Anda di halaman 1dari 8

MICHAEL MELKISEDEK S.

NIM. 0811240063

KELAS A.SECCON.5

UJIAN TENGAH SEMESTER GANJIL 2010/2011

STUDI KEAMANAN DAN PERDAMAIAN INTERNASIONAL

1. Situasi keamanan internasional pada masa Perang Dingin dan Pasca perang dingin
mengalami banyak perubahan yang signifikan. Pada saat perang dingin merupakan
masa dimana politik internasional bersifat sangat tradisional. Dimana isu yang
menjadi pokok utama dalam hubungan antar negara adalah persaingan dua kekuatan
besar utama dunia, yang menekankan pada negara sebagai aktor utama. Perseteruan
dua blok utama dunia yaitu blok Barat (non-komunis) yang dipimpin oleh Amerika
Serikat dan blok Timur (komunis) yang dipimpin oleh Uni Soviet, dapat dirasakan
dalam bentuk konflik bersenjata dalam waktu yang singkat, hal ini menimbulkan
kondisi ketegangan yang meningkat dimana keamanan belum terwujud namun
perang juga tidak terwujud. Hal ini terwujud dalam rasa ketakutan yang muncul
akibat dari kepemilikan senjata nuklir antara kedua blok utama dunia, yang dapat
berakibat pada kehancuran masal pada kedua belah pihak. Hampir tidak ada negara
yang tidak merasakan dampak dari Perang Dingin. Semua negara memperlihatkan
kekuatan masing-masing kubu melalui perlombaan senjata, propaganda, persaingan
ideologi dan ekonomi. Persaingan dalam sistem dunia yang bipolar ini muncul pasca
Perang Dunia II dimana Amerika dan Uni Soviet sebagai hegemon dalam blok-blok
dunia bersaing dalam aspek ideologi dan politik.

…rivalry that developed between the Western (non-communist) and Eastern (communist)
blocs shortly after the Second World War. A pervasive sense of threat meant that the
hegemonic bloc leaders, the US and the USSR, engaged in a political competition, not only
with each other, but also for the allegiance of the world at large.1

Amerika dan Uni Soviet menjadi peminpin dari kedua blok utama dunia
dikarenakan kedua negara tersebut memiliki kemampuan kekuatan militer yang
paling besar di dunia. Amerika Serikat memiliki sekitar 22,174 persediaan senjata
nuklir, sedangakan Uni soviet memiliki sekitar 35,805 persediaan nuklir yang
sewaktu-waktu dapat digunakan2.

Pada Pasca Perang Dingin situasi internasional yang semula bipolar menjadi unipolar
setelah runtuhnya Uni Soviet dan menaikkan posisi Amerika Serikat sebagai satu-
satunya negara super-power dengan tidak adanya lawan baik dalam geopolitik
maupun secara ideologi. Dengan tidak adanya kompetitor bagi Amerika maka
Amerika Serikat banyak meeraokan agenda-agendanya. Yang menjadi pokok agenda
utama dari Amerika terwujud dari ide kunci mereka dalam kebijakan luar negeri,
berupa anti-communism and national security3 . dengan keadaan unipolar ini maka
baik secara langsung maupun tidak maka kondisi keamanan dunia ditentukan atau
dapat dikatakan diarahkan oleh Amerika Serikat. Isu national security merupakan
salah satu cara Amerika untuk memperlihatkan arah hubungan Amerika dengan
negara-negara lain di dunia. Seperti yang terjadi pada war on terror yang diangkat
oleh Amerika terutama pasca peristiwa 11 September.

1
Robert G. Patman, 2006. “Globalization, The End of Cold War, and The Doctrin of
National Security”, dalam Globalization and Conflict. Hal.5
2
Colin S. Gray, 2007. “The Cold War, II: The Nuclear Revolution”, dalam War, Peace and
International Relations. Hal.212
3
Robert G. Patman, 2006. “Globalization, The End of Cold War, and The Doctrin of
National Security”, dalam Globalization and Conflict. Hal.6
2. Security Dilemma merupakan sebuah tragedy4. Security Dilemma merupakan
keadaan dimana muncul rasa takut akan terjadinya perang meskipun dari masing-
masing aktor yang terlibat tidak menginginkan perang sebagai hasil dari interaksi
antar negara. Menurut Jack Snyder security dilemma dapat diaplikasikan jika
sebuah negara membutuhkan sebuah rasa tidak aman dari negara lain agar negara
mereka sendiri merasa aman. kunci utama untuk memahami security dilemma
adalah ketidakpastian. Masing-masing negara masih belum dapat memastikan
seperti apa kekuatan yang dimiliki oleh musuh sebagai cara untuk menentukan
langkah(kebijakan) yang tepat dalam interaksi antar negara. Sehingga bagaimanapun
cara sebuah negara untuk melihat aktor lain, tetap tidak akan mengetahui isi
pemikiran dari aktor lain, begitu pula sebaliknya. Ketidakpastian yang didapat oleh
masing-masing pihak ini yang kemudian dapat menimbulkan rasa takut dan rasa
saling curiga bahwa negara lain dapat membahayakan keamanan negara tersebut.
Dan pada akhirnya rasa untuk mempertahankan diri tersebut dapat memicu perang
meskipun itu bukanlah sebuah hasil yang diinginkan oleh semua pihak.

