Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM DASAR-DASAR

AKUAKULTUR MANAJEMEN PRODUKSI (PEMBESARAN)


IKAN MAS (Cyprinus carpio) DI SUBANG
Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas laporan akhir praktikum
mata kuliah Dasar-Dasar Akuakultur semester genap
Disusun oleh:
Windi Ariyani
Riana Faosa
Ardiansyah
M. Aulia Rahman
Resna Ajeng Andiani
Choki Setyo D
Fachri Ariel M
R. Rahmadi K
Taufik Ikhsan Kamil
Takbir Setiantoro
Eva Amalia Destyani
Deni Sihabudin
Chervin Oktavien

230110130155
230110130167
230110130175
230110130176
230110130189
230110130192
230110130195
230110130199
230110130205
230110130214
230110130221
230110130222
230110130226

Kelas :
Perikanan C / Kelompok 5

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2015

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah berkenan
memberi petunjuk kepada kami sehingga laporan akhir praktikum dasar-dasar
akuakultur Manajemen Produksi (Pembesaran) Ikan Mas (Cyprinus carpio) di
Subang ini dapat diselesaikan. Laporan akhir ini kami buat guna memenuhi salah
satu tugas praktikum mata kuliah Dasar-Dasar Akuakultur.
Semoga dengan adanya laporan akhir praktikum ini kami dapat memberikan
wawasan baru yang bermanfaat, khususnya bagi kami yang menyusun laporan akhir
praktikum ini dan umumnya bagi khayalak banyak.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Bandung, Juni 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

Bab

Halaman

DAFTAR TABEL

iii

DAFTAR LAMPIRAN

iii

II

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan Praktikum

1
2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Budidaya


2.2 Biologi Ikan Mas
2.3 Budidaya Pembesaran Ikan Mas
2.3.1 Kolam Pembesaran
2.3.2 Proses Pembesaran
2.4 Faktor Yang Mempengaruhi Budidaya
2.5 Analisis Keuangan
2.5.1 Biaya
2.5.2 Penerimaan
2.5.3 Pendapatan Analisis
2.5.4 Efisiensi
2.5.5 Profitabilitas (Benefit Cost Ratio)
III HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Analisis Sistem Budidaya
3.2 Analisis Usaha
3.2.1 Analisis Biaya dan Pendapatan
3.2.2 Keuntungan dan Biaya Penerimaan
3.2.3 Profitabilitas
3.2.4 Efisiensi Usaha (Revenge Cost Ratio) Pembesaran Ikan Mas
di Kolam Air Deras
IV

KESIMPULAN DAN SARAN


4.1 Kesimpulan
4.2 Saran

3
4
6
7
7
7
9
9
10
10
10
11

12
13
13
15
15
16

17
17

DAFTAR PUSTAKA

18

LAMPIRAN

19

ii

DAFTAR TABEL

Nomor

Judul

Halaman

Analisis Biaya dan Pendapatan............................................ 13

Biaya Variabel.....................................................................

Profitabilitas......................................................................... 15

Besarnya Efisiensi Usaha....................................................

14

16

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Judul

Pengamatan Terhadap Kondisi Kolam Budidaya..............

Kolam Budidaya................................................................. 19

Pengairan Kolam Budidaya Dengan Air Deras.................. 19

Kolam Pembesaran............................................................. 20

Pembuangan Air Sebelum Menyortir................................. 20

Ikan Yang Akan Disortir Menurut Ukuran........................

20

Kondisi Kolam Saat Akan Dilakukan Sortir......................

21

Proses Penyortiran Ikan...................................................... 21

Pakan Ikan Yang Digunakan.............................................. 21

iii

Halaman

19

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Perikanan budidaya di Indonesia merupakan salah satu komponen yang

penting di sektor perikanan. Hal ini berkaitan dengan perannya dalam menunjang
persediaan pangan nasional, penciptaan pendapatan dan lapangan kerja serta
mendatangkan penerimaan negara dari ekspor. Perikanan budidaya juga berperan
dalam mengurangi beban sumber daya laut. Di samping itu perikanan budidaya
dianggap sebagai sektor penting untuk mendukung perkembangan ekonomi
pedesaan.
Langkah pertama yang harus diperhatikan dalam persiapan budidaya yaitu
pengelolaan tanah dan pengelolaan air. Pengelolaan tanah bertujuan untuk menciptakan kondisi optimum tanah agar dapat menyediakan lingkungan yang layak
sebagai tempat hidup ikan. Pengelolaan tanah meliputi pengolahan tanah,
pengapuran dan pemupukan. Setelah dilakukan pengolahan tanah, langkah
selanjutnya adalah pengelolaan air. Selanjutnya adalah melakukan penebaran
benih. Benih ikan yang akan dibesarkan harus diseleksi terlebih dahulu untuk
mendapatkan benih ikan yang berukuran sama, sehat dan pertumbuhannya baik.
Selain itu banyaknya makanan yang diberikan harus diperhitungkan dengan harga
pakan dan nilai produksi ikan yang akan diperoleh. Perhitungan ini penting untuk
menghindari kerugian dan setiap kolam harus dibuatkan tabel pakan sendiri sesuai
dengan kepadatan ikan yang dipelihara dan target produksi.
Selain beberapa kegiatan diatas, pemanenan ikan pun termasuk faktor
penting dalam

produksi

budidaya.

