Anda di halaman 1dari 118

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

ANALISA FLUIDA RESERVOIR

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM ANALISA FLUIDA RESERVOIR DISUSUN OLEH : Nama : Muhammad Septian Pratama NIM :

DISUSUN OLEH :

Nama

:

Muhammad Septian Pratama

NIM

:

1301331

Kelompok

:

3 ( Tiga )

JURUSAN S1 TEKNIK PERMIYAKAN

KONSENTRASI TEKNIK INDUSTRI SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MINYAK DAN GAS BUMI BALIKPAPAN

2014

i

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN RESMI ANALISA FLUIDA RESERVOIR

Diajukan untuk memenuhi persyaratan praktikum Analisa Fluida Resevoir Tahun Akademik 2014 / 2015 Program Studi S1 Teknik Perminyakan Konsentrsi Teknik Industri Sekolah Tinggi Tekonologi Minyak Dan Gas Bumi Balikpapan

Disusun Oleh,

Nama

:

Muhammad Septian Pratama

NIM

:

1301331

Kelompok

:

3 ( Tiga )

Dengan hasil penilaian :

Dosen Pembimbing Praktikum

( Natal Simatupang, ST. )

ii

Balikpapan, 03 Januari 2015

Asisten Praktikum

( Nabila Mona Oktaviani )

LEMBAR ASISTENSI PRAKTIKUM ANALISA FLUIDA RESERVOIR

NAMA

:

Muhammad Septian Pratama

NIM

:

1301331

JURUSAN

:

S1 Teknik Industri

KELOMPOK

:

3 ( Tiga )

No.

Tanggal

Keterangan

Paraf

1.

     

2.

     

3.

     

4.

     

iii

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, karena rahmat dan hidayah-Nya sehingga pada kesempatan ini saya dapat menyusun laporan praktikum Analisa Fluida Reservoir ini sebagaimana mestinya. Tidak lupa salam serta shalawat kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW beserta sahabatnya, karena tanpa adanya rahmat dan syafaat dari Allah SWT dan Rasul-Nya, kita tidak akan pernah berada di muka bumi ini. Dalam upaya penulisan laporan ini tidak sedikit hambatan yang saya alami, namun kebesaran-Nya dan bantuan atau dorongan dari berbagai pihak sehingga hambatan-hambatan tersebut dapat diatasi. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Natal Simatupang,ST. selaku dosen mata kuliah dan pembimbing praktikum. 2. Saudara Nabila Mona Okataviani sebagai asisten praktikum Analisa Fluida Reservoir 3. Kedua Orang tua saya dan Teman-teman yang telah membantu menyelesaikan laporan ini. Penulis menyadari bahwa laporan yang dibuat ini sangatlah jauh dari kesempurnaan dan banyak kekurangannya, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun agar penulis dapat meningkatkan kualitas penulisan. Akhir kata saya berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi yang memerlukan. Dan semoga kita semua berada didalam lindungan-Nya dan selalu mendapatkan ridho Allah SWT.

Balikpapan, 03 Januari 2015

Muhammad Septian Pratama

iv

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

i

LEMBAR PENGESAHAN

ii

LEMBAR ASISTENSI PRAKTIKUM

iii

KATA PENGANTAR

iv

DAFTAR ISI

v

DAFTAR GAMBAR

x

DAFTAR TABEL

xii

DAFTAR GRAFIK

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

xiv

BAB I

PENDAHULUAN

1

BAB II

PENENTUAN KANDUNGAN AIR DENGAN MENGGUNAKAN DEAN & STARK METHOD

2.1. Tujuan Percobaan

7

2.2. Teori Dasar

7

2.3. Peralatan dan Bahan

10

2.3.1. Peralatan

10

2.3.2. Bahan yang digunakan

10

2.4. Prosedur Percobaan

12

2.5. Hasil Analisan dan Perhitungan

12

2.5.1. Hasil Analisa

12

2.5.2. Perhitungan

12

2.6. Pembahasan

13

2.7. Kesimpulan

16

v

BAB III

PENENTUAN KANDUNGAN AIR DAN ENDAPAN DENGAN (BS & W) DENGAN CENTRIFUGE METHODE

3.1. Tujuan Percobaan

17

3.2. Teori Dasar

 

17

3.3. Peralatan dan Bahan

19

 

3.3.1. Peralatan

19

3.3.2. Bahan yang digunakan

19

3.4. Prosedur Percobaan

21

3.5. Hasil Analisa dan Perhitungan

21

 

3.5.1. Hasil Analisa

21

3.5.2. Perhitungan

22

3.6. Pembahasan

 

24

3.7. Kesimpulan

27

BAB IV PENENTUAN SPESIFIC GRAVITY

4.1.

Tujuan Percobaan

28

4.2.

Teori dasar

28

4.3.

Peralatan dan Bahan

30

4.3.1. Peralatan

30

4.3.2. Bahan yang digunakan

31

4.4.

Prosedur Percobaan

32

4.5

Hasil Analisa dan Perhitungan

32

4.5.1

Hasil Analisa

32

4.5.2.

Perhitungan

34

4.6.

Pembahasan

36

4.7.

Kesimpulan

37

vi

BAB V

PENENTUAN TITIK KABUT, TITIK BEKU, & TITIK TUANG

5.1. Tujuan Percobaan

38

5.2. Teori Dasar

38

5.3. Peralatan dan Bahan

39

5.3.1. Peralatan

39

5.3.2. Bahan yang digunakan

39

5.4. Prosedur Percobaan

41

5.4.1. Titik Kabut dan Titik Beku

41

5.4.2. Titik tuang

42

5.5. Hasil Analisa dan Perhitungan

42

5.5.1. Analisa

42

5.5.2. Perhitungan

42

5.6. Pembahasan

45

5.7. Kesimpulan

48

BAB VI

PENENTUAN TITIK NYALA (FLASH POINT) DAN TITIK BAKAR (FIRE POINT)

6.1. Tujuan Percobaan

49

6.2. Teori Dasar

49

6.3. Peralatan dan Bahan

51

6.3.1. Peralatan

51

6.3.2. Bahan yang digunakan

51

6.4. Prosedur Percobaan

52

6.5. Hasil dan Perhitungan

53

6.5.1. Analisa

53

6.5.2. Perhitungan

53

6.6. Pembahasan

55

6.7. Kesimpulan

58

vii

BAB VII

PENENTUAN VISKOSITAS KINEMATIK SECARA COBA COBA (TENTATIVE METHOD)

7.1. Tujuan Percobaan

59

7.2. Teori Dasar

59

7.3. Peralatan dan Bahan

63

7.3.1. Peralatan

63

7.3.2. Bahan yang digunakan

66

7.4. Prosedur Percobaan

67

7.5. Hasil Analisa dan Perhitungan

69

7.5.1. Hasil Analisa

69

7.5.2. Perhitungan

69

7.6. Pembahasan

71

7.7. Kesimpulan

72

BAB VIII ANALISA KIMIAWI AIR FORMASI

8.1. Tujuan Percobaan

73

8.2. Teori Dasar

73

8.3. Peralatan dan Bahan

79

8.3.1. Peralatan

79

8.3.2. Bahan yang digunakan

79

8.4. Prosedur Percobaan

81

8.4.1. Penentuan pH (elektrolit)

81

8.4.2. Penentuan Alkalinitas

81

8.4.3. Penentuan Kalsium dan Magnesium

82

8.4.4. Penentuan Klorida

84

8.4.5. Penentuan Sodium

84

8.4.6. Grafik Analisa Air

85

8.4.7. Perhitungan Indeks Stabilitas CaCo 3

85

viii

 

8.5. Hasil Analisa dan Perhitungan

88

8.5.1. Hasil Analisa

88

8.5.2. Perhitungan

92

8.6. Pembahasan

95

8.7. Kesimpulan

97

BAB

IX

PEMBAHASAN UMUM

96

BAB X

KESIMPULAN UMUM

100

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1.

Ground Flask joint

11

Gambar 2.2.

Dean & Stark Methode

11

Gambar 2.3.

Electric Oven

11

Gambar 3.1.

Separator

21

Gambar 3.2.

Bak Sedimentation

21

Gambar 3.3.

Centrifuge

21

Gambar 3.4.

Centrifuge Tube 100ml

22

Gambar 3.5.

Transformer

22

Gambar 4.1.

Thermohydrometer

33

Gambar 4.2.

Minyak Solar

33

Gambar 4.3.

Gasoline

33

Gambar 4.4.

Hydrometer & Thermometer

34

Gambar 5.1.

Penutup Dari Gabus

43

Gambar 5.2 Thermometer

43

Gambar 5.3.

Tube Dari Kaca

44

Gambar 5.4.

Es Batu

44

Gambar 6.1.

Alat Uji Cawan Tertutup Abel

54

Gambar 6.2.

Alat Uji Cawan Tertutup Pensky--Martens

54

Gambar 6.3.

Tag Closed Taster

55

Gambar 7.1.

Viskometer

69

Gambar 7.2.

Timer

69

Gambar 7.3.

Cannon Viskometer

69

Gambar 8.1.

Alat yang digunakan titrasi

83

Gambar 8.2.

Gelas ukur

83

Gambar 8.3.

Kertas Lakmus

84

x

Gambar 8.4.

Pipet Tetes

84

Gambar 8.5.

Larutan Buffer

84

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Hasil Perolehan Analisa % Kadar Air Pada Sampel Minyak Dengan

Metode Dean & Stark

14

Tabel 3.1. Sampel analisa umum

23

Tabel 3.2. Sampel analisa kolompok

23

Tabel 3.3. Sampel minyak % BS & W keseluruhan

25

Tabel 4.1. Hasil Analisa

34

Tabel 4.2.

Koreksi o API

35

Tabel 5.1. Hasil Analisa

45

Tabel 5.2. Titik Kabut, Titik Beku dan Titik Tuang dari Data Tiap Kelompok

48

Tabel 6.1. Koreksi Tekanan barometer

56

Tabel 6.2. Hasil Analisa

56

Tabel 6.3. Titik Nyala dan Titik Bakar dari Data Tiap Kelompok

58

Tabel 7.1.

ASTM Kinematic Thermometers

68

Tabel 7.2.

Viskositas Standar

71

Tabel 7.3.

NBS Viscosity Standard

71

Tabel 7.4.

Data Analisa

72

Tabel 8.1. Harga Konsentrasi Komponen

86

Tabel 8.2.

Indeks Stabilitas

89

Tabel 8.3.

Perhitungan Tenaga ion

90

Tabel 8.4.

Harga Faktor K dan Suhu

91

Tabel 8.5. Tabulasi Konsentrasi Ion Kation dan Anion

91

Tabel 8.6. Perhitungan Indeks Stabilitas CaCo 3

92

xii

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1.1.

Grafik Black oil

2

Grafik 1.2.

Grafik Volatile oil

3

Grafik 1.3.

Grafik Retrograde gas

4

Grafik 1.4.

Wet Gas

4

Grafik 1.5.

Dry Gas

5

Grafik 2.1.

Grafik Kelompok Vs %Kadar Air

15

Grafik 2.2.

Grafik Volume Kadar Air yang ditampung Vs % Kadar Air

16

Grafik 3.1.

%BS & W Sampel Minyak I Dari Data Tiap Kelompok

26

Grafik 3.2.

%BS & W Sampel Minyak II Dari Data Tiap Kelompok

27

Grafik 5.1.