The security dilemma encapsulates one of the many difficult choices facing
some governments. On the one hand, they can relax defence efforts in order to
facilitate peaceful relations; the problem here is that they may make their
country more vulnerable to attack. On the other hand, they can strengthen
defence preparations, but this can have the unintended consequence of
undermining long-term security by exacerbating international suspicions and
reinforcing pressures for arms racing5

Security dilemma menyebabkan negara mendapat pilihan sulit dalam hal


pertahanan. Disatu sisi jika negara tidak meningkatkan pertahanan demi menjaga
perdamainan dapat menjadi sebuah titik rawan bagi keamanan negara, namun disisi
lain jika meningkatkan pertahanan maka akan memicu dan meningkatkan rasa
kecurigaan dunia internasional, serta dapat memicu terjadinya perlombaan senjata
yang dapat menyebabkan kondisi yang lebih buruk lagi.

4
Alan Collins, 2004.”State-Induced Security Dilemma: Maintaining the Tragedy” dalam
Cooperation and Conflict. Hal.28
5
Martin Griffiths.”Security Dilemma”dalam International Relations, the Key
Concept.2002. hal 295.
Dalam lingkungan internasional yang anarki memicu aktor dalam negara untuk
menentukan pilihan mengenai keamanan negara sendiri menemui permasalahan
yang dimaksud dengan logika Too Much Too Little6

Logika mengenai too much too little menjelaskan mengenai keadaan sebuah
negara pada saat negara tersebut meningkatkan persenjataan sehingga negara
tersebut memiliki kemampuan untuk melakukan agresi ke negara lain atau
mendeter , sehingga posisi negara Nampak pada posisi yang aman, namun langkah
tersebut bias jadi langkah yang kurang signifikan. Hal ini dikarenakan negara lain
yang merasa terancam dengan peningkatan senjata negara lain akan melakukan hal
serupa bahkan meningkatkan persenjataan lebih banyak sehingga mengurangi rasa
aman dari negara tersebut.

Dalam kondisi politik dunia sekarang, hubungan antara China dan Taiwan dapat
sedikit menggambarkan security dilemma. Bagi pemerintah China Taiwan
merupakan sebuah provinsi bagian dari Republik Rakyat China. Sedangkan pihak
Taiwan menginginkan kedaulatannya sendiri. Security dilemma muncul ketika
Amerika Serikat muncul untuk membantu menyuplai kebutuhan militer Taiwan, dan
pada saat yang sama China juga meningkatkan kemampuan persenjataan. Security
dilemma ini mucul seiring dengan meningkatnya rasa saling curiga antara Amerika
dan China. Kedua belah pihak sama-sama tidak ingin untuk mengubah status quo.

6
When states seek the ability to defend themselves, they get too much and too little — too much because they
gain the ability to carry out aggression; too little because others, being menaced, will increase their own arms
and so reduce the first state’s security. Robert Jarvis.
3. Security complex merupakan sebuah kondisi dimana sangat sulit untuk melakukan
analisa terhadap proses sekuritisasi maupun desekuritisasi antara negara-negara
yang umumnya berada pada sebuah regional yang sama. Menurut Buzan dan Waever
terdapat beberapa poin penting mengenai security complex . Dalam security complex
keamanan regional menjadi lebih otonom. Meningkatnya tingkat otonom dalam
keamanan regional dikarenakan dalam sebuah kawasan atau region negara-negara
yang menjalin kerjasama menginginkan rasa aman yang sama bagi masing-masing
pihak terutama rasa aman dari pihak diluar regional. Dalam security complex juga
menjelaskan mengenai alur sistem dari global power dan sistem dari power yang
lebih rendah. Selain itu security complex juga memberikan penjelasan mengenai
pembentukan sebuah teritori beserta dengan pembagian dan distribusi power di
dalamnya. Sehingga power yang dimiliki oleh negara yang berpower besar dapat
digunakan unutk mengatur negara lain dengan power yang lebih kecil. Sehingga
kunci unutk memahami security complex adalah hubungan saling keterkaitan antara
masing-masing aktor yang sulit untuk dipisahkan, atau dianalisa secara terpisah.
Semua permasalahan yang muncul dalam lingkup regional tersebut akan
mempengaruhi keamanan dari negara itu sendiri.

Dari hubungan yang terbentuk dalam sebuah regional dapat dilihat mengenai
motivasi sebuah negara untuk menjalin hubungan dengan negara lain. Alam level
analsa subsistem regional motivasi negara untuk menjalin hubungan kerjasama
dengan negara lain dapat menjadi sumber terjadinya security complex, motivasi
tersebut antara lain adalah amity; yaitu motivasi untuk menjalin hubungan
kerjasama dengan negara lain berdasar pada rasa persahabatan dan harapan atas
hubungan yang harmonis. Sedangkan emity merupakan sebuah motivasi untuk
menjalin kerjasama berdasarkan rasa kecurigaan. Kondisi ketidakpastian motivasi
kerjasama menyebabkan rapuhnya hubungan antar negara.

