Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Populasi adalah keseluruhan objek yang akan diteliti. Anggota populasi bisa

benda hidup atau benda mati, dimana sifat-sifat yang ada padanya dapat diukur
atau diamati. Populasi yang tidak pernah diketahui dengan pasti jumlahnya
disebut Populasi Infinitif atau tidak terbatas dan populasi yang diketahui dengan
pasti jumlahnya (Populasi yang dapat diberi nomor identifikasi, misalnya murid
sekolah, pasien rumah sakit, disebut Populasi finit.
Suatu kelompok objek yang berkembang terus (Melakukan proses sebagai
akibat kehidupan atau proses kejadian) adalah populasi infinitif. Misalnya
penduduk suatu negara adalah populasi infinit karena setiap waktu terus berubah
jumlahya. Apabila penduduk tersebut dibatasi dalam waktu dan tempat, maka
populasi yang infinit bisa berubah menjadi populasi yang finit. Misalnya
penduduk suatu negara adalah populasi yang infinit karena setiap waktu terus
berubah jumlahnya. Apabila penduduk tersebut dibatasi oleh waktu dan tempat,
maka populasi yang infinit bisa berubah menjadi populasi yang finit.
Umumnya populasi yang infinit adalah teori saja, sedangkan kenyataan
dalam prakteknya semua benda hidup tergolong populasi yang finit. Bila
dinyatakan bahwa 60% penduduk Indonesia adalah petani, ini berarti bahwa
dalam 100 orang penduduk Indonesia, ada 60 orang petani. Hasil pengukuran atau
karakteristik dari populasi itu disebut Parameter. Jadi, populasi yang didapat

harus didapat harus didefinisikan dengan jelas termasuk didalamnya ciri dimensi
waktu dan tempat.
Sampel adalah bagian dari populasi yang menjadi objek penelitian (menurut
arti kata sampel berarti contoh)
Pengambilan sampel dilakukan dalam rangka
1.
2.
3.
4.

Penghematan biaya, tenaga, dan waktu.h mudah


Memberi informasi yang lebih banyak dan mendalam
Lebih cepat dan lebih mudah
Dapat ditangani lebih teliti

Pengambilan sampel merupakan satu-satunya jalan yang harus dipilih,


(tidak mungkin mempelajari seluruh populasi) misalnya :
1.
2.
1.2

Mencicipi duku yang dibeli


Mencicipi garam di dapur,

Tujuan
Agar sampel yang diambil dari populasinya representatif atau mewakili

agar diperoleh informasi yang cukup untuk mengestimasi populasinya.


Tujuan pengambilan sampel
1.2.1

Tujuan umum :
1.

Dalam rangka menarik kesimpulan dalam populasi, oleh karena itu,


sampel yang diambil harus dapat mewakili (representatif) populasi.

1.2.2

Tujuan khusus
1. Untuk memudahkan proses penelitian. Karena populasi terlalu banyak
2. Menghindarkan terjadinya bias, kesalahan dalam proses penelitian.
3. Untuk menghemat biaya dan tenaga serta waktu.
BAB II
PEMBAHASAN

Namun, karena cara pengambilan sampel dilakukan dalam rangka


penghematan biaya, tenaga, dan waktu. Namun, karena cara pengambilan sampel
beranekaragam maka cara pengambilan sampel harus disesuaikan berdasarkan
tujuan penelitian dan kondisi populasi, seperti luas, sebaran, dan sebagainya.
2.1

Metode pengambilan sampel


Sampling adalah teknik cara atau teknik yang dipergunakan untuk

mengambil sampel. Pada dasarnya ada dua cara pengambilan sampel (Random
sampling dan non random sampling) (DJarwanto, 1985 : 114).
Keuntungan utama dari sampling dibandingkan dengan pencatatan
menyeluruh (sensus) adalah :
1.

Penyelidikan biaya yang terbatas (reduced cost) : Oleh karena data


yang diteliti itu lebih kecil maka ongkos-ongkos

dan biaya

penyelidikannya jauh lebih sedikit.