Titik Kabut, Titik Beku dan Titik Tuang Dari Data Tiap

Kelompok

49

Grafik 5.2.

Titik Kabut, Titik Beku dan Titik Tuang Dari Data Tiap

Kelompok dan umum

50

Grafik 6.1.

Titik Nyala dan Titik Bakar Dari Data Tiap Kelompok

59

Grafik 7.1.

Viskositas Minyak sebagai Fungsi Tekanan

67

Grafik 7.2.

Perbandingan Antara Shear Rate Dengan Shear Stress

67

Grafik 8.1.

Diagram Stiff-Davis

93

Grafik 8.2.

Penentuan Harga K Pada CaCo 3

94

Grafik 8.3.

Penentuan pAlk dan pCa

95

Grafik 8.4.

Stabilitas Indeks Terhadap Temperature

99

Grafik 8.5.

Ion Keseluruhan ( K ) Terhadap Temperature

100

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

1. Penentuan Kandungan Air dengan Dean & Stark Method

2. Penentuan Kandungan Air dan Endapan (% BS & W) dengan Centrifuge

3. Penentuan Specific Gravity

4. Penentuan Titik Kabut, Titik Beku, dan Titik Tuang

5. Penentuan Titik Nyala dan Titik Bakar dengan Tag Closed Tester

6. Penentuan Viskositas Kinematik Secara Coba Coba (Tentative Method)

7. Analisa Kimiawi Air Formasi

xiv

BAB I PENDAHULUAN

Minyak bumi merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan mahluk hidup, khususnya bagi manusia selain itu minyak bumi juga memberikan pengaruh yang sangat penting bagi perkembangan dunia contohnya didalam kehidupan sehari-hari hampir sebagian besar kita temui produk-produk yang

banyak menggunakan minyak bumi. Minyak mentah merupakan komponen senyawa hidrokarbon yang terbentuk didalam bumi, yang berupa cairan, gas, dan padat, karena tergantung dari komposisi mineralnya serta pengaruh dari tekanan dan temperaturnya. Senyawa hidrokarbon dapat digolongkan menjadi beberapa golongan diantaranya:

1. Golongan Parafin Parafin adalah kelompok senyawa hidrokarbon jenuh berantai lurus (alkana), CnH 2n+2 . Contohnya adalah metana (CH 4 ), etana (C 2 H 6 ), n-butana (C 4 H 10 ), isobutana (2-metil propana, C 4 H 10 ), isopentana (2-metilbutana, C 5 H 12 ), dan isooktana (2,2,4-trimetil pentana, C 8 H 18 ). Jumlah senyawa yang tergolong ke dalam senyawa isoparafin jauh lebih banyak daripada senyawa yang tergolong n-parafin. Tetapi, di dalam minyak bumi mentah, kadar senyawa isoparafin biasanya lebih kecil daripada n-parafin.

2. Golongan Naftan Naftan adalah senyawa hidrokarbon jenuh yang membentuk struktur cincin dengan rumus molekul CnH 2n . Senyawa-senyawa kelompok naftan yang banyak ditemukan adalah senyawa yang struktur cincinnya tersusun dari 5 atau 6 atom karbon. Contohnya adalah siklopentana (C 5 H 10 ), metilsiklopentana (C 6 H 12 ) dan sikloheksana (C 6 H 12 ). Umumnya, di dalam minyak bumi mentah, naftan merupakan kelompok senyawa hidrokarbon yang memiliki kadar terbanyak kedua setelah n-parafin.

1

2

3. Golongan Aromatik Aromatik adalah hidrokarbon-hidrokarbon tak jenuh yang berintikan atom- atom karbon yang membentuk cincin benzen (C 6 H 6 ). Contohnya benzen (C 6 H 6 ), metilbenzen (C 7 H 8 ), dan naftalena (C 10 H 8 ). Minyak bumi dari Sumatera dan Kalimantan umumnya memiliki kadar aromat yang relatif besar.

Fluida adalah suatu zat yang mempunyai kemampuan berubah-ubah secara kontinyu apabila mengalami geseran, atau mempunyai reaksi terhadap tegangan geser sekecil apapun.dalam keadaan diam atau dalam keadaan keseimbangan, fluida tidak mampu menahan gaya geser yang bekerja padanya,dan oleh sebab itu fluida mudah berubah bentuk tanpa pemisahan massa. Dalam industri perminyakan, terdapat 5 jenis fluida reservoir yang memiliki jenis dan karakteristik yang berbeda. 5 jenis fluida reservoir tersebut adalah :

Black Oil Reservoir Pada diagram fasa tersebut dapat dilihat bahwa Temperatur Kritis (Tc) lebih besar daripada Temperatur reservoir (Tr). Pada saat Pr lebih tinggi dari Pb, fluida dalam kondisi tak jenuh (undersaturated) dimana pada kondisi ini minyak dapat mengandung banyak gas. Ketika tekanan reservoir (Pr) turun dan dibawah tekanan gelembung (Pb) maka fluida akan melepaskan gas yang dikandungnya dalam reservoir hanya saja pada separator jumlah cairan yang dihasilkan masih lebih besar.

Grafik 1.1. Black Oil

dalam reservoir hanya saja pada separator jumlah cairan yang dihasilkan masih lebih besar. Grafik 1.1. Black

3

Volatile Oil Reservoir Terdiri dari rantai hidrokarbon ringan dan intermediate sehingga mudah menguap. Temperatur kritis (Tc) lebih kecil daripada black oil bahkan hampir sama dengan Temperatur reservoirnya (Tr). Rentang harga temperatur cakupannya lebih kecil dibandingkan black oil. Penurunan sedikit tekanan selama masa produksi akan mengakibatkan pelepasan gas cukup besar di reservoir. Jumlah liquid yang dihasilkan pada separator lebih sedikit dibandingkan black oil.

Grafik 1.2. Volatile Oil

sedikit dibandingkan black oil. Grafik 1.2. Volatile Oil  Retrograde Gas Reservoir Pada kondisi awal reservoir

Retrograde Gas Reservoir Pada kondisi awal reservoir fluida berbentuk fasa gas, dengan seiring penurunan tekanan reservoir maka gas akan mengalami pengembunan dan terbentuklah cairan direservoir. Diagram fasa dari retrograde gas memiliki temperatur kritik lebih kecil dari temperatur reservoir dan cricondentherm lebih besar daripada temperatur reservoir. Cairan yang diproduksi inilah yang disebut dengan gas kondensat.

4

Grafik 1.3. Retrograde Gas

4 Grafik 1.3. Retrograde Gas  Wet Gas Reservoir / Gas Basah Wet gas terjadi semata-mata

Wet Gas Reservoir / Gas Basah Wet gas terjadi semata-mata sebagai gas di dalam reservoir sepanjang penurunan tekanan reservoir. Jalur tekanan, garis 1-2, tidak masuk ke dalam lengkungan fasa .Maka dari itu, tidak ada cairan yang terbentuk di dalam reservoir. Walaupun demikian, kondisi separator berada pada lengkungan fasa, yang mengakibatkan sejumlah cairan terjadi di permukaan (disebut kondensat). Kata “wet” (basah) pada wet gas (gas basah) bukan berarti gas tersebut basah oleh air, tetapi mengacu pada cairan hidrokarbon yang terkondensasi pada kondisi permukaan.

Grafik 1.4. Wet Gas

basah oleh air, tetapi mengacu pada cairan hidrokarbon yang terkondensasi pada kondisi permukaan. Grafik 1.4. Wet

5

Dry Gas Reservoir / Gas Kering Dry gas terutama merupakan metana dengan sejumlah intermediates. Pada diagram fasa menunjukkan bahwa campuran hidrokarbon semata-mata berupa gas di reservoir dan kondisi separator permukaan yang normal berada di luar lengkungan fasa. Maka dari itu, tidak terbentuk cairan di permukaan. Reservoir dry gasbiasanya disebut reservoir gas.

Grafik 1.5. Dray Gas

dry gasbiasanya disebut reservoir gas. Grafik 1.5. Dray Gas Dengan teknik analisa dan perhitungan yang baik

Dengan teknik analisa dan perhitungan yang baik pada proses pengolahan minyak akan didapatkan hasil yang baik pula. Hasil analisa crude oil juga sangat dipengaruhi oleh cara atau metoda pengambilan sample fluida, karena fluida yang dihasilkan oleh sumur produksi dapat berupa gas, minyak, dan air. Adapun metoda pengambilan sample tersebut ada dua cara, yaitu :

1. Bottom hole sampling; Contoh fluida diambil dari dasar lubang sumur, hal ini bertujuan agar didapat sample yang lebih mendekati kondisi di reservoir.

2. Surface sampling (sampling yang dilakukan dipermukaan); Cara ini biasanya dilakukan pada well head atau pada separator.

Agar dihasilkan suatu produk reservoir yang sesuai dengan yang kita harapkan, maka pada fluida tersebut perlu dilakukan beberapa analisa atau pengukuran terhadap air, endapan, berat jenis, titik kabut, titik beku, titik tuang, flash point, fire point, viscositas, tekanan uap, dan analisa terhadap air formasi.

6

Pemisahan zat padat, cair, dan gas dari minyak mutlak dilakukan sebelum minyak mencapai refinery, karena dengan memisahkan minyak dari zat-zat tersebut di lapangan akan dapat dihindari biaya-biaya yang seharusnya tidak perlu. Dari sini juga dapat diketahui perbandingan-perbandingan minyak dan air (WOR), minyak dan gas (GOR), serta persentase padatan yang terkandung dalam minyak. Oleh karena itu, dalam memproduksi minyak, analisa fluida reservoir sangat penting dilakukan guna menghindari hambatan-hambatan dalam operasinya. Hal itu juga dapat membantu dalam pencapaian produktifitas secara maksimum dengan baik. Study dari analisa fluida reservoir ini sangat bermanfaat untuk mengevaluasi atau merancang peralatan produksi yang sesuai dengan keadaan di suatu reservoir, meningkatkan efisiensi, serta guna menunjang kelancaran proses produksi. Praktikum yang dilakukan di laboratorium Analisa Fluida Reservoir

mempunyai tujuan yaitu memahami sifat sifat fisik dan sifat kimia dari reservoir terutama minyak mentah dan air formasi. Dalam praktikum ada beberapa hal yang kami pelajari :

1.

Penentuan Kandungan Air dengan Dean & Stark Method

2.

Penentuan Kandungan Air dan Endapan (%BS & W) dengan Centrifuge Method

3.

Penentuan Specific Gravity

4.

Penentuan Titik Kabut, Titik Beku, dan Titik Tuang

5.

Penentuan Titik dan Titik Bakar dengan Tag Closed Tester

6.

Penentuan Viskositas Kinematik Secara Coba Coba (Tentative Method)

7.

Analisa Kimiawi Air Formasi

BAB II PENENTUAN KANDUNGAN AIR DENGAN DEAN & STARK METHODE

2.1. Tujuan Percobaan

1. Mengetahui jenis-jenis air formasi yang terkandung dalam minyak.

2. Mengetahui akibat dari adanya kandungan air dalam minyak pada pipa

produksi.

3. Mengetahui syarat-syarat terjadinya emulsi.

4. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan emulsi.

