Anda di halaman 1dari 18

LATIHAN SOAL

1. Jelaskan peranan dan kontrol AICPA terhadap perumusan standar


akuntansi?
2. Jelaskan pengertian konsep substance over form. Bagaimana praktiknya
di Indonesia?
3. Dalam struktur teori akuntansi, prinsip akuntansi diturunkan dari
postulate dan konsep teoretis.
a. Sebut dan jelaskan prinsip-prinsip akuntansi?
b. Jelaskan apakah dalil/postulate periode akuntansi (accounting period)
bertentangan dengan postulate
(going concern)?
4. Apa yang dimaksud dengan income smoothing bagaimana caranya?
Apakah tindakan ini dibenarkan?
5. Apakah perubahan penerapan standar akuntansi tidak menyalahi
konsistensi dan comparability?
6. Sebut dan jelaskan metode atau cara pengakuan dan pengukuran sumber
daya manusia di neraca?
7. Jelaskan pengungkapan yang sajikan dalam catatan atas laporan
keuangan?
8. Dalam menghitung nilai sekarang (current value) dapat digunakan lima
metode. Sebutkan dan jelaskan?
9. Penilaian terhadap aktiva dapat dilakukan berdasar Input Value dan
Ouput Value?
10.Apa yang dimaksud dengan Konsep Pemeliharaan Modal (Capital
Maintenance Concept) dalam mendefinisikan income? Dan Jelaskan
mengapa konsep ini muncul dalam praktik akuntansi?
JAWABAN

1.

AICPA adalah sebuah organisasi profesi akuntan public di Amerika.


Organisasi ini didirikan pada tahun 1887 dan menerbitkan jurnal bulanan
dengan nama Journal of Accountancy. AICPA memiliki peran penting dalam

pengembangan dan pembentukan standar akuntansi, termasuk penyiapan


(penyelenggaraan) ujian sertifikasi dan pendidikan berkelanjutan bagi para
akuntan publik.
Atas desakan SEC, pada tahun 1939 AICPA membentuk Committee on
Accounting Procedure (CAP). CAP yang beranggotakan akntan praktisi,
menerbitkan 51 Accounting Research Bulletins yang menangani berbagai
masalah akuntansi sepanjang tahun 1939 sampai dengan tahun 1959. Namun,
pendekatan masalah per masalah ini gagal memberikan kerangka prinsip
akuntasni yang terstruktur sebagaimana yang dibutuhkan dan yang diinginkan.
Untuk itu, pada tahun 1959 AICPA mendirikan Accounting Principles Boards
(APB).Tugas utama dari APB adalah mengajukan rekomendasi secara tertulis
mengenai prinsip akuntansi, menentukan praktik akuntansi yang tepat, dan
mempersempit celah perbedaan-perbedaan yang ada serta ketidakkonsistennan
yang terjadi dalam praktik akuntansi saat itu. Seiring berjalannya waktu, APB
dianggap kurang produktif dan gagal bertindak cepat dalam menangani kasuskasus penyimpangan akuntansi yang terjadi pada saat itu. Pada tahun 1971,
ketua profesi akuntansi di Amerika, dalam upaya mencegah intervensi lebih
lanjut dari pemerintah, membentuk Study Group on Establishment of
Accounting Principles. Komite ini diketuai oleh Francis Wheat, dan secara luas
dikenal dengan nama Wheat Committee. Komite ini bertugas untuk mengkaji
ulang struktur organisasi dan operasi APB serta menentukan perubahan apa
yang diperlukan untuk memperoleh hasil yang lebih baik dalam penyelesaian
masalah akuntansi. Hasil studi ini juga pada akhirnya mengakibatkan
dibubarkannya APB. Wheat Committee lalu merekomendasikan pembentukan
FAF (Financial Accounting Foundation), FASB dan FASAC (Financial
Accounting
Standasds
Advisory
Council),di
samping
itu
juga
merekomendasikan agar standar yang ditetapkan adalah standar yang mudah
digunakan atau dengan kata lain memiliki kepraktisan di dalam
penerapannya.Ketika APB dibubarkan dan digantikan oleh FASB, AICPA
membentuk Accounting Standars Executive Committee (AcSEC) sebagai
komite yang berwenang berbicara atas nama AICPA di bidang akuntansi dan
pelaporan keuangan. Berbagai ketetapan yang dihasilkan oleh komite ini adalah
Pedoman Audit dan Akuntansi Industri, Statement of Position (SOP), dan
Buletin Praktik. Pedoman Audit dan Akuntansi Industri mengikhtisarkan
praktik-praktik akuntansi dari industri tertentu dan menyediakan pedoman
(arahan) khusus menyangkut masalah-masalah yang tidak ditangani FASB
seperti akuntansi untuk kasino, maskapai penerbangan dan banyak lainnya.