Pemanenan ikan dilakukan dengan

memperhatikan umur ikan, bobot ikan saat tebar, bobot ikan saat panen, dan waktu
pemanenan. Ikanikan yang telah dipanen harus tetap dipetahankan mutunya
sampai di pasaran. Oleh karena itu, penanganan pasca-panen harus dilakukan
dengan baik dan benar. Penanganan pascapanen ikan yaitu pembersihan,
pemberokan, pengolahan, pengangkutan dan pemasaran.

Berdasarkan dari beberapa kegiatan akuakultur seperti persiapan kolam,


penebaran benih, pemeliharaan atau pembesaran, pemberian pakan, pemanenan
hingga penanganan pasca panen inilah kami akan membahas mengenai manajemen
produksi akuakultur yang dilakukan dengan survey langsung ke tempat budidaya
ikan.
1.2

Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui bagaimana

manajemen produksi akuakultur dari suatu kegiatan pembesaran ikan dengan


melakukan survey secara langsung, sehingga kedepannya dapat diterapkan baik
oleh mahasiswa maupun oleh pihak lainnya yang membutuhkan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengertian Budidaya
Akuakultur adalah kegiatan untuk memproduksi biota (organisme) akuatik

di lingkungan terkontrol dalam rangka mendapatkan keuntungan (profit).


Akuakultur berasal dari bahasa Inggris aquaculture (aqua = perairan; culture =
budidaya) dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi budidaya
perairan atau budidaya perikanan. Oleh karena itu, akuakultur dapat didefinisikan
menjadi campur tangan (upaya-upaya) manusia untuk meningkatkan produktivitas
perairan melalui kegiatan budidaya. Kegiatan budidaya yang dimaksud adalah
kegiatan pemeliharaan untuk memperbanyak (reproduksi), menumbuhkan
(growth), serta meningkatkan mutu biota akuatik sehingga diperoleh keuntungan
(Effendi 2004). Berdasarkan salinitas atau kandungan garam NaCl-nya, perairan di
permukaan bumi dibedakan menjadi perairan tawar, perairan payau, dan perairan
laut. Semua perairan tersebut dapat dijadikan sumber air begi kegiatan akuakultur.
Oleh karena itu, berdasarkan sumber air yang digunakan untuk kegiatan produksi
akuakultur maka dikenal budidaya air tawar (freshwater culture), budidaya air
payau (brackishwater culture) dan budidaya laut (mariculture). Dalam budidaya
dikenal beberapa sistem budidaya yaitu:
1. Tradisional/ekstensif, kolam yang digunakan adalah kolam tanah yaitu kolam
yang keseluruhan bagian kolamnya terbuat dari tanah, tergantung oleh pakan
alami dari lingkungan dan padat penebaran dari sistem intensif rendah.
2. Semi intensif, merupakan perbaikan dari sistem budidaya ekstensif atau
tradisional yang memiliki ciri yaitu kolam yang digunakan adalah kolam yang
bagian kolamnya (dinding pematang) terbuat dari tembok sedangkan dasar
kolamnya terbuat dari tanah, Petak (pada tambak) pemeliharaan biota lebih kecil
dibandingkan pada pengelolaan ekstensif dan ekstensif plus, padat penebaran
lebih tinggi, kegiatan pengelolaan wadah pemeliharaan semakin banyak,
Pengantian air dilakukan 5-20% setiap hari.

3. Intensif merupakan sistem budidaya modern yang memiliki ciri yaitu kolam
yang digunakan adalah kolam yang keseluruhan bagian kolam terdiri dari
tembok, Petak tambak/kolam untuk pemeliharaan yang lebih kecil, Persiapan
lahan untuk pemeliharaan (pengelolaan tanah dan perbaikan wadah budidaya)
dan penggunaan sarana produksi (kapur, pupuk, dan bahan kimia) menjadi
sangat mutlak dibutuhkan, Biota budidaya bergantung sepenuhnya pada pakan
buatan atau pakan yang diberikan secara teratur, Penggunaan sarana budidaya
untuk mendukung usaha budidaya, seperti pompa dan aerator, Produksi (hasil
panen) sangat tinggi.