2.

Menghemat waktu dan tenaga (greater spreeder), data dapat


dikumpulkan, diolah dan diselidiki hingga hasilnya dengan cepat dapat
dipergunakan.berapa jenis survai membutuhkan biaya yang lama

3.

Penghematan

pada

hal-hal

khusus:

Beberapa

jenis

survai

membutuhkan wawancara yang lama dan padat sehingga tidak


mungkin dilakukan dengan cara lain kecuali dengan sampel. Dengan
memakai sampel, memungkinkan perhatian tertuju pada sejumlah halhal yang ditentukan.
4.

Greater accurancy : Meskipun data yang diselidiki itu hanya


merupakan bagian dari populasi namun kualitasnya atau hasil-hasilnya
dapat lebih baik dan lebih tepat daripada sensus, sebab pengolahan

data tidak memerlukan tenaga yang banyak, sehingga pengolahan


datanya diserahkan kepada tenaga yang betul-betul ahli dan terlatih.
Kelemahan-kelemahan sampling
Dalam keadaan tertentu faedah dari sampling menimbulkan keraguaraguan. Tiga kaedah pokok dapat disebutkan sebagai berikut :
1.

Jika data yang diperlukan dari wilayah-wilayah yang amat kecil maka
diperlukan sampel yang relatif besar populasinya

2.

Jika data yang dibutuhkan adalah untuk beberapa periode waktu yang
teratur dan diperlukan untuk mengukur perubahan yang sangat kecil
dari suatu period ke periode berikutnya, sampel yang besar mungkin
dibutuhkan.

3.

Jika dalam survai, pengambilan sampel harus dikeluarkan biaya


administrasi yang besarnya luarbiasa disebabkan oleh pekerjaan
pemilihan sampel, pengawasan dan sebagainya, sampling mungkin
tidak praktis.

Jenis random sampling :


1. Pengambilan sampel acak sederhana (Simple random sampling)
2. Pengambilan sampel acak stratifikasi (Stratified random sampling)
3. Pengambilan sampel acak bertahap (Multistage random sampling)
4. Pengambilan sampel secara acak sistematik (Sistimatic random
sampling)
5. Pengambilan sampel acak kelompok (cluster random sampling)
Pengambilan sampel dilakukan secara acak sedemikian rupa sehingga
probabilitas setiap unit sampel diketahui, sedangkan pengambilan sampel tanpa
acak dilakukan sedemikian rupa sehingga probabilitas setiap unit sampel tidak
diketahui dan faktor subjek memegang peran penting. Oleh karena itu,

pengambilan sampel tanpa acak ini, walaupun dilakukan sedemikian rupa


sehingga mempunyai tingkat kewakilan yang tinggi, tetap dapat diwakili secara
objektif. Pengambilan sampel tanpa secara acak ini digunakan bila kita ingin
mengambil sampel yang sangat kecil pada populasi yang sangat besar karena
dengan cara apapun tidak mungkin mendapatkan sampel
Suatu cara pengambilan sampel disebut random apabila kita tidak
memilih-milih individu yang akan dijadikan anggota sampel. Seluruh individu
dalam populasi m memiliki kesempatan yang sama untuk dijadikan anggota.
Hal yang perlu diperhatikan dalam tabel bilangan random: Misalnya,
1. Besarnya populasi 800 diambil 3 kolom lalu urutkan ke bawah sampai
2.

jumlah sampel yang diinginkan


Bila diperoleh angka yang lebih besar dari populasi maka angka

3.

tersebut tidak digunakan


Demikian pula bila memperoleh angka yang sama dua kali maka satu

angka tidak digunakan


Tabel bilangn random terlampir di belakang.

2.1.1 Random Sampling


1. Pengambilan sampel secara acak sederhana (Simple random sampling)
Pengambilan sampel secara acak sederhana adalah pengambilan sampel
sedemikian rupa sehingga sehingga setiap unit dasar (individu) mempunyai
kesempatan yang sama untuk diambil sebagai

sampel. ----- Syarat

1.