Statement of Position (SOP) menyediakan pedoman atas topik-topik pelaporan


keuangan sampai FASB menetapkan standar untuk topik-topik tersebut. SOP
bisa memperbaharui, merevisi, atau mengklarifikasi pedoman-pedoman audit
dan akuntansi, atau bahkan menyediakan pedoman independen. Sedangkan
Buletin Praktik berisi pandangan AcSEC menyangkut masalah pelaporan
keuangan yang lebih sempit, yang tidak menyangkut masalah pelaporan
keuangan yang lebih sempit, yang tidak ditangani oleh FASB.Akhir-akhir ini,
peran AICPA dalam penetapan standar akuntansi telah dikurangi. FASB dan
AICPA telah sepakat bahwa AICPA dan AcSEC tidak lagi mengeluarkan
pedoman akuntansi untuk perusahaan public. Namun demikian, AICPA tetap
merupakan pemimpin dalam pengembangan standar audit melalui Auditing
Standards Board.
2.

Prinsip substance over form pada dasarnya menjelaskan bahwa hak dan
kewajiban yang timbul secara formal sebagai akibat dari transaksi yang
dilakukan oleh Wajib Pajak akan tetap diakui, akan tetapi karakterisasi dari
transaksi yang dilakukan untuk tujuan pajak akan ditentukan berdasarkan
bagaimana secara substansi peraturan perpajakan mengkarakterisasikan hasil
dari transaksi tersebut (Arnold, 2008), sehingga berdasarkan prinsip ini, fakta
dan konsekuensi perpajakan dari sebuah transaksi ditentukan berdasarkan
substansi komersial yang timbul, dan tidak semata-mata dilihat dari bentuk
formalnya. (Lampreave, 2012)
Doktrin substance over form merupakan salah satu doktrin yang paling dikenal
di Indonesia, akan tetapi aplikasinya dalam praktik belum terlalu umum
digunakan kecuali sebagai tambahan penguat argumen untuk dasar koreksi
dalam pemeriksaan, seperti dalam penentuan beneficial owner, dividen
terselubung dan lain sebagainya.

3.

a
1. Prinsip Entitas Ekonomi | Economic Entity Principle

Prinsip Entitas Ekonomi atau yang sering juga disebut prinsip kesatuan entitas
merupakan konsep kesatuan usaha dimana akuntansi menganggap bahwa
perusahaan adalah sebuah kesatuan ekonomi yang berdiri sendiri dan terpisah

dengan pribadi pemilik ataupun entitas ekonomi yang lain. Akuntansi


memisahkan dengan jelas kekayaan atau aset perusahaan tidak boleh dicampur
dengan kekayaan pribadi pemilik perusahaan. Jadi seluruh pencatatan atas
seluruh transaksi yang terjadi tidak diperbolehkan bercampur antara pencatatan
usaha dengan transaksi pemilik.
Hal ini juga berlaku untuk kewajiban, kewajiban atau hutang pribadi perusahaan
harus dipisahkan dengan jelas dari kewajiban perusahaan sehingga ada
pemisahan tanggung jawab terhadap keuangan yang jelas
2. Prinsip Periode Akuntansi

Pada Prinsip Periode Akuntansi atau yang juga disebut prinsip kurun waktu,
penilaian dan pelaporan keuangan perusahaan dibatasi oleh periode waktu
tertentu, hal ini bertujuan supaya informasi keuangan bisa dihasilkan tidak harus
menunggu usaha yang tengah dijalankan tutup. Umumnya, perusahaan
menjalankan usahanya berdasarkan periode periode akuntansi semisal dimulai
tanggal 1 Januari hingga tanggal 31 Desember

3. Prinsip Biaya Historis

Prinsip Biaya Historis mengharuskan setiap barang atau jasa yang diperoleh
dicatat berdasarkan semua biaya yang dikeluarkan dalam mendapatkannya.
Apabila terjadi proses tawar menawar, yang dinilai adalah harga jadi sesuai
kesepakatan. Berbagai cara bisa digunakan dalam menilai sebuah aset yang
dibeli meliputi nilai buku, nilai pasar, nilai ganti ataupun nilai tunai. Dalam
standar GAAP, Prinsip ini harus mempergunakan harga perolehan atau yang
juga disebut juga harga akuisisi didalam pencatatan perolehan aset (aktiva),
Hutang, Modal (equitas) dan biaya.
Lebih lanjut harga perolehan adalah harga pertukaran yang telah disepakatai
oleh kedua belah pihak yang terlibat dalam transaksi. Semisal apabila
perusahaan membeli tanah yang harga pasaran dilokasi tersebut sebesar 100
juta, dan perusahaan membelinya hanya dengan 80 juta, maka yang dicatat dan
diakui adalah harga tanah yang 80 juta, harga kesepakatan dengan penjualan.

