tentang Perubahan Atas PP RI No. 18 tahun 1999 tentang
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
c)2 Peralatan dan bahan yang digunakan
Wadah : Plastik atau wadah lainnya untuk sedimen, tanah atau lumpur. Plastik dan botol
steril untuk makanan.
Peralatan : Grab Sampler untuk pengambilan sludge pada daerah yang sulit dan/atau
dalam.
c)3 Aspek yang dipertimbangkan
Potensi dan sumber pencemaran
Topografi
Jenis vegetasi
Perkiraan terjadinya pencemaran
c)4 Penentuan titik sampel
Titik sampel dapat diambil dengan 3 cara yaitu acak sederhana (dilakukan pada tanah yang
cenderung homogen dan koefisien variabel komposisi tanahnya rendah seperti daerah
persawahan, perkebunan, dll), acak stratifikasi (dilakukan bila ada perbedaan komposisi
tanah dimana pengambilan sampel dibagi menjadi beberapa stratum yang masing-masing
mewakili karakter komposisi dari tanah tersebut), dan pengambilan sampel secara
sistematis (dilakukan untuk mendapatkan presisi yang tinggi dimana sampel diambil dalam
jumlah yang lebih banyak dengan interval jarak tertentu)
Pada umumnya lokasi pengambilan sampel meliputi daerah yang tanahnya diperkirakan
akan kontak dengan masyarakat, daerah yang mewakili pencemaran tertentu berdasarkan
karakteristik kegiatan di wilayah tersebut (tanah pada pertanian, perkebunan,
pertambangan, dll), dan daerah yang tanahnya diperkirakan dapat mengkontaminasi
media lingkungan lainnya.
d) Pengambilan sampel makanan
d)1 Peraturan perundangan sebagai acuan
Undang-undang No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan
d)2 Peralatan dan bahan yang digunakan
Wadah : Plastik atau wadah atau botol untuk makanan. Untuk sampel makanan yang akan
diperiksa parameter bakteriologisnya maka digunakan wadah steril.
Peralatan : sendok, sendok steril, pisau steril, dan peralatan/bahan yang mendukung
pengambilan secara aseptis (Contoh. Pembakar bunsen dengan spiritus),
d)3 Aspek yang dipertimbangkan
IV - 5

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Menu makanan yang akan diambil sebagai sampel
Makanan yang paling sering dikonsumsi lebih diutamakan untuk diambil
Makanan yang lebih tidak stabil harus diutamakan untuk diambil. Contoh sampel makanan
gulai ikan kakap harus lebih diutamakan untuk diambil daripada sampel rendang yang
dimasak kering.
d)4 Penentuan sampel yang akan diambil
Sampel makanan diambil dengan dua cara yaitu dengan cara menggabung beberapa menu
menjadi satu sampel untuk pemeriksaan total, atau mengambil satu sampel makanan
untuk masing-masing menu.
Pada umumnya pengambilan sampel makanan dilakukan terhadap makanan yang paling
disukai atau lebih sering dimakan, dan lebih tidak stabil.

e) Pengambilan sampel biomarker


e)1 Peraturan perundangan sebagai acuan
Belum ada peraturan perundangan yang dapat dijadikan acuan pengambilan sampel
biomarker secara keseluruhan
e)2 Peralatan dan bahan yang digunakan
Sampel darah
Vacutainer dengan pengawet
Torniket (Torniquet)
Disposable Sterile Needle (jarum suntik steril sekali pakai)
Alcohol swab
Kain kasa dan plester
Tempat penampungan limbah jarum habis pakai yang aman
Sampel urin
Pot Plastik sebagai wadah urin
Sampel rambut
Gunting
Plastik kecil untuk wadah sampel rambut
e)3 Aspek yang dipertimbangkan
Pengambilan sampel rambut
Pengambilan sampel darah umumnya dilakukan dengan tiga cara yaitu pengambilan
sampel darah kapiler, vena, dan arteri, namun yang akan digunakan dalam riset
khusus (rikhus) pencemaran lingkungan ini adalah pengambilan sampel darah vena.
Aspek legal : responden yang akan diambil sampel darahnya perlu diinformasikan
tujuan dan teknik pengambilan sampel, perasaan yang akan dirasakannya pada saat
pengambilan sampel, dan harus dipastikan responden setuju untuk diambil darah dan
bersedia menandatangani formulir informed consent.
Aspek psikologis orang (responden) yang akan diambil sampel darahnya : perasaan
cemas, khawatir akan sakit, phobia disuntik.
Aspek keamanan proses pengambilan sampel : responden harus diyakinkan bahwa
jarum dan peralatan lain yang digunakan untuk pengambilan darah steril dan hanya
dipakai satu jarum untuk satu orang.
Pengambilan sampel urin
Pengambilan sampel urin dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu pengambilan
urin 24 jam, sewaktu, urin pagi, urin pertengahan, urin postprandial, dan sampel urin
dua gelas dan tiga gelas. Adapun cara pengambilan sampel urin yang digunakan dalam
rikhus adalah sampel urin sewaktu.
Aspek etika : proses pengambilan sampel urin dilakukan sendiri oleh responden
setelah diinformasikan cara pengambilannya. Adapun pengambilan sampel urin
IV - 6