Harus mempunyai unit dasar atau sampling

2.

Populasi tersebar

-Keuntungan :

Pengambilan sampel acak sederhana mempunyai beberapa keuntungan


antara lain :
1.

Ketepatan yang tinggi artinya setiap unit sampel mempunyai


probabilitas yang sama untuk diambil sebanyak untuk diambil sebagai

sampel
2. Kesalahan sampling dapat ditentukan secara kuantitatif.
3. Dapat dilakukan pada populasi yang besar.
-Kelemahan
Pengambilan sampel secara acak sederhana membutuhkan waktu, tenaga,
biaya yang sangat besar.
-Teknik pelaksanaan pengambilan sampel
Cara pengambilan sampel tergantung besar populasi
1. Bila populasi kecil (dilakukan secara lotre) dibuat daftar semua unit
sampel
2. Beri nomor secara berurutan
3. Semua unit sampel di tulis pada gulungan kertas
Sedangkan pengambilan sampel dengan populasi besar dilakukan
dengan menggunakan tabel bilangan random dengan cara sebagai berikut :
1. Tentukan besarnya populasi studi
2. Buat daftar unit sampling (sampling frame)
3. Semua sampling unit diberi nomor urut agar mudah dalam
mencocokkan
4. Pengambilan sampel pertama, tentukan sembarang angka yang terdapat
pada tabel nomor random kemudian ambil kolom sebelahnya yang
sesuainya dengan banyaknya digit populasi.
Random sampling
Suatu cara pengambilan sampel disebut random apabila kita
tidak memilih-milih individu yang akan dijadikan anggota sampel.
Seluruh individu dalam populasi m memiliki kesempatan yang sama
untuk dijadikan anggota sampel. Sering Hal yang perlu diperhatikan
dalam tabel bilangan random: Misalnya,
1. Besarnya populasi 800 diambil 3 kolom lalu urutkan ke bawah sampai
jumlah sampel yang diinginkan

2. Bila diperoleh angka yang lebih besar dari populasi maka angka
tersebut tidak digunakan
3. Demikian pula bila memperoleh angka yang sama dua kali maka satu
angka tidak digunakan.
Bila tidak mempunyai bil random , pengambilan sampel dapat
dilakukan dengan menggunakan gulungan kertas yang ditulis darii 0
sampai 9 atau disesuaikan dengan besarnya populasi kemudian diambil
sesuai dengan jumlah digit
Probabilitas teoritis karena besarnya peluang suatu kejadian
dapat ditentukan berdasarkan logika atau teori sebelum peristiwanya
terjadi.
Probabilitas suatu even adalah jumlah hasil yang diharapkan
terjadi pada sejumlah event (n) dibagi dengan jumlah semua
kemungkinan yang dapat terja
Pengambil sampel tanpa acak (Non Random Sampling) yang
akan diuraikan adalah sebagai berikut :
1.

Pengambil sampel seadanya (Accidental sampling)

2.

Pengambil sampel berjatah (quota sampling)

3.

Pengambilan

sampel berdasarkan pertimbangan (purposive

sampling)
2 Pengambilan Sampel Acak Stratifikasi (Stratified Random Sampling)
Populasi dibagi-bagi menjadi beberapa bagian/ subpopulasi/ stratum.
Angota-anggota dari sub-populasi (stratum) dipilih secara random, kemudian
dipilih secara random, kemudian dijumlahkan
1.
Pengambilan sampel dilakukan dengan membagi populasi ke dalam
beberapa strata, dimana setiap strata adalah homogen. Antar strata ada sifat
yang

2.

Berbeda kemudian dilakukan dengan pengambilan sampel pada setiap


strata yang berbeda

Ciri-ciri:
1. Deviasi standar lebih kecil dibandingkan dengan pengambilan sampel acak
sederhana. Hal ini dapat terjadi bila pengelompokan dilakukan sedemikian
rupa sehingga dalam satu kelompok mempunyai perbedaan yang sangat kecil
mungkin, sedangkan perbedaan antarkelompok yang sebesar mungkin dan
2.

pengambilan sampel dilakukan secara proposional.