2.2

Biologi Ikan Mas


Ikan Mas termasuk famili Cyprinidae yang mempunyai ciri-ciri umum,

badan ikan Mas berbentuk memanjang dan sedikit pipih ke samping (Compressed)
dan mulutnya terletak di ujung tengah (terminal), dan dapat disembulkan, bagian
mulut dihiasi dua pasang sungut, yang kadang-kadang satu pasang diantaranya
kurang sempurna dengan warna badan yang sangat beragam (Anonim 2008:1).
Ikan Mas dapat diklasifikasikan secara taksonomi sebagai berikut:
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Ostariophysi
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Species : Cyprinus carpio, L. (Susanto 2007:14)

Gambar 1. Ikan Mas


(Sumber : www.google.com)

Di kalangan petani maupun masyarakat, ikan Mas telah lama dikenal dan
disukai (dikonsumsi), sehingga pemasarannya tidaklah sulit. Selain itu sebagai ikan
budidaya, ikan Mas memiliki keunggulan, yaitu dapat dikembangbiakkan hanya
dengan perbaikan lingkungan atau manipulasi lingkungan dan kawin suntik
(hipofisasi). Makanan bagi ikan Mas juga tidak sulit, karena ia mau menyantap
segala jenis makanan alami maupun buatan (pelet), termasuk jagung atau jenis padipadian. Ikan Mas termasuk jenis ikan omnivora. Tubuh ikan Mas dibagi (3) tiga
bagian, yaitu kepala, badan, dan ekor. Pada kepala terdapat alat-alat, seperti
sepasang mata, sepasang cekung hidung yang tidak berhubungan dengan rongga
mulut, celah-celah insang, sepasang tutup insang, alat pendengar dan keseimbangan
yang tampak dari luar. Jaringan tulang atau tulang rawan yang disebut jari-jari.
Sirip-sirip ikan ada yang berpasangan dan ada yang tunggal, sirip yang tunggal
merupakan anggota gerak yang bebas (Santoso 1993: 12-13).
Saluran pencernaan ikan Mas berupa segmen-segmen, meliputi mulut,
rongga mulut, faring, esofagus, pilorus, usus, rektum dan anus. Ikan Mas dapat 10
memakan plankton maupun invertebrata kecil. Atas dasar inilah maka dapat
dikatakan bahwa ikan Mas merupakan ikan omnivora yang cenderung herbivora.
Keadaan usus yang sangat panjang pada ikan herbivora merupakan kompensasi
terhadap kondisi makanan yang memiliki kadar serat yang tinggi sehingga
memerlukan pencernaan lebih lama. Hal ini dapat dibuktikan melalui pengamatan
pada organ dalam ikan Mas yang tidak ditemukan adanya lambung tetapi bagian
depan usus halus terlihat membesar yang lebih dikenal dengan istilah lambung
palsu. Ikan Mas memilki panjang usus yang melebihi panjang tubuh ikan. Pada
pengukuran yang telah dilakukan diketahui bahwa tubuh ikan Mas memiliki
panjang baku 19 cm sedangkan panjang ususnya mencapai 50 cm atau hampir tiga
kali lipat dari panjang tubuhnya. Usus yang panjang tersebut bertujuan untuk
mendapatkan hasil hidrolisis makromolekul makanan secara maksimal (Santoso
1993:14). Ikan Mas dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada
ketinggian antara 150-1000 m di atas permukaan laut, dengan suhu 200 C-250 C dan
pH air antara 7-8. Di antara jenis ikan Mas itu sendiri, jika diamati lebih lanjut, ada

perbedaan dari segi sisik, bentuk badan, sirip mata dan perbedaan ini menunjukkan
adanya perbedaan ras pada jenis ikan air tawar (Suseno 2000:21).

2.3

Budidaya Pembesaran Ikan Mas


Ikan mas (Cyprinus carpio ) merupakan salah satu komoditas tertua yang

sudah banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Berbagai teknologi pembenihan dan


pembesaran sudah dicoba dan diterapkan dalam kajian bisnis secara intensif,
misalnya kolam air deras dan Keramba Jaring Apung (KJA). Hambatan yang sering
terjadi berkaitan dengan kesehatan ikan seperti penyakit, harga pakan yang relatif
tinggi, serta kualitas air pemeliharaan yang tidak terjaga menjadi faktor pemicu
berkurangnya minat pembudidaya ikan mas (Nugroho 2008). Ikan ini tidak saja
disenangi konsumen, tetapi juga oleh para petani, mengingat ikan memiliki
beberapa sifat yang baik sebagai ikan budidaya. Ikan ini tumbuhnya tergolong
cepat, dalam usia setengah tahun sudah dikonsumsi dan laku di pasaran, makan
makanan yang berupa tanaman maupun hewan, bahkan dapat mencerna karbohidrat
dengan baik serta masa reproduksinya tergolong cepat dan bertelur banyak, yakni
sekitar 100.000-200.000 butir per kg. Budidaya ikan mas telah berkembang pesat
di kolam biasa, di sawah, waduk, sungai air deras, bahkan ada yang dipelihara
dalam keramba di perairan umum. Dalam budidaya ikan mas terdapat kriteria
lokasi dalam penempatan budidaya yaitu sebagai berikut :
1. Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung,
tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan
tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
2. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk
memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
3. Ikan mas dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada ketinggian
antara 150-1000 m dpl.
4. Kualitas air untuk pemeliharaan ikan mas harus bersih, tidak terlalu keruh dan
tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.
5. Ikan mas dapat berkembang pesat di kolam, sawah, kakaban, dan sungai air
deras. Kolam dengan sistem pengairannya yang mengalir sangat baik bagi

pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan mas. Debit air untuk kolam air tenang
8-15 liter/detik/ha, sedangkan untuk pembesaran di kolam air deras debitnya 100
liter/menit/m3 .
6. Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 7-8.
7. Suhu air yang baik berkisar antara 200-250 C.

