Anda di halaman 1dari 25

Konflik

Masyarakat adalah makhluk social yang selalu berinteraksi. Dalam interaksinya,


manusia sering kali dihadapkan pada situasi yang disebut konflik
(pertentangan/pertikaian). Munculnya konflik social tidak terjadi dengan sendirinya
dan tidak sesederhana yang bisa kita bayangkan. Banyak factor yang kita harus
dikaji,mengapa konflik tersebut muncul kepermukaan.

Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara
sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga
kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan
menghancurkannya atau membuatnya tidak
berdaya.

Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah


mengalami konflik antar anggotanya atau dengan
kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan
hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu
sendiri.

Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri


yang dibawa individu dalam suatu interaksi.
perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah
menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan,
adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya.
Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam
interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu
masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan
kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya
masyarakat itu sendiri.

Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di
masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang
tidak sempurna dapat menciptakan konflik.

DEFINISI MENURUT PARA AHLI


Soerjono soekanto menyebut konflik sebagai perantara atau pertikaian, yaitu suatu proses
sosial individu atau kelompok yang berusaha memenuhi tujuanya dengan jalan menentang
pihak lawan, disertai dengan ancaman dan/ atau kekerasan. Sementara itu, konflik sosial bisa
diartikan menjadi dua hal. Pertama,perspektif atau sudut pandang yang menghadap konflik
selalu ada dan mewarnai segenap aspek interaksi manusia dan struktur sosial. Kedua, konflik
sosial merupakan pertikaian terbuka seperti perang,revolusi, pemogokan, dan gerakan
perlawanan.
Para teoritis konflik banyak berpedoman pada pemikiran max, meskipun memiliki pemikiran
sendiri yang berlainan. Tokoh-tokoh teoritis konflik di antaranya, Ralf Dahrendorf dan
Randall Collins.
Dahrendof berpendirian bahwa masyarakat mempunyai dua wajah yaitu konflik dan
consensus, sehingga teori sosiologi harus dibagi menjadi dua bagian, teori konflik dan teori
consensus. Dahrendof juga mengakui bahwa masyarakat takan ada tanpa consensus dan punya
konflik yang menjadi persyaratan satu sama lain. Jadi, kita takan punya konflik jika tidak ada
consensus terlebih dahulu.
Tokoh lainya, Collins menjelaskan bahwa konflik adalah proses sentral dalam
kehidupan sosial sehingga dia tidak menganggap konflik itu baik atau buruk. Colins

1
memandang setiap orang memiliki sifat sosial ( sociable), tetapi jiga mudah berkonflik dalam
hubungan sosial mereka. Konflik bisa terjadi dalam hubungan sosial karena penggunaan
kekerasan oleh seseorang atau banyak orang dalam lingkungan pergaulanya. Ia melihat orang
mempunyai kepentingan sendiri-sendiri, jadi berbenturan mungkin terjadi karena adanya
kepentingan-kepentingan yang saling bertentangan.

Beberapa ahli mengemukakan pendapatnya mengenai konflik, diantaranya sebagai


berikut.
a. Menurut Berstein (1965), konflik merupakan suatu pertentangan, perbedaan yang tidak
dapat dicegah. Konflik mempunyai potensi yang memberikan pengaruh positif (+) dan ada pula
yang negatif (—) di dalam interaksi manusia.
b. Menurut Dr. Robert M.Z. Lawang, konflik itu adalah perjuangan untuk memperoleh
nilai, status,kekuasaan, di mana tujuan dari mereka yang berkonflik, tidak hanya memperoleh
keuntungan, tetapi juga untuk menundukkan saingannya.
c. Menurut Drs. Ariyono Suyono, konflik adalah proses atau keadaan di mana dua pihak
berusaha menggagalkan tercapainya tujuan masing-masing yang disebabkan adanya perbedaan
pendapat, nilai-nilai ataupun tuntutan dari masing-masing pihak.
d. Menurut James W. Vander Zanden, konflik diartikan sebagai suatu pertentangan
mengenai nilai atau tuntutan hak atas kekayaan, kekuasaan, status, atau wilayah tempat pihak yang
saling berhadapan bertujuan untuk menetralkan, merugikan ataupun menyisihkan lawan
mereka.

Faktor penyebab konflik


 Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.

Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan
perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan
sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial,
sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya.
Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap
warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang
merasa terhibur.

 Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi


yang berbeda.

Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian
kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan
perbedaan individu yang dapat memicu konflik.

 Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.

Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh
sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki

2
kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi
untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal
pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang
menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para
petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk
membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian
kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta
lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas
terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga
akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini
dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi
antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok
buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para
buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan
yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.

 Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.

Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung
cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial.
Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak
akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang
biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri.
Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak
kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan
bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan.
Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan
waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti
jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara
cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan
akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap
mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.

Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk rawan terhadap terjadinya suatu konflik sosial,
karena secara garis besar struktur sosial masyarakat Indonesia terbagi ke dalam berbagai suku
bangsa, agama, ataupun golongan yang beragam.
Menurut J. Ranjabar hal-hal yang dapat menjadi penyebab terjadinya konflik pada masyarakat
Indonesia adalah sebagai berikut.
1) Apabila terjadi dominasi suatu kelompok terhadap kelompok lain. Contohnya adalah
konflik yang terjadi di Aceh dan Papua.
2) Apabila terdapat persaingan dalam mandapatkan mata pencaharian hidup antara
kelompok yang berlainan suku bangsa. Contohnya, konflik yang terjadi di Sambas.
3) Apabila terjadi pemaksaan unsur-unsur kebudayaan dari warga sebuah suku terhadap
warga suku bangsa lain. Contohnya, konflik yang terjadi di Sampit.
4) Apabila terdapat potensi konflik yang terpendam, yang telah bermusuhan secara adat.
Contohnya, konflik antarsuku di pedalaman Papua. Oleh sebab itu, terdapat berbagai bentuk
konflik dalam kehidupan masyarakat.

3
Jenis-jenis konflik
Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 4 macam :

 konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-
peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role))
 konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank).
 konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).
 konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara).