Pengambilan sampel acak dengan stratifikasi akan lebih efekti bila dalam

distribusi populasi terdapat nilai ekstrim dianrtara kelompok itu sendiri.


3. Setiap unit mempunyai peluang yang sama untuk diambil sebagai sampel.

Keuntungan
Keuntungan menggunakan pengambilan acak dengan stratifikasi adalah
ketepatan yang lebih tinggi dengan simpangan baku
1.
Proportionate stratified random sampling
Suatu cara pengambilan sampel yang digunakan bila anggota populasi tidak
homogen yang terdiri atas kelompok homogen atau berstrata yang kurang secara
proporsional.
2.
Dispropotinate stratified random sampling
Suatu cara pengambilan sampel yang digunakan bila anggota populasi
tidak homogeny terdiri atas kelompok homogen atau berstrata kurang secara
proporsional.
Misalkan kita bermaksud memperkirakan penghasilan rata-rata pertahun
dari (N = 30.000) kepala keluarga yang bermukim di suatu wilayah pedesaan atau
pertanian. Perkiraan penghasilan rata-rata ini akan didasarkan pada sebuah sampel
berukuran ( = 60). Misalnya populasi itu dapat dibagi-bagi menjadi beberapa
strata, yakni : petani, buruh tani, dan lain-lain.
Stratum
1
2
3

Macam Pekerjaan
Petani
Buruh Tani
Lain-lain

Banyaknya
15.000
10.000
5.000

Jumlah
30.000
Dari stratum pertama kemudian diambil sebuah sampel random, dari
statum kedua juga diambil sebuah sampel random demikian juga pada stratum ke
tiga. Hasilnya kemudian digabungkan menjadi sebuah sampel yang diperlukan
untuk memperkirakan penghasilan rata-rata pertahun.
Apabila pengambilan banyak individu dari setiap stratum ditentukan
sebanding dengan ukuran-ukuran tiap stratum dan pengambilannya dilakukan
secara random, dinamakan (Proportional Random Sampling). Misalnya dari
contoh tersebut populasi sebanyak 30.000 akan diambil sebuah sampel berukuran
60. Anggota sampel sebesar 60 ini adalah 1/5 % dari ukuran populasi. Maka dari
stratum petani perlu diambil secara random sebanyak 1/5% dari 15.000 atau 30
orang, dari stratum buruh tani sebanyak 1/5% dari 10.000 atau 20 orang dan dari
stratum lain-lain sebanyak 1/5% dan dari stratum laim-lain sebanyak 1/5 % dari
sebanyak 1/5 % dari 5000 orang atau 10 orang. Jumlah seluruhnya 60 orang,
sebanyak sampel yang dikehendaki (Djarwanto, 1985 : 86).
Misalnya kita menghendaki sebuah sampel berukuran 85 dari sebuah
populasi yang berukuran 850. Setelah setiap individu dari populasi itu diberi
nomor urut 001 sampai dengan 850. Maka bagilah individu menjadi 85
kumpulan (sub-populasi) dimana setiap kumpulanSub-populasi pertama berisi
individu bernomor 001 sampai dengan 010 sampai dengan 010, sub populasi
kedua berisi individu dengan nomor 011 sampai dengan 020 dan seterusnya
sampai sub populasi yang ke-85 berisi individu dengan nomor 841 sampai
dengan 850. Dari subpopulasi pertama kita gunakan tabel bilangan random
untuk mendapatkan sebuah anggota dari sampel yang dikehendaki. Misalkan
jatuh pada nomor 005, maka dari subpopulasi kedua diambil individu dengan

nomor 005 + 010 = 015, dari kumpulan ketiga individu bernomor =015 + 010 =
025 dan seterusnya.
Jika dari subpopulasi pertama, individu yang diambil secara random jatuh
pada nomor 003, maka individu berikutnya perlu diselidiki untuk sampel itu
adalah

yang

bernomor

013,

023,

033.dan

seterusnya.