2.3.1

Kolam Pembesaran
Bentuk kolam pembesaran yang baik adalah segi empat. Pemasukan air bisa

dengan pralon dan pengeluaran/ pembuangan dengan pintu berbentuk monik. Dasar
kolam dibuatkan kemalir (saluran dasar) dan di dekat pintu pengeluaran dibuat
kubangan. Fungsi kemalir adalah tempat berkumpulnya benih saat panen dan
kubangan untuk memudahkan penangkapan benih. dasar kolam dibuat miring ke
arah pembuangan. Petak tambahan air yang mempunyai kekeruhan tinggi (air
sungai) maka perlu dibuat bak pengendapan dan bak penyaringan (Suseno 2003).

2.3.2

Proses Pembesaran
Pembesaran ikan di kolam dilakukan setelah kolam selesai diolah.

Pengolahan kolam terdiri dari pengeringan yang dilakukan selama 4 hari, kemudian
dilanjutkan dengan pengapuran menggunakan kapur pertanian atau tohor dengan
dosis 20 g/m 2 yang dibiarkan selam 3 hari. Selanjutnya, kolam diairi air setinggi
10 cm dan dipupuk menggunakan kotoran ayam dengan dosis 200 g/m 2. Setelah 3
hari, ketinggian air ditambah hingga 120 cm. Pada hari ke-6, ikan mas siap ditebar.
Pakan yang diberikan yaitu pakan buatan berupa pelet berkadar protein 26-28%
sebanyak 5-10% berat biomasa dengan frekuensi pemberian 3-5 kali daam satu hari.
Selama 3-3,5 bulan, hasil panen pada pemeliharaan di kolam seluas 1.000 m 2
sekitar 750 kg- 1 ton.

2.4

Faktor Yang Mempengaruhi Budidaya


Faktor yang mempengaruhi budidaya ikan diantaranya adalah faktor

Independen dan Faktor Dependen.

A.

Faktor Independen
Faktor independen adalah faktor-faktor yang umunmya tidak dipengaruhi

oleh faktor-faktor lain (Sukadi 2002). Faktor-faktor tersebut adalah:


1. Lingkungan
Ciri-ciri fisik lingkungan yang penting bagi pengembangan budidaya
perikanan sangat bergantung kepada ketersediaan dan kecocokan fisik dari areal
untuk pengembangan budidaya perikanan yaitu:
a. Tersedianya lahan;
b. Topografi dan elevasi lahan;
c. Sifat-sifat tanah, teristimewa komposisi, tekstur dan kemampuan menahan air,
sifat oseanografi perairan;
d. Frekuensi, jumlahdan disfiibusi hujan;
e. Mutu, kuantitas, ketersediaan dan aksesibilitas air;
f. Kondisi cuaca, seperti suhu, laju penguapan, perubahan musim, frekuensi topan
dan lamanya;
g. Kualitas dan kuantitas populasi;
h. Akses ke suplai danpasar.

2. Faktor Manusia
Faktor manusia meliputi sikap, adat istiadat dan gaya hidup dari warga,
stabilitas dan kekuatan ekonomi serta politik dari pemerintah. Faktorfaktor ini
beragam dan kompleks, contohnya:
a. Sikap dan keterampilan produsen relatif terhadap mengadopsi tekno-logi dan
modal untuk ditanamkan dalam produksi;
b. Perminataan pasar, sikap konsu-men, daya beli;
c. Kemauan dan kemampuan pemerintah melengkapi prasarana, kredit dan
sebagainya;
d. Kemampuan lembaga pemerintah melengkapi sistem dukungan pela-yanan bagi
pengembangan budidaya perikanan antara lain pelatihan bagi profesional,
penelitian guna mengembangkan teknologi baru, dan penyuluhan.

B.

Faktor Dependen
Faktor dependen adalah faktor-faktor yang dipengaruhi oleh faktor-faktor

lainnya. Faktor-faktor tersebut ialah wadah budidaya ikan, input hara, spesies ikan,
dan teknologi. Wadah budidaya ikan seperti tambak, kolam, keramba dan
sebagainya sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan fisik dan manusia misalnya:
a. Kolam lebih cocok di daerah lahan pegunungan.
b. Keramba jaring apung dikembang-kan di perairan waduk dan laut.
Input hara berupa pupuk dan pakan tergantung kualitas dan kuantitasnya
pada faktor lingkungan fisik, misalnya: unsur ramuan pakan tidak dapat diproduksi
dimana lingkungan fisik tidak cocok bagi produksinya. Spesies ikan yang
dibudidayakan sangat tergantung dari faktor-faktor spesifik tiap spesies misalnya:
Tilapia tidak cocok dibudidayakan pada saat suhu rendah di bawah 200C.
Teknologi yang menggunakan karamba jaring apung menuntut pem-berian pakan
yang intensif (Sukadi 2002).