Menurut Ursula Lehr kemungkinan-kemungkinhan situasi yang dapat menimbulkan konflik


adalah sebagai berikut.
1. Konflik dengan Orang Tua Sendiri
Konflik ini terjadi sebabgai akibat situasi-situasi hidup bersama orang tua.
2. Konflik dengan Anak Sendiri
Konflik ini terjadi misalnya setelah otang tua mengetahui tingkah laku anak yang tidak
Cocok dengan harapannya.
3. Konflik dengan Sanak Keluarga
Misalnya timbul konflik dengan mertua atau keluarga suami atau istri yang dipandang
Terlalu ikut campur.
4. Konflik Dengan Orangn Lain
Konflik ini timbul dalam hubungan social denagn tetangga-tetangga,teman,dll.
5. Konflik dengan Suami atau Isteri
Persoalan hidup atau tujuan hidup dapat memicu terjadingya konflik antara suami isteri
6. Konflik di Sekolah
Berbagai macam konflik disekolah antara lain berupa tidak dapat mengikuti pelajaran.
7. Konflik dalam Pemilihan Pekerjaan
Konflik ini timbul dari sifat pekerjaan sendiri.
8. Konflik Agama
Berhubungan dengan pertanyaan mengenai hakikat dan tujuan hidup
9. Konflik Pribadi
Misalnya,timbul karena minat yang berlawanan.
Secara garis besar berbagai konflik dalam masyarakat dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa
bentuk konflik berikut ini.
a. Berdasarkan Sifatnya
Berdasarkan sifatnya, konflik dapat dibedakan menjadi konflik destruktif dan konflik
konstruktif.
1) Konflik destruktif merupakan konflik yang muncul karena adanya perasaan tidak
senang, rasa benci dan dendam dari seseorang ataupun kelompok terhadap pihak lain. Pada
konflik ini terjadi bentrokan-bentrokan fisik yang mengakibatkan hilangnya nyawa dan
harta benda. Contohnya, konflik Ambon, Poso, Kupang, dan Sambas.
2) Konflik konstruktif merupakan konflik yang bersifat fungsional, konflik ini muncul
karena adanya perbedaan pendapat dari kelompokkelompok dalam menghadapi suatu
permasalahan. Konflik ini akan menghasilkan suatu konsensus dari perbedaan pendapat tersebut
dan menghasilkan suatu perbaikan. Misalnya, perbedaan pendapat dalam sebuah organisasi.

4
b. Berdasarkari Posisi Pelaku yang Berkonflik
Berdasarkan posisi pelaku yang berkonfiik, konfiik dibedakan menjadi konflik vertikai,
konflik horizontal, dan konflik diagonal.
1) Konflik vertikal merupakan konflik antarkomponen masyarakat di dalam satu struktur yang
memiliki hierarki. Contohnya, konflik yang terjadi antara atasan dengan bawahan dalam
sebuah kantor.
2) Konflik horizontal merupakan konflik yang terjadi antara individu atau kelompok yang
memiliki kedudukan yang relatif sama. Contohnya, konflik yang terjadi antarorganisasi
massa.
3) Konflik diagonal merupakan konflik yang terjadi karena adanya ketidakadiian alokasi
sumber daya ke seluruh organisasi sehingga menimbulkan pertentangan yang ekstrim.
Contohnya, konfiik Aceh.

Berdasarkan Konsentrasi Aktivitas Manusia di Dalam Masyarakat Konflik


dibedakan menjadi konflik sosial, konflik politik, konflik ekonomi, konflik budaya, dan
konflik ideologi.
1) Konflik sosial merupakan konflik yang terjadi akibat adanya perbedaan kepentingan
soshi! Dari pihak yang berkonflik. Konflik sosial ini dapat dibedakan menjadi konflik sosial
vertikal dan konflik sosial horizontal. Konflik ini seringkali terjadi karena adanya provokasi
dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
a) Konflik sosial vertikal, yaitu konflik yang terjadi antara masyarakat dan negara.
Contohnya, kemarahan massa yang berujung pada peristiwa Trisakti (12 Mei 1998).
b) Konflik sosial horizontal, yaitu konflik yang terjadi antaretnis, suku, golongan, atau
antarkelompok masyarakat. Contohnya, konflik yang terjadi di Ambon.
2) Konflik politik merupakan konflik yang terjad karena adanya perbedaan kepentingan yang
berkaitan dengan kekuasaan. Contohnya, konflik yang terjadi antarpengikut suatu parpol.
3) Konflik ekonomi merupakan konflik akibat adanya perebutan sumber daya ekonomi
dari pihak yang berkonflik. Contohnya, konflikantarpengusaha ketika melakukan tender.
4) Konflik budaya merupakan konflik yang terjadi karena adanya perbedaan kepentingan
budaya dari pihak yang berkonflik. Contohnya, adanya perbedaan pendapat antarkelompok
dalam menafsirkan RUU antipomografi dan pornoaksi.
5) Konflik ideologi merupakan konflik akibat adanya perbedaan paham yang diyakini oleh
seseorang atau sekelompok orang Contohnya, konflik yang terjadi pada saat G-30-S/PKI.

5
e. Berdasarkan Cara Pengelolaznnya.
Berdasarkan cara pengelolaannya, konflik dapat dibedakan menjadi konflik interindividu,
konflik antarindividu, dan konflik antarkelompok sosial.
1) Konflik interindividu merupakan tipe yang paling erat kaitannya dengan emosi
individu hingga tingkat keresahan yang paling tinggi. Konflik dapat muncul dari dua penyebab,
yaitu karena kelebihan beban (role overloads) atau karena ketidaksesuaian seseorang dalam
melaksanakan peranan {person-role incompatibilities). Dalam kondisi pertama seseorang
mendapat beban berlebihan akibat status (kedudukan) yang dimiliki, sedang dalam kondisi
yang kedua seseorang memang tidak memilikikesesuaian yang cukup untuk melaksanakan
peranan sesuai dengan statusnya. Perspektif konflik interindividu mencakup tiga macam
situasi alternatif berikut.
a) Konflik pendekatan-pendekatanr, seseorang harus memilih di antara dua buah alternatif
behavior yang sama-sama atraktif.
b) Konflik menghindari-menghindarr, seseorang dipaksa untuk memilih antara tujuan-tujuan
yang sama-sama tidak atraktif dan tidak diinginkan.
c) Konflik pendekatan-menghindari multipet, seseorang menghadapi kemungkinan pilihan
kombinasi multipel; dari konflik pendekatan-menghindari.
2) Konflik antar individu merupakan konflik yang terjadi antara seseorang dengan satu orang
atau lebih, sifatnya kadang-kadang substantif, menyangkutperbedaan gagasan, pendapat,
kepentingan, atau bersifat emosional, menyangkut perbedaan selera, dan perasan like/dislike (suka/tidak
suka). Setiap orang pernah mengalami situasi konflik semacam ini, ia banyak mewarnai tipe-tipe
konflik kelompok maupun konflik organisasi. Karena konflik tipe ini berbentuk konfrontasi
dengan seseorang atau lebih, maka konflik antarindividu ini juga merupakan target yang perlu
dikelola secara baik.
3) Konflik antarkelompok merupakan konflik yang banyak dijumpai dalam kenyataan
hidup manusia sebagai makhluk sosial, karena mereka hidup dalam kelompok-kelompok.
Contohnya, konflik antarkampung.

