Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, atas berkat rahmat dan karunia Nya, sehingga
penulis mampu menyelesaikan penulisan makalh yang berjudul Andai Saya Menjadi
Menteri Pertahanan Amerika Serikat : Apa Yang Akan Saya Lakukan Dalam
Menciptakan Keamanan Global dengan baik dan tepat pada waktunya. Penulisan makalah
ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Militer dan Civil Society.
Selama melakukan penyusunan makalah ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai
pihak, sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Penulis menyampaikan rasa terima kasih
sebesar besarnya kepada :
1. Bapak DR. Agus Subagyo, S.IP, M.SI. selaku dosen mata kuliah Militer dan Civil
Society.
2. Kedua orang tua penulis yang selalu mendukung baik dukungan moral maupun
materil.
3. Teman teman seperjuangan yang selalu memberi semangat kepada penulis.
4. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya penulis dan umumnya
seluruh masyarakat.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,
oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran untuk kelangsungan dan
pembenaran makalah selanjutnya.

Cimahi, Oktober 2015

Penulis

BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Era sejak Perang Dingin pada akhir 1980-an telah memberikan dorongan yang kuat untuk
mengembangkan globalisasi. Bukan sebagai kecenderungan sekuler, tetapi sebagai proyek
politik, ekonomi, dan keamanan yang sangat spesifik dan diwakili terutama oleh kebijakan
neo-liberal

Konsensus

Washington

serta

diinformasikan

oleh

dorongan

untuk

mempertahankan, memperluas posisi Amerika Serikat sebagai kekuatan global yang dominan
(Gowan, 1999 dalam Callinicos, 2007). Globalisasi telah memberikan banyak perubahan
dalam berbagai bidang. Dalam tulisan ini, penulis akan mencoba untuk membuktikan bahwa
globalisasi memiliki pengaruh yang besar terhadap sistem dan fungsi keamanan negaranegara di dunia dan mengaitkan pengaruh terhadap hegemoni Amerika Serikat sebagai negara
dengan kekuatan superpower. Keamanan nasional tetap menjadi fungsi inti dari negara
bangsa, tetapi sejauh mana perilaku keamanan bervariasi tergantung pada situasi tertentu dari
negara-negara tersebut.
Globalisasi, meskipun pengaruhnya menyapu luas hingga pada batas-batas tertentu, ia
tidak menyebar secara eksklusif. Globalisasi tidak berarti telah berakhirnya persaingan
kekuasaan di antara negara-negara besar (Paul, 2003: 140). Globalisasi turut menghadirkan
perdamaian yang terbatas akibat adanya penolakan dominasi dari satu kekuatan besar
terhadap kekuatan lainnya, hal ini tentu tidak akan membawa perdamaian yang abadi, isu-isu
global pun dapat muncul sewaktu-waktu. Hegemoni dapat menciptakan tekanan pusat
terhadap siapa saja yang terpengaruh olehnya. Selama negara hegemoni masih berada dalam
posisi dominan dan dapat menawarkan kebaikan-kebaikan kolektif kepada negara-negara
lainnya, baik dalam bidang kemanan ataupun akses dalam pasar, gangguan dalam skala besar
kemungkinan tidak akan terjadi. Penggemar globalisasi memandang kemanan sebagai
sesuatu yang muncul dari kondisi kehidupan sehari-hari, bukan mengalir ke bawah dari
hubungan luar negeri suatu negara dan kekuatan militernya (Mathews, 2000 dalam Paul,
2003: 141).
Ciri khas yang muncul dari isu-isu internal telah menurunkan betapa pentingnya suatu
negara sebagai penyedia kemanan nasional, sedangkan keamanan telah menjadi fungsi inti
2

dari negara bangsa sejak masa tradisional, memberikan negara suatu legitimasi dan kekuatan
masyarakat. Kaum globalis memberikan pernyataan dari perspektif mereka bahwa bangsabangsa tidak mampu untuk terlibat dalam perang yang berskala besar lagi, terutama
dikarenakan kemerdekaan ekonomi yang luas dan dalam serta hadirnya interaksi yang
berlapis-lapis di antara negara-negara maupun aktor transaksional seperti bentuk kerjamasa
suatu bisnis. Semakin banyak negara yang memilih untuk menjalankan sistem pemerintahan
demokratis, elit liberalisasi sengaja melemahkan kekuatan militer mereka dan dengan
demikian akan mengurangi peran elit keamanan nasional dan keprihatinan dalam kebijakan
negara.
Amerika Serikat, Rusia, dan Cina telah terlibat dalam bentuk-bentuk baru dari
perlombaan senjata. Kali ini, mereka lebih berfokus pada perang informasi dan senjata nuklir.
Berkaca pada tulisan Paul, penulis sepakat bahwa globalisasi telah menjadikan kemanan
negara menjadi menurun kualitasnya. Sistem keamanan nasional semakin tidak diperhatikan
karena berkurangnya pertahanan dan kekuatan militer negara-negara di dunia. Kini negaranegara di dunia mulai meyakini jika negara pemegang hegemoni dapat menciptakan
perdamaian antar negara-negara di sekelilingnya, keamanan nasional suatu negara pun dirasa
tidak terlalu penting fungsinya untuk dijalankan. Degradasi sistem pemerintahan dan
keamanan pun terjadi, demokrasi dijalankan secara semena-mena. Pada akhir tulisan dapat
disimpulkan bahwa globalisasi dapat menjadi ancaman dalam kelangsungan keamanan dan
pertahanan negara bangsa. Kualitas keamanan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya
keamanan pun perlahan sirna. Globalisasi menciptakan sistem pemerintahan baru yang
berbeda dengan sebelumnya. Meskipun negara-negara telah sepakat untuk mengurangi
adanya sistem kekerasan dalam bidang kemiliteran, pertahanan kemiliteran tetap diperlukan
untuk melindungi negara dan masyarakat dari pengaruh isu-isu global baik di dalam negeri
maupun luar negeri. Sistem kekerasan menurun, ancaman menurun, namun begitu pula
dengan sistem keamanan negara maupun dunia internasional. Negara bangsa akan menjadi
tidak kritis dalam isu-isu internasional karena mereka menganggap bahwa kedamaian akan
mudah dicapai tanpa adanya sistem keamanan yang kuat, meskipun kedamaian tersebut
dirasa semu.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas rumusan masalah yang diambil adalah :