Untuk lebih jelas mengenai harga perolehan, Sebelumnya sudah saya bahas di:
Perolehan Aktiva Tetap

4. Prinsip Satuan Moneter

Prinsip Satuan Moneter menyatakan bahwa pencatatan transaksi hanya yang


dinyatakan didalam bentuk mata uang tanpa melibatkan bagian non-kualitatif
semisal mutu, prestasi, kestrategisan usaha dan lain lainnya yang tidak bisa
dilaporkan atau tidak bisa dinilai dalam bentuk uang tidak bisa dilaporakan pada
laporan keuangan walau informasi informasi ini bisa jadi sangat relevan dan
berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Semua pencatatan hanya terbatas
pada segala yang bisa diukur dengan satuan uang.
5. Prinsip Kesinambungan Usaha | Going Concern

Prinsip ini menganggap bahwa sebuah entitas bisnis berjalan secara terus
menerus berkesinambungan tanpa ada pembubaran atau penghentian kecuali
terdapat peristiwa tertentu yang bisa menyanggahnya
6. Prinsip Pengungkapan Penuh | Full Disclosure Principle

Laporan keuangan harus menyajikan informasi informasi yang informatif serta


dimaklumkan sepenuhnya.
Prinsip Pengungkapan Penuh merupakan prinsip dimana akuntansi menyajikan
informasi yang sangat lengkap dalam laporan keuangan. Namun, dikarenakan
informasi infrmasi yang disajikan adalah berupa ringkasan atas seluruh
transaksi transaksi yang terjadi dalam satu periode dan juga terdapat pada saldo
saldo dari rekening tertentu, maka tidak mungkin seluruhnya bisa tercover
semua didalam laporan keuangan. Untuk itu umumnya pada laporan keuangan
diberi keterangan tambahan terhadap informasi yang ada didalam laporan
keuangan. bentuk bentuk informasi tambahan seperti catatan kaki atau lampiran.
isinya biasanya seperti ini:
Pada laporan keuangan, ditulis dalam kurung "()" dibawah post yang
bersangkutan atau memakai rekening tertentu

Prinsip Akuntansi yang digunakan

Perubahan perubahan, semisal adanya perubahan didalam penerapan


prinsip akuntansi, taksiran, koreksi kesalahan, kesatuan usaha. Catatan ini
sekaligus menunjukkan bagaimana perlakuan terhadap perubahan yang
terjadi tersebut

Kemungkinan adanya laba atau rugi yang bersyarat

Kontrak kontrak pembelian atau kontrak penting lainnya,

Keterangan tambahan yang disusun untuk menunjukkan perhitungan


yang lebih rinci dan detail terhadap suatu jumlah tertentu yang dirasa
penting dan material

Informasi mengenai modal, seperti jumlah saham dan yang lainnya

7. Prinsip Pengakuan Pendapatan | Revenue Recognition Principle

Pendaptan adalah kenaikan harta yang diakibatkan oleh kegiatan usaha seperti
penjualan, penerimaan bagi hasil, persewaan dan yang lainnya. Adanya aliran
masuk aktiva atau harta yang ditimbulkan dari penyerahan baran ataupun jasa
yang dilakukan oleh sebuah entitas usaha selama periode tertentu.
Dasar yang dipergunakan untuk mengukur besar kecilnya pendapatan adalah
jumlah kas ataupun setara kas (ekuivalennya) yang diperoleh atas transaksi
penjualan dengan pihak yang lain.
Pendapatan diakui ketika terjadi penjualan barang ataupun jasa, dan ada
kepastian tentang jumlah besar kecilnya yang bisa diukur handal dengan harta
yang diperoleh. Namun ketentuan ini tidak selalu bisa diterapkan sehingga
akhirnya muncul ketentuan ketentuan lain untuk bisa mengakui pendapatan.
Ketentuan lain ini semisal pengakuan pendapatan ketika produksi telah selai,
selama barang diproduksi serta ketika kas atau yang setara kas telah diterima
8. Prinsip Mempertemukan | Matching Principle