6
A. Kegiatan 1
A. Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
1. Dalam interaksi sosial manusia, konflik dapat terjadi di antara kelompok-kelompok yang dulunya belum pernah berinteraksi secara
intensif, misalnya antara ....
a. tramsmigran dengan penduduk asli setempat d.pengembara dengan binatang buas di hutan
b. seorang guru dengan murid baru e.kelompok yang anggotanya telah lama berinteraksi
c. sahabat yang sudah lama tak pernah berjumpa

2. Konflik adalah proses atau keadaan di mana dua pihak berusaha menggagalkan tercapainya tujuan masing-masing pihak, yang disebabkan adanya
perbedaan pendapat, nilai, maupun tuntutan dari masing-masing pihak. Pendapat ini dikemukakan oleh ....
a. Auguste Comte c.Saoelaiman Soemardi e.J.LGillindanJ.P.Gillin
b. Ariyono Suyono d.Paul B. Horton

3. Dalam konflik destruktif dikenal adanya konflik emosional destruktif, misalnya ....
a. perasaan tidak senang c.perbedaan tujuan e.perbedaan kepentingan
b. perbedaan ide/gagasan d.perbedaan pendapat

4. Di antara hal-hal berikut ini yang berpotensi mengawali suatu konflik antarkelompok sosial adalah ....
a. kejelasan status dan peranan d.hambatan-hambatan komunikasi
b. konflik-konflik yang telah diatasi sebelumnya e.persepsi-persepsi individu
c.ketidaksalingtergantungan di antara individu dalam kelompok

5. berikut ini adalah faktor-faktor penyebab timbulnya sebuah konflik, kecuali....


a. adanya integrasi sosial c.adanya perbedaan kepentingan e.perbedaan latar belakang kebudayaan
b. adanya perubahan sosial d.adanya perbedaan antarindividu

6. Konflik yang bersifat destruktif dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini, kecuali ....
a. adanya kecemburuan sosial d. rasa benci dan dendam di antara pihak-pihak yang terlibat konflik
b. fanatisme yang berlebihan e.keyakinan terhadap ajaran agama tertentu
c. penggunaan kekuasaan yang berlebihan oleh aparat negara dan pemerintah

7. Konflik yang konstruktif ditandai oleh ....


a. rasa iri dan Benci d.jatuhnya korban dan hilangnya harta benda
b. benturan-benturan fisik e.perbedaan pendapat dalam menghadapi suatu masalah
e. tidak ada jawaban yang benar

8. Konflik yang destruktif dapat dihindari dengan upaya-upaya berikut, kecuali....

7
a. bersikap demokratis
b. menggunakan asas saling tenggang rasa dalam pergaulan hidup
c. saling menghormati di antara penganut agama yang berbeda
d. semaksimal mungkin menghindari perbedaan pendapat
e. menghargai pluralisme dalam kebudayaan,suku, agama, dan bahasa yang berbeda dalam kehidupan bermasyarakat

9. Berikut ini yang merupakan konflik yang memuat isu agama, yaitu ....
a. kerusuhan Sambas c.konflik Nanggroe Aceh Darussalam e.tragedi Semanggi
b. kerusuhan Poso d. konflik di berbagai daerah di Papua

10. Faktor agama akan mudah menjadi pemicu dalam sebuah konflik yang terjadi di masyarakat apabila diikuti oleh ....
a. fanatisme yang berlebihan d.jawaban a, b, dan c benar
b. ketidakberdayaan ekonomi e.tidak ada jawaban yang benar
c. ketidakberdayaan politik

B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas!


1. Jelaskan yang kalian pahami tentang konflik social!
2. Jelaskan bentuk-bentuk konflik yang terjadi di masyarakat!
3. Sebutkan dan jelaskan faktor-faktor pendorong adanya konflik!
4. Apakah yang dimaksud dengan konflik vertical dan konflik horizontal? Berikan contoh!
5. Jelaskan proses terjadinya konflik menurut pandangan Jonathan Turner!

8
Akibat konflik
Suatu konflik tidak selalu mendatangkan hal-hal yang buruk, tetapi, kadang-kadang
mendatangkan sesuatu yang positif.Antara lain.
1. memperoleh aspek kehidupan yang belum jelas atau masih belum tuntas ditelaah.
2. memungkinkan adanya penyesuaian kembali norma dan nilai.
3. meupakan jalan untuk mengurangi ketergantungan antarindividu dan kelompok.
4. membantu menghidupkan kembali norma lama dan menciptakan norma baru.
5. berfungsi sebagai sarana untuk mencapai keseimbangan.
Hasil atau akibat dari konflik social dalah.
1. meningkatkan solidaritas sesame anggota kelompok
2. keretakan hubungan antaraindividu atau kelompok.
3. Perubahan kepribadian para individu
4. kerusakan harta benda dan bahkan hilangnya nyawa manusia.
5. Akomodasi,dominasi, bahkan bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat
dalam pertikaian.
Suatu masyarakat dapat dinyatakan telah mencapai kondisi tertib jika terjadi keselarasan
antara tindakan anggota masyarakat dengan nilai dan norma yang berlaku dalam
masyarakat tsb.
Dalam kehidupan masyarakat majemuk sering terjadi pertentangan antara satu aspek
dengan aspek lainnya. Sumber potensi konflik yang rentan terjadi dalam kehidupan
masyarakat Indonesia adalah masalah agama, ras, dan suku bangsa.
Setiap konflik yang terjadi dalam masyarakat akan membawa dampak, baik dampak
secara langsung maupun dampak tidak langsung.
a. Dampak Secara Langsung
Dampak secara langsung merupakan dampak yang secara langsung dirasakan oleh pihak-
pihak yang terlibat konflik. Adapun dampak konflik secara langsung, diantaranya
sebagai berikut.
1) Menimbulkan keretakan hubungan antara individu atau kelompok dengan individu
atau kelompok lainnya.
2) Adanya perubahan kepribadian seseorang, seperti selalu memunculkan rasa curiga, rasa
benci, dan akhirnya dapat berubah menjadi tindakan kekerasan.
3) Hancurnya harta benda dan korban jiwa, jika konflik tersebut berubah menjadi
tindakan kekerasan.
4) Kemiskinan bertambah akibat tidak kondusifnya keamanan.
5) Lumpuhnya roda perekonomian jika suatu konflik berlanjut menjadi tindakan

9
kekerasan.
6) Pendidikan formal dan informal terhambat karena rusaknya sarana dan prasarana
pendidikan.

b. Dampak Tidak Langsung


Dampak tidak langsung merupakan dampak yang dirasakan oleh pihak-pihak yang tidak
terlibst langsung dalam sebuah konflik, ataupun dampak jangka panjang dari suatu konflik
yang tidak secara langsung dirasakan oleh pihak-pihak yang berkonflik.
Misalnya, agresi Israel yang dilakukan kepada para pejuang Hizbullah di Lebanon akan
membawa dampak pada kenaikkan harga minyak dunia yang akan merembet pada
kenaikkan harga-harga barang di pasaran.Hal ini akan dirasakan juga oleh masyarakat
kita.
Dampak Positif adanya konflik
Disamping dampak yang dapat dirasakan secara langsung maupun tidak langsung, sebuah
konflik juga memiliki sisi positif. Adapun sisi positif dari sebuah konflik adalah
sebagai berikut
a. Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (in group solidarity).
b. Munculnya pribadi-pribadi yang kuat dan tahan uji menghadapi berbagai situasi
konflik.
c. Membantu menghidupkan kembali norma-norma lama dan menciptakan norma-
norma baru.
d. Munculnya kompromi baru apabila pihak yang berkonflik dalam kekuatan seimbang.
Misalnya, adanya kesadaran dari pihak-pihak yang berkonflik untuk bersatu kembali,
karena dirasakan bahwa konflik yang berlarut tidak membawa keuntungan bagi kedua
belah pihak.