3 Teknik sampling sistimatik (Systimatik random sampling)


Prosedur :
1)
Diberikan nomor pengenal kepada individu populasi yang homogen secara
2)

merata dan berurutan


Ditentukan proporsi sampel yang akan diambil, misalnya untuk populasi

3)

100 dengan sampel sejumlah 10, berarti proporsinya 10/100 =1/10 atau 10%
Sampel yang pertama ditentukan satu di antara 10 nomor urut pertama
secara acak sederhana, misalnya nomor 5, maka sampel berikutnya adalah
nomor 15, 25, 35, 45, 55, 65, 75, 85, 95
Metode systematic sampling dapat digunakan dalam keadaan (Teken,

1965 : 71)
1. Apabila nama atau identifikasi dari satuan-satuan individu
dalam populasi itu terdapat dalam suatu daftar, sehingga satuansatuan tersebut dapat diberi nomor urut.
2. Apabila populasi itu mempunyai pola beraturan, seperti blokblok dalam kota itu dapat diberi nomor urut, sedang rumahrumah pada suatu jalan biasanya sudah mempunyai nomor urut
(Djarwanto, dkk, 1985 : 116).
Keuntungannya :
a. Dapat dipilih apabila acak sederhana tidak mungkin untuk
b.

dilaksanakan
Unit sampel dapat secara teratur penyebarannya dalam
populasi sehingga dapat lebih dapat mewakili populasi
dibanding dengan acak sederhana.

10

c.

Pada kondisi-kondisi tertentu, rumus-rumus untuk


penghitungan parameter dan varians dari acak sederhana dapat

digunakan untuk acak sistimatik


Kekurangannya :
a. Kesalahan besar dapat terjadi karena kerangka sampling dibuat
berdasarkan siklus yang tertentu dengan sebagai jarak dari
siklus tersebut. Misalnya, melakukan recall 24 jam secara
berulang untuk hari tertentu dalam 1 minggu. Secara acak
sistimatik dari angka 1 (Minggu) sampai 7 (Sabtu) terpilih
angka 4 (Rabu), sehingga recall dilakukan hanya untuk hari
Rabu saja, sehingga tidak dapat mewakili hari-hari dalam
b.

seminggu.
Mempunyai kesulitan di lapangan seperti juga pada acak
sederhana.
Misalnya kita menghendaki sebuah sampel berukuran 85 dari
sebuah populasi yang berukuran 850. Setelah setiap individu
dari populasi itu diberi nomor urut 001 sampai dengan 850.
Maka bagilah individu menjadi 85 kumpulan (sub-populasi)
dimana setiap kumpulanSub-populasi pertama berisi individu
bernomor 001 sampai dengan 010, sub populasi kedua berisi
individu dengan nomor 011 sampai dengan 020 dan seterusnya
sampai sub populasi yang ke-85 berisi individu dengan nomor
841 sampai dengan 850. Dari subpopulasi pertama kita
gunakan tabel bilangan random untuk mendapatkan sebuah
anggota dari sampel yang dikehendaki. Misalkan jatuh pada
nomor 005, maka dari subpopulasi kedua diambil individu

11

dengan nomor 005 + 010 = 015, dari kumpulan ketiga individu


bernomor =015 + 010 = 025 dan seterusnya (Djarwanto, dkk,
c.

1985 : 226).
Jika dari subpopulasi pertama, individu yang diambil secara
random jatuh pada nomor 003, maka individu berikutnya perlu
diselidiki untuk sampel itu adalah yang bernomor 013, 023,
033.dan seterusnya.
Jenis-jenis metode pengambilan

sampel

berdasarkan

stratifikasi
Misalkan kita bermaksud memperkirakan penghasilan rata-rata pertahun dari
(N = 30.000) kepala keluarga yang bermukim di suatu wilayah pedesaan atau
pertanian. Perkiraan penghasilan rata-rata ini akan didasarkan pada sebuah
sampel berukuran ( = 60). Misalnya populasi itu dapat dibagi-bagi menjadi
beberapa strata, yakni : petani, buruh tani, dan lain-lain.
Stratum
1
2
3
4.