2.5

Analisis Keuntungan
Keuntungan dari suatu usaha tergantung pada hubungan antara biaya

produksi yang dikeluarkan dengan jumlah penerimaan dari hasil penjualan, dengan
pusat perhatian ditujukan bagaimana cara menekan biaya sewajarnya supaya dapat
memperoleh keuntungan sesuai dengan yang diinginkan, adapun biaya yang
dikeluarkan adalah biaya tetap dan biaya variabel. Keuntungan adalah jumlah yang
diperoleh dari penerimaan hasil penjualan hasil produksi setelah dikurangi dengan
total biaya produksi pada periode tertentu. Sehingga untuk menghitung jumlah
keuntungan maka perlu diketahui jumlah penerimaan dan biaya yang dikeluarkan
(Alex 2004). Adapun kajian teori keuntungan yaitu :

2.5.1

Biaya
Analisa biaya dan pendapatan sangatlah penting untuk mengetahui tingkat

kehidupan dan keberhasilan tingkat usaha. Mubyarto (2004) menyatakan bahwa


biaya adalah semua pengeluaran yang dinyatakan dengan uang, digunakan untuk

10

keperluan menghasilkan suatu produk dalam suatu periode produksi. Ada dua
komponen biaya yaitu :
a. Biaya tetap adalah biaya yang sifatnya tidak dipengaruhi oleh produksi, seperti
sewa tanah, bunga pinjaman, dan merupakan kewajiban yang harus dibayar oleh
suatu usaha per satuan waktu tertentu, untuk keperluan pembayaran semua input
tetap dan besarnya tidak tergantung dari jumlah produk yang dihasilkan.
b. Biaya variabel adalah kewajiban yang harus dibayar oleh suatu usaha pada waktu
tertentu, untuk pembayaran semua input variabel yang digunakan dalam proses
produksi dan sifatnya sesuai besarnya biaya produksi seperti, bibit, pakan.

2.5.2

Penerimaan
Penerimaan dapat diartikan sebagai target penciptaan berdasarkan selera

pasar, dimana penerimaan berasal dari hasil penjualan produk baik berupa barang
dan jasa usaha. Menurut Soekartawi (2003), penerimaan (pendapatan kotor) adalah
jumlah semua produksi yang dihasilkan dalam suatu kegiatan usaha dikalikan
dengan harga yang berlaku di pasaran.

2.5.3

Pendapatan Analisis
Pendapatan adalah suatu bentuk pengamatan terhadap nilai akhir dari

pendapatan yang diperoleh setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang ada dari
pengeluaran lainnya. Pendapatan adalah selisih antara penerimaan dengan semua
biaya. Pendapatan maksimum dapat ditingkatkan dengan cara meminimumkan
biaya untuk penerimaan yang tepat atau meningkatkan penerimaan pada biaya yang
tetap. Pendapatan dapat dihitung dengan rumus PD = TR TC , dimana PD adalah
Pendapatan, TR adalah Total Penerimaan , dan TC adalah Total

2.5.4

Efisiensi
Pengertian efisiensi diartikan sebagai upaya penggunaan masukan yang

sekecil-kecilnya untuk mendapatkan produksi yang sebesar-besarnya. Keberhasilan


proses produksi pada suatu usahatani dapat dilihat dari tingkat efisiensi yang
dicapai sehingga, akan diperoleh keuntungan yang maksimum. Konsep efisiensi

11

dalam analisis banyak digunakan sebagai penetapan dalam mengambil keputusan


dalam usahatani sehubungan dengan pencapaian pendapatan dan keuntungan yang
maksimum (Soekartawi 2002). Efisiensi usaha tani adalah nisbah penerimaan
dengan biaya (R/C) usahatani yang merupakan salah satu ukuran apakah usahatani
tersebut efisien atau tidak. Nilai R/C yang lebih besar dari 1 menunjukkan bahwa
usahatani tersebut efisien (Hernanto 1991). R/C = Biaya Penerimaan/biaya.

2.5.5

Profitabilitas (Benefit Cost Ratio)


B/C rasio merupakan perbandingan antara tingkat keuntungan yang

diperoleh dengan biaya total yang dikeluarkan selama pemeliharaan satu periode.
Suatu usaha dinilai layak atau memberikan manfaat bila nilai B/C rasio > 0.
/ =