Prinsip Matching dalam akuntansi maksudnya adalah biaya yang


dipertemukan / di"matching"kan dengan pendapatan yang diterima, ini
dimaksudkan untuk menetukan besar kecilnya penghasilan bersih ditiap
periode.
Contoh dan penjelasan lebih dalam Matching Principle pada postingan:
Pendapatan diterima Dimuka
Dalam prinsip ini sangat bergantung pada penentuan pendapatan, jika
pengakuan pendapatan ditunda contohnya, maka pembebanan baya juga tidak
bisa dlakukan hingga pendapatan diakui
Ada beberapa kesulitan pada prinsip ini semisal biaya biaya yang dikeluarkan
tidak berhubungan langsung dengan pendapatan yang diterima, semisal, biaya
administrasi yang tidak bisa dihubungakan dengan pendapatan perusahaan,
Namun kasus seperti ini masih bisa diatasi dengan cara membebankan biaya
yang dikeluarkan tersebut kedalam periode terjadinya pengeluaran, tidak
disandingkan dengan pendapatan.
Biaya yang tidak bisa disandingkan dengan pendapatan tersebut sering disebut
dengan Period Cost karena tidak memiliki keterkaitan yang langsung danjelas
dengan pendapatan yang diterima.
Contoh biaya yang sulit dihubungkan dengan pendapatan yang lain semisal
biaya biaya yang telah dikeluarkan memiliki hubungan yang jelas dengan
produksi tapi manfaatnya tidak habis dalam satu periode, bermanfaat untuk
beberapa periode. Untuk biaya yang dikeluarkan ini pembebanannya ditunda.
Permasalahan yang timbul adalah bagaimana pengalokasian biaya setiap
periodenya dimana manfaat dari biaya yang dikeluarkan tersebut bermanfaat
diperiode berikutnya. Contoh Pembelian Gudang ataupun mesin yang
bermanfaat untuk beberapa periode, bukan hanya bermanfaat ketika pembelian
aset tersebut terjadi.
Sebagai efek dari prinsip ini adalah dipergunakan Accrual Basis didalam
pembebanan biaya, yang akhirnya memunculkan jurnal penyesuaian pada setiap
akhir periode untuk mempertemukan pendapatan dan biaya
9. Prinsip Konsistensi | Consistency Principle

Prinsip Konsistensi adalah prinsip dimana metode metode atau prinsip


akuntansi yang dipergunakan dalam pelaporan keuangan tetap digunakan secara
konsisten, tidak berubah ubah metode dan prosedur. Hal ini berguna agar
laporan keuangan yang dihasilkan bisa dibandingkan dengan laporan keuangan
pada periode periode sebelumnya sehingga bisa memberikan manfaat lebih bagi
user sebagai dasar pengambilan keputusan.
Metode dan prosedur yang dipergunakan perusahaan dalam proses akuntansi
harus dilakukan dan diterapkan secara konsisten dari periode ke periode,
sehingga bisa dengan cepat diketahui apabila ada perbedaan perbedaan dengan
metode yang sama
Prinsip ini tentu tidak bermaksud untuk melarang sebuah pergantian metode
akuntansi, perusahaan boleh mengadakan pergantian metode yang dipakainya
namun perusahaan harus menjelaskan dalam laporan keuangan mengapa
terdapat pergantian metode, apakah alasan alasan pergantian metode tersebut
bisa diterima atau tidak.
10. Prinsip Materialitas

Penerapan akuntansi didasarkan pada teori untuk menyeragamkan seluruh


aturan, namun kenyataannya tidak semua penerapan akuntansi itu mentaati teori
teori yang ada, Maka dari itu tak jarang terjadi adanya pengungkapan informasi
yang sifatnya material ataupun material

b.
Tidak bertentangan , karena entitas tidak akan dipaksa untuk menghentikan
operasi dan melikuidasi aset-asetnya dalam waktu dekat yang mungkin akan
membuat harga menjadi sangat rendah . Akuntan diperbolehkan dalam menunda
pengakuan biaya tertentu sampai periode kemudian, ketika entitas akan
mungkin masih berada dalam bisnis dan menggunakan asetnya dengan cara
yang paling efektif

4.

Menurut Scoot (2000) dalam Dewi (2001) Manajemen laba merupakan


cara yang digunakan oleh manajemen untuk mempengaruhi angka laba secara
sistematis dan sengaja dengan cara memilih kebijakan akuntansi dan prosedur
akuntansi tertentu dengan tujuan memaksimalkan utility manajemen dan harga
saham. Manajemen laba menjadi suatu hal yang tidak baik dilakukan karena
informasi laporan keuangan yang disajikan berkurang reliabilitasnya, sehingga
dikuatirkan akan berakibat pada pengambilan keputusan yang keliru.

5.

Tidak , selama perubahan metode-metode akuntansi dan perubahanperubahan yang terjadi karena koreksi kesalahan-kesalahan dalam periodeperiode yang lalu dipisahkan
6. Terdapat dua pandangan dalam pengukuran sumber daya manusia, yaitu
berdasarkan biaya (cost based) dan berdasarkan nilai (value based).
a.