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
dilakukan di kamar mandi rumah masing-masing responden atau tempat lain yang
sesuai.
Pengambilan sampel rambut
Pengambilan sampel rambut dilakukan dengan memotong atau menggunting rambut
tanpa menghilangkan fungsi estetika rambut pada responden.
e)4 Penentuan sampel yang akan diambil
Pengambilan sampel dilakukan pada orang (responden) yang terpilih sesuai kriteria yang
ditetapkan pada rikhus.
Pengambilan sampel darah vena umumnya dilakukan pada pembuluh darah balik (vena)
yang terdapat pada lipatan lengan. Untuk pengambilan sampel rambut, rambut digunting
secara proporsional dari rambut bagian depan, belakang, samping kiri dan kanan, dan
rambut bagian atas lalu digabung menjadi satu sampel.
Teknik Pengambilan Sampel
1. Teknik Pengambilan Sampel Udara Ambien
a) Pengambilan sampel udara parameter partikulat (TSP, PM10, PM2,5)
- Prinsip : udara yang mengandung partikulat di hisap/ ditarik melalui nozzle dengan laju
aliran udara tertentu, kemudian ditumbukan ke permukaan filter, maka partikel
dengan diameter tertentu tidak bisa mengikuti aliran gas yang dibelokkan ( karena
gaya inertia) , sehingga partikel debu tersebut tertahan pada permukaan fiter. Filter
yang telah kontak dan mengandung partikulat tersebut akan diperiksa secara
gravimetri di laboratorium.
- Peralatan dan bahan yang digunakan : HVAS, LVS, pump, filter (fiberglass, cellulose,
polyurthen foam, disesuaikan dengan spesifikasi dan parameter yang akan diperiksa),
dan impactor untuk menyeleksi ukuran partikel.
b) Pengambilan sampel udara parameter gas dengan absorbant (SO2, NO2, H2S,NH3, dan O3)
- Prinsip : udara yang mengandung gas di hisap/ ditarik melalui nozzle dengan laju aliran
udara tertentu, kemudian dikontakkan melalui absorbant spesifik (untuk masingmasing parameter) yang terisi pada tabung impinger, maka gas masing-masing
parameter akan terabsorb dan terkandung dalam larutan penyerap spesifik tersebut.
Masing-masing penyerap spesifik tersebut akan dianalisa sesuai dengan parameter dan
metode sampel.
- Peralatan dan bahan yang digunakan : RAC Gas Sampler, tabung impinger, dan
absorbant (larutan penyerap) spesifik sesuai dengan parameternya.
c) Pengambilan sampel udara parameter gas dengan detektor (CO)
- Prinsip : pengukuran ini berdasarkan kemampuan gas CO menyerap sinar infra merah
pada panjang 4,6 m . Banyaknya intensitas sinar yang diserap sebanding dengan
konsentrasi CO di udara.Analyzer ini terdiri dari sumber cahaya inframerah, tabung
sampel dan reference, detektor dan rekorder
- Peralatan dan bahan yang digunakan : NDIR
d) Pengambilan sampel udara parameter gas dengan adsorbant (gas-gas organik tertentu)
- Prinsip : berdasarkan kemampuan gas pencemar teradsorpsi pada permukaan padat
adsorbent .Jenis adsorben yang umum digunakan adalah karbon aktif, TENAX-GC atau
Amberlite XAD. Teknik ini digunakan untuk pengumpulan gas-gas organik seperti senyawa
hidrokarbon , benzene, toluene dan berbagai jenis senyawa organik yang mampu terserap
pada permukaan adsorben yang digunakan. Sampel dilewatkan ke dalam tube karbon aktif
dengan laju alir gas tertentu ( 0, 3 liter/menit) . Waktu sampling tergantung kepada
konsentrasi hidrokarbon dan banyaknya adsorben karbon aktif yang digunakan. Untuk
melepaskan hidrokarbon , karbon aktif dilarutkan dalam pelarut tertentu ( seperti CS2),

IV - 7

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012

kemudian disuntikan ke dalam GC. Atau karbon aktif di purging dengan gas inert seperti
N2, atau He, kemudian dialirkan /disuntikan ke dalam GC.
Peralatan dan bahan yang digunakan : Pompa dan tube.