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1

Analisis Sitem Budidaya


Usaha budidaya ikan mas yang ada disubang didirikan sejak tahun 2013

yang mempunyai 21 kolam dengan luas kolam seluruhnya sekitar 323,4 m 2 dan
setiap kolam memiliki panjang 2,2 m, lebar 7 m, dan kedalaman 1,5 m. Budidaya
ikan mas yang ada di subang adalah budidaya dalam kolam air mengalir dimana air
yang digunakan berasal dari sungai yang berdekatan langsung dengan tempat usaha
budidaya, air yang berasal dari sungai masuk kedalam sebuah kolam penampung
sebelum di alirkan ke setiap kolam yang berfungsi sebagai filter sehingga sampah
tidak masuk ke setiap kolam budidaya, setelah air masuk kedalam kolam
penampung kemudian air masuk ke setiap kolam budidaya melalui saluran air yang
berupa sungai kecil yang berda dalam kolam kemudian didistribusikan kesetiap
kolam dan dikeluarkan kembali melalui lubang yang berada di bawah kolam
(blower) sehingga air keluar ke sungai, begitu seterusnya sehingga dengan air yang
terus mengalir sehingga dapat meningkatkan kandungan oksigen yang ada didalam
perairan kolam tanpa menggunakan pompa dan aerator. Sistem pengairan yang
dilakukan adalah secara seri yaitu tersusun secara berjejer sehingga dengan
pengairan secara seri maka kolam tidak dapat terjadi kontaminasi penyakit dari satu
kolam yang terkena penyakit ke kolam yang lain. Sistem budidaya yang dilakukan
merupakan sitem budidaya semi intensif karena petak pada kolam pemeliharaan
ikan mas tidak begitu besar sehingga mempermudah pengawasan dengan kolam
sebanyak 21 kolam, padat penebaran ikan mas pada setiap kolam cukup tinggi,
Pengantian air dilakukan setiap hari karena digunakan budidaya kolam air mengalir,
pemberian pakan dilakukan secara teratur setiap tiga kali sehari dengan setiap
pemberian sebesar 5 kg per satu kolam dan kolam yang digunakan merupakan
kolam semen artinya setiap keseluruhan dari komponen kolam terbuat dari semen.
Sistem budidaya tersebut tidak dikatakan intensif dikarenakan tidak menggunakan
sarana produksi (pupuk, kapur, dan bahan kimia), dan ikan yang dihasilkan tidak

12

13

cukup baik karena pemilihan benih yang dihasilkan oleh induk yang kurang baik
sehingga benih yang dihasilkan tidak bagus yang mengakibatkan ikan yang
dipelihara tidak normal.

3.2

Analisi Usaha

3.2.1

Analisis Biaya dan Pendapatan


Biaya usaha pembesaran ikan mas di kolam air deras yang berada di daerah

subang kami bedakan menjadi dua yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap
yang dikeluarkan oleh pengusaha budidaya ikan mas di kolam air deras di subang
dapat dilihat pada tabel 1.
No
1
2
3

Tabel 1. Analisis Biaya dan Pendapatan


Macam Biaya Tetap
Biaya Tetap per Siklus
Budidaya (3 bulan)
Biaya Pajak
Rp. 125.000
Biaya Listrik
Rp. 450.000
Biaya Penyusutan Peralatan
Rp. 200.000
Total Biaya
Rp. 775.000

Berdasarkan Tabel 1 biaya tetap usaha pembesaran ikan mas di kolam air
deras di subang dalam sekali proses pembesaran ikan mas (3 bulan) dengan Luas
Kolam 323,4 m2 dapat diketahui bahwa biaya tetap yang dikeluarkan pengusah
ikan selama satu kali proses pembesaran ikan adalah sebesar Rp 775.000. Biaya
tetap yang paling banyak dikeluarkan oleh petani ikan adalah biaya listrik yaitu
sebesar Rp 450.000 per 3 bulan atau setiap siklus budidaya ikan dengan setiap bulan
membayar sebesar Rp.150.000 dan biaya tetap yang paling sedikit dikeluarkan
adalah biaya pajak tanah yaitu sebesar Rp. 125.000 per 3 bulan atau setiap siklus
budidaya, hal ini dikarenakan pajak tanah hanya dibayarkan satu tahun sekali oleh
pengusaha ikan dan luas kolam yang dimiliki 323,4 m2, sehingga biaya yang
dikeluarkan sedikit. Di dalam biaya tetap tidak terdapat biaya bunga modal
investasi karena usaha yang dijalankan merupakan usaha sendiri dengan
menggunakan modal pribadi atau tidak terdapat investor dan pengusaha juga
menggunakan lahan milik pribadi bukan lahan sewa.

14

Biaya Variabel yang dikeluarkan oleh pengusaha budidaya ikan mas di


kolam air deras di subang dapat dilihat pada tabel 2.
No
1

Tabel 2. Biaya Variabel


Macam Biaya Variabel
Biaya Variabel per
Siklus (3 Bulan)
Biaya Pengadaan sarana Produksi
a) Benih Ikan
Rp. 56.700.000
b) Pakan Ikan
Rp. 765.450.000
Biaya Tenaga Kerja (2 pekerja)
Rp. 7.200.000
Total Biaya
Rp. 829.350.000