Macam Pekerjaan
Petani
Buruh Tani
Lain-lain
Jumlah

Banyaknya
15.000
10.000
5.000
30.000

Pengambilan sampel acak secara bertahap (Multistage Random


Sampling)
Cara ini merupakan salah satu model pengambilan sampel secara acak yang
pelaksanaannya dilakukan dengan membagi populasi menjadi beberapa fraksi
yang dihasilkan dibagi lagi menjadi fraksi-fraksi yang lebih kecil kemudian
diambil sampelnya. Pembagian menjadi fraksi ini dilakukan terus sampai
pada unit sampel yang diinginkan. Unit sampel pertama disebut Primary
Sampling Unit (PSU).

12

PSU dapat berupa fraksi besar atau fraksi kecil. Pengambilan sampel
acak setingkat ini biasanya digunakan bila kita ingin mengambil sampel
dengan jumlah yang tidak banyak pada populasi yang besar.
Pada pengambilan acak dengan PSU besar akan mempunyai keuntungan
sebagai berikut :
1. Varian yang relatif kecil untuk biaya setiap unit
2. Kontrol terhadap kesalahan tak sampling menjadi lebih baik
3. Penelitian ulang membutuhkan biaya yang relatif kecil
4. Kontrol terhadap liputan penelitian lebih mudah dilakukan
Pengambilan dengan PSU kecil mempunyai ketepatan yang lebih tinggi
dibandingan dengan PSU besar, karena populasi dibagi menjadi menjadi
fraksi-fraksi kecioll yang banyak jumlahnya hingga pengambilan sampel
dapat dilakukan secara merata pada seluruh populasi.
Kerugian
Pada PSU besar, penggambaran terhadap kurang baik, sedangkan
dengan PSU kecil hanya dapat dilakukan bila individu dalam populasi
tersebar dan transportasi mudah (Budiarto, eko : 2005 :21).
5. Cluster random sampling
Pengambilan sampel acak dengan kelompok dilakukan apabila kita
akan mengadakan suatu penelitian dngan mengambil kelompok unit dasar
sebagai sampel.
Cluster sampling dapat dilakukan denga membagi populasi menjadi
bebeapa blok sebagai cluster dan dilakukan pangambilan sampel kelompok
tersebut.
Misalnya kita akan mengadakan penelitian tentang status gizi anak
Sekolah Dasar di suatu kotaa maka diambil sampel sekolah sebagai unti
sampel. Bila seluruh murid SD sampel diteiliti status gizinya maka disebut
one stage Simple Cluster Sampling. Namun, bila diperoleh sampel sekolah
dilakukan pengambilan sampel lagi maka disebut Two Stage Simple Cluster
Sampling.

13

Sampel yang diperlukan terdiri atas individu-individu (anggota) yang


berada dalam kelompok yang terpilih itu. Jika kelompok-kelompok tersebut
merupakan pembagian daerah-daerah geografis, maka cluster sampling ini
disebut juga area sampling (Djarwanto, 1985 : 87).
Misalkan kita ingin memilih sebuah sampel berukuran 100 kepala keluarga
dengan cara cluster sampling dari populasi dari poopulasi tentang perumahan
2.1.2 Metode pengambilan sampel non random sampling
1. Pengambilan sampel seadanya (accidental sampling)
Pengambilan sampel berdasarkan kebetulan bertemu. Sebagai contoh, dalam
menentukan sampel apabila dijumpai ada, maka sampel tersebut diambil dan
langsung dijadikan sebagai sampel utama (Hidayat, AA Aziz Alimul, 82)
2. (quota sampling)
Menurut KBBI quota artinya jatah. Pengambilan sampel berdasarkan
pertimbangan)
Cara pengambilan sampel dengan jatah hampir sama dengan pengambilan
sampel seadanya, tetapi dengan kontrol yang lebih baik untuk mengurangi
terjadinya bias. Pelaksanaan pengambilan sampel dengan jatah sangat
tergantung pada peneliti, tetapi dengan kriteria dengan jumlah yang telah
ditentukan sebelumunya.
Contoh tentang tingkat pendidikan masyarakat. Dalam hal ini telah ditentukan
jumlahnya, yaitu sebanyak 100 orang dengan kriteia 50 orang laki-laki dan 50
orang wanita yang berumur 20 sampai dengan 35 tahun, tetapi 50 orang lakilaki dan 50 orang wanita mana yang akan diteliti tergantung sepenuhnya pada
peneliti ( (Budiarto, eko, 2002 : 26).
3. Pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan (purposif sampling)
Adalah pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu sehingga
keterwakilannya ditentukan peneliti berdasarkan pertimbangan orang yang telah
berpengalaman berbagai pihak.