2. Teknik Pengambilan Sampel Udara dalam Ruang (Indoor)


a) Pengambilan sampel udara dalam ruang parameter fisik kimia diberlakukan sama dengan
sampel udara ambien.
b) Pengambilan sampel jumlah kuman
- Prinsip : udara yang mengandung kuman atau bakteri di hisap/ ditarik melalui nozzle
dengan laju aliran udara tertentu, kemudian kontakkan melewati tabung impinger yang
berisi larutan NaCl fisiologis steril ataupun cawan petri steril, maka kuman atau bakteri
akan lengket di dalam media tersebut untuk selanjutnya dituang ke dalam cawan petri
steril dan dibiakkan dalam inkubator selama 24-48 jam. Bilamana pada saat pengambilan
sampel menggunakan cawan petri maka cawan tersebut dapat langsung dibiakkan dalam
inkubator. Setelah 24-48 jam maka jumlah koloni yang tumbuh akan dihitung dengan
memperhitungkan variabel jumlah koloni pada cawan petri (baik sampel maupun kontrol),
volume larutan NaCl fisiologis steril yang digunakan untuk mengambil sampel, laju alir
udara, dan lama pengambilan sampel.
- Peralatan dan bahan yang digunakan : Pompa, tabung impinger steril, dan larutan NaCl
fisiologis steril.
3. Teknik Pengambilan Sampel Air
a) Pengambilan sampel sesaat (grab sampling)
- Pengambilan sampel dilakukan menggunakan wadah baik jerigen, botol, ataupun botol
steril.
- Pengambilan sampel dilakukan sesaat hanya pada suatu waktu dan juga pada satu titik.
- Pengambilan sampel sesaat hanya dilakukan bila kualitas air pada lokasi pengambilan
diasumsikan homogen dan konstan. Bilamana kondisinya heterogen dan fluktuatif,
pengambilan sampel sesaat dilakukan pada waktu yang berbeda sesuai dengan asumsi
karakter/kondisi kualitas air berdasarkan waktu, sehingga didapat hasil representatif. Akan
tetapi pengambilan sampel semacam itu membutuhkan biaya yang besar.
- Pengambilan sampel sesaat hanya mewakili kualitas di sekitar lokasi dimana sampel di
ambil.
- Secara teknik, pengambilan sampel air yang mengalir dimana terdapat parameter DO dan
BOD yang diperiksa harus dilakukan searah dengan aliran air (wadah sampel masuk ke
dalam air dan mengikuti aliran air hingga wadah penuh terisi) untuk mencegah turbulensi
yang menyebabkan perubahan konsentrasi pada sampel yang diperiksa. Sebaliknya
pengambilan sampel air yang mengalir untuk parameter biologi (bakteriologis) diambil
berlawanan arah dengan aliran air agar tidak terjadi kontak dan kontaminasi sampel
dengan tangan pengambil sampel.
- Untuk pengambilan sampel sesaat pada air sumur gali dilakukan pada kedalaman 20 cm
dari dasar sumur dan harus dijaga agar tidak ada tanah atau sedimen yang tercampur ke
dalam sampel.
- Sampel sesaat dapat diaplikasikan untuk parameter minyak dan lemak, mikroorganisme
dan parameter yang mudah berubah seperti suhu, pH, dan DO.
b) Pengambilan sampel gabungan (composite)
- Pengambilan sampel dilakukan menggunakan wadah baik jerigen, botol, ataupun botol
steril.
- Pengambilan sampel gabungan dilakukan dengan menggabungkan dua atau lebih sampel
sesaat ke dalam satu wadah untuk dianalisa laboratorium.
IV - 8

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
-

Sampel gabungan dapat dibagi dua yaitu sampel gabungan lokasi (sampel sesaat dari dua
atau lebih lokasi yang digabung ke dalam satu wadah yang dilakukan dalam waktu yang
sama) dan sampel gabungan waktu (sampel sesaat dari satu titik yang diambil lebih dari
satu kali dengan volume dan interval waktu yang sama untuk kemudian digabung dalam
satu wadah). Sampel gabungan waktu hanya bisa diaplikasikan bila aliran air relatif
konstan, jika tidak maka dilakukan sampel proporsional.
Secara teknik, pengambilan sampel air yang mengalir dimana terdapat parameter DO dan
BOD yang diperiksa harus dilakukan searah dengan aliran air (wadah sampel masuk ke
dalam air dan mengikuti aliran air hingga wadah penuh terisi) untuk mencegah turbulensi
yang menyebabkan perubahan konsentrasi pada sampel yang diperiksa. Sebaliknya
pengambilan sampel air yang mengalir untuk parameter biologi (bakteriologis) diambil
berlawanan arah dengan aliran air agar tidak terjadi kontak dan kontaminasi sampel
dengan tangan pengambil sampel.
Untuk pengambilan sampel sesaat pada air sumur gali dilakukan pada kedalaman 20 cm
dari dasar sumur dan harus dijaga agar tidak ada tanah atau sedimen yang tercampur ke
dalam sampel.

4. Teknik Pengambilan Sampel Padatan


a) Pengambilan sampel acak sederhana
- Pengambilan sampel padatan / tanah dapat dilakukan langsung menggunakan tangan
yang dilapisi dengan sarung tangan atau menggunakan alat (sekop) bila sampel diambil
di dataran, sedangkan untuk mengambil padatan (sludge) yang terendap di dasar
perairan harus menggunakan grab sampler.
- Pengambilan sampel acak sederhana dilakukan pada tanah yang cenderung homogen
dan variasi komposisi tanahnya rendah.
- Sampel acak sederhana diambil pada lokasi yang dianggap representatif yang dekat
dengan sumber pencemaran. Jarak dan pola antar lokasi pada pengambilan sampel
acak sederhana tidak sistematis dan kurang beraturan.
- Titik sampel dapat diambil dengan 3 cara yaitu acak sederhana (dilakukan pada tanah
yang cenderung homogen dan koefisien variabel komposisi tanahnya rendah seperti
daerah persawahan, perkebunan, dll), acak stratifikasi (dilakukan bila ada perbedaan
komposisi tanah dimana pengambilan sampel dibagi menjadi beberapa stratum yang
masing-masing mewakili karakter komposisi dari tanah tersebut), dan pengambilan
sampel secara sistematis (dilakukan untuk mendapatkan presisi yang tinggi dimana
sampel diambil dalam jumlah yang lebih banyak dengan interval jarak tertentu)
b) Pengambilan sampel acak stratifikasi
- Pengambilan sampel padatan / tanah dapat dilakukan langsung menggunakan tangan
yang dilapisi dengan sarung tangan atau menggunakan alat (sekop) bila sampel diambil
di dataran, sedangkan untuk mengambil padatan (sludge) yang terendap di dasar
perairan harus menggunakan grab sampler.
- Pengambilan sampel acak stratifikasi dilakukan bila ada perbedaan komposisi tanah
dimana pengambilan sampel dibagi menjadi beberapa stratum yang masing-masing
mewakili karakter komposisi dari tanah tersebut.
- Sampel acak stratifikasi diambil di lokasi yang dianggap representatif pada stratum
yang dibedakan oleh variabel jenis sumber pencemaran, topografi (perbedaan
ketinggian), perbedaan kemiringan, dan variabel lain yang dianggap perlu.
c) Pengambilan sampel sistematis
- Pengambilan sampel padatan / tanah dapat dilakukan langsung menggunakan tangan yang
dilapisi dengan sarung tangan atau menggunakan alat (sekop) bila sampel diambil di