Pengukuran Nilai SDM berdasarkan biaya (cost based)


Definisi biaya dalam arti luas adalah pengorbanan sumber ekonomi
yang diukur

dalam satuan yang telah terjadi ataupun yang kemungkinan akan terjadi
dimasa yang akan datang (Mulyadi, 2000). Sedangkan PSAK
menyatakan
bahwa
biaya
atau
beban
sebagai
penurunanmanfaatekonomiselamasuatuperiode
akuntansidalam
bentukarus keluaratau berkurangnyaaktivaatauterjadinya kewajiban
yangmengakibatkan
penurunan
ekuitas
yangtidakmenyangkut
pembagiankepadapenanammodal.
Konsep biaya atas akuntansi sumber daya manusia melibatkan
pengukuran terhadap biaya yang telah dikeluarkan untuk memperoleh dan
melatih sumber daya manusia serta biaya-biaya yang akan dikeluarkan
untuk menggantikan sumber daya manusia dari suatu organisasi.
Akuntansi sumber daya manusia juga melibatkan pengukuran terhadap
nilai ekonomi dari manusia bagi organisasi.Dengan demikian.Akuntansi
sumber daya manusia berarti mengukur investasi yang dibuat oleh
organisasi dalam manusia, biaya untuk mengganti orang-orang tersebut,
dan nilai dari manusia bagi perusahaan.

Pengukuran nilai akuntansi sumber daya manusia melalui konsep


biaya ini, dapat digolongkn menjadi 2 bagian yaitu :
a) Metode biaya historis
Metode pengukuran biaya historis ini menghitung dan
mengkapitalisasi seluruh biaya yang berkaitan dengan penerimaan dan
pengembangan sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan
yang selanjutnya diadakan pengamortisasian biaya-biaya tersebut
selama estimasi umur manfaat yang diharapkan dari aktiva tersebut.
Metode ini mempunyai keunggulan yaitu perlakuan perhitungan
untuk menghitung nilai sumber daya manusia yang konsisten dengan
penerapan akuntansi konvensional, memungkinkan untuk menghitung
biaya yang sebenarnya termasuk
dalam usaha perolehan pegawai dan metode historical cost ini praktis
dan dapat diuji kebenaran datanya (mempunyai daya uji atau
akuntabel)
Namun metode ini juga mempunyai beberapa kelemahan, yaitu :
o Dalam menentukan umur ekonomis sumber daya manusia, sebab
masing-masing manusia mempunyai keahlian yang berbeda-beda.
o Nilai sumber daya manusia tidak dapat diperbadingkan (tidak
mempunyai daya banding), hal ini disebabkan karena biaya
penerimaan dan biaya pengembangan tiap individu berbeda-beda.
Hal ini lebih banyak disebabkan karena inteligensi individu setiap
manusia berbeda, demikian pula mengenai waktu pengukurannya.
o Biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh maupun melatih
karyawan, dari periode ke periode tidak sama, bahkan terkadang
perbedaannya sangat ekstrim. Hal ini menyulitkan untuk
melakukan penyesuaian amortisasi (atau pembebanan) setiap
tahun.

o Turnover karyawan tidak dapat diprediksi, sehingga menyulitkan


melakukan prediksi umur ekonomi
b) Metode biaya Pengganti
Metode ini terdiri dari penaksiran biaya pengganti sumber daya
manusia yang sudah ada dalam perusahaan, biaya-biaya tersebut
akan meliputi seluruh biaya penerimaan pegawai, pelatihan,
penempatan, dan pengembangan karyawan baru untuk mencapai
tingkat keterampilan yang diperlukan, termasuk pula dalam nilai
pengganti ini adalah biaya pensiun mupun biaya menunggu
pegawai baru.
Metode pengukuran nilai SDM dengan cara seperti ini, namun sulit
untuk diterapkan. Setiap manajer yang diminta untuk menaksir biaya
pengganti seluruh organisasi manusia kemungkinan akan kesulitan
untuk melakukannya dan manajer yang berbeda akan memperoleh
taksiran yang berbeda pula.Informasi biaya pengganti akan memberi
informasi kepada pemakai berapa besar sumber daya ekonomik yang
dibutuhkan untuk mempertahankan aset yang dikuasai sekarang. Suatu
bilangan akhir tersebut umumnya dimaksudkan pula secara konseptual
menjadi ekuivalen dengan suatu pengertian tentang nilai ekonomi
sekarang.
Penggunaan nilai pengganti dalam mengukur nilai sumber daya
manusia dirasa kurang pas, sebab biaya penggantian idealnya diukur
dengan nilai pasar yang tersedia untuk aset similar (yang sejenis).
Nilai pengganti biasanya diperuntukan untuk menghitung nilai
persediaan barang dagangan yang diperoleh dan stok bahan baku yang
akan digunakan dalam proses produksi. Namun, nilai pasar dari
sumber daya manusia sangatlah sulit dihitung, apalagi kwalitas dari
satu SDM dengan SDM yang lainnya tidak jelas pengukurannya.
b. Pengukuran Nilai SDM berdasarkan nilai (value based)
Fokus strategi perusahaan dewasa ini adalah menciptakan
competitive advantage yang berkelanjutan.Untuk mencapai hal ini, maka