14

Cara ini lebih baik dari 2 cara sebelumnya karena berdasarkan pengalaman
berbagai pihak.
Sampel diambil

berdasarkan

pertimbangan-pertimbangan

tertentu

dari

penyelidik. Dalam kuota sampling, para pencaca diminta untuk wawancara


dengan sejumlah individu yang mempunyai karakteristik atau sifat-sifat tertentu
(Jarwanto,dkk, 1985 :119). Misalnya untuk mengetahui pendapat umum tentang
sesuatu hal yang sedang diselidiki, sipeneliti dapat berwawancara dengan 18
orang keturunan Cina yang mempunyai penyakit Diabetes Militus, 25 orang
India yang tinggal di Indonesia yang mempunyai penyakit ISPA, 76 orang
Indonesia yang mempunyai penyakit Diare.

2.2 Besar sampel


Pertimbangan representatif yaitu yang menyangkut jumlah minimum yang
menyangkut minimum sampel yang masih menjamin represantif terhadap
populasi
Pertimbangan analisis yaitu pertimbangan jumlah minimum sampel yang dapat
dianalisis secara kuantitatif
a.
Tingkat homogenitas
b.
Banyaknya variabel
c.
Jenis rancangan
d.
Teknik analisis
Rumus Besar sampel 1 populasi adalah sebagai berikut :
1.
Untuk estimasi
1) Apabila sampling menggunakan teknik simple random sampling
1) Data kontinu
Untuk data kontinu jika populasinya infinit (tidak diketahui), maka rumus
besar sampelnya adalah (Hidayat, AA Aziz Alimul, 2007 : 72):
n = Z21-/22
d2
Keterangan :
n
= Besar sampel minimum
2
Z 1- /2 = Nilai distribusi normal baku (Tabel Z)
2 = Harga varians di populasi
d = Kesalahan absolut yang dapat ditolerans

15

Untuk data kontinu untuk jika populasinya finit atau diketahui, maka rumus
besar sampelnya adalah :
n=
NZ21- /2 2
2
(N-1).d + Z21-/22
Keterangan :
N = besar populasi
2) Data proporsi
Untuk data proporsi jika populasinya infinit (tidak diketahui), maka rumus
besar sampelnya adalah (Hidayat, AA Aziz Alimul) :
n = Z21-/2.P(1-P)
d2
Keterangan :
n
= Besar sampel minimum
Z21- = Nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada tertentu
P = Harga proporsi di populasi
d
= Kesalahan (absolut) yang dapat ditoleransi
Untuk data proporsi jika populasinya finit (diketahui), maka rumus besar
sampelnya adalah :
n=

Z21-/2.P(1-P)
(N-1).d + Z21-/2.P (1-P)
2

Keterangan :
N = Besar populasi
2) Stratified Radom sampling
1) Data kontinu
Rumus besar sampelnya adalah
L
L
2
2
2
2 2
2
n = Z 1-/2
N h. h / [ N d + Z 1-/2
Nh 2h]
w
h-1
h-1

h
Keterangan :
n = besar sampel minimum
N = besar populasi
Z21- = Nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada tertentu
2h = Harga varians di strata
d = Kesalahan (absolut) yang dapat ditoleransi
Wh = Fraksi dari observasi yang dialokasi pada strata h = Nh/N,
digunakan alokasi strata, W = 1/ L
L = Jumlah seluruh strata yang ada
2) Data proporsi