IV - 9

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012

dataran, sedangkan untuk mengambil padatan (sludge) yang terendap di dasar perairan
harus menggunakan grab sampler.
Pengambilan sampel sistematis dilakukan untuk hasil yang lebih presisi mengikuti pola
tertentu.Sampel sistematis diambil dalam jumlah yang lebih banyak dengan interval jarak
tertentu, dan mengikuti pola tertentu.

5. Teknik Pengambilan Sampel Makanan


Pengambilan sampel makanan dilakukan dengan cara mengambil atau mencuplik sebagian
kecil dari menu lalu dimasukkan ke dalam wadah sesuai dengan keperluan. Untuk pemeriksaan
total, beberapa menu dapat digabung menjadi satu sampel, namun untuk mengetahui secara
spesifik kualitas makanan pada masing-masing menu, sampel diambil dari masing-masing menu
dan dimasukkan ke wadah yang berbeda. Untuk memudahkan dalam pengemasan makanan
untuk di bawa ke laboratorium, serta memudahkan ekstraksi sebelum dilakukan pemeriksaan,
menu makanan yang akan dijadikan sampel dapat dipotong menjadi bagian kecil terlebih
dahulu kemudian dimasukkan ke dalam wadah..
Pengambilan sampel makanan untuk pemeriksaan parameter bakteriologis harus dilakukan
dengan menggunakan peralatan (wadah, pisau, dan sendok/garpu) yang steril dan dilakukan
secara aseptis yaitu pengambilan dilakukan di dekat pembakar/lampu bunsen yang menyala.
6. Teknik Pengambilan Sampel Biomarker
(1) Pengambilan sampel darah vena
Pada orang dewasa vena yang sering diambil darahnya adalah vena dalam fossa kubiti.
Cara mengambil darah vena adalah:
a) Lakukan desinfeksi dengan alkohol 70% dan biarkan sampai mengering.
b) Pasang torniket, sarankan mengepal dan membuka tangan berkali-kali supaya vena terlihat
jelas
c) Tegangkan kulit di atas vena dengan tangan non dominan supaya vena tak bergerak
d) Tusuk kulit dengan jarum sampai masuk vena
e) Tusuk jarum yang telah tertusuk hingga ke dalam vena dengan vacutainer
f) Longgarkan torniket secara perlahan, lalu vacutainer akan menghisap darah sesuai dengan
kebutuhan
g) Pasang kapas alkohol di atas jarum lalu cabut jarum dengan cepat
h) Tekan daerah tusukan dengan kapas sampai beberapa menit (boleh dilakukan oleh pasien)
i) Cabut jarum lalu buang ke tempat pembuangan limbah jarum yang aman yang telah
disediakan.
j) Vacutainer berisi sampel darah dipastikan tidak bocor, lalu lakukan pelabelan.
(2) Pengambilan sampel urin sewaktu
a) Responden diminta buang air kecil (kencing) ke dalam botol sampel yang telah disediakan.
b) Botol sampel ditutup kemudian dipastikan tidak bocor.
c) Lakukan pelabelan.
d) Pengambilan sampel rambut
e) Putar atau pilin rambut responden dengan ketebalan kira-kira setebal batang korek api.
f) Gunting rambut yang telah dipilin sedekat mungkin dengan kulit kepala. Pastikan tidak
melukai responden.
g) Gunting rambut seperti pada butir a) di bagian depan, samping. Belakang, dan atas
(tengah) kepala responden, lalu satukan sebagai satu sampel dan masukkan ke dalam
plastik yang disediakan.
h) Lakukan pelabelan.

IV - 10

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
i)

Perlu diingat dalam mengambil sampel rambut responden, pastikan tidak melukai kepala
responden dan jangan sampai mengambil sampel terlalu banyak sehingga menyebabkan
rambut pasien menjadi colak atau terlihat jelek.