Hasil dari sebuah konflik adalah sebagai berikut :

 meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (ingroup) yang mengalami


konflik dengan kelompok lain.
 keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai.
 perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci,
saling curiga dll.
 kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia.

10
 dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik.

Para pakar teori telah mengklaim bahwa pihak-pihak yang berkonflik dapat menghasilkan
respon terhadap konflik menurut sebuah skema dua-dimensi; pengertian terhadap hasil
tujuan kita dan pengertian terhadap hasil tujuan pihak lainnya. Skema ini akan
menghasilkan hipotesa sebagai berikut:

 Pengertian yang tinggi untuk hasil kedua belah pihak akan menghasilkan
percobaan untuk mencari jalan keluar yang terbaik.
 Pengertian yang tinggi untuk hasil kita sendiri hanya akan menghasilkan
percobaan untuk "memenangkan" konflik.
 Pengertian yang tinggi untuk hasil pihak lain hanya akan menghasilkan
percobaan yang memberikan "kemenangan" konflik bagi pihak tersebut.
 Tiada pengertian untuk kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan
untuk menghindari konflik.

Contoh konflik
Konflik Vietnam berubah menjadi perang.
Konflik Timur Tengah merupakan contoh konflik yang tidak terkontrol, sehingga
timbul kekerasan. hal ini dapat dilihat dalam konflik Israel dan Palestina.
Konflik Katolik-Protestan di Irlandia Utara memberikan contoh konflik bersejarah
lainnya.
Banyak konflik yang terjadi karena perbedaan ras dan etnis. Ini termasuk konflik
Bosnia-Kroasia (lihat Kosovo), konflik di Rwanda, dan konflik di Kazakhstan.

Konflik dan Kekerasan


Dalam banyak definisi, ancaman dan kekerasan selalu dikaitkan dengan konflik, kekerasan
merupakan alat dari konflik untuk mencapai tujuan. Dapat juga dikatakan bahwa
kekerasan merupakan proses akhir dari konflik.
Namun, sesungguhnya konflik berbeda dengan kekerasan. Menurut Prof. DR. Winardi,
S.E., konflik berarti adanya oposisi atau pertentangan pendapat antara orang-orang,
kelompok-kelompok, atau organisasi-organisasi berkaitan dengan perbedaan-perbedaan
pendapat, keyakinan-keyakinan, ide-ide, maupun kepentingan-kepentingan. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (1988), konflik adalah percekcokan; perselisihan; pertentangan;
ketegangan di antara orang-perorangan atau kelompok. Kekerasan berarti perbuatan
seseorang atau kelompok yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain, atau
menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Konflik seringkali berubah menjadi
kekerasan terutama apabila upaya-upaya yang berkaitan dengan pengelolaan konflik tidak

11
dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh pihak yang berkaitan. Demikian pula bila
upaya memperoleh keadilan di pengadilan ternyata gagal.
Dari tujuan makro, pakar studi konflik dari Universitas Oxford, France Stewart,
menyebut empat kategori negara yang berpotensi konflik yang kemudian berlanjut ke
tindak kekerasan: negara dengan pendapatan dan pembangunan manusianya rendah; negara
yang pernah terlibat dalam konflik serius dalam 30 tahun terakhir; negara dengan tingkat
perbedaan horizontal yang tinggi; dan negara yang rezim politiknya berada dalam transisi
rezim refresif menuju rezim yang lebih demokratis. Dalam kenyataan hidup manusia,
antara konflik dengan kekerasan dapat dibedakan, namun acap kali tak dapat dipisahkan
secara eksplisit.

1- Teori-Teari Kekerasan
Menurut Thomas Santoso, teori kekerasan dapat dikelompokkan ke dalam tiga
kelompok besar, yaitu sebagai berikut.
a. Teori Kekerasan sebagai Tindakan Aktor (Individu) atau Kelompok
Para ahli teori kekerasan kolektif ini berpendapat bahwa manusia melakukan
kekerasan karena adanya faktor bawaan, seperti kelainan genetik atau fisiologis. Menurut
para ahli teori ini agresivitas perilaku seseorang dapat menyebabkan timbulnya kekerasan,
seperti kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya,
ataupun dilakukan oleh pasangan suami istri. Wujud kekerasan yang dilakukan oleh
individu tersebut dapat berupa pemukulan, penganiayaan ataupun kekerasan verbal berupa
kata-kata kasar yang merendahkan martabat seseorang. Sedangkan kekerasan kolektif
merupakan kekerasan yang dilakukan oleh beberapa orang atau sekelompok orang
(crowd). Munculnya tindak kekerasan kolektif ini biasanya karena adanya benturan
identitas suatu kelompok dengan kelompok lain, seperti identius berdasarkan agama atau
etnik. Contohnya, kekerasan yang terjadi di Poso dan Revolusi Eropa pada abad-19.
Menurut teori ini kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang (crowd) dilakukan
dengan irasionalitas dan emosionalitas, individu-individu dalam suatu kelompok crowd
dianggap saling meniru sehingga emosionalitas dan rasionalitas sesamanya semakin kuat
dan semakin besar. Hal ini terjadi karena adanya persamaan nasib ataupun persamaan
persepsi terhadap ketidakadilan yang mereka rasakan bersama.

12
b. Teori Kekerasan Struktural
Menurut teori ini kekerasan struktural bukan berasal dari orang tertentu, melainkan
terbentuk dalam suatu sistem sosial. Para ahli teori ini memandang kekerasan tidak hanya
dilakukan oleh aktor (individu) atau kelompok semata, tetapi juga dipengaruhi oleh suatu
struktur, seperti aparatur negara.
Pada umumnya bila seseorang atau kelompok memiliki harta kekayaan berlimpah, maka
akan selalu ada kecenderungan untuk melakukan kekerasan kecuali ada hambatan yang
jelas dan tegas. Sebagai contoh kekerasan struktural adalah terjadinya kasus Timor Timur,
kasus Tanjung Priok, seputar kerusuhan Mei 1998, dan Iain-Iain.