16

jika

Rumus besar sampelnya adalah :


L
2

L
2

n = Z 1-/2
h-1

N h. h /
Wh

2 2

[ N d + Z 1-/2
h-1

Nh 2h]

Keterangan :
n
= besar sampel minimum
N
= besar populasi
Z21- = Nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada tertentu
Ph = Harga proporsi di strata h
d
= Kesalahan (absolut) yang dapat ditoleransi
Wh = Fraksi dari observasi yang dialokasi pada strata h = Nh/N,

jika

digunakan alokasi strata, W = 1/ L


= Jumlah seluruh strata yang ada
1)
Data kontinu
Rumus besar sampelnya adalah
n=
NZ21- /2 2
2
(N-1).d (N/C)2+ Z21-/22
Kesalahan : n
= besar sampel (jumlah cluster) minimum
N
= besar populasi
Z21- = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada tertentu
2
= harga varians di populasi
d
= kesalahan (absolut) yang dapat ditoleransi
L

= jumlah seluruh cluster di populasi

2) Data proporsi
Rumus besar sampelnya adalah :
Kesalahan : n
N

= besar sampel (jumlah cluster) minimum


= besar populasi = mi (banyaknya elemen pada cluster

ke-i)
Z21- = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada tertentu
2
2
= (ai miP) / (C-1) dan P = ai/mi
d
= kesalahan (absolut) yang dapat ditoleransi
C
= jumlah seluruh cluster di populasi
2. Uji Hipotesis
1)
Data kontinu
Rumus besar sampelnya adalah (Hidayat, A Aziz Alimul).
n=
2 (Z1- /2 +Z1-)2
(0-)2
Keterangan :
n
= Besar sampel minimum

17

Z1- /2 = Nilai distribusi normal baku (Tabel Z) pada tertentu


Z1- = Nilai distribusi normal baku (Tabel Z) pada tertentu
2
= Harga varians di populasi
0- = Perkiraan selisih mean yang diteliti dengan mean di populasi
2.3 Kesalahan sampel
Pada umumnya kesalahan ini sering terjadi pada waktu menelaah sampel
yang akan dipakai sebagai dasar untuk membuat kesimpulan mengenai
populasi darimana sampel itu diambil.
Penelitian yang dilakukan terhadap sampel yang diambil dari suatu
populasi dan penelitian terhadap populasi itu jelas akan berbeda hasilnya.
Perbedaan hasil penelitian inilah yang dinamakan kesalahan sampling
(Djarwanto, 1985 : 89).

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pada populasi yang diteliti itu adalah sampel (bagian yang diteliti dari
populasi). Hal ini dilakukan untuk memudahkan proses dan penyimpulan data
penelitian dan meringankan

biaya penelitian. Sampling adalah cara dalam

pengambilan sampel.
Ada 2 teknik sampling yaitu random samping (Symple Random Sampling,
Stratified Random Sampling, Systimatic Random Sampling, Cluster Random
Sampling, Cluster Random Sampling). Selanjutnya teknik non random sampling
(Accidental Random Sampling, Quota Random Sampling, Purposif Random
Sampling).

18

Besar sampel didapat ditentukan dengan rumus besar sampel berdasarkan


teknik pengambilan sampel. Selain itu juga tergantung pada jenis data yaitu data
proporsi dan data kontinu.
3.1 Saran
Diharapkan kesalahan dalam penelitian diminimalisir atau penyimpanganpenyimpangan diperkecil. Oleh karena itu, kesalahan diperkecil

dengan

pemakaian metode pengambilan sampel yang tepat, sedangkan kesalahan


nonsampling dapat diperkecil dengan perencanaan dan pelaksanaan penelitian
yang hati-hati dan teliti.

19