7. Teknik penggunaan Global Positioning System (GPS)


Penentuan lokasi (koordinat) titik pengambilan sampel dilakukan dengan alat bantu GPS
(global positioning System). Prinsip dan cara penggunaan GPS adalah sebagai berikut :
a) Nyalakan GPS dan masuk ke halaman yang memuat koordinat dan elevasi.
b) Tunggu hingga GPS mendapat respon dari satelit yang terdekat.
c) Pada saat display koordinat keluar tunggu hingga titik koordinat tidak berubah ubah
(stabil).
d) Catat titk koordinat dan cantumkan bersamaan dengan catatan identitas sampel.
8. Teknik pencatatan identitas sampel dan pelabelan
Pencatatan identitas sampel
a) Catat identitas sampel dengan tinta alat tulis yang jelas (nyata) dan tulisan cetak yang
mudah dibaca. Contoh SAMPEL AIR BERSIH.
b) Catatkan informasi sebagai berikut : jenis sampel, kode sampel, setting, nama responden,
alamat responden, titik pengambilan sampel, waktu pengambilan sampel, jenis
pengawetan yang digunakan, dan kondisi sampel pada formulir yang telah disediakan.
Contoh :
Formulir Identitas Sampel Lingkungan
JENIS SAMPEL
KODE SAMPEL
SETTING
NAMA RESPONDEN
ALAMAT RESPONDEN

:
:
:
:
:

AIR MINUM
A.1.301
PERTAMBANGAN/PEMUKIMAN
TN. ROZAK ABDULLAH
JL. JALAN, GG. GANG, RT 01/RW01 DS.
DESA, KEC. KECAMATAN, KAB.
KABUPATEN, PROV. PROVINSI
TITIK PENGAMBILAN
:
TEKO YANG DIGUNAKAN MINUM
WAKTU PENGAMBILAN
:
KAMIS 8 MARET 2012 / 12.15 WIB
PENGAWET
:
ASAM NITRAT
KONDISI SAMPEL
:
BAIK
Catatkan informasi sebagai berikut : jenis sampel, kode sampel, setting, titik pengambilan
sampel, waktu pengambilan sampel, dan jenis pengawetan yang digunakan, pada label
yang telah disediakan. Contoh :

Label
JENIS SAMPEL
KODE SAMPEL
SETTING
TITIK PENGAMBILAN
WAKTU PENGAMBILAN
PENGAWET

:
:
:
:
:
:

AIR MINUM
A.1.301
PERTAMBANGAN/PEMUKIMAN
TEKO YANG DIGUNAKAN MINUM
KAMIS 8 MARET 2012 / 12.15 WIB
ASAM NITRAT

Pelabelan
a) Gunakan label dengan bahan dan perekat yang baik.
b) Tulis identitas sampel pada label (pada kertas label / sebelum ditempel) dengan tinta alat
tulis yang jelas (nyata) dengan tulisan cetak yang jelas.
IV - 11

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
c) Tempelkan label pada botol/wadah pada tempat yang mudah dibaca.
d) Tempelkan selotif di atas label yang telah ditempel di botol/wadah untuk mencegah tulisan
pada label rusak karena terkena air atau sobek.
9. Teknik pengemasan dan pengamanan transportasi sampel
a) Pastikan tutup botol atau plastik tertutup rapat dan bocor.
b) Bungkus atau lapisi tutup botol atau plastik dengan plastik.
c) Susun sampel secara berurutan di dalam coolbox yang telah disediakan dan pastikan
semua mulut botol menghadap ke atas.
d) Sampel di dalam coolbox disusun serapat mungkin (compact) sehingga tidak ada celah,
untuk mengurangi guncangan pada saat transportasi sampel.
e) Segel tutup coolbox dengan lakban atau bahan perekat lain lalu beri identitas.
f) Pastikan alat transportasi aman dan dapat mengirimkan sampel dengan baik sampai ke
laboratorium.

Teknik Pemeriksaan Sampel


Pemeriksaan sampel merupakan kegiatan lanjutan dari pengambilan sampel. Pemeriksaan
sampel harus dilakukan dengan alat dan metoda yang tervalidasi, petugas atau orang yang
kompeten dan tersertifikasi, serta didukung sistem manajemen yang terakreditasi. Oleh karenanya,
pemeriksaan sampel seyogyanya dilakukan oleh laboratorium yang terakreditasi. Sedangkan tugas
seorang pejabat kesehatan lingkungan dan fungsional sanitarian hanyalah melakukan pengambilan
sampel dengan kaidah-kaidah yang benar, serta menyerahkan sampel dalam kondisi yang baik ke
laboratorium. Adapun teknik pemeriksaan sampel yang dilakukan di laboratorium haruslah mengacu
pada acuan yang diakui secara umum, di Indonesia pemeriksaan sampel di laboratorium mengacu
pada Standar Nasional Indonesia (SNI). Pejabat kesehatan lingkungan dan fungsional sanitarian
dapat mempelajari teknik pemeriksaan sampel pada SNI masing-masing parameter. Berikut daftar
parameter pemeriksaan dan SNI yang menjadi acuannya. :
Tabel 12 Parameter Pemeriksaan Sampel dan Acuannya
Cara Uji Parameter
Kimia Air
Uji pH air dengan pH meter
Suhu
Kekeruhan
Salinitas
Residu Terlarut (TDS)
Total Suspensi Soloid (TSS)
BOD
Sulfat (SO42-)
seng (Zn)
Tembaga (Cu)
Timbal ( Pb)
Cadmium (Cd)
Mangan (Mn)
Besi (Fe)
Clorida (Cl)
Kesadahan
Amoniak (NH3)
IV - 12