c. Teori Kekerasan sebagai kaitan antara actor dan Struktur


Menurut pendapat para ahli teori ini, konflik merupakan sesuatu yang telah ditentukan
sehingga bersifat endemik bagi kehidupan masyarakat. Menurut Thomas Santoso istilah
kekerasan digunakan untuk menggambarkan perilaku, baik yang terbuka (overt) atau
tertutup (covert), dan yang bersifat menyerang (offensive) atau bertahan (defensive), yang
disertai penggunaan kekuatan kepada orang lain. Oleh karena itu ada empat jenis
kekerasan yang dapat diidentifikasi:
a) kekerasan terbuka (kekerasan yang dapat dilihat, seperti perkelahian;
b) kekerasan tertutup (kekerasan tersembunyi atau yang secara tidak
langsung dilakukan, seperti pengancaman);
c) kekerasan agresif (kekerasan yang dilakukan untuk mendapatkan sesuatu,
seperti penjambretan);
d) kekerasan defensif (kekerasan untuk melindungi diri).
Salah satu bentuk kekerasan kolektif yang akhir-akhir ini sedang ramai dibicarakan yaitu
terorisme. Meskipun terorisme dapat dilakukan oleh satu orang, tetapi pada awalnya
terorisme dilakukan oleh suatu kelompok secara bersamaan. Oleh karena itu, terorisme
merupakan salah satu bentuk kekerasan kolektif. Dari beberapa pandangan tentang
terorisme, pendapat dari Yonah Alexander, yang diambil dari Kamus Inggris Oxford,
yaitu suatu kebijakan yang dimaksudkan untuk menyerang dengan teror kepada mereka
yang terhadapnya tindakan tersebut dilakukan; penggunaan metode intimidasi; fakta

13
berupa peneroran atau kondisi diteror . Terorisme dapat menimbulkan kondisi ketakutan
yang sangat menonjol meskipun terhadap mereka yang secara tidak langsung menjadi
objek masyarakat umum, otoritas publik; petugas resmi; pemerintahan; untuk memenuhi
tuntutan tertentu, yang bisa juga menjadi tahapan awal terjadinya revolusi dalam sebuah
negara.

Kompetisi
Kompetisi adalah kata kerja intransitive yang berarti tidak membutuhkan objek sebagai
korban kecuali ditambah dengan pasangan kata lain seperti against (melawan), over
(atas), atau with (dengan). Tambahan itu pilihan hidup dan bisa disesuaikan dengan
kepentingan keadaan menurut versi tertentu.

Menurut Deaux, Dane, & Wrightsman (1993), kompetisi adalah aktivitas mencapai
tujuan dengan cara mengalahkan orang lain atau kelompok. Individu atau kelompok
memilih untuk bekerja sama atau berkompetisi tergantung dari struktur reward dalam
suatu situasi.

Menurut Chaplin (1999), kompetisi adalah saling mengatasi dan berjuang antara dua
individu, atau antara beberapa kelompok untuk memperebutkan objek yang sama.

Kompetisi dalam istilah biologi berarti persaingan dua organisme atau lebih untuk
mendapatkan kebutuhan hidup mereka. Berdasarkan kebutuhan tersebut kompetisi dibagi
menjadi: (1) Kompetisi teritorial yaitu kompetisi untuk memperebutkan wilayah atau
teritori tempat tinggal organisme, hal ini berkaitan dengan kompetisi selanjutnya. (2)
Kompetisi makanan yaitu kompetisi untuk memperebutkan mangsa atau makanan dari
wilayah-wilayah buruan.

Kompetisi juga dapat dibagi menjadi: (1) kompetisi internal adalah kompetisi pada
organisme dalam satu spesies dan (2) kompetisi eksternal adalah kompetisi pada
organisme yang berbeda spesiesnya. Kompetisi dapat berakibat positif atau negatif bagi
salah satu pihak organisme atau bahakn berakibat negatif bagi keduanya. Kompetisi tidak
selalu salah dan diperlukan dalam ekosistem, untuk menunjang daya dukung lingkungan
dengan mengurangi ledakan populasi hewan yang berkompetisi.

14
Cara Pengendalian Konflik dan Kekerasan
,
Pengendalian suatu konflik hanya mungkin dapat dilakukan apabila berbagai pihak yang berkonflik
terorganisir secara jelas. Menekan sebuah konflik agar tidak berlanjut menjadi sebuah
tindak kekerasan memerlukan strategi pendekatan yang tepat
a. Pengendalian secara Umum
Secara umum, terdapat beberapa cara dalam upaya mengendalikan atau meredakan sebuah
konflik, yaitu sebagai berikut.
I) Konsiliasi
Konsiliasi merupakan bentuk pengendalian konflik sosial yang dilakukan melalui lembaga-
lembaga tertentu yang dapat memberikan keputusan dengan adil. Dalam konsiliasi berbagai
kelompok yang berkonflik duduk bersama mendiskusikan hal-hal yang menjadi pokok
permasalahan. Contoh bentuk pengendalian konflik seperti ini adalah melalui lembaga perwakilan
rakyat.

2) Arbitrasi
Arbitrasi merupakan bentuk pengendalian konflik sosial melalui pihak ketiga dan kedua
belah pihak yang berkonflik menyetujuinya. Keputusan-keputusan yang diambil pihak ketiga
harus dipatuhi oleh pihak-pihak yang berkonflik.
3) Mediasi
Mediasi merupakan bentuk pengendalian konflik sosial dimana pihak-pihak yang
berkonflik sepakat menunjuk pihak ketiga sebagai mediator. Namun berbeda dengan
arbitrasi, keputusan-keputusan pihak ketiga tidak mengikat pihak manapun.
4) Ajudication
Ajudication merupakan cara penyelesaian konflik melalui pengadilan.

b. Pengendalian Menggunakan Manajemen Konflik


Di samping cara-cara tersebut di atas, gaya pendekatan seseorang atau kelompok dalam
menghadapi konflik dapat dilaksanakan sehubungan dengan tekanan relatif atas apa yang

15
dinamakan cooperativeness dan assertivenes . Cooperativeness adalah keinginan untuk
memenuhi kebutuhan dan minat individu/kelompok lain. Assertiveness adalah keinginan
untuk memenuhi kebutuhan dan minat individu/kelompok sendiri. Gambar berikut ini
menunjukkan lima gaya manajemen konflik berkaitan dengan adanya tekanan relatif di
antara keinginan untuk menuju ke arah cooperativeness atau assertiveness sesuai dengan
intensitasnya, mulai dari yang rendah sampai dengan yang tinggi

Bagan 2.1 Lima macam gaya manajemen konflik Keterangan:


1) Tindakan menghindark bersikap tidak kooperatif dan tidak asertif, menarik diri dari
situasi yang berkembang, dan atau bersikap netral dalam segala macam cuaca.
2) Kompetisi atau komando otoritatif. bersikap tidak kooperatif, tetapi asertif,
bekerja dengan cara menentang keinginan pihak lain, berjuang untuk mendominasi
dalam situasi menang ataukalah , dan atau memaksakan segala sesuatu agar sesuai
dengan kesimpulan tertentu, dengan menggunakan kekuasaan yang ada.
3) Akomodasi atau meratakan: bersikap kooperatif, tetapi tidak asertif,
membiarkan keinginan pihak lain menonjol, meratakan perbedaan-perbedaan guna
mempertahankan harmoni yang diusahakan secara buatan.
4) Kompromis: bersikap cukup kooperatif dan juga asertif dalam intensitas yang
cukup.
Bekerja menuju ke arah pemuasan pihak-pihak yang berkepentingan, mengupayakan
tawar-
menawar untuk mencapai pemecahan yang dapat diterima kedua belah pihak meskipun

16
tidak sampai ti.igkat optimal, tak seorang pun merasa menang, dan tak seorang pun merasa
bahwa yang bersangkutan menang atau kalah secara mutlak.
5) Kolaborasi (kerja sama) atau pemecahan masalah. bersikap kooperatif maupun
asertif,
berusaha untuk mencapai kepuasan bagi pihak- pihak yang berkepentingan dengan jalan
bekerja melalui perbedaan-perbedaan yang ada, mencari, dan memecahkan masalah hingga
setiap individu/kelompok mencapai keuntungan masing-masing sesuai dengan
harapannya.

c. Hasil Manajemen Konflik


Dari gaya manajemen konflik tersebut kemungkinan hasil yang didapat adalah sebagai
berikut:

1) Konflik Kalah-Kalah
Konflik kalah-kalah terjadi apabila tak seorang pun di antara pihak yang terlibat
mencapai tujuan yang sebenarnya, dan alasan-alasan/faktor-faktor penyebab konflik tidak
mengalami perubahan. Sekalipun hasil konflik kalah-kalah, seakan-akan memberi kesan
terselesaikan atau memberi kesan lenyap untuk sementara waktu, ia mempunyai tendensi
untuk muncul kembali pada masa mendatang. Hasil kalah kalah, biasanya akan terjadi
apabila konflik dikelola dengan sikap menghindari, akomodasi, meratakan, dan atau
melalui kompromis.
Sikap menghindari merupakan sebuah bentuk ekstrim tiadanya perhatian (non-attention).
Orang berpura-pura seakan-akan konflik tidak ada dan mereka hanya berharap bahwa
konflik tersebut akan terselesaikan dengan sendirinya. Akomodasi atau meratakan,
berusaha menekan perbedaan-perbedaan antara pihak yang berkonflik dan menekankan
pada persamaan-persamaan pada bidang-bidang kesepakatan. Koekstensi damai melalui
diakuinya kepentingan bersama merupakan tujuan yang ditekankan. Tindakan meratakan
(smoothing), mungkin sekali tidak menghiraukan dasar nyata dari konflik tertentu.
Sebagai contoh, di Indonesia, kata musyawarah untuk mufakat sering muncul dalam
berbagai situasi konflik.

17
Kompromis akan terjadi apabila dibuat akomodasi sedemikian rupa sehingga masing-
masing pihak yang berkonflik mengorbankan hal tertentu yang dianggap mereka sebagai
hal yang bernilai. Akibatnya adalah bahwa tidak ada satu pihak pun yang mencapai
keinginan mereka dengan sepenuhnya, dan diciptakan kondisi-kondisi anteseden untuk
konflik-konflik yang mungkin akan muncul pada masa yang akan datang.

2) Konflik Menang-Kalah
Pada konflik menang-kalah, salah satu pihak mencapai apa yang diinginkannya dengan
mengorbankan keinginan pihak lain. Hal tersebut mungkin disebabkan karena adanya
persaingan, di mana orang mencapai kemenangan melalui kekuatan, keterampilan yang
superior, atau karena unsur dominasi. la juga dapat merupakan hasil dari komando
otoritatif, ketika seorang otoriter mendikte sebuah pemecahan dan kemudian
dispesifikasikan apa yang akan dicapai dan apa yang akan dikorbankan dan oleh siapa.
Andaikata figur otoritas tersebut merupakan pihak aktif di dalam konflik yang
berlangsung, makakiranya mudah untuk meramalkan siapa yang akan menjadi pemenang
dan siapa yang akan kalah. Mengingat bahwa strategi-strategi menang-kalah juga tidak
memecahkan kausa pokok terjadi konflik, mzkz kiranya pada rr.asa mendatang kcnflik-
kcnfiik akan muncul lagi.

3) Konflik Menang-Menang
Konflik menang-menang, dilaksanakan dengan jalan menguntungkan semua pihak yang
terlibat dalam konflik yang terjadi. Hal tersebut secara tipikal dicapai apabila
dilakukan konfrontasi persoalan-persoalan yang ada dan digunakannya cara pemecahan
masalah untuk mengatasi perbedaan-perbedaan pendapat dan pandangan. Pendekatan
positif tersebut terhadap konflik berkaitan dengan perasaan pada pihak-pihak yang sedang
berkonflik bahwa ada sesuatu hal yang salah dan hal itu perlu mendapatkan perhatian.
Kondisi menang-menang meniadakan alasan-alasan untuk melanjutkan atau menimbulkan
kembali konflik yang ada karena tidak ada hal yang dihindari ataupun ditekankan. Semua
persoalan-persoalan yang relevan diperbincangkan dan dibahas secara terbuka. Batu uji akhir
untuk menilai sesuatu pemecahan menang-menang adalah apakah pihak yang turut
berpartisipasi di dalam konflik tersebut bersedia bercakap-cakap satu sama lain, sampai

18
pada makan bersama dalam satu meja. Orang Minangkabau menyatakannya dalam
ungkapan segala sesuatu menjadi beres di meja makan . Perhatikan pula contoh pernyataan
berikut.
a) Saya menginginkan sebuah pemecahan yang sekaligus mencapai tujuan-tujuan saudara dan tujuan-
tujuan saya sendiri, dan yang dapat diterima oleh kita bersama.
b) Adalah tanggung jawab bersama kita untuk bersikap terbuka dan jujur tentang fakta-fakta,
pendapat-pendapat, dan perasaan-perasaan.

Pemecahan masalah dan kerja sama (kolaborasi) dapat dikatakan sebagai pendekatan
yang paling berhasil dan paling baik dalam usaha manajemen konflik. Akan tetapi, bukan
berarti pemecahan yang lain tidak memiliki nilai yang potensial dalam pengelolaan suatu
konflik. Akan selalu ada konflik yang tidak dapat dikeloia dengan berkolaborasi. Untuk
hal-hal demikian kita pakai saja prinsip minus mallum (terbaik di antara yang kurang
baik). Dalam menangani konflik, terutama yang sifatnya destruktif, kita harus
menjunjung tinggi demokrasi, transparansi, dan toleransi dalam segala aspek kehidupan.