Berdasarkan Tabel 2 dapat dapat diketahui bahwa biaya variabel yang


dikeluarkan per siklus budidaya (3 bulan) ikan adalah sebesar Rp 829.350.000.
Biaya variabel yang paling banyak dikeluarkan petani ikan adalah biaya pengadaan
sarana produksi yang berupa pakan ikan sebesar Rp 765.450.000. Hal ini
dikarenakan pakan ikan merupakan komponen yang paling penting dalam usaha
pembesaran ikan nila mas yang hampir 70 % dari modal budidaya digunakan untuk
pakan ikan dan harganya pun mahal. biaya pengeluaran terendah pada biaya
variabel yaitu pada biaya tenaga kerja karena tenaga kerja yang digunakan hanya 2
orang dan setiap orang memperoleh setiap bulannya sesuai dengan UMR yaitu
sebesar Rp. 1.200.000 sehingga pengeluaran untuk biaya tenaga kerjapun kecil.
Dalam usaha pembesaran ikan mas di kolam air deras yang berada di Subang tidak
terdapat biaya transportasi karena pengusah menjual secara langsung di tempat
budidaya.
Dengan kita mengetahui biaya tetap dan biaya variabel kita dapat
menetukan seberapa besar biaya total yang diperlukan selama satu siklus budidaya
oleh pengusaha ikan mas kolam air deras yang berada di subang dengan cara
menjumlahkan antara biaya tetap dengan biaya variabel yaitu
Biaya Total = Biaya Variabel + Biaya Tetap
Biaya Total = Rp. 829.350.000 + Rp. 775.000
Biaya Total = Rp. 830.125.000
Maka biaya total yang diperlukan setiap satu siklus budidaya pembesaran
Ikan mas kolam air deras adalah sebesar Rp. 830.125.000. Biaya terbesar yang
dikeluarkan dalam usaha pembesaran ikan nila merah berasal dari biaya variabel

15

yaitu sebesar Rp. 829.350.000. Sedangkan rata-rata biaya tetap yang dikeluarkan
oleh petani ikan adalah sebesar Rp . 775.000 dari biaya total seluruhnya.

3.2.2

Keuntungan dan Biaya Penerimaan


Berdasarkan wawancara yang kami lakukan kepda pengusaha, pengusaha

mengatakn bahwa keuntungan untuk setiap satu siklus budidaya adalah sebesar Rp.
10.000.000. keuntungan tersebut merupakan keuntungan bersih yang di peroleh
oleh pengusaha budidaya ikan mas setelah dikurangi oleh biaya total pengeluaran
atau modal. Dengan kita mengetahui keuntungan dari pengusah kita dapat mencari
biaya penerimaan yang didapatkan oleh pengusaha secara keseluruhan yaitu dengan
cara menjumlahkan antara biaya total dengan keuntungan bersih :
Biaya Penerimaan = Biaya Total + Keuntungan
Biaya penerimaan = Rp. 830.125.000 + Rp. 10.000.000
Biaya Penerimaan = Rp. 840.125.000
Maka didapatkan biaya penerimaan yang dihasilkan selama satu siklus
budidaya yaitu sebesar Rp. 840.125.000.

3.2.3

Profitabilitas
Berdasarkan

keuntungan

yang

diperoleh,

maka

dapat

diketahui

profitabilitas atau tingkat keuntungan dari usaha pembesaran ikan mas di kolam air
deras di daerah subang. Profitabilitas sendiri merupakan hasil bagi antara
keuntungan dengan biaya total dan dinyatakan dalam persen. Besarnya
profitabilitas dari usaha pembesaran ikan mas di kolam air deras di Subang dapat
dilihat pada Tabel 3.
No
1
2

Tabel 3. Profitabilitas
Uraian
Biaya per siklus
(3 bulan)
Keuntungan
Rp. 10.000.000
Biaya Total
Rp. 830.125.000
Profitabilitas (%)
1,2 %

16

Profitabilitas =
Profitabilitas =

Keuntungan
Biaya Total

100 %

Rp.10.000.000
Rp.830.125.000

100 %

Profitabilitas = 1,2 %
Hasil tersebut menunjukkan bahwa profitabilitas atau tingkat keuntungan
dari usaha pembesaran ikan mas adalah sebesar 1,2 %. Hal ini berarti pengusaha
pembesaran ikan mas di kolam air deras di subang menguntungkan dan layak untuk
dijalankan karena memiliki nilai profitabilitas lebih dari nol. Setiap biaya total
sebesar Rp 100,00 yang diinvestasikan akan diperoleh keuntungan sebesar Rp 1,2.

3.2.4

Efisiensi Usaha (Revenue Cost Ratio) Pembesaran Mas di Kolam Air


Deras
Efisiensi usaha pembesaran ikan mas di kolam air deras di subang

merupakan perbandingan antara total penerimaan dengan total biaya

yang

dikeluarkan dalam usaha pembesaran ikan mas. Besarnya efisiensi usaha


pembesaran ikan mas di kolam air deras di subang dapat dilihat pada Tabel 4.
No
1
2

Tabel 4. Besarnya Efisiensi Usaha


Uraian
Biaya per siklus
(3 bulan)
Penerimaan
Rp. 840.125.000
Biaya Total
Rp. 830.125.000
Efesiensi
1,012
R/C =