Acuan
SNI 06-6989.11-2004
SNI 06 2413 1991, butir 3.1
SNI 06 2413 1991, butir 3.3
SNI 06 2413 1991, butir 3.12.2
SNI 06-2413-1991 butir 3.7
SNI 06 -6989-3-2004
SNI 06-2503 1991
SNI 06 2426 1991
SNI 06-2501-1991
SNI 06-2514-1991
SNI 06-2519 1991
SNI 06-2466-1991
SNI 06-2497-1991
SNI 19.1127 - 1989
SNI 06 -6989-19-2004
SNI 06-6989.12-2004
SNI 06- 6989[2].30- 2005
Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Cara Uji Parameter
Nitrit (NO2-N)
Flourida (F-)
Nikel (Ni)
Merkuri (Hg)
Alumunium (Al)
Selenium (Se)
Chrom (Cr) terlarut
Chrom Total (Cr)
DHL
Surfaktan Anionik (Deterjen)
Arsen (As)
Kimia Udara dan Gas
Hidrogen Sulfida (H2S) di udara
Amoniak (NH3) di Udara
Oksidan (O3) di Udara
Partikel Tersuspensi Total (TSP) di Udara
Timbal (Pb) di Udara
Kimia Padatan
Timbal (Pb) dalam Sedimen
Kadmium (Cd) dalam Sedimen
Tembaga (Cu) dalam Sedimen
Nikel (Ni) dalam Sedimen
Mangan (Mn) dalam Sedimen
Seng (Zn) dalam Sedimen
Sumber : BBTKLPP Jakarta (2008)

Acuan
SNI 06-6989.9-2004
SNI 06- 6989.29- 2005
SNI 06-6989.18-2004
SNI 06-2912-1992
SNI 06- 6989.34- 2005
SNI 06-2475-1991
SNI-06-6989.17-2004
SNI-06-6989.17-2004
SNI 06-6989.1-2004
SNI 06- 6989.51- 2005
SNI 06-2909-1992
SNI 19 4844 - 1988
SNI - 19-7119.1-2005
SNI 19-7119.8-2005
SNI 19-7119.3-2005
SNI 19-7119.4-2005
SNI 06-6992.3-2004
SNI 06-6992.4-2004
SNI 06-6992.5-2004
SNI 06-6992.6.2004
SNI 06-6992.7.2004
SNI 06-6992.3-2004

Materi Sub Bahasan : Pengawasan Kesehatan Lingkungan Melalui Observasi, Assessment, ataupun
Inspeksi Sanitasi
Pengawasan kesehatan lingkungan merupakan salah satu kompetensi yang wajib dimiliki
seorang fungsional sanitarian. Kegiatan Pengawasan kesehatan lingkungan meliputi pemeriksaan
kualitas kesehatan lingkungan yang terdiri dari melakukan pemeriksaan obyek kelompok I dan II
serta melakukan pengambilan sampel, dan kegiatan tindak lanjut pengawasan yang terdiri dari
kegiatan penentuan diagnosa dan treatment intervensi obyek kelompok I dan II, konsultasi
kesehatan lingkungan, dan Bimbingan Teknis.
Pemeriksaan obyek kesehatan lingkungan (kelompok I dan II) dapat dilakukan secara
sederhana atau tanpa menggunakan peralatan baik yang konvensional maupun canggih.
Pemeriksaan obyek kesehatan lingkungan secara sederhana dilakukan melalui observasi,
assessment, ataupun inspeksi sanitasi menggunakan instrumen berupa cek lis ataupun kuisioner.
Dalam melakukannya, seorang pejabat kesehatan lingkungan dan fungsional sanitarian harus
memiliki sense kesehatan lingkungan yang baik dan mampu menelaah secara kritis obyek yang
diawasinya. Adapun data hasil dari observasi, assessment, ataupun inspeksi sanitasi merupakan
kelengkapan (complementary) ataupun sebagai dasar untuk melakukan interpretasi hasil
pemeriksaan sampel.
Penyusunan Instrumen Pengawasan Kesehatan Lingkungan
Dalam melakukan observasi, assessment, ataupun inspeksi sanitasi, faktor subyektifitas
personel sangat dominan, untuk itu perlu diminimalisasi dengan menggunakan cek lis ataupun

IV - 13

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
kuisioner sebagai instrumen atau alat bantunya. Penyusunan instrumen dapat dilakukan dengan
memperhatikan beberapa faktor berikut :
1. Obyek dan komponen yang perlu diobservasi. Sebagai contoh, dalam melakukan observasi,
assessment, ataupun inspeksi sanitasi terhadap kualitas udara ambien di obyek pemukiman
dekat dengan jalan raya, komponen yang perlu mendapat perhatian diantaranya jarak
pemukiman terhadap jalan raya, ada/tidaknya tanaman sebagai barriernya, jenis kendaraan
dominan yang melintasi jalan raya serta bahan bakar yang digunakan, dan lain sebagainya.
2. Parameter kualitas lingkungan dan baku mutu yang digunakan sebagai benchmark atau acuan.
Sebagai contoh, dalam melakukan observasi, assessment, ataupun inspeksi sanitasi terhadap
kualitas udara ambien di obyek pemukiman, salah satu parameter yang perlu dicermati adalah
debu khususnya parameter debu total (TSP) dan Particulate Matter 10 m (PM10), untuk itu
baku mutu yang digunakan adalah PP No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran
Udara yaitu sebesar 230 g/m3 untuk TSP dan 150 g/m3 (PM10).
3. Penentuan urutan skala dalam pengkatagorian skor hasil observasi. Dalam penentuan urutan
skala perlu konsistensi, jika kondisi yang lebih berisiko diberi skor rendah maka pada setiap
pertanyaan atau obyek dan komponen yang diamati harus sama. Untuk menentukan urutan
skala dalam pengkatagorian dapat dilakukan baku mutu sebagai mediannya (jika data dikotomi)
ataupun klas interval. Sebagai contoh, dalam melakukan observasi, assessment, ataupun
inspeksi sanitasi terhadap kualitas udara ambien di obyek pemukiman dekat dengan jalan raya,
perlu diamati ventilasi pada rumah penduduk. Penentuan urutan skala dari kondisi ventilasi
dapat menggunakan rasio luas ventilasi terhadap luas lantai sehingga katagori disusun menjadi
TMS (tidak memenuhi syarat) untuk luas ventilasi yang teramati < 10 % luas lantai, dan MS
(memenuhi syarat) untuk luas ventilasi yang teramati 10 % luas lantai.
Instrumen berupa cek lis dan kuisioner terdiri dari pokok-pokok obyek yang perlu
diobservasi, assessment, ataupun inspeksi, ataupun berisikan butir-butir pertanyaan. Masing-masing
cek lis dan kuisioner berbeda satu sama lain bergantung dengan masalah apa yang akan dicermati,
obyek yang menjadi perhatian, lokasi obyek, atau waktu dilakukan observasi, assessment, ataupun
inspeksi, namun secara umum instrumen tersebut berisikan hal-hal sebagai berikut :
1. Identitas sampel/responden, dan antropometri (digunakan dalam kajian ARKL)
2. Deskripsi lokasi dan waktu
3. Karakteristik umum
4. Faktor risiko berhubungan dengan lingkungan
5. Faktor risiko berhubungan dengan perilaku
6. Status kesehatan
7. Pola aktivitas (digunakan dalam kajian ARKL), dan/atau
8. Pola pajanan (digunakan dalam kajian ARKL)