5. Mengetahui sifat-sifat emulsi.

2.2. Teori Dasar Minyak mentah yang kita produksi secara langsung dari dalam perut bumi pada kenyataannya bukan minyak murni melainkan masih mengandung gas maupun air, hal ini nantinya akan mempengaruhi perhitungan jumlah minyak yang akan diproduksi, karena dalam suatu reservoir khususnya minyak, akan selalu didapatkan kandungan air. Sifat-sifat air reservoir ini mempunyai kemampuan untuk melarutkan hidrokarbon, komposisi, faktor volume formasi, dan karakteristik viscositas pada suhu dan tekanan formasi. Pemisahan antara minyak dan air yang terkandung di dalamnya disebut “ Dehidrasi Minyak Bumi “. Dehidrasi ini dilakukan baik pada penghilangan maupun transportasi minyak karena air yang terkandung dalam minyak dapat menyebabkan korosi pada pipa pipa minyak tempat penimbunan minyak, dan lain sebagainya. Dehidrasi ini merupakan persoalan kimia maupun fisika yang diperlukan untuk mendapatkan pemisahan yang seefisien mungkin. Air dan pengotor endapan dalam minyak mentah dapat turut terproduksi kepermukaan karena minyak, gas maupun air tidak dapat secara langsung memisahkan diri pada waktu berada dalam suatu sistem jebakan. Akibatnya minyak pun teproduksi kepermukaan dengan memanfaatkan tenaga

7

8

pendorong yang terdapat dalam jebakan itu sendiri. Dalam hal ini kita kenal dengan istilah water drive mekanis atau pendesak air yang terutama terjadi pada sumur-sumur produksi dengan tenaga pendorong alamiah. Air sebagai suatu fasa yang sering berada bersama-sama dengan minyak dan/atau gas dalam suatu reservoir yang mengandung hidrokarbon tersebut seringkali merupakan suatu fasa kontinu dalam suatu formasi sedimen yang berdekatan dengan reservoir tersebut. Perubahan tekanan dalam reservoir minyak sebagai akibat dan pada produksi minyak melalui sumur akan diteruskan kedalam aquifer. Terbentuknya gradient tekanan ini akan mengakibatkan air mengalir ke dalam lapisan minyak (merembes) bila permeabilitas disekitarnya memungkinkan. Secara umum dapat dikatakan bahwa aquifer merupakan suatu tenaga yang membantu dalam hal pendorongan minyak. Dilihat dari sudut gerakan air dari aquifer kedalam lapisan minyak, maka aquifer dapat dibedakan atas 3 macam :

1. Gerakan air dari bawah (bottom water drive).

2. Gerakan air dari samping (edge water drive).

3. Gerakan air dari bawah dan dari samping (bottom & edge water drive).

Kadar air yang terdapat dalam minyak metah dapat diketahui dengan suatu teknik pengujian dengan Dean & Stark methode. Caranya menggunakan prinsip destilasi yaitu dengan mengkondesasikan minyak yang dipanasi maka akan tertampung cairan uap air dan minyak. Air formasi yang terkandung dalam minyak ada dua macam, yaitu:

1. Air bebas, merupakan air yang terbebaskan dari minyaknya.

2. Air emulsi, air yang melayanglayang di dalam minyak dan diperlukan cara cara khusus untuk memisahkannya.

Dalam lapangan minyak, air bebas lebih mudah untuk dibebaskan (dipisahkan) dari minyaknya dibandingkan dengan air emulsi. Pemisahan air bebas dari minyaknya dapat dilakukan dengan mendiamkan atau settling

9

dalam suatu tempat, dicampur gasoline, bisulfide, atau dipanaskan. Tetapi untuk air emulsi, pemisahannya memerlukan cara cara khusus.

Terjadinya emulsi ini memerlukan tiga syarat, yaitu :

1. Adanya dua zat cair yang tidak saling campur.

2. Adanya zat yang menyebabkan terjadinya emulsi (Emulsifying Agent).

3. Adanya agitasi.

Sifat-sifat Emulsi antara lain :

1. Umumnya kadar air emulsi cukup tinggi. Hal ini disebabkan penguapan sejumlah air, gas alam sebelum terjadi emulsifikasi pada residu airnya. Kadar garam yang besar pada fasa cair berpengaruh besar pada gaya permukaan pada gaya permukaan antara cairan minyak dan air. Di antara zat zat tersebut dengan emulsion flying agentnya yang terkonsentrasi antara dua fasa yang bersangkutan.

2. Pengemulsian juga dipengaruhi oleh sifat sifat minyak. Semakin besar viscositasnya, residu karbon, dan tegangan permukaan minyak semakin terbentuk emulsi.

3. Semakin lama emulsi terbentuk semakin ketat atau semakin susah untuk dipisahkan.

Untuk mencegah terjadinya emulsifikasi, dapat dilakukan dengan cara :

1. Memperkecil tingkat agitasi, contohnya dengan menggunakan anker pada sumur -sumur pompa, mengurangi kecepatan pompa, spasi plunger ( mengurangi slopage ), dan pompa dianjurkan untuk tenggelam.

2. Penggunaan zat anti emulsifikasi.

3. Pemisahan air sebelum terjadinya emulsifikasi.

Pemisahan minyak terhadap air mutlak dilakukan untuk menghindari kerugian antara lain :

10

1. Pipe line akan berkurang kapasitasnya karena harus mentransport minyak dengan air.

2. Air bisa menyebabkan korosi pada peralatan pengeboran.

2.3. Peralatan Dan Bahan

2.3.1. Peralatan

1. Condenser

2. Receiver

3. Ground Flask Joint

4. Electrical Oven

2.3.2. Bahan

1. Sample minyak mentah 50 ml

2. Solvent 50 ml

3. Air sirkulasi

Bahan 1. Sample minyak mentah 50 ml 2. Solvent 50 ml 3. Air sirkulasi Gambar 2.1

Gambar 2.1 Peralatan Dean & Stark Methode

11

11 Gambar 2.2 Ground Flask Joint Gambar 2.3 Electric Oven Gambar 2.4 Minyak Mentah

Gambar 2.2 Ground Flask Joint

11 Gambar 2.2 Ground Flask Joint Gambar 2.3 Electric Oven Gambar 2.4 Minyak Mentah

Gambar 2.3 Electric Oven

11 Gambar 2.2 Ground Flask Joint Gambar 2.3 Electric Oven Gambar 2.4 Minyak Mentah

Gambar 2.4 Minyak Mentah

12

2.4. Prosedur Percobaan

1. Sirkulasikan air dalam peralatan.

2. Alat harus dalam keadaan bersih dan siap pakai.

3. Ambil sample (minyak ringan/berat) sebanyak 50 ml.

4. Tambahkan ke dalamnya solvent (bensin/kerosine) 50 ml

5. Masukkan campuran tersebut ke dalam plask.

6. Hubungkan electrical oven dengan arus listrik, dan setelah beberapa jam pastikan telah terjadi kondensasi.

7. Amati proses kondensasi dengan adanya air yang terdapat pada water trap.

8. Jika pada water trap sudah tidak ada penambahan air lagi, laporkan % air dengan Dean and Stark Methode.

9. Kandungan air (%) = (volume air / volume sample) x 100%

2.5. Hasil Analisa Dan Perhitungan

2.5.1. Analisa Data Umum Volume sampel ( crude oil ) =

36

ml

Volume Solvent ( kerosin )

=

36

ml

Volume air yang tertampung =

0.35 ml

Data Kelompok Volume sampel ( crude oil ) =

44

ml

Volume Solvent ( kerosin )

=

44

ml

Volume air yang tertampung =

0.29 ml

2.5.2. Perhitungan

% = 100%
%
=
100%

13

Perhitungan Data Umum

% = 100% 0,35 = 100% 36 = . % Perhitungan Data Kelompok % =
%
=
100%
0,35
=
100%
36
=
.
%
Perhitungan Data Kelompok
%
=
100%
0,29
=
100%
46
=
.
%

Tabel 2.1 Hasil Perolehan Analisa % Kadar Air Pada Sampel Minyak Dengan Metode Dean & Stark

2.6.

Pembahasan

Kelompok

% Kadar Air

 

1 0.79

 

2 0.906

 

3 0.956

 

4 1.006

 

5 1.069

 

6 0.962

Crude Oil yang dihasilkan dari dalam sumur pemboran tidak semua

mengandung minyak, tetapi juga mengandung campuran air dan gas.

Sebelum proses pemanasan, sample minyak yang akan digunakan terlebih

dahulu dicampur dengan solvent (pelarut) yang pada percobaan ini

menggunakan kerosin, karena mempercepat proses penguapan, disamping itu

juga mengunakan kerikil yang ditaruh didalam ground flask joint supaya

mengimbangi tekanan uap agar tidak terjadi ledakan. Jumlah air yang terdapat

dalam water trap merupakan fungsi waktu dari hasil destilasi, karena semakin

lama waktu yang digunakan maka air yang didapat semakin bannyak

tergantung atas kondisi air didalam minyak, karena berhubungan dengan

14

persen kandungan air. Dengan mengetahui % kandungan air ini nantinya dapat diketahui minyak (crude oil) yang memiliki kualitas yang baik, yang nantinya dapat diperoleh gambaran mengenai keadaann minyak mentah dan jumlahnya yang memungkinkan untuk diproduksikan. Percobaan dengan metode ini kurang efektif karena penguapan minyak yang mengakibatkan berkurangnya grafity minyak yang bersangkutan. Kehilangan grafity ini adalah karena penguapan fraksi-fraksi dari minyak. Pengurangan penguapan dapat dilakukan dengan memanaskan minyak dalam ruang yang tertutup rapat. Penggunaan solvent berupa kerosin bertujuan untuk mempercepat proses pemisahan air dari minyak serta proses pemanasannya. Dari analisa dan perhitungan di atas, kemudian diplotkan menjadi suatu grafik, dimana terdapat dua grafik. Grafik pertama (Grafik 2.1) merupakan hubungan antara % kadar air yang terkandung terhadap volume air tertampung dari masing-masing kelompok, sedangkan pada grafik kedua (Grafik 2.2) merupakan grafik dari hasil % kadar air yang telah dilakukan perhitungan oleh masing-masing kelompok.

Grafik 2.1. % Kadar Air Terhadap Volume Air Tertampung

Grafik Volume Air Yang Tertampung Vs % Kadar Air 1.2 1 0.972 0.8 0.696 0.642
Grafik Volume Air Yang Tertampung Vs %
Kadar Air
1.2
1
0.972
0.8
0.696
0.642
0.708
0.6
0.61
0.659
0.4
% Kadar Air
0.2
0
0
0.1
0.2
0.3
0.4
Volume Air Yang Tertampung
% Kadar Air

Dari grafik di atas dapat kita lihat, semakin besar volume air tertampungnya, maka semakin besar juga % kadar airnya. Dapat kita lihat

15

pada grafik di atas, pada volume air tertampung sebesar 0.35 ml, didapat % kadar air sebesar 0.72 %,dan pada volume air tertampung sebesar 0.38, didapat % kadar air sebesar 0.84. Hal ini menunjukkan bahwa sampel merupakan sampel minyak (crude oil) dengan kualitas yang baik, karena memiliki kandungan air di bawah 1 %, sehingga minyak tersebut bisa diproduksikan dengan lancar, karena air yang terkandung di dalamnya hanya sedikit.