Penerimaan
Biaya Total
Rp.840.125.000

R/C = Rp.830.125.000
R/C = 1,012
Hasil dari perhitungan yang telah di lakukan, di ketahui nilai R/C = 1,012.
Berarti hasil tersebut menunjukkan bahwa usah budidaya pembesaran ikan mas
masih layak dan menguntungkan. Karena setiap penanaman modal sebesar Rp. 1,akan di peroleh hasil sebesar Rp. 1,012-

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1

Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan data diatas dapat disimpulkan bahwa :

1. Sistem budidaya yang dilakukan merupakan sitem budidaya semi intensif.


2. Ikan yang dihasilkan tidak cukup baik karena pemilihan benih yang dihasilkan
oleh induk yang kurang baik sehingga benih yang dihasilkan tidak bagus yang
mengakibatkan ikan yang dipelihara tidak normal.
3. Biaya total yang diperlukan setiap satu siklus budidaya pembesaran Ikan mas
kolam air deras adalah sebesar Rp. 830.125.000. Biaya terbesar yang
dikeluarkan dalam usaha pembesaran ikan nila merah berasal dari biaya variabel
yaitu sebesar Rp. 829.350.000. Sedangkan rata-rata biaya tetap yang
dikeluarkan oleh petani ikan adalah sebesar Rp. 775.000 dari biaya total
seluruhnya.
4. Biaya penerimaan yang dihasilkan selama satu siklus budidaya yaitu sebesar Rp.
840.125.000.
5. Profitabilitas atau tingkat keuntungan dari usaha pembesaran ikan mas adalah
sebesar 1,2 %, artinya setiap biaya total sebesar Rp 100,00 yang diinvestasikan
akan diperoleh keuntungan sebesar Rp 1,2.
6. Nilai R/C = 1,012. Berarti hasil tersebut menunjukkan bahwa usah budidaya
pembesaran ikan mas masih layak dan menguntungkan, karena setiap
penanaman modal sebesar Rp. 1,- akan di peroleh hasil sebesar Rp. 1,012-

4.2

Saran
Sebaiknya dilakukan pengamaan yang lebih teliti ketika kita megamati

proses pendederan dan pembesaran sehinga kita akan jauh lebih mudah memahami
proses tersebut ketika kita memiliki usaha budidaya sendiri. Dan juga kita harus
belajar menganalisis pengeluaran dan keuntungan dari usaha budidaya.

17

DAFTAR PUSTAKA

Adliah, Nudiyal. 2012. Analisis Pendapatan Usaha Pengolahan Ikan Mas


(Cyprinus carpio (Studi Kasus pada Usaha Limbung Mas Indah, Kelurahan
Kalebajeng, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa). http://repository.
unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/1145/NUDIAL%20ADLIAH.pdf?s
equence=1. (Diakses 02 juni 2015 pukul 12:20)
Derita, Putra. 2012. Sistem dan Pola Budidaya Perikanan. http://putraderita.
blogspot.com/2012/03/sistem-da-pola-budidaya-perikanan.html (Diakses 04
Juni 2015 pukul 11:25)
Effendi, I. 2004. Pengantar Akuakultur. Jakarta : Penebar Swadaya.
Hernanto, F. 1991. Ilmu Usaha Tani. Jakarta : Penebar Swadaya.
Mubyarto. 2004. Keuangan Mikro Kulon Progo. Yogyakarta : Aditya Media.
Putri, Catur. 2012. Bab II Kajian Teori. http://eprints.uny.ac.id/9164/3/BAB
%202%20-%2008308141029.pdf.(Diakses 04 Juni 2015 pukul 11:54)
Santoso, B. 1993. Petunjuk Praktis Budidaya Ikan Mas. Yogyakarta : Kanisius.
Soekartawi. 2003. Teori Ekonomi Produksi. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Ratih Ayu Dwi Ratnawati. 2010. Analisis Usaha Pembesaran Ikan Nila Merah
(Oreochromis sp) Di Kolam Air Deras Di Kabupaten Klaten. Universitas
Sebelas Maret : Surakarta.
Wibowo, Joko. 2011. Analisis Usaha Dan Alternatif Strategi Pengembangan
Agribisnis Pembenihan Ikan Lele Dumbo Di Kecamatan Ceper Kabupaten
Klaten. Universitas Sebelas Maret : Surakarta.

18

LAMPIRAN

Gambar 1. Pengamatan terhadap kondisi kolam budidaya


(sumber: dokumentasi pribadi)

Gambar 2. Kolam Budidaya


(sumber: dokumentasi pribadi)

Gambar 3. Pengairan kolam budidaya dengan air deras


(sumber: dokumentasi pribadi)

ix

Gambar 4. Kolam Pembesaran


(sumber: dokumentasi pribadi)

Gambar 5. Pembuangan air sebelum menyortir ikan


(sumber: dokumentasi pribadi)

Gambar 6. Ikan yang akan disortir menurut ukuran


(sumber: dokumentasi pribadi)

Gambar 7. Kondisi kolam saat akan dilakukan sortir


(sumber: dokumentasi pribadi)

Gambar 8. Proses pensortiran ikan


(sumber: dokumentasi pribadi)

Gambar 9. Pakan Ikan yang digunakan


(sumber: dokumentasi pribadi)