1. Apa itu keamanan nasional, regional, internasional, dan global ?


2. Apa tugas seorang menteri pertahanan Amerika Serikat ?
3. Bagaimana eksistensi rezim keamanan internasional ?
4. Bagaimanakah Globalisasi dapat mengancam keamanan Negara ?
5. Apa yang akan saya lakukan demi menciptakan keamanan global, apabila menjadi
menteri pertahanan Amerika Serikat ?
C. Teori yang Digunakan
Teori Liberalis cocok dalam konteks pembahasan kali ini, karena dalam teori liberalis
lebih condong/menekankan kepada aspek pendekatan dengan melakukan kerjasama antar
negara dan juga lebih menekankan kepada negosiasi. Karena apabila dilakukan dengan
membalas secara frontal dan agresif maka akan cenderung mengakibatkan terus menerusnya
konflik dengan dasar tindakan balas dendam.
Penulis juga menggunakan Game Theory, Permainan ini berasumsi bahwa setiap pemain
akan melaksanakan strategi yg membantu utk mencapai hasil yg paling menguntungkan
dalam setiap situasi. Permainan digunakan utk menggambarkan hubungan penempatan
kepentingan dua pemain yg bertentangan secara langsung. Semakin besar hasilnya utk 1
pemain, yg lain lebih kecil. Menggambarkan potensi kerjasama utk memproduksi hasil yg
saling menguntungkan

BAB 2
PEMBAHASAN

A. Keamanan nasional, regional, internasional, dan global


Mendefinisikan globalisasi sebagai reorganisasi spasial dalam produksi, industri, finansial
dan area lain yang menyebabkan keputusan lokal memiliki dampak global dan kehidupan
sehari-hari dipengaruhi oleh peristiwa global. Globalisasi memberikan penetrasi terhadap ide
dan pemikiran individu sehingga tiap individu bisa melakukan aktualisasi diri. Pada abad 20
peran negara semakin berkurang karena arus informasi dan teknologi yang pesat

memungkinkan berbagai pengaruh masuk dan negara tidak kuasa membendungnya. Isu
keamanan menjadi hal krusial ketika berbicara mengenai globalisasi.
Dampak globalisasi pada isu keamanan seringkali dihubungkan dengan pola perubahan
agenda keamanan pasca Perang Dingin. Fakor paling penting dari globalisasi adalah
teknologi

yang

memungkinkan

pembuatan

senjata

semakin

mudah

dilakukan

(Falkenrath,1998 dalam Cha,2000:393). Kelompok ektremis bisa dengan mudah melakukan


pertemuan virtual melalui akses internet, melakukan mengorganisir kegiatan secara
transnasional dan mendapatkan informasi secara bebas. Dengan kata lain, globalisasi
meningkatkan potensi ancaman keamanan.
Globalisasi mengubah spektrum agen dan cakupan dalam ancaman keamanan. Agen dari
ancaman keamanan tidak hanya negara, tetapi juga aktor non negara. Pertarungan terjadi
diantara bagian-bagian dalam negara, contohnya milisi etnis, gerilyawan paramiliter, kultus,
organisasi keagamaan, organisasi kriminal dan teroris (Cha,2000:394). Target dari ancaman
keamanan dalam globaliasasi bukanlah negara secara khusus, tetapi justru individu yang ada
di negara tersebut. Ancaman keamanan menjadi sulit untuk diukur, ditemukan, dipantau dan
dideteksi (Freedman,1998:56;Reinicke,1997:134 dalam Cha,2000:394). Pola masuk dan
penyebaran ancaman tidak kasat mata, tetapi dampaknya bersifat destruktif.
Arti kemanan pasca Perang Dingin lebih luas dari sekedar keamanan militer di level
nasional (Cha,2000:394). Kekerasan manusia, penyebaran penyakit, narkotika, kriminalitas
dan konflik etnis adalah cakupan baru dari ancaman kemanan. Kategori ancaman
bertransfomasi dari high politic menjadi low politic.
1. Keamanan nasional
Keamanan nasional tidak dapat dilepaskan dari sejarah Amerika Serikat pada awal
masa perang dingin, dimana pada saat tersebut muncul sebuah pemikiran mengenai hal
terburuk bila perang dunia ketiga benar-benar terjadi1. Dimana dalam prosesnya terjadi
sebuah pertarungan antara pemimpin dari kalangan sipil dan militer, diantara angkatan
bersenjata, antara Kongres dan Gedung Putih, demokrat dan republik, liberal dan konservatif.
Pertarungan tersebut kemudian menciptakan sebuah elaborasi ideologi dari cara berfikir yang
baru mengenai keamanan nasional. Hal ini kemudian membawa rakyat Amerika Serikat
untuk melunturkan konservatisme mereka dengan kebijakan baru, perasaan lama mereka
1 Angga Nurdin, Keamanan Global: transformasi isu keamanan pasca perang
dingin, hal: 6
6