Grafik 2.2. % Kadar Air Dari Data Tiap Kelompok

Hubungan Grafik Kelompok Vs % Kadar Air 1.2 1 0.8 0.972 0.6 0.642 0.659 0.696
Hubungan Grafik Kelompok Vs %
Kadar Air
1.2
1
0.8
0.972
0.6
0.642 0.659 0.696 0.708
0.61
0.4
% Kadar Air
0.2
0
0
2
4
6
8
Kelompok
% Kadar Air

Bila kita perhatikan pada grafik di atas (grafik 2.2) tidak sama bentuk grafiknya seperti pada grafik sebelumnya (Grafik 2.1). Jika pada grafik 2.1 arah grafiknya semakin lama semakin naik, seiring dengan pertambahan volume air tertampungnya sedangkan, pada grafik 2.2 grafiknya naik kemudian terus turun. Hal ini disebabkan karena volume air tertampung antara kelompok yang satu dengan yang lain itu berbeda-beda, dimana pada

16

kelompok 1 (satu) dan 2 (dua) memiliki volume air tertampung (0,5 ml) yang paling besar di antara data-data kelompok lain (bisa dilihat pada tabel 2.1 di atas) sehingga % kadar airnya pun juga besar. Besar % kadar air berbanding lurus terhadap volume air tertampung. Semakin besar volume air tertampung, maka semakin besar juga nilai % kadar air-nya.

2.7.

Kesimpulan

1. Jenis-jenis air formasi yang terkandung dalam minyak adalah air bebas

dan air emulsi.

2. Jika di dalam minyak kandungan airnya bayak mengandung asam maka menyebabkan korosi pada pipa, dan jika bersifat basa maka akan menimbulkan scale.

3. Syarat-syarat terjadinya emulsi adalah adanya 2 zat acir yang tidak saling bercampur, adanya emulsifying agent, dan agitasi (pengadukan).

4. Faktor yag mempengaruhin kestabilan emulsi antara lain emulsying agent, viscositas, spesificgrafity dan persentase air.

5. Sifat-sifat emulsi antara lain semakin lama emulsi terbentuk semakin sulit untuk dipisahkan .

.

BAB III PENENTUAN KANDUNGAN AIR DAN ENDAPAN (BS & W) DENGAN CENTRIFUGE METHODE

3.1. Tujuan Percobaan

1. Mengetahui cara memisahkan endapan di lapangan.

2. Mengetahui cara memisahkan endapan di laboratorium.

3. Mengetahui pengertin scale.

4. Mengetahui berat jenis minyak dan berat jenis minyak.

5. Mengetahui alat dan bahan yang digunakan di dalam percobaan.

3.2. Dasar Teori Minyak yang kita produksi ke permukaan sering kali tercampur dengan

sedimen-sedimen yang dapat mempengaruhi proses/laju produksi, untuk itu endapan tersebut harus dipisahkan dengan cara:

1. Di Laboratorium Dengan menggunakan metode centrifuge yaitu dengan menggunakan gaya centrifugal sehingga air, minyak dan endapan dapat terpisahkan.

2. Di Lapangan Jika pemboran dilakukan di daratan maka dibuatkan kolam-kolam pengendapan, sedangkan jika pemboran di lepas pantai maka disamping dilakukan diseparator juga dilakukan pemisahan dengan zat-zat kimia tertentu.

Sedimen-sedimen yang ikut terbawa bersama air biasa dikenal dengan istilah scale (endapan). Scale merupakan endapan kristal yang menempel pada matrik batuan maupun pada dinding-dinding pipa dan peralatan dipermukaan, seperti halnya endapan yang sering kita jumpai pada panci ataupun ketel untuk memasak air. Adanya endapan scale akan berpengaruh terhadap penurunan laju produksi.

17

18

Terbentuknya endapan scale pada lapangan minyak berkaitan erat dengan air formasi, dimana scale mulai terbentuk setelah air formasi ikut terproduksi ke permukaan. Selain itu jenis scale yang terbentuk juga tergantung dari komposisi komponen-komponen penyusun air formasi. Mekanisme terbentuknya kristal-kristal pembentuk scale berhubungan dengan kelarutan masing-masing komponen dalam air formasi. Sedangkan kecepatan pembentukan scale dipengaruhi oleh kondisi sistem formasi, terutama tekanan dan temperatur. Perubahan kondisi sistem juga akan berpengaruh terhadap kelarutan komponen. Dalam pembahasan ini lebih dominan pada uji coba suatu sampel minyak, untuk memisahkan kandungan terikut-sertakan. Dalam hal ini, yang dimaksud kandungan tersebut adalah air dan sedimen. Untuk pengujiannya, dengan menggunakan metode Centrifuge, dimana prinsip dasarnya adalah memanfaatkan suatu gaya putar (gaya centrifugal). Suatu suspensi atau campuran yang berada pada suatu tabung (baik itu tabung besar atau pun tabung kecil) apabila diputar dengan kecepatan tertentu, dengan gaya centrifugal dan berat jenis yang berbeda akan saling pisah, dimana zat dengan berat jenis yang lebih besar akan berada di bawah dan zat dengan berat jenis rendah berada di atas. Sebagai contoh minyak dengan air. Minyak mempunyai berat jenis (ρ) sebesar 0,8 gr/cc sedangkan air mempunyai berat jenis (ρ) sebesar 1 gr/cc sehingga minyak akan berada di atas air. Persentase kandungan air dan endapan yang di dapat dari hasil pengujian di laboratorium, dapat dijadikan sebagai acuan terhadap kualitas dari minyak yang nantinya akan diproduksi, serta dapat dilakukan antisipasi dini terhadap adanya endapan tersebut. Suatu suspensi atau campuran yang berada pada suatu tempat (tabung) apabila diputar dengan kecepatan tertentu, dengan gaya centrifugal dan berat jenis yang berbeda akan saling pisah, dimana zat dengan berat jenis yang

19

lebih besar akan berada di bawah dan zat dengan berat jenis rendah berada di atas. Metode Centrifuge ini mempunyai kelebihan antara lain :

1. Waktu yang diperlukan untuk memisahkan air dan minyak serta endapan lain lebih singkat daripada Dean & Stark Method.

2. Pemindahan alat yang sangat mudah dilakukan.

3. Pengujian dan peralatannya pun lebih mudah dari pada menggunakan Dean & Stark Method.

3.3. Peralatan Dan Bahan

3.3.1. Peralatan

1. Centrifuge

2. Centrifuge tube 100 ml

3. Transformer

3.3.2. Bahan

1. Sampel minyak

2. Air

3. Toluene / bensin

tube 100 ml 3. Transformer 3.3.2. Bahan 1. Sampel minyak 2. Air 3. Toluene / bensin

Gambar 3.1. Centrifuge Tube 100 ml

20

20 Gambar 3.2. Centrifuge Gambar 3.3. Transformer Gambar 3.4 Kerosin

Gambar 3.2. Centrifuge

20 Gambar 3.2. Centrifuge Gambar 3.3. Transformer Gambar 3.4 Kerosin

Gambar 3.3. Transformer

20 Gambar 3.2. Centrifuge Gambar 3.3. Transformer Gambar 3.4 Kerosin

Gambar 3.4 Kerosin

21

3.4. Prosedur Percobaan

21 3.4. Prosedur Percobaan Gambar 3.5 Minyak Mentah 1. Disiapkan sampel minyak sebanyak 100 ml (2%)

Gambar 3.5 Minyak Mentah

1. Disiapkan sampel minyak sebanyak 100 ml (2%) dan memasukkannya ke dalam centrifuge tube dalam posisi berpasangan

2. Dimasukkan centrifuge tube ke dalam centrifuge dan menghubungkan nya dengan transformer.

3. Diatur timer dalam 10 menit.

4. Diatur regulator dalam posisi 8 dan baca rpm.

5. Setelah timer berhenti, menunggu beberapa menit sehingga putaran berhenti.

6. Diambil centrifuge dan laporkan BS & W dalam prosen.

3.5. Hasil Analisa Dan Perhitungan 3.5.1. Analisa Data Umum Volume sample Lama pemutaran Rpm yang digunakan :

:

:

3.5. Hasil Analisa Dan Perhitungan 3.5.1. Analisa Data Umum Volume sample Lama pemutaran Rpm yang digunakan

80

10

1625

ml

menit

rpm

22

Tabel 3.1. Sampel Analisa Umum

Parameter analisa

Sample I

Sample II

Volume air (ml)

0.7

0,086

Volume padatan (ml)

0.07

0

Data Kelompok

Volume sample

:

80

ml

Lama pemutaran

:

10

menit

Rpm yang digunakan

:

1625

rpm

Tabel 3.2 Sampel Analisa Kelompok

Parameter analisa

Sample I

Sample II

Volume air (ml)

0.68

0,0083

Volume padatan (ml)

0.085

0

3.5.2.

Perhitungan

% & 100%
%
&
100%

Perhitungan Data Umum

Sample Minyak I :

%

&% & 100% Perhitungan Data Umum Sample Minyak I : % 0.7 0.07 100% 8 0

& 100% Perhitungan Data Umum Sample Minyak I : % & 0.7 0.07 100% 8 0
0.7 0.07 100%
0.7 0.07
100%

80

.
.

%

Sample Minyak II :

%

&% & 100% Perhitungan Data Umum Sample Minyak I : % & 0.7 0.07 100% 8

& 100% Perhitungan Data Umum Sample Minyak I : % & 0.7 0.07 100% 8 0

100%% & 100% Perhitungan Data Umum Sample Minyak I : % & 0.7 0.07 100% 8

100%% & 100% Perhitungan Data Umum Sample Minyak I : % & 0.7 0.07 100% 8

23

23 8 0 0,86 0 100% % . Perhitungan Data Kelompok Sample Minyak I : %
23 8 0 0,86 0 100% % . Perhitungan Data Kelompok Sample Minyak I : %

80

0,86 0

100%

23 8 0 0,86 0 100% % . Perhitungan Data Kelompok Sample Minyak I : %

%

. Perhitungan Data Kelompok Sample Minyak I :

%

&100% % . Perhitungan Data Kelompok Sample Minyak I : % 0.68 0.085 100% 8 0

. Perhitungan Data Kelompok Sample Minyak I : % & 0.68 0.085 100% 8 0 .
0.68 0.085 100%
0.68 0.085
100%

80

.
.

%

Sample Minyak II :

%

&I : % & 0.68 0.085 100% 8 0 . % Sample Minyak II : %

% & 0.68 0.085 100% 8 0 . % Sample Minyak II : % & 0.0083
0.0083 0 100%
0.0083 0
100%

80

.
.

%

100%8 0 . % Sample Minyak II : % & 0.0083 0 100% 8 0 .

100%. % Sample Minyak II : % & 0.0083 0 100% 8 0 . % 100%

Tabel 3.3 Sample Minyak % BS & W Keseluruhan

Kelompok

 

Sample Minyak I

Sample Minyak II

 

Volume

Volume

% BS &

Volume

Volume

% BS &

Air (ml)

Padatan (ml)

W

Air (ml)

Padatan (ml)

W

 

1 0,5

0,03

0,794

0,005

0

0,008

 

2 0,5

0,03

0,906

0,005

0

0,008

 

3 0,68

0,085

0.956

0,0083

0

0,104

 

4 0,8

0,04

1.006

0,007

0

0,011

 

5 0,9

0,02

1.069

0,006

0

0,011

 

6 0,9

0,02

0.962

0,006

0

0,0175

24

3.6.

Pembahasan Dari percobaan kita dapat mengetahui bahwa kandungan air dalam

sample minyak dalam suatu sumur ternyata dapat berbeda. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi BS & W, antara lain :

1. Penyebaran air yang tidak merata dalam batuan reservoir

2. Kondisi dari formasi (kompak atau tidak kompak)

Selain mengandung air, crude oil juga mengandung padatan yang berupa pasir dan butiran-butiran yang berasal dari reservoir. Padatan akan masuk ke lubang bor dan akan ikut naik ke permukaan. Sama seperti air, padatan juga mempengaruhi mutu minyak yang diproduksi. Percobaan dengan Centrifuge Method menghitung kandungan air dan endapan. Pada dasarnya metode yang dipakai pada percobaan ini adalah metode perputaran yang mengakibatkan gaya centrifugal. Pada waktu perputaran akan bekerja gaya centrifugal yang menyebabkan molekul - molekul fluida terlempar menjauhi titik pusat perputarannya. Selain itu, karena adanya gaya gravitasi maka molekul-molekul fluida akan diendapkan menurut berat jenisnya masing - masing. Bila kita plotkan data-data perhitungan base sediment & water (% BS & W) untuk sampel minyak I dan sampel minyak II, baik data umum (pada tabel 3.1. di atas) atau pun data kelompok (pada tabel 3.2. dan tabel 3.3. di atas) ke dalam suatu grafik, menjadi sebagai berikut :

25

Grafik 3.1. % BS & W Sampel Minyak I Dari Data Tiap Kelompok

Grafik % BS & W Untuk Setiap Kelompok Sampel Minyak I 1.2 1 0.8 0.906
Grafik % BS & W Untuk Setiap Kelompok
Sampel Minyak I
1.2
1
0.8
0.906 0.956 1.006 1.069 0.9625
0.794
0.6
0.4
% BS & W
0.2
0
0
2
4
6
8
Kelompok
% BS & W

Dari grafik di atas (grafik 3.1), arah grafiknya meningkat, hal ini disebabkan karena masing-masing kelompok volume air dan volume padatannya berbeda. Dimana pada sampel minyak I, kelompok V dan VI mempunyai nilai base sediment & water (% BS & W) yang paling besar di antara kelompok-kelompok yang lain.

Grafik 3.2. % BS & W Sampel Minyak II Dari Data Tiap Kelompok

Grafik % BS & W Untuk Setiap Kelompok Sampel Minyak II 0.12 0.104 0.1 0.08
Grafik % BS & W Untuk Setiap Kelompok
Sampel Minyak II
0.12
0.104
0.1
0.08
0.06
% BS & W
0.04
0.02
0.011 0.011
0.008 0.008
0.0175
0
0
2
6
8
Kelompok 4
% BS & W

26

Sedangkan untuk sampel minyak II yang diplot pada grafik selanjutnya (pada grafik 3.2. di atas), arah grafiknya terlihat menurun kemudian naik kemudian menurun lagi. Kalau dalam istilah fisika, kenampakan grafik tersebut seperti sebuah panjang gelombang (λ), dimana terbentuk satu lembah dan satu gunung. Jika kita perhatikan grafik 3.2. di atas, nilai base sediment & water (% BS & W) untuk sampel minyak II lebih kecil dibandingkan nilai base sediment & water (% BS & W) untuk sampel minyak I. Hal ini dikarenakan, masing-masing kelompok mendapatkan data volume air dan volume padatannya yang jauh lebih kecil dari dari data untuk sampel minyak I begitu juga dengan volume sampelnya yang berbeda. Besar % BS & W (base sediment & water) juga mempengaruhi kualitas dari minyak yang nantinya akan kita produksi. Bila kita perhatikan, sampel minyak II memiliki kualitas yang lebih baik dari pada sampel minyak I karena nilai % BS & W (base sediment & water) pada sampel minyak II lebih kecil dari pada nilai % BS & W (base sediment & water) pada sampel minyak I. Maka dari itu, sample minyak II termasuk minyak dengan kualitas yang baik, karena nilai % BS & W-nya ( base sediment & water ) kurang dari 1 %. Dalam dunia perminyakan, kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui seberapa baik kualitas minyak dan juga dapat digunakan sebagai data dalam menanggulangi problem kepasiran yang dapat mengakibatkan korosi maupun penyumbatan pada alat-alat produksi. Sehingga secara sekilas dapat diasumsikan bahwa kegiatan ini memiliki tujuan dengan percobaan pertama. Namun pada kenyataannya keduanya pun memiliki keunggulan maupun kekurangan. Keunggulan dan kekurangan yang dimiliki percobaan ini ( dengan centrifigue method) adalah sebagai berikut :

1. Dapat memisahkan antar air,minyak dan endapant sediment sekaligus dalam satu wadah adalahkeunggulan yang dimiliki pada percobaan ini.

27

Keunggulan dan kekurangan yang dimiliki pada percobaan pertama ( Dean

& Stark Methode ) adalah sebagai berikut :

1.

Waktu yang diperlukan untuk pemisahan campuran cukup singgkat.

2.

Perbedaan batas antar minyak dan air terlihat dengan jelas.

3.

Pemisahan hanya dilakukan untuk zat-zat yang tergolong memiliki sifat liquid.

3.7.

Kesimpulan

1. Cara memisahkan endapan dilapangan dengan membuat kolam

pengendapan.

2. Cara memisahaakan endapan dilaboratorium dengan metode

centrifuge.

3. Scale adalah endapan kristal yang menempel pada martik batuan

maupun dinding pipa.

yang menempel pada martik batuan maupun dinding pipa. 4. Berat jenis minyak adalah 0,8 dan berat

4. Berat jenis minyak adalah 0,8 dan berat jenis air adalah 1

.
.

5. Alat yang digunakan adalah centrifuge, centrifuge tube 100 ml dan

transformer. Bahan yang digunakan adalah sampel minyak mentah

dan kerosin.

BAB IV PENENTUAN SPESIFIC GRAVITY

4.1. Tujuan Percobaan

1. Mengetahui pengertian Specific Gravity cairan hidrokarbon.

2. Mengetahui API sebagai berat jenis minyak.

3. Mengetahui rumus SG gas.

4. Mengetahui rumus SG oil

5. Mengetahui alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan

4.2. Dasar Teori Specific grafity cairan hidrokarbon ( minyak ) didefinisikan sebagai perbandingan antara densitas minyak dengan densitas air yang diukur pada tekanan dan temperatur yang sama atau dapat ditulis :

 oil SG =  water
 oil
SG =
 water

Biasanya specific grafity digunakan dalam pembicaraan tentang sifat

fisik cairan yaitu specific grafity pada temperatur 60 F dan tekanan

atmosfer pada 14,7 psia. Hubungan SG minyak dan derajat API dinyatakan:

141,5 API 131,5 SG Oil
141,5
API
131,5
SG Oil

Harga API untuk berat jenis minyak antara lain :

Minyak berat

=

10

-

20

API

Minyak sedang

=

20

-

30

API

Minyak ringan

=

> 30

API

28

29

Sedangkan untuk specific gravity gas atau campuran gas adalah perbandingan antara densitas gas atau campuran gas dengan udara, pada kondisi tekanan dan temperature yang sama. Specific grafity gas dengan rumus :

2 t 1 Sg 2 t 2
2
t
1
Sg
2
t
2

Dimana :

Sg

Waktu yang diperlukan sample gas dari batas bawah sampai batas atas, detik. t 2 = Waktu yang diperlukan udara dari batas bawah sampai dengan

t 1

=

=

Spesifik correction gravity gas atau campuran gas

batas atas, detik.

API minyak bumi mmenunjukkan kualitas minyak, makin kecil berat

jenisnya makin tinggi API nya. Minyak tersebut makin berhharga karena

lebih banyak mengandung bensin. Sebaliknya makin rendah API nya, semakin besar berat jenisnya, maka mutu atau kualitas minyak bumi tersebut kurang, karena lebih banyak mengandung residu atau lilin. Dewasa ini dari minyak berat pun dapat dibuat bensin lebih banyak dengan sistem cracking dalam penyulingan, tetapi memerlukan biaya yang lebih tinggi. Selain API untuk menyatakan berat jenis, digunakan juga sistem

baume, akan tetapi jarang digunakan karena Baume tidak dapat membedakan klasifikasi specific grafity gas yang satu dengan yang lainnya.

Baume 140 130 BJ Oil
Baume
140 130
BJ Oil

30

Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan Hydrometer yang didesain dengan bentuk dan berat tertentu sehingga mendekati densitas minyak yang akan ditest. Alat ini dilengkapi dengan skala pembacaan sampai puluhan derajat Baume atau API unit. Ada Hydrometer yang khusus, disebut Thermohydrometer yang terdiri dari thermometer yang dipasang di bagaian bawah hydrometer tersebut, yang dipakai untuk mendeterminasikan specific gravity dan temperatur minyak secara langsung dengan satu alat saja.

Specific gravity dari minyak bumi adalah perbandingan anatara berat yang diberikan oleh minyak tersebut pada volume tertentu dengan berat air suling pada volume tertentu, dengan berat air suling pada volume yang sama dan diukur pada temperature 60 o F. Sedangkan o API minyak bumi menunjukkan kualitas minyak bumi tersebut berdasarkan dari standar America. Makin kecil SG (specific grafity) atau makin besar o API nya akan sedikit mengandung lilin atau residu aspal atau paraffin. Namun, dewasa ini minyak bumi berat dapat dibuat fraksi bensin lebih banyak dengan menggunakan metode cracking dalam penyulingan, namun proses ini memerlukan banyak biaya.

4.3. Peralatan Dan Bahan

4.3.1.

Peralatan

1.

Gelas ukur

2.

Hidrometer

3.

Thermometer

4.

Crude oil

5.

Toluena

6.

Effusicmeter

7.

Stop watch

8.

Thermometer

9.

Liquid petroleum gas

31

4.3.2.

Bahan

1. Sampel minyak mentah

31 4.3.2. Bahan 1. Sampel minyak mentah Gambar 4.1 Hydrometer Gambar 4.2 Gelas Ukur Gambar 4.3

Gambar 4.1 Hydrometer

31 4.3.2. Bahan 1. Sampel minyak mentah Gambar 4.1 Hydrometer Gambar 4.2 Gelas Ukur Gambar 4.3

Gambar 4.2 Gelas Ukur

31 4.3.2. Bahan 1. Sampel minyak mentah Gambar 4.1 Hydrometer Gambar 4.2 Gelas Ukur Gambar 4.3

Gambar 4.3 Stopwatch

32

32 Gambar 4.4 Minyak Mentah 4.4. Prosedur Percobaan 1. Diambil sample minyak 500 ml. 2. Dimasukkan

Gambar 4.4 Minyak Mentah

4.4. Prosedur Percobaan

1. Diambil sample minyak 500 ml.

2. Dimasukkan ke dalam gelas ukur

3. Dimasukkan hydrometer mulai dari harga yang terendah (misal dari 0.6

sampai dengan 1.1).

4. Dimasukkan thermometer derajat Fahrenheit kedalamnya.

5. Dibaca harga SG dan temperaturnya.

6. Dari hasil pembacaan, digunakan table untuk mendapatkan gravity API sebenarnya.

4.5. Hasil Analisa Dan Perhitungan 4.5.1. Analisa

DATA

UMUM

KELOMPOK

Volume Sampel

678 ml

678 ml

Temperatur Sampel

25.6 °C = 78.08 °F

25.6 °C = 78.08 °F

Specific Grafity (SG) Sampel

0.875

0.869

33

Tabel 4.1 Harga Koreksi °API

° API Terukur

API 60/60° F

30

28,5

31

29,5

32

30,5

33

31,5

34

32,5

35

33,5

36

34,5

37

35,5

38

36,5

39

37,5

40

38,5

41

39,5

42

40,5

43

41,5

44

42,5

45

43,5

46

44,5

47

45,5

48

46,5

34

4.5.2.

Perhitungan

1. Perhitungan Data Umum

° API Terukur

°

Perhitungan 1. Perhitungan Data Umum ° API Terukur ° 1 4 1 , 5 131,5 =

141,5 131,5

1 4 1 , 5 131,5

=

141,5

0.864 131,5

=

. °
.
°

=

Koreksi °API pada 60/60°F

32 32.273 32 31.5 x 30.5 33 32.273 31.5 33 32 = 31.5 30.5
32
32.273
32
31.5
x
30.5
33 32.273
31.5
33 32 = 31.5 30.5

0.727 31.5

x 30.5 33 32.273 31.5 33 32 = 31.5 30.5 0.727 31.5 = 1 1 =

=

1

1

33 32.273 31.5 33 32 = 31.5 30.5 0.727 31.5 = 1 1 = 0.727 31.5

= 0.727 31.5

=

.
.

Jadi koreksi °API pada 60/60°F =

.
.

maka, 60

31.5 = . Jadi koreksi °API pada 60/60°F = . maka, 6 0 60 °F =

60 °F =

=

141,5

131,5 + 30.773

.
.

SG true = SG 60/60°F + {f corr + (T - 60°F)}

= 0,872 + {0,00036 x (77.72 60)}

= 0,872 + 6.379 x 10 -3

= 0.878

35

API true

APItrue =

141,5 131,5

35 API true APItrue = 1 4 1 , 5 131,5 141.5 0 , 8 7

141.5

0,878 131,5

=

, °
,
°

=

2. Perhitungan Data Kelompok

° API Terukur

°

, ° = 2. Perhitungan Data Kelompok ° API Terukur ° 1 4 1 , 5

141,5 131,5

1 4 1 , 5 131,5

=

141,5

0.869 131,5

=

. °
.
°

=

Koreksi °API pada 60/60°F

32 31.331 31 30.5 x 29.5 32 31.331 30.5 32 31 = 30.5 29.5
32
31.331
31
30.5
x
29.5
32 31.331
30.5
32 31 = 30.5 29.5

0.669 30.5

=

x 29.5 32 31.331 30.5 32 31 = 30.5 29.5 0.669 30.5 = 1 1 =

1

1

32 31.331 30.5 32 31 = 30.5 29.5 0.669 30.5 = 1 1 = 0.669 30.5

= 0.669 30.5

=

.
.

Jadi koreksi °API pada 60/60°F = 29.831

maka, 60

30.5 = 1 1 = 0.669 30.5 = . Jadi koreksi °API pada 60/60°F = 29.831

60 °F =

=

141,5

131,5 + 29.831

.
.

36

SG true = SG 60/60°F + {f corr + (T - 60°F)}

= 0.877 + {0,00036 x (80.06 60)}

= 0.877 + 7,2216 x 10 -3

= 0.884

4.6.

API true

APItrue =

=

=

141,5 131,5

0.884 4.6. API true APItrue = = = 1 4 1 , 5 131,5 141.5 0

141.5

0.884 131,5

. °
.
°

Pembahasan

SG (Spesific Grafity) merupakan perbandingan antara massa jenis

dengan massa jenis. Semakin besar SG minyak atau fluida, maka semakin

kecil harga o API minyak tersebut. Dengan kata lain minyak yang diperoleh

lebih sedikit. Selain itu perubahan tekanan dan temperatur juga

mempengaruhi besar kecilnya o API minyak.

Jika ditanya besar SG minyak, berarti perbandingan massa jenis minyak

dengan massa jenis air. Pada temperatur dan tekanan yang tinggi, air akan

mengalami evaporasi. Dengan adanya evaporasi, berarti terjadinya ekspansi

(pertambahan volume). Jika volume semakin besar, maka massa jenis air

akan berkurang. Dan pada minyak, pada tekanan dan temperatur tinggi

justru massa jenisnya semakin bertambah. Sehingga apabila diperhitungkan

besar SG minyak, massa jenis minyak yang bertambah dibagi dengan massa

jenis air yang berkurang, akan menghasilkan SG minyak yang besar. Jika

SG semakin besar maka o API-nya semakin kecil. Jika o API kecil berarti

klasifikasi minyak tergolong berat.

Dari hasil perhitungan data umum, dapat diperoleh o API sebesar

27.5424. Hasil tersebut dapat dikatakan sebagai hasil kategori minyak

sedang. Di dalam dunia perminyakan, hasil suatu formasi diharapkan

memiliki o API (>30) yaitu kategori minyak ringan, karena minyak ringan

memiliki berat jenis kecil dan mudah diproduksi. Sedangkan pada hasil

37

perhitungan data kelompok,dapat diperoleh o API sebesar 28.6403 yang berarti termasuk ke dalam kategori minyak sedang. Perubahan tekanan dan temperatur sangat mempengaruhi besar kecilnya o API. Dengan adanya tekanan dan temperatur yang berbeda itulah yang menyebabkan crude oil dapat mengalir hingga ke permukaan. Hal ini dikarenakan bahwa temperatur dan tekanan dipermukaan lebih kecil dari pada temperatur dan tekanan yang ada di reservoir.

4.7.

Kesimpulan

1. Specific Gravity Hidrokarbon adalah perbandingan densitas fluida hidrokarbon dengan densitas fluida standar yang diukur padaa tekanan dan suhu yang sama.

2. Minyak Berat = 10-20 o API, Minyak Sedang = 20-30 o API, Minyak Ringan > 30 o API.

3. SG oil =

4. SG gas =

. .
.
.

5. Alat yang digunakan adalah Hydiomater, Termometer. Bahan yang digunakan adalah sampel crude oil.

BAB V PENENTUAN TITIK KABUT, TITIK BEKU, & TITIK TUANG

5.1. Tujuan Percobaan

1. Mengetahui definisi dari Titik Kabut, Titik Tuang dan Titik Beku.

2. Mengetahui cara membersihkan minyak yang membeku di pipa line.

3. Mengetahui cara kerja proses pigging.

4. Mengetahui hubungan viscositas dengan titik beku.

5. Mengetahui alat dan bahan yang dipakai dalam percobaan.

5.2. Teori Dasar Pada perjalanan dari formasi menuju permukaan, minyak bumi mengalami penurunan temperatur dan tekanan. Apabila hal ini tidak diwaspadai, maka akan terjadi pembekuan minyak di dalam pipa, sehingga menghambat proses produksi karena minyak tidak lagi mengalir.

Kehilangan panas ini akan menyebabkan suatu masalah yang akan menjadi besar akibatnya apabila tidak segera dapat diatasi. Untuk mengatasi hal tersebut di atas, kita dapat mengambil sample minyak formasi dan mengadakan uji coba di laboratorium untuk mengetahui titk kabut, titik tuang, dan titik beku dari minyak mentah tersebut. Yang dimaksud dengan :

1. Titik kabut adalah dimana padatan mulai mengkristal atau memisahkan diri dari larutan bila minyak didinginkan.

2. Titik tuang adalah temperatur terendah dimana minyak mentah dapat tertuang setelah mengalami pembekuan.

3. Sedang titik beku adalah temperatur terendah dimana minyak sudah tidak dapat mengalir lagi.

38

39

Titik kabut dan titik tuang berfungsi untuk menderterminasi jumlah relatif kandungan lilin pada crude oil, namun test ini tidak menyatakan jmlah kandungan lilin secara absolut, begitu juga kandungan materi solid lainnya di dalam minyak. Dikarenakan pada transportasi minyak dari formasi ke permukaan mengalami penurunan temperatur dan tekanan sehingga membuat kita harus memperhatikan kapan minyak mengalami pembekuan dan cara bagaimana supaya tidak terjadi proses pembekuan dengan mengetahui besar dari titik kabut, titik beku, dan titik tuangnya. Titik beku, titik tuang dan titik kabut dipengaruhi oleh komposisi penyusun minyak. Maksudnya, pada minyak berat lebih banyak mengandung padatan-padatan jika dibandingkan dengan minyak ringan yang lebih banyak mengandung gas sehingga minyak berat yang lebih dulu mengalami pembekuan dari pada minyak ringan. Jadi, untuk menghindari pembekuan maka diusahakan agar temperatur minyak yang diproduksi tetap stabil.

5.3. Peralatan dan Bahan

5.3.1. Peralatan

1. Penutup dari gabus

2. Thermometer

3. Tube kaca sebagai tempat sampel

4. Bath sebagai tempat untuk mengkondisikan sampel

5.3.2. Bahan

1. Sampel minyak mentah

2. Es batu sebagai pendingin

3. Air dan garam

40

40 Gambar 5.1. Penutup Dari Gabus Gambar 5.2. Thermometer Gambar 5.3 Tube Kaca

Gambar 5.1. Penutup Dari Gabus

40 Gambar 5.1. Penutup Dari Gabus Gambar 5.2. Thermometer Gambar 5.3 Tube Kaca

Gambar 5.2. Thermometer

40 Gambar 5.1. Penutup Dari Gabus Gambar 5.2. Thermometer Gambar 5.3 Tube Kaca

Gambar 5.3 Tube Kaca

41

41 Gambar 5.4 Es batu Gambar 5.5 Air 5.4. Prosedur Percobaan Percobaan dilakukan dengan melakukan pengamatan

Gambar 5.4 Es batu

41 Gambar 5.4 Es batu Gambar 5.5 Air 5.4. Prosedur Percobaan Percobaan dilakukan dengan melakukan pengamatan

Gambar 5.5 Air

5.4. Prosedur Percobaan Percobaan dilakukan dengan melakukan pengamatan untuk titik kabut dan titik beku terlebih dahulu, baru dikondisikan untuk menentukan titik tuang.

5.4.1. Titik Kabut dan Titik Beku

1. Ambil sampel dan masukkan ke dalam tube sampai garis batas.

2. Siapkan es batu kemudian ditambahkan garam secukupnya untuk menjaga agar es batu tidak cepat mencair.

3. Masukkan thermometer.

4. Amati temperature dan kondisi sampel yang diteliti setiap 3 menit.

5. Laporkan pembacaan temperature (dalam Celcius atau Fahrenheit) pada saat terjadinya kabut dan lanjutkan sampai sampel diyakini membeku.

42

5.4.2. Titik Tuang

1. Setelah didapatkan titik beku, maka percobaan dilanjutkan untuk

menentukan titik tuang.

2. Keluarkan tube yang berisi sampel dari dalam bath pada kondisi sampel masih membeku.

3. Diamkan pada temperature permukaan.

4. Amati perubahan temperature pada saat seluruh permukaan sampel dapat dituangkan. Laporkan temperature tersebut sebagai titik tuang.

5.5. Hasil Analisa dan Perhitungan

5.5.1. Analisa

Tabel 5.1 Analisa Sampel

Parameter

Data Umum

Data Kelompok

Titik Kabut

18,8 °C = 65.84 °F

17.4

°C = 63.32 °F

Titik Beku

4.9 °C = 40.82 °F

4.7 °C = 40.46 °F

Titik Tuang

15.7 °C = 60.26 °F

14.8

°C = 58.64 °F

5.2.2. Perhitungan 1. Perhitungan Data Umum

Titik Kabut

:

18,8 ºC

= ………. ºF

 

=

(9/5 x 18,8 ºC) + 32

 

18,8 ºC

65.84 ºF = …………. K

=

 

=

18,8 + 273

=

291,8 K

 

18,8 ºC

= …………. R

= (ºC x 1,8 ) + 491,67

= 525,51 R

43

Titik Beku

:

4,9 ºC

= ………. ºF

 

=

(9/5 x 4,9 ºC) + 32

 

4,9ºC

40,82 ºF = …………. K

=

 

=

4,9 + 273

=

277,9 K

 

4,9 ºC

= …………. R

 

= (ºC x 1,8 ) + 491,67

= 500,49 R

Titik Tuang :

 

15,7 ºC

= ………. ºF

 

=

(9/5 x 15,7 ºC) + 32

 

15,7 ºC

60,26 ºF = …………. K

=

 

= 15,7 + 273

= 288,7 K

 

15,7ºC

= …………. R

= (ºC x 1,8 ) + 491,67

= 519,93 R

2. Perhitungan Data Kelompok

Titik Kabut

:

17,4 ºC

= ………. ºF

 

=

(9/5 x 17,4 ºC) + 32

 

17,4 ºC

63.32 ºF = …………. K

=

 

= 17,4 + 273

= 290,4 K

 

17,4 ºC

= …………. R

= (ºC x 1,8 ) + 491,67

= 522,99 R

44

Titik Beku

:

4,7 ºC

= ………. ºF

 

=

(9/5 x 4,7 ºC) + 32

 

4,7 ºC

40,46 ºF = …………. K

=

 

=

4,7 + 273

=

277,7 K

 

4,7 ºC

= …………. R

Titik Tuang :

= (ºC x 1,8 ) + 491,67

= 500,13 R

14,8ºC

= ………. ºF

=

(9/5 x 14,8ºC) + 32

14,8ºC

58,64 ºF = …………. K

=

= 14,8+ 273

= 287,8 K

14,8ºC

= …………. R

= (ºC x 1,8 ) + 491,67

= 518,31 R

Tabel 5.2 Hasil Perolehan Analisa Keseluruhan

Kelompok

Titik Kabut

Titik Beku

Titik Tuang

 

1 83.48

74.66

82.22

 

2 83.48

74.66

82.22

 

3 82.04

69.08

77.36

 

4 82.04

69.08

77.36

 

5 85.1

76.82

82.76

 

6 85.1

76.82

82.76

 

7 64.4

41.9

59.36

Kelompok 7 diperoleh dari data umum.

45

5.5.

Pembahasan Titik beku, titik tuang dan titik kabut dipengaruhi oleh komposisi penyusun minyak. Maksudnya, pada minyak berat lebih banyak mengandung padatan-padatan jika dibandingkan dengan minyak ringan yang lebih banyak mengandung gas sehingga minyak berat yang lebih dulu mengalami pembekuan dari pada minyak ringan. Jadi, untuk menghindari pembekuan maka diusahakan agar temperatur minyak yang diproduksi tetap stabil. Pada perjalanan dari formasi menuju permukaan, minyak bumi mengalami penurunan temperatur. Apabila hal ini tidak di waspadai, maka akan terjadi pembekuan minyak di dalam pipa. Jika pipa tersumbat karena pembekuan, minyak yang kita produksi tidak bisa lagi mengalir. Kehilangan panas ini akan menyebabkan suatu masalah yang akan menjadi besar akibatnya apabila tidak segera diatasi. Untuk mengatasi hal tersebut, kita dapat mengambil formasi sample minyak dan dilakukan uji coba di laboratorium untuk menentukan titik kabut, titik beku, dan titik tuang. Setelah kita mendapatkan titik kabut, titik beku, dan titik tuang, kita dapat mengantisipasi titik-titik dimana kemungkinan terjadinya pembekuan sehingga dapat segera diantisipasi dengan memasang heater pada flow line, atau dengan mengisolasi pipa-pipa untuk menjaga kestabilan temperatur.

Dari data-data perhitungan telah dilakukan sebelumnya, kemudian diplotkan ke dalam suatu grafik, dimana dijelaskan besar dari titik kabut (cloud point), titik beku, dan titik tuang (pour point) dari suatu minyak mentah dari data masing-masing kelompok.

46

Grafik 5.1. Titik Kabut, Titik Beku, Titik Tuang Dari Data Tiap Kelompok dan Data

Umum

90 85.1 83.48 83.48 82.04 82.04 85.1 82.76 82.76 80 82.22 82.22 77.36 77.36 76.82
90
85.1
83.48
83.48
82.04
82.04
85.1
82.76
82.76
80
82.22
82.22
77.36
77.36
76.82
76.82
74.66
74.66
70
69.08
69.08
64.4
60
59.36
50
41.9
40
30
20
10
0
0
1
2
3
4
5
6
7
8
Kelompok
Titik Kabut
Titik Beku
Titik Tuang
Temperature °F

Jika dilihat dari hasil perhitungan yang kemudian diplot ke dalam suatu grafik (seperti grafik 5.1. di atas), baik data umum maupun data kelompok, dapat kita ketahui bahwa titik kabut memiliki temperatur tertinggi, dan titik beku memiliki temperatur terendah sedangkan titik tuang memiliki temperatur di antara keduanya (antara titik kabut dan titik beku). Pada data kelompok diperoleh nilai untuk titik kabut, titik tuang, dan titik beku. Pada

data kelompok I & II diperoleh nilai untuk titik kabut sebesar 83.48°F,titk

tuang sebesar 82.22 F,dan titik beku sebesar 74.66°F, pada kelompok III &

IV diperoleh nilai titik kabut sebesar 82.04°F,titik tuang sebesar

77.36°F,dan titik beku sebesar 69.08 °F, pada data kelompok V & VI

diperoleh nilai titik tuang sebesar 85.1°F,titik tuang sebesar 82.76°F,dan

titik beku sebesar 76.82°F. Sedangkan kelompok VII diperoleh dari data

umum.

47

Grafik 5.2. Titik Kabut, Titik Beku, Titik Tuang Dari Data Tiap Kelompok

90 83.48 85.1 85.1 83.48 82.04 82.04 82.22 82.76 82.76 80 82.22 77.36 77.36 76.82
90
83.48
85.1
85.1
83.48
82.04
82.04
82.22
82.76
82.76
80
82.22
77.36
77.36
76.82
76.82
74.66
74.66
70
69.08
69.08
60
50
40
30
20
10
0
0
1
2
3
4
5
6
7
Kelompok
Titik Kabut
Titik Beku
Titik Tuang
Temperature °F

Jika dilihat dari hasil perhitungan yang kemudian diplot ke dalam suatu grafik (seperti grafik 5.2. di atas), dapat kita ketahui bahwa titik kabut memiliki temperatur tertinggi, dan titik beku memiliki temperatur terendah sedangkan titik tuang memiliki temperatur di antara keduanya (antara titik kabut dan titik beku). Pada data kelompok diperoleh nilai untuk titik kabut, titik tuang, dan titik beku. Pada data kelompok I & II diperoleh nilai untuk titik kabut sebesar 83.48°F,titk tuang sebesar 82.22 F,dan titik beku sebesar 74.66°F, pada kelompok III & IV diperoleh nilai titik kabut sebesar 82.04°F,titik tuang sebesar 77.36°F,dan titik beku sebesar 69.08 °F, pada data kelompok V & VI diperoleh nilai titik tuang sebesar 85.1°F,titik tuang sebesar 82.76°F,dan titik beku sebesar 76.82°F

48

5.7.

Kesimpulan

1. Titik kabut adalah titik dimana padatan dalam minyak mengkristal dan

mulai berkabut, Titik tuang adalah titik dimana minyak bias mengalir setelah membeku, Titik beku adalah titik dimana minyak tidak dapat mengalir lagi.

2. Pigging dilakukan dengan memasukan alat yang menggerus paratin di pipa line.

3. Dengan memasang heater, acidzing dan pigging.

4. Semakin tinggi viscositas minyak, semakin mudah membeku.

5. Alat adalah tube kaca, thermometer, penutupgabus dan bath. Bahan adalah crude oil, es batu sebagai pendingin, air dan garam.

BAB VI PENENTUAN TITIK NYALA (FLASH POINT) DAN TITIK BAKAR (FIRE POINT)

6.1. Tujuan Percobaan

1. Mengetahui pengertian Titik nyala ( flash point ).

2. Mengetahui pengertian Titik bakar ( fire point ).

3. Mengetahui hubungan viscositas dengan flash point dan fire point

4. Menentukan fungsi mempelajari titik nyala dan titik bakar.

5. Mengetahui alat dan bahan yang dipaki pada percobaan.

6.2. Dasar Teori Flash point (titik nyala) adalah temperatur terendah dimana suatu material mudah terbakar dan menimbulkan uap tertentu sehingga akan bercampur dengan udara, campuran tersebut mudah terbakar. Fire point (titik bakar) adalah temperatur dimana suatu produk petroleum terbakar untuk sementara (ignites momentarialy) tetapi tidak selamanya, sekurang- kurangnya 5 detik. Suatu larutan yang dipanaskan pada suatu temperatur dan tekanan tetap akan terjadi penguapan pada temperatur tertentu. Sedangkan penguapan sendiri merupakan proses pemisahan molekul dari larutan dalam bentuk gas yang ringan. Adanya pemanasan yang meningkat akan menyebabkan gerakan gerakan partikel penyusun larutan akan lepas dan meninggalkan larutan. Demikian pula halnya pada minyak mentah, pada suhu tertentu ada gas yang terbebaskan di atas permukaan, apabila disulut dengan api, maka minyak mentah tersebut akan menyala. Titik nyala secara prinsip ditentukan untuk minyak bumi sehingga dengan demikian dapat mengantisipasi bahaya terbakarnya produk produk minyak bumi. Semakin kecil SG minyak mentah maka semakin tinggi o API-nya, berarti minyak tergolong minyak

49

50

ringan, maka jumlah C 1 C 4 semakin banyak, dengan semakin banyak gas, semakin rendah titik nyala dan titik bakarnya, maka akan semakin mudah terbakar produk petroleum yang akan diproduksi. Minyak bumi yang memiliki flash point (titik nyala) terendah akan membahayakan, karena minyak tersebut mudah terbakar apabila minyak tersebut memiliki titik nyala tinggi juga kurang baik, karena akan susah mengalami pembakaran. Jika ditinjau dari segi keselamatan, maka minyak yang baik mempunyai nilai flash point (titik nyala) yang tinggi karena tidak mudah terbakar. Akan tetapi, jika ditinjau dari segi profit (keuntungan) minyak dengan nilai flash point (titik nyala) yang rendah mempunyai nilai jual yang tinggi, karena tidak mengandung residu atau lilin. Flash point (titik nyala) ditentukan dengan jalan memanaskan sample dengan pemanasan yang tetap. Setelah tercapai suhu tertentu, nyala penguji atau test flame diarahkan pada permukaan sample. Test flame ini terus diarahkan pada permukaan sample secara bergantian sehingga mencapai atau terjadi semacam ledakan karena adanya tekanan dan api yang terdapat pada test flame akan mati. Inilah yang disebut flash point (titik nyala). Sedangkan, penentuan fire point (titik bakar) ini sebagai kelanjutan dari flash point dimana apabila contoh akan terbakar / menyala kurang lebih lima detik maka lihat suhunya sebagai fire point (titik bakar). Penentuan titik nyala tidak dapat dilakukakan pada produk-produk yang volatile seperti gasoline dan solvent-solvent ringan, karena mempunyai flash point (titik nyala) di bawah temperature atmosfer normal. Flash point (titik nyala) dan fire point (titik bakar) juga berhubungan dengan SG minyak mentah dan juga o API-nya. Semakin tinggi titik nyala (flash point) dan titik bakar (fire point) dari suatu minyak mentah, maka minyak tersebut tidak mudah terbakar (unflameable). Jika tidak mudah terbakar, berarti SG minyak tersebut tinggi, sedangkan o API kecil. Sehingga minyak tersebut dapat diklasifikasikan sebagai minyak berat, karena banyak mengandung fraksi berat (residu atau lilin). Dan begitu juga sebaliknya, jika titik nyala (flash point) dan titik bakar (fire point) rendah, maka minyak

51

tersebut mudah terbakar (flameable) karena di dalam minyak tersebut terdapat fraksi ringan (gas).