fokus strategi memaksimalkan kontribusi SDM terhadap tujuan organisasi,


untuk meningkatkan nilai (value) bagi organisasi.Hal ini berarti bahwa SDM
mempunyai kontribusi yang tidak sedikit terhadap kinerja perusahaan di
masa yang akan datang. Pemikiran inilah yang mendukung perlunya
pengukuran nilai sumber daya manusia berdasarkan nilai (value based
measurement).
Nilai sumber daya sebagaimana sumber daya lainnya, tergantung pada
kemampuannya dalam memberikan kontribusi jasa, tepatnya adalah nilai
sekarang dari kontribusi jasa yang akan diberikan pada masa yang akan
datang. Terdapat beberapa metode yang bisa digunakan untuk menghitung
nilai SDM dengan konsep ini, yaitu ;
a) Metode pengukuran konpensasi (compensasi model)
Model kompensasi didasari oleh teori konsep ekonomi human capital,
yaitu bahwa sumber daya manusia merupakan sumber arus pendapatan dan
nilainya adalah besar nilai sekarang yang didiskonto dengan rate tertentu
bagi pemilik sumber daya tersebut.
b) Metode stochastic rewards
Model ini dikembangkan oleh Flamholtz dengan dasar pemikiran
ekonomi tentang nilai dari suatu proses kemungkinan menurut teori ekonomi
nilai sesuatu itu bernilai apabila memiliki kemampuan untuk memberikan
manfat atau kegunaan yang dimanfaatkan di kemudian hari dengan adanya
proses kemungkinan diatas maka nilai sumber daya manusia yang
diharapkan dapat direalisasi oleh perusahan.
Flamholtz dalam Tunggal (1994), meyatakan bahwa pengukuran nilai
bagi organisasi melibatkan kegiatan:
a. Menaksir jangka waktu atau masa kerja pegawai bagi perusahaan.
b. Mengidentifikasi
bersangkutan

jabatan

yang

dapat

diduduki

pegawai

yang

c. Mengukur nilai yang diberikan perusahan jika pegawai menduduki

jabatan tersebut selama ukuran waktu tertentu


d. Menaksir probabilitas seseorang menduduki masing-masing jabatan
tersebut selama ukuran waktu tertentu.
Hasil akhir dari penerapan model ini, yaitu nilai sekarang dari jiwa pegawai
yang diharapkan diperoleh perusahaan selama masa kerja yang diperkirakan.
7. Catatan atas laporan keuangan ditujukan untuk memperkuat atau
memperjelas pos-pos yang disajikan dalam bagian utama laporan
keuangan (laba rugi, perubahan modal, neraca, dan arus kas). Dalam
kebanyakan kasus, semua data yang diperlukan pembaca, tidak dapat
disajikan dalam laporan keuangan itu sendiri, oleh karenanya laporan
tersebut mencakup informasi yang esensial harus disajikan dalam catatan
atas laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan bisa berbentuk
narasi, sebagian atau seluruhnya. Catatan atas laporan keuangan tidak
hanya membantu bagi pengguna laporan yang tidak begitu mengerti
informasi akuntansi yang kuantitatif tetapi juga penting untuk memahami
kinerja dan posisi keuangan perusahaan.Tingkat pengungkapan dalam
laporan keuangan merupakan hal yang perlu diperhatikan oleh penilaian
(judgment) manajer. Tingkat pengungkapan yang makin mendekati
pengungkapan penuh (full disclosure) akan mengurangi asimetri
informasi yang merupakan kondisi yang dibutuhkan (necessary
condition) untuk dilakukannya manajemen laba (Trueman and Titman,
1998). Karenanya tingkat pengungkapan memiliki hubungan negatif
dengan manajemen laba. Perusahaan dengan tingkat pengungkapan
minimal cenderung melakukan manajemen laba dan sebaliknya (Lobo
and Zhou, 2001) dalam Yanivi (2003).Dalam Pernyataan standar
akuntansi keuangan (PSAK) nomor 1 tentang penyajian laporan
keuangan, paragraph 70 mengatakan:
Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian jumlah yang tertera
dalam neraca, laporan rugi laba, laporan arus kas, dan laporan perubahan ekuitas serta
informasi tambahan seperti kewajiban kontijensi dan komitmen. Catatan atas laporan
keuangan juga mencakup informasi yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan
dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan serta pengungkapan-pengungkapan lain yang
diperlukan untuk menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar.