Materi Sub Bahasan : interpretasi hasil, pengolahan data, analisis hasil pemeriksaan sampel, dan
penarikan kesimpulan
Setelah sampel diperiksa secara laboratorium, maka langkah selanjutnya adalah interpretasi
hasil, pengolahan data, analisis hasil pemeriksaan sampel, dan penarikan kesimpulan. Keterangan
dari masing kegiatan tersebut adalah sebagai berikut :

IV - 14

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012

IV - 15

Interpertasi hasil : yaitu melihat angka hasil pemeriksaan dari parameter suatu sampel dan
membandingkannya dengan acuan atau baku mutu yang ada.
Pengolahan Data : jika sampel yang diperiksa lebih dari satu, maka data hasil pemeriksaan
tersebut dapat diolah lebih lanjut. Pengolahan data untuk variabel numerik atau angka biasanya
dengan mencari nilai minimal, rata-rata, dan nilai maksimal dari beberapa hasil pemeriksaan
sampel. Sedangkan hasil pemeriksaan sampel dapat dengan mengkatagorikannya ke dalam
katagori tidak memenuhi syarat atau memenuhi syarat setelah dibandingkan dengan baku
mutunya.
Analisis hasil pemeriksaan sampel : adalah kegiatan lanjutan dari interpretasi dan/atau
pengolahan data, dimana satu atau lebih data hasil pemeriksaan sampel dianalisis yang
umumnya dilakukan dengan dua cara yaitu analisis kekritisan yaitu tidak memenuhi syarat atau
memenuhi syarat, tidak aman atau aman, berisiko atau tidak berisiko, atau data dianalisis
kecenderungannya yaitu dengan membandingkan data yang sejenis dengan hasil pemeriksaan
pada periode sebelumnya (dapat dilakukan minimal 3 data).
Penarikan kesimpulan : setelah dilakukan interpretasi hasil, pengolahan, dan analisis data,
maka langkah terakhir adalah menyimpulkan. Penarikan kesimpulan selain didasarkan pada
data hasil pemeriksaan sampel perlu juga mempertimbangkan variabel lainnya yang terkait.

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012

MODUL V
KOMUNIKASI RISIKO
Materi Sub Bahasan : Pengertian dan Unsur Komunikasi, serta Komunikasi Efektif
Asal kata dari komunikasi adalah Cum dan Umus yang dalam bahasa latin berarti dengan
atau bersama dengan dan satu. Dari asal kata tersebut berkembang pengertian komunikasi menjadi
seluruh proses yang digunakan untuk memahami apa yang dipikirkan oleh orang lain. Pengertian lain
dari komunikasi Upaya membuat pendapat; menyatakan perasaan; menyampaikan informasi agar
dipahami oleh orang lain; Berbagi informasi; bertukar pendapat/perasaan dsb, ataupun suatu proses
membangkitkan ingatan. Bertolak dari pengertian tersebut, komunikasi kita definisikan sebagai
bentuk interaksi dengan orang lain berupa percakapan biasa, membujuk, mengajar, & negosiasi.
Komunikasi terdiri dari beberapa unsur yaitu komunikator, pesan, channel, dan komunikan.
Selain dari unsur tersebut, dalam proses komunikasi juga terdapat gangguan dan umpan balik.
Skema dari proses dan unsur komunikasi dapat digambarkan pada gambar 7.