tentang diri sendiri dengan tujuan nasional negaranya dan hal ini kemudian menjadi salahsatu
faktor untuk menghentikan statisme Amerika Serikat sebagai sebuah negara yang terisolasi.
Dalam perkembangannya Amerika Serikat kemudian mengembangkan sebuah kebijakan
yang responsif dalam menanggapi berbagai potensi ancaman baik yang berada di dalam
bahkan yang berada jauh di luar teritorialnya sekalipun untuk menjaga keamanan nasional
negaranya2.
Keamanan nasional menjadi sebuah hal yang tidak dapat dilepaskan dari sebuah
negara hal ini terkait dengan konsepsi keamanan nasional yang menjadi sebuah tujuan utama
dari sebuah institusi sosial. Sebuah negara harus dapat memberikan keamanan di wilayah
geografisnya yang disebut dengan wilayah teritorialya dari ancaman baik yang berasal dari
dalam maupun dari luar3.
2. Keamanan regional
Konsep keamanan regional dimaksudkan untuk memahami keamanan internasional
dalam level subsistemik. Konsep ini penting apabila merujuk pada kenyataan adanya tingkat
otonomi yang relative tinggi pada keamanan pada level regional. Walaupun demikian analisa
dalam level subsistemik regional ini tetap diletakkan pada konteks analisis negara dan level
sistemik.
3. Keamanan internasional
Keamanan internasional merupakan sebuah konsep dimana negara berupaya untuk
melihat bagaimana ancaman tersebut muncul dari interaksi diantara negara tersebut. Kondisi
tersebut menegaskan bahwa keamanan internasional merupakan sebuah kondisi eksklusif
yang lahir sebagai sebuah dampak dari interaksi negara dalam sebuah sistem. Secara luas
terminologi dari keamanan internasional

memunculkan sebuah gambaran bagaimana

pembangunan sebuah persenjataan, negara superpower dan perang yang terjadi diantara
negara. Meskipun demikian memang dalam memahami konsep keamanan dalam konteks
literatur hubungan internasional adalah sebagai upaya mencegah ancaman bagi ancaman yang
biasanya datang dari luar terkait dengan ancaman yang bersifat tradisional yang terus
mendominasi kajian di dalamnya4.

2 Ibid
3 ibid
7

4. Keamanan global
Globalisasi merupakan hal yang tidak dapat terhindarkan dalam setiap aspek
kehidupan manusia. Bahkan globalisasi juga merasuki aspek keamanan. Seiring
berkembangnya jaman keamanan mengalami perubahan seiring dengan berkembangnya multi
isu, multi aktor dan perubahan sistem internasional. Muncul anggapan bahwa globalisasi
menyebabkan negara banyak kehilangan fungsinya seperti menjaga keamanan. Hal ini
disebabkan semakin mudahnya komunikasi antar negara salah satunya akibat dari pasar
bebas. John Campbell (2003) dalam artikelnya states, security function, and the new global
Force menyatakan bahwa globalisasi tidak menghentikan negara dalam menjaga keamanan,
walaupun banyak negara mengurangi anggaran untuk militernya. Hal ini terjadi karena
perang yang terjadi saat ini tidak selalu perang fisik seperti dahulu melainkan perang untuk
membentuk kekuatan negara.
Campbell (2003) menjelaskan melalui keamanan Amerika Serikat. Pasca berakhirnya
perang dingin Amerika Serikat muncul sebagai satu-satunya negara hegemon mengalahkan
Uni Soviet. Kekuatan hegemon yang dimiliki Amerika Serikat membuat Amerika memiliki
peranan yang sangat penting yaitu untuk menjaga keamanan dunia (Campbel 2003, 139).
Menurut Campbell (2003) peningkatan keamanan dapat melalui dua aspek yaitu hardpower
dan softpower. Hard power disini tidak selalu berkaitan dengan militer, tetapi dapat dengan
pembentukan aliansi. Sedangkan yang termasuk dalam softpower adalah pengembangan
teknologi (Campbell, 2003:140). Saat ini softpower lebih efektif untuk digunakan dan lebih
memungkinkan untuk menciptakan keamanan karena tidak berdampak fisik secara langsung
mengingat perang yang terjadi saat ini bukanlah perang fisik seperti dulu. Penulis setuju akan
hal ini mengingat pengalaman perang dahulu telah menimbulkan banyak korban sehingga
saat ini digunakan cara yang lebih dapat meminimalisir kerugian dan korban.
Dahulu, peperangan ataupun anacaman keamaanan dianggap hanya berasal dari
militer negara lain, namun dengan adanya globalisasi yang memunculkan aktor-kator baru,
ancaman keamanan suatu negara pun bertambah, contohnya seperti adanya terorisme. Contoh
nyata adalah lahirnya jaringan teroris yang terstruktur dan hampir tersebar di seluruh dunia.
Kelompok teroris ini menjadi fokus utama dunia terlebih setelah peristiwa penyerangan 11
September 2001 di Amerika Serikat, teroris telah menjadi musuh bersama hampir di seluruh
4 Angga Nurdin, Keamanan Global: transformasi isu keamanan pasca perang
dingin, hal: 10
8

dunia. Pergeseran peran pengganggu stabilitas keamanan kepada organisasi-organisasi