Catatan atas laporan keuangan mengungkapkan:


1.
Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan
akuntansi yang dipilih dan ditetapkan terhadap peristiwa dan transaksi
penting.
2.
Informasi yang disajikan dalam PSAK tetapi tidak disajikan di neraca,
laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan perubahan ekuitas.
3.
Informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan tetapi
diperlukan dalam rangka penyajian secara wajar.
Semakin lengkap informsi yang diungkapkan dalam catatan atas laporan
keuangan (full disclosure) maka pembaca laporan keuangan akan semakin
mengerti kinerja keuangan perusahaan.

8. A. Nilai sekarang
Nilai sekarang atau present value adalah berapa nilai uang saat ini untuk
nilai tertentu di masa yang akan datang. Present value atau nilai sekarang bisa di
cari dengan menggunakan rumus future value atau dengan rumus berikut ini :
PV = FV ( 1 + r ) ^-n
Keterangan :
FV = ( Future value ( nilai pada akhir tahun ke n )
PV = ( Nilai sekarang ( nilai pada tahun ke 0 )
r = Suku bunga
n = Waktu ( tahun )
^ = tanda pangkat
Rumus diatas mengasumsikan bahwa bunga di gandakan hanya sekali dalam
setahun, jika bunga digandakan setiap hari, maka rumusnya menjadi:
PV = FV ( 1 + r / 360 ) ^-360 n
Untuk menggambarkan penggunaan rumus diatas , maka diberi contoh berikut
ini :
Harga sepeda motor 2 tahun mendatang sebesar Rp 10.000.000. Tingkat bunga
rata-rata 12% setahun. Berpa yang harus ditabung Agung saat ini agar dapat
membelinya dua tahun mendatang, dengan asumsi:
Bunga dimajemukkan setahun sekali
Bunga dimajemukkan sebulan sekali
Jawab :

PV = Rp 10.000.000 ( 1 + 0,12 ) ^ -2 = Rp 7.971.939


PV = Rp 10.000.000 ( 1 + 0,12/12 ) ^ -12 ( 2 ) = Rp 7.875.661
b. Nilai yang akan datang
Nilai yang akan datang atau future value adalah nilai uang di massa yang
akan datang dengan tingkat bunga tertentu.Future value atau nilai yang akan
datang dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
FV = PV ( 1 + r ) ^ n
Keterangan:
FV = ( Future value ( nilai pada akhir tahun ke n )
PV = ( Nilai sekarang ( nilai pada tahun ke 0 )
r = Suku bunga
n = Waktu ( tahun )
^ = tanda pangkat
Rumus diatas mengasumsikan bahwa bunga di gandakan hanya sekali dalam
setahun, jika bunga digandakan setiap hari , maka rumusnya menjadi:
FV = PV ( 1 + r /360 ) ^ 360n
Untuk menggambarkan penggunaan rumus diatas, maka diberi contoh berikut
ini:
Pada tanggal 2 januari 2000, Agung menabung uangnya ke bank mandiri
sebesar Rp 2.000.000 dengan tingkat bunga sebesar 12 % pertahun. Hitung nilai
tabungan agung pada tanggal 2 Januari 2002 dengan asumsi:
Bunga dimajemukkan setahun sekali
Bunga dimajemukkan sebulan sekali
Bunga dimajemukkan setiap hari
Jawab :
FV = Rp 2.000.000 ( 1 + 0,12 ) ^2 = Rp 2.508.800
FV = Rp 2.000.000 ( 1 + 0,12 /12 ) ^12 ( 2 ) = Rp 2.539.470
FV = Rp 2.000.000 ( 1 + 0,12 /360 ) ^360 ( 2 ) = 2.542.397

9. Persediaan merupakan komponen yang timbul diberbagai tingkatan


proses produksi, yang pada umumnya memerlukan kegiatan bernilai
ekonomis yang cukup besar, maka dengan metode input values lebih
tepat. Tetapi dalam keadaan penentuan crucial event, yaitu menentukan
pada saat persediaan diserahkan kepada langganan (penentuan nilai jual),
maka lebih tepat kalau digunakan metode output values, karena
memperhitungkan nilai current persediaan kalau dijual pada saat itu.
Untuk konsep output values ini ada 3 (tiga) konsep yang dapat digunakan yaitu:
Konsep Discounted Money Receipt: konsep ini menekankan pada, bahwa
persediaan dapat dinilai dengan mendiskontokan arus kas dikemudian hari,
dengan syarat:

Nilai atau tingkat harga stabil dan ada kepastian yang tinggi.
Timing penerimaan kas yang diharapkan cukup memberikan kepastian.

