Anda di halaman 1dari 5

PH TANAH

MENGUKUR pH TANAH DENGAN KERTAS LAKMUS/ pH INDIKATOR


6:03 PM MASPARY
Kali ini Gerbang Pertanian akan membagikan tips bagaimana cara sederhana dan mudah
mengukur pH tanah menggunakan kertas lakmus atau pH indikator. Ini adalah cara yang biasa
digunakan para petani bukan untuk tujuan penelitian dalam bidang ilmu tanah. Yach karena
Gerbang Pertanian ditulis memang untuk para petani, dan penjelasannyapun menggunakan
bahasa petani yang cenderung sederhana.
Pengukuran pH tanah bisa dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan kertas lakmus, pH
indikator dan pH meter. Pengukuran yang paling akurat adalah menggunakan pH meter, namun
sayang alat tersebut sangatlah mahal sehingga kurang terjangkau bagi kita para petani kecil. Oleh
karena itu kita hanya akan membahas cara menggunakan kertas lakmus atau pH indikator yang
harganya sangat terjangkau oleh kantong kita.
Langsung praktek aja ya,
Alat dan Bahan:
1. Kertas lakmus atau pH indikator
2. Air aqua
3. Gelas aqua
4. Sendok teh
5. Sampel tanah (cara mengambil sample tanah: ambil tanah kering dari empat ujung dan tengahtengah lahan kita, campurkan secara merata, jemur beberapa jam supaya kering. Ini bertujuan
agar tanah yang akan diukur pHnya merupakan bagian yang rata dari lahan kita)
Cara pengukuran:
1. Ambil sedikit sample tanah dan air aqua dengan perbandingan 1 : 1,
2. Masukkan dalam gelas aqua
3. Aduk-aduk hingga benar-benar homogen (merata)
4. Biarkan beberapa menit hingga campuran air dan tanah tadi memisah (tanahnya mengendap)
5. Setelah airnya terlihat agak jernih masukkan ujung kertas lakmus atau pH Indikator kedalam
campuran tadi (sekitas 1 menit) tetapi jangan sampai mengenai tanahnya.
6. Tunggu beberapa saat sampai kertas lakmus atau pH indikator berubah warnanya.
7. Setelah warnanya stabil, cocokkan warna yang diperoleh oleh kertas lakmus atau pH indikator
tadi dengan bagan warna petunjuknya.
8. Kita akan segera tahu pH tanah kita berapa.
Sangat mudah bukan?
Seperti kita ketahui bersama pH tanah sangatlah penting dalam ilmu pertanian karena pH tanah
akan menentukan kesuburan suatu tanaman. Kenapa demikian ? Karena pH tanah sangat
menentukan bisa atau tidak suatu unsur hara dalam tanah diserap oleh akar tanaman.
pH adalah tingakat keasaman atau kebasa-an suatu benda yang diukur dengan menggunakan
skala pH antara 0 hingga 14. Sifat asam mempunyai pH antara 0 hingga 7 dan sifat basa

mempunyai nilai pH 7 hingga 14. Sebagai contoh, jus jeruk dan air aki mempunyai pH antara 0
hingga 7, sedangkan air laut dan cairan pemutih mempunyai sifat basa (yang juga di sebut
sebagai alkaline) dengan nilai pH 7 14. Air murni adalah netral atau mempunyai nilai pH 7.
Biasanya jika pH tanah semakin tinggi maka unsur hara akan semakin sulit diserap tanaman,
demikian juga sebaliknya jika terlalu rendah akar juga akan kesulitan menyerap makanannya
yang berada dalam tanah. Akar tanaman akan mudah menyerap unsur hara atau pupuk yang kita
berikan jika pH dalam tanah sedang-sedang saja (cenderung netral).
Jika pH larutan tanah meningkat hingga di atas 5,5; Nitrogen (dalam bentuk nitrat) menjadi
tersedia bagi tanaman. Di sisi lain Pospor akan tersedia bagi tanaman pada Ph antara 6,0 hingga
7,0.
Beberapa bakteri membantu tanaman mendapatkan N dengan mengubah N di atmosfer menjadi
bentuk N yang dapat digunakan oleh tanaman. Bakteri ini hidup di dalam nodule akar tanaman
legume (seperti alfalfa dan kedelai) dan berfungsi secara baik bilamana tanaman dimana bakteri
tersebut hidup tumbuh pada tanah dengan kisaran pH yang sesuai.
Sebagai contoh kedelai tumbuh dengan baik pada tanah dengan kisaran pH 6,0 hingga 7,0.
Kacang tanah tumbuh dengan baik pada tanah dengan pH 5,3 hingga 6,6. Banyak tanaman
termasuk sayuran, bunga dan semak-semak serta buah-buahan tergantung dengan pH dan
ketersediaan tanah yang mengandung nutrisi yang cukup.
Jika larutan tanah terlalu masam, tanaman tidak dapat memanfaatkan N, P, K dan zat hara lain
yang mereka butuhkan. Pada tanah masam, tanaman mempunyai kemungkinan yang besar untuk
teracuni logam berat yang pada akhirnya dapat mati karena keracunan tersebut.
Demikian sekelumit tips dari Gerbang Pertanian tentang bagaimana cara mengukur pH tanah
menggunakan kertas lakmus atau pH meter, semoga bisa bermanfaat bagi pembaca semua. Dan
harapan saya tentunya akan bisa lebih meningkatkan hasil pertanian dari para petani kita.
CARA TRADISIONAL MENGETAHUI KEASAMAN TANAH
5:34 AM MASPARY
Salam pertanian!! Rekan-rekan gerbang pertanian semua saya masih punya sedikit informasi
pertanian hasil oleh-oleh kunjungan saya dari Joglo Tani. Yaitu tentang cara tradisional
mengetahui keasaman tanah. Cara yang akan maspary sampaikan ini termasuk cara mudah,
murah dan siapapun bisa.
Beberapa waktu yang lalu maspary telah menulis di Gerbang Pertanian tentang cara mengukur
PH tanah dengan menggunakan kertas lakmus/ PH indikator. Tetapi hal tersebut akan menjadikan
banyak kendala bagi rekan-rekan yang sulit mendapatkan kertas lakmus (maaf, masih banyak
rekan kita yang hidup jauh dari kota). Oleh karena itu artikel kali ini mudah-mudahan bisa
membantu rekan-rekan petani yang kesulitan mendapatkan kertas lakmus.
Cara tradisional mengetahui keasaman tanah yang akan saya tulis ini hanya mendeteksi kondisi
tanah kita asam atau basa saja, tidak sampai mengukur berapa pH tanah kita. kalau untuk
mengetahui lebih berapa pH tanah kita harus menggunakan kertas pH indikator. Jika ingin lebih
spesifik lagi (lebih akurat) kita gunakan pH meter.

Langsung kita mulai saja praktek cara tradisional mengetahui keasaman tanahnya,
1. Ambil kunir sebesar jari telunjuk
2. Potong jadi dua
3. Salah satu potongan kunir tadi, masukkan kedalam tanah basah yang akan kita ukur pH nya
4. Tunggu sampai kira-kira sengah jam (30 menit)
5. Ambil kunir tesebut dan lihat warna bagian potongan kunir tersebut
6. Jika warna bagian yang terpotong tadi pudar berarti tanah kita asam.
7. pH tanah kita netral jika hasil potongan tadi berwarna tetap cerah.
8. Akan tetapi jika warna kunir tadi biru berarti tanah kita cenderung basa.
Walaupun cara tradisional mengetahui keasaman tanah tersebut tidak seakurat dengan
menggunakan kertas lakmus ataupun pH meter, tetapi paling tidak bisa menjadikan gambaran
kondisi pH tanah kita. Semoga artikel yang singkat ini bisa berguna bagi rekan-rekan Gerbang
Pertanian yang sedang berjuang mensukseskan pertanian Indonesia. Selamat Mencoba!!
(maspary)
Cara Mengukur pH Tanah
Keasaman dalam larutan itu dinyatakan sebagai kadar ion hidrogen disingkat dengan [H+], atau
sebgai pH yang artinya log [H+]. Dengan kata lain pH merupakan ukuran kekuatan suatu asam.
pH suatu larutan dapat ditera dengan beberapa cara antara lain dengan jalan menitrasi lerutan
dengan asam dengan indikator atau yang lebih teliti lagi dengan pH meter.
pH berkisar antara 10-1 sampai 10-12 mol/liter. Makin tinggi konsentrasi ion H, makin rendah
log [H+] atau pH tanah, dan makin asam reaksi tanah. Pada umumnya, keasaman tanah
dibedakan atas asam, netral, dan basa. Ion H+ dihasilkan oleh kelompok organik yang dibedakan
atas kelompok karboksil dan kelompok fenol.
Tipe keasaman aktif atau keasaman actual disebabkan oleh adanya Ion H+ dalam larutan tanah.
Keasaman ini diukur menggunakan suspensi tanah-air dengan nisbah 1 : 1; 1 : 2,5; dan 1 : 5.
Keasaman ini ditulis dengan pH (H2O).
Tipe keasaman potensial atau keasaman tertukarkan dihasilkan oleh ion H+ dan Al3+ tertukarkan
yang diabsorbsi oleh koloid tanah. Potensial keasaman diukur dengan menggunakan larutan
tanah-elektrolit, pada umumnya KCl atau CaCl2.
Karena ion H dan Al yang diabsorbsi koloid tanah dalam keadaan seimbang (equilibrium)
dengan ion H+ dalam larutan tanah maka terdapat hubungan yang dekat antara kejenuhan
(H+Al) dan pH, demikian juga dengan persentase kejenuhan basa pada pH. Tanah yang ekstrem
asam dengan (H+Al) mendekati 100% kurang lebih mempunyai pH sama dengan asetat pH 3,5
Keasaman (pH) tanah diukur dengan nisbah tanah : air 1 : 2,5 (10 g tanah dilarutkan dengan 25
ml air) dan ditulis dengan pH2,5(H2O). Di beberapa laboratorium, pengukuran pH tanah
dilakukan dengan perbandingan tanah dan air 1 : 1 atau 1 : 5. Pengukuran pada nisbah ini agak
berbeda dengan pengukuran pH2,5 karena pengaruh pengenceran terhadap konsentrasi ion H.
Untuk tujuan tertentu, misalnya pengukuran pH tanah basa, dilakukan terhadap pasta jenuh air.
Hasil pengukuran selalu lebih rendah daripada pH2,5 karena lebih kental dan konsentrasi ion H+
lebih tinggi.

Pengukuran pH tanah di lapangan dengan prinsip kolorimeter dengan menggunakan indikator


(larutan, kertas pH) yang menunjukkan warna tertantu pada pH yang berbeda. Saat ini sudah
banyak pH-meter jinjing (portable) yang dapat dibawa ke lapangan. Di samping itu, ada
beberapa tipe pH-meter yang dilengkapi dengan elektroda yang secara langsung dapat digunakan
untuk pH tanah, tetapi dengan syarat kandungan lengas saat pengukuran cukup tinggi
(kandungan lengas maksimum atau mungkin kelewat jenuh). Kesalahan pengukuran dapat terjadi
antara 0,1 0,5 unit pH atau bahkan lebih besar karena pengaruh pengenceran dan faktor
faktor lain.
Untuk mengukur pH basa kuat di lapangan, indikator fenolptalin (2 g indikator fenolptalin dalam
200 ml alkohol 90%) yang tidak berwarna sangat bermanfaat karena akan berubah menjadi ungu
sampai merah pada pH 8,3 10,0. Kondisi yang sama dalam pengukuran pH di lapangan pada
kondisi luar biasa asam digunakan indikator Brom Cresol Green (0,1 g dilarutkan dalam 250 ml
0,006 N NaOH) yang berubah menjadi hijau sampai kuning pada pH 5,3 dan lebih rendah
daripada 3,8.
Untuk mengetahui pH tanah di lapangan, secara umum dapat digunakan indikator universal
(campuran 0,02 g metil merah, 0,04 g bromotimol blue, 0,04 g timol blue, dan 0,02 g fenolptalin
dalam 100 ml alkohol encer (70%)).
Tentang pH Tanah
pH adalah tingakat keasaman atau kebasa-an suatu benda yang diukur dengan menggunakan
skala pH antara 0 hingga 14. Sifat asam mempunyai pH antara 0 hingga 7 dan sifat basa
mempunyai nilai pH 7 hingga 14. Sebagai contoh, jus jeruk dan air aki mempunyai pH antara 0
hingga 7, sedangkan air laut dan cairan pemutih mempunyai sifat basa (yang juga di sebut
sebagai alkaline) dengan nilai pH 7 14. Air murni adalah netral atau mempunyai nilai pH 7.
Pentingnya pH tanah
pH tanah atau tepatnya pH larutan tanah sangat penting karena larutan tanah mengandung unsur
hara seperti Nitrogen (N), Potassium/kalium (K), dan Pospor (P) dimana tanaman membutuhkan
dalam jumlah tertentu untuk tumbuh, berkembang, dan bertahan terhadap penyakit.
Jika pH larutan tanah meningkat hingga di atas 5,5; Nitrogen (dalam bentuk nitrat) menjadi
tersedia bagi tanaman. Di sisi lain Pospor akan tersedia bagi tanaman pada Ph antara 6,0 hingga
7,0.
Beberapa bakteri membantu tanaman mendapatkan N dengan mengubah N di atmosfer menjadi
bentuk N yang dapat digunakan oleh tanaman. Bakteri ini hidup di dalam nodule akar tanaman
legume (seperti alfalfa dan kedelai) dan berfungsi secara baik bilamana tanaman dimana bakteri
tersebut hidup tumbuh pada tanah dengan kisaran pH yang sesuai.
Sebagai contoh, alfalfa tumbuh dengan baik pada tanah dengan pH 6,2 hingga 7,8; sementara itu
kedelai tumbuh dengan baik pada tanah dengan kisaran pH 6,0 hingga 7,0. Kacang tanah tumbh
dengan baik pada tanah dengan pH 5,3 hingga 6,6. Banyak tanaman termasuk sayuran, bunga
dan semak-semak serta buah-buahan tergantung dengan pH dan ketersediaan tanah yang
mengandung nutrisi yang cukup.
Jika larutan tanah terlalu masam, tanaman tidak dapat memanfaatkan N, P, K dan zat hara lain

yang mereka butuhkan. Pada tanah masam, tanaman mempunyai kemungkinan yang besar untuk
teracuni logam berat yang pada akhirnya dapat mati karena keracunan tersebut.
Herbisida, pestisida, fungsisida dan bahan kimia lainnya yang digunakan untuk memberantas
hama dan penyakit tanaman juga dapat meracuni tanaman itu sendiri. Mengetahui pH tanah,
apakah masam atau basa adalah sangat penting karena jika tanah terlalu masam oleh karena
penggunaan pestisida, herbbisida, dan fungisida tidak akan terabsorbsi dan justru akan meracuni
air tanah serta air-air pada aliran permukaan dimana hal ini akan menyebabkan polusi pada
sungai, danau, dan air tanah