fundamental kemudian banyak dinilai sebagai dampak besar dari perkembangan terorisme
internasional. Selain itu tantangan kemanan sebuah negara tidak hanya datang dari luar
negara seperti persaingan kekuatan, tetapi juga datang dari dalam negara seperti perbedaan
etnis atau kebijakan yang disalahgunakan (Campbell, 2003: 141). Penulis setuju akan hal ini,
dengan adanya globalisasi dapat memunculkan aktor-aktor baru yang dapat mengancam
keamanan nasional. Dengan adanya perkembangan teknologi dan peranan media komunikasi
yang begitu kuat semakin memudahkan munculnya aktor-aktor baru yang mengancam
keamanan global.
Selain teroris terdapat pandangan yang dibawa oleh kelompok organisasi regional
bahwa Amerika Serikat sebagai negara hegemon terlalu banyak berpengaruh dan mencampuri
urusan internal dalam suatu negara. Campbell (2003) mengemukakan bahwa globalisasi
menjadi salah satu ancaman bagi Amerika Serikat, seharusnya dengan power yang dimiliki
Amerika Serikat bertindak sebagai penjaga keamanan, namun Amerika Serikat seringkali
malah menciptakan konflik. Banyak yang melakukan perlawanan untuk melepaskan diri dari
pengaruh Amerika Serikat dan berusaha menghentikan pengaruh Amerika Serikat sebagai
negara hegemon.
Menurut Campbell (2003) perkembangan militer merupakan faktor yang sangat
penting untuk menunjukan bagaimana sebuah negara mampu untuk mengelola sumber daya
yang dimiliki dan merespon berbagai ancaman keamanan. Globalisasi telah membuat banyak
perubahan didunia, batas wilayah suatu negara seolah menghilang. Globalisasi secara
langsung maupun tidak telah memberikan pengaruh terhadap interaksi antar aktor di dunia
yang tentunya berpengaruh terhadap keamanan.
Menghadapi ancaman yang ada postur keamanan tradisional perlu direvitalisasi
sehingga masih relevan untuk digunakan. Salah satu caranya dapat menerapkan keamanan
nasional sesuai dengan kondisi internal suatu negara sehingga dapat digunakan untuk
menyelesaikan permasalahan keamanan yang ada. Jika dilihat saat ini sudah banyak negara
yang sadar akan munculnya ancaman-ancaman baru yang mengancam keamanan negara
maupun keamanan global. Untuk mengantisipasi hal ini telah dipersiapkan militer yang lebih
baik, seperti penambahan pasukan maupun meningkatkan kemajuan teknologi militer.

B. Tugas seorang menteri pertahanan Amerika Serikat


Menteri Pertahanan bertugas sebagai penasehat tertinggi kebijakan pertahanan bagi sang
Presiden, menyusun kebijakan pertahanan secara umum dan segala kebijakan yang terkait
dengan Dephan, serta menjalankan kebijakan yang telah ditetapkan. Menteri Pertahanan
dipilih oleh Presiden dengan persetujuan Senat dan merupakan anggota kabinet. Oleh
undang-undang diharuskan bahwa sang menteri merupakan warga sipil yang tidak pernah
bertugas dalam komponen aktif di angkatan bersenjata setidaknya dalam 10 tahun terakhir
(pengecualian kepada George Marshall yang menjadi Menteri Pertahanan pada tahun 1950
meski baru menjadi warga sipil pada tahun 1945).
Dalam Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, Menteri Pertahanan (Menhan) biasanya
dikenal dengan sebutan SecDef. Bersama dengan Presiden AS, Menhan membentuk Otoritas
Komando Nasional (National Command Authority, NCA) yang memiliki satu-satunya hak
untuk meluncurkan persenjataan nuklir strategis. Seluruh senjata nuklir takluk pada peraturan
dua orang tersebut, bahkan pada tingkat tertinggi pemerintahan. Kedua orang tersebut harus
bersetuju sebelum sebuah serangan nuklir strategis dapat diperintahkan.
Sang menteri, sebagai kepala Departemen Pertahanan, dibantu oleh seorang wakil menteri
dan lima menteri muda dalam bidang Akuisisi, Teknologi & Logistik; Keuangan; Intelijen;
10

Personil & Kesiapan; dan Kebijakan. Seluruh jabatan tersebut memerlukan konfirmasi Senat.
Sang menteri juga mengepalai keenam anggota Kepala Staf Gabungan dan para komandan
kesepuluh Komando Kombatan.
Bersama dengan Menteri Luar Negeri, Menteri Kehakiman, dan Menteri Keuangan,
Menteri Pertahanan umumnya dianggap sebagai salah satu dari empat pejabat kabinet
terpenting.

C. Eksistensi rezim internasional


Eksistensi Rezim Keamanan Internasional Dalam Menciptakan Suatu Perdamaian Dunia
Berdirinya rezim-rezim keamanan internasional tidak terlepas dari sekian peperangan dan
konflik yang berkecamuk di dunia. Khususnya sekitaran 1990-an, pada konflik yang
berkecamuk di Somalia, yang mengindikasikan kegagalan PBB pada periode paska Perang
Dingin dalam menjaga perdamaian di wilayah tersebut. Sejak dahulu perang telah menjadi
masalah yang fundamental dalam politik internasional. Namun seiring berlalunya waktu,
perang, dan atau konflik, sendiri telah mengalami perluasan dan pergeseran makna serta
scope. Perang bukan lagi duel antara dua atau lebih negara.
Oleh karenanya, konsepsi mengenai keamanan itu sendiri juga mengalami pergeseran,
tepatnya pada lima puluh tahun belakangan ini. Pada era saat ini, keamanan manusia menjadi
prioritas yang lebih diutamakan dibanding dengan keamanan negara. Awal abad dua puluh
dapat disebut sebagai titik kemunculan ide mnegenai berdirinya organisasi global yang
menaruh perhatian pada terbentuknya keamanan antar negara. Keberadaan PBB dan LBB
tersebut merefleksikan bahwa organisasi internasional permanen yang terdiri dari negaranegara cinta damai dapat memberikan framework untuk mencegah terjadinya perang di masa
mendatang . Statement tersebut semakin didukung dengan adanya fakta bahwa The League of
Nations Convenant dan UN Charter menaruh fokus secara ekstensif pada prinsip-prinsip
dasar pencegahan terjadinya perang, mekanisme penyelesaian sengketa secara damai, serta
penetapan aturan tindak paksaan. Lebih dari itu, PBB, sebagai organisasi global, juga
11

menetapkan struktur global bagi setiap international Governmental Organization (IGO) dalam
menangani isu keamanan. Sebagai bukti awareness negara-negara terhadap isu keamanan
internasional tersbeut, terdapat setidaknya satu IGO di setiap lima major geographic regions.
Beberapa IGO pada tingkat regional tersebut adalah seperti; NATO, CIS, WEU di
kawasan Eropa; ASEAN dan ARF di kawasan Asia; Liga Arab dan GCC di Timur Tengah;
AU dan ECOWAS di Afrika; dan OAS di kawasan Amerika Latin. Sementara pada tingkatan
internasional, yang berada di bawah PBB adalah Dewan Keamanan denganInternational
Atomic Energy and Agency (IAEA), Majelis umum denganDepartement of Peacekeeping
Operations (DPKO), Secretary-General denganOffice for Coordination of Humanitarian
Affairs (OCHA), dan Internaional Court of Justice melalui High Commisssioner for Refugees
(UNHCR). Selain IGO pada tingkatan regional maupun global, Non-Governmental
Organization (NGO) juga telah sejak lama muncul dan menaruh perhatian pada penyelesaian
konflik secara damai, disarmament, dan humanitarian relief. Beberapa diantaranya seperti
Stockholm International Peace, Greenpeace, International Physicians for the Prevention of
Nuclear War, Save the Children Federation, Chatolic Relief Services, CARE, dan lain
sebagainya. Pemeliharaan perdamaian dan keamanan dunia tidak hanya dapat dilakukan oleh
negara, IGO, maupun NGO saja, sebab individu-pun dapat menjadi salah satu aktornya.
Dalam upaya pemeliharaan perdamaian dan keamanan tersebut, terdapat beberapa cara yang
dapat dilakukan. Pertama, adalah melalui preventive diplomacy.
Cara yang pertama ini merupakan suatu aksi atau tindakan untuk mencegah timbulnya
perselisihan atau sengketa antar pihak, mencegah tahapan eskalasi beranjak pada tahapan
konflik yang lebih tinggi, serta untuk membatasi tersebarnya efek ketika perang atau konflik
tersebut berkecamuk nantinya. Keduaadalah melalui mediasi. Cara ini merupakan salah satu
bentuk negosiasi yang dibantu oleh adanya pihak ketiga. Pihak ketiga ini nantinya akan
memberikan atau menawarkan sebuah atau beberapa solusi yang tidak dapat ditemui oleh
pihak-pihak yang bersengkata itu sendiri.
Mediator ini juga berfungsi sebagai pihak yang dapat mewujudkan terjalinnya
komunikasi yang baik antar pihak-pihak yang bersengketa. Pihak yang menjadi mediator
dapat berupa satu negara, sekelompok negara, IGO, NGO, aktor individu, dan ataupun
kelompok ad hoc. Cara yang lainnya adalah melalui ajudikasi dan arbitrasi. Tidak lagi seperti
pada periode peperangan antar negara atau rezim pemerintahan layaknya pada perang Dunia,

12

dengan kekuatan militer dan pemberian sanksi berbau militer dan perang pada mereka yang
kalah perang.
Kebanyakan peperangan yang terjadi pada abad dua puluh ini adalah peperangan antar
suku atau klan, dalam maupun antar negara. Peperangan yang terjadi juga lebih kepada
peperangan yang sifatnya lebih membahayakan pada sisi kemanusiaan. Oleh karena itulah
humanitarian security menjadi prioritas utama para peace-keeping dibanding dengan
keamanan pemerintah ataupun negara. Sanksi yang diberikan-pun bukan lagi seperti sanksi
yang diberikan kepada Jerman yang dilabeli sebagai penjahat perang dengan semua sanksi
berat yang harus ditanggungnya. Tidak juga seperti sanksi yang diterima Jepang sebagai salah
satu negara poros yang kalah dalam Perang Dunia kedua. Salah satu contoh sanksi yang
diberikan adalah embargo pada beberapa sektor yang diterima Korea Utara. Pemberian sanksi
telah menjadi favorite tool in states effort to get others to do what they wanted them to do
(Karns & Mingst. 2004: 299).
Selain ituenforcemnet juga merupakan cara lain yang digunakan negara. Namun
pemberian enforcement ini tidak dapat dilaksanakan oleh regional agenciestanpa otorisasi
Dewan Keamanan. Beberapa negara juga membentukcollective security untuk menghadapi
pihak-pihak yang dianggap potensial dan menciptakan keamanan pada suatu kawasan. Upaya
tersebut dilakukan melalui dialog, konsultasi, pembentukan rasa saling percaya tanpa melalui
pendekatan formal institusional.
Pembentukan rezim keamanan internasional juga akan menjadi lebih komplit jika
didalamnya terdapat peran serta dari epistemic community. Oleh karena abilitasnya dalam
ranah keamanan dan perdamaian, komunitas tersebut akan memberi sumbangsih dan
perhatiannya terhadap impact yang mungkin muncul dalam hubungan kerjasama
internasional. Sumbangsih ang dapat diberikannya dapat berupa gagasan, ide, dan maupun
persepsi yang dapat digunakan sebagai solusi pemecahan. Epistemic Community juga dapat
memberikan pengaruh yang besar dalam peregulasian sebuah kebijakan terkait isu keamanan
dan perdamaian dunia.
D. Globalisasi mengancam keamanan negara
Kemajuan teknologi, memberikan akses yang cepat dan mudah dalam penyebaran nilainilai dan ide-ide, termasuk akses untuk memaksakan isu tertentu. Munculnya perusahaanperusahan multinasional, serta semakin banyaknya rezim internasional, membuat batas-batas
negara semakin tidak terlihat. Gambaran singkat situasi yang diciptakan globalisasi ini
13