Contoh dari security complex adalah melihat dari regional Asia timur.
Hubungan yang terjadi karena kedekatan geografis antara Jepang, Korea Utara dan
Korea Selatan dapat memberikan gambarannya. Korea Utara yang merupakan
sebuah negara sosialis yang mengedepankan pemerintahan yang otoritaian,
sedangkan kedua negara lain merupakan negara yang mendapatkan banyak
pengaruh demokrasi dari sekutu terbesarnya yaitu Amerika Serikat. Persenjatan
nuklir yang dimiliki oleh Korea Utara secara otomatis mengancam keamanan
regional Asia Timur. Di sisi lain Amerika sebagai sekutu terdekat Korsel dan Jepang
tentu tidak akan tinggal diam. Yang menyebabkan hubungan lebih kompleks adalah
hubungan jerjasama antara tiga negara tersebut. Menyebabkan sebuah permasalahan
yang kompleks.
4. Salah satu dasar bagi negara untuk berbgabung dalam aliansi adalah untuk
mendapatkan rasa aman yang didapat dari hubungan dengan aliansi tersebut. Aliansi
itu sendiri merupakan sebuah perjanjian yang dilakukan oleh dua negara atau lebih
terkait dengan permasalahan keamanan.7 Dari aliansi yang terbentuk itu diharapkan
akan terbentuk sebuah keamanan yang mungkin dapat ditimbulkan oleh ancaman
pihak luar aliansi baik sebuah kelompok negara, negara secara individu maupun
aktor non-negara. Bentuk dari aliansi sendiri dapat berupa perjanjian secara formal
maupun informal. Aliansi yang formal sendiri dibentuk dengan adanya perjanjian
bersama untuk menyerang segala macam bentuk ancaman yang akan datang dimana
perjanjian ini bersifat terbuka dan diketahui secara umum oleh publik. Sedangkan
aliansi informal lebih bersifat tidak mengekang antar anggota dimana bentuk ini
cenderung tidak stabil dan kurang dapat menyelesaan permasalahan kemanan yang
terjadi.

Sebagai sebuah alternatif untuk menyelesaikanmasalah keamanan aliansi


merupakan sebuah cara yang paling diminati oleh negara. Dari terbentuknya aliansi
juga terdapat kelebihan dan kekurangan. Keuntungan yang diperoleh dari bergabung
ke dalam sbuah aliansi adalah jaminan keamanan yang didapat dari aliansi jika
terjadi ancaman dari pihak luar. Selain itu kekuatan sebuah negara, terutama negara
dengan kemampuan militer yang kuat adalah dukungan dari negara dengan
kemampuan militer yang lebih besar. Sehingga potensi untuk mendapat serangan
dari pihak lain dapat diminimalkan. Contoh dari kelebihan aliansi adalah, masuknya
Kanada ke dalam aliansi negara dalam NATO. Dengan masuknya Kanada dalam
NATO maka Kanada secara otomatis mendapatkan jaminan keamanan dari negara-
negara dalam aliansi seperti Amerika.

Namun selain memiliki kelebihan juga terdapat kekurangan dari


terbentuknya aliansi. Diantaranya adalah biaya yang dikeluarkan oleh sebuah negara
dalam aliansi bisa jadi sangat besar namun dengan keuntungan yang tidak dapat
diprediksi, atau masih abstrak. Selain itu fleksibilitas sebuah negara kan berkurang
seiring dengan batas-batas yang diterapkan di dalam aliansi tersebut. Yang paling
7
Martin Griffiths, “ Alliance”, dalam International Relations, A Key Concept, 2002, hal. 5
buruk dapat menjerumuskan sebuah negara ke dalam perang yang tidak diinginkan
atau yang tidak berkaitan langsung dengan kepentingannya. Dapat dilihat dari
pengiriman pasukan oleh Inggris ke Iraq dan Afghanistan. Sebenarnya Inggris tidak
memiliki kepentingan untuk ikut dalam agresi terhadap kedua negara tersebut,
namun karena tergabung dalam aliansi dengan Amerika maka Inggris juga harus
menjalankan kewajiban dalam aliansi.

Aliansi juga dapat membahayakan keamanan dunia. Karena sifat negara


dapat berubah menjadi lebih agresif karena dukungan power yang besar dalam
aliansi. Selain itu ancaman juga dapat muncul dari terjadinya counter-alliance dari
musuh yang dapat memicu perang besar yang tidak hanya membhayakan aliansi
namun juga membahayakan keamanan dunia. Contohnya dapat dilihat dari
terjadinya Perang Dingin antara dua blok besar aliansi dunia (Amerika Serikat dan
Uni Soviet). Hal ini menyebabkan keamanan dari anggota aliansi terancam, selain itu
negara-negara yang tidak tersangkut dalam aliansi juga mungkin mendapatkan
dampak dari perseteruan dua blok aliansi tersebut.