Gambar 7. Proses dan Unsur Komunikasi


Unsur-unsur dari komunikasi beserta atribut (keterangan) nya adalah sebagai berikut :
1) Komunikator : seorang komunikator yang baik bertanggungjawab untuk Mengirim pesan
dengan jelas, Memilih saluran yang cocok, dan meminta kejelasan apakah pesan telah diterima
dengan baik / benar atau tidak (meminta umpan balik). Sebagai komunikator perlu diperhatikan
siapa komunikannya, apa pesannya, dan bagaimana cara menyampaikan pesan ke komunikan
(menyesuaikan tingkat pengetahuan komunikan)
2) Komunikan : seorang komunikan yang baik harus berkonsentrasi dalam mendengarkan pesan
dari komunikator sehingga seluruh pesan yang disampaikan dapat diterima dan dimengerti,
selanjutnya seorang komunikan juga berkewajiban memberikan umpan balik.
3) Pesan : adalah berita atau ide atau gagasan yang akan disampaikan. Bentuk dari pesan dalam
komunikasi bisa berbentuk perintah / instruksi, saran / usul, permintaan, pengumuman, dan
lain sebagainya.
4) Saluran : proses komunikasi tidak terlepas dari saluran, karenanya saluran dalam komunikasi
dikatakan baik jika dapat menjamin pesan yang disampaikan oleh komunikator secara utuh
diterima dengan baik / benar oleh komunikator, dan tujuan komunikasi dapat tercapai. Saluran
V-1

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
dalam komunikasi dapat berupa media yang audible (dapat didengar), visual (dapat dilihat), dan
audio-visual (dapat didengar sekaligus dilihat).
5) Proses Komunikasi : dapat berupa komunikasi satu arah atau komunikasi timbal balik (dua
arah)
Bentuk komunikasi adalah sebagai berikut :
Penyampaian
Lisan & tertulis,
Elektronik (radio, televisi, telepon, internet, dlsb)
Kemasan
Verbal kata-kata (lisan/tertulis)
Non Verbal ekspresi/mimik wajah, gerakan tangan, mata & bagian tubuh lainnya
Cara berpakaian, waktu & tempat
Keresmian
Formal & Non Formal
Pasangan
Intrapersonal & Interpersonal
Fungsi komunikasi adalah sebagai berikut :
1. Mencapai pengertian satu sama lain
2. Membina kepercayaan
3. Mengkoordinir tindakan
4. Merencanakan strategi
5. Melakukan pembagian pekerjaan
6. Melakukan aktifitas kelompok.
7. Berbagi rasa
Tujuan komunikasi adalah sebagai berikut :
1. Informative
kemampuan intelektual seseorang untuk bertindak rasional, objektif dan konkrit.
2. Persuasive
Dalam rangka mempengaruhi orang lain dengan usaha untuk mengubah keyakinan, nilai atau
sikap mereka
3. Entertaiment
Bertujuan untuk menghibur, berkaitan dengan hal-hal yang menyenangkan, misalnya
berbentuk hiburan, kesenian, lawakan dan lain sebagainya.
Faktor-faktor berpengaruh terhadap proses komunikasi adalah sebagai berikut :
1. Pengetahuan
Makin luas pengetahuan seseorang, perbendaharaan kata makin banyak
2. Pengalaman
Makin banyak pengalaman seseorang, akan terbiasa menghadapi sesuatu
3. Intelegensi
Makin tinggi IQ seseorang akan makin banyak perbendaharaan kata, cara bicara sistematis &
lancar tidak terputus-putus.
4. Kepribadian
Seseorang yang pemalu & kuper, biasanya kurang lancar berbicara.
5. Biologis
Desis, cadel, bindeng, gagap

V-2

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012
Materi Sub Bahasan : Komunikasi Risiko
Komunikasi risiko dilakukan untuk menyampaikan informasi risiko pada masyarakat (populasi
yang berisiko), pemerintah, dan pihak yang berkepentingan lainnya. Komunikasi risiko
merupakan tindak lanjut dari pelaksanaan ARKL dan merupakan tanggung jawab dari
pemrakarsa atau pihak yang menyebabkan terjadinya risiko. Bahasa yang digunakan haruslah
bahasa umum dan mudah dipahami, serta memuat seluruh informasi yang dibutuhkan tanpa ada
yang ditutup - tutupi. Komunikasi risiko dapat dilakukan dengan teknik atau metode ceramah
ataupun diskusi interaktif, dengan menggunakan media komunikasi yang ada seperti media
massa, televisi, radio, ataupun penyajian dalam format pemetaan menggunakan geographical
information system (GIS).

V-3

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta

Modul Pelatihan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Tingkat Lanjut


Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang, 17 s/d 26 September 2012

DAFTAR PUSTAKA
1. BBTKLPPM Jakarta, 2008. Instruksi Kerja Laboratorium BBTKLPPM Jakarta. BBTKLPPM Jakarta
2. Direktorat Jenderal PP dan PL, 2011. Petunjuk Teknis Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan.
Kementerian Kesehatan RI, Jakarta
3. Kolluru RV, et al., 1996. Risk Assessment and Management Handbook for Environmental,
Health, and Safety Professionals. Mcgraw-Hill
4. Mullan N, et al., 2008. Environmental Health Surveillance : A Feasibility Studi. Environmental
Health Directorate, Western Australia Department of Health
5. Purnama D, 2007. Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan terhadap Penimbunan Batubara.
Buletin Nobell Vol. 1 No.1 Juni 2007 Media Informasi BBTKLPPM Jakarta, Jakarta
6. Rahman A, 2007. Bahan Ajar Pelatihan :Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (Program
Intensif Tingkat Dasar). Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Studi Amdal dan KasusKasus Pencemaran Lingkungan. Pusat Kajian Kesehatan Lingkungan dan Industri, Fakultas
Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Didi Purnama, SKM, 2012

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta