Anda di halaman 1dari 98

PERSIAPAN OSCE PK 2012

Malaria
Macam-macam sediaan darah
Sediaan darah tipis / hapusan darah tipis

Terdiri dari satu lapisan sel darah merah melekat pada gelas obyek. Volume
darah yang diambil sedikit, tetapi bidang sediaan luas sehingga kemungkinan
adanya parasit lebih sedikit dan waktu pemeriksaannya lebih lama.

Pemeriksaan sediaan darah tipis untuk menentukan spesies parasit malaria.

Sebelum diwarnai, sediaan darah harus difiksasi (dilekatkan) lebih dahulu


dengan methil alkohol (methanol). Sebab itu sel-sel terutama sitoplasma
parasit tidak mengalami kerusakan dan parasit

dapat ditemukan

dalam

keadaan utuh.
Sediaan darah tebal / tetes tebal

Sediaan darah tebal terdiri dari tumpukan sel darah merah yang mengalami
dehemoglobinasi (lisis). Akibat hemolisis, sel darah merah hancur sebagian
atau seluruhnya dan parasit akan mengalami distorsi (rusak). Gambaran
parasit malaria pada sediaan darah tebal umumnya tidak utuh dan tidak
tampak adanya dinding sel yang jelas.

Volume darah yang diambil lebih banyak (kurang lebih 30X dibandingkan
dengan sediaan darah tipis). Bidang sediaan lebih

sempit dibandingkan

sediaan darah tipis dan kemungkinan adanya parasit menjadi lebih besar dan
pemeriksaan lebih cepat.

Pemeriksaan sediaan darah tebal seharusnya digunakan untuk menegakkan


diagnosis malaria. Untuk menentukan spesies parasit, perlu dikonfirmasi
dengan pemeriksaan darah tipis.

Penghitungan parasit
Pada penderita P. falciparum yang berat, penting untuk diketahui tingkat parasitemia
sehingga dapat diberikan pengobatan yang tepat. Tehnik penghitungan

dipergunakan

untuk memperkirakan kepadatan parasit :

Menghitung jumlah parasit yang menginfeksi sel darah merah pada sediaan
hapusan darah tipis.

Menghitung jumlah parasit terhadap sel darah putih pada sediaan darah tebal,
untuk memperkirakan jumlah parasit dalam darah (parasitemia)..

Penghitungan persentasi parasit dalam sel darah merah.


Untuk memudahkan digunakan kamar hitung yang disisipkan pada lensa okuler atau
pada badan mikroskop. Penghitungan parasit diperkirakan dari 5000 atau 10.000
sel darah merah yang mengandung parasit (termasuk gametosit). Pada malaria
falciparum, sel darah merah yang terinfeksi mencapai 5% atau lebih menunjukkan
infeksi yang serius.

Penghitungan parasit terhadap sel darah putih pada sediaan darah tebal.
Penghitungan parasit dengan metode ini untuk memperoleh perkiraan jumlah
parasit, yang tingkat akurasinya tergantung kemampuan menghitung sel darah
putih dan mengestimasi parasit terhadap sel darah putih dan juga tergantung pada
pengecatan yang baik pada tetes darah tebal. Secara praktis perhitungan sel darah
putih sebanyak 8000 per mikroliter darah.
Cara penghitungan parasit :

Pilih daerah dari hapusan tebal dimana sel darah putih terdistribusi merata dan
parasit terwarnai dengan baik.

Menggunakan

lensa obyektif

dengan

oil

immersi,

secara sistemik dihitung

200 WBC jika ditemukan parasit 100 atau lebih, jika < 100 parasit maka
dilanjutkan sampai 500 WBC. Hitung semua stadium parasit (ring, trofozoit, skizon
dan gametosit)
Penghitungan jumlah parasit per l darah.
WBC yang dihitung X parasit yang dihitung pada 200/500 WBC
200/500
WBC count = normal 8000/l darah
Contoh :

WBC penderita = 8000 / l


Jumlah parasit yang dihitung dalam 200 WBC
Jumlah parasit =

8000 x 1000

1000

40.000 / l darah = 0,8%

200
1 l darah mengandung : 5.000.000 RBC
Tingkat parasitemia 5% pada Plasmodium falciparum menunjukan infeksi berat.
Cara praktis \

Memperkirakan kepadatan parasit (trofozoit, skizon, gametosit) pada sediaan


darah tebal :

1 - 10
11 - 100

parasit per 100 lapang pandang


parasit per 100 lapang pandang

++

1- 10

tiap lapang pandang

+++

> 10

tiap lapang pandang

++++

Penderita infeksi Pf + + + atau + + + +

berarti

serius

Sediaan darah negatif bila dilakukan pemeriksaan 100 lapang pandang


ditemukan parasit.

tidak

Pada P. malariae dilakukan 200 lapang pandang.

ICT MALARIA
1. HRP-2 (Histidine rich protein 2)
trofozoit
skizon
gametosit muda P. falciparum
2. Enzim parasite lactate dehydrogenase (p-LDH) dan aldolase
parasit aseksual atau seksual plasmodium falciparum, P. vivax dan
P. malariae
Single infeksi P. falciparum
Combo Infeksi P. falciparum dan non falciparum

PERFORMANCE
1. To date, no commercial RDT has been reported to differentiate reliably between P.
vivax, P. ovale and P. malariae
2. RDTs generally achieve a sensitivity of > 90% in the detection of P. falciparum at
densities above 100 parasites per l blood. Below the level of 100 parasites per l
blood, sensitivity decrease markedly
3. HRP-II tests can remain positive for 7-14 days following chemotherapy

HEPATITIS B
Interpretasi Hepatitis B

Gambar 2a. Infeksi hepatitis B virus akut

Gambar 2b. Infeksi hepatitis B kronik dengan HBeAg positif

Gambar 2c. Infeksi hepatitis B kronik dengan HBeAg negative.

TES SEROLOGI SIFILIS


Tes serologi untuk sifilis dapat diklasifikasikan dalam 2 kelompok, yaitu :
1. Non-treponemal test
Tes non-treponemal ini mendeteksi adanya antibodi non spesifik terhadap treponema.
Yang termasuk dalam kelompok ini adalah VDRL (Venereal Disease Research
Laboratory) dan RPR (Rapid Plasma Reagin)
Gambar 1. Metode RPR
2. Treponemal test
Tes treponemal ini mendeteksi adanya antibodi spesifik terhadap treponema. Yang
termasuk dalam tes ini adalah, TPHA (Treponema Pallidum Haemagglutination),
TPPA (Treponema Pallidum Passive Agglutination), EIA (Enzyme Immunoassay) dan
FTA-ABS (Fluorecent Treponemal Antibody Absorbed).
NON-TREPONEMAL TEST
Tes non-treponemal yang biasa digunakan meliputi RPR (Rapid Plasma Reagin) dan VDRL
(Venereal Disease Research Laboratory). Kedua tes ini mendeteksi antibodi

terhadap

cardiolipin, suatu lipid material dari sel yang rusak, yang merupakan marker non spesifik
sifilis.
1. VDRL
VDRL merupakan tes flokulasi slide kualitatif dan kuantitatif. Sampel yang digunakan
serum atau cairan spinal (modifikasi VDRL slide). Antigen yang digunakan terdiri dari
cardiolipin, cholesterol dan lecithin.
Prinsip :
Penderita yang menderita sifilis memproduksi antibodi yang bereaksi dengan antigen
cardiolipin, kemudian dibaca dengan menggunakan mikroskop. Pada pemeriksaan ini
tidak dapat diketahui antibodi yang bereaksi dengan cardiolipin merupakan antibodi
terhadap komponen lipid T. pallidum atau sebagai hasil dari kerusakan jaringan akibat
infeksi.
VDRL CSF :

Tes VDRL dapat dilakukan pada sampel CSF untuk diagnosis neurosifilis. Pada spesimen
CSF dipilih tes VDRL kuantitatif. Antigen diencerkan dalam volume yang sama dengan
larutan saline 10%, CSF tidak diinaktif dan volume antigen yang dibutuhkan 0,01 ml (1
tetesan jarum ukuran 21). Langkah selanjutnya sama dengan langkah pada spesimen
serum.
2. Rapid Plasma Reagin (RPR) test
Bila pemeriksaan mikroskopis langsung tidak tersedia, maka hasil tes non-treponemal
reaktif dari individu dengan lesi genital khas yang sebelumnya seronegatif, dapat menjadi
acuan untuk diagnosis sifilis.
Tes non-treponemal untuk sifilis mendeteksi antibodi humoral, baik imunoglobulin M
(IgM) dan IgG, yang biasanya muncul pada 1-4 minggu setelah terbentuk primary chancre .
Dengan demikian, sensitivitas tes pada sifilis primer mungkin berbeda-beda, menurut waktu
darah diambil setelah timbulnya lesi. Namun, dalam waktu 2 bulan, lesi mulai sembuh secara
spontan, dan semua tes non-treponemal 100% reaktif.
Karena manifestasi lesi pada tahap sekunder dapat bermacam-macam, maka tes nontreponemal digunakan untuk membedakan lesi sifilis dari lesi yang disebabkan karena infeksi
atau kondisi lain. Selain itu, tes non-treponemal mungkin merupakan satu-satunya tes untuk
mengidentifikasi individu dengan sifilis laten yang tidak diobati.
Hasil tes yang reaktif harus dikuantitasi untuk memantau pengobatan atau menegakkan
diagnosis reinfeksi. Titer tes non-treponemal akan berkurang dengan pengobatan yang
adekuat. Ketika seseorang diobati pada tahap primer atau sekunder dari infeksi pertama
dengan T.pallidum, maka setelah pengobatan, dalam waktu 6 bulan titer harus menunjukkan
penurunan 2 kali pengenceran. Pasien yang diobati pada fase laten atau tahap akhir sifilis (late
syphilis) atau terinfeksi lebih dari satu kali akan menunjukkan penurunan titer yang lebih
bertahap. Persisten sero-reaktivitas tidak selalu berarti kegagalan pengobatan. Namun,
peningkatan titer empat kali lipat, biasanya menunjukkan kegagalan pengobatan atau suatu
reinfeksi.
Prinsip pemeriksaan :
Serum penderita dicampur dengan partikel halus antigen cardiolipin-cholesterol-lecithin dan
charcoal akan menghasilkan flokulasi yang dapat dilihat secara makroskopis, jika serum
penderita mengandung antibodi terhadap cardiolipin-cholesterol-lecithin.

Gambar 1. Metode RPR


Prosedur pemeriksaan RPR test :
a. Qualitative Test
1. Letakkan 0,05 ml (50 l) serum didalam lingkaran 18 mm kartu tes RPR.
2. Ratakan spesimen dengan hati-hati agar mengisi seluruh lingkaran dan tidak
melampaui batas lingkaran.
3. Resuspensikan suspensi antigen RPR. Pegang botol dalam posisi vertikal, dan
tambahkan tepat 1 tetes (1/60 ml) suspensi pada setiap area tes yang telah
mengandung serum.
4. Tempatkan kartu pada rotator mekanis dibawah penutup kelembaban.
5. Putar 100 rpm selama 8 menit.
6. Baca reaksi tes dalam keadaan basah di bawah sumber cahaya intensitas tinggi
dengan segera setelah kartu dikeluarkan dari rotator. Baca tes tanpa pembesaran.
Untuk lebih membedakan minimal reaktif dari serum non reaktif, segera setelah
rotasi kartu dimiringkan 300 dan putar sebentar kartu secara manual.
7. Laporkan hasil sebagai berikut :
Reaktif: bila ada penggumpalan dari antigen kartu RPR, mulai yang sedikit

hingga jelas terjadi penggumpalan.


Non reaktif: tidak ada penggumpalan antigen kartu RPR atau hanya

sedikit kekasaran
Catatan: Laporkan hasil tes sebagai reaktif atau non reaktif tanpa memperhatikan
tingkat reaktivitas. Adanya flokulasi atau sedikit flokulasi, harus selalu dilaporkan
sebagai reaktif.

Gambar 2. Hasil tes RPR


7

Hasil tes yang menunjukkan tingkat reaktivitas harus dikuantitasi. Hasil non reaktif yang
kasar, juga harus dikuantitasi untuk mengidentifikasi adanya kemungkinan prozone.
b. Quantitative Test
1. untuk setiap spesimen yang akan dites, letakkan 50 l saline 0,5% ke dalam lingkaran

2 sampai 5. Jangan ratakan saline itu.


2. Dengan menggunakan pipet, letakkan 50 l serum ke dalam lingkaran 1 dan 2
3. Campur saline dan spesimen dalam lingkaran 2 dengan pipet sebanyak delapan kali.
4.
5.
6.
7.

Hindari pembentukan gelembung.


Masukkan 50 l dari lingkaran 2 (1:2) untuk lingkaran 3 (1:4) dan campur.
Masukkan 50 l dari lingkaran 3 (1:4) untuk lingkaran 4 (1:8) dan campur
Masukkan 50 l dari lingkaran 4 (1:8) untuk lingkaran (1:16), campur dan buang 50 l
Dengan menggunakan pengaduk bersih untuk setiap spesimen, sebar dan ratakan
serum, mulai dari pengenceran tertinggi (1:16, lingkaran 5); jangan melebihi batas
lingkaran. Ulangi cara ini menggunakan pengaduk sampling yang sama di lingkaran

4,3,2, dan 1.
8. Resuspend suspensi antigen kartu RPR dalam botol dispensing.
9. Pegang botol suspensi antigen dalam posisi vertikal, keluarkan 1 atau 2 tetes, dan
10.
11.
12.
13.

kemudian teteskan 1 tetes (1/60 ml) suspensi antigen ke dalam masing-masing area tes.
Tempatkan kartu pada rotator dengan penutup kelembaban.
Putar selama 8 menit pada 100 rpm
Baca reaksi tes seperti yang dijelaskan pada langkah 6 dari uji kualitatif (atas)
Laporan hasil reaktivitas pada pengenceran tertinggi, sesuai dengan contoh dalam tabel

1.
14. Jika pengenceran tertinggi tes (1:16) adalah reaktif, lanjutkan sebagai berikut:
a. Siapkan pengenceran 1:50 (2,0%) serum nonreactive di salin 0,9%. (Ini akan
digunakan untuk membuat 1:32 dan pengenceran yang lebih tinggi dari
spesimen yang akan dikuantitas)
b. Siapkan pengenceran 1:16 spesimen yang dites dengan menambahkan 100 l
spesimen pada 1,5 ml larutan saline 0,9%. Aduk rata.
c. Masukkan 50 l dari 1:50 serum nonreactive dilingkaran 2,3,4, dan 5 kartu
RPR.
d. Masukkan 50 l spesimen dengan pengenceran 1:16 ke dalam lingkaran 1 dan
2
e. Dengan menggunakan pipet yang sama, buat dua kali lipat pengenceran serial
dan lakukan seperti langkah 2 sampai 13 tes (kartu RPR kuantitatif).
pengenceran yang lebih tinggi mungkin disiapkan, jika perlu, dengan cara yang
sama.
Catatan: Semua pengenceran dapat dilakukan pada kartu tersebut, jika serum
1:50 nonreactive yang digunakan sebagai pengencer pada lingkaran 6 (1:32).
Tabel 1. Contoh pembacaan hasil dengan pengenceran spesimen.
Reaksi tanpa

Reaksi pada pengenceran serum

Interpretasi

pengenceran (1:1)

1:2

1:4

1:8

1:16

Rm

Reaktif, pengenceran 1:1 or hanya tanpa


pengenceran

Reaktif, pengenceran 1:2

Rm

Reaktif, pengenceran 1:4

Reaktif, pengenceran 1:8

N, non reaktif; R, reaktif; Rm, reaktif minimal.


Interpretasi Hasil Tes Non Treponemal
Interpretasi hasil harus mempertimbangkan daerah dimana tes digunakan. Bila tes non
treponemal digunakan sebagai skrining pada populasi risiko rendah, maka semua hasil reaktif
harus dikonfirmasi dengan tes treponemal. Pada beberapa populasi berisiko rendah, ada
kemungkinan setiap hasil reaktif adalah positif palsu. Pada DFA awal atau mikroskop
lapangan gelap pada sifilis primer, maka pada kunjungan awal sekitar 30% kasus hasil tes
non-treponemalnya non reaktif.
Pada sifilis sekunder, hampir semua pasien titer tes non-treponemal lebih besar dari
1:16. Pasien dengan lesi atipikal dan, atau, titer tes non-treponemal lebih rendah dari 1:16,
harus dilakukan pengulangan tes non-treponemal dan tes treponemal konfirmasi. Pasien
dengan tes non-treponemal dan treponemal yang reaktif, sementara tidak ditemukan gejala
klinis dan riwayat sifilis, diklasifikasikan sebagai sifilis laten.

Jika hasil tes serologis diketahui bahwa non reaktif dalam tahun sebelumnya, maka
pasien dikategorikan sebagai sifilis laten awal. Pasien yang dianggap sebagai sifilis laten
harus dievaluasi, mengingat potensial terjadi neurosifilis asimtomatik. Sekitar 20% dari
penderita dengan sifilis laten menunjukkan hasil tes non-treponemal non reaktif. Hasil reaktif
CSF-VDRL

slide

membantu diagnosis neurosifilis yang simptomatik maupun yang

asimtomatik, namun hasil non reaktif CSF-VDRL tidak menyingkirkan neurosifilis. Hasil
abnormal yang lain, seperti limfosit meningkat per milimeter kubik CSF (5 atau lebih) dan
total protein tinggi (> 45 mg / dL) dalam CSF, mengindikasikan aktivitas penyakit pada sistem
saraf pusat.
Pada kehamilan, hasil reaktif harus dikonfirmasi dengan tes treponemal, dan jika hasil
tes treponemal reaktif, maka pasien harus diobati. Pengobatan juga dilakukan bila sisa titer
non-treponemal pada pengobatan sebelumnya meningkat selama kehamilan. Kenaikan titer
mungkin membingungkan, antara diagnosis reinfeksi atau relaps. Peningkatan titer dapat
dianggap sebagai nonspesifik, jika tersebut di bawah ini:

tidak diketahui riwayat pengobatan sebelumnya dan tidak ada lesi positif
9

tidak ada peningkatan titer empat kali lipat


tidak ada riwayat pajanan seksual saat ini.

Pada sifilis kongenital, tes non-treponemal untuk sifilis mengukur IgG ibu yang ditransfer
secara pasif dan IgM bayi. Jika titer tes non-treponemal bayi lebih tinggi daripada ibu, maka
beberapa dokter menginterpretasikan hasil ini sebagai indikasi adanya sifilis kongenital, tetapi
perlu diingat bahwa tidak semua bayi dengan sifilis kongenital akan memiliki titer yang lebih
tinggi dari ibu.
TREPONEMAL TEST
1. TPHA (Treponema Pallidum Haemagglutination)
TPHA merupakan tes treponemal utama yang digunakan dalam serodiagnosis sifilis.
Pemeriksaan ini mendeteksi antibodi terhadap Treponema Pallidum, sehingga spesifisitasnya
tinggi. Ada dua tipe antibodi yang timbul selama infeksi sifilis. Ig M timbul saat tahap awal
sifilis, sehingga Ig M memiliki sensitivitas yang baik pada sifilis awal, namun menurun pada
penderita dengan infeksi lama. TPHA yang ada di pasaran, biasanya mendeteksi Ig G. Ig G
timbul setelah beberapa minggu dan tetap ada pada semua tahap sifilis.
Deteksi Ig G memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang lebih tinggi untuk mendeteksi sifilis.
Namun, karena timbulnya antibodi memerlukan waktu, maka Ig G menjadi kurang sensitif
pada tahap awal penyakit.

Prinsip TPHA :
Pemeriksaan TPHA ini menggunakan metode indirect haemagglutination untuk deteksi dan
titrasi antibodi spesifik terhadap T. pallidum yang diproduksi setelah terjadi infeksi. Sel darah
merah yang telah dilapisi dengan antigen permukaan T. pallidum ditambahkan pada serum.
Pada serum yang mengandung antibodi terhadap T. pallidum, maka antibodi akan berikatan
dengan antigen yang ada pada sel darah merah, dan menyebabkan aglutinasi.
Pada serum yang tidak mengandung antibodi (non-reaktif), maka tidak ada aglutinasi dan
membentuk compact button pada dasar well.

10

Gambar 4. Prinsip pemeriksaan TPHA

Gambar 5. Hasil pemeriksaan TPHA


TPHA cukup mudah dilakukan, bisa digunakan sebagai skrining test. Selain itu karena TPHA
mendeteksi antibodi spesifik terhadap T. Pallidum, sehingga berguna sebagai tes konfirmasi u
hasil reaktif pada pemeriksaan non-treponemal. Walaupun TPHA tidak dapat digunakan untuk
monitoring terapi, namun bila ada 4 kali peningkatan titer, maka hal ini mengindikasikan
adanya reinfeksi.
Reagen :
1) Test Cell : sel darah merah ayam yang telah dilapisi dengan T. pallidum yang berfungsi
2)
3)
4)
5)

sebagai antigen
Control Cell : sel darah merah ayam yang tidak dilapisi antigen.
Diluent : larutan salin
Kontrol positif : human serum (titer :1280)
Kontrol negatif : human serum (titer : <80)

Prosedur pemeriksaan :
1) Qualitative Assay
a. Pengenceran spesimen (1:20), dilakukan dengan menambahkan 95l diluent
dan 5 l spesimen pada satu sumuran, kemudian dicampur/dihomogenkan.
b. Tes

11

1. Pada sumuran tes dan sumuran kontrol, ditambahkan 25 l spesimen


yang telah diencerkan.
2. Resuspensikan test cell dan control cell.
3. Pada sumuran tes ditambahkan 75 l test cell dan pada sumuran kontrol
ditambahkan 75 l control cells. (sehingga akhir pengenceran spesimen
setelah penambahan cells 1:80), kemudian dicampur/dihomogenkan
4. Inkubasi dalam suhu 15-300C diatas permukaan yang bebas getaran,
selama 45 menit.
5. Baca hasil aglutinasi.
2) Quantitative Assay
a. Pengenceran spesimen (1:20), dilakukan dengan menambahkan 95l diluent
dan 5 l spesimen pada satu sumuran, kemudian dicampur/dihomogenkan.
b. Titrasi
1. Sumuran pertama dibiarkan kosong. Pada sumuran ke-2 sampai ke-8
ditambahkan 25 l diluent.
2. Kemudian pada sumuran pertama ditambahkan 25 l spesimen yang
telah diencerkan.
3. Pada sumuran ke-2 ditambahkan 25 l spesimen yang telah diencerkan
dan kemudian dicampur/dihomogenkan. Selanjutnya dilakukan serial
pengenceran pada sumuran berikutnya, buang kelebihan 25 l pada
sumuran terakhir.
c. Tes
1. Tambahkan 75 l test cell pada tiap sumuran. (akhir pengenceran
spesimen setelah penambahan cell antara 1:80 1: 10.240), campur dan
homogenkan.
2. Inkubasi dalam 15-300C diatas permukaan yang bebas getaran selama
45 menit.
3. Baca hasil aglutinasi.
4. Titer spesimen adalah pengenceran tertinggi yang masih memberikan
hasil positif aglutinasi.
Interpretasi dan validasi pemeriksaan.

1) Spesimen dengan aglutinasi yang kurang dari gambar +/- diatas dilaporkan negatif
2) Spesimen dengan aglutinasi yang lebih kuat dari gambar +/- , dilaporkan positif
dan prosedur tes diulang dengan duplicate.
3) Jika aglutinasi test cell lebih besar daripada control cell, spesimen positif yang
mengandung anti-treponemal antibody perlu pemeriksaan konfirmasi lanjutan.
4) Jika aglutinasi control cell lebih kuat atau sama dengan test cell, maka
lakukan pemeriksaan absorption non spesific reactions.

Prosedur absorption non spesific reactions :

12

1) 10 l spesimen ditambahkan 190 l control cell, campur dan inkubasi selama 30


menit
2) Sentrifus selama 3 menit, 1500 g dan kemudian pada masing-masing sumuran (1 &
2) ditambahkan 25 l supernatan. Selanjutnya tambahkan 75 l test cell pada
sumuran 1 dan 75 l control cell pada sumuran 2.
3) Inkubasi selama 45 menit
4) Baca aglutinasi yang terjadi.
2. TPPA (Treponema Pallidum Particle Agglutination)
TPPA
merupakan pemeriksaan qualitative gelatin particle agglutination untuk
mendeteksi antibodi spesifik terhadap T. pallidum.
Prinsip :
Serum yang mengandung antibodi terhadap treponema bereaksi dengan partikel gel yang
telah disensitisasi dengan sonicated T. pallidum, strain Nichols, untuk membentuk lapisan
halus aglutinasi partikel gel dalam sumuran microplate.
Jika tidak terdapat antibodi, partikel yang tidak mengalami aglutinasi akan turun ke bagian
bawah sumuran, membentuk suatu compact buttom.
Pemeriksaan TPPA ini digunakan sebagai tes konfirmasi untuk hasil positif nontreponemal dan tes diagnostik hasil negatif non-treponemal namun gejala menunjukkan
adanya late syphilis.
TPPA menggunakan antigen treponema yang sama dengan TPHA, namun pada TPPA
adanya partikel gelatin akan menghilangkan reaksi non spesifik.
Reagen :
1) Reconstituting solution digunakan untuk rekontitusi sensitized particle dan
unsensitized particle.
2) Sample diluent, digunakan untuk mengencerkan spesimen
3) Sensitized particle, merupakan lyophilized dari colored gelatin particle yang telah
disensitisasi dengan antigen Treponema Pallidum.
4) Unsensitized particle, merupakan lyophilized dari colored gelatin particle
5) Kontrol positif : cairan serum yang mengandung antibodi rabbit terhadap T.
pallidum dengan titer 1 : 320 1 pengenceran.
6) Kontrol negatif.
Prosedur pemeriksaan :
Pada setiap pemeriksaan sampel maupun kontrol, dibutuhkan 4 sumuran.Sumuran 1 dan 2
untuk pengenceran sampel/kontrol, sumuran 3 untuk unsensitized particles dan sumuran 4
untuk sensitized particle. Pemeriksaan kontrol positif dan negatif harus dilakukan pada
setiap pemeriksaan sampel.
1) Teteskan 4 tetes (100 l) sample diluent pada sumuran 1 dan 1 tetes (25 l) pada
sumuran 2 sampai dengan 4, dengan menggunakan calibrated pipette dropper.
2) Tambahkan 25 l spesimen penderita atau kontrol positif atau kontrol negatif pada
sumuran 1, dengan menggunakan micropipette.
3) Campur/homogenkan sumuran 1, kemudian transfer 25 l larutan pada sumuran 1
kedalam sumuran ke 2. Homogenkan sumuran 2, dan transfer 25 l larutan pada
sumuran 2 kedalam sumuran 3. Homogenkan sumuran 3, dan transfer 25 l

13

larutan pada sumuran 3 kedalam sumuran 4. Homogenkan sumuran 4, dan buang


25 l larutan dari sumuran 4.
4) Teteskan 1 tetes (25 l) unsensitized particle pada sumuran 3 dan 1 tetes (25 l)
sensitized particle pada sumuran 4, dengan menggunakan penetes yang telah
disediakan didalam kit.
5) Campur/homogenkan isi sumuran dengan menggunakan plate mixer (automatic
vibratory shaker), selama 30 detik. Kemudian tutup plate dengan plate kosong atau
penutup microplate dan letakkan pada suhu ruang (15-300C) selama 2 jam,
kemudian baca hasil.
Tabel 2. Langkah pemeriksaan TPPA
Sumuran
1
2
3
Sample diluent (l)
100
25
25
Spesimen (l)
25 )
25 )
25 )
Pengenceran spesimen
1: 5
1: 10
1: 20
Unsensitized particles (l)
25
Sensitized particles (l)
Akhir pengenceran
1:40
Campur, tutup plate dan inkubasi selama 2 jam
Interpretasi hasil

4
25
25 )
1: 40
25
1:80

Gambar 6. Microplate TPPA dan agglutination pattern


3. EIA (Enzyme Immunoassay)
EIA (Enzyme Immunoassay) yang sebagai enzyme linked immunosorbent assay
(ELISA) sejak pertengahan tahun 1990 mulai dikembangkan untuk serodiagnosis sifilis.
Keuntungan menggunakan metode EIA ini antara lain, lebih terstandarisasi, lebih cepat
dan memungkinkan untuk tes skrining dengan jumlah sampel yang banyak. Metode EIA
terbaru untuk diagnosis sifilis menggunakan antigen rekombinan untuk mendeteksi
antibodi spesifik IgM, IgG dan IgA terhadap T. pallidum. Sehingga pemeriksaan ini dapat
efektif untuk mendiagnosis semua tahap sifilis, kecuali pada sifilis primer yang sangat
awal. Namun, yang perlu dipikirkan , EIA ini merupakan tes treponemal, sehingga dapat
memberikan hasil positif seumur hidup pada penderita sifilis, meskipun telah mendapat
terapi yang adekuat.
14

Sebagian besar EIA sifilis menggunakan metode qualitative sandwich


immunoassay. Pada pemeriksaan ini memakai microtiter plate dengan 96
sumuran dan dilapisi dengan antigen rekombinan T. pallidum yang sangat
spesifik. Antigen rekombinan yang biasa digunakan adalah TpN15, TpN16,
TpN17, dan TpN47.

Prinsip EIA :
Antigen rekombinan T. pallidum dilapiskan pada microwell. Undiluted serum atau
plasma ditambahkan kedalam sumuran dan diinkubasi. Jika sampel mengandung
antibodi spesifik terhadap T. pallidum maka akan berikatan dengan antigen yang ada
dalam sumuran. Ikatan antibodi dengan T. pallidum selanjutnya diinkubasi dengan
reagen konjugat. Selanjutnya ditambahkan subtrat TMB dan intensitas warna yang
terjadi diukur secara spektrofotometri.
Prosedur pemeriksaan EIA :
1) Tambahkan 50 l undiluted sampel atau kontrol
2) Inkubasi selama 30 menit pada 370C
3) Cuci sebanyak 5 kali
4) Tambahkan 50 l diluted conjugate pada tiap sumuran
5) Inkubasi selama 30 menit pada 370C
6) Cuci sebanyak 5 kali
7) Tambahkan 50 l substrat pada tiap sumuran
8) Inkubasi pada suhu ruang selama 30 menit
9) Tambahkan 50 l stop solution pada tiap sumuran
10) Baca hasil OD pada 450 nm
11) OD cut-off = negatif, OD cut-off = positif.

15

Pemeriksaan dengan EIA ini mempunyai sensitivitas yang tinggi pada sifilis primer,
namun sensitivitasnya menurun seiring perkembangan penyakit. Spesifisitas EIA sama
dengan tes treponemal yang lain. Pemeriksaan ini terutama berguna untuk diagnosis sifilis
kongenital, untuk melihat adanya Ig M. Sensitivitas dan spesifisitas masing-masing 99%
dan 98%.
Prosedur umum EIA sifilis :
1. Kontrol dan sampel ditambahkan pada sumuran dan diinkubasi selama 30 menit. Jika
sampel mengandung antibodi terhadap T. pallidum, maka akan berikatan dengan antigen
yang dilapiskan dalam sumuran.
2. Dilakukan pencucian dengan larutan buffer untuk menghilangkan komponen yang tidak
terikat.
3. Kemudian ditambahkan enzim biasanya peroksidase yang dikonjugat dengan anti-human
antibody dan diinkubasi 30 menit. Selanjutnya dilakukan pencucian lagi.
4. Dilakukan penambahan subtrat TMB (3,3,, 5,5, tetramethyl benzidine) dan diinkubasi
selama 10 menit maka akan terjadi warna biru.
5. Penambahan stop solution larutan asam sulfat 1 M yang akan mengubah warna biru
menjadi warna kuning. Intensitas warna diukur secara spektrofotometri dengan microelisa
reader pada panjang gelombang 450 nm.
4. FTA-ABS (Fluorecent Treponema Antibody Absorbed Assay)
Pemeriksaan FTA-ABS merupakan indirect fluorescent antibody test, digunakan sebagai
tes konfirmasi sifilis. FTA-ABS mempunyai sensitivitas dan spesifisitas tinggi, namun tes
ini memerlukan waktu yang lama. Tes ini biasanya positif sebelum tes reagin positif. Pada
secondary dan latent syphilis, biasanya 100% reaktif. Sekali penderita reaktif, maka

16

seumur hidup tes ini akan positif. Meskipun lebih sedikit menimbulkan positif palsu
dibandingkan dengan tes reagin, hasil reaktif bisa terjadi pada penyakit treponema lain,
seperti yaws dan pinta.
Penggunaan klinis tes serologi sifilis
Sebagaimana telah dijelaskan diatas, tes serologi sifilis terdiri dari 2 kelompok, yaitu tes nontreponemal (VDRL/RPR) dan tes treponemal (TPHA, TPPA, EIA syphilis, dan FTA-Abs).
Gambar dibawah ini menunjukkan hubungan kadar antibodi yang diperiksa pada berbagai
pemeriksaan serologi sifilis dengan waktu.

Gambar 7. Hubungan antara kadar antibodi dengan waktu


Kekurangan VDRL/RPR antara lain kurang sensitif pada early primary syphilis dan late
syphilis, serta adanya kemungkinan biological false positive reaction misalnya pada penyakit
autoimun. Namun, VDRL/RPR sangat berguna untuk monitoring terapi.

Tabel 3. Sensitivitas beberapa tes serologi sifilis.


Sensitivitas (%)
Primary

Secondary

Latent

Late

VDRL

78

100

95

71 (37-94)

RPR

86

100

98

73

TPHA

76

100

97

94

FTA-ABS

84

100

100

96

Tes

17

Algoritma tes serologi sifilis


Algoritma lama tes sifilis dimulai dengan tes non-treponemal. Tidak ada pemeriksaan
lanjutan untuk hasil tes non-treponemal yang non reaktif, sedangkan pada hasil reaktif harus
dilanjutkan dengan kuantitasi titer tes non-treponemal dan tes konfirmasi dengan tes
treponemal. (gambar dibawah ini).

Gambar 8. Algoritma tradisional untuk pemeriksaan sifilis


Pada algoritma terbaru, diawali dengan tes treponemal, yaitu EIA treponemal. Hal ini
dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa EIA dapat dilakukan secara automatik, sehingga jika
jumlah tes banyak, maka secara ekonomi lebih efisien dengan tes treponemal daripada tes
non-treponemal. Dibawah ini algoritma baru tes sifilis.

18

Gambar 10. Algoritma tes skrining dan konfirmasi untuk diagnosis sifilis

Penggunaan algoritma baru untuk tes sifilis akan meningkatkan diagnosis, dan penanganan
penderita sifilis.

19

CMV

BAKTERIAL

VAGINOSIS

Kriteria diagnosis Amsel


1. pH vagina
-

menggunakan kertas pH

Cotton swab diletakkan pada dinding vagina antara introitus vagina


dan servik,

swab diletakkan pada kertas pH. pH vagina normal 4,0.

Jangan menggunakan cairan vagina yang terkumpul di forniks


posterior karena pH nya dapat meningkat karena adanya mukus
servik.

pH > 4,5 terjadi pada 97% wanita dengan Bakterial vaginosis (BV)
dan juga trikomoniasis.

Darah dan semen yang


meningkatkan pH vagina.

terkumpul

di

vagina

juga

dapat

2. Sekret vagina
-

sekret yang berbau amis,

berwarna putih keabu-abuan,

homogen dan encer.

jumlah dan warnanya bervariasi antar pasien

3. Whiff test dengan KOH 10% menimbulkan bau amis

20

4. Adanya clue cell pada sedian basah

CARA NUGENT

PENGECATAN GRAM

Prinsip pengecatan Gram berdasar kemampuan dinding sel bakteri menahan cat
Kristal violet saat proses pelunturan.

3 tahapan proses pewarnaan

Pewarnaan oleh cat primer

Pelunturan oleh etanol dan aseton

Pewarnaan oleh bahan cat sekunder ( Counterstain )

Bakteri Gram positif


21

Lapisan peptidoglikan tebal

Menahan cat kristal violet selama proses pelunturan

Bakteri Gram negatif

Lapisan peptidoglikan tipis

Tidak mampu menahan kristal violet selama proses pelunturan

Lapisan lipopolisakarida ( LPS ) patogenitas bakteri

22

Perkecualian
Kuman Gram positif kehilangan kemampuan menahan kristal violet
,tampak sebagai Gram negatif pada :
1. Kerusakan dinding sel o.k terapi antibiotika atau peamanasan terlalu lama.
2. Pelunturan yang berlebihan
3. Pemakaian iodine yang terlalu tua.
4. Sediaan dibuat dari kultur yg sudah tua

23

Kadang bakteri Gram negatif terlihat sebagai Gram positif : pada


dekolorisasi tidak sempurna karena sediaan terlalu tebal

Gram Positif
Staphylococcus

Gram Negatif
Neisseria

Klebsiella

Streptococcus

Haemophilus

Coliforms

Clostridium

Salmonella

Brucella

Shigella

Yersinea

Corynebacterium

Vibrio

Diplococcus gram negative


Neisseria

Diplococcus Gram positive (al. Streptococcus pneumonia)

24

Treponema pallidum is a Gram-negative bacteria which is spiral in


shape

25

Treponema pallidum

Staphilococcus aureus

26

Corynebacterium diphteri

E. coli

Pemeriksaan Nonne-Pandy
-Merupakan bed side test
-Lakukan pungsi LCS
I. Pemeriksaan Nonne-Pandy
Test Nonne ( Nonne-Apelt atau test Ross-Jones),
Reagen : larutan jenuh ammonium sulfat (ammonium sulfat 80 gr : aquadest 100 ml : saring
sebelum memakainya).
Tujuan : menguji kadar globulin dalam cairan otak.
Cara :
1. Taruhlah 1 ml reagens Nonne (ammonium sulfat ) dalam tabung kecil (diameter 7
mm).
2. masukkan LCS sama banyaknya ke dalam tabung itu,
3. Akan terjadi pemisahan kedua cairan tsb.
3. Inkubasi 3 menit, kemudian selidikilah perbatasan kedua cairan itu.
Catatan :
Normal : negative, artinya : tidak terjadi kekeruhan pada perbatasan.

27

Semakin tinggi kadar globulin semakin tebal cincin keruh yang terjadi. Tes ini lebih
bermakna dari test Pandy
II. Test Pandy
Reagen : larutan jenuh fenol dalam air (phenolum liquefactum 10 ml : aquadest 90 ml).
Bereaksi dengan globulin dan albumin.
Cara :
1. Sediakanlah 1 ml reagen Pandy dalam tabung serologi yang kecil bergaris tengah 7 mm.
2. Tambahkan 1 tetes LCS tanpa sedimen.
3. Segeralah baca hasil test itu dengan melihat derajat kekeruhan yang terjadi.
Catatan :
Normal : Negatif (tidak terjadi kekeruhan atau kekeruhan ringan berupa kabut halus).
Semakin tinggi kadar protein, semakin keruh hasil reaksi ini.
Catatan: reagen hrs di simpan pd suhu 37oC dan sering dikocok.

Tekanan

50 180 cmH2O

: tumor, edema

warna

Jernih

Xantokrom(kuning) : darah lama atau prote

Keruh : infeksi (bakteri,protein, lekosit)


Sel WBC
Sel Eritrosit
Glukosa

Mikroorganisme

0 5 WBC/ul
(-)
40 -70 mg/dl atau 2/3 glukosa
darah
(-)

>5 = infeksi, infark, sklerosis multipel


>> perdarahan, trauma LP

: meningitis bakteri, gangguan ssp berat

meningitis bakteri

Stomatosit

Benda-Inklusi (bentukan dlm eritrosit)


eritrosit:

28

Howell-Jolly bodies :
merupakan sisa DNA, ditemukan pada setelah splenektomi (atau fungsi spleen
terganggu)

Heinz bodies: (inclusions seen only on staining


with violet crystal): Heinz bodies represent denatured Hgb and are found in glucose6-phosphate dehydrogenase after oxidative stress

Basophilic stippling : Basophilic stippling arises


from precipitated RNA found in lead poisoning and thalassemia.

29

Target Cells (cells with extra hemoglobin in the


center surrounded by a rim of pallor; bulls eye appearance): Target cells are due to
an increase in the ratio of cell membrane surface area to Hgb volume within the cell.
They have a central spot of Hgb surrounded by a ring of pallor from the redundancy
in the cell membrane. They are found in liver disease, post splenectomy, and in
hemoglobinopathies.

Benda Inklusi Lekosit:

Granula Toksik
Granula yg kasar, gelap, sering disebabkan infeksi berat.

Vakuola
Sering akibat infeksi bakteri, dan jika dijumpai bersamaan dgn granula toksik
menunjukkan tanda degenerasi netrofil.

30

Dohle bodies
Merupakan inklusi oval, kebiruan dan berasal dr RNA. Sering ditemukan pada infeksi
berat, terapi khemotrapi, sindroma Chediak-Higashi

Benda inklusi patologik berbentuk spt benang merah yg merupakan agregat


lisosom. Dijumpai pada sel blast deret Myeloid (tersering AML, AMoL). Seri
Lymphoid tidak mungkin dijumpai Auer Rod.

Monoblast

31

Ukuran: 15 - 25 m, Bentuk: oval, kadang-kadang bulat


Warna sitoplasma: biru, biasanya muda
Granularitas: tanpa granul, atau sedikit granul halus azurofilik
Bentuk inti: oval, bulat, kadang-kadang tidak teratur
Tipe kromatin: kromatin kasar atau berkelompok
Rasio inti/sitoplasma: tinggi
Nukleolus: tampak, ukuran sedang atau besar, lebih terang dari kromatin, 1 - 3.
sumsum tulang: < 1 %

Monobla

Limphoblast

32

Ukuran: 12 - 18 m, Bentuk: bulat, kadang-kadang oval


Warna sitoplasma: biru, biasanya gelap
Granularitas: tidak ada
Bentuk inti: bulat
Tipe kromatin: homogen
Rasio inti/sitoplasma: tinggi
Nukleolus: terlihat, ukuran kecil atau sedang,lebih terang daripada kromatin, 1 - 2.
sumsum tulang: < 1 %

Telur Ascaris lumbricoides

33

Unfertilized & fertilized


eggs (left & right,
respectively).

Unfertilized egg with no


outer mammillated layer

Fertilized Ascaris egg

Fertilized egg. The


embryo can be
distinguished inside
the egg.

Unfertilized egg. Prominent


mammillations of outer layer

34

Telur Trichuris trichuiria

Ancylostoma duodenale (cacing tambang)

ciri: dinding tipis, didalam telor sering dijumpai larva, ukuran 60x40
mikron

Wuchereria bancrofti

35

Menyebabkan filariasis bankrofti

Trichomonas Vaginalis

36

Kristal Asam Urat

Kristal Triple

Phospate

37

Urinary crystals.
(A) Calcium oxalate crystals
(arrows; 100 X);

(B) uric acid crystals (100 X);


(C) triple phosphate crystals
with amorphous phosphates
(400 X);
B

(D) cystine crystals (100 X)

Cast Cellular

38

A: Hyaline cast; B: Fatty cast; C: Hyaline to finely granular cast; D: Cellular cast; E: Cellular
to coarsely granular cast;

39

Platelet Satelitsm
Trombosit menempel pada sel PMN Leukosit yang dapat dilihat pada darah
dengan antikoagulan EDTA. Platelet satellism tidak menempel pada limfosit,
eosinofil, basofil, monosit. Trombosit diikat oleh suatu penginduksi (obat, dll.)
sebagai antigen sehingga dikenali oleh sel PMN leukosit yang mengandung
antibody sehingga terjadi adhesi trombosit pada PMN leukosit.

Cabot Ring

40

Malaria

Bentuk ring std


trofozoit : = 1/6 RBC,
ada 2 kromatin,

Bentuk spt
pisang,
sitoplasma biru,
inti padat wrn
merah, pigmen di

41

Stages of P. falciparum in thin BSE.


1: Normal RBC; 2-18: Trophozoites
(among these, 2-10 correspond to ring-stage trophozoites); 19-26: Schizonts
(26 is a ruptured schizont); 27,28: Mature macrogametocytes (female);
29,30: Mature microgametocytes (male).

LE Cell

42

Plasma Cell

43

Myeloblast

Ukuran sel: 15 - 25 m

Bentuk sel: oval, kadang-kadang bulat, Warna sitoplasma: biru, tanpa halo
perinuklear jelas atau dengan halo dengan halo perinuklear melebar

Granularitas: sitoplasma nongranular atau sedikit granula azurofilik

Bentuk inti: biasanya oval, kadang-kadang tidak teratur, jarang bulat

Tipe kromatin: halus, dengan tampilan retikular

rasio inti/sitoplasma: tinggi atau realtif tinggi

Nukleolus: tampak, ukuran sedang atau besar 1 sampai 4; lebih terang dari
kromatin

Keberadaan: sumsum tulang: < 5%

Promyelocyte

Ukuran sel: 15 - 30 m, Bentuk sel: oval atau bulat

Warna sitoplasma: biru muda, dengan halo jelas, Granularitas: pekat, azurofilik
banyak

44

Bentuk inti: oval, Ratio inti/sitoplasma: sedang, rendah atau sangat rendah

Nukleolus: tampak,ukuran sedang atau besar ,lebih terang dari kromatin, 1-2.
Kadang-kadang tak terlihat

sumsum tulang: < 5 %

Myelocyte

Ukuran sel: 15 - 25 m, Bentuk sel: oval atau bulat

Warna sitoplasma: biru muda atau merah jambu. halo terlihat

Granularitas: banyak, azurofilik pekat dan granulasi neutrofil

Tipe kromatin: memadat sebagian

Ratio inti/sitoplasma: rendah atau sangat rendah

Nukleolus: tidak terlihat

sumsum tulang: 5 - 20 %

Levey-Jeanning, Replicate test


Satu bahan control diperiksa berulang-ulang, biasanya untuk menentukan internal
quality control Levey-Jeanning
-

Tentukan rerata dari semua pemeriksaan replicate

Hitung SD =

X=hasil pemeriksaan

n = jumlah pemeriksaan

- CV = SD/X x 100%

45

Contoh ada 5 kali pemeriksaan thp serum yg sama dgn hasil 3, 4, 6, 2, 4, .


Hasil pemeriksaan

(X -

(X -

-0,8

3,24

0,2

0,04

13

2,2

4,84

15

-1,8

3,24

19

0,2

0,04

= 19/5 = 3,8

SD =

= 0,84

)2

11,4

CV = 0,84/5 x100% = 16,8%

Westgard Role:

Setelah kita membuat grafik Levey-Jenning, maka aturan penggunaannya akan mengikuti
Westgard role:
1.
2.
3.
4.
5.

Hasil masuk dalam 2 SD


in control, accept run
(I 2s)
Hasil keluar dari 3 SD
Reject run
(I 3s)
2 nilai control berturut-turut diluar 2 SD pd sisi yg sama Reject run
(2 2s)
2 dari 3 nilai berturut-turut diluar 2 SD
Reject run
Rentang antar 2 kontrol berturut2 diluar 2 SD pd sisi yg berlawanan reject run (R
4S)
6. 4 nilai control berturut-turut diluar 1 SD pd sis yg sama Reject run
(4-1s)
7. 10 nilai control berurutan berada pd sisi yg sama dr nilai rerata Reject run
(10x)

Rumus pada pemeriksaan HDT


Koreksi Lekosit terhadap Normoblast (eri berinti) =
x lekosit
Hitung Lekosit Indirek :
FN 18 = 10 35/lpk ( jumlah lekosit normal) atau dengan rumus :

46

Perkiraan lekosit = Jumlah lekosit/lpk x 300


FN 22 = 22 50/lpk ( jumlah lekosit normal) atau dengan rumus :
Perkiraan lekosit = Jumlah lekosit/lpk x 200

Perkiraan jumlah trombosit cara indirek:


FN 18 = 8 25/lpb atau tr dlm 18 lap. Pandang x 1000
FN 22 = 13 40/lpb atau tr dlm 11 lap. Pandang x 1000

Pewarnaan BTA (Ziehl-Neelsen)

Berdasarkan skala IUAT (International Union Agains Tuberculosis) untuk


menilai M. tubercolosis adalah sbb :
Tidak ada BTA per 100 lp (lapangan pandang) negatif
19

BTA per 100 lp meragukan (catat jumlah kuman)

10 99 BTA per 100 lp 1+


1 10

BTA per 1 lp

2+

> 10

BTA per 1 lp

3+

Kalo pembesaran 100 lp berarti mikroskop obyektif adalah 100 .


BGA (Blood Gas Analisis)
Nilai normal Blood Gas 9
Arteri

Vena campuran

Vena

7,40

7,36

7,36

( 7,37 - 7,44 )

( 7,31 7,41 )

( 7,31 7,41 )

PaO2

80 - 100

35 - 40

30 - 50

pCO2

35 - 45

41 - 51

40 - 52

pH

47

Saturasi O2

> 95

KELAINAN PRIMER

KOMPENSASI

Asidosis metabolik

pCO2

Alkalosis metabolik

pCO2

HCO3

22 - 26

Base exsess
[ HCO3 ]

-2 -+2

[ HCO3 ]

60 - 85

KOMPENSASI YANG DIHARAPKAN

22 - 26
22 - 28
pCO2 = 1,5 x [ HCO3 ] + 8 2
-2 -+2
-2 -+2

Peningkatan pCO2 0,5 1 mmHg setiap

[HCO3] 1 mmol/L

Asidosis respiratorik

[HCO3]

pCO2

Akut : 1 mmol/l [HCO3] /


mmHg pCO2 diatas 40

10

Kronis : 4 mmol/l [HCO3] / 10


mmHg diatas 40

Alkalosis respiratorik

1.
atau
dan
pH

60 - 80

pCO2

[HCO3]

Akut : 2 mmol/l [HCO3]/ 10 mmHg


dibawah 40
Kronik : 5 7 mmol/l [HCO3] / 10
mmHg pCO2 dibawah 40

Interpretasi
Tentukan
asidemia
alkalemia
pengukuran
atau [ H + ]

- Asidemia = pH < 7,35 atau [ H + ] > 44 nmol/L


- Alkalemia = pH > 7,45 atau [ H + ] < 36 nmol/L
2. Tentukan penyebab asidemia dan alkalemia. Asidemia menunjukkan adanya asidosis
dan alkalemia menunjukkan adanya alkalosis. Dengan merujuk pCO2 dan kadar
HCO3 tentukan penyebab primernya respiratorik atau metabolik.
Asidosis Normal
Alkalosis
pH

< 7,35

>7,45

pCO2

> 45

< 35

[HCO3] :

< 22

> 26

3. Tentukan apakah sudah terjadi kompensasi dengan menggunakan rumus

48

Penting untuk intrepetasi akurat nilai BGA

Langkah 1 : tentukan ph

Langkah 2 : periksa pCO2

Langkah 3 : tentukan nilai HCO3

Langkah 4: bila pCO2 dan HCO3 abnormal tetapkan mana yang lebih
dominan penyimpangannya

Langkah 5: Periksa pCO2 , saturasi oksigen

Tentukan pH :

Normal 7,4 (7,34-7,45)

Ph menyimpang

ph > 7,4 alkalosis

Ph< 7,4 asidosis

Ph kritis : <7,20- > 7.55

Ph lethal : < 7 - > 7,7?

Periksa pCO2

Normal 40 mmHg(35-45)

Seberapa banyak penyimpangannya

Kearah mana penyimpangannya, apakah cocok dg arah perub ph

pCO2 harus bergerak berlawanan mis. pCO2 meningkat ph harus


turun(asidosis) pCO2 menurun pH harus naik (alkalosis)

Tentukan HCO3

Normal 24 meq/l(22-26)

Menyimpang atau tidak

Derajad penyimpangan dan arah penyimpangan

Perub HCO3 bersamaan dg pH ?

HCO3 dan pHbergerak pd arah yg sama HCO3 turun ph harus turun; HCO3
naik ph harus naik

Bila pCO2 dan HCO3 abnormal tentukan

49

Tetapkan mana yang lebih berhub dg pH

Mana yg lebih menyimpang dari titik normal bertgg jwb pd pH

Mis ph asidosis , mana yg dominan bertg jawab pd ph pCO2 naik; atau


HCO3 turun

Bila ggn camp metabolik respiratorik maka ada kompensasi dg HCO3 dan
pCO2 abnormal.

Periksa pCO2 dan saturasi O2.

pO2 : 95mmHg(80-100)

Saturasi O2 95-99%

BE (-2 - +2)

Untuk menentukan pCO2 menurun, N, naik

Penurunan pO2 dan saturasi O2 menimbulkan laktat asidosis dan


menandakan perlu O2 konsentrat

pO2 tinggi perlu diturunkan konsent O2 yg diberikan

Rangkuman Gangguan Asam Basa


DISORDER

pH

PRIMER

RESPON
KOMPENSASI

ASIDOSIS
METABOLIK

HCO3-

pCO2

ALKALOSIS
METABOLIK

HCO3-

pCO2

ASIDOSIS

RESPIRATORI

pCO2

HCO3-

ALKALOSIS
RESPIRATORI

pCO2

HCO3-

Contoh Kasus BGA....

BGA : pH : 7,38 pCO2 : 41,4 mmHg.

pO2 : 49,2 mmHg.

HCO3 : 23,9 mmHg.

BE : - 1,4.

Sat O2 : 84,1 %.

Bardasarkan kasus , sebagai tolok ukur nilai BGA normal :

Ph : 7,4 ( 7,35-7,45)

pCO2 : 40 mmHg(35-45)

50

pO2: 95 mmHg (80-100mmHg)

Saturasi: 95-99

BE : -2 - +2

HCO3 : 24 mmHg(22-26 mmHg)

Didapatkan data adalah :

pH

7,8

7,4(7,357,45)

0,4

asidosis

pCO2

41,4

40(35-45)

1,4 naik

respiratori
k

pO2

49,2

95(80-100)

45

kurang

HCO3

23,9

24(22-26)

0,1turun

BE

-1,4

-2 - +2

-0,4

Sa O2

84,1

95-99%

11

menurun

Hasil diskusi .

Jenis ggn as- basa

Penyebab hipoksia: ggl napas, retensi sputum, pnemonia, efusi plera,


geriatri

Usul evaluasi BGA

Ggn ventilasi : pCO2 naik- pH turun

Ggn as bs campuran ; as resp dan as metabolik

Penjelasan tentang unsur-unsur BGA

PaCO2 adalah tekanan yang ditimbulkan oleh CO2


yang terlarut dalah darah.

PaCO2 merupakan parameter fungsi respirasi

Dapat digunakan untuk menentukan cukup tidaknya


ventilasi alveolar.

PaCO2 normal berarti ventilasi alveolar normal

TCO2 : jumlah CO2 total yang terdapat dalam plasma


asam karbonat, bikarbonat dan senyawa karbamino.

Perbandingan bikarbonat : asam karbonat adalah 20 : 1


maka TCO2 ini juga dapat digunakan sebagai

51

petunjuk klinik gangguan asam basa,

memperkirakan kelebihan atau kekurangan basa

BB (Buffer Base) adalah :


menggambarkan jumlah semua konsentrasi dapar anion yang terdapat di
dalam darah

Nilai rentang antara 45 50 mEq/l


Perubahan B.B menunjukkan gangguan metabolik pd keseimbangan
asam- basa.
Base Ekses (BE) adalah :

Menggambarkan secara tidak langsung jumlah kelebihan basa kuat atau


kekurangan basa.

Nilai rentang 0 + 2,5 mEq/l pada pH 7,40 dan PaCO2 40 mmHg

PO2 : tekanan yang ditimbulkan oleh O2 yang larut dalam darah.

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menilai PaO2 :


1. Umur.
2. Posisi
3. Konsentrasi oksigen inspirasi (FiO2)
4. Ventilasi alveolar
AADO2 adalah :

Merupakan gambaran pintas fisiologis didalam paru


alveoli yang mengalami perfusi tapi tidak mengalami ventilasi.

Nilai normal A-ADO2 pada udara kamar 5 25 mmHg

Saturasi O2 adalah :

Saturasi oksigen setara dengan kandungan O2 (dikurangi O2 terlarut)


dibagi dengan kapasitas oksigen (dikurangi O2 terlarut).

Persentasi saturasi dari Hb dengan O2 membantu menghitung banyaknya


O2 total di dalam darah

Langkah langkah interpretasi BGA:


1.Tentukan asidosis atau alkalosis
Asidosis : kadar ion H+ dalam darah atau pH / <7,35
Alkalosis : kadar ion H+ dalam darah atau pH / > 7,45
2. Tentukan penyebab primer respiratorik atau metabolik
Asidosis respiratorik : karena hipoventilasi pCO2 :
- kelainan paru (obstruksi paru kronis)

52

- depresi pernafasan, kelainan dinding dada


Asidosis metabolik
- Oksidasi lemak tidak sempurna ( asidosis diabetes, kelaparan)
- Oksidasi KH tidak sempurna ( asidosis laktat )
Alkalosis respiratorik : karena hiperventilasi pCO2
- perangsangan SSP misal emosi
- sepsis, hipertiroid
Alkalosis metabolik :
- muntah-muntah, penggunaan antasida berlebihan
- efek aldosteron / steroid
- infus bikarbonat berlebihan
3. Tentukan apakah sudah ada kompensasi
Baca pCO2 atau HCO3
Bila menyimpang searah pH penyebab primer
Bila menyimpang kearah berlawanan pH ada kompensasi
MEKANISME KOMPENSASI KESEIMBANGAN ASAM BASA

Asidosis metabolik pH stimulasi pernafasan pCO2 pH


( Alkalosis respiratorik )

Alkalosis metabolik pH depresi pernafasan pCO2 pH ( asidosis


respiratorik )

Asidosis respiratorik pH reabsorbsi HCO3 di ginjal HCO3 darah


pH ( alkalosis metabolik )

Alkalosis respiratorik pH reabsorbsi HCO3 di ginjal HCO3 pH


( asidosis metabolik )
Interpretasi BGA :
Jenis gangguan

pH

pCO2

HCO3

B.E

Asidosis respiratorik
-

Tidak kompensasi

Kompensasi
sebagian

53

-tidak kompensasi

-kompensasi sebagian

-kompensasi sempurna

Jenis gangguan

pH

pCO2

HCO
3

B.E

-tidak kompensasi

-kompensasi sebagian

-kompensasi sempurna

Kompensasi
sempurna

Alkalosis
respiratorik
-tidak kompensasi
-kompensasi sebagian
-kompensasi sempurna
Asidosis metabolik

Alkalosis metabolik

Grafik hub. pH, P CO2 dan HCO3

54

55

KALKULASI KOREKSI ASIDOSIS METABOLIK BERDASAR B.E


Asidosis metabolik yang berat base excess minus
( defisit basa ) harus segera dikoreksi dengan rumus :BB x (-BE) = mEq total
base deficit
3
-

BB/3= perkiraan volume cairan ekstrasel

(-BE)= defisit basa

Total base deficit

Koreksi tidak perlu seluruh total base deficit, cukup ( half correction )
pemberian 1 mEq bikarbonat akan diikuti pembentukan 1 mEq bikarbonat
oleh tubuh

= volume cairan ekstrasel x (-BE)

Proses pengecatan Wright :


1. Letakkan preparat apusan sumsum tulang yang sudah kering diatas rak
pengecatan .
2. fiksasi dengan methanol biarkan kering
3. tetesi cat Wrights biarkan selama 4 menit
4. tanpa membuang cat tetesi buffer sejumlah yang sama, cmapur dengan
menggoyang preparat, akan terlihat atas cat berwarna biru metalik. Biarkan
selama 7 menit
5. Cuci dibawah air mengalir
6. hapus sisa cat dibalik objek glass biarkan kering pada suhu udara
HASIL PENGECATAN
-. Eritrosit

: merah muda sampai orange

-. Inti limfosit dan netrofil

: ungu tua

-. Inti monosit

: ungu terang

-. Granula eosinofil

: orange

-. Granula basofil

: biru gelap

56

-. Sitoplasma monosit

: abu abu sampai biru dengan


granula kemerahan

-. Sitoplasma netrofil

: merah muda dengan granula


biru keunguan

-. Sitoplasma limfosit

: kebiruan

Seleksi dalam pengecatan sitokimia menurut klasifikasi FAB sebagai berikut :

KlasifikasiFAB

SBB

MPO

PAS

NASDCA

()NA(7,6)

Acid PO4

M1 Mielogenous

M2 Mielogenous

++

++

M4 Mielomonositik

+/-

+/-

+/-

++

M5 Monositik

+/-

+/-

++

M6 Eritrositik

+++

M7 Megakaryositik

(+)

+++

L1 atau L2 (TALL)

+/-

(++)

PROSEDUR pengecatan PAS


1. Fiksasi preparat darah atau BMP yang sudah kering dengan methanol selama 10
menit
2. Bilas dibawah air mengalir selama 15 menit
3. Masukan preparat dalam Coplin jar yang berisi 1% periodic acid selama 10 menit
4. Masukkan dalam coplin jar berisi Schiffs Leukobasic Fuchsin selama 30 menit dalam
suhu kamar dan gelap.
5. Bilas 3 kali dalam rinsing sol.
6. Bilas dibawah air mengalir selama 5 menit.
7. Masukkan kedalam coplin jar berisi Hematoxylin selama 15 menit
8. Bilas dibawah air mengalir dan biarkan kering pada udara.
9. Diperiksa dibawah minyak emersi objektif 100X, pengecatan positif pada polysakarid,
mukoprotein, glukoprotein,akan terlihat berwarna ungu kemerahan.
PERSIAPAN UJI SILANG SERASI

SERUM PASIEN : jernih bebas dari sel darah merah


SUSPENSI S.D.M. PASIEN 3-5% DALAM SALINE , setelah sel dicuci
PLASMA DONOR yang jernih bebas dari sel2 darah
SUSPENSI S.D.M. DONOR 3-5% DALAM SALINE , setelah sel dicuci

57

58

Crosmatch Test Mayor positif artinya :


1. Golongan darah ABO pasien atau donor tidak benar
2. Adanya allo antibodi dalam serum pasien yang bereaksi dengan antigen yang
ada pada sel darah merah donor. Hasil auto kontrol harus negatip, kecuali pada
pasien yang baru ditransfusi dengan sel yang inkompatibel
3.Adanya autoantibodi dalam serum pasien yang juga bereaksi dengan sel darah
merah donor.
4. Penyelubungan sel darah donor oleh protein, didapatkan DCT positip
Crossmatch Test Minor positif artinya
5.Kelainan dalam serum pasien, pasien mendapat transfusi plasma ekspander
(dextran ) dengan berat molekul yang tinggi , multiple myeloma sehingga
menyebabkan terjadinya false positip (rouleaux formasi). Semua test termasuk
auto kontrol akan menunjukkan hasil positip.
6.Kontaminasi pada pemeriksaan , misalnya tabung yang kotor, kontaminasi
sampel dan reagen oleh bakteri
Penyebab CM Minor positif :
ABO grouping pasien / donor tidak benar
Adanya antibodi spesifik dalam serum donor, yang bereaksi dengan
antigen yang sesuai pada SDM pasien.Penanganan : ganti donor
Penyelubungan SDM pasien oleh protein, sehingga hasil pemeriksaan anti
human globulin (DCT) positip
Kontaminasi
Mayor Crossmacth inkompatibel artinya :

59

Aglutinin dingin Spesifik, AK negatip


Aglutinin dingin Nonspesifik , AK positip
Antibodi Hangat spesifik , AK negatip
Antibodi Hangat nonspesifik , AK positip
AK = Auto Kontrol

PEMBUATAN SUSPENSI SEL 1%


1. Ambil ID Diluent 2 : 1 ml
2. Pipet 10 ul sel donor (PRC) kedalam tabung yang berisi 1 ml ID Diluent 2
3. Campur sel donor 1% dan ambil 50 ul masukkan kedalam microtube
Selanjutnya test dilakukan 50 l suspensi sel 1% + 25 l serum/plasma
Setelah diinkubasi dan disentrifuse didapatkan hasil sbg berikut :

A 4+
Negatip

B 3+

C 2+

D 1+

Fungsi test ini adalah :


Penetapan golongan darah ABO/Rh

Penetapan golongan darah lain

Skrining dan identifikasi antibodi

Crossmatching.

Partial D

60

Pemeriksaan Uji Cocok Serasi Metoda gel


Auto kontrol Auto Pool
Mayor I

Mayor II

Minor I

Minor II

Sus sel 50 ul Sus sel 50 ul Sus sel 50 ul Sus Sel 50 ul Sus sel 50 ul Sus sel Pool
donor I
Donor II
Pasien
Pasien
pasien
50 ul Donor
Plasma 25 ul Plasma 25 ul Plasma 25 ul Plasma 25 ul Plasma 25 ul Plasma Pool
Pasien
Pasien
Donor
Donor
Pasien
25 ul Donor
Inkubasi 37 C- 15 menit
Putar 910 rpm 10 menit
Baca hasil

Prosedur pengerjaan spektrofotometer

1. Sambungkan stecker ke PLN.


2. Tekan switch ON/OFF di belakang alat ke posisi ON.
3. Tunggu beberapa menit, alat akan melakukan Warm-Up dan Self Test System.
4. Siapkan reagen ke dalam tabung reaksi sesuai dengan anjuran dari pabrik
pembuat raegen
5. Campurkan reagen yang telah jadi dengan serum darah yang akan dibaca
nilai konsentrasinya ke dalam tabung reaksi atau kuvet
6. Tekan tombol metode untuk memilih metode Pembacaan dan Parameter yang
akan diperiksa
7. Masukkan kode parameter pemeriksaan
8. Siapkan Aquadest ke dalam botol atau tabung reaksi secukupnya
9. Masukkan selang kuvet pembacaan ke dalam botol atau tabung reaksi yang
berisi Aquadest
10. Tekan tombol ENTER, tunggu beberapa saat Aquadest akan tersedot
( mencuci bagian dalam kuvet )
11. Setelah selesai proses pencucian, alat siap digunakan untuk melakukan
pemeriksaan
12. Masukkan selang kuvet pembacaan ke dalam botol atau tabung reaksi yang
berisi Reagen dan Serum darah
Tekan tombol ENTER, tunggu beberapa saat alat akan melakukan pembacaan
dan pengukuran nilai konsentrasinya dan hasil akan tercetak ke dalam
kertas printer
Penggunaan Instrumen Eletrolit Analyser ;
1. Dari posisi Standby pencet Yes (2x) sampai tampil Na, K, Cl Ready
2. Pencet No sampai tampil Daily Maintenance
3. Pencet Yes tampil Daily Cleaning pencet Yes (ikuti perintah dilayar)
- Buka pintu alat, running cleaning solution sampai bunyi klik

61

- Bersihkan probe dengan tissue dan tutup pintu alat


4. Tampil Daily Conditioning pencet Yes kemudian ikuti perintah dilayar
- Buka pintu alat, running conditioning solution sampai bunyi klik
- Bersihkan probe dengan tissue dan tutup pintu alat
5. Pencet No sampai kembali ke posisi Ready

MIKROBIOLOGI
Metoda difusi ( modified Kirby Bauer method )
Merupakan tehnik yang rutin digunakan dalam laboratorium. media yangdigunakan adalah
media MHA ( Mueller-Hinton Agar ), setiap plate mempunyai ketebalan media 4mm . Media
yang belum dipakai dimasukkan dalam plastic bag , kemudian disimpan dalam refrigerator.
Dapat disimpan selama 2 minggu.
Disk / cakram antimikroba yang digunakan tersedia secara komersial dengan diameter dan
potensi yang tepat. Stock disk harus di simpan pada 200 C . Working disk dapat disimpan
dalam refrigerator selama kurang lebih satu bulan. Standar kekeruhan bakteri yang di
gunakan adalah sesuai dengan 0,5 Mc
Cara kerja
Lakukan steaking dari bakteri yang akan di tes pada seluruh permukaan agar secara merata,
setelah kering letakkan disk antibiotik pada permukaan agar, maksimal tujuh disk untuk plate yang
mempunyai diameter 9 10 cm. Enam disk membentuk lingkaran dengan jarak masing masing
15 mm dari tepi disk, dan satu disk diletakkan di tengah tengah. Selanjutnya plate diinkubasi 35 0 C
overnight . diameter zona diukur dalam mm.

Kontrol Kualitas
Kontrol kualitas dengan menggunakan kuman kontrol sangat penting dilakukan pada tes kepekaan
antibiotik , karena hasil dipengaruhi oleh banyak hal (pH dari media, ketebalan media, kualitas
disk, kekeruhan inokulum, temperatur inkubasi dll ).

Interpretasi hasil

Susceptible ( S) menyatakan bahwa isolat yang di tes dapat dihambat dengan antimikrobial
tersebut dengan menggunakan dosis yang direkomendasi.
Intermediate ( I ) katagori ini menyatakan secara tidak langsung antimikrobial tersebut dapat
digunakan kalau obat pada tubuh secara physiologi terkonsentrasi , atau obat tersebut digunakan
dengan dosis yang lebih tinggi dari dosis normal.
Resistant ( R ) mempunyai pengertian isolat tidak dapat dihambat oleh antimikroba tersebut.

Meticillin Resistance Staphylococcus ( mecA-Mediated Oxacillin Resistance dengan


menggunakan disk Cefoxitin ).

Metoda : disk diffusion


Medium : MHA
Konsentrasi antimikroba : disk cefxitin 30 g
Temperatur inkubasi : 33-350C
Lamanya inkubasi : 16-18 jam
Hasil : 21 mm = positif mecA
22 mm = negatif mecA

62

Pelaporan : positif mecA MRSA

Semua golongan -lactam ( penicillin, -lactam/ -lactamase inhibitor combinations, cephems


dan carbapenems) yang tampak sensitif pada tes invitro, dilaporkan sebagai resisten
Inducible Clindamycin Resistance Staphylococcus
( apabila resisten terhadap erythromycin dan sensitif atau intermediate terhadap clindamycin )
Metoda : disk diffusion
Medium : MHA
Konsentrasi antimikroba : disk erythromycin 15 g dan disk clindamycin 2 g
Dengan jarak antar disk 15 26 mm
Temperatur inkubasi : 35 20C
Lama inkubasi : 16-18 jam
Hasil : adanya zone inhibisi yang flat pada daerah yang berdekatan dengan erythromycin ( zone
menyerupai huruf D ) atau
adanya pertumbuhan dalam zone hambatan clindamycin walaupun tidak ditemukan adanya zone
berbentuk huruf D Inducible clindamycin resistance.
Pelaporan : laporkan sebagai clindamycin resisten
Skrining tes ESBL
Metoda : disk diffusion
Medium : MHA
Konsentrasi antimikroba
K.pneumoniae, K.oxytoca, E coli
Cefpodoxime : 10 g atau
Ceftazidime : 30 g atau
Aztreonam : 30 g atau
Cefotaxime : 30 g atau
Ceftriaxone : 30 g
P.mirabilis
Cefpodoxime : 10 g atau
Ceftazidime : 30 g atau
Cefotaxime : 30 g
Penggunaan lebih dari satu disk antibiotika akan meningkatkan sensitifitas deteksi.
63

Temperatur inkubasi : 35 20C


Lama inkubasi : 16-18 jam
Hasil :
K.pneumoniae, K.oxytoca, E coli
Cefpodoxime zone : 17 mm
Ceftazidime zone : 22 mm
Aztreonam zone : 27 mm
Cefotaxime zone : 27 mm
Ceftriaxone zone : 25 mm

P.mirabilis
Cefpodoxime zone : 22 mm
Ceftazidime zone : 22 mm
Cefotaxime zone : 27 mm
Zone tersebut mengindikasikan adanya produksi ESBL
Metoda lain untuk mendeteksi ESBL
Double-disk diffusion test
Adanya sinergi antara cefotaxime , ceftazidime , aztreonam , ceftriaxone dan clavulanate yang
dapat dideteksi dengan cara menempatkan disk amoxicillin / clavulanate ( 20 /10 g ) ditengah
tengah antimikroba tersebut dengan jarak 20 mm dari bagian tengah masing masing disk ( 20
mm center to center ). Adanya pelebaran zone hambatan kearah disk yang mengandung
clavulanate dinyatakan sebagai adanya sinergi dari antimikroba tersebut mengindikasikan adanya
ESBL.
1. amoxicillin / clavulanate

2. aztreonam
3. ceftazidime
4. ceftriaxone
64

5. cefotaxime

1. Pewarnaan negatif (Burri)


- Buatlah campuran kuman dengan 1 tetes tinta cina (Indian ink) pada gelas obyek dengan
menggunakan sengkelit.
- Buat hapusan tipis dengan cara mengusapkan campuran itu memakai bagian tepi gelas obyek
yang lain (lihat gambar)
- Keringkan di udara.
- Tetesi sediaan itu dengan minyak emersi lalu lihatlah di bawah mikroskop dengan lensa obyektif
pembesaran 100x.
Catatan : Kuman tampak sebagai bentukan tidak terwarnai (transparan) di antara latar belakang
yang gelap.

2. Pewarnaan Tahan Asam (Ziehl Neelsen)


- Buatlah sediaan kuman pada gelas obyek, fiksasi.
- Tuangkan fukhsin karbol pada sediaan dan panaskan sampai timbul uap selama 5 menit (jangan
sampai mendidih ataupun kering)
- Biarkan dingin selama 3 menit.
- Buang sisa fukhsin karbol dari gelas obyek.
- Bilas dengan air bersih.
- Lunturkan dengan alkohol asam selama 10-20 detik sampai warna merah.hilang.
- Bilas dengan air bersih.
3. Pewarnaan Neisser
- Buatlah sediaan kuman pada gelas obyek, fiksasilah dan tunggu hingga dingin.
- Tuangkan Neisser AB pada sediaan kuman dan biarkan selama 1 menit.
- Buang sisa Neisser AB dari gelas obyek.
- Tuangkan Neisser C pada sediaan dan biarkan selama 1,5 menit.
- Buang sisa Neisser C dari gelas obyek.
- Keringkan dengan kertas pengering.
- Teteskan satu tetes minyak emersi pada sediaan lalu lihatlah di bawah mikroskop dengan lensa
obyektif pembesaran 100 X.
Catatan : Granula metakromatik tampak sebagai bentukan berwarna biru gelap atau biru hitam

65

dalam sitoplasma kuman yang tampak berwarna kuning coklat.

4. Pewarnaan Spora (Schaeffer Fulton)


- Buatlah sediaan kuman pada gelas obyek, fiksasilah dan kemudian biarkan dingin.
- Tuangkan hijau malakhit pada sediaan kuman dan panaskan sampai timbul uap selama 1 menit
(jangan sampai mendidih ataupun kering).
Bila kering tambahkan hijau malakhit pada sediaan.
- Buang sisa hijau malakhit dari gelas obyek.
- Bilas dengan air bersih.
- Tuangkan safranin pada sediaan dan biarkan selama 30 detik.
- Buang safranin dari gelas boyek.
- Bilas dengan air bersih.

- Keringkan dengan kertas pengering.


- Teteskan satu tetes minyak emersi pada sediaan tersebut lalu lihatlah di bawah
mikroskop dengan lensa obyektif pembesaran 100 X.

Catatan ;

Spora kuman tampak berwarna hijau.


Bagian vegetatif kuman tampak berwarna merah

Add 5l serum

Add 130l sample fluid

Wait 10 minutes

66

Read result

67

Pemeriksaan Sperma

Cara kerja:

3.1.

Tes Makroskopik:

Warna: catat warna yang terlihat.


Volume: Ukur dengan gelas ukur (skala 0,1 ml)
Likuefaksi: diamkan sampel selama 0-60 menit. Catat pada menit ke berapa
terjadi pencairan (likuefaksi)
Viskositas: diperiksa setelah 20 menit dari saat pengeluaran semen. Sediaan
yang telah mencair ditaksir dengan menyedot secara perlahan dengan pipet 5
ml dan kemudian biarkan semen menetes karena gaya berat dan amati panjang
benang tetesan tersebut.
Bau: cium bau sample yang khas
pH, dinilai dengan indikator strip
3.2. Tes Mikroskopik
1. Motilitas
Teteskan 10-15 L sampel pada kaca obyek lalu tutup dengan kaca penutup,
kemudian periksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 400-600x.
Lapangan pandang diperiksa secara sistematik dan motilitas permatozoa yang
dijumlai dicatat, dengan kategori:
A. Jika spermatozoa bergerak cepat dan lurus ke muka
B. Jika geraknya lambat atau sulit maju lurus atau bergerak tidak lurus
C. Jika tidak bergerak maju
D. Jika tidak bergerak
2. Jumlah Spermatozoa
Masukkan 950 L larutan pengencer ke dalam tabung, tambahkan 50 L
semen, campur dengan baik, Isi kamar hitung dengan memakai pipet Pasteur,
tutup dengan kaca penutup dan biarkan 5 menit, lihat dibawah mikroskop.
Jika sediaan mengandung kurang dari 10 spermatozoa setiap kotak sedang,

68

maka 25 kotak sedang harus dicacah, jika sediaan mengandung 10-40


spermatozoa dalam setiap kotak sedang, maka harus dicacah 10 kotak
sedang. Bila sediaan mengandung >40 spermatozoa dalam tiap kotak sedang
maka harus dicacah 5 kotak sedang
Atau hitung jumlah spermatozoa secara rata-rata pada beberapa lapangan
mikroskop dengan pembesaran obyektif 40x, dan dikalikan dengan 106.
3. Morfologi
Teteskan 1 tetes semen di atas kaca obyek, dibuat sediaan apus
kemudian diwarnai dengan zat warna Wright atau Giemsa, periksa
dengan mikroskop. Lihat pada 100 spermatozoa, tentukan morfologi
dalam persen

4. Aglutinasi
Lihat aglutinasi di bawah mikroskop pembesaran 400x. Catat persentasi ratarata spermatozoa yang berlekatan, ditaksir mendekati 5%.
Nilai rujukan:
Warna

: Normal bila tampak putih kelabu homogen

Volume

: 2-4 ml

Likuefaksi : Mencair dalam waktu 20-60 menit pada suhu kamar


Viskositas : Normal bila cairan keluar dari pipet sebagai tetesantetesan kecil
Bau

: bau langu seperti bunga akasia

pH

: 7,2-7,8

Motilitas

: A 25% atau A+B 50%

Jumlah

: 20 juta/ml

Morfologi

: spermatozoa normal 50%

Aglutinasi : sperma motil saling melekat satu dengan lainnya

4. Pasca Analitik
Interpretasi:
Warna
Volume
ejakulasi

: jernih spermatozoa terlalu sedikit, coklat eritrosit


dalam ejakulat
: Aspermia: tidak

mengeluarkan

semen pada saat

Hipospermia: volume < 2 ml


Hiperspermia: volume > 6 ml
Likuefaksi : abnormal jika pencairan tidak terjadi sempurna dalam
60 menit
Viskositas : abnormal bila tetesan berbentuk benang panjang > 2
cm
Bau

: busuk infeksi

69

pH
azoospermia

: pH > 7,8 dicurigai adanya infeksi,

Istilah

< 7 pada

Jumlah spermatozoa

Motilitas

Morfologi

(Juta/ml)

(%)

(%)

Normospermia

20

25

50

Oligospermia

< 20

50

50

Ekstrim oligospermia

<5

50

50

Stenospermia

20

< 50

50

Teratospermia

20

50

< 50

< 20

< 50

50

< 20

< 50

< 50

< 20

50

< 50

120

< 50

< 50

250

50

50

Oligostenospermia
Oligosteno
teratozoospermia
Oligoterto zoospermia
Astenozoosperma
Polizoospermia
Analisis Batu

Persiapan Pasien: tidak memerlukan persiapan khusus


2.2. Persiapan Sampel

- batu dapat keluar bersama urin atau diperoleh dengan jalan operasi, ditempatkan dalam
wadah yang kering dan bersih.
- untuk tes kimia, batu harus digerus lebih dahulu, jika batu berukuran besar, sebaiknya
dibelah sehingga tampak lapisan-lapisan konsentris.sebgai tanda bahwa susunannya
terdiri dari berbagai macam zat.
2.3. Prinsip tes: Memperhatikan struktur (jumlah, besar, warna, kerasnya dan bentuk permukaan)
sampel secara visual (makroskopik) dan menentukan berbagai macam komponen batu
secara semikuantitatif. Metode titrimetrik untuk kalsium, metode kolorimetrik untuk
oksalat, fosfat, magnesium, amonium, asam urat dan sistin.
2.4. Alat dan Bahan:
- Wadah penampung bersih dan kering
- Lumpang
- Kit analisis kalkuli urin: spatula, regensia (R1-R16), botol kecil transparan bergaris
merah, gelas transparan vol 50 ml, sendok merah besar, sendok merah dan hitam kecil
(Merckognost )
Reagen:
R1 : Sulfuric acid 95-97%
R2 : Sodium hydroxide solution 27%
R3 : Calconcarboxylic acid trituration

70

R4 : Titriplex

III solution

R5 : Borate buffer solution


R6 : Iron (III) chloride solution
R7 : Sulfosalycilic acid solution
R8 : Potassium tetraiodomercurate (II)
R9 : Ammonium molybdate solution
R10 : Reduction solution (4-methylaminophenol sulfate sodium disulfite)
R11 : Buffer solution (borate buffer)
R12:

Colour
reagen
(1-azo-2-hydroxy-3-(2,4-di-methyl-carboxanilido)naphtalene-1-(2 hydroxybenzene-5-sodium sulfonate) solution

R13: Molybdatophosphoric acid solution


R14: Ammonia solution (10%)
R15: Reducing solution (sodium sulfite)
R16: Sodium nitroprusside trituretion

3. Analitik
Cara kerja:

3.2. Tes Makroskopik:


Catat jumlah batu, besar, warna, keras dan bentuk permukaannya
3.2.Tes Kimia
Gerus batu hingga halus.
Ambil sampel 1 sendok spatula , tambahkan 5 tetes reagen H 2SO4 ( R1) lalu aduk.
Selanjutnya dilihat ada tidaknya gelembung. Adanya gelembung menandakan adanya
karbonat ( CaCO3 ).
Pindahkan sampel ke tempat khusus ( wadah gelas berskala ), selanjutnya tambahkan
aquadest sampai 50 ml, aduk hingga tercampur baik.
Siapkan 7 botol-botol bergaris merah. Isi masing-masing botol 5 ml dari campuran tersebut,
kecuali botol ke 5 hanya berisi 1 ml, selanjutnya ditambahkan aquadest sampai 5 ml.
Lakukan langkah-langkah berikut untuk menilai:
a. KALSIUM :
Botol 1. Tambahkan 2 tetes R2, sambil dikocok. Kemudian tambahkan 1 sendok spatula
R3 dan R4 tetes demi tetes hingga terjadi perubahan warna dari merah jambu ke biru
muda. Hitung banyaknya tetesan. Jumlah tetesan dikalikan 5, didapatkan prosentase
kalsium.
b. OKSALAT
Botol 2. Sambil dikocok tambahkan 2 tetes R5, 3 tetes R6, 3 tetes R7. Setelah 2 menit
sesuaikan warna yang terjadi dengan warna di brosur. Catat prosentase sesuai warna
c. AMONIUM
Botol 3. Sambil dikocok tambahkan 3 tetes R8 dan 3 tetes R2 . Sesuaikan warna yang
terjadi dengan warna di brosur. Catat prosentase sesuai warna.

71

d. PHOSPHAT
Botol 4. Sambil dikocok tambahkan 5 tetes R9 dan 5 tetes R10. Setelah 5 menit sesuaikan
warna yang terjadi dengan warna di brosur. Catat prosentase sesuai warna.
e. MAGNESIUM
Botol 5. Sambil dikocok tambahkan 10 tetes R11 dan 10 tetes R12. Setelah 1 menit
sesuaikan warna yang terjadi dengan warna di brosur. Catat prosentase sesuai warna.
f. URIC ACID
Botol 6. Tambahkan 3 tetes R13, kocok kemudian diamkan selama 2 menit. Selanjutnya
tambahkan 2 tetes R5, kemudian kocok. Dalam 10 detik sesuaikan warna yang terjadi
dengan warna di brosur. Catat prosentase sesuai warna.
g. SISTIN
Botol 7. Sambil dikocok tambahkan 10 tetes R14 dan 1 sendok merah penuh R15. Setelah
1 menit tambahkan 1 sendok hitam penuh R16 dan kocok. Setelah 30 detik sesuaikan
warna yang terjadi dengan warna di brosur. Catat prosentase sesuai warna

Lakukan perhitungan
Senyawa yang mungkin ada dengan jumlah relatif ditentukan dengan bantuan alat bantu
(mistar penghitung), yaitu:
1. Kalsium oxalat (whewellite)
1.1 Set (setel) prosentase oksalat yang diperoleh pada skala oksalat. Garis merah akan
berhubungan dengan nilai kalsium oksalat, stop pada skala kalsium oksalat.
1.2. Periksa banyaknya kalsium pada skala kalsium. Jika kalsium yang didapat dalam
analisis lebih banyak, nilai ditentukan oleh selisih perbedaan prosentase kalsium
2. Magnesium amonium phosphat ( Struvite )
2.1. Set (setel) prosentase magnesium yang diperoleh pada skala magnesium. Baca nilai
magnesium amonium phosphat (struvite), stop pada skala struvite.
2.2. Periksa jumlah amonium dan phosphat masing-masing pada skala amonium dan
skala phosphat. Jika amonium atau phosphat yang didapat dalam analisis lebih
banyak, nilai ditentukan oleh selisih perbedaan prosentase amonium atau prosentase
phosphat
3. Amonium Urat
3.1.Set (setel) prosentase amonium yang diperoleh atau selisih perbedaan
prosentase
amonium dari 2.2 pada skala amonium. Baca nilai amonium urat, stop pada skala
amonium urat.
3.2. Periksa jumlah uric acid pada skala uric acid. Jika uric acid yang didapat dalam
analisis lebih banyak, nilai ditentukan oleh selisih perbedaan prosentase uric acid
4. Kalsium phosphat
4.1 . Set (setel) kalsium yang diperoleh atau perbedaan selisih prosentase yang
diperoleh pada 1.2 pada skala kalsium. Pada waktu yang sama baca skala
phosphat.
4.2 Baca brushite atau apatite

5. Pasca Analitik
Perhatikan kesesuaian antara tes makroskopis dan tes kimia.
-

Batu kalsium posphat dan kalsium oksalat: biasanya keras, berwarna gelap, permukaan kasar,
ukuran kecil smapai sedang, senantiasa multiple
Batu asam urat: kuning, gampang pecah (rapuh), ukuran dapat besar berbentuk tanduk
(staghorn)
Batu struvite: ukuran dapat menjadi besar. Terutama pada wanita akibat infeksi saluran kemih
dengan bakteri yang menghasilkan urease.

72

Batu sistin: kuning jeruk dan berkilauan, ukuran dapat menjadi besar, permukaan agak kotor
(berlemak)
Batu struvite, sisten dan asam urat: secara bertahap mengisi pelvis renalis dan dapat keluar
sampai ke klaiks menimbulkan gambaran seperti tanduk.

73

74

75

76

77

78

79

80

81

82

83

84

85

86

Hematologi

87

88

89

90

91

92

93

94

95

96

97

98