6.3. Peralatan Dan Bahan

6.3.1. Peralatan

1. Tag Closed Tester.

2. Shield ukuran 46 cm luas dan 61 cm tinggi, terbuka dibagian depan.

3. Thermometer.

6.3.2. Bahan

1. Minyak mentah

2. Air

dibagian depan. 3. Thermometer. 6.3.2. Bahan 1. Minyak mentah 2. Air Gambar 6.1 Tag Closed Teste

Gambar 6.1 Tag Closed Teste

dibagian depan. 3. Thermometer. 6.3.2. Bahan 1. Minyak mentah 2. Air Gambar 6.1 Tag Closed Teste

Gambar 6.2. Thermometer

52

52 Gambar 6.3 Minyak Mentah 6.4. Prosedur Percobaan 1. Untuk minyak mentah dengan titik nyala 55

Gambar 6.3 Minyak Mentah

6.4. Prosedur Percobaan

1. Untuk minyak mentah dengan titik nyala 55 o F atau yang lebih tinggi, isi bath dengan air hingga tumpah, untuk minyak mentah yang mempunyai titik nyala yang rendah digunakan cairan yang berupa campuran air dengan ethylene glycol atau cairan dengan viskositas yang rendah dan mempunyai titik beku yang rendah.

2. Temperatur dari cairan di dalam bath harus berada pada temperatur lebih rendah atau kurang dari 20 F dibawah perkiraan titik nyala dari sample.

3. Mengisi mangkok (test cup)dengan sample hingga batas (kira-kira 50 ml) dan membersihkan bila ada sample yang membasahi dinding mangkok, memasang penutup (lid) yang telah diberi thermometer ke dalam bath.

4. Menyalakan test flame, mengatur nyala pada test flame sehingga mencapai ukuran sebesar bead yang terdapat pada penutup, mengatur pula kenaikan temperatur sebesar 1 derajat setiap 30 60 detik.

5. Jika temperatur sample di dalam mangkok 10 F di bawah titik nyala yang diperkirakan, menyulutkan test flame ke dalam mangkok sample dengan memutar peralatan pada penutup mangkok. Mengulangi cara ini

setiap kenaikan 1 , sehingga menyusutkan test flame menyebabkan uap mangkok sample menyala, mencatat temperatur saat sample menyala.

6. Untuk menentukan titik bakar, lanjutkan pemanasan dengan perlahan -

lahan, dengan kenaikan kurang lebih 10 F setiap menit, melanjutkan

53

penyulutan dengan test flame setiap kenaikan 5 F hingga sample menyala atau menyala 5 detik, mencatat temperatur tersebut sebagai titik bakar.

7. Lakukan koreksi jika terdapat tekanan barometer lebih kecil dari pada tabel di bawah ini :

Tabel 6.1. Koreksi Tekanan Barometer

 

Koreksi

Tekanan Barometer ( mm Hg )

F

C

751

835

5

2,8

634

550

10

5,5

6.5. Hasil Analisa Dan Perhitungan

6.5.1. Analisa

Tabel 6.1 Data Sampel

Parameter

Data Umum

Data Kelompok

Titik Nyala

77.5

°C = 171.5 °F

75.6

°C = 168.08 °F

Titik Bakar

93.5

°C = 200.3 °F

90.6

°C = 195.08 °F

6.5.2. Perhitungan

1. Perhitungan Data Umum

Flash Point :

77.5˚ C

=

……… ˚ F

=

(9/5 x 77.5 ) + 32

=

171.5 ˚ F

77.5˚ C

= ……… ˚K

= 77.5+ 273

= 350.5 ˚K

77.5˚ C

= ……… ˚Rn

= (77,5 x 1.8) 460

= 631.17

R

54

Fire Point

93.5˚ C

=

……… ˚ F

=

(9/5 x 93.5) + 32

=

200.3 ˚ F

93.5˚ C

= ……… ˚K

=

93.5+ 273

=

366.5 ˚K

93.5˚ C

= ……… ˚Rn

= (93.5 x 1.8) 460

= 659.97 R

2. Perhitungan Data Kelompok

Flash Point :

75.6˚ C

=

……… ˚ F

 

=

(9/5 x 75.6) + 32

=

168.08 ˚ F

 

75.6˚ C

= ……… ˚K

 

=

75.6+ 273

=

348.6 ˚K

 

75.6˚ C

= ……… ˚Rn

 

=

(75.6 x 1.8) 460

=

627.75 R

Fire Point

90.6˚ C

=

……… ˚ F

=

(9/5 x 90.6) + 32

=

195.08 ˚ F

90.6˚ C

= ……… ˚K

= 90.6+ 273

= 363.6 ˚K

90.6˚ C

= ……… ˚Rn

55

= (90.6 x 1.8) 460

= 654.75

R

Tabel 6.2 Hasil Perolehan Analisa Kelompok

Kelompok

Titik Nyala

Titik Bakar

 

1 194.34

158.72

 

2 202.28

160.88

 

3 198.68

168.08

 

4 200.48

169.70

 

5 200.48

177.68

 

6 171.5

171.50

6.6.

Pembahasan Penentuan titik nyala dan titik bakar tergantung dari komposisi minyak yang bersangkutan. Semakin berat minyak maka titik didihnya semakin tinggi demikian juga titik nyala dan titik bakar. Hal ini juga dipengaruhi oleh temperatur. Dalam percobaan kali ini pada data umum, temperatur flash point (titik nyala) sebesar 80.3 o C = 176.54 o F sedangkan untuk fire point (titik bakar) didapat sebesar 94.8 o C = 202.64 o F. Dan untuk data kelompoknya yaitu temperatur flash point (titik nyala) sebesar 77.8 o C = 172.04 o F sedangkan untuk fire point (titik bakar) didapat sebesar 93.6 o C = 200.48 o F. Untuk percobaan penentuan flash point (titik nyala) dan fire point (titik bakar), praktikan melakukan pengetesan tentang titik nyala dan titik bakar pada sampel minyak yang telah disediakan. Dimana sampel minyak mentah dimasukkan ke dalam test cup dan air ke dalam bath kemudian dipanasi. Setelah beberapa menit dipanasi, kita dapat mengamati terjadinya flash point (titik nyala) dan fire point (titik bakar). Flash point (titik nyala) dapat kita amati apabila dilakukan penyulutan, sampel akan menyala beberapa saat saja. Sedangkan fire point (titik bakar) terjadi bila nyala yang dihasilkan lebih lama dari flash point (minimal / kira- kira berlangsung selama 5 detik).

56

Penentuan titik nyala dan titik bakar tergantung dari komposisi minyak yang bersangkutan. Semakin berat minyak maka titik didihnya semakin tinggi demikian juga titik nyala dan titik bakar. Penentuan titik nyala dan titik bakar dari minyak mentah ini sangat penting dalam mengatisipasi timbulnya kebakaran pada peralatan produksi, karena temperatur minyak terlalu tinggi yang biasanya terjadi akibat adanya gesekan antara minyak dengan flow line, sehingga kita dapat melakukan pencegahan lebih dini. Dari analisa dan perhitungan di atas juga disertakan data dari tiap kelompok, kemudian diplotkan ke dalam suatu grafik di bawah ini :

Grafik 6.1 Titik Nyala Dan Titik Bakar Dari Data Tiap Kelompok dan Data Umum

Grafik Titik Nyala dan Titik Bakar Setiap Kelompok 250 194.36 202.28 196.68 200.48 200.48 200.3
Grafik Titik Nyala dan Titik Bakar
Setiap Kelompok
250
194.36 202.28 196.68 200.48 200.48
200.3
200
150
171.68
171.5
168.08 169.7
158.72 160.88
Tititk Bakar
100
Titik Nyala
50
0
0
2
4
6
8
Kelompok
Titik Nyala dan Titik Bakar

Jika kita perhatikan grafik di atas, nilai dari titik bakar lebih besar dari pada titik nyala. Pada data kelompok I, titik nyala = 172.04 o F dan titik bakar = 200.48 o F, juga pada data kelompok II, kelompok III, IV,V maupun kelompok VI. Dan kelompok VII yang diperoleh dari data umum.

57

Grafik 6.2 Titik Nyala Dan Titik Bakar Dari Data Tiap Kelompok

Grafik Titik Nyala dan Titik Bakar Setiap Kelompok 250 194.36 202.28 196.68 200.48 200.48 200.3
Grafik Titik Nyala dan Titik Bakar
Setiap Kelompok
250
194.36 202.28 196.68 200.48 200.48
200.3
200
150
171.68
171.5
168.08 169.7
158.72 160.88
Tititk Bakar
100
Titik Nyala
50
0
0
2
4
6
8
Kelompok
Titik Nyala dan Titik Bakar

Jika kita perhatikan grafik di atas, nilai dari titik bakar lebih besar dari pada titik nyala. Pada data kelompok I, titik nyala = 172.04 o F dan titik bakar = 200.48 o F, juga pada data kelompok II, kelompok III, IV,V maupun kelompok VI. Akan tetapi, bentuk dari grafik tersebut kurang begitu tepat, mungkin karena adanya kesalahan di dalam praktikum. Seharusnya, bentuk grafik antara titik bakar (fire point) dan titik nyala (fire point) itu sama karena titik nyala (flash point) berbanding lurus terhadap titik bakar (fire point).

58

6.7.

Kesimpulan

1. Titik nyala adalah titik terendah diman crude oil mudah terbakar, tapi hanya sebagai kedipan sesaat.

2. Titik bakar adalah titik terendah dimana suatu produk petroleum terbakar 5 detik.

3. Semakin tinggi viscositasnya semakin sulit terbakar, begitu juga sebaliknya.

4. Fungsi mempelajarin titik nyala dan titik bakar adalah untuk safety atau keselamatan di lapangan.

5. Alat yang digunakan adalah tag closed tested, shield, dan thermometer. Bahan yang digunakan adalah crude oil dan water

BAB VII PENENTUAN VISKOSITAS KINEMATIK SECARA COBA-COBA (TENTATIVE METHODE)

7.1. Tujuan Percobaan

1.

Mengetahui d