B. Kegiatan 2

19
TAWURAN ANTARPELAJAR MERUPAKAN KONFLIK ANTARKELOMPOK
YANG TELAH MENJURUS PADA TINDAK KEKERASAN. UPAYA APA YANG
SEBAIKNYA DILAKUKAN UNTUK MENGATASI KONFLIK
ANTARKELOMPOK TERSEBUT, SERTA PIHAK MANA SAJA YANG
RELEVAN UNTUK MENGATASINYA?
BUATLAH KELOMPOK YANG TERDIRI DARI 3-4 ORANG. UNTUK
MENJAWAB MASALAH DI ATAS. CIPTAKAN SUASANA DISKUSI YANG
MENARIK!

TUGAS MANDIRI
Demo Terhadap Peredaran Playboy Indonesia
Ribut-ribut penerbitan majalah Playboy di Indonesia semakin menghangat. Beberapa waktu lalu, Tempo
interaktif memberitakan kalau Front Pembela Islam telah mengadukan sembilan orang yang terlibat dalam
produksi Playboy sekaligus mengadukan 26 perusahaan yang beriklan di majalah edisi perdana tersebut
dengan tuduhan menyebarkan pornografi sehingga melanggar KUHP dart Undang-Undang Pers 1990.
Pihak Playboy Indonesia sendiri yang diwakili Pemimpin Redaksinya Erwin Arnada meminta agar semua
pihak yang merasa keberatan dengan kehadiran majalah Playboy Indonesia, mengutarakannya dengan jalan
damai, seperti dikutip Kompas Cyber Media 12 April kemarin.
Kami menghormati hak-hak kelompok masyarakat untuk mengutarakan pendapatnya, narnun percaya bahwa
pengutaraan pendapat hams dilakukan secara damai dan tanpa mengorbankan tmk-hak pihak yang lain.
Kekecewaan masyarakat pun tidak hanya dituangkan melalui demonstrasi di kantor Playboy di Jakarta.
Komentar tak sedap juga dilontarkan kepada Menteri Komunikasi dan Informasi Indonesia, Sofyan Jalil.
Menkominfo dipandang tidak melakukan tindakan yang maksimal untuk mencegah peredaran majalah untuk
dewasa tersebut di Indonesia, seperti dikatakan oleh juru bicara Hizbut Thahrir Indonesia, Ismail
Yusanto, yang dikutip dari Media Indonesia Online.
Terus terang kami kecewa dengan sikap Menkominfo. Bila belum apa-apa sudah menyatakan tidak berwenang
apalagi kami-kami ini. Alasan yang diberikan sangat dangkal, terlebih bagi pemerintahan di negara dengan
jumlah penduduk Muslim terbesar.
Dirinya menekankan bahwa pemerintah bisa menggunakan pasal-pasal mengenai barang-barang yang dinilai
cabul, seperti yang tercantum dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Memang betul ada perspektif legal formal untuk melarang penerbitan majalah semacam itu, namun juga
harus menjadi pertimbangan nilai-nilai edukasi, nilai-nilai masyarakat, dan juga agama.
Masih dari Media Indonesia Online, Ismail Yusanto yang berbicara atas nama Hizbut Thahrir Indonesia
melakukan demo kepada kantor majalah Playboy dan Popular di Jakarta Selatan. Kedua majalah itu dinilai
representasi dari nilai-nilai yang mereka tentang keras.Sementara ini kami pilih 2 majalah itu dulu. Kami
akan meminta mereka untuk dalam jangka waktu sepekan menarik semua majalah yang diterbitkan. Bila tidak
juga dilakukan, kami akan mengajukan tuntutan hukum dengan menggunakan pasal 281 dan 282

20
KUHP.Keluhan terhadap sikap menkominfo juga disuarakan oleh Ketua Umum Pengurus Pusat
Muhammadiyah, Din Syarr.suddin, yang disampaikannya pada acara dialog dengan Direktur Bank Dunia
Paul Wolfowitz hari selasa lalu.
Menkominfo kok menurut saya seperti tumpul hatinya. persoalan bangsa harus dilihat dengan hati nurani, tidak
bisa dengan legal formal saja. Menkominfo Sofyan Djalil sendiri mengatakan, pemerintah akan melaporkan
majalah Playboy edisi Indonesia ke kepolisian, jika isinya dinilai malanggar kesusilaan.
Pertanyaan: v
1. Setelah Anda membaca artikel tersebut di atas, apakah perbedaan pendapat di antara berbagai
kelompok sosial tersebut merupakan suatu konflik? Jelaskan pendapat Anda!
2. Menurut pendapat Anda, cara apa yang harus ditempuh apabila terjadi konflik budaya? Jelaskan!
3. Sebutkan contoh-contoh konflik yang pernah terjadi di lingkungan Anda!

kesimpulan
Apa yang dimaksud dengan konflik? Faktor-faktor apa yang menyebabkan
munculnya suatu konflik?
Konflik merupakan suatu pertentangan atau pertikaian sebagai gejala sosial yang sering
muncul dalam kehidupan masyarakat. Secara umum faktor-faktor yang menyebabkan
munculnya suatu konflik adalah adanya perbedaan antarindividu, adanya perbedaan latar
belakang kebudayaan, adanya perbedaan kepentingan, dan perubahan sosial.
Sebutkan klasifikasi bentuk-bentuk konflik yang terdapat dalam
masyarakat?
Secara garis besar konflik dalam masyarakat dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa
bentuk konflik, di antaranya adalah konflik destruktif, konflik konstruktif, konflik
vertikal, konflik horizontal, konflik diagonal, konflik terbuka, konflik tertutup, konflik
sosial, konflik politik, konflik ekonomi, konflik budaya, konflik ideologi, konflik
interindividu, konflik antarindividu, dan konflik antarkelompok.
Apakah perbedaan konflik destruktif dengan konflik yang konstruktif?
Konflik destruktif merupakan konflik yang sifatnya merugikan individu maupun
kelompok yang terlibat di dalamnya. Konflik ini ditandai oleh perasaan
cemas/tegang/stres, persaingan yang tidak sehat, ledakan konflik yang hebat sampai
muncul tindakan ancaman/kekerasan, dan sebagainya. Adapun konflik yang konstruktif
merupakan konflik yang sifatnya membangun, yang memberikan keuntungan bagi

21
individu dan kelompok yang terlibat di dalamnya. Konflik konstruktif dapat
meningkatkan kreativitas individu dan kelompok, ikatan yang semakin kuat di antara
anggota kelompok, dan sebagainya.
Apakah perbedaan antara konflik dengan kekerasan?
konflik berbeda dengan kekerasan, konflik berarti adanya pertentangan atau perbedaan
pendapat antarindividu dengan individu lain atau pertentangan antarindividu dengan
kelompok atau kelompok dengan kelompok, sedangkan kekerasan merupakan
perbuatan seseorang atau kelompok yang menyebabkan cedera atau hilangnya nyawa
seseorang atau kelompok orang ataupun menyebabkan kerusakan harta benda orang lain.
Konflik dapat berubah menjadi kekerasan apabila upaya-upaya pengendalian konflik
tidak dilaksanakan tepat sasaran.
Mengapa konflik akan selalu muncul dalam kehidupan manusia?
Konflik selalu muncul sehubungan interaksi sosial di antara umat manusia. Dalam
kehidupan manusia terdapat sejumlah perbedaan-perbedaan, seperti perbedaan pendapat;
kepentingan-kepentingan (sosial, ekonomi, dan politik); perbedaan latar belakang individu
(kebudayaan, adat-isitiadat, agama, dan bahasa); serta perubahan-perubahan sosial yang
terjadi di masyarakat yang dapat merubah sistem atau nilai yang berlaku
Apa yang harus dilakukan agar konflik tidak berlanjut menjadi tindak
kekerasan?
Untuk menekan agar konflik tidak menjadi kekerasan, maka dibutuhkan cara
pengendaiian konflik yang tepat, di antaranya adalah dengan cara konsiliasi, arbitrasi,
mediasi, dan lajudication. Di samping cara-cara tersebut di atas ada lima macam gaya
pendekatan seseorang atau keiompck dalarri menghadapi situasi konflik, yaitu sebagai
berikut.
a. Tindakan menghindar.
b. Kompetisi atau komando otoritatif.
c. Akomodasi.
d. Kompromi.
e. Kolaboasi (kerja sama).

22
PAKET ISTILAH
A k o m o d a s i : penyesuaian sosial dalam interaksi antara pribadi dan kelompok
manusia untuk mere-dakan pertentangan.
A mb i g ui t as : kemungkinan yang mempunyai dua penger-tian; ketidaktentuan atau
ketidakjelasan.
Apatis: acuh tak acuh; tidak peduli; masa bodoh.
Arbitrasi: usaha perantara dalam meleraikan sengketa.
Destruktif: bersifat merusak; memusnahkan; atau menghancurkan.
Endemik: penyakit yang berjangkit disuatu daerah tertentu; secara tetap terdapat di iempat-
tempat atau dikalangan orang-orang tertentu atau pada golongan suatu masyarakat.
Gencatan senjata: penghentian tembak-menembak (tentang perang).
Kompromi: persetujuan dengan jalan damai atau saling mengurangi tuntutan
Konflik sosial: pertentangan antaranggota masyarakat yang bersifat menyeluruh dalam kehidupan;
persfektif/sudut pandang tertentu di mana konflik dianggap seialu ada dan mewarnai segala aspek
interaksi manusia dan struktur sosial; pertikaian terbuka seperti perang, revolusi, pemogokan,
dan gerakan perlawanan.
Konsiliasi: usaha mempertemukan keinginan pihak yang berselisih untuk mencapai
persetujuan dan menyelesaikan perselisihan tersebut.
Konstruktif: bersifat membina; memperbaiki; membangun.
Majemuk: terdiri atas beberapa bagian yang merupakan satu kesatuan. ,.,,
Persepsi: tanggapan langsung dari sesuatu; serapan; proses seseorang mengetahui beberapa
hal melalui panca inderanya.
Polietnis: terdiri dari banyak etnis. ,
Represif: bersifat menekan; mengekang; menahan; atau menindas.
Solidaritas: solider; sifat satu rasa (senasib); perasaan setia kawan.
Toleransi: sikap atau sifat menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan)
pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan) yang berbeda atau
bertentangan dengan pendirian sendiri.

23
INTEGRASI SOSIAL

Istilah integrasi berasal dari bahas Inggris, integration yang berarti keseluruhan atau
kesempurnaan social. Maka Integrasi social adalah proses penyesuaian di antara unsure-
unsur yang saling berbeda dalam kehidupan social sehingga menghasilkan suatu pola
kehidupan yang serasi fungsinya bagi masyarakat yang bersangkutan. Unsure-unsur yang
berbeda tersebut dapat meliputi perbedaan kedudukan social, ras, etnik, agama, bahasa,
kebiasaan, system nilai dan norma.

Menurut Maurice Duverger, integrasi dibangunnya interdependensi yang lebih rapat


antara bagian-bagian dari organisme hidup atau antara anggota-anggota di dalam
masyarakat. Sedangkan menurut Paul B Horton, integrasi adalah suatu proses
pengembangan masyarakat di mana segenap kelompok ras dan etnik mampu berperan
serta secara bersama-sama dalamkehidupan berbudaya dan politik. Integrasi social akan
terbentuk di dalam masyarakat apabila sebagian besar anggota masyarakat tersebut
memiliki kesepakatan tentang batas-batas territorial dari suatu wilayah atau Negara
tempat mereka tinggal.

Menurut Abu Ahmadi melihat bahwa integrasi masyarakat terdapat kerjasama dari
seluruh anggota masyarakat mulai dari tingkatan individu, keluarga, lembaga dan
masyarakat sehingga menghasilkan persenyawaan berupa consensus nilai yang sama-
sama dijunjung tinggi. Namun demikian, menurut Abdul Syani, integrasi social tidak
cukup diukur dari criteria berkumpul atau bersatunya anggota masyarakat dalam arti
fisik. Ia juga sekaligus merupakan pengembangan sikap solidaritas dan perasaan
manusiawi. Pengembangan sikap dan perasaan manusia ini merupakan dasar dari
keselarasan suatu kelompok atau masyarakat.

Menurut William F Ogburn dan Mayer Nimkoff, syarat berhasilnya integrasi social
adalah:

a. Anggota-anggota masyarakat merasa bahwa mereka berhasil saling


mengisi kebutuhan-kebutuhan satu dengan yang lainnya.
b. Masyarakat berhasil menciptakan kesepakatan besama mengenai norma-
norma dannilai-nilai yang dijadikan pedoman dalam berinteraksi satu
dengan yang lainnya
c. Norma-norma dan nilai social itu berlaku cukup lama dan dijalankan
secara konsisten serta tidak mudah mengalami perubahan.

Suatu integrasi social dapat berlangsung cepat atau lambat tergantung pada factor-faktor
berikut:

Homogentas kelompok
Besar kecilnya kelompok
Mobilitas geografis
Efektifitas komunikasi yang baik dalam masyarakat juga akan mempercepat
integrasi social

24
FAKTOR-FAKTOR PENDORONG INTEGRASI SOSIAL

 Pengorbanan
 Toleransi terhadap kelompok-kelompok manusia dengan kebudayaan yang
berbeda.
 Kesempatan yang seimbang dalam ekonomi bagi pelbagai golongan masyarakat
dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda
 Sikap saling mengahrgai orang lain dengan kebudayaanya
 Mengidentifikasi akar persamaan di antara kultur-kultur etnis yang ada
 Kemampuan segenap keompok yang ada untuk berperan secara bersama-sama
dalam kehidupan budaya dan ekonomi
 Mengakomodasi timbulnya “kebangkitan etnis”
 Upaya yang kuat dalam melawan prasangka dan diskriminasi
 Menghilangkan pengkotak-kotakan kebudayaan
 Perkawinan campuran
 Adanya musuh bersama di luar

25