Current Selling Price: konsep ini menekankan nilai persediaan berdasarkan


harga jual (pasar) sehingga diperlukan harga yang fixed, sehingga untuk konsep
ini disyaratkan:

Adanya suatu pasar yang terkendali dengan harga yang stabil tetap.
Tidak ada komponen biaya tambahan yang besar (material), misalnya
biaya bunga atau diskonto dalam penerimaan hasil penjualan.

Net Realizable Values: dalam konsep ini perhitungan biaya yang timbul dari
penjualan seperti diskon penjualan harus diperhitungkan dalam nilai penjualan
bersih (Net Realizable Values). Maka konsep ini merupakan konsep current
output values dikurangi dengan current values dari semua biaya tambahan,
misalnya biaya penagihan, biaya penjualan.
Sprouse dan Moonitz menyatakan: ..Inventory yang siap jual dengan
harga yang telah diketahui dan biaya-biaya penjualan yang relative kecil atau
biayanya dapat diketahui secara langsung, maka inventory dinilai dengan Net
Realizable Values, mereka menyatakan bahwa konsep ini bukan merupakan
penyimpangan prosedur penilaian yang lazim melainkan harus dianggap
.sejalan dengan tujuan akuntansi yang utama.

Bulletin no. 43 menyatakan : Hanya dalam kondisi khususlah, inventory dapat


dinyatakan dengan nilai diatas cost, dalam bulletin ini konsep cost merupakan
konsep dasar utama bagi penilaian inventory. Jadi konsep Sprouse dan Moonitz
sesuai dengan konsep current selling price diatas. Sedangkan konsep bulletin
no. 43 disyaratkan :
1. Kemungkinan pemasaran secara langsung harga yang di-quote.
2. Barang dapat dipertukarkan (interchangeability of unit)
3. Biaya tambahan dapat diperhitungkan
4. Adanya unsur kesulitan menentukan penilaian cost secara tepat.
b. Input Values
Pengukuran persediaan dengan input values merupakan pengukuran resources
yang dipakai untuk memperoleh persediaan pada kondisi saat ini, sehingga
untuk persediaan yang tidak perlu adanya proses produksi interpretasi mengenai
nilai persediaan (input values) sangat jelas. Karena input values disini
menggambarkan arus dari pada kas yang telah dikeluarkan sesungguhnya.
Sedangkan kalau input values tersebut dari nilai resources yang dipergunakan
dalam proses produksi, hal ini akan lebih menyulitkan untuk menentukan input
valuesnya, karena adanya proses penilaian resources ke periode yang
bersangkutan dan pengalokasian resources ke dalam masing-masing
departemen. Namun konsep ini dapat dikurangi tingkat kesulitan penilaiannya
dengan penerapan prosedur alokasi costnya, yang hasilnya akan langsung
menjadi investment decision model.
Dengan struktur akuntansi tradisional, selisih input dan output values
merupakan gross profit atau gross margin, sehingga semua metode yang
menganut konsep input values berarti adanya penangguhan pengakuan revenues
dan net income keperiode kemudian. Penundaan ini dapat dibenarkan apabila
masih ada kegiatan-kegiatan perusahaan yang harus dilakukan untuk
pelaksanaan penjualan atau karena output tidak verifiable.
Konsep input values pada dasarnya dinyatakan dengan historical cost atau dapat
juga dengan current cost atau standard cost. Current cost disini menggunakan
konsep net realizable values dikurangi dengan normal gross margin dari net
realizable values.

10.Konsep pemeliharaan modal merupakan konsep perhitungan laba. Dalam


konsep ini laba dianggap harus memperhitungkan bahwa modal yang
diinvestasikan harus terpelihara. Ada dua konsep pemeliharaan modal,
yaitu:
a. Pemeliharaan modal keuangan
menurut konsep ini baru disebut laba jika jumlah financial aktiva bersih
pada awal periode melebihi jumlah financial aktiva bersih pada awal
periode setelah memasukkan kembali setiap distribusi dari dan kepada
pemilik. Pengukuran keuangan aktiva bersih dapat dilakukan melalui
nilai nominal atau dalam satuan daya belinya.
b. Pemeliharaan modal fisik
Menurut konsep ini hanya bisa disebut laba jika kapasitas produksi fisik
atau kemampuan usaha fisik pada akhir periode melebihi kapasitas
produktif fisik pada awal periode setelah memasukkan kembali distribusi
dari dan kepada pemilik selama periode itu.
Konsep ini muncul dalam praktik akuntansi karena modal itu harus dapat
dipelihara yang dapat dinilai dari kemampuan usaha atau kapasitas
produksi.