menumbuhkan ancaman baru yang harus diantisipasi oleh negara. Dimensi-dimensi tersebut
sekaligus memberikan kewajiban besar bagi elit-elit negara untuk menjaga kesimbangan
antara tuntutan globalisasi kejadian lokal (globalizing local dynamics) dan lokalisasi
peristiwa global (localizing global dynamics).
Era globalisasi secara langsung maupun tidak langsung telah mempengaruhi
signifikansi geopolitik dalam interaksi antaraktor dalam hubungan internasional. Globalisasi
seolah-olah menciptakan sebuah aturan yang memaksa aktor-aktor didalamnya untuk
menemukan suatu strategi yang tepat bagaimana mereka mengatur dirinya dan bersikap
terhadap aktor lain dengan tidak hanya, bahkan dengan tidak menggunakan instrumeninstrumen konvensional, yaitu militer dan power politics.
Dalam globalisasi, suatu negara juga harus mengikuti aturan-aturan yang ada. Negaranegara harus memilki mekanisme yang mendorong terciptanya efektifitas dan efesiensi agar
dapat bertahan dalam era ini. Bahkan negara-negara tersebut pada tahap tertentu mau tidak
mau harus mengorbankan kedaulatannya. Globalisasi memang telah menciptakan sebuah
keterikatan diantara negara-negara sekaligus menciptakan ancaman baru dan rasa tidak aman
bagi negara. Rasa tidak aman (insecurity) negara tersebut merefleksikan sebuah kombinasi
antara ancaman-ancaman (threats) dan kerawanan (vulnerabilitties) yang lahir dari fenomena
globalisasi.
Seperti apa globalisasi menjadi ancaman bagi keamanan negara, akan diuraikan secara
singkat berdasarkan beberapa dimensi penting dalam globalisasi, sebagai berikut.
Globalisasi Ekonomi, akan menciptakan ancaman dengan menipisnya kemampuan negara
dalam hak-hak nasional ekonomi. Hal ini disebabkan adanya ekonomi global yang
memunculkan insitusi-institusi dan lembaga ekonomi internasional seperti IMF, Bank dunia
dan sebagainya), yang membuat negara-negara bergantung. Persoalaannya adalah insitusi
internasional tersebut seringkali memiliki regulasi dalam prasayarat bantuannya, seperti
memaksa negara untuk menerapkan atau melakukan nilai-nilai tertentu, ide-ide, serta isu
tertentu. Selain itu, institusi tersebut juga sering menjadi alat mencapai kepentingan negaranegara yang menjadi donatur terbesar atau yang mempunyai power dalam institusi
internasional tersebut. Hal ini tentunya, menjadi ancaman dan dilema tersendiri bagi
keamanan negara, dimana disatu sisi negara tidak mampu menolak globalisasi ekonomi,
bahkan menggantungkan hidupnya pada institusi-institusi ekonomi internasional, dan pada

14

sisi yang lain, negara harus bersiap-siap menghadapi intervensi asing terhadap negaranya
yang masuk melalui kebijakan institusi-institusi ekonomi tersebut.
Globalisasi Ideologi, menciptakan ancaman ketika globalisme menberikan peluang bagi
terjadinya perang ideologi. Globalisasi yang membuka sekat diantara identitas budaya,
keyakinan serta nilai-nilai bangsa tertentu membuat batas wilayah tidak lagi mampu
membatasi pengaruh yang masuk kedalam negara. Negara harus menghadapi datangnya
ideologi asing. Dalam hal ini, globalisme menjadi ancaman terhadap negara, saat ia mampu
mempengaruhi masyrakat untuk memusuhi negaranya, mengurangi loyalitas terhadap negara,
bahkan melemahkan semangat nasionalsime masyarakat negara tertentu.
Globalisasi Sosial, bentuk ancamannya adalah dengan majunya teknologi yang
merupakan rangkaian dalam globalisasi yang tidak dapat dibendung. Teknologi canggih
membuat proses integrasi sosial menjadi sangat cepat bahkan tidak terkendalikan. Informasi
mengalir tanpa batas, penyebaran budaya juga dengan mudah memasuki negara.
Persoalannya adalah munculnya ancaman terhadap identitas lokal, akibat pengaruh asing
yang sulit dibendung. Dalam situasi ini negara dengan kemapuan teknologi tinggi tentu akan
lebih mudah memberikan pengaruhnya.
Globalisasi militer, pada akhirnya menciptakan pertanyaan mengenai arti dan pelaksanaan
kedaulatan serta otonomi sebuah negara. Kerjasama-kerjasama militer yang dilakukan, secara
tidak langsung mengancam kedaulatan dan otonomi/ kekebasan negara dalam aspek
pengambilan keputusan, secara institusional dan struktural. Dalam hal pengambilan
keputusan misalnya organisasi-oraganisasi militer internasional seringkali membatasi otoritas
negara untuk mengambil keputusan keamanan, dan seringkali justru memaksakan keputusan
sepihak dari negara yang mempunyai power dalam organisasi tersebut. Globalisasi militer
juga menjadi dilema bagi keamanan nasional dalam melakukan pertahanan nasional atau
bergabung melakukan cooperative security. Karena banyaknya benturan kepentingan nasional
dengan kepentingan kelompok. Lebih jauh globalisasi militer menciptakan dilema keamanan
dengan maraknya perdagangan senjata di seluruh dunia.

E. Menciptakan keamanan global


Setelah berbagai penjelasan diatas, penulis mempunyai sebuah pandangan apabila
menjadi seorang menteri pertahanan Amerika Serikat yang telah diketahui bahwa Amerika
15

Serikat merupakan suatu negara yang superpower, tentunya kebijakan yang diambil oleh
negara ini dapat berpengaruh terhadap konstelasi global. Maka dari itu agar dapat
menciptakan keamanan global, penulis berpandangan bahwa belajar dari masa lalu ketika
peristiwa 9/11 di WTC, Pentagon, dan Gedung Putih, maka konsepsi keamanan harus lebih
ditekankan terlebih dahulu kepada konsepsi keamanan nasional, dimana konsep keamanan
nasional itu sendiri menjadi sebuah hal yang tidak dapat dilepaskan dari sebuah negara hal ini
terkait dengan konsepsi keamanan nasional yang menjadi sebuah tujuan utama dari sebuah
institusi sosial. Sebuah negara harus dapat memberikan keamanan di wilayah geografisnya
yang disebut dengan wilayah teritorialya dari ancaman baik yang berasal dari dalam maupun
dari luar.
Dalam perkembangannya Amerika Serikat kemudian mengembangkan sebuah kebijakan
yang responsif dalam menanggapi berbagai potensi ancaman baik yang berada di dalam
bahkan yang berada jauh di luar teritorialnya sekalipun untuk menjaga keamanan nasional
negaranya. Selanjutnya kita merujuk kepada konsep keamanan regional, dimana Konsep
keamanan regional dimaksudkan untuk memahami keamanan internasional dalam level
subsistemik. Konsep ini penting apabila merujuk pada kenyataan adanya tingkat otonomi
yang relative tinggi pada keamanan pada level regional. Walaupun demikian analisa dalam
level subsistemik regional ini tetap diletakkan pada konteks analisis negara dan level
sistemik. Selanjutnya kita harus memahami adanya konsep keamanan internasional yang
mana negara berupaya untuk melihat bagaimana ancaman tersebut muncul dari interaksi
diantara negara tersebut. Kondisi tersebut menegaskan bahwa keamanan internasional
merupakan sebuah kondisi eksklusif yang lahir sebagai sebuah dampak dari interaksi negara
dalam sebuah sistem.
Secara luas terminologi dari keamanan internasional memunculkan sebuah gambaran
bagaimana pembangunan sebuah persenjataan, negara superpower dan perang yang terjadi
diantara negara. Meskipun demikian memang dalam memahami konsep keamanan dalam
konteks literatur hubungan internasional adalah sebagai upaya mencegah ancaman bagi
ancaman yang biasanya datang dari luar terkait dengan ancaman yang bersifat tradisional
yang terus mendominasi kajian di dalamnya. Dan apabila kita telah menguasai ketiga konsep
sebelumnya, kita harus menguasai konsep yang paling luas, yaitu konsep keamanan global
bahwa kondisi dunia saat ini seakan membuat tidak ada lagi sekat-sekat yang memisahkan
satu negara dengan negara lain. Perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi yang
demikian pesat membuat arus informasi maupun perpindahan manusia seakan tidak
16

terbendung lagi5. peperangan ataupun anacaman keamaanan dianggap hanya berasal dari
militer negara lain, namun dengan adanya globalisasi yang memunculkan aktor-kator baru,
ancaman keamanan suatu negara pun bertambah, contohnya seperti adanya terorisme.
Contoh nyata adalah lahirnya jaringan teroris yang terstruktur dan hampir tersebar di
seluruh dunia. Kelompok teroris ini menjadi fokus utama dunia terlebih setelah peristiwa
penyerangan 11 September 2001 di Amerika Serikat, teroris telah menjadi musuh bersama
hampir di seluruh dunia. Pergeseran peran pengganggu stabilitas keamanan kepada
organisasi-organisasi fundamental kemudian banyak dinilai sebagai dampak besar dari
perkembangan terorisme internasional. Selain itu tantangan kemanan sebuah negara tidak
hanya datang dari luar negara seperti persaingan kekuatan, tetapi juga datang dari dalam
negara seperti perbedaan etnis atau kebijakan yang disalahgunakan (Campbell, 2003: 141).
Penulis setuju akan hal ini, dengan adanya globalisasi dapat memunculkan aktor-aktor baru
yang dapat mengancam keamanan nasional. Dengan adanya perkembangan teknologi dan
peranan media komunikasi yang begitu kuat semakin memudahkan munculnya aktor-aktor
baru yang mengancam keamanan global.
Sebagai menteri pertahanan Amerika Serikat, sesuai dengan tugas seorang Menteri
Pertahanan Amerika Serikat bertugas sebagai penasehat tertinggi kebijakan pertahanan bagi
sang Presiden, menyusun kebijakan pertahanan secara umum dan segala kebijakan yang
terkait dengan Dephan, serta menjalankan kebijakan yang telah ditetapkan. Menteri
Pertahanan dipilih oleh Presiden dengan persetujuan Senat dan merupakan anggota kabinet.
Saya berpandangan bahwa perlua adanya suatu rezim keamanan internasional, Pembentukan
rezim keamanan internasional juga akan menjadi lebih komplit jika didalamnya terdapat
peran serta dari epistemic community. Oleh karena abilitasnya dalam ranah keamanan dan
perdamaian, komunitas tersebut akan memberi sumbangsih dan perhatiannya terhadap impact
yang mungkin muncul dalam hubungan kerjasama internasional. Sumbangsih ang dapat
diberikannya dapat berupa gagasan, ide, dan maupun persepsi yang dapat digunakan sebagai
solusi pemecahan. Epistemic Community juga dapat memberikan pengaruh yang besar dalam
peregulasian sebuah kebijakan terkait isu keamanan dan perdamaian dunia.

5 Angga Nurdin, Keamanan Global: transformasi isu keamanan pasca perang


dingin, hal: 14
17

BAB 3
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari berbagai penjelasan dan beberapa pandangan penulis mengenai apa yang akan
dilakukan untuk menciptakan keamanan global, apabila saya menjadi seorang menteri
pertahanan Amerika Serikat bahwa kita harus menguasai berbagai aspek keamanan secara
struktural mulai dari keamanan nasional, regional, internasional, dan global. Apabila
keamanan nasional telah terpenuhi maka konsep keamanan selanjutnya akan dapat dengan
mudah untuk di kuasai. Dan juga penulis menekankan lebih kepada kerjasama antar negara
dan pendekatan pendekatan dalam menciptakan keamanan global, tidak langsung
mengerahkan kekuatan secara agresif, hal ini tentunya agar mencegah terjadinya sikap balas

18

dendam/serangan balasan yang tidak kunjung berakhir dari pihak yang merasa dirugikan oleh
sikap agresif Amerika Serikat atas serangan menyelesaikan konflik. Penulis juga
berpandangan bahwa perlu adanya suatu rezim keamanan internasional demi menciptakan
stabilitas keamanan global, Kebanyakan peperangan yang terjadi pada abad dua puluh ini
adalah peperangan antar suku atau klan, dalam maupun antar negara.
Peperangan yang terjadi juga lebih kepada peperangan yang sifatnya lebih
membahayakan pada sisi kemanusiaan. Oleh karena itulah humanitarian security menjadi
prioritas utama para peace-keeping dibanding dengan keamanan pemerintah ataupun negara.
Sanksi yang diberikan-pun bukan lagi seperti sanksi yang diberikan kepada Jerman yang
dilabeli sebagai penjahat perang dengan semua sanksi berat yang harus ditanggungnya. Tidak
juga seperti sanksi yang diterima Jepang sebagai salah satu negara poros yang kalah dalam
Perang Dunia kedua. Salah satu contoh sanksi yang diberikan adalah embargo pada beberapa
sektor yang diterima Korea Utara. Pemberian sanksi telah menjadi favorite tool in states
effort to get others to do what they wanted them to do (Karns & Mingst. 2004: 299).
Selain itu enforcement juga merupakan cara lain yang digunakan negara. Namun
pemberian enforcement ini tidak dapat dilaksanakan oleh regional agenciestanpa otorisasi
Dewan Keamanan. Beberapa negara juga membentuk collective security untuk menghadapi
pihak-pihak yang dianggap potensial dan menciptakan keamanan pada suatu kawasan. Upaya
tersebut dilakukan melalui dialog, konsultasi, pembentukan rasa saling percaya tanpa melalui
pendekatan formal institusional.
Pembentukan rezim keamanan internasional juga akan menjadi lebih komplit jika
didalamnya terdapat peran serta dari epistemic community. Oleh karena abilitasnya dalam
ranah keamanan dan perdamaian, komunitas tersebut akan memberi sumbangsih dan
perhatiannya terhadap impact yang mungkin muncul dalam hubungan kerjasama
internasional. Sumbangsih ang dapat diberikannya dapat berupa gagasan, ide, dan maupun
persepsi yang dapat digunakan sebagai solusi pemecahan. Epistemic Community juga dapat
memberikan pengaruh yang besar dalam peregulasian sebuah kebijakan terkait isu keamanan
dan perdamaian dunia.
B. DAFTAR PUSTAKA
Callinicos, Alex. 2007. Globalization, Imperialism and the Capitalist World System, dalam
Held, David dan Anthony McGrew., Globalization Theory: Approaches and Controversies,

19

Polity. Paul, T. V. 2003. States, Security Function and Global Social Forces dalam Paul,
Ikenberry dan Hall eds., The Nation State in Question, Princeton University Press, 139-165.
http://avicenna06.blogspot.co.id/2013/02/eksistensi-rezim-keamanan-internasional.html
The United States and Southeast Asia: A Policy Agenda for the New Administration, Mei
2001, hal.1
Nurdin Angga, Keamanan Global : Transportasi Isu Keamanan Pasca Perang Dingin, hal: 614
luthfiana12unairacid-fisip12.web.unair.ac.id
https://dewitri.wordpress.com/2008/02/01/globalisasi-dan-keamanan-negara/
https://en.wikipedia.org/wiki/United_States_Secretary_of_Defense
https://www.academia.edu/6559705/Konsepsi_Keamanan_dalam_Studi_Hubungan_Internasi
onal

20